Anda di halaman 1dari 19

Prosedur Pemeriksaan Kesehatan Pasien dengan Status Tahanan

Yulius Clinton andorio
102012208
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Pemeriksaan kesehatan pasien dengan status sebagai tahanan memerlukan ijin dan
beberapa prosedur. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan
seperti kabur dari tahanan. Sebagai seorang dokter untuk membuat surat keterangan baik
untuk rujukan ataupun keterangan lainnya harus tetap dilakukan sesuai dengan standard
operasionalnya yaitu harus benar-benar diperiksa apakah seseorang tersebut membutuhkan
surat itu atau tidak. Ini berkaitan dengan etika, hukum dan disiplin kedokteran.
Setiap dokter dituntut untuk memiliki sikap profesionalisme yaitu sikap yang
bertanggung jawab, sikap kompetensi dan wewenang yang sesuai waktu juga tempat, sikap
etis sesuai etika profesi, dan bekerja sesuai standard yang ditetapkan.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai kasus seorang dokter yang diminta oleh
pasien lamanya untuk membuatkan surat rujukan medis ke luar negri untuk kakaknya yang
berstatus tahanan.

Pembahasan
Prinsip Etika Kedokteran
Adapula etika kedokteran yang dibagi menjadi beberapa poin, yaitu beneficence, nonmaleficense, autonomy, dan justice. Semua poin tersebut terdapat dalam setiap kasus yang
dihadapi seorang dokter, sehingga disinilah kebijaksanaan dan hati nurani seorang dokter
diuji. Sebagai seorang dokter yang baik, dalam setiap tindakannya sepatutnya memenuhi
kriteria dan kaidah dari peraturan-peraturan tersebut. Jadi dalam makalah ini akan dibahas
mengenai aturan-aturan & hubungannya dengan tindakan dokter dalam menghadapi
pasiennya.1
Sifat hubungan dokter dan pasien di jaman sekarang sudah dikoreksi oleh para ahli
etika kedokteran menurut pengalaman menjadi hubungan ficuiary (atas dasar niat baik dan

1

Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent. yaitu Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang berisi tentang nilai-nilai yang sepatutnya dipatuhi dan dijalankan oleh seorang dokter. yaitu:1 1. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “ above all do no harm. yaitu hubungan yang menitikberatkan nilai-nilai keutamaan (virtue etchics). dan terbuka). privacy (menghormati hak privasi pasien).1 Kode Etik Kedokteran Indonesia Setiap dokter dibekali dengan peraturan etika.kepercayaan). Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rules dibawahnya.dan fidelity (loyalitas dan menjaga janji). Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja. Prinsip Justice: Prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan sumber daya (Distributive Justice) Sedangkan aturan / rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar. Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap atau perbuatan seorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. dan diri sendiri. melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat). Prinsip Otonomi: Prinsip moral yang menghormati hak – hak pasien. jujur. teman sejawat. Selain KODEKI ada pula peraturan tentang 2 . Prinsip Non Maleficence: Prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. 2. Sehingga dibuatlah suatu aturan etika dalam dunia kedokteran yang dikenal sebagai bioetik. confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien). 3. terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). lingkungan masyarakat.” 4. Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama. Prinsip Beneficence: Prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. KODEKI inilah yang menjadi landasan setiap tindakan medis yang dilakukan seorang dokter serta mengatur hubungan antara dokter dengan pasien.

290 Tahun 2008. seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Oleh karena itu dibuatlah Kode Etika Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang berdasar kepada Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia No. Pasal 2 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi. setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal 5 Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien. Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya. asas itu adalah Pancasila yang samasama kita akui sebagai landasan Idiil dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan struktural. 3 . dan dimiliki asas-asasnya dalam falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan terus. Pasal 6 Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.4 /04/2002 Tentang Penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia yang diuraikan sebagai berikut:2 I.informed consent atau disebut juga Persetujuan Tindakan Medis yaitu Permenkes No.2 Etik kedokteran sudah sewajarnya dilandaskan atas norma-norma etik yang mengatur hubungan manusia umumnya. Pasal 4 Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Kewajiban Umum Pasal 1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi. Pasal 7 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. 221/Pb/A. menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. Khusus di Indonesia.

Pasal 12 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien. harus saling menghormati. dalam setiap praktik medisnya. memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya. atau yang melakukan penipuan/penggelapan. bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. dan hak tenaga kesehatan lainnya. kuratif dan rehabilitatif).Pasal 7a Seorang dokter harus. II. ia wajib menujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. dalam menangani pasien Pasal 7c Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien. Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. & berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter/ kompetensi. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan. Pasal 9 Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat. Pasal 7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya. Kewajiban Dokter Terhadap Pasien Pasal 10 Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. preventif. maka atas persetujuan pasien. disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. baik fisik maupun psiko-sosial. Pasal 13 4 . Pasal 11 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. dan harus menjaga kepercayaan pasien Pasal 7d Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. hak-hak sejawatnya.

kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis. III.Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan. Sumpah Kedokteran Indonesia Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. IV. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis. Pasal 17 Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan. Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat Pasal 14 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. 3 Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan1993. Pasal 15 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat. Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1959 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No. Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri Pasal 16 Setiap dokter harus memelihara kesehatannya. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum. kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. supaya dapat bekerja dengan baik. Informed consent adalah suatu proses 5 . namun kewajiban moral haruslah menjadi “pemimpin” dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates. 69 Tahun 1960. Informed Consent Informed consent adalah lebih daripada hanya sekedar mendapatkan tanda tangan seorang pasien pada suatu formulir persetujuan.

yaitu pengungkapan dan pemahanam. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3) Ada dua bentuk Persetujuan Tindakan Medik (PTM)/Informed Consent. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif. yaitu: 1. seseorang dianggap kompeten adalah apabila ia telah dewasa (berusia >21 tahun). 2. Dinyatakan (expressed consent)  Lisan  Tulisan Informed consent memiliki 3 elemen. dan standar pada reasonable person. strandar subyektif. Tersirat atau dianggap telah diberikan (implied consent)  Keadaan normal  Keadaan darurat 2. dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko (Permenkes No. Threshold elements Syarat pemberi informed consent adalah seorang yang berkompeten. sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. informed consent tidaklah beleh berdasarkan 6 . yaitu:4 1. Saat memberikan informasi kepada pasien/keluarganya. 3. Secara hukum.komunikasi antara pasien dan dokter yang menghasilkan pemberian izin oleh pasien untuk menjalankan suatu intervensi medik tertentu. 29 th 2004 Pasal 45 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008 maka informed consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. b. Information elements Elemen ini terdiri dari dua bagian. Informasi yang diberikan kepada pasien dapat ditinjau dari 3 standar. kehadiran seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi adalah esensi yang penting. kebebasan) dan authorization (persetujuan). yaitu voluntariness (kesukarelaan. karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko.4 Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no. yaitu: Standar praktek profesi. Dalam hal ini. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya.4 Tujuan Informed Consent:4 a. Consent elements Elemen ini terdiri dua bagian.

4. Pada prakteknya. 4. Dalam keadaan gawat darurat (emergensi). sebelum dimulainya 7 . Pasien cenderung menyerahkan permasalahan medisnya kepada keluarga terdekatnya sehingga persetujuan medis umumnya diberikan kepada keluarga terdekatnya. Pasien yang tidak kompeten memberikan consent.paksaan. namun melakukan persuasi yang “tidak berlebihan” masih dapat dibenarkan secara moral. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut. Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut. Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) adalah: 1. Diagnosa yang telah ditegakkan. 3. Ini tercantum dalam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008.4 Informasi/keterangan wajib diberikan sebelum tindakan kedokteran dilaksanakan adalah:4 1. pasien sendiri umumnya mendesak untuk berkonsentrasi dulu dengan keluarganya untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga. 2. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut. b. Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya. 6. informed consent sangat terpengaruh dengan budaya Indonesia. 2. dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351. Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran tersebut. dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan (Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290/ Menkes/PER/III/2008).4 Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut. 5. Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara pengobatan yang lain. Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan tindakan kedokteran : a. Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.4 Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran. Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi dirinya. 3. Menurut Pasal 5 Permenkes No 290/Menkes/PER/III/2008. Cilical privilege (hanya pada pasien yang melepaskan haknya memberikan consent). Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan (Ayat 2). 5. persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan. tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Pada umumnya keputusan medis dipahami sebagai proses dalam keluarga.

Overmacth: pengaruh daya paksa yang memadai 2. dalam pasal 48 ayat (2):5     Untuk kepentingan kesehatan pasien Untuk memenuhi permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum Permintaan pasien sendiri Berdasarkan ketentuan undang-undang Peraturan lain yang membenarkan pembukaan rahasia kedokteran antara lain adalah ketentuan pasal 50 KUHAP.tindakan(Ayat 1). kode etik kedokteran internasional.4 Rahasia Kedokteran Rahasia kedokteran adalah suatu norma yang secara tradisional dianggap sebagai norma dasar yang melindungu hubungan dokter dan pasien. rekam medis boleh dibuka untuk pendidikan dan penelitian.749a. Salah satu contoh noodtoestand adalah kasus dokter yang menemukan child abuse yang berat dan dicurigai akan bertambah parah dihari kemudian. Aspek Hukum Peraturan Menteri Kesehatan tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran (PerMenKes) No. pasal 48 KUHAP. Sesuai dengan sumpah dokter. Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan(Ayat 2). Noodtoeestand: keadaan yang memaksa Dapat diakibatkan pertentangan antara dua kepentingan hukum. Dalam kaitannya dengan keadaan memaksa. dan pasal 49 KUHAP. pasal 51 KUHAP. Namun dalam PP ini diberikan pengecualian apaiba terdapat Peraturan Perundang-undangan (PP) yang sederajat atau lebih tinggi (UU). pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. dan pertentangan antara dua kewajiban hukum. dikenal dua keadaan yaitu:5 1. Dalam permenkes no.10 tahun 1966 yang mengatur kewajiban simpan rahasia kedokteran oleh seluruh tenaga kesehatan. dan peraturan oemerintah no. 290 Tahun 2008 (6) Ketentuan Umum 8 .

ayah atau ibu kandung. tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu. 6. 4. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien. 3. Dokter dan dokter gigi adalah dokter. 9 . Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif. 5. dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. Keluarga terdekat adalah suami atau istri. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. 7. diagnostik. dokter spesialis. saudara-saudara kandung atau pengampunya. anak-anak kandung. tidak terganggu kesadaran fisiknya. mampu berkomunikasi secara wajar. terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien. 2.Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Persetujuan dan Penjelasan Pasal 2 (1) Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

Pasal 3 (1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. maka dapat dimintakan persetujuan tertulis. (2) Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diputuskan oleh dokter atau dokter gigi dan dicatat di dalam rekam medik. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan. (3) Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dokter atau dokter gigi wajib memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga terdekat. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju.(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. Pasal 4 (1) Dalam keadaan gawat darurat. Pasal 5 10 . (3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu. (5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan. untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. (2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.

Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan. Altematif tindakan lain. f. d. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. (3) Penjelasan tentang tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya mencakup: a. Perkiraan pembiayaan. baik diminta maupun tidak diminta. b.(1) Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi. dan risikonya. penjelasan diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar. (3) Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan. (2) Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar. dan e. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran. c. Pasal 6 Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak menghapuskan tanggung gugat hukum dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien Penjelasan Pasal 7 (1) Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien dan/atau keluarga terdekat. 11 . (2) Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan.

terapeutik. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif. risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum b. d. b. ataupun rehabilitatif.Pasal 8 (1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi: a. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan tindakan. Diagnosis penyakit. risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang dampaknya sangat ringan c. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing alternatif tindakan. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah tindakan. (3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah semua risiko dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang dilakukan. c. diagnostik. b. atau dalam hal belum dapat ditegakkan. (2) Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi : a. serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi. kecuali: a. Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga lainnya. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut. maka sekurang-kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding. risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya (unforeseeable) (4) Penjelasan tentang prognosis meliputi: 12 . d. e. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya tindakan kedokteran. c.

Prognosis tentang fungsinya (ad functionam). Pasal 11 13 . Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam). Pasal 9 (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman. c. (3) Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan. maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi. (2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan didokumentasikan dalam berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan tanggal. (2) Dalam hal dokter atau dokter gigi yang merawatnya berhalangan untuk memberikan penjelasan secara langsung. b. dan tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima penjelasan. Pasal 10 (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 diberikan oleh dokter atau dokter gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi dari tim dokter yang merawatnya. (4) Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien. nama. maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada dokter atau dokter gigi lain yang kompeten. waktu.a. Prognosis tentang kesembuhan (ad sanationam). (3) Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai dengan kewenangannya.

(1) Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran. Ketentuan Pada Situasi Khusus Pasal 14 (1) Tindakan penghentian/penundaan bantuan hidup (withdrawing/withholding life support) pada seorang pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat pasien. Yang Berhak Memberikan Persetujuan Pasal 13 (1) Persetujuan diberikan oleh pasien yang kompeten atau keluarga terdekat. Pasal 15 14 . Pasal 12 (1) Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diberikan secara tertulis. dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan. (2) Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar daripada persetujuan. dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat. (2) Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. (2) Penilaian terhadap kompetensi pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter pada saat diperlukan persetujuan. hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. (2) Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh keluarga terdekat pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan dari tim dokter yang bersangkutan.

maka persetujuan tindakan kedokteran tidak diperlukan. (3) Akibat penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi tanggung jawab pasien. Penolakan Tindakan Kedokteran Pasal 16 (1) Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau keluarga terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan. (2) Penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud kedokteran pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis. 15 . (4) Penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memutuskan hubungan dokter dan pasien. (2) Sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas pelaksanaan persetujuan tindakan kedokteran. Pembinaan dan Pengawasan Pasal 18 (1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pembinaan dan pengawasan dengan melibatkan organisasi profesi terkait sesuai tugas dan fungsi masing-masing.Dalam hal tindakan kedokteran harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah dimana tindakan medik tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. Tanggung Jawab Pasal 17 (1) Pelaksanaan tindakan kedokteran yang telah mendapat persetujuan menjadi tanggung jawab dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan kedokteran.

Terperiksa. rnemerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penernpatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. ataupun kedudukan yang lain harus pula mampu menaati peraturan tersebut. Pemeriksaan Kesehatan dalam Tahanan 7 Keadaan Psikologi Kemampuan untuk berbicara (Fitness to be stand trial) Sidang yang dilaksanakan pengadilan harus berlangsung secara tertib. Agar setiap orang rnengetahuinya. Pasal 19 (1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan. maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/MENKES/PER/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Orang-orang yang berada di ruang siding tanpa terkecuali harus bersikap tenang dan sopan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mengambil tindakan administratif sesuai dengan kewenangannya masing-masing (2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa teguran lisan.(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. penggugat. dalam arti di dalam siding terperiksa harus mampu untuk duduk tenang dan sopan selama waktu yang relative lama serta harus mampu berkomunikasi secara baik wajar dan sopan. Menteri. Pasal 21 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. teguran tertulis sampai dengan pencabutan Surat Ijin Praktik Ketentuan Penutup Pasal 20 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. saksi. 16 . baik dalam kedudukan sebagai erdakwa. harus mampu menaati peraturan yang berlaku.

jaksa. pterperiksa dapat mengerti apa yang ditanyakan padanya dan dapat mengemukakan pendapat yang dapat dipahami oleh orang lain. 17 . Apakah sidang tidak berbahaya (harmful) bagi terperiksa? Sidang tidak dapat dilaksankan apabila suasana sidang terlalu menekan sehingga terperiksa dapat  menjadi sakit atau bahkan meninggal. apabila seseorang (terperiksa) akan diajukan ke sidang pengadilan terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut  Apakah sidang dapat dilaksanakan (applicable)? Sidang dapat dilaksankan apabila terperiksa dapat menaati peraturan ketertiban sidang. Selain itu ia juga harus memahami siatuasi lingkungannya. dan lain-lain. Tidak diharapkan. diharapkan dalam Tanya jawab. Dilain pihak dimaklumi bahwa situasi sidang pengadilan bagi terperiksa sangat menekan (stressfull). objektiv dan adil. misalnya karena s\cedera tulang punggung atau harus diinfus.Sidang pengadilan merupakan tempat berkomunikasi dimana mereka yang terlibat saling bertanya jawab. Dengan demikian pemeriksaan mengenai kemampuan seseorang untuk diajukan di sidang pengadilan (fitness to stand trial) memerlukan pemeriksaan tentang kemampuan terperiksa untuk menaati peraturan sidang dan bahwa sidang tidka membahayakan bagi terperiksa. akibat rasa tertekan terperiksa menjadi sakit atau penyakitnya menjadi berat atau penyakit yang sudah sembuh dapat kambuh kembali. Dalam arti bahwa ia memahami ia berada di ruang sidnag pengadilan berhadapan dengan hakim. tidak dapat duduk tenang. Ia juga harus mengetahui persoalan yang dihadapinya (perkaranya) dan mampu mengusahakan pembelaan atau mampu minta pertolongan seseorang untuk minta pembelaan persoalannya. Dengan uraian di atas. Penentuan mengenai kecakapan untuk bertanya jawab (competence to be interviewed) dapat dinilai dari kemampuan terperiksa memahami kedudukan dirinya dan memahami situasi lingkungannya. Sidang tidak mungkin dilaksanakan apabila terperiksa gelisah. Ia harus mengetahui kedudukannya dalam sidang (sebagai saksi. dengan harapan hakim dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya sehingga dapat mengambil keputusan hokum yang tepat. harus dalam posisi berbaring. agar dapat dipergunakan hakim untuk dapat mengambil keputusan . Apakah sidang bermanfaat (beneficial)? Sidang merupakan arena Tanya jawab dimana semua pihak berusaha mengemukakan informasi menurut visi mereka masing-masing. Tanya jawab harus berlangsung tertib. selama sidang dan setelah sidang. penasehat hokum. atau sebagai penggugat). atau  terperiksa berbicara tidak terkendali. sebagai terdakwa.

ia dianggap cakap dan layak untuk diajukan ke sidang pengadilan ( competence and fit to stand trial). Hal ini tergantung dengan keputusan hakim. sikap kompetensi dan wewenang yang sesuai waktu juga tempat. dapat pula merupakan dua pemeriksaan sendiri-sendiri. yang dapat bersifat permanen/ temporer dalam keadaan tidak cakap dan tidak layak yang bersifat sementara maka terperiksa dapat terlebih dulu diterapi dan diajukan ke sidang pengadilan setelah sembuh. Daftar Pustaka 18 . Kemampuan berkomunikasi ini dapat kita nilai dengan cara penilaian kemampuan untuk mengemukakan ide atau pendapat yang dapat dipahami oleh orang lain. Mungkin seseorang dianggap tidak cakap dan tidak layak. Apabila terperiksa dapat memenuhi ketentuanketentuan tersebut di atas. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik tahanan ditujukan untuk memeriksa apakah tahanan tersebut benar dalam keadaan sakit dan membutuhkan pengobatan segera. Ini dapat dilakukan pemeriksaan secara terperinci langsung oleh dokter. Dalam hal ini dokter harus memeriksa langsung tahanan tersebut. Pemeriksaan tentang kecakapan untuk bertanya jawab dan kelayakan untuk diajukan disidang (fitness to stand trial) dapat merupakan pemeriksaan satu paket. serta dapat memahami idea atau pendapat orang lain dengan wajar dan baik. Sering pula terperiksa tidak menjadi sakit.Dalam sidang terperiksa harus mampu berkomunikasi dengan baik. Kesimpulan Pembuatan surat rujukan ke luar negri bagi seorang tahanan harus dipastikan benar-benar apakah sangat membutuhkan atau tidak. Dalam keadaan seperti ini terperiksa dapat didampingi oleh seseorang yang ditunjuk atau disetujui oleh hakim. Selanjutnya dianalisis apakah penyakitnya harus mendapat rujukan keluar negeri. dan bekerja sesuai standard yang ditetapkan. tetapi dalam sidang menjadi sangat tertekan sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Setiap dokter dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari dituntut untuk memiliki sikap profesionalisme yaitu sikap yang bertanggung jawab. sikap etis sesuai etika profesi.

Siswaja TD. 26Mar-2008.49-51. 3rd ed. Jakarta: Pustaka Dwipar.go.7785. 28-31 19 . Siswaja TD. Syamsu Z. 6. Siswaja TD. Hlm. Departemen Kesehatan RI.depkes. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Bioetika. 5-14. Hlm.h. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sampurna B. In: Sampurna B. In: Sampurna B. Syamsu Z. Siswaja TD. Diunduh dari http://perpustakaan. 4. Jakarta: Pustaka Dwipar. Rahasia Kedokteran. 2nd ed.1. 2007. Amir A. 2007. In: Peraturan Menteri Kesehatan RI Sampurna B. Bioetik dan hukum kedokteran. Syamsu Z. In: Sampurna B. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.53-56. Sampurna B. Nurhidayat AW. Syamsu Z. Darmabrata W. Hanafiah J. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Siswaja TD. 2003. 2nd ed. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. Syamsu Z. 1999. Kode Etik Kedokteran Indonesia. 7.29-32. Lafal Sumpah Dokter. Syamsu Z. 2007. Siswaja TD. 3. 2007. Informed Consent. Hlm. Sampurna B. In: Hanafiah J. 2. Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Informed consent. Syamsu Z. Siswaja TD.id:8180/handle/123456789/ 1312. Bioetik dan hukum kedokteran. Siswaja TD. Psikiatri forensik. In: Sampurna B. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hlm. Syamsu Z. 5. Jakarta: EGC.