Anda di halaman 1dari 12

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Ruly Rahmatillah
No. ID dan Nama Wahana : RSUD Ibnu Sina Gresik
Topik : Kegawatdaruratan
Tanggal Kasus : 1-04-2014
Nama Pasien : Ny. Yashinta
Tanggal Presentasi : -

No. RM :536437
Pendamping : dr. Lisa P, SpS

Tempat presentasi : Ruang Endoskopi RS Ibnu Sina Gresik


Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Pasien dengan permasalahan Abortus Inkomplit
Tujuan : Mengetahui pemeriksaan, diagnostik, dan tatalaksana pasien Abortus Inkomplit
Bahan bahasan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas
Diskusi
Presentasi &
E-mail
Pos
diskusi
Data Pasien

Nama : Ny. Yashinta/ 23 th

Alamat: Gresik
Nama Klinik : RSUD IBNU SINA
Data Utama untuk bahan diskusi
1. Keluhan Utama (Subjective) :

Telp.

No. Registrasi : 536437


Terdaftar sejak: 2014

Keluar darah dari jalan lahir disertai dengan nyeri perut bawah
Anamnesis (Autoanamne)

Keluhan Utama : Pada malam hari sebelum MRS pasien mengeluh ada flek-flek

berwarna merah muda pasien tetap dirumah.


Pagi hari keluar darah semakin banyak dan bergumpal disertai nyeri di daerah
punggung pasien pergi ke Bidan kemudian disarankan untuk langsung ke rumah
sakit. Dalam perjalanan keluar darah lebih banyak 2 pembalut disertai nyeri perut

bawah
Pasien mengetahui bahwa dirinya hamil sejak bulan Februari 2014 oleh karena

terlambat haid kemudian tes kencing sendiri dan didapatkan hasil positif hamil.
RIwayat trauma (-), jamu pelancar haid (-), pijat (-), instrumentasi (-), panas badan
(+) sejak 5 hari yang lalu, batuk pilek (+) 3 minggu yang lalu tetapi tidak berobat dan

saat ini sudah berkurang, anyang-anyangan (-), keputihan (+).


ANC: 2 x di Bidan
HPHT: ?-12-2013 (pasien lupa)
KB: tidak ada riwayat penggunaan KB

2. Riwayat Penyakit Dahulu:


-

Riwayat DM disangkal
Riwayat HT disangkal

- Riwayat Alergi (obat/debu/makanan) disangkal


3. Riwayat Pengobatan:
- Pasien berobat ke bidan
4. Riwayat keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa
5. Riwayat Sosial : 6. Riwayat Pekerjaan : Pasien bekerja sebagai Ibu rumah tangga
7. Faktor-faktor :8. Pemeriksaan Fisik (Objective)
Status Generalis
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit, reguler

RR

: 20 x/menit

Temp axila

: 36,4 0C

Kepala dan leher : Anemis - / - , Ikterus /


Thorax

: Cor/ S1S2 tunggal, murmur (-)

Pulmo/v v

Rh - -

Wh - -

vv

--

--

vv

--

--

Abdomen

: flat, supel, BU (+) normal, Meteorismus (-)

FU ~ 2 jari di atas simfisis


Genitalia Eksterna

: fluxus (+) minimal, fluor (-)

Inspekulo

: fluxus (+) minimal, fluor (-)


portio terbuka, tampak jaringan

Vaginal Touche

: fluxus (+) minimal, fluor (-)


PONP terbuka, jaringan teraba
CUAF ~ 10 12 minggu
AP D/S Massa (-), nyeri (-)
Cavum Douglasi dalam batas normal

Ekstremitas

: edema =|=

Laboratorium:
Planotest +
Darah Lengkap
Darah
Lengkap
Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit

Nilai

Satuan

Nilai Normal

7500
10,3
31,3
161.000

/mm3
gr/dl
%
mm3

3.500-10.000
11,0-16,5
35,0-50,0
150.000-390.000

HBsAg

Foto Thorax : Assesment:


GI P0000 Ab000 Gravida UK 12 minggu dengan abortus inkomplete.

Follow Up
Tanggal
1-4-2014

Subjective

Objective

Nyeri

CM,

TD

punggung

110/70,

berkurang

86x/m, RR 16,

Assesment
GI P0000 Ab000 Gravida UK

12

minggu

dengan

Planning
Obs VS
Kuretase

abortus inkomplete.

tax 36.7

Laporan kuretase:

Penderita diletakkan dalam posisi litotomi

Setelah tindakan aseptik dan anti septik di daerah vulva dan sekitarnya di samping
spekulum bawah yang dipegang oleh asisten dilakukan anestesi paraservikal blok.

Dengan pertolongan spekulum atas bibir depan portio dijepit dengan Kogeltang
Sonde masuk sedalam 10 cm, corpus uteri antefleksi.

Tidak dilakukan pengeluaran jaringan secara digital

Dilakukan pengeluaran jaringan dengan cunam abortus.

Dilakukan kuretase biasa secara sistematis dan hati-hati sampai cavum uteri bersih
dengan curet No. 3 dan No. 5.

Berhasil dikeluarkan jaringan plasenta, jaringan lain (kesan jaringan sisa


kehamilan), sebanyak kira-kira 30 gram.

Jumlah perdarahan selama kuretase 40 cc.

Tidak dilakukan pemasangan IUD.

Lama kuretase 10 menit

Diagnose pra kuretase

: Abortus inkomplet pro kuretase

Diagnose pasca kuretase

: Abortus inkomplet post kuretase

KU pasca kuretase

: baik, CM, T: 100/70, N: 88 x/, RR: 20 x/

Terapi pasca kuretase

Amoxycilin

3 x 500 mg

Asam mefenamat

3 x 500 mg

Methergin

3x1

Resume
Wanita 23 tahun datang ke RSUD Ibnu Sina dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir
disertai dengan nyeeri perut bawah. Pada malam hari sebelum MRS pasien mengeluh ada flekflek berwarna merah muda. Pagi hari keluar darah semakin banyak dan bergumpal disertai
nyeri di daerah punggung. pasien pergi ke Bidan kemudian disarankan untuk langsung ke
rumah sakit. Dalam perjalanan keluar darah lebih banyak 2 pembalut disertai nyeri perut
bawah . Pasien mengetahui bahwa dirinya hamil sejak bulan Februari 2014 oleh karena
terlambat haid kemudian tes kencing sendiri dan didapatkan hasil positif hamil. Riwayat trauma
(-), jamu pelancar haid (-), pijat (-), instrumentasi (-), panas badan (+) sejak 5 hari yang lalu,
batuk pilek (+) 3 minggu yang lalu tetapi tidak berobat dan saat ini sudah berkurang, anyanganyangan (-), keputihan (+). ANC: 2 x di Bidan, HPHT: ?-12-2013 (pasien lupa), tidak ada
riwayat penggunaan KB.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan fundus uteri berada 2 jari di atas simfisis yang setara
dengan besar fundus uteri dengan usia kehamilan 10-12 minggu. Dari inspeksi didapatkan
perdarahan yang bergumpal melalui vagina,selain itu pada pemeriksaan inspekulo terlihat portio
terbuka dan terlihat jaringan. Pada pemeriksaan VT (Vaginal Touche) teraba bahwa porsio

terbuka dan teraba sisa jaringan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian hasil konsepsi telah
keluar bersama dengan pendarahan yang dialami pasien. Diagnosis abortus inkomplete pada
pasien ini juga ditunjang pada pemerikasaan tambahan berupa plano tes yang menunjukkan
hasil positif dimana ini menandakan bahwa pasien sedang hamil. Penatalaksanaan abortus
inkomplet pada pasien ini sudah tepat yaitu dengan melakukan kuretase. Kuretase dilakukan
untuk mengeluarkan sisa jaringan di dalam uterus, di mana pasien datang dalam keadaan janin
telah keluar dari jalan lahir namun masih didapatkan sisa jaringan di dalam uterus
Daftar pustaka
1. Analisadaiily. 2011. Menkes: Angka Kematian Ibu dan Bayi Masih Tinggi.
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/22/27353/menkes_angka_kematian_ibu
_dan_bayi_masih_tinggi.
2. Carsten ME, Miller JD. 2005. Effects of prostaglandins and oxitocyn on calcium release
from a uterine microsomal fraction. The Journal of Biological Chemistry. Vol. 252, No.5,
pp.1576-1581.
3. Challis JRG, Matthews SG, Gibb W, Lye SY. 2006. Endocrine and paracrine regulation of
birth at term and preterm. Endocrine reviews. 5:514-550.
4. Cunningham, F., Gant, N., Leveno, K., Gilstrap, L., Hauth, J., Wenstrom, K. 2006.
Obstetri Williams. Jakarta: EGC: 951-981.
5. DepKes RI. 2007. Refleksi Hari Ibu: Skenario Percepatan Penurunan Angka Kematian
Ibu. http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/335.
6. Mochtar, Rustam. 2006. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC: 209-217.
7. Slava. 2010. Incomplete Abortion. www.emedicinehealth.com.
8. Valley VT. 2011. Abortion Incomplete. http://www.emedicine.com.
9. WHO. 2002. Abortion: A tabulation of available data on frequency and mortality of
unsafe abortion . WHO, Geneva, 1994.
10. Wibowo, B., Wiknjosatro. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Hasil Pembelajaran
1. Untuk mengetahui penegakan diagnosa pada pasien ini.
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya abortus inkomplet pada pasien ini.
3. Untuk mengetahui penatalaksanaan yang tepat pada pasien ini.
4. Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi pada pasien ini.

PEMBAHASAN
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 menunjukkan bahwa
Angka Kematian Ibu (AKI) masih sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka
Kematian Bayi (AKB) sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementrian Kesehatan tahun 2007
adalah AKI sebesar 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 26 per 1.000
kelahiran hidup. Meskipun demikian, angka tersebut masih tertinggi di Asia. Angka ini 65 kali
kematian Ibu di Singapura, 9.5 kali dari Malaysia. 1
Penyebab terbanyak dari kematian Ibu diantaranya adalah perdarahan (28%),
eklampsia (24%), infeksi (11%), abortus tidak aman (5%), partus lama atau macet (5%),
emboli (5%), dan lain-lain (22%). Di berbagai Negara, paling sedikit seperempat dari seluruh
kematian Ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara < 10 % - 60 %.
Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca
persalinan, namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia berat)
dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan.5
Perdarahan disini terbagi menjadi tiga yaitu perdarahan selama kehamilan,
perdarahan dalam persalinan, dan perdarahan saat masa nifas. Perdarahan selama

kehamilan terbagi menjadi dua yaitu dalam kehamilan muda (<20 minggu) dan kehamilan
lanjut (>20 minggu). Perdarahan selama kehamilan dengan usia kehamilan <20 minggu
dapat disebabkan oleh Abortus, Kehamilan Ektopik Terganggu, dan Mola Hidatidosa. Untuk
perdarahan selama kehamilan dengan usia kehamilan >20 minggu dapat disebabkan
karena Plasenta Previa dan Solusio Plasenta. Untuk perdarahan saat masa nifas terbagi
menjadi dua yaitu ketika <24 jam (perlukaan jalan lahir, sisa plasenta, atonia uteri) dan >24
jam (sisa plasenta, infeksi atau subinvolusi uteri).4,7
Dalam Laporan Kasus ini, penulis ingin membahas lebih lanjut mengenai perdarahan
di usia muda terutama perdarahan akibat abortus. Kejadian abortus di seluruh dunia setiap
tahun dilakukan 20 juta unsafe abortion, 70.000 wanita diantaranya meninggal. Menurut
WHO diperkirakan sekitar 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara dengan
perincian 1,5 juta di Indonesia; 1,3 juta di Vietnam dan Singapura, 900.000 di Thailand, dan
750.000 di Filipina. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini
dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini, terlambat
haid beberapa hari, sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah hamil. Di
Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan demikian setiap tahun
terjadi 500.000-750.000 abortus spontan.9
Definisi Abortus Inkomplet
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu
bertahan hidup, dengan batasan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram. Abortus incomplete sendiri yaitu pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari kavum
uterus dan sebagian masih tersisa dalam kavum uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau
sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan
tanda abortus inkomplet. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang
sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat dan timbul syok.2,6
Etiologi Abortus Inkomplet
a. Faktor Janin
Sekitar 50-60 % abortus spontan dini disertai dengan kelainan kromosom pada
konseptus. Ini dapat disebabkan kesalahan gametogenesis Ibu (25%) dan kesalahan
gametogenesis Ayah (5%). Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom yang tersering
dijumpai pada abortus trimester pertama. monosomy X adalah kelainan kromosom tunggal
spesifik yang paling sering ditemukan.4
b. Faktor Ibu
Infeksi: Sejumlah penyakit kronik diperkirakan dapat menyebabkan abortus.
Herpes simplek dilaporkan berkaitan dengan peningkatan insidensi abortus setelah

terjadi infeksi genital pada awal kehamilan. Penyakit infeksi yang menyebabkan
demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, pielonephritis, malaria, rubeola, dll. Kematian
janin dapat disebabkan toksin dari Ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.3,7
Kelainan Endokrin: Pada kondisi Diabetes Melitus, kadar gula darah yang
tidak

terkontrol

progesterone

meningkatakan

oleh

korpus

angka

luteum

kejadian

atau

aborsi.

plasenta

Kurangnya

dilaporkan

sekresi

menyebabkan

peningkatan insidensi abortus. Defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan
aborsi. Efek dari hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun
peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan angka
kejadian dari aborsi.3,4,7
Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan: Merokok dapat menyebabkan
peningkatan risiko abortus euploidi. Abortus spontan dan anomaly janin dapat terjadi
akibat sering mengonsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Konsumsi
kopi dalam jumlah banyak dapat meningkatkan risiko abortus spontan akibat kadar
paraxantin (suatu metabolit kafein) dalam darah ibu. Pengaruh radiasi dalam dosis
memadai dapat menyebabkan abortus. Selain itu, penggunaan IUD berkaitan
dengan peningkatan insiden abortus septik setelah kegagalan kontrasepsi.3
Gamet yang Menua: Terdapat peningkatan insidensi abortus terhadap
kehamilan normal apabila inseminasi terjadi 4 hari sebelum atau 3 hari sesudah saat
pergeseran suhu tubuh basal. Penuaan gamet dalam saluran genitalia wanita
sebelum pembuahan meningkatkan kemungkinan abortus.4
Kontraksi Uterus: Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus
berkontraksi misalnya saat ibu sangat terkejut, obat-obat uterotonika, ketakutan,
laparotomi, atau dapat juga karena trauma langsung terhadap fetus seperti selaput
janin yang rusak karena instrumen, benda, dan obat-obatan.6
Serviks Inkompeten: Servix inkompeten adalah terjadinya dilatasi servix yang
tidak sakit pada trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap dan
penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi expulsi dari janin
prematur.4
c. Faktor Ayah
Tidak banyak yang diketahui tentang faktor ayah dalam terjadinya abortus spontan.
Yang jelas, translokasi kromosom pada sperma dapat menyebabkan abortus.4
Penyebab terjadinya abortus inkomplet pada pasien ini belum diketahui dengan
jelas, karena tidak didapatkan riwayat trauma, meskipun pasien memiliki riwayat infeksi yang

kaitannya dengan terjadinya abortus masih diteliti. Ada beberapa faktor yang dikemukakan
menjadi faktor predisposisi terjadinya abortus antara lain dari faktor janin, ibu, dan ayah.
Sekitar 50-60 % abortus spontan dini disertai dengan kelainan kromosom pada
konseptus. Ini dapat disebabkan kesalahan gametogenesis Ibu (25%) dan kesalahan
gametogenesis Ayah (5%). Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom yang tersering
dijumpai pada abortus trimester pertama. monosomy X adalah kelainan kromosom tunggal
spesifik yang paling sering ditemukan.4
Patofisiologi Abortus Inkomplet
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh
nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian
atau seluruhnya,

sehingga merupakan benda asing dalam

uterus. Keadaan ini

menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari
8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum
menembus desidua lebih dalam, sehingga hasil konsepsi mudah dilepaskan. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam sehingga
umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak
perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban
pecah adalah janin disusul dengan plasenta. Pedarahan jumlahnya tidak banyak jika
plasenta segera terlepas dengan lengkap.10

Diagnosis Abortus Inkomplet


Anamnesa: Dari anamnesa, dapat diketahui adanya riwayat terlambat menstruasi <
20 minggu, adanya tanda-tanda kehamilan muda, adanya perdarahan, dan nyeri perut
(Cramping pain). Perlu ditanyakan sejak kapan perdarahan itu terjadi, warnanya, bergumpal
atau tidak, berapa banyak, disertai keluarnya jaringan atau tidak. Selain itu perlu ditanyakan
riwayat penurunan berat badan, riwayat abortus sebelumnya, post coital bleeding, riwayat
penyakit lain maupun riwayat penyakit pada keluarga.8
Pemeriksaan Fisik: Didapatkan nyeri tekan atau tidak pada daerah perut maupun
suprasimfisis, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan. Pada Inspeksi vulva
perlu dilihat adakah perdarahan pervaginam, ada jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak
bau busuk dari vagina. Pada inspekulo, perlu dilihat perdarahan dari cavum uteri, ostium
uteri terbuka, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak jaringan berbau
busuk dari ostium. Pada pemeriksaan Vaginal Toucher didapatkan portio terbuka, teraba
jaringan, terdapat nyeri goyang portio atau tidak, terdapat nyeri pada perabaan adneksa
atau tidak, cavum douglasi menonjol atau tidak.8

Pemeriksaan Penunjang: Perlu dilakukan tes kehamilan dengan plano test, positif
bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus. Pemeriksaan USG atau Doppler
dapat digunakan untuk menentukan apakah janin masih hidup atau tidak, bagaimana
kondisi uterus, apakah terdapat sisa jaringan atau tidak. Pemeriksaan kadar fibrinogen
darah perlu dilakukan pada kasus Missed abortion.8
Gejala lain diantaranya adalah: 4

Nyeri perut dan mulas-mulas.


Sudah ada jaringan atau fetus yang keluar.
Osteum uteri externum terbuka dan dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis

servikalis atau kavum uteri.


Uterus yang berukuran lebih kecil dari usia kehamilan.
Abortus inkomplet sering berhubungan dengan aborsi yang tidak aman, oleh karena

itu periksa tanda-tanda komplikasi yang mungkin terjadi akibat abortus provokatus seperti
perforasi, dan tanda-tanda infeksi atau sepsis.8
Gejala yang dialami pasien memenuhi kriteria diagnosis abortus inkomplet diatas
yaitu dari anamnesa diketahui pasien sudah terlambat menstruasi sejak februari 2014,
adanya perdarahan dari jalan lahir, serta nyeri perut bawah. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan fundus uteri teraba 2 jari diatas simfisis pubis, pada inspekulo dan vaginal toche
ditemukan adanya fluxous minimal, portio terbuka dan tampak adanya jaringan yang keluar.
Sedangkan pada pemeriksaan penunjang dilakukan tes plano yang hasilnya masih positif.
Penatalaksanaan Abortus Inkomplete
Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari:10

Keadaan umum pasien, perbaiki bila ada yang abnormal.


Tanda-tanda syok seperti pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik < 90

mmHg, nadi > 112 x/menit.


Bila syok disertai dengan massa lunak di adneksa, nyeri perut bawah, adanya cairan

bebas dalam cavum pelvis, pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik yang terganggu.
Tanda-tanda infeksi atau sepsis seperti demam tinggi, sekret berbau pervaginam,nyeri

perut bawah, dinding perut tegang, nyeri goyang portio, dehidrasi, gelisah atau pingsan.
Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat ditatalaksana pada fasilitas
kesehatan setempat atau dirujuk (setelah dilakukan stabilisasi).

Sedangkan penanganan Spesifik Abortus Inkomplet yaitu: 10

Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi
(perdarahan hebat, syok, infeksi atau sepsis).

Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai dengan perdarahan
hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan / kuretase secara digital atau cunam ovum.
Setelah itu evaluasi perdarahan :
o Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg per

oral untuk mempertahankan kontraksi otot uterus.


o Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM.
Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis (Amoxyciline 500 mg oral

atau doksisiklin 100 mg tiap 8 jam selama 5 hari)


Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 gr iv dan metronidazol 500 mg iv setiap 8 jam selama

3-5 hari. Kuret setelah 3-6 jam.


Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan

evakuasi dengan AVM.


Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg perhari selama 2 minggu
(anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat).

Penatalaksanaan abortus inkomplet pada pasien ini sudah tepat yaitu dengan
melakukan kuretase. Kuretase dilakukan untuk mengeluarkan sisa jaringan di dalam uterus,
di mana pasien datang dalam keadaan janin telah keluar dari jalan lahir namun masih
didapatkan sisa jaringan di dalam uterus. Selain itu diberikan Asam Mefenamat sebagai
analgesik dan metergin untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
Komplikasi Abortus Inkomplet
Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya adalah perdarahan, perforasi uterus,
infeksi dan tetanus, syok, gagal ginjal akut, chorio carcinoma, maupun mola hidatidosa.
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu pemberian transfuse darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila
pertolongan tidak diberikan pada waktunya.6,10
Perforasi uterus dapat terjadi terutama pada saat dilatasi dan kuretase dengan posisi
uterus hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diobservasi dengan teliti. Jika
ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi dan tergantung dari luas dan bentuk
perforasi, penjahitan luka perforasi, atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus
yang dilakukan oleh tenaga tidak ahli menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan
uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih dan usus.
Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparotomi harus segera
dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakantindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi. Syok yang terjadi pada abortus dapat
berupa syok hipovolemik akibat perdarahan maupun syok septik akibat infeksi.10

Prognosis Abortus Inkomplet


Prognosis abortus inkomplet adalah dubia et malam, dimana kehamilan harus
diakhiri dan janin tidak dapat dipertahankan lagi.8