Anda di halaman 1dari 12

`PORTOFOLIO

No. ID dan Nama Peserta : dr. Ruly Rahmatillah


No. ID dan Nama Wahana : RSUD Ibnu Sina Gresik
Topik :Ilmu Bedah
Tanggal Kasus : 28 februari 2014
Nama Pasien : Ny. Syukoinah
No. RM :559161
Tanggal Presentasi :
Pendamping: dr. Lisa Puspitorini, Sp.S
Tempat presentasi :
Obyektif Presentasi : Ca Mammae
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Pasien dengan permasalahan Ca Mammae
Tujuan : Mengetahui pemeriksaan, diagnostik, dan tatalaksana pasien diabetik Nefropati
Bahan bahasan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas
Diskusi
Presentasi&
E-mail
Pos
diskusi
Data Pasien

Nama : Tn. Syukoinah/ 50 th

Alamat: jl. Sunan giri gresik


Nama Klinik :RSUD IBNU SINA
Telp.
Data Utama untuk bahan diskusi
1. Keluhan Utama (Subjective) : ada benjolan di payudara kiri
Anamnesis (Autoanamnesis)

No. Registrasi : 559161


Terdaftar sejak: 2013

Pasien datang dengan keluhan utama terdapat benjolan pada payudara kiri yang
semakin lama semakin besar. Pasien mulai merasa ada benjolan kurang lebih sejak 1 tahun
yang lalu, namun baru memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter. Benjolan tidak
terasa nyeri. Benjolan terasa keras dan tidak pernah memerah.pasien menyangkal adanya
cairan yang keluar dari putting baik spontan maupun saat dilakukan penekanan. Pasien juga
merasa badannya semakin kurus dan nafsu makan menurun.

2. Riwayat Penyakit Dahulu:


- Diabetes Mellitus (-)
- Hipertensi (-)
- Riwayat Alergi (obat/debu/makanan) disangkal
- Tumor jinak sebelumnya (-)
3. Riwayat Pengobatan:
- Pasien tidak pernah melakukan pengobatan sebelumnya
4. Riwayat keluarga :
Penyakit Keturunan : DM (+), HT (+), Asma (-), Tumor (-)
Lain-lain : Endemic Goiter (-), Penyakit Jantung (-), CVA (-)
5. Riwayat Psikososial :
Riwayat Pendidikan: Pendidikan lulusan SD
Riwayat Sosial: berkepribadian terbuka tetapi semenjak sakit menjadi sedikit tertutup

6. Riwayat Pekerjaan : wiraswata


7. Pemeriksaan Fisik (Objective)
KEADAAN UMUM
KU : cukup

Kesadaran : compos mentis

TD : 120/70 mmHg
BB : 50 kg

N : 96 x/menit

RR : 20x/menit

Tax: 36.7 0C

TB : 150 cm

Suara bicara normal


Kulit : turgor (N), tonus (N),
KEPALA DAN LEHER
Mata : edema palpebra (-), konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-), pupil bulat isokor
Telinga : secret (-)
Hidung : pendarahan (-), secret (-)
Mulut : sianosis (-), atrofi papil lidah (-)
Leher : bentuk normal, pembesaran KGB (-), trakea di tengah, distensi vena jugularis (-)
THORAX
Bentuk simetris , retraksi ()
Payudara normal, tumor (-)
Pembesaran kelenjar axilla (-)
PARU
Inspeksi : Bentuk simetris, pergerakan simetris
Palpasi : Fremitus raba simetris, nyeri (-)
Perkursi

: Suara ketok sonor di semua area D/S, nyeri ketok (-)

Auskultasi : Suara nafas vesikuler di semua area D/S, Rh -/- , Wh -/JANTUNG


Tekanan vena sentral : Tidak didapatkan distensi vena jugular eksterna
Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak
Palpasi: Ictus cordis teraba di ICS V mid-clavicular line sinistra, pulsasi teraba di apeks.
Perkusi: Batas kanan jantung

di sternal line dextra, batas kiri jantung di ICS V mid-

clavicularline sinistra
Auskultasi :S1 normal; S2 normal, single, murmur (-), Gallop (-)
ABDOMEN
Inspeki : Flat, kulit kering
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi

: Soefl, nyeri tekan epigastrium (-), hepar/lien tidak teraba, ginjal tidak teraba

Perkusi : Shifting dullness (-), nyeri ketok pinggang (-)


INGUINAL GENETALIA ANUS
Deformitas (-), hernia (-), tumor (-), pembesaran KGB (-), secret (-), hemorrhoid (-)

EKSTRIMITAS ATAS DAN BAWAH


Kulit : Hangat, kering, CRT<2,edema (-) kedua tungkai bawah
Sendi, Jari, Kuku : deformitas (-), koilonichia (-), tophus (-)
Tulang belakang : Kifosis (-), scoliosis (-)
Status lokalis:
Payudara tidak simetris, kiri lebih besar, tampak benjolan pada payudara kiri dengan ukuran 6
cm, konsistensi padat, melekat pada dasar. Jumlah 1 berbentuk bulat. Puting mengalami
retraksi.
Terdapat pembesaran KGB infrasupkapsuler pada aksila sinistra

Laboratorium:
Darah Lengkap
Lab

Nilai

Leukosit

6.500

/l

Hemoglobin

gr/dl

Hematokrit

21.0

MCV

82

fl

MCH

28

pg

HBSAg

negative

MCHC

35

gr/dl

Gol darah

Trombosit

193.000

/l

GDA

102

mg/dl

Foto Thorax : Tidak ditemukan kelainan, foto dalam batas normal


Biopsi: hapusan menunjukkan sebaran dan kelompok sel epiductal anaplastik, sel bulat
polygonal, inti pleumorfik, sitoplasma tipis.

Assesment:
Ca Mammae sinistra susp Ganas Stadium IIIA T3N2Mo
Terapi: Direncanakan dilakukan simple mastectomy dengan radiasi dan kemoterapi adjuvant

Daftar pustaka

1.
2.
3.
4.

Henry M.M, Thompson J.N. 2007. Breast Disease. Clinical Surgery.


Second edition. Elsevier. p 453
Jatoi I, Kaufmann M, Petit J.Y. 2006. Diagnostic Procedures. In: Schroder
G, ed. Atlas of Breast Surgery. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
p 19-21
Jatoi I, Kaufmann M, Petit J.Y. 2006. Surgery for Breast Carcinoma. In:
Schroder G, ed. Atlas of Breast Surgery. Berlin: Springer-Verlag Berlin
Heidelberg. 67, 81-82
Kirby I.B. 2006. The Breast. In: Brunicardi F.C et all, ed. Schwartzs
Principles of Surgery. Eight edition. New York: McGraw-Hill Books
Company.

Hasil Pembelajaran
1.

Definisi Ca Mammae

2.

Epidemiologi Ca Mammae

3.

Gambaran Klinik Ca Mammae

4.

Diagnosa Ca Mammae

5.

Pemeriksaan penunjang Ca Mammae

6.

Penatalaksanaan Ca Mammae

7.

Prognosis Ca Mammae

PEMBAHASAN

Kanker payudara merupakan kanker yang sering terjadi pada negara berkembang,
yaitu sekitar 18% dari seluruh kelompok kanker. Insidensi di negara Inggris yaitu 2 : 1000
wanita tiap tahun, dengan prevalensi yaitu 2% wanita pada umur 50 tahun. Kurva insidensi
Ca mammae menurut usia terus meningkat sejak usia 30 tahun. Ca mammae jarang sekali
ditemukan pada usia kurang dari 20 tahun. (Henry M dkk, 2007).

Prevalensi Carcinoma mammae (Henry M dkk, 2007).


Etiologi
Etiologi Ca mammae masih belum diketahui secara pasti, namun penyebabnya
sangat mungkin multi faktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain, antara lain:

Usia: Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Risiko
terbesar
ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun
Pernah menderita kanker payudara: Harvey dan Brinton mengemukakan wanita
dengan riwayat Ca mammae primer mempunyai resiko 3 sampai 4 kali lebih besar
untuk timbulnya Ca mammae kontralateral. Resiko timbulnya Ca mammae primer
kedua pada mammae kontralateral meninggi pada wanita yang mempunyai riwayat
penyakit yang sama dalam keluarga. Wanita yang pernah menderita kanker in situ
atau kanker invasif memiliki risiko tertinggi untuk menderita kanker payudara.
Setelah payudara yang terkena diangkat, maka risiko terjadinya kanker pada
payudara yang sehat meningkat sebesar 0,5-1%/tahun.
Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. Wanita yang ibu, saudara
perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk
menderita kanker payudara.
Hormonal: WHO menyatakan bahwa tidak terdapat peningkatan maupun
penurunan insidens Ca mammae yang berhubungan dengan penggunaan
kotrasepsi injeksi seperti depot-medroxyprogesterone acetate (DMPA). Berdasarkan
beberapa penelitian, didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan esterogen sebagai
terapi penganti hormon (Hormone Replacement Therapy = HRT) pada wanita
perimenopause dan post menopause sedikit meningkatkan resiko Ca mammae.
Resiko meningkat jika pada wanita yang menerima Estrogen Hormon Replacement
Therapy tersebut sebelumnya pernah menderita kelainan benigna pada mammaenya.
Faktor diet: The Committee on Diet, Nutrition, and Cancer of The National Academy
of Sciences menyimpulkan adanya hubungan sebab akibat antara makanan
berlemak dan insiden dari Ca mammae. Makanan yang berlemak tinggi dapat
meningkatkan resiko Ca mammae dua kali lipat.
Pernah menderita penyakit payudara non-kanker: Risiko menderita kanker payudara
agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker
yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluran air susu dan terjadinya kelainan
struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik).

Menarche (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun.


Menyusui dan Menopause: Dahulu dikatakan bahwa wanita yang menyusui untuk
waktu lama (lebih dari 6 bulan selama hidupnya) mempunyai resiko yang lebih
rendah untuk menderita Ca mammae dibandingkan wanita yang tidak menyusui.
Namun saat ini pendapat itu tidak lagi disetujui.
Obesitas: Obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara masih diperdebatkan.
Radiasi: Wanita yang tetap hidup setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki dan
pernah menjalani pengobatan dengan radiasi dosis tinggi untuk akut postpartum
mastitis, dan yang pernah menjalani pemeriksaan fluoroscopy thorax untuk
pengobatan TBC paru, mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita Ca mammae.
Exposure multiple dengan dosis yang relative kecil beresiko sama dengan exposure
tunggal dosis besar.
Paritas dan Fertilitas: Wanita yang infertil dan nullipara mempunyai kemungkinan
30-70 % lebih tinggi untuk menderita Ca mammae dibandingkan dengan multipara.

Staging Ca Mammae

Sumber: (Harris J.R dkk, 2000)


Histopatologis Ca Mammae
1. Carcinoma In Situ
Lobular Carcinoma In Situ (LCIS)
Lobular Carcinoma In Situ (LCIS) berasal dari ductus lobular terminal dan hanya
berkembang pada payudara wanita. LCIS dikarakteristik dengan distensi dan distorsi ductus
lobular terminal oleh sel kanker, dimana membesar namun dengan ratio nucleus dan
sitoplasma yang normal. Gambaran mikroskopis dan makroskopis Ca lobularis invasif sering
tidak dapat dibedakan dengan adenocarcinoma konvensional, variable prognosis dan
survival rate-nya juga hampir sama. Insidensi Ca lobularis belum pasti. Diduga Ca lobularis
in situ merupakan 3 % dari seluruh tumor mammae, sedangkan jenis infiltratif-nya
merupakan 10 % dari semua Ca mammae (Schwartzs, 2006).

Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)


Secara histologis, DCIS dikarakteristik sebagai proliferasi epitel, menghasilkan
pertumbuhan papilla dari ductus lumina. Pada awal perkembangan, sel kanker tidak
menunjukkan pleomorphism, mitosis, atau atipia, yang memungkinkan sulitnya
membedakan antara DCIS dengan hiperplasia jinak mammae. Sel-sel mempunyai sifat
mikroskopik keganasan, tetapi tidak menginvasi membrane basalis epitel duktus. Jika
dibiarkan tanpa diterapi, selalu timbul adenokarsinoma invasive, walaupun waktu untuk
perkembangan neoplasma invasive itu bias diukur dalam tahun atau dasawarsa (Schwartzs,
2006).
2. Carcinoma Mammae Invasive
Secara umum kanker memiliki prognosis yang buruk. Foote dan Stewart membagi
klasifikasi carcinoma mammae invasive, yaitu:
a) Paget's disease of the nipple:
Paget disease of the nipple adalah invasi dermis papilla mammae oleh
carcinoma ductal, berupa suatu lesi kronis pada areola dan nipple dengan erupsi
eczematoid, krusta, bersisik, dan hiperemis. Tumor primernya dapat tidak teraba
pada palpasi dan erosi atau krusta sering terkacaukan dengan dermatitis. Angka
kejadiannya adalah sekitar 2 % dari seluruh Ca mammae dan hampir selalu timbul
bersama-sama dengan Ca ductal atau invasive. Gejalanya berupa nyeri, gatal,
panas dan kadang berdarah. Penting sekali untuk dilakukan biopsi papilla mammae.
Penyakit paget harus diterapi sebagai carcinoma ductal invasive, biasanya masih
pada stadium 1.
b) Invasive ductal carcinoma
A. Adenocarcinoma with productive fibrosisn(Infiltrating adenocarcinoma with
productive fibrosis)
Neoplasma ini mewakili 75-78 % carcinoma mammae invasive dan disertai
dengan desmoplasia dan fibrosis. Tersering timbul pada wanita usia
perimenopause atau postmenopause (decade VI) sebagai suatu massa soliter,
tidak nyeri, konsistensi keras, berbatas tidak tegas. Carcinoma ini menginfiltrasi
kulit secara diffuse dengan keterlibatan ligamentum Cooper yang menghasilkan
peau dorange atau edema kulit yang luas.
B. Medullary carcinoma 4%
C. Mucinous (colloid) carcinoma 2%
D. Papillary carcinoma 2%
E. Tubular carcinoma (and ICC) 2%
c) Invasive lobular carcinoma 10%
d) Rare cancers (adenoid cystic, squamous cell, apocrine)
Diagnosis
Inspeksi
Ahli bedah akan melakukan inspeksi pada payudara wanita. Simetri, ukuran dan bentuk
payudara dinilai, adanya edema (peau dorange), retraksi papilla mammae, eritema
(Schwartzs, 2006).

Gambar: Inspeksi dan Palpasi mammae (Schwartz, 2006)


Palpasi
Sebagai bagian dari pemeriksaan fisik, payudara dipalpasi secara hati-hati.
Pemeriksaan pasien dalam posisi berbaring merupakan posisi yang terbaik. Ahli bedah akan
melakukan palpasi secara lembut dari sisi ipsilateral, memeriksa seluruh kuadran payudara
dari sternum bagian lateral sampai m. Latissimus dorsi, dan dari clavicula inferior sampai
rectus bagian atas. Secara sistematis mencari pembesaran KGB (Schwartz, 2006).
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pada penyakit yang terlokalisasi tidak didapatkan kelainan hasil pemeriksaan
laboratorium. Kenaikan kadar alkali fosfatase serum dapat menujukkan adanya metastasis
pada hepar. Pada keganasan yang lanjut dapat terjadi hiperkalemia. Pemeriksaan
laboratorium lain meliputi:
Kadar CEA (Carcino Embryonic Antigen)
MCA (Mucinoid-like Carcino Antigen)
CA 15-3 (Carbohydrat Antigen), Antigen dari globulus lemak susu
BRCA1 pada kromosom 17q (tahun 1990 oleh Mary Claire King- didukung
Radiologi
X-foto thorax dapat membantu mengetahui adanya keganasan dan mendeteksi
adanya metastase ke paru-paru.
Mammografi: Dapat membantu menegakkan diagnosis apakah lesi tersebut ganas
atau tidak. Dengan mammografi dapat melihat massa yang kecil sekalipun yang
secara palpasi tidak teraba, jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening.
Adanya proses keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder.
Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata
ukuran klinik dan rontgenologis dan adanya mikrokalsifikasi.
9

USG (Ultrasonografi): Dengan USG selain dapat membedakan tumor padat atau
kistik, juga dapat membantu untuk membedakan suatu tumor jinak atau ganas. Ca
mammae yang klasik pada USG akan tampak gambaran suatu lesi padat, batas
ireguler, tekstur tidak homogen. Posterior dari tumor ganas mammae terdapat suatu
Shadowing. Selain itu USG juga dapat membantu staging tumor ganas mammae
dengan mencari dan mendeteksi penyebaran lokal (infiltrasi) atau metastasis ke
tempat lain, antara lain ke KGB regional atau ke organ lainnya (misalnya hepar).
Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB): FNAB dilanjutkan dengan FNAC (Fine
Needle Aspiration Cytology) merupakan teknik pmeriksaan sitologi dimana bahan
pemeriksaan diperoleh dari hasil punksi jarum terhadap lesi dengan maupun tanpa
guiding USG. (Jatoi I dkk., 2006).

Terapi
Terapi untuk carcinoma mammae
Stadium I, II, III awal (stadium operable) sifat pengobatan adalah kuratif. Pengobatan
pada stadium I, II dan IIIa adalah operasi primer, terapi lainnya bersifat adjuvant. Untuk
stadium I dan II pengobatannya adalah radikal mastectomy atau modified radikal
mastectomy dengan atau tanpa radiasi dan sitostatika adjuvant. Stadium IIIa terapinya
adalah simple mastectomy dengan radiasi dan sitostatika adjuvant. Stadium IIIb dan IV sifat
pengobatannya adalah paliatif, yaitu terutama untuk mengurangi penderitaan dan
memperbaiki kualitas hidup. Untuk stadium IIIb atau yang dinamakan locally advanced
pengobatan utama adalah radiasi dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu hormonal terapi
dan sitostatika. Stadium IV pengobatan primer adalah yang bersifat sistemik yaitu hormonal
dan khemoterapi.
A. Modified radical mastectomy
Kanker yang besar dan residual setelah adjuvant terapi (khususnya pada payudara
yang kecil), kanker multisentris, dan pasien dengan komplikasi terapi radiasi merupakan
indikasi dilakukannya operasi ini (Zollinger Atlas of Surgical Operation) Prosedur ini paling
banyak digunakan, terdapat 2 bentuk prosedur yang biasa digunakan oleh para ahli bedah.
Prosedur Patey dan modifikasi dari Scanlon M. pectoralis mayor tetap dipertahankan
sedangkan M. pectoralis minor dan kelenjar limfe level I, II dan III pada axilla diangkat.
Scanlon memodifikasi prosedur Patey dengan memisahkan tetapi tidak mengangkat M.
pectoralis minor, sehingga kelenjar limfe apical (level III) dapat diangkat dan saraf pectoral
lateral dari otot mayor dipertahankan.
B. Total Mastectomy
Total mastectomy kadang disebut juga dengan simple mastectomy yang mencakup
operasi pengangkatan seluruh mammae, axillary tail dan fascia pectoralis. Total mastectomy
tidak mencakup diseksi axilla dan sering dikombinasi dengan terapi radiasi post operasi.
Prosedur ini didasarkan pada teori bahwa KGB merupakan sumber suatu barrier terhadap
sel-sel Ca mammae dan seharusnya tidak diangkat, juga ada alasan bahwa terapi radiasi
akan dapat menahan penyebaran sel-sel ganas sebagai akibat trauma operasi (Jatoi dkk,
2006).
C. Segmental Mastectomy
Berdasarkan cara operasinya, prosedur ini dibagi dalam 3 cara:
Eksisi terbatas hanya mengangkat seluruh tumornya saja. Cara ini tidak
dianjurkan untuk Ca mammae.
Eksisi seluruh tumor beserta jaringan mammae yang melekat pada tumor untuk
meyakinkan batas jaringan bebas tumor.
Eksisi seluruh tumor beserta seluruh quadrant mammae yang mengandung tumor
dan kulit yang menutupinya (quadranectomy).

10

Sebagian besar ahli bedah membatasi segmental mastectomy pada pasienpasien


dengan tumor yang kecil (<4cm atau dalam beberapa kasus <2 cm). Mastectomy segmental
harus dilanjutkan dengan terapi radiasi karena tanpa radiasi resiko kekambuhannya tinggi
(Jatoi I dkk, 2006).
D. Hormonal terapi
30-40 % Ca mammae adalah hormon dependen. Hormonal terapi adalah terapi
utama pada stadium IV disamping khemoterapi. Untuk wanita premenopause terapi
hormonal berupa terapi ablasi yaitu bilateral oophorectomy. Untuk post menopause
terapinya berupa pemberian obat anti esterogen, dan untuk 1-5 tahun menopause jenis
terapi tergantung dari aktivitas efek esterogen. Efek esterogen positif dilakukan terapi ablasi,
efek esterogen negative dilakukan pemberian obat-obatan anti esterogen (Schwartzs,
2006).
E. Chemoterapy
Terapi ini bersifat sistemik dan bekerja pada tingkat sel. Terutama diberikan pada Ca
mammae yang sudah lanjut, bersifat paliatif, tapi dapat pula diberikan pada Ca mammae
yang sudah dilakukan mastectomy bersifat terapi adjuvant. Biasanya diberikan kombinasi
CMF (Cyclophosphamide, Methotrexate, Fluorouracil). Kemoterapi dan obat penghambat
hormon seringkali diberikan segera setelah pembedahan dan dilanjutkan selama beberapa
bulan atau tahun. Pengobatan ini menunda kembalinya kanker dan memperpanjang angka
arapan hidup penderita. Pemberian beberapa jenis kemoterapi lebih efektif dibandingkan
dengan kemoterapi tunggal. Tetapi tanpa pembedahan maupun penyinaran, obat-obat
tersebut tidak dapat menyembuhkan kanker payudara.
Tamoxifen adalah obat penghambat hormon yang bisa diberikan sebagai terapi
lanjutan setelah pembedahan. Tamoxifen secara kimia berhubungan dengan estrogen dan
memiliki beberapa efek yang sama dengan terapisulih hormon (misalnya mengurangi risiko
terjadinya osteoporosis dan penyakit jantung serta meningkatkan risiko terjadinya kanker
rahim). Tetapi tamoxifen tidak mengurangi hot flashes ataupun merubah kekeringan vagina
akibat menopause. Obat penghambat hormon lebih sering diberikan kepada:
Kanker yang didukung oleh estrogen
Penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kanker selama lebih dari 2 tahun
Kanker yang tidak terlalu mengancam jiwa penderita.
Obat tersebut sangat efektif jika diberikan kepada penderita yang berusia 40 tahun dan
masih mengalami menstruasi serta menghasilkan estrogen dalam jumlah besar atau
kepada penderita yang 5 tahun lalu mengalami menopause.
F. Neoadjuvant chemoterapy
Kemoterapi yang diberikan sebelum tindakan bedah ataupun terapi radiasi. Dengan
adanya terapi ini, maka ahli bedah dapat melakukan terapi bedah konservatif pada Ca
mammae stadium lanjut. Tujuan dari terapi ini adalah untuk menyusutkan tumor yang besar
sehingga dapat dilakukan bedah konservatif untuk mengangkat tumor Tindakan bedah
konservatif adalah yang dikenal dengan nama Breast Conserving Treatment yaitu tindakan
bedah dengan hanya mengangkat tumor yang diikuti diseksi axilla dan radiasi kuratif( Jatoi
dkk, 2006).
G. Radiation therapy
Diberikan secara teratur selama beberapa minggu setelah dilakukan lumpectomy
atau partial mastectomy dengan tujuan untuk membunuh sel tumor yang tersisa yang
terdapat di dekat area tumor. Radiasi dilakukan tergantung dari besar tumor, jumlah KGB
axilla yang terkena. Kadang terapi radiasi diberikan sebelum tindakan bedah untuk
menyusutkan ukuran tumor yang besar sehingga mudah untuk diangkat. (Schwartzs, 2006).

11

Prognosis
5-year survival rate untuk stadium I yaitu 94%, untuk stadium IIa yaitu 85%, untuk
stadium IIb yaitu 70%, sedangkan untuk stadium IIIa yaitu 52%, stadium IIIb yaitu 48% dan
untuk stadium IV yaitu 18% (Schwartzs, 2006).

12