Anda di halaman 1dari 18

NEWTONS RINGS

M. Arif Rahman, Muslimah, Wahdayuni, Sri Astuti*


*)Mahasiswa pada Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar
Email: Aryef.rahman@gmail.com
Sriastuti12radiasi@gmail.com
Wahdayuni10@gmail.com
Muslimahima12@yahoo.co.id
Abstrak: Telah dilakukan eksperimen untuk menentukan panjang gelombang suatu
sumber cahaya monokromatik. Pada eksperimen mengamati pola interferensi yang
terbentuk menggunakan seperangkat alat eksperimen Cincin Newton, filter cembung
datar dan plat gelas sebagai tempat kedudukan titik yang mempunyai tebal lapisan udara
yang sama dari pusat persinggungan berupa lingkaran-lingkaran yang sepusat. Pada
eksperimen ini digunakan tiga filter yaitu filter berwarna kuning, hijau dan biru. Pola
interferensi yang terbentuk yaitu sebuah lingkaran yang menyerupai cincin dengan pola
gelap terang. Eksperimen ini dilakukan pengamatan pada pola interferensi gelap pusat
ke orde gelap berikutnya, dengan pengambilan data mulai dari orde satu sampai orde ke
sembilan dari titik pusat. Sehingga dari eksperimen didapatkan bahwa panjang
gelombang Hg pada tiap-tiap filter secara berturut-turut yaitu 400 nm, 330 nm dan 450
nm dengan persentase kesalahan secara berturut-turut sebesar 26.60%; 23.43%; dan
22.68%.
Kata Kunci : interferensi, cincin newton dan cahaya monokromatik pola gelap terang.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cahaya merupakan salah satu unusur yang merupakan bagian dalam
kehidupan kita sehari-hari. Cahaya itu sendiri banyak mempunyai sifat yang bisa
dipelajari secara fisika, misalnya bisa dibiaskan, bisa dipantulkan, dan lain-lain.
Untuk mempelajarinya, kita butuh alat untuk memantulkannya ataupun misal
untuk pembiasannya. Salah satunya adalah lensa, yang merupakan sebuah alat
optic yang mempunyai titik fokus. Beberapa sifat cahaya yang akan dipelajari
praktikan kali ini adalah pemantulan dan interferensi, dengan menggunakan lensa
cembung dan gelas datar (cermin datar).
Fenomena cincin Newton merupakan pola interferensi yang disebabkan
oleh pemantulan cahaya di antara dua permukaan, yaitu permukaan lengkung
(lensa cembung) dan permukaan datar yang berdekatan. Ketika diamati

menggunakan sinar monokromatis akan terlihat rangkaian pola konsentris


(sepusat) berselang-seling antara pola terang dan pola gelap.
Untuk itu, maka dilakukanlah praktikum ini guna mengetahui panjang
gelombang pada radius tertentu dari kelengkungan lensa, menentukan jari-jari
kelengkungan pada panjang gelombang tertentu.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang dikaji dalam


kegiatan eksperimen ini adalah :
1. Bagaimanamenentukan

panjang gelombang pada radius tertentu dari

kelengkungan lensa?
2. Bagaimana menentukan jari-jari kelengkungan pada panjang gelombang
tertentu?
C. Tujuan Percobaan
Tujuan yang dicapai dalam eksperimen ini adalah :
1. Menentukan panjang gelombang pada radius tertentu dari kelengkungan
lensa.
2. Menentukan jari-jari kelengkungan pada panjang gelombang tertentu.
D. Ruang Lingkup
Eksperimen ini akan membahas panjang gelombang pada radius tertentu
dari kelengkungan lensa dan jari-jari kelengkungan pada panjang gelombang
tertentu.
E. Manfaat Percobaan
Manfaat yang dapat diperoleh dalam percobaan ini adalah :
1. Memberikan informasi kepada mahasiswa tentang caramenentukan panjang

gelombang pada radius tertentu dari kelengkungan lensa


2. Memberikan informasi kepada para mahasiswa tentang cara menentukan jarijari kelengkungan pada panjang gelombang tertentu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Cincin Newton
Fenomena cincin Newton merupakan pola interferensi yang disebabkan
oleh pemantulan cahaya di antara dua permukaan, yaitu permukaan lengkung

(lensa cembung) dan permukaan datar yang berdekatan. Ketika diamati


menggunakan sinar monokromatis akan terlihat rangkaian pola konsentris
(sepusat) berselang-seling antara pola terang dan pola gelap (Tien, 2010).
Jika diamati dengan cahaya putih (polikromatis), terbentuk pola cincin
dengan warna-warni pelangi karena cahaya dengan berbagai panjang gelombang
berinterferensi pada ketebalan lapisan yang berbeda. Cincin terang terjadi akibat
interferensi destruktif. Fenomena Cincin Newton, dinamai dari Isaac Newton,
adalah interferensi warna yang diakibatkan oleh refleksi cahaya antara dua
permukaan permukaan bulat yaitu permukaan bulat lensa plan konveks dan
permukaan bulat kaca plan paralel (Tien, 2010).

Gambar 2.1 Susunan lensa dan gelas datar


Suatu lapisan tipis udara dapat diperoleh antara lain dengan susunan lensa
dan gelas datar seperti pada gambar. Lapisan udara pada persinggungan sangat
tipis, tetapi bila lapisan ini semakin menjauhi persinggungan, maka akan
bertambah tebal sedikit demi sedikit. Pada jarak yang sama, dihitung dari titik
persinggungan P, tebal lapisan udara juga sama tebalnya. Dengan begitu, lapisanlapisan sama tebal ini membentuk lingkaran-lingkaran sepusat (konsentris).
Jika seberkas sinar jatuh tegak lurus pada permukaan datar lensa L, maka sebagian
akan dipantulkan dan sebagian akan lagi diteruskan. Sinar yang diteruskan
mengenai permukaan lengkung lensa, sebagian dipantulkan lagi, dan sebagian
dibiaskan menembus lensa, keluar melalui lapisan tipis udara dan jatuh pada

permukaan gelas G, berkas ini akan dipantulkan kembali dengan sesuatu


pergeseran fasa sesuai dengan tebal lapisan udara.
Bagian sinar yang dipantulkan oleh permukaan cekung lensa dan sinar yang
dipantulkan oleh gelas G setelah melalui lapisan tipis akan berinterferensi sehingga
membentuk lingkaran gelap dan terang yang sepusat, (pusat adalah gelap), lingkaran
inilah yang disebut dengan cincin newton (Anonim, 2015).
Cincin Newton sebenarnya adalah pola interferensi yang berupa lingkaranlingkaran gelap dan terang yang konsentris. Pola fringes ini dihasilkan oleh interferensi cahaya yang dipantulkan oleh lapisan udara yang terletak di antara gelas datar
dan lensa cembung seperti yang telah dijelaskan tadi.
Untuk mengukur ruji lingkaran-lingkaran ini dipakai mikroskop geser. Kalau diukur
ruju dari lingkaran gelap, maka dapat dihitung dengan rumus :

a2
2
2
3 h +r
R=
=
2h
2h
h2 +

(2.1)

Dengan = ruji lingkaran orde ke-m, sedang R adalah ruji kelengkungan lensa. Panjang
gelombang dapat dihitung dengan m yang berbeda-beda. Ruji kelengkungan lensa
(lensa datar cembung) diukur dengan spherometer.
h = kenaikan kaki tengah, terbaca pada mikrometer
a = jarak antara 2 kaki sudut
r = ruji (radius / ruji-ruji) lingkaran yang melalui 3 kaki =

a
3

atau

r 2=

a
3

(Minarni. 2013).
B. Interferensi pada lapisan tipis

Interferensi dapat terjadi pada lapisan tipis seperti lapisan sabun dan
lapisan minyak. Jika seberkas cahaya mengenai lapisan tipis sabun atau minyak,
sebagian berkas cahaya dipantulkan dan sebagian lagi dibiaskan kemudian
dipantulkan lagi. Gabungan berkas pantulan langsung dan berkas pantulan setelah
dibiaskan ini membentul pola interferensi (Tien.2010).

Gambar 2.2 Interferensi cahaya pada lapisan tipis (Tien.2010)


Seberkas cahaya jatuh ke permukaan tipis dengan sudut datang i. Sebagian
berkas langsung dipantulkan oleh permukaan lapisan tipis (sinar a), sedangkan
sebagian lagi dibiaskan dulu ke dalam lapisan tipis dengan sudut bias r dan
selanjutnya dipantulkan kembali ke udara (sinar b). Sinar pantul yang terjadi
akibat seberkas cahaya mengenai medium yang indeks biasnya lebih tinggi akan
mengalami pembalikan fase (fasenya berubah 180o), sedangkan sinar pantul dari
medium yang indeks biasnya lebih kecil tidak mengalami perubahan fase. Jadi,
sinar a mengalami perubahan fase 180o, sedangkan sinar b tidak mengalami
perubahan fase. Selisih lintasan antara a dan b adalah 2d cos r.Oleh karena sinar b
mengalami pembalikan fase, interferensi konstruktif akan terjadi jika selisih
lintasan kedua sinar sama dengan kelipatan bulat dari setengah panjang
gelombang (). Panjang gelombang yang dimaksud di sini adalah panjang
gelombang cahay pada lapisan tipis, bukan panjang gelombang cahaya pada
lapisan tipis dapat ditentukan dengan rumus:
= 0/n.
(David Halliday. 2000)

(2.2)

III. METODOLOGI EKSPERIMEN


A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada Rabu/17 Desember 2014 Pukul: 13:0014:00 WITA di Laboratorium Optik Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
B.

Alat dan Bahan Penelitian


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini untuk percobaan

Newtons Rings yaitu cincin newton, lensa , mount f =+50mm, Filter gangguan, 3
set, layar transparan, 250x250 mm, Lampu bertekanan tinggi f. 50 W Hg, Power
supply CS/50 W, Kondensor Ganda f=60 mm, Pemegang kondensor, pemegang
lensa, bangku optik h=30mm, bangku optik h=80 mm, Dasar bangku optik yang
disesuaikan.
C. Prosedur Kerja

Prosedur Kerja pada Praktikum ini yaitu :


1. Menyusun rangkaian alat seperti pada gambar berikut:

2.
3.
4.
5.

Gambar 3.1: Perangkat Newtons Rings


Mencari titik fokus tanpa menggunakan filter.
Memasang filter hijau pada holder filter dan menempatkan kertas skala mm
pada layar.
Mengukur jarak pada orde nol sampai Sembilan.
Mengulangi kegiatan (2), (3) dan (4) untuk filter biru dan kuning.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Eksperimen
Data
0
1
2
3
4

Hijau
3.3
4.1
4.7
5.1
5.6

Biru
1.6
2.4
3.3
4.0
4.5

Jari-jari (mm)
Kuning
2.1
3.3
4.2
5.1
5.6

5
6
7
8
9

6.0
6.4
6.8
7.1
7.4

4.9
5.3
5.6
5.9
6.1

6.0
6.4
6.7
7.0
7.1

B. Analisis Data
1. Filter hijau
R = 12,13 m = 12130 mm

M
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

rm (mm)
3.3
4.1
4.7
5.1
5.6
6.0
6.4
6.8
7.1
7.4

rm2 (mm)
10.89
16.81
22.09
26.01
31.36
36.00
40.96
46.24
50.41
54.76

Untuk grafik hubungan orde m dengan rm2

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah

x (m)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
45

y (rm2)
10.89
16.81
22.09
26.01
31.36
36.00
40.96
46.24
50.41
54.76
335.53

x2
0
1
4
9
16
25
36
49
64
81
285

y2
xy
118.592
0
282.576
16.81
487.968
44.18
676.52
78.03
983.45
125.44
1296.00 180.00
1677.72 245.76
2138.14 323.68
2541.17 403.28
2998.66 492.84
13200.80 1910.02

Dari data tersebut dapat diperoleh persamaan regresi linear y=ax+b

x i 2

a=

x
n
n x i y i x i y i

2
i

45
(10 x 285 )
= 4.85
( 10 x 1910.02 ) (45 x 335.53)

x i 2

x
n
y i x i (x i y i )

2
i

b=

x 2i

45 2
(10 x 285 )
= 11.72
( 285 x 335.53 )(45 x 1910.02)

xi yi 2

sy2 =

xi 2

y i +n
(x i y i )
xi
y i 22

x2i

y 2i
1

n2

45
( 10 x 285 )
( 285 x 112580.4 )( 2 x 45 x 1910.02 x 335.53 )+(10 x 3648176.4)
13200.80

102
= 85.19
sy = 9.23

x i 2
Sa =

2
x i
n
n

x i 2

x
n
x 2i

2
i

Sb =

45

(
10
x
285
) x 9.23 = 0.01
sy =
10

45

(
10
x
285
) x 9.23= 3.04
sy =
285

Jadi persamaan linearnya dari persamaan di atas :


y = (a sa) x + (b sb)
y =(4.850 0.01) x + (11.727 3.04)

r 2m
mr

rm2 = mr

y = ax + b
y = r m2

4.85
= 0.0004 mm = 400 nm
12130
literatur percobaan
% kesalahan =
x 100 % =
literatur
=

a
R

a = R
=

|545400
545 |

x 100 % = 26.60%

2. Filter biru
R = 12,13 m = 12130 mm

M
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

rm (mm)
1.6
24
3.3
4.0
4.5
4.9
5.3
5.6
5.9
6.1

rm2 (mm)
2.56
5.76
10.89
16.00
20.25
24.01
28.09
31.36
34.81
37.21

Untuk grafik hubungan orde m dengan rm2

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

x (m)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
45

y (rm2)
2.56
5.76
10.89
16.00
20.25
24.01
28.09
31.36
34.81
37.21
210.94

x2
0
1
4
9
16
25
36
49
64
81
285

y2
6.55
33.17
118.59
256.00
410.06
576.48
789.04
983.44
1211.73
1384.58
5769.68

xy
0
5.76
21.78
48.00
81.00
120.05
168.54
219.52
278.48
334.89
1278.02

Dari data tersebut dapat diperoleh persamaan regresi linear y=ax+b

x i 2

a=

x
n
n x i y i x i y i

2
i

45 2
( 10 x 285 )
( 10 x 1278.02 ) (45 x 210.94)

= 3.98

x i 2

x
n
y i x i (x i y i )

2
i

b=

x 2i

45 2
( 10 x 285 )
( 285 x 210.94 )(45 x 1278.02)

= 0.91

xi yi 2

sy2 =

xi 2

y i +n
( x i y i )
xi
y i 22

x2i

y 2i
1

n2

45
( 10 x 285 )
( 285 x 44495.68 )( 2 x 45 x 1278.02 x 210.94 ) +(10 x 1633335.12)
5769.68

102
= 26.48
sy = 5.14

x i 2

45

(
10
x
285
) x 5.14 =0.245
sy =
10

2
x i
n
n

Sa =

x i 2

x
n
x 2i

2
i

Sb =

45 2

(
10
x
285
) x 5.14 =1.31
sy =
285

Jadi persamaan linearnya dari persamaan di atas :


y = (a sa) x + (b sb)
y =(3.98 0.24) x + (0.91 1.31)

r 2m
mr

rm2 = mr

y = ax + b
y = r m2
=

a
R

a = R
=

3.985
12130

= 0.00033 mm = 330 nm

% kesalahan =

literatur percobaan
literatur

x 100 % =

|431330
431 |

x 100 % =23.43 %

3. Filter kuning
R = 12,13 m = 12130 mm

m
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

rm (mm) rm2 (mm)


2.1
4.41
3.3
10.89
4.2
17.64
5.1
26.01
5.6
31.36
6.0
36.00
6.4
40.96
6.7
44.89
7.0
49.00
7.3
53.29

Untuk grafik hubungan orde m dengan rm2


No.

x(m)

y (rm2)

x2

y2

xy

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
45

4.41
10.89
17.64
26.01
31.36
36.00
40.96
44.89
49.00
53.29
314.45

0
1
4
9
16
25
36
49
64
81
285

19.45
118.59
311.17
676.52
983.45
1296.00
1677.72
2015.11
2401.00
2839.82
12338.84

0.00
10.89
35.28
78.03
125.44
180.00
245.76
314.23
392.00
479.61
1861.24

Dari data tersebut dapat diperoleh persamaan regresi linear y=ax+b

x i 2

a=

x
n
n x i y i x i y i

2
i

45 2
( 10 x 285 )
( 10 x 1861.24 )(45 x 314.45)

= 5.21

x i 2

x
n
y i x i (x i y i )

2
i

b=

x 2i

45 2
( 10 x 285 )
( 285 x 314.45 )( 45 x 1861.24)

= 6.85

xi yi 2

sy2 =

xi 2

y i +n
(x i y i )
xi
y i 22

x2i

y 2i
1

n2

45 2
( 10 x 285 )
( 285 x 98878.80 )( 2 x 45 x 1861.24 x 314.45 ) +( 10 x 3464214.33)
12338.84

102
= 58.64

sy = 7.65

x i 2
Sa =

2
x i
n
n

x i 2

x
n
x 2i

2
i

Sb =

45

(
10
x
285
) x 7.65=0.30
sy =
10

45

(
10
x
285
) x 7.65 =1.60
sy =
285

Jadi persamaan linearnya dari persamaan di atas :


y = (a sa) x + (b sb)
y =(5.21 0.30) x + (6.85 1.60 )

r 2m
mr

rm2 = mr

y = ax + b
y = r m2
=

a
R

a = R
=

% kesalahan =

5.40
12130

= 0.00045 mm = 450 nm

literatur percobaan
literatur

x 100 % =

|582450
582 |

x 100 % = 22.68%

C. Pembahasan

Cincin Newton sebenarnya adalah pola interferensi yang berupa


lingkaran-lingkaran gelap dan terang yang konsentris. Pola gelap terang ini
dihasilkan oleh interferensi cahaya yang dipantulkan oleh lapisan udara yang
terletak di antara gelas datar dan lens cembung.
Pada eksperimen ini dilakukan dengan cara pengambilan data berupa
jari-jari yang terbentuk oleh interferensi cahaya pada orde ke m. Pada peristiwa
interferensi ini didapatkan pola gelap terang yang menyerupai cincin. Pengamatan
dilakukan pada gelap pusat yang terbentuk di tengah bidang pengamatan
kemudian mencatat skala pada kertas mm.. Data yang diambil berupa jari-jari
untuk orde ke nol hingga ke sembilan. Pada eksperimen ini, ada tiga filter yang
dugunakan yaitu lensa hijau, biru dan kuning.
Dari hasil yang didapatkan berupa orde ke 0 9 dan juga nilai r m dapat
diolah menggunakan grafik regresi linier sehingga didapatkan nilai panjang
gelombang Hg dari eksperimen ini. Dari hubungan antara orde dan juga rm
tersebut dapat diketahui nilai panjang gelombang berdasarkan rumus:
=

r 2m
mr

(4.1)

Apabila menggunakan persamaan regresi linier y= ax+b dimana nilai dari y


merupakan rm2 maka untuk nilai a merupakan perkalian antara R dan juga nilai xnya adalah m (orde). Sehingga dari persamaan yang diperoleh yaitu :
rm2 = mR

(4.2)

Dari persamaan (2) tersebut diketahui bahwa nilai a (gradient) merupakan


perkalian antara R sehingga:
=

a
R

(4.3)

dengan nilai R= 12,13 m = 12130 mm


Dari grafik regresi linier nilai gradient merupakan perkalian antara panjang
gelombang dengan R, sehingga nilai panjang gelombang Hg yang didapatkan
pada lensa hijau 400 nm dan biru sebesar 330 nm dan panjang gelombang Hg
yang didapatkan pada lensa kuning sebesar 450

nm. Apabila dibandingkan

dengan panjang gelombang pada literature untuk gelombang cahaya Hg bernilai


589 nm. Sehingga didapatkan nilai persentase kesalahan tiap-tiap filter yaitu
sebesar 26.60%; 23.43%; dan 22.68%. Untuk analisa data beserta perhitungan
terlampir. Adanya perbedaan hasil panjang gelombang dengan teori karena
perbedaan besar sudut pembelah berkas cahaya yang digunakan pada saat
eksperimen juga dapat mempengaruhi pola gelap terang yang terbentuk sehingga
juga mempengaruhi jari-jari pada tiap orde tersebut. Apabila terdapat perbedaan
jari-jari maka juga berpengaruh pada besar panjang gelombang sumber cahaya.
Kurang telitinya praktikan saat membaca skala pada kertas skala mm dan kurang
tepatnya dalam menggeser hingga pada orde selanjutya. Tidak tegak lurus mata
praktikan saat melihat pola gelap terang sehingga terjadi multi interpretasi dalam
pengukuran.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini, yaitu :
1. Dari eksperimen interferensi cahaya dengan pembagian amplitudo dapat

teramati dengan eksperimen piranti cincin newton


2. Nilai panjang gelombang cahaya Hg yang didapatkan dari eksperimen pada
filter hijau 400 nm; biru yaitu sebesar 330 nm; dan panjang gelombang Hg
yang didapatkan pada filter kuning sebesar 450 nm.
3. Semakin besar orde maka semakin besar pula jari-jari lintasan yang terbentuk.
B. Saran
Saran yang dapat disampaikan dalam percobaan ini yaitu sebaiknya
dipasangkan kertas skala mm yang permanent yang terpasang pada layar agar
pengambilan data dapat dilakukan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2015. Cincin Newton. Http://www.wikipedia.com/cincin-newton.htm. Di
akses tanggal 01 Januari 2015.
David Halliday. 2000. Fisika Dasar. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Minarni. 2013. Jurnal Pengukuran Panjang Gelombang Cahaya Laser Dioda


Mengunakan Kisi Difraksi Refleksi dan Transmisi. Di akses tanggal 20
November 2014.
Tien.2010.Cincin newton.http://tienkartina.wordpress.com (26 Desember 2014).