Anda di halaman 1dari 30

Laporan Kasus

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)


Departemen Obstetri dan Ginekologi RSMH Palembang

Disusun oleh:
Fadhli Aufar Kasyfi
Rani Iswara
Tatia Indira
M. Faza Naufal
Felicia Ivanty
Pembimbing:
dr. Firmansyah, SpOG (K)

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUP Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Referat

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Oleh:
Fadhli Aufar Kasyfi
Rani Iswara
Tatia Indira
M. Faza Naufal
Felicia Ivanty
Pembimbing:
dr. Firmansyah, SpOG (K)

Telah diterima sebagai syarat untuk mengikuti kepaniteraan klinik periode 2


November 2015 6 Desember 2015 di Departemen Obtetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP dr. Mohammad Hoesin
Palembang.

Palembang,

Januari 2016

dr. Firmansyah, SpOG (K)

ii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan berkah, rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan kasus yang berjudul PERDARAHAN ANTEPARTUM.
Laporan kasus ini disusun sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior
(KKS) Departemen Obstetri dan Ginekologi RSMH Palembang.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.
Firmansyah, SpOG (K) selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan
selama penulisan dan penyusunan laporan kasus ini, serta semua pihak yang telah
membantu hingga selesainya laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan
laporan kasus ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari seluruh pihak agar laporan kasus ini menjadi lebih baik
dan dapat dipertanggungjawabkan. Semoga laporan kasus ini dapat memberikan
manfaat dan tambahan pengetahuan bagi penulis dan pembaca.
Palembang,

Januari 2016
Penulis

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
BAB I

PENDAHULUAN ......................................................................... 1

BAB II

MELANOMA MALIGNA
2.1 Definisi ................................................................................. 3
2.2 Epidemiologi .......................................................................... 4
2.3 Etiologi ................................................................................. 5
2.4 Histopatologi ......................................................................... 6
2.5 Patofisiologi .......................................................................... 7
2.6 Manifestasi Klinis ................................................................. 8
2.7 Diagnosis .............................................................................. 13
2.8 Diagnosis Banding ................................................................ 16
2.9 Evaluasi Metastasis ............................................................... 21
2.10 Tata Laksana ......................................................................... 22
2.11 Prognosis ............................................................................... 26

BAB III PENUTUP ..................................................................................... 27


DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 28
LAMPIRAN .................................................................................................. 29

iv

BAB I
PENDAHULUAN

Derajat kesehatan penduduk merupakan salah satu indikator kualitas sumber


daya manusia. Pencapaian kualitas sumber daya manusia sejak dini sangat
berhubungan dengan proses kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. 1 Salah
satu tantangan dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat adalah masih
tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. 2 AKI merupakan salah satu
parameter kemampuan suatu negara dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat.3 Menurut World Health Organization (2007), pada
tahun 2005 AKI di dunia 400 per 100.000 kelahiran hidup, negara maju AKI 9 per
100.000 kelahiran hidup, dan negara berkembang 450 per 100.000 kelahiran
hidup. Di Afrika AKI 820 per 100.000 kelahiran hidup, Asia 330 per 100.000
kelahiran hidup, Amerika Latin dan Karibia 130 per 100.000 kelahiran hidup, dan
Oceania 430 per 100.000 kelahiran hidup.4
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, AKI di
Indonesia 307 per 100.000 kelahiran hidup, artinya lebih dari 18.000 ibu tiap
tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan
kehamilan, persalinan dan nifas. Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN,
AKI di Indonesia adalah tertinggi. Dapat dilihat pada tahun 2002 AKI di Thailand
44 per 100.000 kelahiran hidup, di Brunai 39 per 100.000 kelahiran hidup, dan di
Myanmar 255 per 100.000 kelahiran hidup.6
Kematian ibu hamil dapat terjadi dengan tiga peristiwa dalam satu
rangkaian, yaitu seorang wanita hamil, menderita komplikasi obstetrik, dan
komplikasi tersebut menyebabkan kematian.8 Tingginya angka kematian ibu
disebabkan oleh trias klasik, yaitu perdarahan, preeklamsia/eklamsia, dan infeksi
yang merupakan penyebab kematian obstetrik secara langsung dimana penyebab
yang paling banyak adalah perdarahan.9 Menurut SKRT 2001, proporsi penyebab
obstetrik langsung 90%, sebagian besar disebabkan oleh perdarahan dengan
proporsi 28%, eklamsia 24%, dan infeksi 11%.10
5

Kasus perdarahan sebagai sebab utama kematian maternal dapat terjadi pada
masa kehamilan, persalinan, dan pada masa nifas. 11 Perdarahan pada kehamilan
harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada masa
kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua
disebut perdarahan antepartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dan
kehamilan tua adalah 28 minggu, mengingat kemungkinan hidup janin di luar
uterus.12 Penyebab perdarahan antepartum antara lain plasenta previa, solusio
plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya.12,13
Di RSU Palembang dilaporkan 429 kasus perdarahan antepartum yang
disebabkan oleh plasenta previa dari 14.765 persalinan (proporsi 2,9%) selama
tahun 1986-1990. Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa di
RSU Banda Aceh tahun 1990 dilaporkan 11 kasus dari 655 persalinan (proporsi
1,7%), sedangkan yang disebabkan oleh solusio plasenta dilaporkan 2 kasus dari
655 persalinan (proporsi 0,3%).14

BAB II
STATUS PASIEN

2.1

2.2

Identifikasi
Nama

: Ny. MRL

Umur

: 24 tahun

Alamat

: Ilir Timur I Palembang

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: WNI

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

MRS

: 16 Desember 2015

No. RM

: 927488

Anamnesis

Keluhan Utama
Hamil kurang bulan dengan perdarahan dari kemaluan.
Keluhan Tambahan
Riwayat Perjalanan Penyakit
3 jam yang lalu os mengeluh perdarahan keluar dari kemaluan banyaknya
1x ganti kain basah warna merah segar, nyeri (-), perut mules menjalar ke
pinggang (-), keluar darah lendir (-), keluar air-air (-), riwayat trauma (-), riwayat
post coitus (-), os lalu ke bidan dan dirujuk ke RSMH, os mengaku hamil kurang
bulan dengan gerakan janin masih dirasakan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat perdarahan sebelumnya disangkal
Riwayat demam disangkal
Riwayat trauma dan perut diurut- urut disangkal
7

Riwayat darah tinggi disangkal


Riwayat kencing manis disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga mengalami keluhan yang sama disangkal
Riwayat Perkawinan
Satu kali, lamanya 3 bulan
Riwayat Penggunaan KB
Belum pernah menggunakan KB.
Riwayat Reproduksi
Menarche

: 12 tahun

Siklus haid

: 28 hari, teratur, lamanya 5 hari

Banyaknya

: 3 kali ganti pembalut

Riwayat Kehamilan Sekarang


HPHT

: 29 April 2013

Taksiran persalinan

:-

Usia kehamilan

:-

Riwayat Persalinan
G1P0A0
Riwayat Sosial Ekonomi
Menengah
2.3

Status Presens

Keadaan Umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg
8

Nadi

: 88 x/m, teratur, tegangan cukup

Laju nafas

: 20 x/m, teratur

Suhu

: 36,50C

Berat Badan

: 48 kg

Tinggi Badan

: 152 cm

Gizi

: baik

Payudara

: hiperpigmentasi -/-

Jantung

: murmur (-), gallop (-)

Paru-paru

: vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-)

Hati dan Lien

: dalam batas normal

Edema Pretibial

: (-)/(-)

Varises

: (-)

Refleks Fisiologis

: (+)/(+)

Refleks Patologis

: (-)/(-)

2.4

Status Obstetri

Pemeriksaan Luar
Inspeksi: datar, lemas
Palpasi:
FUT 4 jari bawah processus xiphoideus (26 cm), memanjang, puki, kepala,
penurunan 5/5, His (-), DJJ 148 x/menit, TBJ 2015 g
Pemeriksaan Dalam
Inspekulo:
Portio livide, OUE tertutup, flour (-), fluksus (+) darah, perdarahan aktif (-), E/L/P
(-)
Vaginal Toucher:
Tidak dilakukan

2.5

Pemeriksaan Penunjang
9

USG (17 Desember 2015)

10

Tampak JTH presentasi kepala

Biometri janin:
BPD 8,4 cm
HC 29,7 cm
AC 28,5 cm
FL 6,0 cm
EFW 1980

Ketuban cukup

Plasenta di corpus posterior, tidak menutupi OUI

Tampak materi echogenic inhomogen ukuran 5,7 x 4,73 (vol. 150 cc) di
muara cervix kemungkinan berasal dari bekuan darah

BPP : FB 2, FT 2, FM 2, ICA 2, NST 2 = 10

Kesan : - Hamil 32 minggu janin tunggal hidup presentasi kepala + BPP 10


- Susp. Hematoma pada muara OUI dd/solutio plasenta
2.6

Diagnosis Kerja
G1P0A0 hamil 32 minggu belum inpartu dengan HAP ec. Susp hematoma

pada muara OUI ec solutio plasenta JTH presentasi kepala


2.7

2.8

Penatalaksanaan
Observasi tanda tanda vital dan perdarahan
Cek lab
IVFD RL gtt xx/m
Inj. Ceftriaxone 2x1 gr
Inj. Dexamethasone 2x6mg
Nifedipine 4x10 mg po
R/ USG konfirmasi
Prognosis

Vitam

: dubia ad bonam

Functionam

: dubia ad bonam
11

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Definisi
Perdarahan antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 28

minggu.12,18 Karena perdarahan antepartum terjadi pada kehamilan di atas 28


minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. 19
Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada trimester ketiga, akan
tetapi tidak jarang juga terjadi sebelum kehamilan 28 minggu karena sejak itu
segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Dengan
bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi, dan
serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus,
pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh
plasenta yang melekat di situ tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding
uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan.12
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan
plasenta. Hal ini disebabkan perdarahan yang bersumber pada kelainan plasenta
biasanya lebih banyak, sehingga dapat mengganggu sirkulasi O2 dan CO2 serta
nutrisi dari ibu kepada janin. Sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada
kelainan plasenta seperti kelainan serviks biasanya relatif tidak berbahaya. Oleh
karena itu, pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu
dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta.11,12
3.2

Klasifikasi
Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta yang secara

klinis biasanya tidak terlalu sukar untuk menentukannya adalah plasenta previa
dan solusio plasenta. Oleh karena itu, klasifikasi klinis perdarahan antepartum
dibagi sebagai berikut:

12

3.2.1 Plasenta Previa


Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada
tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi
sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internum).12,19,20
Klasifikasi plasenta previa dibuat atas dasar hubungannya dengan
ostium uteri internum pada waktu diadakan pemeriksaan. Dalam hal ini
dikenal empat macam plasenta previa, yaitu:
a.

Plasenta previa totalis, apabila seluruh pembukaan jalan lahir (ostium


uteri internum) tertutup oleh plasenta.

b.

Plasenta previa lateralis, apabila hanya sebagian dari jalan lahir


(ostium uteri internum) tertutup oleh plasenta.

c.

Plasenta previa marginalis, apabila tepi plasenta berada tepat pada


pinggir pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal).

d.

Plasenta letak rendah, apabila plasenta mengadakan implantasi pada


segmen bawah uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan
jalan lahir. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas
pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan
lahir.21,22
Penentuan macamnya plasenta previa tergantung pada besarnya

pembukaan jalan lahir. Misalnya plasenta previa marginalis pada


pembukaan 2 cm dapat menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5
cm. Begitu juga plasenta previa totalis pada pembukaan 3 cm dapat menjadi
lateralis pada pembukaan 6 cm. Maka penentuan

macamnya

plasenta

previa harus disertai dengan keterangan mengenai besarnya pembukaan,


misalnya plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm.20
3.2.2 Solusio Plasenta
Istilah lain dari solusio plasenta adalah ablatio plasentae, abruptio
plasentae, accidental haemorrhage dan premature separation of the
normally implanted placenta.19 Solusio plasenta adalah suatu keadaan
dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum

13

janin lahir.12,19 Berdasarkan gejala klinik dan luasnya plasenta yang lepas,
maka solusio plasenta dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu :
a.

Solusio plasenta ringan


Luas plasenta yang terlepas kurang dari 1/4 bagian, perut ibu
masih lemas dan bagian janin mudah teraba, janin masih hidup,
tanda persalinan belum ada, jumlah darah yang keluar biasanya
kurang dari 250 ml, terjadi perdarahan pervaginam berwarna
kehitam-hitaman.

b.

Solusio plasenta sedang


Luas plasenta yang terlepas lebih dari 1/4 bagian tetapi belum
sampai 2/3 bagian, perut ibu mulai tegang dan bagian janin sulit
diraba, jumlah darah yang keluar lebih banyak dari 250 ml tapi
belum mencapai 1000 ml, ibu mungkin telah jatuh ke dalam syok,
janin dalam keadaan gawat, tanda-tanda persalinan biasanya telah
ada dan dapat berlangsung cepat sekitar 2 jam.

c.

Solusio plasenta berat


Luas plasenta yang terlepas telah mencapai 2/3 bagian atau lebih,
uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri, serta bagian
janin sulit diraba, ibu telah jatuh ke dalam syok dan janin telah
meninggal, jumlah darah yang keluar telah mencapai 1000 ml
lebih, terjadi gangguan pembekuan darah dan kelainan ginjal.
Pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemi dan penyempitan
pembuluh darah ginjal.23,24

3.2.3 Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya


Perdarahan anterpartum yang belum jelas sumbernya terdiri dari :
a.

Pecahnya sinus marginalis


Sinus marginalis adalah tempat penampungan sementara darah
retroplasenter.21 Perdarahan ini terjadi menjelang persalinan,
jumlahnya tidak terlalu banyak, tidak membahayakan janin dan
ibunya, karena persalinan akan segera berlangsung. Perdarahan

14

ini sulit diduga asalnya dan baru diketahui setelah plasenta lahir.3
Pada waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit dan
menjelang

pembukaan

lengkap

yang

perlu

dipikirkan

kemungkinan perdarahan karena sinus marginalis pecah.18


b.

Pecahnya vasa previa


Perdarahan yang terjadi segera setelah ketuban pecah, karena
pecahnya pembuluh darah yang berasal dari insersio vilamentosa
(keadaan tali pusat berinsersi dalam ketuban).21,25

3.3

Epidemiologi
3.3.2 Distribusi Frekuensi
Perdarahan antepartum terjadi kira-kira 3% dari semua persalinan,
yang terdiri dari plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang
belum jelas sumbernya.9
Seperti yang dikutip oleh D.Anurogo, Insidence Rate (IR) plasenta
previa di Amerika Serikat terjadi pada 0,3-0,5% dari semua kelahiran.26
Menurut FG Cuningham di Amerika Serikat (1994) ditemukan IR
perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa 0,3% atau 1
dari setiap 260 persalinan.27
Di Indonesia, plasenta previa terjadi pada kira-kira 1 diantara 200
persalinan (IR 0,5%).28 Menurut penelitian HR Soedarto di RSU Uli
Banjarmasin tahun 1998- 2001 tercatat proporsi plasenta previa 82,9% atau
92 kasus dari 111 perdarahan antepartum.29 Di RS Santa Elisabeth Medan
(1999-2003), ME Simbolon menemukan 90 kasus plasenta previa dari 116
kasus perdarahan antepartum (proporsi 77,6%) dengan kematian perinatal
4,4%.16
Perdarahan antepartum yang diakibatkan solusio plasenta di Indonesia
terjadi kira-kira 1 diantara 50 persalinan (IR 2%). 12 Menurut penelitian
Gunawan di RSU Padang (1997) dalam FR Bangun ditemukan proporsi
solusio plasenta 0,48% atau 1 diantara 210 persalinan. 17 Menurut penelitian

15

HR Soedarto di RSU Uli Banjarmasin tahun 1998-2001 tercatat proporsi


solusio plasenta 5,4% atau 6 kasus dari 111 perdarahan antepartum.29
3.3.3 Faktor Determinan
a.

Umur
Umur yang lebih tua dapat meningkatkan kemungkinan

terjadinya perdarahan antepartum.12,19 Dalam kurun reproduksi sehat


dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 2035 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20 tahun memiliki resiko
yang lebih tinggi untuk mengalami perdarahan antepartum karena alat
reproduksi belum sempurna atau matang untuk hamil. Selain itu,
kematangan fisik, mental dan fungsi sosial dari calon ibu yang belum
cukup menimbulkan keragu- raguan jaminan bagi keselamatan
kehamilan yang dialaminya serta perawatan bagi anak yang
dilahirkannya. Sedangkan umur di atas 35 tahun merupakan faktor
yang dapat meningkatkan kejadian perdarahan antepartum karena
proses menjadi tua dari jaringan alat reproduksi dari jalan lahir,
cenderung

berakibat

buruk

pada

proses kehamilan dan

persalinannya.12
Perdarahan antepartum lebih banyak pada usia di atas 35 tahun.
Wanita yang berumur 35 tahun atau lebih mempunyai resiko besar
untuk terkena dibandingkan dengan wanita yang lebih muda.9,18 Di RS
Sanglah Denpasar Bali (2001-2002) ditemukan bahwa resiko plasenta
previa pada wanita dengan umur 35 tahun 2 kali lebih besar
dibandingkan dengan umur <35 tahun. Peningkatan umur ibu
merupakan faktor risiko plasenta previa, karena sklerosis pembuluh
darah arteri kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah
ke endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh lebih
lebar dengan luas permukaan yang lebih besar, untuk mendapatkan
aliran darah yang adekuat.13

16

b. Pendidikan
Ibu yang mempunyai pendidikan relatif tinggi, cenderung
memperhatikan

kesehatannya

dibandingkan

ibu

yang

tingkat

pendidikannya rendah. Dengan pendidikan yang tinggi, diharapkan


ibu

mempunyai

pengetahuan

dan

mempunyai

kesadaran

mengantisipasi kesulitan dalam kehamilan dan persalinannya,


sehingga timbul dorongan untuk melakukan pengawasan kehamilan
secara berkala dan teratur.30
c.

Paritas
Paritas dikelompokkan menjadi empat golongan yaitu:
1)

nullipara, yaitu golongan ibu yang belum pernah melahirkan.

2)

primipara, yaitu golongan ibu yang pernah melahirkan 1 kali.

3)

multipara, yaitu golongan ibu yang pernah melahirkan 2-4 kali.

4)

grandemultipara, yaitu golongan ibu yang pernah melahirkan 5


kali. Frekuensi perdarahan antepartum meningkat dengan
bertambahnya paritas.10,18
Perdarahan antepartum lebih banyak pada kehamilan dengan

paritas tinggi. Wanita dengan paritas persalinan empat atau lebih


mempunyai resiko besar untuk terkena dibandingkan dengan paritas
yang lebih rendah.9,18
Pada paritas yang tinggi kejadian perdarahan antepartum
semakin besar karena endometrium belum sempat sembuh terutama
jika jarak antara kehamilan pendek. Selain itu kemunduran daya lentur
(elastisitas) jaringan yang sudah berulang kali direnggangkan,
kehamilan cenderung menimbulkan kelainan letak atau

kelainan

pertumbuhan plasenta. Akibatnya terjadi persalinan yang disertai


perdarahan yang sanngat berbahaya seperti plasenta previa dan solusio
plasenta.18
Penelitian A.Wardhana dan K.Karkata (2001-2002) di RS
Sanglah Denpasar, Bali menemukan bahwa resiko plasenta previa
pada multigravida 1,3 kali lebih besar dibandingkan primigravida. 13

17

Penelitian FR Bangun di RSU Dr.Pirngadi Medan selama kurun waktu


2001- 2004 dengan desain case series menemukan proporsi paritas
kelompok resiko rendah 76,2% atau 96 orang dari 126 penderita
perdarahan antepartum, sedangkan pada kelompok resiko tinggi
23,8% atau 30 orang dari 126 penderita perdarahan antepartum.17
d. Riwayat kehamilan dan persalinan terdahulu
Riwayat kehamilan dan persalinan yang dialami oleh seorang
ibu juga merupakan resiko tinggi dalam terjadinya perdarahan
antepartum. Cedera dalam alat kandungan atau jalan lahir dapat
ditimbulkan oleh proses kehamilan terdahulu dan berakibat buruk
pada kehamilan yang sedang dialami. Hal ini dapat berupa keguguran,
bekas persalinan berulang dengan jarak pendek, bekas operasi (seksio
cesarea) atau bekas kuretase.19
Menurut penelitian A.Wardhana dan K.Karkata di RS Sanglah
Denpasar, Bali selama tahun 2001-2002 menemukan bahwa resiko
plasenta previa pada wanita dengan riwayat abortus adalah 4 kali lebih
besar dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus.13
Pasien dengan plasenta previa menghadapi 4-8% resiko terkena
plasenta previa pada kehamilan berikutnya. Kejadian solusio plasenta
juga meningkat di kalangan mereka yang pernah menderita solusio
plasenta (rekurensi). Setiap pasien dengan riwayat solusio plasenta
harus dipertimbangkan mempunyai resiko pada setiap kehamilan
berikutnya.28
e.

Kadar Hb
Pada kehamilan anemia relatif terjadi karena volume darah

dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya


pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah tersebut mulai
bertambah jelas pada minggu ke-16 dan mencapai puncaknya pada
minggu ke-32 sampai ke-34 yaitu kira-kira 25%. Meskipun ada
peningkatan dalam volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi

18

penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga konsentrasi


haemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah.12
Menurut WHO ( 1979 ) kejadian anemia ibu hamil berkisar
antara 20% sampai 89% dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai
dasarnya.12 Ibu hamil yang menderita anemia lebih peka terhadap
infeksi dan lebih kecil kemungkinan untuk selamat dari perdarahan
atau penyakit lain yang timbul selama hamil dan melahirkan. Saat ibu
mengalami perdarahan banyak, peredaran darah ke plasenta menurun.
Hal ini menyebabkan penerimaan oksigen oleh darah janin berkurang
yang pada akhirnya menyebabkan hipoksia janin.14
f.

Tekanan darah
Hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan atau yang kronik

tidak jarang ditemukan pada wanita hamil. Hipertensi pada kehamilan


adalah apabila tekanan darahnya antara 140/90 mmHg sampai
160/100 mmHg. Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi
kehamilan sebagai salah satu trias klasik yang merupakan penyebab
kematian ibu. Selain itu, pasien dengan penyakit hipertensi kehamilan
memiliki resiko pelepasan plasenta prematur.32
3.4

Gambaran Klinis
Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada trimester ketiga atau

setelah kehamilan 28 minggu. Perdarahan antepartum yang bersumber pada


kelainan plasenta, yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk
menentukannya ialah plasenta previa dan solusio plasenta.
Perdarahan antepartum tanpa rasa nyeri merupakan tanda khas plasenta
previa, apalagi jika disertai tanda-tanda lainnya seperti bagian terbawah janin
belum masuk ke dalam pintu panggul atas atau kelainan letak janin. Karena tanda
pertamanya adalah perdarahan, pada umumnya penderita akan segera datang
untuk mendapatkan pertolongan. Beberapa penderita yang mengalami perdarahan
sedikit-sedikit, mungkin tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan
pertolongan

karena

dianggap

sebagai

19

tanda

persalinan

biasa.

Setelah

perdarahannya

berlangsung banyak,

mereka

datang untuk mendapatkan

pertolongan.
Lainnya halnya dengan solusio plasenta, kejadiannya tidak segera ditandai
oleh perdarahan pervaginam sehingga penderita tidak segera datang untuk
mendapatkan pertolongan. Gejala pertamanya adalah rasa nyeri pada kandungan
yang makin lama makin hebat dan berlangsung terus menerus. Rasa nyeri yang
terus-menerus ini sering kali diabaikan atau dianggap sebagai tanda permulaan
persalinan biasa. Setelah penderita pingsan karena perdarahan retroplasenter yang
banyak, atau setelah tampak perdarahan pervaginam, mereka datang untuk
mendapatkan pertolongan. Pada keadaan demikian biasanya janin telah meninggal
dalam kandungan.
Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh sinus marginalis, biasanya
tanda dan gejalanya tidak khas. Vasa previa baru menimbulkan perdarahan setelah
pecahnya selaput ketuban. Perdarahan yang bersumber pada kelainan serviks dan
vagina biasanya dapat diketahui apabila dilakukan pemeriksaan dengan spekulum
yang seksama. Kelainan-kelainan yang mungkin tampak adalah erosio portionis
uteris, carcinoma portionis uteris, polypus cervicis uteri, varices vulva, dan
trauma.
3.5

Diagnosis
Pada setiap perdarahan antepartum, pertama sekali harus dicurigai bahwa

hal itu bersumber dari kelainan plasenta, dengan penyebab utama yaitu plasenta
previa dan solusio plasenta sampai ternyata dugaan itu salah. Diagnosis
ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan:
3.5.1 Anamnesis
Plasenta Previa
a. Perdarahan pervaginam yang tanpa nyeri.
b. Warna darah merah terang.
Solusio Plasenta
a. Perdarahan pervaginam disertai sakit terus-menerus.
b. Warna darah merah gelap disertai bekuan-bekuan darah.

20

3.5.2 Inspeksi
a. Perdarahan yang keluar pervaginam.
b. Pada perdarahan yang banyak ibu tampak anemia.
3.5.3 Pemeriksaan fisik ibu
a. Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok.
b. Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
c. Pada pemeriksaan dapat dijumpai tekanan darah, nadi, dan
perdarahan.
3.5.4 Palpasi Abdomen
Plasenta Previa
a. Tinggi Fundus Uteri (TFU) masih normal
b. Uterus teraba lunak dan lembut
c. Bagian janin mudah diraba
Solusio Plasenta
a.

TFU tambah naik karena terbentuknya hematoma retroplasenter.

b.

Uterus teraba tegang dan nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.

c.

Bagian janin susah diraba karena uterus tegang.19

3.5.5 Auskultasi Denyut Jantung Janin (DJJ)


Plasenta previa: bila keadaan janin masih baik, DJJ mudah didengar
Solusio plasenta: sulit karena uterus tegang.
3.5.6 Pemeriksan inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan
berasal dari uterus atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio
porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises
vulva dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari uterus, adanya plasenta
previa dan solusio plasenta harus dicurigai.
3.5.7 Penentuan letak plasenta tidak langsung
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan
dengan radiografi, radioisotop dan ultrasonografi.

21

3.5.8 Penentuan letak plasenta secara langsung


Untuk menegakkan diagnosa yang tepat maka dilakukan pemeriksaan
dalam yang secara langsung meraba plasenta. Pemeriksaan dalam harus
dilakukan di atas meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan
operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban.12
3.6

Pencegahan
3.6.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah upaya untuk mempertahankan kondisi
orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Pengawasan antenatal memegang peranan yang sangat penting untuk
mengetahui dan mencegah kasus-kasus dengan perdarahan antepartum.
Beberapa pemeriksaan dan perhatian yang biasa dilakukan pada pengawasan
antenatal yang dapat mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi ialah
pemeriksaan kehamilan, pengobatan anemia kehamilan, menganjurkan ibu
untuk bersalin di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan lainnya,
memperhatikan kemungkinan adanya kelainan plasenta dan mencegah serta
mengobati penyakit hipertensi menahun dan preeklamsia.12
Program kesehatan ibu di Indonesia menganjurkan agar ibu hamil
memeriksakan kehamilannya paling sedikit 4 kali, dengan jadwal 1
kunjungan pada trimester pertama, 1 kunjungan pada trimester kedua, dan 2
kunjungan pada trimester ketiga. Tetapi apabila ada keluhan, sebaiknya
petugas kesehatan memberikan penerangan tentang cara menjaga diri agar
tetap sehat dalam masa hamil. Perlu juga memberikan penerangan tentang
pengaturan jarak kehamilan, serta cara mengenali tanda-tanda bahaya
kehamilan seperti : nyeri perut, perdarahan dalam kehamilan, odema, sakit
kepala terus-menerus, dan sebagainya.32
Para ibu yang menderita anemia dalam kehamilan akan sangat rentan
terhadap infeksi dan perdarahan. Kematian ibu karena perdarahan juga lebih
sering terjadi pada para ibu yang menderita anemia kehamilan sebelumnya.
Anemia dalam kehamilan, yang pada umumnya disebabkan oleh defisiensi

22

besi, dapat dengan mudah diobati dengan jalan memberikan preparat besi
selama kehamilan. Oleh karena itu, pengobatan anemia dalam kehamilan
tidak boleh diabaikan untuk mencegah kematian ibu apabila nantinya
mengalami perdarahan. Walaupun rumah sakit yang terdekat letaknya jauh,
para ibu hamil yang dicurigai akan mengalami perdarahan antepartum
hendaknya diusahakan sedapat mungkin untuk mengawasi kehamilannya
dan bersalin di rumah sakit tersebut.
Untuk kehamilan dengan letak janin yang melintang dan sukar
diperbaiki atau bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul pada
minggu-minggu terakhir kehamilan, dapat juga dicurigai kemungkinan
adanya plasenta previa. Preeklamsia dan hipertensi menahun sering kali
dihubungkan dengan terjadinya solusio plasenta. Apabila hal ini benar,
diperlukan pencegahan dan pengobatan secara seksama untuk mengurangi
kejadian solusio plasenta.12
3.6.2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah orang yang telah
sakit menjadi semakin parah dan mengusahakan agar sembuh dengan
melakukan tindakan pengobatan yang cepat dan tepat.
Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 28 minggu yang lebih
banyak dari perdarahan yang biasa, harus dianggap sebagai perdarahan
antepartum. Apapun penyebabnya, penderita harus segera dibawa ke rumah
sakit yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah dan operasi. Jangan
melakukan pemeriksaan dalam di rumah atau di tempat yang tidak
memungkinkan tindakan operatif segera, karena pemeriksaan itu dapat
menambah banyaknya perdarahan.
Pemasangan tampon dalam vagina tidak berguna sama sekali untuk
menghentikan perdarahan, tetapi akan menambah perdarahan karena
sentuhan pada serviks sewaktu pemasangannya.
Perdarahan yang terjadi pertama kali jarang sekali atau boleh
dikatakan tidak pernah menyebabkan kematian, asalkan sebelumnya tidak

23

dilakukan pemeriksaan dalam. Biasanya masih terdapat cukup waktu untuk


mengirimkan penderita ke rumah sakit sebelum terjadi perdarahan
berikutnya yang hampir selalu akan lebih banyak daripada sebelumnya.
Ketika penderita belum jatuh ke dalam syok, infus cairan intravena
harus segera dipasang dan dipertahankan terus sampai tiba di rumah sakit.
Memasang jarum infus ke dalam pembuluh darah sebelum syok akan jauh
lebih memudahkan transfusi darah apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Segera setelah tiba di rumah sakit, usaha pengadaan darah harus
segera dilakukan, walaupun perdarahannya tidak seberapa banyak.
Pengambilan contoh darah penderita untuk pemeriksaan golongan darahnya
dan pemeriksaan kecocokan dengan darah donornya harus segera dilakukan.
Dalam keadaan darurat pemeriksaan seperti itu mungkin terpaksa ditunda
karena tidak sempat dilakukan sehingga terpaksa langsung mentransfusikan
darah yang golongannya sama dengan golongan darah penderita, atau
mentransfusikan darah golongan O rhesus positif, dengan penuh kesadaran
akan segala bahayanya.
Pertolongan selanjutnya di rumah sakit tergantung dari paritas, tuanya
kehamilan, banyaknya perdarahan, keadaan ibu, keadaan janin, sudah atau
belum mulainya persalinan dan diagnosis yang ditegakkan.12
Apabila pemeriksaan baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup,
belum inpartum, kehamilan belum cukup 37 minggu, atau berat janin masih
dibawah 2500 gram, maka kehamilan dapat dipertahankan dan persalinan
ditunda sampai janin dapat hidup di luar kandungan dengan lebih baik lagi.
Tindakan medis pada pasien dilakukan dengan istirahat dan pemberian obatobatan seperti spasmolitika, progestin, atau progesteron.19
Sebaliknya jika perdarahan yang telah berlangsung atau yang akan
berlangsung dapat membahayakan ibu dan/atau janinnya, kehamilan juga
telah mencapai 37 minggu, taksiran berat janin telah mencapai 2500 gram,
atau persalinan telah mulai, maka tindakan medis secara aktif yaitu dengan
tindakan persalinan segera harus ditempuh. Tindakan persalinan dapat

24

dilakukan dengan dua cara, yaitu persalinan pervaginam dan persalinan


perabdominam dengan seksio cesarea.12,19,20
Pada plasenta previa, persalinan pervaginam dapat dilakukan pada
plasenta letak rendah, plasenta marginalis, atau plasenta previa lateralis
anterior

(janin

dalam

presentasi

kepala).

Sedangkan

persalinan

perabdominam dengan seksio cesarea dilakukan pada plasenta previa totalis,


plasenta previa lateralis posterior, dan plasenta letak rendah dengan janin
letak sungsang.
Pada solusio plasenta, dapat dilakukan persalinan perabdominam jika
pembukaan belum lengkap. Jika pembukaan telah lengkap dapat dilakukan
persalinan pervaginam dengan amniotomi (pemecahan selaput ketuban),
namun bila dalam 6 jam belum lahir dilakukan seksio cesarea.19
Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan
plasenta dan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung,
sehingga perdarahan berhenti. Seksio cesarea bertujuan untuk secepatnya
mengangkat sumber perdarahan, dengan demikian memberikan kesempatan
kepada uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan dan untuk
menghindari perlukaan serviks dari segmen bawah uterus yang rapuh.12

25

BAB IV
PEMBAHASAN

Seorang ibu, usia 24 tahun, datang dengan keluhan perdarahan dari


kemaluan pada usia kehamilan 32 minggu. Perdarahan yang terjadi setelah
kehamilan 28 minggu dikenal dengan perdarahan antepartum. Perdarahan
antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta. Hal ini
disebabkan perdarahan yang bersumber pada kelainan plasenta biasanya lebih
banyak, sehingga dapat mengganggu sirkulasi O2 dan CO2 serta nutrisi dari ibu
kepada janin. Sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta
seperti kelainan serviks biasanya relatif tidak berbahaya. Oleh karena itu, pada
setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu
bersumber pada kelainan plasenta, yaitu plasenta previa atau solusio plasenta.
Beberapa faktor risiko terjadinya perdarahan antepartum adalah faktor
usia, pendidikan, paritas, riwayat persalinan terdahulu. Selain itu, juga terdapat
kemungkinan hipertensi maternal, trauma, merokok, konsumsi alkohol dan faktor
seperti tali pusat pendek, dekompresi uterus tiba-tiba, KPD, perdarahan
retroplasental hingga penyebab yang tidak diketahui. Pada anamnesis tidak
didapati faktor risiko ibu, kemungkinan penyebab idiopatik. Pada pemeriksaan
fisik, didapati portio livide, OUE tertutup, flour (-), fluksus (+) darah merah segar,
tapi tidak perdarahan aktif.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium.
Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi hemodilusi. Hapusan darah
tepi menunjukkan penurunan trombosit, adanya schistosit menunjukkan sudah
terjadinya proses koagulasi intravaskular. Penurunan kadar fibrinogen dan
pelepasan hasil degradasi fibrinogen. Pemeriksaan lab khusus antara lain
Prothrombine time, Partial thromboplastine time, jumlah trombosit, kadar
fibrinogen, dan kadar fibrinogen degradation product. Kita mengkonfirmasi

diagnosis dengan USG, yang dimana didapati tampak materi echogenic


inhomogen ukuran 5,7 x 4,73 (vol. 150 cc) di muara cervix kemungkinan berasal
dari bekuan darah, yaitu suspek hematoma pada muara OUI, kemungkinan oleh
sebab solusio plasenta.

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.
5.

6.

7.
8.
9.
10.

11.
12.
13.
14.
15.

Dinkes Propinsi Sumatera Utara, 2004. Profil Kesehatan Provinsi


Sumatera Utara Tahun 2005. Medan.
Djaja, S., 2005. The Determinant of Maternal Morbidity in
Indonesian.WHO South East Asia New Region vol 4 number 1 and 2.
New Delhi.
Manuaba, IBG., 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Penerbit Arcan, Jakarta.
WHO, 2007. Maternal Mortality in 2005. http://www.who.int. Diakses
pada tanggal 18 April 2009.
Sarumpaet, S., 2000. Pengaruh Kondisi Fisik dan Riwayat Persalinan
Ibu Terhadap Terjadinya Persalinan Beresiko di Rumah Sakit di
Kotamadya Medan dan Sekitarnya, Majalah Info Kesehatan FKM
USU, No.6, April 2000.
Suyono, dkk, 2008. Hubungan Antara Ibu Hamil dengan Frekuensi
Solusio
Plasenta
di
RSUD
Dr.Moewardi
Surakarta.
http://www.kalbe.co.id. Cermin Dunia Kedokteran vol 34 no.5/158
Sep-Okt 2007. Diakses pada tanggal 5 Februari 2009.
Dinkes Kota Medan, 2003. Profil Kesehatan Kota Medan Tahun
2002, Medan.
Koblinsky, M., 1997. Kesehatan Wanita, Sebuah Perspektif Global,
UGM Press, Yogyakarta.
Royston, E.,dkk., 1994. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Penerbit
Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Rukmini, LK, 2008. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah
Sakit: Studi di RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman, RSUD
Sikka,
RSUD
Larantuka
dan
RSUD
Serang,
2005.
http://www.kalbe.co.id. Cermin Dunia Kedokteran vol 34 no.5/158
Sep-Okt 2007. Diakses pada tanggal 11 Februari 2009.
Tarigan, D., 1994. Perdarahan Selama Kehamilan. Bagian Anatomi
FK USU, Medan.
Winkjosastro, H., 1999. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga cetakan V.
Penerbit Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
Wardana, A., dan Karkata, K., 2008. Faktor Resiko Plasenta Previa.
http://www.kalbe.co.id. Cermin Dunia Kedokteran vol 34 no.5/158
Sep-Okt 2007. Diakses pada tanggal 11 Februari 2009.
Chalik, TMA., 1997. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi.
Penerbit Widya Medika, Jakarta.
Erlina, 2008. Karakteristik Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan
Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekan Baru Periode 1 Januari
2002-31 Desember 2006. http://kuliahbidan.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 5 Februari 2009.

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.

Simbolon, ME., 2004. Karakteristik Penderita Perdarahan


Antepartum yang Dirawat Inap di RS Santa Elisabeth Medan
Tahun 1999- 2003. Skripsi FKM USU, Medan.
Bangun, FR., 2005. Karakteristik Ibu Penderita Perdarahan
Antepartum Rawat Inap di Badan Pelayanan RSU Dr.Pirngadi
Medan Tahun 2001-2004. Skripsi FKM USU, Medan.
Manuaba, IBG., 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit EGC,
Jakarta.
Mochtar, R., 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Jilid 1 dan 2.
Edisi II. Penerbit EGC, Jakarta.
Sastrawinata, S., 1984. Obstetri Patologi. Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK UNPAD, Bandung.
Pritchard, Mc., 1991. Obstetri Williams. Edisi 17. Penerbit EGC, Jakarta.
Manuaba, IBG., 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin
Obstetri Ginekologi dan KB. Penerbit EGC, Jakarta.
Schwartz, R.H., 1997. Catatan Kuliah Kedaruratan Obstetri. Edisi
Ketiga. Penerbit Widya Medika, Jakarta.
Saifuddin, A.B., 1991. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan
Ginekologi. Bagian I. Penerbit FK UI, Jakarta.
Manuaba, IBG., 1993. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan
Ginekologi. Penerbit EGC, Jakarta.
Anurogo, D., 2008. Tips Praktis Mengenali Plasenta Previa.
http://kuliahbidan.wordpress.com. Diakses pada tanggal 11 Februari
2009.
Cuningham, FG., 1993. Obstetri Haemorrhage in : William Obstetri
Appleton Century Crarfts, USA.
Hacker, Moore, 2001. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Edisi II.
Penerbit Hipokrates, Jakarta.
Soedarto, HR., 2002. Gambaran Epidemiologik Penderita Komplikasi
Kehamilan di Bangsal Bersalin RSUD Ulin Banjarmasin 1998-2001.
Dexa Media Vol.15, No.4. Jakarta
Christina, I, 1996. Sejarah Kebidanan : Perawatan Kebidanan
Sebelum Melahirkan. Jilid I. Penerbit Bratara, Jakarta.
Sastrawinata, S., 1983. Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK UNPAD, Bandung.
Albertus, J., 1993. Pendekatan Kehamilan Resiko Tinggi. Majalah
Medika No.8. Jakarta.
Sastroasmoro, S., Ismael, S., 2002. Dasar-Dasar Metodologi
Penelitian Klinis. Penerbit Sagung Seto, Jakarta.
RS St. Elisabeth Medan, 2007. Profil Rumah Sakit St. Elisabeth
Medan Tahun 2007. Medan
Gultom, A. 2002. Karakteristik Penderita Plasenta Previa yang
Dirawat Inap di RSU dr.Pirngadi Medan Tahun 1999-2001. Skripsi
FKM USU Medan.
Syaebani, MR. 2008. Gambaran Perdarahan Antepartum di RSUD

dr. Soebandi Jember Periode 1 Januari-2004-31 Desember 2005.


http://www.library.unej.ac.id. Diakses pada tangggal 1 Juni 2009.