Anda di halaman 1dari 12

JOURNAL READING

THE METABOLIC SYNDROME

Oleh:
ROFA HUSNUL KHULUQI
0710710009

Pembimbing:
Prof. Dr. dr. H. DJANGGAN SARGOWO, SpPD, SpJP(K)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2012

SINDROMA METABOLIK
Maria Luz Fernandez, PhD
Sindroma metabolik adalah sekelompok gejala berhubungan dengan resistensi
insulin yang diketahui medahului onset dari diabetes tipe 2. Overweight dan
Obesitas

secara

signifikan

berpengaruh

pada

perkembangan

sindroma

metabolik. Pada kenyataannya, penurunan berat badan memiliki pengaruh yang


besar dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan sindroma metabolik.
Beberapa penelitian telah membuktikan, dengan menurunkan 7-10% berat
badan awal dapat memberikan perbaikan pada linkar pingang, dislipidemia
(meningkatkan trigliserida dan menurunkan LDH), lemak tubuh, dan glukosa
plasma. Penelitian ini menekankan pada pentingnya penurunan berat badan dan
tipe diet dalam menekan gejala-gejala sindroma metabolik.
Kata kunci: restriksi karbohidrat, sindroma metabolik, overweight, lingkar
pinggang, penurunan berat badan.
2007 International Life Sciences Institute
doi: 10.1301/nr.2007.jun.S30-S34
Pendahuluan
Walaupun usaha yang terus menerus untuk memberikan edukasi kepada
masyarakat luas, bahwa berat badan yang berlebih dapat meningkatkan resiko
terhadap penyakit kronis, prevalensi overweight dan obesitas masih terus
meningkat1. Overweight adalah nilai BMI 25 - 29,9 kg/m 2 dan obesitas memiliki
nilai BMI 30kg/m2. Penelitian telah menunjukkan bahwa overweight/obesitas
memiliki resiko yang tinggi terhadap terjadinya resistensi insulin, sindroma
metabolik, diabetes, hipertensi, dan coronary heart disease (CHD)1,2. Akhir-akhir
ini lingkar pinggang telah digunakan sebagai kriteria yang lebih dapat diandalkan
daripada BMI untuk memprediksi resiko terhadap CHD 3,4, dan hal ini merupakan
satu dari parameter untuk klasifikasi sindroma metabolik5.
Sindroma metabolik adalah sekelompok gejala yang tampak sesaat
sebelum onset diabetes tipe 2 (berhubungan dengan overweight pada orang
dewasa)6. The Adult Treatment Panel III telah menentukan bahwa seseorang di

klasifikasikan kedalam sindroma metabolik jika terdapat 3 atau lebih parameter


yang terdapat pada Tabel 17. Selain itu, sindroma metabolik juga berhubungan
dengan tingginya kadar C-reactive protein7.
Sindroma metabolik juga dipertimbangkan sebagai pertanda untuk
obesitas dan dislipidemia. Di Amerika Serikat, epidemi obesitas telah mencapai
level yang harus di waspadai. Diperkirakan prevalensi obesitas sekitar 13.4%
pada sensus pertama, yang mencakup epidemi obesitas di tahun 1960-1962. Di
tahun 2000, diperkirakan 64.5% orang dewasa di amerika serikat menderita
overweight dan obesitas. Saat ini, sekitar 16 juta orang di Amerika Serikat
menderita Diabetes Melitus tipe 2. Disamping itu, CHD merupakan penyebab
utama kematian pada pria maupun wanita8.
Identifikasi terhadap faktor resiko yang berhubungan dengan penyakitpenyakit tersebut, yang dapat digunakan dan diintepretasikan pada banyak
orang sangat penting, karena Diabetes Melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular
dapat progresif secara diam-diam. Disamping itu telah secara jelas ditemukan
bahwa baik Diabetes Melitus tipe 2 dan CHD dapat dimodifikasi dengan cara
menurunkan berat badan9. Beberapa jenis intervensi telah digunakan untuk
memperbaiki gejala-gejala pada sindroma metabolik. Restriksi karbohidrat
muncul sebagai satu dari interfensi yang paling efektif.
RESTRIKSI KARBOHIDRAT
Seperti yang telah dijelaskan di atas, lingkar pinggang memainkan
peranan penting terhadap perbaikan pada sindroma metabolik. Sementara
obesitas abdominal ditentukan oleh akumulasi baik jaringan lemak subkutan
maupun jaringan lemak visceral, beberapa penelitian menjelaskan bahwa yang
memainkan peranan mayor pada sindroma metabolik adalah jaringan lemak
visceral (Visceral Adipose Tissue / VAT)10. Portal Theory berpendapat bahwa
resistensi insulin dan banyak gejala yang berhubungan dengan resistensi insulin
dapat terjadi akibat VAT yang membawa asam lemak bebas dengan nilai yang
tinggi ke liver melalui vena porta, dimana VAT secara langsung di alirkan.
Akibatnya produksi glukosa hepar meningkat, hepatic insulin clearance menurun,
dan akhirnya terjadi insulin resisten, hiper insulinemia, hiperglikemia, dan
penyakit fatty-liver non alkoholik11.

Tabel 1. Parameter Klasifikasi Sindroma Metabolik


Parameter
Pria
Gula darah puasa (mg/dl)
>110
Tekanan darah (mmHg)
>130/85
Plasma Trigliserida (mg/dl)
>150
HDL *(mg/dl)
<45
Lingkar pinggang (cm)
>102
*HDL, high-density lipoprotein

Wanita
>110
>130/85
>150
<50
>88

Diet restriksi karbohidrat dapat memperbaiki semua biomarker yang


berhubungan dengan sindroma metabolik12. Penelitian terbaru oleh Volek et al.
13

menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat, isoenergetik, dan jangka pendek,

secara signifikan dapat menurunkan trigliserida puasa dan postprandial,


meningkatkan HDL-C dan menurunkan rasio kolesterol total/HDL-C. Peningkatan
yang besar pada HDL-C berhubungan dengan meningkatnya produksi lipoprotein
tersebut oleh hepatosit dan mukosa intestinal dan atau meningkatnya aktivitas
lipoprotein lipase (LPL), yang berakibat pada disosiasi komponen permukaan
yang diperoleh dari HDL. Penelitian pada tikus yang diberi diet tinggi lemak
membuktikan adanya korelasi yang kuat antara peningkatan aktifitas postheparin LPL dan HDL-C14. Pada manusia diet sedang sampai tinggi lemak (46%65% dari total energi) secara signifikan dapat meningkatkan aktivitas postheparin plasma LPL dan aktivitas LPL otot skeletal15.
Pada penelitian yang lain, efek diet tinggi monounsaturated fat (rendah
karbohidrat) dan diet tinggi karbohidrat diteliti untuk dibandingkan mengenai efek
resistensi LDL terhadap oksidasi pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 pada
intervensi yang mengikuti design crossover acak16. Kedua tipe diet tersebut
dibandingkan pada akhir minggu ke-6, dan hasilnya diet tinggi lemak lebih
digemari oleh pasien. Meskipun tidak ada efek efek signifikan pada kolesterol
plasma, trigliserida, HDL-C, parameter oksidasi LDL, berat badan, atau glycemic
dari control tetap di observasi antara 2 periode diet. Penurunan signifikan di
observasi baik pada VLDL-C (very-low-density-lipoprotein cholesterol) dan
trigliserida selama periode diet tinggi lemak. Para peneliti menyimpulkan bahwa
diet tinggi lemak yang kaya akan monounsaturated fat adalah alternative yang
baik untuk pasien dengan Diabetes Melitus tipe 2 akibat palatability dan high
acceptance dari makanan tersebut, disamping efek yang menguntungkan pada
profil lemak darah yang telah diteliti dari makanan tersebut18.

Peneliti telah mengadakan 2 penelitian yang bertujuan memperbaiki


faktor resiko kardiovaskuler dan sindroma metabolik yang terjadi. Kedua
penelitian penurunan berat badan tersebut yang melibatkan pria dan wanita
premenopaus selanjutnya akan dijelaskan lebih rinci. Ketika intervensi dimulai,
individu-individu tersebut mengalami overweight, obsetitas, dan mengalami
dislipidemia, atau gejala yang berhubungan dengan resistensi insulin dan
sindroma metabolik.
PENELITIAN

DENGAN

WANITA PREMENOPAUS

YANG

MENGALAMI

OVERWEIGHT / OBESITAS
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi apakah penurunan
berat badan yang diinduksi oleh modifikasi diet meliputi restriksi kalori dan
modifikasi pada komposisi macronutrient disertai peningkatan aktivitas fisik dapat
menyebabkan perubahan metabolik yang menguntungkan mengenai CVD dan
sindroma metabolik pada wanita muda. Penelitian ini membutuhkan 80 wanita
(usia 29.9 5.1 tahun) yang diklasifikasi kedalam obesitas dan overweight (BMI
26-27 kg/ m2).
Meskipun level total kolesterol wanita-wanita tersebut, HDL-C &
trigliserida dalam rekomendasi normal, level LDL-C lebih tinggi dari 100mg/dl.
Selain itu, sebagian besar dari wanita-wanita tersebut memiliki LDL densitas
rendah yang berhubungan dengan meningkatnya faktor resiko untuk CHD 18.
Adanya LDL densitas rendah (B phenotype) berhubungan dengan tingginya level
trigliserida dan lemak abdominal dan rendahnya level HDL-C 19. Sebelas dari
wanita-wanita tersebut terdeteksi menderita sindroma metabolik berdasarkan
klasifikasi yang ditampilkan pada Tabel 1. Sementara 25 dari wanita-wanita
tersebut mengalami resistensi insulin.
Wanita-wanita tersebut mengikuti intervensi selama 10 minggu yang
berisiskan diet rendah lemak yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan
level aktivitas20,21. Diet tersebut memiliki distribusi energy sebagai berikut: 30%
protein, 30% lemak, 40% karbohidrat. Partisipan meningkatkan level aktivitasnya
dengan meningkatkan jumlah langkah kaki yang dilakukan setiap hari, yang
diukur dengan pedometer. Subjek ini diminta untuk ditingkatkan sebanyak 1500
langkah setiap minggu sampai partisipan menyelesaikan 4500 langkah
tambahan dari nilai awal (baseline) langkah masing-masing. Wanita-wanita ini
juga mengkonsumsi suplemen baik carnitine (3g/hari) maupun placebo

(cellulose) secara acak, desain double blind. Semua subjek menerima 90% dari
makanan mereka. Mereka bertanggung jawab untuk membeli minyak goring dan
susu (nonfat). Daging, buah, sayur, roti, pasta, dan snack disediakan oleh
peneliti.
Pada akhir penelitian, partisipan mengalami perubahan signifikan pada
berat badan, lemak abdominal, lingkar pinggang22, kolesterol, trigliserida, dan
LDL-C, begitu juga ukuran partikel LDL

23

dan konsentrasi plasma insulin22.

Carnitine tidak memiliki efek pada parameter yang di ukur, sehingga data untuk
70 subjek yang telah selesai pada penelitian disatukan. Hasil disajikan antara
baseline dan post-treatment (10 minggu) pada Tabel 2 dan 3.
Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2, wanita mengalami penurunan
BMI, lingkar pinggang, berat badan, total lemak, dan lemak abdominal selama
setelah intervensi (P < 0.001)22. Wanita-wanita tersebut juga mengalami
penurunan pada total kolesterol, LDL-C, dan trigliserida, dan mengalami
peningkatan ukuran partikel LDL. Pada Tabel 3 dicantumkan sebuah presentase
signifikan perubahan subjek dari pola B menjadi pola A setelah 10 minggu23.
Kesimpulannya, semua perubahan yang terjadi sangat menguntungkan. Namun,
level HDL-C tidak berubah setelah partisipan mengalami penurunan berat badan,
begitu pula tidak terdapat perubahan yang bermakna pada tekanan darah.
Kunci variable lain yang dipengaruhi oleh intervensi adalah insulin
plasma, yang mengindikasikan bahwa penurunan berat badan berhubungan
dengan regulasi level insulin (Tabel 2). Penurunan insulin ini merupakan inti dari
penelitian ini, karena resistensi insulin, kondisi yang berhubungan dengan onset
Diabetes Melitus merupakan indikasi untuk menurunkan berat badan hingga ke
batas normal.
Hasil yang paling signifikan dari penelitian ini, bahwa, 25 wanita yang
mengalami resistensi insulin, 17 diantaranya menjadi sensitive insulin (dengan
penurunan yang sangat signifikan pada faktor resiko Diabetes). 11 wanita yang
diklasifikasikan kedalam sindroma metabolik, 10 diantaranya tidak lagi masuk
dalam klasifikasi ini setelah mereka menurunkan kadar trigliserida plasma dan
lingkar pinggang22.
Tabel 2. Perubahan pada Berat Badan, Body Mass Index (BMI), dan Lingkar
Pinggang (WC) pada Wanita Premenopaus pada Baseline dan Setelah 10 Minggu
Intervensi Penurunan Berat Badan

Baseline

Setelah 10 minggu

Berat Badan (kg)

79.4 11.1 a

75.8 11.4 b

BMI (kg/m2)

29.6 3.2 a

28.3 3.4 b

WC (cm)

90.1 8.0 a

84.3 7.8 b

Lemak total (g)

32.7 7.9 a

30.3 7.9 b

Lemak abdominal (g)

15.4 3.7 a

14.1 3.9 b

Insulin (m/ml)

14.7 9.0 a

12.0. 6.5 b

*nilai mencerminkan rata-rata SD untuk N = 70 partisipan. Nilai pada baris yang


sama dengan kategori berbeda, secara signifikan berbeda sebagaimana ditentukan
oleh students t test (P<0.001)
Hasil dari penelitian ini yaitu, intervensi yang hanya membutuhkan
konsumsi diet rendah karbohidrat dan meningkatkan jumlah langkah kaki per
hari, memiliki implikasi yang penting terhadap kesehatan, karena biomarker
untuk penyakit kronis dan sindroma metabolik memiliki kecenderungan untuk
dihilangkan. Penelitian selanjutnya ditujukan untuk mengetahui apakah penting
untuk mempertahankan hasil profil lemak yang normal dan menjauhkan subjek
dari klasifikasi sindroma metabolik, untuk memberikan informasi yang kuat
kepada masyarakat luas.
PENELITIAN DENGAN PRIA OVERWEIGHT / OBESITAS
Tujuan

dari

penelitian

ini

adalah

untuk

menentukan

efek

dari

penambahan serat larut air (soluble fiber) pada diet rendah karbohidrat, dengan
distribusi energi 60% lemak, 30% protein, dan 10% karbohidrat terhadap plasma
LDL-C dan marker yang diukur secara tradisional untuk CHD dan sindroma
metabolik. Dengan menggunakan parallel-arm, double blind, placebo-controlled
design, sebanyak 30 pria obesitas dan overweight (BMI 25-35 kg/m2) secara
acak diharuskan untuk mengkonsumsi diet rendah karbohidrat yang disertai serat
larut air (Konjac-mannan, 3g/hari) (n = 15) atau placebo (n = 15). Lipid plasma,
antropometrik, komposisi tubuh, tekanan darah, dan asupan nutrisi dievaluasi
pada baseline, 6 minggu, dan 12 minggu. Kepatuhan partisipan dinilai sangat
bagus, sebagaimana yang dinilai melalui catatan pertimbangan diet selama 7
hari dan ketonuria22.
Semua subjek diikutkan pada pertemuan kelompok dimana ahli gizi yang
telah terdaftar memberikan instruksi tentang bagaimana mengikuti diet rendah

karbohidrat, sama dengan yang digunakan pada penelitian sebelumnya 14,23.


Subjek diberi instruksi untuk menentukan ketonuria pada saat yang sama setiap
malam menggunakan strip reagen untuk menilai kepatuhan.
Data dari semua subjek disatukan untuk dievaluasi efek dari intervensi
pada antropometrik dan lipid plasma. Hal ini dikarenakan tidak ada perbedaan
yang signifikan antara serat dan placebo. Terdapat penurunan berat badan yang
signifikan (P<0,01), presentase lemak tubuh (P<0,01), tekanan darah sistolik
(P<0,01), lingkar pinggang, dan glukosa plasma (P<0,01) selama intervensi
(Tabel 4). Yang paling signifikan, setelah 12 minggu HDL-C menjadi lebih tinggi
dan trigliserida menjadi lebih rendah (P<0.0001), sementara LDL-C mengalami
penurunan sebesar 14.1% (Tabel 4).
Dikarenakan penurunan trigliserida plasma, konsumsi diet rendah
karbihidrat menyebabkan penurunan yang signifikan pada apolipoprotein C-I (13.8%), apolipoprotein C-III (-21.2%), dan apolipoprotein E (-12.5)%. Aktifitas
Lecithin cholesterol acyltransferase (LCAT) meningkat secara signifikan dari 18.3
6.8 menjadi 28.3 16.6 mmol/mg/jam setelah 12 minggu (P<0.01), sementara
aktivitas protein cholesterol ester transfer tidak berbeda antara baseline dengan
minggu ke 12 (P>0,05)24.
Diet rendah karbohidrat memiliki pengaruh yang besar terhadap jumlah
partikel VLDL, LDL, dan HDL. Jumlah total partikel VLDL menurun sebesar 19%.
Terjadi penurunan kadar VLDL (P< 0.001)25 dalam jumlah kecil (-4.3%), sedang
(-40.2), dan besar (-47.7) antara baseline hingga minggu ke 12. Ukuran partikel
LDL meningkat (P < 0.001), sementara jumlah partikel menurun (P<0.05) antara
baseline hingga minggu ke 12. Meningkatnya ukuran partikel disebabkan oleh
peningkatan 35% partikel LDL besar (P<0.001) dan penurunan 25% partikel
VLDL (P<0.001). Partikel LDL sedang dan LDL kecil juga menurun secara
berturut-turut sebesar 27% dan 30% (P<0.01) (Gambar 1). Konsumsi diet rendah
karbohidrat selama 12 minggu juga menyebabkan peningkatan ukuran partikel
HDL (P<0.01). Jumlah partikel besar HDL meningkat 39%, sedangkan jumlah
partikel sedang HDL menurun (P<0.01) dan partikel kecil HDL tetap tidak
berubah (P<0.05).
Tabel 3. Total Cholesterol (TC), Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C),
High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C), Triglyceride (TG), dan ukuran
maksimal Low Density Lipoprotein (LDL) pada wanita premenopaus pada

Baseline dan setelah 10 minggu intervensi penurunan berat badan,


Baseline

Setelah 10 minggu

TC (mg/dL)

182.8 37.6 a

168.2 25.8 b

LDL (mg/dL)

99.8 25.1 a

87.5 24.0 b

HDL (mg/dL)

61.4 10.8 a

61.3 12.4 b

TG (mg/dL)

32.7 7.9 a

97.1 43.0 b

Ukuran maksimal LDL (nm)

26.4 0.37 a

28.6 0.36 b

*nilai mencerminkan rata-rata SD untuk N = 70 partisipan. Nilai pada baris yang


sama dengan kategori berbeda, secara signifikan berbeda sebagaimana
ditentukan oleh students t test (P<0.001)
Penelitian ini menyediakan informasi baru mengenai perubahan pada
metabolisme lipoprotein yang dihasilkan dari pengaturan jumlah konsumsi
karbohidrat.

Diet

rendah

karbohidrat

selama

12 minggu menyebabkan

penurunan yang signifikan pada trigliserida dan apolipoprotein yang terlibat pada
metabolism trigliderida, sehingga menyebabkan penurunan jumlah partikel VLDL.
Penurunan

pada

lipoprotein

kaya

trigliserida

ini

berhubungan

dengan

peningkatan pada rata-rata ukuran partikel LDL, dan penurunan jumlah partikel
very small LDL dan small LDL. Kemudian, perubahan pada trigliserida plasma
disertai peningkatan aktivitas LCAT menyebabkan peningkatan rata-rata ukuran
diameter partikel HDL. Hasil penelitian ini memberikan informasi penting tentang
pengaruh baik diet rendah karbohidrat terhadap resiko kardiovaskular. Hasil
penelitian ini hanya terbatas pada pria overweight dan pria yang agak obesitas,
pria yang sehat, dan pria yang tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan yang
menurunkan kadar lemak. Durasi pemberian intervensi relative singkat namun
terkontrol secara ketat, yang secara jelas mencerminkan adaptasi biologis yang
sebenarnya terhadap diet rendah lemak. Para peneliti menyimpulkan bahwa
perubahan pada metabolism lipoprotein disebabkan oleh pembatasan konsumsi
karbohidrat, yang dicapai melalui perubahan pada morfologi VLDL, HDL, dan
LDL, dan konsentrasi apolipoprotein.
Perbandingan parameter-parameter yang dimodifikasi pada kedua
intervensi penurunan berat badan ini disajikan pada Tabel 5. Sangat penting
untuk dicatat bahwa terdapat perbedaan lain antara kedua penelitian ini, yaitu
meliputi gender dan durasi intervensi. Meskipun demikian, mengkonsumsi diet
sangat rendah karbohidrat (10% karbohidrat) terbukti lebih efektif dalam

memperbaiki parameter yang berhubungan dengan sindroma metabolik dari


pada mengkonsumsi diet dengan kandungan karbohidrat yang sedang (40%
karbohidrat).
Kesimpulannya,

terdapat

banyak

faktor

gaya

hidup

yang dapat

dimodifikasi dan memiliki pengaruh pada sindroma metabolik. Tetapi, penurunan


berat badan dan modifikasi diet adalah alternative terbaik. Diantara semua
intervensi diet, pembatasan konsumsi karbohidrat memiliki pengaruh yang lebih
besar.
Tabel 4. Perubahan berat badan, presentase lemak tubuh, lingkar pinggang (WC),
glukosa, tekanan darah sistolik (SBP), Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C),
High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C), Triglyceride (TG) pada pria
overweight dan setelah 12 minggu intervensi diet rendah karbohidrat.
Baseline
Setelah 10 minggu
Berat badan (kg)

93.2 14.0 a

85.8 14.4 b

Lemak tubuh (kg)

32.1 4.4 a

28.0 5.8 b

WC (cm)

103.0 10.7 a

94.9 10.8 b

Glukosa (mg/dL)

93.1 13.0 a

89.2 10.9 b

SBP (mmHg)

124.3 10.1 a

116.7 9.0 b

LDL-C (mg/dL)

113.4 36.9 a

103.0 32.2 b

HDL-C(mg/dL)

41.5 11.1 a

46.5 12.9 b

TG (mg/dL)

117.7 50.5 a

72.3 31.8 b

*nilai mencerminkan rata-rata SD untuk N = 29 partisipan. Nilai pada baris yang


sama dengan kategori berbeda, secara signifikan berbeda sebagaimana ditentukan
oleh students t test (P<0.001)

Tabel 5. Perbandingan perubahan pada berat badan, Low Density Lipoprotein


Cholesterol (LDL-C), High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C), Triglyceride
(TG), Glukosa, Tekanan Darah Sistolik (SBP), dan Sindroma Metabolik (MetSyns)
antara pria dengan wanita.
Wanita

Pria

Berat badan (kg)

-3.2

-8.2

LDL-C (mg/dL)

-12.0

-9

10

HDL-C(mg/dL)

+12.0

TG (mg/dL)

-19

-39

Glukosa (mg/dL)

-5

SBP (mmHg)

-6

Metsyn (% reduction)

83

63

*wanita premenopaus mendapatkan diet 40% karbohidrat selama 10 minggu; pria


mendapatkan diet 10% karbohidrat selama 12 minggu.
P<0.01
P<0.001
800
700
600
500
400
300

Baseline

200

Week 12

100
0

800
700
600
500
400
300
200
100
0

Baseline

Baseline
Week 12

Large LDL
336

Medium
796

11

Small LDL
157

Very Small
636

Week 12

455

581

110

479

Gambar 1. Kuantitas subkelas Low-Density Lipoprotein (LDL)

12