Anda di halaman 1dari 191

KONSTRUKSI SOSIAL PERILAKU MEMBOLOS

DI KALANGAN PESERTA DIDIK


SMA NEGERI 6 SURAKARTA

SKRIPSI

Oleh :
NINING LISNAWATI
K8411052

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
JUNI 2015

ii

KONSTRUKSI SOSIAL PERILAKU MEMBOLOS


DI KALANGAN PESERTA DIDIK
SMA NEGERI 6 SURAKARTA

Oleh:
NINING LISNAWATI
K8411052

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar
Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
JUNI 2015

iii

iv

ABSTRAK
Nining Lisnawati. NIM K8411052. KONSTRUKSI SOSIAL PERILAKU
MEMBOLOS DI KALANGAN PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6
SURAKARTA. Skripsi: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Juni 2015.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi, bentuk-bentuk dan
faktor yang menyebabkan perilaku membolos di kalangan peserta didik.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Surakarta dengan subyek penelitian
peserta didik yang berperilaku membolos.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi
fenomenologi. Sumber data berasal dari wawancara mendalam, observasi dan
dokumen. Wawancara dilakukan terhadap 9 informan kunci yaitu peserta didik
yang pernah atau masih berperilaku membolos dan informan pendukung adalah
petugas Satuan Tugas Pelaksana Kegiatan Kesiswaan (STP2K), Guru Bimbingan
Konseling (BK), ibu Kantin dan teman informan kunci. Observasi dilakukan di
kantin, warung mbak Yanti dan Strong Family dengan dokumen berupa tata tertib
peserta didik, rekapitulasi kehadiran dan status Blackberry Messanger (BBM)
peserta didik. Teknik pengambilan informan menggunakan purposive dan
validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode. Teknik
analisis data menggunakan model analisis interaktif yang terdiri dari
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi peserta didik
mengenai perilaku membolos yaitu sebagai hal yang biasa, wajar dan
menyenangkan apabila dilakukan bersama teman. Bentuk-bentuk perilaku
membolos antara lain: membolos seharian penuh (mbolos) dan membolos parsial
(colut). Faktor-faktor yang menyebabkan peserta didik berperilaku membolos dari
perspektif pelakunya antara lain: (1) Malas, (2) Fanatisme terhadap sepak bola, (3)
Permasalahan dengan keluarga atau teman, (4) Menghindari tugas, (5)
Menghindari atau bosan dengan pelajaran, (6) terlambat datang ke sekolah, (7)
Bullying, dan (8) Ajakan teman.
Simpulan dari penelitian ini adalah konstruksi sosial perilaku membolos di
kalangan peserta didik adalah sebagai hal yang biasa dan wajar. Perilaku
membolos dianggap biasa dan wajar karena telah mengalami pembiasaan
(habitualisasi) dan tipifikasi sehingga memperoleh sifat obyektif, yang selanjutnya
akan di internalisasi ke dalam diri individu sebagai realitas subyektif. Konstruksi
tersebut dipengaruhi oleh lingkungan teman, sekolah dan keluarga.

Kata kunci : Konstruksi, sosial, perilaku, membolos, sekolah

vi

ABSTRACT
Nining Lisnawati. NIM K8411052. SOCIAL CONSTRUCTION ON THE
TRUANT BEHAVIOR OF THE STUDENTS OF SMA NEGERI 6
SURAKARTA. Thesis: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret
University Surakarta, June 2015.
The objective of this research is to find the perception, the types, and the
factors causing truant behavior of students. This research was carried out in SMA
Negeri 6 Surakarta with the students with truant behavior as the subject.
This research applied qualitative approach with phenomenology strategy.
The data was obtained through deep interview, observation, and document. The
interview was conducted to 9 main informants,consisting of the students with
truant behavior, whether in the past or in the present present and to several
supporting informants as follows: the staff ofSatuan Tugas Pelaksana Kegiatan
Kesiswaan (STP2K), the guidance and counseling teacher, the canteen keeper, and
the main informants friends. The observation was conductedat the canteen,
warung mbak Yanti and Strong Family with the document consisting the students
discipline book, the recapitulation of the presence list, and the students
Blackberry Messenger (BBM) statuses. This research applied purposive technique
in collecting the informants and the validity of the data was obtained from the
source triangulation and the method triangulation. The technique of analyzing the
data used was interactive analysis which consisted of the data collection, data
reduction, data display, and conclusion drawing.
The result of the research shows that the perception of the students about
truant behavior is a usual, common, and fun thing if it is done with friends. The
types of truant are school skipping (mbolos) and partial skipping (colut). Factors
causing the truant behaviors of the students viewed from the subjects perspective
are as follows: (1) laziness, (2) soccer fanaticism, (3) problems with family or
friends, (4) avoiding task, (5) avoiding lesson or boredom on certain lesson, (6)
coming late to the school, (7) bullying, and (8) friends invitation.
Based from the result of the research, it can be concluded that the social
construction on the truant behavior of the students is a usual and common thing.
Truant behavior is categorized as a usual and common thing because it has been
habituated and typified so that the objectivity is obtained, which is then being
internalized into the individual as the subjective reality. This construction is
affected by the environment including friends, school and family.

Key words : Social, construction, behavior, truant, school

vii

MOTTO

Niscaya Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan


orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat
(Q.S. Mujadalah: 11)

Bila kamu tak tahan pahitnya belajar, maka kamu akan menanggung pahitnya
kebodohan
(Imam Syafii)

Waktu adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan, maka pergunakanlah dengan
bijak
(peneliti)

viii

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu


Ku persembahkan karya ini untuk :
1. Orang tua saya, Bapak Sutoyo dan Ibu
Watiningsih yang telah mencintai dengan
setulus hati, mendukung dan mendoakan di
setiap langkah saya.
2. Nenek saya tercinta, Alm Ibu Samirah yang
telah

merawat

dan

mengajarkan

arti

kehidupan. Terima kasih telah menjadi nenek


terbaik dalam hidup saya.
3. Orang Tua kedua saya, Bapak Martono dan
Ibu Juminem yang telah merawat semenjak
kecil. Terima kasih untuk kasih sayang,
semangat, dan doa yang tiada henti.
4. Kedua adik saya, Afifah Sintawati dan Agil
Tamam

Saputra

yang

selalu

penyemangat di setiap langkah saya.


5. Almamater

ix

menjadi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang
memberi ilmu, inspirasi, dan kemulian. Atas kehendak-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul KONSTRUKSI SOSIAL PERILAKU
MEMBOLOS DI KALANGAN PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6
SURAKARTA.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk
mendapatkan gelar

Sarjana

pada

Program

Studi

Pendidikan Sosiologi

Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.


Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan,

dan

pengarahan

dari

berbagai

pihak.

Untuk

itu,

penulis

menyampaikan terima kasih kepada:


1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Pendidikan Sosiologi Antropologi Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
4. Dr.rer.nat. Nurhadi, S.Ant., M.Hum., selaku Pembimbing I dan Atik Catur
Budiati, S. Sos, M. A., selaku pembimbing II yang selalu memberikan
motivasi, bimbingan dan saran dalam penyusunan skripsi.
5. Drs. Haryono M.Si., selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan
arahan dan bimbingan selama menjadi mahasiswa Program Pendidikan
Sosiologi Antropologi.
6. Kepala SMA Negeri 6 Surakarta yang telah memberikan izin untuk
melaksanakan penelitian.
7. Bapak/Ibu guru SMA Negeri 6 Surakarta yang telah membantu dalam
penyusunan skripsi ini.

8. Peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta, khusunya para Informan yang telah
bersedia meluangkan waktu demi membantu melancarkan pengerjaan skripsi
ini.
9. Rindang Lesdian Safitri yang selalu memberikan semangat dan motivasi
kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-temanku tersayang di U.S.A (United Sari Asih), Nia, Kiki, Ipul dan
Intan. Terimakasih untuk kebersamaan, keceriaan, kekonyolan dan dukungan
kalian selama ini.
11. Sahabat-sahabatku Uluners (Erwina, Dian, Desra, Reni, Anita, Dyah, Ratih,
Bachtiar dan Najib), terima kasih untuk dukungan, canda tawa dan pelajaran
hidup yang telah kalian beri selama ini.
12. Terima Kasih kepada Imung, Esti, Pong Vera, Anton dan Ganda yang telah
memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini. Untuk Sahabatku Nurul F
dan Gebang, terimakasih atas semangat dan motivasi yang telah diberikan.
13. Teman-teman seperjuanganku, Pendidikan Sosiologi Antropologi 2011 yang
telah memberikan warna dan kecerian selama ini.
14. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, terima kasih.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu tegur sapa yang konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan
untuk perbaikan karya tulis berikutnya.

Surakarta, 17 Juni 2015

Peneliti

xi

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................................i
HALAMAN PERNYATAAN ...................................................................................ii
HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI .......................................................................iii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................................v
HALAMAN ABSTRAK ............................................................................................vi
HALAMAN ABSTRACT .........................................................................................vii
HALAMAN MOTTO ................................................................................................viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ix
KATA PENGANTAR ...............................................................................................x
DAFTAR ISI ..............................................................................................................xii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................................xiiv
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ..............................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................4
C. Tujuan Penelitian .........................................................................................4
D. Manfaat Penelitian .......................................................................................5
BAB II KAJIAN PUSTAKA .....................................................................................6
A. Kajian Teori Dan Hasil Penelitian yang Relevan ........................................6
1. Perilaku Membolos ...............................................................................6
a. Tinjauan tentang Perilaku Membolos ............................................6
b. Tinjauan Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Membolos .................8
1) Faktor Internal ........................................................................8
2) Faktor Eksternal ......................................................................10
2. Konstruksi Sosial Perilaku Membolos ..................................................14
B. Penelitian yang Relevan ...............................................................................20
C. Kerangka Berfikir ........................................................................................21

xii

Halaman
BAB III METODE PENELITIAN.............................................................................23
A. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................23
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian ..................................................................24
C. Data dan Sumber Data .................................................................................25
D. Teknik Sampling (Cuplikan)........................................................................27
E. Pengumpulan Data .......................................................................................28
F. Uji Validasi Data..........................................................................................30
G. Analisis Data ................................................................................................32
H. Prosedur Penelitian ......................................................................................34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...........................................36
A. Deskripsi Lokasi Penelitian .........................................................................36
B. Deskripsi Temuan Penelitian .......................................................................41
1. Persepsi Membolos di Kalangan Peserta Didik ....................................43
2. Bentuk-Bentuk Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik ..........49
a. Mbolos ...........................................................................................49
b. Colut ..............................................................................................56
3. Faktor-Faktor Penyebab Peserta Didik Berperilaku Membolos ...........63
a. Malas..............................................................................................63
b. Fanatisme terhadap Sepak Bola .....................................................66
c. Permasalahan dengan Keluarga atau Teman .................................68
d. Menghindari Tugas ........................................................................71
e. Menghindari atau Bosan dengan Pelajaran ....................................72
f. Terlambat datang ke Sekolah.........................................................74
g. Bullying .........................................................................................75
h. Ajakan Teman ................................................................................77
C. Temuan Hasil Penelitian dihubungkan dengan Kajian Teori ......................79
1. Konstruksi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik .................79
2. Pengaruh Lingkungan Sosial (Teman, Sekolah, Keluarga) terhadap
Konstruksi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik .................81
3. Mbolos dan Colut sebagai Hal yang Biasa ...........................................87

xiii

Halaman
4. Internalisasi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik ...............91
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ....................................................94
A. Simpulan ......................................................................................................94
B. Implikasi ......................................................................................................94
C. Saran ............................................................................................................96
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................98
LAMPIRAN

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.1 Data kasus membolos sekolah peserta didik SMA N 6 Surakarta .......................3
3.1 Jadwal kegiatan penelitian ...................................................................................23
4.1 Jumlah Peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta....................................................38

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Kerangka Berpikir ................................................................................................22


3.1 Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif ........................................33

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Data Ketidakhadiran Peserta Didik ..................................................................101


2. Pedoman Wawancara........................................................................................102
3. Field note ..........................................................................................................106
4. Hasil Observasi .................................................................................................162
5. Foto ...................................................................................................................167
6. Surat Permohonan Izin Penyusunan Skripsi .....................................................169
7. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian ..................................................173

xvii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Membolos merupakan fenomena yang kerapkali ditemui dalam dunia
pendidikan di Indonesia. Membolos sekolah seakan menjadi suatu hysteria massal
yang selalu muncul dan belum terselesaikan. Hal ini terlihat dari temuan Satuan
Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di berbagai daerah yang seringkali merazia
peserta didik yang membolos sekolah. Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP,
Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi (Dishubinfokom), Dinas
Pendidikan (Disdik), Polres dan Kodim 1726 Sukoharjo pada tanggal 12 Mei
2014 menangkap 8 peserta didik yang membolos sekolah. Peserta didik tersebut
terdiri dari 5 peserta didik SMA dan 3 SMP yang ditangkap ketika sedang
bermain internet di Warnet daerah Kartasura dan Baki. Mereka dilepaskan setelah
mendapat pembinaan dari petugas agar tidak mengulangi perbuatan membolos
(Solopos.com, edisi 13 Mei 2014).
Sebulan setelah itu, yakni pada tanggal 17 Juni 2014 Satuan Polisi Pamong
Praja (Satpol PP) Sukoharjo menangkap 35 peserta didik dari jenjang SMP, SMA
dan SMK yang membolos. Peserta didik yang terdiri dari 22 orang laki-laki dan
13 orang perempuan ini terjaring razia ketika sedang bermain di warung internet
dan tempat wisata Waduk Mulur. Mereka diperbolehkan pulang setelah mendapat
peringatan keras dan membuat surat pernyataan. Menurut Sutarmo, kepala Satpol
PP Sukoharjo razia dilakukan karena masyarakat merasa resah dengan aktivitas
peserta didik yang membolos bahkan melakukan tindakan-tindakan mesum di
warnet-warnet wilayah kecamatan Sukoharjo dan Bendosari (Solopos.com, edisi
17 Juni 2014).
Kasus serupa terjadi pula di kota Solo, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol
PP) kota Solo menangkap 16 peserta didik yang membolos. Peserta didik tersebut
tertangkap ketika sedang bermain game online di warung internet dan rumah
makan di daerah Jagalan. Mereka yang terjaring razia adalah peserta didik SMK
dan SMP di kota Solo (Solopos.com, edisi 4 September 2014).

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Wenny Graciani (2011),


perilaku membolos disebabkan oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri sendiri, diantaranya:
malas mengikuti pelajaran dikelas, tidak suka pada mata pelajaran dan guru
pelajaran tertentu, belum mengerjakan tugas atau PR, tidak memiliki alat
transpotasi ke sekolah, masalah keluarga dan terlambat masuk sekolah.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri sendiri, seperti
pola asuh orang tua, teman sebaya dan sekolah. Berdasarkan penelitian tersebut
ditemukan jika perilaku membolos berdampak terhadap diri sendiri. Perilaku
membolos sekolah secara tidak langsung memberikan dampak terhadap prestasi
belajar, yaitu nilai ulangan yang buruk maupun ancaman tidak naik kelas. Peserta
didik yang membolos akan mendapatkan cap sebagai anak nakal dari guru dan
teman-temannya sebagai bentuk sanksi moral yang harus diterima.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wenny Graciani (2011) tentang
perilaku membolos didukung oleh data bahwa peserta didik yang membolos
memiliki alasan dan latarbelakang yang berbeda-beda. Satuan Polisi Pamong
Praja (Satpol PP) Kendal merazia 20 pelajar yang sedang berada di warnet dan
bermain playstation pada saat jam sekolah. Mereka membolos dikarenakan malas
belajar, ingin bersantai, dan menghindari razia rambut yang diadakan oleh pihak
sekolah (Kompas.com, edisi 22 September 2014). Kejadian serupa terjadi pula di
Semarang, Polsek Semarang menangkap 8 peserta didik yang bermain di kawasan
Pleret, Banjir Kanal Barat pada waktu jam sekolah. Peserta didik yang tertangkap
terdiri dari 2 pelajar SMP dan 6 pelajar SMK ini memilih membolos untuk
menghindari hukuman pihak sekolah. Menurut salah seorang peserta didik, ia
membolos karena malas dihukum lari-lari jika terlambat datang ke sekolah
(Detik.com, edisi 8 September 2014).
Perilaku membolos dikalangan peserta didik dijumpai pula di SMA Negeri
6 Surakarta. Berdasarkan hasil studi dokumentasi menunjukkan bahwa, dalam
kurun waktu 3 bulan telah terjadi 360 kasus membolos sekolah dikalangan
peserta didik, seperti yang terlihat dalam tabel 1.1. Namun tidak semua peserta
didik SMA Negeri 6 Sukararta berperilaku membolos sekolah. Perilaku membolos

sekolah terkadang dilakukan peserta didik yang sama secara berulang kali. Selama
3 bulan terdapat 269 peserta didik yang pernah membolos sekolah. Peserta didik
yang membolos sekolah tersebut terdiri dari 108 peserta didik kelas X, 71 kelas
XI dan 90 kelas XII. Dalam hal ini jika diprosentasekan, berarti 32,33% dari 832
peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta pernah membolos sekolah.
Tabel 1.1 Data kasus membolos sekolah peserta didik SMA N 6 Surakarta
No

Bulan
Jumlah
Agustus
September
Oktober
1
X
33 kasus
78 kasus
24 kasus
135 kasus
2
XI
38 kasus
39 kasus
14 kasus
91 kasus
3
XII
34 kasus
46 kasus
54 kasus
134 kasus
105 kasus
163 kasus
92 kasus
360 kasus
Sumber : olah data dari rekapitulasi kehadiran peserta didik, 2014
Berdasarkan tabel 1.1 menunjukan bahwa angka membolos sekolah di
SMA Negeri 6 Surakarta cenderung fluktuatif, dalam artian mengalami kenaikan
maupun penurunan. Pada bulan Agustus terdapat 105 kasus membolos sekolah
dikalangan peserta didik. Pada bulan berikutnya terjadi peningkatan 58 kasus
membolos sekolah, yang semula 105 kasus meningkat menjadi 163 kasus.
Perilaku membolos sekolah mengalami penurunan di bulan Oktober, dari 163
kasus turun menjadi 92 kasus. Ketidakstabilan tersebut mengindikasikan jika
persoalan membolos sekolah dikalangan peserta didik belum dapat terselesaikan
secara maksimal.
Berbeda dengan data diatas, hasil pra observasi yang dilakukan peneliti
menunjukkan bahwa tidak semua perilaku membolos yang dilakukan peserta
didik berupa ketidakhadiran di sekolah seharian penuh. Perilaku membolos
tersebut beragam, seperti meninggalkan sekolah tanpa alasan yang jelas dan
meninggalkan kelas pada jam-jam pelajaran tertentu. Keberagaman tersebut
karena adanya latar belakang dan pandangan yang berbeda-beda mengenai
perilaku membolos. Pada umunya peserta didik yang berperilaku membolos
cenderung termotivasi untuk mengulangi perilaku membolosnya. Peraturan dan
sanksi yang diberlakukan belum sepenuhnya mampu membuat peserta didik jera,
kalaupun mereka jera hanya bersifat sementara. Untuk itu perlu dilakukan

penelitian guna mengetahui bagaimana konstruksi sosial perilaku membolos


dikalangan peserta didik.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul KONSTRUKSI SOSIAL PERILAKU
MEMBOLOS DI KALANGAN PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6
SURAKARTA

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana persepsi perilaku membolos di kalangan peserta didik SMA
Negeri 6 Surakarta?
2. Bagaimana bentuk-bentuk perilaku membolos di kalangan peserta didik
SMA Negeri 6 Surakarta?
3. Apa saja faktor yang menyebabkan perilaku membolos di kalangan peserta
didik SMA Negeri 6 Surakarta dari perspektif pelakunya?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui persepsi membolos di kalangan peserta didik SMA
Negeri 6 Surakarta.
2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku membolos di kalangan peserta
didik SMA Negeri 6 Surakarta.
3. Untuk mengetahui faktor penyebab perilaku membolos di kalangan peserta
didik SMA Negeri 6 Surakarta dari perspektif pelakunya.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan
yang mendalam tentang penerapan teori konstruksi sosial dalam
mengkaji perilaku membolos di kalangan peserta didik.
b. Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan referensi
penelitian selanjutnya.
2. Manfaat praktis
a. Bagi sekolah
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi
sekolah untuk menerapkan peraturan dan pemberlakuan sanksi
yang tepat bagi peserta didik yang membolos.
b. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan mampu menggugah semangat guru untuk
mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan
sehingga peserta didik merasa nyaman dan tidak membolos.
c. Bagi Peserta Didik
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan motivasi kepada
peserta didik untuk menghindari perilaku membolos sekolah dan
mengembangkan perilaku disiplin.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Perilaku Membolos
a.

Tinjauan tentang Perilaku Membolos

Perilaku pada dasarnya ditujukan untuk mencapai suatu hal yang di


inginkan, dengan kata lain perilaku merupakan suatu tindakan yang dimotivasi
untuk mencapai tujuan tertentu. Perilaku adalah hasil dari segala macam
pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam
bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan
reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dalam
dirinya. Reaksi tersebut dapat bersifat pasif (berfikir, berpendapat, bersikap)
maupun aktif, seperti melakukan tindakan (Sarwono, 2004: 1).
Pareto dalam Veeger (1990: 71) menyatakan bahwa kehidupan
bermasyarakat terdiri dari apa yang dilakukan anggota-anggota individual di
dalamnya. Ia melanjutkan bahwa anggota-anggota individual tersebut merupakan
the material points or moleculesdari sistem yang disebut masyarakat. Masyarakat
terdiri dari perilaku manusia dan sebagaian besar dari perilaku tersebut selalu
bergerak secara otomatis.
Pareto membagi perilaku manusia menjadi yang logis dan non logis.
Perilaku logis berkesesuaian dengan rasionalitas, dalam artian perilaku yang
secara logis dilakukan berdasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Langkahlangkah yang diambil dalam perilaku logis ini secara obyektif sesuai dengan
tuntutan-tuntutan rasional demi tercapainnya tujuan. Perilaku non logis
merupakan perilaku yang tidak berkesuaian dengan penalaran logis (irasional),
dalam artian tidak berpedoman secara rasional terhadap tujuan yang hendak
dicapai. Langkah-langkah yang diambil dalam perilaku non logis tidak sesuai
dengan tuntutan rasional demi tercapainnya tujuan (Richard, 1990: 37-38).
Berbeda halnya dengan Pareto, Skiner dalam Walgito (2003) membedakan
perilaku menjadi perilaku alami (innate behavior) dan perilaku operan (operant

behavior). Perilaku alami (innate behavior) merupakan perilaku yang dibawa


sejak organisme dilahirkan, seperti insting dan refleks. Perilaku operan (operant
behavior) adalah perilaku yang dibentuk, dipelajari dan dapat dikendalikan,
karena itu dapat berubah melalui proses belajar.
Kata perilaku hanya digunakan untuk perbuatan manusia yang mempunyai
arti bagi pelakunya. Kesadaran dari arti apa yang dibuat merupakan ciri hakiki
manusia. Tanpa kesadaran suatu perbuatan tidak dapat disebut sebagai perilaku
manusia. Hal ini dapat dikaitkan dengan pendapat Max Weber yang menyatakan
bahwa :
Realitas sosial sebagai perilaku sosial yang memiliki makna subyektif,
karena itu perilaku memiliki tujuan dan motivasi. Perilaku akan menjadi
sosial kalau yang dimaksud subjektif dari perilaku itu membuat individu
mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan
mengarahkan kepada subjektif itu. Perilaku itu menunjukkan kepastian
kalau menunjukkan keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam
masyarakat (Bungin, 2011: 192).
Pelaku individual cenderung mengarahkan perilakunya kepada penetapanpenetapan atau harapan-harapan tertentu yang merupakan kebiasaan umum di
dalam masyarakat. Bagi Weber kehidupan bersama dipandang sebagai strategi
yang disusun oleh individu-individu yang bertindak secara sadar dan rasional.
Individu selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri guna menghindari
konsekuensi-konsekuensi

negatif

atau

merencanakan

tindakannya

agar

konsekuensi negatif tidak timbul apabila ia tidak sepaham / setuju dengan nilainilai yang melatarbelakangi suatu penetapan umum (Veeger, 1990: 172).
Membolos menurut Robins and Ratcliff adalah ketidakhadiran di sekolah
tanpa alasan yang dapat diterima, dimana belum tentu orang tua mengetahui dan
menyetujuinya. Hal tersebut terlihat dari pendapatnya sebagai berikut : truancy
asabsence from school without an acceptable reason, whether or not the parents
know and approve (Coventry, Cornish, Cooke & Vinall, 1984: 2).Sedangkan
Scroll (1990) menyatakan bahwa: truancy as absence from school for no
legitimate reason (Malcolm, Wilson, Davidson & Kirk, 2003: 4). Berdasarkan
pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa membolos adalah absen dari sekolah

tanpa alasan yang sah. Dalam artian peserta didik tidak hadir di sekolah dengan
alasan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Perilaku membolos bukan hanya ketidakhadiran di sekolah secara penuh,
melainkan dapat pula ketidakhadiran pada mata pelajaran tertentu, seperti yang
disampaikan oleh Kinder, Wakefield and Wilkin (1996) sebagai berikut:note that
post-registration truants were not necessarily absent from school, but sometimes
remained lurking within sound of the school bell so they could attend those
lessons which interested them and avoid others(Malcolm, et al., 2003: 4).
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa membolos tidak selalu
absen dari sekolah, tetapi terkadang tinggal bersembunyi didalam sekolah
sehingga mereka dapat menghadiri pelajaran yang disukainya dan menghindari
yang lainnya. Dalam hal ini berarti membolos bukan hanya tidak masuk sekolah,
melainkan terkadang masih berada di sekolah untuk mengikuti pelajaran yang
disukainya dan bersembunyi guna menghindari pelajaran yang tidak disukai.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan jika perilaku membolos
adalah tindakan dalam bentuk ketidakhadiran peserta didik di sekolah dengan
alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan maupun ketidakhadiran peserta
didik pada mata pelajaran tertentu di dalam kelas. Perilaku membolos tergolong
dalam perilaku operan (operan behaviour), dimana perilaku tersebut bukanlah
berdasarkan insting namun dipelajari melalui proses belajar (pembiasaan).
b. Tinjauan faktor-faktor penyebab perilaku membolos
Perilaku membolos di kalangan peserta didik disebabkan oleh 2 hal yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari
diri sendiri sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan
peserta didik. Untuk lebih jelasnya peneliti uraikan sebagai berikut :
1) Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik
itu sendiri. Peserta didik SMA dengan rata-rata usia 16-18 tahun merupakan
individu yang berada pada masa remaja. Menurut Zulkifli (1993: 63), masa
remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini individu
mengalami banyak perubahan fisik dan psikis. Terjadinya perubahan psikis

(kejiwaan)

menimbulkan

kebingungan

dikalangan

remaja.

Hal

tersebut

dikarenakan mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga
mudah menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku di kalangan
masyarakat.
Remaja ditandai dengan perkembangan mental yang belum stabil. Pada
Umumnya remaja cenderung melakukan perbuatan untuk mencari identitas diri
serta ingin menunjukkan kemampuannya kepada orang lain. Pengertian identitas
sosial menurut James Marcia & Waterman dalam Yusuf (2006: 201) adalah
sebagai berikut:
Identitas diri merupakan pengorganisasian atau pengaturan dorongandorongan, kemampuan-kemampuan dan keyakinan-keyakinan ke dalam
citra diri secara konsisten yang meliputi kemampuan memilih dan
mengambil keputusan baik menyangkut pekerjaan, orientasi seksual dan
filsafat hidup. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek dan
pilihan atau merasa tidak mampu memilih, maka ia akan mengalami
kebingungan.
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, remaja
akan kehilangan arah. Dampaknya, remaja akan mengembangkan perilaku yang
menyimpang (deliquent) seperti membolos, melakukan kriminalitas atau menutup
diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.
Masa remaja merupakan masa yang sulit, karena statusnya yang kabur
bagi dirinya sendiri maupun lingkungan. Menurut Conny Semiawan dalam Ali
dan Asrori (2004: 67) mengatakan bahwa : remaja ibaratnya terlalu besar untuk
serbet dan terlalu kecil untuk taplak meja, artinya remaja sudah bukan anak-anak
lagi tetapi juga belum dewasa. Pada masa ini biasanya ditandai dengan energi
yang besar, emosi yang berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum
sempurna. Hal demikian menyebabkan remaja mengalami perasaan tidak aman,
tidak tenang dan khawatir kesepian.
Remaja dikatakan sebagai individu yang tengah berkembang ke arah
kematangan dan kemandirian. Syamsu Yusuf (2004: 209) mengatakan bahwa
proses perkembangan individu tidakselalu mulus atau steril dari masalah.
Dengan kata lain prosesperkembangan tidak selalu lurus atau searah dengan
potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat. Salah satu

10

permasalahan yang dialami dalam perkembangan remaja adalah perilaku


membolos yang merupakan salah satu dampak dari gagalnya pengembangan
identitas diri pada remaja. Remaja yang berperilaku membolos pada umumnya
kurang memiliki kontrol diri, suka menegakkan tingkah laku sendiri dan
meremehkan keberadaan orang lain, termasuk peraturan yang ada.
Dorothy Keither (dalam Kartini Kartono, 1991: 80-82) mengatakan bahwa
sebab membolos yang berasal dari dalam diri sendiri adalah takut akan kegagalan
dan perasaan ditolak. Takut akan kegagalan yang dimaksud adalah keyakinan
anak mengenai ketidakberhasilan dirinya di sekolah yang disebabkan karena
berbagai hal seperti kesulitan dalam belajar maupun ketidakmampuan beradaptasi
dengan lingkungan. Sehingga mereka merasa gagal, malu, merasa tidak berharga
serta dicemooh sebagai akibat dari kegagalan tersebut. Sedangkan perasaan
ditolak yang dimaksudkan adalah anak-anak merasa ditolak, tidak diperhatikan
atau diacuhkan, tidak pernah diajak bermain, maupun tidak pernah dipilih dalam
kelompok oleh teman-teman sekelasnya. Anak-anak yang merasa tidak di
inginkan atau tidak diterima dikelasnya baik oleh guru maupun teman cenderung
mencari-cari alasan untuk menghindari sekolah.
Perilaku membolos di kalangan peserta didik memiliki keterkaitan dengan
proses perkembangan remaja dalam upaya pencapaian kematangan dan
kemandirian identitasnya. Hal tersebut dikarenakan dalam proses perkembangan
pencapaian kematangan dan kemandirian identitas tidaklah selalu berjalan dengan
mulus tanpa ada hambatan / masalah, dimana salah satu dari masalah tersebut
adalah perilaku membolos. Selain itu berkaitan pula dengan perasaan takut akan
kegagalan dan di tolak yang berasal dari dalam diri peserta didik tersebut.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan peserta
didik, antara lain: keluarga, sekolah dan teman sebaya. Ketiga lingkungan tersebut
merupakan agen sosialisasi pada individu, baik sosialisasi primer maupun
sekunder. Untuk lebih jelasnya peneliti uraikan sebagai berikut:

11

a) Keluarga
Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang memiliki peranan
penting dan menjadi dasar hubungan psikososial anak dalam konteks sosial yang
lebih luas. Di dalam keluarga ini individu mengalami sosialisasi primer, yaitu
sosialisasi yang pertama yang dialami individu dalam masa kanak-kanak yang
dengan itu ia menjadi anggota masyarakat (Peter L Berger, 2013: 178). Melalui
proses sosialisasi tersebut individu belajar untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
Ia mengalami proses dan mempelajari bagaimana melaksanakan kewajiban dan
menuntut hak dari suatu peran serta sikap, perasaan dan harapan yang sesuai
dengan peran tersebut.
Remaja merupakan individu yang telah memperoleh sosialiasi primer serta
mengalami perkembangan, baik secara fisik, kognitif, emosi maupun sosial.
Relasi remaja dengan orang memiliki pengaruh terhadap perkembangan remaja.
Hal tersebut dikarenakan relasi dengan orang tua pada masa remaja memiliki
fungsi adaptif yang menyediakan landasan yang kokoh dimana remaja dapat
menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru serta suatu dunia sosial
dengan sehat. Remaja yang memiliki hubungan nyaman dan harmonis dengan
orang tuanya cenderung memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang
lebih baik. Sebaliknya, relasi yang tidak nyaman dan harmonis cenderung
menimbulkan perasaan penolakan, rendahnya daya tarik sosial, kecemasan
maupun depresi pada remaja sebagai akibat masa transisi dari kanak-kanan ke
masa dewasa (Desmita, 2011: 223).
Akibat yang ditimbulkan dari relasi yang tidak nyaman dan harmonis
menyebabkan remaja mengalami masalah dalam perkembangannya. Salah satu
masalah dari perkembangan remaja tersebut adalah membolos. Keadaan emosi
yang belum stabil serta ketidaknyamanan remaja berada dirumah membuatnya
cenderung berperilaku sesuai dengan suasana hati tanpa berpikir panjang. Ia
melampiaskan perasaan yang dialaminya dengan membolos untuk memperoleh
kepuasan dan perhatian dari orang lain.

12

b) Sekolah
Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi yang penting dalam
kehidupan manusia. Sekolah menjadi agen pengganti terhadap apa yang dilakukan
keluarga seiring dengan intensifnya anak memasuki ruang sosial dari ruang
sekolah (Damsar, 2012: 72). Hal tersebut dikarenakan anak cenderung lebih
banyak menghabiskan sebagain besar waktunya di sekolah untuk menimba ilmu.
Di sekolah seorang anak belajar kemandirian lebih intensif dari pada di keluarga.
Sekolah memiliki peranan yang penting dalam pengembangan kepribadian
anak. Menurut Hurlock, peranan sekolah merupakan faktor penentu bagi
perkembangan kepribadian siswa, baik cara berfikir, bersikap maupun
berperilaku. Sekolah berperan sebagai subtitusi keluarga, dan guru berperan
sebagai subtitusi orang tua (Yusuf, 2006: 54). Dengan demikian terlihat jelas
peran sentral sekolah sekaligus guru dalam perkembangan peserta didik sebagai
manusia remaja guna mencapai kematangan dan kemandirian identitasnya.
Peserta didik SMA menghabiskan hampir sepertiga waktunya untuk berada
di sekolah. Berbagai peristiwa yang dialaminya disekolah mempengaruhi
perkembangannya, seperti perkembangan identitas, kompetensi diri, hubungan
sosial serta norma-norma yang harus dipatuhi. Dengan demikian sekolah
memainkan peranan yang penting dalam perkembangan peserta didik, seperti
yang dijelaskan oleh Desmita (2011) sebagai berikut :
sebagai anggota suatu komunitas kecil (a mini society) yang disebut
sekolah, anak dihadapkan pada sejumlah tugas dan keharusan untuk
mengikuti sejumlah aturan yang membatasi perilaku, perasaan dan sikap
mereka. Melalui interkasinya di sekolah anak dapat mengembangkan
kemampuan kognitif, keterampilan sosial, memperoleh pengetahuan tentang
dunia dan mengembangkan identitas dirinya.
Berkaitan dengan hal tersebut sekolah dituntut menciptakan iklim yang
dapat memfasilitasi siswa mencapai tugas perkembangannya. Upaya sekolah
dalam memfasilitasi tugas-tugas perkembangan siswa akan berjalan dengan baik
apabila di sekolah tersebut telah tercipta iklim atau atmosfir yang sehat dan
efektif. Suasana sekolah yang sehat dan efektif membuat peserta didik merasa
nyaman dan termotivasi untuk belajar maupun menaati tata tertib yang ada.

13

Sebaliknya, suasana sekolah yang tidak sehat membuat peserta didik menjadi
tidak nyaman, mudah melanggar aturan, gugup dan segan untuk belajar.
Guru yang merupakan subtitusi dari orang tua memiliki peranan sentral
dalam kehidupan remaja. Guru memiliki keterkaitan dengan keberhasilan maupun
kegagalan peserta didik dalam proses perkembangannya. Keberhasilan atau
kegagalan remaja di sekolah ditentukan oleh interaksi mereka dengan guru.
Selama remaja mendapat penguatan yang positif dari guru, maka mereka akan
merasa berhasil dan senang berada di sekolah (Desmita, 2011: 234). Suasana
sekolah yang kurang kondusif dan efektif serta tidak adanya dukungan dari guru
menjadikan peserta didik malas untuk belajar dan berada disekolah, sehingga hal
tersebut menyebabkan peserta didik membolos.
c) Teman Sebaya
Dalam perkembangan kehidupan sosial remaja ditandai pula dengan
meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. Kelompok teman
sebaya sebagai lingkungan sosial bagi remaja mempunyai peranan yang penting
dalam perkembangan kepribadiannya. Setelah keluarga dan sekolah, kelompok
teman sebaya menjadi rujukan (reference group) dalam mengembangkan sikap
dan perilaku bagi remaja. Heslin dalam Damsar (2012: 75) mengemukakan
bahwa:
kelompok teman sebaya memiliki daya paksa terhadap orang yang masuk
di dalamnya. Hampir tidak mungkin orang melawan kelompok teman
sebaya yang peraturan utamanya adalah konformitas atau penolakan.
Seseorang yang tidak melakukan apa yang dilakukan orang lain disebut
orang luar / bukan anggota. Sebagai akibatnya standart kelompok teman
sebaya cenderung mendominasi kehidupan remaja.
Apabila kelompok teman sebaya yang dimiliki remaja cenderung
berperilaku positif, maka anggotanya akan berperilaku postif pula. Sebaliknya,
apabila kelompok sebaya berperilaku negatif, maka anggotanya cenderung
berperilaku negatif pula.
Bagi remaja kelompok teman sebaya merupakan gambaran dirinya, dimana
mereka cenderung memilih teman yang memiliki kemiripan nilai dengan dirinya.
Peserta didik yang bergaul dengan kelompok sebaya yang cenderung melanggar
norma seperti membolos maka kemungkinan besar ia pun akan berperilaku

14

demikian. Remaja dengan solidaritas yang kuat cenderung akan menerima dari
pada menolak ajakan temannya, termasuk ajakan untuk membolos. Hal tersebut
didukung oleh penelitian Wilson dan Braithwaite (1977) mengenai membolos
sekolah di Australia. Hasil penelitian tersebut mengidentifikasikan bahwa
membolos sekitar tiga kali lebih mungkin dilakukan bersama dengan teman
daripada sendirian. Sedangkan Carrol dan Mitchel mengemukan bahwa:
Peer group pressures have been found to operate both within the same
school and across schools. Friends from the same community who attend
different schools may truant at the same time, indicating that peer group
attachments for some youth are not restricted to those observed in a
particular school or year level (Coventry, et al., 1984: 35).
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa tekanan kelompok sebaya telah
ditemukan baik dalam satu sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda.
Teman sebaya yang berasal dari satu komunitas walaupun berbeda sekolah
dimungkinkan dapat membolos di waktu yang bersamaan, hal ini menunjukkan
bahwa pengamatan tidak terbatas pada sekolah dan level umur tertentu. Dalam
artian peserta didik yang membolos bukan hanya dari sekolah yang sama,
melainkan dimungkinkan pula peserta didik yang berasal dari sekolah yang
berbeda membolos bersama.

2. Konstruksi Sosial Perilaku Membolos


Konstruksi kenyataan sosial (social reality construction) merupakan istilah
yang digunakan Berger & Luckman untuk menggambarkan proses dimana
melalui interaksinya individu menciptakan secara terus-menerus suatu kenyataan
yang dimiliki bersama, yang dialami secara faktual obyektif dan penuh arti secara
subyektif. Semua pengetahuan mengenai fakta obyektif dalam dunia kenyataan
diwarnai oleh lingkungan sosial dimana pengetahuan itu diperoleh, ditransmisikan
atau dipelajari (Johnson, 1994: 68). Pada akhirnya proses-proses sosial tersebut
sangat mempengaruhi pikiran dan struktur kesadaran subjektif individu. Dengan
demikian akan dapat diperoleh gambaran mengenai kenyataan dengan
menghubungkan antara pengetahuan individu dengan pola-pola interaksi dimana
mereka terlibat.

15

Manusia adalah aktor yang kreatif dalam dunia sosialnya. Dalam artian
tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan dan
nilai-nilai dan sebagainya yang kesemuanya itu tercakup dalam fakta sosial yaitu
tindakan yang menggambarkan struktur dan pranata sosial. Dalam hal ini individu
menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi sesuai kehendaknya. Ia
bukanlah manusia korban fakta sosial, namun mesin produksi sekaligus
reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi realitas sosial (Bungin, 2011: 191).
Berger dalam Poloma (2013: 299) menyatakan bahwa realitas sosial eksis dengan
sendirinya, dimana dunia sosial tergantung pada manusia dan subyeknya. Perilaku
membolos merupakan realitas dalam kehidupan sehari-hari yang keberadaanya
tergantung kepada para pelakunya sebagai pencipta realitas tersebut.
Perilaku membolos merupakan bagian dari realitas sosial dalam kehidupan
sehari-hari yang merupakan hasil dari konstruksi sosial. Hidayat (1999: 39) dalam
Burhan Bungin (2001: 3) menjelaskan bahwa realitas merupakan konstruksi
sosial yang diciptakan oleh individu. Hal ini berarti kebenaran suatu realitas
bersifat nisbi, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku
sosial, yang dalam hal ini adalah konstruksi perilaku membolos di kalangan
peserta didik.
Dalam teori konstruksi sosial, realitas atau kenyataan dibangun secara
sosial melalui pengetahuan dan pengalaman individu. Hal ini berarti kenyataan
atau realitas dan pengetahuan adalah istilah kunci dalam teori konstruksi sosial.
Peter L Berger & Thomas Luckman (2013: 1) menjelaskan bahwa,
Realitas atau kenyataan merupakan suatu kualitas yang terdapat dalam
fenomena, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung
kepada kehendak manusia. Sedangkan pengetahuan diartikan sebagai
kepastian bahwa berbagai fenomena tersebut nyata dan memiliki
karakteristik yang spesifik
Realitas atau kenyataan sosial tersirat dalam pergaulan sosial, yang
diungkapkan secara sosial lewat berbagai tindakan sosial seperti berkomunikasi
lewat bahasa, bekerja sama lewat bentuk-bentuk organisasi sosial. Kanyataan
sosial yang demikian ditemukan dalam pengalaman intersubyektif (Berger &
Luckman, 2013: xv). Dalam hal ini pengalaman intersubyektif merupakan

16

pengalaman bersama yang diperoleh dari lingkungan fisik, lingkungan sosial dan
interaksi antar individu. Dengan kata lain intersubyektivitas menunjukkan struktur
kesadaran umum ke kesadaran individual dalam suatu kelompok yang sedang
saling berintegrasi dan berinteraksi. Melalui intersubyektifitas tersebut dapat
dijelaskan bagaimana kehidupan masyarakat dibentuk secara terus-menerus.
Kehidupan sehari-hari merupakan kenyataan yang ditafsirkan oleh
masyarakat serta memiliki makna subyektif bagi mereka sebagai satu dunia yang
saling berhubungan. Ia merupakan satu dunia yang berasal dari pikiran dan
tindakan-tindakan manusia, yang dipelihara sebagai yang nyata dalam pikiran dan
tindakan. Dunia tersebut tidak hanya nyata melainkan juga bermakna, dimana
kebermaknaanya adalah subyektif. Dalam artian, dianggap benar atau salah
tergantung sebagaimana yang dipersepsi individu. Dasar pengetahuan dalam
kehidupan sehari-hari merupakan pengobjektifan dari proses-proses (dan maknamakna subjektif) dengan mana dunia intersubjektif dibentuk (Berger &
Luckmann, 2013: 28-29).
Pengetahuan membimbing perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Berger & Luckman (2013: 33), pengetahuan adalah hal yang dipunyai
bersama-sama dengan orang lain dalam kegiatan rutin dan normal dan sudah jelas
dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, Pengetahuan
merupakan konstruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat ditransfer
kepada individu lain yang pasif. Hal demikian menyebabkan konstruksi harus
dilakukan sendiri olehnya terhadap pengetahuan itu, sedangkan lingkungan adalah
sarana terjadinya konstruksi sosial tersebut (Bungin, 2011: 194).
Dalam hal ini berarti individu-individu sendiri yang membangun
konstruksi dalam masyarakat, sehingga pengetahuan dan pengalaman individu
tidak terlepas dari konstruksi masyarakatnya yang dipengaruhi pula oleh
lingkungan sebagai sarana sosialisasinya. Jadi, konstruksi sosial merupakan
pandangan yang dibentuk oleh individu yang kemudian diadopsi oleh individu
lain sebagai realitas kebudayaan.
Dalam kehidupan sehari-hari realitas bukan hanya tunggal, namun bersifat
ganda. Menurut Berger, realitas kehidupan sehari-hari memiliki dimensi obyektif

17

dan subyektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial


yang objektif melalui eksternalisasi, sebagaimana ia mempengaruhinya melalui
proses internalisasi (yang mencerminkan realitas subyektif) (Poloma, 2013: 302).
Realitas sosial yang obyektif dapat dilihat dalam hubungannya dengan lembagalembaga sosial, dimana harus dilihat sehubungan dengan eksternalisasi.
Eksternalisasi-obyektivikasi-internalisasi merupakan 3 moment yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dalam melihat konstruksi sosial atas realitas. Hal ini
dikarenakan proses-proses tersebut saling berkaitan satu-sama lain.
Perilaku membolos merupakan realitas sosial yang dikonstruksi melalui
proses dialektika yang simultan dalam 3 moment, antara lain: (1) eksternalisasi
(penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, (2)
Objektifikasi yang merupakan interaksi dalam dunia intersubyektif, dan (3)
internalisasi yang merupakan proses yang mana individu mengidentifikasi dirinya
dengan lembaga / organisasi sosial dimana ia menjadi anggotanya (Berger, 2013:
xx; Bungin, 2011: 83).
Eksternalisasi

yang

merupakan

penyesuaian

diri

dengan

dunia

sosiokultural, pada hakikatnya adalah pencurahan atau ekspresi diri manusia


kedalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Ekternalisasi
merupakan bagian penting dalam kehidupan individu, seperti yang dijelaskan
Berger (2013: 71) berikut ini:
..........eksternalisasi itu sendiri merupakan suatu keharusan antropologis
yang berakar dari perlengkapan biologis manusia. Keberadaan manusia
tidak mungkin berlangsung dalam suatu lingkungan interioritas yang
tertutup dan tanpa gerak. Keberadaan manusia harus terus-menerus
mengeksternalisasi diri dalam aktivitas.
Hal ini dapat diartikan bahwa kedirian manusia harus terus mencurahkan
keberadaannya melalui aktivitas. Dengan demikian ekternalisasi merujuk pada
kegiatan kreatif manusia dalam mengkonstruksi dunia sosialnya. Dunia manusia
memang merupakan dunia yang dibentuk oleh aktivitas manusia sendiri, ia harus
membentuk dunianya sendiri dalam hubungannya dengan dunia. Karena
merupakan konstruksi manusia, maka sifatnya tidak stabil dan memiliki
kemungkinan untuk berubah.

18

Objektifikasi yang merupakan interaksi dalam dunia intersubyektif, pada


dasarnya adalah hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik dari kegiatan
eksternalisasi manusia (Ngangi, 2011: 2). Objektifikasi masyarakat meliputi
beberapa unsur, seperti institusi, peranan dan identitas. Institusi / kelembagaan
berasal dari pembiasaan (habitualisasi) atas aktivitas manusia. Setiap tindakan
yang sering diulangi pada akhirnya akan menjadi pola. Pembiasaan yang
dipahami sebagai pola dapat dilakukan kembali dimasa yang akan datang dengan
cara yang sama maupun dengan inovasi. Proses-proses pembiasaan selalu
mendahului pelembagaan, dimana individu cenderung berperilaku sesuai dengan
pengalamannya. Pelembagaan terjadi apabila ada tipifikasi yang timbal balik dari
tindakan-tindakan yang terbiasakan berbagai tipe pelaku. Lembaga-lembaga sosial
mengendalikan perilaku manusia dengan jalan membuat pola-pola yang telah
didefinisikan terlebih dahulu. Pola-pola tersebut yang kemudian mengontrol dan
melekat pada kelembagaan (Berger & Luckman, 2013: 75-79).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, objektifikasi berasal
dari pembiasaan dan tipifikasi aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan bersama,
yang pada akhirnya akan mengalami penyempurnaan dan memperoleh sifat
objektif. Dengan kata lain ia mempunyai kenyataan sendiri yang dihadapi oleh
individu sebagai satu fakta eksternal dan memaksa. Menurut Manuaba (2010)
proses pengobjektifan menekankan adanya kesadaran, dimana kesadaran selalu
intensional karena ia selalu terarah pada objek. Hal ini berarti manusia memiliki
kesadaran tentang dunia kehidupan sehari-hari sebagaimana persepsinya.
Internalisasi merupakan pemahaman atau penafsiran yang langsung dari
suatu peristiwa objektif sebagai pengungkapan suatu makna, artinya sebagai
manifestasi dari proses-proses subjektif orang lain yang dengan demikian menjadi
bermakna secara subjektif bagi individu tersebut (Berger, 2013: 177). Melalui
internalisasi ini individu dapat dipahami sebagai kenyataan subyektif. Internalisasi
dapat dipahami sebagai dasar pemahaman terhadap sesama dan pemahaman
mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial. Individu
menjadi anggota masyarakat setelah mencapai taraf internalisasi tersebut. Proses

19

internalisasi dilakukan melalui sosialisasi, baik sosialisasi primer maupun


sosialisasi sekunder.
Berger dan Luckman menguraikan bahwa, sosialisasi primer sebagai
sosialisasi awal yang dialami individu pada masa kecil, di saat mana dia
diperkenalkan dengan dunia objektif (Poloma, 2013: 304). Hal ini berarti
sosialisasi primer merupakan sosialisasi pertama yang dialami individu pada masa
kanak-kanak, yang dengan itu ia menjadi anggota masyarakat. Dalam sosialisasi
primer ini dunia pertama anak terbentuk. Sosialisasi primer ini diperoleh di dalam
keluarga melalui orang lain yang cukup berpengaruh, seperti orang tua atau
pengganti orang tua. Pada proses sosialisasi primer ini individu menginternalisasi
dunia orang-orang yang berpengaruh tersebut sebagai dunia satu-satunya yang ada
dan bisa dipahami. Menurut Berger (2013: 188), sosialisasi primer berakhir
apabila konsep tentang orang lain pada umumnya (dan segala sesuatu yang
menyertainya) telah terbentuk dan tertanam pada individu. Hal ini berarti
individu secara subyektif telah memiliki suatu diri dan sebuah dunia. Dengan kata
lain telah terbentuk konsep identitas diri pada individu.
Sosialisasi sekunder adalah menurut Berger (2013: 178) adalah setiap
proses berikutnya yang mengimbas individu yang telah disosialisasikan itu ke
dalam sektor-sektor baru dunia masyarakatnya. Hal ini berarti sosialisasi
sekunder merupakan

lanjutan dari sosialisasi

primer, dimana individu

menginternalisasi pengetahuan-pengetahuan khusus sesuai dengan peranannya.


Sosialisasi sekunder tersebut diperoleh di luar lingkungan keluarga. Sosialisasi
baik primer maupun sekunder berlangsung tidak sempurna, karena kenyataan
sosial yang kompleks itu tidak dapat diserap dengan sempurna oleh setiap
individu. Setiap individu memiliki versi realitas yang dianggapnya sebagai cermin
dari dunia obyektif. Sosialisasi yang tidak sempurna tersebut berakibat
terbentuknya konstruksi sosial baru yang terwujud dalam eksternalisasi. (Berger,
2013: xxii).
Berdasarkan konsep tersebut, peneliti kemudian menggunakan teori
konstruksi sosial guna menjelaskan bagaimana peserta didik mengkonstruksi
secara sosial perilaku membolosnya. Konstruksi perilaku membolos dapat dilihat

20

dari dialektika 3 moment yang simultan seperti yang telah diuraikan sebelumya,
yaitu: eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi.

B. Penelitian yang Relevan


Pertama, Penelitian yang dilakukan oleh Wenny Graciani mahasiswa
Universitas Sebelas Maret Surakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada
tahun 2011. Penelitian ini berjudul Perilaku Membolos Siswa (Studi Deskriptif
Kualitatif tentang Perilaku Membolos Siswa di SMP Negeri 2 Delanggu,
Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten). Penelitian tersebut berusaha untuk
menjelasakan perilaku membolos yang dilakukan oleh siswa SMP Negeri
Delanggu. Hasil dari penelitian menunjukkan jika terdapat 2 faktor yang
menyebabkan timbulnya perilaku membolos, yaitu sebab yang berasal dari dalam
diri (internal) dan sebab yang berasal dari luar diri (eksternal). Faktor internal
yang berpengaruh antara lain: malas mengikuti pelajaran dikelas, tidak suka pada
pelajaran dan guru mata pelajaran tertentu, belum mengerjakan PR yang diberikan
oleh guru, masalah keluarga dan terlambat masuk sekolah. Sedangkan faktor
eksternal yang berpengaruh adalah pola asuh orang tua, lingkungan sekolah yang
kurang kondusif, dan teman sebaya. Berdasarkan penelitian menunjukkan pula
jika peserta didik tidak jera untuk berhenti membolos meskipun telah diberikan
sanksi. Selanjutnya perilaku membolos secara tidak langsung berdampak pada
prestasi belajar, yaitu nilai ulangan yang buruk dan terancam tidak naik
kelas.Dampak lainnya adalah mendapat cap anak nakal dari guru dan temantemannya.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Wachida Ichsani mahasiswa
Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu
Pendidikan pada tahun 2007. Penelitian ini berjudul Studi tentang Faktor
Penyebab dan Alternatif Penyelesaian Masalah Perilaku Membolos pada Siswa
SMA Negeri 1 Teras Boyolali Tahun ajaran 2006/2007. Penelitian tersebut
difokuskan pada tiga pelaku bolos sekolah. Hasil dari penelitian adalah rata-rata
penyebab perilaku membolos dikarenakan ajakan teman sebaya, kurangnya
perhatian keluarga dan tidak adanya teguran dari masyarakat. Selanjutnya akibat

21

dari perilaku membolos yang diterima oleh pelaku antara lain prestasinya jelek,
pendiam, merasa ketakutan jika dipanggil Guru, sering bermain kartu atau
playstation, sering keluar malam, dan tidak menghormati orang lain. Sedangkan
alternatif

penyelesaian

masalah

perilaku

membolos

dilakukan

dengan

menggunakan terapi yang berbeda-beda. Subjek 1diberi perlakuan dengan


menggunakan eksistensi humanistik, subjek 2 dengan analisis pengubah tingkah
laku dan subjek 3 dengan terapi realis.
Penelitian yang akan dilakukan peneliti juga berkisar pada perilaku
membolos sekolah. Meskipun demikian terdapat perbedaan dengan 2 penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya. Kedua penelitian tersebut berusaha untuk
menjelaskan mengenai perilaku membolos, faktor penyebab perilaku membolos
dan alternatif penyelesaian perilaku membolos. Sedangkan penelitian yang akan
dilakukan peneliti lebih memfokuskan pada konstruksi sosial perilaku membolos.
Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan persepsi, bentuk-bentuk dan faktor
penyebab perilaku membolos di kalangan peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta.
berdasarkan persepsi, bentuk-bentuk dan faktor penyebab perilaku membolos
selanjutnya akan digambarkan mengenai konstruksi perilaku membolos tersebut.

C. Kerangka Berpikir
Perilaku membolos adalah realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari yang
seingkali dijumpai dalam dunia pendidikan. Perilaku membolos sebagai realitas
sosial tersebut merupakan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh proses
dialektika ekternalisasi, internalisasi, dan objektifikasi. Lingkungan, baik formal
maupun informal berpengaruh penting terhadap konstruksi sosial perilaku
membolos. Hal demikian karena di lingkungan tersebut peserta didik malakukan
sosialisasi guna pembentukan identitas dirinya.
Pembentukan perilaku dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam
maupun luar individu. Begitu pula perilaku membolos, dimana terdapat beragam
alasan yang melatarbelakangi peserta didik berperilaku membolos, baik sebab
internal maupun eksternal. Perilaku membolos memiliki makna subyektif bagi
pelakunya, dalam artian berbeda-beda antara individu satu dengan lainnya, yang

22

kesemuanya bergantung bagaimana individu mempersepsinya. Persepsi individu


dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, dimana persepsi
tersebut memiliki keterkaitan dengan perilaku individu. Dengan demikian,
persepsi peserta didik mengenai membolos memiliki keterkaitan pula dengan
bentuk-bentuk perilaku membolos di kalangan peserta didik.
Melihat

bagaimana

peserta

didik

mempersepsi

dan

kemudian

mengkonstruksi secara sosial perilaku membolos menjadi kajian yang menarik


untuk diteliti. Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran konstruksi sosial
membolos serta bentuk-bentuk tindakan membolos sekolah dikalangan peserta
didik. Untuk memperjelas keterangan diatas, berikut skema berpikir yang akan
mempermudah untuk memahaminya:

Persepsi perilaku
membolos

Bentuk-bentuk
perilaku
membolos

Konstruksi perilaku membolos


di kalangan peserta didik

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Faktor penyebab
perilaku
membolos

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil adalah SMA Negeri 6 Surakarta, yang
beralamatkan di Jalan Mr Sartono nomor 30, Kecamatan Banjarsari, Kota
Surakarta, Propinsi Jawa Tengah. Pertimbangan yang mendasari peneliti untuk
memilih SMA Negeri 6 Surakarta sebagai tempat penelitian adalah :
a. Terdapat permasalahan membolos di SMA Negeri 6 Surakarta yang
merupakan bentuk pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.
b. SMA Negeri 6 Surakarta merupakan sekolah tempat peneliti melakukan PPL
sehingga proses pengumpulan data dan perijinan cendrung lebih mudah.
c. Lokasi SMA Negeri 6 Surakarta yang cukup mudah dijangkau sehingga akan
memudahkan dalam mendapatkan berbagai akses kebutuhan yang diperlukan
dalam penelitian.
2. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian yang digunakan, yaitu 6 bulan mulai dari bulan
Januari 2015 sampai pada Juni 2015 dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Kegiatan

Jan
15

Feb
15

Pengajuan judul
Penyusunan proposal
dan seminar proposal
Perijinan
Pengumpulan data
Analisis data
Penyusunan laporan
Pelaksanaan ujian
skripsi
Revisi

23

Bulan
Mar
Apr
15
15

Mei
15

Juni
15

24

Peneliti mengawali dengan pengajuan judul, penyusunan proposal dan


seminar proposal, perijinan, pengumpulan data dan analisis data, penyusunan
laporan, pelaksanaan ujian skripsi dan revisi.

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian


1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian
kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan dan lain sebagainya (Moleong, 2010: 6). Penelitian kualitatif
lebih menekankan pada makna, lebih memfokuskan pada data kualitas dengan
analisis kualitatifnya (Sutopo, 2002: 48). Penelitian kualitatif adalah penelitian
yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun
tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia (Afrizal, 2014: 13).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang menggambarkan, menganalisis dan mendeskripsikan
suatu peristiwa atau fenomena yang sedang diteliti. Dalam hal ini pendekatan
kualitatif digunakan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan mengenai
persepsi, bentuk-bentuk serta faktor yang menyebabkan peserta didik berperilaku
membolos. Dengan demikian peneliti dapat menggambarkan konstruksi sosial
perilaku membolos di kalangan peserta didik. Peneliti tertarik untuk
menggambarkan maupun mendeskripsikan mengenai konstruksi sosial perilaku
membolos dikarenakan selama ini penelitian mengenai membolos lebih banyak
difokuskan kepada faktor yang menyebabkan perilaku membolos serta alternatif
penyelesaiannya. Dengan mengetahui konstruksi sosial perilaku membolos di
kalangan peserta didik diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
perilaku membolos yang seakan menjadi budaya dalam pendidikan.
2. Jenis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan yang diajukan, penelitian ini
menggunakan jenis penelitian fenomenologi. Menurut Bogdan dan Biklen (1982)
yang dikutip Asmadi Asla dalam Iskandar (2013: 206), penelitian dengan

25

pendekatan fenomenologi berusaha memahami makna dari suatu peristiwa atau


fenomena yang saling berpengaruh dengan manusia dalam situasi tertentu.
Penelitian

fenomenologi

berorientasi

untuk

memahami,

menggali

dan

menafsirkan arti dari peristiwa-peristiwa, fenomena-fenomena dan hubungan


orang-orang yang biasa dalam situasi tertentu. Fenomenologi memandang
perilaku manusia, apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan adalah
sebagai suatu produk dari bagaimana orang menafsir terhadap dunia mereka
(Sutopo, 2002: 25).
Fenomenologi merupakan sebuah pendekatan fisiologis untuk menyelidiki
pengalaman manusia. Penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti
dan seksama pada kesadaran pengalaman manusia. Konsep utama dalam
fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari
pengalaman kesadaran manusia.Dari definisi diatas, maka fenomenologi
merupakan jenis penelitian yang berusaha mencari makna dari suatu peristiwa dan
gambaran yang muncul dari wawancara informan yang sedang diteliti.Peneliti
ingin mengetahui persepsi, bentuk-bentuk dan faktor yang menyebabkan perilaku
membolos. Dengan demikian akan diperoleh gambaran mengenai konstruksi
sosial perilaku membolos di kalangan peserta didik.

C. Data dan Sumber Data


Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain sebagainya (Moleong,
2010: 157). Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan oleh peneliti
adalah sebagai berikut :
1. Sumber Data Primer
Data primer merupakan data yang digali atau didapat secara langsung
dengan para informan yang menjadi respon dalam penelitian serta sasaran lokasi
penelitian. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan
data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2013: 308). Dalam hal ini data primer
diperoleh melalui observasi dan wawancara yang berkaitan dengan permasalahan
yang diteliti.

26

Informasi yang dimaksudkan tentu saja berhubungan dengan persepsi,


bentuk-bentuk dan faktor yang menyebabkan perilaku membolos di kalangan
peserta didik. Selanjutnya melalui informasi tersebut akan digunakan untuk
menggambarkan konstruksi sosial perilaku membolos di kalangan peserta didik.
Adapun informan yang dijadikan sumber data primer dalam penelitian ini adalah :
a. Informan kunci (key informan) yaitu peserta didik SMA Negeri 6
Surakarta yang memiliki pengalaman berperilaku membolos, baik secara
parsial maupun penuh. Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang
yang dianggap memenuhi kriteria penelitian.
b. Informan pendukung yaitu petugas Satuan Tugas Pelaksana Kegiatan
Kesiswaan (STP2K), Guru Bimbingan Konseling (BK), ibu Kantin dan
teman informan kunci yang dapat membantu memberikan tambahan
informasi.
Informan kunci (key informan) dalam penelitian ini adalah pelaku sosial
atau orang yang memiliki pengetahuan, pemahaman dan pengalaman mengenai
perilaku membolos, sehingga mereka mampu memberikan gambaran dan
informasi terkait dengan fokus penelitian kepada peneliti. Informan kunci dalam
penelitian ini adalah 9 peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta yang pernah
maupun masih berperilaku membolos, baik secara parsial maupun penuh.
Informan kunci dalam hal ini berperan untuk memberikan informasi mengenai
berbagai hal yang berkaitan dengan perilaku membolos seperti : persepsi, bentukbentuk dan faktor yang menyebabkan perilaku membolos. Informasi tersebut akan
digunakan untuk menggambarkan konstruksi sosial perilaku membolos di
kalangan peserta didik. Sedangkan Informan pendukung adalah orang yang dapat
membantu memberikan informasi untuk memperkuat data yang diperoleh peneliti.
Informan pendukung dalam penelitian ini adalah 2 petugas STP2K, 1 guru BK, 1
orang ibu kantin dan teman informan kunci. Melalui informan pendukung tersebut
diharapkan dapat memberikan tambahan informasi, sekaligus menguji kebenaran
informasi yang disampaikan oleh informan kunci.

27

2. Sumber Data Sekunder


Sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2013: 309). Data sekunder
merupakan data yang diperoleh melalui pengumpulan atau pengolahan data yang
bersifat studi dokumentasi berupa penelaahan terhadap dokumen pribadi, resmi,
kelembagaan, referensi-referensi atau peraturan (literatur laporan), tulisan dan
lain-lain yang memiliki relevansi dengan fokus permasalahan penelitian
(Iskandar: 2013, 78). Sumber data sekunder dapat dimanfaatkan untuk menguji,
menafsirkan maupun meramalkan tentang masalah penelitian.
Dari definisi diatas, maka sumber data sekunder merupakan sumber data
tidak langsung atau data pendukung yang diperoleh melalui penelaahan studi
dokumentasi. Studi dokumentasi yang dimaksudkan diperoleh melalui literaturliteratur yang berkaitan dengan penelitian yang sedang diangkat berupa bahan
bacaan, arsip, dokumen, laporan penelitian dan catatan yang berhubungan dengan
kajian penelitian yaitu konstruksi sosial perilaku membolos dikalangan peserta
didik. Data tersebut berupa dokumen-dokumen seperti media online (koran
online), jurnal, laporan penelitian lain yang membahas masalah membolos,
dokumen rekapitulasi peserta didik yang datang terlambat atau tidak masuk
sekolah, dokumen tata tertib siswa dan dokumen-dokumen lainnya yang
berhubungan dengan perilaku membolos sekolah.

D. Teknik Sampling (Cuplikan)


Teknik sampling atau pengambilan sampling atau pengambilan cuplikan
dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Bungin,
purposive sampling adalah satu strategi menentukan informan yang paling umum
didalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi
informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian
(2011: 107).Dengan teknik purposive sampling diharapkan informan memberikan
data sesuai dengan masalah penelitian yang dilakukan sehingga dapat
memberikan pemahaman yang mendalam terhadap masalah yang diteliti.

28

Kelompok peserta yang dimaksud adalah informan yang berasal dari SMA
Negeri 6 Surakarta, yaitu : 1) Peserta didik pelaku membolos. Pelaku membolos
yang dimaksudkan disini adalah peserta didik yang memiliki pengalaman
berperilaku membolos, dalam artian peserta didik yang pernah / masih berperilaku
membolos baik secara parsial maupun penuh. 2) Petugas STP2K, guru BK, Ibu
kantin dan teman-teman pelaku membolos. Mereka dipilih sebagai informan
dengan alasan memiliki keterkaitan dengan peserta didik pelaku membolos,
sehingga dapat memberikan tambahan informasi terkait masalah penelitian.
Kelompok informan tersebut tentunya dipilih berdasarkan kemampuan informan
dalam mengetahui dan menguasai pokok permasalahan yang diteliti.

E. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam
penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara
mendalam, observasi dan dokumentasi.
1. Wawancara mendalam (indepth interview)
Dalam penelitian ini diperlukan wawancara mendalam terhadap informan
untuk mengambil data terkait dengan masalah penelitian. Wawancara mendalam
adalah wawancara tanpa alternatif pilihan jawaban dan dilakukan untuk
mendalami informasi dari seorang informan (Afrizal, 2014: 136).

Menurut

Burhan Bungin wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan


untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dan informan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
wawancara (Bungin, 2011: 111).
Dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu membuat pedoman
wawancara (interview guide) yang berisi garis besar pertanyaan yang akan
diberikan kepada informan. Pedoman wawancara digunakan agar wawancara
mendalam lebih terarah dan fokus terhadap masalah penelitian. Hal tersebut
dilakukan karena peneliti menggunakan wawancara terbuka, dimana informan
memiliki kebebasan dalam memberikan jawaban tanpa dibatasi. Wawancara

29

mendalam dilakukan didalam maupun diluar lingkungan sekolah sesuai


kesepakatan antara informan dengan peneliti. Selama proses penelitian
berlangsung peneliti berusaha membangun suasana penelitian yang santai namun
tetap fokus pada persoalan yang tengah diteliti.
Proses wawancara mendalam kepada informan dilakukan melalui tatap
muka (face to face). Selain itu dilakukan pula dengan mengirim SMS (short
message system) maupun BBM (blackberry messager) kepada informan. Hal
tersebut dilakukan untuk melengkapi bagian-bagian yang kurang setelah
wawancara melalui tatap muka (face to face).
2. Observasi
Observasi adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan
pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti
telinga, penciuman, mulut, dan kulit(Bungin, 2011:118). Sedangkan menurut
Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2013:203) mengemukakan bahwa observasi
merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan
apabila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala
alam dan apabila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari definisi diatas tersebut, observasi merupakan proses kegiatan yang
dilakukan peneliti untuk mengetahui keseharian dan kebiasaan manusia dengan
cara mengamati dan mendengarkan sehingga memperoleh data yang sistematis
terkait dengan masalah penelitian.
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi nonpartisipan. Dimana observasi ini merupakan teknik observasi dimana peneliti
tidak terlibat di dalam kegiatan yang sedang diamatinya, peneliti hanya sebagai
pengamat yang independen (Sugiyono, 2013:203). Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan kegiatan observasi didalam maupun diluar lingkungan sekolah untuk
mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan permasalahan
penelitian. Peneliti mengamati kegiatan peserta didik di dalam lingkungan sekolah
untuk mendapatkan tambahan data dan informasi khususnya yang berkaitan
dengan

bentuk-bentuk

perilaku

membolos.

Sedangkan

observasi

diluar

30

lingkungan sekolah dilakukan ditempat-tempat yang menurut informan menjadi


lokasi membolos peserta didik baik secara parsial maupun penuh, seperti : toko
STRONG Family dan Warung Mbak Yanti. Selain itu dilakukan pula pengamatan
terhadap media sosial peserta didik, seperti Blackberry Messanger (BBM).
Pengamatan terhadap BBM dilakukan dikarenakan peserta didik yang memiliki
akun BBM biasanya mengungkapkan perasaanya dalam bentuk status BBM,
termasuk ketika mereka membolos.
3. Dokumentasi
Penelitian

ini

menggunakan

teknik

pengumpulan

data

berupa

dokumentasi. Dokumentasi merupakan penelaahan terhadap referensi-referensi


yang berhubungan dengan fokus masalah penelitian. Dokumen digunakan dalam
penelitian untuk mempermudah dan memperjelas hasil wawancara dan observasi
yang telah dilakukan. Dalam menganalisis dokumen peneliti sebaiknya tidak
hanya mencatat apa saja yang tertulis, tetapi juga berusaha menggali dan
mengungkap makna yang tersirat dalam dokumen tersebut (Sutopo, 2002: 70).
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan berita dari media
online (koran online), jurnal, laporan penelitian yang membahas masalah
membolos, gambar foto dari dokumentasi, dokumen tata tertib siswa, dokumen
rekapitulasi peserta didik yang datang terlambat dan tidak masuk sekolah serta
dokumentasi terhadap status Blackberry Messanger (BBM) peserta didik.

F. Uji Validitas Data


Uji validitas data digunakan berkaitan data dan informasi yang
dikumpulkan dalam penelitian.

Menurut Alias Baba dalam Iskandar (2013)

validitas adalah sejauh mana instrumen penelitian mengukur dengan tepat


konstruk variabel penelitian. Sedangkan menurut Afrizal validitas data yang
terkumpul dalam penelitian dapat mengambarkan realitas yang diharapkan oleh
peneliti (2014: 167). Dalam penelitian kualitatif bukan jumlah informan yang
menentukan validitas data yang terkumpul melainkan ketepatan dan kesesuaian
sumber data dengan data yang diperlukan. Salah satu teknik untuk memperoleh

31

data yang valid dalam penelitian kualitatif adalah penggunaan teknik trianggulasi.
Dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasai metode.
1. Trianggulasi Sumber
Dalam menggunakan trianggulasi sumber, peneliti menggunakan beragam
sumber data yang tersedia. Data yang sama dan sejenis akan lebih baik bila digali
dari beberapa sumber yang berbeda. Dengan demikian apa yang diperoleh dari
sumber satu, bisa teruji kebenarannya apabila dibandingkan dengan data sejenis
yang diperoleh dari sumber yang berbeda, baik kelompok sumber sejenis maupun
sumber yang berbeda jenisnya (Sutopo, 2002: 79). Jadi, trianggulasi sumber ini
dilakukan dengan cara membandingkan informasi dari informanyang satu dengan
informan yang lainnya, membandingkan data yang diperoleh dari dokumen dan
arsip dengan hasil wawancara informan, dan membandingkan data hasil observasi
dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara dari informan.
Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan informasi yang diperoleh
dari informan kunci maupun pendukung. Selanjutnya membandingkan data yang
diperoleh dari hasil dokumentasi (rekapitulasi kehadiran, tata tertib siswa maupun
status BBM peserta didik) dengan hasil wawancara informan kunci maupun
pendukung. Selain itu peneliti membandingkan pula data yang diperoleh dari hasil
observasi di dalam maupun diluar lingkungan sekolah dan BBM peserta didik
dengan hasil wawancara dari informan kunci maupun informan pendukung.
2. Trianggulasi Metode
Trianggulasi metode digunakan untuk memperoleh data yang sama dan
sejenis dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda pula.
Peneliti mengumpulkan data yang sama atau sejenis dengan menggunakan metode
observasi, wawancara mendalam, dan metode studi dokumentasi. Ketiga metode
tersebut digunakan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi, bentuk-bentuk
dan faktor penyebab perilaku membolos di kalangan peserta didik SMA Negeri 6
Surakarta.
Trianggulasi metode dilakukan untuk melakukan pengecekan terhadap
penggunaan metode pengumpulan data, apakah informasi yang didapat dari
interview sama dengan informasi yang diperoleh dari observasi maupun

32

dokumentasi (Bungin, 2011: 265). Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan
pengecekan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan observasi
maupun studi dokumentasi. Selanjutnya studi dokumentasi dapat disilangkan
dengan hasil observasi dan wawancara mendalam sampai memperoleh data yang
teruji validitasnya untuk menarik kesimpulan.

G. Analisis Data
Analisis data berarti melakukan kajian untuk memahami struktur suatu
fenomena-fenomena yang berlaku di lapangan. Analisis dilakukan dengan
melakukan telaah terhadap fenomena atau peristiwa secara keseluruhan, maupun
terhadap bagian-bagian yang membentuk fenomena tersebut serta hubungan
keterkaitannya. Menurut Miles dan Huberman (1986) dalam Iskandar (2013: 223)
menyatakan bahwa: analisis data kualitatif mempergunakan kata-kata yang
disusun dalam sebuah teks yang diperluas atau dideskripsikan. Pada saat
memberikan makna pada data yang dikumpulkan, maka peneliti menganalisis dan
menginterpretasikan data. Karena penelitian bersifat kualitatif, maka analisis data
berlangsung mulai dari awal penelitian sampai penelitian berakhir yang
dituangkan dalam laporan penelitian yang dilakukan secara simultan dan terusmenerus. Selanjutnya interpretasi data dilakukan dengan mengacu kepada rujukan
teoritis yang berhubungan atau berkaitan dengan masalah penelitian.
Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisa
data secara kualitatif dengan menggunakan model interaktif. Analisa data
disajikan berdasarkan konsep tertentu dalam kerangka teori yang telah disajikan
sebelumnya. Data yang berupa kata-kata, kalimat yang dikumpulkan melalui
observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi diolah dan dianalisa supaya
menghasilkan kesimpulan yang valid. Dalam hal ini data yang diperoleh dalam
penelitian diolah dan dikonfirmasi dengan informasi dari informan yang
berkompeten yang sedang diteliti. Berdasarkan paparan yang dikemukakan
informan kemudian peneliti memberikan kesimpulan dan saran. Selain itu hal ini
juga bermanfaat dalam memecahkan masalah yang telah disebutkan dalam
rumusan masalah.

33

Menurut Faisal 2001 dan Moeloeng 2001 dalam Iskandar (2013: 224)
menyatakan bahwa pengumpulan data reduksi data, display data, dan verifikasi
atau pengambilan kesimpulan bukan sesuatu yang berlangsung linier, tetapi
bersifat simultan atau siklus yang interaktif. Dalam penelitian ini terdapat model
analisis data yang meliputi: reduksi data, display (penyajian) data dan penarikan
kesimpulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.1 sebagai berikut:
Gambar 3.1
Komponen-komponen analisis data model Interaktif

Pengumpulan data

Penyajian data

Reduksi data

Penarikan
kesimpulan

Sumber : Miles dan Huberman (Iskandar, 2013: 224)


Dari gambar 3.1 dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan melalui berbagai bukubuku yang menunjang dengan persoalan penelitian,

kemudian mencari

informasi yang ada dilapangan guna memperoleh data dengan teknik


pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi yang
dilaksanakan di SMA Negeri 6 Surakarta.
2. Reduksi data
Tahap analisis selanjutnya adalah reduksi data. Tahap reduksi data berguna
untuk memproses data yang diperoleh dengan menyeleksi data agar analisis
data yang didapatkan lebih fokus dan sederhana dalam menjelaskan dan

34

menjawab permasalahan yang ada dilapangan. Reduksi data ini dilakukan


melalui field note dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi di
lapangan.
3. Penyajian Data
Penyajian data yaitu pengambilan berbagai informasi yang telah disusun
secara

sistematis

dalam

bentuk

narasi

sehingga

dapat

ditarik

kesimpulan.Penyajian data dilakukan dengan cara merangkai informasi dan


data menjadi kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan penelitian
yang mudah dipahami dan tersusun secara sistematis.
4. Penarikan Data (Verifikasi Data)
Verifikasi data digunakan untuk mengolah data dan informasi yang diperoleh
dari lapangan yang akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari penelitian tersebut.

H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dilakukan melalui empat tahap, yaitu: persiapan,
pengumpulan data, analisis data, dan penyususnan laporan penelitian (Sutopo:
2002: 187-190). Untuk lebih jelasnya kegiatan penelitian ini direncanakan dengan
prosedur penelitian sebagai berikut:
1. Persiapan
a. Mengajukan judul penelitian skripsi kepada dosen pembimbing
b. Mengumpulkan bahan dan sumber materi untuk penelitian
c. Melakukan penyusunan prososal penelitian
d. Mengurus perijinan untuk melakukan penelitian
e. Menyiapkan instrument penelitian
2. Pengumpulan Data
a. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan
dokumentasi
b. Membuat catatan penelitian berupa field note
3. Analisis Data
a. Memilih dan menentukan teknik analisis data yang tepat untuk digunakan
dalam penelitian dan dicocokan dengan hasil temuan data di lapangan

35

b. Melakukan verifikasi dan pembahasan dengan dosen pembimbing


c. Membuat kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian yang telah
dilakukan.
4. Penyusun laporan penelitian
a. Penyusunan laporan
b. Review laporan
c. Melakukan perbaikan revisi laporan sesuai dengan hasil yang telah
didiskusikan
d. Penyusunan laporan

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian mengenai konstruksi sosial perilaku membolos di
kalangan peserta didik ini berada di SMA Negeri 6 Surakarta.SMA Negeri 6
Surakarta terletak di jalan Mr. Sartono No. 30, kelurahan Nusukan, kecamatan
Banjarsari, kota Surakarta, provinsi Jawa Tengah. Letak SMA Negeri 6 Surakarta
berbatasan dengan SMA Negeri 5 Surakarta, SD Cengklik dan Jalan Let. Jen.
Sutoyo di sebelah barat. Di sebelah timur berbatasan dengan SLB C Surakarta dan
SMK 3 TP Surakarta. Sedangkan disebelah selatan berbatasan dengan pemukiman
penduduk dan Jalan Mr Sartono di sebelah utara. Berdasarkan data yang diperoleh
diketahui bahwa luas sekolah adalah 54.050 m2, dimana terbagi menjadi 2 gedung
yaitu gedung utara dan gedung selatan.
SMA Negeri 6 Surakarta berdiri pada tahun 1976 dengan nama Sekolah
Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP), dimana kurikulum yang digunakan
adalah kurikulum SMA (kurikulum 1975 untuk SMA). Berdirinya SMPP dirintis
oleh SMA Negeri 5 Surakarta dengan kepala sekolah Drs.R.M. Soepeno. Pada
tahun 1985 berdasarkan SK No. 0533/0/1985 nama SMPP Negeri 40 Surakarta
dirubah menjadi SMA Negeri 6 Surakarta. Selanjutnya pada tahun 1997 berganti
nama menjadi SMU Negeri 6 Surakarta, kemudian seiring dengan perubahan
kurikulum KTSP berubah kembali menjadi SMA Negeri 6 Surakarta.
Visi SMA Negeri 6 Surakarta adalah mewujudkan manusia yang
berakhlak mulia, berilmu, berwawasan lingkungan dan berdaya saing global.
Indikator dari visi tersebut antara lain: a) Sekolah yang mengedepankan
pembentukan karakter atau perilaku yang luhur bagi warga sekolah. b) Karakter
atau perilaku guru dan karyawan dapat menjadi suri tauladan bagi peserta didik
dan masyarakat. c) Sekolah yang mengembangkan kecerdasan intelektual,
spiritual, emosional, dan sosial bagi peserta didik. d) Sekolah yang menyiapkan
peserta didiknya dengan ketrampilan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya. e)

36

37

Sekolah yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan melestarikannya.


f) Sekolah yang membekali peserta didik guna bersaing di era global.
Berdasarkan visi tersebut, maka misi sekolah dapat dirumuskan sebagai
berikut: a) Meningkatkan pengamalan ajaran agamanya dalam kehidupan pribadi
dan masyarakat.b) Membudayakan perilaku santun dalam pergaulan dan
menjunjung tinggi nilai nilai budaya yang luhur.c) Mengembangkan potensi
peserta didik dengan mengintegrasikan nilai sikap dalam setiap proses belajar
mengajar.d) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pembelajaran
yang integratif.e) Membiasakan sikap peduli lingkungan melalui kegiatan OSIS
dan ekstrakurikuler. f) Meningkatkan wawasan internasional.
Pendidikan

menengah

memiliki

tujuan

meningkatkan

kecerdasan,

pengetahuan, kepribadian, akhlak mula serta keterampilan untuk hidup mandiri


dan mengikuti pendidikan lebuh lanjut. Berdasarkan tujuan tersebut serta visi dan
misi sekolah, maka tujuan yang hendak dicapai SMA Negeri 6 Surakarta antara
lain : a) Memantapkan pribadi peserta didik sebagai pengamal agama yang kuat,
toleran, berakhlak mulia, berkepribadian nasional dan cinta tanah air melalui
pengembangan iklim sekolah yang kondusif. b) Meningkatkan layanan
pendidikan

dengan

memberdayakan

seluruh

komponen

sekolah.

c)

Mengembangkan budaya belajar guna peningkatan potensi diri. d) Menyiapkan


peserta didik yang berilmu sehat, cakap, terampil, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang bertanggung jawab. e) Meningkatkan kepedulian warga
sekolah terhadap kebersihan, keindahan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan.
f) Menyiapkan peserta didik agar mampu berkompetensi secara nasional dan
internasional.
SMA Negeri 6 Surakarta memiliki 29 kelas dengan 3 jurusan, yaitu IPA
(MIA), IPS (IIS), dan Bahasa (IBB). Terdapat pula 72 orang tenaga pengajar
untuk berbagai bidang mata pelajaran dan 21 orang karyawan yang membantu
administrasi maupun operasional sekolah. SMA Negeri 6 Surakarta merupakan
sekolah dengan jumlah peserta didik relatif besar, dimana pada tahun pelajaran
2014/2015 terdapat 832 peserta didik seperti yang terlihat pada tabel 4.1 berikut
ini :

38

Tabel 4.1 Jumlah Peserta Didik SMA Negeri 6 Surakarta


AGAMA X
XI XII Jumlah Program
X
XI XII Jumlah
237 227 214
678
124 134
96
354
Islam
IPA
13
11
15
39
128 113 126
367
Kristen
IPS
43
36
115
34
43
111
Katholik 36
BAHASA 34
Jumlah
286 281 265
832
Jumlah
286 281 265
832
Sumber : data jumlah peserta didik SMAN 6 Surakarta tahun pelajaran 2014/2015
Peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah, tidak
akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib sekolah. Melalui peraturan
maupun tata tertib tersebut diharapkan dapat tercipta suasana tertib dan teratur
guna mendukung proses pembelajaran. Selain itu diharapkan pula terbentuknya
sikap disiplin dan pencapaian kemandirian identitas peserta didik sesuai dengan
tugas perkembangannya sebagai manusia remaja. Berbagai peraturan mengenai
peserta didik dikemas dalam tata tertib siswa SMA Negeri 6 Surakarta.
Tata tertib siswa SMA Negeri 6 Surakarta adalah peraturan-peraturan yang
telah ditetapkan oleh sekolah yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh
peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta. Dalam bab II pasal 3 mengenai waktu dan
tempat pelaksanaan kegiatan pembelajaran dijelaskan bahwa : a) peserta didik
tidak dibenarkan berada di luar kelas pada saat KBM berlangsung tanpa seizin
guru kelas kecuali KBM yang dilaksanakan dilapangan. b) peserta didik tidak
dibenarkan keluar ruangan kelas pada jam pelajaran pada waktu guru pengajar
belum memasuki ruang kelas. Apabila dalam waktu sepuluh menit guru pengajar
belum hadir, maka ketua/wakil ketua kelas menghubungi guru pengampu/guru
piket. c) Jika tanpa sepengetahuan guru yang mengajar, seorang peserta didik
keluar kelas, maka peserta didik yang bersangkutan tidak diperbolehkan
mengikuti pelajaran yang ditinggalkan, sampai ada penyelesaian kasus itu lebih
lanjut. d) peserta didik diwajibkan mengikuti seluruh proses KBM dengan tetib.
Selanjutnya dalam pasal 4 mengenai kehadiran peserta didik dijelaskan
pula bahwa : a) peserta didik wajib hadir di sekolah sebelum KBM dimulai,
dimana pelajaran dimulai pukul 06.30 WIB. b) Peserta didik yang tidak hadir di
sekolah diwajibkan untuk : Membuat surat izin yang ditanda tangani oleh Orang
Tua/Wali, Siswa yang sakit lebih dari 2 (dua) hari harus menyerahkan surat

39

keterangan dokter, Apabila belum sempat membuat surat ijin diharuskan


memberitahu sekolah (melalui telepon) untuk menginformasikan alasan tidak
hadir, yang ditindaklanjuti dengan surat ijin dari orang tua/wali atau surat
keterangan dokter bagi yang sakit. c) Peserta didik diwajibkan pula untuk
mengikuti kegiatan yang diwajibkan sekolah.
Disamping melalui tata tertib sekolah, kegiatan pembinaan kesiswaan guna
mengembangkan daya sekolah dan pembentukan karakter peserta didik di SMA
Negeri 6 Surakarta dikemas pula dalam program VISKA KULTUR. Untuk
menunjang ketercapaian program VISKA KULTUR tersebut maka diberlakukan
berbagai kebijakan seperti : (a) Peserta didik SMA Negeri Surakarta diwajibkan
hadir sebelum tanda masuk kelas berbunyi / jam 06.30. (b) Semua pintu gerbang
ditutup dan dikunci ketika tanda masuk kelas jam pertama berbunyi. (c) Pintu
gerbang dibuka kembali setelah tanda jam pelajaran kedua berbunyi. (d) Peserta
didik yang terlambat dijatuhi sanksi tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran
di kelas dan wajib lapor kepada petugas piket KBM untuk diproses sesuai
prosedur penanganan. (e) Peserta didik yang tidak masuk sekolah tanpa surat ijin /
keterangan / konfirmasi, maka orang tua / wali peserta didik wajib hadir ke
sekolah untuk mengkonfirmasikan pelanggaran tersebut kepada wali kelas. (f)
Peserta didik diwajibkan mengikuti proses kegiatan pembelajaran sesuai tata tertib
yang telah ditentukan. (g) Peserta didik diwajibkan menjaga kebersihan dan
kerapian lokasi pembelajaran dan lingkungannya. (h) Peserta didik diwajibkan
menggunakan perangkat IT dengan mentaati ketentuan perundang-undangan yang
berlaku. (i) Peserta didik diwajibkan bersikap, berpenampilan, bertutur-kata dan
berperilaku ramah (sapa dan salam), sopan santun, rendah hati, dan menjunjung
tata krama dengan siapapun. (j) Peserta didik diwajibkan memakai pakaian
seragam sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan bersepatu serta beratribut
bedge, dasi, bendera merah putih, dan topi (dipakai saat upacara dan kegiatan
lapangan lainnya.
Pengawasan terhadap tata tertib peserta didik dilakukan oleh seluruh guru
dan tenaga non kependidikan di SMA Negeri 6 Surakarta di koordinasi oleh Tim
(Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan) STP2K dan Kesiswaan. Tim

40

STP2K adalah tim yang beranggotakan guru, karyawan yang mempunyai tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh untuk menegakkan Tata Tertib
Siswa. Tim STP2K berada dibawah koordinasi Wakasek bidang kesiswaan. Tim
STP2K yang ada di SMAN 6 Surakarta berjumlah 5 orang. Tim tersebut diketuai
oleh bapak Joko Purnomo dan beranggotakan ibu Suwarni, Oni Yusnani, bapak
Iwan Hartanto dan Joko Waluyo. Tim STP2K bekerja sama dengan guru piket
KBM, guru BK, guru mata pelajaran dan wali kelas dalam penanganan
pelanggaran tata tertib sekolah. Berbagai pelanggaran yang dilakukan peserta
didik akan diproses sesuai dengan Standart Operasional Pelaksanaanpenanganan
(SOP) pelanggaran tata tertib siswa SMA Negeri 6 Surakarta.
Berdasarkan kedua aturan yang terdapat dalam bab II pasal 3 dan 4, serta
kebijakan-kebijakan yang menunjang ketercapaian VISKA KULTUR dapat
diketahui bahwa kehadiran peserta didik menjadi hal yang diprioritaskan. Hal
tersebut dikarenakan kehadiran peserta didik dalam berbagai kegiatan akademik
menunjukan adanya ketertiban dan kedisiplinan. Namun tidak dapat dipungkiri,
jika di SMA Negeri Surakarta kerapkali ditemui perilaku ketidakdisiplinan peserta
didik, khususnya membolos. Perilaku membolos merupakan persoalan klasik
dalam dunia pendidikan, yang selalu muncul dan belum terselesaikan hingga saat
ini. Berbagai sanksi mulai dari peringatan langsung secara lisan maupun tulisan,
membuat surat pernyataan, panggilan orang tua / wali murid, tidak diperkenankan
mengikuti pembelajaran sementara waktu, ancaman tidak naik kelas hingga
diserahkan kembali kepada orang tua / dikeluarkan telah dilakukan. Meskipun
berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulagi persoalan membolos di SMA
Negeri 6 Surakarta, namun pada kenyataanya perilaku membolos belum dapat
terselesaikan secara maksimal.
SMA Negeri 6 Surakarta dipilih sebagai lokasi penelitian dikarenakan
adanya sumber data dan lokasi yang menurut peneliti tepat, yaitu adanya peserta
didik yang berperilaku membolos. Penetapan lokasi penelitian ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa peneliti ingin memperoleh gambaran mengenai konstruksi
sosial perilaku membolos di kalangan peserta didik, dimana fokusnya adalah
peserta didik yang berperilaku membolos. SMA Negeri 6 Surakarta dengan segala

41

peraturan dan tata tertibnya, keanekaragaman karakteristik peserta didiknya serta


terdapatnya persoalan membolos menjadi daya tarik bagi peneliti untuk
melakukan penelitian mengenai konstruksi sosial perilaku membolos.

B. Deskripsi Temuan Penelitian


Sekolah merupakan lembaga formal untuk mendidik anak-anak supaya
mampu mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan cita-cita pendidikan
bangsa dan kebudayaanya. Dewasa ini, sekolah menjadi salah satu agen sosialisasi
yang penting dalam kehidupan manusia. Ia menjadi pengganti apa yang telah
dilakukan keluarga seiring dengan intensifnya anak memasuki ruang sosial dari
sekolah. Peserta didik merupakan individu yang menimba ilmu di sekolah.
Mereka merupakan bagian dari warga sekolah yang dituntut untuk menaati segala
peraturan maupun tata tertib yang ada di dalamnya. Selain itu ada tuntutan pula
pula untuk membina hubungan baik dengan guru, karyawan, sesama peserta didik
maupun warga sekolah yang lainnya.
Remaja merupakan individu yang tengah berkembang menuju kematangan
dan kemandirian identitasnya. Proses perkembangan seorang remaja tidak selalu
berjalan dengan mulus serta steril dari masalah. Proses perkembangan tersebut
tidak selalu searah dengan potensi, harapan maupun nilai-nilai yang dianut karena
terdapat faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Seperti halnya
yang di kemukan oleh Andersen (1993) dalam Ali & Asrori (2004), era
globalisasi yang ditunjang oleh laju perkembangan teknologi dan arus kehidupan
yang sulit memberikan pengaruh terhadap dinamika kehidupan remaja dan proses
belajarnya. Dalam konteks proses belajar timbul gejala negatif seperti perilaku
membolos di kalangan peserta didik. Membolos adalah salah satu perilaku yang
sering ditemui di dunia pendidikan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, SMA Negeri 6 Surakarta
merupakan tempat yang digunakan untuk menimba ilmu, yang mana di dalamnya
juga terdapat peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhi oleh semua warga
sekolahnya, termasuk peserta didik. Peneliti melihat terdapat berbagai
karakteristik peserta didik di SMA Negeri 6 Surakarta. Terdapat peserta didik

42

yang tunduk pada peraturan maupun peserta didik yang cenderung melakukan
penyimpangan terhadap peraturan tersebut. Penelitian ini difokuskan pada peserta
didik yang melanggar tata tertib sekolah, yakni dalam hal membolos. Membolos
yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tidak hadir dalam kegiatan
intrakurikuler di sekolah dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Adanya perilaku membolos yang berkembang di kalangan peserta didik tidak
terlepas dari konstruksi sosial yang mereka bangun mengenai membolos itu
sendiri.
Berangkat dari realitas diatas, peneliti berusaha untuk mendeskripsikan
tentang proses konstruksi sosial perilaku membolos dikalangan peserta didik,
yang subyek penelitiannya adalah peserta didik yang pernah maupun masih
menjadi pelaku membolos. Peneliti ingin mendeskripsikan terlebih dahulu
mengenai data penelitian yang diperoleh melalui wawancara dan observasi
penelitian. Selama proses penelitian, peneliti menemukan berbagai informasi yang
terkait dan mendukung masalah penelitian.
Berikut peneliti ingin menyampaikan data penelitian yang diperoleh dari
peserta didik yang berperilaku membolos. Informan dalam penelitian ini antara
lain: (1) 9 peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta yang berperilaku membolos,
baik membolos seharian penuh maupun membolos secara parsial sebagai
informan kunci (dengan menggunakan inisial) yaitu : EM, EW, ANG, RD, AUL,
CAL, GAB, AX, dan FD. (2) Guru Bimbingan Konseling (BK), Satuan Tugas
Pelaksana Pembinaan Kesiswaan (STP2K) di sekolah, ibu penjaga kantin dan
teman informan kunci yang dapat memberikan tambahan informasi.
Peneliti mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dan observasi.
Wawancara mendalam dilakukan didalam maupun diluar lingkungan sekolah.
Wawancara mendalam didalam lingkungan sekolah digunakan untuk menggali
informasi dari pihak-pihak sekolah seperti Petugas STP2K, guru BK dan ibu
penjaga kantin. Sedangkan wawancara mendalam diluar lingkungan sekolah
digunakan untuk menggali informasi dari peserta didik, baik pelaku membolos
maupun temannya. Lingkungan luar sekolah dipillih untuk melakukan wawancara
mendalam terhadap peserta didik dengan tujuan untuk memberikan perasaan

43

nyaman dan keleluasaan dalam menyampaikan informasi terkait masalah


penelitian. Lingkungan luar sekolah yang digunakan untuk wawancara mendalam
antara lain : On Fire, Popeye, Arjes Kitchen, Plengeh, es Teller 58, Wedangan
Classic, Wedangan Purwosari, dan kost Sari Asih (kost peneliti). Sedangkan
observasi dilakukan di lingkungan SMA Negeri 6 Surakarta serta tempat-tempat
yang menurut informan menjadi lokasi membolos peserta didik SMA Negeri 6
Surakarta, seperti : toko STRONG family dan Warung Mbak Yanti.
Untuk lebih jelasnya, peneliti ingin menguraikan data penelitian sebagai
berikut :
1. Persepsi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik
Membolos merupakan hal yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan di
Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, perilaku membolos di kalangan peserta
didik dianggap sebagai hal yang biasa. Perilaku membolos dianggap biasa karena
telah melalui proses pembiasaan. Pada mulanya muncul perasaan takut saat
peserta didik membolos, namun seiring dengan berjalannya waktu mereka
menjadi biasa. Hal demikian sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh salah
seorang informan, demikian pernyataan EW yang merupakan peserta didik lakilaki kelas XI IIS 4:
Mbolos ki biasa mbak, aku ben iso nyeritakke pengalamanku ning koncokonco. Aku SMA ii ora mungkin wonge apik terus mesti enek bajingane. Ya
bagiku mbolos kui biasa mbak, yaa mungkin pertama kali wedi tapi suwisuwi dadi biasa mbak. Yo yen mbolos kan podo wae awake dewe sholat
mbak, yen awake dewe pendak ndino sholat kan pengen sholat terus. Lha
yen mbolos pisan kan pengen mbolos terus(W/EW/ 06 Maret 2015).
(membolos itu biasa mbak, supaya saya dapat menceritakan pengalaman
kepada teman-teman. Pada waktu SMA tidak mungkin saya akan menjadi
orang yang baik terus, pasti ada masa nakalnya. Menurut saya membolos
itu adalah hal yang biasa, walaupun mungkin pada awalnya takut tapi
lama-kelamaan menjadi biasa mbak. Membolos itu ibaratnya kita sholat,
ketika setiap hari kita selalu sholat maka timbul keinginan untuk sholat
terus. Sama halnya dengan membolos, ketika membolos sekali maka
timbul keinginan untuk membolos lagi) (W/EW/ 06 Maret 2015).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa membolos
merupakan bagian dari pengalaman yang dapat ia ceritakan di kemudian hari.
Membolos

dianggap

sebagai

bagian

dari

masa

bajinganketika

SMA.

44

Bajingandalam kultur jawa diartikan sebagai bandit, penjahat ataupun orang yang
berbuat jahat. Bajingan yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah nakal
ataupun suatu penyimpangan terhadap norma-norma sosial, yang dalam hal ini
adalah tata tertib sekolah.
Informan EW telah terbiasa membolos semenjak SMP tepatnya, saat
duduk di bangku kelas 1 semseter 2. Ia pertama kali membolos dikarenakan ada
kejadian tawuran antara sekolahnya yaitu MTS Sambi dengan SMP Negeri 2
Sambi yang dilatarbelakangi oleh masalah sepak bola. Pada waktu itu terdapat
30 peserta didik yang membolos, dimana EW merupakan salah seorang diantara 5
peserta didik yang menjadi provokator membolos dan tawuran kala itu.
Menurutnya permasalahan tersebut sampai pada polisi, namun ia bersama dengan
teman-temannya tidak ditahan hanya dimintai keterangan. Semenjak saat itu
bukannya merasa jera melainkan ia menjadi terbiasa membolos.
Sejalan dengan EW, demikian pernyataan dari EM yang telah terbiasa
membolos semenjak SMP,
Aku mulai kenal mbolos ket kelas 2 SMP mbak. Pertama aku ora mbolos
sek mbak, aku ki ajare soko colut pas pelajaran. Jaman SMP selama 2
bulan berturut-turut aku gak pernah melu pelajaran agama, mergo dikon
apalan surat-surat. Kui aku karo koncoku cewek yoan, kadang ya aku ning
kantin, turu, nonton tivi, trus yen ora melu pelajaran agama liyane misale
katolik. Soko kono kui aku kenal mbolos mbak. Pertama kali aku mbolos
gara-gara menghindari hukuman mergo telat melu ibadah pagi ning
sekolahan. Youwis aku milih ora mlebu ketimbang dihukum (W/EM/21
Februari 2015).
(Saya mulai mengenal membolos semenjak kelas 2 SMP mbak. pertama
saya tidak langsung membolos mbak, saya belajar dari colut ketika
pelajaran. Pada waktu SMP selama 2 bulan berturut-turut saya tidak
pernah mengikuti pelajaran agama, karena diwajibkan untuk hafalan suratsurat. Saat ini saya bersama dengan teman perempuan, terkadang saya di
kantin, tidur, nonton TV, atau mengikuti pelajaran agama lainnya seperti
katolik. Berawal dari situ saya mengenal membolos. Pertama kali saya
membolos dikarenakan menghindari hukuman akibat terlambat mengikuti
ibadah pagi disekolah. Yasudah akhirnya saya meilih tidak masuk dari
pada dihukum (W/EM/21 Februari 2015).
EM merupakan peserta didik perempuan yang menjabat sebagai sekertaris
di kelas XI IIS 3. Dari hasil wawancara tersebut dapat dijelaskan bahwa pada
awalnya EM tidak membolos secara penuh, tetapi ia belajar dari meninggalkan

45

kelas pada saat proses pembelajaran. Ketika SMP selama 2 bulan berturut-turut ia
tidak pernah mengikuti pelajaran agama karena diwajibkan menghafalkan suratsurat pendek. Menurutnya ia membolos dengan satu teman perempuannya,
terkadang mereka ke kantin, tidur, nonton TV, bahkan mengikuti pelajaran agama
lainnya seperti katolik. Dari sanalah ia mengenal membolos dan menjadi terbiasa
hingga saat ini. Ia mengaku frekuensi membolosnya semakin meningkat ketika
duduk di bangku SMA ini. Tidak jauh berbeda dengan EW, informan EM
mengaku pertama kali membolos terdapat perasaan takut di dalam dirinya. Seiring
berjalannya waktu EM menjadi santai ketika membolos karena ia dapat
mengetahui tempat-tempat yang menurutnya nyaman untuk membolos.
Pernyataan kedua informan diatas juga diperkuat oleh informan lainnya,
yaitu AG yang merupakan peserta didik perempuan kelas XI IIS 1. Hal tersebut
terlihat dari wawancara berikut ini :
Sejujurnya yen mbolos ngunu kui deg-degan og sumpah mbak. Uwong
kan yen merasa melakukan kesalahan mesti gak penak to mbk, wedi
rasane. Wedi sih tapi yaa digowo happy wae mbak. Soale nek wedi-wedi
kui ngko malah kepikiran terus mbak, awakke dewe ki ngroso ne gawe
happy wae, gawe enjoy wae (W/AG/ 08 Februari 2015).
(Sebenarnya ketika membolos ada perasaan deg-degan mbak. Ketika orang
merasa melakukan kesalahan akan timbul perasaan tidak enak, takut
rasanya. Ada ketakutan tetapi yaa dibuat seneng aja mbak. Kerena jika
merasa takut-takut saja akan menimbulkan kekhawatiran terus menerus
mbak, dibawa seneng dan dinikmati saja) (W/AG/ 08 Februari 2015).
Informan AG menutupi perasaan takut dalam dirinya ketika membolos
dengan membuat dirinya merasa senang. Hal tersebut dilakukan agar ia tidak
diliputi oleh perasaan bersalah karena telah membolos. Membolos merupakan
salah satu bentuk pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang apabila ketahuan
tentu akan memperoleh sanksi.
Pendapat yang senada disampaikan pula oleh peserta didik laki-laki kelas
XI IIS 2 yang bernama FD. Baginya membolos itu disatu sisi enak namun disisi
lain tidak enak. Sisi tidak enaknya adalah perasaan was-was, takut ketahuan
membolos pada saat berada dijalan. Sisi enaknya adalah ia merasa senang dapat
meninggalkan sejenak rutinitas sekolah, baginya membolos itu sah-sah saja
asalkan tidak terlalu sering.

46

Informan CAL dan RD yang merupakan peserta didik laki-laki kelas XI


IIS 1 pun beranggapan jika membolos adalah hal yang biasa. Bagi CAL
membolos bukanlah hal yang baru, dimana semenjak SD ia telah terbiasa
terlambat dalam mengikuti pelajaran dikelasnya bahkan tidak pernah mengikuti
bimbingan menjelang ujian nasional yang diselenggarakan sekolahnya. Hal ini
diperkuat oleh HAG, teman akrab CAL semenjak kelas X yang dalam penelitian
ini berperan sebagai informan pendukung,
CAL ii sekolah kayak formalitas mbak, mbendak dino tanggal abang
hahahaha (W/HAG/16 Feb 2015).
(CAL itu sekolah seperti formalitas mbak, setiap hari tanggal merah / libur
hahahahaha) (W/HAG/16 Feb 2015).
Informan RD beranggapan membolos merupakan urusan masing-masing
individunya. Baginya tidak ada salahnya membolos jika tidak ada tugas maupun
ulangan, apalagi membolosnya bersama-sama dengan teman. Hal demikian
diperkuat oleh status akun Blackberry Messager (BBM) milik teman sekelas RD.
Status BBM milik Ansyah Putri yang dibuat pada tanggal 26 Maret 2015, yakni
sehari setelah study tour kelas XI di Bali dan Yogyakarta yang berbunyi sebagai
berikut : Mreii masal (Meliburkan diri bersama-sama) yang dibuat pada jam
04.57 pagi. Selanjutnya pada jam 05.18 pagi ia kembali membuat status Sosis:
aku Jumat yoooo, masuk Jumat waee. Nek Sekelas po meh di seneni. (Sosis: Saya
Jumat yaa, masuk Jumat saja. Apabila satu kelas apa ya dimarahi).
Berdasarkan status tersebut dapat terlihat apabila peserta didik dengan
sengaja berencana untuk membolos bersama-sama. Perilaku membolos bersama
ini biasanya dilakukan ketika tidak ada pelajaran maupun tugas seperti pada saat
classmeetingsetelah ujian tengah semester, ujian semester maupun setelah study
tour.

Serupa dengan status akun Blackberry Messager (BBM), dokumentasi

rekapitulasi peserta didik memperkuat hal tersebut. Pada tanggal 26 Maret 2015 di
beberapa kelas, utamanya kelas XI IIS ditemukan banyak peserta didik yang
membolos. Di kelas XI 11S 4 terdapat 17 peserta didik yang membolos, kelas XI
IIS 1 sebanyak 12 peserta didik, kelas XI IIS3 sebanyak 19 peserta didik, dan
kelas XI IIS 2 berjumlah 7 peserta didik.

47

Di samping dianggap sebagai hal yang biasa, beberapa informan


menganggap membolos sebagai hal yang wajar dilakukan oleh anak SMA. Hal
tersebut dikarenakan peserta didik SMA merupakan masa pencarian identitas / jati
diri. Anggapan demikian disampaikan oleh AX, peserta didik kelas X IIS 3 yang
harus mengulang kelas X karena kebiasaan membolosnya, berikut ungkapan AX :
Mbolos ki jane yo wajar mbak menurutku, wajar sakjane mbak. Opo
meneh cah SMA kan jamane mencari jati diri to mbak, dadine yo wajar
lah (W/AX/04 Maret 2015).
(Membolos itu sebenarnya wajar mbak menurutku, wajar sebenarnya
mbak. Apalagi anak SMA itu kan masa mencari jati diri mbak, jadi yaa
wajarlah) (W/AX/04 Maret 2015).
Serupa dengan apa yang diungkapkan AX, demikian pernyataan GAB
yang juga menganggap membolos sebagai hal yang wajar,
Menurutku sih ya wajarlah kalau enggak masuk sekolah itu. Aku kan
masih muda to mbak, masih umur segini yoo dalam tahap pencarian jati
diri lah mbak (W/GAB/6 Maret 2015).
GAB merupakan peserta didik perempuan yang berasal dari kelas XI IBB
2. Ia menjelaskan bahwa membolos itu membuat ketagihan. Ketagihan yang
dimaksud dalam hal ini adalah suatu keadaan dimana ketika sekali melakukan
membolos, maka akan muncul keinginan / motivasi untuk mengulangi perilaku
sebelumnya sehingga menjadi suatu kebiasaan.
Selanjutnya berdasarkan data penelitian dapat diketahui bahwa membolos
dianggap lebih menyenangkan apabila dilakukan bersama dengan teman. Hal
tersebut dikarenakan peserta didik tidak akan merasa kesepian apabila membolos
bersama dengan teman. Hal demikian serupa dengan ungkapan salah seorang
informan, berikut ungkapan EM :
Yen mbolos kui asyik dan enake yen enek koncone, kan ora suwung mbak
trus pas ngendi2 ngunu kui enek sing tak ajak ngobrol, tak ajak crita. Yen
pengen ngendi ngunu enek koncone (W/EM/21 Februari 2015).
(ketika membolos itu akan lebih asyik dan enak jika ada temannya, karena
tidak akan merasa sepi dan ada yang diajak ngobrol, cerita, misalkan ingin
pergi ke suatu tempatpun ada yang menemani) (W/EM/21 Februari 2015).
Senada dengan yang diungkapkan oleh EM. Demikian ungkapan RD yang
merasa membolos lebih menyenangkan apabila dilakukan bersama teman,

48

neg mbolose enek koncone kui kan sing nggarai penak, luwih gayeng yen
enek koncone. Ya iyalah enak mbolos karo koncone, yen dewe kan suwung
og, yaa penak karo koncone (W/RD/07 Feb 2015).
(membolos dengan teman itu yang membuat enak, lebih menyenangkan
apabila ada temannya. Ya iyalah enak membolos dengan teman, apabila
sendiri kan suwung, yaa enak ada temannya) (W/RD/07 Feb 2015).
Pendapat diatas serupa dengan pendapat informan lainnya dalam
memaknai perilaku membolosnya. Informan AX menjelaskan dalam membolos
terkadang ia bersama teman namun terkadang sendirian. Menurutnya lebih
menyenangkan membolos bersama teman karena dia tidak akan merasa suwung,
kalaupun membolos sendirian kemungkinan ia hanya tidur di rumah. Hal senada
disampaikan pula oleh informan ANG, EW, CAL, dan FD. Mereka menganggap
jika membolos sendiri itu suwung sehingga tidak menyenangkan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa membolos sendirian
dianggap tidak mengasyikan dan diidentikkan dengan suwung. Kata suwung
berasal dari bahasa Jawa, yang memiliki beragam makna. Suwung dapat dimaknai
sebagai suatu kondisi gangguan kejiwaan, gila atau kurang waras. Individu yang
mengalami gangguan kejiwaan tidak memiliki kesadaran akan diri dan
lingkungannya, sehingga ia tidak tahu siapa dirinya, apa keinginannya dan bahkan
untuk apa ia hidup. Suwung dapat pula dimaknai sebagai suatu kekosongan yang
dialami individu. Kekosongan yang dimaksud adalah sebuah situasi dimana
seseorang merasa sendirian, sunyi atau kesepian karena tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Dalam konteks sosial suwung dapat diartikan sebagai bentuk alineasi /
keterasingan yang dialami oleh individu. Kata suwung yang dimaksudkan
informan dalam penelitian ini adalah suatu kondisi dimana individu merasa
sendirian dan kesepian sehingga ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya
seorang diri. Informan dalam penelitian ini tidak ingin mengalami suatu
keterasingan, sehingga merek cenderung memilih bersama teman ketika
membolos.
Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa perilaku
membolos adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan oleh peserta didik SMA
yang tengah berada dalam tahap pencarian jati dirinya. Perilaku membolos
menjadi hal yang biasa setelah melalui proses pembiasaan. Konsep membolos

49

dimaknai lebih menyenangkan apabila tidak dilakukan sendirian, hal demikian


karena membolos sendiri diidentikkan dengan suwung.

2. Bentuk-Bentuk Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik


Dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, dapat diketahui bahwa
terdapat 2 bentuk perilaku membolos. Kedua bentuk tersebut antara lain
membolos secara penuh, yang lebih dikenal dengan istilah mbolos dan membolos
secara parsial, yang dikenal dengan istilah colut.
a. Membolos (Mbolos)
Membolos diartikan sebagai suatu keadaan dimana peserta didik tidak
berada di sekolah selama satu hari penuh dengan alasan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Membolos penuh dikalangan peserta didik dikenal
dengan istilah mbolos. Demikian ungkapan informan GAB,
Mbolos berarti si anak itu berangkat ke sekolah, pamite ke sekolah dan
pake seragam tapi tu gak sampe ke sekolahan mbak. Jadi orang tua gak
tahu kalau anaknya gak masuk (W/GAB/6 Maret 2015).
Sejalan dengan pernyataan GAB, demikian pernyataan dari RD mengenai
membolos,
Yaa mbolos kui sing sedino ora mlebu sekolah mbak, nek selain kui dudu
mbolos kan itungane sik mlebu sekolah (W/RD/07 Feb 2015).
(Yaa mbolos itu yang sehari penuh tidak masuk sekolah mbak, selain itu
bukan mbolos karena hitungannya masih masuk sekolah) (W/RD/07 Feb
2015).
Hal serupa diungkapkan pula oleh petugas STP2K, dimana ia memperkuat
hal tersebut. Demikian ungkapan ibu ON,
Kalau disini, yang namanya mbolos itu yaa tidak masuk tanpa keterangan
mbak. Mungkin kalau anak itu dikatakan mbolos berangkat dari rumah
tapi tidak sampai ke sekolah (W/bu ON/16 April 2015).
Berdasarkan berbagai pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa
membolos diartikan sebagai tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.
membolos dalam hal ini di identikkan dengan tidak masuk sekolah full time, mulai
jam pertama hingga jam terakhir pelajaran. Dengan kata lain membolos adalah
tidak masuk sekolah seharian penuh / membolos penuh.

50

Membolos merupakan bentuk pelanggaran terhadap tata tertib sekolah


sehingga apabila dilakukan akan dijatuhi sanksi sesuai dengan prosedur yang
berlaku di sekolah. Dalam hal membolos peserta didik menggunakan berbagai
strategi untuk mempermudah perilaku membolosnya. Berbagai strategi tersebut
digunakan peserta didik untuk menghindari konsekuensi yang harus mereka
terima sebagai akibat dari membolos tersebut. Berdasarkan data penelitian
terdapat 4 strategi yang digunakan peserta didik untuk membolos, strategi tersebut
antara lain :
Pertama (1) menggunakan surat ijin. Surat ijin yang digunakan peserta
didik merupakan buatan orang tua, diri sendiri maupun teman. Peserta didik
seringkali menggunakan surat ijin untuk melindungi dirinya dari konsekuensi
yang harus diterima ketika tidak masuk sekolah. Meskipun sebenarnya takut,
namun mereka merasa aman karena telah menggunakan surat ijin seperti hasil
wawancara berikut ini :
Aku nek mbolos pake surat terus mbak, yang mbuatin mamah, karena
mamahku itu tahu ketika aku enggak masuk sekolah. Aku gak pernah
mbuat surat bohongan sendiri. Tapi ayahku gak tahu, jadine kalo enggak
masuk dan enggak sakit itu biasane aku ke rumahe eyangtrus nanti di
samperin sama mamah. Yaa sebenere pas mbolos karena banyak PR
numpuk itu aku wedi mbak yoan, tapi youwis penting kan enek surat ijin.
(W/AUL/9 Maret 2015).
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa ketika membolos
AUL selalu menggunakan surat ijin yang dibuatkan oleh ibunya dan tidak pernah
membuat surat ijin palsu. AUL merupakan peserta didik perempuan XI IIS 3,
dimana ia merupakan anak tunggal di keluarganya. Ia memilih membolos di
rumah neneknya, tempat yang dianggap aman dari jangakauan sang ayah.
Berbeda dengan AUL beberapa informan lainnya memilih menggunakan
surat ijin palsu, dalam artian surat ijin buatan sendiri / teman, seperti ungkapan
salah satu informan. Demikian ungkapan EM,
Aku nganggo surat ijin dadi aku ngko to karo nunggu koncoku aku
nggawe surat ijin trus malsukke tanda tangan. Nah aku karo koncoku kan
wes ganti klambi, koncoku sing jenenge PUT kui mau ngko mlebu ning
SMA 6 ngekekne surat dekne ngaku mbakku ngunu ngko yen dikon mlebu
ning BK sik ngko ngomonge sayu buru-buru mau masuk kuliah. Yen aku

51

mbolos mesti nggowo surat ora tahu nggowo surat, yen ora tak susulke
sesuke biasane (W/EM/21 Februari 2015).
(Saya menggunakan surat ijin, jadi sembari menunggu teman saya
membuat surat ijin kemudian memalsukan tanda tangan. Setelah saya dan
teman saya berganti baju, kemudian teman saya yang bernama PUT
(inisial dari nama sebenarnya) masuk ke SMA 6 mengantarkan surat
dengan mengaku sebagai saudara saya, jika disuruh ke BK ia akan
beralasan sedang buru-buru akan masuk kuliah. Ketika saya membolos
selalu membawa surat tidak pernah tidak membawa surat, jika tidak
demikian keesokan harinya saya susulkan surat ijinnya) (W/EM/21
Februari 2015).
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa EM menggunakan
surat ijin buatannya sendiri dengan tanda tangan orang tua yang dipalsukan. Ia
bekerjasama dengan partner membolosnya mengenai masalah surat-menyurat.
Kalaupun tidak meggunakan surat pada hari itu, ia akan memberikan surat ijin
keesokan harinya disaat masuk sekolah.
Selain pernyataan dari informan diatas, diperkuat pula oleh pernyataan dari
petugas STP2K yang menyatakan,
Yaaa mungkin untuk membolos kalau ngakalinya itu anak salah satu
caranya mungkin seperti yang dijelaskan mbake dengan membuat surat
sendiri yang ditanda tangani palsu, kalau kita kecolongan tidak ngecek /
kroscek di rumahnya mungkin yaa ada seperti itu (W/bu ON/16 April
2015).
Serupa dengan informan EM, Informan RD pun terkadang menggunakan
surat ijin buatan sendiri ketika membolos. Pada waktu membolos bersama dengan
teman-temannya RD bercerita jika mereka menggunakan surat ijin buatan sendiri.
Strategi yang biasa ia gunakan dalam membuat surat palsu adalah dengan
meminta bantuan teman yang mempunyai tulisan bagus dan rapi, dimana hal
tersebut dilakukan untuk menghindari kecurigaan guru. RD tidak merasa takut
apabila ketahuan menggunakan surat palsu, menurutnya tidak ada hukuman yang
akan diterimanya kecuali ditulis tanpa keterangan (alfa). Rasa tidak takutnya
disebabkan pula karena ia merasa tidak terlalu sering membolos dan ketika
membolos tidak berurutan sehingga tidak akan mungkin dipanggil oleh BK.
Sama halnya dengan RD, informan AG dan FD pun menggunakan surat
ijin palsu sewaktu membolos, terkadang mereka menyusulkan surat ijin tersebut

52

keesokan harinya. Begitu pula dengan CAL, menurutnya jika terlambat masuk
sekolah seringkali ia membolos kemudian menyusulkan surat ijin keesokan
harinya ketika masuk sekolah. Di SMA Negeri 6 Surakarta menyusulkan surat
ketika tidak masuk sekolah memang diperbolehkan. Hal ini sesuai dengan
pernyataan ibu ON, demikian pernyataannya :
Bisa mbak kalau disini. Biasanya orang tua telepon ke kantor Tata Usaha
(TU), nanti TU menyambungkan ke piket surat menyusul seperti itu. Yaa
yang benarnya seperti itu, kita benar-benar tahu dari orang tua kalau anak
bener-bener sakit meskipun nanti surat menyusul. Ada yang tidak telepon
nanti surat menyusul diperbolehkan pula, jadi langsung lapor ke BK nanti
menulis di BK.
Peristiwa menyusulkan surat ijin ketika membolos merupakan hal yang
biasa terjadi di kalangan peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta. Peserta didik
yang tidak menggunakan surat ijin sewaktu membolos, biasanya memilih
menyusulkan surat keesokan harinya. Mereka akan menyerahkan surat ijin
tersebut kepada guru piket ataupun BK yang bertugas dengan tujuan menghindari
ditulis tanpa keterangan (alfa).
Berdasarkan hasil penelelitian yang dilakukan peneliti, di kalangan peserta
didik terdapat fenomena yang unik, dimana secara otomatis mereka akan
membantu untuk menutupi peserta didik lainnya yang membolos. Terdapat suatu
mekanisme kerjasama yang merupakan wujud solidaritas di dalam kelas. Mereka
saling membantu satu sama lain. Hal demikian di lakukan karena mereka
beranggapan jika rasa saling membutuhkan satu sama lain di kalangan peserta
didik. Mekanisme kerjasama tersebut berjalan begitu saja tanpa ada yang
membantah ataupun mempertanyakannya lagi, seperti hasil wawancara berikut :
neg ora mlebu ngunu kui koncone ditakoki ngopo ora mlebu? Sakit, ada
acara keluarga. surate mana? Nyusul, youwis ngunu terus (W/FD/9
Februari 2015).
(Jika tidak masuk, terkadang temannya ditanya mbak kenapa tidak
masuk? Sakit, ada acara keluarga yaa seperti itu terus mbak) (W/FD/9
Februari 2015).
Hal serupa diungkapkan pula oleh informan AG, dimana ia memperkuat
hal tersebut. Demikian ungkapan AG,

53

Neg ora mlebu biasane gurune takon trus ngko koncone ngomong sakit
pak, surat ijinnya menyusul. Bar kui ditulis seg dengan tanpa keterangan
(alfa), ngko pas surat ijine menyusul lagi diganti (W/AG/ 08 Feb 2015).
(jika tidak masuk sekolah biasanya guru bertanya dan teman-teman
menjawab sakit, surat ijin menyusul. Kemudian ditulis tanpa keterangan
(alfa terlebih dahulu), setelah surat ijin menyusul ada baru diganti)
(W/AG/ 08 Feb 2015).
Berdasarkan hasil wawancara kedua informan tersebut dapat diketahui
bahwa terdapat mekanisme kerjasama antara peserta didik di dalam kelas.
Mekanisme tersebut berlangsung terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan
di kalangan peserta didik, bahkan sudah tidak dipertanyakan lagi. Hal demikian
dianggap biasa dan wajar.
Cara kedua (2) yang digunakan peserta didik untuk membolos adalah
tanpa menggunakan surat, melainkan dengan jujur kepada orang tua maupun
membohongi orang tua. Tidak semua peserta didik yang membolos menggunakan
surat ijin. Beberapa informan yang ditemui peneliti memilih tidak menggunakan
surat ketika membolos. Informan AX bercerita jika pertama kali membolos ia
menggunakan surat palsu, namun selanjutnya ia tidak lagi menggunakan surat
palsu dan lebih memilih jujur kepada orang tuanya seperti hasil wawancara
berikut ini :
Ooo iyaa mbak pertama kali aku mbolos nggawe surat palsu mbak. Trus
aku ngomong jujur neg aku wis males karo aku yaa pernah gawe surat
palsu barang karo wong tuaku. Dadi aku mbolos sekolah nggawe surat
palsu kui sekali tok mbak ya pas mbolos pertama kali kui, trus bar kui ya
ora tau nggowo surat aku. Aku pilih ora nggawe surat palsu meneh soale
ngunu kui mesti genah tetep konangan og mbak mending aku ngomong
ning mbokku, mbokku kan iso telepon opo piye ngunu mbak (W/AX/4
Maret 2015).
(pertama kali saya membolos membuat surat palsu mbak. kemudian saya
berbicara jujur jika saya sudah males dan pernah membuat surat palsu
kepada orang tua saya. Saya membolos menggunakan surat palsu yaa
Cuma sekali mbak, sewaktu pertama kali membolos kemudian setelahnya
tidak pernah membawa surat. Saya memilih tidak menggunakan surat
palsu lagi dikarenakan cepat atau lambat akan ketahuan, jadi dia leih
berbicara kepada ibunya agar ditelfonkan ke sekolah) (W/AX/4 Maret
2015).
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui jika AX lebih memilih jujur
kepada orang tuanya bahwa ia membolos lantaran malas sekolah yang disebabkan

54

sedari awal tidak ada niatan untuk bersekolah di SMAN 6 Surakarta, dimana jika
dipaksa pun tidak akan bisa. Dengan demikian orangtua, khususnya sang ibu akan
membantu berurusan dengan pihak sekolahan. Sama halnya dengan AX, informan
GAB dan EW memilih tidak menggunakan surat ijin ketika membolos. GAB
merasa malas jika harus membuat surat ijin palsu, sehingga seringkali dalam
rekapitulasi kehadiran ia ditulis tanpa keterangan (alfa) di sekolahnya.
Berbeda dengan AX dan GAB yang membolos dengan sepengetahuan
orang tuanya, informan EW membolos tanpa sepengetahuan kakek-neneknya.
Selama ini memang EW tidak tinggal dengan orang tuanya, melainkan tinggal
bersama kakek-neneknya beserta 2 adiknya. Kedua orang tua EW bekerja di luar
kota dan semenjak kecil ia telah tinggal bersama kakek-neneknya di Boyolali.
Agar tidak ketahuan membolos, EW seringkali berbohong kepada kakekneneknya. EW mengaku libur sekolah, guru rapat maupun masuk siang kepada
kakek neneknya ketika ia membolos. Disamping itu terkadang ia berpura-pura
sakit, dimana pagi hari sebelum berangkat sekolah ia minta kerokan agar dikira
masuk angin, sehingga diperbolehkan tidak masuk sekolah. Terkadang untuk
menghindari kecurigaan kakek-neneknya, EW berpura-pura berangkat ke sekolah
namun ia tidak ke sekolah melainkan nongkrong di warung daerah Sambi.
Warung tersebut biasa digunakan untuk membolos sehingga seringkali di penuhi
oleh peserta didik dari berbagai SMP dan SMA di daerah Boyolali. Sama halnya
dengan EW, informan AG terkadang berpura-pura sakit agar diperbolehkan tidak
masuk sekolah. AG merasa malas sekolah sehingga meminta diijinkan ibunya
dengan alasan sakit, bahkan ia sampai bersedia meminum obat walaupun sedang
tidak sakit. Hal tersebut ia lakukan untuk meyakinkan sang ibu jika anaknya
sedang sakit. Setelah diperbolehkan tidak masuk sekolah ia memilih untuk tidur
karena merasa lelah.
Cara ketiga (3) yang dilakukan peserta didik ketika membolos adalah
memanipulasi kehadiran. Caranya adalah dengan mengganti kehadiran di buku
presensi kelas. Dimana yang sebelumnya tanpa keterangan (alfa) diganti menjadi
sakit / ijin, seperti hasil wawancara berikut ini :

55

........Sok-sok tak ganti dewe mbak absen kelas ning buku, sing mbendino
diubengne kae. Kan yo di itung kui, kan iso diganti muride dewe kui. Aku
mbiyen tak ganti ping piro yaaa, ping 4 kyage pas kelas siji. Tak ganti
dewe, tak ganti dadi sakit kabeh (W/RD/7 Feb 2015).
(........kadang-kadang saya ganti sendiri mbak absen kelas yang dibuku,
yang setiap hari diedarkan itu. Masuk itungan itu dan bisa diganti
muridnya. Dulu saya menggantinya sebanyak 4x pas kelas X. Saya ganti
sendiri, saya ganti sakit semua) (W/RD/7 Feb 2015).
Di SMA Negeri 6 Surakarta memang terdapat buku presensi masingmasing kelas, dimana buku tersebut diedarkan setiap paginya oleh guru piket.
Buku tersebut berfungsi untuk mencatat kehadiran peserta didik. Setelah jam ke-3
biasanya buku tersebut akan diambil kembali untuk kemudian direkapitulasi oleh
petugas piket.
Cara ke empat (4) yang peserta didik gunakan ketika membolos adalah
memakai baju bebas / tidak berseragam. Semua informan yang ditemui peneliti
mengaku memilih menggunakan baju bebas atau menutupi seragamnya dengan
jaket ketika membolos. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari razia Satpol
PP dan pihak terkait lainnya, seperti hasil wawancara berikut ini :
yen meh mbolos salin sik kan penak ngko njagani ndak dicekel Satpol PP
malah diseneni aku. Yen dicekel Satpol PP aku malah di seneni mbokku
lah (W/CAL/22 Feb 2015)
(jika membolos ganti baju dulu kan enak, mengantisipasi agar tidak
ditangkap satpol PP. Jika tertangkap satpol PP saya malah akan dimarahi
ibuku lah) (W/CAL/22 Feb 2015)
Tidak berseragam merupakan cara yang dianggap aman bagi peserta didik
dan membuat mereka lebih leluasa untuk beraktivitas di tempat umum. Hal
demikian diperkuat pula oleh informan GAB, dimana pada saat melakukan
wawancara dengan peneliti. Saat itu wawancara di lakukan pada hari Jumat, 06
Maret 2015 jam 11. 00 di On Fire yang terletak di dekat SMA Negeri 6 Surakarta.
Hari itu bukan merupakan hari libur sekolah, namun GAB tidak masuk sekolah
dan menemui peneliti dengan mengenakan pakaian bebas. Ia mengaku membolos
karena bangun kesiangan dan memilih mengenakan pakaian bebasa agar lebih
nyaman ketika hendak bepergian saat membolos.

56

Selain cara yang aman peserta didik cenderung pula untuk memilih lokasi
membolos yang menurut mereka aman, seperti hasil wawancara dengan EM
berikut ini :
Yen aku mbolos kui kerepe yaa ning Hartono karo The Park mbak.
Pokoke kii aku nggolek nggon mbolos kui sing santai, tertutup tapi aman.
Dadi ning mal-mal ngunu kui, kan yen wis nganggo klambi bebas santai
ameh ngendi wae iso (W/EM/21 Februari 2015).
(Seringkali saya membolos di Hartono dan The Park mbak. Saya mencari
tempat membolos itu yang santai, tertutup tapi aman. Makanya saya
memilih mal-mal, jika telah mengenakan baju bebas kan bisa santau mau
kemanapun leluasa) (W/EM/21 Februari 2015).
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa membolos yang lebih
dikelan dengan istilah mbolos adalah perilaku peserta didik yang tidak masuk
sekolah

selama

satu

hari

penuh

dengan

alasan

yang

tidak

dapat

dipertanggungjawabkan. Terdapat beragam strategi yang digunakan peserta didik


untuk berperilaku membolos, antara lain : 1) menggunakan surat ijin, baik buatan
orang tua maupun buatan sendiri / teman, dan menyusulkan surat keesokan
harinya ketika masuk sekolah, 2) tanpa menggunakan surat, melainkan dengan
jujur atau membohongi orang tua, 3) memanipulasi kehadiran pada buku
kehadiran kelas, dan 4) mengenakan pakaian bebas / tidak berseragam.

b. Colut
Bentuk kedua dari perilaku membolos di kalangan peserta didik dikenal
dengan istilah colut. Colut identik dengan meninggalkan proses pembelajaran,
dalam artian peserta didik terhitung masuk sekolah, namun pada jam-jam tertentu
ia meninggalkan proses pembelajaran di kelas. Hal demikian seperti yang
diungkapkan oleh informan RD, demikian pernyataanya :
Nek mung metu soko pelajaran kui jenenge colut mbak. Kan nek colut
ning pelajarane kui metu, nek mbolos kan tanpa absen ning sekolahan
(W/RD/07 Feb 2015).
(apabila hanya keluar dari pelajaran itu namanya colut mbak. Colut itu
keluar pada saat pelajaran, kalau membolos kan absen dari sekolahan)
(W/RD/07 Feb 2015).
Serupa dengan apa yang diungkapkan RD, demikian pernyataan FD
mengenai colut,

57

......yen ning kantin di suek-suek ne nganti pelajaran rampung, metu soko


sekolahan ngunu kui jenenge colut mbak. Mencari pandangan baru selain
guru dan papan tulis, hahahaha..... (W/FD/9 Februari 2015).
(.....ketika berlama-lama di kantin hingga pelajaran selesai, keluar
sekolahan seperti itu namanya colut mbak. mencari pandangan baru selain
guru dan papan tulis.....) (W/FD/9 Februari 2015).
Istilah di suek-sukne seperti yang disebutkan oleh informan FD memiliki
makna mengulur waktu secara sengaja. Dalam artian secara sengaja peserta didik
berlama-lama berada di luar kelas dengan tujuan untuk menghindari pelajaran
maupun guru yang tidak disukainya. Tidak jauh berbeda dengan RD, informan
EW, CAL, AX, AUL dan AG mengemukakan bahwa colut adalah peserta didik
masuk sekolah tetapi meninggalkan jam pelajaran tertentu karena bosen, tidak
suka terhadap pelajaran maupun guru.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa colut adalah membolos
secara parsial. Dalam artian peserta didik terhitung masuk sekolah namun
meninggalkan proses pembelajaran yang disebabkan karena bosan, menghindari
pelajaran maupun guru.
Colut berdasarkan lokasinya dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu: (1)
colut di dalam lingkungan sekolah, dan (2) colut diluar lingkungan sekolah.
Waktu yang seringkali dipilih peserta didik ketika colut adalah pada saat sebelum
istirahat jam pertama, jam-jam pelajaran yang tidak disukai, dan saat istirahat jam
ke-2 (12.00).
Bentuk pertama (1) adalah colut di dalam lingkungan sekolah, dalam
artian peserta didik meninggalkan jam pelajaran namun tetap berada didalam
lingkungan sekolah. Lokasi yang dipilih peserta didik ketika colut didalam
lingkungan sekolah adalah UKS dan kantin, seperti hasil wawancara berikut ini :
Yaaa seringe ning kantin yen ora ning UKS, nek ning UKS kui alasane
loro dadi di ijinkan padahal ning kono yaa turu. Yen oraa neg enek guru
sing takok ngomong wae yen loro. Neg misale aku lagi metu soko kelas
ning kantin trus ketemu guru-guru ngono biasane aku ngomonge habis
pelajaran olahraga ben ora dihukum mbak...hehehe (W/RD/7 Feb 2015).
(Yaaa seringnya ke kantin sama di UKS mbak, kalau ke UKS itu
alasannya sakit sehingga diijinkan padahal di sana ya tidur. Kalau ada guru
yang bertanya dijawab sakit saja. Misalkan saya sedang keluar kelas ke
kantin kemudian bertemu dengan guru-guru biasanya saya beralasan habis
pelajaran olahraga agar tidak dihukum....hehehe) (W/RD/7 Feb 2015).

58

Pendapat diatas sama dengan pendapat beberapa informan lainnya dalam


memilih lokasi colut. Meskipun tidak setiap hari, informan AG memilih berada di
UKS ketika merasa bosan dengan pelajaran dan suwung. Menurutnya ia tidak
pernah sendiri berada di UKS, melainkan bersama dengan temannya. Ia tidur,
bercanda dengan teman, maupun belajar untuk menghadapai ujian mata pelajaran
selanjutnya.
Selain UKS, memang kantin menjadi tempat yang seringkali digunakan
peserta didik untuk colut. Hampir semua peserta didik pernah colut ke kantin
dengan durasi yang berbeda-beda. Informan AUL menjelaskan jika 10-15 menit
sebelum jam istirahat ia bersama 2 orang temannya keluar kelas untuk jajan di
kantin. Hal tersebut dilakukan dengan alasan menghindari antrian di kantin saat
istirahat. Serupa dengan AUL, informan CAL memilih kantin sebagai salah satu
tempat colutnya. demikian ungkap CAL,
Yen ora ngunu paling aku pilih ning kantin mangan lha aku luwe og, kan
ora mungkin to diceluk ning BK mung goro-goro kesalahan mangan ning
kantin, kan ora masuk akal ngko paling gurune cuma ngomong yen wis
entek ndang mlebu kelas. Youwis ngunu kui ora popo, wis biasa
(W/CAL/16 Feb 2015)
(Paling saya memilih makan di kantin karena lapar, gak mungkin kan
dipanggil BK hanya gara-gra kesalahan makan di kantin, tidak masuk akal
lah, kemungkinan guru hanya berkata jika sudah habis masuk kelas.
Yasudah seperti itu tidak apa-apa, biasa) (W/CAL/16 Fb 2015).
Informan CAL pun terlihat sedang colut pada saat peneliti melakukan
observasi hari Kamis, 26 Februari 2015. Pada saat itu peneliti bertemu dengan
CAL dan salah seorang temannya yang bernama HAG keluar dari kantin. Apabila
dikalkulasikan CAL dan HAG sengaja terlambat selama 30 menit masuk kelas
setelah istirahat jam pertama.
Selain pernyataan dari beberapa informan, diperkuat pula oleh petugas
STP2K mengenai kantin sebagai pilihan colut peserta didik. Demikian pernyataan
ibu ON,
Kami pun juga pernah menemui nggih yaa kami sedang duduk di meja
piket. Depan itu (kelas XI IIS) gurunya sedang mengajar dia ijin ke
belakang tapi malah pergi ke kantin (W/bu ON/16 April 2015).

59

Hal ini dibenarkan oleh salah seorang ibu kantin di SMA Negeri 6
Surakarta, ibu SUG. Beliau menjelaskan bahwa ada beberapa peserta didik yang
membolos ke kantin pada saat jam pelajaran, namun ada juga yang tidak. Peserta
didik yang seingkali colut ke kantin adalah peserta didik kelas XI, dimana
mayoritas adalah laki-laki. Seringkali peserta didik tidak datang sendiri ke kantin
melainkan bersama dengan temannya, paling tidak minimal 2 orang. Biasanya
mereka berada di kantin selama 20 - 30 menit. Apabila kedapatan berada di
kantin oleh guru biasanya peserta didik beralasan jam pelajaran olahraga karena
kebanyakan guru kan tidak mengetahui jadwal peserta didiknya.
Peserta didik menggunakan cara yang serupa untuk colut, dimana mereka
akan beralasan sakit atau berpesan kepada teman-temannya jika hendak colut di
UKS. Untuk colut di kantin biasanya mereka akan meminta ijin kepada guru
dengan alasan ke belakang (kamar mandi). Bahkan apabila guru yang sedang
mengajar dirasa terlalu cuek keluar kelas tanpa ijin. Demikian ungkap salah
seorang informan,
Aku yen pelajaran kelas 2 iki aku yen colut ning UKS og mbak, yo ora tau
ijin ning Guru mbak yo gor ngomong karo konco-konco aku ning UKS
ngunu. Ngko yen ditakoni Guru koncoku yo ngewangi aku ning UKS
ngunu, dadi ngomonge lagi sakit di UKS, intine di tutup-tutupi lah. Ngunu
kui wis biasa mbak.. Gak enek mbak konco-konco sing makakne aku
mbak.(W/EW/ 06 Maret 2015)
(aku yen pelajaran kelas XI ini seringe colut ke UKS mbak, yaa tidak
pernah ijin guru mbak ya cuma berpesan ke temen-temen saya di UKS.
Nanti jika ditanya guru, temen-temen membantu mbak, bilangnya saya di
UKS karena sakit, intinya ditutup-tutupi lah. Hal demikian sudah biasa
mbak. Tidak ada yang mengadukan saya mbak) (W/EW/ 06 Maret 2015).
Informan EW bercerita bahwa terkadang ia tidak meminta ijin kepada guru
saat ke UKS, melainkan berpesan pada teman-temannya. Hal demikian
merupakan peristiwa yang biasa terjadi di kalangan peserta didik, dimana mereka
memiliki rasa solidaritas yang kuat untuk membantu temannya. Tidak ada peserta
didik yang mengadukan, kalaupun merasa tidak setuju dengan perbuatan
demikian. Mereka lebih memilih untuk diam, seperti hasil wawancara dengan
informan AG berikut ini :
.....yaa saling menutupi lah mbak dari pada dikira makakne konco trus
ngko dirasani dan dijauhi. Jadi gak pernah ada sing mengadukan mbak,

60

soale ngko malah dirasani, mending meneng wae. Yaa solidaritas wae
mbak, bekerjasama ngko nek wancine enek opo-opo gentian ngunu luh.
Mesti ditutup tutupi nig kelasku og mbak (W/AG/8 Feb 2015).
(Yaa saling menutupi lah mbak, dari pada dikira menusuk temen trus nanti
digunjingkan dan dijauhi. Jadi tidak pernah ada yang mengadukan mbak
soalnya nanti malah digunjingkan sehingga lebih baik diam. Yaa
solidaritas saja mbak, bekerjasama nanti ada kalanya jika ada apa-apa
gantian gitu. Selalu ditutup-tutupi kalau di kelasku mbak) (W/AG/8 Feb
2015).
Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa peserta didik saling
bekerjasama untuk membantu satu sama lain, namun dalam artian yang negatif
yaitu menutup-nutupi teman yang colut. Hal tersebut dilakukan dengan alasan
sebagai bentuk solidaritas serta menghindari rasa diasingkan yang mungkin
diterima jika tidak mengikuti sistem yang berjalan di kelasnya.
Bentuk kedua (2) adalah colut di luar lingkungan sekolah. SMA Negeri 6
Surakarta menerapkan suatu kebijakan dimana peserta didik diwajibkan
menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran jika hendak keluar dari
lingkungan sekolah. Apabila memungkinkan mereka diwajibkan kembali ke
sekolah

untuk

selesai.Namun

mengikuti
seringkali

pembelajaran
surat

ijin

setelah

urusan

meninggalkan

diluar

pelajaran

sekolah
tersebut

disalahgunakan oleh peserta didik untuk colut. Mereka menggunakan berbagai


alasan sebagai pembenaran untuk meninggalkan sekolah. Peserta didik yang
meninggalkan sekolah cenderung memilih untuk tidak kembali ke sekolah
meskipun urusan mereka diluar sekolah telah selesai, seperti hasil wawancara
berikut ini :
Aku kalau colut gak pernah tapi kalau ijin pulang sering tapi tujuane
bener seperti periksa dokter atau acara keluarga. Misalkan ijin pulang jam
10 dan jam 11 uda selese tapi aku gak mau balik ke sekolah. Kan kalo
sekolahe bilange kamu ijin pulang gak papa, tapi kalau bisa balik yaa balik
kalau gak bisa balik yaudah gak papa. Lha akune gak mau balik, gak
pernah mau (W/AUL/9 Maret 2015).
Tidak jauh berbeda dengan AUL, informan EW pun menggunakan surat
ijin meninggalkan pelajaran dengan berbagai alasan untuk colut. Menurutnya
ketika colut dengan menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran ia tidak

61

pernah sendiri melainkan bersama GIB (inisial dari nama sebenarnya), seperti
hasil wawancara berikut ini :
Yen aku colut karo GIB ki njaluk surat ijin. Trus mbiyen kan pernah moto
ku loro mbak, soko omah kan wes mbededeng tak tutupi trus teko sekolah
ki aku tura-turu kae alesan wi trus bar kui pamit ning rumah sakit padahal
ora ning rumah sakit. Dadi njaluk surat ijin, nulis ning BK alesane
mengambil flasdisc, mengambil buku opo ijin loro ngunu kui mau,
mengambil peralatan pramuka, pirang-pirang mbak aku ijin ning BK ki
trus mbahe sakit, mbahe meninggal (W/EW/ 06 Maret 2015).
(Jika saya colut bersama GIB itu menggunakan surat ijin. Dulu juga
pernah ketika mata saya sakit mbak, dari rumah sudah bengkak saya tutupi
kemudian sampai sekolah tiduran terus untuk alasan dan setelah itu ijin
periksa ke rumah sakit padahal tidak kerumah sakit. Jadi mementa surat
ijin, menulis di BK dengan alasan mengambil flasdisc, mengambil buku
atau ijin sakit sperti sebelumnya, mengambil peralatan pramuka, banyak
mbak saya ijin ke BK itu, trus eyang sakit, eyang meninggal) (W/EW/ 06
Maret 2015).
Berbagai alasan digunakan oleh peserta didik untuk mendapatkan surat ijin
meninggalkan pembelajaran yang ada. Hal tersebut dikarenakan ketika memiliki
surat ijin meninggalkan pembelajaran peserta didik merasa aman dan leluasa
untuk meninggalkan sekolah tanpa harus sembunyi-sembunyi. Dengan surat ijin
meninggalkan pelajaran peserta didik dapat dengan mudah mengambil kendaraan
yang diparkir di sekolah. Tanpa surat ijin meninggalkan pelajaran peserta didik
tidak diperbolehkan membawa kendaraannya sebelum jam pulang sekolah.
Peserta didik tidak selalu menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran
ketika colut, terkadang mereka keluar begitu saja tanpa menggunakan surat ijin.
Hal tersebut dikarenakan terlalu ribet jika harus mencari surat ijin, dimana mereka
harus mendapat persetujuan guru mata pelajaran serta BK. Apabila tidak
menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran, peserta didik akan minta ijin
kepada guru dengan alasan print tugas / foto copy. Seperti halnya AG, terkadang
saat merasa malas ia meminta ijin untuk print / foto copy tugas. Dimana ia
memilih tempat print / foto copy yang terletak dibelakang gedung selatan dengan
pertimbangan lokasi yang cukup jauh dari kelasnya. Kesempatan tersebut
digunakan untuk berlama-lama berada diluar sekolah, bahkan ia sempatkan untuk
mengisi pulsa maupun jajan terlebih dahulu. Selain itu cara yang digunakan

62

adalah keluar sekolah secara sembunyi-sembunyi, seperti hasil wawancara berikut


ini :
Yen aku colut dewe biasane tasku tak uncalne soko jendelo mbak. Ning
kamar mandi bahasa kui kan lak duwur to mbak, ora ketok. Aku rekakmen
munggah ning bahasa tasku tak uncalne lewat jendela ne bahasa trus aku
mudun meneh gak nggowo tas youwis aku bali. Aku nek wis tak
rencanakne meh colut ngunu kui kan pitku tak titipne ngarepan mbak, ben
gampang metune (W/EW/ 06 Maret 2015).
Jika colut sendirian biasanya saya melempar tas dari jendela mbak. Kamar
mandi bahasa itu kan tinggi mbak, tidak kelihatan. Saya naik ke kelas
bahasa untuk melempar tas kemudian saya turun lagi tanpa membawa tas
dan pulang. Ketika saya sudah berencana colut maka sepeda motor akan
saya titipkan di depan sekolahan mbak, biar gampang keluarnya) (W/EW/
06 Maret 2015).
EW secara sembunyi-sembunyi colut dari sekolah dengan cara
melemparkan tasnya dari atas jendela kamar mandi bahasa, tempat yang
menurutnya aman dari jangkauan guru. Kemudian ia tidak memarkirkan sepeda
motor di dalam sekolahan, melainkan menitipkannya di depan sekolah (warung
mbak Yanti) dengan tujuan untuk mempermudahnya ketika colut. Hal ini
diperkuat dengan hasil observasi pada tanggal 04 April 2015, dimana terdapat
beberapa sepeda motor milik peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta yang di parkir
di warung mbak Yanti. Mbak Yanti membenarkan jika terkadang ada peserta
didik yang memarkirkan motornya disana, termasuk EW.
Disamping itu dapat pula pelaku colut meminta bantuan kepada peserta
didik lain untuk membawakan tasnya ketika pulang atau meninggalkannya di laci
meja seperti yang disampaikan oleh FD. Peserta didik yang colut namun terlanjur
memarkirkan kendaraannya di parkiran sekolah biasanya akan memilih
menghabiskan waktu disekitar lingkungan sekolah, seperti yang hasil wawancara
berikut ini :
Motorku ora iso ditokne og, akhire aku ning burjo dewean ii. Lha kan pit
e diparkir ning selatan, ora iso metu. Aku mlaku ning burjo cedak pom
bensin kui luh, aku dewean ning kono, mangan dewean pkoke nganti 2 jam
pelajaran aku dewean ning kono (W/CAL/22 Feb 2015).
(Motorku tidak bisa dikeluarkan, akhirnya saya ke burjo sendirian. Lha
sepeda motor saya diparkir di selatan og, tidak bisa keluar. Saya jalan ke
burjo dekat pom bensin, sendirian disitu, makan sendirian pkoknya sampai
2 jam pelajaran saya sendirian disitu) (W/CAL/22 Feb 2015).

63

Peserta didik akan memilih lokasi colut yang aman dari jangkauan guru.
Di lingkungan sekitar SMAN 6 Surakarta terdapat beberapa tempat yang
dijadikan lokasi nongkrong peserta didik yan colut maupun membolos. Warung
Pop Ice yang terletak di belakang sekolah merupakan tempat nongkrong favorit
peserta didik ketika colut, namun saat ini warung tersebut telah tutup. Di
karenakan warung Pop Ice sudah tutup, peserta didik pindah nongkrong di burjo
Intheos, disebut demikian karena letaknya dekat dengan kampus Intheos.
Disamping itu Burjo didekat POM bensin juga menjadi tongkrongan peserta didik
yang colut karena letaknya yang relatif dekat dengan sekolah. Tempat nongkrong
yang lainnya adalah STRONG dan warung mbak Yanti. STRONG merupakan
warung kelontong dengan teras cukup luas yang terletak di daerah Nayu, dimana
peserta didik sering nongkrong sambil rokokan(merokok). Warung mbak Yanti
merupakan warung yang terletak di depan SMA Negeri 6 Surakarta.
Dengan demikian dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa colut merupakan
membolos secara parsial, dimana peserta didik terhitung masuk sekolah namun
meninggalkan proses pembelajaran yang seharusnya di ikutinya. Colut di
identikkan dengan meninggalkan proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan
lokasinya terdapat 2 bentuk colut, yaitu colut di dalam lingkungan sekolah dan
colut di luar lingkungan sekolah.

3. Faktor-Faktor Penyebab Peserta Didik Berperilaku Membolos dari


Perspektif Pelaku
Peserta didik yang berperilaku membolos tidak akan terlepas dari beragam
alasan yang melatarbelakanginya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
peneliti, cukup banyak faktor yang menyebabkan peserta didik memilih untuk
membolos. Untuk lebih jelasnya, berikut peneliti uraikan faktor-faktor yang
menyebabkan peserta didik berperilaku membolos :
a. Malas
Salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik membolos adalah
perasaan malas, dimana malas dimaknai beragam bagi peserta didik. Malas
dimaknai sebagai perasaan tidak nyaman, seperti yang diungkapkan oleh

64

informan AX. Ia menjelaskan bahwa merasa malas lantaran merasa tidak


cocok dengan sekolahannya. Sedari awal memang tidak ada niatan dirinya
untuk bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta. Hal tersebut terlihat dari hasil
wawancara berikut ini :
Yaa aku sekolah ning kono ii males mbak, ra niat ngunu lu. Lha ora
sreg disek og dadi yo males, lha piye mneh meh dipekso yo ora iso.
Aku ndisik jaman semester 1 ki ra tau mbolos mbak, mulai mbolos ki
tengah semester 2 mbolosku. Pas semseter siji kui tak peksone mluebu
teruuss mbak, mbuh piye2 kui aku nyoba disik, nyoba situasine kyag
piye, aku yo adaptasi ngunu luh youwis tibake yo ora penak eg. Yo
trus aku anyel mbak, jann males tenan kae trus tengah semester 2 kui
kerep ora mlebu. Mbolosku wae nganti ora munggah og (W/AX/4
Maret 2015).
(yaa samya bersekolah disitu itu males mbak, tidak ada niatan gitu
loh. Lha aku tidak seneng dulu dari awalnya jadinya yaa males, lha
mau gimana lagi dipaksa pun tidak bisa. Pada waktu semester 1 saya
tidak pernah membolos mbak, mulai membolos itu pertengahan
semester 2. Sewaktu semester 1 saya paksakan masuk sekolah terus
mbak, mau gimapun saya mencoba dulu, mencoba situasinya seperti
apa, saya mencoba beradaptasi dan ternyata tidak nyaman. Kemudian
saya merasa jengkel mbak, benar-benar males dan pertengahan
semester 2 tersebut seringkali tidak masuk sekolah. Saya membolos
hingga tidak naik kelas kok) (W/AX/4 Maret 2015).
Dari hasil wawancara tersebut dapat dijelaskan bahwa malas diartikan
informan sebagai perasaan tidak nyaman berada disekolah lantaran sejak awal
tidak memiliki niatan untuk bersekolah di sekolah tersebut. Sekeras apapun
usahanya untuk mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekolah pada
akhirnya gagal sehingga ia merasa anyel (jengkel) dan melampiaskannya
dengan cara membolos. AX merasa kecewa karena keinginannya untuk
bersekolah

disekolah

yang

diinginkannya

tidak

terwujud

serta

ketidakmampuannya beradaptasi dengan lingkungan sekolah.


Selain itu peserta didik memaknai malas dalam artian ngantuk
sehingga lebih memilih untuk kembali tidur dari pada sekolah. Hal ini
terbukti dari hasil wawancara dan observasi dimana beberapa peserta didik
ketika merasa sangat mengantuk lebih memilih untuk membolos sekolah.
Demikian ungkapan AG salah seorang informan,

65

Jujur mbak aku iki anake udah kenal dunia malam, bisa dibilang
dugem lah mbak. Kan kalau disitu kita ngobrol sama temen-temen
trus ngedance gak berasa aja mbak waktu itu, tiba-tiba udah pagi aja.
Biasanya sih sampe jam 3 - 4 an gitu mbak baru pulang, jam segitu
baru tidur jadi kan kadang- kadang itu yaa ngantuk mbak, gak bisa
bangun pagi, tau sendiri sekolahku masuke jam 06.30. Youwis biasane
kalo udah kayak gitu aku gak masuk sekolah mbak trus tidur dirumah
(W/GAB/6 Maret 2015).
Hal demikian sejalan dengan dengan yang disampaikan informan EM
dan CAL yang merasa malas karena mengantuk. EM mengaku terkadang jika
merasa sangat ngantuk ia cenderung lebih memilih untuk tidur lagi dan tidak
masuk sekolah. Sedangkan informan CAL menjelaskan bahwa ia seringkali
bermain dengan teman-teman yang jauh lebih tua dengannya hingga larut
malam. Menurutnya ngrokok dan mendem (mabok) hingga larut malam
adalah hal yang wajar bagi dirinya dan teman-teman yang notabene jauh lebih
tua. Jika sudah berkumpul dengan teman-temannya ia cenderung lupa waktu
bahkan bisa pulang jam 2 pagi. Terkadang jika merasa lelah, ngantuk dan
tidak bisa bangun pagi ia memilih untuk membolos sekolah.
Di kalangan peserta didik malas dimaknai pula sebagai kesempatan
yang harus dimanfaatkan. Hal ini diungkapkan oleh RD, dimana ketika ia
merasa lelah dan tidak ada tugas ataupun ulangan terkadang ia memilih untuk
membolos,seperti peryataannya berikut ini :
Yaa yen aku sih ora mlebune gara-gara ora enek PR ora enek
ulangan ngunu kui. Halah, ora enek PR ora enek ulangan mbolos ora
popo paling yaa ora enek nilai sing dilebokne (W/RD/7 Feb 2015).
(ya kalau saya itu tidak masuk sekolah karena tidak ada PR dan tidak
ada ulangan. Halah, tidak ada PR dan ulangan membolos tidak apaapa paling tidak ada nilai yang dimasukkan) (W/RD/7 Feb 2015).
Sejalan dengan RD, informan AG memanfaatkan class meeting untuk
membolos, khususnya membolos secara parsial. Demikian ungkapan AG,
Paling pas class meeting ngunu kui aku mangkat jam 06.30 trus jam
07.30 aku mulih ning nggone koncoku trus sore lagi mulih (W/AG/ 08
Feb 2015).
(paling pas class meeting saya berangkat jam 06.30 trus jam 07.30 saya
pulang ke rumah temen mbak, kemudian sore hari baru pulang ke rumah)
(W/AG/ 08 Feb 2015).

66

Class meeting merupakan kegiatan perlombaan antar kelas yang biasa


dilaksanakan setelah ujian tengah semester maupun ujian semester. Biasanya
pada saat class meeting ini proses pembelajaran ditiadakan, dimana hanya
dilaksanakan remidi bagi peserta didik yang nilai ujiannya belum memenuhi
kriteria ketuntasan miniman (KKM). Berdasarkan wawancara kedua informan
diketahui bahwa peserta didik memanfaatkan kesempatan ketika tidak dan
tugas dan kegiatan pembelajaran untuk membolos.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor yang
menyebabkan peserta didik membolos adalah perasaan malas dalam diri
peserta didik. Dalam hal ini malas dimaknai peserta didik dalam 3 hal yaitu :
(a) malas dalam arti perasaan tidak nyaman berada disekolah seperti yang
dijelaskan informan AX. (b) Malas dalam artian ngantuk seperti yang
diungkapkan oleh informan EM, GAB, dan CAL. (c) malas dalam artian
memanfaatkan kesempatan yang ada seperti yang diungkan oleh RD dan AG.

b. Fanatisme terhadap sepak bola


Fanatisme terhadap sepak bola merupakan salah satu faktor yang
menjadi penyebab peserta didik membolos. Fanatisme merupakan perilaku
yang menunjukkan ketertarikan terhadap suatu hal secara berlebihan. Hal
demikian seperti yang dialami oleh informan EW, dimana ia memiliki
ketertarikan yang berlebihan terhadap sepak bola. EW memang menggemari
sepak bola dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola. EW mengaku bahwa
ketika SMA Negeri 6 Surakarta bermain dimanapun, entah itu futsal maupun
sepak bola ia tidak pernah melewatkannya dan pasti tidak masuk sekolah
untuk menjadi suporter disana. Di karenakan sepak bola EW pernah
membolos sebanyak 27 kali, demikian ungkapan EW :
Aku mbolos sing 27 kali kui enek critane mbak, goro-goro Persis.
Kan aku melu seleksi Persis mbiyen alhamdulillah katut. Persis kan
latihane ki pendak ndino, mulaine jam 2 awan. Mulih sekolah kan jam
1 kadang yo langsung, kadang bali ngomah sek ngko teko ngomah
jam 01.30 ngko tekan Sriwedari jam 2. Trus ngko kan mulihe mesti
jam 8-9, tekan omah kesel sesuke ora mangkat. Aku pernah ora mlebu
5 ndino berturut-turut mbak(W/EW/ 06 Maret 2015).

67

(saya membolos sebanyak 27 kali itu ada ceritanya mbak, gara-gara


Persis. Saya ikut seleksi Persis, alhamdulilah lolos. Persis itu kan
latihannya setiap hari, dimulai jam 2 siang. Pulang sekolah kan jam 1
terkadang langsung, terkadang pulang dulu ke rumah nanti sampai
rumah jam 01:30 dan sampai di Sriwedari jam 2. Trus nanti pulangnya
jam 8-9 malam, sampai rumah capek trus besoknya tidak masuk
sekolah. Saya pernah tidak masuk 5 hari berturut-turut mbak) (W/EW/
06 Maret 2015).
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa alasan utama EW
tidak masuk sekolah adalah sepak bola, dimana ia tergabung dalam klub
Persis junior yang mengharuskannya latihan setiap hari dari siang hingga
malam hari di stadion Sriwedari. Seringkali ketika merasa kelelahan ia
memilih tidak masuk sekolah keesokan harinya. Bahkan ia pernah pula tidak
masuk sekolah selama 5 hari berturut-turut.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan ADT, teman satu kelas EW. ADT
merupakan peserta didik laki-laki yang dalam penelitian ini berperan sebagai
informan pendukung, demikian pernyataan ADT :
Yen EW kui enggak sampe di tunggakne mbak, dekne sering mbolos
goro-goro nggagas bal-balan. Ndekmben kan dekne melu Persis
junior mbak, latihan terus ning Sriwedari (W/ADT/06 Maret 2015).
(Kalau EW itu tidak sampai tinggal kelas mbak, dia seringkali
membolos karena mementingkan sepakbola. Dulu dia kan ikut Persis
junior mbak, latihan terus di Sriwedari) (W/ADT/06 Maret 2015).
Peserta didik yang seringkali membolos, utamanya membolos secara
berturut-turut akan dipanggil guru BK untuk mendapatkan penanganan. Hal
ini dialami pula oleh informan EW, dimana ia dipanggil BK untuk diberikan
pengarahan dan diberi surat panggilan orang tua seperti hasil wawancara
berikut ini :
Mbiyen pernah dipanggil pisan tapi ora enek sing teko, surate tak
guwak. Youwis aku alesan ning BK aku ning ngomahe mung karo
mbahe, mbahe ora iso rene mbahe loro. Akhire wingi aku diceluk pak
Djoko Purnomo mbak, trus aku kon nyeluk wong tuwoku. Wingi kui
make ning sekolahan, youwis di takon-takon ii ngopo aku ora mlebu
sekolah trus gawe surat pernyataan sing intine mbolos lagi
dikeluarkan(W/EW/ 06 Maret 2015).
(Dulu pernah dipanggil sekali tapi tidak ada yang datang, surat
panggilannya saya buang. Saya beralasan pada BK jika saya tinggal
bersama kakek-nenek, mereka tidak bisa hadir karena sakit. Akhirnya

68

setelah itu saya dipanggil pak Joko Purnomo mbak, saya diminta
memanggil orang tua saya. Ibu saya ke sekolahan dan ditanya kenapa
saya tidak masuk sekolah kemudian membuat surat pernyataan yang
intinya tidak masuk sekolah lagi akan dikeluarkan) (W/EW/ 06 Maret
2015).
Di karenakan terlalu sering membolos, maka EW pun dipanggil BK
untuk diberikan pengarahan dan selanjutnya dibuatkan surat panggilan untuk
orang tua / wali. EW mengaku jika ia tidak menyerahkan surat panggilan
tersebut kepada walinya, dimana ia malah membuang surat tersebut dan
beralasan jika kakek-nenek nya tidak bisa hadir dikarenakan sakit. Selama ini
memang EW dan adik-adiknya tinggal bersama dengan kakek-neneknya
sementara kedua orangtuanya merantau di luar kota. Setelah ketidakhadiran
walinya maka EW dipanggil oleh petugas STP2K dan diminta menghadirkan
orang tuanya. Menurut EW beberapa waktu lalu ibunya hadir ke sekolah dan
kaget mendapati anaknya sering kali tidak masuk sekolah.
Selanjutnya setelah kehadiran ibunya di sekolah, EW diminta untuk
membuat surat pernyataan yang intinya berisi jika kedapatan membolos lagi,
maka EW akan dikeluarkan dari sekolah. Ia memperoleh kesempatan untuk
merubah perilakunya hingga akhir semester ini. Hal tersebut sesuai dengan
hasil wawancara dengan guru BK mengenai penanganan peserta didik yang
membolos, bu END mengemukakan bahwa :
Dalam menangani peserta didik yang membolos biasanya akan
dipanggil ke BK terlebih dahulu mbak untuk diberikan pengarahan
dan motivasi. Jika masih membolos akan diberikan surat panggilan
orang tua / wali melalui siswa. Namun jika tidak disampaikan,
kemudian pihak sekolah akan melakukan kunjungan / mengirimkan
surat panggilan tersebut via pos. Selanjutnya peserta didik diminta
membuat surat pernyataan diatas materai dan diberi kesempatan
hingga akhir semester (W/END/17 Maret 2015).
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa fanatisme terhadap
sepak bola menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik
membolos, seperti yang dialami oleh informan EW. Ia lebih mementingkan
sepak bola dari pada sekolah, sehinga ia seringkali berurusan dengan guru BK
maupun petugas STP2K lantaran perilaku membolosnya.

69

c. Permasalahan dengan keluarga atau teman


Salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik membolos adalah
permasalahan yang dialaminya, baik masalah dalam keluarga maupun
masalah dengan teman. Peserta didik yang memiliki masalah dalam keluarga,
seperti halnya memiliki relasi yang kurang baik dengan orang tua maupun
saudaranya cenderung melampiaskan kekecewaannya dengan membolos. Hal
ini sejalan dengan ungkapan salah seorang informan, demikian ungkapan AG:
Aku pernah mbolos semingguan mbak, lha enek masalah keluarga
og. Aku ki merasa kayak ora dihargai dalam keluarga. Nek cah nom
kan biasa to mbak, nek jek SMA sik mencari jati diri pengene yo
dianggep opo piye to mbak. Yaaa aku ngerasa kan aku enek masalah
to, aku ngerasa dibeda-bedain trus, gak digagas, disenen-seneni trus
mbak. Ndisik kan aku anak terakhir to mbak, aku njaluk opo wae kan
dituruti to mbak. enek adikku opo-opo akhire adikku disik, njaluk duit
ora langsung dikei. Trus masku sak kepenake dewe, dolan ngendi wae
ora diseneni, mboso aku diseneni. Menurutku ki kesalahan ki kyage
ning aku tok ngunu loh (W/AG/8 Feb 2015).
(Aku pernah membolos seminggu lah mbak, lha ada masalah
keluarga kok. Aku ini merasa seperti tidak dihargai dalam keluarga.
Kalau anak muda kan biasa to mbak, kalau masih SMA kan masih
mencari jati diri pengennya ya dianggep atau gimana gitu mbak. Yaaa
aku ngerasa kan ada masalah, aku merasa di beda-bedain trus, enggak
dianggep, di marah-marahin terus mbak. Dulu kan aku anak terakhir
to mbak, aku minta apa aja dituruti toh mbak. Trus ada adikku apa-apa
akhire adikku yang di duluin, minta uang enggak langsung dikasih.
Trus masku seenaknya sendiri, maen kemana aja enggak pernah
dimarahin, tapi kalau aku dimarahin. Menurutku kesalahan itu terpusat
di aku gitu loh mbak) (W/AG/8 Feb 2015).
Dari hasil wawancara tersebut terlihat jika AG merasa tidak nyaman
di dalam keluarganya, dimana ia merasa tidak dihargai, dibeda-bedakan dan
menjadi pusat kesalahan. Pada waktu itu hubungannya dengan kakak lakilakinya pun tidak harmonis, dimana mereka sering beradu argumen hingga
bertengkar disertai dengan main tangan layaknya kenakalan remaja.
Berawal dari perasaan demikian, akhirnya ia melampiaskan kekesalannya
dengan tidak masuk sekolah. Bahkan ia menceritakan selama 1 minggu
tersebut ia pergi dari rumah dan tinggal berpindah-pindah dirumah / kost
teman-temannya.

70

Hal ini diperkuat oleh SUR, dimana ia adalah informan pendukung


yang merupakan sahabat AG. Demikian pernyataanya,
Iyaa mbak mbolos, dekne pernah nginep ning omahku pas enek
masalah kui. AG ki kayak ora nyaman ning ngomah. Bapak ibuke
kyag ora ngaggas ngunu kui luh mbak. Ndisik karo mase yo ora tau
omongan, yen padu kaplok-kaplokan ngunu kui. Tapi Puji Tuhan saiki
hubungane wis apik og mbak dadi jarang mbolos meneh (W/SUR/04
Maret 2015).
(iyaaa mbak membolos, dia pernah menginap di rumahku saat ada
masalah itu mbak. AG itu sepertinya tidak nyaman berada di rumah.
Bapak ibunya sepertinya kurang memperhatikan mbak. Dulu jarang
berbicara dengan saudara laki-lakinya, apabila bertengkar saling
memukul. Tapi Puji Tuhan sekarang hubungan mereka sudah baik og
mbak, sehingga AG jarang membolos lagi) (W/SUR/04 Maret 2015).
Selain pernyataan dari informan diatas, pernyataan bu ON juga
memperkuat jika permasalahan keluarga menyebabkan peserta didik
membolos. Demikian pernyataan bu ON,
Kami pernah menemui anak karena ada masalah keluarga dia
mbolos, berangkat dari rumah tapi tidak sampai ke sekolah (W/bu
ON/16 April 2015).
Berbeda dengan AG, informan GAB memilih membolos dikarenakan
memiliki permasalahan dengan sahabatnya, yaitu MT (inisial dari nama
sebenarnya). GAB menjelaskan bahwa pada saat itu MT tidak masuk
sekolah dan tidak pulang ke rumah selama 5 hari, GAB menemani
sahabatnya ini tidak masuk sekolah namun hanya selama 2-3 hari. Ia
memutuskan untuk pulang dikarenakan mendengar kabar MT selalu keluar
dengan laki-laki ketika tidak masuk sekolah. Tak selang beberapa lama ibu
MT mendatangi BK sekolah dan mengadu jika GAB lah yang menyebabkan
putrinya tidak masuk sekolah dan meminta GAB untuk dikeluarkan sama
seperti putrinya. Disitu GAB dipanggil BK dan ia mencoba menjelaskan
jika bukan dirinya yang mengajak MT tidak masuk sekolah, melainkan ia
lah yang diajak oleh MT. GAB merasa jika tidak ada yang mempercayainya,
sehingga ia memutuskan untuk diam, karena baginya tidak ada gunanya
bicara jika tidak dipercaya. Menurut pengakuannya ketika ada masalah
tersebut ia sering tidak masuk sekolah.

71

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang


dialami peserta didik, baik permasalahan dalam keluarga maupun
permasalahan dengan teman menyebabkan peserta didik membolos. Hal
demikian dilakukan sebagai upaya mencari perhatian keluarga maupun
sebagai wujud kekecewaan lantaran merasa tidak dipercaya.

d. Menghindari tugas
Selain permasalahan yang dialami peserta didik dengan keluarga
maupun teman, menghindari tugas turut pula menyebabkan peserta didik
membolos. Hal demikian serupa yang diungkapkan salah seorang informan,
demikian ungkapan EM :
Membolos kui sok kadang kanggo menghindari PR, kadang aku dewe
ki ya tau ngrasakne mbolos. Kadang ngunu kui mergo menghindari
PR sing akeh banget urung tak garap gek guru sing ketoke heh
ngunu kui yaa aku pilih mbolos (W/EM/21 Februari 2015).
(membolos itu terkadang untuk menghindari PR, kadang saya sendiri
juga pernah merasakan membolos. Terkadang karena menghindari PR
yang banyak dan belum saya kerjakan serta guru yang kelihatannya
heh saya memilih membolos) (W/EM/21 Februari 2015).
Dari petikan wawancara tesebut dapat diketahui bahwa ketika tugas
menumpuk dan belum dikerjakan serta guru yang memberikan tugas heh
EM memilih untuk membolos. Kata heh yang dimaksud informan adalah
guru yang menurutnya galak serta menjengkelkan, dimana ketika ada
peserta didik yang tidak mengerjakan tugasnya akan dibahas sepanjang jam
pelajarannya.
Senada dengan EM, demikian pernyataan GAB yang membolos
karena menghindari tugas,
Pernah juga bolos sekolah itu gara-gara tugasku menumpuk mbak,
dan belom tak kerjakan sama sekali. nanti kan yaa piye mbak yen gak
ngerjain mesti dapet hukuman kan mbak, kyag gitu gak masuk
sekolah akhire (W/GAB/06 Maret 2015).
Sejalan dengan kedua informan diatas, informan AG, EW dan AUL
terkadang membolos tugas yang belum terselesaikan. Informan AG
menjelaskan bahwa kurikulum 2013 yang digunakan saat ini memberikan

72

beban tugas yang cukup banyak bagi peserta didik. Menurutnya terkadang
jika tugas menumpuk dan belum mengerjakannya ia memilih untuk
membolos. Begitu pula dengan informan EW dan AUL, mereka
menejelaskan bahwa terkadang jika tugas-tugas menumpuk dan belum
terselesaikan mereka lebih memilih untuk membolos. Mereka memilih
untuk membolos daripada harus mendapat hukuman karena tidak
mengerjakan tugas-tugas.
Selain pernyataan dari informan diatas, hal demikian diperkuat oleh
pernyataan ibu ON, demikian pernyataanya :
Kalau alasan anak untuk membolos itu kan tergantung anaknya mbak,
biasanya anak tertentu yaa maaf mungkin anak itu kurang dalam pelajaran
kan biasanya bisa dititeni, mungkin karena banyak tugas dan belum
mengerjakan (W/EM/21 Februari 2015).
Berdasarkan data dari informan dapat ditarik kesimpulan bahwa
belum terselesaikannya tugas yang dibebankan kepada peserta didik
menjadi salah satu faktor penyebab membolos. Peserta didik memilih
menghindari tugas tersebut dengan membolos.

e. Menghindari atau bosan dengan pelajaran


Menghindari pelajaran tertentu, khusunya pelajaran yang tidak
disukai atau dianggap menyulitkan mejadi salah satu faktor yang
menyebabkan peserta didik membolos. Hal ini seperti yang diungkapkan
oleh salah seorang informan, demikian ungkapan EM :
Kadang aku yo sering nghindari pelajaran mbak. Contohe pak Joko
Waluyo guru bahasa Jawa sing biasana kon pidato nganggo bahasa
jawa ngunu kui aku kerepe ya menghindari. Saiki pelajaran sing aku
kerep ora mlebu ki pelajaran seni rupa mergo kon nyanyi dadi kon
gawe lagu karo nggoleki not e lha kui nggarai aku mumet. Akhire
aku jarang mlebu wis ping piro yaa...pkoke hampir mben selasa aku
ki ora tau mlebu sekolah mergo aku menghindari seni musik kui
(W/EM/21 Februari 2015).
(terkadang saya juga sering menghindari pelajaran mbak. contohe
pak Joko Waluyo guru bahasa Jawa sing biasane kon pidato nganggo
bahasa Jawa itu saya juga seringkali menghindari. Saat ini pelajaran
yang seringkali tidak masuk itu adalah pelajaran seni rupa karena
disuruh nyanyi trus disuruh membuat lagu dan mencari not lagunya

73

dan itu membuatku pusing. Akhire aku jarang masuk, entah sudah
bera kali...intinya hampir setiap selasa saya seringkali tidak masuk
sekolah karena menghindari seni musik itu) (W/EM/21 Februari
2015).
Hal tersebut diperkuat dengan hasil dokumentasi buku kehadiran
kelas. Selama semester II yang dimulai pada tanggal 05 Januari 2015,
hampir setiap hari Selasa EM membolos. Dari buku kehadiran kelas
terlihat EM sudah 5 kali membolos untuk menghindari pelajaran yang
dianggap menyulitkannya.
Hal senada disampaikan pula oleh informan GAB, menurutnya ia
seringkali menghindari pelajaran, khusunya bahasa Jerman. Ketika ada
jadwal pelajaran bahasa Jerman terkadang ia memilih tidak masuk dengan
alasan merasa takut karena telah dicap jelek oleh guru pelajaran tersebut.
Selain membolos secara penuh, terkadang peserta didik memilih
untuk membolos secara parsial (colut) untuk menghindari pelajaran. Hal
ini sejalan dengan pernyataan informan CAL yang memilih colut untuk
menghindari pelajaran seni musik berikut ini :
Iyaaa pas pelajaran seni musik ndek kae, lha aku kon gawe lagu
sing not-note aku ora iso og, angel. Motorku ora iso ditokne og,
akhire aku ning burjo dewean ii aku. Lha kan pit e diparkir ning
selatan, ora iso metu. Aku mlaku ning burjo cedak pom bensin kui
luh, aku dewean ning kono, mangan dewean pkoke nganti 2 jam
pelajaran aku dewean ning kono (W/CAL/16 Feb 2015).
(iyaaa sewaktu pelajaran seni musik, lha disuruh membuat note-note
lagu dan saya tidak bisa, susah. Motorku tidak bisa dikeluarkan,
akhirnya saya berada di burjo sendirian. Lha sepeda motornya kan
diparkir di gedung selatan, tidak bisa keluar. Saya jalan ke burjo
deket pom bensin, aku sendirian disitu, makan sendirian pkoknya
sampai 2 jam pelajaran sendirian disitu) (W/CAL/16 Feb 2015).
CAL tergolong peserta didik yang seringkali colut. Hal ini diperkuat
dengan hasil observasi status akun BBM milik CAL, dimana pada hari
Rabu, 06 Mei 2015 ia membuat status yang berbunyi mbak Yanti..colut
dewe. Setelah melakukan percakapan melalui BBM diketahui bahwa
informan CAL memilih colut dikarenakan menghindari ulangan Biologi.
Ia memilih colut di warung mbak Yanti yang terletak di depan SMA
Negeri 6 Surakarta jam 08.00 hingga jam pulang sekolah.

74

Selain itu CAL juga menjelaskan bahwa terkadang ia juga memilih


dan kantin sebagai tempat untuk melepas kejenuhannya akan pelajaran.
Pada saat bosan dengan pembelajaran di kelas, memang seringkali peserta
didik memilih colut ke kantin. Hal ini diperkuat oleh hasil observasi dan
pernyataan salah seorang ibu kantin, demikian pernyataan ibu SUG :
lare-lare niku kadang-kadang yen kulo tangkleti pas ning kantin
alesane males lan bosen kaliyan pelajarane mbak (W/ibu SUG/06
April 2015).
(anak-anak itu terkadang kalau saya tanya pas di kantin alesane
males dan bosen dengan pelajaran mbak) (W/ibu SUG/06 April
2015).
Serupa dengan EM maupun CAL, informan EW menjelaskan bahwa
ia memilih membolos secara penuh (mbolos) maupun membolos secara
parsial (colut) untuk menghindari pelajaran yang menurutnya ora penak
atau menyulitkan baginya seperti matematika.
Dengan demikian dapat disimpulkan jika menghindari pelajaran
maupun bosan dengan proses pembelajaran menyebabkan peserta didik
membolos, baik secara parsial (mbolos) maupun secara parsial (colut).

f. Terlambat datang ke sekolah


Alasan lain yang menyebabkan peserta didik membolos adalah
terlambat datang sekolah. Sebanyak 6 informan mengatakan jika terlambat
datang ke sekolah mereka lebih memilih untuk tidak masuk sekolah.
Informan AX mengemukakan bahwa :
Yen tangiku kawanen trus pintu gerbange wis ditutup aku ya bali
mulih mbak, lha nek telat ngunu kii piye ngunu og mbak rasane. Aku
jan males dihukum ngunu kui mbak yen telat. Neg misale peraturan
tutup gerbang setelah bel berbunyi kui menurutku yen diterapne ket
mbiyen malah nggawe aku smakin mbolos mbak, ya males wae
nunggu jam ke-2 lagi dibuka mbak, yaa mending mulih wae aku
(W/AX/4 Maret 2015).
(jika bangun kesiangan trus pintu gerbang sudah ditutup yaa pulang
lagi aku mbak, lha kalau telat itu gimana gitu og rasane. Aku males
dihukum mbak kalau telat. Misalkan peraturan tutup gerbang setelah
bel berbunyi itu jika diterapkan dari dulu malah membuatku semakin
membolos mbak, ya males aja nunggu jam ke-2 baru dibuka,
mending pulang aku mbak) (W/AX/4 Maret 2015).

75

Dari pernyataan diatas terlihat bahwa AX jika terlambat AX memilih


untuk membolos dikarenakan malas dihukum dan menunggu gerbang
dibuka. Pernyataan tersebut hampir sama dengan 5 informan lainnya.
Informan EM, CAL, dan RD lebih memilih untuk kembali pulang jika
melihat gerbang sekolah sudah ditutup. Informan AUL merasa takut untuk
masuk sekolah jika terlambat, menurutnya ia takut dihukum jika terlambat
sehingga lebih memilih untuk pulang ke rumah budenya di daerah
Nusukan. Sedangkan informan EW mengaku jika terlambat datang ke
sekolah terkadang ia memilih pulang namun terkadang tidak, dimana
semua tergantung gurunya. Ketika ia merasa pada hari itu gurunya galak,
ia akan memilih pulang.
Selain pernyataan ke enam informan diatas, diperkuat pula oleh
pernyataan anggota STP2K, demikian pernyataan ibu ANI :
Yang kami terima informasi untuk yang kembali pulang ketika
terlambat itu memang ada tetapi minim, dan itu anak-anak tertentu
mungkin ibarat anak itu memang karakternya dikelas pun angel di
totoopo meneh telat kesempatan buat mulih mbuh ngilang tapi
informasi seperti itu sedikit (W/bu ANI/07 April 2015).
Istilah angel ditoto yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah
peserta didik yang sulit diarahkan untuk disiplin maupun menaati
peraturan yang ada di sekolah. Dalam artian peserta didik ini semaunya
sendiri.
Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan jika terlambat
datang sekolah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peserta
didik membolos. Hal demikian dikarenakan peserta didik enggan
menunggu gerbang sekolah dibuka pada jam pelajaran ke-2.

g. Bullying
Selain alasan diatas, bullying yang dialami peserta didik menjadi
penyebab membolos. Hal ini seperti yang dialami oleh salah seorang
informan, dimana ia merasa tertekan sehingga memilih membolos.
Demikian pernyataan AUL,

76

Pernah pas aku tertekan banget, pertama kali aku dimusuhin sekelas
itu aku mbolos. Lha aku takut og mbak. akutku ii ya dibully,
sebenere takutku itu cuma dibully, aku itu paling takut dibully. Ya
dibully dikit-dikit dikatain, dikit-dikit dikatain. Misale mlaku ora
ngopo-ngopo dielokne mlaku megal megol, padahal aku ora. Trus
sitik-sitik eneng wong ngomong karo aku dibully, aku yaa dibully
(W/AUL/9 Maret 2015).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa
informan AUL tidak masuk sekolah dikarenakan takut dibullyoleh temantemannya. Ia merasa apapun yang ia lakukan akan menjadi bahan celaan
bagi teman-temannya. Seperti ketika ia berjalan dikelas dicela jika
jalannya berlenggak-lenggok dan ketika ada teman yang mengajaknya
bicarapun juga akan mendapat celaan seperti cie, ngomong karo adike.
Hal-hal demikian membuat AUL merasa tidak nyaman berada dikelasnya.
AUL mulai di dibully ketika menginjak kelas XI, saat dimana ia dimusuhi
dan dikucilkan oleh teman-temannya. Menurutnya, ia dikucilkan karena
dianggap sering ngrasani (ngomongin) teman-temannya. Pada waktu
pertama kali dimusuhin dan dikucilkan oleh teman-temannya tersebut
AUL merasa tertekan hingga tidak mau masuk sekolah. Ia merasa suwung
di dalam kelasnya, dimana ia merasa diasingkan.Ia mengaku pernah
menangis pada salah seorang gurunya dan meminta jika berkelompok
lebih baik gurunya yang membentuk kelompok. Hal tersebut dilakukan
karena ia merasa takut tidak mendapatkan kelompok, dimana banyak dari
teman-temannya yang menolak berkelompok dengannya.
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan SAT yang merupakan teman
satu kelas AUL. Demikian pernyataanya,
iyaa mbak dimusuhi satu kelas trus akhire gak masuk beberapa hari.
Sampai sekarangpun masih sering gitu, kadang seminggu itu gak
masuk 2x. Sampai sekarang pun masih dijauhi gitu mbak
(W/SAT/08 Maret 2015).
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa bullying yang
dialami peserta didik mnjadi salah satu faktor penyebab membolos. Hal ini
dikarenakan peserta didik merasa tidak nyaman dan tertekan sehingga
memilih untuk menghindari hal tersebut dengan membolos.

77

h. Ajakan Teman
Terakhir, alasan yang menyebabkan peserta didik membolos adalah
ajakan teman. Mayoritas peserta didik memilih menerima ajakan teman
untuk membolos, baik secara parsial maupun penuh dari pada
menolaknya. Hal ini sejalan dengan ungkapan salah seorang informan,
demikian ungkapan EM,
Aku wis meh mangkat ngunu kae di sms we ning ndi? ayo mbolos
yo piye mosok aku yaa emoh (W/EM/21 Februari 2015).
(Saya mau berangkat sekolah mendapatkan sms kamu dimana? Ayo
tidak usah masuk lha gimana masak aku mau menolak) (W/EM/21
Februari 2015).
Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa EM cenderung
menerima daripada menolak ajakan temannya untuk membolos. Seringkali
EM membolos bersama dengan PUT. PUT adalah peserta didik SMA
Negeri 7 Surakarta yang merupakan teman EM semenjak SD. Mereka
biasanya janjian di burjo dekat Intheos dan telah membawa baju ganti. EM
lebih sering menerima ajakan untuk membolos dikarenakan ia suka main,
bersantai dan menghindari pelajaran.
Serupa dengan EM, berikut pernyataan EW yang cenderung
menerima ajakan teman untuk membolos :
Aku yen colut ngunu kui ya kadang gak seneng pelajarane yo
kadang dijak GIB (inisial dari nama sebenarnya). Jenenge yo konco
kan yo nek dijak mosok yo nolak kan yo perkewuh to mbak.. Dadi
yen dijak ki aku lebih sering ngomong iyaa dari pada ora mbak, lha
aku kan ngajeni konco mbak. Dadi salah satu faktor sing nggarai
aku mbolos yo koncoku mbak (W/EW/ 06 Maret 2015).
(Jika saya colut terkadang karena tidak suka dengan pelajaran,
terkadang di ajak GIB. Namanya teman mbak kalau diajak menolak
kan ya sungkan mbak. Terkadang GIB yang mengajak namun
terkadang saya yang mengajak. Ketika diajak seringkali saya
mengatakan iya daripada tidak, saya kan menghargai teman mbak.
Salah satu faktor yang menyebabkan saya membolos itu teman
mbak) (W/EW/ 06 Maret 2015).
Selain penyataan kedua informan diatas, diperkuat pula oleh
informan lainnya. Informan AX menjelaskan bahwa ketika diajak tidak
masuk sekolah seringkali ia menerimanya. Ketika membolos bersama

78

teman biasanya AX bermain di Deganan Mahan, warung Econen daerah


Solo baru, Tawangmangu, ngeteh di Ndoro Dogker maupun nongkrong
dan foto-foto di daerah Kemuning. Begitu pula dengan RD, ia bersama
dengan CAL dan beberapa teman satu kelasnya membolos. Menurutnya
sehari sebelumnya mereka telah bersepakat untuk membolos bersama di
kediaman RD dengan alasan tidak ada PR maupun ulangan. Demikian
dengan informan GAB, walaupun ia lebih senang tidur di rumah ketika
tidak masuk sekolah, namun ketika diajak temannya untuk membolos ia
jarang menolak. Seperti sewaktu diajak tidak masuk sekolah untuk
bermain playstation di rumah salah satu temannya ia tidak menolak.
Tidak berbeda dengan informan diatas, FD menjelaskan ia pernah
membolos lantaran memberikan dukungan untuk temannya. Demikian
pernyataan FD,
Aku ya tahu meneh Hardcore an karo penjol. Yo nyuport penjol
mbak, kan dekne tampil ning kono. Aku kan dikei freepass mlebu
rono karo JIM, nah JIM ijine acara keluarga. Youwis aku ora
mlebu sekolah nonton penjol kui (W/FD/9 Februari 2015).
(Saya juga pernah mbak Hardcore an sama penjol. Yaa
memberikan suport untuk penjol mbak, kan dia tampil disitu. Saya
diberi tiket freepass masuk kesana dengan JIM, nah JIM ijinnya
acara keluarga. Yasudah saya tidak masuk sekolah dan nonton
penjol) (W/FD/9 Februari 2015).
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa informan
FD membolos dikarenakan rasa solidaritas terhadap sahabatnya yang
membutuhkan dukungan. Ia lebih memilih untuk memberikan dukungan
kepada temannya yang sedang tampil disebuah acara musik dari pada
masuk sekolah. Hal serupa pernah pula dilakukan oleh informan AG,
dimana ia mengaku tidak masuk sekolah karena menjadi klien praktik
temannya yang bersekolah di SMK 4 Surakarta.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa teman
memberikan pengaruh yang penting bagi peserta didik. Teman menjadi
salah satu faktor yang menyebabkan peserta didik membolos. Mereka
cenderung menerima dari pada menolak ajakan teman untuk membolos
dengan alasan sebagai bentuk solidaritas diantara mereka.

79

C. Temuan Hasil Penelitian dihubungkan dengan Kajian Teori


1. Konstruksi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta didik
Pada umumnya kata membolos bukanlah hal yang asing bagi masyarakat,
khususnya peserta didik. Perilaku membolos merupakan salah satu realitas sosial
yang seringkali dijumpai dalam dunia pendidikan. Pada hakikatnya realitas sosial
merupakan hasil konstruksi individu, sehingga untuk melihat konstruksi tersebut
harus dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki individu.
Berbicara mengenai perilaku membolos, kaitannya dengan teori konstruksi sosial
Peter L Berger, setidaknya dapat dipahami melalui proses dialektika tiga moment
yang simultan (eksternalisasi-obyektivikasi dan internalisasi).
Pada proses internalisasi individu akan memahami dan menafsirkan secara
langsung dunia obyektif ke dalam dirinya, dimana pemaknaan tersebut dipelajari
melalui sosialisasi primer maupun sosialisasi sekunder (Berger, 2013: 177).
Dalam artian terbentuklah persepsi sebagai anggapan yang muncul berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman individu terhadap lingkungannya. Individu
cenderung memaknai setiap perilakunya sesuai dengan persepsi yang mereka
miliki. Dalam masyarakat, persepsi individu dalam melihat realitas sosial tidaklah
sama. Hal ini dikarenakan realitas sosial diwarnai oleh lingkungan sosial dimana
pengetahuan dan pengalaman tersebut dipelajari. Perilaku membolos memiliki
makna

yang

subyektif

bagi

individu,

tergantung

bagaimana

mereka

mempersepsinya. Persepsi perilaku membolos memiliki makna yang berbedabeda bagi individu karena setiap individu bersosialisasi dalam lingkungan yang
berbeda, sehingga pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki berbeda-beda pula.
Bagi sebagian individu perilaku membolos dimaknai sebagai perilaku yang
salah karena tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, dalam artian
melanggar tata tertib sekolah. Akan tetapi tidak demikian bagi individu yang lain,
dimana perilaku membolos dimaknai sebagai perilaku yang tidak salah. Perbedaan
tersebut terjadi karena individu memiliki pengetahuan dan pengalaman yang
berbeda-beda mengenai perilaku membolos. Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa perilaku membolos di kalangan peserta didik, khusunya bagi
para pelakunya dimaknai sebagai hal yang biasa dan wajar. Hal ini tidak terlepas

80

dari hasil obyektifikasi individu yang melihat perilaku membolos sebagai perilaku
yang biasa. Dimana obyektifikasi tersebut dipelajari melalui sosialisasi primer
maupun sekunder dalam lingkungan sosialnya.
Persepsi yang demikan membuat peserta didik selalu termotivasi untuk
mengulangi perilaku membolosnya. Hal ini sesuai dengan ungkapan EW, dimana
ia menganalogikan perilaku membolos layaknya sholat. Individu yang setiap hari
terbiasa sholat, maka mereka akan termotivasi untuk selalu sholat. Begitu pula
dengan perilaku membolos, ketika individu telah merasakan membolos sekali
maka akan timbul keinginan untuk mencoba membolos lagi. Hal senada dialami
pula oleh informan EM, dimana ia pertama kali mengenal membolos ketika duduk
di bangku SMP karena menghindari pelajaran agama, pelajaran yang dianggap
menyulitkannya pada waktu itu. Semenjak saat itu ia terbiasa membolos bahkan
frekuensi membolosnya semakin meningkat ketika duduk di bangku SMA ini.
Tidak ada lagi perasaan takut dalam dirinya ketika membolos, ia merasa santai
karena dapat mengetahui tempat-tempat yang menurutnya nyaman untuk
membolos. Dengan kata lain setelah mengalami proses pembiasaan, perilaku
membolos diobyektifikasi sebagai perilaku yang biasa oleh peserta didik.
Tidak hanya itu, membolos tidak lagi dipersepsi sebagai perbuatan yang
salah melainkan hal yang dianggap wajar dilakukan oleh peserta didik yang
notabene masih berusia remaja. Usia remaja memang diidentikkan dengan masa
pencarian identitas diri, dengan kata lain dipahami sebagai masa nakal-nakale
seorang anak sehingga dikatakan wajar apabila peserta didik berperilaku
membolos. Disamping itu, peserta didik beranggapan pula jika membolos adalah
urusan masing-masing individu, dimana tidak ada salahnya membolos apabila
tidak ada tugas maupun ulangan, apalagi membolosnya bersama dengan temanteman. Mayoritas peserta didik berpersepsi membolos lebih menyenangkan jika
tidak dilakukan sendirian. Membolos seorang diri diidentikkan dengan suwung.
Dalam artian peserta didik merasa kesepian (teralineasi), sehingga tidak mengerti
apa yang harus dilakukannya ketika membolos seorang diri. Hal ini tentu berbeda
ketika membolos bersama teman, dimana banyak hal yang bisa dilakukan bersama
seperti mengobrol, bercerita, bermain dan lain sebagainya. Peserta didik

81

cenderung tidak ingin mengalami suatu keterasingan, sehingga cenderung


memilih bersama teman ketika membolos.
Pada umumnya mayoritas peserta didik akan menggunakan setiap
kesempatan yang disediakan untuk membolos. Mereka selalu mempertimbangkan
dan memilih waktu yang tepat ketika membolos, khusunya pada saat membolos
massal. Mereka akan memilih waktu yang dianggapnya aman, seperti pada saat
classmeeting setelah ujian tengah semester, ujian semester maupun setelah study
tour. Pada waktu-waktu tersebut kemungkinan tidak ada pelajaran maupun tugas
dan guru kurang memperhatikan kehadiran peserta didik karena sibuk menilai
hasil ujian yang telah dilakukan sebelumnya. Fenomena tersebut diperkuat pula
oleh buku daftar kehadiran peserta didik, dimana pada saat classmeeting atau
setelah study tourbanyak peserta didik yang membolos.
Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa wujud internalisasi peserta didik
mengenai perilaku membolos bukan lagi sebagai perilaku yang salah melainkan
perilaku yang biasa dan wajar. Hal demikian terlihat dari hasil wawancara dimana
peserta didik tidak lagi merasa takut ketika membolos karena telah mengalami
proses pembiasaan sebelumnya.

2. Pengaruh Lingkungan Sosial (Teman, Sekolah, Keluarga) terhadap


Konstruksi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi individu yang mengetahui dan
tidak ditransfer kepada individu lain yang pasif. Hal demikian menyebabkan
konstruksi harus dilakukan sendiri olehnya terhadap pengetahuan itu (Bungin,
2011: 194). Begitu pula dengan pengetahuan membolos di kalangan peserta didik.
Ia tidak diterima begitu saja melainkan dipelajari melalui proses belajar dengan
pengalaman individu yang diperoleh dari lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial
yang dimaksud dalam hal ini adalah keluarga, teman dan sekolah. Lingkungan
dimana peserta didik memperoleh sosialisasi primer maupun sekunder.
Dalam pandangan Peter L Berger, realitas memiliki sifat ganda. Realitas
kehidupan sehari-hari memiliki dimensi obyektif dan subyektif. Manusia
merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial obyektif melalui proses

82

ekternalisasi, sebagaimana ia mempengaruhinya dalam proses internalisasi (yang


mencerminkan realitas subyektif) (Poloma, 2013: 302). Dalam hal ini artinya
aktivitas individu sebagai wujud eksternalisasi dirinya melalui pembiasaaan akan
memperoleh sifat obyektif yang pada gilirannya akan diinternalisasi individu ke
dalam dirinya menjadi realitas subyektif.
Pada sosialisasi primer maupun sekunder peserta didik memperoleh
pengetahuan dan pengalaman mengenai perilaku membolos. Peserta didik usia
SMA cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah maupun
bersama teman dari pada dalam keluarga. Teman memang memiliki peran yang
cukup penting bagi kehidupan remaja. Teman menjadi salah satu rujukan bagi
peserta didik untuk mengembangkan sikap dan perilakunya, maka dari itu teman
seolah menjadi gambaran diri individu. Peserta didik cenderung memilih teman
yang memiliki kemiripan dengan dirinya. Peserta didik yang bergaul dengan
kelompok teman yang cenderung melanggar norma seperti membolos maka
kemungkinan besar ia pun akan berperilaku demikian.
Hal ini sesuai dengan temuan hasil penelitian, dimana teman adalah salah
satu faktor yang menyebabkan peserta didik berperilaku membolos. Mayoritas
peserta didik memiliki pandangan bahwa, membolos bersama teman lebih
menyenangkan dan mereka cenderung menerima ajakan temannya untuk
membolos dari pada menolaknya. Informan EW mengungkapkan jika salah satu
faktor yang menyebabkan dirinya membolos adalah teman. Bagi EW teman
adalah segalanya, dimana dalam hal apapun ia membutuhkan teman. Menerima
ajakan teman untuk membolos adalah salah satu cara yang ia gunakan untuk
menghargai temannya. Tidak berbeda dengan EW, informan EM cenderung
menginyakan dari pada menolak ajakan temannya untuk membolos. Menurutnya
seringkali ia membolos bersama dengan temannya yang berasal dari sekolah lain.
Peserta didik memilih membolos bersama teman dikarenakan tidak ingin
mengalami keterasingan di dalam dirinya, dengan kata lain tidak ingin merasa
suwung. Bersama dengan temannya ia dapat mengekpresikan dirinya ketika
membolos dalam berbagai aktivitas seperti mengobrol, bercerita, bermain dan lain
sebagainya.

83

Di sisi lain, berbeda dengan mayoritas teman-temannya yang tidak ingin


mengalami keterasingan, informan AUL memilih membolos dikarenakan ingin
mengasingkan diri dari teman-temannya. Menurut Dorothy Keither (dalam Kartini
Kartono, 1991: 80-82) peserta didik cenderung memilih untuk menghindari
sekolah lantaran merasa ditolak, tidak diinginkan atau tidak diterima dikelasnya
baik oleh guru maupun teman cenderung menghindari sekolah. Seperti halnya
informan AUL memilih membolos dikarenakan menjadi korban bullying
dikelasnya, sehingga ia merasa takut dan tidak nyaman berada dikelas.
Di samping itu kelompok teman sebaya memiliki daya paksa terhadap
individu yang menjadi bagian di dalamnya. Hal demikian sesuai dengan hasil
penelitian, dimana solidaritas peserta didik dalam kelas begitu kuat. Solidaritas
yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah solidaritas dalam hal perilaku
membolos. Dengan kata lain peserta didik saling bekerjasama, membantu satu
sama lain untuk menutupi perilaku mbolos atau colut temannya. Mereka
bekerjasama guna melindungi satu sama lain, dimana hal tersebut terlihat dari
tidak adanya peserta didik yang melaporkan temannya yang membolos. Mereka
cenderung melindungi temannya yang membolos dengan mengatakan bahwa
temannya sedang berada di kamar mandi, sedang sakit, surat ijin menyusul dan
lain sebagainya. Dalam hal ini peserta didik seolah-olah dipaksa tunduk dengan
sistem yang berjalan. Apabila mereka melanggar / tidak mengikuti sistem yang
berjalan, biasanya akan dikenai sanksi berupa celaan, sindiran atau diasingkan
oleh teman-temannya dan tidak lagi dianggap sebagai bagian dari mereka.
Berbagai konsekuensi tersebut membuat peserta didik tidak memiliki pilihan lain
selain mengikuti sistem yang telah ada.
Seperti halnya teman sebaya, lingkungan sekolah memiliki peran yang
tidak kalah penting bagi konstruksi membolos di kalangan peserta didik. Sekolah
merupakan lembaga formal tempat peserta didik menuntut ilmu yang merupakan
pengganti lingkungan keluarga guna mengembangkan kepribadian individu. Di
dalam lembaga sekolah terdapat peraturan / tata tertib guna menciptakan
keteraturan sehingga dapat menunjang ketercapaian tujuan sekolah untuk
mengembangkan kepribadian peserta didiknya. Peserta didik sebagai bagian dari

84

warga sekolah diwajibkan untuk menaati segala peraturan yang ada. Dengan kata
lain peserta didik dituntut untuk memelihara keteraturan yang ada di lingkungan
sekolah. Pengawasan terhadap tata tertib sekolah dibebankan kepada seluruh guru
dan tenaga kependidikan di bawah koordinasi tim STP2K dan kesiswaan. Dalam
hal ini guru memiliki peran yang penting untuk menanamkan sikap disiplin di
dalam diri peserta didik.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sosialisasi peserta didik
terhadap peraturan sekolah dilakukan pada saat peserta didik pertama kali masuk
ke sekolah dengan memberikan buku saku tata tertib siswa. Buku saku tata tertib
siswa merupakan buku yang berisi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan
sekolah yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh peserta didik. Peserta
didik diharapkan berpartisipasi dalam memelihara keteraturan di sekolah dengan
menaati tata tertib tersebut. Namun dalam realitasnya tidak semua peserta didik
berpartisipasi dalam memelihara keteraturan tersebut, dimana sebagian peserta
didik melanggar peraturan yang telah ditetapkan yang dalam hal ini adalah
membolos.
Di sisi lain pengawasan terhadap tata tertib sekolah seolah-olah hanya
dibebankan kepada petugas STP2K, padahal di dalam buku saku tata tertib siswa
dijelaskan bahwa pengawasan tata tertib dibebankan kepada seluruh guru dan
tenaga non kependidikan bukan hanya tim STP2K. Hal demikian menyebabkan
peserta didik hanya merasa segan dengan guru anggota STP2K dari pada guruguru lainnya. Hal demikian sesuai dengan ungkapan salah seorang penjaga kantin.
Menurut ibu SUG peserta didik tidak merasa segan dengan guru apabila berada di
kantin, dimana mereka hanya merasa segan dengan petugas STP2K. Peserta didik
yang merasa melakukan pelanggaran akan merasa takut apabila bertemu /
berpapasan dengan petugas STP2K. Ibu SUG menjelaskan bahwa seringkali
peserta didik yang kedapatan berada di kantin oleh guru bukan anggota STP2K
pada saat jam pelajaran akan beralasan pelajaran olahraga. Alasan tersebut
digunakan karena peserta didik beranggapan guru tidak hafal jadwal peserta
didiknya, berbeda halnya ketika kedapatan berada di kantin oleh guru petugas
STP2K kebanyakan merasa takut untuk beralasan pelajaran olahraga.

85

Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian diketahui pula terdapatnya 3


gerbang yang dibuka sepanjang hari setelah jam pelajaran ke-2, jarangnya
pengecekan keaslian surat ijin dan diperbolehkannya menyusulkan surat ketika
tidak masuk sekolah cenderung disahgunakan peserta didik untuk berperilaku
membolos. Gerbang sekolah yang selalu dibuka tersebut memberikan keleluasaan
kepada peserta didik untuk keluar sekolah, sehingga seringkali disahgunakan
untuk colut. Hal demikian seperti yang dilakukan oleh informan CAL, dimana ia
seringkali

colut

keluar

sekolah

untuk

menghindari

pelajaran.

Dengan

meninggalkan tasnya di kelas, dengan mudah CAL dapat keluar sekolahan dan
nongkrong di warung sekitar sekolah. Jarangnya pengecekan keaslian surat ijin
serta diperbolehkannya menyusulkan surat ketika tidak masuk sekolah digunakan
oleh peserta didik sebagai strategi untuk membolos. Mayoritas peserta didik
pernah menggunakan surat palsu atau menyusulkan surat ijin tidak masuk sekolah
keesokan harinya untuk melindungi perilaku membolosnya. Dengan demikian
dapat diketahui bahwa secara kelembagaan sekolah memperbolehkan peserta
didik untuk berperilaku membolos, dimana hal tersebut akan memberikan
pengaruh terhadap konstruksi perilaku membolos di kalangan peserta didik.
Perilaku membolos yang sebenarnya merupakan perbuatan yang salah, tidak lagi
dianggap demikian melainkan dipandang sebagai hal yang biasa.
Tidak hanya teman sebaya dan sekolah, keluarga sebagai lingkungan
primer juga memiliki pengaruh terhadap konstruksi membolos di kalangan peserta
didik. Keluarga merupakan tempat individu memperoleh sosialisasi primer,
dimana apa yang diajarkan oleh orang-orang yang berpengaruh dianggap sebagai
realitas obyektif. Keluarga yang cenderung membiarkan peserta didik untuk
membolos, maka yang terjadi peserta didik akan memaknai membolos sebagai
perilaku yang boleh dilakukan dan memahami hal itu sebagai realitas obyektif dan
selanjutnya akan menginternalisasi ke dalam dirinya.
Hal ini sesuai apa yang dialami oleh informan CAL, dimana ia telah
terbiasa membolos semenjak SD. Ia seringkali terlambat dan tidak pernah
mengikuti bimbingan menjelang ujian nasional semasa SD, hingga saat ini CAL
terbiasa membolos secara parsial maupun penuh. Baginya membolos adalah hal

86

yang biasa lantaran di dalam keluarganya ia diberi kebebasan untuk sekolah


ataupun tidak sekolah. Permasalahan yang dialami peserta didik dalam keluarga
memiliki peran terhadap pembentukan perilaku membolos di kalangan peserta
didik. Hal demikian sesuai yang dialami oleh GAB, dimana ia mulai mengenal
membolos semenjak duduk di bangku SMP. Ia mengaku perilaku membolosnya
tersebut dipengaruhi oleh kondisi keluarganya pada saat itu. GAB merasa menjadi
korban dari perpisahan kedua orang tuanya, sehingga beranggapan jika sekolah
tidak ada gunanya lagi. Semenjak saat itu GAB terbiasa membolos hingga saat ini,
bahkan setelah kedua orangtuanya kembali bersama ia tetap berperilaku
membolos dengan alasan orang tua mengetahui jika ia membolos. Tidak jauh
berbeda dengan informan GAB, informan AG mengaku pernah membolos
lantaran merasa tidak nyaman berada dirumah. Hal tersebut dipengaruhi oleh
relasi yang kurang baik dengan saudara laki-lakinya dan merasa kurang mendapat
perhatian dari orang tuanya.
Namun demikian tidak semua individu menyerap realitas yang diterimanya
secara sempurna, dimana si anak akan menginternalisir penafsirannya terhadap
realitas tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan peserta didik yang hidup
dalam keluarga yang tidak memperbolehkan perilaku membolos namun mereka
berperilaku membolos. Dalam artian peserta didik hidup dalam keluarga yang
memiliki pandangan membolos sebagai hal yang salah, namun mereka melihat
membolos sebagai hal yang biasa (berbeda dengan orang tuanya). Mereka
membolos tanpa sepengetahuan anggota keluarga dan seringkali berbohong untuk
menutupi perilaku membolosnya. Hal ini sesuai dengan apa yang dialami oleh
informan EW dan FD. Mereka memilih berbohong lantaran anggota keluarga
tidak memperbolehkan perilaku membolos, dimana membolos dianggap sebagai
perbuatan yang salah sehingga tidak seharusnya dilakukan. Dalam hal ini
menunjukkan bahwa setiap individu memiliki versi realitas yang mencerminkan
realitas obyektifnya.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan sosial
baik itu keluarga, teman maupun sekolah mempengaruhi konstruksi perilaku
membolos di kalangan peserta didik. Ketika anggota keluarga memperbolehkan

87

perilaku membolos, lingkungan teman mendukung perilaku membolos, dan secara


kelembagaan sekolah memperbolehkan perilaku membolos maka siswa akan
memaknai hal itu sebagai realitas obyektif dan selanjutnya akan menginternalisasi
ke dalam dirinya. Meskipun demikian realitas yang ada tidak dapat diserap secara
sempurna oleh individu, maka individu akan menginternalisir penafsirannya
terhadap realitas tersebut. Hal ini karena masing-masing individu memiliki versi
realitas

obyektifnya,

kenyataannya

individu

sehingga
tidak

memunculkan

realitas

subyektif.

Pada

menginternalisasi

semua

pengetahuan

dan

pengalamannya yag diperoleh dari sosialisasi primer maupun sekunder. Hal


demikian dibuktikan dengan peserta didik yang berperilaku membolos tanpa
sepengetahuan orang tua seperti EW dan FD, serta peserta didik korban bullying
yang memilih mengaleniasi dirinya dengan membolos.

3. Mbolos dan Colut sebagai hal yang biasa


Dalam teori konstruksi sosial terdapat dialektika 3 proses (eksternalisasiobjektifikasi-internalisasi) yang saling berhubungan satu sama lain. Objektifikasi
merupakan hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik dari kegiatan
eksternalisasi manusia (Ngangi, 2011: 2). Maka dari itu sebelum membahas
mengenai objektifikasi, terlebih dahulu akan dibahas mengenai eksternalisasi.
Eksternalisasi merupakan pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam
lingkungannya. Eksternalisasi merupakan keharusan antropologis, dimana
keberadaan manusia harus terus-menerus mengeksternalisasi dirinya dalam
aktivitas. Melalui aktivitas sebagai bentuk eksternalisasi tersebut selanjutnya akan
mempengaruhi individu lain untuk melakukan hal yang sama karena dianggap
sebagai realitas obyektif. Dengan demikian eksternalisasi merujuk pada kegiatan
kreatif manusia dalam mengkonstruksi dunia sosialnya. Konstruksi sosial
merupakan sebuah pandangan yang dibentuk oleh individu kemudian diadopsi
oleh individu lain sebagai sebuah realitas kebudayaan.
Hal ini sama dengan hasil penelitian mengenai konstruksi sosial perilaku
membolos di kalangan peserta didik. Perilaku membolos dikalangan peserta didik
merupakan konstruksi individu, dimana berdasarkan hasil konstruksi tersebut

88

dikenal 2 bentuk membolos yaitu membolos secara parsial (colut) dan membolos
secara penuh (mbolos). Perilaku membolos yang dilakukan peserta didik, baik
mbolos maupun colut merupakan salah satu bentuk ekspresi individu dalam
lingkungan sosialnya, yang dalam hal ini adalah lingkungan sekolah.
Perilaku membolos yang dilakukan individu sebagai wujud eksternaliasasi
dirinya memiliki makna subjektif bagi individu karenanya memiliki tujuan dan
motivasi. Perilaku tersebut akan menjadi perilaku sosial apabila individu
mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkannya
kepada subyektif itu. Berdasarkan hasil penelitian perilaku membolos memiliki
beberapa tujuan antara lain untuk menghindari pelajaran atau tugas, memperoleh
kepuasan dalam diri, wujud solidaritas terhadap teman dan menghindari
permasalahan yang dialami.
Pada umumnya individu cenderung mengarahkan perilakunya sesuai
dengan penetapan, harapan dan kebiasaan umum yang ada di dalam masyarakat.
Apabila tidak sepaham dengan nilai dan norma yang berkembang di dalam
masyarakat, individu cenderung menyesuaikan diri maupun merencanakan
tindakannya untuk menghindari atau setidaknya meminimalisir konsekuensi
negatif yang akan timbul dari perbuatannya (Veeger, 1990: 172). Peserta didik
yang berperilaku membolos pada dasarnya tidak berpartisipasi dalam memelihara
keteraturan di lingkungan sekolah. Dengan kata lain mereka tidak sepaham
dengan peraturan yang ada sehingga cenderung melanggar peraturan tersebut
dengan berperilaku membolos.
Peserta

didik

cenderung

menggunakan

berbagai

strategi

untuk

mempermudah perilaku membolosnya. Berbagai strategi tersebut digunakan untuk


meminimalisir konsekuensi yang ditimbulkan akibat perilaku membolosnya. Hal
demikian dikarenakan perilaku membolos merupakan salah satu bentuk
pelanggaran terhadap tata tertib sekolah, sehingga apabila dilakukan akan
memberikan konsekuensi negatif berupa sanksi / hukuman. Dengan kata lain
membolos merupakan bentuk ketidakteraturan dalam lembaga sosial, yaitu
sekolah. Perilaku membolos di kalangan peserta didik dianggap tidak sesuai
dengan harapan masyarakat (melanggar nilai dan norma), dimana sebagai peserta

89

didik ia diharapkan menjalankan perananya untuk hadir disekolah guna menuntut


ilmu.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 cara / strategi yang biasa digunakan
peserta didik untuk mbolos. Cara tersebut antara lain dengan menggunakan surat
ijin, baik surat ijin buatan orang tua, buatan sendiri atau teman seperti yang
dilakukan oleh informan AUL, RD, AG, FD dan CAL. Tidak hanya itu, sebagaian
peserta didik memilih untuk jujur kepada orang tua ketika membolos seperti yang
dilakukan oleh informan AX dan GAB dan berbohong kepada orang tua seperti
yang seringkali dilakukan oleh informan EW. Selain itu sebagian peserta didik
memilih memanipulasi kehadiran pada buku rekapitulasi kehadiran kelas, seperti
yang dilakukan oleh RD. Mayoritas peserta didik yang mbolos memilih
mengenakan pakaian bebas atau menutupi seragamnya dengan menggunakan
jaket ketika membolos. Hal tersebut dilakukan karena dianggap dapat
memberikan keleluasaan bagi mereka ketika beraktivitas di tempat umum pada
saat jam sekolah. Sedangkan peserta didik yang colut di dalam lingkungan
sekolah biasanya beralasan sakit agar diijinkan ke UKS ataupun beralasan ke
belakang / kamar mandi untuk colut ke kantin. Selain itu sebagian peserta didik
menyalahgunakan surat ijin meninggalkan pelajaran untuk colut di luar
lingkungan sekolahan. Cara lain yang digunakan adalah dengan keluar sekolahan
secara sembunyi-sembunyi dan memarkirkan kendaraan di warung depan sekolah.
Membolos baik secara penuh maupun parsial beserta strategi yang
digunakan merupakan hal yang biasa terjadi di kalangan peserta didik. Hal
demikian membuat fenomena kejasama diantara peserta didik dalam hal
membolos menjadi hal yang wajar bagi peserta didik. Hal demikian seperti yang
diungkapkan oleh informan AG, menurutnya mereka cenderung memilih diam
dan melindungi temannya yang membolos lantaran tidak dingin dianggap
makakne konco. Ia menambahkan hal tersebut merupakan bentuk solidaritas antar
teman dalam kelas, dimana mereka saling membantu dan bekerjamasa satu sama
lain.
Kegiatan individu dapat mengalami proses pembiasaan (habitualisasi).
Individu cenderung akan berperilaku berdasarkan pengalamannya. Setiap tindakan

90

yang diulangi akan menjadi pola yang kemudian dapat direproduksi dengan upaya
sekecil mungkin sehingga dipahami pelakunya sebagai pola yang dimaksudkan
pelakunya. Semua tindakan yang diulangi satu kali atau lebih cenderung menjadi
terbiasa sampai tingkat tertentu, karena semua tindakan yang satu diamati oleh
yang lainnya dengan sendirinya akan melibatkan tipifikasi dipihaknya. Tindakantindakan yang relevan bagi pelaku-pelakunya dalam dunia bersama akan
ditipifikasi secara timbal balik. Pembiasaan dan tipifikasi yang dilakukan dalam
kehidupan bersama pada akhirnya akan menjadi suatu obyektifikasi (memperoleh
sifat obyektifitas). Dengan kata lain ia dialami sebagai suatu kenyataan yang
dihadapi oleh individu sebagai suatu fakta eksternal dan memaksa.
Begitu pula dengan perilaku membolos di kalangan peserta didik, baik
membolos

secara parsial

maupun penuh telah mengalami

pembiasaan

(habitualisasi) sehingga peserta didik merasa biasa dengan perilaku tersebut.


Peserta didik pelaku perilaku membolos cenderung akan membiasakan
tindakannya sesuai dengan pengalamannya. Peserta didik cenderung membolos
dengan menggunakan cara-cara yang realatif sama ketika membolos, dimana
perilaku membolos dengan segala strateginya tersebut menjadi pola yang wajar
untuk dilakukan. Berbagai cara yang digunakan peserta didik seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya dapat dikatakan sebagai pembenaran secara subyektif
terhadap tindakannya, yang dalam hal ini adalah perilaku membolos. Pola
perilaku membolos individu akan mempengaruhi individu yang lainnya untuk
menggunakan pola yang demikian ketika membolos. Pembiasaan dan tipifikasi
perilaku membolos dikalangan peserta didik seolah-olah menjadikan berbagai
strategi / cara yang digunakan untuk membolos adalah hal yang obyektif, dimana
suka atau tidak suka cara-cara tersebut akan terus digunakan ketika peserta didik
membolos. Karena telah memperoleh sifat obyektifitas maka kenyataan tersebut
dihadapi sebagai kenyataan yang eksternal yang bersifat memaksa. Peserta didik
melihat perilaku membolos beserta cara-cara yang digunakan sebagai hal yang
berada diluar dirinya dan seolah-olah memaksa mereka untuk berpartisipasi dalam
realitas tersebut. Hal tersebut terlihat jelas dalam fenomena kerjasama peserta
didik dalam hal membolos, dimana tidak ada peserta didik yang berani

91

mengadukan teman sekelasnya yang membolos secara parsial maupun penuh.


Mayoritas dari mereka malah akan membantu temannya agar tidak ketahuan jika
membolos, hal ini dilakukan karena apabila memilih untuk mengadukan ia akan
diasingkan oleh teman-teman satu kelasnya.
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa objektifikasi merupakan proses
dimana produk-produk manusia yang dieksternalisasi memperoleh sifat obyektif.
Perilaku membolos yang dilakukan individu dengan berbagai cara / strategi yang
digunakannya merupakan wujud eksternalisasi individu terhadap lingkungannya.
Dimana berbagai cara yang digunakan peserta didik merupakan pembenaran
secara subyektif terhadap perilaku membolosnya. Dikarenakan mengalami
pembiasaan dan tipifikasi maka individu memaknai suatu realitas tersebut sebagai
hal yang obyektif.

4. Internalisasi Perilaku Membolos di Kalangan Peserta Didik


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perlaku membolos merupakan
konstruksi individu. Dimana konstruksi tersebut dapat dipahami melalui 3 proses
(ekternalisasi-obyektifikasi-internalisasi) yang tidak dapat dipisahkan satu sama
lain.

Setelah

memperoleh

sifat

obyektif,

selanjutnya

individu

akan

menginernalisasi realitas tersebut kedalam dirinya sehingga memunculkan realitas


subyektif. Proses internalisasi terjadi melalui sosialisasi primer dan sosialisasi
sekunder, dimana sosialisasi primer terjadi di dalam keluarga sedangkan
sosialisasi sekunder terjadi di luar lingkungan keluarga. Sosialisasi primer dan
sekunder yang dialami peserta didik mempengaruhi konstruksi sosial atas realitas,
yang dalam hal ini adalah perilaku membolos.
Pada umumnya, saat berada di lingkungan keluarga peserta didik
memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang terbatas mengenai perilaku
membolos. Namun pada saat mengalami sosialisasi sekunder dengan teman
sebaya dan sekolah, pengetahuan dan pengalaman individu mengenai perilaku
membolos lebih luas dan mendalam. Hal ini dikarenakan individu lebih banyak
menghabiskan waktunya di kedua lingkungan tersebut dari pada keluarga,
khusunya setelah menginjak usia remaja. Disamping itu perilaku membolos

92

terjadi dan seringkali ditemui dalam lingkungan sekolah yang selalu berkaitan
dengan teman.
Berdasarkan hasil penelitian teman menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan peserta didik membolos. Mayoritas peserta didik saling
bekerjasama atau membantu satu sama lain dalam berperilaku membolos yang
disebutnya sebagai bentuk solidaritas sesama teman. Selain itu, lingkungan
sekolah secara kelembagaan memperbolehkan peserta didik untuk membolos. Hal
ini terlihat dari lemahnya pengawasan / kontrol guru terhadap peserta didik
sehingga dengan leluasanya peserta didik dapat menggunakan surat ijin palsu
untuk membolos dan colut di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Disamping

itu

beberapa

kebijakan

sekolah,

seperti

diperbolehkannya

menyusulkan surat tidak masuk sekolah dan penggunaan surat ijin meninggalkan
jam pembelajaran seringkali disalahgunakan peserta didik untuk kepentingan
membolos. Berbagai kemudahan yang diperoleh peserta didik dari sosialisasi
lingkungan sekundernya tersebut menimbulkan pandangan perilaku membolos
sebagai hal yang biasa dan wajar untuk dilakukan.
Konstruksi perilaku membolos dipengaruhi pula oleh lingkungan keluarga
sebagai sosialisasi primernya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa disatu
sisi keluarga mengetahui perilaku membolos peserta didik, namun disisi lain
ditemukan pula keluarga yang tidak mengetahui perilaku membolos peserta didik.
Dengan kata lain individu disosilalisasi dalam lingkungan yang seolah-olah
memperbolehkan perilaku membolos dan lingkungan yang melarang perilaku
membolos. Lingkungan keluarga yang mengetahui dan membiarkan peserta didik
berperilaku membolos akan semakin melanggengkan pemaknaan perilaku
membolos sebagai hal yang biasa dan wajar.
Meskipun demikian, baik peserta didik yang berasal dari keluarga yang
memperbolehkan / melarang perilaku membolos sama-sama beranggapan jika
perilaku membolos adalah hal yang biasa dan wajar. Hal demikian sesuai dengan
apa yang diungkapkan oleh Peter L Berger, dimana tidak semua realitas yang ada
dapat diserap dengan sempurna oleh individu dalam proses sosialisasinya. Hal ini
dikarenakan individu memiliki versi realitas sendiri-sendiri yang dianggap sebagai

93

cermin dunia obyektifnya, sehingga memunculkan realitas sosial subyektif.


Individu cenderung menginternalisir realitas yang dianggapnya sesuai dan
mencerminkan dunia obyektifnya.
Berdasarkan

penjelasan

diatas

dapat

ditarik

kesimpulan

bahwa

internalisasi adalah penyerapan kembali dunia obyektif ke dalam kesadaran


individu, sehingga memiliki makna subyektif bagi dirinya. Proses internalisasi
tersebut diperoleh melalui sosialisasi primer dalam lingkungan keluarga dan
sosialisasi sekunder dalam lingkungan sekolah dan teman sebaya. Baik
lingkungan keluarga, teman maupun sekolah sangat mempengaruhi konstruksi
perilaku membolos sebagai hal yang biasa dan wajar bagi peserta didik. Peserta
didik cenderung memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam
mengenai perilaku membolos melalui lingkungan sekolah dan teman. Dimana
berdasarkan hasil penelitian ditemukan dua bentuk perilaku membolos ( mbolos
dan colut) beserta strategi yang biasa digunakan peserta didik untuk berperilaku
membolos, seperti membuat suarat palsu, menyusulkan surat ijin, ijin ke belakang
(kamar mandi) dan lain sebagainya. Perilaku membolos yang dilakukan individu
dengan berbagai cara / strategi yang digunakannya merupakan wujud
eksternalisasi individu terhadap lingkungannya. Berbagai cara yang digunakan
peserta didik tersebut merupakan pembenaran secara subyektif terhadap perilaku
membolosnya. Selanjutnya perilaku membolos beserta cara-cara yang digunakan
tersebut mengalami pembiasaan (habitualisasi) dan tipifikasi sehingga dianggap
sebagai realitas obyektif dan mempengaruhi individu lain untuk melakukan hal
yang serupa. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa peserta didik mengkonstruksi
perilaku membolosnya sebagai hal yang biasa dan wajar.

BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang konstruksi sosial perilaku membolos
di kalangan peserta didik, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Persepsi peserta didik mengenai perilaku membolos adalah suatu hal yang
biasa dan wajar. Perilaku tersebut menjadi biasa dan wajar melalui proses
pembiasaan (habitualisasi) dari para pelakunya. Biasanya perilaku membolos
seringkali dilakukan bersama teman karena dianggap lebih menyenangkan
sedangkan membolos sendiri diidentikkan dengan suwung.
2. Bentuk-bentuk perilaku membolos di kalangan peserta didik dibedakan
menjadi dua, yaitu mbolos dan colut. Mbolos berarti peserta didik tidak
masuk sekolah selama satu hari penuh dengan alasan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Colut merupakan membolos secara parsial, dimana
peserta didik terhitung masuk sekolah namun meninggalkan proses
pembelajaran yang seharusnya di ikuti. Colutberdasarkan lokasinya memiliki
dua bentuk, yaitu colut di dalam lingkungan sekolah (UKS dan kantin) dan
colut di luar lingkungan sekolah.
3. Faktor-faktor yang menyebabkan peserta didik berperilaku membolos dari
perspektif pelakunya ada 8, yaitu: malas, fanatisme terhadap sepak bola,
permasalahan dengan keluarga atau teman, menghindari tugas, menghindari
atau bosan dengan pelajaran, terlambat datang ke sekolah, bullying dan
ajakan teman.

B. IMPLIKASI
1. Implikasi Teoritis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori konstruksi sosial
Peter L Berger dan Thomas Luckman untuk mengkaji perilaku membolos di
kalangan peserta didik. Secara singkat konstruksi sosial adalah pandangan
yang dibentuk oleh individu yang kemudian diadopsi oleh individu lain
94

95

sebagai realitas kebudayaan. Hal tersebut dapat dilihat dari 3 moment


dialektika yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu eksternalisasiobyektifikasi-internalisasi. Pada proses eksternalisasi individu mencurahkan
atau mengeksperesikan dirinya ke dalam dunia dalam bentuk aktivitas.
Aktivitas tersebut kemudian mengalami pembiasaan dan tipifikasi sehingga
memperoleh sifat obyektif. Setelah individu melakukan obyektifikasi, tahap
selanjutnya adalah internalisasi. Internalisasi merupakan pengadopsian
pengetahuan dan pengalaman ke dalam diri individu, sehingga memiliki
makna subyektif bagi dirinya. Internalisasi diperoleh melalui sosialisasi
primer dan sosialisasi sekunder. Melalui internalisasi tersebut, selanjutnya
individu kembali mengekspresikan dirinya ke dalam dunia. Hasil penelitian
secara teoritis mendukung teori konstruksi sosial Peter L Berger, dimana
bentuk-bentuk membolos beserta strategi yang digunakan merupakan
eksternalisasi individu ke dalam dunia sosialnya. Aktivitas dalam pencurahan
kediriannya tersebut mengalami pembiasaan dan ditipifikasi oleh individu
lain, dengan kata lain mengalami obyektifikasi. Selanjutnya, individu akan
mengadopsi pengetahuan dan pengalaman tersebut ke dalam dirinya. Dengan
kata lain memandang membolos adalah hal yang biasa dan cenderung
dilakukan dengan cara-cara yang cenderung sama.
2. Implikasi Metodologis
Penelitian

ini

menggunakan

pendekatan

fenomenologi

untuk

menjawab permasalahan penelitian yang ada. Fenomenologi memandang


perilaku manusia, apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan adalah
sebagai suatu produk dari bagaimana orang menafsir terhadap dunia mereka.
Fenomenologi berusaha menggali pengalaman manusia serta menjelaskan
dasar-dasar pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Individu memaknai
perilakunya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya,
sehingga fenomenologi dapat digunakan untuk mengungkapkan makna dari
perilaku individu tersebut. Dengan demikian, dikaitkan dengan hasil
penelitian yang telah disampaikan maka fenomenologi dirasa sudah tepat
untuk menjawab rumusan masalah penelitian.

96

3. Implikasi Praktis
Implikasi praktis dalam penelitian ini berkaitan erat dengan hasil
penelitian. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa perilaku membolos di
kalangan peserta didik dipandang sebagai hal yang biasa dan wajar. Mereka
menganggap membolos sebagai hal yang biasa dan wajar dikarenakan telah
mengalami proses pembiasaan. Perilaku membolos bukan lagi hal yang
menakutkan, namun dianggap menyenangkan apabila dilakukan bersamasama dengan teman. Persepsi yang demikian berkaitan dengan lingkungan
sosialisasi peserta didik yang dalam hal ini adalah keluarga, sekolah dan
teman sebaya. Dalam hal ini telah terjadi pergeseran, dimana membolos
bukan lagi dilihat sebagai perbuatan yang melanggar nilai dan norma (tata
tertib sekolah), melainkan dilihat sebagai hal tidak salah untuk dilakukan.
Sebagai peserta didik yang menimba ilmu sudah seharusnya kehadiran di
sekolah menjadi suatu prioritas. Hal ini dikarenakan kehadiran peserta didik
merupakan komponen yang penting dalam proses pembelajaran.

C. SARAN
Berdasarkan hasil temuan dan analisis data diatas, terdapat beberapa hal
yang dapat dijadikan masukan, antara lain:
1. Bagi peserta didik
a. Peserta didik hendaknya meningkatkan kesadaran bahwa membolos
merupakan perilaku yang tidak terpuji dan merugikan diri sendiri.
b. Peserta didik hendaknya menghindari bentuk-bentuk kerjasama dalam
berperilaku membolos.
c. Peserta didik hendaknya menghindari bullying sehingga perilaku
membolos akibat bullying dapat diminimalisir.
d. Peserta didik hendaknya membiasakan diri untuk berperilaku disiplin
dengan menaati tata tertib yang telah ditetapkan.

97

2. Bagi guru
a. Diharapkan guru mampu mengembangkan proses pembelajaran yang
kreatif dan menyenangkan sehingga peserta didik merasa nyaman di
dalam kelas.
b. Diharapkan guru ikut berpartisipasi dalam meningkatkan kedisiplinan
peserta didik dengan cara memberikan contoh secara nyata melalui
perilaku disiplin.
c. Sebaiknya guru mengenali karakteristik peserta didik sehingga dapat
meminimalisir perilaku membolos
d. Sebaiknya guru melakukan pengecekan terhadap peserta didik sehingga
dapat diketahui peserta didik yang membolos maupun melakukan
pelanggaran lain.
3. Bagi sekolah
a. Sekolah diharapkan mampu meningkatkan kontrol sosial terhadap peserta
didik melalui pemberlakuan sanksi yang tepat bagi peserta didik yang
berperilaku membolos.
b. Sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif
sehingga peserta didik merasa nyaman berada di sekolah.
c. Sebaiknya sekolah melakukan sosialisasi tata tertib secara berkala guna
meningkatkan kedisiplinan peserta didik.
4. Bagi Keluarga
a. Sebaiknya keluarga lebih memperhatikan anak, baik dalam hal pergaulan
maupun lingkungan bermainnya sehingga dapat mengetahui aktivitas
peserta didik.
b. Keluarga sebagai agen sosialisasi primer hendaknya memiliki mekanisme
monitoring kepada anak dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur
sehingga diharapkan karakter anak untuk tidak membolos dapat
terbentuk.
c. Keluarga hendaknya menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah untuk
meminimalisir perilaku membolos peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung
Penggunaan Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Ali, M & M. Asrori. (2004). Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Anggriawan, Shoqib. (2014, 4 September). 16 siswa main game online di Jagalan
di razia Satpol PP Solo. SOLOPOS.com. Diperoleh 19 September 2014,
darihttp://www.solopos.com/2014/09/04/razia-pelajar-16-siswa-maingame-online-di-jagalan-dirazia-satpol-pp-solo-533191.
Bellamy, Richard. (1990). Teori Sosial Modern Perspektif Itali. Terj. Vedi R
Hadiz. Jakarta: LP3ES.
Berger, Peter L & Thomas, Luckman. (2013). Tafsir Sosial Atas Kenyataan:
Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES.
Bungin, Burhan. (2001). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
.(2011). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu Sosial lainnya. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.
.(2011). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan
Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Conventry, G., Greg C., Ron C., & Janet V. (1984). Skipping school: An
examination of truacy in Victorian secondary school. Victorian Institute of
Secondary Education.
Damsar. (2012). Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group
Desmita. (2011). Psikologi Perkembangan Peserta didik: panduan bagi orang tua
dan guru untuk memahami psikologi anak usia SD, SMP, dan SMA.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Graciani, Wenny. (2011). Perilaku Membolos Siswa: Studi Deskriptif Kualitatif
tentang Perilaku Membolos Siswa di SMP Negeri 2 Delanggu, Kecamatan
Delanggu, Kabupaten Klaten. Skripsi Tidak di Publikasikan, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta.
Ichsani, Wachida. (2007). Studi tentang Faktor Penyebab dan Alternatif
Penyelesaian Masalah Perilaku Membolos pada Siswa SMA Negeri 1
Teras Boyolali Tahun Ajaran 2006/2007. Skripsi Tidak di Publikasikan,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
98

99

Iskandar. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta:


Referensi.
Iskandar. (2014, 13 Mei). Bolos Di Warnet 8 Pelajar Sukoharjo Ditangkap Satpol.
SOLOPOS.com. Diperoleh 19 September 2014,
darihttp://www.solopos.com/2014/05/13/bolos-di-warnet-8-pelajarsukoharjo-ditangkap-satpol-507371.
Johnson, Doyle Paul. (1994). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Terj. Robert
MZ Lawang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kartono, Kartini. (1991). Bimbingan bagi Anak Remaja yang Bermasalah.
Jakarta: Rajawali Pers.
KOMPAS.com. (2014, 22 September). Tertangkap di WC Warnet Saat Razia
Pelajar Ini Mengaku Malas Sekolah. Diperoleh 23 September 2014, dari
http://regional.kompas.com/read/2014/09/22/13333991/Tertangkap.di.WC.
Warnet.Saat.Razia.Pelajar.Ini.Mengaku.Malas.Sekolah
M, Andi Ivan. (2014, 17 Juni). Bolos Ke Warnet 35 Siswa Ditangkap Satpol PP.
SOLOPOS.com.
Diperoleh
Diperoleh
19
September
2014,
darihttp://www.solopos.com/2014/06/17/razia-pelajar-sukoharjo-bolos-kewarnet-35-siswa-ditangkap-satpol-pp-513926
Malcolm H., Valerie W., Julia D., & Susan K. (2003). Absence from School: A
study of its causes and effects in seven LEAs. Review of Comunity
Education Training, No 424.
Manuaba, Putera. (2010). Memahami Teori Konstruksi Sosial. Jurnal Masayarakat
Kebudayaan dan Politik, 21 (3), 221-230.
Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Ngangi, Charles R. (2011). Konstruksi Sosial dalam Realitas Sosial. ASE, 7 (2), 14
Poloma, Margareth M. (2013). Sosiologi Kontemporer. Terj. Tim Penerjemah
Yasogama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purbaya, AA. (2014, 8 September). Takut Dihukum Guru 8 Siswa Ini Justru
Digelandang Polisi Karena Bolos. DETIK.com. Diperoleh 19 September
2014, dari http://news.detik.com /read/2014/09/08/130226/2684150/1536/
takut-dihukum-guru-8-siswa-ini-justru-digelandang-polisi-karena-bolos
Sarwono, Solita. (2004). Sosiologi Kesehatan: beberapa konsep beserta
aplikasinya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.

100

Sutopo. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas


Maret.
Veeger. (1990). Realitas Sosial: refleksi filsafat sosial atas hubungan individumasyarakat dalam cakrawala sejarah sosiologi. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Walgito, Bimo. (2003). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Yusuf, Syamsu. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Zulkifli. (1993). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remadja Rosdakarya.

LAMPIRAN

101

Data Ketidakhadiran Peserta Didik


Ketidakhadiran
No
Nama (inisial)
Kelas
Jumlah
Sakit
Ijin
Alfa (a)
(s)
(i)
1
EW
XI IIS 4
2 kali
7 kali
30 kali
39 kali
2
GAB
XI IBB 1 5 kali
10 kali 23 kali
38 kali
3
EM
XI IIS 3 16 kali
2 kali
15 kali
33 kali
4
AX
X IIS 3
16 kali
1 kali
13 kali
30 kali
5
AUL
XI IIS 3
9 kali
2 kali
12 kali
23 kali
6
CAL
XI IIS 1
2 kali
7 kali
9 kali
7
RD
XI IIS 1
2 kali
3 kali
3 kali
8 kali
8
AG
XI IIS 1
3 kali
2 kali
5 kali
9
FD
XI IIS 2
2 kali
1 kali
2 kali
5 kali
Sumber : olah data dari rekapitulasi kehadiran peserta didik Agustus 2014 April
2015

102

PEDOMAN WAWANCARA PESERTA DIDIK


No

Rumusan Masalah

Tinjauan Pustaka

Persepsi membolos

Objektifikasi

Indikator
Sekolah

Instrumen Guide
- Mengapa anda memilih bersekolah di SMA N 6 Surakarta?

di kalangan peserta

- Bagaimana aktivitas / kegiatan anda di sekolah?

didik

- Bagaimana tanggapan anda mengenai peraturan / tata tertib yang ada di sekolah?
- Bagaimana kondisi kelas anda saat proses pembelajaran berlangsung?
- Apa yang anda ketahui tentang membolos?
- Apakah anda pernah membolos dan sejak kapan anda mulai mengenal membolos?
- Bagaimana perasaan anda ketika membolos?
- Bagaimana sanksi bagi peserta didik yang membolos?
- Menurut anda, apakah sanksi tersebut efektif? Jelaskan!
- Menurut anda apakah ada kerugian/akibat yang ditimbulkan dari membolos? Mengapa?
Internalisasi

Keluarga

- Bagaimana hubungan anda dengan keluarga anda?

Guru

- Apakah orang tua anda mengetahui bahwa anda membolos atau meninggalkan sekolah

Teman
pergaulan

tanpa ijin? bagaimana sikap dan reaksinya?


- Apakah mata pelajaran favorit anda? Mengapa anda menyukai mata pelajaran tersebut?
- Apakah mata pelajaran yang tidak anda sukai? Mengapa anda tidak menyukai mata
pelajaran tersebut?
- Menurut anda, bagaimana gambaran guru yang menyenangkan / tidak menyenangkan

103

dalam pembelajaran?
- Bagaimana hubungan anda dengan guru maupun teman?
- Dengan siapa anda biasa bergaul (sekolah / luar sekolah), mengapa memilih bergaul
dengan teman-teman tersebut?
- Bagaimana tanggapan guru dan teman tentang peserta didik yang membolos (mbolos
dan colut) ?
2

Bentuk-bentuk
perilaku membolos

Eksternalisasi

Aktivitas

- Bagaimana cara yang anda gunakan untuk membolos (mbolos dan colut) ?

membolos

- Kemanakah tujuan anda ketika membolos (mbolos dan colut) ?

dikalangan

- Mengapa anda memilih tempat tersebut?

peserta didik

- Bagaimana aktivitas yang anda lakukan ketika membolos (mbolos dan colut) ?
- Apakah anda mempunyai keinginan untuk tidak membolos atau meninggalkan sekolah
tanpa ijin lagi? mengapa?

Faktor penyebab

Sekolah

- Mengapa anda membolos?

perilaku membolos

Teman

- Bagaimana sikap dan reaksi anda terhadap ajakan teman untuk membolos (mbolos dan

keluarga

colut) ?
- Bagaimana sikap anda apabila memiliki masalah dalam keluarga maupun dengan
teman?
- Bagaimana sikap anda apabila merasa bosan dengan pembelajaran di kelas?

104

PEDOMAN WAWANCARA STP2K


1. Bagaimana tingkat kedisiplinan yang ada di SMA N 6 Surakarta?
2. Bagaimana peran STP2K kaitannya dengan kedisiplinan di SMA N 6
Surakarta?
3. Berbicara mengenai pelanggaran terhadap tata tertib sekolah, pelanggaran
seperti apa yang seringkali dilakukan peserta didik SMA N 6 Surakarta dan
bagaimana tingkat keseringan peserta didik yang melanggar peraturan sekolah?
4. Bagaimana tingkat keseringan peserta didik yang terlambat datang ke sekolah?
5. Bagaimana tingkat keseringan peserta didik yang membolos?
6. Bagaimana tingkat keseringan peserta didik yang meninggalkan sekolah tanpa
ijin atau colut?
7. Bagaimana prosedur yang harus dilakukan jika peserta didik hendak
meninggalkan sekolah?
8. Bagaimana tingkat keseringan peserta didik yang meninggalkan kelas saat
proses pembelajaran?
9. Apa yang menyebabkan peserta didik melakukan pelanggaran tata tertib
sekolah seperti membolos maupun colut?
10. Adakah cara-cara khusus yang digunakan peserta didik untuk membolos
maupun colut?
11. Bagaimana penanganan peserta didik yang melakukan pelanggaran tata tertib,
khususnya dalam hal membolos dan colut?
12. Adakah upaya pendekatan secara personal untuk mengatasi peserta didik yang
sering kali membolos maupun colut?
13. Adakah kerjasama antara STP2K dengan BK dalam menangani peserta didik
yang membolos maupun colut? Jika iyaa, bagaimana kerjasama tersebut?
14. Berbicara mengenai penanganan membolos dan colut, Apakah peserta didik
cenderung jera atau tetap berperilaku membolos setelah mendapat sanksi?
15. Bagaimana upaya pencegahan yang dilakukan pihak sekolah agar peserta didik
tidak melakukan pelanggaran tata tertib sekolah, khusunya dalam hal
membolos dan colut?

105

PEDOMAN WAWANCARA PETUGAS KANTIN


1. Bagaimana dengan tingkat keseringan peserta didik yang berada di kantin pada
saat jam pembelajaran?
2. Siapa saja yang seringkali berada di kantin pada saat jam pembelajaran?
3. Bagaimana dengan peserta didik yang colut ke kantin pada saat pembelajaran?
sendiri atau bersama teman?
4. Bagaimana aktivitas peserta didik pada saat berada di kantin?
5. Berapa lama biasanya peserta didik berada di kantin pada saat jam
pembelajaran?
6. Apa yang menyebabkan peserta didik berada di kantin pada saat jam
7. Bagaimana mengenai jam-jam khusus yang digunakan peserta didik untuk
colut ke kantin?
8. Bagaimana cara yang digunakan peserta didik untuk colut ke kantin?
9. pembelajaran?
10. Bagaimana reaksi guru apabila mendapati peserta didik berada di kantin?

PEDOMAN WAWANCARA GURU BIMBINGAN KONSELING (BK)


1. Bagaimana pendapat anda mengenai perilaku membolos?
2. Apa yang menyebabkan peserta didik membolos?
3. Dalam hal menangani peserta didik yang membolos, pernahkah ditemukan
cara-cara khusus yang digunakan peserta didik untuk membolos?
4. Bagaimana penanganan terhadap peserta didik yang membolos?
5. Bagaimana pengaruh penanganan tersebut terhadap peserta didik yang
berperilaku membolos?

PEDOMAN WAWANCARA TEMAN INFORMAN KUNCI


1. Apakah anda mengenal X?
2. Seberapa sering X membolos (mbolos maupun colut) ?
3. Apakah yang menyebabkan X membolos (mbolos maupun colut) ?
4. Apakah anda pernah membolos (mbolos maupun colut) dengan X ?
5. Bagaimana solidaritas di dalam kelas anda dalam hal membolos ?

106

FIELD NOTE
Informan 1
EM (inisial dari nama sebenarnya) adalah peserta didik kelas XI IIS 3
SMA Negeri 6 Surakarta. EM merupakan seorang perempuan dengan tinggi
badan 165 cm. Gadis berambut hitam panjang ini merupakan sekertaris di
kelasnya. Peneliti mengenal EM semenjak PPL, dimana peneliti mengajar di kelas
XI IIS 3. Peneliti memilih EM sebagai informan dikarenakan berdasarkan
informasi teman-teman dan data dokumentasi peserta didik ia seringkali tidak
masuk sekolah. Ketika hendak melakukan penelitian, peneliti menghubungi EM
dan sering berkomunikasi lewat SMS (Short Message Service). Peneliti menjadi
semakin akrab dengan EM dan meminta ijin untuk melakukan wawancara dan
penelitian terhadapnya. Dengan adanya persetujuan dari kedua pihak, akhirnya
peneliti bersama dengan informan membuat janji dan menentukan tempat untuk
bertemu dan melakukan wawancara.
Wawancara dilakukan oleh peneliti pada hari Sabtu, 21 Februari 2015
pada pukul 15.30. Wawancara bertempat di Warung Es Teller 58 yang berada di
jalan Jaya Wijaya (depan Indomaret Plus) di daerah Mojosongo. Hari itu EM
mengenakan kaos berwarna merah dan celana jeans. Suasana di warung es teller
58 saat itu tidak begitu rame sehingga membuat EM nyaman menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. EM merupakan perempuan yang
mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari kata-kata yang
keluar dari EM setiap peneliti mengajukan pertanyaan.
Peneliti memulai perbincangan dengan menanyakan alasan EM memilih
bersekolah di SMA N 6 Surakarta. EM merupakan alumni SMP Negeri 3
Surakarta. Ia memutuskan bersekolah di SMA N 6 Surakarta dikarenakan nilainya
tidak mencukupi untuk bersekolah di SMA yang menjadi pilihan pertamanya,
yaitu SMA N 5 Surakarta. Alasan lainnya adalah dikarenakan ia tidak ingin
bersekolah di sekolah swasta dan cukup banyak teman-temannya yang besekolah
di SMA N 6 Surakarta. Menurut pengakuan EM, pada awalnya ia meras gelo
karena tidak diterima di SMA yang di inginkannya tapi seiring berjalannya waktu
ia merasa nyaman bersekolah di SMA tersebut.

107

Berdasarkan pengakuan EM peraturan yang ada di SMA Negeri 6


Surakarta cenderung longgar, peraturan tersebut sudah baik tapi penenamannya
cenderung kurang. Banyak pelanggaran yang kurang mendapat ketegasan, ia
mencontohkan ketika dirinya memakai sepatu berwarna abu-abu, bermain HP di
kelas, tidur dan mengerjakan PR saat pelajaran jarang mendapat teguran dari guru,
kecuali saat ada razia. Ketika berada dikelas saat proses pembelajaran EM merasa
tidak nyaman, hal tersebut dikarenakan banyak teman-temannya yang gaduh
ketika proses pembelajaran berlangsung. Ia terkadang memperhatikan pelajaran
namun terkadang juga malas memperhatikan pelajaran, menurutnya semua itu
tergantung Gurunya. Bagi EM guru yang menyenangkan adalah guru yang mau
menjelaskan secara rinci pelajaran yang diampunya, dimana dalam menjelaskan
diselingi cerita agar tidak terlalu sepaneng, dan guru yang mampu menjawab
setiap pertanyaan yang diajukan siswanya. EM paling menyukai pelajaran sejarah
Indonesia dan tidak menyukai pelajaran matematika serta seni rupa.
EM mengaku jika ia bukanlah termasuk peserta didik yang disiplin.
Menurutnya, Ia sering telat, tidur saat pelajaran, tidak memakai atribut sekolah
seperti bed kelas, dan membolos sekolah. EM mulai mengenal membolos
semenjak SMP. Pada awalnya bukan membolos secara penuh melainkan
membolos parsial terlebih dahulu yakni tidak mengikuti pelajaran di kelas, seperti
hasil wawancara berikut ini:
Pertama aku ora mbolos sek mbak, aku ki ajare soko colut pas pelajaran.
Jaman SMP selama 2 bulan berturut-turut aku gak pernah melu pelajaran
agama, mergo dikon apalan surat-surat. Kui aku berdua karo koncoku
cewek yoan, kadang ya aku ning kantin, turu, nonton tivi, trus yen ora
melu pelajaran agama liyane misale katolik. Soko kono kui aku kenal
mbolos mbak. Pertama kali aku mbolos gara-gara telat melu ibadah pagi
ning sekolahan. Soale nek telat ngunu kui kan ndadak kon ning mushola
seg, trus ngko entuk point pelanggaran, moco Alquran, durung ngko
miduk ii jik dihukum ning nggon ngisor bendera ngunu kui sebelum
diperbolehkan masuk kelas youwis aku milih bolos wae (W/EM/21
Februari 2015).
Semenjak SMP hingga saat ini EM menjadi terbiasa berperilaku
membolos. Membolos yang dimaksud dalam hal ini adalah tidak masuk sekolah
selama sehari penuh. Bahkan frekuensi membolos yang dilakukannya cenderung

108

meningkat. Ia tidak ingat berapa kali ia pernah membolos, namun ketika dirinya
tidak ingin masuk sekolah maka ia akan memilih untuk membolos. Berbeda
halnya ketika ia sudah berniat masuk sekolah, maka ia akan mengikuti pelajaran
dan tetap berada disekolah, seperti pernyataan dibawah ini:
Kelas X kui mbuh ping piro aku mbolos trus kelas XI iki smakin akeh.
Dalam bulan iki wae mbolosku wis akeh banget. Minggu iki aku dino
selasa ora mlebu, minggu wingi ne hari selasa sama sabtu aku ora mlebu
sekolah. Minggu wingi ne meneh kui selasa kae aku ora mlebu yoan. Tapi
yen colut aku rung tau, soale aku yen sekali mlebu yaa mlebu tapi yen
mbolos yo sisan ora mlebu sekolah. yen mlebu sekolah yaa sekolah, yen
wis kadung mlebu sekolah youwis ora sah ndadak colut-colutan, aku
males ngunu luh mbak ngunu kui kan ndadak ndelik-ndelik an barang
mnding mbolos sisan. Pkoke yen wis niat mlebu sekolah yaa aku mlebu
ora colut-colutan (W/EM/21 Februari 2015).
Dari pernyataan diatas terlihat jika EM tidak pernah meninggalkan sekolah
ataupun meninggalkan kelas saat pelajaran. Ia lebih memilih untuk tidak masuk
sekolah seharian penuh daripada harus meninggalkan sekolah / pelajaran pada
jam-jam tertentu.
EM menggap jika membolos adalah hal yang biasa. Pada awalnya EM
merasa takut tapi lama-kelamaan menjadi santai ketika membolos. Ia
menambahkan jika membolos itu menyenangkan, namun terkadang ia merasa
menyesal. Ketika tidak masuk sekolah ia merasa ketinggalan pelajaran dan waswas jika nilai akademiknya turun. Menurutnya jika nilai akademiknya turun ia
akan kesulitan untuk masuk perguruan tinggi, pasalnya ia mendengar berita jika
nilai akademiknya baik maka akan lebih gampang untuk kuliah. Hal tersebut
terlihat dari pernyataan EM di bawah ini:
Pertama ki rasane wedi bukan goro-goro wedi konangan guru tapi
wediku kii ngko yen ibu bapakku ngerti kabeh ngko kui yaa piye tapi
setelah berjalannya waktu aku dadi ngarasa santai wae ii mbak yen
mbolos. Santai mbak ngko iso mudeng nggon sing ketoke penak kanggo
mbolos ngunu kui luh mbak, sing calling ane gampang karo konco-konco.
Yen mbolos ngunu kui aku seneng mbak tapi yaa nyesel kadang-kadang.
Kadang aku mikir ngko nek ketinggalan pelajaran trus ngko nek bijiku
miduk piye mergo aku ora tau mlebu. Soale kan aku yaa pengen mlebu
kuliah ben gampang jarene kan yen nilaine apik iso luwih gampang
mlebune. Makane nek aku mbolos tetep golek-golek catetan trus takoktakok tugase(W/EM/21 Februari 2015).

109

Dari pernyataan diatas terlihat bahwa, meskipun EM terbiasa membolos


tapi ia tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Ia tetap berusaha mengejar
ketertinggalan pelajaran yang dialaminya dengan meminjam catatan dari
temannya untuk disalin dan dipelajari. Untuk menyiasati agar nilai akademiknya
tidak turun, ia mengerjakan tugas-tugas yang ada ketika membolos.
Alasan EM ketika membolos sekolah beranekaragam, ia mengaku pernah
membolos sekolah karena : 1) menghindari PR yang belum dikerjakan. Pernah
suatu ketika ia belum mengerjakan tugas, yang menurutnya banyak sekali dan
guru yang memberikan tugas tersebut tergolong galak, pada akhirnya ia memilih
untuk tidak masuk sekolah. 2) Menghindari mata pelajaran tertentu. Dulu mata
pelajaran yang sering ia hindari adalah pelajaran bahasa jawa, karena seringkali
diperintah untuk berpidato menggunakan bahasa Jawa. Sedangkan saat ini mata
pelajaran yang kerapkali ia hindari adalah seni rupa. Ia menghindari pelajaran
tersebut dikarenakan merasa kesulitan jika diharuskan menyanyi sekaligus
mencari not lagunya. Hampir setiap hari selasa, pada saat pelajaran seni rupa EM
memilih tidak masuk sekolah. 3) Malas sekolah, EM bercerita jika ia Pernah
membolos dikarenakan merasa sangat ngantuk sehingga ia malas untuk masuk
sekolah. EM kemudian memilih untuk tidur lagi. 4) Terlambat datang ke sekolah,
ketika terlambat datang ke sekolah EM cenderung lebih memilih untuk pulang
dikarenakan jika terlambat gerbang ditutup dan harus menunggu hingga jam
pelajaran ke-2. Ia merasa malas jika harus menunggu gerbang dibuka.
Selain 4 alasan diatas, alasan lain EM membolos adalah ajakan teman. Ia
cenderung sering menerima daripada menolak ajakan temannya untuk membolos.
Hal tersebut terlihat dari pernyataan berikut ini:
Yen aku wonge moody og mbak, kadang aku gelem diajak mbolos kadang
yaa ora gelem. Tapi kerepe gelem sih mbak. Yen ora gelem ngunu kui aku
biasane alesane wis mlebu sekolah opo enek ulangan ngunu padahal yo
ora enek ulangan pas di sms koncoku sebelum jam stengah 7 pas aku sik
nyekel hp. Pkoke yen lagi ora pengen mbolos aku yaa ora mbolos, tapi
lebih sering gelem, mergone aku yaa seneng dolan, lebih seneng santai,
menghindari pelajaran (W/EM/21 Februari 2015).
Dari hasil wawancara tersebut terlihat jika EM merupakan remaja yang
masih menuruti kehendak hatinya. Ia merupakan remaja yang senang bermain dan

110

bersantai bersama dengan teman-temannya dan menghindari pelajaran yang tidak


disukainya.
Dalam hal bergaul EM memiliki pergaulan yang cukup luas, menurutnya
segala model teman pergaulan ia miliki. Ketika di sekolah EM berteman akrab
dengan teman-teman yang tergolong tidak nakal dan patuh terhadap peraturan. Ia
berteman akrab dengan Isna dan Ayu, menurutnya kedua temannya itu adalah
siswa yang pintar dan tidak akan pernah mau jika diajak membolos. Berteman
dengan Isna dan Ayu membuat EM termotivasi agar tidak kalah dari mereka
berdua, karena mereka adalah siswa yang pintar dan kerapkali menyemangatinya.
EM bercerita saat kelas X semester 1 dimana belum mengenal Isna dan Ayu, ia
sama sekali tidak pernah mencatat ketika pelajaran dan ia cenderung lebih dekat
dengan peserta didik laki-laki. Waktu itu EM merupakan siswa dengan peringkat
26 dari 28 siswa. Namun semenjak semester 2 EM berteman dan duduk satu
bangku dengan Isna, melihat Isna sering mencatat perlahan-lahan ia merasa
tertarik untuk mencatatat pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Semenjak saat
itu EM berteman akrab dengan Isna dan kemudian Ayu, perlahan rangkingnya
pun meningkat. Berdasarkan pengakuannya saat ini ia masuk rangking 10 besar di
kelasnya.
Berbeda halnya jika di luar sekolah, EM sering bergaul dengan temanteman yang berbeda sekolahan. EM bercerita jika teman-temannya di luar sekolah
ini berbeda dengan temen-temannya di sekolah. Teman-temannya diluar sekolah
merupakan anak yang cenderung nakal, ada yang merokok, ada yang suka Hard
Core-an, sering nglubbing bahkan ada yang pengguna narkoba. Menurut
pengakuannya ia menjadi nakal ataupun mbeling dikarenakan teman-temannya
diluar sekolah cenderung nakal. Walaupun demikian ia tidak pernah sekalipun
ikut merokok, nglubing ataupun menggunakan narkoba. Hal tersebut dikarenakan
EM sangat menyayangi dan begitu dekat dengan Ibunya. Apapun yang EM
lakukan selalu ia ceritakan kepada ibunya. Ia diberi kebebasan namun harus dapat
mempertanggungjawabkan kebebasan tersebut. Didalam keluarganya memang
EM paling dekat dengan ibunya. Ia merupakan anak pertama dari 2 bersaudara.

111

EM mengaku jika ia tidak begitu dekat dengan bapaknya, hal tersebut dikarenakan
mereka berdua sering berselisih pendapat.
Ketika membolos sekolah biasanya EM menggunkan surat ijin, hal
tersebut ia lakukan untuk menghindari sanksi dari sekolah. Namun ketika Ia tidak
memakai surat ijin pada saat itu, biasanya ada teman sekelasnya yang
mengabsenkan EM. Temannya tersebut akan menuliskan keterangan ijin / sakit
dibuku presensi yang setiap hari diedarkan dikelas. Baru keesokan harinya ia akan
menyusulkan surat ijin tidak masuk sekolahnya. Hal demikian merupakan sesuatu
yang sudah biasa terjadi di kelas EM. Tidak ada yang berani melaporkan kepada
Guru jika sebenarnya EM membolos sekolah. Jika ada temannya yang
melaporkan ia tidak akan tinggal diam, karena hal tersebut bukan menjadi urusan
dan tidak merugikan mereka. EM merasa tidak takut dengan ancaman tinggal
kelas bagi peserta didik yang seringkali membolos. Menurutnya ia menggunakan
surat ijin jika tidak masuk sekolah, sehingga tidak perlu takut dengan ancaman
tersebut.
EM bercerita jika ia kerapkali membolos sekolah bersama dengan Teman
SD-nya yang bernama Putri. Putri merupakan temannya yang berasal dari sekolah
lain. Sebelum membolos biasanya mereka janjian disuatu tempat, biasanya di
Burjo. Di Burjo tersebut EM menunggu Putri, sambil menunggu EM membuat
surat ijin yang tanda tangannya di palsu. Setelah Putri sampai di Burjo kemudian
mereka ganti baju (tidak berseragam), selanjutnya putri mengantarkan surat ijin
yang telah dibuat EM ke sekolah. Putri mengaku sebagai saudara EM, jika disuruh
mengantar ke BK biasanya Putri mengaku baru masuk kuliah dan sedang buruburu. Begitupula sebaliknya EM seringkali membuatkan surat ijin untuk putri dan
mengantarkan surat tersebut ke sekolah putri. Sama halnya yang dilakukan putri,
EM mengaku sebagai saudara putri.
Ketika membolos sekolah EM cenderung lebih suka pergi ke mall seperti
Hartono maupun the Park. Ia memilih mall sebagai tujuannya membolos
dikarenakan menurutnya mall merupakan tempat yang aman dan tertutup.
Sebelum pergi ke mall biasanya EM mengganti seragamnya dengan pakaian
bebas. Hal tersebut ia lakukan agar tidak ketahuan membolos sekolah dan

112

menghindari razia satpol PP. Aktivitas yang EM lakukan selama membolos


biasanya adalah makan, nonton ataupun ngobrol-ngobrol dengan temannya.. Hal
tersebut terlihat dari hasil wawancara berikut ini :
Yen aku mbolos kui kerepe yaa ning hartono karo the park mau mbak,
pkoke kii aku nggolek nggon mbolos kui sing santai, tertutup tapi aman.
Dadi ning mal-mal ngunu kui, kan yen wis nganggo klambi bebas santai
ameh ngendi wae iso. Jadi salah satu cara mbolos aman kui yaa ganti
klambi disik. Yen ning burjo kui aku biasane mung nunggu koncoku mbak,
ganti klambi trus lungo. Yen ora sakdurunge nge mall kui golek maem sek
ning njobo yen ora yaa ning njero mall (W/EM/21 Februari 2015).
Menurut pengakuan EM, ketika membolos sekolah ia tidak pernah sendiri.
Jika sendiri-pun kemungkinan hanya saat berangkat, kemudian ia akan sms
teman-temanny yang lain untuk menemaninya. Baginya jika membolos sendiri itu
tidak asyik dan membosankan. Hal tersebut dikarenakan ia akan merasa
suwung(sepi) dan tidak ada yang diajak ngobrol ataupun menemani pergi. Hingga
saat ini EM belum mempunyai keinginan untuk berhenti membolos sekolah. Ia
beralasan jika dirinya masih ingin santai, bermain, dan ada saatnya ia ingin tidak
masuk atau libur. Ia menambahkan, meskipun belum mempunyai keinginan untuk
berhenti membolos dirinya tidak pernah punya niatan untuk berhenti sekolah.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan jika EM merupakan peserta didik
yang seringkali membolos sekolah seharian penuh. Ia mulai mengenal membolos
ketika duduk di bangku SMP dan diawali dengan colut meninggalkan proses
pembelajaran di kelas. Baginya membolos sekolah merupakan hal yang biasa. Ia
membolos disebabkan oleh berbagai alasan, seperti: menghindari PR yang belum
dikerjakan, menghindari mata pelajaran tertentu, malas sekolah, terlambat datang
ke sekolah, dan ajakan teman untuk membolos. Untuk menghindari sanksi akibat
membolos EM biasanya mengunakan surat ijin ataupun meminta bantuan
temannya untuk mengabsenkan di buku presensi yang diedarkan setiap harinya di
kelas.

113

FIELD NOTE
Informan 2
EW (inisial dari nama sebenarnya) merupakan peserta didik kelas XI IIS 4
SMA Negeri 6 Surakarta. EW merupakan salah satu peserta didik laki-laki yang
kerapkali membolos, dimana berdasarkan hasil rekapitulasi peserta didik selama 3
bulan (Agustus-September) ia telah membolos sebanyak 14 kali. Peneliti
mengenal EW dari informan lainya yaitu AX yang merupakan teman sekelas EW
semasa kelas X. Kemudian peneliti menghubungi EW dan meminta ijin untuk
melakukan wawancara dan penelitian terhadapnya. Dengan adanya persetujuan
kedua belah pihak, akhirnya peneliti bersama dengan informan menentukan waktu
dan tempat untuk melakukan wawancara.
Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, wawancara dilakukan pada
hari Jumat tanggal 6 Maret 2015, tepatnya setelah Jumatan di loby SMA Negeri 6
Surakarta. Peneliti bertemu dengan EW di Loby sekolah. Namun dikarenakan
kondisi yang tidak mendukung, peneliti bersama informan memutuskan untuk
pindah lokasi untuk melakukan wawancara. Pada akhirnya wawancara di lakukan
di Popeye yang terletak di dekat SMA Negeri 6 Surakarta. Pada waktu wawancara
EW menggunakan seragam sekolah yang tidak sesuai dengan aturan. Pada hari
Jumat seharusnya menggunakan baju batik bercelana putih, namun EW
menggunakan baju batik dengan celana abu-abu.
Wawancara diawali dengan mengobrol santai, dimana EW menceritakan
mengenai kehidupannya. EWbertempat tinggal bersama kakek-nenek beserta 2
adiknya di dearah Sambi, Boyolali Jawa tengah. Meskipun tinggal di Boyolali,
sebenarnya EW lahir di Sentani Jayapura namun semenjak kecil sudah diasuh
oleh kakek-neneknya. Hal tersebut dikarenakan kedua orang tuanya merantau di
luar kota, dimana sang bapak merantau di Jakarta sedangkan ibunya di
Yogyakarta. EW begitu mencintai sepak bola dan bercita-cita untuk kuliah di
Universitas Negeri Yogyakarta jurusan olahraga. Ia memilih bersekolah di SMA
Negeri 6 Surakarta karena berkeinginan menjadi pemain sepakbola. Menurutnya
dulu sepak bola SMAN 6 Surakarta terkenal bagus, bahkan sempat mewakili Solo

114

hingga ke Yogyakarta. Hal tersebutlah yang membuatnya terinsiprasi, namun saat


ia masuk ke SMAN 6 Surakarta sepakbola maupun futsal sudah tidak sebagus
dulu lagi bahkan cenderung sering kalah jika bertanding.
Berdasarkan pengakuan EW, ia merasa terpaksa mematuhi peraturan yang
ada di SMA Negeri 6 Surakarta. Hal ini dikarenakan ia merupakan tipe individu
yang tidak suka terkekang terhadap aturan. Ia merasa malas jika diharuskan
masuk jam 06.30, karena menurutnya itu adalah waktu untuk tidur. Alasan lainnya
ialah kediamanNya di Boyolali dirasa cukup jauh, sehingga ia harus berangkat ke
sekolah sebelum jam 06.00 pagi agar tidak terlambat. EW bercerita bahwa semasa
kelas X ia merasa nyaman berada di kelas karena terdapat banyak peserta didik
yang mbakil (nakal), seperti : AR, AX, SH, dan GIB (inisial dari nama
sebenarnya). Namun menginjak kelas XI terutama semester 2 ia merasa kurang
nyaman berada di kelas. Hal tersebut dikarenakan AX tinggal kelas, SH tinggal
kelas dan kemudian pindah sekolah, AR keluar dari sekolah, dan GIB yang dirasa
mulai insyaf. Ia merasa jika di dalam kelas hanya tinggal dirinya yang masih
mbakil (nakal).
EW mengaku jika ia bukanlah termasuk peserta didik yang disiplin. Ia
mencontohkan bahwa pada hari Jumat seharusnya berseragam batik abu-abu,
namun pada hari itu ia menggunakan seragam batik dengan celana putih. Perilaku
ketidakdisiplinan lainnya yang sering kali dilakukan EW adalah membolos. EW
berfikir jika membolos itu tidak berguna dimana terkadang ia merasa menyesal
namun terkadang juga merasa tidak menyesal. Terkadang yang membuatnya
menyesal adalah saat membolos banyak tugas dan ia tidak mengerti bagaimana
cara mengerjakan tugas tersebut. Belum lagi jika ada tugas yang langsung
dikumpulkan pada hari itu sementara EW belum memperoleh nilai, maka ia harus
mencari guru tersebut untuk meminta tugas pengganti. Dimana ketika bertemu
dengan guru ia akan dihadapkan pada pertanyaan perihal membolosnya, sehingga
ia harus mencari berbagai alasan untuk membuat sang guru percaya. Baginya
membolos adalah hal yang biasa karena merupakan bagian dari pengalaman yang
dapat ia ceritakan kepada teman-temannya, seperti hasil wawancara berikut ini :

115

Mbolos ki biasa mbak, aku ben iso nyeritakke pengalamanku ning


konco2. Aku SMA ii ora mungkin wonge apik terus mesti enek bajingane.
Ya bagiku mbolos kui biasa mbak, yaa mungkin pertama kali wedi tapi
suwi2 dadi biasa mbak. Yo yen mbolos kan podo wae awake dewe sholat
mbak, yen awake dewe pendak ndino sholat kan pengen sholat terus. Lha
yen mbolos pisan kan pengen mbolos terus (W/EW/ 06 Maret 2015).
EW mengibaratkan membolos layaknya sholat 5 waktu, dimana saat sering
dilakukan akan menjadi terbiasa. Begitu pula denga membolos, sekali individu
merasakan membolos ia akan termotivasi untuk mengulanginya lagi. EW
mengaku pertama kali mengenal membolos ketika duduk di bangku SMP,
tepatnya pada kelas 1 semester 2. Menurutnya pada waktu itu ia membolos
lantaran ada tawuran anatara sekolahnya dengan SMP 2 Sambi, Boyolali seperti
hasil wawancara berikut ini :
Pertama kali kenal membolos kui SMP mbak. SMP kui aku mbolos terus
mbak ora tau mlebu. Masalahe SMP ku ning pelosok desa og mbak,
sekolahku kui MTS Sambi.Pertama kali aku mbolos kui kelas 2 SMP, eh
kelas 1 semester 2 kui pas enek kejadian tawuran mbak. Tawuran karo
SMP liyo do mbolos kabeh, aku melu mbolos. Jane yo ora diajak mbolos
tapi aku sing ngajak. Aku ajaran mbolos kui dudu soko colut mbak, dadi
ya langsung ora mlebu sekolah. Dadi yo aku melu tawuran mbak, koncoku
sing ngajak mbolos kui ono wong 5 aku wis melu salah siji wong ning
kono trus ngajak konco-konco. Ndek pas kui sing mbolos yen ora kleru
enek wong 30 an mbak. Jadi pas kui tawurane antara SMP liyo, SMP 2
karo MTSku mbak. goro-gorone bal-balan kalah ora gelem mbayar sing
SMP 2 kui (W/EW/ 06 Maret 2015).
Dari pernyataan diatas terlihat bahwa EW sudah terbiasa membolos
semenjak duduk di bangku SMP. Dulu ia bersekolah di MTS Sambi yang terletak
di pelosok desa. Pertama kali ia membolos lantaran tawuran yang disebabkan
masalah sepakbola. Dimana SMP Negeri 2 Sambi kalah taruhan bermain sepak
bola dengan MTS Sambi, namun tidak bersedia membayar uang taruhan yang
telah disepakati sebelumnya. Pada waktu itu terdapat 30 peserta didik yang
membolos, dimana EW merupakan salah seorang diantara 5 peserta didik yang
menjadi provokator membolos dan tawuran kala itu.
EW mengaku bahwa ia seringkali membolos, dimana pada kelas XI ini ia
telah membolos sebanyak 34 kali, yaitu 27 kali pada semester 1 dan 7 kali pada
semester 2. Sedangkan ketika kelas X ia mengaku telah membolos sebanyak 14

116

kali. Terdapat berbagai alasan yang menyebabkan EW membolos. Alasan utama


yang menjadi penyebab EW membolos adalah fanatisme terhadap sepak bola. Ia
mengaku bahwa ketika SMA Negeri 6 Surakarta bermain dimanapun, entah itu
futsal maupun sepak bola ia tidak pernah melewatkannya dan pasti tidak masuk
sekolah untuk menjadi suporter disana. EW bercerita jika ia tidak masuk selama
27 kali dikarenakan Pesis (Pesatuan sepak bola Solo), dimana EW lolos seleksi
dan menjadi anggota Persis Junior. Lolos menjadi anggota Persis Junior
mengharuskan EW latihan setiap hari hingga malam hari, tepatnya dimulai pukul
02.00 dan berakhir pukul 08.00 atau 09.00. Seringkali ketika merasa kelelahan
karena berlatih sepak bola ia memilih tidak masuk sekolah keesokan harinya.
Bahkan ia pernah pula tidak masuk sekolah selama 5 hari berturut-turut.
Alasan kedua (2) yang menyebabkan EW membolos adalah menghindari
pelajaran tertentu. EW mengaku jika terkadang ia tidak masuk sekolah ataupun
colut untuk menghindari pelajaran yang yang menurutnya ora penak (tidak enak) /
tidak disukainya seperti matematika. Menurutnya semenjak dulu memang ia tidak
menyukai pelajaran matematika karena membuatnya dipusingkan dengan banyak
cara dan rumus-rumus yang ada. Sedangkan pelajaran yang disukainya adalah
olahraga dan agama. Ia ingin kuliah dijurusan olahraga dikarenakan menggemari
pelajaran tersebut. Lain halnya dengan pelajaran agama, ia berfikiran suatu hari
nanti jika mati agama lah yang dapat membantunya maka dari itu ia menyukai
pelajaran agama.
Alasan ke (3) adalah terlambat datang ke sekolah. EW mengaku jika
terlambat datang ke sekolah terkadang ia memilih pulang namun terkadang tidak,
dimana semua tergantung gurunya. Ketika ia merasa pada hari itu gurunya galak,
ia akan memilih pulang. Ia beralasan merasa malas jika harus menunggu gerbang
dibuka pada jam pelajaran ke-2 serta tidak ingin diribetkan dengan urusan surat
ijin serta berbagai pertanyaan guru ketika masuk kelas. Selanjutnya alasan ke
empat (4) adalah ajakan teman, EW merasa tidak enak hari jika harus menolak
ajakan temannya untuk colut, seperti hasil wawancara berikut ini :
Aku yen colut ngunu kui ya kadang gak seneng pelajarane yo kadang
dijak GIB (inisial dari nama sebenarnya). Jenenge yo konco kan yo nek
dijak mosok yo nolak kan yo perkewuh to mbak. Kadang GIB sing ngejak

117

kadang yo aku sing ngejak. Dadi yen dijak ki aku lebih sering ngomong
iyaa dari pada ora mbak, lha aku kan ngajeni konco mbak. Dadi salah
satu faktor sing nggarai aku mbolos yo koncoku mbak(W/EW/ 06 Maret
2015).
Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa alasan EW melakukan colut adalah
tidak menyukai pelajarannya maupun ajakan GIB. GIB merupakan teman dekat
EW sehingga ia merasa tidak enak hati jika menolak ajakannya. Menurutnya
dalam hal colut terkadang ia sebagai pengajak maupun yang diajak, namun ketika
diajak colut EW cenderung menerima daripada menolak. Bagi EW hal tersebut
adalah salah satu cara untuk menghargai teman, sehingga salah satu faktor yang
menyebabkan dirinya membolos adalah teman. EW berprinsip jika ia hidup
bersama teman-teman, mau bagaimanapun pasti butuh teman karena hidup di
dunia tidak bisa sendiri. EW menganggap GIB sebagai konco kentel (teman
dekat), dimana ia mengenal GIB semenjak kelas X. EW merasa senang
mempunyai teman seperti GIB karena ia duduk satu bangku dengannya, kemanamana bersama, bahkan colut pun seringkali bersama. Apabila colut dengan GIB
biasanya EW menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran dengan berbagai
alasan seperti mengambil flasdisc, mengambil buku, mengambil peralatan
pramuka, sakit, eyang sakit maupun eyang meninggal dan lain sebagainya.
Berbeda halnya ketika EW colut sendiri ia tidak menggunakan surat ijin
meninggalkan pelajaran, karena dianggap ribet untuk mendapatkannya. Apabila
sudah berencana colut, maka EW akan memarkirkan sepeda motornya di dekat
mushola gedung utara ataupun menitipkan motornya di warung depan sekolahan.
Kemudian secara sembunyi-sembunyi ia akan naik ke kelas bahasa dan
melemparkan tasnya dari atas jendela kamar mandi bahasa, tempat yang
menurutnya aman dari jangkauan guru. Setelah itu ia akan turun dan menuju
depan sekolah lewat samping XI IIS I dan mushola, mengambil tas yang telah ia
jatuhkan untuk selanjutnya pulang. Hal demikian dilakukan karena jika ia berjalan
ke depan sekolah melewati samping kelas XI IIS 1 pasti akan ketahuan oleh guru
melalui jendela kelas tersebut.

118

EW bercerita dikarenakan terlalu sering membolos ia di panggil BK untuk


diberikan pengarahan dan kemudian diberi surat panggilan untuk orang tua / wali.
Namun EW membuang surat tersebut, seperti hasil wawancara berikut ini :
Mbiyen pernah dipanggil pisan tapi ora enek sing teko, surate tak
guwak. Youwis aku alesan ning BK aku ning ngomahe mung karo mbahe,
mbahe ora iso rene mbahe loro (W/EW/ 06 Maret 2015).
Berdasarkan pernyataan tersebut diketahui bahwa EW tidak menyerahkan
surat panggilan kepada orang tuanya. Dimana ia beralasan jika dirumah hanya
dengan simbahnya dan si mbah tidak dapat hadir karena sakit. Setelah kejadian
tersebut kemudian ia dipanggil oleh petugas STP2K dan diminta menghadirkan
orang tuanya. Pada saat itu ibunya lah yang hadir dan beliau kaget mendapati
anaknya sering kali tidak masuk sekolah. EW dimarahi oleh ibunya karena
seringkali membolos. Kemudian ia menanggapi kemarahan ibunya dengan
menyampaikan kekecewaannya karena ditinggalkan di Boyolali. Menurutnya
semenjak kecil ia ditinggalkan bersama kakek-neneknya, dimana sebenarnya ia
ingin tinggal bersama orang tuanya sama dengan teman-temannya yang lain. Ia
mengibaratkan mangan sego karo uyah ora popo sing penting kumpul karo wong
tuo (makan nasi dengan garampun tidak apa asalkan berkumpul dengan orang
tua). Setelah kehadiran ibunya di sekolah selanjutnya EW diminta untuk membuat
surat pernyataan yang intinya berisi jika kedapatan membolos lagi, maka EW
akan dikeluarkan dari sekolah. Ia memperoleh kesempatan untuk merubah
perilakunya hingga akhir semester ini. Selang beberapa waktu setelah pembuatan
surat pernyataan tersebut EW kembali dipanggil oleh petugas STP2K dikarenakan
ia kembali tidak masuk sekolah. Ia mengaku akan dibuatkan surat pindah apabila
masih kedapatan tidak masuk sekolah. Bagi EW hal demikian sudah biasa, seperti
hasil wawancara berikut ini :
..........Ya yen aku ngunu kui wis biasa mbak. Ya yen aku meh di pindah
ya monggo ora yo monggo (W/EW/ 06 Maret 2015).
EW bercerita pada saat menemui salah satu petugas STP2K sebenarnya ia
agak bersembunyi. Hal tersebut ia lakukan karena ia sudah mendaptkan cap nakal
oleh guru-guru. Bahkan sejumlah 6 guru berniat ingin mengeluarkannya. EW
mengaku jika sebenarnya ia berkeinginan utuk berubah, namun ia kurang

119

mendapatkan motivasi dari guru dan teman-temannya. Baginya ia membutuhkan


dukungan untuk berubah bukan hanya di cap buruk saja.
Menurut pengakuan EW selama ini memang ia membolos tanpa
sepengetahuan orang tua maupun kakek-neneknya. Untuk menutupi perilaku
membolosnya seringkali EW berbohong kepada kakek-neneknya. Terkadang ia
mengaku jika libur sekolah, guru rapat maupun masuk siang. Disamping itu ia
juga berpura-pura sakit, dimana dimana pagi hari sebelum berangkat sekolah ia
minta kerokan agar dikira masuk angin, sehingga diperbolehkan tidak masuk
sekolah. Selain itu untuk menghindari kecurigaan kakek-neneknya ketika
membolos EW berganti-ganti alasan dan berpura-pura berangkat ke sekolah
namun ia tidak sampai ke sekolah maelainkan nongkrong di warung daerah
Sambi. Di samping membolos seharian penuh, EW juga berperilaku colut baik
colut di dalam maupun di luar sekolahan. Ketika colut di dalam sekolahan EW
lebih memilih UKS sebagai tempatnya untuk colut. Ia mengaku tidak ijin kepada
guru jika hendak pergi ke UKS melainkan hanya berpesan kepada temantemannya jika ia berada di UKS. Menurutnya teman-teman akan membantunya
dengan mengatakan kepada guru jika EW sedang sakit dan berada di UKS. Ia
bercerita apabila ada guru yang mendatangi UKS, ia akan buru-buru membuka
baju dan kerokan dan mengatakan sedang sakit. Sedangkan apabila colut ke luar
sekolahan biasanya EW memilih burjo sebagai tempat tujuannya. Disamping itu
terkadang ia juga memilih langsung pulang ke Sambi jika colut.
Dalam hal pergaulan, EM mengaku jika tergolong anak yang ndugal
(nakal) semenjak SMP. Pada saat SMP ia mengaku seringkali tidak tidur dirumah,
sudah merokok dan mengenal minum-minuman keras bahkan ngepil seprti
pernyataannya berikut ini :
Pergaulanku yen SMP aku ndugal mbak, jujur wae mbak aku SMP
ndugal. SMP ki kadang aku ora turu ngomah, kadang wis kenal minuman
keras tapi akhir2 iki wis ora aku wis tobat, yo ngrokok, yen semacam nge
drugs ya pernah mbak...dadi Pil mbak, Pil pil nggon apotik kui luh mbak.
koe ngerti Pil sing nggarai gendeng mbak, yen nyawang koe ki rupane ki
dadi 2. aku yen ngingetne ubin iki luh mbak ameh mlangkah ngunu kyag
enek undak-undakan (W/EW/ 06 Maret 2015).

120

Hal demikian menurut EW dikarenakan ia bergaul dengan orang-orang


jalanan seperti pengamen maupun anak-anak punk. Namun saat ini EW sudah
tidak bergaul dengan mereka melainkan bersama dengan anak-anak sepak bola
maupun futsal.
EW mengaku belakangan ini ia merasakan kerugian akibat perilaku
membolosnya. Akhir-akhir ini ia merasa jika teman-temannya, terutama peserta
didik perempuan menjauhi dirinya. Dimana mereka jarang mau jika
berkelompokan dengan EW, terkadang jika ia bertanya mengenai tugas tidak
diberi tahu. Menurut EW hal tersebut terjadi karena dirinya di kelas clelekan
(semaunya sendiri) dan seringkali tidak masuk sekolah. EW mengaku jika hal
demikian membuatnya semakin malas untuk masuk sekolah.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan jika EW berperilaku
membolos, baik membolos penuh maupun parsial. Ia beranggapan membolos
adalah hal yang biasa karena merupakan bagian dari pengalaman di masa
mudanya. EW pertama kali mengenal membolos pada saat duduk di bangku SMP
kelas 1 semester 2. Terdapat 4 alasan yang menjadi penyebab ia membolos, yaitu :
fanatisme terhadap sepak bola, menghindari pelajaran, terlambat datang ke
sekolah dan ajakan teman.

121

FIELD NOTE
Informan 3
AX (inisial dari nama sebenarnya) adalah peserta didik kelas X IIS 3 SMA
Negeri 6 Surakarta. Ia merupakan seorang laki-laki dengan tinggi badan 170
cm. AX dipilih sebagai informan dengan alasan ia merupakan peserta didik yang
seringkali membolos sekolah, bahkan akibat dari perilaku membolosnya sampai
tidak naik kelas. AX merupakan peserta didik yang kelasnya diampu oleh Vera,
temen peneliti semasa Program Pengalaman Lapangan (PPL). Mengetahui hal
demikian, peneliti meminta bantuan kepada Vera untuk memperkenalkan peneliti
dengan AX. Selanjutnya peneliti menghubungi AX melalui BBM dengan tujuan
untuk meminta ijin melakukan penelitian dan wawancara terhadapnya. Setelah
mendapat persetujuan, peneliti bersama dengan informan membuat kesepakatan
untuk melakukan wawancara.
Pada awalnya peneliti dan informan bersepakat untuk melakukan
wawancara pada hari Selasa, 3 Maret 2015. Namun wawancara tersebut batal
dilaksanakan karena secara mendadak terdapat acara keluarga, dimana AX harus
berpartisipasi di dalamnya. Kemudian peneliti bersama dengan informan
memutuskan untuk mengundur wawancara pada keesokan harinya. Wawancara di
lakukan pada hari Rabu, 4 Maret 2014 bertempat di Wedangan Purwosari sebelah
cafe AM PM, dimana wawancara di mulai pukul 20.00.
Peneliti memulai perbincangan dengan menanyakan alasan informan AX
bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta. Ia bercerita bahwa sebenarnya
berkeinganan bersekolah di SMA Negeri 2 Surakarta, namun karena nilai yang
tidak mencukupi akhirnya berpindah ke SMA Negeri 6 Surakarta. AX mengaku
jika sejak awal tidak berniat bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta karena merasa
tidak sreg (cocok) dengan sekolahnya. AX beranggapan jika peraturan yang ada
di SMA Negeri 6 Surakarta tergolong biasa dan wajar, seperti halnya SMA pada
umumnya. Menurutnya sudah menjadi hal biasa apabila class meeting banyak
peserta didik yang tidak masuk sekolah. Hal demikian lantaran pada saat class
meeting bebas dari tugas dan pelajaran, hanya ada remidial bagi peserta didik
yang nilai ujiannya dibawah KKM (kriteria ketuntasan minimal).

122

AX merupakan peserta didik yeng menyukai pelajaran bahasa inggris.


Baginya pelajaran tersebut menyenangkan dan merupakan modal baginya untuk
memasuki sekolah pelayaran. Ia bercita-cita bersekolah di International Hotel and
Management School (IHS) untuk kemudian bekerja di kalap pesiar. Mata
pelajaran yang tidak disukai AX adalah fisika dan kimia. Walaupun berasal dari
jurusan IPS namun dikarenakan adanya peminatan ia memperoleh pelajaran fisika
dan kimia. Baginya pelajaran tersebut ribet dikarenakan banyak rumus-rumus
yang harus dikuasai. Menurut informan AX mayoritas guru di SMA Negeri 6
Surakarta baik dan menyenangkan. Guru yang gayeng dan tidak saklekmerupakan
gambaran guru yang menyenangkan baginya. Dalam artian guru tersebut tidak
selalu serius ketika menyampaikan materi namun di sela-sela penyampain materi
diselingi dengan humor-humor. Sedangkan gambaran guru yang tidak
menyenangkan adalah guru yang terlalu saklekdan sepaneng (serius) ketika
pelajaran.
Informan AX adalah peserta didik yang taat dalam hal atribut ataupun
peraturan di dalam kelas, namun seringkali ia melakukan pelanggaran dalam
bentuk membolos sekolah. Perilaku membolos yang dilakukan AX membuatnya
tinggal kelas, dimana seharusnya ia sudah menginjak kelas XI bersama EW, ADT,
GIB (inisial dari nama sebenarnya) yang merupakan teman sekelasnya dulu.
Menurutnya pada zamannya dulu ada beberapa peserta didik yang tinggal kelas,
namun 2 diantaranya yaitu RMD dan SH memilih untuk berpindah sekolah.
Informan AX mengaku tidak pernah membolos secara parsial (colut), ia
lebih memilih untuk membolos secara penuh apabila merasa malas sekolah. AX
pertama kali mulai membolos pada saat kelas X. Ia mengaku tidak pernah tidak
masuk sekolah tanpa alasan dan merupakan siswa yang rajin mengikuti pelajaran
di kelasnya sewaktu SD dan SMP. Menginjak kelas Xtepatnya semester 2 ia mulai
berperilaku membolos, hingga tidak naik kelas. Menurut pengakuannya selama
kelas X ia telah membolos sebanyak 30 kali, padahal batas maksimal membolos
hanya sebanyak 20 kali. Pada waktu pertama kali membolos AX menggunakan
surat palsu, namun selanjutnya ia tidak lagi menggunakan surat palsu dan lebih
memilih jujur kepada orang tuanya. Dengan berkata jujur, orang tuanya akan

123

membantu berurusan dengan pihak sekolah. Hal demikian ia lakukan dengan


alasan apabila menggunakan surat palsu cepat atau lambat pasti akan ketahuan
oleh pihak sekolah.
Informan AX menganggap membolos adalah hal yang wajar dilakukan
oleh anak SMA. Menurutnya anak SMA merupakan usia muda, dimana mereka
tengah berada pada masa pencarian jati dirinya. Membolos merupakan hal yang
biasa bahkan telah menjadi suatu kebiasaan, seperti pernyataanya berikut ini:
Yo piye yaa mbak angel og, godaan beratlah mbak neg wis mbolos pisan
ngunu kui kan tuman mbak, nyat ngunu kui kan tuman mbak. Yo walaupun
pertamane wedi tapi soyo sue soyo santai dan dadi kebiasaan mbak
(W/AX/04 Maret 2015).
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa membolos adalah
godaan yang dianggap berat oleh AX. Sekali melakukan tindakan membolos
maka akan menimbulkan rasa ketagihan untuk membolos lagi. Pada awalnya ia
merasa takut ketika membolos namun semakin lama menjadi santai dan terbiasa
untuk membolos. Informan AX menjelaskan dalam membolos terkadang ia
bersama teman namun terkadang sendirian. Menurutnya lebih menyenangkan
membolos bersama teman karena dia tidak akan merasa suwung(kesepian).
AX bercerita jika membolos parsial (colut) adalah hal yang biasa dan
wajar di kelasnya. Menurutnya apabila ada teman yang colut akan dilindungi oleh
teman-teman yang lainnya. Biasanya mereka melindungi dengan cara berkata
bahwa temannya sedang berada di kamar mandi ataupun UKS. Hal demikian
merupakan wujud solidaritas diantara teman-temannya, dimana mereka saling
bekerja sama satu sama lain.
Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi AX membolos, yaitu :
malas, terlambat datang ke sekolah, dan ajakan teman. (1) Malas merupakan
alasan utama yang menyebabkan AX membolos. Ia merasa malas lantaran merasa
tidak sreg (cocok) dengan sekolahnya. AX merasa tidak nyaman lantaran sedari
awal tidak memiliki niatan untuk bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta, dimana
ia berkeinginan sekolah di SMA Negeri 2 Surakarta. Meskipun demikian ia tetap
berusaha keras, bahkan cenderung memaksakan diri untuk beradaptasi dengan
lingkungan sekolahnya. Setelah mencoba beradaptasi tetap saja ia merasa tidak

124

nyaman sehingga merasa anyel (jengkel) dan melampiaskannya dengan


membolos. Dengan demikian membolos merupakan bentuk kekecewaan AX
lantaran keinginannya untuk bersekolah di sekolah yang diinginkannya tidak
terwujud serta ketidakmampuannya beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Sejak
awal memang keinginan AX untuk bersekolah di sekolah yang diinginkannya
selalu terwujud, namun ketika SMA keinginan tersebut tidak terwujud. Ia
bersekolah di SD Kemasan 1 dan SMP Negeri 3 Surakarta sekolah yang
diinginkannya.
Alasan ke (2) yang menyebabkan AX membolos adalah terlambat datang
ke sekolah. Apabila bangun kesiangan kemudian gerbang sekolah telah ditutup ia
memilih untuk kembali pulang ke rumah. Hal tersebut dilakukannya karena
merasa tidak nyaman dan malas mendapatkan hukuman karena telat. Menurutnya
apabila peraturan tutup gerbang setelah bel berbunyi diberlakukan sedari dulu
akan membuatnya semakin sering membolos. Ia beralasan malas jika harus
menunggu gerbang dibuka pada jam ke-2 sehingga lebih memilih untuk pulang.
Baginya apabila sedari awal sudah merasa tidak nyaman dalam perjalananya pun
tetep tidak akan ada rasa nyaman dalam menjalankan aktivitas.
Alasan ke (3) yang menyebabkan AX membolos adalah ajakan teman. Ia
cenderung menolak ajakan teman untuk colut namun seringkali menerima ajakan
membolos secara penuh, seperti pernyataanya berikut ini:
Jane akeh mbak sing ngajak colut, tapi aku emoh soale yen aku mending
turu ning kelas. tapi yen diajak mbolos sering iyane mbak, eh tergantung
ding mbak neg aku wis males disik trus diajak mbolos youwis mangkat
mbak. Paling ngko dolan-dolan ning manahan, ning deganan manahan kui
luh mbak (W/AX/04 Maret 2015).
Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa AX lebih memilih untuk
tidur di kelas dari pada harus colut, namun ketika merasa malas sekolah ia akan
menerima ajakan temannya untuk membolos. Ia mengaku tidak pernah membolos
dengan teman sekelasnya, namun ia membolos bersama dengan teman beda
sekolahan. Biasanya mereka akan membuat janji untuk membolos lewat BBM
ataupun telepon. Menurutnya apabila sudah berniat membolos temannya akan
menghubungi AX dan ketika ia juga merasa malas maka ia akan menerima ajakan

125

tersebut. Terkadang ketika merasa malas AX pun mengajak temannya untuk


membolos, yang dalam hal ini adalah teman beda sekolahan.
Menurut informan AX, orang tuanya mengetahui jika ia berperilaku
membolos. Orang tuanya menanyakan alasan AX membolos dan menasehati agar
ia rajin masuk sekolah. Informan AX bercerita bahwa ia berkata jujur kepada
orang tuanya jika sejak awal ia tidak sreg (cocok) bersekolah di sekolahnya dan
mau dipaksa seperti apapun tidak bisa, pada akhirnya kedua orang tuanya dapat
memahami dan menerima alasan tersebut.
AX bercerita ketika membolos sendiri biasanya ia lebih memilih berada di
rumah untuk tidur, bermain game atau menonton TV. Namun ketika membolos
bersama dengan teman-teman biasanya ia nongkrong di Deganan Manahan,
warung Econen Solo Baru, ngeteh di Ndoro Dongker, foto-foto di Tawangmangu,
maupun di warung-warung daerah Kemuning dan tempat-tempat lainnya yang
tidak begitu rame. AX merupakan tipe orang yang tidak menyukai keramaian
sehingga ia memilih tempat-tempat yang sepi dan tenang ketika membolos. Pada
waktu membolos AX seringkali menggunakan pakaian bebas. Dengan
menggunakan baju bebas ia merasa aman dan leluasa untuk melakukan aktivitas
serta dapat terhindar dari razia Satpol PP.
Dalam hal pergaulan AX berteman dengan siapa saja tanpa membedabedakan. Ketika berada di sekolah ia membaur dengan teman-temannya, dalam
artian tidak hanya berinteraksi dengan teman satu kelasnya saja. Ia memiliki
teman yang beragam, ada yang nakal ada pula yang alim. Namun menurutnya ia
dapat membatasi diri dan tidak begitu terpengaruh dengan teman-temannya yang
nakal. AX merupakan perokok, dimana ia mulai mengenal rokok semenjak duduk
di bangku SMA. Menurutnya ia diperbolehkan merokok oleh kedua orang tuanya
dan merokok di rumah adalah hal yang biasa baginya. AX beranggapan jika
merokok adalah hal yang wajar bagi anak seusianya yang terpenting tidak
kebablasen. Meskipun demikian ia tidak pernah merokok di lingkungan sekolah,
ia lebih memilih merokok di luar lingkungan sekolah karena dianggap lebih aman.
Informan AX mengaku jika ia merasa rugi karena berperilaku membolos.
Kerugian tersebut antara lain: ketinggalan pelajaran, dimana ia merasa tidak

126

mengerti materi yang disampaikan dikarenakan sering kali tidak masuk sekolah.
Kerugian lainnya adalah tinggal kelas, yang berarti ia membuang waktunya
selama 1 tahun untuk mengulang di kelas X. AX menyampaikan jika ia
berkeinginan untuk berhenti berperilaku membolos dan berusaha lagi untuk
memantapkan niat dan beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya.
Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan jika AX adalah peserta
didik yang berperilaku membolos seharian penuh. Ia mulai mengenal membolos
ketika duduk di bangku SMA, tepatnya kelas X semester 2. Pertama kali
membolos AX menggunakan surat palsu namun selanjutnya ia tidak pernah
menggunakan surat palsu dan lebih memilih jujur kepada orang tuanya. Baginya
membolos adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan oleh anak seusianya. Hal
tersebut dikarenakan usia muda adalah usia dimana tengah mencari jati diri.
Terdapat 3 alasan yang menyebabkan dirinya membolos, yaitu : malas, terlambat
datang ke sekolah dan ajakan teman.

127

FIELD NOTE
Informan 4
GAB (inisial dari nama sebenarnya) merupakan peserta didik perempuan
kelas XI IBB 1. Ia memiliki tinggi badan 163 cm, tidak berjilbab dan
mengenakan kawat behel. Peneliti mengenal EM dari salah seorang teman PPL.
Selanjutnya peneliti dengan informan melakukan hubungan intensif melalui
Blackberry Messager (BBM) untuk meminta ijin melakukan wawancara dan
membahas waktu serta tempat wawancara. Berdasarkan kesepakatan wawancara
dilaksanakan pada hari Jumat, 06 Maret 2015 jam 12.00 13.00. Wawancara
tersebut bertempat di Kedai On Fire yang terletak di dekat SMA Negeri 6
Surakarta. GAB dipilih sebagai informan dikarenakan sering kali membolos,
dimana hal tersebut diketahui dari rekapitulasi kehadiran peserta didik. Pada saat
wawancara GAB mengenakan celana jeans dan kaos pendek. Kemudian diketahui
bahwa pada hari Jumat tersebut ia tidak masuk sekolah dengan alasan bangun
terlalu siang.
Pada kesempatan itu peneliti duduk berhadap-hadapan dengan informan.
Perbincangan di awali dengan menanyakan alasan GAB bersekolah di SMA
Negeri 6 Surakarta. GAB merupakan alumni dari SMP Widya Wacana, dimana
sebelum pindah ke sekolah tersebut ia pernah bersekolah pula di SMP Bintang
Laut. Namun pada saat kelas 2, karena bermasalah dengan salah seorang guru ia
keluar dan pindah ke SMP Widya Wacana. Ia memilih bersekolah di SMA Negeri
6 Surakarta karena nilainya tidak mencukupi untuk masuk ke SMA negeri lain.
Selain itu ia menyampaikan bahwa keluarga menghendaki dirinya untuk masuk ke
sekolah negeri karena anggapan sekolah negeri memiliki nilai lebih.
Membolos bukanlah hal yang asing bagi informan GAB, dimana ia mulai
mengenal membolos semenjak duduk di bangku kelas 2 SMP. Pada saat itu ia
membolos

karena

mengalami

permasalahan

dalam

keluarganya,

seperti

ungkapannya berikut ini:


Pertama kali aku tidak masuk sekolah itu dikarenakan ada masalah di
dalam keluarga mbak. Jadi waktu itu ketika usaha mamahku bener-bener
bangkrut, mamahku sama papahku akhire pisah rumah. Yaa saat itu
mamahku dan papahku sama-sama egoislah menurutku, pada akhirnya aku

128

dan adikku yang jadi korban. Disitu aku mulai sering tidak masuk sekolah
mbak, pokoke sekolahku berantakan. Yo aku mikire buat apa to aku
sekolah, lha wong uripku yaaa wis kyag ngene. Istilahe saiki aku jadi
wong gak punya, youwis mending aku enggak usah sekolah, toh kalaupun
aku sekolah juga gak ada bedanya, uripku juga bakal gak enak, kanggo
opo to aku sekolah. Pas itu aku gak masuk sekolah dan aku tidur dirumah
(W/GAB/6 Maret 2015).
Menurut pengakuan GAB, ibunya tidak marah pada saat ia membolos. Hal
tersebut dkarenakan ia membolos sebagai bentuk kekecewaan terhadap keadaan
yang menimpanya. Semenjak saat itu ia menjadi terbiasa membolos hingga saat
ini. GAB bercerita ketika duduk di kelas X ia terhitung membolos sebanyak 28
kali. Angka membolos yang cukup tinggi tersebut membuat dirinya hampir saja
tidak dinaikkan kelas, namun karena bantuan guru ia diberi kesempatan untuk
naik kelas. Meskipun hampir tidak dinaikkan kelas lantas tidak membuat GAB
jera dengan perilaku membolosnya. Pada saat duduk di bangku kelas XI pun ia
masih seringkali membolos, dimana ia terhitung membolos sebanyak 23 kali.
GAB beranggapan jika membolos bukanlah hal yang salah atau
menakutkan, menurutnya membolos adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak
SMA yang tengah berada pada masa pencarian jati diri. Pada awalnya ia merasa
takut ketika membolos, namun lama-kelamaan ia merasa biasa dan tidak takut lagi
ketika membolos. Demikian ungkapan GAB,
Pertama ketika membolos itu yaa takut mbak tapi enggak tau kenapa
lama-lama yo jadi biasa ii mbak. Orang kan kalau udah melakukan suatu
hal dan itu dirasakan enak mesti ketagihan toh mbak, yo jadi kebiasaan
akhire mbak. Menurutku sih Yo wajarlah kalau enggak masuk sekolah itu.
Aku kan masih muda to mbak, masih umur segini yoo dalam tahap
pencarian jati diri lah mbak (W/GAB/6 Maret 2015).
GAB mengaku ia memang seringkali membolos, namun ia tidak pernah
colut ke luar sekolah. Baginya colut merupakan tindakan yang pengecut dan tidak
ada gunanya. Hal tersebut dikarenakan apabila hendak colut biasanya harus
dilakukan secara sembunyi-sembunyi (ndelik-ndelik) dan hanya menyusahkan diri
sendiri. Menurutnya ia lebih memilih untuk membolos (mbolos) dari pada colut.
Berbeda dengan peserta didik yang lainnya, pada saat terlambat datang ke sekolah
GAB lebih memilih untuk masuk sekolah dari pada kembali pulang ke rumah. Ia
merasa malu dengan tetangganya jika harus kembali pulang sebelum waktu

129

pulang sekolah, apalagi dengan mengenakan seragam. Pada intinya ia merasa


malu dan gengsi jika kembali pulang hanya karena terlambat datang ke sekolah.
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan informan GAB ini
membolos, alasan pertama (1) yang menyebabkan ia membolos adalah ngantuk.
Seringkali ia merasa ngantuk dan tidak bisa bangun pagi karena tlah mengenal
dunia malam (dugem), seperti ungkapannya berikut ini:
Kalau pas SMA ini aku gak masuk sekolah itu dikarenakan ngantuk
mbak. Jujur mbak aku iki anake udah kenal dunia malam, bisa dibilang
dugem lah mbak. Kan kalau disitu kita ngobrol sama temen-temen trus
ngedance gak berasa aja mbak waktu itu, tiba-tiba udah pagi aja. Biasanya
sih smpe jam 3-4 an gitu mbak baru pulang, jam segitu baru tidur jadi kan
kadang-kadang itu yaa ngantuk mbak, gak bisa bangun pagi, tau sendiri
sekolahku masuke jam 06.30. Youwis biasane kalo udah kayak gitu aku
gak masuk sekolah mbak trus tidur dirumah (W/GAB/6 Maret 2015).
Alasan kedua (2) yang menyebabkan ia membolos adalah permasalahan
dengan sahabatnya yang bernama MT (inisial dari nama sebenarnya). GAB
menjelaskan bahwa pada saat itu MT tidak masuk sekolah dan tidak pulang ke
rumah selama 5 hari, dimana GAB menemani sahabatnya ini tidak masuk sekolah
namun hanya selama 2-3 hari. Setelah itu, ia memutuskan untuk pulang
dikarenakan mendengar kabar MT selalu keluar dengan laki-laki ketika tidak
masuk sekolah. Tak selang beberapa lama ibu MT mendatangi BK sekolah dan
mengadu jika GAB lah yang menyebabkan putrinya tidak masuk sekolah dan
meminta GAB untuk dikeluarkan sama seperti putrinya. Disitu GAB dipanggil
BK dan ia mencoba menjelaskan jika bukan dirinya yang mengajak MT tidak
masuk sekolah, melainkan ia lah yang diajak oleh MT. GAB merasa jika tidak ada
yang mempercayainya, sehingga ia memutuskan untuk diam, karena baginya tidak
ada gunanya bicara jika tidak dipercaya. Pada saat menghadapi masalah tersebut
ia memilih untuk membolos.
Alasan ketiga (3) yang menyebabkan GAB membolos adalah menghindari
tugas yang menumpuk. Biasanya apabila memiliki banyak tugas yang menumpuk
dan belum dikerjakan sama sekali ia lebih memilih untuk membolos. Hal tersebut
dikarenakan apabila belum mengerjakan tugas kemungkinan akan mendapatkan
hukuman, sehingga menurutnya lebih baik membolos. Alasan keempat (4) yang

130

menyebabkan ia membolos adalah menghindari pelajaran. Demikian ungkapan


GAB,
Alasan lainnya itu biasane aku menghindari pelajaran mbak, dulu itu aku
sering menghindari pelajaran bahasa Jerman, pas ada jadwal pelajaran
bahasa jerman itu biasane aku yaaa kadang enggak masuk sekolah mbak
soale aku udah di cap jelek sama gurune jadi aku yaaa merasa agak takut
gitu mbak kalau mau masuk sekolah nanti ndak dibilang piye-piye ngunu
mbak (W/GAB/6 Maret 2015).
Berdasarkan petikan wawancara tersebut GAB menhindari pelajaran
lantaran merasa takut karena merasa telah di lebeling oleh gurunya. Selain ke
empat alasan diatas, alasan lain yang menyebabkan GAB membolos adalah ajakan
teman. GAB bercerita bahwa ia pernah membolos karena diajak oleh temannya,
dimana ia bersama dengan teman-temannya yang semua adalah laki-laki
membolos dan bermain playstation (PS) di rumah salah seorang temannya. Pernah
pula ia membolos bersama dengan teman-temannya kemudian pergi ke STRONG
Family dan nongkrong di tempat tersebut.
Menurut

GAB,

orang

tuanya

mengetahui

mengenai

perilaku

membolosnya. Hal ini dikarenakan apabila tidak masuk sekolah seringkali GAB
hanya berada dirumah, dimana seringkali ia membolos karena pulang malam
sehingga memilih untuk tidur dirumah. GAB bercerita pada awalnya sang ibu
sering memarahinya karena sering membolos namun lama-kelamaan menjadi
biasa. Namun seringkali sang ayah menasehati GAB untuk rajin masuk sekolah,
lantaran ia telah mendapatkan

warning

dari sekolah karena perilaku

membolosnya.
GAB beranggapan jika sanksi yang diberlakukan untuk peserta didik yang
berperilaku membolos kurang efektif. Hal tersebut dikarenakan ketika ada peserta
didik yang tidak masuk sekolah tidak langsung ditindak. Ia menambahkan, jika
ada peserta didik yang melakukan kesalahan akan langsung mendapatkan cap
buruk, seperti pernyataannya berikut ini:
Gimana yaa mbak menurutku kurang efektif sih, soalnya ketika enggak
masuk sekolah itu enggak langsung ditindak gitu luh mbak. Trus ketika
ada murid yang melakukan kesalahan misalnya tidak masuk sekolah gitu
yaa mbak, itu langsung dijudge jelek gitu luh mbak tanpa ditanyai dulu
latar belakang ataupun alasannya tidak masuk sekolah itu apa. Kalau

131

menurutku seharusnya kan guru itu mendengar terlebih dahulu apa yang
menyebabkan tidak masuk sekolah biar murid itu yaaa merasa di
dengarkan gitu luh jangan langsung di cap jelek. Kalau aku sendiri sih
mbak ketika sudah dijudge jelek gitu misale mau berubah ki jadi males
gitu lo. Apalagi kadang itu di ungkit-ungkit mbak, misalnya ketika tidak
masuk sekolah, udah rajin trus tiba-tiba tidak masuk lagi mesti langsung
dikatain kumat lagi atau apalah (W/GAB/6 Maret 2015).
Dari petikan wawancara tersebut terlihat bahwa judgemenyang diberikan
oleh guru kepada peserta didik yang berperilaku menyimpang, dalam artian tidak
sesuai mematuhi tata tertib sekolah bukanlah membuat peserta didik menjadi jera
melainkan malah menjadikannya malas untuk berubah menjadi lebih baik.
Berdasarkan paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membolos,
khususnya membolos seharian penuh (mbolos) bukanlah hal yang asing bagi
GAB, dimana ia mulai mengenal membolos ketika duduk di bangku kelas 2 SMP.
Informan GAB lebih memilih untuk mbolos dari pada colut, maka dari itu ia tidak
pernah melakukan colut. Baginya membolos bukanlah hal yang salah melainkan
hal yang wajar dilakukan oleh peserta didik SMA, karena pada usia anak SMA
merupakan usia pencarian jati dirinya. Terdapat 5 alasan yang menyababkan GAB
berperilaku membolos, antara lain: ngantuk lantaran seringkali pulang larut
malam, permasalahan dengan sahabat, menghindari tugas, menghindar pelajaran
dan ajakan teman.

132

FIELD NOTE
Informan 5
AUL merupakan peserta didik kelas XI IIS 3 SMA Negeri Surakarta. Ia
mempunyai tinggi badan 160 cm dan mengenakan hijab dalam kesehariannya.
AUL berdomisili di daerah Karanganyar. Peneliti mengenal informan semenjak
PPL, dimana peneliti mengajar di kelasnya. Peneliti sering berkomunikasi dengan
AUL melalui pesan singkat maupun Watsapp. Dengan intensitas komunikasi yang
tinggi membuat peneliti dan AUL semakin akrab, kemudian peneliti meminta ijin
kepadanya untuk melakukan wawancara. Setelah memperoleh ijin peneliti
bersama dengan informan menentukan tempat dan waktu wawancara.
Wawancara di lakukan di Arjes Kitchen yang terletak di daerah Ngoresan,
Jebres, Surakarta. Wawancara tersebut dilakukan pada hari Senin, 09 Maret 2015.
Pada saat itu AUL mengenakan kaos dan hijab berwarna hitam yang dipadankan
dengan celana jeans. Cuaca diluar mendung dan suasan Arjes Kitchen tidak terlalu
rame ketika wawancara berlangsung. Hal demikian membuat peneliti dan
informan merasa nyaman ketika melakukan perbincangan seputar permasalahan
penelitian.
AUL merupakan alumni SMP Muhamadiyah 1 Surakarta dan berdomisili
di Karanganyar. Ia memilih bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta dikarenakan
orang tuanya menyarankan untuk sekolah di daerah Surakarta dan kebetulan
nilainya mencukupi untuk bersekolah di sekolah tersebut. AUL menjelaskan
bahwa ia merasa nyaman bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta, namun
menginjak kelas ia mulai merasa tidak nyaman. Tidak nyaman yang dimaksudkan
dalam hal ini bukanlah dengan sekolah melainkan dengan orang-orang di
dalamnya, seperti teman-teman dan bebera guru yang menjudge murid ketika
mereka melakukan kesalahan.
AUL menjelaskan bahwa membolos adalah hal yang biasa, dimana dia
lari, malas sekolah, malas dalam keadaan sekolah, malas didalam keadaan kelas,
kemudian dia itu lari dari masalah atau tidak ada semangat buat sekolah serta
tidak ada yang menyemangati, dimana ada faktor keluarga, teman dan guru. AUL
bercerita bahwa pertama kali mengenal membolos pada saat duduk di bangku

133

SMA. Menurutnya pada waktu itu ia hanya ikut-ikutan temannya meninggalkan


kelas untuk pergi jajan ke kantin. Seringkali 15-20 menit sebelum istirahat ia
bersama dengan 2 orang temannya pergi kantin. Hal tersebut mereka lakukan
untuk menghindari antrian di kantin pada saat istirahat.
Selanjutnya AUL menjelaskan bahwa ia pertama kali membolos secara
penuh (mbolos) pada saat bermasalah dengan teman-teman satu kelasnya. Pada
saat menginjak kelas XI, ia dimusuhi oleh teman-teman sekelasnya sehingga ia
merasa tertekan dan memilih untuk membolos. Demikian ungkapan AUL,
Pernah pas aku tertekan banget, pertama kali aku dimusuhin sekelas itu
aku mbolos. Lha aku takut og mbak. Takutku ii ya dibully, sebenere
takutku itu cuma dibully, aku itu paling takut dibully. Ya dibully dikitdikit dikatain, dikit-dikit dikatain. Misale mlaku ora ngopo-ngopo dielokne
mlaku megal megol, padahal aku ora. Trus sitik-sitik eneng wong
ngomong karo aku dibully, aku yaa dibully (W/AUL/9 Maret 2015).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa informan
AUL tidak masuk sekolah dikarenakan takut dibullyoleh teman-temannya. Ia
merasa apapun yang ia lakukan akan menjadi bahan celaan bagi teman-temannya.
Seperti ketika ia berjalan dikelas dicela jika jalannya berlenggak-lenggok dan
ketika ada teman yang mengajaknya bicarapun juga akan mendapat celaan seperti
cie, ngomong karo adike. Hal-hal demikian membuat AUL merasa tidak
nyaman berada dikelasnya. Menurutnya, ia dikucilkan karena dianggap sering
ngrasani (ngomongin) teman-temannya. Pada waktu pertama kali dimusuhin dan
dikucilkan oleh teman-temannya tersebut AUL merasa tertekan hingga tidak mau
masuk sekolah. Ia merasa suwung di dalam kelasnya, dimana ia merasa
diasingkan.Ia mengaku pernah menangis pada salah seorang gurunya dan
meminta jika berkelompok lebih baik gurunya yang membentuk kelompok. Hal
tersebut dilakukan karena ia merasa takut tidak mendapatkan kelompok, dimana
banyak dari teman-temannya yang menolak berkelompok dengannya.
AUL menjelaskan ketika ia tidak merasa nyaman di kelas biasanya ia
memilih untuk tidur. Ia merasa suwung karena tidak ada yang mengajaknya
ngobrol ketika di dalam kelas. AUL bercerita bahwa semenjak dimusuhi dan
dijauhi oleh teman-temannya, ia selalu sendirian, baik di dalam kelas, saat jajan

134

ke kantin, ke mushola dan lain sebagainya. Ia mengibarkan dirinya koyok wong


ilang karena kemana-mana selalu seorang diri.
Alasan lain yang menyebabkan AUL membolos adalah menghindari tugas.
Biasanya apabila tugas terlalu menumpuk dan belum terselesaikan ia memilih
untuk membolos, demikian pernyataan AUL,
Biasanya kalau tugasnya bener-bener banyak dan aku belum selesei aku
gak masuk mbak tapi mamahku tahu. Aku kalo apa-apa selalu bilang ke
mamah tapi gak berani bilang ke ayahku. Aku sakitpun mesti aku
kerumahe eyangku yang dirusun trus aku tidur disitu nanti mamahku
kesana soale aku takut. Ayahku itu kalau anake gak masuk sekolah gitu
pasti marah-marah (W/AUL/9 Maret 2015).
AUL menjelaskan bahwa ia merasa takut kepada sang anyah apabila
membolos, maka dari itu seringkali ia pergi ke rumah neneknya. Kediaman sang
nenek dianggap sebagai tempat yang aman dari sang ayah ketika ia tidak masuk
sekolah. Ia bercerita bahwa sebenarnya ia merasa takut ketika membolos karena
tugas yang menumpuk, tetapi ia merasa aman karena telah menggunakan surat
ijin.
AUL bercerita pada saat ia merasa tertekan dan memilih membolos
tersebut sang ibu mengetahuinya. Menurutnya sang ibu memakluminya dan
membiarkan AUL berada dirumah sampai ia merasa siap untuk kembali ke
sekolah untuk menuntut ilmu. Begitu pula saat membolos karena menghindari
tugas yang menumpuk pun diketahui oleh sang Ibu. Menurut AUL, ibunya tidak
memarahinya lantaran tahu tugas-tugas anaknya dirasa cukup berat dan banyak.
Disamping kedua alasan diatas, alasan lain yang menyebabkan AUL
membolos adalah terlambat datang ke sekolah. Ia bercerita pernah terlambat
datang ke sekolah dan memilih membolos karena takut, seperti petikan
wawancara berikut ini:
Aku gak berani masuk mbak. aku kalau sekolah kan jaketan, pake masker
dan itu pramuka gak ketahuan to. Uda di depan gerbang sekolah, kok ada
pak rudi sama pak joko youwis aku balik akhire ke rumahe budeku kan
rumahe Nusukan. Lha aku takut dihukum og (W/AUL/9 Maret 2015).
AUL menjelaskan pada saat terlambat tersebut ia tidak berani masuk
sekolah lantaran takut dihukum, kemudian ia memilih untuk pergi ke rumah
Budenya yang terletak di daerah Nusukan. Ia menambahkan pada saat itu

135

meminta bantuan budenya untuk membuatkan surat ijin agar ia tidak terhitung
tidak masuk tanpa keterangan (alfa). Pada saat tidak masuk sekolah, baik sakit,
ijin maupun membolos seringkali AUL menggunakan surat yang dibuatkan oleh
ibunya. Selain itu terkadang ia juga menyusulkan surat ijin tidak masuknya pada
keesokan hari ketika ia masuk sekolah. Menurutnya menyusulkan surar ijin ketika
tidak masuk sekolah memang diperbolehkan di sekolahnya.
Disamping itu terkadang AUL memanfaatkan surat ijin meninggalkan
pelajaran untuk colut dan pulang ke rumah, seperti petikan wawancara berikut ini:
Aku kalau colut gak pernah tapi kalau ijin pulang sering tapi tujuane
bener. Tapi haruse, misale ijin pulang jam 10 dan jam 11 uda selese tapi
aku gak mau balik ke sekolah. Kan kalo sekolahe bilange kamu ijin pulang
gak papa, tapi kalau bisa balik yaa balik kalau gak bisa balik yaudah gak
papa. Lha akune gak mau balik, gak pernah mau. Sering og mbak pas kelas
XI.Biasane neg gak balik sekolah paling aku tidur tapi abis itu aku les
(W/AUL/9 Maret 2015).
Berdasarkan petikan wawancara diatas terlihat bahwa AUL seringkali
menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran guna ijin pulang ke rumah,
namun ia tidak pernah kembali ke sekolah walaupun urusannya telah selesai.
Dengan kata lain ia menyalahgunakan surat ijin tersebut untuk colut. AUL
menjelaskan bahwa di sekolahnya terdapat kebijakan apabila ingin meninggalkan
sekolah harus menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran. Dimana surat
tersebut rangkap 3, 1 untuk ditinggal di kelas, 1 untuk mengambil motor di
parkiran dan 1 lagi dibawa pulang oleh peserta didik. Menurutnya apabila tidak
memiliki surat ijin tersebut peserta didik tidak dapat mengambil motor yang
diparkir di sekolahan sebelum jam pelajaran berakhir.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membolos
dianggap hal yang biasa, dimana peserta didik lari dari permasalahan yang
dihadapi ataupun merasa tidak nyaman dengan keadaan di kelasnya. Informan
AUL mulai mengenal membolos pada saat duduk di bangku kelas X, yang
dimulai dengan colut ke kantin bersama dengan teman pada saat pembelajaran.
selanjutnya ia mulai mengenal membolos secara penuh (mbolos) menginjak kelas
XI, saat dimana ia dimusuhi dan dijauhi teman-temannya. Terdapat beberapa
alasan yang menyebabkan AUL membolos, antara lain: bullying, menghindari

136

tugas dan terlambat datang ke sekolah. Bullying merupakan alasan utama yang
menyebabkan AUL membolos. Hal tersebut dikarenakan ia merasa tertekan, takut
dan tidak nyaman berada di kelas.

Informan pendukung AUL


Menurut teman-teman sekelasnya, memang AUL mulai dijauhi dan
dimusuhi temen-temennya pada saat menginjak kelas XI. Hal tersebut
dikarenakan ia dianggap suka ngrasani teman-temannya, bahkan permasalahan ini
sampai dibawa ke BK dan kesiswaan. AUL, sang ibu dan salah seorang temannya
di panggil ke BK untuk menyelesaikan persoalan. Pada saat menghadapi
permasalahan tersebut AUL menjadi seringkali membolos. Hal demikian seperti
yang diungkapkan oleh SAT yang merupakan teman satu kelas AUL. Demikian
pernyataan SAT,
iyaa mbak dimusuhi satu kelas trus akhire gak masuk beberapa hari.
Sampai sekarangpun masih sering gitu, kadang seminggu itu gak masuk
2x. Sampai sekarang pun masih dijauhi gitu mbak (W/SAT/08 Maret
2015).
SAT menjelaskan bahwa semenjak dijauhi temen-temen sekelas, AUL
selalu seorang diri, dimana pada saat dikelas pun ia duduk di bangku seorang diri
dan tidak ada yang bersedia duduk satu bangku dengannya, jajan di kantin, pergi
ke mushola pun seorang diri.

137

FIELD NOTE
Informan 6
CAL (inisial dari nama sebenarnya) adalah peserta didik kelas XI IIS 1
SMA Negeri 6 Surakarta. CAL merupakan peserta didik laki-laki dengan tinggi
badan sekitar 170 cm. Ia berperawakan kecil, berambut agak gondrong dengan
tahi lalat di pipinya. Peneliti mengenal CAL semenjak PPL, dimana peneliti
mengajar di kelas XI IIS 1. Peneliti memilih CAL sebagai informan dikarenakan
berdasarkan informasi teman-temannya ia seringkali membolos, terutama
membolos secara parsial (colut). Wawancara terhadap CAL dilakukan peneliti
sebanyak dua kali.
Wawancara pertama dilakukan pada hari Senin, 16 Februari 2015.
Wawancara dimulai pada pukul 15.00 WIB yang bertempat di Arjes cafe yang
terletak di daerah Ngoresan, Surakarta. Pada saat wawancara CAL datang dengan
bersama dengan seorang teman laki-lakinya yang bernama HAG (inisial dari
nama sebenarnya). HAG merupakan teman akrab CAL, dimana mereka teman
satu kelas. Pada saat wawancara CAL mengenakan seragam sekolah dengan jaket
jeans berwarna biru, mengenakan tas ransel dengan sepatu warior berwarna putih.
Ketika wawancara akana dimulai ia meminta ijin sebentar untuk membeli rokok
di warung sekitar Arjes. Selama wawancara berlangsung informan CAL
menghabiskan 8 puntung rokok gudang garam hitam, sementara temannya HAG
menghabiskan 1 puntung rokok. Wawancara kedua dilakukan pada hari Minggu,
22 Februari 2015. Wawancara tersebut bertempat di Wedangan Classic yang
terletak di daerah Mojosongo dan dimulai pada pukul 19.30 WIB. Pada
wawancara keduai ini CAL datang bersama dengan HAG. Ia mengenakan celana
jeans dengan kaos panjang, sementara HAG mengenakan jeans pendek dengan
kaos pendek pula.
Berdasarkan kedua wawancara tersebut diperoleh berbagai informasi
mengenai CAL. Ia merupakan anak pertama di keluarganya dan mempunyai 2
orang adik yang kesemuanya adalah laki-laki. CAL memiliki hubungan yang
kurang akrab dengan kedua adikknya, dimana mereka jarang bertegur sapa
ataupun ngobrol santai. Mereka hanya berkomunikasi apabila ada kepentingan

138

seperti meminjam HP. Hal tersebut diperkuat oleh HAG, dimana ia mengatakan
bahwa mereka memang jarang sekali berkomunikasi satu sama lain. Selain itu
CAL seringkali beradu argumen dengan bapaknya karena tidak sependapat
mengenai beberapa hal. Ia mengaku paling dekat dengan ibunya, namun menurut
HAG, CAL dekat dengan ibunya lantaran sering meminta uang.
Dalam hal bergaul, CAL lebih sering bergaul dengan orang-orang yang
jauh lebih tua, sehingga ngrokok atau mendem adalah hal yang biasa baginya. Ia
merupakan tipe individu yang senang nglayap, dalam artian senang bermain.
Menurutnya seringkali ia pulang larut malam bahkan dini hari. Hal demikian
menyebabkan CAL selalu merasa ngantuk sehingga seringkali tidur ketika proses
pembelajaran. Menurutnya apabila pulang larut malam seringkali ia membawa
kunci sendiri ataupun memaksa masuk dengan merusak jendala. Terkadang HAG
pun tidur dirumah CAL, dimana mereka mengendap-endap masuk ke rumah
apabila pulang terlalu larut malam.
CAL beranggapan bahwa peraturan yang ada di sekolahnya belum
sepenuhnya mampu mendisiplinkan peserta didik. Menurutnya terdapat beberapa
peraturan yang tidak berhubungan dengan proses pembelajaran seperti kewajiban
menggunakan sepatu berwarna hitam ataupun larangan rambut gondrong. Ia
merupakan peserta didik yang semaunya sendiri, dalam artian terkadang menaati
ataupun melanggar peraturan yang ada. Pelanggaran yang seringkali ia lakukan
adalah membawa HP, colut dan mbolos.
Menurut CAL membolos adalah hal yang biasa, dimana ia telah
mengenalnya semenjak SD. Demikian pernyataan CAL,
Biasa ii mbak, aku SD wae aku ora tau lungguh ning kursi kelas luh. Kan
nulise nggo kapur to gurune trus kan biasane enek undak-undak ane
ngunu kae luh aku lungguh ning kono pendak ndino ye ora aku ngadek
ning pinggir lawang ning njobo cedak jendela. Lha aku telat terus og teko
jam 8, padaha mlebune jam 7. Pas SD jaman bimbingan mlebu jam 6 isuk
aku ora tau melu og, meh ditokne akhire.
CAL bercerita bahwa terkadang ia dan teman-temannya mbolos bersamasama, seperti yang terjadi pada beberapa waktu lalu. CAL mengajak teman-teman
sekelasnya untuk membolos, dimana sehari sebelumnya ia bersama-sama dengan
temannya janjian dan berdiskusi untuk menentukkan tempat membolos. Pada saat

139

itu dari 14 orang peserta didik laki-laki dikelasnya, ia dan 8 orang peserta didik
lainnya memilih membolos. Mereka membolos di rumah RD (inisial dari nama
sebenarnya). Karena telah berencana membolos CAL telah mengenakan pakaian
bebas dari sekolah, berbeda dengan teman-temannya yang masih mengenakan
seragam. Menurutnya ketika membolos banyak hal yang mereka lakukan seperti
ngrokok, ngobrol santai dan gojekan bersama.
Menurut HAG, bagi CAL sekolah adalah formalitas semata dimana
mbendak dino adalah tanggal abang. Dari ungkapan yang disampaikan oleh HAG
terlihat bahwa CAL memang sering kali membolos, baik secara parsial (colut)
maupun penuh (mbolos). Pada saat mbolos, CAL biasanya hanya berada dirumah,
bermain di rumah teman maupun bermain bilyard. CAL sering kali bermain
bilyard untuk mencari uang, dalam artian taruhan bermain bilyard. Menurutnya
mbolos itu lebih asyik apabila ada temannya, karena ada yang diajak ngobrol
ataupun bermain sehingga ia tidak akan merasa suwung.
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan CAL membolos. Alasan
pertama (1) adalah malas, menurutnya ia seringkali bermain dengan teman-teman
yang jauh lebih tua dengannya hingga larut malam.Jika sudah berkumpul dengan
teman-temannya ia cenderung lupa waktu bahkan bisa pulang jam 2 pagi.
Terkadang jika merasa lelah, ngantuk dan tidak bisa bangun pagi ia memilih
untuk membolos sekolah. Ketika
Alasan kedua (2) yang menyebabkan CAL membolos adalah terlambat
datang ke sekolah. Terkadang ketika terlambat datang ke sekolah, CAL memilih
untuk kembali pulang, dalam artian membolos sekolah. Bahkan pada saat
membolo karena terlambat datang ke sekolah, CAL pernah membuat status BBM
yang berbunyi sekolah itu sampe gerbang pulang lagi. Ketika dikonfirmasi
memang benar pada saat itu ia terlambat datang ke sekolah karena malas dihukum
maka ia memilih untuk kembali pulang.
Alasan ketiga (3) yaitu menghindari pelajaran tertentu. CAL cenderung
menghindari pelajaran yang dirasa menyulitkan dirinya, seperti seni musik.
Demikian ungkapan CAL,

140

Iyaaa pas pelajaran seni musik ndek kae, lha aku kon gawe lagu sing
note note aku ora iso og, angel. Motorku ora iso ditokne og, akhire aku
ning burjo dewean ii aku. Lha kan pit e diparkir ning selatan, ora iso
metu. Aku mlaku ning burjo cedak pom bensin kui luh, aku dewean ning
kono, mangan dewean pkoke nganti 2 jam pelajaran aku dewean ning
kono.
Dari petikan wawancara tersebut terlihat bahwa CAL memilih colut untuk
menghindari pelajaran seni musik. Menurut CAL, sebenarnya ketika ada peserta
didik yang colut guru pelajaran pada saat itu akan mencari. Meskipun demikian
CAL tidak merasa takut, hal ini karena ia dibantu oleh teman-teman sekelasnya.
Demikian ungkapan CAL,
Digoleki, ning konco-konco ngomonge ning UKS, koncoku apikan og.
Aku ora enek (mbolos) ngunu kui ngomong e ning UKS. Trus yen digoleku
ning UKS ora enek biasane do ngomonge mungkin baru di kamar mandi
pak, sakit perut...yeayayayay..hahahahhaha padahal aku ning njobo
sekolahan, yo paling ning burjo tok sing cedak, lha aku kesel og ora enek
motore biasane sisan nunggu mulih.
Menurut CAL hal demikian sudah biasa, dimana telah menjadi hal yang
wajar peserta didik saling bekerjasama untuk melindungi teman-temannya yang
membolos. Mereka saling membantu satu sama lain sebagai bentuk solidaritas
diantara mereka.
Selain colut diluar lingkungan sekolah, seringkali CAL pun colut di dalam
lingkungan sekolah. Lokasi yang dipilihnya untuk colut yaitu UKS dan kantin. Ia
memilih colut apabila merasa malas atau bosan dengan pelajaran. Hal demikian
terlihat dari petikan wawancara berikut ini:
Yen aku colut soko kelas biasane aku males og. Yaa tergantung sih, yen
kita males misale ning UKS se soyo sue saya akeh wong yaa ngunu kui
mending mbalik ning kelas. Emang mbiyen sih UKS dadi tempat kanggo
menghindari pelajaran tapi saiki jarang soale gawene diperiksani guru og
mbak. Yen ora ngunu paling aku pilih ning kantin mangan lha aku luwe
og, kan ora mungkin to diceluk ning BK mung goro-goro kesalahan
mangan ning kantin, kan ora masuk akal ngko paling gurune cuma
ngomong yen wis entek ndang mlebu kelas. Youwis ngunu kui ora popo,
wis biasa...yen konco-koncokuku sih wedi mangan ning kantin pas
pelajaran, yen aku pas luwe yaa mangan
CAL bercerita bahwa ia diberi kebebasan oleh keluarganya untuk sekolah
ataupun tidak, hal demikian seperti ungkapan CAL berikut ini:

141

Lha wong aku ora sekolah wae ora popo kok...aku ki sakjane ora seneng
mbolos yooo. Neg misale aku mrei ngunu kui akumulih mneh og, ngomong
ibukku buk aku mau ora mlebu...ora popo karo ibukku, aku ora sekolah ii
ora popo kandani og, dibebasne aku ora sekolah ora popo.
Menurutnya ketika mbolos terkadang CAL menggunakan surat ijin, namun
terkadang pula tidak menggunakan surat ijin. Apabila menggunakan surat ijin ia
membuat sendiri ataupun meminta bantuan kepada ibunya. Demikian ungkapan
CAL,
Sak-sake og, ibukku gelem og tak kon tanda tangan ngunu kui....yaaa
kadang-kadang aku nggawe dewe kadang tak kon nanda tangani ibukku.
Aku karo ibukku kan bebas. Tapi yen telat ngunu kui males aku biasane
ora nggowo surat. Paling sesuke ibukku tak kon gawekne surat tak kon
nandatangani gelem og. Mulih ngunu kui aku yaa mulih, buk aku ora
mlebu youwis kono mangan sek paling ngko mbalik dolan mneh aku.
Disamping itu seringkali CAL mengenakan pakaian bebas (tidak
berseragam) ketika membolos. Hal tersebut dilakukan agar ia lebih leluasa
beraktivitas diluar rumah ketika membolos. Selain itu digunakan pula untuk
menghindari Satpol PP yang terkadang melakukan razia peserta didik membolos.
Sedangkan pada saat colut, biasanya CAL keluar sekolahan begitu saja dengan
meninggalkan tasnya di kelas. Biasanya ia nongkrong di burjo sekitar sekolah
ataupun warung yang terletak di depan sekolah.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa CAL merupakan peserta
didik yang seringkali membolos, khususnya membolos secara parsial (colut). Ia
beranggapan membolos adalah hal yang biasa, dimana ia telah mengenal
membolos semenjak sekolah dasar. Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan
ia membolos yaitu : malas, terlambat datang ke sekolah dan menghindari
pelajaran yang tidak disukai.

142

FIELD NOTE
Informan 7
AG (inisial dari nama sebenarnya) merupakan peserta didik kelas XI IIS 1.
Peserta didik perempuan yang berambut panjang dan memiliki tinggi badan
sekitar 160 cm ini merupakan alumni SMP 18 Surakarta. Ia merupakan anak
kedua dari 3 bersaudara. Peneliti memilih AG sebagai informan dikarenakan ia
memiliki pengalaman mengenai membolos. Sesuai kesepakatan dengan informan
wawancara dilakukan pada hari Minggu, 08 Februari 2015 di warung steak
plengeh dan dimulai pukul 11.00 WIB. Wawancara kemudian dilanjutkan di kost
Sari Asih (kost peneliti).
Pada saat wawancara informan berbagi cerita mengenai pengalamannya
membolos. AG mulai membolos ketika duduk di bangku SMA. Pertama kali ia
membolos adalah pada saat kelas X, saat dimana ia mengalami permasalahan
dengan keluarganya. AG merasa tidak nyaman dan kurang mendapat perhatian di
dalam keluarganya, demikian ungkapnya:
Aku pernah mbolos semingguan mbak, lha enek masalah keluarga og.
Aku ki merasa kayak ora dihargai dalam keluarga. Nek cah nom kan biasa
to mbak, nek jek SMA sik mencari jati diri pengene yo dianggep opo piye
to mbak. Yaaa aku ngerasa kan aku enek masalah to, aku ngerasa dibedabedain trus, gak digagas, disenen-seneni trus mbak. Ndisik kan aku anak
terakhir to mbak, aku njaluk opo wae kan dituruti to mbak. enek adikku
opo-opo akhire adikku disik, njaluk duit ora langsung dikei. Trus masku
sak kepenake dewe, dolan ngendi wae ora diseneni, mboso aku diseneni.
Menurutku ki kesalahan ki kyage ning aku tok ngunu loh
Berdasarkan petikan wawancara tersebut informan AG merasa tidak
nyaman berada di rumah lantaran merasa kurang mendapatkan perhatian. Ia
merasa keberadaannya dalam keluarga kurang dihargai karena menurutnya segala
kesalahan dilimpihkan pada dirinya. AG menambahkan bahwa ia memiliki relasi
yang kurang baik dengan saudara laki-lakinya, dimana mereka seringkali
bertengkar. Demikian ungkapan AG,
Hoo ya mbak sering padu-padu nganti maen tangan. Aku karo masku ki
kerep banget padu yoo mbak nganti keplak-keplakan. Pernah suatu ketika
keplak-keplakan goro-goro rebutan motor. Hoo yoo mbak nganti jotosjotosan kyag kenakalan remaja ngunu kae loh

143

Menurut AG hal demikian membuatnya merasa tidak nyaman berada


dirumah sehingga memilih untuk membolos pada saat itu. Menurutnya membolos
adalah hal yang biasa. Pada awalnya ia merasa takut, namun ia membuat dirinya
merasa senang agar tidak dibayangi oleh rasa takut, seperti halnya ungkapan AG
berikut ini:
Wedi sih tapi yaa digowo happy wae mbak. Soale nek wedi wedi kui ngko
malah kepikiran terus mbak, awakke dewe ki ngroso ne gawe happy wae,
gawe enjoy wae. Nek wes nyaman, nek wong wis ora popo maksude hari
pertama kui mbolos rapopo terus akhire berlanjut-lanjut, dadi ngentengke
ngunu kui nganti wis mandek kui gara-garane enek teguran
AG berpandangan memang pada awalnya membolos memang menakutkan
namun ketika dibuat menyenangkan dan dirasa tidak mendapatkan sanksi maka
perilaku tersebut akan terus berlanjut hingga dikenakannya sanksi. Baginya
membolos tidaklah salah karena dapat digunakan sebagai pengalaman, dimana
yang terpenting tidak keterusan membolos. Disamping itu AG beranggapan jika
membolos lebih menyenangkan dilakukan bersama dengan teman, demikian
ungkapan AG:
Yaaa yen mnurutku kii luwih asyik yen nek koncone mbak. Yen podo-podo
mbolose mung dewe ning omah kan boring, mung ngunu-ngunu tok mbak.
Lha yen nek koncone kan misale wedipun youwis ditinggal wae lah dan
digawe gayeng karo koncone
Ia bercerita bahwa pada saat class meeting setelah ujian tengah semester
maupun ujian semster seringkali dimanfaatkan teman-temannya untuk membolos.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan karena menginjak kelas XI, peserta didik
memperoleh pengalaman apabila tidak mengikuti class meeting tidak ada
masalah. Berbeda ketika kelas X, dimana masih seringkali mengikuti lombalomba pada saat class meeting. Pada saat class meeting AG memilih masuk
sekolah kemudian colut dirumah temannya. Ia lebih memilih masuk sekolah agar
memperoleh uang saku.
Selain permasalahan yang dialami dalam keluarga, alasan lain yang
menyebabkan AG membolos adalah ajakan teman. Ia menerima ajakan temannya
untuk membolos sebagai bentuk solidaritas sesama teman, dimana temannya
tersebut membutuhkan bantuan. Teman AG yang bersekolah di SMK 4 Surakarta

144

membutuhkan klien untuk prakteknya di sekolahan sehingga meminta bantuan


kepada AG. Singkat cerita, AG menerima ajakan temannya tersebut dan
membolos sekolah tanpa sepengetahuan ibunya. Pada saat dijemput temannya
tersebut ia beralasan kepada ibunya jika hendak berangkat sekolah berbarengan.
Disamping itu alasan lain yang menyebabkan AG membolos adalah
menghindari tugas. Ia menjelaskan bahwa kurikulum 2013 yang digunakan saat
ini memberikan beban tugas yang cukup banyak bagi peserta didik. Menurutnya
terkadang jika tugas menumpuk dan belum mengerjakannya ia memilih untuk
membolos. Pada saat merasa bosan dengan pelajaran, biasanya AG memilih untuk
tidur di UKS dengan beralasan sakit agar memperoleh ijin dari guru. Jika tidak ia
memilih untuk tidur di kelas atau bermain HP ketika kebosanan melandanya.
Selain itu terkadang ia memilih keluar sekolahan dengan cara ijin untuk ngeprint
untuk menghilangkan kebosanannya sejenak, seperti ungkapannya di bawah ini:
Nek ora ngunu ngko to mbak yen lagi males aku ijine ngeprint mbak, ijin
ngeprint metu ning njobo ngeprint ning selatan op ngendi ngunu nah ning
kono kui ngko di suek-suekne. Nek ditakoki yo alesane ijin ngeprint ngunu
mbak, kan ning nggon selatan kae kan enek print-print an to.
Berdasarkan wawancara tersebut terlihat bahwa AG memanfatkan ijin
yang diberikan untuk keluar sekolah dengan cara mengulur-ulur waktu sehingga
dapat berlama-lama di luar kelas.
AG bercerita bahwa seringkali peserta didik yang meninggalkan pelajaran
tidak diberikan hukuman / sanksi. Hal demikian karena seringkali peserta didik
yang lainnya menuti perilaku colut temannya tersebut, seperti ungkapan AG
berikut ini:
Oraak enek ii mbak, oraa pernah ditindak ii mbak yaa ngomong wae ning
kantin. Nek ora ngunu koncone melu nutupi. Solidaritas kelasku apik og
mbak, yaa saling menutupi lah mbak dari pada dikira makakne konco trus
ngko dirasani dan dijauhi. Jadi gak pernah ada sing mengadukan mbak,
soale ngko malah dirasani, mending meneng.
Menurut AG tidak ada peserta didik yang mengadukan kepada guru ketika
temannya mbolos atapaun colut. Mereka merasa malas dan tidak ada gunanya
mengadukan kepada guru, dimana mereka memilih untuk salaing bekerjsama
karena ada saatnya akan dibantu pula.

145

Berdasarkan paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi AG


perilaku membolos adalah hal yang biasa. Pada awalnya ada ketakutan dalam
dirinya ketika membolos namun ia menutupinya dengan membuat dirinya merasa
senang. Terdapat beberapa alasan yang menyebabkannya membolos, yaitu:
permasalahan dalam keluarga, ajakan teman, bosan dengan pelajaran dan
menghindari tugas.
Informan Pendukung AG
SUR (inisial dari nama sebenarnya) merupakan teman akrab informan AG.
Ia juga merupakan peserta didik kelas XI IIS 1. Wawancara terhadap SUR
dilakukan pada hari Rabu, 04 Maret 2015 di depan sekolah SMA Negeri 6
Surakarta. SUR membenarkan bahwa AG pernah tidak masuk sekolah selama
berhari-hari lantaran masalah dalam keluarganya. Menurutnya pada waktu itu AG
sempat menginap dirumahnya, demikian pernyataanya:
Iyaa mbak mbolos, dekne pernah nginep ning omahku pas enek masalah
kui. AG ki kayak ora nyaman ning ngomah. Bapak ibuke kyag ora ngaggas
ngunu kui luh mbak. Ndisik karo mase yo ora tau omongan, yen padu
kaplok-kaplokan ngunu kui. Tapi Puji Tuhan saiki hubungane wis apik og
mbak dadi jarang mbolos meneh.
SUR bercerita bahwa AG tidak betahan dirumah dan cenderung suka
dolan, terutama pada saat tidak akur dengan saudara laki-lakinya dan merasa tidak
dihargai dirumahnya. SUR menambahkan bahwa ia pernah pula berada di UKS
dengan AG pada saat pelajaran, dimana mereka tidur di UKS. Selain itu alasan
mereka berada di UKS pada saat jam pembelajaran adalah belajar untuk
mempersiapkan ulangan mata pelajaran lainnya yang belum mereka pelajari.
Dalam artian mereka colut ke UKS pada saat mata pelajaran tertentu demi belajar
dan mempersiapkan ulangan mata pelajaran lainnya.
SUR menjelaskan bahwa solidaritas di dalam kelasnya cukup baik, dimana
mereka bekerjasama dalam banyak hal termasuk membolos, demikian pernyataan
SUR,
Solidaritas kelasku apik og mbak, dadi misale ono koncone sing metu
nggono kui yo ngomonge lagi ning UKS, tapi yen digoleki ning UKS
raenek paling ngomonge ning kamar mandi. Dadi mesti enek sing
ngewangi lah mbak.

146

FIELD NOTE
Informan 8
RD (inisial dari nama sebenarnya) merupakan peserta didik laki-laki kelas
XI IIS 1. Alumnus SMP Widya Wacana ini memiliki tinggi badan sekitar 170 cm.
Sebelum melakukan wawancara peneliti meminta ijin kepada RD untuk
melakukan penelitian terhadapnya. Setelah memperoleh ijin, peneliti bersama
dengan informan bersepakat untuk bertemu guna melakukan wawancara.
Berdasarkan kesepakatan wawancara dilakukan pada hari Sabtu, 07 Februari
2015. Wancara tersebut bertempat di Wedangan Classic daerah Mojosonga dan
dimulai pada pukul 19.00. Pada saat wawancara RD mengenakan celana jeans
dengan kaos lengkap besrta jaketnya.
RD bercerita pertama kali mengenal membolos ketika menginjak bangku
SMA. Menurut RD ketika SMP ia belum berpikiran untuk membolos. Hal
tersebut dikarenakan teman-teman SMPnya bertempat tinggal di dekat
sekolahan.Disamping itu ketika peserta didik membolos guru akan mendatangi
rumah peserta didik tersebut untuk melakukan konfirmasi kepada orang tuanya.
Perilaku membolos pertama kali RD lakukan bersama dengan teman-teman
sekelasnya yang berjumlah 4-5 orang. Pada malam sebelum membolos biasanya
ia telah bersepakat dengan teman-temannya untuk membolos lewat BBM. Pada
waktu itu mereka bersepakat untuk membolos bersama di kediaman RD.
Menurut RD mbolos dan colut adalah dua hal yang berbeda, demikian
pernyataan RD:
Yaa mbolos kui sing sedino ora mlebu sekolah mbak, nek selain kui dudu
mbolos kan itungane sik mlebu sekolah. Nek mung metu soko pelajaran kui
jenenge colut mbak. Kan nek colut kan ning pelajarane kui metu nek
mbolos kan tanpa absen ning sekolahan.
Bagi RD membolos memiliki dua sisi, disatu sisi enak karena dapat
mengistirahatkan diri dirumah sedangkan sisi tidak enaknya adalah ketinggalan
pelajaran dan tidak mengerti apabila ada tugas. Membolos dianggapnya sebagai
urusan masing-masing individu, seperti ungkapannya berikut ini:
Biasa wae ii mbak, kui kan urusan mereka masing2 mbak. Menurutku
membolos nek sekali kan ora nek hukumane mbak trus wong tuane kan ora
bakal diceluk mbak dadi yoo biasa, lagiankan mbolose pas gak enek tugas

147

dan gak enek ulangan. Opo meneh neg mbolose enek koncone kui kan sing
nggarai penak luwih gayeng yen enek koncone. Ya iyalah enak mbolos
karo koncone yen dewe kan suwung og, yaa penak karo koncone.
Dari petikan wawancara tersebut terlihat bahwa selain menganggap
membolos sebagai hal yang biasa, RD pun beranggapan jika membolos lebih
menyenangkan apabila dilakukan bersama teman dari pada sendirian. Meskipun
demikian ia mengaku pernah pula membolos sendirian. Menurutnya ketika
membolos sendirian ia hanya berada dirumah nonton tv, tidur dan kemudian siang
hari membantu ibunya di pasar.
Dalam hal mbolos terkadang menggunakan surat ijin buatan sendiri ketika
membolos. Pada waktu membolos bersama dengan teman-temannya RD bercerita
jika mereka menggunakan surat ijin buatan sendiri. Strategi yang biasa ia gunakan
dalam membuat surat palsu adalah dengan meminta bantuan teman yang
mempunyai tulisan bagus dan rapi, dimana hal tersebut dilakukan untuk
menghindari kecurigaan guru. RD tidak merasa takut apabila ketahuan
menggunakan surat palsu, menurutnya tidak ada hukuman yang akan diterimanya
kecuali ditulis tanpa keterangan (alfa). Rasa tidak takutnya disebabkan pula
karena ia merasa tidak terlalu sering membolos dan ketika membolos tidak
berurutan sehingga tidak akan mungkin dipanggil oleh BK.
Selain menggunakan surat ijin palsu ketika membolos, pernah pula RD
menyusulkan surat ijin keesokan harinya dan memanipulasi daftar kehadiran
dibuku presensi kelas. Hal demikian ia lakukan untuk menghindari ditulis tanpa
keterangan (alfa), demikian ungkapan RD:
Wingi aku yaa urung nganggo surat ijin og, wingi aku sing mbolos kui.
Ngunu kui biasane iso disusulne. Dadi to ning guru piket ngeterne surat
ijin ngko diganti karo guru pikete trus yen ora sok-sok tak ganti dewe
mbak absen kelas ning buku, sing mbendino diubengne kae. Kan yo di
itung kui, kan iso diganti muride dewe kui. Aku mbiyen tak ganti ping piro
yaaa, ping 4 kyage pas kelas siji. Tak ganti dewe, tak ganti dadi sakit
kabeh
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan RD membolos. Alasan
pertama (1) adalah merasa malas, dalam artian ia memanfaatkan kesempatan saat
tidak ada tugas maupun ulangan untuk membolos, demikian ungkap RD:

148

halah, ora enek PR ora enek tugas mbolos ora popo paling yaa ora enek
nilai sing dilebokne.
Menurutnya seringkali ia memanfaatkan kesempatan yang demikian untuk
membolos. Ketika banyak tugas ataupun ulangan ia lebih memilih untuk masuk
sekolah, meskipun pada akhirnya ia mencontek pekerjaan temannya. Hal
demikian ia lakukan agar nilai-nilainya tidak kosong. Terkadang ia juga
memanfaatkan kesempatan lain untuk membolos, seperti halnya ketika seragam
sekolahnya diloundryan dan belum diambil ia memilih untuk membolos sekolah.
Alasan kedua (2) yang menyebabkan ia membolos adalah ajakan teman.
RD mengaku bahwa ia lebih sering mengiyakan ajakan temannya untuk
membolos, terutama pada saat ia merasa lelah, tidak ada tugas maupun ulangan
dan pelajarannya enak untuk membolos. Menurutnya hal tersebut merupakan
bentuk solidaritas sesama teman.
Alasan ketiga (3) yang menyebabkan ia membolos, khusunya colut adalah
bosan dengan pelajaran. Menurutnya ketika bosan dengan pelajaran dan guru
yang mengajar kurang memperhatikan ia memilih untuk colut ke UKS ataupun
kantin. Hal ini seperti pernyataan RD berikut ini:
Tapi yen guru sing jarang di absen ngunu kui kadang2 aku ning UKS lha
bosen karo pelajarane og. Youwis turu ning UKS, yaa kadang kii ramerame tapi dewe yaa pernah. Paling yen ora ngunu misale bosen ning kelas
paling yaa turu, lha meh metu ning parkiran opo ngendi yaa meh ngopo
malah akeh guru ning kono. Yaaa seringe ning kantin yen ora ning UKS,
nek ning UKS kui alasane loro dadi di ijinkan padahal ning kono yaa turu.
Yen oraa neg enek guru sing takok ngomong wae yen loro. Neg misale aku
lagi metu soko kelas ning kantin trus ketemu guru-guru ngono biasane aku
ngomonge habis pelajaran olahraga ben ora dihukum mbak...hehehe
RD menambahkan ketika jam pelajaran kosong dan diberi tugas oleh guru
untuk mengerjkan ia memilih untuk keluar kelas, bermain-main di kantin ataupun
keluar ke warung yang terletak di depan sekolahan.
RD bercerita bahwa solidaritas sesama teman di dalam kelasnya cukup
baik, termasuk solidaritas dalam melindungi temannya yang membolos. Demikian
ungkapan RD,
Sak kelas kii sekongkol mbak, kompak ngunu luh dadi pomene ijine ki
sakit kabeh mbak. Dadi enek sing ora mlebu ngunu kui sitik-sitik sakit

149

nanti suratnya menyusul kabeh ngunu kui og. Enek sing ra mlebu siji
ngunu kui ngunu og kabeh ngomonge sakit sakit suratnya menyusul.
Menurut RD hal demikian merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi di
dalam kelasnya. Dimana mereka saling bekerjasama satu sama lain.
RD mengaku bahwa orang tuanya mengetahui apabila ia membolos,
bahkan ibunya juga tidak memarahinya ketika ia bersama dengan teman-temann
membolos bersama di rumahnya. Hal demikian dikarenakan ia tidak terlalu sering
membolos dan seringkali membantu ibunya di pasar.
Berdasarkan paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membolos
memiliki 2 bentuk, yaitu mbolos dan colut. RD menganggap membolos sebagai
hal yang biasa dan lebih menyenangkan apabila dilakukan bersama teman.
Terdapat tiga alasan yang menyebabkannya membolos yaitu: malas dalam artian
memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membolos, ajakan teman dan bosan
dengan pelajaran.

150

FIELD NOTE
Informan 9
FD (inisial dari nama sebenarnya) merupakan peserta didik kelas XI IIS 2
SMA Negeri 6 Surakarta. FD adalah peserta didik laki-laki dengan tinggi badan
170 cm. Peneliti mengenal FD semenjak PPL, dimana peneliti mengajar di
kelasnya. Peneliti memilih FD sebagai informan dikarenakan ia memiliki
pengalaman membolos, baik secara parsial maupun penuh. Berdasarkan
kesepakatan peneliti dengan informan, wawancara dilakukan pada hari Senin, 09
Februari 2015. Wawancara tersebut bertempat di kedai Popeye yang terletak di
dekat SMA Negeri 6 Surakarta. Pada waktu wawancara informan FD masih
menggunakan seragam putih abu-abu dengan jaket berwarna hitam. Ia datang
bersama dengan temannya yang bernama DN.
Peneliti mengawali perbincangan dengan mengobrol santai, dimana
informan menceritakan mengenai alasannya bersekolah di SMA Negeri 6
Surakarta. Ia memilih bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta dikarenakan
tergeser dari SMA Negeri 2 Surakarta. Informan FD merupakan alumni SMP
Negeri 5 Surakarta. Pada awalnya ia masuk jurusan IPA, namun karena ajakan
teman dan merasa tidak cocok berada di jurusan tersebut maka ia memutuskan
untuk pindah ke jurusan IPS.
Informan FD beranggapan jika membolos adalah hal yang biasa. Baginya
membolos itu disatu sisi enak namun disisi lain tidak enak. Sisi tidak enaknya
adalah perasaan was-was, takut ketahuan membolos pada saat berada dijalan. Sisi
enaknya adalah ia merasa senang dapat meninggalkan sejenak rutinitas sekolah,
menurutnya membolos itu sah-sah saja asalkan tidak terlalu sering. Membolos
memang telah menjadi hal yang wajar di kelasnya, secara tersirat hal tersebut
terlihat dari hasil wawancara berikut ini :
neg ora mlebu ngunu kui koncone ditakoki ngopo ora mlebu? Sakit, ada
acara keluarga. surate mana? Nyusul, youwis ngunu terus (W/FD/9
Februari 2015).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut terlihat bahwa peserta didik saling
bekerja sama dalam hal membolos. FD mengatakan jika hal tersebut biasa terjadi
dan merupakan bentuk solidaritas sesama teman, dimana ia termasuk di dalamnya.

151

FD berpendapat pula jika membolos lebih menyenangkan apabila


dilakukan bersama dengan teman. Hal ini dikarenakan apabila membolos seorang
diri ia akan merasa suwung, lantaran tidak akan ada yang diajak berbicara atau
bermain. Membolos sendirian dianggap membosankan olehnya. Menurut
informan FD mbolos dan colut adalah dua hal yang berbeda. Mbolos diartikan
sebagai tidak masuk sekolah sedangkan colut ia artikan sebagai mencari
pandangan baru selain guru dan papan tulis. Menurut cerita FD, seringkali pada
saat merasa ngantuk atau bosan dengan pelajaran ia pergi ke kantin. Di sueksuekne ketika berada di kantin hingga pelajaran selesai itulah yang ia sebut
sebagai colut.
Alasan utama yang menyebabkan FD mbolos adalah ajakan teman.
Menurut pengakuannya ia terkadang menerima ajakan temannya untuk
membolos. Terakhir ia menerima ajakan teman yang masih terhitung saudara
pergi ke Yogyakarta. Pada saat itu FD berangkat ke dari rumah dengan
mengenakan seragam namun ia telah mempersiapkan pakaian bebas di dalam
tasnya, kemudian ia menuju POM bensin untuk berganti pakaian. Ia bertemu
dengan temannya di stasiun dan pergi ke Yogjakarta dengan menggunakan kereta
api. Pada saat membolos tersebut FD menggunakan surat ijin palsu, dimana ia
meminta bantuan temannya tersebut untuk dibuatkan surat agar tidak terhitung
tidak masuk tanpa keterangan (alfa). FD menyusulkan surat ijin tersebut keesokan
harinya ketika masuk sekolah. Disamping itu, FD pernah pula mbolos sekolah
lantaran memberi dukungan kepada temannya yang sedang tampil di sebuah acara
music (Hardcore). Bersama dengan salah seorang teman sekelasnya ia memilih
untuk mbolosdengan alasan bentuk solidaritas terhadap temannya tersebut.
Informan FD bercerita bahwa orang tuanya tidak pernah mengetahui
perilaku membolosnya. Hal ini dikarenakan ia tergolong peserta didik yang jarang
membolos secara penuh (mbolos). Orang tua FD selalu mengajarkan kepadanya
untuk memprioritaskan sekolah, dimana ia di tuntut untuk rajin sekolah. Selain itu
ia juga selalu diingatkan agar berhati-hati dalam segala hal. Hal demikianlah yang
membuat FD merahasiakan perilaku membolosnya.

152

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa menurut FD


membolos adalah hal yang biasa dan wajar, dimana membolos akan lebih
menyenangkan apabila dilakukan bersama dengan teman dari pada sendirian.
Alasan utama yang menyebabkannya berperilaku membolos adalah ajakan teman
atau solidaritas terhadap temannya.

Informan pendukung FD
Untuk melakukan pengecekan terhadap apa yang disampaikan oleh FD,
peneliti melakukan wawancara terhadap DN. DN merupakan peserta didik lakilaki teman satu kelas FD. Menurut pengakuan DN, FD bukan termasuk peserta
didik yang nakal. Meskipun demikian, bagi FD termasuk pula DN membolos
adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan anak SMA. Membolos dianggap
urusan masing-masing individunya.
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa alasan yang
menyebabkan FD colut ke kantin adalah rasa malas dan ngantuk karena jenuh
dengan pelajaran. Sedangkan FD membolos pada saat classmeeting atau karena
ajakan temannya. Membolos pada saat classmeeting adalah hal yang biasa
dilakukan karena setelah ujian biasanya tidak ada pelajaran. Menurutnya, FD pada
saat membolos biasanya menggunakan surat ijin yang diberikan keesokan harinya.
Berbeda halnya pada saat classmeeting, FD dan kebanyakan teman-temannya
tidak menggunakan surat ijin.

153

FIELD NOTE
Informan Pendukung 1
Informan pendukung pertama yang dipilih oleh peneliti adalah penjaga
kantin SMA Negeri 6 Surakarta. Penjaga kantin dipilih sebagai informan
pendukung dengan alasan ia mengetahui aktivitas yang dilakukan peserta didik di
kantin. Dalam Hal ini peneliti memilih ibu SUG (inisial dari nama sebenarnya)
sebagai informan pendukung. SMA Negeri 6 Surakarta menyediakan 3 kantin
bagi peserta didiknya, dimana ibu SUG adalah penjaga kantin bagian tengah,
tepatnya di dekat parkiran kendaraan peserta didik. Peneliti mengenal ibu SUG
semenjak Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri
Surakarta. Dimana peneliti seringkali makan di kantin ibu SUG sehingga peneliti
menjadi akrab dengannya.
Sebelum melakukan wawancara dengan ibu SUG, peneliti meminta ijin
terlebih dahulu dan kemudian menentukan waktu wawancara. Wawancara di
lakukan pada hari Senin, 06 April 2015 pukul 10.00 WIB di kantin ibu SUG.
Peneliti mengawali perbincangan dengan menanyakan kabar ibu SUG. Kemudian
peneliti menanyakan mengenai tingkat keseringan peserta didik berada di kantin
pada saat jam pelajaran. Ibu SUG bercerita bahwa ada beberapa peserta didik
yang membolos ke kantin pada saat jam pelajaran, namun ada juga yang tidak.
Menurutnya peserta didik yang seringkali datang ke kantinnya pada saat jam
pelajaran adalah peserta didik kelas XI, sementara peserta didik kelas X jarang
dan kelas XII kebanyakan sudah tidak meninggalkan jam pelajaran karena
berkonsentrasi

penuh

untuk

menghadapi

ujian

nasional

(UN).

Beliau

menambahkan mayoritas peserta didik laki-laki yang berada di kantin pada saat
jam pembelajaran.
Ibu SUG mengaku tidak begitu menghafalkan peserta didik yang sering ke
kantin pada saat jam pelajaran, namun menurutnya mayoritas adalah peserta didik
laki-laki. Dimana kebanyakan peserta didik tidak datang sendiri ke kantin
melainkan bersama dengan temannya, paling tidak minimal 2 peserta didik.
Peserta didik yang colut pada saat jam pelajaran biasanya tidak jajan dan hanya
nongkrong sembari bercerita ngalor-ngidul (banyak hal) bersama dengan

154

temannya. Menurut ibu SUG jika peserta didik hanya jajan mereka cenderung
tidak akan berlama-lama di kantin. Hal ini berbeda dengan peserta didik yang
nongkrong di kantin, dimana mereka cenderung menghabiskan waktu lebih lama.
Peserta didik yang colut biasanya berada di kantin selama 20 30 menit. Ibu SUG
bercerita mayoritas dari mereka tidak berani berlama-lama karena banyak guru
yang guru yang lewat di depan kantin.
Ibu SUG bercerita bahwa terkadang ia bertanya kepada peserta didik
mengapa berada di kantin pada saat jam pelajaran. Alasan yang disampaikan
peserta didik adalah ia malas dan bosan pembelajaran pada saat itu, belum
mengerjakan tugas dan takut karena gurunya galak. Menurut ibu SUG terkadang
guru yang galak membuat peserta didik merasa takut dan memilih untuk
menghindari jam pelajarannya. Namun ada pula peserta didik yang memang
bandel, dalam artian celelekandan kurang sopan santun dimana tanpa alasan yang
jelas mereka memilih colut di kantin dan menganggap hal demikian adalah wajar.
Mayoritas peserta didik tidak merasa segan dengan guru melainkan hanya
merasa segan dengan petugas STP2K ketika mereka melakukan pelanggaran
layaknya colut di kantin, seperti hasil wawancara berikut ini :
Bocah-bocah kui ora segan karo guru mbak yen ning kantin pas
pelajaran. Cah-cah mung segan karo STP2K, selain STP2K ora. Yen
rumangsa salah enek STP2K ngunu mesti podo wedi mbak, masalahe
langsung ditindak. Pas ning kantin ketemu guru ditekoni paling njawabe
pelajaran olahraga, lha guru mboten mudeng jadwale muride kan mbak.
Tapi neg sing lewat STP2K podo wedi kabeh (W/SUG/6 April 2015).
Dari hasil wawancara diatas terlihat bahwa peserta didik merasa tidak
segan terhadap guru apabila berada di kantin pada saat jam pelajaran. mereka
hanya merasa segan dengan petugas STP2K. Ketika merasa bersalah dan ada
petugas STP2K mereka merasa takut, masalahnya langsung ditindak. Apabila
berada di kantin pada saat jam pelajaran dan bertemu guru peserta didik beralasan
jam olahraga karena kebanyakan guru kan gak mengetahui jadwal peserta
didiknya. Berbeda jika STP2K yang lewat di depan kantin, peserta didik merasa
takut.
Berdasarkan cerita ibu SUG, tidak ada jam-jam pasti kapan peserta didik
berada di kantin pada saat pembelajaran. Namun menurutnya mereka ke kantin

155

tergantung pada jam pelajaran yang tidak disukai maupun guru yang tidak disukai.
Namun dapat dipastikan pada saat jam olahraga peserta didik selalu pergi ke
kantin dan seringkali secara sengaja terlambat masuk pada jam pelajaran
selanjutnya. Bahkan ada pula peserta didik yang pada saat jam pelajaran olahraga
sengaja tidak mengikuti dan berada di kantin. Hal tersebut terjadi ketika guru
olahraga kurang tegas dan disiplin seperti pak MAR (inisial dari nama
sebenarnya).

156

FIELD NOTE
Informan Pendukung 2
Informan pendukung kedua yang dipilih oleh peneliti adalah guru anggota
Satuan Tugas Pelaksana Kegiatan Kesisiwaan (STP2K). guru anggota Satuan
Tugas Pelaksana Kegiatan Kesisiwaan dipilih karena memiliki tugas melakukan
pengawasan terhadap tata tertib peserta didik. Anggota STP2K yang
diwawancarai adalah Ibu ON (inisial dari nama sebenarnya). Ibu ON merupakan
guru yang menjadi anggota Satuan Tugas Pelaksana Kegiatan Kesisiwaan
(STP2K), dimana beliau terkenal sebagai anggota STP2K yang tegas. Beliau
memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dan dalam kesehariannya mengenakan
hijab. Wawancara terhadap ibu ON dilakukan pada hari Kamis, 16 April 2015
yang dimulai pukul 08.30 WIB. Wawancara tersebut bertempat di SMA Negeri 6
Surakarta.
Menurut ibu ON STP2K memiliki tugas untuk melakukan kegiatan
pencegahan penindakan dan penangulangan terhadap segala bentuk pelanggaran
yang dilakukan oleh siswa terhadap aturan yang dilakukan oleh siswa terhadap
aturan yang serta mendampingi ekstrakurikuler. STP2K ini memiliki wewenang
untuk memberikan teguran, tindakan maupun skorsing terhadap peserta didik
yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Ibu ON menjelaskan
bahwa sosialisasi tata tertib dilakukan pada saat anak masuk pertama kali ke
sekolah biasanya diberi buku berupa tata terib sekolah supaya orang tua juga
lebih tau dan tindak lanjutnya biasanya sosialisasi lewat wali kelas.
Peserta didik cenderung takut kepada guru STP2K, terutama yang
dianggap galak ketika melakukan pelanggaran namun tidak demikian dengan
guru-guru lainnya, demikian pernyataan ibu ON:
Biasanya hubungan dengan peserta didik yang diwedeni yaa guru-guru
tertentu, misale guru STP2K yen guru liyane gak popo biasane seperti itu
mbak. Sebenarnya kami selaku tim STP2K mengajak semua guru untuk
berpartisipasi tidak dibebankan pada guru STP2K saja supaya anaknya
itu fokusnya aku kalau ketemu guru liyo gak popo neg ketemu guru STP2K
lagi.

157

Disamping itu disampaikan pula bahwa hubungan sesama peserta didik


dapat dikatakan cukup baik. Meskipun demikian ditambahkannya memang ada
beberapa masalah yang ditemui di dalam kelas, seperti halnya dikucilkan di
dalam kelasnya maupun dikerjain oleh teman-temannya. Memang hal demikian
terkadang menyebabkan mereka dapat berperilaku membolos, namun kami
semaksimal mungkin berusaha untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang
muncul.
Ibu ON menjelaskan bahwa tingak kedisiplinan di SMA Negeri Surkarta
tergolong sedang, dimana mereka belum memiliki kesadaran dari dalam diri
untuk berdisiplin. Dalam artian kondisi peserta didik ini beragam, ada yang
patuh terhadap peraturan ada pula yang melanggar peraturan. Di SMA Negeri 6
Surakrta peserta didik dianggap membolos apabila tidak masuk sekolah tanpa
adanya keterangan, dimana terkadang peserta didik menggunakan beberapa cara
untuk ngakali perilaku membolosnya. Demikian ungkapan ibu ON,
Kalau disini, yang namanya mbolos itu yaa tidak masuk tanpa
keterangan mbak. Mungkin kalau anak itu dikatakan mbolos berangkat
dari rumah tapi tidak sampai ke sekolah. Yaaa mungkin untuk membolos
kalau ngakalinya itu anak salah satu caranya mungkin seperti yang
dijelaskan mbake dengan membuat surat sendiri yang ditanda tangani
palsu, kalau kita kecolongan tidak ngecek / kroscek di rumahnya mungkin
yaa ada seperti itu. Kalau dia datang ke sekolah terus pulang itu bahasane
colut mbak.
Berdasarkan wawancara tersebut terlihat bahwa seringkali pihak sekolah
kecolongan karena kurang melakukan pengecekan terhadap keaslian surat ijin
yang diberikan oleh peserta didik. Beliau menjelaskan bahwa ketika peserta
didik dudah tidak masuk beberapa hari, maka pihak sekolah akan melakukan
kroscek kepada pihak keluarga untuk mengetahui alasan peserta didik
membolos. Selain itu Di SMA Negeri 6 Surakarta diperbolehkan menyusulkan
surat ketika tidak masuk sekolah, seperti pernyataan ibu ON berikut ini:
Bisa mbak kalau disini. Biasanya orang tua telepon ke kantor Tata Usaha
(TU), nanti TU menyambungkan ke piket surat menyusul seperti itu. Yaa
yang benarnya seperti itu, kita benar-benar tahu dari orang tua kalau
anak bener-bener sakit meskipun nanti surat menyusul. Ada yang tidak
telepon nanti surat menyusul diperbolehkan pula, jadi langsung lapor ke
BK nanti menulis di BK.

158

Meskipun demikian pada kenyataanya terkadang peserta didik tidak


menelepon terlebih dahulu ke TU, melainkan langsung menyusulkan surat ketika
masuk sekolah kepada petugas piket bukan BK.
Ibu ON menjelaskan bahwa untuk ijin keluar sekolah peserta didik
diharuskan menggunakan surat ijin meninggalkan pelajaran. Prosedur untuk
mendapatkan surat ijin tersebut peserta didik pergi ke ruang bimbingan konseling
(BK), menuliskan alasan meninggalkan sekolah. Kemudian peserta didik
mengambil 3 surat ijin tersebut, dimana 1 ditinggal di kelas, 1 untuk mengambil
motor di parkiran dan 1 dibawa peserta didik. Sebenarnya bila memungkinkan
peserta didik diharuskan kembali ke sekolah untuk kembali mengikuti proses
pembelajaran. Meskipun demikian terkadang peserta didik tidak kembali ke
sekolah untuk mengikuti proses pembelajaran dengan berbagai alasan. Beliau
menambahkan tanpa surat ijin tersebut peserta didik tidak dapat keluar sekolah
maupun mengambil kendaraan yang terparkir di dalam sekolah.
Terdapat beragam alasan yang menyebabkan peserta didik membolos.
Menurut ibu ON beberapa alasan yang menyebabkan peserta didik membolos
adalah masalah dalam keluarga maupun menghindari pelajaran. Demikian
ungkapan ibu ON,
Kalau alasan anak untuk membolos itu kan tergantung anaknya mbak,
biasanya anak tertentu yaa maaf mungkin anak itu kurang dalam
pelajaran kan biasanya bisa dititeni, mungkin karena banyak tugas dan
belum mengerjakan. Sok kadang ada masalah dalam keluarga, karena
kami pernah menemui anak karena ada masalah keluarga dia mbolos,
berangkat dari rumah tapi tidak sampai ke sekolah. Ada seperti itu mbak,
macem-macem alasannya.
Menurut ibu ON, peserta didik cenderung melihat dan mengikuti gaya
guru yang mengajar dikelasnya pada proses pembelajaran pada saat itu. Dalam
artian seringkali setelah istirahat peserta didik dengan sengaja mengulur-ulur
waktu untuk masuk ke kelas. Biasanya peserta didik ini niteni, apabila guru pada
proses pembelajaran saat itu cenderung tepat waktu mereka akan tepat waktu pula.
Sebaliknya apabila guru cenderung molor atau tidak tepat waktu peserta didik pun
akan demikian. Begitu pula ketika peserta didik colut ke kantin, mereka turut pula
memperhatikan guru yang mengajar pada saat itu. Apabila guru cenderung kurang

159

memperhatikan, dengan mudahnya peserta didik dapat keluar kelas pada proses
pembelajaran. Hal demikian seperti ungkapan ibu ON berikut ini,
Kami pun juga pernah menemui nggih yaa kami sedang duduk di meja
piket depan itu gurunya sedang mengajar dia ijin ke belakang tapi
ternyata pergi ke kantin, ada mbak yang seperti itu. Tindakan yang kami
lakukan biasanya menghampiri anak tersebut, kami tanya tadi kelar
alasannya apa kemudian kami kembalikan kepada guru yang mengajar di
kelas, nanti guru tersebut yang memberi sanksi.
Beliau menambahkan apabila peserta didik baru sebentar berada di kantin
pada saat proses pembelajaran, mereka akan di oyak-oyak agar segera kembali
ke kelas lagi. Menurutnya untuk peserta didik yang colut ke kantin pada saat
proses pembelajaran sistem penanganan yang dilakukan adalah melalui teguran.
Sedangkan untuk peserta didik yang membolos prosedur penanganan yang
digunakan adalah melalui kerjasama antara BK, STP2K dan kesiswaan.
Misalnya kalau anak tidak masuk beberapa hari dan misalnya perlu dilakukan
kunjungan ke rumah, biasanya BK dan wali kelas itu melakukan kunjungan
untuk nggenahke alasan peserta didik tidak masuk sekolah.
Meskipun telah dilakukan penanganan terhadap peserta didik yang
membolos, menurut ibu ON masih ditemui peserta didik yang masih mbandel
pula. Dalam artian walaupun telah diberi teguran, sanksi, panggilan dan visit
home masih tetap berperilaku tidak disiplin. Apabila terjadi hal demikian,
biasanya jalan satu-satunya adalah diminta mengundurkan diri karena sudah
tidak bisa diluruskan.
Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa mbolos merupakan
tidak masuk sekolah tanpa keterangan, sedangkan colut berarti datang ke sekolah
kemudian meninggalkan proses pembelajaran yang sedang berjalan. Terdapat
beragam alasan yang menyebabkan peserta didik membolos, seperti belum
mengerjakan tugas ataupun memiliki masalah dalam keluarga. Peserta didik
cenderung merasa takut kepada guru STP2K, khusunya pada saat mereka
melakukan pelanggaran, namun tidak demikian dengan guru yang bukan anggota
STP2K.

160

FIELD NOTE
Informan Pendukung 3
Informan pendukung ketiga yang dipilih oleh peniliti adalah guru
Bimbingan Konseling (BK). Guru BK dipilih sebagai informan karena memiliki
tugas untuk melakukan bimbingan dan konseling kepada peserta didik, termasuk
penanganan terhadap peserta didik yang berperilaku membolos. Dalam penelitian
ini peneliti melakukan wawancara dengan ibu END. Wawancara bertempat di
kantor Bimbingan Konseling gedung utara dan dilakukan pada hari Selasa, 17
Maret 2015.
Membolos menurut ibu END adalah perbuatan yang salah karena
melanggar tata tertib sekolah. Selain itu membolos akan membawa kerugian bagi
peserta didik itu sendiri. Ibu END menjelaskan ada beberapa peserta didik yang
harus dikembalikan kepada orang tua maupun tinggal kelas akibat seringkali
berperilaku membolos. Disamping itu membolos disebabkan pula oleh faktor
keluarga, dimana terkadang keluarga kurang memperhatikan anak dan antara
kedua orang tua memiliki perbedaan pandangan dalam mendidik anak. Hal
demikian seperti ungkapan ibu END berikut ini,
Saya pernah menemui anak itu entah kurang perhatian atau gimana.
Ternyata ada perbedaan soal mendidik anak dari bapak dan ibu, sang
bapak ingin anaknya di didik disiplin seperti dirinya namun tidak
demikian dengan ibunya. Akhirnya anak ini malah sering membolos mbak,
pernah pula menggunakan surat palsu
Meskipun demikian menurut ibu END tidak semua siswa yang memiliki
masalah dalam keluarganya berperilaku membolos. Beliau pernah pula menemui
siswa yang orang tuanya memiliki masalah, namun ia tetap rajin sekolah. Menurut
bu END, peserta didik ini seringkali mendatangi BK untuk menceritakan
masalahnya dan pada akhirnya dapat lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Bagi bu END, siswa ini mampu memisahkan masalah keluarga dengan
sekolahnya.
Ibu END bercerita bahwa beliau pernah pula menemui peserta didik yang
pada akhirnya ketahuan menggunakan surat ijin palsu. Pada awalnya ibu END
tidak mencurigai apabila surat yang digunakan tersebut palsu walaupun peserta

161

didik tersebut seringkali tidak masuk sekolah, namun setelah mendapat laporan
dari wali kelas dan melakukan pengecekan barulah diketahui jika surat yang
digunakan merupakan buatan sendiri. Demikian ungkapan ibu END,
Pertama kan ada surta ijinny dari ibunya jadi tulisanya memang hampir
persis, terus tanda tangannya kemudian anak ini kok sering tidak masuk
membuat surat ijin. Saya lihat kok tulisannya sama yaudah saya masukan
itu, saya arsip. Kemudian wali kelasnya itu bilang bu anak ini lo kok
sering tidak masuk tapi ada surat ijinnya, mbok tulong di cek lagi. Setelah
say cek, saya cocokne ternyata ada bedanya, tanda tangannya sedikit
berbeda, tulisannya juga ada perbedaanya. Ternyata anak itu memang
kredit pointnya dulu kan maksimal 70, sudah 80 keatas itu, sudah
maksimal terus saya buatkan surat panggilan itu saya panggil kesini
datang kesini kemudian dirapatkan karena pointnya sudah memenuhi
syarat mau dikembalikan kepada orang tua. tapi bapak anak ini merasa
keberatan dan meminta untuk diberi kesempatan.
Bu END menjelaskan bahwa dalam penanganan peserta didik yang
berperilaku membolos (mbolos) dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.
prosedur tersebut mulai dari pengarahan hingga pengembalian kepada orang tua
apabila tidak dapat diluruskan lagi. Hal ini seperti hasil wawancara berikut ini:
Dalam menangani peserta didik yang membolos biasanya akan dipanggil
ke BK terlebih dahulu mbak untuk diberikan pengarahan dan motivasi.
Jika masih membolos akan diberikan surat panggilan orang tua / wali
melalui siswa. Namun jika tidak disampaikan, kemudian pihak sekolah
akan melakukan kunjungan / mengirimkan surat panggilan tersebut via
pos. Selanjutnya peserta didik diminta membuat surat pernyataan diatas
materai dan diberi kesempatan hingga akhir semester.
Menurutnya tidak semua peserta didik yang berperilaku membolos jera
setelah mendapatkan penanganan. Terkadang peserta didik yang terlalu ndableg
harus dikembalikan kepada orang tua maupun tidak dinaikkan kelas karena
setelah diberi kesempatan tidak mengubah perilakunya. Beliau menambahkan
kondisi siswa memang beragam, ada siswa yang diingatkan langsung berubah
namun ada pula siswa yang berkali-kali diingatkan tapi tidak mebgubah
perilakunya.
Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa membolos
merupakan perbuatan yang salah karena melanggar tata tertib sekolah. Peserta
didik yang berperilaku membolos umumnya memperoleh penanganan sesuai
dengan prosedur yang berlaku di sekolah.

162

HASIL OBSERVASI
Observasi Strong Family
Observasi dilakukan peneliti pada hari Sabtu, 04 April 2015. Strong family
merupakan toko yang beralamat di jalan Merapi Utara II, Cengklik, Nusukan,
Banjarsari Surakarta. Toko ini merupakan toko kelontong yang menyediakan
berbagai kebutuhan masyarakat seperti : kebutuhan pokok, perlengkapan rumah
tangga hingga aneka makanan dan minuman ringan. Strong Family berada di
tengah pemukiman padat penduduk dan letaknya cukup jauh dari jalan besar.
Toko ini buka setiap hari dan kerap kali digunakan peserta untuk menghabiskan
waktunya ketika membolos. Pada pukul 07.00 peneliti beberapa kali melintas di
depan toko Strong Family dan melihat belasan peserta didik berseragam yang
nongkrong di emperan toko. Mereka duduk bergerombol bersama dengan temantemnanya sambil merokok.
Pada pukul 10.30 peneliti kembali melakukan observasi bersama dengan
seorang informan yang bernama EM. Kebetulan pada hari itu EM membolos
sekolah dengan alasan bangun kesiangan, sehingga peneliti meminta bantuan
kepada EM untuk menemani melakukan observasi di Strong Family. Sesampainya
di Strong Family peneliti dan EM memarkir motor dan kemudian memasuki toko
untuk membeli sejumlah minuman ringan. Selanjutnya peneliti bersama EM
mencari tempat duduk yang dianggap nyaman. Berdasarkan informasi yang
peneliti peroleh dari EM, toko Strong Family pada sekitar pukul 10.00 biasanya di
dominasi oleh peserta didik SMP sedangkan sekitar pukul 12.00 didominasi oleh
peserta didik usia SMA. EM menceritakan bahwa semakin siang Strong Family
akan semakin ramai dipenuhi oleh peserta didik.
Pada saat peneliti berada di Strong Family, disana memang ditemukan
banyak peserta didik yang membolos. Peserta didik tersebut beragam, mulai dari
Usia SD, SMP, hingga SMA. Mereka mengenakan seragam sekolah maupun
pakaian bebas. Namun mayoritas mengenakan pakaian bebas, kalaupun
berseragam kebanyakan ditutupi mengenakan jaket. Banyak hal yang peserta
didik lakukan di tempat tersebut, seperti halnya : bercada bersama teman,
bernyanyi, mendengarkan musik, bermain hp dan merokok. Selain itu banyak hal

163

yang mereka bicarakan, mulai dari masalah motor, masalah sekolah, masalah
pacar, masalah uang sekolah yang tidak dibayarkan hingga cara untuk
memperoleh uang. Selain itu ada pula peserta didik yang menjadikan Strong
Family sebagai tempat untuk menunggu jemputan temannya. Pada saat itu peneliti
melihat melihat 2 orang peserta didik menjemput seorang temannya, dan
kemudian dengan menggunakan 1 sepeda motor mereka meninggalkan tempat
tersebut.
Seperti yang dikatakan informan, semakin siang Strong Family semakin
rame dipenuhi oleh peserta didik. Sekitar pukul 11.30 peneliti melihat 3 peserta
didik usia SD dimana 2 orang berseragam dan 1 berpakaian bebas datang ke
Strong Family. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam toko untuk membeli
rokok, kemudian mereka duduk di emperan toko sambil merokok. Mayoritas
peserta didik datang ke Strong Family untuk membeli rokok, jarang sekali yang
hanya membeli makanan ringan. Setiap kali keluar dari toko Strong Family
mereka selalu membawa rokok untuk kemudian di rokok di emperan toko. Strong
Family memang menjual rokok baik bugkusan maupun eceran, namun
kebanyakan peserta didik membeli rokok secara eceran. Peserta didik dari
berbagai usia dengan mudahnya memperoleh rokok, bahkan anak usia SD pun
dapat dengan gampang untuk memperolehnya.
Di depan Strong Family terdapat pemukiman warga yang juga dipenuhi
oleh peserta didik yang membolos sekolah. Mereka mondar-mandir ke Strong
Family untuk membeli makanan / minuman ringan dan rokok. Di pemukiman
tersebut mereka terlihat asyik mengobrol bersama dengan teman-temannya. Pada
pukul 12.00 peneliti memutuskan untuk meninggalkan toko Strong Family.
Peneliti kembali melakukan observasi pada hari Senin, 06 April 2015.
Observasi dilakukan pada pukul 10-00 12.00 WIB. Pada saat itu terdapat peserta
didik jenjang SMA, SMP dan SD. Mereka ada yang berseragam, berseragam
dengan ditutupi jaket dan mengenakan pakaian bebas. Mayoritas peserta didik
yang baru datang ke Strong Family ini langsung memasuki toko untuk membeli
rokok dan makanan / minuman, kemudian mereka akan nongkrong di emperan
toko tersebut. Di emperan tersebut mereka bercanda tawa, mengobrol berbagai hal

164

sambil merokok. Berdasarkan pembicaraan yang peneliti dengar, peserta didik


yang tengah mengerombol tersebut membicarakan tentang bagaimana cara yang
tepat untuk memperoleh uang secepatnya. Kemudian peserta didik yang
membutuhkan uang tersebut berencana untuk menjual helm INK berwarna pink
beserta handphone nya. Dari pembicaraan diantara peserta didik diketahui pula
jika mereka terbiasa membolos, merokok bahkan mabuk.

Observasi Warung Mbak Yanti


Observasi peneliti lakukan pada tanggal 4 April 2015. Warung mbak Yanti
merupakan warung makan yang terletak di depan SMA Negeri 6 Surakarta.
Berdasarkan informasi dari informan yang ditemui peneliti, warung mbak Yanti
merupakan tempat yang digunakan peserta didik untuk menitipkan sepeda motor.
Pada saat itu terdapat 4 buah sepeda motor yang terparkir di depan warung.
Setelah ditanyakan kepada mbak Yanti sepeda motor tersebut adalah kendaraan
peserta didik SMA Negeri 6 Surakarta. Di SMA Negeri 6 Surakarta sendiri telah
menyediakan lahan parkir bagi kendaraan peserta didik, namun beberapa peserta
didik memilih untuk menitipkan motornya di warung apabila telah berencana
untuk colut, seperti yang disampaikan oleh informan EW. Hal tersebut dilakukan
untuk memudahkan ketika hendak colut, karena letaknya yang tidak jauh dari
sekolah. Pada pukul 07.20 peneliti melihat 2 orang peserta didik keluar dari
sekolah untuk foto copy. Hal tersebut memperlihatkan betapa leluasanya peserta
didik untuk keluar sekolah.

Observasi di SMA Negeri 6 Surakarta


Peneliti melakukan beberapa kali observasi untuk mengumpulkan data.
Observasi pertama dilakukan pada hari Selasa tanggal 10 Februari 2015. Pada
waktu itu sekitar pukul 07.30 peneliti sampai di depan sekolah, kemudian peneliti
memilih warung mbak Yanti sebagai tempat untuk melakukan obsevasi dari luar
sekolah. Pada saat itu gerbang sekolah tidak ditutup, padahal terdapat kebijakan
setelah bel jam pelajaran pertama berbunyi maka gerbang akan ditutup dan akan
dibuka kembali pada jam pelajaran ke-2. Pada saat itu terdapat guru dan peserta

165

didik yang terlambat datang ke sekolah. Dimana terdapat 5 guru serta 2 peserta
didik yang terlambat datang ke sekolah. 1 peserta didik berjalan kaki dan memilih
masuk ke sekolah sedangkan 1 peserta didik lainnya menggunakan sepeda motor
dan memilih untuk pulang. Peserta didik bersepeda motor tersebut memasuki
gerbang sekolah pada pukul 07.00, dimana ia mengenakan helm, jaket dan
masker. Namun beberapa menit kemudian tanpa sempat memarkirkan motornya ia
keluar gerbang sekolah dengan kecepatan yang lumayan tinggi, dalam artian
memilih kembali pulang karena terlambat. Pada saat itu ia terlambat sekitar 30
menit, padahal batas tolerasi keterlambatan di SMA Negeri 6 Surakarta adalah 5
menit. Berdasarkan observasi ini peneliti dapat menyimpulkan jika kebijakan
tutup gerbang SMA Negeri 6 Surakarta belum dijalankan secara maksimal serta
terdapat 2 pilihan bagi peserta didik ketika terlambat yakni masuk sekolah seperti
peserta didik yang berjalan kaki tadi maupun membolos seperti yang dilakukan
peserta didik bersepeda motor.
Observasi kedua di lakukan penelit pada hari Kamis, tanggal 26 Februari
2015. Observasi kali ini dilakukan di dalam lingkungan sekolah. Pada hari itu
peneliti tengah mengurus kelengkapan surat-menyurat di SMA Negeri 6 Surakarta
dan peneliti menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan observasi. Pada
pukul 09.15 peneliti melakukan observasi di kantin sekolah, dan peneliti
mendapati informan CAL dan temannya baru keluar dari kantin. Peneliti bertanya
pada CAL, kok gak masuk? Ini baru mau masuk, jawab CAL sambil tertawa. Pada
waktu itu bukanlah jam istirahat, karena jam istirahat pertama di SMA Negeri 6
Surakarta adalah pukul 09.30 09.45. Dalam hal ini berarti CAL dan temannya
berada di kantin pada saat jam pelajaran. Mereka terlambat mengikuti pelajaran
selama 30 menit.
Observasi ketiga dilakukan pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2013. Pada
saat itu peneliti berada di sekolah untuk melakukan wawancara dengan guru BK.
Setelah wawancara selesai, peneliti berkeliling sekolah untuk melakukan
observasi. Peneliti menemukan beberapa peserta didik tengah berada di kantin
utara pada saat jam pembelajaran. Peserta didik tersebut mayoritas kelas X,

166

dimana letak kelas X ini cendrung jauh dari kantin utara. Mereka tengah asyik
makan bersama kala itu.
Observasi ke empat dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 5 April 2015.
Sekitar pukul 12.10 peneliti sampai di SMA Negeri 6 Surakarta. peneiti tiba di
saat peserta didik tengah istirahat ke-2. Pada waktu itu peneliti mendapati banyak
peserta didik yang keluar sekolah untuk jajan. Padahal dalam tata tertib siswa bab
I pasal 6, tepatnya poin 2b dijelskan bahwa peserta didik dilarang jajan di luar
lingkungan sekolah. Namun pada kenyataanya peserta didik begitu leluasa untuk
keluar sekolah, bahkan peneliti mendapati 2 peserta didik laki-laki keluar gerbang
sekolah sambil membawa tasnya. Kemungkinan kedua peserta didik tersebut akan
colut dari sekolah.

167

DOKUMENTASI

Kendaraan peserta didik yang di titipkan di warung depan sekolah sebagai salah satu
strategi untuk memudahkan colut ke luar lingkungan sekolah

Salah satu bentuk perilaku membolos,


peserta didik colut di kantin

Peserta didik menghabiskan jajan di


depan kelas pada saat proses
pembelajaran

168

Peserta didik memasuki toko untuk membeli


rokok pada saat membolos

peserta didik ngrokok dan menghabiskan


waktu bersama di emperan toko Strong
Family

Tempat favorit peserta didik untuk mbolos ma


maupun colut

Peserta didik yang menghabiskan waktu


di emperan toko pada saat membolos

169

170

171

172

173