Anda di halaman 1dari 3

Issu Perumahan

1.Terdapat banyak rumah tangga
yang mendiami satu rumah
(Kepadatan Rumah)
2.Fenomena
keberadaan
banyaknya rumah tangga yang
bermukim dalam satu rumah
3.Keberadaan
rumah
tangga
dengan jumlah banyak dalam satu
rumah

Teori
1.Berdasarkan Keputusan Menteri
Negara
Perumahan
Dan
Permukiman
NO.09/KPTS/M/IX/1999 Tentang
Pedoman
Penyusunan
dan
Pengembangan Perumahan dan
Permukiman di Daerah (RP4D)
bahwa semua orang menghuni
rumah layak dalam lingkungan
permukiman yang sehat, aman,
serasi, produktif dan berkelanjutan
yang seluruh kegiatannya dititik
beratkan pada sasaran :
 Terwujudnya masyarakat
yang mampu memenuhi
kebutuhan perumahannya
dalam permukiman yang
sehat,
aman,
serasi,
produktif
dan
berkelanjutan;
 Terwujudnya lingkungan
perumahan
dan
permukiman yang sehat,
aman, teratur, rukun,
produtif
dan
berkelanjutan;
 Terdorongnya
pertumbuhan
wilayah
melalui
pembangunan
kawasan perumahan dan
permukiman di perkotaan
dan
pedesaan
yang
selaras, seimbang dan
terpadu.
2.Selain itu juga diatur mengenai
rumus kebutuhan rumah, untuk
mengetahui jumlah rumah tangga
yang belum memiliki rumah
dengan asumsi satu rumah
tangga/rumah.
Backlog = Jumlah Rumah Tangga
– Jumlah Rumah
Jumlah rumah tangga yang belum
memiliki rumah adalah kebutuhan
rumah yang belum terpenuhi.
3.Menurut Peraturan Menteri
Negara
Perumahan
Rakyat
Republik Indonesia Nomor :
22/Permen/M/2008
Tentang
Standar
Pelayanan
Minimal
Bidang Perumahan Rakyat Daerah
Provinsi
dan
Daerah
Kabupaten/Kota
menyatakan

Kenyataan
Sebagian besar permukiman di
Kota
Makassar
khususnya
Kelurahan Tallo tergolong sebagai
kawasan yang padat
akan
perumahan
yang
disebabkan
karena keberadaan rumah tangga
yang melebihi standar atau dapat
dikatakan bahwa didalam satu
rumah terdapat banyak rumah
tangga yang mediaminya. Kondisi
tersebut tentunya merupakan salah
satu
indicator
penyebab
permukiman menjadi kumuh atau
menjadi
tidak
layak
huni
dikarenakan
tidak
dapat
mencukupi
kebutuhan
luas
minimum
orang
yang
mendiaminya.

struktur atas. luas minimum 5 m. UU 03 1733 Tahun 2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan Lokasi kawasan permahan harus memenuhi kriteria :  Keamanan  Kesehatan  Kenyamanan .2m²/orang sampai dengan 12m²/orang. penghawaan.  Rata-rata 50 unit rumah per hektar.  Rata-rata jumlah angggota keluarga 4-5 jiwa/ keluarga.  Disediakan bukaan kelangit.  Memenuhi persyaratan keselamatan bangunan meliputi : struktur bawah/pondasi. dan sanitasi. struktur tengah/kolom dan balok (beam).  Panjang deretan kaveling maksimum 120 m.bahwa : rumah layak huni adalah rumah yang memenuhi persyaratan keselamatan bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan penghuninya.  Bagian kaveling yang tertutup bangunan rumah maksimum 60% dari luas kaveling atau sesuai dengan peraturan daerah setempat. 5. lebar minimum 1 meter.  Memenuhi kecukupan luas minimum 7.  Menjamin kesehatan meliputi pencahayaan. 4. SNI 03-6981-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan Sederhana di Perkotaan  Luas kaveling minimum 54 m2 dan maksimum 200 m2.

Fleksibilitas Keterjangkauan jarak Lingkungan berjati diri : https://www.id/search? q=permukiman+kumuh+di+kelurahan+tallo&biw=1366&bih=643&source=lnms&tbm=isch &sa=X&ved=0ahUKEwiHn5rovnKAhUGspQKHSGmBsgQ_AUIBigB#tbm=isch&q=pemukiman+padat+di+ +tallo&imgrc=-3TlA7vqb53LAM%3A .google.      Sumber Keindahan Keteraturan Lokasi perencanaan perumahan harus jelas status kepemilikannya dan memenuhi persyaratan. teknis dan ekologis.co.