Anda di halaman 1dari 8

Pengolahan Air PDAM

PT. TIRTA MUSI PALEMBANG

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Praktikum Teknik Pangan


Dosen: Ir. Fahim M. Taqi, DEA

Disusun oleh kelompok 4 P4:


Hesyandi (F24130017)
Yuanita Arizona (F24130018)
Zufita Wahidatur R (F24130037)
Fina Meiriska (F24130080)
Malik Abdul A (F24130122)

Institut Pertanian Bogor


Bogor
2015
1. Penggunaan Air di Industri Pangan

PDAM Tirta Musi merupakan salah satu industri air bersih yang terletak di
Palembang. Air yang dihasilkan oleh industri ini digunakan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dan pengawasan kualitas air minum dan air bersih.
Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum, sedangkan air bersih adalah air yang digunakan untuk
kebutuhan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
diminum apabila telah dimasak.

2. Baku Mutu Air


Air minum yang akan dikonsumsi harus memenuhi 3 syarat kualitas air bersih,
diantaranya yaitu syarat fisik, kimia, dan biologis. Syarat fisik air minum yang
harus dipenuhi yaitu air yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, jernih
dengan suhu di bawah suhu udara (sekitar 25oC).
Tabel 1 Perbandingan Kalitas Air di Sungai Musi, di Air PDAM Tirta Musi
dengan Baku Mutu Air Minum
Parameter
Clorida (mg/l)
Nitrit (mg/l)
Amonia (mg/l)
Besi (mg/l)
Mangan (mg/l)
pH
Suhu (C)
TDS (mg/l)
E.Coli (jumlah per 100

Air Sungai
2.6 5.6
0 0.022
0.8 0.9
0.38 1.08
0.3 1.3
2.95 6.46
26.3 27.8
38 39.5
2400

Air PDAM
0.1 - 0.2
0.001 - 0.002
0.05-0.1
0
0
6.45-7.01
27.7 - 29.4
36 42.1
0

Baku Mutu
5
1
1.5
0.3
0.1
6.5 8.5
24 30
1000
0

ml)

Kadar residu chlor air sungai sebesar 2.6 5.6 mg/l dimana kadar
maksimum menurut Kepmenkes 907/2002 yaitu sebesar 5 mg/l sedangkan kadar
residu pada PDAM sebsar 0.1 0.2 mg/l sehingga dapat disimpulkan memenuhi
persyaratan kualitas air minum. Residu chlor pada prinsipnya sengaja di pelihara
untuk memastikan bahwa tidak ada lagi mikroorganisme patogen pada air (Slamet
1996). Kadar nitrit pada air sungai sebesar 0 0.022 mg/l dimana kadar
maksimum menurut Kepmenkes 907/2002 sebesar 1 mg/l sdangkan kadar raesidu
pada PDAM sebesar 0.001 0.002 mg/l. Kadar residu ammonia air sungai sebesar
0.8 0.9 mg/l dimana kadar maksimum menurut Kepmenkes 907/2002 sebesar
1.5 mg/l sedangkan kadar residu pada PDAM sebesar 0.05 0.1 sehingga dapat
disimpulkan bahwa air di PDAM memenuhi persyaratan air minum. Nilai besi
pada air sungai sebsar 0.38 1.08 mg/l dimana kadar maksimum menurut
Kepmenkes 907/2002 yaitu sebesar 0.3 mg/l. Air minum yang mengandung besi
cenderung menimbulkan rasa mual apabila di konsumsi. Pada dosis tinggi
menyebabkan rusaknya dinding usus dan berakibat pada kematian.
Kadar besi yang tinggi menyebabkan iritasi pada mata dan kulit serta
menimbulkan bau busuk pada perairan. Parmeter Mangan pada air sungai sebesar
0.3 1.3 mg/l dan pada air PDAM di Tirta Musi jauh melampaui yang
diperkenankan yaitu 0.1 mg/l. Unsur mangan dalam jumlah kecil diperlukan
dalam metabolisme manusia (Rahmawati 2014). Pada konsentrasi melebihi
ambang batas menyebabkan air berwarna kemerahan, kuning dan kehitaman,
menimbulkan raa tidak enak. Meurut Emilia 2013 kandungan mangan dalam air
berasal dari humus yang mengalami penguraian dan bereaksi dengan unur besi
untuk membentuk ikatan kompleks organik. Keracunan mangan dapat
menimbulkan gangguan pada susunan syaraf.
Hasil pengukuran pH pada air sungai menunjukkan 2.95 6.46 dan air
PDAM sudah berkurang sebesar 6.45 7.01 dimana persyaratan Kepmenkes
907/2002 sebesar antara 6.5 8.5 sehingga dapat disimpulkan bahwa pH air
memenuhi persyaratan air minum. pH menunjukkan tinggi rendahnya ion
hidrogen dalam air. Nilai pH sangat penting diketahui karena banyak reaksi kimia
dan biokimia yang terjadi pada tingkat pH tertentu, seperti proses nitrifikasi yang

akan berakhir jika pH rendah. Dalam tubuh manusia, pH air yang kurang dari 6.5
atau lebih besar dari 6.2 atau lebih besar dari 9.2 akan menyebabkan beberapa
persen nyawaan kimia berubah jadi racun.
Pengukuran temperatur air sungai menunjukkan hasil 26.3 27.8
sedangkan di PDAM tirta Musi nya sebesar 27.7 29.4 dimana Kepmenkes
907/2002 sebasar 24 30 sehingga dapat disimpulkan memenuhi persyaratan
kualitas air minum. Temperatur atau suhu air minum seharusnya sejuk atau tidak
panas agar tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada dalam saluran pipa yang
dapat membahayakan kesehatan, menghambat reaksi biokimia dalam saluran pipa,
menghambat perkembangbiakan mikroorganisme patogen, dan bila di minum
dapat menghilangkan dahaga (Slamet 1996).
Kadar TDS dalam air sungai sebesar 38 39.5 sedangkan di PDAM kadar
TDS nya sebesar 36 42.1mg/l dimana menurut Kepmenkes 907/2002 sebesar
1000 sehingga dapat disimpulkan air PDAM tersebut memenuhi persyaratan
kualitas air minum. TDS (Total Disolvet Solid) biasanya terdiri atas zat organik,
garam anorganik dan gas terlarut. Selain itu, TDS juga berhubungan dengan
tingkat kesadahan dimana semakin tinggi TDS maka kesadahan juga semakin
tinggi.
Total E.Coli dalam air sungai Musi sebesar 2400 koloni/100 ml sedangkan
PDAM tirta Musi sebesar 0 koloni/100 ml dimana menurut Kepmenkes 907/2002
sebesar 0 koloni/100 ml sehingga dapat disimpulkan bahwa memenuhi
persyaratan kualitas air minum. Tingginya kandungan bakteri di perairan sungai
Musi diduga akibat masuknya kotoran hewan dan manusia ke dalam badan air.
Aktivitas kegiatan penduduk di sepanjang aliran sungai diyakini mempengaruhi
hal tersebut. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Pelezar 2005 yang menyatakan
bahwa air yang tercemar akan mengandung jutaan bakteri per mili liter yang
berasal dari air tanah, pemukiman, atmosfer, atau limbah industri. Menurut
Festianti 2006, terdapat hubungan antara total bakteri dengan kadar residu chlor.
Laju penurunan kadar chlor dan laju pertumbuhan bakteri semakin besar pada
pipa yang bocor dan pada pipa yang tidak bocor.

3. Proses pengolahan air bersih di PDAM Tirta Musi


Proses pengolahan air baku menadi air bersih yang bebas dari bakteri
penyakit melalui beberapa tahapan proses, yaitu pengolahan secara fisik, kimia,
dan bakteriologi. Pengolahan secara fisik yaitu pengolahan yang bertujuan untuk
mengurangi kotoran yang relatif besar yang terdapat di dalam air baku dengan
menggunakan filter. Proses pengolahan secara kimia, yaitu .proses pengolahan air
baku dengan menggunakan zat kimia Alumunium Sulfat Al 2(S04)3 sesuai dosis,
biasanya berkisar antara 17 sampai 21 ppm, dengan tujuan untuk mengikat
kotoran kecil yang terkandung didalam air sehingga terbentuk gumpalangumpalan kecil yang mana sering disebut dengan proses koagulasi. Gumpalangumpalan itu akan bersatu dan membentuk flok-flok dan mudah terpisah dengan
air, yang mana proses ini disebut flokulasi. Proses pengolahan baktereologi, yaitu
proses pengolahan yang bertujuan membunuh bakteri yang ada didalam air bersih
dengan jalan membubuhkan kaporit atau gas chlor (Cl2).
Proses pengolahan air baku menjadi air bersih diatas terbagi lagi dalam
tahapantahapan pengolahan sebagai berikut:
a. Raw water Intake Station
PDAM Tirta Musi Palembang mengambil air bakunya dari sungai Musi.
Station ini mengalirkan air baku ke WTP (Water Treatment Proses). Air baku yang
dialirkan dari Intake disalurkan ke bak pelimpahan air baku.
b. Proses Pembubuhan AL2 (S04)3 dan Koagulasi
Langkah awal dari proses penjernihan adalah dengan memberikan
Alumunium Sulfat kedalam air baku yang tertampung dalam suatu unit
penjernihan. Pemberian Alumunium Sulfat ini berfungsi untuk membentuk flokflok dari kotoran yang ada didalam air baku untuk mempermudah proses
pengendapan. Proses pencampuran ini memerlukan waktu yang cepat 5 detik
dengan memakai bak yang disebut Case Cade.

c. Proses Flokulasi
Dari bak koagulasi air dialirkan kedalam bak flokulasi dimana pada bak
ini terjadi penggumpalan partikel yang semakin besar. Makin lama flok-flok
semakin besar seiring dengan bertambah luas permukaan aliran sehingga waktu
pengaliran akan semakin lama dan reaksi yang terjadi semakin sempurna dan flok
yang terbentuk semakin besar dan berat
d. Proses Sedimentasi
Pada proses ini, diusakan agar flok yang mempunyai berat jenis besar yang
mengendap agar tepisan dengan air. Hal ini dikarenakan pengaruh gravitasi
dengan tekanan aliran dan perbedaan berat jenis flok tersebut.
e. Proses Filtrasi
Proses ini adalah proses penyaringan, dimana air bersih yang dihasilkan
dengan jalan sedimentasi masih terdapat sisa flok dan yang mengembang, sisa
flok ini disaring dengan bantuan kotoran bak filter. Filter ini terbentuk dari bahanbahan seperti pasir dan koral. Untuk menjaga kualitas penyaringan yang baik dan
cepat, pada jadwal tertentu bak ini dicuci dengan cara menyemprotkan air bersih
kedalam bak tersebut.
Prinsip kerja dari bak filter ini akan diuraikan sebagai berikut:
Gravitasi bumi menyebabkan air mengalir kebawah melalui lapisan pasir
setebal 0,8 m dan batu koral setebal 1,2 m. Kotoran yang tersisa akan tertahan
oleh lapisan pasir tersebut. Butiran pasir yang bermuatan negatif akan menerik
kotoran kecil yang bermuatan positif: Besi, Mangan, dan Alumunium. Akibatnya
butiran pasir akan tertimbun muatan positif dan mampu menarik kotoran yang
bermuatan negatif seperti bakteri. Demikian proses ini berlangsung terus menerus.
Air bersih yang dihasilkan akan disalurkan melalui saluran dibawah bak filtrasi.

f. Bak penampungan air bersih (Reservoir)


Setelah mengalami beberapa proses maka diperoleh air bersih yang
terjamin kesehatannya. Selanjutnya air tersebut ditampung pada bak. Reservoir
adalah bak penampungan air bersih yang siap didistribusikan. Kapasitas tiap-tiap
bak adalah 12000 m3. Untuk mengontrol kadar air didalam reservoir kita dapat
melihatnya diruang kontrol. Ruangan ini adalah tempat untuk mengetahui dan
menditeksi keadaan:
1. Debit air yang tersedia di reservoir
2. Tekanan didalam pipa-pipa distribusi
3. Level air didalam reservoir
4. Volume reservoir dan alam kontrol

Air sungai
Musi

Raw intake

Dialirkan ke rumah-rumah warga


lewat pipa

Pembubuhan Al2(SO4)3 dan


koagulasi
Reservoi
r

Flokula
si

sediment
asi

Skema pengolahan air bersih di PDAM Tirta Musi Palembang

4. Kesimpulan
Disimpulkan bahwa kualitas perairan sungai Musi tidak memenuhi
persyaratan sebagai air minum. Namun, air yang diolah oleh Tirta Musi
Palembang (PDAM) memenuhi persyaratan air minum yang layak untuk
dikonsumsi berdasarkan nilai dari parameter uji yang tidak melebihi batas ambang
yang ditentukan oleh Kepmenkes 907/2002. Proses dari pengolahan air sungai
Musi terbagi menjadi 3 bagian yaitu pengolahan secara fisik, kimia dan
bakteriologi. Adapun proses pengolahan tersebut terbagi lagi dalam tahapan
tahapan pengolahan sebagai berikut: Raw water Intake Station, Proses

Pembubuhan AL2 (S04)3 dan Koagulasi, Proses Flokulasi ,Proses Sedimentasi


,Proses Filtrasi, dana Bak penampungan air bersih (Reservoir).

Daftar Pustaka
Desiandi. 2009. Pemeriksaan Kualitas Air Minum Pada Daerah Persiapan Zona Air
Minum Prima (ZAMP) PDAM Tirta Musi Palembang. Jurnal Penelitian Vol
2 No. 1
Emilia L. 2013. Distribusi Logam Dalam Air dan Sedimen di Sungai Musi Kota
Palembang. Jurnal Penelitian Sains. 16:2
Festianti M. 2006. Hubungan Sisa Chlor Bebas dengan Jumlah Bakteri Choliform Pada
Air Minum PDAM Kabupaten Semarang [Skripsi]. Universitas Airlangga
Fitria D. 2015. Inferter Motor Pompa Pada PDAM Tirta Musi Palembang. Jurnal
Desiminasi Teknologi Vol 3 No.1
Rahmawati A. 2014. Penurunan Kandungan Mangan dari Dalam Air Menggunakan
Metode Filtrasi. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret
Slamet. 1996. Kesehata Lingkungan. Yogyakarta (ID): Universitas Gajah Mada Press
Windusari Y. 2015. Kualitas Perairan Sungai Musi Di Kota Palembang Sumatera Selatan.
Jurnal Bioeksperimen Vol 1 No.1