Anda di halaman 1dari 42

SISTEM IMUNITAS
A. Konsep Dasar Sistem Imunitas
1. Definisi
Sistem imun merupakan respon perlindungan tubuh terhadap adanya benda asing
(mikro organisme) yang terbentuk dari sel-sel darah putih, sumsum tulang dan
jaringan limfoid yang mencakup kelenjar timus, kelenjar limfe, lien, tonsil serta
adenoid, dan jaringan yang serupa (Smeltzer & Bare, 2010).
Diantara sel-sel darah putih yang terlibat dalam imunitas terdapat limfosit B (sel
B) dan limfosit T (sel T). Kedua jenis ini berasal dari limfoblast yang dibuat di
sumsum tulang. Limfosit B mencapai maturitas dalam sumsum tulang dan kemudian
memasuki sirkulasi darah. Limfosit T bergerak dari sumsum tulang ke kelenjar timus
tempat sel-sel tersebut mencapai maturitasnya menjadi beberapa jenis sel yang dapat
melakasanakan berbagai fungsi.
Kelenjar limfe yang tersebar di seluruh tubuh menyingkirkan benda asing dari
sistem limfe sebelum benda asing tersebut memasuki aliran darah dan juga berfungsi
sebagai pusat untuk proliferasi sel imun. Lien yang tersusun dari pulpa rubra dan
alba bekerja sebagai saringan. Jaringan limfoid lainnya seperti tonsil dan adenoid
serta jaringan limfatik mukoid lainnya, mempertahankan tubuh terhadap serangan
mikroorganisme.
Kelainan yang berhubungan dengan autoimunitas adalah penyakit yang dimana
respon imun protektif yang normal secara paradoksal berbalik melawan atau
menyerang tubuh sendiri sehingga terjadi keruasakan jaringan. Kelainan yang
berhubungan dengan hipersensitivitas adalah keadaan dimana tubuh memproduksi
respon yang tidak tepat atau yang berlebihan terhadap antigen spesifik. Kelainan
yang berhbungan dengan imunodefisiensi dapat dikategorikan sebagai kelainan
primer dimana defisiensi terjadi akibat perkembangan jaringan atau sel-sel imun
yang tidak tepat dan umumnya genetik
2. Perkembangan sel-sel imun
a) Sistem imun humoral
Sel B berasal dari sum-sum tulang jika dirangsang akan berproliferasi dan
berdeferensiasi membentuk sel plasma yang akan menghasilkan antibodi.
Antibodi ditemukan dalam serum. Berperan dalam proses fagositosis dan lisis

bakteri, anafilaksis, asma dan kelainan alergi, pehnyakit komplek imun, infeksi
bakteri dan beberapa infeksi virus
b) Sistem imun seluler
Sel T akan menyerang benda asing secara langsung. Sel T ditemukan dalam
kelenjar timus. Berperan dalam hipersensitivitas (reaksi tuberkulin), destruksi
tumor, infeksi intra sel, infeksi jamur, parasit dan virus serta dalam kejadian
penolakan transplantasi. Reaksi seluler dimulai oleh pengikatan antigen dengan
reseptor antigen pada permukaan sel T. Sel T membawa blue print ke nodus
limfatikus
Perkembangan sistem imun digambarkan sebagai berikut:
Sumsum tulang

Lymphoblast

Pematangan
sumsum tulang

Lymphosit B

Sel
Memori

Plasma Sel

Thymus

Sel T Regulator

Sel T Helper

Sel T efektor

Sel T
Supressor

Antibodies
Respon celular
Respon humoral

Gambar 1. Perkembangan sistem imun

Sel T
cytotoksik

B. Respon Antibodi
1. Jenis respon imun

a) Respon innate imun
Reseptor celluler yang digunakan dalam innate imun adalah phagosit, sel
dendritik, lymposit, sel ephitelial dan endothelial. Reseptor ini bisa berada di sel
manapun tergantung dimana mikroba berada. Bisa berada di permukaan,
retikulum endoplasma ataupun di cytoplasmic. Toll like reseptor (TLRs) disebut
juga dengan protein Drosophila yang bernama Toll berperan dalam melakukan
perlindungan terhadap agen infeksius. TLRs spesifik melawan antigen yang
berbeda.

Gambar 2. Spesifisitas, mekanisme dasar penghantaran dan respon selular TLRs

1) Komponen innate imun

Natural killer Cell Natural Killer (NK) merupakan golongan lymposit yang bertanggung jawab dalam mengenali agen penyebab infeksi kemudian membunuh sel tersebut dengan mensekresikan makrofag activating cytokin IFN-γ . Mekanisme pertahanan host pada epitelium sistem respiratori - Phagosit: Neutrophil dan monosyt Neutrophyl dan monocyt merupakan sel darah yang bekerja pada area - infeksi. Sel dendrit Sel dendrit memproduksi cytokin untuk melawan mikroba dan - menginisiasi respon imun adaptif. saluran pencernaan dan saluran respirasi yang dilindungi oleh sel epitel yang merupakan barrier secara fisik dan kimia.- Ephitelial Barrier Pintu masuk pertama dari miroorganisme bisa melalui kulit. Gambar 3. yang bertugas untuk mengenali dan menghancurkan mikroba.

Sistem komplemen ini bisa berlangsung melalui tiga cara. classical pathway dan lectin pathway. yaitu dengan alternative pathway. . Mekanisme fagositosis.Gambar 4. sel dendrit dan natural killer cell b) Sistem Komplemen Sistem komplemen merupakan serangkaian sirkulasi dari protein membran yang penting dalam pertahanan terhadap mikroba.

Gambar 5. Perjalanan aktivasi komplemen c) Protein plasma lain yang berperan sebagai innate imun .

Secara garis besar. proses innate immunity dalam melawan mikroba adalah .

Fase respon imun adaptif .Gambar 6.

berproliferasi dan berdeferensiasi menjadi sel B atau . yaitu stadium proliferasi b) Stadium proliferasi Limfosit kembali ke nodus limfatikus terdekat. Limfosit yang terbiasa dengan marker permukaan pada sel-sel tubuhnya sendiri akan mengenali antigen pada benda asing tersebut sebagai antigen (bukan dirinya). Limfosit bersirkulasi ulang dari darah ke nodus limfatikus dan dari nodus limfatikus kembali ke darah. membelah diri. limfosit dengan bantuan makrofag dapat menghilangkan antigen dari permukaan atau atau dengan cara tertentu mengambil cetakan strukturnya. Pengenalan bergantung pada lokasi reseptor yang spesifik pada permukaan limfosit. limfosit yang beredar akan mendekati dan melakukan kontak fisik dengan permukaan benda asing tersbut.2. Pengenalan oleh nodus limfatikus dan limfosit. Stadium respon imun a) Stadium pengenalan (recognition) Kemampuan dari sistem imunitas untuk mengenali antogen sebagai unsur yang asing atau bukan bagian dari dirinya. Ketika benda asing masuk ke dalam tubuh. Begitu terjadi kontak. Keadaan ini memicu stadium respon imun yang kedua. Limfosit yang sudah disensitisasi akan menstimulasi sebagian limfosit nonaktif atau dormant untuk membesar.

Antibodi dan antigen berada dalam sirkulasi darah. antibodi dari respon humoral atau sel T sitotoksik dari dari respon selular akan menjangkau antigen dan terangkai dengan antigen tersebut yang akan mengakibatkan penghancuran mikroba yang menginvasi tubuh atau netralisasi toksin secara total. Sistem imunitas ini harus dapat membedakan sel asing yang masuk ke dalam tubuh yang harus dirusak dan sel diri sendiri. D. Sel B dan sel T adalah bentuk utama dari limfosit. dan b) kekebalan selular yang memproduksi limfosit T yang teraktivasi. Sistem imunitas adaptif mempunyai tugas untuk menghancurkan patogen yang lolos dari sistem kekebalana non spesifik atau imunitas bawaan. c) sel natural killer (NK). Sel-sel T sitotoksik dan sel-sel B melaksanakan masing-masing funsi seluler dan humoral. Sel B (limfosit B) bekerja dengan cara merangsang pengeluaran substansi yang disebut dengan antibodi ke dalam tubuh. setiap sel B terprogram untuk mempunyai antibodi yang spesifik. Saat memasuki sel tugas antibodi antigen menyerang sel target. b) protein antivirus (interferon). d) Stadium efektor Pada tahap effector. Teori Psychoneuroimmunology . c) Stadium respons Limfosit yang sudah berubah akan berfungsi dengan cara humoral atau seluler. yang memproduksi antibodi oleh limfosit B (sel plasma).T. Tipe-tipe Imunitas Tipe Imunitas terbagi menjadi 2 yaitu imunitas adaptif/spesifik dan imunitas bawaan/ innate imun. Sel limfosit T mempunyai tugas yang spesifik terhadap infeksi virus dan pengaturan pada mekanisme sistem imunitas. komplemen dan kerja sel-sel T sitotoksik (imunitas seluler) C. Antigen merangsang limfosit B berubah menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Kejadian tersebut meliputi interaksi antibodi (imunitas humoral). Imunitas spesifik mencakup: a) kekebalan humoral. Pembesaran nodus limfe di leher yang menyertai sakit leher merupakan salah satu contoh dari respon imun. dan sistem komplemen. Respon humoral (pelepasan antibodi) Respon seluler (pelepasan sel T sitotoksik). Imunitas bawaan bisa mendeteksi adanya benda asing dan melindungi tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh benda asing. namun tidak bisa mengenali benda asing yang memasuki tubuh. Yang termasuk dalam imunitas bawaan adalah: a) reaksi inflamasi atau peradangan.

dan saliva. 6 menunjukkan hubungan antara stres dan sistem neuro-endokrin-imunitas. reaktivitas mitogen. 2004). neurologi. 2) marker sistem endokrin. faktor interferon (IFN) dan tumor necrosis (TNF).Istilah psikoneuroimunologi pertama kali digunakan oleh Ader pada tahun 1980 untuk membuktikan hubungan antara otak dan sistem imunitas (Daruna. adrenalin. dan sitokin seperti interleukin (IL) -1. IL-2. immunoglobulin (IgA. yang pada akhirnya juga merangsang korteks serebri. Psikoneuro imunologi melibatkan beberapa disiplin seperti psikologi. Seperti . yang merupakan pusat dari saraf otonom dan sistem endokrin. dan imunologi (Kubo & Chiba. seperti jumlah total limfosit dan subset limfosit seperti sel T. noradrenalin. seperti katekolamin. IgG. Hubungan antara stress dengan sistem neuro-endokrin-imunitas Gambar. urin dan salivar. IgM. dan pusat emosi. 17-hydroxycorticosteroid dan aldosteron) dalam darah. Sistem limbik dan thalamus mengaktifkan hipotalamus. Sebaliknya. dan dopamin dalam darah. sistem limbik. Biomarker stres yang terlibat dalam mekanisme ini adalah sebagai berikut: 1) marker sistem saraf. IL-6. sel B dan natural killer cell (NK). aktivitas sel NK. hormon. dan IgE). endokrinologi. urin. seperti corticoids (kortisol. sitokin dan bahan metabolisme juga mampu mempengaruhi pusat sistem saraf. 2006). Gambar 6. 3) marker sistem imunitas. Sistem ini mampu mempengaruhi sistem imunitas yang mensekresi sitokin. Stres sensorik merangsang hipotalamus. dan ACTH dalam darah.

(2006) menambahkan. keyakinan. 2004). manajemen stres melalui mekanisme koping seperti relaksasi. dan neuron. Intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas seperti pembentukan sugesti. dan coping terhadap penyakit yang dimediasi dan dimoderatori oleh respon imunitas (misalnya. Penerapan Tai Chi mencakup beberapa aspek yang berpotensi terhadap efek terepeutik pasien.. (2006) menerapkan intervensi Tai Chi pada pasien HIV. Sebuah studi yang dilakukan oleh Robins et al. peningkatan kualitas tidur dan istirahat. HIV dan kanker). monosit). glikoprotein 120 [gp120]). penurunan produksi faktor neurotropik. peningkatan aktivitas dan latihan. Robins et al. Gangguan pada blood-brain barrier dapat menyebabkan masuknya neurotoksin dari sirkulasi (Daruna. Stres kronis dan respon psikologis dapat mengaktifkan hipotalamus-hipofisis-adrenocortical berpotensi menginduksi dan imunosupresi. latihan dan meditasi. stres. sistem Sebuah simpatik-adrenomedullary. memperbaiki persepsi individu terhadap stres danmeningkatkan strategi koping. Gangguan fungsi saraf dapat mencerminkan efek dari protein virus (misalnya.. 2006). peningkatan pelepasan sitokin proinflamasi dari sel glial. Setelah sampai di otak. dan harapan (hipnosis. dan kemampuan appraisalfocused coping. virus ini cenderung menginfeksi sel hematopoietic asal seperti mikroglia namun juga ditemukan dalam astrosit. 2004).. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hasil signifikan terhadap perbaikan kualitas hidup. berpengaruh terhadap restrukturisasi fungsi kognitif dan spiritual. Virus HIV dapat masuk otak dalam bentuk bebas selama viremia pada tahap infeksi awal atau mungkin bermigrasi ke otak dalam sel mononuklear yang terinfeksi (misalnya. ketika ketigas sistem berfungsi normal terjadi homeostasis kinerja organ pada individu. dan nocebo effect). atau reaktivitas silang antara antibodi HIV dan protein saraf. pemberian efek plasebo. sel ependymal. penelitian menunjukkan yang bahwa imunosupresi akibat stres pasikologis dapat mempengaruhi perjalanan klinis penyakit HIV (Robins et al.ditunjukkan pada gambar diatas. serta nutrisi yang adekuat (Daruna. distress psikologis akibat HIV. Beberapa penelitian telah mengevaluasi faktor psikososial seperti persepsi. .

mertuanya jadi sering marah-marah bahkan pernah mengusir Ibu A dari rumahnya. Ibu A tidak meneruskan pengobatan antiretroviral tersebut karena tidak tahan efek samping dan menganggapnya percuma saja minum obat juga karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. dibawa ke Puskesmas dan mendapat pengobatan TB. Sebelum menikah. dan berat badan menurun. ibu rumah tangga. diketahui CD4 50 sel/mm3. tidak mengetahui bahwa suaminya adalah pengguna narkoba suntik. Kondisi Ibu A pun . semula bila Ibu A berkunjung ke orang tua suaminya disambut dengan hangat dan diminta untuk menginap di rumah mertua nya tersebut. Setelah melahirkan anaknya. infeksi telinga. pendidikan SMU (tidak tamat). Baru juga 2 hari menjalankan pengobatan Ibu A muntah-muntah. mendadak terlihat perubahan sikap setelah tahu Ibu A menderita HIV positif. Makin lama kondisi kesehatan Ibu A menurun. kulitnya mulai kelihatan menghitam dan terdapat bercak-bercak hitam. Ia membayangkan bahwa penyakit HIV adalah penyakit yang mematikan dan penyakit kotor. Hal ini diperberat dengan suami Ibu A yang sering menghilang dari rumah dan kurang perduli lagi terhadap Ibu A. Namun. Dokter memberinya obat antiretroviral. Ibu A dan Ibunya sangat terkejut mendengar bahwa Ibu A HIV positif. menikah dengan seorang pria tahun 2004 dan dikaruniai seorang anak laki-laki usia 4 tahun. Ibu A. Kasus Ibu A. keluaran sekret pada vagina dan berbau yang tidak sembuh-sembuh. dan sakit kepala sehingga menghentikan pengobatan. Namun sesampainya di rumah. Keluarga suami Ibu A. Kondisi kesehatan Ibu A pun semakin menurun. mulai menunjukkan sikap tidak suka terhadap suaminya. mulai mengalami batuk-batuk kronis. terutama Ibunya. dan mulut Ibu A mulai ditumbuhi jamur candida yang membuatnya sulit menelan makanan. usia 22tahun. Ibu A ketika itu masih sekolah SMU kelas 2 berpacaran dengan pria tersebut sampai-sampai akhirnya Ibu A hamil dan dinikahkan oleh orang tuanya. Ibu A mengalami keputihan. mual. Ketika di rumah sakit. setelah tahu Ibu A HIV positif. Kondisi Ibu A semakin menurun sampai suatu hari terjadi penurunan kesadaran yang akhirnya dibawa kerumah sakit untuk dirawat. Ibu A.HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) A. Namun karena Ibu A sangat mencintai suaminya ia tetap bertahan untuk menerima suaminya walaupun keluarganya. Ibu A percaya bahwa ia mendapatkan virus tersebut dari suaminya yang ternyata seorang pengguna narkoba suntik. Ibunya Ibu A membawanya ke dokter dan disarankan untuk tes HIV. dan Ibu A pun mulai membaik. Hasilnya dinyatakan positif.

Pemeriksaan Penunjang HIV: a. fungsi ginjal: ureum dan kreatinin d. Test HIV viral load PCR: Metode PCR menyediakan suatu mekanisme untuk mendeteksi target organisme dengan konsentrasi yang sangat kecil dengan spesifisitas yang tinggi dan dibuat tiruannya berlipat ganda sehingga ada tidaknya virus dan bakteri spesifik serta mutasi materi genetik dapat dideteksi. dimana pada saat ini antibodi belum terdeteksi Pada tahap window period kemungkinan bisa dilakukan pemeriksaan antigen ataupun pemeriksaan viral load. c. C. Pemeriksaan dasar: a. Hematokrit. Rapid tes. Isu gender dimana perempuan lebih lemah dibandingkan laki-laki 2. Kultur sputum (dahak) h. b. Pemeriksaan Diagnostik yang lazim dilakukan 1. Monosit. Isu-isu yang dialami Ny. Pemeriksaan Antibodi HIV: Tes menggunakan bahan whole bloo Antibodi dihasilkan setelah seorang terinfeksi HIV lebih kurang 3-8 minggu Window period (tahap jendela). Trombosit. B. b. Pem. feses lengkap f. Pemeriksaan foto thorax g. FBC (full blood count): pemeriksaan darah lengkap meliputi pemeriksaan Hb. Prevalensi kasus HIV AIDS meningkat pada populasi tidak beresiko/rentan (ibu rumah tangga dan anak) 3. Limfosit. c. Pem. western bloting. dan Basofil). fungsi hati : yang paling umum pemeriksaan SGOT dan SGPT. Pem. Adanya stigma dan diskriminasi pada ODHA oleh keluarga . badanya semakin kurus dan ia pun dibawa ke rumah sakit lagi untuk perawatan. Eritrosit. sehingga diperlukan pemeriksaan yang lain sebagai pemeriksaan dasar. Leukosit. CD4/ CD8: Cluster of Differentiation 4/8 adalah suatu limfosit (T helper cell) yang merupakan bagian pentingdari sel sistem kekebalan/imun. LED (laju endap darah) Pemeriksaan Ini sangat tergantung pada stadium HIV dan AIDS.menurun lagi sampai penurunan kesadaran disertai diare terus menerus. Ada beberapa jenis pemeriksan tes antibodi HIV: tes Elisa. Eosinofil. Hitung jenis (Neutrofil. Ketidakpatuhan pengobatan OAT dan ART dapat menyebabkan resistensi obat sehingga dapat menyebabkan penularan penyakit yang sudah resisten 4. A 1. Analisa urin e. CT-Scan kepala 2.

Kondisi Ny A semakin menurun sampai suatu hari terjadi penurunan kesadaran yang akhirnya dibawa kerumah sakit untuk dirawat. Baru 2 hari menjalankan pengobatan Ny A muntahmuntah. Ny A tidak meneruskan pengobatan antiretroviral tersebut karena tidak tahan efek samping dan menganggapnya percuma saja minum obat juga karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai HIV AIDS 6. Dokter memberinya obat antiretroviral. A 1. Penanganan pasien HIV AIDS di layanan kesehatan hanya berfokus pada fisik. dukungan dan pengobatan oleh petugas kesehatan terutama perawat sebagai pemberi asuhan. Pengkajian a) Pengumpulan Data  Identitas Klien Nama : Ny. Namun sesampainya di rumah. mual. Ny A dibawa ke Puskesmas dan mendapat pengobatan TB. . dan mulut Ny A mulai ditumbuhi jamur candida yang membuatnya sulit menelan makanan. edukator dan advocate untuk mencegah ketidakpatuhan minum obat 8. dan sakit kepala sehingga menghentikan pengobatan. Kurangnya dukungan keluarga 7. konselor. Hambatan penjangkauan pasangan ODHA dan anaknya.5. dan Ny A pun mulai membaik. kulitnya mulai kelihatan menghitam dan terdapat bercak-bercak hitam. Asuhan Keperawatan pada Ny. Diketahui CD4 50 sel/mm3. Seharusnya penanganan yang komprehensif meliputi perawatan. Riwayat Kesehatan Sekarang Kondisi kesehatan Ny A pun semakin menurun. A Umur : 22 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMU (Tidak tamat) b) Riwayat Kesehatan Keluhan Utama Terjadi penurunan kesadaran pada Ny A disertai diare terus menerus. perlu melibatkan LSM yang menangani ODHA D. Tidak adanya kelompok dukungan sebaya 9.

Pola Persepsi Sehat dan Manajemen Kesehatan Klien berobat sebelumnya ke Puskesmas dan Rumah Sakit. 9. Mertuanya jadi sering marah-marah bahkan pernah mengusir Ny A dari rumahnya. tidak mengetahui bahwa suaminya adalah pengguna narkoba suntik. infeksi telinga. mulai menunjukkan sikap tidak suka terhadap suaminya. 7. Pola Nutrisi Metabolik Ny A mengalamikesulitan menelan makanan karena mulutnya mulai ditumbuhi jamur candida. dan berat badan menurun. 2. Ny A menganggap bahwa penyakit HIV adalah penyakit yang mematikan dan penyakit kotor. 5. c) Pengkajian Fungsional Gordon 1. Setelah melahirkan anaknya. 8. dan hasilnya dinyatakan positif.Riwayat penyakit dahulu Sebelum menikah. Pola aktivitas seksual . Ny A ketika itu masih sekolah SMU kelas 2 berpacaran dengan pria tersebut sampai-sampai akhirnya Ny A hamil dan dinikahkan oleh orang tuanya. Ny A tidak meneruskan pengobatan antiretroviral karena tidak tahan efek samping dan menganggapnya percuma saja minum obat juga karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan. mulai mengalami batuk-batuk kronis. Ny A. Ny A sangat mencintai suaminya ia tetap bertahan untuk menerima suaminya walaupun keluarganya. diperparah dengan diare terus-menerus. 6. Disarankan untuk tes HIV. terutama Ibunya. Makin lama kondisi kesehatan Ny A menurun. Hal ini diperberat dengan suami Ny A yang sering menghilang dari rumah dan kurang perduli lagi terhadap Ny A. keluaran sekret pada vagina dan berbau yang tidak sembuh-sembuh. Ny A mengalami keputihan. Pola Aktifitas Fisik Tidak terkaji Pola Tidur – Istirahat Tidak terkaji Pola Persepsi – Kognitif Tidak terkaji Pola Persepsi diri dan konsep diri Tidak terkaji Pola hubungan Keluarga suami Ny A mendadak terlihat perubahan sikap setelah tahu dirinya menderita HIV positif. 4. Kondisinya semakin kurus sejak gejalanya 3. Pola Eliminasi Ny A mengalami diare terus menerus.

Pola stress dan koping Tidak terkaji 11. Pola keyakinan Tidak terkaji d) Data Penunjang  Nilai hasil laboratorium sebelum masuk RS: CD4 50 sel/mm3 .Tidak terkaji 10.

WOC HIV pada Kasus Ibu A (Corwin. & Ganong. monosit/makrofag. McPhee. 2001. & Bucher. sel langerhans. 2007. dan sel T helper) Terbentuk ikatan antara virus (gp120) dengan reseptor kemokin pada permukaan sel (CD4) dan mengalami fusi membentuk multinucleate giant cell dan sinsitium Reseptor pada makrofag (CCRS) Reseptor pada sel T helper (CXCR4) Memungkinkan virus menginfeksi dan masuk ke dalam sel target (limfosit T) Virus masuk ke dalam sel dan melepaskan selubung luarnya RNA virus masuk dan ditranskipsi menjadi DNA dengan bantuan enzim reserve transcriptase Masuk ke dalam nukleus dengan bantuan enzim integrase Perubahan genom dan mengambil alih fungsi genetik Reseptor utama Co-reseptor . Wood. & Male. & Roitt. 2009. Male. 2006. astrosit. Lewis. Roth. 2006). Dirksen. Price & Wilson. Brostoff. 2002. sel dendritik. 2006. Roitt. Brostoff. Heitkemper. O’Brien. Pasangan pengguna jarum suntik (HIV positif) Transmisi HIV melalui intercourse (sexual transmitted) Virus HIV masuk ke hospes Menginfeksi sel dengan molekul CD4 (limfosit T.

Pada sel yang telah terinfeksi Menyerang sel lain yang belum terinfeksi DNA virus membentuk provirus Berperan sebagai pabrik virus dengan menghasilkan protein virus baru untuk membentuk virus-virus baru Sel lain mudah diserang oleh Antibody-Dependent Cell-Mediated Cytotoxicity (ADCC) Virus bereplikasi dengan cepat (108-109 virus baru/hari) Menginduksi apoptosis sel T dan melemahkan membran sel sehingga mengalami lisis Membunuh sel CD4 secara langsung (±1 juta sel CD4/hari) Deplesi sel Koping keluarga tidak efektif Didiagnosis HIV Penurunan jumlah CD4 limfosit T Merusak sel CD4 (kecuali pada makrofag) Infeksi HIV tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh Perubahan rasio CD4/CD8 Kerentanan terhadap infeksi parasit + imunodefisinesi Penurunan fungsi limfosit T (sel T dan sel T-helper) Perubahan produksi sitokin Penurunan IL-2 Pe proliferasi sel T Penurunan kerja sistem imun diperantarai sel (sel B dan makrofag) Penurunan respon imun seluler terhadap sel-sel neoplastik Peningkatan risiko terkena kanker Mikroorganisme berproliferasi secara bebas dan tidak terkontrol Peningkatan risiko infeksi oportunistik .

sesak napas Penurunan kesadaran Hiperasiditas lambung Ketidakcukupan energi tubuh + kelemahan Penurunan BB Mulut dan esofagus Perubahan proses pikir Bersihan jalan napas tidak efektif Intake makan menurun Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Infeksi human hespes virus Nyeri pada kulit Intoleransi aktivitas Sarkoma kaposi Lesi pada kulit Hipertermia Nyeri Gangguan body image Gangguan integritas kulit . IL-6 Leukoplakia oral Diare Infeksi jamur Disfagia Peningkatan sekresi asam lambung Mual Sistem saraf pusat Saluran pernapasan Disfungsi neurologi Batuk kronis.Infeksi enterokolitis Peningkatan risiko infeksi oportunistik Perubahan produksi sitokin Infeksi virus epstein barr PelepasanTNF Aktivasi respon fase inflamasi akut Severe wasting syndrome Menstimulasi hipotalamus Peningkatan suhu tubuh Demam Risiko tinggi Kekurangan volume cairan tubuh Malaise Infeksi bakteri Pelepasan IL-1.

Fungsi motorik Data obyektif yang Diarrhea perlu ditambahkan dalam penegakan diagnosa ini: .Adakah hiperaktivitas suara bowel .Status neurologis .Adakah penolakan terhadap makanan Nutrition Imbalanced.Diare (Klien dibawa dibawa ke rumah sakit lagi untuk perawatan karena diare terus menerus dan badanya semakin kurus) Data subyektif yang perlu ditambahkan dalam penegakan diagnosa ini: .Apakah ada perlukaan pada rongga mulut .Adakah kram abdomen Data obyektif yang perlu ditambahkan dalam penegakan diagnosa ini: .Adakah penurunan BB hingga 20% dari BB normal Masalah Etiologi Klien mengalami Ineffective Brain injury penurunan cerebral tissue (cerebrovascular kesadaran saat perfusion impairment) dibawa ke RS Data obyektif yang perlu ditambahkan dalam penegakan diagnosa ini: .Tingkat GCS . less than body requirenments Infection Biologic factor .Adakah sensasi urgensi bowel .Apakah terlihat kesulitan menelan .Adakah nyeri abdomen .Analisis Data e) Data Subyektif - - Data Obyektif - Klien mengalami diare terus menerus (diare > 3 kali dalam 24 jam) Data subyektif yang perlu ditambahkan dalam penegakan diagnosa ini: .

Apakah klien kesulitan makan .Adakah lesi pada mulut Ineffective Health Management - Agitasi (Klien menyatakan mertuanya jadi sering marah-marah bahkan pernah mengusirnya dari rumah) Penolakan (Klien - - Disabled family coping Perceived seriousness of condition Inconsistent management of family’s resistance to treatment . A didiagnosa HIV) Klien beberapa kali dibawa ke Rumah Sakit dengan penurunan kondisi Data hasil lab Ineffective sebelum masuk Protection Rumah Sakit: CD4 50 sel/mm3 Immune Disorder (HIV) - Ny A mengalami kesulitan menelan makanan karena mulutnya mulai ditumbuhi jamur candida.Adakah bercak berongga .Adakah plak dan bercak putih .Adakah eksudat seperti bubur yang berwarna putih .- Klien mengalami penurunan imunitas (Ny. Immunodeficiency - Ny A tidak meneruskan pengobatan antiretroviral (karena tidak tahan efek samping dan menganggapnya percuma saja minum obat juga karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan) Data obyektif yang Impaired Oral perlu ditambahkan mucous dalam penegakan membrane diagnosa ini: .

Impaired Oral mucous membrane r/t Immunodeficiency 6. Ineffective cerebral tissue perfusion r/t brain injury (cerebrovascular impairment) 2. less than body requirenments r/t biologic factor 4.) Pengabaian mengatakan suaminya menghilang rumah dan perduli terhadapnya) bahwa terlihat sikap dirinya HIV (Klien sering dari kurang lagi f) Diagnosa Keperawatan: 1. Ineffective Protection r/t Immune Disorder (HIV) 5. Diarrhea r/t infection 3. Nutrition Imbalanced. Disabled family coping r/t Inconsistent management of family’s resistance to treatment . Ineffective Health Management r/t Perceived seriousness of condition 7.- menyatakan keluarganya mendadak perubahan setelah tahu menderita positif.

Kolaborasikan pemberian O2 untuk 7. Pertahankan hemodinamik klien 1. Berikan agen vasoaktif untuk 2. Mendeteksi. Monitor MAP 6. dan orientasi klien 1. Konsultasikan kepada tim medis terkait 4. Peningkatan glukosa darah diasosiasikan Orientasi kognitif 3 4 normal dengan perluasan area kerusakan otak Delirium 2 3 4. Pertahankan serum glukosa dalam level 3. Elevasi kepala dapat mengurangi tekanan Mengikuti 2 3 penetapan posisi kepala klien yang arteri dan meningkatkan drainase serta perintah optimal (misal 150-300) dan monitor perfusi dan sirkulasi serebral respon klien terhadap posisi kepala Tissue Perfusion: Cerebral yang diberikan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5. dengan arteri rata-rata pada klien. atensi. Mencegah hipoksemia dan resiko Tekanan darah 2 3 mempertahankan SpO > 95% perburukan status neurologis klien 2 sistolik Tekanan darah 2 3 Neurologic Monitoring diastolik Aktivitas: . mengidentifikasi dan dengan kriteria hasil: memantau respon pengobatan yang diberikan untuk mendapatkan gambaran Indikator Awal Target keseimbangan homeostatik tubuh Membuka mata 2 3 2. sirkulasi darah ke otak untuk 6.g) Intervensi Keperawatan Ineffective cerebral tissue perfusion r/t brain injury (cerebrovascular impairment) Definisi: Penurunan sirkulasi jaringan serebral yang dapat mempengaruhi keseahatan Domain 4: Activity/Rest Class 4: Cardiovascular/Pulmonary Responses Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Rasional Neurological Status: Conscioussness Cerebral Perfusion Promotion Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam terjadi peningkatan Aktivitas: kesadaran. mengidentifikasi kriteria hasil: keadekuatan sirkulasi darah ke jaringan Indikator Awal Target 7. Untuk memberikan gambaran tekanan mempertahankan fungsi otak. Agen vasoaktif dapat meningkatkan CPP dengan stimulus mempertahankan hemodinamik klien eksternal 3. Monitor intake dan output klien 5. Memberikan gambaran keseimbangan selama 7 x 24 jam terjadi peningkatan cairan secara periodik.

yang medikasi 1. Monitor TTV (Temperatur. Identifikasi faktor penyebab yang berhubungan dengan situasi individu. Digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. 3. Untuk mengetahui keefektifan medikasi yang diberikan klien Diarrhea r/t infection Definisi: Konsistensi feses cair atau tidak berbentuk Domain 3: Elimination and Exchange Class 2: Gastrointestinal Function Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Rasional . Monitor tingkat GCS klien 3. Tekanan darah. penurunan kesadaran atau terjadinya penurunan perfusi serebral 2. Monitor respon diberikan.Tingkat kesadaran 2 Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan 3 1. Fluktuasi tekanan darah dapat terjadi karena peningkatan TIK atau cedera di daerah vasomotor otak. Untuk menentukan intervensi yang tepat disesuaikan dengan etiologi yang mendasari 2. RR). 4. 4. Nadi.

Pertahankan pencatatan intake/outpot Intake secara akurat Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Monitor kulit disekitar anus terhadap Fluid Balance resiko iritasi atau ulserasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 15. Monitor evaluasi laboratorium 6. Monitor status hidrasi klien memenuhi jumlah kebutuhan nutrisi dan 5. Monitor tanda gejala akibat diare 13. dengan kriteria hasil: Indikator Awal Target Diare 2 3 Mengontrol 2 3 defekasi Mengenali urgensi 3 4 defekasi Diarrhea Management Aktivitas: 8. Evaluasi respon medikasi yang selama 7 x 24 jam terjadi keseimbangan diberikan cairan pada kompartemen intraselular dan ekstraselular. Melakukan kultur feses apabila diare berkelanjutan 10. dengan 7. konsistensi faese. Berikan terapi cairan sesuai indikasi kriteria hasil: Membedakan diare akut dengan diare kronis sekaligus menentukan intervensi yang sesuia Mencegah paralisis dan obstruksi saluran cerna bagian bawah Meningkatkan efektivitas obat diare dengan manajemen penggunaan obat diare yang disesuaikan denga kondisi pasien terkait frekuensi defekasi. Evaluasi catatan asupan nutrisi klien 12. dengan kriteria hasil: Indikator Awal Target Tekanan darah 2 3 Fluid Management Pulsasi radialis 2 3 Elektrolit serum 3 4 Turgor kulit 3 4 Aktivitas: 1. Mengidentifikasi riwayat diare 9.Bowel Continence Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien mampu mengontrol diare. Berikan klien kateterisasi urin selama 3 x 24 jam klien mampu 4. Monitor status hemodinamik cairan dalam periode 24 jam. perdarahan dansebagainya Menjaga personal hygiene dengan tetap memperhatikan kenyamanan pasien. Observasi turgor kulit secara berkala 14. Ajarkan klien untuk menggunakan obat antidiare jika memungkinkan 11. mengukur jumlah cairan yang terbuang melalui sistem pencernaan Mempertahankan status hidrasi dan mencegah dehidrasi terkait kehilangan cairan akibat diare Koreksi status hidrasi secara cepat dan tepat . Berikan klien diapers dan timbang diapers secara berkala Nutritional Status: Food and Fluid 2.

Berikan terapi intravena sesuai indikasi 10. mengidentifikasi . Berikan oral care sebelum memberikan makan sesuai indikasi dan mempertahankan sstabilitas status hidrasi Mempertahankan kenyamanan serta menekan adverse effect program yang dilakukan Menentukan status nutrisi untuk dijadikan base line outcome program stabilisasi status nutrisi Memperthankan status nutrisi dan status hidrasi yang menurun akibat diare serta mempercepat proses pemulihan saat diare Dilakukan jika pasien tidak dapat makan secara normal. Mengukur status nutrisi.Indikator Intake makanan oral Intake tube feeding Intravenous fluid intake Awal 2 Target 3 2 3 8. Evaluasi respon klien terhadap intervemsi 2 3 Nutrition Therapy Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan Aktivitas: 1. Monitor kesesuaian intake dengan target pemenuhan kebutuhan nutrisi harian 3. Monitor adanya penurunan berat 1. Berikan klien nutrisi tinggi protein tinggi kalori dan makanan dan minuman bernutrisi dengan sediaan yang siap konsumsi 4. less than body requirenments r/t biologic factor Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik Domain 2: Nutrition Class 1: Ingestion Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Rasional Nutritional Sratus: Food & Fluid NIC : Intake Nutritional Monitoring Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. atau jika ditemukan infeksi jamur di rongga mulut sehingga dapat meningkatkan keparahan diare Nutrition Imbalanced. Lakukan pengkajian nutrisi dengan tepat 2. Identifikasi kebituhan insersi tube feeding 5. Monitor status nutrisi 9.

kalsium normal Awal 2 Target 4 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan badan normal 2. mineral. lemak. vitamin. rambut kusam. Berikan informasi tentang kebutuhan masalah terkait nutrisi serta menentukan upaya yang sesuai dalam rangka mengatasi masalah nutrisi 2. total protein. Monitor kekeringan. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi 6. Intervensi aspek kognitif dan meningkatkan derajat kemandirian pasien . Kaji adanya alergi makanan 2. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian 7. Monitor kalori dan intake nutrisi Nutrition Management Aktivitas mandiri: 1. Mencegah konstipasi dan menjaga profil lipid pasien 5. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C 4. zatbesi. Mengukur status hidrasi pasien 5. dan kadar Ht 5. Mencegah reaksi alergi dari makanan yang dimakan pasien 2. Berikan subtansi gula 5. Mengkaji faktor-faktor terkait nutrisi 1. Catatan harian nutrisi ditujukan untuk menjaga dan mengevaluasi asupan makanan harian 7. Jumlah nutrisi diharapkan sesuai atau mendekati dengan target pemenuhan nutrisi harian klien 8. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan 3. protein. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe 3. Untuk mengurangi resiko ketidaknyamanan klien selama makan 3. Menjaga asupan nutrisi dan menjaga angka kecukupan gizi 6. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi 4.selama 7 x 24 jam diharapkan masalah ketidakseimbangan nutrisi teratasi dengan kriteria hasil: Indikator Intake nutrient normal Intake makanan dan cairan normal Berat badan normal Mass atubuh normal Pengukuran biokimia normal Intake kalori. Meningkatkan proses pembentukan jaringan tubuh 3. Hb. Memberikan sumber kalori yang strategis 4. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 8. Mengetahui gejala malnutrisi dan mengukur status hidrasi 4.

Ineffective Protection r/t Immune Disorder (HIV) Definisi: Penurunan kemampuan individu untuk melakukan pertahanan diri terhadap ancaman internal maupun eksternal seperti injuri atau penyakit Domain 1: Health Promotion Class 2: Health Management Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Rasional Immune Status Infection Control Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam diharapkan terjadi Aktivitas: peningkatan ketahanan terhadap antigen internal maupun eksternal dengan kriteria 1. Pembatasan jumlah pengunjung hasil: dimaksudkan untuk mengurangi resiko Hospital Acquired Infections (HAIs). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien 9. Kolaborasi dengan alhi gizi diharapkan dapat meningkatkan outcome klien 10. Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) Aktivitas kolaborasi: 10. Upaya kolaboratif terkait asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien. Indikator Awal Target .nutrisi 9. Batasi jumlah pengunjung 1.

Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan 8. Gunakan universal precaution 3. jaringan lunak. rongga bukal. untuk mengurangi risiko infeksi. Nutrisi yang adekuat dapat memfasilitasi proses penyembuhan klien 6. 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat klien 7. Ajarkan kepada klien dan keluarganya mengenai tanda & gejala infeksi 4. Edukasi menjadi salah satu metode yang efektif dalam meningkatkan perubahan perilaku kesehatan klien dan keluarga 4. 8. Penggantian alat medis secara disposable dapat mengurangi cross-infection antar pasien. Tingkatkan pemenuhan nutrisi yang adekuat 6. Cuci tangan diasosiasikan dapat mengurangi resiko cross-infection 7. Tujuan penggunaan sabun antimikrobial adalah membunuh kuman dan bakteri pada kulit. Universal precautions merupakan upaya pengendalian infeksi yang harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan kepada semua pasien.Fungsi gastrointestinal Fungsi respiratori Integritas kulit Infeksi berulang 2 4 3 3 2 4 4 3 Infection Severity Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam diharapkan terjadi penurunan keparahan infeksi terkait gejala penyakitnya dengan kriteria hasil: Indikator Awal Target Rash 3 4 Malaise 2 3 Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan 2. Ganti peralatan perawatan pasien per agency protocol 2. Tingkatkan istirahat 5. Istirahat dapat memfasilitasi penyembuhan 5. Impaired oral mucous membrane r/t Immunodeficiency Definisi: Cedera pada bibir. dan / atau orofaring Domain 11: Safety/Protection Class 2: Physical Injury Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Rasional .

Kebersihan mulut yang terjaga mampu meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan klien 4. gusi. ataupun infeksi. adanya debris. Dukung klien untuk membersihkan mulutnya menggunakan air atau saline steril hangat 4. warna. selain itu hal ini juga mampu menurunkan resiko nausea dan perasaan tidak nyaman pada GI tract . kelembaban gusi. Oral hygiene sebelum dan sesudah makan mampu meningkatkan kenyamanan klien 7. Sikat gigi yang lembut ditujukan untuk mengurangi resiko adanya cedera/luka 2. dan lidah. 1. Candidiasis merupakan tanda gejala minor yang dapat ditemukan pada individu dengan HIV (Bennert. fossae tonsilar. gigi. tekstur. Makanan yang lembut mampu mengurangi resiko kesulitan menelan pada klien 8.Oral Hygiene Oral Health Restoration Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam klien mampu menjaga Aktivitas: kondisi mulut. Berikan topical anestesi atau antibiotic 1. Monitor kondisi membran mukosa oral. Berikan edukasi kesehatan tentang kebersihan mulut 6. Rencanakan pemberian makan dengan jumlah kecil dan frekuensi sering 9. Fasilitasi oral hygiene sebelum dan sesudah makan 7. Cetyl Piridinium Chloride (CPC) yang terkandung dalam pasta gigi mampu membunuh bakteri di mulut penyebab plak 3. Bantu klien untuk memilih makanan yang lembut 8. Tujuan dari pemberian makan porsi kecil dengan frekuensi sering adalah untuk meningkatkan adaptasi makan klien secara bertahap. Gunakan sikat gigi lembut untuk menghilangkan debris gigi dengan kriteria hasil: 2. 5. 2015). Gunakan pasta gigi untuk mempertahankan kebersihan rongga Indikator Awal Target mulut Kebersihan mulut 3 4 Integritas mukosa oral Lesi mukosa oral 3 4 3 4 Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan 3. Edukasi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan klien dalam melakukan perawatan terhadap kondisi penyakitnya 6. menggunakan tounge spatel 5.

Domain 1: Health Promotion Class 2: Health Management Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Compliance Behaviour: Prescribed Anticipatory Guidance Medication Setelah dilakukan tindakan keperawatan Aktivitas: selama 7 x 24 jam klien mampu 1. Menentkan core problem serta menjadi base laine dalam rangka pemecahan . Topical anestesi diberikan apabila klien merasakan nyeri Ineffective Health Management r/t Perceived seriousness of condition Definisi:Pola pengaturan dan pengintegrasian rejimen terapi pengobatan penyakit dan gejala sisa tidak memuaskan untuk memenuhi tujuan kesehatan tertentu. Bantu klien untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya krisis situasional Rasional 1.sesuai indikasi 9.

Libatkan keluarga jika memungkinkan Health Beliefs Support System Enhamncement Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien mampu Aktivitas: menunjukkan perilaku yang mendukung 1. Mencegah over ekspektasi dan mencegah kekecewaan serta memelihara harapan pada diri klien 3. dengan kriteria hasil: Indikator Mematuhi anjuran pengobatan Mengikuti anjuran pengobatan Monitor efek samping pengobatan Melaporkan efek samping pengobatan ke tenaga kesehatan yang terkait dengan kesehatannya. Sediakan informasi tanpa memberikan harapan yang tidak realistis Awal 2 Target 3 3. serta dampak dari krisis tersebut 2. Identifikasi kelebihan dan kelemahan masalah yang dihadapi 2. Dilakukan untuk mengatasi masalah terkait pemberdayaan support sistem yang dimiliki klien 3. Berikan klien sumber refensi yang mampu meningkatkan pengetahuan terkait kondisinya saat ini 6. Dengan mengetahui hambatan yang ada. Identifikasi kemampuan problem solving klien sebelumnya 3 4 3 4 3 4 4. Untuk mengidentifikasi ketersediaan support system yang mampu mendukung perawatan klien 2. Membangun support system yang baik 6.berpartisipasi dalam pengobatan dan tujuan terapeutik yang telah ditentukan profesional kesehatan. Memberikan bukti empirik terkait proses pemecahan masalah 5. Menentukan keemampuan yang dimiliki klien dan support system yang telah dibangun sebelum dilakukan program asistensi pemecahan masalah 1. dengan kriteria hasil: support system Indikator Keyakinan untuk berpartisipasi dalam pengobatan Keyakinan akan manfaat dari pengobatan Awal 2 Target 3 3 4 2. Menentukan modalitas yang dimiliki klien dengan optimalisasi bakat. Lakukan pengkajian terkait ketersediaan kesehatannya. Bantu klien untuk beradaptasi dengan perubahan kesehatan yang dialaminya 5. peawat dapat mengadvokasi strategi problem solving dalam keluarga . Identifikasi derajat dukungan keluarga 3. Identifikasi hambatan support system pada klien penggunaan 4. sumberdaya dan potensi yang dimiliki klien 4.

Gunakan alternatif respon terhadap Indikator Awal Target situasi Memanajemen 3 4 Rasional 1. Domain 9:Coping/Stress Tolerance Class 2:Coping Responses Kriteria Hasil/ Tujuan Intervensi Family Coping Coping Enhancement Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam terdapat Aktivitas: keterlibatanmanajemen stressor yang 1. Identifikasi dampak situasi yang klien bersumber dari keluarga. Optimalisasi kelebihan yang dimiliki support sistem dan mengendalikan kekurangan yang ada dengan melakukan balancing maupun kompensasi terkait kelemahan yang dimiliki 5.klien dalam menjalani pengobatan Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan 5. Berikan pilihan yang rasional bagi pasien dengan memperhatikan kondisi klien serta dampak negatif yang paling . dengan kriteria alami terhadap peran dan hubungan klien hasil: 2. Menjadikan keluarga dan orang terdekat debagai bagian dari support system yang baik dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan klien serta kualitas hidup klien 6. Menentukan stressor yang paling dominan memperngaruhi klien 2. Libatkan keluarga/significant others dalam perencanaan dan perawatan kesehatannya 6. significant other. Jelaskan pada keluarga/significant others tentang cara memberi dukungan pada klien 4. atau teman dekat) yang menurunkan kapasitasnyamaupun kapasitas klien untuk mengatasi tugasnya dalam adaptasi secara efektif terhadap tantangan kesehatan. Keluarga mampu memberikan dukungan dan penguatan positif pada pasien Disabled family coping r/t Inconsistent management of family’s resistance to treatment Definisi:Perilaku orang primer (anggota keluarga.

jika terjadi self care deficit 3. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis.masalah anggota keluarga Menggunakan 3 strategi dalam pemecahan masalah di keluraga Merawat anggota 2 keluarga yang sakit Menyediakan 2 prioritas dalam keluarga 4 3 3 3. Gunakan teknik menenangkan secara tepat 4. pengobatan. Mmembrikan reinforcement terkait pengambilan keputusan 4. Menekan akibat stressor yang dihadapai pasien. Dukung klien untuk menerima kondisinya 5. Fasilitasi dukungan spiritual menunjukkan interaksi positif dengan klien. Evaluasi kemampuan decision making klien 7. Identifikasi persepsi klien situasi dengan stressor tinggi terhadap Caregiver-Patient Relationship Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jamkeluarga dapat 8. Mengetahui persepsi klien terkait penyakit dan stressor yang menjadi sumber kekuatan ataupun hambatan dalam perawatan penyakitnya 8. dengan indikator: Family Involvement Promotion Indikator Awal Target Komunikasi 3 4 Aktivitas: efektif 1. Identifikasi tingkat pemenuhan self-care klien selama 3 x 24 jam. 6. keluarga dapat minimal yang bisa difahami oleh klien 3. Optimalisasi semua sumberdaya yang tersedia dalam rangka upaya peningkatan derajat kesehatan . Fasilitasi hubungan keluarga dan klien Caring 2 3 yang terlibat dalam perawatan Komitmen jangka 2 3 penjang dalam perawatan 2. dan prognosis 6. Dukungan spiritual mampu memberikan dan meningkatkan belief dan ketenangan klien menghadapi penyakitnya 1. Identifikasi kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan pada klien Family Support during Treatment Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Mengatahui kemampuan klien dalam keterliabatan pengambilan keputusan perawatan kesehatannya 7. Mendukung keberlangsungan hubungan kekeluargaan yang merupakan komponen penting dalam pembentukan support system 2. Mengurangi ketegangan dan menciptakan perasaan lega setelah klien mengemukanan ketakutan dan perasaanya. Menentukan pola pikir. dan pemahaman klien terkait stressor yang dimiliki 5.

4. Bina hubungan saling percaya Keterangan : 1= keluhan parah 2= keluhan substansial 3= keluhan sedang 4= keluhan ringan 5= tidak ada keluhan 2. Identifikasi ketersediaan sumber dukungan fisik. Mengetahui tingkat ketergantungan klien terhadap keluarga. Perawat bersama keluarga melakukan problem solving yang terkait dengan rencana terapeutik klien 4. Memastikan keluarga mendukung program peningkatan kondisi kesehatan klien 5. 6. Identifikasi tingkat dependensi klien Keluarga menjaga 2 3 dengan keluarga komunikasi efektif Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam Family Support memberikan perawatan Aktivitas: 1. Monitor keterlibatan keluarga dalam perawatan klien memberikan support emosional selama anggota keluarganya menjalani perawatan. Identifikasi tingkat asertif klien dan keluarga dalam perawatan 4. Memastikan keluarga mendukung program peningkatan derajat ksehatan klien 5. Identifikasi adanya beban psikologis pada kondisi klien 3. dengan kriteria hasil: Indikator Awal Target Ketersediaan 2 3 6. Identifikasi stressor lain yang keluarga dalam mempengaruhi respon keluarga terhadap memberikan perawatan yang diberikan kepada klien dukungan 7. dan edukasi pada keluarga 5. Berikan advokasi klien dan keluarga 4. Dengan adanya dukungan. psikis. Ketergantunngan dapat bersifat positif maupun negatif. Memberikan rasa aman dan memberikan keamanan kepada pasien 1. diharapkan . Perawata dapat mengidentifikasi adanya beban keluarga yang dimungkinkan menjadi stressor keluarga 3. BHSP dapat meningkatkan hubungan terapeutik perawat-klien 2. Membuka gerbang dalam rangka menyelesaikan masalah pasien melaui dukungan keluarga 7.

Dukung klien dan keluarga dalam menjalani perawatan jangka penjang 6. Edukasi klien dan keluarga terkait rencana perawatan dan medis 7. . Bantu klien dan keluarga menghadapikondisi paliatif klien dan keluarga lebih asertif dalam pengelolaan klien 6. Melibatkan klien dan keluarga dalam perawatan klien 7.5. Menekan stressor keluarga terkait pengobatan jangka panjang. memberikan harapan yang rasional serta memelihara harapan yang dimiliki klien dan keluarga terkait kondisi kesehatannya.

Kesimpulannya ketidakpatuhan terhadap ART dikaitkan dengan faktor individu dan paparan terhadap ART. Penelitian lain untuk mengetahui proporsi kepatuhan terhadap ART dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin berhubungan dengan ketidakpatuhan terhadap ART di antara orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di Laos. menyesuaikan rejimen ke gaya hidup ODHA. sebanyak 124 studi memenuhi kriteria pilihan. baik secara tunggal atau dalam kombinasi dengan intervensi lain. Kombinasi intervensi cenderung memiliki efek yang mirip dengan intervensi tunggal (Chaiyachati et al. Menurut penelitian Kip et al. Penelitian ini dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Perhitungan Chi-square . Estimasi tingkat kepatuhan didasarkan pada informasi yang diberikan oleh ODHA tentang asupan obat selama tiga hari sebelumnya. 60% melaporkan lebih dari 95% kepatuhan terhadap ART. A dan strategi berbasis fakta untuk meningkatkan kepatuhan minum obat ARV pada Orang terinfeksi HIV Studi tentang intervensi untuk meningkatkan kepatuhan terapi ARV. dan meningkatkan kepatuhan pemantauan dan pelayanan kesehatan . terapi diamati secara langsung (DOT).E. (2009) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terapi anti-retroviral (ART) pada pasien di empat klinik di Botswana. 2014). dan menjadi pelupa (62. Delapan puluh enam studi yang RCT. pendidikan. setiap intervensi juga telah ditemukan bahawa tidak didapatkan efek yang signifikan pada beberapa penelitian. Lebih dari 20 penelitian telah menguji efektivitas setiap intervensi kepatuhan. Langkah-langkah prioritas untuk meningkatkan kepatuhan terhadap ART harus bertujuan untuk mengintensifkan penyuluhan dan intervensi yang komprehensif.0%). Pengalaman tidak menyenangkan terkait pengobatan ARV juga dialami pasienpasien lain selain Ny. Meskipun ada bukti kuat bahwa kelima dari intervensi ini secara signifikan dapat meningkatkan kepatuhan ART dalam beberapa kondisi.. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 13. Hasilnya dari total 346 pasien.. dan perangkat pengingat kepatuhan yang aktif (seperti pesan teks telepon selular). meliputi: intervensi perilaku kognitif. berdasarkan rapid systematic review. pendukung pengobatan.2%). seperti pedoman bagi ODHA tentang keterampilan manajemen diri terhadap pengobatan. Alasan untuk tidak minum obat sesuai kebutuhan sedang sibuk (97. Hampir setengah (55) dari 124 studi menyelidiki efektivitas intervensi kombinasi. Wawancara terstruktur dilakukan dengan sampel acak dari 400 pasien dari populasi semua pasien yang menghadiri empat klinik ART yang dipilih secara acak di Botswana selama April dan Mei 2007.

biaya perjalanan. N. http://emedicine.com/article/211316-clinical Retrieved from: . Bennett.medscape.dan p-value yang dilakukan untuk menguji signifikansi hubungan antara kategori atau variabel. Kepatuhan pasien membutuhkan lebih dari akses obat ARV yang gratis. HIV Disease Clinical Presentation. penggunaan obatobatan tradisional. waktu tunggu di klinik. HIV. Basic immunology. jam klinik terbatas. J. Philadelphia: Saunders Elsevier Inc. efek samping ART. Sedangkan hambatan dari layanan termasuk sikap dan pengetahuan perawat. penundaan dalam mendapatkan hasil CD4 dan viral load. Tingkat kepatuhan akan meningkatkan jika kedua hambatan berpusat pada pasien dan berpusat layanan ditangani. functions and disorder of the immune system. A. Perawat memainkan peran kunci dalam mendidik pasien tentang kepatuhan ART dan efek samping. & Litchman. stigma. ketidakmampuan petugas kesehatan untuk melakukan kunjungan rumah dan menghubungi pasien yang mangkir. tetapi mereka juga harus mendidik pasien tentang hasil CD4 dan hasil tes viral load serta tentang bahaya menggunakan obat-obatan tradisional dan alkohol dengan ART. hasil CD4 dan viral load. A. dan penyalahgunaan alkohol.H.. AIDS. DAFTAR PUSTAKA Abbas.K. 2011. Didapatkan hambatan dari pasien berkaitan dengan kepatuhan ART termasuk pengetahuan yang tidak adekuat tentang ART. Waktu tunggu yang lebih pendek di klinik dapat membuat hidup pasien dengan ART lebih mudah dikelola. (2015).

org/10. USA: Blackwell Publishing Ltd. Brostoff. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit.. Elswick. Academic Press Elsevier: United States of America Dochterman. Gray. F. S. Sychareun. Iowa: Mosby Elsevier. & Wilson. & Barnighausen. P. D... (2009). (2009). R. International Congress Series. (2002). (2004). Roitt. M. S. (ed).. J. Patients' Adherence to Anti-Retroviral Therapy in Botswana. Introduction to Psychoneuroimmunology. F. 5–11... McPhee. T. B. 2014.. L. 7th ed. Journal AIDS. Pathophysiology of disease: An introduction to clinical medicine. Immunology. 149-157. W. C... Price. K. V.. 2005. S.11. Oxford: Wiley Blackwell. A. L. Durham. United States of America: The McGraw-Hill Companies. W.. M. Kamitsuru..2005. Medical surgical nursing: Assestment and management of clinical problems. Daruna. R. & Bulecheck. Johnson. BMC Public Health. N. D. Robins. P. Swanson. P. (2006). E. M. O. J. P. N.... Journal of Nursing Scholarship.. Jakarta: EGC.. Pedoman Nasional Tes dan konseling HIV dan AIDS. L. Heitkemper. 41(2). Boonyaleepun. & Bucher. Edisi 5. e. Sanchaisuriya. Edisi 6.. E. Kubo. D.. (2004). L. Suthar. H. 5th ed. M. Buku 1. V. (ed).. Nursing Outcome Classification.. 2. Jakarta: EGC. Nursing Intervention Classification. K. I. 28(2). I. J. G.ics. Walter. & van der Wal. E. Negussie. R. J. Male.. (2006). doi: http://dx..doi. P.. V. M. & Roitt. Psychoneuroimmunology of the mind and body. L. H. (2014).M. doi: 10. N. S.. McCain. Kip. S. N. Ogbuoji. E.1186/1471-2458-13-617 Herdman. Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2015-2017. Chida. D. G. & Delves.1097/QAD 0000000000000252 Corwin. Interventions to improve adherence to antiretroviral therapy: a rapid systematic review. A. H.. & Ganong. e.. N.. M. M.. O’Brien. (2006). (2007). R. Fourth Ed. (2004). 13. Kementrian Republik Indonesia (2013).Chaiyachati. (2013).. L.. & Schelp.1016/j. Hansana. Price. Vol. P. E. Buku saku: Patofisiologi. Iowa: Mosby Elsevier. Philadeplhia: Mosby Elsevier. Moorhead. Chaleunvong. Missouri: Mosby.. K. Ehlers. Mass. A. doi: 10.J. (2006). Roth. Fourth Ed. McDade. B. D. Really essential medical immunology. Y.061 Lewis. Dirksen. S.. 7th ed. J. J.. P. Rabson. K. 617. J.. M. L. Research on psychoneuroimmunology: Tai chi as a stress management approach for . L. M. S. J. T. 1287. R. Adherence to antiretroviral therapy (ART) among people living with HIV (PLHIV): a cross-sectional survey to measure in Lao PDR.

S. (2006). P.2005. 6th ed.03. Understanding immunology. J.1016/j. Brostoff.. D. Lippincot Williams & Wilkins. London: Mosby. Immunology. I.002 Roitt. C. Bare.. BRUNNER & SUDDARTH’S Textbook of Medical=Surgical Nursing. L. Smeltzer. Cheever. (2010). J. doi: 10. K. B. Volume 1. 12th Ed.apnr.. 2nd ed. 19.. H. . G. Wood. London: Pearson Education. (2001).individuals with HIV disease. 2 –9. Applied Nursing Research. Hinkle. & male.