Anda di halaman 1dari 14

Keputusan mahkamah internasional

1.

Mahkamah Internasional ( International Court Of Justice )

1.

Berkedudukan di Den Haag.

2.
Terdiri dari sekumpulan hakim yang bebas dipilih tanpa memandang kewarganegaraan,
diantara ahli-ahli yang memiliki moral yang lebih tinggi dan kualifikasi yang diperlukan untuk
memegang jabatan hukum tertinggi di negeri masing-masing atau penasehat penasehat hukum
yang keahliannya diakui dalamhukum internasional.
3.

Terdiri dari 15 hakim yang memiliki jabatan 9 tahun.

4.

Pemilihan tiap 3 tahun, memilih 5 orang hakim.

5.

Pemilihan hakim dilakukan secara terpisah di Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB.

6.

Dalam hal pemilihan ini hak veto Dewan Keamanan PBB tidak berlaku.

2.

Wewenang Mahkamah Internasional

Diatur dalam Bab II Statuta Mahkamah Internasional, untuk mempelajari wewenang ini harus
dibedakan yaitu antara:
a)

Wewenang Ratione Personae (siapa yang berhak mengajukan perkara ke Mahkamah)

b)

Wewenang Ratione Material (mengenai jenis sengketa yang dapat diajukan)

A.

Wewenang Ratione Personae

Pasal 34(1) Statuta menyatakan : bahwa hanya negara yang boleh menjadi pihak dalam perkaraperkara dimuka mahkamah.
Artinya : individu/ oragnisasi-oragnisasi internasional tidak dapat menjadi pihak dari suatu
sengketa di muka mahkamah tersebut.

Pasal 34 (1) Statuta hanya diperbolehkan negara-negara untuk memajukan suatu sengketa ke
mahkamah.
Namun ayat (2) dan (3) pasal tersebut memberikan kemungkinan kerjasama dengan organisai
organisasi internasional.

B.

Wewenang Ratione Material

Pasal 36 (1) Statuta dengan jelas menyatakan bahwa:


Wewenang mahkamah meliputi semua perkara yang diajukan pihak-pihak yang bersengketa
kepadanya, terutama yang terdapat dalam piagam PBB atau dalam perjanjian perjanjian dan
konvensi-konvensi yang berlaku.

Wewenang Mahkamah bersifat Fakultatif:


Artinya: bahwa bila terjadi suatu sengketa antara dua negara, intervensi mahkamah baru dapat
terjadi bila negara-negara yang bersengketa dengan persetujuan bersama membawa perkara itu
ke mahkamah. (Tanpa adanya persetujuan dari pihak-pihak yang bersengketa, wewenang
mahkamah tidak akan berlaku terhadap sengketa tersebut.)

Menuurut pasal 36 Piagam Mahkamah Peradilan Internasional (MPI) maka negara-negara yang
menyetujui Piagam MPI dapat menyatakan setiap waktu bahwa mereka dengan sendirinya akan
tunduk kepada keputusan-keputusan mahkamah.
Keputusan-keputusan yang dimaksud tersebut dapat mengenai persenketaan tentang:
i.
ii.

penafsiran perjanjian
soal-soal yang menyinggung hukum internasional

iii.
adanya suatu hal yang mengakibatkan pelanggaran perjanjian
internasional yang dilakukan oleh salah satu pihak.
iv.
Jenis/besarnya ganti rugi yang akan dibayar berhubungan dengan
pelanggaran suatu kewajiban perjanjian internasional

3.

Sumber-sumber hukum yang digunakan Mahkamah Internasional

Mahkamah membuat keputusan-keputusan menurut hukum internasional. Dalam menentukan


keputusan-keputusan itu mahkamah mempergunakan sumber tersebut dalam pasal 38 Piagam
MPI yaitu:
i.
ii.
iii.
iv.
v.

Konvensi internasional
Kebiasaan internasional
Prinsip-prinsip umum hukum
Keputusan peradilan internasional
Ajaran pakar hukum dari berbagai negara(doktrin)

4.

Mekanisme kerja Mahkamah Internasional

Dalam mengadili suatu perkara Mahkamah Internasional berpedoman kepada:


i.
ii.
iii.
iv.
v.

Perjanjian internasional
Kebiasaan internasional
Prinsip hukum secara umum
Keputusan hakim-hakim terdahulu
Doktrin atau ajaran ahli hukum terkemuka

Dalam penyelesaian sengketa internasional melalui mahkamah internasional dikenal istilah


ajudikasi, yaitu suatu teknik hukum untuk menyelesaikan persengketaan internasional dengan
menyerahkan putusan pada lembaga peradilan. Ajudikasi berbeda dari arbitrasi, karena ajudikasi
mencakup proses kelembagaan yang dilakukan oleh lembaga peradilan tetap, sedang arbitrasi
dilakukan melalui prosedur ad hoc.
Mahkamah Internasional bertanggung jawab untuk menyelesaikan setiap kasus yang diajukan
kepadanya oleh negara yang menerima yuridiksi Mahkamah Internasional. Mahkamah
Internasional juga dapat memberikan pandangan mengenai masalah hukum yang diajukan oleh
negara anggota, organ PBB lainnya dan organ khusus PBB.
Mahkamah Internasional dengan kesepakatan negara yang bersengketa dapat mengajukan ex
aequo et bono yang didasarkan pada keadilan dan kebaikan, bukan didasarkan pada hukum.
Keputusan Mahkamah Internasional diperoleh melalui suara mayoritas yang tidak dapat
dibanding.
Mekanisme atau prosedur penyelesaian kasus hak asasi manusia atau kejahatan humaniter
disuatu negara dapat dilakukan Mahkamah Internasional dengan mekanisme sebagai berikut:
a.
Apabila terjadi pelanggaran HAM atau kejahatan humaniter disuatu negara terhadap
negara lain atau rakyat negara lain, pengaduan disampaikan ke Komisi Tinggi HAM melalui
lembaga-lembaga HAM internasional lainnya oleh si korban (rakyat) dan pemerintah negara
menjadi korban.
b.

Pengaduan ditindak lanjuti dengan penyelidikan, pemeriksaan dan penyidikan.

c.
Jika ditemui bukti-bukti kuat terjadi pelanggaran HAM atau kejahatan kemanusiaan lainya,
pemerintah negara yang didakwa melakukan kejahatan humaniter dapat diajukan ke Mahkamah
Internasional atau Peradilan Internasional.
d.

Kemudian dilakukan proses peradilan sampai dijatuhkan sanksi.

e.
Sanksi dapat dijatuhkan apabila terbukti bahwa yang bersangkutan telah melakukan
pelanggran terhadap konvensi-konvensi internasional berkaitan dengan pelanggaran HAM atau
kejahatan humaniter.

5.

Keputusan Mahkamah Internasional

Mahkamah Internasional bertugas untuk memeriksa perselisihan atauu sengketa antara negara
negara anggota PBB yang diserahkan kepadanya. Sampai saat ini Mahkamah Internasional telah
banyak menetapkan keputusan atas sengketa sengketa internasional yang telah diajukan
kepadanya, diantaranya :
i.
Masalahperbatasan territorial di pulau Simpadan dan Ligitan antara
Indonesia dan Malaysia yang telah sekisn lama tidak berhasil menemukan titik temu akhirnya
disepakati dibawa ke Mahkamah Internasional. Setelah melakukan pendekatan dan perjuangan
panjang, akhirnya pada awal tahun 2003 Mahkamah Internasional memutuskan memenangkan
Malaysia sebagai pemilik kepulauan tersebut.
ii.
Masalah Timor Timur diselesaikan secara internasional dengan cara
referendum dan hasilnya sejak tahun 1999 Timor Timur berdiri sendiri menjadi sebuah negara
yang bernama Republik Timor Lorosae.
iii.
Sengketa diwilayah Balkan dapat diselesaikan Mahkamah Internasional
melalui perjanjian damai Dayton pada tahun 1995 yang mengharuskan pihak Serbia, Muslim
Bosnia dan Kroasia mematuhinya.

6.

Dampak negara jika tidak mematuhi keputusan Mahkamah Internasional

Keputusan MI wajib dilaksanakan oleh pihak pihak yang bersengketa. Tetapi jika ada negara tidak
mematuhi keputusan tersebut maka ada beberapa sanksi yang diterapkan untuk memaksa
negara tersebut mematuhinya.
Sanksi-sanksi tersebut antara lain adalah:
a.
Diberlakukan travel warning (peringatan bahaya berkunjung ke negara tertentu) terhadap
warga negaranya.
b.

Pengalihan investasi atau penanaman modal asing.

c.

Pemutusan hubungan diplomatik.

d.

Pengurangan bantuan ekonomi.

e.

Pengurangan tingkat kerjasama.

f.

Embargo ekonomi

g.

Kesepakatan organisasi regional atau internasional.

h.

Dikucilkan dari pergaulan internasional.

Catatan:

Hak veto adalah hak untuk membatalkan keputusan, ketetapan, rancangan peraturan dan
undang-undang atau resolusi. Hak veto biasanya melekat pada salah satu lembaga tinggi negara
atau pada dewan keamanan pada lembaga PBB.

Ad hoc adalah sebuah istilah dari bahasa Latin yang populer dipakai dalam bidang
keorganisasian atau penelitian. Istilah ini memiliki arti "dibentuk atau dimaksudkan untuk salah
satu tujuan saja" atau sesuatu yang "diimprovisasi".

Ex Aequo Et Bono yaitu memberikan kebebasan kepada hakim untuk menilai kepantasan
dan kesesuaian rasa keadilan masyarakat, sehingga hakim tidak tunduk lagi pada undangundang.

Mahkamah Internasional (bahasa Inggris: International Court of Justice atau ICJ) berkedudukan di Den
Haag, Belanda . Mahkamah merupakan badan kehakiman yang terpenting dalam PBB . Dewan
keamanan dapat menyerahkan suatu sengketa hukum kepada mahkamah, majelis umum dan dewan
keamanan dapat memohon kepada mahkamah nasihat atas persoalan hukum apa saja dan organ-organ
lain dari PBB serta badan-badan khusus apabila pendapat wewenang darimajelis umum dapat meminta
nasihat mengenai persoalan-persoalan hukum dalam ruang lingkup kegiatan mereka. Majelis umum telah
memberikan wewenang ini kepada dewan ekonomi dan sosial, dewan perwakilan, panitia interim
dari majelis umum , dan beberapa badan-badan antar pemerintah.

Sumber-Sumber Hukum[sunting | sunting sumber]


Sumber-sumber hukum yang digunakan apabila membuat suatu keputusan ialah :
1. konvensi-konvensi internasional untuk menetapkan perkara-perkara yang diakui oleh negaranegara yang sedang berselisih
2. kebiasaan internasional sebagai bukti dari suatu praktik umum yang diterima sebagai hukum
3. azas-azas umum yang diakui oleh negara-negara yang mempunyai peradaban
4. keputusan-keputusan kehakiman dan pendidikan dari publisis-publisis yang paling cakap dari
berbagai negara, sebagai cara tambahan untuk menentukan peraturan-peraturan hukum
Mahkamah dapat membuat keputusan ex aequo et bono (artinya : sesuai dengan apa yang dianggap
adil) apabila pihak-pihak yang bersangkutan setuju...

Keanggotaan[sunting | sunting sumber]


Mahkamah terdiri dari lima belas hakim, yang dikenal sebagai anggota mahkamah. Mereka dipilih oleh
majelis umum dan dewan keamanan yang mengadakan pemungutan suara secara terpisah. Hakim-hakim
dipilih atas dasar kecakapan mereka, bukan atas dasar kebangsaan akan tetapi diusahakan untuk
menjamin bahwa sistem-sistem hukum yang terpenting didunia diwakili oleh mahkamah. Tidak ada dua
hakim yang menjadi warga negara dari negara yang sama. Hakim-hakim memegang jabatan selama
waktu sembilan tahun dan dapat dipilih kembali mereka tidak dapat menduduki jabatan lain selama masa
jabatan mereka. Semua persoalan-persoalan diputuskan menurut suatu kelebihan dari hakim-hakim yang
hadir, dan jumlah sembilan merupakan quorumnya. Apabla terjadi seri, maka ketua mahkamah
mempunyai suara yang menentukan.

2.3

Dampak Suatu Negara yang Tidak Mematuhi Putusan Mahkamah Internasional

Ada beberapa dampak yang akan diterima suatu negara yang tidak mematuhi keputusan dari
Mahkamah Internasional. Adapun dampak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Dikucilkan dari pergaulan internasional.
2. Diberlakukan Travel Warning (peringatan bahaya berkunjung ke negara tertentu terhadap
warga negaranya.
3. Pengalihan investasi atau penanaman modal asing.
4. Pemutusan hubungan diplomatik.
5. Pengurangan bantuan ekonomi.
6. Pengurangan tingkat kerjasama.
7. Pemboikotan produk ekspor.
8. Embargo ekonomi.
2.4

Contoh Sikap Negara Yang Mematuhi Keputusan Mahkamah Internasional

Negara-negara yang selalu mematuhi keputusan dari Mahkamah Internasional mempunyai


beberapa sikap berbeda dari negara lain, yaitu:
a. Sikap tidak mau mencampuri urusan dalam negeri setiap negara.
b. Sikap mau mengembangkan hubungan persaudaraan antarbangsa-bangsa.
c. Sikap mau bekerja sama secara internasional dalam memecahkan persoalan ekonomi,
sosial, kebudayaan dan kemanusiaan.
d. Sikap mau menyelesaikan persengketaan secara damai.
e. Sikap menghargai dan menjunjung tinggi prinsip - prinsip Mahkamah Internasional.

F. Putusan Mahkamah Internasional


Suatu sengketa yang diperiksa oleh Mahkamah Internasional dapat berakhir karena hal-hal sebagai
berikut :
1.

Adanya kesepakatan dari para pihak

Kesepakatan ini dapat dialihkan pada setiap tahap persidangan dengan memberitahukan kepada
Mahkamah bahwa mereka telah mencapai kesepakatan. Dalam hal terjadinya kesepakatan, Mahkamah
akan mengeluarkan surat putusan (order) yang berisi penghapusan sengketa dari daftar Mahkamah.
Contoh hal seperti ini tampak dalam sengketa yang ditangani PCIJ yaitu the Delimitation of the Territorial
Waters between Island of Castello and Coasts of Anatolia, Losinger, Bochgrave (1973)
2. Tidak dilanjutkannya persidangan
Suatu Negara penuntut atau pemohon setiap waktu dapat memeberitahukan Mahkamah bahwa mereka
telah sepakat untuk tidak melanjutkanpersidangan atau kedua belah pihak menyatakan bahwa mereka
sepakat untuk menarik kembali sengketanya.
3. Dikeluarkannya Putusan (Judgment)
Ada beberapa cara yaitu :
a. Putusan diterbitkan untuk masyarakat luas
Putusan tersebut ipublikasikan secara luas memiliki segi positif yaitu telah memberikan sumbangan yang
berharga bagi perkembangan hukum internasional dengan argument-argumen hukum dan pendapat
pendapat para hakim dimana telah menjadi sumber hukum penting yang kemudian banyak diikuti oleh
putusan-putusan selanjutnya.
b. Pendapat Para Hakim, terdiri dari :

Dissenting Opinion,

Yaitu suatu pendapat hakim yang tidak setuju dengan satu atau beberapa hal dari putusan Mahkamah,
khusunya dasar hukum dan argumentasi dari putusan dan akibatnya mengeluarkan putusan atau
pendapat yang menetang putusan Mahkamah tersebut.

Separate Opinion

Yaitu suatu pendapat yang menyatakan dukungan seorang hakim terhadap utusan Mahkamah khusunya
mengenai ketentuan hukum yang digunakan dan beberapa aspek yang menurutnya penting, namun ia
sendiri tidak sepaham dengan semua atau beberapa argumentasi Mahkamah meskipun akhirnya isi
putusan sama dengan Mahkamah.
c. Putusan Mengikat Para Pihak

Sifat putusan Mahkamah adalah mengikat, final, dan tidak ada banding. Putusan Mahkamah hanya
mengikat para pihak yang sengketa dan tidak mengikuti prinsip stare decisis (sifat mengikat preseden)
seperti yang dikenal dalam system hukum Common Law.
d. Penafsiran dan Perubahan Putusan.
Wewenang untuk menafsirkan dan mengubah putusan berada di tangan Mahkamah dengan ketentuan :
-

Atas permo

G. Kasus yang Melibatkan Peran Mahmakah Internasional dalam Penyelesaian Sengketa.


1.

Kasus Posisi

Terkait dengan peran dan tugas Mahkamah Internasional yang telah diuraikan di atas, maka penulis akan
menganalisis tentang kasus yang ditangani oleh Mahkamah Internaional yaitu kasus Pulau Sipadan
Ligitan antara Indonesia dan Malaysia, dengan kasus posisi sebagai berikut :
Kasus P. Sipadan dan P. Ligitan mulai muncul sejak 1969 ketika Tim Teknis Landas Kontinen Indonesia
Malaysia membicarakan batas dasar laut antar kedua negara. Kedua pulau Sipadan dan Ligitan tertera di
Peta Malaysia sebagai bagian dari wilayah negara RI, padahal kedua pulau tersebut tidak tertera pada
peta yang menjadi lampiran Perpu No. 4/1960 yang menjadi pedoman kerja Tim Teknis Indonesia.
Dengan temuan tersebut Indonesia merasa berkepentingan untuk mengukuhkan P. Sipadan dan P.
Ligitan. Maka dicarilah dasar hukum dan fakta historis serta bukti lain yang dapat mendukung kepemilikan
dua pulau tersebut. Di saat yang sama Malaysia mengklaim bahwa dua pulau tersebut sebagai miliknya
dengan mengemukakan sejumlah alasan, dalil hukum dan fakta. Kedua belah pihak untuk sementara
sepakat mengatakan dua pulau tersebut dalam status quo. Dua puluh tahun kemudian (1989), masalah
P. Sipadan dan P. Ligitan baru dibicarakan kembali oleh Presiden Soeharto dan PM. Mahathir Muhamad.
Tiga tahun kemudian (1992) kedua negara sepakat menyelesaikan masalah ini secara bilateral yang
diawali dengan pertemuan pejabat tinggi kedua negara. Hasil pertemuan pejabat tinggi menyepakati
perlunya dibentuk Komisi Bersama dan kelompok Kerja Bersama (Joint Commission/ JC & Joint Working
Groups / JWG).Namun dari serangkaian pertemuan JC dan JWG yang dilaksanakan tidak membawa
hasil, kedua pihak berpegang (comitted) pada prinsipnya masing-masing yang berbeda untuk mengatasi
kebutuan. Pemerintah RI menunjuk Mensesneg Moerdiono dan dari Malaysia ditunjuk Wakil PM Datok
Anwar

Ibrahim

sebagai

Wakil

Khusus

pemerintah

untuk

mencairkan

kebuntuan

forum

JC/JWG.Namun dari empat kali pertemuan di Jakarta dan di Kuala Lumpur tidak pernah mencapai hasil
kesepakatan.
Pada pertemuan tgl. 6-7 Oktober 1996 di Kuala Lumpur Presiden Soeharto dan PM. Mahathir menyetujui
rekomendasi wakil khusus dan selanjutnya tgl. 31 Mei 1997 disepakati Special Agreement for the
Submission to the International Court of Justice the Dispute between Indonesia & Malaysia concerning
the Sovereignty over P. Sipadan and P. Ligitan. Special Agreement itu kemudian disampaikan secara
resmi ke Mahkamah International (MI) pada 2 Nopember 1998. Dengan itu proses ligitasi P. Sipadan dan

P. Ligitan di MI mulai berlangsung. Selanjutnya penjelasan dua pulau tersebut sepenuhnya berada di
tangan RI.
Namun demikian kedua negara masih memiliki kewajiban menyampaikan posisi masing-masing melalui
Written pleading kepada Mahkamah Memorial pada 2 Nopember 1999 diikuti, Counter Memorial pada
2 Agustus 2000 dan reply pada 2 Maret 2001. Selanjutnya proses Oral hearing dari kedua negara
bersengketa pada 312 Juni 2002 . Dalam menghadapi dan menyiapkan materi tersebut diatas Indonesia
membentuk satuan tugas khusus (SATGASSUS) yang terdiri dari berbagai institusi terkait yaitu : Deplu,
Depdagri, Dephan, Mabes TNI, Dep. Energi dan SDM, Dishidros TNI AL, Bupati Nunukan, pakar kelautan
dan pakar hukum laut International.
Proses penyelesaian Sengketa Pulau Sipadan Ligitan Oleh Mahkamah Internasional.
Indonesia mengangkat co agent RI di MI/ICJ yaitu Dirjen Pol Deplu, dan Dubes RI untuk Belanda.
Indonesia juga mengangkat Tim Penasehat Hukum Internationl (International Counsels). Hal yang sama
juga dilakukan pihak Malaysia. Proses hukum di MI/ICJ ini memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Selain
itu, cukup banyak energi dan dana telah dikeluarkan. Menlu Hassas Wirayuda mengatakan kurang lebih
Rp 16.000.000.000 dana telah dikeluarkan yang sebagian besar untuk membayar pengacara.
ICJ/MI dalam persidangan-persidangannya guna mengambil putusan akhir, mengenai status kedua pulau
tersebut tidak menggunakan (menolak) materi hukum yang disampaikan oleh kedua negara, melainkan
menggunakan kaidah kriteria pembuktian lain, yaitu Continuous presence, effective occupation,
maintenance dan ecology preservation. Dalam amar keputusannya, Mahkamah Internasional
memutuskan bahwa Indonesias argument that it was successor to the Sultanate of Bulungan cannot
be accepted. Sementara itu, Mahkamah Internasional juga menegaskan bahwa Malaysias argument
that it was successor to the Sultan of Sulu cannot be upheld.
Mahkamah kemudian menyatakan bahwa ukuran yang obyektif dalam menentukan kepemilikan pulaupulau tersebut adalah dengan menerpakan doktrin effective occupation. Dua aspek penting dalam
penentuan effective occupation ini adalah keputusan adannya cut-off dateatau sering disebut critical
date dan bukti-bukti hukum yang ada.
Critical date yang ditentukan oleh Mahkamah Internasional adalah 1969. Artinya adalah semua kegiatan
setelah tahun 1969 seperti pembangunanresort dianggap tidak berdampak hukum sama sekali.
Mahkamah hanya melihat bukti hukum sebelum 1969. Dalam kaitan ini perlu digarisbawahi bahwa
Federasi Malaysia baru terbentuk secara utuh dengan Sabah sebagai salah satu negara bagiannya pada
16 September 1963.
Dapat dimengerti bilamana hampir semua Juri MI yang terlibat sepakat menyatakan bahwa P. Sipadan
dan P. Ligitan jatuh kepada pihak Malaysia karena kedua pulau tersebut tidak begitu jauh dari Malaysia
dan faktanya Malaysia telah membangun beberapa prasarana pariwisata di pulau-pulau tersebut.
Effective occupation sendiri adalah doktrin hukum internasional yang berasal dari hukum Romawi
kuno. Occupation berasal dari konsep Romawi occupatio yang berarti tindakan administratif dan bukan
berarti tindakan pendudukan secara fisik. Effective occupation sebagai suatu tindakan administratif

penguasaan suatu wilayah hanya bisa diterapkan pada terra nullius atau wilayah baru dan wilayah tak
bertuan, atau wilayah yang dianggap tak bertuan dan disengketakan oleh negara. Effective
occupation tidak bisa diterapkan kepada wilayah yang diatur oleh perjanjian, keputusan hakim, keputusan
arbitrasi, atau registrasi kepemilikan dengan hukum yang jelas.
Jelas elemen kuncinya dalam aplikasi doktrin effective occupation adalah ada tidaknya suatu perundangundangan, peraturan hukum, atau regulasi terkait status wilayah tersebut. Hal ini tentunya sejalan dengan
makna dari occupatio (baca okupatio) yang berarti tindakan administratif dan bukan berarti pendudukan
secara fisik.
Karena temasuk doktrin internasional, effective occupation dikategorikan sebagai sumber hukum materiil
yang merujuk pada bahan-bahan/materi yang membentuk atau melahirkan kaidah atau norma yang
mempunyai kekuatan mengikat; dan menjadi acuan bagi terjadinya sebuah perbuatan hukum.
MI dalam penyelesaian kasus ini menolak argumentasi Malaysia bahwa kedua pulau sengketa pernah
menjadi bagian dari wilayah yang diperoleh Malaysia berdasarkan kontrak pengelolaan privat Sultan Sulu
dengan Sen-Overbeck/BNBC/Inggris/Malaysia. Mahkamah juga menolak argumentasi Malaysia bahwa
kedua pulau termasuk dalam wilayah Sulu/Spanyol/AS/Inggris yang kemudian diserahkan kepada
Malaysia berdasarkan terori rantai kepemilikan (Chain of Title Theory). Menurut Mahkamah tidak satupun
dokumen hukum atau pembuktian yang diajukan Malaysia berdasarkan dalil penyerahan kedaulatan
secara estafet ini memuat referensi yang secara tegas merujuk kedua pulau sengketa.
MI juga menolak argumentasi Indonesia bahwa kedua pulau sengketa merupakan wilayah berada di
bawah kekuasaan Belanda berdasarkan penafsiran atas pasal IV Konvensi 1891. Penafsiran Indonesia
terhadap garis batas 4 10 LU yang memotong P. Sebatik sebagai allocation linedan berlanjut terus ke
arah timur hingga menyentuh kedua pulau sengketa juga tidak dapat di terima Mahkamah. Kejelasan
perihal status kepemilikan kedua pulau tersebut juga tidak terdapat dalam Memori van Toelichting.
Peta Memori van Toelichting yang memberikan ilustrasi sebagaimana penafsiran Indonesia atas pasal IV
tersebut dinilai tidak memiliki kekuatan hukum karena tidak menjadi bagian dari konvensi 1891.
mahkamah juga menolak dalil alternatif Indonesia mengingat kedua pulau sengketa tidak disebutkan di
dalam perjanjian kontrak 1850 dan 1878 sebagai bagian dari wilayah Kesultanan Bulungan yang
diserahkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda.
Penguasaan efektif dipertimbangkan sebagai masalah yang berdiri sendiri dengan tahun 1969
sebagai critical date mengingat argumentasi hukum RI maupun argumentasi hukum Malaysia tidak dapat
membuktikan klaim kepemilikan masing-masing atas kedua pula yang bersengketa.
1.

Berkaitan dengan pembuktian effectivities Indonesia, Mahkamah menyimpulkan bahwa tidak ada
bukti-bukti kuat yang dapat mewujudkan kedaulatan oleh Belanda atau Pulau Sipadan dan Pulau
Ligitan. Begitu pula halnya, tidak ada bukti-bukti dan dokumen otentik yang dapat menunjukkan
adanya bentuk dan wujud pelaksanaan kedaulatan Indonesia atas kedua pulau dimaksud hingga
tahun 1969. Mahkamah tidak dapat mengabaikan fakta bahwa UU No. 4/Prp/1960 tentang Perairan
yang ditetapkan pada 18 Pebruari 1960-yang merupakan produk hukum awal bagi penegasan konsep
kewilayahan Wawasan Nusantara, juga tidak memasukkan Sipadan-Ligitan ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

2.

Berkaitan dengan pembuktian effectivitiesMalaysia, Mahkamah menyimpulkan bahwa sejumlah


dokumen

yang

diajukan

menunjukkan

adanya

beragam

tindakan

pengelolaan

yang

berkesinambungan dan damai yang dilakukan pemerintah kolonial Inggris sejak 1917. Serangkaian
upaya Inggris tersebut terwujud dalam bentuk tindakan legislasi, quasi yudisial, dan administrasi atas
kedua pulau sengketa, seperti :
1.

Pengutipan pajak terhadap kegiatan penangkapan penyu dan pengumpulan telur penyu
sejak 1917.
2.

Penyelesaian sengketa dalam kegiatan pengumpulan telur penyu di P. Sipadan pada tahun
1930-an;

3.

Penetapan P. Sipadan sebagai cagar burung, dan

4.

Pembangunan dan pemeliharaan mercusuar sejak tahun 1962 di P. Sipadan dan pada
tahun 1963 di P. Ligitan

Dalam mengkaji bukti-bukti hukum sebelum 1969 yang menunjukkan adanya effective occupation atas
pulau-pulau Sipadan-Ligitan, Mahkamah mempertimbangkan bukti-bukti yang diajukan kedua negara,
yakni:
v Indonesia mengajukan bukti-bukti adanya patroli AL Belanda di kawasan ini dari tahun 1895 hingga
1928, termasuk kehadiran kapal AL Belanda Lynx ke Sipadan pada November-December 1921; dan
adanya survei hidrografi kapal Belanda Macasser di perairan Sipadan Ligitan pada Oktober-November
1903. Patroli ini dilanjutkan oleh patroli TNI-AL. Selain itu, bukti yang diajukan adalah adanya kegiatan
perikanan nelayan Indonesia pada tahun 1950-1960an dan bahkan awal 1970an.
v Malaysia mengajukan bukti-bukti berupa bukti hukum Inggris yakni Turtle Preservation Ordinance 1917;
perijinan kapal nelayan kawasan Sipadan Ligitan; regulasi suaka burung tahun 1933 dan pembangunan
suar pada tahun 1962 dan 1963. Semuanya adalah produk hukum pemerintah kolonial Inggris, bukan
Malaysia.
Sebelum menilai bukti-bukti Indonesia, Mahkamah Internasional menegaskan bahwa UU 4/Prp 1960
tentang negara kepulauan tidak mencantumkan Sipadan-Ligitan sebagai milik Indonesia. Mahkamah
berpandangan hal ini relevan terhadap kasus pulau Sipadan-Ligitan karena Indonesia tidak
memasukkannya dalam suatu perundang-undangan nasional. Terhadap patroli AL Belanda, Mahkamah
berpendapat bahwa hal ini merupakan bagian dari latihan bersama atau kesepakatan bersama dalam
memerangi perompakan, sehingga tidak bisa dijadikan dasar pengajuan klaim.
Mengenai kegiatan perikanan nelayan Indonesia, Mahkamah berpendapat bahwa activities by private
persons cannot be seen as effectivit, if they do not take place on the basis of official regulations or under
governmental authority Oleh karena kegiatan tersebut bukan bagian dari pelaksanaan suatu perundangundangan Indonesia atau di bawah otoritas Pemerintah, maka Mahkamah menyimpulkan bahwa kegiatan
ini juga tidak bisa dijadikan dasar sebagai adanya effective occupation.
Mahkamah berpandangan bahwa berbeda dengan Indonesia yang mengajukan bukti berupa sejumlah
kegiatan Belanda dan rakyat nelayan, Malaysia mengajukan bukti berupa sejumlah ketentuan-ketentuan

hukum. Mahkamah menyatakan bahwa berbagai peraturan Inggris tersebut menunjukkan adanya suatu
regulatory and administrative assertions of authority over territory which is specified by name.
Esensi keputusan ini bukanlah seperti yang dinyatakan sementara kalangan yakni bahwa negara harus
memperhatikan lingkungan hidup, pengembangan ekonomi atau bahkan keberadaan orang di suatu
pulau terpencil untuk menunjukkan effective occupation, tetapi yang terpenting adalah apakah ada suatu
pengaturan hukum atau instrumen hukum, regulasi atau kegiatan administratif lainnya tentang pulau
tersebut terlepas dari isi kegiatannya. Keputusan ini juga tidak memberikan makna hukum terhadap
pembangunan resort yang dilakukan oleh Malaysia setelah 1969 dan juga kegiatan perikanan nelayan
Indonesia yang tidak didasarkan atas peraturan perundang-undangan.
Perlu digarisbawahi bahwa bukti-bukti yang diajukan adalah kegiatan Belanda dan Indonesia melawan
bukti hukum Inggris. Jadi dari segi kacamata hukum internasional, Malaysia mendapatkan pulau-pulau
tersebut bukan atas kegiatannya sendiri tetapi atas kegiatan hukum Inggris yang dilakukan pada tahun
1917, 1933, 1962 dan 1963 jauh sebelum Federasi Malaysia dengan keanggotaan Sabah dibentuk pada
16 September 1963.