Anda di halaman 1dari 10

TUGAS UAS

BERPIKIR PERANCANGAN

Analisis Fasilitas Pelelangan Ikan di Daerah Pesisir Sadeng

Oleh :

Dian Farisa (13512212)


Dosen Pembimbing :

IR. RINI DARMAWATI, M.T.

Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan
Universitas Islam Indonesia
2015

A. Latar Belakang
Indonesia termasuk dalam negara penghasil ikan dan keragaman laut terbesar karena
wilayah Indonesia yang 75% berupa laut. Dengan potensi sumberdaya kelautan dan
perikanan yang sangat kaya dan beragam, Indonesia diyakini dapat menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi nasional dan tumpuan masa depan apabila berbagai permasalahan dan
tantangan yang dihadapi dapat dipecahkan dengan baik serta berkelanjutan. Kebutuhan yang
mutlak diperlukan untuk memajukan kegiatan industri perikanan adalah dengan menyediakan
fasilitas dermaga perikanan yang memadai, salah satunya adalah Tempat Pelelangan Ikan
(TPI).
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan salah satu fungsi utama dalam kegiatan
perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang menggerakkan dan meningkatkan usaha
dan kesejahteraan nelayan (Wiyono, 2005). Pada dasarnya sistem dari Pelelangan Ikan adalah
suatu pasar dengan sistem perantara (dalam hal ini adalah tukang tawar) melewati penawaran
umum dan yang berhak mendapatkan ikan yang dilelang adalah penawar tertinggi.
Pantai Sadeng merupakan TPI yang sangat potensial menopang kebutuhan ekonomi
para nelayan. Sayangnya daerah ini kurang kondusif untuk menyimpan ikan. Hal ini
disebabkan karena paparan sinar matahari yang dominan banyak terutama saat siang hari, hal
ini menjadikan kelembaban meninggi. Padahal daerah pesisir merupakan tempat utama
terjadinya transaksi jual beli ikan dan hewan laut lainnya oleh nelayan dan tengkulak.

Source : Dok. Pribadi

Pelelangan ikan di pantai Sadeng merupakan pendopo yang kurang diperhatikan


kebersihannya. Tidak terlihat infrastruktur seperti air bersih dan cooler storage untuk

menyimpan ikan pada TPI. Sirkulasi loading dock saat panen ikan pun kurang efisien dan
yang paling mengganggu adalah kurangnya keamanan saat panen berlangsung sehingga
sering terjadi pemungutan liar oleh warga.

Source : Dok. Pribadi

Dari beberapa kasus diatas, renovasi harus dilakukan untuk menciptakan Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) yang baik dan memenuhi standar operasional. Penambahan fasilitas
sangat diperlukan guna mewadahi kegiatan para nelayan dan tengkulak.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah untuk merancang bangunan
pelelangan ikan yang baik, yaitu:
Bangunan dengan fasilitas seperti apa yang dapat mewadahi kegiatan lelang ikan
mulai dari panen sampai proses sesuai karakter pantai Sadeng?

C. Kajian Pustaka
1. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Tempat Pelelelangan Ikan (TPI) merupakan salah satu fungsi utama dalam kegiatan
perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang menggerakkan dan meningkatkan usaha
dan kesejahteraan nelayan (Wiyono, 2005). Menurut sejarahnya Pelelangan Ikan telah
dikenal sejak tahun 1922, didirikan dan diselenggarakan oleh Koperasi Perikanan terutama di

Pulau Jawa, dengan tujuan untuk melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan
oleh tengkulak/pengijon, membantu nelayan mendapatkan harga yang layak dan juga
membantu nelayan dalam mengembangkan usahanya. Pada dasarnya sistem dari Pelelangan
Ikan adalah suatu pasar dengan sistem perntara (dalam hal ini adalah tukang tawar) melewati
penawaran umum dan yang berhak mendapatkan ikan yang dilelang adalah penawar tertinggi.
Menurut petunjuk Operasional, fungsi TPI antara lain adalah:
1) Memperlancar kegiatan pemasaran dengan sistem lelang.
2) Mempermudah pembinaan mutu ikan hasil tangkapan nelayan
3) Mempermudah pengumpulan data statistik.
Berdasarkan sistem transaksi penjualan ikan dengan sistem lelang tersebut diharapkan
dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan perusahaan perikanan serta pada akhirnya dapat
memacu dan menunjang perkembangan kegiatan penangkapan ikan di laut. Hal ini terlihat
pada hasil evaluasi Direktur Bina Prasarana Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan 1994
yang antara lain menyatakan bahwa :
1) Laju peningkatan volume pendaratan ikan lebih tinggi dari pada laju peningkatan
penangkapan dan ini berarti fungsi dan peran pelabuhan perikanan sebagai sentra
produksi semakin nyata.
2) Laju peningkatan volume pendaratan ikan lebih tinggi dari laju frekuensi
kunjungan kapal berarti usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh para
nelayan lebih efisien.
3) Laju peningkatan volume penyaluran es lebih tinggi dari pada voleme pendaratan
yang berarti meningkatnya kesadaran akan mutu ikan segar yang harus
dipertahankan.
Manfaat diadakannya pelelangan ikan di TPI antara lain adalah:
1) Perolehan harga baik bagi nelayan secara tunai dan tidak memberatkan
konsumen.
2) Adanya pemusatan ikatan-ikatan yang bersifat monopoli terhadap nelayan.
(Source: Wikipedia)
2. Fasilitas

Pengertian fasilitas adalah sesuatu yang dapat membantu memudahkan pekerjaan,


tugas dan sebagaiknya fasilitas merupakan perlaksaan fungsi.

3. Panen Ikan
Panen ikan adalah kegiatan menangkap ikan di laut saat musim angin sedang bagus.
Tidak semua lokasi kaya akan berbagai jenis ikan dan tidak semua keanekaragaman hayati
tersebut dapat ditemui dalam waktu bersamaan. Ada saat-saat tertentu dimana beberapa jenis
ikan akan muncul. Kemunculan ikan-ikan ini dipengaruhi faktor angin yang biasa berhembus
di laut. Berdasarkan perhitungan para nelayan, ada beberapa musim angin yang bagus untuk
melaut dan ada beberapa musim yang baiknya tidak melaut.
4. Nelayan
Nelayan menurut Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 adalah orang yang mata
pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Perairan yang menjadi daerah aktivitas
nelayan ini dapat merupakan perairan tawar, payau maupun laut.
Wahyuningsih (1997) nelayan dapat dibagi tiga jika dilihat dari sudut pemilikan
modal, yaitu:
a. Nelayan juragan, Nelayan ini merupakan nelayan pemilik perahu dan alat
penangkap ikan yang mampu mengubah para pelayan pekerja sebagai pembantu
dalam usahanya menangkap ikan di laut. Nelayan jurgan ada tiga macam yaitu
nelayan juragan laut, nelayan juragan darat yang mengendalikan usahanya dari
daratan, dan orang yang memiliki perahu, alat penangkap ikan dan uang tetapi
bukan nelayan asli, yang disebut tauke (toke) atau cakong.
b. Nelayan pekerja, yaitu nelayan yang tidak memiliki alat produksi dan
modal, tetapi memiliki tenaga yang dijual kepada nelayan juragan untuk
membantu usaha penangkapan ikan di laut.
c. Nelayan pemilik, Merupakan nelayan yang kurang mampu, nelayan ini
hanya mempunyai perahu kecil untuk keperluan dirinya sendiri dan alat
penangkap ikan sederhana, karena itu disebut nelayan perorangan. Berdasarkan
teknologi penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan, orientasi
dan

karakteristik

hubungan

ke dalam empat kelompok yaitu:

pasar

produksi, Satria (2002) menggolongkan nelayan

Peasant-fisher atau nelayan tradisional yang biasanya bersifat subsistem,


menggunakan alat tangkap yang masih tradisional seperti dayung, sampan
yang tidak bermotor dan hanya melibatkan anggota keluarganya sendiri
sebagai tenaga kerja utama.
Post-peason fisher, Dicirikan dengan penggunaan teknologi penangkapan
ikan yang lebih maju atau modren. Meski masih beroperasi di wilayah
pesisir, tetapi daya jelajahnya lebih luas dan memiliki surplus untuk
diperdagangkan di pasar.
Commersial-fisher, yakni nelayan yang telah berorientasi pada peningkatan
keuntungan. Skala usahanya telah besar, yang dicirikan dengan banyaknya
jumlah tenaga kerja dengan status yang berbeda dan membutuhkan keahlian
tersendiri dalam pengoperasian kapal maupun alat tangkapannya.
Industrial-fisher, yang memiliki ciri-ciri : 1) diorganisasi dengan cara-cara
yang mirip dengan perusahaan agro industri di negara maju; 2) lebih padat
modal; 3) memberikan pendapatan yang lebih tinggi dari pada perikanan
sederhana; dan 4) menghasilkan produk ikan kaleng dan ikan beku yang
berorientasi ekspor. Nelayan berskala besar ini umumnya memiliki
organisasi kerja yang kompleks dan benar-benar berorientasi pada
keuntungan.

D. Studi Preseden

Source : archdaily

Arsitek : Eder Biesel Arkitekter


Lokasi : Strandkaien 3, 5013 Bergen, Norway

Luas Area : 4260 m2


Tahun Proyek : 2012
Bergen Fish Market terletak di dermaga Norwegia dan merupakan icon pasar ikan
disana. Membicarakan pelelangan ikan tidak akan jauh dengan elemen pasar dimana ada
penjual, barang, dan pembeli. Bedanya adalah pada sistem. Pelelangan ikan membutuhkan
tempat yang kurang lebih seperti Bergen Fish Market. Dimana bangunan kontemporer yang
telah memenuhi persyaratan rancang kota dipadukan dengan iconic kota dan klimatologi
merancang sebuah pasar.
Bergen Fish Market mempunyai sisi unik dimana pasar ikan telah menjadi modern
dengan perancangan yang memperhatikan karakter penghuninya, yaitu ikan-ikan itu sendiri.
Ruang-ruang tidak dibagi. Tujuan interior bukan sekedar untuk pasar ikan tetapi membantu
menjaga kan dari iklim agar tetap awet. Volume konstruksi mengambang menciptakan bagian
yang dilindungi dari pasar. Faade kaca eksibel menyediakan tempat tinggal terhadap angin
dan cuaca. Faade dapat dibuka pada hari-hari musim panas yang hangat. Kegiatan pasar
dalam terhubung ke luar dengan cara menciptakan satu pasar yang homogen.
Tepi dermaga telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan kapal uap dari 1900. Dulu
kapal yang melakukan panen ikan selalu berada di gudang teluk. Disini kapal dapat masuk
diantara gudang dan untuk alasan itu tepi dermaga yang digunakan berbentuk melengkung.
Evolusi penting ini mengubah penampilan kota secara signikan. Kios berada di dalam dan
diluar dengan jalan pedestrian yang lebar. Berikutnya ke bagian umum dari aula ada badan
layanan di 3 lantai. Yaitu ruang penyimpanan, penyimpanan dingin dan freezer, produksi es,
lemari pakaian dan toilet serta unit teknis lainnya. Terdapat informasi wisata dan "Norwegia
Sea Food Centre" di lantai pertama. Informasi wisatawan juga ruang publik dengan
pemandangan panorama menuju pusat bersejarah Bergen. Diharapkan, Indonesia dapat
mencontoh apa yang dilakukan oleh Bergen terhadap pasar ikannya sehingga selain sebagai
pelelangan ikan, bangunan yang nanti akan dibuat dapat menjadi simbol dari dermaga atau
daerah itu sendiri. (sumber: archdaily.com)
E. Metode Perancangan
Metode yang digunakan dalam mendesain pelelangan ikan yaitu dengan metode
pengumpulan data survey, wawancara, serta observasi terhadap pelelangan ikan di Pantai
Sadeng, Yogyakarta.

a. Literatur
Literatur yang terkait dengan tempat penjualan ikan
Literatur tentang persyaratan bangunan pelelangan ikan
Literatur tentang wadah penyimpanan ikan
b. Survey
Kondisi site sekarang
c. Wawancara
Wawancara terhadap penjual maupun pembeli ikan untuk mengetahui
karakteristik bangunan
d. Observasi
Bangunan tempat penjualan ikan yang ada di luar negeri
Jenis kegiatan dan fasilitas dalam tempat pelelangan ikan
Proses panen ikan sampai pelelangan

F. Peta Persoalan

G. Kerangka Berpikir

H. Manfaat
Berdasarkan sudut pandang arsitektur dan sudut pandang secara umum, manfaat yang
dapat kita simpulkan dari adanya proyek ini adalah sebagai berikut:
a. Tercipta tempat pelelangan ikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang
selalu berkembang.
b. Tercipta tempat pelelangan ikan yang tanggap lingkungan dan dapat
memanfaatkan alam dan iklim secara maksimal.
c. Para pedagang bisa mudah memperoleh ikan segar untuk dipasarkan.
d. Meningkatkan produktifitas masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tempat Pelelangan Ikan ini dapat melayani seluruh transaksi ikan dan pelelangan ikan
dari seluruh wilayah kota atau kabupaten Gunung Kidul dan sekitarnya.

I. Daftar Pustaka
http://www.archdaily.com/422608/sh-market-in-bergen-eder-biesel-arkitekter
http://ipsgampang.blogspot.com/2015/01/fungsi-dan-manfaat-tempat-pelelangan.html
https://sites.google.com/site/perojectnyamaszuli/waktunya-mancing-di-laut