Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Definisi Pantai
Dalam Triatmodjo (1999) ada dua istilah tentang kepantaian yaitu pesisir (coast) dan
pantai (shore). Berdasarkan pada gambar dapat dijelaskan mengenai beberapa definisi tentang
kepantaian.

Gambar kawasan pantai

1. Pesisir adalah daerah darat di tepi laut yang masih mendapat pengaruh laut, seperti
pasang surut, angin laut dan perembesan air laut.
2. Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air
surut terendah.
3. Daratan adalah daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan dimulai
dari batas garis pasang tertinggi.
4. Lautan adalah daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari
sisi laut pada garis surut terendah, termasuk dasar laut dan bagian bumi dibawahnya.
5. Garis pantai adalah garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana posisinya
tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai
yang terjadi.
6. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat
penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai
adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya sesuai dengan bentuk dan kondisi fisik
pantai, minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah daratan.

Selain definisi di atas, beberapa definisi yang berkaitan dengan karakteristik gelombang
di daerah sekitar pantai juga perlu diketahui. Gelombang yang merambat dari laut dalam menuju
pantai mengalami perubahan bentuk karena pengaruh perubahan kedalaman laut. Berkurangnya
kedalaman laut menyebabkan semakin berkurangnya panjang gelombang dan bertambahnya
tinggi gelombang.
Pada saat gelombang (perbandingan antara tinggi dan panjang gelombang) mencapai
batas maksimum, gelombang akan pecah. Untuk penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar Bagian Bagian Pantai

a) Garis gelombang pecah merupakan batas perubahan perilaku gelombang dan juga
transpor sedimen pantai.
b) Offshore adalah daerah dari garis gelombang pecah ke arah laut.
c) Breaker zone (daerah gelombang pecah) adalah daerah di mana gelombang yang
datang dari laut (lepas pantai) mencapai ketidak-stabilan dan akhirnya pecah.
d) Surf zone adalah daerah yang terbentang antara bagian dalam dari gelombang pecah
dan batas naik-turunnya gelombang di pantai.
e) Swash zone adalah daerah yang dibatasi oleh garis batas tertinggi naiknya gelombang
dan batas terendah turunya gelombang di pantai.
f)

Inshore adalah daerah yang membentang ke arah laut dari foreshore sampai tepat di
luar breaker zone.

g) Longshore bar yaitu gumuk pasir yang memanjang dan kira-kira sejajar dengan garis
pantai. Longshore bar terbentuk karena proses gelombang pecah di daerah inshore.
2

h) Foreshore adalah daerah yang terbentang dari garis pantai pada saat muka air rendah
sampai batas atas dari uprush pada saat air pasang tinggi.
i) Backshore adalah daerah yang dibatasi oleh foreshore dan garis pantai yang terbentuk
pada saat terjadi gelombang badai bersamaan dengan muka air tinggi.
1.2 Angin
Sirkulasi udara yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi disebut angin. Angin
terjadi karena perbedaan tekanan udara, sehingga udara mengalir dari tempat yang bertekanan
tinggi menuju daerah yang bertekanan rendah.
1.3 Fetch
Fetch adalah daerah dimana kecepatan dan arah angin adalah konstan. Arah angin masih
bisa dianggap konstan apabila perubahanperubahannya tidak lebih dari 15 . Sedangkan
kecepatan angin masih dianggap konstan jika perubahannya tidak lebih dari 5 knot (2,5
meter/detik) terhadap kecepatan rerata. Di dalam tinjauan pembangkitan gelombang di laut, fetch
dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Di daerah pembentukan gelombang,
gelombang tidak hanya dibangkitkan dalamarah yang sama dengan arah angin tetapi juga dalam
berbagai sudut terhadap arah angin (Triadmodjo, 1999).
Fetch rerata efektif diberikan oleh persamaan berikut (dalam Triatmodjo, 1999) :

dimana:
Feff

= fetch rerata efektif (kilometer)

Xi

= panjang segmen fetch yang diukur dari titik observasi gelombang ke ujung akhir
fetch (km)

= deviasi pada kedua sisi dari arah angin, dengan menggunakan pertambahan 6
sampai sudut sebesar 42 pada kedua sisi dari arah angin.

1.4 Gelombang
Gelombang merupakan faktor penting di dalam perencanaan bangunan pantai dan
pelabuhan. Gelombang dapat terjadi karena angin, pasang surut, gangguan buatan seperti
gerakan kapal dan gempa bumi. Pengaruh gelombang terhadap perencanaan bangunan pantai dan
pelabuhan antara lain :
1. Besar kecilnya gelombang sangat menentukan dimensi dan kedalaman bangunan
pemecah gelombang.

Gelombang menimbulkan gaya tambahan yang harus diterima oleh kapal dan

bangunan dermaga.
2. Besarnya gelombang laut tergantung dari beberapa faktor, yaitu :
o Kecepatan angin.
o Lamanya angin bertiup.
o Kedalaman laut dan luasnya perairan.
3. Dalam Triatmodjo (1996), gelombang di laut menurut gaya pembangkitnya dapat

1.4.1

dibedakan antara lain sebagai berikut :


Gelombang angin
Gelombang pasang surut
Gelombang tsunami
Gelombang karena pergerakan kapal
Karakteristik Gelombang
Teori yang paling sederhana adalah teori gelombang linier atau teori gelombang

amplitudo kecil, yang pertama kali dikemukakan oleh Airy pada tahun 1845 (dalam
Triatmodjo,1999), dimana :
Cepat rambat gelombang :

Hubungan cepat rambat dan panjang gelombang dirumuskan sebagai berikut :

1.4.2

Klasifikasi Gelombang Menurut Kedalaman Relatif


Berdasarkan kedalaman relatif, yaitu perbandingan antara kedalaman air (d) dan panjang

gelombang (L), (d/L), gelombang dapat diklasifikasikan menjadi 3macam, yaitu :

Klasifikasi ini dilakukan untuk menyederhanakan rumus rumus gelombang.


Apabila kedalaman relatif d/L adalah lebih besar dari 0,5 dan nilai tanh

= 1,0,

sehingga :

Indeks ( 0 ) menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut adalah untuk kondisi di laut dalam.
Apabila percepatan gravitasi (g) adalah 9,81 m/s, maka :
C0 = 1,56 T
L0 = 1,56 T

C = gd
L = gdT = CT

Untuk kondisi gelombang di laut transisi, yaitu 1/20 < d/L <1/2, cepat rambat dan
panjang gelombang dihitung akan didapat :

Apabila kedua ruas dari persamaan 2.10 dikalikan dengan d/L maka akan didapat :

1.4.3

Deformasi Gelombang
Apabila suatu deretan gelombang bergerak menuju pantai, gelombang tersebut akan

mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses refraksi dan pendangkalan
gelombang, difraksi, refleksi dan gelombang pecah (dalam Triatmodjo, 1999).
a. Gelombang Laut Dalam Ekivalen
Analisis transformasi gelombang sering dilakukan dengan konsep gelombang laut dalam
ekivalen, yaitu tinggi gelombang di laut dalam apabila gelombang tidak mengalami refraksi.
Tinggi gelombang laut dalam ekivalen menurut Triatmodjo (1999) diberikan oleh bentuk (dalam
Triatmodjo, 1999) :
Ho = K. Kr . Ho
Dimana :
H o = tinggi gelombang laut dalam ekivalen
Ho = tinggi gelombang laut dalam
K = koefisien difraksi
Kr = koefisien refraksi
Konsep tinggi gelombang laut dalam ekivalen ini digunakan dalam analisis gelombang
pecah, limpasan gelombang dan proses lain.

b. Refraksi Gelombang
Refraksi terjadi karena pengaruh perubahan kedalaman laut. Didaerah dimana kedalaman
air lebih besar dari setengah panjang gelombang, yaitu di laut dalam, gelombang menjalar tanpa
dipengaruhi dasar laut. Tetapi di laut transisi dan dangkal, dasar laut mempengaruhi gelombang.
Di daerah ini, apabila ditinjau suatu garis puncak gelombang, bagian dari puncak gelombang
yang berada di air yang lebih dangkal akan menjalar dengan kecepatan yang lebih kecil daripada
bagian di air yang lebih dalam. Akibatnya garis puncak gelombang akan membelok dan berusaha
untuk sejajar dengan garis kontur dasar laut. Garis ortogonal gelombang, yaitu garis yang tegak
lurus dengan garis puncak gelombang dan menunjukkan arah penjalaran gelombang juga akan
membelok dan berusaha untuk menuju tegak lurus dengan garis kontur dasar laut (Triatmodjo,
1999).

Gambar Refraksi Gelombang

Gambar Refraksi Gelombang Arah Sejajar

Proses refraksi gelombang adalah sama dengan refraksi cahaya karena cahaya melintasi
dua media perantara yang berbeda. Dengan kesamaan tersebut, maka pemakaian hukum Snell
pada optik dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah refraksi gelombang karena perubahan
kedalaman (Triatmodjo, 1999).
Pada gambar di yang ada dilampiran, suatu deretan gelombang menjalar dari laut dengan
kedalaman d1 menuju kedalaman d2. Karena adanya perubahan kedalaman maka cepat rambat
dan panjang gelombang berkurang dari C1 dan L1 menjadi C2 dan L2. Sesuai hukum Snell,
berlaku (dalam Triatmodjo, 1999) :

dimana :
1

= sudut antara garis puncak gelombang dengan kontur dasar dimana gelombang melintas

= sudut yang sama yang diukur saat garis puncak gelombang melintasi kontur dasar
berikutnya

C1

= kecepatan gelombang pada kedalaman di kontur pertama

C2

= kecepatan gelombang pada kedalaman di kontur kedua


Sehingga koefisien refraksi adalah ( dalam Triatmodjo, 1999 ) :

dimana :
Kr

= koefisien refraksi

= sudut antara garis puncak gelombang dengan kontur dasar dimana gelombang melintas

= sudut yang sama yang diukur saat garis puncak gelombang melintasi kontur
dasar berikutnya
c. Difraksi Gelombang
Apabila gelombang datang terhalang oleh suatu rintangan seperti pemecah gelombang

atau pulau, maka gelombang tersebut akan membelok di sekitar ujung rintangan dan masuk di
daerah terlindung dibelakangnya, seperti terlihat dalam gambar dibawah ini. Fenomena ini
dikenal dengan difraksi gelombang.
8

Dalam difraksi gelombang ini terjadi transfer energi dalam arah tegak lurus penjalaran
gelombang menuju daerah terlindung. Seperti terlihat dalam gambar dibawah ini, apabila tidak
terjadi difraksi gelombang, daerah di belakang rintangan akan tenang. Tetapi karena adanya
proses difraksi maka daerah tersebut terpengaruh oleh gelombang datang. Transfer energi ke
daerah terlindung menyebabkan terbentuknya gelombang di daerah tersebut, meskipun tidak
sebesar gelombang diluar daerah terlindung (Triatmodjo, 1999).
d. Refleksi Gelombang
Gelombang datang yang mengenai / membentur suatu rintangan akan dipantulkan
sebagian atau seluruhnya. Tinjauan refleksi gelombang penting di dalam perencanaan bangunan
pantai, terutama pada bangunan pelabuhan. Refleksi gelombang di dalam pelabuhan akan
menyebabkan ketidaktenangan di dalam perairan pelabuhan. Untuk mendapatkan ketenangan di
kolam pelabuhan, maka bangunanbangunan yang ada di pelabuhan harus dapat menyerap/
menghancurkan energi gelombang. Suatu bangunan yang mempunyai sisi miring dan terbuat dari
tumpukan batu akan bisa menyerap energi gelombang lebih banyak dibanding dengan bangunan
tegak dan masif. Pada bangunan vertikal, halus dan dinding tidak permeable, gelombang akan
dipantulkan seluruhnya (dalam Triatmodjo, 1999).
Besar kemampuan suatu bangunan memantulkan gelombang diberikan oleh koefisien
refleksi, yaitu perbandingan antara tinggi gelombang refleksi Hr dan tinggi gelombang datang
Hi (dalam Triatmodjo, 1999):

Koefisien refleksi bangunan diperkirakan berdasarkan tes model. Koefisien refleksi


berbagai tipe bangunan disajikan dalam tabel berikut ini (dalam Triatmodjo, 1999) :

Dinding vertikal dan tak permeable memantulkan sebagian besar gelombang. Pada
bangunan seperti itu koefisien refleksi adalah X=1, dan tinggi gelombang yang dipantulkan sama
dengan tinggi gelombang datang. Gelombang di depan dinding vertikal merupakan superposisi
dari kedua gelombang dengan periode, tinggi dan angka gelombang yang sama tetapi berlawanan
arah.
Apabila refleksi adalah sempurna X=1 maka (dalam Triatmodjo, 1999):
= Hi cos kx cos t
e. Gelombang Pecah
Gelombang yang menjalar dari laut dalam menuju pantai mengalami perubahan bentuk
karena adanya pengaruh perubahan kedalaman laut. Pengaruh kedalaman laut mulai terasa pada
kedalaman lebih kecil dari setengah kali panjang gelombang. Di laut dalam, profil gelombang
adalah sinusoidal, semakin menuju keperairan yang lebih dangkal, puncak gelombang semakin
tajam dan lembah gelombang semakin datar. Selain itu, kecepatan dan panjang gelombang
berkurang secara berangsur-angsur sementara tinggi gelombang bertambah.
Gelombang pecah dipengaruhi oleh kemiringannya, yaitu perbandingan antara tinggi dan
panjang gelombang. Kemiringan yang lebih tajam dari batas maksimum menyebabkan kecepatan
partikel di puncak gelombang lebih besar dari kecepatan rambat gelombang, sehingga terjadi
ketidak-stabilan dan pecah (dalam Triatmodjo, 1999).
Apabila gelombang bergerak menuju laut dangkal, kemiringan batas tersebut tergantung
pada kedalaman relatif d/L dan kemiringan dasar laut m. Gelombang dari laut dalam yang
bergerak menuju pantai akan bertambah kemiringannya sampaiakhirnya tidak stabil dan pecah
pada kedalaman tertentu, yang disebut dengan kedalaman gelombang (db), sedangkan tinggi
gelombang pecah diberi notasi Hb. Munk (1949), dalam Coastal Engineering Research Center
(CERC, 1984) memberikan persamaan untuk menentukan tinggi dan kedalaman gelombang
pecah sebagai berikut (dalam Triatmodjo, 1999):

Parameter Hb/Ho` disebut dengan indeks tinggi gelombang pecah.


10

Persamaan diatas tidak memberikan pengaruh kemiringan dasar laut terhadap gelombang
pecah. Beberapa peneliti lain (Iversen, Galvin, Goda : dalam CERC, 1984) membuktikan bahwa
Hb/Ho` dan db/Hb tergantung pada kemiringan pantai dan kemiringan gelombang datang. Untuk
menunjukkan hubungan antara Hb/Ho` dan Ho/Lo` untuk berbagai kemiringan dasar laut, dibuat
grafik penentuan tinggi gelombang pecah. Sedangkan untuk menunjukkan hubungan antara
db/Hb dan Hb/gT2 untuk berbagai kemiringan dasar laut dibuat grafik penentuan kedalaman
gelombang pecah. Untuk menghitung tinggi dan kedalaman gelombang pecah pada kedalaman
tertentu, disarankan menggunakan kedua jenis grafik tersebut daripada menggunakan.
Grafik yang diberikan dalam gambar dapat ditulis dalam bentuk berikut :

Dimana a dan b merupakan fungsi kemiringan pantai m dan diberikan oleh persamaan
berikut :

dimana :
Hb

: tinggi gelombang pecah

Ho

: tinggi gelombang laut dalam ekivalen

Lo

: panjang gelombang di laut dalam

db

: kedalaman air pada saat gelombang pecah

: kemiringan dasar laut

: percepatan gravitasi

: periode gelombang

11

BAB II
FLUKTUASI MUKA AIR LAUT

2.1 FLUKTUASI MUKA AIR LAUT


Menurut Triatmodjo (1999) elevasi muka air merupakan parameter sangat penting di
dalam perencanaan bangunan pantai. Muka air laut berfluktuasi dengan periode yang lebih besar
dari periode gelombang angin Fluktuasi muka air laut yang disebabkan oleh proses alam
diantaranya adalah:
a.Tsunami
b. Kenaikan muka air karena gelombang (wave set up)
c.Kenaikan muka air karena angin (wind set up)
d. Pemanasan global
e.Pasang surut
Di antara beberapa proses tersebut, fluktuasi muka air karena tsunami dan badai tidak
dapat diprediksi.
a. Tsunami
Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di
laut. Gelombang yang terjadi bervariasi dari 0,5 meter sampai 30 meter dan periode dari
beberapa menit sampai sekitar satu jam. Berbeda dengan gelombang (angin) yang hanya
menggerakkan air laut bagian atas, pada tsunami seluruh kolom air dari permukaan sampai dasar
bergerak dalam segala arah. Cepat rambat gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut.
Semakin besar kedalaman semakin besar kecepatan rambatnya. Di lokasi pembentukan tsunami
(daerah episentrum gempa) tinggi gelombang tsunami diperkirakan antara 1,0 meter sampai 2,0
meter. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai, tinggi
gelombang menjadi semakin besar karena pengaruh perubahan kedalaman laut.
Setelah sampai di pantai gelombang naik (run up) ke daratan dengan kecepatan tinggi
yang bisa menghancurkan kehidupan di daerah pantai. Kembalinya air laut setelah mencapai
12

puncak gelombang (run down) bisa menyeret segala sesuatu kembali ke laut. Gelombang
tsunami dapat menimbulkan bencana di daerah yang sangat jauh dari pusat terbentuknya.
Sebagai contoh, gelombang tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau si Selat
Sunda pada tahun 1883, pengaruhnya menjalar sampai ke pantai timur Afrika. Bencana yang
ditimbulkan adalah 36.000 jiwa tewas, terutama di pantai Sumatera dan Jawa yang berbatasan
dengan Selat Sunda (dalam Triatmodjo, 1999).
b. Kenaikkan muka air karena gelombang (wave set up)
Gelombang yang datang dari laut menuju pantai menyebabkan fluktuasi muka air di
daerah pantai terhadap muka air diam. Pada waktu gelombang pecah akan terjadi penurunan
elevasi muka air rerata terhadap elevasi muka air diam di sekitar lokasi gelombang pecah.
Kemudian dari titik dimana gelombang pecah permukaan air rerata miring ke atas ke arah pantai.
Turunnya muka air tersebut dikenal dengan wave set down, sedangkan naiknya muka air disebut
wave set up.

Wave set up di pantai dapat dihitung dengan menggunakan teori Longuet-Higgins dan
Stewart (1963, dalam CERC, 1984). Besar wave set down di daerah gelombang pecah diberikan
oleh :

dimana :
Sb

: set down di daerah gelombang pecah

: periode gelombang

H0

: tinggi gelombang laut dalam ekivalen

db

: kedalaman gelombang pecah


13

: percepatan gravitasi

Wave set up di pantai diberikan oleh bentuk :

c. Kenaikan muka air karena angin (wind set up)


Angin dengan kecepatan besar (badai) yang terjadi di atas permukaan laut bisa
membangkitkan fluktuasi muka air laut yang besar di sepanjang pantai jika badai tersebut cukup
kuat dan daerah pantai dangkal dan luas. Penentuan elevasi muka air rencana selama terjadinya
badai adalah sangat kompleks yang melibatkan interaksi antara angin dan air, perbedaan tekanan
atmosfer dan beberapa parameter lainnya.
Perbedaan tekanan atmosfer selalu berkaitan dengan perubahan arah dan kecepatan
angin; dan angin tersebut yang menyebabkan fluktuasi muka air laut. Gelombang badai biasanya
terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan proses alam lainnya seperti pasang surut. Besarnya
kenaikan muka air karena badai dapat diketahui dengan memisahkan hasil pengukuran muka air
laut selama terjadi badai dengan fluktuasi muka air laut karena pasang surut.
Kenaikan elevasi muka air karena badai dapat dihitung dengan persamaan berikut :

dimana :
h

: kenaikan elevasi muka air karena badai (m)

: panjang fetch (m)

: kemiringan muka air

: konstanta = 3,5 x 10-6

: kecepatan angin (m/d)

: kedalaman air (m)

: percepatan gravitasi (m/d2)


14

Di dalam memperhitungkan wind set up di daerah pantai dianggap bahwa laut dibatasi
oleh sisi (pantai) yang impermeabel, dan hitungan dilakukan untuk kondisi dalam arah tegak
lurus pantai. Apabila arah angin dan fetch membentuk sudut terhadap garis pantai, maka yang
diperhitungkan adalah komponen tegak lurus pantai.
d. Pemanasan Global
Peningkatan konsentrasi gasgas rumah kaca di atmosfir menyebabkan kenaikkan suhu
bumi sehingga mengakibatkan kenaikkan muka air laut. Di dalam perencanaan bangunan pantai,
kenaikan muka air karena pemanasan global harus diperhitungkan karena memberikan perkiraan
besarnya kenaikan muka air laut dari tahun 1990 sampai 2100 (gambar 2.18), gambar tersebut
berdasarkan anggapan bahwa suhu bumi meningkat seperti yang terjadi saat ini tanpa adanya
tindakan untuk mengatasinya (dalam Triatmodjo, 1999).

e. Pasang Surut
Definisi pasang surut adalah suatu gerakan naik turunnya permukaan air laut, dimana
amplitudo dan fasenya berhubungan langsung terhadap gaya geofisika yang periodik, yakni gaya
yang ditimbulkan oleh gerak reguler benda benda angkasa, terutama bulan bumi matahari.
Tipe pasang surut dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) bentuk dasar berdasarkan pada nilai
Formzahl, F yang diperoleh dari persamaan :

dimana :
F

= nilai formzahl
15

K1 dan O1

= konstanta pasang surut harian utama

M2 dan S2

= konstanta pasang surut ganda utama

1. Pasang surut ganda (semi diurnal tides) : F 0,25


2. Pasang surut campuran : 0,25 < F 3,00
- Pasang surut campuran dominan ganda (mixed dominant semi diurnal) untuk 0,25 <
F 0,50; dan
-

Pasang surut campuran dominan tunggal (mixed dominant diurnal) untuk 0,50 < F
3,00

3. Pasang surut diurnal : F > 3,00

Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya
tarik benda-benda langit yaitu matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Tinggi pasang
surut adalah amplitudo total dari variasi muka air tertinggi (puncak air pasang) dan muka air
terendah (lembah air surut) yang berurutan. Periode pasang surut adalah waktu yang diperlukan
dari posisi muka air pada muka air rerata ke posisi yang sama berikutnya. Dalam Triatmodjo
(1996), ada beberapa tipe pasang surut. Secara umum pasang surut di berbagai daerah di
Indonesia dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide), yaitu pasang yang memiliki sifat dalam satu
hari terjadi dua kali pasang dan juga dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang
surut terjadi berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit.
Pasang surut jenis ini terdapat di Selat Malaka sampai Laut Andaman.

16

2. Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide), yaitu tipe pasang surut yang apabila dalam satu
hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit.
Pasang surut tipe ini terjadi di perairan Selat Karimata.
3. Pasang surut campuran condong ke harian ganda (Mixed Tide Prevailling Semidiurnal), yaitu
pasang surut yang dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, tetapi tinggi dan
periodenya berbeda. Pasang surut jenis ini banyak terdapat di parairan Indonesia Timur.
4. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Mixed Tide Prevealling Diurnal), yaitu
dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang untuk sementara
waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.
Pasang surut jenis ini terdapat di Selat Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.

Elevasi muka air laut selalu berubah setiap saat, maka diperlukan suatu elevasi yang
ditetapkan berdasar data pasang surut, yang dapat digunakan sebagai pedoman di dalam
perencanaan suatu pelabuhan. Beberapa elevasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. MHHWL : Mean Highest High Water Level, tinggi rata-rata dari air tinggi yang terjadi
pada pasang surut purnama atau bulan mati (spring tides).
2. MLLWL : Mean Lowest Low Water Level, tinggi rata-rata dari air rendah yang terjadi
pada pasang surut pasang surut purnama atau bulan mati (spring tides).
3. MHWL : Mean High Water Level, tinggi rata-rata dari air tinggi selama periode 19,6
tahun.
4. MLWL : Mean Low Water Level, tinggi air rata-rata dari air rendah selama 18,6 tahun.
5. MSL : Mean Sea Level, tinggi rata-rata dari muka air laut pada setiap tahap pasang surut
selama periode 18,6 tahun, biasanya ditentukan dari pembacaan jam-jaman.
17

6. HWL : High Water Level (High Tide), elevasi maksimum yang dicapai oleh tiap air
pasang.
7. HHWL : Highest High Water Level, air tertinggi pada saat pasang surut purnama atau
bulan mati (spring tides).
8. LWL : Low Water Level (Low Tide), elevasi minimum yang dicapai oleh tiap air surut.
9. LLWL : Lowest Low Water Level, air terendah pada saat pasang surut bulan purnama atau
bulan mati (spring tides).
Beberapa definisi muka air tersebut banyak digunakan dalam perencanaan bangunan
pantai dan pelabuhan seperti kedalaman kolam pelabuhan dan kedalaman alur pelayaran
diperhitungkan terhadap keadaan surut terendah (LLWL), draft kapal serta kelonggaran bawah.
Elevasi lantai dermaga, elevasi puncak pemecah gelombang diperhitungkan terhadap keadaan
pasang yang tinggi (MHWL), disamping faktorfaktor yang lain seperti kenaikan air (water set
up). Di dalam perencanaan pelabuhan diperlukan data pengamatan pasang surut minimal 15 hari
yang digunakan untuk menentukan elevasi muka air rencana. Berikut ini contoh kurva pasang
surut.
f. Elevasi Muka Air Laut Rencana
Elevasi muka air laut merupakan parameter sangat penting di dalam perencanaan
bangunan pantai. Elevasi tersebut merupakan penjumlahan dari beberapa parameter seperti
pasang surut, tsunami, wave setup, wind setup, dan kenaikan muka air karena perubahan suhu
global. Pasang surut merupakan faktor terpenting di dalam menentukan elevasi muka air rencana.
Penetapan berdasar MHWL atau HHWL tergantung pada kepentingan bangunan yang
direncanakan.
2.2 Peramalan Garis pantai
Penyesuaian bentuk pantai merupakan tanggapan yang dinamis alami pantai terhadap
laut. Proses dinamis pantai sangat dipengaruhi oleh littoral transport, yang didefinisikan sebagai
gerak sedimen di daerah dekat pantai (nearshore zone) oleh gelombang dan arus. Littoral
transport dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu transpor sepanjang pantai (longshore
transport) dan transpor tegak lurus pantai (onshore-offshore transport). Material pasir yang

18

ditranspor disebut dengan littoral drift. Transpor tegak lurus pantai terutama ditentukan oleh
kemiringan gelombang, ukuran sedimen dan kemiringan pantai.
Pada umumnya gelombang dengan kemiringan besar menggerakkan material ke arah laut
(abrasi), dan gelombang kecil dengan periode panjang menggerakkan material ke arah darat
(akresi). Bentuk profil pantai sangat dipengaruhi oleh serangan gelombang, sifat-sifat sedimen
seperti rapat massa dan tahanan terhadap erosi, ukuran dan bentuk partikel, kondisi gelombang
dan arus, serta bathimetri pantai.
2.3 Bentuk Pantai
Pantai bisa terbentuk dari material dasar berupa lumpur, pasir, atau kerikil (gravel).
Kemiringan dasar pantai tergantung pada bentuk dan ukuran material dasar. Pada pantai kerikil
kemiringan pantai bisa mencapai 1:4, pantai pasir mempunyai kemiringan 1:20 - 1:50 dan untuk
pantai berlumpur mempunyai kemiringan sangat kecil mencapai 1:5000.
Pantai berlumpur terjadi di daerah pantai dimana terdapat banyak muara sungai yang
membawa sedimen suspensi dalam jumlah besar ke laut. Selain itu kondisi gelombang di pantai
tersebut relatif tenang sehingga tidak mampu membawa sedimen tersebut ke perairan dalam laut
lepas.

Suhu permukaan bumi secara global telah mengalami kenaikan sekitar 0,74

C antara

awal dan akhir abad ke-20. Perubahan ini berpengaruh besar terhadap iklim bumi. Kenaikan
suhu ini mengakibatkan dua hal utama yang terjadi di lapisan atmosfer paling bawah, yaitu
fluktuasi curah hujan yang tinggi dan kenaikan muka air laut. Pada pertengahan abad ke-20,
penyebaran panas menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 2,5 cm. Berdasarkan
pengukuran yang dilakukan sejak 1993-2003, lajupeningkatan permukaan air laut rata-rata
adalah 3,1 mm/tahun (Bindoff et. al., 2007).
Naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global, mengakibatkan garis pantai
melebar dan terjadi erosi. Erosi air laut secara terus-menerus oleh gelombang laut dan arus laut

19

merusak dinding pantai. Dampak dari erosi pantai ini adalah menipisnya lapisan permukaan
tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnya kemampuan lahan (degradasi lahan).
Metode penanggulangan erosi pantai adalah dengan membuat struktur pelindung pantai,
dimana struktur tersebut berfungsi sebagai peredam energi gelombang pada lokasi tertentu.
Struktur pelindung pantai terbaik untuk pengelolaan dan perlindungan garis pantai adalah dengan
cara membuat situasi dimana garis pantai berorientasi secara paralel terhadap garis puncak
gelombang datang, sehingga meminimalkan angkutan sedimen transport sepanjang pantai dan
menciptakan pola pantai yang setimbang.
Kerusakan serta longsornya tanah di daratan pinggiran pantai serta menjadikan bangunan
yang berada di daerah pantai tetap aman dan stabil, meskipun naiknya permukaan air laut oleh
pemanasan global dapat dihindari, yaitu dengan membuat struktur pelindung pantai.
2.4 Kondisi Hidraulis
Kondisi gelombang sangat bergantung pada fitur batimetri lepas pantai sebagai batas
daratan, pulau lepas pantai dan kedalaman air. Gelombang ini dapat diciptakan oleh angin lokal
(keadaan laut) atau gelombang besar dan karakteristiknya berubah sesuai dengan perambatannya
pada air dangkal. Iklim gelombang di area dekat pantai ditentukan oleh iklim gelombang lepas
pantai.
Data angin untuk prediksi gelombang secara normal didapat melalui cara observasi
langsung melalui fetch (daerah pembentukan gelombang) yang diasumsikan memiliki kecepatan
dan arah angin yang relative konstan dari pengamatan di darat. Arah dan kecepatan maksimum
angin harian akan digunakan untuk memprediksi tinggi dan perioda gelombang maksimum yang
dapat dibangkitkan angin dalam perioda ulang waktu tertentu. Dalam tulisan ini penghitungan
gelombang (yang dibangkitkan angin) dilakukan dengan cara hindcasting berdasarkan formulasi
yang tersusun di dalam buku Shore Protection Manual, Departement of The Army, Coastal
Engineering Reseach Center (1984).

20

Prinsip dasar metode ini adalah mengestimasi tinggi dan perioda gelombang yang
dihitung dari data angin dan fetch efektif dengan menggunakan metoda empiris, tinggi dan
perioda gelombang. Dalam perhitungan ini digunakan kecepatan angin maksimum, yang
dimaksudkan untuk menganalisis kondisi-kondisi ekstrim dari gelombang. Arah angin
dinyatakan dari arah datangnya angin. Hal ini diperlakukan sama terhadap gelombang, dimana
gelombang dinyatakan dari arah datangnya gelombang.
Tinggi gelombang merupakan tinggi gelombang lepas pantai. Sebelum mencapai pantai,
gelombang tersebut mengalami proses refraksi (perubahan arah gelombang) dan shoaling
(perubahan panjang dan tinggi gelombang). Selain itu, gelombang tersebut pada kedalaman
tertentu mengalami fase pecah gelombang sebelum mencapai pantai, sehingga gelombang di
pantai lebih kecil dari pada gelombang di lepas pantai. Untuk keperluan perencanaan dapat
digunakan formula tinggi gelombang pecah.
Pasang surut merupakan fenomena fisika oseanografi yang perlu dipelajari dalam upaya
memahami pola sirkulasi massa air laut. Parameter pasang surut ini umumnya menentukan
gerakan air dalam periode tengah harian sampai harian, tergantung pada tipe pasang surut yang
terjadi pada perairan tersebut. Observasi pasut jangka panjang (~30 tahun) dapat memberikan
data yang sangat reliabel dan akurat untuk fluktuasi permukaan air termasuk bulanan, musiman
dan variasi tahunan.
Data pasut yang kurang akurat dapat terjadi dalam pengumpulan set konstituen pasut dari
Tabel Pasut Indonesia (ITT), database IHO atau Admiralty Tide Tables (ATT). Namun, pasut ini
hanya terdiri dari konstituen utama yang berkontribusi terhadap sinyal pasut dan hanya tersedia
untuk lokasi tertentu seperti pelabuhan utama dan kota-kota besar yang terletak di sepanjang
pantai. Umumnya, fluktuasi musiman dan tahunan dari sinyal pasut tidak dapat diderivasi
tersendiri dari konstituen ini.
Selanjutnya dengan melakukan levelling pengikatan nol pelskal terhadap patok BM
pengukuran topografi diperoleh elevasi pasang surut. Gambar pengikatan nol pelskal seperti pada
Gambar 2. Hasil pengamatan pengukuran pasang surut digunakan juga untuk menentukan elevasi
21

muka air HHWL (Highest High Water Level), MSL (Mean Sea Level) dan LLWL (Lowest Low
Water Level). Berdasarkan data hasil pengamatan, dibuat peramalan karakteristik tinggi muka air
di lokasi pantai Bengkulu dengan elevasi seperti pada Tabel .
Tabel Karakteristik Elevasi Muka Air
Kondisi Muka Air
Highest High Water Level (HHWL)
Mean High Water Spring (MHWS)
Mean High Water Neap (MHWN)
Mean Sea Level (MSL)
Mean Low Water Neap (MLWN)
Mean Low Water Spring (MLWS)
Lowest Low Water Level (LLWL)

Elevasi (m)
2,2966
1,8911
0,8025
0
-0,8121
-1,1410
-1,6540

Elevasi muka air laut rencana merupakan parameter sangat penting di dalam perencanaan
struktur pelindung pantai. Elevasi tersebut merupakan penjumlahan dari beberapa parameter,
seperti tinggi run-up, tinggi kebebasan, dan tinggi muka air laut tertinggi, serta kenaikan muka
air karena perubahan suhu global. Gelombang dominan dari kedalaman di Pantai bengkulu
muncul dari arah Selatan untuk periode ulang 25 tahun dan tingginya adalah 5,52 meter. Untuk
mendapatkan nilai tinggi gelombang (H) desain untuk kondisi di daerah bibir pantai dengan
kondisi gelombang sudah pecah adalah

dan panjang gelombang ( 0 L ) di lokasi struktur pelindung pantai adalah

dimana d adalah tinggi air laut rata-rata dan T adalah perioda ulang gelombang.Tinggi rayapan
gelombang untuk menentukan nilai run-up gelombang diperoleh dengan menggunakan rumus
Irribaren:

Dimana adalah sudut kemiringan sisi struktur pelindung pantai (1:2).


Dengan menggunakan grafik run-up gelombang diperoleh:

22

Nilai run-up gelombang ( u R ) yang digunakan adalah 1,4 meter. Kemudian menentukan elevasi
muka air rencana sebagai berikut:
Elevasi puncak HHWL R Tinggi jagaan 4,00 meter atau + 4,00 (MSL, mean sea level) dimana
HHWL adalah muka air tertinggi (highest high water level) = 2,3 meter, dan tinggi jagaan atau
freeboard adalah 0,3 meter.

BAB III
MANFAAT DAN KERUGIAN YANG DITIMBULKAN
3.1 Manfaat dan Kerugian
23

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global telah mengakibatkan
ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang dekat dengan permukaan bumi.
Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan
ditimbulkan oleh industri-industri. Gas-gas rumah kaca yang meningkat ini menimbulkan efek
pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat panas (inframerah) yang
diemisikan oleh permukaan bumi kembali ke permukaan bumi.
Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata
temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim. Perubahan temperatur global ini
ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun
2005.
Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad
sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.16.4oC.

Gambar Perubahan di Indonesia untuk tahun 1950-2100


(Susandi,2004)

Perubahan temperatur atmosfer menyebabkan kondisi fisis atmosfer kian tak stabil dan
menimbulkan terjadinya anomali-anomali terhadap parameter cuaca yang berlangsung lama.
Dalam jangka panjang anomali-anomali parameter cuaca tersebut akan menyebabkan terjadinya
perubahan iklim.
Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim tersebut diantaranya adalah :
Semakin banyak penyakit (Tifus, Malaria, Demam, dll.)
Meningkatnya frekuensi bencana alam/cuaca ekstrim (tanah longsor, banjir, kekeringan, badai
tropis, dll.)
24

Mengancam ketersediaan air


Mengakibatkan pergeseran musim dan perubahan pola hujan
Menurunkan produktivitas pertanian
Peningkatan temperatur akan mengakibatkan kebakaran hutan
Mengancam biodiversitas dan keanekaragaman hayati
Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan infrastruktur di daerah
pantai
Terdapat dua dampak yang menjadi isu utama berkenaan dengan perubahan iklim, yaitu
fluktuasi curah hujan yang tinggi dan kenaikan muka laut yang menyebabkan tergenangnya air di
wilayah daratan dekat pantai. Dampak lain yang diakibatkan oleh naiknya muka laut adalah erosi
pantai, berkurangnya salinitas air laut, menurunnya kualitas air permukaan, dan meningkatnya
resiko banjir

Gambar Kenaikan Muka Air Laut Banjarmasin Tahun 2010

25

Gambar Kenaikan Muka Air Laut Banjarmasin Tahun 2050

Gambar Kenaikan Muka Air Laut Banjarmasin Tahun 2100

Ketiga gambar tersebut di atas, yaitu Gambar yang menunjukkan genangan air yang
diakibatkan oleh kenaikan muka laut hingga tahun 2100. Beberapa kecamatan di Banjarmasin
mengalami dampak dari kenaikan muka laut tersebut. Diantaranya adalah kecamatan
Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Utara, Banjarmasin Barat, dan Banjarmasin Selatan.

26

Daratan yang hilang karena terendam air dapat dilihat melalui Tabel berikut:
Luas daratan Banjarmasin yang hilang karena kenaikan
muka laut Tahun

Luas daratan yang


hilang (km2)

2010
2050
2100

0.530
1.039
2.581

Daratan Banjarmasin yang hilang karena kenaikan muka laut menurut proyeksi yang
dilakukan akan berdampak juga pada beberapa sektor perekonomian di Banjarmasin. Estimasi
dampak sosial dan ekonomi yang terjadi sebagai akibat dari genangan air di Banjarmasin adalah :
Terganggunya lalu lintas jalan raya.
Munculnya genangan-genangan air di wilayah perkotaan.
Berkurangnya lahan-lahan produktif di sektor pertanian.

Bekunya

aktifitas-aktifitas

industri

dan

bisnis

diakibatkan

kerusakan/terganggunya

infrastruktur-infrastruktur.
Hasil perhitungan proyeksi kerugian ekonomi dari ditunjukkan dalam tabel berikut:
Proyeksi Kerugian Ekonomi dari Lahan
akibat Kenaikan Muka Laut di Banjarmasin
Tahun

Luas Areal yang


Tergenang
(km2)

Kerugian
Ekonomi dari
Lahan
(106$)

2010
2050
2100

0.530
1.039
2.581

0.03
0.14
0.69

Dari Tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2100 dengan luas daerah yang tergenang
sebesar 2.581 km2 kerugian ekonomi lahan diproyeksikan mencapai 0.69 juta dollar. Selain
kerugian ekonomi lahan, tergenangnya lahan akibat kenaikan muka laut juga akan menyebabkan
banyaknya pengungsian dari daerah sekitar sungai. Diperkirakan sebanyak 40.720 jiwa
penduduk Banjarmasin harus diungsikan ke daerah yang lebih tinggi.
Proyeksi Jumlah Pengungsi akibat Kenaikan
Muka Laut Tahun
2010
2050
2100
27

Kepadatan
Penduduk
Rata-Rata
9,670
13,002
15,602

Pengungsi
5,125
13,509
40,270

BAB IV
PENUTUP
4.1 SARAN
Berkenaan dengan proyeksi kenaikan muka laut, telah dilakukan penelitian sebelumnya,
yaitu proyeksi kenaikan muka laut untuk wilayah Indonesia. Hasil proyeksi tersebut
menunjukkan wilayah Indonesia mengalami kehilangan daratan-daratan akibat kenaikan muka
laut. Jika diambil hasil proyeksi untuk tahun 2010, 2050, dan 2100 dengan luas daratan yang
hilang secara berturut-turut seluas 7408 km2, 30120 km2, dan 90260 km2 (Susandi, dkk., 2008),
maka sekitar 0.03% luas daratan yang hilang tersebut adalah bagian dari daratan Banjarmasin.
Daratan yang hilang di wilayah Banjarmasin ini diakibatkan karena sungai Barito yang
mengalir di antara Kota Kalimantan dan Kabupaten Barito Kuala mendapatkan massa air kiriman
dari laut Jawa. Permukaan sungai Barito menjadi naik sebagai akibat kenaikan muka laut di laut
Jawa karena perubahan iklim. Banjir yang terjadi disebabkan karena daratan Banjarmasin yang
rendah, sehingga permukaan air sungai Barito yang lebih tinggi menyebabkan meluapnya air ke
daratan.
4.2 kesimpulan
Beberapa kesimpulan penting dalam kajian proyeksi kenaikan muka laut di Banjarmasin adalah
sebagai berikut :

Kenaikan muka laut diproyeksikan akan terjadi di wilayah Kalimantan Selatan,


terutama Banjarmasin dan sekitarnya sebagai implikasi dari perubahan iklim.

Akibat yang ditimbulkan dari kenaikan muka laut tersebut akan berdampak pada
kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya.

Beberapa infrastruktur yang menjadi media pembangunan ekonomi di wilayah


Banjarmasin dan sekitarnya akan mengalami kerusakan dan kerugian dari bencana
tersebut yang tidak dapat dihindari jika kenaikan muka laut terus berlanjut.

28

Tindakan adaptasi dan mitigasi perlu segera dilakukan untuk mengurangi dampak
kenaikan muka laut di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.

Beberapa kegiatan adaptasi yang dapat dilakukan di Banjarmasin adalah pembuatan


tanggul di pinggir Sungai Barito, relokasi penduduk di sekitar sungai ke daerah
yang lebih tinggi serta pembangunan rumah panggung.

29