Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTEK KONSELING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

MELALUI PENDEKATAN KONSELING KELUARGA DI SLB-C TERATE


BANDUNG
Diajukkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pembelajaran Konseling ABK yang Diampu Oleh :
Dr. Musyafak Assyari, M.Pd.
Drs. Sunardi, M.Pd.
Dr. Permana Rian Somad, M.Pd.
Dr. Imas Diana Aprilia, M.Pd.
.

DisusunOleh:
Rindi Magneti Rahayu

1205142

JURUSAN PENDIDIKAN KHUSUS


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul
Laporan Praktek Konseling Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Pendekatan
Konseling Keluarga Di Slb-C Terate Bandung ini sesuai waktu yang telah
ditentukan.
Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya penulis mendapatkan
bimbingan, arahan, serta pengetahuan, untuk itu rasa terima kasih yang sedalamdalamnya penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. Musyafak Assyari, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Pembelajaran
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus.
2. Bapak Drs. Sunardi, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Pembelajaran Konseling
Anak Berkebutuhan Khusus.
3. Ibu Dr. Permana Rian Somad, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Pembelajaran
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus.
4. Ibu Dr. Imas Diana Aprilia, M.Pd. selaku Dosen Mata Kuliah Pembelajaran
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus.
5. Ibu Heni Dede Rohaeni, S.Pd selaku Kepala SLB-C Yayasan Terate Bandung .
6. Ibu Sri Ayati, S.Pd selaku Wakil kepala bidang ke siswaan SLB-C Yayasan
Terate Bandung.
7. Ibu Mulyaningsing selaku oarng tua dari siswa.
8. Orangtua dan keluarga yang telah memberikan dukungan dan bantuan baik
secara moral maupun material.
9. Rekan-rekan yang telah membantu dalam terselesainya penyusunan makalah
ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didalam tugas ini masih banyak
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang diharapkan, untuk itu kritik, saran
dan usulan yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan di masa yang akan
datang.

Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang


kurang berkenan. Semoga laporan ini dapat dipahami dan berguna dalam rangka
menambah wawasan dan pengetahuan bagi siapapun yang membacanya.

Bandung, Agustus 2014


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
A.

Latar Belakang..........................................................................................1

B.

Rumusan Masalah.....................................................................................3

C.

Tujuan Penulisan.......................................................................................3

D.

Manfaat Penulisan.....................................................................................3

E.

Metode Pengumpulan Data.......................................................................4

BAB II KAJIAN TEORI.......................................................................................5


A.

Pengertian Konseling Keluarga.................................................................5

B.

Tujuan Konseling Keluarga.......................................................................5

C.

Prinsip-Prinsip Konseling Keluarga..........................................................5

D.

Teori-teori Konseling Keluarga.................................................................6

E.

Peran Intervensi pada Konseling Keluarga.............................................11

F.

Proses Konseling keluarga.......................................................................11

BAB III HASIL OBSERVASI.............................................................................12


A.

Teknik Observasi.....................................................................................12

B.

Alat Observasi.........................................................................................12

C.

Langkah Observasi..................................................................................13

D.

Hasil Wawancara.....................................................................................14

BAB IV PEMBAHASAN........................................................................................15

A.

Identitas Anak..........................................................................................15

B.

Identitas Sekolah.....................................................................................16

C.

Profil Anak..............................................................................................17

D.

Assesmen Perkembangan........................................................................20

E.

Gambaran Kondisi Keluarga dan Lingkungan........................................22

BAB V KESIMPULAN........................................................................................24
A.

Kesimpulan..............................................................................................24

B.

Saran........................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manuisa hidup hakikatnya memiliki permasalahan, baik itu
menyangkut emosional dan perasaan. Permasalahan yang datang atau terjadi
pada setiap individu itu berbeda beda yang diakibatkan dari ketidakmampuan
diri

dari

berbagai

ketidakmampuan

aspek

dalam

seperti
segi

ketidakmampuan

sensori,

dalam

ketidakmampuan

segi

fisik,

dalam

segi

perkembangan, ketidakmampuan dari segi kecerdasan, dan ketidakmampuan


dari segi emosialnya sendiri. Setiap permasalahan yang terjadi pada setiap orang
tentunya ada penyelesaiannya.
Permasalahan yang begitu kompleks dapat mengakibatkan orang menjadi
depresi dan dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosialnya. Permasalahan itu
dapat terjadi pada siapapun baik itu pada diri sendiri, orang lain bahkan
keluarga. Baik itu terjadi pada anak pada umumnya maupun pada anak
berkebutuhan khusus. Melihat dalam kenyataannya bahwa masalah yang terjadi
pada anak berkebutuhan khusus terkadang lebih kompleks jika dibandingkan
dengan permasalahan yang terjadi pada anak biasa umumnya tetapi masalah
yang timbul tersebut bergantung kepada setia individu dalam tingkat
kesulitannya. Tentunya permasalahan tersebut memerlukan solusi atau cara
untuk menyelesaikannya. Salah satu cara yang dilakukan bisa melalui bimbingan
dan konseling.
Menurut (Debdikbud PP No. 72 Tahun, 1991) yaitu :
Bimbingan dan konseling di sekolah terutama di Sekolah Luar Biasa
merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya untuk memberikan bantuan
kepada peserta didik untuk menemukan pribadi, mengatasi masalah yang
disebabkan oleh kelainan yang disandang, mengenal lingkungan, dan
merencanakan masa depan.
Sedangkan menurut (SK Mendikbud No.025/O/1995 , 1995) yaitu:

Menerangkan bahwa Bimbingan dan Konseling adalah bantuan pelayanan


untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu
mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang bimbingan pribadi,
bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai
jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang
berlaku.
Oleh karena itu, selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus, penulis mencoba memberikan sebuah
layanan bimbingan konseling terhadap anak dengan hambatan kecerdasan atau
tunagrahita di SLB-C Terate Bandung melalui bimbingan karir dengan berbagai
prosedur yang telah ditetapkan oleh guru bimbingan konseling yang berada di
sekolah tersebut.
Definisi dari American Association on Mental Deficienci (AAMD) yang
dikutip dalam (Debdikbud PP No. 72 Tahun, 1991) menganai Pendidikan Luar
biasa yaitu:
Anak Tunagrahita adalah anak-anak dalam kelompok dibawah normal dan
atau lebih lamban dari pada anak normal, baik perkembangan sosial maupun
kecerdasannya disebut dengan anak terbelakang mental.
Anak tunagrahita memang berbeda dengan anak pada umumnya dalam
kecerdasan, perkembangan sosial, serta perilakunya. Namun dilain sisi anak
tunagrahita pun sama dengan anak pada umumnya yaitu anak tunagrahita
memiliki potensi atau kemampuan lebih dari dalam dirinya untuk dapat
dikembangkan secara optimal seperti potensi dalam bidang seni maupun
keahlian khusus lainnya. Sehingga pada hakekatnya potensi yang dimiliki anak
tunagrahita dapat teroptimalkan serta memiliki makna yang sangat berarti bagi
anak tersebut, orang tua dan orang-orang yang berada dalam lingkungan
sekitarnya.
Dengan hal ini diharapkan observer dapat memahami secara jelas bagaimana
konsep pemberian layanan bimbingan dan konseling yang diberikan terhadap
anak berkebutuhan khusus agar setalah memahami konseling anak berkebutuhan
khusus observer dapat mempraktekkannya kembali secara baik dan benar.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu
1. Bagaimana

penerapan

pemberian

layanan

konseling

tehadap

anak

tunagrahita yang berada di lingkungan SLB-C Terate Bandung melalui


pendekatan Konseling Keluarga.
penerapan pemberian

2. Bagaimana

layanan

konseling

tehadap

anak

tunagrahita yang berada di lingkungan rumah melalui pendekatan Konseling


Keluarga.
3. Bagaimana hasil yang telah di dilakukan setelah melalui tahap pemberian
layanan konseling yang diberikan terhadap keluarga.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui

penerapan pemberian layanan konseling tehadap anak

tunagrahita yang berada di lingkungan SLB-C Terate Bandung melalui


pendekatan Konseling Keluarga.
2. Bagaimana penerapan pemberian

layanan

konseling

tehadap

anak

tunagrahita yang berada di lingkungan rumah melalui pendekatan Konseling


Keluarga.
3. Bagaimana hasil yang telah di dilakukan setelah melalui tahap pemberian
layanan konseling yang diberikan terhadap keluarga.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang didapatkan dari penulisan makalah ini antara lain:
Agar pembaca dan penulis mengetahui mengetahui penerapan pemberian
layanan konseling tehadap anak tunagrahita yang berada di lingkungan SLB-C
Terate Bandung melalui pendekatan Konseling Keluarga. Mengetahui
penerapan pemberian layanan konseling tehadap anak tunagrahita yang berada
di lingkungan rumah melalui pendekatan Konseling Keluarga. Mengetahui
hasil yang telah di dilakukan setelah melalui tahap pemberian layanan konseling
yang diberikan terhadap keluarga.

E. Metode Pengumpulan Data


Dalam penulisan laporan ini, Penulis menggunakan metode observasi ke
lapangan dan memberikan beberapa angket yang perlu ditanyakan kepada guru,
dan wawancara terhadap keluarga anak, dan menggunakan metode kepustakaan
serta catatan materi perkuliahan yang mengandung relevansi dengan objek
bahasan.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Konseling Keluarga
Family Counseling (konseling keluarga) didefinisikan sebagai suatu proses
interaktif

yang

berupaya

membantu

keluarga

memperoleh

keseimbangan

homeostasis, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman (comfortable).


Menurut PROF. DR. H. SOFYAN S. WILIS Family Conseling atau
konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota
keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar
potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar
kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan
kecintaan terhadap keluarga.

B. Tujuan Konseling Keluarga


1. Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai
bahwa dinamika keluarga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2. Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga
mengalami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau
lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3. Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan
homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan
keutuhan keluarga.
4. Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap
anggota keluarga (Perez, 1979).

C. Prinsip-prinsip konseling keluarga


1. Bukan metode baru untuk mengatasi human problem.

2. Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain.
3. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah
yang harus diubah.
4. Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal
ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri.
5. Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting
dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.
6. Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan
berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi intra family
involved.
7. Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang
permanen merupakan penyelesaian yang buruk.
8. Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center) (Perez,1979).

D. Teori-teori Konseling Keluarga


1. Terapi Terpusat pada Klien (Client-Centered Therapy)
Client-Centered Therapy sering juga disebut terapi non-directive adalah suatu
metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dan
klien, agar tercipta gambaran yang serasi dengan kenyataan klien yang sebenarnya.
Proses dan Teknik Konseling
Berikut ini adalah tahapan-tahapan konseling terapi terpusat pada klien:
a.

Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri

b.

Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien untuk itu
konselor menyadarkan klien.

c.

Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukaan prasaannya.

d.

Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.

e.

Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan


dirinya.

f.

Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil


(perencanaan).

g.

Klien merealisasikan pilihannya itu.


Implementasi teknik konseling didasari oleh faham filsafat dan sikap konselor

tersebut. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan, memberanikan,


interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi rendah. Yang lebih utama adalah
pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan pelaksanaan filosofi dan sikap.
Karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan, dan konsisten,
memahami secara empati, memberi penilaian kepada klien, akan tetapi konselor
selalu objektif.
Aplikasi Teori KonselingTerapi Terpusat pada Klien
Roger menekankan bahwa klien secara individual dalam keanggotaan
kelompok akan mencapai kepercayaan diri, dimana dia mengatakan bahwa anggotaanggota keluarga dapat mempercayai dirinya. Hal ini bisa terjadi jika kondisikondisi ada yakni: kejujuran, keaslian, memahami, menjaga, menerima, menghargai
secara positif dan belajar aktif. Dalam konseling keluarga, fungsi konselor adalah
sebagai fasilitator, yaitu untuk memudahkan membuka dan mengarahkan jalur-jalur
komunikasi apabila ternyata dalam kehidupan keluarga tersebut pola-pola
komunikasi telah berantakan bahkan terputus sama sekali.
Seorang konselor amat menentukan terhadap keterbukaan anggota keluarga
dalam setiap sesi. Konselor tidak melakukan pendekatan terhadap anggota keluarga
sebagai seorang pakar yang akan menerangkan rencana treatmentnya. Akan tetapi ia
berusaha untuk menggali sumber yang ada didalam keluarga itu yaitu bahwa
anggota keluarga mempunyai potensi untuk berkembang yang akan

digunakan

untuk memecahkan masalah individu atau keluarga. Dan esensinya bahwa anggota
keluarga adalah arsitek bagi dirinya sendiri. Konselor memperhatikan respek (rasa
hormat) yang tinggi bagi potensi keluarga yang digunakan untuk menentukan

dirinya sendiri. Dengan demikian, konseling keluarga adalah proses menganyam


dari semua anggota keluarga untuk tumbuh dan menemukan dirinya sendiri.
2. Terapi Behavioral
Terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dan
Skinnerian. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk
menanggulangi treatment neurosis. Kontribusi terbesar dari konseling behavioral
(perilaku) adalah diperkenalkannya metode ilmiah dibidang psikoterapi. Yaitu
bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi
proses belajar untuk perubahan perilaku.
Tujuan Terapi Behavioral
Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang responrespon lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon baru yang lebih
sehat. Selain itu, tujuan terapi behavioral untuk memperoleh perilaku baru,
mengeleminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan
perilaku yang diinginkan.

Teknik konseling Behavioral


a.

Teknik desensitisasi Sistematik. Teknik ini bermaksud mengajar klien untuk


memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami
klien.

b.

Teknik Asertive training. Teknik ini menitikberatkan pada kasus yang


mengalami kesulitan dalam perasaan yang sesuai dalam menyatakannya.
Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing (bermain peran).

c.

Aversion therapi. Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang


negatif dan memperkuat perilaku positif.

d.

Home-work. Yaitu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu


menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya adalah dengan memberi
tugas rumah untuk satu minggu.

Aplikasi Teori Behavioral dalam Konseling Keluarga


Konselor-konselor behavioral telah memperluas prinsip-prinsip teori belajar
sosial (social learning theory) terhadap konseling keluarga. Mereka mengemukakan
bahwa prosedur-prosedur belajar yang telah digunakan untuk mengubah perilaku,
dapat diaplikasikan untuk mengubah perilaku yang bermasalah di dalam suatu
keluarga. Ciri utama dari aplikasi behavioral terhadap konseling keluarga menurut
Liberman (1981) mengungkapkan tiga bidang kepedulian teknis bagi konselor: (1)
kreasi dari gabungan terapetik yang positif, (2) membuat analisa fungsional terhadap
masalah-masalah dalam keluarga dan (3) implementasi prinsip-prinsip behavioral
yakni reinforcement dan modeling di dalam konteks interaksi di dalam keluarga.
Dengan menggunakan peranan gabungan terapetik (Role Of Therapeutic Alliance),
penilaian keluarga dan selanjutnya melaksanakan strategi behavioral.
3. Rational Emotive Therapy (RET)
Teori ini dikembangkan seorang eksitensialis Albert Ellis 1962. Teori ini
memandang bahwa manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan
objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang
dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti, manusia bebas, berpikir,
bernafsu, dan berkehendak. RET menolak aliran psikoanalisis dengan mengatakan
bahwa peristiwa dan pengalaman individu menyebabkan terjadinya gangguan
emosional. Gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran-pikiran seorang yang bersifat
irasional terhadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.
Tujuan dan Proses Terapi
Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap, presepsi, cara
berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irasional menjadi rasional sehingga
ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal. Adapun
proses konselingnya adalah:
a.

Konselor menunjukan kepada klien bahwa kesulitan yang dihadapinya


perhubungan dengan keyakinan irasional dan menunjukan bagaimana klien
harus bersikap rasional.

b.

Setelah klien menyadari gangguan emosional yang bersumber dari pemikiran


irasional, maka konselor menunjukan pemikiran klien yang irasional.

c.

Konselor berusaha agar klien menghindarkan diri dari ide-ide irasionalnya


dan konselor berusaha menghubungkan antara ide tersebut dengan proses
penyalahan dan perusakan diri.

d.

Proses terakhir konseling adalah konselor berusaha menantang klien untuk


mengembangkan filosofis kehidupan rasional dan menolak kehidupan yang
irasional dan fiktif.

Teknik Konseling
Layanan konseling RET terdiri atas layanan individu dan kelompok.
Sedangkan teknik-teknik yang digunakan lebih banyak dari RET adalah: asertive
training, (melatih dan membiasakan), sosiodrama (sandiwara pendek tentang
kehidupan), self modeling (konselor menjadi model dan klien berjanji akan
mengikuti), teknik reinforcement (memberi reward), social modeling, desensitisasi
sistimatik, relaxation, self-control, diskusi, simulasi, homework assignment, dan
bibligrafi (memberi bahan bacaan).
Aplikasi Teori Konseling Keluarga Rational Emotive Therapy
Tujuan dari rational-emotive therapy (RET) dalam konseling keluarga pada
dasrnya sama dengan yang berlaku dalam konseling individual atau kelompok.
Anggota keluarga dibantu untuk melihat bahwa mereka bertanggung jawab dalam
membuat gangguan bagi diri mereka sendiri melalui perilaku anggota lain secara
serius. Mereka didorong untuk mempertimbangkan bagaimana akibat perilakunya,
pikirannya, emosinya telah membuat orang lain dalam keluarga menirunya.
Konseling keluarga (RET) mengajarkan anggota keluarga untuk bertanggung jawab
terhadap perbuatanya dan berusaha mengubah reaksinya terhadap situasi keluarga.

10

E. Peran Intervensi pada Konseling Keluarga


1. Sebagai penilai mengenai; masalah, sasaran intervensi, kekuatan dan strategi
keluarga, kepercayaan dan etnik keluarga. Eksplorasi pada: reaksi emosi
keluarga terhadap trauma dan transisi, komposisi, kekuatan dan kelemahan,
informasi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan keluarga, kesiapan untuk
intervensi dan dirujuk pada ahli lain.
2. Pendidik/pemberi Informasi agar keluarga siap beradaptasi terhadap
perubahan-perubahan.
3. Pengembang sistem support, mengajarkan support dan selalu siap dihubungi.
4. Pemberi tantangan
5. Pemberi fasilitas prevensi (pencegahan) dengan mempersiapkan keluarga
dalam menghadapi stress.

F. Proses Konseling Keluarga


1. Melibatkan keluarga, pertemuan dilakukan di rumah, sehingga konselor
mendapat informasi nyata tentang kehidupan keluarga dan dapat merancang
strategi yang cocok untuk membantu pemecahan problem keluarga.
2. Penilaian Problem/masalah yang mencakup pemahaman tentang kebutuhan,
harapan, kekuatan keluarga dan riwayatnya.
3. Strategi-strategi khusus untuk pemberian bantuan dengan menentukan macam
intervensi yang sesuai dengan tujuan.
4. Follow up, dengan memberi kesempatan pada keluarga untuk tetap
berhubungan dengan konselor secara periodik untuk melihat perkembangan
keluarga dan memberikan support.

11

BAB III
HASIL OBSERVASI

A. Teknik Observasi
Tujuan

: Memberikan layanan bimbingan konseling dalam bidang


konseling keluarga untuk anak tunagrahita

Sasaran

: Siswa SDLB-C Kelas 6

Lokasi

: SLB-C Terate BAndung

Waktu

: Juli-Agustus 2014

Prosedur

a) Wawancara dengan pihak sekolah terkait anak yang harus diberikan

layanan bimbingan konseling.


b) Mencari anak sebagai subjek yang akan diberikan layanan bimbingan
konseling dalam bidang konseling keluarga untuk anak tunagrahita.
c) Melakukan wawancara kepada pihak keluarga terkait dengan hasil

wawancara yang direkomendasikan pihak sekolah yang harus


diberikan layanan bimbingan konseling keluarga.
B. Alat Observasi
a) Formulir Isian Peserta Didik (angket dari pihak guru disekolah)

Keterangan : TERLAMPIR
b) Kuesioner mengenai Prilaku Adaptif Anak (angket dari pihak guru BK

disekolah)
Keterangan : TERLAMPIR
c) Format wawancara (diberikan dari observer kepada keluarga)

Keterangan :TERLAMPIR

12

C. Langkah Observasi
Bimbingan Konseling keluarga di tunjukan agar keluarga yang memiliki
permasalahan yang terjadi pada anak nya dapat terselesaikan dengan baik tanpa
menimbulkan permasalahn baru yang lainnya, yang bertujuan untuk dapat
membantu pihak

sekolah dan tentunya pihak keluarga untuk memberikan sebuah

layanan bimbingan konseling kepada keluarga yang memiliki anak yang mempunyai
hambatan atau

ketidak mampuan dalam kecerdasan dan pendengaran kelas 6

SDLB-C agar meminimalisir permasalahan yang dialami oleh pihak keluarga


dengan cara menekankan permasalahan secara terperinci setelah itu menjabarkan
nya lalu dipecahkan bersam-sama dengan pihak keluarga , setelah itu observer
bersama keluarga bersama-sama

menggali dan meningkatkan potensi yang

dimiliki oleh anak tersebut.


Dalam hal ini maka penulis menyusun beberapa langkah yang dilakukan untuk
mempermudah pencapaian tujuan yang telah dirumuskan, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1) Membuat Formulir isian peserta didik, Kuesioner mengenai prilaku
adaptif anak, Format wawancarayang diberikan observer kepada pihak
keluarga
2) Melakukan observasi
3) Melakukan wawancara dengan guru.
4) Melakukan wawancara dengan keluarga anak
Langkah-langkah selanjutnya adalah melakukan layanan bimbingan konseling
keluarga terhadap anak dan keluarga anak dengan permasalahan yang ada
didalamnya. Dengan menitik beratkan hasil dari berbagai aspek yang telah dinilai
berdasarkan hasil angket dari guru, hasil wawancara terhadap keluarga, dan sikap
anak selama melakukan bimbingan konseling keluarga, serta pendapat lingkungan
sekitar kepada anak tersebut.
.

13

D. Hasil Wawancara
Layanan bimbingan konseling sangat diperlukan khususnya bagi keluarga
yang memiliki permasalahn yang kompleks seperti yang dialami oleh keluarga dari
anak yang bernama ilham , berdasarkan hasil analisa yang telah didapat dari
beberapa hari melakukan observasi yang didalamnya terdapat proses tanya jawab
terhadap guru kelasnya, wawancara terhadap keluarganya dan melihat secara
langsung tingkah laku anak tersebut.
Keluarga merupakan penyebab awal dari permasalahan-permasalah yang
dihadapi oleh masing-mansing anggotanya. Karena permasalah keluarga yang sangat
kompleks maka kiranya diperlukan melakukan konseling keluarga.
Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu
anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar
potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar
kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan
kecintaan terhadap keluarga.
Pada kasus ini keluarga terutama ibu mengalami permasalahan yaitu belum
bisa menerima anak secara sepenuhnya kalau anaknya yang bernama ilham
mengalami ketidak mampuan dalam segi kecerdasan dan pendengarannya. Ibunya
selalu saja mengungkit-ungkit masa lalu yang mungkin diguga sebagai akar dari
permasalahan yang anak nya hadapi sekarang, baik itu sikap dokter yang tidak
melakukan tindak

lanjut untuk melakukan incubator terhadap anak pada saat anak

lahir karena kuning, dan pada saat anak selalu sakit sehingga mengakibatkan panas
tinggi dan diselangi dengan adanya kejang-kejang. Hal itulah yang menjadi alasan
untuk sang ibu tidak menerima kondisi anak nya
Bagi ibunya , ilham adalah anak yang sama pada umumnya dengan

anak-

anak yang lain sehingga memiliki ambisi yang tinggi suatu saat nanti dapat
melanjutkan ke jenjang perkulihan tanpa melihat dari aspek akademik yang dilalui
oleh anak

tersebut. Dan menjadikan anak sulit untuk bersosialisasi dengan

teman-teman

sebaya disekitar lingkungan rumahnya karena selalu dikekang

agar tidak bermain

dengan teman-teman disekitar lingkungan rumahnya .

14

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Identitas Anak
Identitas Anak
Nama Anak
Jenis Kelaminan
Usia
Tempat, tanggal lahir
Kelas
Jenis Kelainan
Alamat Sekolah
Riwayat Perkembangan
Pre Natal
Natal
Post Natal
Identitas Orang Tua
1. Nama Ayah
Pejerjaan
Usia
Alamat
Pendidikan Orang Tua
Usia Perkawinan
2. Nama Ibu
Pekerjaan
Usia
Alamat

: Muhamad Ilham Mahendra


: Laki-laki
: 13 tahun
: Bandung, 17 Mei 2001
: 1 SMPLB
: Tunagrahita Ringan dan gangguan
pendengaran
: SLB-C Yayasan Terate
: (tidak terdapat kejanggalan)
: (tidak terdapat kejanggalan)
: Ketika lahir kuning
: Marudin Mahdi
: Wiraswata
: 47 tahun
: Cibeunying 1 No. 6 Rt 04/14 Sadang Serang
Bandung.
: Sarjana
: 29 tahun
: Mulyaningsing
: Ibu Rumah Tagga
: 47 tahun
: Cibeunying 1 No. 6 Rt 04/14 Sadang Serang
Bandung.
: Sarjana
: 29 tahun

Pendidikan Orang Tua


Usia Perkawinan
Dignosa Para Ahli
Dokter
:
Hasil diagnosa dari dokter belum jelas karena ketika anak
diperiksakan ke RS Hasan Sadikin sampai sebanyak 3 kali anak tidak
mau juga tidur walaupun sudah dberikan obat tidur karena syarat

pemeriksaan diharuskan anak untuk tidur


Psikolog
:
(Tidak pernah mendatangi psikolog)

Fisioterapis
:
(Tidak pernah mendatangi fisioterapi)
Okupasional Terapis
:
Anak pernah diterapi oleh okupasi terapis wicara namun dianggap
normal dan tidak memiliki hambatan karena ketika dites dan diberikan

pertanyaan anak mampu mendengar dan berbicara.


Sosial Wallker
:
(Tidak pernah mendatangi sosial walker)

B. Identitas Sekolah
Nama Sekolah
Alamat Sekolah
Status Sekolah
Nomor Statistik Sekolah
No. Izin Operasional
Satus Akreditasi
Kabupaten /Kota
Tahun Berdiri Sekolah
Nama Kepala Sekolah
Jabatan
No. Telp sekolah dan Hp KS
Luas Tanah
Luas Bangunan Sekolah

: SLB-C Yayasan Terate


: Kp. Pasir Kaliki Barat Sadang Serang
: Swasta
: 802026023001
: KANWIL DEPDIKBUD No.461/1-02/Kep/E
: Terakreditasi C (utuk SDLB)
: Bandung
: 1984
: Heni Dede Rohaeni, SP,d.
: Kepala Sekolah
: (022) 2535338 / 085220214291
: 628 m
: 150 m

C. Profil Anak
Nama Anak
: Muhamad Ilham Mahendra
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Nama Orang Tua
:
Ayah
: Rohmat Al Mahdi
Pekerjaan Ayah
: Wiraswata

Ibu
: Mulyaningsih
Pekerjaan Ibu
: Ibu rumah tangga
Tanggal Asesmen
: 01-09 Juli 2014
Tanggal Lahir
: Bandung, 17 Mei 2001
Usia
: 13 tahun
Riwayat Perkembangan :
Ilham adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya kini berusia
16 (enam belas) tahun berjenis kelamin laki-laki dan adik nya berusia 5
(lima) tahun, berjenis kelamin perempuan yang bernama rani . Ilham sangat
dekat sekali dengan ibunya. Segala sesuatu yang ilham lakukan atas
sepengetahuan ibunya.

Saat masa kandungan, orang tua ilham sering memeriksakan


kandungan ke dokter kandungan, tidak ada masalah sedikitpun dalam proses
kehamilan yang dialamin oleh ibu ilham ketika mengandung ilham. Pada
proses kelahiran atau natal semuanya berjalan lancer dan normal, namun
terjadi kejanggalan setelah ilham lahir yaitu ilham mengalami kuning, namun
pada saat itu dokter yang menangani proses kelahiran ilham menyarankan
kepada orang tua ilham untuk langsung pulang dan membawa ilham
kerumah tanpa menyuruh orang tua ilham untuk meng incubator ilham
karena kuning. Berat badan ilham saat itu terbilang normal kira-kira 3 kg.
Ketika ilham lahir, ilham langsung menangis. Perkembangan-perkembangan
pada bulan-bulan pertama dilalui sesuai dengan masa-masa perkembangan
pada umumnya. Namun setelah ilham beranjak pada bukan ke tiga ilham
mengalami hambatan atau ketidak mampuan dalam merespon suara ketika
diberi mainan yang berbunyi ilham tidak mampu untuk merespon, dan ketika
ilham berusia 1 sapai 2 taun ketika melihat benda-benda yang bergerak
seperti mainan maupun televisi ilham tidak dapat merespon , yang ilham
lakukan hanyalah diam saja tanpa melakukan apa-apa.
Ilham tidak terlalu banyak mengalami keterlambatan dalam proses
perkembangan hanya saja ilham mengalami keterlambatan perkembangan
dalam komunikasi . Pada saat usia 2 taun ilham ilham sering kali mengalami
demam dan kejang kejang sampai ilham bersekolah kelas 1 .
Orang tua ilham baru mengetahui bahwa ilham mengalami hambatan
atau ketidak mampuan dalam berkomunikasi dan merespon pada saat usia
ilham 2 tahun. Orang tua ilham tidak langsung memberikan penanganan
khusus kepada ilham, orang tua ilham memberikan penanganan kepada
ilham dan membawa ilham ke dokter pada saat usia ilham menginjak 5
tahun.
Selain ilham mengalami hambatan perkembangan dalam segi
komunikasi menyebabkan ilham sulit sekali untuk bersosialisasi dengan
teman sebaya nya .
Ilham sempat sekolah di sekolah regular pada saat TK , dan ketika
ilham menginjak untuk memasuki sekolah dasar ilham masuk ke sekolah

dasar umum namun pada saat ilham masuk ke sekolah dasar umum ilham
mengalami ketertinggalan dalam mata pelajaran dan ilham sulit untuk
membaur dan bersosialisasi dengan teman-temannya.
Setelah ilham tertinggal dikelas 1 sekolah umum, orang tua ilham
memasukan ilham ke Sekolah Luar Biasa, setelah satu tahun ilham sekolah
di Sekolah Luar Biasa tersebut. Ibunya memindahkan ilham ke SLB-C Terate
(Sekolah Luar Biasa) karena faktor jarak dari sekolah yang lama ke rumah
yang terlalu jauh.
Orang tua ilham memasukan ilham ke Sekolah Luar Biasa karena
saran dari orang tua siswa pada saat dahulu ilham bersekolah disekolah
umum.
Dalam keseharian ilham, ilham tidak pernah main keluar rumah,
ilham hanya main bersama kaka, adiknya dan ibunya saja. Ilham tidak
pernah diperbolehkan untuk main keluar karena ibunya terlalu takut dan
terlalu

khawatir

terhadap

ilham.

Ibu

ilham

mengungkapkan

ke

khawatirannya karena takut anaknya dijadikan bahan olok-olokan saudara,


tetangga, dan teman-temannya, karena ilham memiliki hambatan atau
ketidak mampuan dalam segi kecerdasan dan pendengarannya.
Sebelum ilham disekolahkan ke Sekolah Luar Biasa , ilham sulit dan
tidak bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Kata-kata yang
digunakannya pun tidak sesuai dengan eja an S-P-O-K (Subjek-PredikatObjek-Keterangan). Bang kata yang dimiliki ilham sangatlah sedikit
contohnya ketika ilham menginginkan minum, ilham hanya menyebutkan
kata minum saja, tanpa mengucapkan permintaan tolong. Setelah ilham
disekolahkan di sekolah luar biasa ilham mengalami peningkatan, kosa kata
yang dimiliki ilham sudah mulai banyak.
Kegiatan yang paling ilham senangi apabila dirumah adalah bermain
game dan menonton kartun. Disekolah ilham menyenangi kegiatan seperti
membuat kerajianan menganyam, menggambar dan menanam pohon dll.
Dahulu ilham sulit sekali bersosialisasi dengan orang lain, bahkan
untuk berkomunikasipun tidak nyambung, ilham bermain di rumah nya
dengan anak-anak dibawah usianya terkadang ilham seringkali dikucilkan
oleh teman-temannya seusianya, bahkan tetangga dan saudara-saudaranya.

Setiap hari ilham pergi sendiri kesekolah tanpa diantar oleh orang
tuanya ataupun kakanya, namun setiap kali ilham pergi atau pulang sekolah
ada teman teman rumahnya yang mengejek ilham.
Orang tua belum bisa menerima ketidak mampuan ilham karena
orang tua ilham merasa , ilham berbeda dengan anak-anak seunia ilham pada
umumnya. Orang tua ilham sering kali menyalahkan masa lalu karena
penyebab kelahiran ilham yang mengalami kuning.
Dan ibu ilham pernah mengungkapkan hal andai saja waktu dulu ibu
melahirkan ilham dan mengetahui kalau ilham kuning, ibu langsung
menyuruh dokter agar ilham dimasukan kedalam incubator . kata-kata
seperti itu sering sekali terlontar dari dalam mulut ibu ilham. Dan pernyataan
tersebut membuat pengakuan dalam diri ibu ilham bahwa , orang tua ilham
belum bisa menerima ketidak mampuan ilham baik itu dalam segi
kecerdasan maupun pendengarannya. Karena ibu ilham terus berambisi
bahwa suatu saat ilham mampu seperti anak-anak pada umumnya.
D. Asesmen Perkembangan
Bardasarkan diagnosa para ahli menurut :
Dokter :
Ilham diperiksakan ke dokter di RS. Hasan Sadikin karena orang tua
ilham merasa terdapat kejanggalan dalam diri ilham sejak ilham berusia 2
tahun yaitu karena aspek perkembangan dalam segi komunikasi yang
mengalami

ketertinggalan,

namun

orang

tua

ilham

baru

sempat

memeriksakan keadaan ilham pada saat usia ilham 5 tahun.


Hasil diagnosa dari dokter belum jelas karena ketika anak
diperiksakan ke dokter di RS Hasan Sadikin sampai sebanyak 3 kali anak
tidak mau juga tidur walaupun sudah dberikan obat tidur karena syarat
pemeriksaan diharuskan anak untuk tidur.
Karena syarat pemeriksaan diharuskan anak dalam keadaan tertidur
ilham tidak dapat diperiksa oleh dokter tersebut dan tidak membuahkan hasil
atau diagnose yang tepat oleh dokter.
Setelah pemeriksaan ketiga yang masih juga gagal dan tidak
membuahkan hasil, orang tua ilham tidak lagi memeriksakan ilham ke dokter
untuk melihat kondisi dari ilham tersebut.

Menurut Terapis:
Ilham pernah diterapi oleh okupasi terapis wicara namun dianggap
normal dan tidak memiliki hambatan karena ketika dites dan diberikan
pertanyaan anak mampu mendengar dan berbicara.
Hal tersebut membawa kejanggalan pada orang tua ilham, mengapa
ketika ilham dibawa kepada terapis, ilham malah mampu menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh terapis dengan benar dan tepat. Seperti , adik
namanya siapa? Lalu ilham menjawab, ilham. Dan pertanyaan seterusnya
mampu ilham jawab.
Setelah hasil diagnosa yang diberikan terapis kepada orang tua ilham
adalah ilham tidak mengalami hambatan dalam segi komunikasi namun
setelah ilham pulang kerumah dan melakukan kegiatan seperti sediakala ,
ilham masih saja mengalami ketidak sesuaian pada saat berkomunikasi, tidak
nyambung. Terkadang apa yang ditanyakan tidak sesuai dengan jawaban
yang diberikan.
Menurut Guru Kelas Ilham
Berdasarkan hasil assesmen yang dilakukan oleh guru yang
menangani ilham, ilham memiliki hambatan dalam segi kecerdasan dan
pendengarannya nya. Ilham memiliki kecerdasan dibawah rata-rata dan
tergolong tunagrahita ringan karena IQ ilham setelah dilakukan pengetesan
hanya sekitar 85. Dan ilham memiliki bang kosa kata yang sangat sedikit
sehingga kata-kata yang bisa ilham ungkapkan dalam berkomunikasi hanya
sedikit dan seperlunya.
Karena kurangnya kosa kata yang dimiliki ilham maka ilham
mengalami

kesulitan

dalam

proses

pembelajaran,

terutama

dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia, PKN dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang


banyak sekali memuat teks bacaan didalamnya.
Ilham pun memiliki kesulitan dalam segi mengingat , mengingat
kata-kata yang terdiri dari tiga samapai empat suku kata bahkan lebih , ilham
mengalami kesulitan sehingga proses mengangat perlu dan pengaruh dalam
proses pembalajaran sehingga kosa kata yang ilham miliki dapat berkembang

banyak .dan akan mempermudah ilham dalam mata pelajaran lain disekolah
ilham khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, PKN, Ilmu
Pengetahuan Sosial.
E. Gambaran Kondisi Keluarga dan Lingkungan
a.

Kondisi Keluarga
Pada awalnya kelurga ilham belum bisa sepenuhnya menceritakan apa

yang dirasakan oleh anaknya, dan terlihat lebih menutup-nutupi keadaan atau
kondisi yang dialami oleh anak, yang selalui diceritakan hanyalah keadan ilham
ketika dirumah saja yaitu bermain dengan ibu dan adiknya saja tanpa
menyinggung masalah yang dihadapi oleh sang ibu.
Berdasarkan dari hasil wawancara terhadap pihak keluarga setelah
melakukan proses observasi selama lima hari berturut-turut dengan berkunjung
kerumah, ternyata keluarga belum bisa menerima akan kekurang atau hambatan
yang dimiliki oleh anak. Terutama dari pihak ibu, karena ibunya merasa bahwa
anak nya sama dengan anak pada umumnya yang tidak memiliki hambatan,
namun pada kenyataannya ilham memiliki hambatan dalam kecerdasan dan
memiliki sedikit gangguan atau hambatan dalam pendengarannya .
Ibu ilham pun sering kali menggungkapkan kalimat andai saja sewaktu
ilham lahir itu langsung diberikan penanganan incubator oleh dokter pasti hal
seperti ini tidak akan terjadi perkataan tersebut seringkali dilontarkan oleh
sang ibu kepada observer.
Seringkali ibu ilham mengekang dan melarang ilham untuk bermain atau
bergaul dengan teman di lingkungan sekitar ilham maupun saudaranya sendiri,
karena menurut orang tua ilham terutama ibunya , untuk apa ilham bermain
dengan teman bahkan saudaranya sendiri kalau hanya menyebarkan keburukan
saja kepada orang lain. Yang sering kali didengar oleh ibu ilham mengenai
keluarganya adalah seringnya saudara ilham terutama yang seumuran ilham
mengolok-olok ilham dengan sebutan anak luar biasa dan sekolah di SLB. Hal
tersebutlah uuyang menjadikan ibu ilham tidak mampu menerima kenyatan
bahwmpuan dalam segi kecerdasan dan pendengarannya.
Seringkali orang tua ilham tidak melihat potensi yang dimiliki anak nya.
Ibunya hanya melihat kondisi kekurangan ilham saja dan mengabaikan potensi
yang dimiliki ilham misalnya dalam segi keterampilan menggambar.

Anak berkebutuhan khusus pada umumnya memang berbeda namun anak


berkebutuhan khususpun memiliki potensi atau bakat yang dimiliki dalam
dirinya, yang seharusnya dikembangkan agar potensi yang dimiliki oleh anak
tersebut dapat berkembang secara optimal. Terutama ilham yang memiliki
potensi atau bakat dalm bidang menggambar hal tersebut dapat terus
dikembangkan sehingga potensi yang dimiliki ilham dapat berkembang secara
optimal dan potensi yang dimilikinya tersebut dapat dijadikan sebagai sumber
penghasilannya kelak .
b. Kondisi Lingkungan

Berdasarkan hasil dari penilaian terhadap lingkungan , ilham memiliki


keterbatasan sosial dengan lingkungan karena faktor orang tua yang tidak
mengijinkan ilham untuk bermain dengan teman-teman seusianya. Dikarenakan
faktor anak-anak seumuran ilham yang berada dilingkungan sekitar ilham
sering kali mengejek dan mengolok-olok ilham sehingga ilham selalu terpojok
dan orang tua ilham merasa sakit hati akan omongan atau cacian yang temanteman ilham ucapkan terhadap ketidak mampuan atau kekurangan yang ilham
miliki.
Sehingga ilham kurang sekali bersosialisasi atau beradaptasi dengan
temen-temen yang berada disekitar rumahnya. Ilham hanya bermain dirumah
bersama ibu dan adik nya dan bermain ketika ilham berada disekolah saja.

BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu
anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga)
agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi
atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan
kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga
Dalam melakukan konseling keluarga terdapat beberapa jenis dan teori
untuk

memahami

setiap

persoalan

dan

berusaha

untuk

mencoba

memecahkannya. Diantaranya adalah konseling dengan menggunakan teori


RET (Rational Emotive Theraphy), Behavioral, dan Client-Centered Therapy.
Jika melihat contoh kasus yang dipaparkan dalam makalah ini, maka teori
konseling yang digunakan adalah Rational Emotive Theraphy (RET), karena
ada proses merubah pandangan dari yang awalnya irasional menjadi lebih
rasional. Walaupun pada kenyataannya proses konseling tersebut tidak
dilakukan oleh seorang konselor, akan tetapi kegiatan tersebut sudah
mencerminkan proses konseling keluarga secara keseluruhan
B. Saran
Beberapa saran asesor sampaikan dalam laporan ini, saran tersebut
diantaranya sebagai berikut:
1. Proses penanganan atau intervensi yang dilakukan observer kepada pihak
keluarga dan anak tidak boleh berhenti sampai pihak keluarga benar-benar
bisa menerima kekurangan atau hambatn yang dialami oleh anak.
2. Selalu memberikan motivasi kepada anak dari orang tua agar potensi yang
dimiliki oleh anak dapat berkembang dengan baik.
3. Pada guru harus lebih memperhatikan dan memberikan arahan supaya anak
ada motivasi untuk belajar.
4. Kepada orang tua untuk lebih bisa membimbing anak belajar untuk dapat
mengatasi hambatan anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Debdikbud PP No. 72 Tahun. (1991). Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia N0.72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa.
Jakarta: Balai Pustaka.
Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Pasal 5 Butir 1,2
dan 4. (n.d.). Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang Tua,
Masyarakat, dan Pemerintah BAB IV Pasal 5 butir 1,2 dan 4.
Fokusindo Mandiri.
UU SISDIKNAS NO 20 TAHUN 2003. (2013, april 22). Retrieved Juni 29,
2013, from http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/22/kurikulum2013-dari-sisi-pandang-uu-no20-th-2003-tentang-sisdiknas553630.html.

Gainau, M. B. (n.d.). PEMBERDAYAAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


MELALUI BIMBINGAN KONSELING. Retrieved Juli 3, 2014, from
http://www.scribd.com/doc/211714784/PEMBERDAYAAN-ANAKBERKEBUTUHAN-KHUSUS-MELALUI-BIMBINGANKONSELING#download:
http://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingan-konseling-keluarga/
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195505161981011
MUSYAFAK_ASSYARI/Konseling_ABK/konseling_keluarga/konseling_kelu
arga.pdf
http://butterfly31girl.blogspot.com/2012/05/sejarah-perkembangan-bimbingandan.html

LAMPIRAN

Pedoman wawancara untuk orang tua ilham

1. Bagaimana kondisi ilham pada saat proses kehamilan ibu?


2. Apakah ada perbedaan pada saat proses kehamilan ilham dengan kakanya ?
3. Bagaimana kondisi ibu dan ilham pada saat proses persalinan berlangsung?
4. Bagaimana kondisi ilham pada saat setelah proses kelahirannya?
5. Apakah ilham pernah mengalami sakit yang berkepanjangan sewaktu kecil?
6. Sejak kapan ibu merasakan keanehan dan kejanggalan atas ketidak mampuan
dalam segi pendengaran yang ilham alami?
7. Sejak kapan ibu merasakan keanehan dan kejanggalan atas ketidak mampuan
ilham dalam segi akademiknya?
8. Apa yang ibu lakukan setelah mengetahui bahwa anak ibu yang bernama
ilham mengalami ketidakmampuan atau hambatana dalam pendengarannya?
9. Apa yang ibu lakukan setelah mengetahui bahwa anak ibu yang bernama
ilham mengalami ketidakmampuan atau hambatan dalam akademiknya?
10. Kegiatan apa yang ilham lakukan sewaktu berada di rumah?
11. Apakah ilham sering bermain dengan teman-teman seusianya yang berada di
sekitar lingkungan rumah?
12. Permainan apa yang sering ilham mainkan apabila sedang bermain dirumah?

13. Bagaimana proses belajar ilham disekolah?


14. Apakah ada penanganan khusus yang ibu lakukan ketika ilham belajar
dirumah?
15. Bagaimana pandagan tetangga mengenai kondisi ilham?
16. Apa yang ibu lakukan ketika ilham mengalami kejenuhan dalam proses
belajar mengajar disekolah?
17. Apakah ilham pernah ibu bawa ke dokter atau terapis untuk menanggulangi
ketidakmampuan yang ilham alami saat ini?
18. Apakah ilham merasa senang ketika ilham bermain dengan teman-teman
disekolahnya?

19. Pernahkah ilham mengeluh akan aktifitas yang dia lakukan selama dirumah?

20. Pernahkah ilham mengeluh kepada ibu akan aktifitas yang dia lakukan
selama disekolah?

Pedoman wawancara guru


1. Hambatan apa yang ilham alami?
2. Penanganan apa yang dilakukan oleh guru walikelas ilham untuk menangani
ketidak mampuan atau hambatan yang ilham alami?

3. Bagaimana sosialisasi ilham ketika disekolah?

4. Apakah ilham bermain dengan teman-teman disekolahnya ?

5. Bagaimana sikap orang tua ilham selama ilham bersekolah di SLB-C Terate
Bandung?

6. Keluhan apa yang sering ilham katakana kepada ibu guru selama disekolah?

7. Penanganan apa yang dilakukan ketika ilham mengalami kejenuhan dalam


proses belajar mengajar?

8. Hal apa yang paling ilham senangi ketika proses pembelajaran disekolah?

9. Bagaimana cara ibu mengembangkan bakat atau potensi yang ilham miliki
selama disekolah?

10. Bagaimana cara ibu waklikelas berkomunikasi dengan orang tua ilham

mengenai perkembangan ilham selama disekolah?