Anda di halaman 1dari 19

BAB 2

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Dalam bab ini akan diuraikan tentang konsep-konsep terkait yang


dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:
1. Konsep keluarga
2. Konsep dukungan keluarga
3. Konsep lama hari rawat
4. Gangguan jiwa

1. Konsep Keluarga
1.1 Defenisi Keluarga
Keluarga didefenisikan dalam berbagai cara. Defenisi keluarga berbedabeda, tergantung kepada orientasi teoritis pembuat defenisi yaitu dengan
menggunakan penjelasan yang penulis cari untuk menghubungkan keluarga
(Friedman, 1998)
Pengertian keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan
hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah merupakan kesatuan
sosial yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan lainnya. Berdasarkan
dimensi hubungan darah ini, keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga besar dan
keluarga inti. Sedangkan dalam dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan
suatu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling berhubunganatau interaksi
dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, walaupun diantara

Universitas Sumatera Utara

mereka tidak terdapat hubungan darah. Keluarga berdasarkan hubungan sosial ini
dinamakan keluarga psikologis dan keluarga pedagogis (Shochib, 1998).
Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang
hidup bersama dalam satu rumah dan masing masing anggota keluarga
merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling
memperhatikan, dan saling menyerahkan diri. Sedangkan dalam pengertian
pedagogis, keluarga adalah satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang
antara pasangan yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk
saling menyempurnakan diri (Soelaeman, 1994 dalam Shochib, 1994).
Duval (1972 dalam Setiadi, 2008) membuat defenisi keluarga yaitu
sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran
yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota
keluarga. Menurut WHO (1969), keluarga adalah anggota rumah tangga yang
saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan.

1.2 Struktur Keluarga


Menurut Friedman (1998 dalam Setyowati dan Murwani, 2008) struktur
keluarga terdiri atas:
1. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga berfungsi untuk, membuat anggota keluarga
bersifat terbuka

dan jujur, selalu menyelesaikan konflik keluarga,

berfikiran positif dan tidak mengulang ulang isu dan pendapat sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Komunikasi dalam keluarga berfungsi agar anggota keluarga yakin


dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat, apa yang disampaikan jelas
dan berkualitas, selalu meminta dan menerima umpan balik sehingga
anggota

keluarga

lain

yang

menerima

pendapat

tersebut

dapat

mendengarkan dengan baik, memberikan umpan balik, dan melakukan


validasi.
2. Struktur peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksudkan dengan posisi atau status
adalah posisi individu dalam masyarakat sebagai suami, istri, anak, orang
tua, dan sebagainya. Tetapi kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh
masing masing individu dengan baik. Misalnya sebagai oarng tua ketika
salah seorang anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa maka
sebaiknya orang tua harus memberikan dukungan dan perhatiannya bukan
mengucilkannya.
3. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan
atau mempengaruhi sehingga mengubah perilaku anggota keluarga yang
lain ke arah positif. Misalnya ketika salah seorang anggota keluarga
mengalami gangguan jiwa maka orang tua mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi perilaku dan sikap anggota keluarga yang lain ke arah yang
positif. Ada beberapa macam tipe struktur kekuatan yaitu, legitimat power
(hak untuk mengontrol), referent power (seseorang yang ditiru atau

Universitas Sumatera Utara

sebagai role model), reward power (kekuasaan penghargaan), coercive


power (kekuasaan paksaan atau dominasi), dan affective power (kekuasaan
afektif).
4. Nilai nilai keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara
sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya.
Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma
dan peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat
berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.

1.3 Fungsi Pokok Keluarga


1.3.1 Fungsi Afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang
merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk memenuhi
kebutuhan psikososial terutama bagi pasien gangguan jiwa. Keberhasilan
melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari
seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim
yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan
hubungan

dalam

keluarga.

Dengan

demikian,

keluarga

yang

berhasil

melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan


konsep diri positif.

Universitas Sumatera Utara

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi


afektif adalah:
a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling
mendukung antara keluarga dengan anggota keluarganya yang mengalami
gangguan jiwa, sehingga tercipta hubungan yang hangat dan saling
mendukung.
b. Saling menghargai, keluarga harus menghargai, mengakui keberadaan dan
hak anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa serta selalu
mempertahankan iklim yang positif.
c. Ikatan kekeluargaan yang kuat dikembangkan melalui proses identifikasi
dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga
terutama pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang
sangat membutuhkan perhatian dan dukungan dari keluarganya. Keluarga
harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anggota
keluarga dapat meniru tingkah laku yang positif tersebut.
1.3.2 Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui setiap
anggota keluarga, yang menghasilkan interaksi sosial. Keluarga merupakan
tempat setiap anggota keluarga untuk belajar bersosialisasi. Pada anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa keluarga berperan untuk membimbing anggota
keluarga tersebut untuk mau bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain dan
lingkungan sekitarnya. Keberhasilan perkembangan

yang dicapai anggota

Universitas Sumatera Utara

keluarga melalui interaksi atau hubungan antara anggota keluarga yang


diwujudka n dalam sosialisasi.
1.3.3 Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
seluruh anggota keluarga terutama anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa seperti memberikan dana untuk pengobatan dan perawatan selama dirawat di
rumah sakit jiwa, menyediakan semua perlengkapan yang dibutuhkan seperti
pakaian, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan shampoo selama pasien dirawat di
rumah sakit jiwa.
1.3.4 Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan,
yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa atau merawat anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan
kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga
melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga
yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksankan tugas kesehatan berarti
sanggup menyelesaikan masalah kesehatan (Friedman, 1998 dalam Setyowati &
Murwani, 2008).

Universitas Sumatera Utara

1.4. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan


Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas
dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan. Freeman (1981 dalam
Setiadi, 2008)

membagi tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus

dilakukan, yaitu:
1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya. Perubahan sekecil apapun
yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian
dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan
perlu segera dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan
seberapa besar perubahannya.
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga.
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat dan sesuai dengan keadaan keluarga , dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan
memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera melakukan
tindakan yang tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan
teratasi, terutama dalam mengatasi gangguan jiwa keluarga harus
mengambil tindakan dengan segera agar tidak memperburuk keadaan
klien. Jika keluarga mempunyai keterbatasan sebaiknya meminta bantuan
orang lain dilingkungan sekitar keluarga.
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit terutama
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa atau yang tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.

Universitas Sumatera Utara

Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki


kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama atau ke
pelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah
yang lebih parah tidak terjadi.
4. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan keperibadian anggota keluarga. Dengan cara keluarga tidak
mengucilkan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, keluarga
mau mengikutsertakan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
dalam berbagai kegiatan yang ada di dalam keluarga tersebut.
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga
kesehatan (pemanfaatan lembaga kesehatan yang ada). Dalam hal ini
keluarga harus mampu merawat klien baik dirumah maupun membawa
klien berobat jalan ke rumah sakit jiwa yang ada, apabila keluarga tidak
sanggup lagi merawat klien maka sebaiknya keluarga memasukkan klien
ke rumah sakit jiwa untuk dirawat inap tapi selama klien dirawat inap
sebaiknya keluarga mengunjungi klien dan memberikan dukungan
semangat.

Universitas Sumatera Utara

2. Konsep Dukungan Keluarga


2.1 Definisi dukungan keluarga
Dukungan keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan yang dipandang
oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diadakan untuk keluarga
dimana dukungan tersebut bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga
memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan
pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Dukungan keluarga dapat berupa
dukungan keluarga internal, seperti dukungan dari suami/istri, dukungan dari
saudara kandung, dukungan dari anak dan dukungan keluarga eksternal, seperti
dukungan dari sahabat, tetangga, sekolah, keluarga besar, tempat ibadah, praktisi
kesehatan (Friedman,1998).
Kane (1988 dalam Friedman, 1998) mendefenisikan dukungan keluarga
sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya.
Dukungan keluarga tersebut bersifat reprokasitas (timbal balik), umpan balik
(kuantitas dan kualitas komunikasi), dan keterlibatan emosional (kedalaman
intimasi dan kepercayaan) dalam hubungan sosial.
Dukungan keluarga merupakan sebuah proses yang terjadi sepanjang
kehidupan, dimana dalam semua tahap siklus kehidupan dukungan keluarga
membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal untuk
meningkatkan

kesehatan

dan

adaptasi

keluarga

dalam

kehidupan

(Friedman,1998).

Universitas Sumatera Utara

2.2 Komponen-Komponen Dukungan Keluarga


Menurut Caplan (1976, dalam Friedman,1998) dan House (1984, dalam
Setiadi, 2008) komponen komponen dukungan keluarga terdiri dari:
a. Dukungan Pengharapan
Dukungan pengharapan meliputi pertolongan pada individu untuk
memahami kejadian gangguan jiwa dengan baik, sumber gangguan jiwa dan
strategi koping yang dapat digunakan dalam menghadapi stressor. Dukungan
pengharapan yang diberikan berdasarkan kondisi sebenarnya dari penderita.
Sehingga dukungan yang diberikan dapat membantu meningkatkan strategi
koping individu dengan strategi strategi alternatif berdasarkan pengalaman yang
berfokus pada aspek aspek yang positif.
Dalam dukungan pengharapan, kelompok dukungan dapat mempengaruhi
persepsi individu akan ancaman dengan mengikutsertakan individu untuk
membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain yang mengalami hal yang
lebih buruk. Dukungan keluarga membantu individu dalam melawan keadaan
gangguan jiwa yang dialami individu dengan membantu mendefenisikan kembali
situasi tersebut sebagai ancaman kecil. Pada dukungan pengharapan keluarga
bertindak sebagai pembimbing seperti membimbing pasien untuk minum obat dan
membina hubungan yang baik dengan pasien-pasien lain dengan memberikan
umpan balik yaitu pertolongan yang diberikan oleh keluarga yang memahami
permasalahan yang dihadapi oleh anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa sekaligus memberikan pilihan respon yang tepat untuk menyelesaikan

Universitas Sumatera Utara

masalah. Jenis dukungan ini membuat individu mampu membangun harga dirinya,
kompetensi dan bernilai.
b. Dukungan Nyata
Dukungan nyata meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti
pelayanan, bantuan financial, material berupa bantuan nyata, dimana benda atau
jasa yang diberikan akan membantu memecahkan masalah, seperti saat seseorang
memberi atau meminjamkan uang, menyediakan transportasi, menjaga dan
merawat saat sakit, menyediakan peralatan yang dibutuhkan oleh penderita
gangguan jiwa dan menyediakan obat obatan yang dibutuhkan. Dukungan nyata
paling efektif bila dihargai oleh penerima dengan tepat. Pada dukungan nyata
keluarga merupakan sumber untuk mencapai tujuan praktis dan konkrit.
c. Dukungan Informasi
Dukungan informasi meliputi pemberian solusi dari masalah, pemberian
nasehat, pengarahan, saran, ide-ide, dan umpan balik tentang apa yang dilakukan
oleh pasien gangguan jiwa. Keluarga dapat menyediakan informasi dengan
menyarankan tentang terapi yang baik dan tindakan yang spesifik bagi pasien
gangguan jiwa untuk melawan stressor. Pada dukungan informasi ini keluarga
sebagai penghimpun informasi dan pemberi informasi.
d. Dukungan Emosional
Selama individu mengalami gangguan jiwa, individu sering menderita
secara emosional, sedih, cemas, dan kehilangan harga diri. Dukungan emosional
yang diberikan oleh keluarga atau orang lain dapat membuat individu merasa
tidak menanggung beban sendiri tetapi masih ada keluarga atau orang lain yang

Universitas Sumatera Utara

memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, dan empati terhadap


persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan masalah yang
dihadapinya. Dukungan emosional dapat berupa dukungan simpati, empati, cinta,
kepercayaan, dan penghargaan. Pada dukungan emosional keluarga sebagai
sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta
memberikan semangat dan membantu penguasaan terhadap emosi.

3. Lama Hari Rawat


3.1. Defenisi lama hari rawat
Lama hari rawat adalah jumlah hari di antara tanggal masuk dan tanggal
keluar dari rumah sakit dari seorang pasien, dengan menghitung tanggal masuk
dan tidak dihitung tanggal keluar (DepKes RI, 1975). Dapat dihitung dengan
mengurangi tanggal pasien tersebut keluar dengan tanggal pasien itu masuk, bila
ada pada periode/bulan yang sama. Misalnya masuk tanggal 5 Mei dan keluar
pada tanggal 8 Mei, maka lama hari rawat adalah (8-5) atau 3 hari. Tetapi bila
tidak ada bulan yang sama, maka perlu adanya penyesuaian, misalnya masuk
tanggal 28 Mei dan keluar tanggal 6 Juni, maka perhitungannya adalah 31 (Mei)
28 (Mei) + 6 menjadi 9 hari. Dan bila pasien masuk dan keluar pada hari yang
sama, lama hari rawatnya adalah 1 hari.
Rata-rata lama hari rawat adalah rata-rata hari perawatan dirumah sakit
yang diterima oleh seorang pasien yang sudah memutuskan untuk pulang dalam
satu jangka waktu (DepKes RI, 1975). Rata rata lama hari rawat adalah 7
sampai 10 hari (Nursalam, 2007). Sedangkan berdasarkan hasil survei awal

Universitas Sumatera Utara

peneliti didapatkan rata-rata lama hari rawat pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provsu Medan peserta JamKesMas 10 sampai 14 hari, dimana lama
hari rawat pasien gangguan jiwa ini sudah merupakan kebijakan dari pihak rumah
sakit jiwa (Medical Record, 2009).
3.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi lama hari rawat
Lama hari rawat (LOS) merupakan salah satu unsur atau aspek asuhan dan
pelayanan di rumah sakit yang dapat dinilai / diukur. Bila seseorang dirawat di
rumah sakit, maka yang diharapkan tentunya ada perubahan akan derajat
kesehatannya. Bila yang diharapkan baik oleh dokter maupun oleh penderita itu
sudah tercapai maka tentunya tidak ada seorang pun yang ingin berlama-lama di
rumah sakit (Heryati,1994).
Lama hari rawat berhubungan erat dengan mutu dan efisiensi rumah sakit,
dan jumlah pengeluaran biaya oleh keluarga pasien, agar dapat mewujudkan
kepuasan pasien dan keluarga pasien dengan mengetahui faktor-faktor yang
terkait dengan lama hari rawat, maka hal tersebut dapat digunakan untuk
meningkatkan kinerja rumah sakit. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lama
hari rawat yaitu umur, perawatan sebelumnya, dan alasan pemulangan pasien
(Setiawan, 2009) .

Universitas Sumatera Utara

4. Gangguan Jiwa
4.1 Defenisi gangguan jiwa
Menurut Kaplan dan Sadock (1994 dalam Baihaqi, dkk, 2005) gangguan
jiwa merupakan penyimpangan dari keadaan ideal dari suatu kesehatan mental
yang merupakan indikasi adanya gangguan jiwa. Dimana penyimpangan ini
mencakup atas penyimpangan pada pikiran, perasaan dan tindakan. Penderita
gangguan jiwa tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak dapat lagi
menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau menyakiti
dirinya sendiri. Misalnya, takut yang tidak beralasan, waham dan halusinasi pada
penderita skizofrenia, tingkah laku antisosial pada orang-orang yang menderita
kepribadian sosiopatis.
Menurut Dokter Danusukarto dalam bukunya yang berjudul Tanya Jawab
Kesehatan Keluarga membagi gangguan jiwa menjadi empat golongan besar
yaitu:
a. Psikosa yaitu gangguan jiwa yang meliputi gangguan otak organik
(demensia. psikosa alkoholik, psikosa karena infeksi intrakranial, psikosa
karena kondisi otak yang lain).
b. Neurosa, gangguan kepribadian dan gangguan jiwa lainnya, merupakan
suatu ekspresi dari ketegangan dan konflik dalam jiwanya, namun
penderita umumnya tidak menyadari bahwa ada hubungan antara gejalagejala yang ia rasakan dengan konflik emosinya.

Universitas Sumatera Utara

c. Neurosa meliputi deviasi seksual, alkoholisme, ketergantungan obat,


psikomatik, histeria, psikopat, gangguan tidur, ganguan kemampuan
belajar khusus.
d. Retardasi mental yaitu suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti
dan tidak lengkap yang terutama ditandai oleh rendahnya keterampilan
yang berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan
kognitif (daya ingat, daya pikir, daya belajar), bahasa, motorik dan sosial.
e. Keadaan tanpa gangguan psikiatris yang nyata dan kondisi nonspesifik
yang meliputi kegagalan penyesuaian sosial dalam perkawinan, pekerjaan
(Litbang, 2005).
4.2 Penyebab Gangguan Jiwa
Biarpun gejala utama atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur
kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik),
dilingkungan sosial (sosiogenik) ataupun di psike (psikogenik). Biasanya tidak
terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai
unsur yang saling mempengaruhi atau terjadi bersamaan, lalu timbullah gangguan
badan ataupun gangguan jiwa. Misalnya, seseorang yang mengalami penyakit
kronik yang tidak sembuh-sembuh maka daya tahan psikologinya pun menurun
sehingga ia mungkin mengalami depresi (Maramis, 1994).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Coleman, Butcher, dan Carson (1980 dalam Baihaqi, dkk, 2008),
beberapa penyebab gangguan jiwa, yaitu:
a. Penyebab primer (primary cause)
Kondisi yang secara langsung menyebabkan terjadinya gangguan jiwa,
atau kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan jiwa tidak akan
muncul. Misalnya, infeksi sifilis yang menyerang sistem syaraf, yaitu
psikosis yang disertai paralisis atau kelumpuhan yang bersifat progresif
atau berkembang secara bertahap sampai akhirnya penderita mengalami
kelumpuhan total. Tanpa infeksi sifilis, gangguan ini tidak mungkin
terjadi.
b. Penyebab yang menyiapkan (predisposing cause)
Menyebabkan seseorang rentan terhadap salah satu bentuk gangguan jiwa.
Misalnya, anak yang ditolak oleh orang tuanya menjadi lebih rentan
terhadap tekanan hidup sesudah dewasa dibandingkan orang-orang yang
memiliki dasar rasa aman yang lebih baik.
c. Penyebab Pencetus (precipitating cause)
Ketegangan-ketegangan atau kejadian-kejadian traumatik yang langsung
dapat menyebabkan gangguan jiwa tau mencetuskan gejala gangguan jiwa.
Misalnya, kehilangan harta benda yang berharga, menghadapi kematian
anggota keluarga, menghadapi masalah sekolah, mengalami kecelakaan
hingga cacat, kehilangan pekerjaan, perceraian, atau menderita penyakit
berat.

Universitas Sumatera Utara

d. Penyebab yang menguatkan (reinforcing cause)


Kondisi yang cenderung mempertahankan atau memperteguh tingkah laku
maladaptif yang sudah terjadi. Misalnya, perhatian yang berlebihan pada
seorang wanita

yang

sedang

dirawat

dapat

menyebabkan yang

bersangkutan kurang bertanggung jawab atas dirinya dan menunda


kesembuhan.
e. Sirkulasi faktor-faktor penyebab (multiple cause)
Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta saling mempengaruhi.
Dalam kenyataannya, suatu gangguan jiwa jarang disebabkan oleh satu
penyebab tunggal, bukan sebagai hubungan sebab akibat, melainkan saling
mempengaruhi antara satu faktor penyebab dengan faktor penyebab yang
lain.
4.3. Gejala-gejala gangguan jiwa
Gejala-gejala gangguan jiwa adalah hasil interaksi yang kompleks antara
unsur somatic, psikologik dan sosiobudaya. Gejala-gejala inilah yang sebenarnya
menandakan dekompensasi proses adaptasi dan terutama terdapat pada pemikiran,
perasaan dan perilaku (Maramis,1994).
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (1989), gejala-gejala gangguan jiwa dapat
digolongkan dalam 4 golongan yaitu mental, emosional, tingkah laku, dan fisik.
Gejala mental:
a. Mudah terganggu konsentrasinya, pikiran yang meloncat-loncat, asosiasi
mental yang terhambat/terlambat, proses berpikir terhalang.
b. Kehilangan pengertian atau pemakaian bahasa (aphasia).

Universitas Sumatera Utara

c. Kehilangan kemampuan persepsi hubungan-hubungan yang ada didunia


sekitar (agnosia).
d. Kehilangan ingatan seluruhnya (amnesia).
e. Ketakutan yang kuat dan tidak rasional (phobia).
f. Kompulsi yakni keinginan untuk melakukan bentuk tingkah laku secara
berulang-ulang.
g. Ide yang menetap yang mungkin meliputi dirinya dan sikap orang lain
terhadap dirinya atau sikapnya terhadap orang lain.
h. Gangguan persepsi.
i.

Waham (penyimpangan penilaian)

Gejala emosional yang menyimpang:


a. Keadaan pengingkaran emosi disertai ekspresi kesedihan, keluhan,
tangisan, dan menolak makan dan bicara, sipenderita diam saja, depresif,
sedih dan putus asa.
b. Keadaan gembira yang berlebihan kelihatan dari nyayian, tarian, cara
bicaranya dan cara tertawanya. Sipenderita tidak kenal rasa susah atau
sedih, tidak menyadari adanya hal-hal yang menyenangkan.
Gejala tingkah laku:
a. Aktifitas psikomotorik bertambah, penderita terus-menerus bergerak,
menagis, ketawa, dan berteriak atau berbisik.
b. Aktifitas psikomotorik berkurang, terlihat dari berkurangnya gerakan,
kekakuan dan berbicara tersendat-sendat atau menolak bicara.
c. Pengulangan suatu tingkah laku yang sama terus menerus.

Universitas Sumatera Utara

d. Kelakukan yang impulsif atau terlalu terhadap kesan/sugesti luar yang


terlihat dari pengulangan kata-kata atau gerakan terus-menerus, sikap
menolak sikap memberi respon atau berbuat sesuatu yang berlawanan
dengan apa yang diharapkan daripadanya.
e. Berbicara dengan bahasa yang kasar, kotor, dan memperlihatkan tingkah
laku yang aneh.
Gejala fisik
a. Mual, muntah, sakit kepala dan pusing.
b. Kehilangan nafsu makan.
c. Perubahan berat badan yang ekstrim.
d. Koordinasi motorik yang tidak baik, gangguan bicara.

Universitas Sumatera Utara