Anda di halaman 1dari 7

Definisi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanandarah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang
mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat
istirahat diperkirakan mempunyai tekanan darah tinggi.
Hipertensi sering disebut sebagai the silent disease. Umumnya penderita tidak
mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya.
Dikatakanhipertensi jika didapatkan ukuran yang tinggi sebanyak dua kali dalam tiga
pengukuran, selama palingsedikit dua bulan.
Klasifikasi Tekanan Darah
Normal
Prahipertensi
Hipertensi stage I
Hipertensi stage II

Tekanan Darah Sistolik


<120
120-139
140-159
>160

Tekanan Darah Diastolik


<80
80-89
90-99
>100

Hipertensi yang tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya penyulit pada alat-alat
tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, retina, aorta dan pembuluh darah tepi. Penyulit jantung
terjadi karena miokardium mengalami perubahan hipertrofi. Kondisi ini dan segala
manifestasi kliniknya (terutama gagal jantung) dinamakan penyakit jantung hipertensif.
Pada penyakit jantung hipertensif, dapat terjadi berbagai jenis hipertrofi miokard, khususnya
ventrikel kiri (LVH
left ventricular hvpertropht').
Jenis yang mula-mula terjadi pada perjalanan klinik penyakit jantung hipertensif dinamakan
hipertrofi konsentris. Di sini perubahan hipertrofik ventrikel kiri terjadi sesuai dengan
beban menahun tekanan darah terhadapnya. Dinding ventrikel kiri menebal dan massa
ventrikel kiri bertambah; akan tetapi volume akhir diastolis ventrikel kiri masih normal atau
hanya sedikit bertambah. Kebutuhan otot jantung terhadap oksigen sering masih normal
Hipertrofi konsentris ini sering berkembang lebih jauh menjadi hipertrofi eksentris. Dalam
kondisi ini selain massa, volume ventrikel kiri juga akan meningkat dan tebal dinding
ventrikel menjadi normal atau hanya sedikit bertambah. Dengan kata lain dilatasi yang terjadi

tidak sebanding dengan perubahan pada ketebalan dinding ventrikel. Kebutuhan otot jantung
terhadap oksigen akan meningkat.
Jenis yang kc tiga memperlihatkan perubahan yang menyerupai kardiomiopati hipertrofik. Di
sini tebal dan massa ventrikel kiri akan meningkat sccara berlebihan dan ruang ventrikel
menjadi kecil. Kondisi ini dinamakan hipertrofi ireguler. Kebutuhan otot jantung terhadap
oksigen akan masih tetap sama atau dapat pula menurun1-. Jenis ke tiga ini lebih jarang
ditemui.

Patofisiologi

Hipertrofi ventrikel kiri


Hipertrofi ventrikel kiri (left ventricular hypertrophy/LVH) terjadi pada 15-20% penderita
hipertensi dan risikonya meningkat dua kali lipat pada pasien obesitas. Hipertrofi ventrikel
kiri merupakan pertambahan massa pada ventrikel (bilik) kiri jantung, hal ini merupakan
respon sel miosit terhadap stimulus yang menyertai peningkatan tekanan darah. Hipertrofi
miosit terjadi sebagai mekanisme kompensasi peningkatan tekanan afterload. Stimulus
mekanis dan neurohormonal yang menyertai hipertensi akan mengaktivasi pertumbuhan sel
miokard, ekspresi gen dan berujung kepada hipertrofi ventrikel kiri. Selain itu aktivasi sistem
renin-angiotensin akan menyebabkan pertumbuhan intestitium dan komponen sel matriks.

Abnormalitas atrium kiri


Abnormalitas atrium kiri, meliputi perubahan struktural dan fungsional, sangat sering terjadi
pada pasien hipertensi. Peningkatan tekanan darah/hipertensi akan meningkatkan volume
diastolik akhir (end diastolic volume/EDV) di ventrikel kiri sehingga atrium kiri pun akan
mengalami perubahan fungsi dan peningkatan ukuran. Peningkatan ukuran atrium kiri tanpa
disertai gangguan katup atau disfungsi sistolik biasanya menunjukkan hipertensi yang sudah
berlangsung lama/kronis dan mungkin berhubungan dengan derajat keparahan disfungsi
diastolik ventrikel kiri. Pasien juga dapat mengalami fibrilasi atrium dan gagal jantung.

Gangguan katup
Hipertensi berat dan kronik dapat menyebabkan dilatasi pada pangkal aorta sehingga
menyebabkan insufisiensi katup. Hipertensi yang akut mungkin menyebabkan insufisiensi
aorta, yang akan kembali normal jika tekanan darah dikendalikan. Selain menyebabkan
regurgitasi (aliran balik) aorta, hipertensi juga akan mempercepat proses sklerosis aorta dan
regurgitasi katup mitral.
Gagal jantung
Gagal jantung merupakan komplikasi yang sering terjadi pada hipertensi kronis. Pasien
dengan hipertensi dapat menunjukkan gejala-gejala gagal jantung namun dapat juga bersifat
asimtomatis (tanpa gejala). Prevalensi (gagal jantung)disfungsi diastolik asimtomatis pada
pasien hipertensi tanpa disertai hipertrofi ventrikel kiri adalah sebanyak 33%. Peningkatan
tekanan afterload kronik dan hipertrofi ventrikel kiri dapat mempengaruhi fase relaksasi dan
pengisian diastolik ventrikel.
Disfungsi diastolik sering terjadi pada penderita hipertensi, dan terkadang disertai hipertrofi
ventrikel kiri. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan afterload, penyakit arteri koroner,
penuaan, disfungsi sistolik dan fibrosis. Disfungsi sistolik asimtomatis biasanya mengikuti
disfungsi diastolik. Setelah beberapa lama, hipertrofi ventrikel kiri gagal mengkompensasi
peningkatan

tekanan

darah

sehingga

lumen

ventrikel

kiri

berdilatasi

untuk

mempertahankancardiac output. Lama-kelamaan fungsi sistolik ventrikel kiri akan menurun.


Penurunan ini mengaktifkan sistem neurohormonal dan renin-angiontensin, sehingga
meretensi garam dan air dan meningkatkan vasokonstriksi perifer, yang akhirnya malah
memperburuk keadaan dan menyebabkan disfungsi sistolik.

Iskemia miokard

Pada pasien hipertensi dapat timbul iskemia miokard yang bermanifestasi sebagai nyeri
dada/angina pektoris. Hal ini dikarenakan hipertensi menyebabkan peningkatan tekanan di
ventrikel kiri dan transmural, peningkatan beban kerja yang mengakibatkan hipertrofi
ventrikel kiri. Suplai oksigen yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan otot jantung yang
membesar akan menyebabkan nyeri dada. Hal ini diperparah jika terdapat penyulit seperti
aterosklerosis.

Aritmia jantung
Aritmia jantung yang sering ditemukan pada pasien hipertensi adalah fibrilasi atrium,
kontraksi prematur ventrikel dan takikardia ventrikel. Berbagai faktor berperan dalam
mekanisme arituma seperti miokard yang sudah tidak homogen, perfusi buruk, fibrosis
miokard dan fluktuasi pada saat afterload.
Sekitar 50% pasien dengan fibrilasi atrium memiliki penyakit hipertensi. Walaupun penyebab
pastinya belum diketahui, namun penyakit arteri koroner dan hipertrofi ventrikel kiri diduga
berperan dalam menyebabkan abormalitas struktural di atrium kiri. Fibrilasi atrium dapat
menyebabkan disfungsi sistolik dan diastolik serta meningkatkan risiko komplikasi tromboembolik seperti stroke.
Keluhan dan Gejala
Pada tahap awal, seperti hipertensi pada umumnya kebanyakan pasien tidak ada keluhan. Bila
simtomatik, maka biasanya disebabkan oleh
1.

Peninggian tekanan darah itu sendiri, seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy)
dan impoten

2.

Cepat capek, sesak napas, sakit dada, bengkak kedua kaki atau perut. Gangguan
vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena perdarahan
retina,transient cerebral ischemic

3.

Penyakit dasar seperti pada hipertensi sekunder: polidipsia, poliuria, kelemahan otot
pada aldosteronisme primer, peningkatan berat badan cepat dengan emosi yang labil pada

sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul dengan keluhan episode sakit kepala,
palpitasi, banyak keringat, dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy)
Pemeriksaan penunjang
Radiologi
Pada gambar rontgen torak posisi postero-anterior terlihat pembesaran jantung ke kiri,
elongasi aorta pada hipertensi yang kronis dan tanda-tanda bendungan pembuluh paru pada
stadium payah jantung hipertensi.

Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium darah rutin yang diperlukan adalah hematokrit, ureum dan
kreatinin, untuk menilai fungsi ginjal. Selain itu juga elektrolit untuk melihat kemungkinan
adanya kelainan hormonal aldosteron.
Pemeriksaan laboratorium urinalisa juga diperlukan untuk melihat adanya kelainan
pada ginjal.
Elektrocardiogram dan Echocardiografi
Pada Elektrocardiogram untuk melihat adanya tanda-tanda hipertrofi ventrikel kiri,
sedangkan echocardiografi adalah salah satu pemeriksaan penunjang yang akurat untuk
memantau terjadinya hipertrofi ventrikel, hemodinamik kardiovaskular, dan tanda tanda
iskemia miokard yang menyertai penyakit jantung hipertensi pada stadium lanjut.
Dengan Echocardiografi dapat diketahui apa yang terjadi pada jantung akibat
kompensasi terhadap hipertensi dan perangainya dan dapat dipantau hasil pengobatan serta
perjalanan penyakit jantung hipertensi.
Pengobatan
Pengobatan ditujukan untuk selain pada tekanan darah juga pada komplikasikomplikasi yang terjadi, yaitu dengan menurunkan tekanan darah menjadi normal,
mengobati payah jantung karena hipertensi, mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap

penyakit kardiovaskular, dan menurunkan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular


semaksimal mungkin.
Untuk menurunkan tekanan darah dapat ditinjau 3 faktor fisiologis yaitu, menurunkan
isi cairan intravaskular dan Na darah dengan diuretik, menurunkan aktivitas susunan saraf
simpatis dan respons kardiovaskular terhadap rangsangan adrenergik dengan obat dari
golongan antisimpatis, dan menurunkan tahanan perifer dengan obat vasodilator.
Diuretik
Cara kerja diuretik adalah dengan menurunkan cairan intravaskular, meningkatkan
aktifitas renal-pressor (renin-angiotensin-aldosteron). Meningkatkan aktifitas susunan sarah
simpatis , menyebabkan vasokonstriksi, meningkatkan irama jantung, meningkatkan tahanan
perifer (after-load) dan rangsangan otot jantung. Merangsang gangguan metabolisme lemak,
dan memiliki efek negatif terhadap

risiko penyakit kardiovaskular. Hipokalemia dapat

menyebabkan timbulnya denyut ektopik meningkat, baik pada waktu istirahat maupun
berolahraga. Meningkatkan risiko kematian mendadak. Gangguan toleransi glukosa,
gangguan metabolisme lemak dan akhirnya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Golongan anti-simpatis
Obat golongan anti-simpatis bekerja mempengaruhi susunan saraf simpatis atau
respon jantung terhadap rangsangan simpatis. Golongan yang bekerja sentral, misalnya
reserpin, alfa metildopa, klonidin, dan guanabenz. Golongan yang bekerja perifer yaitu
penghambat ganglion (guanetidin, guanadril), penghambat alfa (Prazosin), dan penghambat
beta adrenergik.
Pada pokoknya hampir semua obat anti-simpatis mempengaruhi metabolisme lemak.
Pada penelitian Framingham, kolesterol total 200 mg/dL didapat pada lebih dari 50 persen
pasien hipertensi. Oleh karena itu harus hati-hati memilih obat golongan ini, jangan sampai
meningkatkan faktor risiko lain dari penyakit kardiovaskular.
Vasodilator
Ada 2 golongan yaitu yang bekerja pada langsung seperti hidralazin dan minoksidil
dan yang bekerja tidak langsung seperti ACE inhibitor.
Golongan yang bekerja langsung mempunyai efek samping menigkatkan risiko
penyakit

kardiovaskular

dengan

meningkatkan

pelepasan

katekolamin,

gangguan

metabolisme lemak dan menyebabkan progresifitas hipertrofi ventrikel. Sedangkan golongan

yang tak langsung tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Berbagai penelitian
menyatakan bahwa ACE inhibitor dapat meregresi hipertrofi ventrikel kiri.