Anda di halaman 1dari 5

Harga buah duku dan minat konsumen

TRIBUNJAMBI.COM, MARTAPURA Ribuan ton buah duku di Wilayah Kabupaten OKU


Timur dibiarkan membusuk. Harga anjlok pasca panen buah duku bersamaan di sejumlah
kabupaten/kota baik di Provinsi Sumsel dan provinsi tetangga, seperti Lampung, selama satu
bulan terakhir. Kondisi serupa dialami petani duku di OKU, Musirawas Utara, dan daerah
lainnya.
Meski di pasaran harga buah duku masih berkisar Rp 5.000 per kilogram, harga di tingkat
petani benar-benar anjlok Rp 1000 per kilogram.
Harga tersebut tentu saja membuat petani tidak bersemangat untuk memetik duku dan
menjualnya. Terlebih jarak tempuh yang sangat jauh dengan pusat kota membuat petani
semakin malas.
Sejumlah petani yang berlokasi di pinggiran jalan Raya Komering menyiasati dengan
menjual buah duku mereka secara borongan kepada pembeli yang membayar satu batang
dengan menaksir kira-kira berapa kotak buah duku di pohon

Buah Impor Tak Laku ketika Musim Mangga, Duku, dan


Rambutan Tiba
MATA RANTAI sirkulasi pasar buah impor akhir-akhir ini terus meluas seiring dengan
peningkatan hasil kebun negara lain yang masuk Jateng. Di Semarang sebagai pintu distribusi
uang yang beredar pada bisnis itu diperkirakan miliaran rupiah per hari. Angka nominal yang
tidak main-main meski buah impor hanya menguasai sekitar 10% pangsa pasar buah di
provinsi ini. Tiap hari 50-100 ton buah masuk dari Jakarta ke berbagai pelosok kota dan
kabupaten di Jateng. Wartawan Suara Merdeka Renjani PS yang menelusuri bisnis itu dan
menuliskan laporannya.
TIAP pagi terlihat mobil berbagai jenis silih berganti memadati bekas gedung perusahaan
pengolahan udang Cejamp yang terletak beberapa meter arah utara terowongan tol Kaligawe.
Di bangunan yang mulai tampak usang itu kegiatan distributor, pedagang grosir, hingga
pengecer buah bukan pemandangan asing lagi.
Salah satu gedung dengan dua ruang pendingin itu kini beralih fungsi menjadi semacam
terminal buah impor. Ada beberapa distributor yang menjalankan bisnisnya di situ. Jumlah itu
belum termasuk 4 distributor lain yang juga berlokasi di Terboyo dan sepanjang Jalan Raya
Kaligawe.

Tujuh hari dalam seminggu pasar buah di Semarang yang menjadi kiblat pengecer buah-buah
impor tersebut selalu didatangi oleh ratusan pedagang dari Semarang, Pati, Kabupaten
Semarang, hingga Pekalongan.
Kalau mau mengalkulasi maka potensi pasar buah impor sangat menjanjikan. Misalnya jika
untuk satu jenis buah setiap perusahaan mengimpor paling tidak 700 karton atau sekitar 7.000
kg kelengkeng per hari, maka dengan harga rata-rata Rp 70.000/kg paling tidak uang yang
dikeluarkan mencapai Rp 490 juta.
Padahal harga kelengkeng saat ini bisa mencapai Rp 100.000/kg dengan rata-rata pasokan
500-1.000 karton/perusahaan. Itu berarti nilai buah yang beredar di Semarang dengan
perhitungan 6 distributor saja bisa mencapai Rp 2,94 miliar lebih.
Itu baru untuk kelengkeng, belum lagi ditambah 5-8 jenis buah lain, antara lain apel, jeruk,
dan durian yang angka permintaannya cukup tinggi. Jenis buah yang dipasok sangat
dipengaruhi oleh musim di negara penghasilnya.
Jika antara Agustus-Oktober adalah musim kelengkeng thailand, maka jangan berharap
membeli jeruk dengan harga murah. Sebab, kalau bukan musimnya maka harga dari negara
eksportir akan melambung sangat tinggi.
"Biasanya November pasokan jeruk dari Australia mulai banyak. Pasar buah memang
mengikuti musim. Tiga bulan ini, misalnya, pasar menjadi milik Thailand dan bulan depan
apel dan peer dari China," tutur Rahmad Edi, Manajer Pemasaran Laris Manis Utama,
didampingi dua stafnya, Suyadi dan Sumadi.
Distributor yang juga memasok buah ke supermarket-supermarket itu setiap hari meminta
kiriman tidak kurang dari 500 karton kelengkeng dan puluhan karton jenis buah lainnya dari
tangan pertama.
Beberapa negara yang menjadi pemasok tetap di antaranya adalah China, AS, Australia,
Selandia Baru, Thailand, dan Lebanon yang tahun lalu memasarkan anggur.
Pasar Tradisional
Meski cap luar negeri selama ini lebih melekat pada konsumen supermarket, beberapa
distributor antara lain Kumala Mas tak berniat menggarap pasar itu.
"Prosedur bisnis dengan supermarket sulit. Buah susah masuk. Lebih enak di pasar
tradisional, lebih cepat habis dan mereka (pengecer-Red) langsung datang sendiri ke sini,"
ujar Pemimpin Kumala Mas, Bagyo Santoso, didampingi stafnya, Dayat.
Sepanjang tahun, menurut dia, pasar buah impor cukup bagus. Hanya pada bulan-bulan
tertentu, contohnya saat musim mangga, duku, dan rambutan, pihaknya terpaksa menekan
angka pasokan. Jika tiga jenis buah lokal itu sedang membanjiri pasar, biasanya buah impor
tak terlalu laku.
Dibandingkan dengan buah lokal pangsa pasar buah impor memang masih tergolong kecil,
yakni sekitar 10%, atau perbandingan penjualan antara buah impor dan buah lokal 1:10.

Tentu dengan perbandingan tersebut bukan berarti tak ada buah impor yang merajai pasar
lokal.
Sepanjang Kota Semarang hingga pasar buah di Bandungan, misalnya, buah kelengkeng
lokal yang berbulir kecil dengan kulit cokelat gelap saat ini sulit ditemui. Kelengkeng
bangkok yang berbulir besar, berdaging tebal, dan berkulit kuning kecokelatan lebih
mendominasi. Tak dimungkiri, rasanya yang lebih manis memang lebih menarik perhatian
konsumen.
Itu sebabnya tidak perlu heran jika harga kelengkeng bangkok di Bandungan sedikit lebih
mahal atau sama dengan harga di Kota Semarang, yakni pada kisaran Rp 9.000-Rp
12.000/kg.
Bahkan, menurut Ketua Asosiasi Pedagang Buah Pasar Johar, Syarifudin Sumanto, pasokan
kelengkeng yang masuk ke pasar terbesar di Jateng itu sudah bergeser ke produk Thailand.
"Malah bisa dibilang tidak ada kelengkeng lokal yang dijual di sini," ungkap Sumanto yang
memiliki anggota sekitar 400 pedagang dengan 40-50 di antaranya pedagang grosir.
Dalam sehari pedagang besar seperti dia paling tidak membutuhkan 30-50 karton atau sekitar
300-500 kg kelengkeng. Jumlah itu memang belum bisa disejajarkan dengan pasokan jeruk
yang hampir sepanjang tahun selalu tinggi.
Jeruk manis yang kebanyakan didatangkan dari Banyuwangi dan Jember tiap hari mencapai
6-7 truk. Jika satu truk ada sekitar 1.500 karton maka jumlahnya bisa berkisar 9.000-10.500
karton! Jauh tidak sebanding dengan pasokan jeruk impor yang hanya 2-3 truk atau 3.0004.500 karton dan tiap kartonnya seberat 20 kg.
Meski buah yang beredar di pasaran sangat besar, jumlah itu ternyata belum bisa
mengimbangi angka permintaan yang tergolong tinggi.
"Memang ada buah yang terpaksa dibuang karena membusuk, tapi setiap hari persediaan
kami selalu kurang," tutur Syarifudin.
Pilihan konsumen terhadap buah lokal selama ini, kata dia, lebih didasari atas pertimbangan
rasa dan harga. Meski tekstur (bentuk permukaan-Red) buah impor lebih menggiurkan,
rasanya tidak semanis buah lokal.
Apalagi harga buah impor masih tergolong mahal, bahkan bisa 1,5 - 2 kali lipat dari buah
sejenis produksi lokal. Jeruk lokal yang dijual Rp 5.500/kg, misalnya, jauh lebih murah dari
harga jeruk impor yang ditawarkan sekitar Rp 9.000/kg.
Pantauan di beberapa supermarket menunjukkan kecenderungan minat terhadap buah impor
masih belum sebanding dengan buah lokal, terutama untuk duku, mangga, dan rambutan.
Gerai-gerai supermarket, misalnya Gelael dan Ada Swalayan, masih menjajakan berbagai
jenis buah lokal.
Sayangnya, meski buah impor makin membanjir, peraturan pemerintah tentang perdagangan
komoditas dari luar negeri tersebut belum ada. Buah impor selama ini lebih banyak masuk

melalui perdagangan antarprovinsi dan antarpulau yang juga belum diatur secara khusus.
(82,53)

SRIPOKU.COM, BATURAJA --- Harga duku pada musim buah tahun ini sudah sangat
murah , lantaran tengkulak sudah menentukan harga jauh hanya berkisar Rp 4000 hingga Rp
5000/kg.
Seperti dituturkan petani duku di wilayah Kecamatan Semidangaji Kabupaten Ogan
Komering Ulu kepada Sripo Minggu (8/3), petani duku tidak punya pilihan kecuali menjual
duku sesuai harga yang ditentukan pemborongnya alias tengkulak. Sedangkan pemborong
duku juga tidak datang setiap hari, akibatnya petani duku terpaksa menunggu kapan
tengkulak datang.
Seperti dituturkan Ismail (35) yang mengaku sudah berhari-hari menunggu pemborong duku
namun belum juga ada yang datang. Sedangkan buah duku sudah mulai masak dan perlu
dijaga apabila tidak mau dicuri orang.
Dengan harga rata-rata Rp 4000 /kg hingga Rp 5000/kg ini dirasakan petani duku sangat
murah, sebab untuk upah memanjat duku dan mengangkut duku saja sudah mahal sehingga
hasil yang diperoleh dari panen buah duku dirasakan sangat murah.
Karena tidak ada pilihan lain, petani duku terpaksa menjual buah dukunya walaupun dengan
harga yang sangat murah asalkan bisa jadi uang untuk belanja kebutuhan pokok
Sejumlah petani duku yang tidak memborongkan dukunya di batang selagi masih kecil ratarata harus menggantungkan kepada pemborong. Pokoknye serba salah nak diborongkan
selagi buah masih kecil-kecil dihargai sengat murah, terang ayah dua anak ini seraya
menambahkan pada musim duku tahun ini tidak banyak pemborong yang datang ke centra
duku.
Berbagai factor penyebab seperti kondisi saat ini memang semua sedang dilanda krisis
keuangan, selain itu musim buah duku panennya tidak serentak sehingga tengkulak duku dari
Pulau Jawa belum ada yang masuk