Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOPROSES
IDENTITAS PRAKTIKAN
Nama

: Lusy Anggraini

NIM

: 03031181320053

Shift / Kelompok

: Kamis Siang / 7

I. JUDUL PERCOBAAN
II. TUJUAN PERCOBAAN

: Pembuatan Chitosan
:

1. Membat chitosan dari kulit udang sebagai bahan pengawet
2. Memanfaatkan limbah kulit udang agar menjadi bahan yang bernilai ekonomis
3. Mengetahui proses pembuatan chitosan dari limbah kuling udang
III. DASAR TEORI
Pembangunan yang pesat dibidang ekonomi disatu sisi akan
meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat, tetapi disisi lain akan berakibat pada penurunan
kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari suatu limbah
industri dan rumah tangga. Hal ini karena kurangnya atau tidak
memadainya suatu fasilitas atau peralatan untuk menangani dan mengelola
limbah tersebut.
Salah satu pencemaran pada badan air adalah masuknya logam
berat. Peningkatan kadar logam berat di dalam perairan akan diikuti oleh
peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air seperti kerang, rumput laut
dan biota laut lainnya. Pemanfaatan organisme ini sebagai bahan makanan akan
membahayakan kesehatan manusia. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
maka berkembang pula industri-industri. Akibatnya lingkungan menjadi
salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan perairan yang
sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian
maupun industri pertambangan. Kebanyakan dari limbah itu biasanya
dibuang begitu saja tanpa pengolahan terlebih dahulu. Berbagai metode
seperti penukar ion, penyerapan dengan karbon aktif (Rama, 1990) dan

Kitosan adalah senyawa polimer alam turunan kitin yang diisolasi dari limbah perikanan. 3. Sedangkan kitin dari kulit serangga ditemukan kemudian pada tahun 1820. berwarna putih atau kuning. Sejarah Chitosan Kitin sebagai prekursor Chitosan pertama kali ditemukan pada tahun 1811 oleh orang Prancis bernama Henri Braconnot sebagai hasil isolasi dari jamur. Kulit udang yang mengandung senyawa kimia chitin dan chitosan merupakan limbah yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak. Belakangan Departemen Teknologi Hasil Perairan. maka menyebabkan Chitin dan Chitosan mempunyai reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah. Kitin merupakan polimer kedua terbesar di bumi selelah selulosa. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Berbeda dengan formalin yang merupakan zat antiseptik dan pengawet berbahaya. Chitosan tak memiliki daya bunuh dan telah teruji aman bagi kesehatan.Karena berperan sebagai penukar ion dan sebagai absorben maka Chitin dan Chitosan dari limbah udang berpotensi dalam memcahkan masalah pencemaran lingkungan perairan dengan penyerapan lebih murah dan bahannya mudah didapatkan. Kitin adalah senyawa .1. Dengan adanya sifat-sifat Chitin dan Chitosan yang dihubungkan dengan gugus amino dan hidroksil yang terikat. mengembangkan senyawa chitosan yang dapat memperpanjang umur makanan.2 pengendapan secara elektrolisis telah dilakukan untuk menyerap bahan pencemar beracun dari limbah. Kitosan merupakan suatu produk deasetilasi kitin melalui suatu proses kimia menggunakan basa natrium bidroksida atau proses enzimatis menggunakan enzim Chitin Deacetylase. tetapi cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pengoperasian alatnya. seperti kulit udang dan cangkang kepiting dengan kandungan kitin antara 65-70 %. Kitosan merupakan bahan kimia multiguna yang berbentuk serat dan merupakan kopolimer yang berbentuk lembaran tipis. tidak berbau. yang selama ini belum termanfaatkan oleh masyarakat secara optimal.

70% . Karena ketiga sifat tersebut penggunaan kitin relatif lebih sedikit dibandingkan Chitosan dan derivatnya.40%). sedangkan kulit kepiting mengandung protein (15. Kandungan Chitin dalam kulit udang lebih sedikit dari pada kulit kepiting. dan ekornya. kalsium karbonat (53.40%).2. Kedua. Penggunaan Chitosan untuk aplikasi khusus. kalsium karbonat (45% . Kualitas dan nilai ekonomi kitosan dan kitin ditentukan oleh besarnya derajat deasetilasi.. Perkembangan penggunaan kitin dan Chitosan meningkat pada tahun 1940-an.1990. Pertama. Chitosan merupakan produk deasetilasi kitin.90%). Ketiga. 3. 1992). terlebih dengan makin diperlukannya bahan alami oleh berbagai industri sekitar tahun 1970-an. kepala. Kulit udang mengandung protein (25 % . dekolorisasi atau proses penghilangan warna menggunakan oksidator atau sering dikenal dengan sebutan pelarut organik. Limbah Udang sebagai Material Penyerap Logam Berat Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit. . semakin tinggi derajat deasetilasi maka akan semakin tinggi kualitas dan harga jualnya. dan Chitin (15% . tetapi kulit udang lebih mudah didapat dari pada kulit kepiting dan kulit udang itu sendiri tersedia dalam jumlah yang sangat banyak sebagai suatu limbah.23. tetapi besarnya kandungan komponen tersebut tergantung pada jenis udangnya. Sifat utama kitin dapat dicirikan oleh sifatnya yang sangat susah larut dalam air dan beberapa pelarut organik. Kualitas Chitosan berdasarkan penggunaan dapat dibagi ke dalam tiga jenis kualitas yaitu. pangan dan farmasi. demineralisasi atau proses penghilangan mineral menggunakan asam. dan Chitin (18. hal ini juga tergantung pada jenis kepiting dan tempat hidupnya (Focher et al.3 amino polisakarida berbentuk polimer gabungan.20%).32.70 – 78. Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu sebagai pelindung (Neely dan Wiliam. rendahnya reaktivitas kimia dan sangat hidrofobik. Chitosan ditemukan C.50%). Umumnya kitin diisolasi melalui rangkaian proses produksi.20%). seperti farmasi dan kesehatan dimulai pada pertengahan 1980 . kualitas teknis. 1969). deproteinasi atau proses penghilangan protein menggunakan basa.60% . Roughet pada tahun 1859 dengan cara memasak kitin dengan basa.

4 Khitin berasal dari bahasa Yunani yang berarti baju rantai besi. tetapi juga terdapat pada trachea.4-2 amino-2-dioksi-D-glukosa merupakan turunan dari khitin melalui proses deasetilasi. tak larut dalam air. Perubahan warna dari coklat hingga menjadi violet menunjukan reaksi positif adanya Chitin. Chitosan juga merupakan suatu polimer multifungsi karena mengandung tiga jenis gugus fungsi yaitu asam . dan pelarut organik lainnya tetapi larut dalam asam-asam mineral yang pekat. corlengterfa. alkohol. pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang dinamakan fungiue. dinding usus. sedangkan Chitosan adalah chitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin. Adanya Chitin dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink. annelida. Chitin mempunyai rumus molekul C18H26N2O10 merupakan zat padat yang tak berbentuk (amorphous). Tokura. Chitin kurang larut dibandingkan dengan selulosa dan merupakan N-glukosamin yang terdeasetilasi sedikit. Chitin termasuk golongan polisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan melekul polimer berantai lurus dengan nama lain -(1-4)-2-asetamida-2-dioksi-D-glukosa (N-asetil-D-Glukosamin) (Hirano. Perbedaannya dengan selulosa adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon yang kedua pada khitin diganti oleh gugus asetamida (NHCOCH2) sehingga khitin menjadi sebuah polimer berunit N- asetilglukosamin. Chitin biasanya berkonyugasi dengan protein dan tidak hanya terdapat pada kulit dan kerangkanya saja. Chitin merupakan konstituen organik yang sangat penting pada hewan golongan orthopoda. insang. alkali encer dan pekat. 1986. kemudian jika ditambahkan asam sulfat berubah warnanya menjadi violet. asam anorganik encer. 1969). dan pada bagian dalam kulit pada cumi-cumi. Struktur Chitin sama dengan selulosa dimana ikatan yang terjadi antara monomernya terangkai dengan ikatan glikosida pada posisi -(1-4). molusca. Pada cara ini Chitin direaksikan dengan I2-KI yang memberikan warna coklat. 1995). Chitosan yang disebut juga dengan -1. Pada tahun 1823 Odins mengisolasi suatu senyawa kutikula serangga jenis ekstra yang disebut dengan nama Chitin (Neely dan Wiliam. dan nematoda.

Hal ini bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha pengolahan udang. dan bahan pencampur pakan ternak. Chitosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. sedikit larut dalam HCl dan HNO3. 1986). khitin. kalsium karbonat. mudah mengalami biodegradasi dan bersifat polielektrolitik (Hirano. kulit. dan H3 PO4. petis. larutan basa kuat. Disamping itu Chitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-zat organik lainnya seperti protein.5 amino. limbah udang itu sendiri telah dimanfaatkan di dalam industri sebagai bahan dasar pembuatan Chitin dan Chitosan. 1994). karena udang merupakan komoditi ekspor yang dapat dihandalkan dalam meningkatkan ekspor non -migas dan merupakan salah satu jenis biota laut yang bernilai ekonomis tinggi. Chitosan tidak beracun. 1986). akan tetapi juga dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan. terasi.75% dari berat udang. Manfaatnya diberbagai industri modern pun sangat banyak sekali seperti halnya industri . abu. Chitosan relatif lebih banyak digunakan pada berbagai bidang industri terapan dan induistri kesehatan (Muzzarelli. dan tidak larut dalam H2SO4. Meningkatnya jumlah limbah udang masih merupakan masalah yang perlu dicarikan upaya pemanfaatannya. dan lain-lain (Anonim. Saat ini di Indonesia sebagian kecil dari limbah udang sudah termanfaatkan dalam hal pembuatan kerupuk udang. 1993). dan ekornya. terutama masalah bau yang dikeluarkan serta estetika lingkungan yang kurang bagus (Manjang. gugus hidroksil primer dan sekunder. dan pengolahan kerupuk udang berkisar antara 30% . Adanya gugus fungsi ini menyebabkan khitosan mempunyai kreatifitas kimia yang tinggi . Limbah yang dihasilkan dari proses pembekuan udang. Limbah kulit udang mengandung konstituen utama yang terdiri dari protein. 1994). pengalengan udang. Saat ini budi daya udang dengan tambak telah berkembang dengan pesat. pigmen. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk udang beku yang telah dibuang bagian kepala. Sedangkan di negara maju sendiri seperti Amerika Serikat dan Jepang. Oleh karena itu. Dengan demikian jumlah bagian yang terbuang dari usaha pengolahan udang cukup tinggi (Anonim.

1995). dan timbal dengan cara dinamis dengan mengatur kondisi penyerapan sehingga air yang dibuang ke lingkungan menjadi air yang bebas dari ion-ion logam berat. dan kesehatan. pertanian. Isolasi kitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu tahap pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa. hasilnya dinalmakan Chitosan atau Chitin terdeasetilasi. 3. tembaga. yakni produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan. khususnya udang. Kadar kitin dalam berat udang berkisar antara 60 – 70% dan bila diproses menjadi Chitosan menghasilkan 15 – 20%. biokimia. Chitin dan Chitosan serta turunannya mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi (Lang. Chitin dan Chitosan adalah nama untuk dua kelompok senyawa yang tidak dibatasi dengan stoikiometri pasti. kertas. Jika sebagian besar gugus asetil pada kitin disubstitusikan oleh hidrogen menjadi gugus amino dengan persen bahan larutan hasil kuat berkosentrasi tinggi.6 farmasi. demineralisasi. pangan. tahap pemutihan (bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit. Chitosan bukan merupakan senyawa tunggal. Limbah kepala udang mencapai 35 – 50% dari total berat udang. . kitin adalah poli N-asetil glukosomin yang terdeasetilasi sedikit. biomedikal. Chitin dan Chitosan yang diperoleh dari limbah kulit udang digunakan sebagai absorben untuk menyerap ion kadmium.3. Sedangkan transformasi khitin menjadi Chitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa berkonsentrasi tinggi. Mengingat besarnya manfaat dari senyawa Chitin dan Chitosan serta tersedianya bahan baku yang banyak dan mudah didapatkan maka perlu pengkajian dan pengembangan dari limbah ini sebagai bahan penyerap terhadap logam-logam berat diperairan. Chitosan mempunyai bentuk mirip dengan selulosa dan bedanya terletak pada gugus rantai C-2. tetapi tidak cukup sempurna untuk dinamakan poli glukosamin. bioteknologi. tekstil. sedang kitosan adalah kitin yang terdeatilase sebanyak mungkin. Chitosan dan Penyebarannya Chitosan merupakan produk turunan polimer kitin. tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan derajat polimerasi yang beragam.

Sifat – Sifat Chitosan Sifat alami dapat dibagi menjadi dua sifat besar yaitu.2 -100) % dalam air. Chitosan juga tidak larut dalam beberapa pelarut organik seperti alkohol. . antitumor. (c) Mampu meningkatkan pembentukan yang berperan dalam pembentukan tulang. pangan. Sifat kimia kitosan sama dengan kitin tetapi yang khas antara lain: (a) Merupakan polimer poliamin berbentuk linear. sehingga berperan sebagai amino pengganti (amino exchanger). biokimia. pengolahan limbah. antikolesterol. sifat kimia dan biologi. fungistatik. larutan basa kuat. kesehatan. spermisidal.5% H3PO4 sedangkan dalam H2SO4 tidak larut. Adanya gugus tersebut menyebabkan Chitosan mempunyai reaktifitas kimia yang sangat tinggi dan sebagai penyumbang sifat polielektrolit kation. (c) Mempunyai kemampuan mengkhelat beberapa logam. Sifat biologi kitosan antara lain: (a) Bersifat biokompatibel artinya sebagai polimer alami sifatnya tidak mempunyai akibat samping. dometil formamida dan dimetilsulfoksida tetapi Chitosan larut baik dalam asam format berkosentrasi (0.5. 3. sedikit larut dalam HCl clan HNO3. Pemanfaatan Chitosan Chitosan banyak digunakan oleh berbagai industri antara lain industri farmasi.7 Chitosan merupakan senyawa tidak larut dalam air. 0. (d) Bersifat hemostatik. mudah diuraikan oleh mikroba (biodegradable). (b) Mempunyai gugus amino aktif. tidak dapat dicerna. (e) Bersifat sebagai depresan pada sistem saraf pusat. kosmetik.4. 3. aseton. Sifat-sifat Chitosan dihubungkan dengan adanya gugus-gugus amino dan hidroksil yang terikat. bioteknologi. (b) Dapat berikatan dengan sel mamalia dan mikroba secara agresif. tidak beracun.

rasa dan lemak dalam produk industri pangan.id. Chitosan juga bersifat tidak dicernakan dan tidak diabsorpsi tubuh.absorpsi yang tak berkalori.8 agro industri. penurun kolesterol. Kapasitas yang tinggi ini juga diakibatkan gugus Chitosan yang relatif bersifat basa dengan . Besarnya nilai parameter standar yang dikehendaki untuk Chitosan dalam dunia perdagangan dapat dilihat pada tabel 1. Sebagai contoh. Chitosan mempunyai sifat unik karena memberikan daya pengikatan lemak yang sangat tinggi.go. Aplikasi khusus berdasarkan sifatnya antara lain untuk: pengolahan limbah cair terutama bahan sebagai bersifat resin penukar ion untuk minimalisasi logam–logam berat.0 Derajat deasetilasi > 70. Tabel 1. Pada kondisi normal Chitosan mampu menyerap 4 . serta mengurangi kekeruhan: penstabil minyak. industri tekstil. industri perkayuan. Kualitas standar Chitosan Sifat – sifat Chitosan Ukuran partikel Nilai yang dikehendaki butiran – bubuk Kadar Air (% W/W) < 10.0 Viskositas < 200  rendah 200 – 799  sedang 800 – 2.lipi. sehingga lemak dan kolesterol makanan terikat menjadi bentuk non .5 kali lemak dibandingkan serat lain.0 Kadar Abu (% W/W) >2. pelangsing tubuh atau pencegahan penyakit lainnya. 2010) Tidak seperti serat alam lain. untuk penjernihan air diperlukan mutu Chitin dan Chitosan yang tinggi sedangkan untuk penggunaan di bidang kesehatan diperlukan kemurnian yang tinggi.000  tinggi >2000  paling tinggi (eps) (Sumber : www. industri kertas dan industri elektronika.kimia. mengoagulasi minyak/ lemak. Sifat Chitosan sebagai polimer alami mempunyai sifat menghambat absorpsi lemak Sifat ini sangat potensial untuk dijadikan obat penurun lemak.

6. Namun. Chitin adalah substansi yang sangat penting dalam suatu siklus karbon dalam tanah dan tidak hanya itu. adanya sifat ini menyebabkan chitin dan chitosan banyak. juga didapat cincin pada mata rantai unit glukosamine (C6H9O6NH2) bersama-sama seperti chitin. Chitosan adalah sama dengan Chitin tetapi beberapa kelompok acetyl (-COCH3). Selain itu chitin juga tahan terhadap hidrolisa menjadi komponen sakaridanya. Polimer ini adalah serupa selulosa diganti oleh acetyl amino unit. chitin terdiri dari sebuah rantai panjang dari N acetylglukosamine. Polisakarida ini adalah suatu struktural unsur yang memberikan kekuatan mekanik organisme. pelarut organik alkali atau asam mineral encer tetapi larut dalam larutan pekat asam sulfat. memperbaiki ikatan antara warna dengan makanan. Rumus empirisnya adalah C6H6CNHCOCH3 dan berisi campuran murni 6. Sedangkan penerapan lain dibidang biokimia. Kekhawatiran terhadap kemungkinan chitosan mempunyai efek beracun terhadap manusia telah dimentahkan dengan beberapa penelitian. Di bidang induslri.9 % Nitrogen. Sebagai contoh jumlah lemak yang dieksresi oleh Chitosan sekitar 51 persen sedangkan oleh pektin dan selulosa hanya mencapai 5 . menghilangkan kelebihan penggunaan perekat dan dapat mencegah kelarutan hasil dari kertas. ia tidak dapat larut dan terurai dengan adanya enzim atau dengan pengolahan asam mineral padat. asam klorida dan asam fosfat. digunakan sebagai zat mempercepat dalam penyembuhan sebuah luka. Kelebihan lain dari chitosan yaitu padatan yang koagulasinya dapat dimanfaatkan. pulp dan tekstil. Chitin tidak dapat larut dalam air. Biodegradasi dari Polisakarida (Chitin dan Chitosan) Chitin dan Chitosan adalah salah satu dari polisakarida di dalam unit dasar suatu gula animo. 3.9 adanya gugus amino. Sifat lain dari chitosan yaitu dapat berfungsi sebagai zat koagulan. Beberapa Chitin mempunyai kemampuan yang sama dengan Chitosan untuk bergabung dengan mereka. Chitosan dapat meningkatkan kekuatan mekanik Facia kertas. . sebab dia juga mampu tidak dilewati oleh serangan dari mikroorganisme tetapi sama hasilnya dari biosentetis mikroba itu sendiri secara terus-menerus.7 persen. Dalam struktur.

Corong dan kertas saring 5. ALAT DAN BAHAN 4. Tanah berisi parlikel seperti : pasir. Tanah yang baik berisi dengan sejumlah besar dari Chitinoelastic sampai 106 mikroorganisme per gram dari tanah yang menggunakan polisakarida. Disebabkan oleh rintangan mekanik. Dengan demikian fungi dan bakteri memiliki peranan yang sangat-sangat penting dalam tanah.1. Alat 1. Chitin merupakan masalah utama dalam lingkungan tanah. Oven 9. IV. Kertas Lakmus Universal 7. Neraca Analitis 4.2. Kapasitas dari beberapa streptomyces. lumpur dan tanah liat yang tidak pasti berbentuk campuran tetapi juga menghalangi jalannya kehidupan organisme. Grinding 2. mikromonospora. Water Bath 3. individu atau populasi yang jarang ada dalam lingkungan mikroba yang berdekalan dengan bahan makanan. Berbeda dengan media cairan atau lingkungan air. Spatula 4. Beker gelas 6. Tetapi dari mereka tidak membantu jalannya penggunaan substrat. Pipet Tetes 8. Bahan . nocardia. actinoplances dan strepto sporangarium isolasinya membuat penggunaan kitin menjadi peranan yang sangat penting sebagai media pengisi polimer yang akan digunakan untuk isolasi selektif diri ancynomycetes.10 Chitin diproduksi oleh dunia tumbuhan dan hewan.

Langkah terakhir larutan disaring kembali dan dikeringkan. Kemudian masukkan HCl sebanyak 3 tetes. Hasil saringan ini dicampur kembali dengan 300 ml aquadest. Hasil saringan ditetesi NaOH sebanyak 3 tetes. . Larutan tadi disaring dengan kertass saring. 2. PROSEDUR PERCOBAAN 1. kemudian saring kembali. dicampur dengan 300 ml aquadest. 7. Aquadest V. 8. HCl 3. 6.11 1. direbus selama 2 menit. Timbang bubuk kulit udang sebanyak 5 gr. Kulit udang 2. NaOH 4. Pisahkan udang dan kulitnya kemudian cuci bersih dan keringkan. selanjutnya diukur pH dengan menggunakan kertas lakmus universal. slurry kulit udang dimasukkan dalam beker gelas kemudian dicuci serta disaring kembali. 5. Gerus sampai halus kulit udang yang telah dikeringkan tadi hingga menjadi bubuk atau powder. diamkan sebentar. selanjutnya larutan kulit udang tadi dipanaskan selama 2 menit. 3. 4.

.chitin_dan _chitosan_mutiaputri. (online) http://www. Febri. Palembang. Laboratorium Teknologi Bioproses Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya.com/doc/1765 60691/Lap-Tetap-Chitosan-Sapta.eprints. (online) http://www.pdf. Pin. Mikrobiologi Dasar I. Mutia. Hatta. (diakses pada tanggal 15 Februari 2016). Sifat Chitosan. (diakses pada tanggal 14 Februari 2016).undip. (diakses pada tanggal 14 Februari 2016). A. 2013. 2009. Erlangga : Jakarta. (online) http://www. Chitin dan Chitosan.pdf.ac.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. Putri. 1993.id/1718/1/ makalah_ penelitian_fix. Wahyu. Penuntun Praktikum Teknologi Bioproses. Pembuatan Chitosan. 2014.scribd. Volk dan Wheeler. 2010.