Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu
menyebabkan sakit.Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan
menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan. Penyakit akan timbul jika
patogen berbiak dan menyebabakan perubahan pada jaringan normal1 . Infeksi merupakan
infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yang menyebabkan
cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intra selular,atau
respon antigen-antibodi2.
Dalam sebuah studi, peneliti berhasil mengungkapkan pentingnya pengontrol
infeksi pasif di rumah sakit, sebuah metode yang tidak mengandalkan pada staf medis atau
pasien untuk mengingat dan melakukan tindakan. Selama ini, diketahui bahwa berbagai
obyek di kamar pasien di rumah sakit merupakan kawasan perkembangbiakan potensial
bakteri yang menyebabkan infeksi.
Menurut Michael Schmidt, Vice Chairman of Microbiology and Immunology,
Medical University of South Carolina, yang melakukan penelitian, bakteri di permukaan
ruang ICU bertanggungjawab hingga 80 persen infeksi yang menyerang pasien.Untuk itu,
mengurangi jumlah bakteri di sekeliling pasien dipastikan akan menurunkan risiko infeksi
secara signifikan.
Pasien rumah sakit punya peluang 1:20 untuk terkena infeksi, dan bagi mereka
yang terkena, 1:20 di antaranya berpeluang menghadapi kematian akibat infeksi itu, kata
Schmidt, dikutip dari Eurekalert, 29 Desember 2011. Di Amerika Serikat sendiri, infeksi
yang didapat dari rumah sakit diperkirakan telah membunuh 100 ribu orang dan
menyebabkan kerugian hingga US$45 miliar per tahun, ucapnya.
Menurut data WHO tahun 1992, infeksi nosokomial merupakan masalah global
yang mengenai paling sedikit 9 % (3-12 %) dari 1,4 juta pasien rawat inap di seluruh
dunia. Menurut Center for Disease Control, hampir 2 juta pasien setiap tahunnya terkena
infeksi nosokomial dengan 80 ribu kematian. Di Indonesia, infeksi nosokomial mencapai
angka 15,74 % dan infeksi pasca bedah 19,4 %, jauh di atas negara maju yang berkisar 4,8
- 15,5 %.
Transmisi bakteri atau kuman dalam rumah sakit dapat diminimalkan bahkan
1

Potter and Peryy, 2005


dapat Saku
dicegah
dengan
Kamus
Kedokteran
Dorland, 1998
2

suatu implementasi keperawatan berupa penatalaksanaan


Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

pencegahan dan pengendalian infeksi, antara lain sterilisasi, disinfeksi, handhygiene,


memakai sarung tangan, masker, dan baju.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan pada makalah
ini adalah penatalaksanaan dan pencegahan infeksi.
C. Tujuan Makalah
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui implementasi keperawatan pada penatalaksanaan dan
pencegahan infeksi di rumah sakit.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui sterilisasi
b. Untuk mengetahui disinfeksi
c. Untuk mengetahui handhygiene
d. Untuk mengetahui handscone (sarung tangan)
e. Untuk mengetahui masker
f. Untuk mengetahui gown (baju)
D. Manfaat
Untuk

menambah

pengetahuan

dalam

implementasi

keperawatan

serta

penatalaksanaan dan pencegahan infeksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Infeksi
Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu
menyebabkan sakit.Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan
menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan.Penyakitb akan timbul jika
patogen berbiak dan menyebabakan perubahan pada jaringan normal 1. Infeksi merupakan
infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh,terutama yang menyebabkan
cedera sellular lokal akibat kompetisi metabolisme,toksin,replikasi intra selular,atau
respon antigen-antibodi2.
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

B. Rantai Infeksi
Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen elemen
berikut :
1. Agen infeksius atau pertumbuhan pathogen
Infeksi terjadi akibat adanya mikroorganisme, termasuk bakteri, virus, jamur dan
protozoa. Mikroorganisme di kulit dapat merupakan flora residen atau transien.
Organisme residen berkembang biak pada lapisan kulit superfisial,namun 10 20%
mendiami lapisan epidermal.Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang
kontak dengan orang atau objek lain dalam aktifitas atau kehidupan normal.
Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit
bergantung pada faktor faktor berikut : Organisme dalam jumlah yang cukup,
virulensi atau kemampuan untuk menyebabkan sakit, kemampuan untuk masuk dan
hidup dalam pejammu, dan pejamu yang rentan.
Beberapa agen yang dapat menyebabkan infeksi,yaitu :
a. Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang
sehat.Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari
datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi
jika manusia tersebut meniliki toleransi yang rendah terhadap miikrooorganisme.
Contohnya Escherechia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi
1

saluran kemih.

Potter and Peryy,


2005
Bakteri
patogen
2
Kamus Saku Kedokteran
Dorland, 1998
maupun endemik.

lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi secara aparodik


Contohnya:anaerobik

Grampositif,

Clostridium

yang

menyebabkan gangren
Bakteri Gram-positif : Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan
hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru,tulang,jantung dan infeksi
pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
Bakteri Gram-negatif: Enerobacteriacae, contohnya Escherechia coli, Proteus,
Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas seringkali ditemukan di air dan
penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan pasien yang
dirawat.Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua
infeksi di rumah sakit.
Serratia marcescens dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas
jahitan,paru dan peritoneum.
b. Virus
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam


virus,termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari tranfusi,
dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus dan
enterovirus yang ditularkan dari kon\tak tangan ke mulut atau melalui rute faecaloral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik,dan trasfusi
darah.Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi
gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus
lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola,
influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat
ditularkan.
c. Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat dengan mudah menular ke
orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama
pemberian obat antibiotika bakteri dan immunosupresan, contohnya infeksi dari
Candida albicans, Aspergiilus spp, Cryptococcus neformans, Cryptosporidium.
2. Tempat atau sumber pertumbuhan patogen
Reservoar adalah tempat patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau
tidak berkembang biak. Reservoir yang paling umum adalah tubuh manusia. Berbagai
mirroorganisme hidup pada kulit dan dalam rongga tubuh,cairan dan keluaran .Untuk
berkembang biak dengan cepat mkroorganismer memerlukan lingkungan yang sesuai,
termasuk makanan, oksigen, air, suhu yang tepat, pH, dan cahaya.
a. Makanan
Mikroorganisme memerlukan untuk hidup, seperti Clostridium perfringens,
mikroba yang menyebabkan gangren gas, berkembang pada materi organik lain,
seperti E.coli mengkonsumsi makanan yang tidak dicerna di usus. Organisme lain
mendapat makanan dari karbondioksida dan materi organik seperti tanah.
b. Oksigen
Bakteri aerob memerlukan oksigen untuk bertahan hidup dan multiplikasi
secukupnya untuk menyebabkan sakit. Contohnya adalah Staphylococcus aureus
dan turunan organisme Streptococccus sedangkan bakteri anaerob berkembang
biak ketika terdapat atau tidak ada tersedia oksigen bebas. Bakteri ini yang mampu
menyebabkan tetanus, gas gangrene, dan botulisme.
c. Air

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

Kebanyakan mkroorganisme membutuhkan air atau kelembaban untuk bertahan


hidup. Dan ada juga beberapa bakteri yang berubah bentuk, disebut dengan
spora,yang resisten terhadap kekeringan.
d. Suhu
Mikroorganisme dapat hidup hanya dalam batasan suhu terentu. Namun beberapa
dapat hidup dalam temperatur yang ekstrem yang mungkin fatal bagi manusia.
Misalnya virus AIDS, resisten terhadap air mendidih.
e. pH
Keasaman suatu lingkungan menentukan kemampuan

hidup

suatu

mikroorganisme. Kebanyakan organisme lebih menyukai lingkungan dalam


batasan pH 5-8.
f. Cahaya
Mikroorganisme berkembang pesat dalam lingkungan yang gelap seperti di bawah
balutan dan dalam rongga tubuh. Sinar ultra violet dapat efektif untuk membunuh
beberapa bentuk bakteri.
3. Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
Setelah mikroorganisme menemukan tempat untuktumbuh dan berkembang
biak,mereka harus menemukan jalan keluar jika mereka masuk ke pejamu lain dan
menyebabkan

penyakit.

Mikroorganisme

dapat

keluar

melalui

berbagai

tempatm,seperti kulit dan membran mukosa, traktus respiratoris, traktus urinarius,


traktus gastrointestinal, traktus reproduktif dan darah.
4. Cara penularan
Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke pejamu.
Penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara lebih umum melalui cara yang
spesifik. Namun, mikroorganisme yang sama dapat ditularkan melalui satu rute.
Meskipun cara utama penularan mikroorganisme adalah tangan dari pemberi layanan
kesehatan, hampir semua objek dalam lingkungan dapat menjadi alat penularan
patogen. Semua personel rumah sakit yang memberi asuhan langsuing dan memberi
pelayanan diagnostik dan pendukung harus mengikuti praktik untuk meminimalkan
penyebaran infeksi.
5. Portal masuk pejamu
Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute yang sama dengan yang
digunakan untuk keluar. Misalnya, pada saat jarum yang terkontaminasi mengenai
kulit klien, organisme masuk ke dalam tubuh. Setiap obstruksi aliran urine
memungkinkan organisme untuk berpindah ke uretra. Kesalahan pemakaian balutan
steril pada luka yang terbuka memungkinkan patogen memasuki jaringan yang tidak
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

terlindungi. Faktor- faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar


kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.
6. Pejamu yang rentan.
Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan dan bergantung pada
derajat ketahanan individu terhadap patogen,meskipun seseorang secara konstan
kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar,infeksi tidak akan terjadi
sampai individu rentan terhadapjumlah mikroorganisme tersebut.Makin banyak
virulen suatu mikroorganisme makin besar didapati muncul di lingkungan perawatan
akut.

C. Proses Infeksi
Infeksi terjadi secara progresif, berat ringannya penyakit klien tergantung pada tingkat
infeksi,patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan pejamu. Di dalam proses infeksi
memiliki tahapan tertentu yaitu :
1. Periode Inkubasi
Interfal antara masuknya patogen dalam tubuh dan munculnya gejala utama.
2. Tahap Prodomal
Interpal dari awitan tanda gejala non spesifik(malaise,demam ringan,keletihan)sampai
gejala yang spesifik selama masa ini,mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak
dan klien mampu menularkan ke orang lain.
3. Tahap Sakit
Interpal saat klien memanifestasikan tanda dan gejala yang lebih spesifik terhadap
jenis infeksi.
4. Tahap Pemulihan
Interpal saat munculnya gejala akut infeksi ,lama penyembuhannyatergantung pada
beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien.
D. Pertahanan Terhadap Infeksi
Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi,yaitu :
1. Flora Normal
Flora normal tubuh dapat melindungi seseorang terhadap beberapa patogen,
normalnya tubuh mengandung mikroorganisme yang ada pada lapisan permukaan dan
di dalam kulit, saliva, mukosa oral, dan gastrointestinal. Flora normal dalam usus
besar hidup dalam jumlah besar tanpa menyebabkan sakit.Flora normal juga
mensekresi substansi antibakteri di dalam usus.
2. Pertahanan Sistem Tubuh

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

Sejumlah sistem organ tubuh memiliki pertahanan tubuh yang unik terhadap
mikroorganisme. Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan yang secara
fisiologis disesuaikan dengan struktur dan fungsinya. Misalnya paru jalan masuk
mikroorganisme dilapisi oleh tonjolan seperti rambut atay silia yang secara ritmis
bergerak unruk memindahkan mukus dan organisme yang yang melekat di faring
untuk di ekshalasi.
3. Inflamasi
Inflamasi merupakan reaksi protektif vaskuler dengan menghantarkan cairan, produk
darah dan nutrient ke jaringan interstisial ke daerah cedera. Proses tersebut mampu
menetralisasi dan mengerliminasi patogen atau jaringan mati dan memulai cara
perbaikan sel dan jaringan tubuh.
4. Respon Imun
Saat mikroorganisme menginvasi memasuki tubuh,mikroorganisme tersebut diserang
pertama kali oleh monosit. Sisa mikroorganisme tersebut kemudian memicu respon
imun,materi yang tertinggal (antigen) menyebabkan kerentanan respon yang
mengubah susunan biologis tubuh sehingga reaksi untuk paparan berikutnya berbeda
dengan reaksi pertama ,respon yang berubah ini dikenal dengan respon imun.
E. Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial disebabkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas
keperawatan kesehatan,rumah sakit merupakan satu tempat yang paling mungkin terdapat
infeksi karena populasi mikroorganisme yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin
resisten terhadap antibiotik.
Jenis infeksi nosokomial yaitu infeksi iantrogenik yang di akibatkan oleh prosedur
diagnostik dan terapiutik.Contohnya infeksi traktus urinarius yang terjadi setelah infeksi
kateter.
Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen
Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu,yang bukan
merupakan flora normal contohnya adalah organisme salmonella dan klostridiun tetani.
Infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah dan terjadi
pertumbuhan yang berlebihan.Contohnya adalah infeksi yang disebabkan oleh
enterococcus,ragi dan streptococccus.

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

BAB III
PEMBAHASAN

A. Sterilisasi
1. Definisi
Sterilisasi adalah pemusnahan atau eliminasi semua mikroorganisme, termasuk spora
bakteri, yang sangat resisten3.
2. Metode Sterilisasi
Metode umum sterilisasi yaitu :
a. Sterilisasi uap (panas lembap)
Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan
sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan
dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tdak ada
kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena
terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organisme
tersebut.
b. Sterilisasi panas kering
Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi
sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga
menyebabkan mikrobanya mati.
Pemanasan kering ini kurang efektif apabila temperatur kurang tinggi. Untuk
mencapai efektivitas diperlukan pemanasan mencapai 160oC s.d 180oC. Pada
temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan jaringan, hal
ini disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri phatogen dapat terbakar.
Pada sistem pemanasan kering terdapat udara, hal mana telah diketahui bahwa
udara memerlukan waktu lama, rata-rata waktu yang diperlukan 45 menit.
3. Jenis Sterilisasi
a. Sterilisasi dengan Penyaringan
Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah
rusak jika terkena panas atau mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi
dilewatkan ke suatusaringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum)
3

Wikipediayang

berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus

tidak akan tersaring dengan metode ini.


b. Sterilisasi Gas
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

Sterilisasi

gas

digunakan

membunuhmikroorganisme

dalam
dan

pemaparan

sporanya.

gas

Meskipun

atau
gas

uap
dengan

untuk
cepat

berpenetrasi ke dalam pori danserbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena


permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akandibunuh. Sterilisasi gas
biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan
tidak tahan radiasi atau cahaya.
c. Sterilisasi dengan radiasi
Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan
jaringanyang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang
dikeringkan secara liofilisasi,sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar
(proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu
dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virussampai batas tertentu.
Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40 derajat Celsius. Teknologi ini
sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi
B. Desinfeksi
1. Definisi
Desinfeksi menggambarkan proses yang memusnahkan banyak atau semua
mikroorganisme, dengan pengecualian spora bakteri, dari objek yang mati4. Biasanya
dilakukan dengan menggunakan desinfektan kimia atau pasteurisasi basah (digunakan
untuk peralatan terapi pernapasan). Contoh desinfektan adalah alkohol, klorin,
glutaraldehid, dan fenol. Zat-zat kimia ini dapat membakar dan toksik terhadap
jaringan. suatu alat akan didesinfeksi atau disterilkan bergantung pada derajat risiko
infeksi penggunaan alat.
2. Benda yang memerlukan Desinfeksi dan Sterilisasi
a. Alat Penting
Alat-alat yang memasuki jaringan steril atau sistem vascular menimbulkan risiko
tinggi

terkena

infeksi

jika

alat-alat

tersebut

terkontaminasi

dengan

mikroorganisme, khususnya spora bakteri. Alat-alat penting harus disterilakan.


4

Beberapa dari alat-alat tersebut adalah sebagai berikut : Peralatan bedah, kateter

Rutala, 1995

intravascular, kateter urine, dan jarum


b. Alat Semi-Penting
Alat-alat yang berkontak dengan membrane mukosa atau kulit yang tidak utuh
juga berisiko. Benda ini harus bebas dari mikroorganisme (kecuali spora bakteri).
Alat-alat semi penting harus didesinfeksi atau disterilkan. Beberapa dari alat-alat

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

tersebut adalah sebagai berikut : Kateter atau selang pengisap (suction)


respiratoriu, selang endotrakea, endoskop gastrointestinal, dan thermometer.
c. Alat Tidak Penting
Alat-alat yang kontak dengan kulit utuh namun bukan membrane mukosa harus
bersih. Alat-alat tidak penting harus didesinfeksi. Beberapa dari alat-alat ini adalah
sebagai berikut :Pispot dan maset tekanan darah.
3. Metode
Dengan tiga kategori klasifikasi perlengkapan tersebut. Perawat harus mengenal
kebijakan dan prosedur pembersihan, penanganan dan pengiriman alat-alat perawatan
dan juga desinfeksi dan sterilisasi. Petugas khusus yang dilatih mendesinfeksi dan
mensterilisasi terutama harus melakukan prosedur tersebut. Pemilihan metode
desinfeksi atau sterilisasi dilakukan setelah mempertimbangkan faktor-faktor sebagai
berikut :
a. Konsentrasi larutan dan durasi kontak. Konsentrasi yang encer atau waktu paparan
yang pendek dapat mengurangi keefektifan.
b. Jenis dan jumlah patogen. Dengan penghancuran, organisme tertentu dapat dengan
mudah dihancurkan daripada organisme lain. Semakin banyak jumlah patogen
pada suatu objek, waktu desinfeksi yang dibutuhkan menjadi semakin panjang.
c. Area permukaan yang akan dikerjakan. Seluruh permukaan dan area yang kotor
harus terpapar seluruhnya terhadap agens desinfektan dan sterilisasi.
d. Suhu lingkungan. Desinfektan cenderung bekerja paling baik pada suhu ruang.
e. Adanya sabun. Sabun dapat membuat desinfektan tertentu menjadi tidak efektif.
Pembilasan objek secara menyeluruh perlu sebelum mendesinfesksi.
f. Adanya materi organik. Desinfektan menjadi tidak aktif kecuali jika darah, saliva,
pus atau ekskresi tubuh dicuci terlebih dahulu.

4. Karakteristik Desinfeksi
Contoh Proses Desinfeksi dan Sterilisasi
KARAKTERISTIK
CONTOH PENGGUNAAN
UAP PANAS
Uap panas termasuk mengukus (uap panas Autoklaf
digunakan
untuk
dengan tekanan). Pada saat terpapar dengan mensterilkan alat-alat bedah larutan
tekanan yang tinggi, uap air dapat mencapai parenteral, dan balutan bedah.
suhu di atas titik didih untuk membunuh
patogen dan spora.
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

10

RADIASI
Radiasi penginonan menembus objek secara Radiasi

digunakan

untuk

mendalam untuk sterilisasi dan desinfeksi mensterilkan obat, makanan dan


yang efektif

baha-bahan lainnya yang sensitive

terhadap panas.
BAHAN KIMIA
Bahan kimia merupakan desinfektan yang Bahan kimia digunakan
efektif karena menyerang semua jenis mendesinfeksi
mikroorganisme,

bekerja dengan cepat, peralatan

dapat bekerja d dalam air, tetap stabil dalam gelas.

instrument

seperti

Klorin

untuk
dan

thermometer

berguna

untuk

pengaruh cahaya maupun panas, tidak mahal mendesinfeksi air dan untuk tujuan
dan tidak berbahaya pada jaringan tubuh, kegiatan rumah tangga.
tidak

merusak

bahan

yang

sedang

didesinfeksi, dan tidak diaktifkan oleh


materi organik.
GAS ETILEN OKSIDA
Gas ini menghancurkan

spora

dan Gas ini mensterilkan beberapa alat-

mikroorganisme dengan mengubah proses alat dari karet dan plastik.


metabolik sel. Uap dikeluarkan dalam ruang
seperti autoklaf. Gas etilen oksida beracun
pada manusia dan waktu pengisian gas
bervariasi sesuai produk.
AIR YANG DIDIDIHKAN
Pendidihan merupakan tindakan yang paling
murah untuk dilakukan dirumah. Spora
bakteri dan beberapa virus tahan terhadap
pendidihan. Tindakan ini tidak digunakan di

Alat-alat tersebut (mis. Botol susu


bayi yang terbuat dari gelas) harus
dididihkan paling sedikit 15 menit.

rumah sakit.
C. Handhygiene
1. Definisi
Handhyiegene adalah proses yang secara mekanis melepaskan kotoran dan debris dari
kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air5.
WHO pada tahun 2005 mengeluarkan pesan kesehatan untuk mencuci tangan dengan
7 langkah. Dan dalam pelaksanaannya di bidang kesehatan ada yang mengembangkan
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

11

menjadi 10 langkah namun intinya adalah pada tahapan proses yang di lakukan.
Sedangkan bagi kalangan medis mencuci tangan harus lebih disiplin dan mengikuti
standar yang berlaku di tiap tiap rumah sakit sesuai kebijakan prosedur yang
berlaku. Untuk melakukan tindakan medis operatif wajib mencuci tangan sampai ke
siku.
Handhygiene adalah fase umum untuk mengaplikasikan cuci tangan (handwashing),
gosokan tangan antiseptik (antiseptic handrub), atau cuci tangan pembedahan
antisepsis (surgical hand antisepsis).
2. Tujuan Handhygiene
Tujuan handhygiene5 adalah merupakan salah satu unsur pencegahan penularan
infeksi. Menurut WHO tujuan handwashing adalah untuk mencegah transmisi dan
penyebaran mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan serta

merupakan

perilaku yang bermanfaat.


3. Jenis Handhygiene
a. Handhygiene normal (social)
Handhygiene normal menggunakan sabun dan air
b. Cuci tangan antiseptik (Antiseptic handwashing)
Cuci tangan antiseptik (Antiseptic handwashing) menggunakan chlorhexidine
5

Depkes, 2007
gluconate 2%

di ruang bangsal, ICU, NICU, dan KC.


c. Gosokan tangan dengan alcohol (Alcohol based handrub)
Gosokan tangan dengan alcohol (Alcohol based handrub) menggunakan cairan
yang mengandung 60-90% ethanol atau isopropanol.
d. Cuci tangan pembedahan (Surgical Handwashing)
Cuci tangan pembedahan (Surgical Handwashing) menggunakan chlorhexidine
gluconate 4% atau chlorhexidine gluconate 1% dan ethyl alcohol 61% (avagard)
jika tersedia.

4. Indikasi Handwashing
a. Ketika tangan terlihat kotor atau terkontaminasi material kotor dengan mencuci tangan
dengan sabun non-antimicrobial/ antimicrobial dan air selama 40-60 detik
b. Jika tangan tidak terlihat kotor, gunakan alcohol based handrub selama 20-30 detik
c. Sebelum tindakan pembedahan selama 3 menit
5.
a.
b.
c.
d.
e.

Moment of Handhygiene :
Sebelum menyentuh pasien
Sebelum tindakan bersih atau sterile
Setelah terpapar cairan tubuh (body fluid), seperti darah, urine, keringat, dan sebagainya.
Setelah menyentuh pasien
Setelah menyentuh lingkungan pasien
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

12

6.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Tahapan Handwashing
Basahi tangan dengan air
Aplikasikan sabun secukupnya untuk menutupi seluruh permukaan tangan
Gosok telapak tangan dengan tangan
Telapak tangan kanan di atas dorsum kiri dengan jari-jari menyilang
Telapak tangan dengan telapak tangan dengan jari-jari menyilang
bagian belakang jari-jari ke bagian berlawanan telapak tangan
Gosokan melingkar (rotasi) pada jempol kiri dirangkul oleh telapak tangan kanan
Gosokan melingkar, bagian ke belakang dan ke depan jari-jari tangan di telapak tangan
Bilas dengan air
Keringkan dengan handuk atau tissue
Tutup keran dengan menggunakan tissue atau handuk
7. Tahapan Handrub
a. Aplikasikan produk (alcohol based handrub) ke tangan yang membentuk
b.
c.
d.
e.
f.
g.

mangkuk, dan ratakan ke seluruh permukaan tangan


Gosok telapak tangan dengan tangan
Telapak tangan kanan di atas dorsum kiri dengan jari-jari menyilang
Telapak tangan dengan telapak tangan dengan jari-jari menyilang
bagian belakang jari-jari ke bagian berlawanan telapak tangan
Gosokan melingkar (rotasi) pada jempol kiri dirangkul oleh telapak tangan kanan
Gosokan melingkar, bagian ke belakang dan ke depan jari-jari tangan di telapak

tangan
h. Setelah kering maka tangan anda aman

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

13

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

14

D. Sarung Tangan
1. Definisi
Menggunakan sarung tangan merupakan komponen kunci dalam meminimalkan
penularan penyakit serta mempertahankan lingkungan bebas infeksi.
2. Tujuan
Sarung tangan digunakan untuk mencegah terjadinya transmisi pathogen baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penggunaan sarung tangan menurut CDC (Centre
for Disease Control and Prevention ) akan menurunkan :
a. Kemugkinan terjadinya kontak dengan mikroorganisme yang infeksius.
b. Resiko penyebaran flora endogen dari perawat ke klien.
c. Resiko penyebaran mikroorganisme dari klien ke perawat.
3. Indikasi
Sarung tangan digunakan pada saat5 :
a. Mengalami luka pada kulit
b. Melakukan tindakan invasive
c. Beresiko untuk terpapar dengan darah dan cairan tubuh
4. Prosedur
a. Prosedur Pemakaian
Prosedur implementasi atau pelaksanaan pemakaian sarung tangan (gloves) yaitu:
1) Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
2) Lepaskan cincin, jam tangan dan gelang
3) Lakukan cuci tangan
4) Buka pembungkus kemasan bagian luar dengan hati-hati menyibakkannya ke
samping
5) Pegang kemasan bagian dalam dan taruh pada permukaan datar yang bersih
tepat diatas ketinggian pergelangan tangan.
6) Buka kemasan, pertahankan sarungtangan

pada

permukaan

dalam

pembungkus.
7) Identifikasi sarung tangan kanan dan kiri. Setiap sarung tangan mempunyai
manset kurang lebih 5 cm (2 inci). Kenakan sarung tangan pada sarung tangan
yang lebih dominan.
8) Dengan ibu jari dan dua jari lainnya dari tangan non dominan, pegang tepi
manset sarung tangan untuk tangan dominan. Sentuh hanya pada permukaan
dalam sarung tangan.
9) Tarik sarung tangan pada tangan yang dominan, lebarkan manset, pastikan
bahwa manset tidak menggulung pada tangan, pastikan juga ibu jari dan jarijari anda pada posisi yang tepat.
10) Dengan tangan yang telah memakai sarung tangan, masukkan jari di bawah
manset sarung tangan kedua.
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

15

11) Tarik sarung tangan kedua pada tangan yang non dominan. Jangan biarkan jarijari dan ibu jari sarung tangan yang dominan menyentuh bagian tangan non
dominan yang terbuka. Pertahankan ibu jari sarung tangan non dominan
abduksi ke belakang
12) Jika sarung tangan kedua telah terpasang cakupkan kedua tangan, manset
biasanya terbuka saat pemasangan. Pastikan untuk menyentuh bagian yang
steril.
b. Prosedur Melepas
1) Jika sudah selesai melakukan tindakan lepas sarung tangan denga cara tangan
kanan menarik sarung tangan bagian telapak tangan sisi dalam dan kemudian
tarik sampai lepas
2) Genggam handscond yang sudah terlepas oleh tangan kanan.
3) Kemudian tangan kiri bergantian melepas handscon tangan kanan dengan
menarik sisi dalam sarung tangan sampai terlepas.
4) Hal ini memudahkan dalam pemilahan saat sarung tangan akan di gunakan
kembali sehingga tidak tertukar nomer besar dan nomer kecil karena sarung
tangan sudah menyatu.

5. Jenis Sarung Tangan


Ada beberapa jenis sarung tangan yaitu :
a. Sarung Tangan Steril
Gunakan sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi untuk prosedur apapun
yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan di bawah kulit seperti
persalinan, penjahitan vagina atau pengambilan darah
b. Sarung tangan periksa
Gunakan sarung tangan periksa yang bersih untuk menangani darah atau cairan
tubuh
E. Masker
1. Definisi
Masker adalah perangkat pelindung untuk melindungi pemakai sebagai
sumber control dalam mengendalikan infeksi.
2. Tujuan
Tujuan penggunaan masker adalah untuk melindungi paparan partikel
menular atau deflekasi (pantulan) partikel yang di hembuskan oleh
sumbernya.(American journal of infection control)
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

16

3. Langkah-Langkah
Langkah-langkah menggunakan memakai masker bedah:
a. Ambil bagian tepi masker biasanya sepanjang tepi tersebut terdapat
strip metal yang tipis,
b. Pegang masker pada dua tali atau ikatan bagian atas,ikatkan dua tali
atas pada bagian atas belakang kepala dengan tali melewati atas
telinga.
c. Ikatkan dua tali bagian bawah pas eratnya sekeliling leher dengan
masker sampai kebawah dagu.
d. Dengan lembut jepitkan pita metal bagian atas , pada bagian hidung
F. Baju
1. Definisi
Baju atau gaun pelindung merupakan salah satu jenis pakaian kerja. Jenis bahan
sedapat mungkin tidak tembus cairan.
2. Tujuan
Tujuan pemakaian gaun pelindung adalah untuk melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain.
3. Indikasi
Gaun pelindung harus dipakai apabila ada indikasi seperti halnya pada saat
membersihkan luka, melakukan irigasi, melakukan tindakan drainase, menuangkan
cairan terkontaminasi ke dalam lubang WC, mengganti pembalut, menangani pasien
dengan perdarahan masif, dan sebagainya. Sebaiknya setiap kali dinas selalu memakai
pakaian kerja yang bersih, termasuk gaun pelindung. Gaun pelindung harus segera
diganti bila terkena kotoran, darah atau cairan tubuh.
Baju atau gaun pelindung digunakan untuk memproteksi kulit dan mencegah kotornya
pakaian selama tindakan yang umumnya bisa menimbulkan percikan darah, cairan
tubuh, sekret dan eksresi. Gaun pelindung yang kotor sesegera mungkin harus
dilepaskan.2
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

17

4. Jenis Gaun
a. Dispossable Gown
Baju, gaun atau skort dalam rangka pencegahan dan pengendalian infeksi yang
dibuat dari bahan lembab harus dikenakan jika ada kemungkinan kotor karena
sekret atau ekskresi, Penggunaan skort ini dapat mencegah kontaminasi diri dan
juga mencegah terkontaminasinya pakaian kerja dengan bahan infeksius. Skort
hanya boleh digunakan satu kali. Buang skort pada tempat yang sesuai setelah
digunakan.

b. Permanent Gown
Gown akan disterilisasi jika telah digunakan terlepas dari kotor atau tidak.
5. Prosedur Pemakaian
Untuk implementasi prosedur pemakaian skort pelindung dan melepaskan
skort yang telah terkontaminasi bisa dilihat pada gambar di bawah ini

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

18

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

19

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Infeksi merupakan infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh,
terutama yang menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin,
replikasi intra selular,atau respon antigen-antibodi. Dalam rangka penatalaksanaan
pencegahan dan pengendalian infeksi diperlukan adanya implementasi keperawatan yang
tepat seperti sterilisasi, desinfeksi, hand hygiene, pemakaian masker, dan baju yang sesuai
dengan prosedurnya.
B. Saran
Dengan adanya penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi yang baik,
diharapkan di masa yang akan datang prevalensi maupun insiden infeksi akan menurun
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

20

ataupun tidak akan terjadi. Transmisi bakteri atau kuman dalam rumah sakit dapat
diminimalkan bahkan dapat dicegah dengan suatu implementasi keperawatan berupa
penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi, antara lain sterilisasi, disinfeksi,
handhygiene, memakai sarung tangan, masker, dan baju.
Kita sebagai perawat hendaklah menerapkan atau mengaplikasikan Implementasi
Keperawatan dalam Penatalaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dengan efektif
dalam setiap melakukan proses keperawatan, sehingga dalam memberikan pelayanan bisa
dilakukan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Centers for Disease Control and Prevention, dari

http://www.cdc.gov/HAI/pdfs/ppe/

PPEslides6-29-04.pdf, diakses November 2012


Centers for Disease Control and Prevention. (2009). Protocol Hand Hygiene Glove
Observations,

dari

http://www.cdc.gov/dialysis/prevention-tools/Protocol-hand-

hygiene-glove-observations.html, diakses November 2012


Hegner & Caldwell. (2003). Asisten Keperawatan Suatu Pendekatan Proses Keperawatan
Edisi 6. Jakarta: EGC
Potter & Perry. (2004). Fundamental of Nursing, Second edition, Philadelpia: J.B. Lippincott
Company.
Universitas Padjajaran. (2009). Tindakan Kewaspadaan Universal, dari http://pustaka.
unpad.ac.id / wp-content/uploads/ 2009/10/ tindakan_kewaspadaan_universal.pdf,
diakses 2 November 2012
World Health Organization. (2008). Rekomendasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Flu
Burung di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dari http://apps.who.int/csr/disease
/avianinfluenza /guidelines/AIDE%20 MEMOIREAvianFlu_ bahasa.pdf, diakses 2
Implementasi Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

21

November 2012

Implementasi Keperawatan dalam


Penatalaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi

22