Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PENDAHULUAN

STROKE HEMORAGIK DAN OPERASI KRANIOTOMI


A. PENGERTIAN STROKE HEMORAGIK
Menurut

WHO

stroke

adalah

adanya

tanda-tanda

klinik

yang

berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan


gejala-gejala

yang

berlangsung

selama

24

jam

atau

lebih

yang

menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain


vaskular (Muttaqin, 2008).
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di
otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab
stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi
arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat
aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya
menurun (Ria Artiani, 2009).
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam
suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2009).
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah salah
satu jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di
otak sehingga darah tidak dapat mengalir secara semestinya yang
menyebabkan

otak

mengalami

hipoksia

dan

berakhir

dengan

kelumpuhan.
B. ETIOLOGI STROKE HEMORAGIK
Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi
1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.
2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah
dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan
3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai
bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah

arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan


mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
5. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan
penebalan dan degenerasi pembuluh darah.
Faktor resiko pada stroke adalah
1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif,
3.
4.
5.
6.

fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)


Kolesterol tinggi, obesitas
Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
Kontrasepasi
oral
(khususnya
dengan
disertai
hipertensi,

merokok, dan kadar estrogen tinggi)


7. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol
C. PATOFISIOLOGI STROKE HEMORAGIK
Ada dua bentuk CVA bleeding

1. Perdarahan intra cerebral


Pecahnya pembuluh darah

otak

terutama

karena

hipertensi

mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk


massa

atau

hematom

yang

menekan

jaringan

otak

dan

menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK yang terjadi


dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang mendadak
karena herniasi otak. Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di
daerah putamen, talamus, sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan
cerebellum. Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur

dinding

permbuluh

darah

berupa lipohyalinosis atau nekrosis

fibrinoid.
2. Perdarahan sub arachnoid
Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma
paling sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di
sirkulasi willisi.
AVM dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan pia meter dan
ventrikel

otak,

subarakhnoid.

ataupun
Pecahnya

didalam
arteri

ventrikel

dan

otak

keluarnya

dan

darah

ruang
keruang

subarakhnoid mengakibatkan tarjadinya peningkatan TIK yang


mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul nyeri
kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda
rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak
juga

mengakibatkan

penurunan

perdarahan

kesadaran.

subhialoid

Perdarahan

pada

retina

subarakhnoid

dan
dapat

mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme


ini seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya

perdarahan,

mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah


minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi
antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan
kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di ruang
subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak
global

(nyeri

kepala,

penurunan

kesadaran)

maupun

fokal

(hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain). Otak


dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat
terpenuhi.

Energi

yang

dihasilkan

didalam

sel

saraf

hampir

seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2


jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan
menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan
glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang
dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa
sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila
kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala
disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha

memenuhi

O2

melalui

proses

metabolik

menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak.

Pathway Stroke Hemoragik

anaerob,yang

dapat

D. MANIFESTASI KLINIS STROKE HEMORAGIK


Kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke
1. Daerah a. serebri media
a. Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi
b. Hemianopsi homonim kontralateral
c. Afasi bila mengenai hemisfer dominan
d. Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan
2. Daerah a. Karotis interna
Serupa dengan bila mengenai a. Serebri media
3. Daerah a. Serebri anterior

a. Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai


b. Incontinentia urinae
c. Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena
4. Daerah a. Posterior
a. Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai
b. daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh a. Serebri
media
c. Nyeri talamik spontan
d. Hemibalisme
e. Aleksi bila mengenai hemisfer dominan
5. Daerah vertebrobasiler
a. Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang
otak
b. Hemiplegi alternans atau tetraplegi
c. Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)
E. KOMPLIKASI STROKE HEMORAGIK
Stroke hemoragik dapat menyebabkan
1. Infark Serebri
2. Hidrosephalus

yang

sebagian

kecil

menjadi

hidrosephalus

normotensif
3. Fistula caroticocavernosum
4. Epistaksis
5. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal
F. PENATALAKSANAAN MEDIS STROKE HEMORAGIK
Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:
1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central
jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih
bisa diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan
sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa
dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki
disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.
2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi
kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.
3. Pengobatan
a. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan
perdarahan pada fase akut.

kecederungan

b. Obat

anti

trombotik:

Pemberian

ini

diharapkan

mencegah

peristiwa trombolitik/emobolik.
c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral
4. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran
darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga
menderita

beberapa penyulit

seperti

hipertensi,

diabetes

dan

penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan


anestesi umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi
yang baik dapat dipertahankan.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG STROKE HEMORAGIK
1. Angiografi cerebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik
seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk
mencari sumber perdarahan seperti aneurism atau malformasi
vaskular.
2. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan
lumbal menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau
perdarahan pada intrakranial.
3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi
hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan
bsar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang
mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan
dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls
listrik dalam jaringan otak.
H. ASUHAN KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK
1. Pengkajian
a. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:

1) Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi


atau paralisis.
2) Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
1) Perubahan tingkat kesadaran
2) Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic),

paraliysis

( hemiplegia ) , kelemahan umum.


3) Gangguan penglihatan
b. Sirkulasi
Data Subyektif:
Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia,
gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif:
1) Hipertensi arterial
2) Disritmia, perubahan EKG
3) Pulsasi : kemungkinan bervariasi
4) Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
c. Integritas ego
Data Subyektif:
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
1) Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan ,
kegembiraan
2) Kesulitan berekspresi diri
d. Eliminasi
Data Subyektif:
1) Inkontinensia, anuria
2) Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ),

tidak

adanya suara usus ( ileus paralitik )


e. Makan/ minum
Data Subyektif:
1)
2)
3)
4)

Nafsu makan hilang


Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah

Data obyektif:
1) Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan
faring )
2) Obesitas ( faktor resiko )
f. Sensori neural
Data Subyektif:

1) Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )


2) Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan
sub arachnoid.
3) Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti
lumpuh/mati
4) Penglihatan berkurang
5) Sentuhan : kehilangan

sensor

pada

sisi

kolateral

pada

ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )


6) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
1) Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan ,
gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan
gangguan fungsi kognitif
2) Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua
jenis stroke, genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya
reflek tendon dalam ( kontralateral )
3) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
4) Afasia
( kerusakan atau kehilangan
kemungkinan

ekspresif/

kesulitan

fungsi

berkata-kata,

bahasa,
reseptif

kesulitan berkata-kata komprehensif, global / kombinasi dari


keduanya.
5) Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran,
stimuli taktil
6) Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
7) Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi
pada sisi ipsi lateral
g. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data Obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
h. Respirasi
Data Subyektif:
Perokok ( faktor resiko )
Tanda:
1) Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas
2) Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur
3) Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi

i. Keamanan
Data Obyektif:
1) Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
2) Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat
objek, hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
3) Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang
pernah dikenali
4) Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan
regulasi suhu tubuh
5) Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap
keamanan, berkurang kesadaran diri
j. Interaksi sosial
Data Obyektif:
Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
k. Pengajaran / pembelajaran
Data Subjektif :
1) Riwayat hipertensi keluarga, stroke
2) Penggunaan kontrasepsi oral
l. Pertimbangan rencana pulang
1) Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi
2) Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan ,
perawatan diri dan pekerjaan rumah
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
aliran darah ke otak terhambat
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan
sirkulasi ke otak
3. Defisit perawatan

diri:

makan,

mandi,

berhubungan kerusakan neurovaskuler


4. Kerusakan mobilitas fisik
berhubungan

berpakaian,
dengan

toileting
kerusakan

neurovaskuler
5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
fisik
6. Resiko Aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran
7. Resiko injuri berhubungan dengan penurunan kesadaran
8. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran.

J. RENCANA KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK


N
o
1.

Diagnosa
Keperawata
n
Ketidakefektif
an

Tujuan

Intervensi

Setelah dilakukan Monitorang neurologis

Perfusi tindakan

1. Monitor

ukuran,

jaringan

keperawatan

kesimetrisan,

serebral

b.d selama 3 x 24

bentuk pupil
2. Monitor tingkat

aliran
ke

darah jam,

diharapkan

kesadaran

aliran

darah
lancar

dengan

kriteria hasil:
a.

dan

klien
3. Monitir tanda-tanda vital
keotak 4. Monitor
keluhan
nyeri

otak suplai

terhambat.

reaksi

klien

terhadap pengobatan
6. Hindari aktivitas jika

Nyeri

kepala / vertigo
berkurang
sampai

kepala, mual, muntah


5. Monitor
respon

TIK

meningkat
7. Observasi kondisi fisik klien

de-

ngan hilang
Terapi oksigen
b.
Berfungsiny
1. 1.Bersihkan jalan nafas dari
a saraf dengan
sekret
baik
2. Pertahankan
jalan
nafas
c.
Tandatetap efektif
tanda
vital 3. Berikan
oksigen
sesuai
stabil

intruksi
4. Monitor aliran oksigen, kanul
oksigen

dan

sistem

humidifier
5. Beri penjelasan kepada klien
tentang

pentingnya

pemberian oksigen
6. Observasi tanda-tanda hipoventilasi
7. Monitor

respon

klien

terhadap pemberian oksigen


8. Anjurkan klien untuk tetap
memakai

oksigen

selama

Kerusakan

aktifitas dan tidur


Setelah dilakukan 1. Libatkan
keluarga

komunikasi

tindakan

verbal

b.d keperawatan

penurunan
sirkulasi

membantu

selama
ke jam,

diharapkan

klien

mampu

otak

memahami

memahamkan

3 x 24

berkomunikasi
lagi

kriteria hasil:

klien
4. Dorong

a. dapat
menjawab

dan

komunikasi
klien

pendek
dengan
untuk

mengulang kata-kata
5. Berikan arahan / perintah

pertanyaan
yang

dalam

penuh
kata-kata

sederhana

dengan

ucapan

dengan

perhatian
3. Gunakan

untuk

informasi

dari / ke klien
2. Dengarkan setiap
klien

untuk

diajukan

yang

sederhana

setiap

interaksi dengan klien


perawat
6. Programkan
speechb. dapat mengerti
language teraphy
dan memahami
7. Lakukan
speech-language
pesan-pesan
teraphy
setiap
interaksi
melalui gambar
dengan klien
c. dapat
mengekspresik
an
perasaannya
secara

verbal

maupun
3

Defisit

nonverbal
Setelah dilakukan 1. Kaji kamampuan klien untuk

perawatan

tindakan

diri;

keperawatan

mandi,berpak

selama

aian, makan,

jam,

3x

perawatan diri
2. Pantau
kebutuhan
24

diharapkan

untuk alat-alat bantu dalam


makan, mandi, berpakaian
dan toileting
3. Berikan bantuan pada klien

kebutuhan
mandiri

klien

klien

hingga

klien

sepenuhnya

terpenuhi,
dengan

kriteria

untuk menunjukkan aktivitas

hasil:
a.

bisa mandiri
4. Berikan dukungan pada klien

Klien dapat

makan dengan
bantuan orang
lain / mandiri
b.
Klien dapat

normal

sesuai

kemampuannya
5. Libatkan
keluarga
pemenuhan

dalam

kebutuhan

perawatan diri klien

mandi de-ngan
bantuan orang
lain
c.
Klien dapat
memakai
pakaian
dengan
bantuan orang
lain / mandiri
d.
Klien dapat
toileting
dengan
4

Kerusakan

bantuan alat
Setelah dilakukan 1. Ajarkan klien untuk latihan

mobilitas fisik tindakan

rentang gerak aktif pada sisi

b.d kerusakan keperawatan


neurovas-kuler selama 3x24 jam,
diharapkan

klien

dapat melakukan
pergerakan
dengan

fisik

kriteria

hasil :
a.

Tidak

terjadi
kontraktur otot
dan footdrop
b.
Pasien

ekstrimitas yang sehat


2. Ajarkan rentang gerak pasif
pada sisi ekstrimitas yang
parese

plegi

dalam

toleransi nyeri
3. Topang ekstrimitas dengan
bantal untuk mencegah atau
mangurangi bengkak
4. Ajarkan
ambulasi
sesuai
dengan

tahapan

kemampuan klien
5. Motivasi
klien
melakukan

latihan

dan
untuk
sendi

berpartisipasi
dalam program

seperti yang disarankan


6. Libatkan
keluarga
untuk
membantu

latihan
c.
Pasien

klien

latihan

sendi

mencapai
keseimbangan
saat duduk
d.
Pasien
mampu
menggunakan
sisi tubuh yang
tidak

sakit

untuk
kompensasi
hilangnya
fungsi pada sisi
yang
5

Resiko

parese/plegi
Setelah dilakukan 1. Beri penjelasan pada klien

kerusakan

tindakan

tentang: resiko adanya luka

integritas kulit perawatan

tekan, tanda dan gejala luka

b.d

selama 3 x 24

tekan, tindakan pencegahan

immobilisasi

jam,

fisik

diharapkan

agar tidak terjadi luka tekan)


2. Berikan masase sederhana
pasien
mampu
a.Ciptakan lingkungan yang
mengetahui dan
nyaman
mengontrol
b.Gunakan lotion, minyak
resiko

dengan

kriteria hasil :
a.

teratur
d.Anjurkan

Klien

mampu

klien

untuk

rileks selama masase


e.Jangan masase pada area

mengenali
tanda

atau bedak untuk pelicin


c. Lakukan masase secara

dan

kemerahan

gejala adanya

menghindari

resiko

kapiler

luka

utk
kerusakan

tekan
b. Klien mampu
berpartisi-pasi
dalam
pencegahan
resiko

luka

tekan (masase
sederhana,
alih

baring,

manajemen
nutrisi,
manajemen
tekanan).

f. Evaluasi

respon

klien

terhadap masase
3. Lakukan alih baring
a.Ubah posisi klien setiap
30 menit- 2 jam
b.Pertahankan tempat tidur
sedatar

mungkin

mengurangi

untuk

kekuatan

geseran
c. Batasi posisi semi fowler
hanya 30 menit
d.Observasi
area
tertekan
kaki,

yang

(telinga,

sakrum,

mata

skrotum,

siku, ischium, skapula)


4. Berikan manajemen nutrisi
a.Kolaborasi dengan ahli
gizi
b.Monitor intake nutrisi
c. Tingkatkan
masukan
protein

dan

karbohidrat

untuk

memelihara

seimbangan

ke-

nitrogen

positif
5. Berikan manajemen tekanan
a.Monitor
kulit
adanya
kemerahan

dan

pecah-

pecah
b.Beri pelembab pada kulit
yang kering dan pecahpecah
c. Jaga sprei dalam keadaan
bersih dan kering
d.Monitor
aktivitas

dan

mobilitas klien
e.Beri bedak atau kamper
spritus pada area
tertekan

yang

Resiko

Setelah dilakukan Aspiration

Aspirasi

tindakan

berhubungan

perawatan

dengan

selama 3 x 24

penurunan

jam,

tingkat

tidak

kesadaran

aspirasi

Management :
1.

diharapkan
terjadi

pasien

pada
dengan

kriteria hasil :
a.

Control

Monitor

kesadaran,

tingkat
reflek

dankemampuan menelan
2. Pelihara jalan nafas
3. Lakukan
saction
bila
diperlukan
4. Haluskan makanan yang
akan diberikan
5. Haluskan obat

Dapat

batuk

sebelum

pemberian

bernafas
dengan
mudah,frekuen
si

pernafasan

normal
b.
Mampu
menelan,
mengunyah
tanpa

terjadi

aspirasi
7

Resiko

Injuri Setelah dilakukan Risk Control Injury

berhubungan

tindakan

1.

dengan

perawatan

penurunan

selama 3 x 24

yang aman bagi pasien


2. memberikan
informasi

tingkat

jam,

kesadaran

tidak

diharapkan
terjadi

trauma
pasien

pada
dengan

kriteria hasil:
a.

bebas

menyediakan

mengenai

cedera
b.
mampu
menjelaskan

mencegah

cedera
3. memberikan penerangan
yang cukup
4. menganjurkan
untuk

dari

cara

lingkungan

pasien

selalu

keluarga
menemani

factor

resiko

dari lingkungan
dan cara untuk
mencegah
cedera
c.
menggunak
an

fasilitas

kesehatan
8

Pola
tidak

yang ada
nafas Setelah dilakukan Respiratori Status Management
efektif tindakan

1. Pertahankan jalan nafas

berhubungan

perawatan

dengan

selama 3 x 24

penurunan

jam,

kesadaran

pola nafas pasien

diharapkan

efektif

dengan

kriteria hasil :
a.
n

yang paten
2. Observasi

tanda-tanda

hipoventilasi
3. Berikan terapi O2
4. Dengarkan
adanya
kelainan suara tambahan
5. Monitor vital sign

Menujukka
jalan

paten

nafas
tidak

merasa
tercekik, irama
nafas

normal,

frekuensi nafas
normal,tidak
ada

suara

nafas
tambahan
b. Tanda-tanda
vital

dalam

batas normal

K. Discharge planning bagi pasien stroke


1. Memastikan keamanan bagi pasien setelah pemulangan

2. Memilih

perawatan,

bantuan,

atau

peralatan

khusus

yang

dibutuhkan
3. Merancang untuk pelayanan rehabilitasi lanjut atau tindakan lainnya
di rumah (misal kunjungan rumah oleh tim kesehatan)
4. Penunjukkan health care provider yang akan memonitor status
kesehatan pasien
5. Menentukan pemberi bantuan yang akan bekerja sebagai partner
dengan pasien untuk memberikan perawatan dan bantuan harian di
rumah, dan mengajarkan tindakan yang dibutuhkan.

A. DEFINISI KRANIOTOMI
Kraniotomi adalah setiap operasi terhadap cranium. (Dorland,1998 )
Kraniotomi

adalah

operasi

membuka

tulang

tengkorak

untuk

mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau


menghentikan perdarahan. (Hinchliff, Sue. 1999).
Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan
untuk

meningkatkan

akses

pada

struktur intrakranial.

(Brunner

&

Suddarth. 2002)
Jadi post kraniotomi adalah setelah dilakukannya operasi pembukaan
tulang tengkorak untuk, untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK,
mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan.
B. INDIKASI
Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah
sebagai berikut :
1. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
2. Mengurangi tekanan intrakranial.
3. Mengevakuasi bekuan darah .
4. Mengontrol bekuan darah, dan
5. Pembenahan organ-organ intrakranial.
6. Tumor otak
7. Perdarahan (hemorrage)
8. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
9. Peradangan dalam otak
10.
Trauma pada tengkorak.

C. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi :
1. Tomografi komputer (pemindaian CT)
Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak
sekitarnya, ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran
jaringan otak, hemoragik.
Catatan : pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada
iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca
trauma.
2. Pencitraan resonans magnetik (MRI)
Sama dengan scan CT, dengan
pemeriksaan lesi di potongan lain.
3. Electroencephalogram (EEG)
Untuk
memperlihatkan
keberadaan
gelombang patologis
4. Angiografy Serebral
Menunjukkan kelainan

sirkulasi

tambahan

atau

serebral,

keuntungan

berkembangnya

seperti

jaringan otak akibat edema, perdarahan trauma


5. Sinar-X
Mendeteksi
adanya
perubahan
struktur
tulang

pergeseran

(fraktur),

pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan,edema),


adanya fragmen tulang
6. Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks
dan batang otak
7. Positron Emission Tomography (PET) : menunjukkan perubahan
aktivitas metabolisme pada otak
8. Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya
perdarahan subarakhnoid
9. Gas Darah Artery (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi
atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK
10.
Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang
berperan dalam meningkatkan TIK/perubahan mental
11.
Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin
bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran
12.
Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan

untuk

mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi


kejang. (Doenges, Marilynn.E, 1999)

D. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. PRAOPERASI
Pada penatalaksaan bedah intrakranial praoperasi pasien diterapi
dengan medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk mengurangi resiko
kejang pascaoperasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason)
dapat diberikan untuk mengurangai edema serebral. Cairan dapat
dibatasi. Agens hiperosmotik (manitol) dan diuretik (furosemid) dapat
diberikan secara intravena segera sebelum dan kadang selama
pembedahan bila pasien cenderung menahan air, yang terjadi pada
individu yang mengalami disfungsi intrakranial. Kateter urinarius
menetap di pasang sebelum pasien dibawa ke ruang operasi untuk
mengalirkan kandung kemih selama pemberian diuretik dan untuk
memungkinkan haluaran urinarius dipantau. Pasien dapat diberikan
antibiotik bila serebral sempat terkontaminasi atau deazepam pada
praoperasi untuk menghilangkan ansietas.
Kulit kepala di cukur segera sebelum pembedahan (biasanya di
ruang operasi) sehingga adanya abrasi superfisial tidak semua
mengalami infeksi.
2. PASCAOPERASI
Jalur arteri dan jalur tekanan vena sentral (CVP) dapat dipasang
untuk memantau tekanan darah dan mengukur CVP. Pasien mungkin
atau tidak diintubasi dan mendapat terapi oksigen tambahan.
Mengurangi
mengurangi

Edema

edema

Serebral

serebral

meliputi

: Terapi

medikasi

pemberian

manitol,

untuk
yang

meningkatkan osmolalitas serum dan menarik air bebas dari area otak
(dengan sawar darah-otak utuh). Cairan ini kemudian dieksresikan
malalui diuresis osmotik. Deksametason dapat diberikan melalui
intravena setiap 6 jam selama 24 sampai 72 jam ;

selanjutnya

dosisnya dikurangi secara bertahap.


Meredakan

Nyeri

dan

Mencegah

Kejang : Asetaminofen biasanya diberikan selama suhu di atas


37,50C dan untuk nyeri. Sering kali pasien akan mengalami sakit

kepala setelah kraniotomi, biasanya sebagai akibat syaraf kulit kepala


diregangkan dan diiritasi selama pembedahan. Kodein, diberikan lewat
parenteral,

biasanya

cukup

untuk

menghilangkan

sakit

kepala. Medikasi antikonvulsan (fenitoin, deazepam) diresepkan untuk


pasien yang telah menjalani kraniotomi supratentorial, karena resiko
tinggi epilepsi setelah prosedur bedah neuro supratentorial. Kadar
serum dipantau untuk mempertahankan medikasi dalam rentang
terapeutik.
Memantau

Tekanan

Intrakranial

: Kateter

ventrikel, atau

beberapa tipe drainase, sering dipasang pada pasien yang menjalani


pembedahan untuk tumor fossa posterior. Kateter disambungkan ke
sistem drainase eksternal. Kepatenan kateter diperhatikan melalui
pulsasi cairan dalam selang. TIK dapat di kaji dengan menyusun
sistem dengan sambungan stopkok ke selang bertekanan dan
tranduser. TIK dalam dipantau dengan memutar stopkok. Perawatan
diperlukan untuk menjamin bahwa sistem tersebut kencang pada
semua sambungan dan bahwa stopkok ada pada posisi yang tepat
untuk

menghindari

drainase

cairan

serebrospinal,

yang

dapat

mengakibatkan kolaps ventrikel bila cairan terlalu banyak dikeluarkan.


Kateter diangkat ketika tekanan ventrikel normal dan stabil. Ahli bedah
neuro diberi tahu kapanpun kateter tanpak tersumbat.
Pirau

ventrikel

kadang

dilakuakan

sebelum

prosedur

bedah

tertentu untuk mengontrol hipertensi intrakranial, terutama pada


pasien tumor fossa posterior
E. KOMPLIKASI PASCABEDAH
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pasien pascabedah
intrakranial atau kraniotomi adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Perdarahan dan syok hipovolemik
3. Ketidakseimbangan cairan dan elekrolit
4. Infeksi
5. Kejang (Brunner & Suddarth. 2002).
F. PENGKAJIAN
1. Primery survey (ABCDE) meliputi :

a.
Airway. Tanda-tanda objektif-sumbatan Airway
Look (lihat) apakah penderita mengalami

agitasi

atau

kesadarannya menurun. Agitasi memberi kesan adanya hipoksia,


dan penurunan kesadaran memberi kesan adanya hiperkarbia.
Sianosis

menunjukkan

hipoksemia

yang

disebabkan

oleh

kurangnya oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada


kuku-kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan
penggunaan

otot-otot

napas

tambahan

yang

apabila

ada,

merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway. Airway


(jalan

napas)

yaitu

membersihkan

jalan

napas

dengan

memperhatikan kontrol servikal, pasang servikal kollar untuk


immobilisasi servikal sampai terbukti tidak ada cedera servikal,
bersihkan jalan napas dari segala sumbatan, benda asing, darah
dari fraktur maksilofasial, gigi yang patah dan lain-lain. Lakukan
intubasi (orotrakeal tube) jika apnea, GCS (Glasgow Coma Scale)
< 8, pertimbangan juga untuk GCS 9 dan 10 jika saturasi oksigen
tidak mencapai 90%.
Listen (dengar) adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang
berbunyi (suara napas tambahan) adalah pernapasan yang
tersumbat.
Feel (raba)
b.
Breathing. Tanda-tanda objektif-ventilasi yang tidak adekuat
Look (lihat) naik turunnya dada yang simetris dan pergerakan
dinding dada yang adekuat. Asimetris menunjukkan pembelatan
(splinting) atau flail chest dan tiap pernapasan yang dilakukan
dengan susah (labored breathing) sebaiknya harus dianggap
sebagai ancaman terhadap oksigenasi penderita dan harus
segera di evaluasi. Evaluasi tersebut meliputi inspeksi terhadap
bentuk dan pergerakan dada, palpasi terhadap kelainan dinding
dada

yang

mungkin

mengganggu

ventilasi,

perkusi

untuk

menentukan adanya darah atau udara ke dalam paru.


Listen (dengar) adanya pergerakan udara pada kedua sisi dada.
Penurunan atau tidak terdengarnya suara napas pada satu atau
hemitoraks merupakan tanda akan adanya cedera dada. Hati-hati

terhadap adanya laju pernapasan yang cepat-takipneu mungkin


menunjukkan kekurangan oksigen
Gunakan pulse oxymeter. Alat

ini

mampu

memberikan

informasi tentang saturasi oksigen dan perfusi perifer penderita,


tetapi tidak memastikan adanya ventilasi yang adekuat.
c.
Circulation dengan kontrol perdarahan
1) Respon awal tubuh terhadap perdarahan adalah takikardi untuk
mempertahankan

cardiac

output

walaupun

stroke

volum

menurun
2) Selanjutnya akan diikuti oleh penurunan tekanan nadi (tekanan
sistolik-tekanan diastolik)
3) Jika aliran darah ke organ vital sudah dapat dipertahankan lagi,
maka timbullah hipotensi
4) Perdarahan yang tampak dari luar harus segera dihentikan
dengan balut tekan pada daerah tersebut
5) Ingat, khusus untuk otorrhagia yang tidak membeku, jangan
sumpal MAE (Meatus Akustikus Eksternus) dengan kapas atau
kain kasa, biarkan cairan atau darah mengalir keluar, karena
hal ini membantu mengurangi TTIK (Tekanan Tinggi Intra
Kranial)
6) Semua cairan
menghindari

yang

diberikan

terjadinya

harus

koagulopati

dihangatkan

dan

untuk

gangguan

irama

jantung.
d.
Disability.
1) GCS setelah resusitasi
2) Bentuk ukuran dan reflek cahaya pupil
3) Nilai kuat motorik kiri dan kanan apakah ada parese atau tidak
e.
Expossure dengan menghindari hipotermia. Semua pakaian
yang menutupi tubuh penderita harus dilepas agar tidak ada
cedera terlewatkan selama pemeriksaan. Pemeriksaan bagian
punggung harus dilakukan secara log-rolling dengan harus
menghindari terjadinya hipotermi (America College of Surgeons ;
ATLS)
2. Secondary survey
a.
Kepala dan leher
Kepala. Inspeksi (kesimetrisan muka dan tengkorak, warna dan
distribusi

rambut

kulit

kepala),

palpasi

(keadaan

rambut,

tengkorak, kulit kepala, massa, pembengkakan, nyeri tekan,


fontanela (pada bayi)).
Leher. Inspeksi (bentuk kulit (warna, pembengkakan, jaringan
parut, massa), tiroid), palpasi (kelenjar limpe, kelenjar tiroid,
trakea), mobilitas leher.
2.

Dada dan paru

Inspeksi. Dada

diinspeksi

terutama

mengenai

postur,

bentuk

dan

kesimetrisan ekspansi serta keadaan kulit. Inspeksi dada dikerjakan baik


pada saat dada bergerak atau pada saat diem, terutama sewaktu
dilakukan pengamatan pergerakan pernapasan. Pengamatan dada saat
bergerak dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui frekuensi, sifat dan
ritme/irama pernapasan.
Palpasi. Dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji keadaan kulit pada
dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi,
dan tactil vremitus (vibrasi yang dapat teraba yang dihantarkan melalui
sistem bronkopulmonal selama seseorang berbicara)
Perkusi. Perhatikan adanya hipersonor atau dull yang menunjukkan
udara (pneumotorak) atau cairan (hemotorak) yang terdapatb pada
rongga pleura.
Auskultasi. Berguna

untuk

mengkaji

aliran

udara

melalui

batang

trakeobronkeal dan untuk mengetahui adanya sumbatan aliran udara.


Auskultasi juga berguna untuk mengkaji kondisi paru-paru dan rongga
pleura.
3.

Kardiovaskuler

Inspeksi dan palpasi. Area jantung diinspeksi dan palpasi secara


stimultan untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan atau
dorongan (heaves). Palpasi dilakukan secara sistematis mengikuti struktur
anatomi jantung mulai area aorta, area pulmonal, area trikuspidalis, area
apikal dan area epigastrik
Perkusi. Dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung. Akan
tetapi dengan adanya foto rontgen, maka perkusi pada area jantung
jarang dilakukan karena gambaran jantung dapat dilihat pada hasil foto
torak anteroposterior. (Priharjo, 1996)

4.

Ekstermitas

Beberapa

keadaan

dapat

menimbulkan

iskemik

pada

ekstremitas

bersangkutan, antara lain yaitu ;


a.

Cedera pembuluh darah

b.

Fraktur di sekitar sendi lutut dan sendi siku

c.

Crush injury

d.

Sindroma kompartemen

e.

Dislokasi sendi panggul

Keadaan iskemik ini akan ditandai dengan :


a.

Pusasi arteri tidak teraba

b.

Pucat (pallor)

c.

Dingin (coolness)

d.

Hilangnya fungsi sensorik dan motorik

e.

Kadang-kadang disertai hematoma, bruit dan thrill

Fiksasi fraktur khususnya pada penderita dengan cedera kepala sedapat


mungkin dilaksanakan secepatnya. Sebab fiksasi yang tertunda dapat
meningkatkan resiko ARDS (Adult Respiratory Disstress Syndrom) sampai
5 kali lipat. Fiksasi dini pada fraktur tulang panjang yang menyertai
cedera kepala dapat menurunkan insidensi ARDS.

2.8

FOKUS INTERVENSI

Diagnosa

Keperaw

1.

atan
Gangguan

Meningkatkan

perfusi

tingkat

1.

jaringan

kesadaran

faktor-faktor

perifer

biasa

Tujuan /

Rencana

Kriteria hasil

Intervensi

Tentukan

berhubungan

ognisi
fungsi

Mandiri

/ yang

perbaikan,

dan dengan
motorik- keadaan

sensori.

tertentu

Mendemonstr

yang

asikan

Rasional

o Menentukan
pilihan

intervensi.

Penurunan

tanda

dan

gejala

neurologis

atau

kegagalan

dalam

atau pemulihannya
setelah

tanda menyebabkan

vital stabil dan koma/penuruna


tanda-tanda

na

peningkatan TIK

jaringan

serangan

awal

mungkin

menunjukkan

perfusi bahwa pasien itu

dan

otak perlu

dipindahkan

potensial ke

perawatan

peningkatan

intensif

untuk

TIK.

memantau
tekanan

TIK

dan

atau pembedahan
2.

Pantau/ca

tat

o Mengkaji

status adanya

neurologis
secara

kecenderungan

teratur pada

tingkat

dan bandingkan kesadaran


dengan

dan

nilai potensial

standar

peninkatan TIK dan

(misalnya skala bermanfaat dalam


koma Glascow).

menentukan
lokasi,

3.

Evaluasi

perluasan

dan perkembangan

kemampuan

kerusakan SSP.

membuka

o Menentukan

mata,

seperti tingkat kesadaran.

spontan (sadar
penuh)
membuka
hanya

jika

diberi

o Mengukur

rangsangan

kesesuaian

dalam

nyeri,

atau berbicara

dan

tetap

tertutup menunjukkan

(koma).

tingkat kesadaran.

4.

Jika

Kaji

kerusakan

respon verbal ; (dari


catat
pasien

apakah pembedahan/insisi
sadar, )

orientasi

yang

terjadi

sangat kecil pada

terhadap orang, korteks

serebral,

tempat

mungkin

dan pasien

waktu baik atau akan

bereaksi

malah bingung; dengan


menggunakan

baik

terhadap

kata-kata/ frase rangsangan verbal


yang
sesuai.

tidak yang

diberikan

tetapi

mungkin

juga
memperlihatkan
seperti
berat

ngantuk
atau

tidak

kooperatif.
Kerusakan

yang

lebih

pada

korteks

luas

serebral

mungkin

akan

berespon

lambat

pada perintah atau


5.

Kaji

tetap

respon motorik ketika


terhadap

tertidur
tidak

ada

perintah,

perintah

yang mengalami

sederhana,
gerakan

disorientasi
yang stupor.

dan

Kerusakan

bertujuan

pada batang otak,

(patuh

pons dan medulla

terhadap

ditandai

dengan

perintah,

adanya

respon

berusaha untuk yang tidak sesuai


menghilangkan

terhadap

rangsang nyeri rangsang.


yang diberikan) o Mengukur
dan

gerakan kesadaran

yang

secara

tidak keseluruhan

dan

bertujuan

kemampuan untuk

(kelainan

berespon

postur
Catat

tubuh). rangsangan
gerakan eksternal

anggota
dan

pada
dan

tubuh merupakan

catat

sisi petunjuk

keadaan

kiri dan kanan kesadaran

terbaik

secara terpisah. pada pasien yang


metanya

tertutup

sebagai akibat dari


trauma

atau

pasien yang afasia.


Pasien
sadar

dikatakan
apabila

paien

dapat

meremas

atau

melepaskan
tangan
6.

pemeriksa

Pantau TD ata

dapat

; catat adanya menggerakkan


hipertensi
sistolik

tangan

sesuai

secara dengan

perintah.

menerus

dan Gerakan

yang

tekanan

nadi bertujuan

dapat

yang

semakin meliputi

berat.

mimik

kesakitan

atau

gerakan
menarik/menjauhi
rangsangan

nyeri

atau gerakan yang


7.

Frekuensi

jantung;

disadari

paien

(seperti

duduk,

catat fleksi

abnormal

adanya

dari

ekstremitas

bradikardi,

tubuh).

Tidak

takikardia, atau adanya

gerakan

bentuk

spontan

pada

disritmia

salah

lainnya.

tubuh menandakan

satu

kerusakan

sisi
pada

jalan motorik pada


himisfes otak yang
berlawanan.
8.

Pantau

pernafasan
meliputi
dan

o Peningkatan
tekanan

darah

pola sistemik

yang

iramanya, diikuti

oleh

seperti adanya penurunan


periode

apnea tekanan

darah

setelah

diastolik

(nadi

hiperventilasi

yang

yang

membesar)

disebut merupakan

tanda

pernafasan

terjadinya

Cheyne Sroke.

peningkatan

TIK,

jika

oleh

9.

Kaji

diikuti

penurunan tingkat

perubahan

kesadaran.

pada

Hipovelemia

penglihatan,

hipertensi

atau
dapat

seperti adanya mengakibatkan


penglihatan

kerusakan

yang

kabur, iskemia serebral.

ganda,

lapang o Perubahan pada

pandang

ritme (paling serig

menyempit dan bradikardi)


kedalaman

disritmia

persepsi.

timbul

dan
dapat
yang

mencermikan
10. Catat

adanya

depresi

ada/tidaknya

atau trauma pada

refleks-refleks

batang otak pasien

tertentu seperti (berhubungan


menelan, batuk dengan

luasnya

dan

insisi) yang tidak

babinskidan

mempunyai

sebagainya.

kelainan

jantung

sebelumnya.
11. Pantau
suhudan
lingkungan

o Nafas

yang

atur tidak teratur dapat


menunjukkan

sesuai indikasi. lokasi

adanya

Batasi

gangguan

penggunaan

serebral/peningkat

selimut, berikan an
kompres

TIK

dan

memerlukan

hangat

saat intervensi

demam timbul. lebih

yang
lanjut

Tutup

termasuk

ekstremitas

kemungkinan

dengan selimut dukungan


jika

buatan.

menggunakan

o Gangguan

selimut

penglihatan

hipotermia

dapat

(selimut

oleh

dingin).

mikroskopik

12. Pantau

otak,

nafas

yang

diakibatkan
kerusakan
pada

mempunyai

pemasukan dan konsekuensi


pengeluaran.
Ukur
badan
indikasi.

terhadap

berat keamanan
sesuai juga

dan
akam

Catat mempengaruhi

turgor kulit dan pilihan intervensi.


keadaan

o Penurunan

membran

refleks

mukosa.

menandakan

13. Pertahanka

adanya kerusakan

kepala/leher pada tingkat otak

pada

posisi tengah

yang

benar, batang

atau
otak

dan

sokong dengan sangat


gulungan
handuk

berpengaruh
kecil langsung terhadap

atau

bantal keamanan pasien.

pada kepala.

o Demam

dapat

mencerminkan
kerusakan
hipothalamus.
Peningkatan
kebutuhan
metabolisme
konsumsi
terjadi

dan

oksigen
(terutama

saat demam dan


menggigil)

yang

selanjutnya

dapat

menyebabkan
peningkatan TIK.
o Bermanfaat
sebagai
dari

indikator

cairan

tubuh

total

terintegrasi

dengan

pefusi

jaringan.
o Kepala

yang

miring pada salah


satu

sisi

menekan

akan
daerah

insisi dan menekan


vena jugularis dan
menghambat
aliran darah vena,
yang
akan

selanjutnya

meningkatkan TIK.
2.

Resiko

o Mempertahank

tinggi

an

1.

terhadap

nonmotermia,

perawatan

infeksi

bebas

berhubun

tanda infeksi

antiseptik,

gan

o Mencapai

pertahankan

dengan

penyembuhan

teknik

invasi MO

luka

tangan

(craniotomi)

baik.

tepat
waktunya.

Mandiri
Berikan

tanda- aseptik

pada 2.

o Cara
untuk

pertama
menghidari

dan infeksi nosokomial.


o Deteksi

dini

cuci perkembangan
yang infeksi
memungkinkan

Observasi

daerah

untuk

melekukan

kulit tindakan

dengan

yang

segera

mengalami

pencegahan

kerusakan

terhadap

(seperti
garis

dan

luka, komplikasi
jahitan), selanjutnya.

daerah

yang

terpasang

alat

invasi
(terpasang
infus

o Dapat
dan mengindikasikan

sebagainya),

perkembangan

catat

sepsis

karakteristik

selanjutnya

dari

yang

drainase memerlukan

dan

adanya evaluasi

inflamasi.

tindakan

3.

segera.

Pantau

suhu

atau
dengan

tubuh

secara

teratur.

Catat

adanya o Menurunkan

demam,

pemajanan

menggigil,

terhadap

diaforesis

dan pembawa kuman

perubahan
fungsi

penyebab infeksi.

mental

(penurunan
kesadaran).
4.

Batasi

pengunjung
yang

o Terapi
profilaktik

dapat

dapat digunakan

pada

menularkan
infeksi

pasien

yang

atau mengalami trauma

cegah

(luka,

kebocoran

pengunjung

CSS atau setelah

yang

dilakukan

mengalami

pembedahan untuk

infeksi

saluran menurunkan risiko

napas

bagian terjasdinya infeksi

atas.

nasokomial).
o Kultur/sensivita

1.

Kolaborasi
Berikan

s. Pewarnaan Gram
dapat

dilakukan

antibiotik

untuk memastikan

sesuai indikasi.

adanya infeksi dan


mengidentifikasi
organisme
penyebab

dan

untuk menentukan
2.

Ambil

bahan
pemeriksaan
(spesimen)
sesuai indikasi.

obat pilihan yang


sesuai.

3.

Gangguan

o Melaporkan

Mandiri

rasa

nyeri

1.

nyaman

hilang/terkontrol

intensitas,

sampai

Nyeri

gambaran

dan dengan

o Mengungkapk

lokasi/penyebar

Kaji

o Mungkin sedang
berat

penyebaran

an metode yang an nyeri, atau daerah

seluruh

memberikan

adanya

kepala

penghilangan.

perubahan

intrakranial,

atau

o Mendemontras sensasi.

daerah

ikan

Kesemutan

penggunaan

tidak

keterampilan

mungkin

relaksasi

dan

ke

oksipital.
yang
nyaman

merupakan

aktivias hiburan.

cerminan
kembalinya sensasi
2.

Kaji

setelah dekompresi

kembali

saraf atau sebagai

manifestasi

akibat

yang

perkembangan

timbul/perubah

edema

an

dari
dari

dalam penekanan

intensitas nyeri. saraf/daerah


operasi.
o Perkembangan/r
esolusi edema dan
inflamasi pada fase
awal pascaoperasi
3.

Izinkan

pasien

dapat

untuk mempengaruhi

mendapatkan

penekanan

pada

posis

yang berbagai saraf dan

nyaman

jika menyebabkan

diperlukan.

perubahan

pada

Gunakan rogroll derajat

nyeri

selama

(terutama

melakukan

setelah

perubahan

ketika

posisi.

otot/perbaikan

4.

sensasi

Demonstr

hari

operasi),
spasme
saraf

asikan

mengintesifkan

penggunaan

nyeri.

keterampilan

o Posisi

relaksasi,

disesuaikan

seperti

dengan kebutuhan

bernapas dalam fisiologis

tipe

atau visualisasi. operasinya.

5.

Berikan

diet

Posisi

yang

sesuai

membantu

dalam

menghilangkan

makanan menurunkan

lunak,

kelemahan

pelembab

dan

ruangan,

nyaman (nyeri).

rasa

otot
tidak

anjurkan untuk o Dengan


tdak

berbicara menfokuskan

setelah

kepala

dilakukan

tertentu,

bedah.

menurunkan

6.

ketegangan

Teliti

perhatian

otot,

keluhan pasien meningkatkan rasa


mengenai

memiliki

munculnya

kontrol

kembali nyeri.

menurunkan

dan
/
rasa

kurang nyaman.

Kolaborasi

1.

Berikan

o Menurunkan
rasa tidak nyaman

obat analgesik, yang berhubungan


sesuai

dengan sakit pada

kebutuhan.

daerah kranial dan

Narkotik,

kesulitan menelan.

seperti

morfin,

kodein,

o Sebagai

tanda

meperidin

adanya komplikasi

(demerol)

kolaps intrakranial.

:oksikodom
(Tylox
:hidrokondon

o Diberikan untuk

(vieodine):

menghilangkan

asetamenofen

menurunkan nyeri.

(tylenol)

Narkotik digunakan

dengan kodein.

selama

Relaksan

beberapa

otot, hari

pertama

seperti

pascaoperasi,

siklobenzaprin

kemudian

(flexeril):

diberikan

obat

diazepam

bukan

jenis

(valium).

narkotik

dari

sesuai

dengan penurunan
2.

Bantu

intensitas nyeri.

dengan ADP.
Dapat

digunakan

untuk
menghilangkan
3.
unit

Pasang

spasme

otot

sebagai

akibat

TENS iritasi

saraf

sesuai

intraoperasi.

kebutuhan.

o Memberikan
kontrol

terhadap

pengobatan
(biasanya narkotik)
untuk
mendapatkan
tingkat kenyamana
yang lebih konstan
yang

selanjutnya

dapat
meningkatkan
proses
penyembuhan.
o Dapat
digunakan
nyeri

untuk

insisi

atau

ketika saraf tetap


terkena
4.

Auskultasi

setelah

penyembuhan.
o Perubahan

Syok

Setelah

1.

hivopolem

dilakukan

nadi

ik

tindakan asuhan Awasi

iskemia

dapat

berhubun

keperawatan

terjadi

sbagai

gan

selama 1 X 24 jantung

atau akibat

hipotensi,

dengan

jam

resiko

tidak

perdaraha

syok

apical. disritmia

kecepatan

dan

diharapkan irama bila EKG hipoksia,


terjadi kontinue ada.

ketidakseimbanga
n

asidosis,

elektrolit

atau

pendinginan dekat
area jantung bila
2.

Kaji

terhadap
dingin,

kulit laase

air

dingin

digunakan

untuk

pucat, mengontrol

berkeringat,

perdarahan.

pengisian

o Asokonstriksi

kapiler

lambat adalah

dan nadi perifer simpatis


lemah.

respon
terhadap

penurunan volume
sirkulasi dan atau

3.

Catat

dapat

keluaran

terjadi

urin sebagai

dan berat jenis.

efek

vasopressin.
o Penurunan
perfusi

sistemik

dapat
4.

Catat

laporan

menyebabkan
nyeri iskemia atau gagal

abdomen

ginjal

khususnya tiba- dimanifestasikan


tiba,

nyeri dengan penurunan

hebat

keluaran urin, ATN

menyebar

ke dapat terjadi jika

bahu.

hipovolemik
memanjang.
o Nyeri
disebabkan

5.

Observasi

kulit

ulkus

gaster

sering

hilang

setelah

perdarahan

akut

untuk karena efek buffer

pucat,

darah. Nyeri berat

kemerahan.

berlanjut atau tiba-

Pijat
minyak,
posisi
sering..

dengan tiba
ubah menunjukkan
dengan iskemia
sehubungan

dapat

6.

Beri

dengan

terapi

oksigen

asokonstriksi,

tambahan

perdarahan

sesuai indikasi.

kedalam

7.

bilier

Awasi

traktus

GDA atau nadi (hematobilia), atau


oksimetri.

perforasi

atau

timbulnya
8.

Berikan

peritonitis.

cairan IV sesuai o Gangguan pada


indikasi.

sirkulasi

perifer

meningkatkan
resiko

kerusakan

kulit.
o Mengobati
hipoksia

dan

asidosis

laktat

selama perdarahan
akut.
o Mengidentifikasi
hipoksemia,
keefektifan

atau

kebutuhan

untuk

terapi.
o Mempertahanka
n volume sirkulasi
dan perfusi.
5.

Gangguan

Menunjukkn

pola

perbaikan

1.

napas

ventilasi
oksigenasi

Mandiri
Pantau

dan frekuensi,
irama,

jaringan adekuat kedalaman

o Perubahan
dapat menandakan
awitan

komplikasi

pulmunal

dengan
dalam

GDA pernafasan.
rentang Catat

normal
bebas

(umumnya

napas mengikuti

dan sesuai indikasi.


gejala

cedera

otak

postoperasi)

atau

menandakan

distres

lokasi/luasna

pernafasan.

keterlibatan

otak.

Pernapasan
2.

Catat

lambat,

periode

kompetensi

apnea

refleks

menandakan

gangguan

perlunya

menelan

o Kemampuan

untuk memobilisasi atau

melindungi
jalan

ventilasi

dan mekanis.

kemampuan
pasien

dapat

membersihkan

napas sekresi

penting

sendiri. Pasang untuk


jalan

napas pemeliharaan jalan

sesuai indikasi.
3.

Angkat

kepala
tidur

nafas.

Kehilangan

refleks

menelan

atau

batuk

tempat menandakan
sesuai perlunya

aturannya,
posisi

jalan

napas buatan atau

miring intubasi.

sesuai indikasi.

o Untuk
memudahkan

4.

Anjurkan

pasien

untuk paru/ventilasi paru

melakuakan
napas

ekspansi
dan

menurunkan

dalam adanya

yang efektif jika kemungkinan lidah


pasien sadar.

jatuh

yang

5.

Lakukan

perhisapan
dengan

menyumbat

jalan

napas.

ekstra o Mencegah

hati-hati,

dan

menurunkan

jangan

lebih atelektasis.

dari

10-15

detik.

Catat

karakter, warna o Penghisapan


dan kekeruhan biasanya
dari sekret.

dibutuhkan

jika

pasien koma atau


dalam

keadaan

imobilisasi

dan

tidak

dapat

membersihkan
jalan

napasnya

sendiri.
Penghisapan pada
6.

Auskultasi

suara

trakea yang lebih

napas, dalam

harus

perhatikan

dilakukan

daerah

ekstra

hipoventilasi

karena hal tersebut

dan

dengan
hati-hati

adanya dapat

suara-suara

menyebabkan atau

tambahan yang meningkatkan


tidak

normal hipoksia

yang

(seperti adanya menimbulkan


suara

vasokonstriksi

tambahan yang yang


tidak

normal akhirnya

padda
akan

seperti krekels, berpengaruh cukup


ronki

dan besar pada perfusi

mengi).

serebral.
o Untuk

7.

Pantau

mengidentifikasi

penggunaan

adanya

obat-obat

paru

depresan

atelektasis

pernapasn,

kongesti

atau

seperti sedatif.

obstruksi

jalan

napas

yang

Kolaborasi

1.

Pantau

masalah
seperti

membahayakan

atau

oksigenasi serebral

gambarkan

dan

analisan

menandakan

gas terjadinya

darah, tekanan paru


oksimetri.

infeksi

(umumnya

merupakan
koplikasi

2.

Lakukan

rotgen

dari

craniotomi

toraks postoperasi).

ulang.

o Dapat
meningkatkan
gangguan/
komplikasi

3.

Berikan

pernapasan.

oksigen.
o Menentukan
kecukupan
4.

Lakukan

pernapasan,

fisioterapi dada keseimbangan


jika
indikasi.

ada asam-basa

dan

kebutuhan

akan

terapi.
o Melihat kembali

keadaan
dan

ventilasi

tanda-tanda

komplikasi

yang

berkembang
(seperti atelektasis
atau
bronkopneumonia)
o Memaksimalkan
oksigen
darah

pada
arteri

membantu

dan

dalam

pencegahan
hipoksia. Jika pusat
pernapasan
tertekan

mungkin

diperlukan
ventilasi mekanik.
o Walaupun
merupakan
kontraindikasi
pada

pasien

dengan
peningkatan
fase

akut

TIK
namun

tindakan

ini

seringkali berguna
pada

fase

rehabilisasi

akut
untuk

memobilisasi

dan

membersihkan
jalan

napas

dan

menurunkan risiko
atelektasis

atau

komplikasi
6.

Gangguan

Setelah

1.

integritas

dilakukan

seluruh

kulit

asuhan

kulit,

berhubun

keperawatan

pengisian

gan

selama 1 x 24 kapiler, adanya ketidakmampuan

dengan

jam diharapakan kemerahan,

kerusakan

klien

jaringan

mempertahanka

biasanya

area cenderung

rusak

catat karena perubahan


sirkulasi
untuk

perifer,
merasakan

dapat pembengkakan. tekanan.


o Meningkatkan

n integritas kulit 2.
dengan

Lakukan

sirkulasi

kriteria massase

dan melindungi

lubrikasi

pada permukaan

hasil :
1.

Inspeksi

lainnya.
o Kulit

paru

kulit

klien kulit

tidak

dan
kulit,

dengan mengurangi

losion/minyak

terjadinya ulserasi.

menunjukkan
kemerahan atau
iritasi.
2.

o Karena
3.

Hindari

Mengidenti pakaian ketat

fikasi

menyebabkan area
tertekan

faktor

resiko individual
3.

dapat

Mengungk

o Untuk
4.

Bersihkan

mencegah

apkan

dan

pemahaman

permukaan

tentang

kulit

kebutuhan

kali per hari

mencegah

tindakan.

5.

kerusakan kulit

4.

permukaan

Berpartisip

bedaki kerusakan kulit


beberapa o Untuk
Pisahkan

asi pada tingkat kulit


kemampuan

dengan o Untuk

kapas halus

untuk mencegah 6.

Gunakan

kerusakan kulit

penghilang

5.

tekanan

Menunjukk

mencegah ulkus.

atau o Untuk

an

perilaku matras

peningkatan

tempat

penyembuhan.

penurun

atau melindungi

kulit

tidur dari

(tipe

iritasi

salep

dapat

tekanan sesuai bervariasi


kebutuhan.
7.

setiap

klien

untuk
dan

Beri salep memerlukan

seperti

seng periode percobaan.

oksida

o Karena

akan

menyebabkan rasa
menyengat.
8.

Hindari

menggunakan
tissue

basah

yang

dijual

bebas

yang

mengandung
alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

___________. Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragic. Diakses pada tanggal


6

Februari

2012

di http://nursingbegin.com/askep-stroke-

hemoragik/
___________. Konsep Teori Stroke Hemoragik. Diakses pada tanggal 6
Februari 2012http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/
Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8,
Vol. 3. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
Doenges, Marilyn E., Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler. 1999.
EGC : Jakarta.
http://en.wikipedia.org/wiki/Craniotomy
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta : Salemba Medika
Poppy

Kumala

dkk.

1996. Kamus

Kedokteran

Dorland. Copy

editor, edisi Bahasa Indonesia; Dyah Nuswantari. Ed.25. EGC:


Jakarta