Anda di halaman 1dari 24

1.

Psyche = jiwa
Latreia = ilmu kedokteran/ pengobatan
Psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari segala aspek mental
manusia, baik dalam keadaan sakit maupun dalam keadaan sehat, serta meneliti
genesis, diagnosis, th/, rehabilitasi, prevensi gangguan jiwa dan promosi kesehatan
jiwa
Terapi = prevensi sekunder ; Rehabilitasi = prevensi tersier

2.
A. Afek
Ekpresi emosi yang terlihat/ekspresi eksternal dari isi emosional saat itu.
Nilai : wajar, tidak wajar, tumpul, terbatas, datar.
Kelainan fundamental Gangguan afektif : perubahan suasana perasaan (mood) dan
afek, biasanya kea rah depresi atau elasi
Biasanya diikuti perubahan seluruh aktifitas/sekunder terhadap perubahan diatas
Sebagian besar cenderung berulang
Timbulnya episode sering berhubungan dengan peristiwa/situasi yang
menegangkan/ penuh stress/trauma mental lainnya
B. Halusimasi
Suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpastimulus dari luar. Halusinasi
merupakan pengalaman terhadap mendengar suara Tuhan, suara setan dan suara
manusia yang berbicara terhadap dirinya,sering terjadi pada pasien skizofrenia
( Stuart and Sundeen, 1991). Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien
mempersepsikan suatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indera
tanpa adanya rangsangan dari luar. Keyakinan tentang halusinasi adalah sejauh mana
pasien itu yakin bahwa halusinasi merupakan kejadian yang benar, umpamanya
mengetahui bahwa hal itu tidak benar, ragu-ragu atau yakin sekali bahwa hal itu benar
adanya ( Maramis, 2004). Jadi, dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah dimana
seseorang mempersepsikan sesuatu tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar.
C. Asosiasi Longgar
gangguan arus pikir dengan ide-ide yang berpindah dari satu subyek ke subyek lain
yang tidak berhubungan sama sekali, dalam bentuk yang lebih parah disebut
inkoherensia.
D. Delusi (waham)
Merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau mencolok. Waham-waham tersebut (baik
tunggal maupun sebagai suatu sistem waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan
lamanya, dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat.
Waham ialah keyakinan pribadi yang salah yang didasarkan kepada kesimpulan yang
keliru mengenai realitas eksternal dan secara teguh dipertahankan walaupun hampir
setiap orang tidak beranggapan begitu, serta walaupun apa yang dianggap tidak dapat
disangkal tersebut terbukti bertentangan

3.
A. Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan frenia
yang artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang
yang mengalami keretakan jiwa atau keretakkan kepribadian (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi
individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas,
merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku dengan sikap yang tidak dapat diterima
secara sosial (Isaacs, 2005).
2.2 Etiologi Skizofrenia
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etiologi) yang pasti mengapa seseorang
menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak.Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah
dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir
antara lain : (Yosep, 2010).

Faktor genetik;

Virus;

Autoantibodi;

Malnutrisi.
Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut : (Yosep, 2010)
1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung
10,1%; anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%;
sedangkan kembar fraternal 15,2%. Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan
pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia
kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan gizi,
infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal. Penelitian mutakhir menyebutkan
bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak akan muncul kecuali
disertai faktor-faktor lainnya yang disebut epigenetik faktor. Skizofrenia muncul
bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan : (Yosep, 2010)
a. Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu
perkembangan otak janin;
b. Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
c. Komplikasi kandungan; dan
d. Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
Seseorang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila mengalami stresor
psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita skizofrenia dari
pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya. (Yosep, 2010)
2.3 Penegakkan diagnosis
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut (Maslim,
2003).:
- Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a.

thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda atau thought insertion or withdrawal
yang merupakan isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal); dan thought broadcasting, yaitu isi pikiranya tersiar keluar
sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
b.
delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy merupaka
waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan
dari luar; (tentang dirinya diartikan secara jelas merujuk kepergerakan
tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus),
atau delusional perceptionyang merupakan pengalaman indrawi yang
tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat
mistik atau mukjizat.
c.
Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah ini:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara), atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian
tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain).
e. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai
baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk
tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide
berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap
hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,
mutisme, dan stupor;
Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak

berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan
penarikan diri secara sosial.
Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):

Berlangsung minimal dalam enam bulan


Penurunan fungsi yang cukup bermakna di bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri
Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama berlangsungnya
sebagian dari periode tersebut
Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood
mayor, autisme, atau gangguan organik.

2.4 Jenis-jenis skizofrenia


Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam
salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas
golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang
penderita tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut :
(Maramis, 2009). Gejala klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di
muka, dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai
spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :
Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit.
Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala
skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Skizofrenia
paranoid memiliki perkembangan gejala yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah
waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara
lebih teliti juga didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin
subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat
digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang
lain.Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut :
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling
berkomentar tentang diri pasien, yang mengancam pasien
atau memberi perintah, atau tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas.

o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta


gejalakatatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.
Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau lebih
delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia lebih tua
daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada pasien skizofrenia
paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik
paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional,
dan perilakunya dibandingkan tipe skizofrenik lain. Pasien skizofrenik paranoid biasanya
bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak ramah.Mereka juga dapat bersifat
bermusuhan atau agresif.Pasien skizofrenik paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri
mereka secara adekuat didalam situasi sosial.Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh
gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.
Skizofrenia Hebefrenik
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau
antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan
kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti
mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia
heberfenik. Waham dan halusinasi banyak sekali.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Diagnosis hebefrenikbiasanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset
biasanya mulai 15-25 tahun)..
Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan
kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang
khas berikut ini memang benar bertahan :
o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan
perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai
oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum
sendirir (self-absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner),
tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda
gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang
(reiterated phrases);
o Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu
(rambling) serta inkoheren.
o Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak
menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan
kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran
ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu
perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya
suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama,
filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan
pikiran pasien.
Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.
Skizofrenia Katatonik

Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor
katatonik. Stupor katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap
lingkungannya. Gejala paling penting adalah gejala psikomotor seperti:
1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
2. Muka tanpa mimik, seperti topeng
3. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari,
bahkan kadang sampai beberapa bulan.
4. Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut dan
meleleh keluar, air seni dan feses ditahan
6. Terdapat grimas dan katalepsi
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai
berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi
tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme, grimas
dan neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum sehingga mungkin terjadi
dehidrasi atau kolaps dan kadang-kadang kematian (karena kehabisan tenaga dan terlebih bila
terdapat juga penyakit lain seperti jantung, paru, dan sebagainya)
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
o Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam
gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
o Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
o Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
o Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua
perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang
berlawanan);
o Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);
o Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan
tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
o Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis
terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
o Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai
diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.
o Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk
diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit
otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga
terjadi pada gangguan afektif.
Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu dari dua
bentuk skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited katatatonik. Pada katatonik
stupor, pasien akan terlihat diam dalam postur tertentu (postur berdoa, membentuk bola),
tidak melakukan gerakan spontan, hampir tidak bereaksi sama sekali dengan lingkungan

sekitar bahkan pada saat defekasi maupun buang air kecil, air liur biasanya mengalir dari
ujung mulut pasien karena tidak ada gerakan mulut, bila diberi makan melalui mulut akan
tetap berada di rongga mulut karena tidak adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara
berhari-hari, bila anggota badan pasien dicoba digerakkan pasien seperti lilin mengikuti
posisi yang dibentuk, kemudian secara perlahan kembali lagi ke posisi awal. Bisa juga
didapati pasien menyendiri di sudut ruangan dalam posisi berdoa dan berguman sangat halus
berulang-ulang.
Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan, stereotipik
dengan impulsivitas yang ekstrim. Pasien berteriak, meraung, membenturkan sisi badannya
berulang ulang, melompat, mondar mandir maju mundur.Pasien dapat menyerang orang
disekitarnya secara tiba-tiba tanpa alasan lalu kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya
meneriakka kata atau frase yang aneh berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau
berceramah seperti pemuka agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi
dengan lingkungan sekitar, biasanya asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan, atau
di kolong tempat tidurnya.
Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari kedua
diatas, pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien yang dalam waktu
dan frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien dengan stupor katatonik dapat
secara tiba-tiba berteriak, meloncat dari tempat tidurnya, lalu membantingkan badannya ke
dinding, dan akhirnya dalam waktu kurang dari satu jam kemudian kembali lagi ke posisi
stupornya.
Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan
yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan
medis mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera
yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Skizofrenia Simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sulit
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan
sekali. Permulaan gejala mungkin penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau
mulai menarik diri dari pergaulan.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut :
Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung
pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari :
o Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dandisertai
dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat
sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
o Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe
skizofrenia lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala utama
pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses
berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.Jenis ini
timbulnya perlahan-lahan sekali.Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang

memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin
mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak
ada orang yang menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.
Skizofrenia residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode
psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang lebuh menonjol.
Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpula afek, pasif
dan tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta
buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua :
Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan
inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi nonverbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan
posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;
Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;
Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang
(minimal) dan telah timbul sindrom negative dari skizofrenia;
Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi
kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus adanya
gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup
untuk memenuhi tipe lain skizofrenia.Penumpulan emosional, penarikan social, perilaku
eksentrik, pikiran yang tidak logis, dan pengenduran asosiasi ringan adalah sering ditemukan
pada tipe residual.Jika waham atau halusinasi ditemukan maka hal tersebut tidak menonjol
dan tidak disertai afek yang kuat.
Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated).
Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan
kedalam salah satu tipe.PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci.
Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia


Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skizofrenia.

Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :

Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum


skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya); dan

Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria


untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode
depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus
tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai.

Skizofrenia lainnya

Bouffe Delirante (acute delusional psychosis)


Konsep diagnosis skizofrenia dengan gejala akut yang kurang dari 3 bulan, kriteria
diagnosisnya sama dengan DSM-IV-TR. 40% dari pasien yang didiagnosa dengan
bouffe delirante akan progresif dan akhirnya diklasifikasikan sebagai pasien skizofren
Oneiroid
Pasien dengan keadaan terperangkap dalam dunia mimpi, biasanya mengalami
disorientasi waktu dan tempat.Istilah oneiroid digunakan pada pasien yang
terperangkap dalam pengalaman halusinasinya dan mengesampingkan keterlibatan
dunia nyata.
Early onset schizophrenia
Skizofrenia yang gejalanya muncul pada usia anak-anak. Perlu dibedakan dengan
retardasi mental dan autisme
Late onset schizophrenia
Skizofrenia yang terjadi pada usia lanjut (>45 tahun). Lebih sering terjadi pada wanita
dan pasien-pasien dengan gejala paranoid.

B. GANGGUAN BIPOLAR
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan
ditandai oleh gejala-gejala manic, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta
dapat berlangsung seumur hidup.Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa
gejala penting mania atau hipomania.Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania
dapat bergantian secara cepat, yang dikenal dengan rapid cycling.Episode mania yang
ekstrim dapat menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi.
A.

ETIOLOGI

Gangguan bipolar disebabkan oleh berbagai macam faktor.Secara biologis dikaitkan


dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan
dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat
dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya. 1-3
1. Faktor Genetik
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu
gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar.Sebagai contoh, sanak
saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada sanak saudara derajat
pertama.Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen
pasien gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu Gangguan mood,
paling sering gangguan depresif berat.Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar,
terdapat kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu Gangguan mood. Jika

kedua orangtua menderita Gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya
menderita Gangguan mood.1-3
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara Gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom
tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16,
12q23-q24, 18 sentromer, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini,
ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) beresiko rendah menderita Gangguan bipolar.13

Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,


peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan Gangguan
bipolar.Neurotransmitter tersebut adalah dopamine, serotonin, noradrenalin. Gen-gen yang
berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode
monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, cathecol-ometiltransferase (COMT),
dan serotonin transporter (5HTT). Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan
dengan penyakit ini yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis, dan
perlindungan neuron otak.BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur BDNF
terletak pada kromosom 11p13. Terdapat tiga penelitian yang mencari tahu hubungan antara
BDNF dengan Gangguan bipolar dan hasilnya positif.1-3
2. Faktor Biologis
Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini.Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar.Melalui pencitraan
magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan
jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal
subgenual.Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan
volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus.Korteks prefrontal, amygdale, dan
hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak
penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang
membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila
jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak
berjalan lancar.1-3
3. Faktor Lingkungan
Penelitian telah membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam
Gangguan perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan
psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress
yang menyertai episode pertama dari Gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan
biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan
perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal
intraneuronal.Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam
kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada
resiko yang lebih tinggi untuk menderita Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya
stressor eksternal.1-3

B.

GEJALA KLINIS

Terdapat dua pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan
episode mania.1-3
1. Episode Manik
Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang
elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut
(empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu :3,4

Grandiositas atau percaya diri berlebihan


Berkurangnya kebutuhan tidur
Cepat dan banyaknya pembicaraan
Lompatan gagasan atau pikiran berlomba
Perhatian mudah teralih
Peningkatan sosial dan hiperaktivitas psikomotor
Meningkatnya aktivitas bertujuan (social, seksual, pekerjaan dan sekolah)
Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang)

Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan, gambaran psikotik,


hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya Gangguan fungsi sosial
dan pekerjaan.Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania
justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak
memiliki gambaran psikotik (halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan
tidak memerlukan hospitalisasi.3,4
2. Episode Hipomanik
Hipomania ialah derajat yang lebih ringan daripada mania, yang kelainan suasana
perasaan (mood) dan perilakunya terlalu menetap dan menonjol sehingga tidak dapat
dimasukkan dalam siklotimia, namun tidak disertai halusinasi atau waham.Yang ada ialah
peningkatan ringan dari suasana perasaan (mood) yang menetap (sekurang-kurangnya selama
beberapa hari berturut-turut), peningkatan enersi dan aktivitas, dan biasanya perasaan
sejahtera yang mencolok dan efisiensi baik fisik maupun mental.Sering ada peningkatan
kemampuan untuk bergaul, bercakap, keakraban yang berlebihan, peningkatan enersi seksual,
dan pengurangan kebutuhan tidur; namun tidak sampai menjurus kepada kekacauan berat
dalam pekerjaan atau penolakan oleh masyarakat.Lebih sering ini bersifat pergaulan social
euforik, meskipun kadang-kadang lekas marah, sombong, dan perilaku yang tidak sopan dan
mengesalkan (bualan dan lawakan murah yang berlebihan).
Konsentrasi dan perhatiannya dapat mengalami hendaya, sehingga kurang bisa
duduk dengan tenang untuk bekerja, atau bersantai dan menikmati hiburan; tetapi ini tidak
dapat mencegah timbulnya minat dalam usaha dan aktivitas baru, atau sifat agak suka
menghamburkan uang.3,4
3. Episode Depresi
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini :
ringan, sedang, dan berat, individu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang
depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi yang menuju

meningkatnya keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya ada rasa lelah yang
nyata sesudah kerja sedikit saja. Gejala lazim lainnya adalah :

Konsentrasi dan perhatian berkurang;


Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan
sekali pun);
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
Tidur terganggu;
Nafsu makan berkurang.3,4

4. Tipe Campuran
Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi
secara bersamaan.Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah,
serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat,
grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang
gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain,
dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, social dan pekerjaan.3,4
Siklus Cepat
Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode depresi, hipomania,
atau mania dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala
dan biasanya terdapat hendaya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan.3,4
Siklus Ultra Cepat
Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam
beberapa hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan
sangat sulit diatasi.3,4
Sindrom Psikotik
Pada kasus berat, pasien mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling
sering yaitu :3,4
Halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)
Waham
Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan waham
nihilistic terjadi pada episode depresi.Ada kalanya simtom psikotik tidak serasi dengan
mood.Pasien dengan gangguan bipolar sering didiagnosis sebagai skizofrenia.Ciri psikotik
biasanya merupakan tanda prognosis yang buruk bagi pasien dengan Gangguan bipolar.
Faktor berikut ini telah dihubungkan dengan prognosis yang buruk seperti: durasi episode
yang lama, disosiasi temporal antara gangguan mood dan gejala psikotik, dan riwayat
penyesuaian social pramorbid yang buruk. Adanya ciri-ciri psikotik yang memiliki penerapan
terapi yang penting, pasien dengan symptom psikotik hampir selalu memerlukan obat anti
psikotik di samping anti depresan atau anti mania atau mungkin memerlukan terapi
antikonvulsif untuk mendapatkan perbaikan klinis.3,4

C.

KRITERIA

Berdasarkan DSM-IV, Gangguan bipolar digolongkan menjadi 4 kriteria :5


Gangguan bipolar I
Terdapat satu atau lebih episode manik.Episode depresi dan hipomanik tidak
diperlukan untuk diagnosis tetapi episode tersebut sering terjadi.
Gangguan bipolar II
Terdapat satu atau lebih episode hipomanik atau episode depresif mayor tanpa
episode manik.
Siklotimia
Adalah bentuk ringan dari Gangguan bipolar.Terdapat episode hipomania dan
depresi yang ringan yang tidak memenuhi kriteria episode depresif mayor.
Gangguan bipolar YTT
Gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I
dan II. Gejala-gejala tersebut berlangsung tidak lama atau gejala terlalu sedikit sehingga tidak
dapat didiagnosa Gangguan bipolar I dan II.5
D.

DIAGNOSIS

Keterampilan wawancara dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.Informasi dari


keluarga sangat diperlukan.Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria yang terdapat dalam
DSM-IV atau ICD-10.Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
symptom Gangguan bipolar adalah The Structured clinical Interview for DSM-IV (SCID).The
Present State Examination (PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi simptom
sesuai dengan ICD-10.3,5
1. Pembagian menurut DSM-IV :
Gangguan mood bipolar I
Gangguan mood bipolar I, episode manic tunggal
a. Hanya mengalami satu kali episode manik dan tidak ada riwayat depresi mayor
sebelumnya.
b. Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, Gangguan
waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
c. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
d. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
Gangguan mood bipolar I, episode manik sekarang ini
a. Saat ini dalam episode manik
b. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode manik, depresi, atau
campuran.

c. Episode mood pada kriteria A dan B bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih
dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan
psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
d. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum.
e. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini
a. Saat ini dalam episode campuran
b. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik, depresi atau
campuran
c. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak
bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizifreniform, Gangguan waham, atau
Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan
d. Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
e. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini
a. Saat ini dalam episode hipomanik
b. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran
c. Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau
hendaya social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya
d. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham,
dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini
a. Saat ini dalam episode depresi mayor
b. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik dan campuran
c. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham,
dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
d. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
e. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
Gangguan mood bipolar I, Episode Yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini
a. Criteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik, hipomanik,
campuran atau episode depresi.
b. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran.
c. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif
dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham,
atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.
d. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.

Ganggguan Mood Bipolar II

Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit satu
episode hipomanik.
Gangguan Siklotimia
a. Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejala-gejala
hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi
criteria untuk Gangguan depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling
sedikit satu tahun.
b. Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada
kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu waktu.
c. Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua
tahun Gangguan tersebut.
Catatan : setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manik
atau episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau
episode depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat
ditegakkan).
d. Gejala-gejala pada kriteria A bukan skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan gangguan psikotik yang
tidak dapat diklasifikasikan.
e. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum.
f. Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna
atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya.
2. Pembagian Menurut PPDGJ III
F31 Gangguan Afek bipolar

Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode)


dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu
terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi
dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna
antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsug antara 2
minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (ratarata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut.
Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress
atau trauma mental lainnya (adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis).

Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif


Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manic tunggal (F30)

F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Klinik Hipomanik

Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk hipomania (F30); dan

Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik , depresif,
atau campuran) di masa lampau.

F31.1 Gangguan afektif Bipolar, Episode kini Manik Tanpa Gejala Psikotik

Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik
(F30.1); dan

Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif,
atau campuran) di masa lampau.

F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan gejala psikotik

Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik
(F30.2); dan

Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif
atau campuran) di masa lampau

F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang

Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32.0)
atau pun sedang (F32.1); dan

Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau

F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa
gejala psikotik (F32.2); dan
Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan
gejala psikotik (F32.3);dan
Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
dimasa lampau
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran
Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan depresif
yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif
yang sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang
sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu); dan
Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi

Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir
ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,

manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode
afektif lain (hipomanik, manik, depres if atau campuran)
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT
E.

TERAPI

1. Farmakoterapi
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami
penderita. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi,
agresi, dan gangguan tidur. Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan untuk episode
manik akut dan sebagai mood stabilizer. Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan untuk
episode depresi akut (contoh, depresi berat). Selanjutnya, terapi pemeliharaan/maintenance
dan pencegahan juga harus diberikan.
Pengalaman klinis menunjukkan bahwa jika diterapi dengan obat mood stabilizer,
penderita gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manik dan depresi. Obat ini
bekerja dengan cara menstabilkan mood penderita (sesuai namanya), juga dapat menstabilkan
manik dan depresi yang ekstrim. Antipsikosis atipikal seperti ziprasidone, quetiapine,
risperidone, aripiprazole dan olanzapine, kini juga sering digunakan untuk menstabilkan
manik akut, bahkan untuk menstabilkan mood pada depresi bipolar.
2. Non Farmakoterapi
Psikoterapi
Disamping pengobatan medikamentosa, psikoterapi adalah salah satu terapi yang
efektif untuk gangguan bipolar.Terapi ini memberikan dukungan, edukasi, dan petunjuk
untuk seorang dengan gangguan bipolar. Beberapa jenis psikoterapi yaitu:
1. Cognitive behavioral therapy (CBT) membantu penderita gangguan bipolar untuk
mengubah pola pikir dan perilaku negative.
2. Family-focused therapy melibatkan anggota keluarga. Terapi ini juga memfokuskan
pada komunikasi dan pemecahan masalah.
3. Interpersonal and social rhythm therapy membantu penderita gangguan bipolar
meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain dan mengatur aktivitas harian
mereka.
Psychoeducation mengajarkan pada penderita gangguan bipolar mengenai penyakit
yang mereka derita beserta dengan penatalaksanaannya. Terapi ini membantu penderita
mengenali gejala awal dari episode baik manik maupun depresi sehingga mereka bisa
mendapatkan terapi sedini mungkin
Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada
diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena
peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan

efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan
menyebabkan toksisitas.
Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas
fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang
reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini
berlebihan dengan peningkatan respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan
menyebabkan toksisitas litium.
Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan lanjutan.
Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui
keluarga dan sistem disekitarnya. Fakta menunjukkan edukasi tidak hanya meningkatkan
ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
Penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi perasaan
bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.
Memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terutama tanda awal,
pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan
langkah-langkah pencegahan yang baik.
Membantu penderita mengidentifikasi dan mengatasi stressor di dalam kehidupannya.
Informasi tentang kemungkinan kekambuhan penyakitnya.
PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tepat,
pengetahuan komprehensif mengenai penyakit ini dan efeknya, hubungan positif dengan
dokter dan therapist, kesehatan fisik.Semua faktor ini merujuk ke prognosis bagus.
Akan tetapi prognosis pasien gangguan bipolar I lebih buruk dibandingkan dengan
pasien dengan gangguan depresif berat.Kira-kira 40%-50% pasien gangguan bipolar I
memiliki episode manik kedua dalam waktu dua tahun setelah episode pertama.Kira-kira 7%
dari semua pasien gangguan bipolar I tidak menderita gejala rekurensi, 45% menderita lebih
dari satu episode, dan 40% menderita gangguan kronis.Pasien mungkin memiliki 2 sampai 30
episode manik, walaupun angka rata-rata adalah Sembilan episode. Kira-kira 40% dari semua
pasien menderita lebih dari 10 episode.3,6
C. DEPRESI

Depresi adalah adanya afek depresi, kehilangan kegembiraan dan minat, kehilangan mood
dan kehilangan energi selama 2 minggu terakhir,
Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi
seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu
disebut sebagai suatu Gangguan Depresi.Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan
sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan

semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur.Depresi merupakan salah satu
penyebab utama kejadian bunuh diri.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American
Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika: A. Lima (atau
lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari
keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2)
kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu.
1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap
hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau
pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis).
2. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan
sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan
subjektif atau pengamatan orang lain)
3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya
berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat
badan sebelumnya dalam satu bulan)
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang
lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat)
6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari
7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar(bisa
merupakan delusi), dan mengganggap bahwa sumber dari setiap masalah adalah
dirinya
8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat
keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang
lain)
9. Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali
muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau
rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri
Gejala-gejala tersebut juga harus menyebabkan gangguan jiwa yang cukup besar dan
signifikan sehingga menyebabkan gangguan nyata dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau
area penting dalam kehidupan seseorang.
Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien, namun biasanya
merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling.Dukungan dari
orang-orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.
Penyebab Munculnya Depresi
Tidak ada satu pun penyebab depresi secara spesifik.Depresi terpicu oleh kombinasi beberapa
faktor.Jika di dalam riwayat kesehatan keluarga Anda terdapat orang yang menderita depresi,
maka terdapat kecenderungan bagi Anda untuk mengalaminya juga. Beberapa faktor yang
bisa memicu terjadinya depresi antara lain:

Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.

Melahirkan.

Masalah keuangan.

Terisolasi secara sosial.

Trauma masa kecil.

Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.

Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis juga bisa memicu depresi pada penderitanya
seperti penyakit jantung koroner, kelenjar tiroid yang kurang aktif, dan akibat cidera pada
kepala sebelumnya.
Pengobatan pada Depresi
Teknik pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab dari
depresi yang dialami.Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang bisa digunakan dan
beberapa penanganan yang bisa dilakukan sendiri.
Perubahan hidup seperti sering berolahraga dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol
dapat memberikan keuntungan bagi penderita depresi.Anda juga bisa bergabung dengan
kelompok-kelompok terapi untuk berbagi cerita dan saling memberi dukungan.
Akibat dari depresi yang paling parah adalah kecenderungan untuk melakukan bunuh
diri.Cobalah untuk selalu berbagi cerita kepada orang-orang terdekat Anda tentang masalah
yang sedang dihadapi.Penderita juga sangat disarankan untuk menemui dokter terutama jika
depresi telah berlangsung lama atau parah.Makin dini penanganan depresi, kemungkinan
pemulihan secara menyeluruh bisa didapatkan.
Banyak orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan
sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih dari sekadar
perubahan emosi sementara.Depresi bukanlah kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau
secara langsung.
Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak
menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun
keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada
gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri.
Menurut catatan WHO, setidaknya 350 juta orang mengalami depresi di dunia.Masih banyak
penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau
setidaknya dibicarakan.Depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.
Terdapat hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi. Diperkirakan
dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu orang dari mereka
berakhir tewas.
Gejala yang Muncul pada Penderita Depresi

Gejala dan juga pengaruh depresi berbeda-beda pada berbagai orang. Berikut ini adalah
beberapa gejala psikologi yang muncul akibat depresi:

Kehilangan selera untuk menikmati hobi.

Merasa bersedih secara berkepanjangan.

Mudah merasa cemas.

Merasa hidup tidak ada harapan.

Mudah menangis.

Merasa sangat bersalah.

Tidak percaya diri.

Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.

Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.

Gejala fisik akibat depresi:

Badan selalu merasa lelah.

Gangguan pada pola tidur.

Merasakan berbagai rasa sakit.

Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.

Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, depresi bisa mengganggu hubungan dengan
orang di sekitar Anda.Untuk depresi yang berat atau parah, depresi bisa berakibat pada
hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan untuk bunuh diri.
Ketika merasakan beberapa gejala depresi yang bertahan lebih dari beberapa hari, segera
menemui dokter agar proses pemulihan bisa dimulai dan dilakukan sepenuhnya.
Penyebab Munculnya Depresi
Tidak ada satu pun penyebab depresi secara spesifik.Depresi terpicu oleh kombinasi beberapa
faktor.Jika di dalam riwayat kesehatan keluarga Anda terdapat orang yang menderita depresi,
maka terdapat kecenderungan bagi Anda untuk mengalaminya juga. Beberapa faktor yang
bisa memicu terjadinya depresi antara lain:
Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.

Melahirkan.

Masalah keuangan.

Terisolasi secara sosial.

Trauma masa kecil.

Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.

Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis juga bisa memicu depresi pada penderitanya
seperti penyakit jantung koroner, kelenjar tiroid yang kurang aktif, dan akibat cidera pada
kepala sebelumnya.
Pengobatan pada Depresi
Teknik pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab dari
depresi yang dialami.Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang bisa digunakan dan
beberapa penanganan yang bisa dilakukan sendiri.
Perubahan hidup seperti sering berolahraga dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol
dapat memberikan keuntungan bagi penderita depresi.Anda juga bisa bergabung dengan
kelompok-kelompok terapi untuk berbagi cerita dan saling memberi dukungan.
Akibat dari depresi yang paling parah adalah kecenderungan untuk melakukan bunuh
diri.Cobalah untuk selalu berbagi cerita kepada orang-orang terdekat Anda tentang masalah
yang sedang dihadapi.Penderita juga sangat disarankan untuk menemui dokter terutama jika
depresi telah berlangsung lama atau parah.Makin dini penanganan depresi, kemungkinan
pemulihan secara menyeluruh bisa didapatkan.
Merasa sedih dan depresi memang mirip, bahkan tanda atau gejalanya hampir sama.
Kesedihan adalah reaksi alami dan normal dari manusia ketika kehilangan sesuatu atau
sedang menghadapi masa-masa sulit.Reaksi perasaan sedih yang normal bisa membaik
seiring waktu, tapi pada kasus depresi, penderita merasa sedih secara berkelanjutan atau
bahkan memburuk.
Selain rasa sedih yang berkelanjutan, penderita depresi juga merasa putus asa dan tidak bisa
berpikir positif tentang masa depan. Depresi akan berdampak kepada produktivitas
penderitanya dan kepada hubungan sosial dengan orang-orang terdekatnya juga.
Penderita depresi akan merasa kesulitan dalam bekerja dengan baik. Mereka juga menjauhi
kegiatan sosial atau bahkan mengasingkan diri sepenuhnya.Bahkan, depresi bisa membuat
kita tidak bisa menikmati hobi atau kegiatan yang sebelumnya disukai.Keluarga dan orangorang terdekat cenderung dijauhi.
Berikut ini adalah gejala psikologis akibat depresi yang diderita:

Selalu dibebani rasa bersalah

Merasa putus asa

Selalu merasa cemas

Suasana hati yang buruk atau sedih secara berkelanjutan

Mudah marah atau sensitif

Mudah menangis

Perasaan khawatir yang berlebihan

Merasa sangat rendah diri

Kesulitan dalam mengambil keputusan

Gerakan tubuh, ucapan dan pemikiran yang lambat

Tidak ada motivasi hidup dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan

Tidak bisa menikmati kebahagiaan hidup seperti dari berhubungan intim

Berkeinginan untuk bunuh diri

Sedangkan gejala non-psikologis yang ditimbulkan akibat depresi adalah:

Selalu merasa kelelahan

Rasa sakit atau nyeri tanpa alasan yang jelas

Perubahan siklus menstruasi pada wanita


Gangguan pola tidur

Konstipasi
Pergerakan tubuh dan cara bicara yang lebih lambat dari biasanya

Tidak ada gairah seksual

Sulit berkonsentrasi dan susah mengingat

Kehilangan selera makan dan berat badan menurun

Terapi Psikodinamis
Terapi ini membantu memahami bagaimana emosi memengaruhi perilaku pengidap depresi.
Pasien akan dibantu untuk memahami dan mencari jalan keluar atas masalahnya.
Terapi-terapi di atas umumnya dilakukan oleh psikiater, psikolog atau terapis ahli.
Obat-obatan yang Dipakai Untuk Mengatasi Depresi
Selain penanganan sendiri, depresi juga bisa ditangani dengan obat-obatan. Terutama untuk
kasus depresi yang lebih parah, langkah-langkah di atas akan perlu ditunjang dengan obatobatan berikut:
Antidepresan. Obat ini digunakan untuk mengatasi gejala-gejala depresi. Ada banyak
pilihan obat antidepresan. Obat ini diberikan sesuai resep dokter. Tingkat keberhasilan dan
dampak dari obat antidepresan berbeda-beda pada tiap orang. Contoh obat antidepresan
adalah fluoxetin, citalopram dan amitriptylin. Pemakaian obat antidepresan umumnya
akan memerlukan pemantauan dokter secara teratur terutama pada awal pemakaian.

Lithium. Terdapat dua jenis dari obat ini, yaitu lithium karbonat dan lithium sitrat.
Obat ini digunakan jika antidepresan tidak cukup kuat untuk meredakan gejala depresi
yang dirasakan. Lithium bisa berubah menjadi racun jika kadarnya terlalu tinggi di dalam
darah. Oleh karena itu, penderita yang mengonsumsi lithium perlu melakukan tes secara
teratur untuk mengawasi tingkat lithium dalam darah. Konsumsi garam juga perlu
dikurangi karena dapat memicu efek keracunan akibat lithium.
Penyakit depresi yang parah dan tidak ditangani dapat menyebabkan penderita kehilangan
motivasi untuk hidup dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Usahakan untuk
membicarakan masalah apa pun dengan orang-orang terdekat Anda atau dengan dokter.
Kenali gejala-gejala depresi jika terjadi pada orang-orang di sekitar Anda.Makin cepat

penanganan dan pengobatan yang dilakukan, maka peluang kesembuhan secara


menyeluruh menjadi lebih tinggi.
D. INSOMNIA

Insomnia adalah suatu kondisi tidur yang tidak memuaskan secara kuantitas dan/atau
kualitas, yang berlangsung untuk satu kurun waktu tertentu. Taraf penyimpanagan yang
sesungguhnya dari apa yang lazim dianggap sebagai tidur nrmal secara umum sebaiknya
tidak secara primer dianggap sebagai diagnosis insomnia, oleh karena beberapa individu
(yang disebut juga sebagai penidur singkat (short sleeper)) membutuhkan tidur hanya sedikit
dan tidak mengaggap dirinya menderita insomnia. Sebaliknya terdapat sejumlah orang yang
sering menderita insomnia karena kualitas tidur yang buruk, sedangkan kuantitas tidurnya
seara subjektif dan/atau objektif berada dalam batas-batas normal.
Diantara penderita insomnia, kesulitan masuk tidur adalah keluhan yang paling umum,
kemudian diikuti oleh sulit mempertahankan tidur dan bangun terlalu dini. Namun demikian,
biasanya pasien melaporkan kombinasi dari ketiga keluhan ini. Yang khas, insomnia
berkembang pada waktu terjadi peningkatan stres kehidupan dan cenderung lebih umum
terdapat pada wanita, orang yang lebih tua dan pada orang yang secara psikologis terganggu
dan orang yang sosioekonominya kurang beruntung. Jika insomnia dialami berulang-ulang,
dapat menigkatkan kekhawatiran tidak bisa tidur dan suatu preokupasi dengan segala
konsekuensinya, hal ini menimbulkan lingkaran kemelut yang tidak terselesaikan.
Individu dengan insomnia, mengatakan dirinya merasa tegang, cemas, khawatir, atau
depresif pad asaat tidur, dan merasa seolah-olah pikirannya melayang-layang. Mereka
biasanya mengeluh tak cukup tidur, banyak masalah pribadi, gangguan kesehatan dan bahkan
khawatir menyebabkan kematian. Sering mereka mengatasinya dengan minum obat atau
alkohol. Pada waktu pagi mereka mengeluh lelah fisik dan mental, pada siang hari mereka
secara khas merasa depresif, cemas, tegang mudah tersinggung dan ada peokupasi dengan
diri sendiri.
Pada anak sering terasa adanya kesulitan tidur, padahal ia hanya mengalami kesulitan
dalam rutinitas tidur (jadi bukan pada gangguan tidur yangsebenarnya).
Pedoman diagnostik. Berikut adalah gambaran klinis esensial untuk diagnosis pasti:
-

Keluhan sulit masuk tidur, mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk;

Gangguan tidur terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal sebulan;

Adanya preokupasi akan tidak bisa tidur dan kekhawatiran berlebihan parihal
akibatnya pada malam dan sepanjang hari;

Tidak puas secara kuantitas dan kualitas dari tidurnya, yang keduanya menyebabkan
berbagai gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan.4