Anda di halaman 1dari 13

Nama Peserta : dr.

Ruly Rahmatillah
Nama Wahana : RSUD Ibnu Sina Gresik
Topik : medikolegal
Tanggal Kasus : 4 Februari 2014
Nama Pasien : Tn. Didik Prayitno/38 thn

No. RM : 544461

Tangal Presentasi : -

Nama Pendamping : dr. Lisa, Sp.S

Tempat Presentasi : Obyektif Presentasi : VISUM et REPERTUM SEMENTARA pada KORBAN HIDUP
Keilmuan

Ketrampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi
Dilakukan visum et repertum sementara pada laki laki berusia 38 tahun dengan luka
robek di punggung kiri diduga akibat pencurian dengan kekerasan
Tujuan
Mengetahui batasan, mekanisme, dan pemeriksaan pada kasus visum et repertum
sementara
Bahan Bahasan

Tinjauan Pustaka

Riset

Cara Bahasan

Diskusi

Data Pasien

Nama : Tn Didik prayitno/ 38 th

Nama Klinik :

Alamat: Mojorembun Lamongan


Telp :

Kasus

Presentasi dan diskusi

Email

Audit
Pos

No Registrasi :544461
Terdaftar sejak :

Data Utama Untuk Bahan Diskusi


VISUM et REPERTUM SEMENTARA
PRO JUSTISIA
PENDAHULUAN
Pada tanggal 14 Oktober 2013 jam 06.05 WIB-----------------------------------------------------------Saya yang bertanda tangan dibawah ini dokter Ruly ---------------------------------------------------Sebagai dokter pada Rumah Sakit Umum Ibnu Sina Kabupaten Gresik menerangkanbahwaatas permintaan Saudara Dedi Supratman .Aiptu NRP 60110625-------------------------- --------An Kepala Kepolisian Resort Gresik Kanit SPKT B-------------------------------------------------------Dari KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH JAWA TIMUR RESORT
GRESIK Jalan Basuki Rahmad 22 Gresik 61114 ----------------------------------------------------------

Dengan surat tertanggal 4 Februari 2014 Nomor: VER / 13

/ II / 2014 / Polres --------------

Telah memeriksa seorang penderita, yang menurut surat tersebut di atas ------------------------Bernama

: Didik Prayitno-------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin

:Laki Laki -----------------------------------------------------------------------------

Tempat/ Tgl. Lahir

: Gresik , 14 Mei 1976 ( 38 tahun ) ----------------------------------------

Pekerjaan

: Swasta----------------------------------------------------------------------------------

Kewarganegaraan

: Indonesia-------------------------------------------------------------------------------

Agama

: Islam------------------------------------------------------------------------------------

Alamat

: Dusun Mojorembun Rt 3 Rw 2 Desa Mojodadi Kecamatan

Kedungpring Kabupaten Lamongan -------------------------------------------------------------------------Dengan Kejadian : Orang tersebut mengalami luka diduga akibat pencurian dengan
kekerasan pada hari Senin tanggal 14 Oktober 2013 sekitar pukul 02.00 WIB -------------------HASIL PEMERIKSAAN
1. Kesadaran
2. Kepala

: Sadar --------------------------------------------------------------: Tidak didapatkan tanda tanda kekerasan ---------------------------------------------

3. Leher , perut , punggung ,dada

: terdapat luka robek kulit dan otot dengan ukuran

kurang lebih lima centimeter di punggung kiri dekat ketiak --------------------------------------------4. Alat kelamin luar dan dubur

: Tidak didapatkan tanda tanda kekerasan -----------------

5. Anggota gerak atas

: Tidak didapatkan tanda tanda kekerasan -----------------

6. Anggota gerak bawah

: Tidak didapatkan tanda tanda kekerasan -----------------

7. Keterangan

: -----------------------------------------------------------------------

KESIMPULAN
DIAGNOSA ( Sedapat dapatnya tanpa istilah keahlian ) ---------------------------------------------Didapatkan luka robek kulit dan otot di punggung kiri dekat ketiak ----------------------------Kerusakan tersebut disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul/ benda bermata
tajam /hawa panas / benda panas / air keras / aliran listrik / tembakan jarak jauh atau dekat /
tenggelam / percobaan menggantung diri ------------------------------------------------------------------Kerusakan tersebut diatas :
A. Mengakibatkan luka berat , berupa :

1. Penyakit atau luka yang tidak dapat diharap akan sembuh dengan sempurna atau
yang mendatangkan bahaya maut.
2. Rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian.
3. Kehilangan salah satu panca indra.
4. Kudung.
5. Lumpuh.
6. Gangguan daya pikir lebih dari empat minggu lamanya.
7. Keguguran atau kematian mudigah seorang perempuan
B. Mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencaharian selama ...................................................................................................
C. Tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan
atau pencaharian.
Penderita tersebut belum / telah sembuh sama sekali.
Besar harapan akan sembuh jika sekiranya tidak ada hal hal yang menambah
penyakit ( Komplikasi ).
Demikian Visum et Repertum dibuat atas sumpah / janji sebagai dokter pada waktu
memangku jabatan saya.

Daftar Pustaka
1. Atmodirono, Haroen. 2009. Visum et Repertum dan Pelaksanaannya. Surabaya:
Airlangga University Press.
2. Hoediyanto, dr. Sp. F (K). 2011. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Surabaya: Bagian IKF dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Unair.
3. Idries A.M. 2007. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
4. Ranoemihardja, R.Atang, S.H. 2008. Ilmu Kedokteran Kehakiman (Forensic
Science). Bandung: Penerbit Tarsito.
5. Sugandhi, R. SH. 2010. KUHP dan Penjelasannya. Surabaya: Usaha Nasional.
1984. Kumpulan Makalah Ilmu Kedokteran Forensik. Markas Besar Kepolisian
Negara Republik Indonesia. http://asiatour.com/lawarchives/indonesia/kuhap
Hasil Pembelajaran
1. Mengetahui tentang visum et repertum
2. Mengetahui tentang visum et repertum pada korban hidup
3. Mengetahui tentang kualifikasi luka
4. Mengetahui dasar-dasar hukum atau undang-undang yang bersangkutan dengan

visum et repertum

PEMBAHASAN
Di dalam melakukan tugas dan profesinya, seorang dokter mempunyai tugas utama
adalah menegakkan diagnosis medis bagi penderita untuk kemudian memberikan terapi
yang tepat dan rasional dengan tujuan mengembalikan kondisi tubuh penderita tersebut
sefisiologis mungkin. Terdapat pula tugas lain yang patut diperhatikan oleh setiap dokter
dalam kaitan dengan pengabdian

kepada masyarakat, yaitu

membantu

proses

penegakan hukum dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan korban sebagai


akibat suatu tindak pidana, baik korban hidup maupun korban mati, juga pemeriksaan
terhadap barang bukti lain yang diduga berasal dari tubuh manusia. Untuk melaksanakan
tugas tersebut maka pihak yang berwenang (penyidik) akan menyertainya dengan surat
permintaan visum et repertum (SPVR), dengan demikian maka dokter akan melaporkan
hasil pemeriksaannya secara tertulis kepada pihak peminta visum et repertum tersebut.
Hasil dari pemeriksaan secara tertulis tersebut dituangkan dalam bentuk surat keterangan
ahli yang lazim disebut visum et repertum.1
Pembuatan visum et repertum dimaksudkan sebagai ganti barang bukti, dimana
barang bukti yang diperiksa tersebut tidak mungkin dihadapkan di sidang pengadilan dalam
keadaan sebagaimana adanya. Hal ini dimungkinkan karena barang bukti tersebut yang ada
hubungannya dengan tubuh manusia (misalnya: luka, mayat, atau bagian tubuh lainnya)
segera akan berubah menjadi sembuh atau membusuk. Pembuktian merupakan tahap
paling menentukan dalam proses persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian
tersebut akan ditentukan terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan pidana
sebagaimana

yang

didakwakan penuntut umum, oleh karena pembuktian merupakan

bagian dari proses peradilan pidana, maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada
Hukum Acara Pidana yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.1
Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan: Hakim tidak
boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya
dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar
terjadi dan bahwa terdakwalah yang melakukannya.2
Inti

dari suatu

visum

et

repertum

pada dasarnya

terletak

pada

bagian

kesimpulan karena di dalamnya terdapat jenis luka, kekerasan luka, dan kualifikasi luka.
Dalam proses peradilan, jenis luka dan kekerasan luka membuktikan adanya "peristiwa
hukum", sedangkan kualifikasi luka mampu menggambarkan "akibat hukum" suatu
kecederaan. Kualifikasi luka dapat membantu penegak hukum untuk menjatuhkan

keputusan hukum, kualifikasi luka ini dapat berdasarkan: 1.


penganiayaan

yang

tidak

menimbulkan

penyakit

KUHP

pasal

352

yaitu

atau halangan untuk menjalankan

pekerjaan jabatan atau mata pencaharian (sebagai penganiayaan ringan). 2. KUHP pasal
351 ayat 1 yaitu penganiayaan yang menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian. 3. KUHP pasal 351 ayat 2 yaitu
penganiayaan yang menimbulkan luka berat.2
Visum et Repertum
Definisi Visum Et Repertum
Keterangan ahli merupakan keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran forensik
atau dokter bukan ahli kedokteran forensik. Keterangan ini dibuat dalam bentuk tulisan yang
dahulu dikenal sebagai Visum et Repertum yang berisi tentang seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana.3
Menurut dr. Abdul Munim Idries, Sp.F, pengertian Visum et Repertum (VR)
secara hukum adalah:3
1. Laporan dari ahli untuk pengadilan, khususnya dari pemeriksaan oleh dokter, dan di
dalam perkara pidana
2. Surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah/janji (jabatan/khusus),
tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya
3. Suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa yang dilihat dan
ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari
pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat didefinisikan visum et repertum
sebagai laporan tertulis untuk yustisi yang dibuat oleh dokter atas sumpah tentang segala
sesuatu yang diamati (terutama yang dilihat dan ditemukan) pada benda yang diperiksa.
(Visum=dilihat, Repertum=ditemukan). Istilah Visum et Repertum ini dapat ditemukan
dalam lembaran Negara tahun 1937 Nomor : 350 Pasal I yang terjemahannya :
Visa et Reperta pada dokter yang dibuat baik atas sumpah dokter yang diucapkan
pada waktu menyelesaikan pelajarannya di Negeri Belanda atau Indonesia, maupun atas
sumpah khusus seperti tercantum dalam pasal 2, mempunyai daya bukti yang sah
dalam perkara pidana selama Visa et Reperta tersebut berisi keterangan mengenai hal-hal
yang diamati oleh dokter itu pada benda-benda yang diperiksa. 2
Dengan berlakunya KUHAP maka Lembaran Negara tahun 1937 Nomor 350 ini
seharusnya dicabut. Namun karena isi Lembaran Negara tersebut tidak bertentangan
dengan KUHAP sedang istilah Visum et Repertum tidak ditemukan dalam KUHAP, maka
Menteri Kehakiman dalam peraturan Nomor: M.04.UM.01.06 tahun 1983 pasal 10

menyatakan bahwa hasil pemeriksaan Ilmu Kedokteran Forensik disebut Visum et


Repertum.

Oleh

karena

itu

keterangan

ahli/keterangan

hasil

pemeriksaan

Ilmu

Kedokteran Forensik seperti dimaksud KUHAP tidak lain adalah Visum et Repertum.3
Dasar Hukum Dari Visum Et Repertum
Visum et Repertum merupakan pengganti sepenuhnya barang bukti yang diperiksa,
maka oleh karenanya pula Visum et Repertum pada hakekatnya adalah menjadi alat bukti
yang sah. Baik di dalam kitab hukum acara pidana yang lama, yaitu RIB maupun kitab
hukum acara pidana (KUHAP) tidak ada satu pasalpun yang memuat perkataan Visum et
Repetum. Hanya di dalam lembaran negara tahun 1973 no 350 pasal 1 dan pasal 2 yang
menyatakan bahwa visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh
dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang
mempunyai daya bukti dalam perkaraperkara pidana.3
Didalam KUHAP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan kewajiban dokter
untuk membantu peradilan, yaitu dalam bentuk keterangan ahli, pendapat orang ahli,
ahli kedokteran kehakiman, dokter, dan surat keterangan dari seorang ahli yang memuat
pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau suatu keadaan yang diminta
secara resmi dari padanya (KUHAP: pasal 187 butir c). 3
Bila kita lihat perihal apa yang dimaksudkan dengan alat bukti yang sah menurut
KUHAP pasal 184 ayat 1 yaitu:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan Ahli
3. Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan Terdakwa
Maka visum et repertum dapat dikatakan sebagai keterangan ahli maupun sebagai surat.
Hal ini tercantum dalam Pasal 186

Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli

katakan di sidang pengadilan. Keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu
pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk
laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah diwaktu ia menerima jabatan atau
pekerjaan.4
Di dalam penjelasan pasal 186 diterangkan bahwa keterangan ahli ini dapat juga
sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang
dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia
menerima jabatan atau pekerjaan. Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum, maka pada pemeriksaan di sidang, diminta untuk
memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan. Keterangan tersebut

diberikan setelah setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di hadapan hakim.4


Pasal 187 Visum et Repertum dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan
dengan sumpah, adalah:
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan stentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang
jelas dan tegas tentang keterangan itu
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat
yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi
tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan.
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal sesuatu keadaan yang diminta secara resmi padanya.
d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian lain.4
Tujuan Visum Et Repertum
Tugas seorang dokter dalam bidang Ilmu Kedoteran Forensik adalah membantu para
petugas kepolisian, kejaksaan dan kehakiman dalam mengungkap suatu perkara pidana
yang behubungan dengan pengrusakan tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, sehingga
bekerjanya

harus

menghubungkannya

obyektif
satu

dengan

sama

lain

mengumpulkan kenyataan-kenyataan
secara

logis

dan

untuk kemudian mengambil

kesimpulan, maka oleh karenanya pada waktu memberi laporan dalam pemberitaan dari
Visum et Repertum itu harus sesungguh-sungguhnya dan seobyektif-obyektifnya tentang
apa yang dilihat dan diketemukan pada waktu pemeriksaan, dan demikian Visum et
Repertum merupakan kesaksian tertulis. 3.4
Visum et Repertum merupakan rencana (verslag) yang diberikan oleh seorang dokter
mengenai apa yang dilihat dan diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan
secara

obyektif,

sebagai

pengganti

peristiwa

yang

terjadi

dan

harus mengganti

sepenuhnya barang bukti yang telah diperiksa dengan memuat semua kenyataan
sehingga daripadanya dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat.3
Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil
pemeriksan medik tersebut yang tertuang dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian
visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum,
sehingga dapat diketahui dengan jelas apa yang terjadi pada seseorang dan para praktisi
hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut
tubuh atau jiwa manusia. 3

Macam-macam Visum et Repertum1


1. Visum et repertum korban hidup
a. Visum et Repertum
Diberikan bila korban setelah diperiksa atau diobati, tidak terhalang
menjalankn jabatan/ mata pencaharian.1
b. Visum et Repertum sementara
Diberikan apabila setelah diperiksa, ternyata:

Korban perlu dirawat/ diobservasi


Korban terhalang menjalankan pekerjaan jabatan/mata pencaharian Visum
et repertum

sementara ini dipergunakan sebagai bukti untuk menahan

terdakwa. Dan karena belum sembuh, maka visum et repertumnya tidak


memuat kualifikasi luka.1
c. Visum et Repertum lanjutan
Diberikan apabila setelah dirawat/ diobservasi, ternyata:

Korban sembuh
Korban belum sembuh, pindah rumah sakit atau dokter lain
Korban belum sembuh, kemudian pulang paksa atau melarikan diri
Korban meninggal dunia 1

Kualifikasi luka dalam visum et repertum lanjutan dibuat setelah korban selesai
dirawat.

2. Visum et repertum mayat


3. Visum et repertum pemeriksaan TKP
4. Visum et repertum penggalian mayat
5. Visum et repertum mengenai umur
6. Visum et repertum psikiatrik
7. Visum et repertum mengenai bukti lain (Hoediyanto, 2007; Mabes Polri, 1985)

Kualifikasi Luka
Pengertian Luka
Suatu

luka

dapat

didefinisikan

sebagai

rusaknya

jaringan

tubuh

yang

disebabkan oleh suatu trauma. Ada bermacam-macam penyebab luka, yaitu yang
disebabkan oleh tembakan, aliran listrik, persentuhan dengan benda tumpul, benda tajam,
bahan kimia, dan sebagainya. Dalam menyelesaikan suatu perkara terutama suatu tindak

pidana, tidak jarang penyidik membutuhkan bantuan dari para ahli dalam bidang
pengetahuan masingmasing. Bilamana bantuan ini berhubungan dengan bidang kedokteran,
maka sudah selayaknya bahwa yang diminta bantuan adalah seorang dokter.1
Salah satu peranan seorang dokter adalah ikut menegakkan dan membela
kebenaran serta keadilan yang diwujudkan dalam bentuk visum et repertum. Tidak jarang
dokter dihadapkan untuk ikut memeriksa korban yang menderita luka atas permintaan
penyidik. 1
Landasan Hukum Kualifikasi Luka
Pada kesimpulan visum et repertum untuk orang atau korban hidup, yaitu pada
visum et repertum lanjutan, harus dilengkapi dengan kualifikasi luka. Dalam proses
peradilan, jenis luka dan kekerasan luka membuktikan adanya Peristiwa hukum,
sedangkan

kualifikasi

luka

mampu

menggambarkan

akibat

hukum

sesuatu

kecederaan. Kualifikasi luka ini akan memudahkan hakim untuk menjatuhkan pidana.1
Pasal 351: (1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-(2) Jika perbuatan itu
mengakibatkan luka berat, si tersalah dihukum penjara selamalamanya tujuh tahun. (KUHP
90). (3) Jika

perbuatan

itu

menjadikan

mati

orangnya,

dia

dihukum

penjara

selamalamanya tujuh tahun (KUHP 358). (4) Dengan penganiayaan disamakan merusak
kesehatan orang dengan sengaja.(5) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat
dihukum. (KUHP 37, 53, 184 s,353 s, 356, 487). Pasal 352 KUHP (1) Selain daripada apa
yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit
atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan sebagai penganiayaan ringan,
dihukum penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,hukuman ini boleh ditambah dengan sepertiganya, bila kejahatan itu dilakukan terhadap
orang yang bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya. (2) Percobaan melakukan
kejahatan ini tidak dapat dihukum.1.5
Pasal 353 KUHP (1) Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih
dahulu dihukum penjara selama-lamanya empat tahun. (2) Jika perbuatan itu menjadikan
luka berat, si tersalah dihukum penjara selamalamanya tujuh tahun. (3) Jika perbuatan itu
menjadikan kematian orangnya ia dihukum penjara selamalamanya sembilan tahun.5
Pasal 354 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain,
dihukum

karena menganiaya berat, dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan

tahun. (2) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya, si tersalah dihukum penjara
selama-lamanya sepuluh tahun.5
Pasal 355 KUHP (1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan direncanakan
terlebih dahulu, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu

menyebabkan kematian orangnya, si tersalah dihukum penjara selama-lamanya lima belas


tahun.5
Dari pasal-pasal KUHP di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu tindak
pidana penganiayaan itu mengakibatkan :5
I. Luka dengan derajat luka atau kualifikasi luka sebagai berikut :
1. Luka derajat pertama (Luka golongan C) ialah : Luka yang tidak berakibat
penyakit atau halangan menjalankan jabatan atau pekerjaan pasal 352 KUHP
(penganiayaan ringan).
2. Luka derajat kedua (Luka golongan B) ialah : Luka yang berakibat penyakit atau
halangan menjalankan jabatan atau pekerjaan untuk sementara waktu pasal 351
(1) KUHP (penganiayaan).
3. Luka derajat ketiga (Luka golongan A) ialah : Luka yang menyebabkan
rintangan/halangan
pencaharian. --

tetap

dalam

menjalankan

jabatan,

pekerjaan

atau

pasal 351 (2), 353 (2), 354 (1), dan pasal 90 KUHP

(penganiayaan yang mengakibatkan Luka Berat = Zwaarlichamelijk letsel).


Pembagian kualifikasi luka
Kualifikasi luka ini dapat didasarkan pada:1
1. Luka derajat pertama (luka golongan C), pada KUHP pasal 352 yaitu: Luka yang tidak
berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata
pencaharian (penganiayaan ringan).
2. Luka derajat kedua (luka golongan B), pada KUHP pasal 351 ayat 1 yaitu: Luka yang
berakibat penyakit atau halangan untuk sementara waktu (penganiayaan).
3. Luka derajat ketiga (luka golongan A), pada pasal 351 (2), 353 (2), 354 (1), jo pasal 90
KUHP yaitu: Luka yang menyebabkan rintangan/halangan menjalankan jabatan, pekerjaan
atau pencaharian (penganiayaan yang menimbulkan luka berat (Zwaar Lichamelijk Letsel).
Yang harus diperhatikan ialah:
a. Jenis luka apa yang terjadi
b. Jenis senjata apa yang menyebabkan terjadinya luka itu
c. Kualifikasi dari pada luka itu.
Kriteria luka sedang dan ringan. Tetapi untuk luka berat menurut KUHP pasal 90,
maka luka berat meliputi:
1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali
atau yang menimbulkan bahaya maut.
2. Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencaharian.

3. Kehilangan salah satu panca indera.


4. Mendapat cacat berat.
5. Menderita sakit lumpuh.
6. Terganggu daya pikir selama 4 minggu lebih.
7. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Tujuan dan Manfaat Kualifikasi Luka
Untuk menjawab jenis tindak pidana yang terjadi, perlu dijelaskan dalam
kesimpulan VeR tentang jenis luka pada korban. Secara morfologis suatu luka dapat
memiliki karakteristik tertentu sehingga deskripsi jenis luka dapat diasosiasikan dengan
benda penyebabnya, besarnya energi pada jaringan, dan konsekuensinya pada korban.
Luka dengan jenis kekerasan mekanik, misalnya deskripsi luka lecet yang terdiri dari luka
lecet gores, luka lecet geser, atau luka lecet tekan, dengan bentuk tertentu dapat memberi
gambaran benda penyebabnya. Selain itu, arah luka lecet juga perlu dicantumkan untuk
memberi petunjuk terhadap arah kekerasan yang terjadi. Sedangkan pada memar, warna,
dan luas luka dapat memberi petunjuk mengenai waktu dan besar kekerasan yang terjadi.
Sehingga kualifikasi luka bermanfaat dalam membantu penegak hukum untuk menjatuhkan
keputusan hukum.1

Petunjuk membuat diskripsi luka1


Diskripsi luka harus seobjektif mungkin, meliputi :
1. Jumlah luka
2. lokasi luka, meliputi :
a. lokasi berdasarkan regio anatominya.
b. Lokasi berdasarkan garis garis koordinat atau bagian-bagian tubuh tertentu.
3. Bentuk luka, meliputi :
a. Bentuk sebelum dirapatkan
b. Bentuk setelah dirapatkan
4. Ukuran luka, meliputi :
a. Ukuran sebelum dirapatkan
b. Ukuran setelah dirapatkan
5. Sifat-sifat luka, yaitu :
a. Garis batas luka

- Bentuk (teratur atau tidak teratur)


- Tepi (rata atau tidak)
- Sudut luka (ada atau tidak, jumlahnya berapa dan bentuknya runcing atau tidak)
b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi :
- Tepi luka (rata atau tidak serta terdiri dari jaringan apa saja)
- Antara kedua tebing ada jembatan jaringan atau tidak
- Dasar luka (terdiri atas jaringan apa, warnanya, perabaannya, ada apa saja di atasnya.
c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi :
- Memar (ada atau tidak)
- Tatoase (ada atau tidak)
- Jelaga (ada atau tidak)
- Bekuan darah (ada atau tidak)
- Lain-lain (ada atau tidak)
Petunjuk pembuatan kesimpulan
Kesimpulan harus memuat :
1. Jenis luka /kelainan yang ditemukan
2. Jenis benda penyebabnya
3. Bagaimana cara benda itu menimbulkan luka/kelainan
4. Apa akibatnya dan derajat lukanya.
Pokok-pokok isi kesimpulan Visum Et Repertum yang berhubungan dengan kualifikasi luka
adalah sebagai berikut:1
Pokok-pokok isi kesimpulan Contoh bunyi kesimpulan pada VR
1. Jenis luka/kelainan yang ditemukan
2. Bagaimana cara benda itu menimbulkan luka / kelainan
3. Apa akibatnya atau derajat lukanya
Pada pemeriksaan fisik pada pasien ini terdapat luka robek kulit dan otot dengan
ukuran kurang lebih lima centimeter di punggung kiri dekat ketiak
Sehingga visum et repertum sementara pada korban disimpulkan bahwa didapatkan
luka robek kulit dan otot di punggung kiri dekat ketiak. Kerusakan tersebut disebabkan
oleh persentuhan dengan benda bermata tajam. Kerusakan tersebut diatas tidak
mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencaharian. Demikian Visum et Repertum dibuat atas sumpah / janji sebagai dokter pada

waktu memangku jabatan saya.