Anda di halaman 1dari 10

1.

Pemeriksaan Neurologi: Fungsi


Luhur
Esty Mampuni P

Termasuk di dalam fungsi luhur adalah:


1. Fungsi bahasa
2. Fungsi memori (ingatan)
3. Fungsi orientasi (pengenalan)

1. Pemeriksaan fungsi bahasa


Gangguan fungsi bahasa disebut afasia atau disfasia
yaitu kelainan berbahasa akibat kerusakan di otak,
tetapi bukan kerusakan/gangguan persarafan perifer
otot-otot bicara, artikulasi maupun gangguan
penurunan inteligensia.
Ada 2 jenis afasia.

a. Afasia motorik
Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak mampu mengeluarkan isi
pikirannya.
1. Afasia motorik kortikalis : Penderita tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya
baik secara verbal, tulisan, maupun isyarat. Letak lesi di cortex cerebri dominan.
2. Afasia motorik subkortikalis (afasia motorik murni) : Penderita tidak dapat
mengeluarkan isi pikirannya secara verbal, namun masih dapat dengan tulisan
maupun isyarat. Letak lesi di subcortex hemispher dominan.
3. Afasia motorik transkortikalis : Penderita tidak dapat mengeluarkan isi
pikirannya tetapi masih dapat menirukan kata/kalimat lawan bicara. Letak lesi
ditranskortikalis kortek Broca dan Wernicke.
Cara pemeriksaan:
Mengajak penderita berbicara mulai dari hal yang sederhana sampai hal-hal
yang sukar yang pernah diketahui penderita sebelumnya. Bila tidak bisa disuruh
menuliskan jawaban atau dengan isyarat.
Syarat pemeriksaan:
Penderita dalam keadaan sadar penuh dan bahasa yang dipakai saling
dimengerti.

b. Afasia sensorik
Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang
lain walaupun alat bicara dan pendengarannya baik.
1. Afasia sensorik kortikalis
Penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan baik secara
verbal, tulisan, maupun isyarat. Letak lesi di area cortex Wernicke (sensorik).
2. Afasia sensorik subkortikalis
Penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan secara
verbal, sedangkan tulisan dan isyarat dapat dimengerti. Letak lesi di subcortex
Wernicke.
3. "Buta kata-kata" (word Blindness)
Penderita masih mengerti bahasa verbal namun tidak lagi bahasa visual. Hal ini
jarang terjadi.
Cara pemeriksaan:
Penderita diberi perintah untuk melakukan sesuatu tanpa contoh. Bila tidak bisa
baru diberikan secara tulisan atau isyarat. Syarat pemeriksaan sama dengan
afasia motorik.

Gangguan bahasa lainnya

Apraksia
Penderita tidak bisa melaksanakan fungsi psikomotor.
Cara: beri perintah untuk melakukan gerakan yang bertujuan misalnya membuka kancing
baju,dll.
Agrafia
Penderita tidak bisa menulis lagi (tadinya bisa).
Cara: beri perintah untuk menuliskan kata-kata yang didiktekan.
Alexia
Penderita tidak bisa lagi mengenali tulisan yang pernah dikenalnya.
Cara: beri perintah untuk membaca tulisan atau kata-kata yang pernah dikenalnya.
Astereognosia
Penderita tidak bisa mengenali bentuk benda dengan cara meraba.
Cara: dengan mata tertutup penderita disuruh menyebutkan benda dengan cara merabanya.
Abarognosia
Penderita tidak mampu menaksir berat benda yang berada di tangannya (perabaan).
Cara: penderita disuruh menaksir berat benda yang berada di tangannya.
Agramesthesia
Penderita tidak bisa rnengenal tulisan yang dituliskan di badannya.
Cara: penderita disuruh menyebutkan kata-kata yang dituliskan di badannya dengan mata
tertutup.
Asomatognosia
Penderita tidak mampu menunjukkan bagian-bagian tubuhnya kiri atau kanan.

2. Pemeriksaan fungsi memori


Secara klinis gangguan memori (daya mengingat) ada
3 yaitu:
1. Immediate memory (segera)
2. Short term memory/recent memory (jangka
pendek)
3. Long term memory/remote memory (jangka
panjang)

Cara pemeriksaan :

1. Immediate memory
Yaitu daya mengingat kembali suatu stimulus yang diterima beberapa detik lalu seperti mengingat nomor
telepon yang baru saja diberikan.
Cara: penderita disuruh mengulang deret nomor yang kita ucapkan. Seperti di bawah ini: (disebut digit
span)
3-7
2-4-9
8-5-2-7
2-8-6-9-3
5-7-1-9-4-6
8-1-5-9-3-6-7
dikatakan masih normal jika seseorang dapat mengulang sebanyak 7 digit.
2. Recent memory
Yaitu daya mengingat kembali stimulus yang diterima beberapa menit, jam, hari yang lalu.
Cara: penderita disuruh menceritakan pekerjaan/peristiwa yang dikerjakan/dialami beberapa
menit/jam/hari yang lalu.
3. Remote memory
Yaitu daya mengingat kembali stimulus atau peristiwa yang telah lama berlalu (bertahun-tahun).
Cara: penderita disuruh menceritakan pengalaman atau teman-teman masa kecilnya. (Tentunya pemeriksa
telah mendapat informasi sebelumnya).

Ketiga pemeriksaan di atas adalah untuk audio memory (yang didengar) sedangkan memori yang dilihat
(visual memory) dapat diperiksa sebagai berikut.
Cara: penderita disuruh mengingat nama-nama benda yang diperlihatkan kepadanya kemudianbenda benda tersebut disimpan. Beberapa waktu kemudian penderita disuruh mengulang nama-nama benda
tersebut.

3. Pemeriksaan fungsi orientasi

Secara klinis pemeriksaan orientasi ada 3 yaitu: Personal, tempat, waktu.


Cara: penderita disuruh mengenali orang-orang yang berada di sekitarnya
yang memang dikenalnya (seperti istrinya, anak, teman, dll), Penderita
juga disuruh mengenali tempat dimana ia berada atau tempat-tempat
lainnya. Penderita juga disuruh menyebutkan waktu/saat penderita
diperiksa
seperti
siang/malam/sore.
Catatan:
Kesemua pemeriksaan fungsi luhur ini baru dapat diperiksa pada penderita
yang mempunyai kesadaran penuh atau baik dan tidak mengalami
gangguan mental, kemunduran inteligen maupun kerusakan organ-organ
atau persarafan perifer yang terkait. Harus diingat bahwa pemeriksaan
fungsi luhur adalah pemeriksan fungsi-fungsi cortex cerebri yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA
Linsday W Kenneth et al. Neurology and
Neurosurgery Ilustrated. 3rd Ed. Churchill
Livingstone, New York, 1997 ; 105 -120.
Netter H Frank. The CIBA Collection of Medical
Illustrations. Vol I Nervous System,
1986 : 147.
Bird P Thomas, memory loss and Dementia. In
Harissons's. Principles of Internal
Medicene. 14th Ed, McGraw-Hill, New York, 1998 ;
142 -149.