Anda di halaman 1dari 12

BAB I

Latar Belakang

Gereja Blenduk (dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah
Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda di Semarang
pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan).
Gereja bernama asli Nederlandsch Indische Koepelkerk atau Gereja Berkubah Hindia
Belanda ini dibangun pada tahun 1753 M. Oleh pemerintah Hindia Belanda yang pada saat
itu berkuasa di Indonesia. namun ketika pemerintahan Belanda berakhir dan memasuki masa
kemerdekaan Indonesia, Gereja ini berubah nama menjadi Gereja Protestan Indonesia Bagian
Barat (GPIB) Immanuel.
Gereja Belenduk berdiri di kawasan Kota Lama Semarang atau Semarang Old Town tepatnya
di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kota lama sendiri merupakan sebuah kawasan peninggalan
Belanda yang sempat menjadi pusat kota Semarang pada masa kolonial. Sehingga di kawasan
kota lama, terdapat bangunan bersejarah lainnya yang mengelilingi Gereja Belenduk.
Ciri khas utamanya dari gereja ini adalah Kubah besar berwarna merah bata dengan dilapisi
perunggu, menjadi identitas dari bangunan bergaya neo lasik ini. Interior yang megah, dihiasi
lampu gantung kristal, bangku-bangku ala Belanda dan kursinya semua masih asli. Lalu ada
orgen Barok nan indah, yang sayangnya sudah tidak bisa dipakai (rusak). Bahkan tak ada ahli
yang dapat memperbaikinya. Tangga dari besi cor (lebur) menuju ke orgen Barok itu buatan
perusahaan Pletterij, Den Haag.
Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang
secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Bangunan ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan
hampir sama tinggi dengan jalan di depannya. Pondasi yang digunakan terbuat dari batu dan
sistem strukturnya dari bata. Dinding terbuat dari bata setebal satu batu. Atap bangunan
berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu jati. Di
bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang dalam yang luas.
Pada sisi bangunan, Timur, Selatan dan Barat terdapat portico bergaya Dorik Romawi yang
beratap pelana. Gereja ini memiliki dua buah Menara dikiri kanan Yang denahnya dasar
berbentuk bujur sangkat tetapi pada lapisan paling atas berbentuk bundar. Menara ini beratap
kubah kecil. Cornice yang ada disekililing bangunan berbentuk garis-garis mendatar.
Pintu masuk merupakan pintu ganda dari panel kayu. Ambang atas pintu berbentuk lengkung.
Demikian pula halnya dengan ambang atas jendela, yang berbentuk busur. Tipe jendela ada
dua kelompok. Pertama, jendela ganda berdaun krepyak, sedangkan yang kedua merupakan
jendela kaca warna-warni berbingkai.
Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini
hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat

sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda. Bangunan yang terkait di sekitar Gereja
Blenduk adalah Gedung Jiwasraya yang terletak di sebelah Selatan, kantor Kerta Niaga di
sebelah Barat, ruang terbuka bekas Parade Plein di sebelah Timurnya.
Gereja Blenduk sudah berganti rupa beberapa kali. Mula-mula Gereja di bangun pada tahun
1753, berbentuk rumah panggung Jawa, dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Hal
ini dapat dilihat pada peta kota Semarang tahun 1756 yang menunjukkan konfigurasi massa
yang berbeda dari sekarang. Pada tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total.
Tujuh tahun berikutnya diadakan kembali perubahan. Pada tahun 1894, gedung ini dibangun
kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan bentuk seperti sekarang ini. Yaitu
dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada
kolom di belakang mimbar.
Berdiri di kawasan kota lama, Gereja belenduk yang merupakan situs bersejarah kini menjadi
salah satu landmark kotaSemarang, sejajar dengan Tugu muda, Lawang sewu, kawasan
simpang lima dan Masjid Agung Jawa Tengah. Mengandung nilai sejarah yang begitu besar,
gereja Blenduk memiliki daya tarik untuk dikunjungi baik oleh warga Semarang, Luar Kota
dan bahkan wisatawan mancanegara.
Tepat di sebelah Bangunan Gereja terdapat Taman kota Srigunting. Taman sriguting menjadi
titik santai bagi masyarakat dan Wisatawan untuk menikmati arsitektur bangunan bersejarah
di kawasan kota lama, sehingga taman yang berada tepat di timur gereja ini selalu ramai
dikunjungi.
Tidak hanya menawarkan nilai nilai sejarah saja, disekeliling Gereja Belenduk juga terdapat
kios kios pedagang souvenir yang menawarkan barang dagangan dari mulai koleksi barangbarang kuno, antik, uang kuno dan juga berbagai macam hasil kesenian.
Issue
Apa yang Pengunjung Nilai darai Gereja Belenduk dan Strategi apa yang bisa diterapkan
pada gereja Belenduk?
Fokus
Strategi Pemasaran Objek Bersejarah Gereja Belenduk
Tujuan
Pembahasan ini ditujukan unuk mengetahui strategi pemasaran apa yang paling tepat
digunakan untuk memasarkan Objek Bersejarah Gereja Belenduk.

BAB II
Hasil Kuisioner Pengunjung Gereja Beleduk

Tujuan Mengunjungi Gereja Belenduk


Rekreasi
Studi
Penelitian
Lainnya

86,6 orang yang mengunjungi


Gereja Belenduk mengaku
untuk melakukan rekreasi
semata sementara 6,6 persen
orang berkunjung ke Gereja
Belenduk untuk melakukan
studi
terutama
mengenai
bangunan bersejarah dan
cagar budaya. 0 persen yang
melakukan penelitian dan 6,6
persen
yang
berkunjung
untuk melakukan hal lain
diluar kegiatan peribadatan

Mengetahui Gereja Belenduk


Teman
Saudara
Media
Lainnya

Untuk
mengetahuikeberadaan
gereja
belenduk,
56,6%
responden
mendapatkan
informasi
dari
temantemannya, sementara 10
persen
mendapatkan
informasi
dari
saudara,
23,4%
mendapatkan
informasi dari media, dan 10
% sisanya mengisi pilihan
lainnya.
Sebagian
besar
responden yang mengisi

Pendapat Pengunjung mengenai ketersediaan fasilitas Penunjang kebutuhan


Memenuhi
Kurang
memenuhi
Tidak memenuhi
lainnya

Dalam
menilai
fasilitas
penunjang digereja belenduk
dan
sekitarnya,
26,6%responden
menilai
fasilitas yang ada sudah
memenuhi, 60% responden
menyatakan fasilitas kurang
memenuhi,
sementa
0%
responden
menyatakan
fasilitas tidak memenuhi dan
13,4% responden mengisi
lainnya.
Respondenyang
mengisi
pilihan
lainnya

Apakah tarif Gereja sesuai dengan Fasilitas yang ada?

Sesuai
Tidak

Pengelola Gereja Belenduk


menerapkan
tarif
Rp
10.000,00 untuk satu kali
masuk. Dengan tarif ini 73,3
% responden menilai harga
tarif sesuai dengan fasilitas
yang ada. Sementara 26,6
% Responden menilai tidak
sesuai.

Akses Menju Gereja Belenduk

Sulit
Mudah

Mengenai Akses menuju


Gereja
belenduk,
16,6%
responden menilai gereja
belenduk
tidak
mudah
diakses, sementara sisanya
sebanya 83,4% Responden
menyatakan akses menuju
Gereja Belenduk mudah.

Kendaraan yang digunakan menuju Gereja Belenduk

Sepeda motor
Mobil Pribadi

Untuk menuju lokasi Gereja


Belenduk, 56,6% Responden
mengaku
menggunakan
sepeda
motor,
30%
menggunakan mobil pribadi
dan
10%
menggunakan
kendaraan umum.

Angkutan umum
lainnya

Kendala yang ditemui ketika mengunjungi Gereja Belenduk


Kesulitan
kurang sarana
pencapaian lokasi akomodasi (hotel
penginapan dll)
Kurangnya
fasilitas
perdagangan

kurangnya sarana
penunjunag
(toilet, parkir, dll)

Dalam mengunjungi gereja


belenduk terdapat beberapa
hambatan yang ditemui.30
%
Responden
mengaku
kurangnya
fasilitas
perdagangan.
Terutama
yang berbiaya murah, dan
70%
Responden
mengeluhkan
kurangnya
sarana penunjang obyek
wisata seperti toilet umum,
parkir dan lain sebagainya.

Alasan tertarik mengunjungi Gereja Belenduk


Tempat bagus
Latar belakang
sejarah
tempat nyaman
linnya

Dari 30 Responden yang kami


sasar,46,6%
Responden
tertarik mengunjungi Gereja
Belenduk kare tempatnya
yang bagus. 26,6% tertarik
karena latar belakang sejarah
yang ada, 23,4% tertarik
karena kenyamanan tempat
di sekitaran Gereja Belenduk
dan 3,4%
memilih pilihan
lainnya,
sebagian
besar
responden
yang
memilih
pilihan
lainya
menjawab

Kebersihan di lingkungan Gereja Belenduk

Bersih
Kurang Bersih
Kotor

26,6
Responden
menilai
lingkungan
di
Gereja
Belenduk
dan
sekitarnya
bersih,
sementara
73,3%
Responden menilai Gereja
belenduk
dan
lingkungan
disekitarnya kurang bersih.
Hal ini dipengaruhi oleh
kurang terawatnya bangunan
bangunan tua disekitar gereja
dan juga kurangya kesadaran
masyarakat untuk mejaga
kebersihan lingkungan dari

Keamanan di Lingkungan Gereja Belenduk

aman

Tidak

Apakah Berfoto di Lingkungan Gereja Belenduk

Iya
Tidak

Mengenai keamanan yang


ada
disekitaran
gereja
belenduk, 90% responden
menjawab
relatif
aman
sementara 10% responden
menilai relativ tidak aman.
Kekhawatiran
responden
akan
keamanan
gereja
belenduk lebih didominasi
akan masalah penjagaan
kendaraan ditempat parkir.

Dari 30 responden yang


mengunjungi
gereja
belenduk, 80% responden
melakukan
kegiatan
fotografi, baik mengambl
gambar diri sendiri, maupun
mengambil gambar objek
gereja dan objek-objek lain
disekitarannya. Sementara
20%responden
sisanya
mengaku
tidakmelakukan
kegiatn fotografi.

Media Sosial apa yang akan digunakan untuk memposting foto

Facebook
Twitter
Instagram
Lainnya

Media yang baik dan cocok untuk mempromosikan Gereja Belenduk


Internet
Elektronik
Cetak
Lainnya

76.6%
Responden
yang
melakukan kegiatan fotografi
di
lingkungan
Gereja
Belenduk
menyatakan
Instagram
sebagai
media
sosial yang tepat untuk
memposting hasil foto di
lingkungan Gereja Belenduk.
Sementara10% lainnya lebih
memilih
Facebook,
10%
memilih
Twitter
dan
3,6%sisanya lebih memilih
media sosial lain sebagai

.
Sementara
untuk
pemilihan media sebagai
promosi
Bangunan
bersejarah Gereja Belenduk,
60%
Responden
lebih
memilih internet sebagai
media yang cocok. 30%
Responden
memilihmedia
elektroniki, 6,5% Responden
memilih media cetak, dan
3,5% sisanya lebih memilih
media lain seperti media
luar ruang sebagai media

Pembahasan
Gereja Belenduk yang merupakan ikon wisata bersejara Kota Semarang, selslu ramai
dikunjungi oleh wisatawan baik domestik dan mancanegara. Tingginya popularitas gereja
belenduk di Kota Semarang, tidak erlepas dari beeberapa faktor yang melatarbelakanginya
diluar faktor kisah sejarah panjang yang dimilikinya.
Gereja belenduk membentuk sendiri kisah para pengunjung yang telah silih berganti sejak
bertahun tahun lalu memunculkan sebuah fenomena unik dari bangsa ini, baik mengenai
permasalahan letak tata kota, perawatan bangunan dan hingga aspek sosial yang ada
disekitarnya.
Melalui makalah ini, penulis menjabarkan tentang aspek sosial dan beberapa aspek lain yang
ada pada gereja beeduk dan sekitaranya, terutama mereka yang sengaja datang ke gereja
belenduk untuk menjadi pengunjung atau wisaawan.
Berdasarkan dari apa yang kami teliti, para pengunjung di gereja belenduk mendatangi
bangunan bersejarah ini hanya sekedar untuk berwisata atau rekreasi. Hal ini dapat diamati
dari mengetahui geeja belenduk dari ramainya sekitaran gereja belenduk dan taman
srigunting, oleh orang-orang yang didominasi oleh wanita.
Gereja belenduk meskipu berada di lokasi yang cukup strategis, yakni berada di jalur utama
arah Demak menuju pusat kota Semarang menjadi kan bangunan ini semakin mudah diakses
dan kemudahan akses inipun diamini oleh para responden yang telah bersedia untuk mengisi
kuisioner kami. Bagunan ini tidak serta merta dapat diketahui oleh orang yang mungkin asing
di Semarang, banyak dari pengunjung menyatakan bahwa mereka tahu Gereja Belenduk dari
Temannya.
Melihat dari baiknya antusias masyarakat dan waistawan menjadikan grejea Objek bersejarah
belenduk harus memiliki Strategi yang Baik untuk memasarkan Bangunan Bersejarah Gereja
Belenduk dalam mengikuti perkembangan zaman.
Responden berpendapat apabila Gereja Belenduk merupakan tempat reksresi yang baik
dengan dukungan taman Srigunting di sisi Timur bangunan Gereja. Dengan pernyataan yang
tersebut, tata ruang gereja belenduk dan taman sriguting cukup menjadi maghnet foto selfie.
Pengunjung.
Melihat banyaknya pengunjung yang berfoto, kita dapat membaca media apa yang nantinya
cocok untuk digunkan sebagai alat dala melakukan Strategy Pemasaran
Instagram menjadi media dengan presentase terbesar untuk melakkuakan upload hasil
kegiatan fotografi di komplek Gereja Belenduk. Selain itu, 60% Responden menilai Internet
merupakan media yang saat ini paing efektif untuk digunakan sebagai media promosi .
Terdapat beberpa aspek yang harus dipenuhi dalam promosi untuk gereja belenduk. Dalam
Hal promosi, pihak pemerintah Kota Semarang dapat memaksimalkan peran media online
sebagai media penyebaran informasi mengenai gereja belenduk dan kawasan di sekitarnya.

Dengan enggunakan media Online, media mainstream juga perlu untuk digunakan,
mengingat pemberitaan di media dapat digunakan sebagai management issue tentang gereja
belenduk .
Aspek keduua berupa fasilitas penunjang yang seharusnya dilengkapi lebih lanjut seperti
pengadaan toilet di liat gereja, parkir area dan juga ketersediaan pedagag makanan dengan
harga yag berkisar pada harga tarif bawah.

KESIMPULAN
Pada penelitian yang kami lakukan untuk mengetaui perilaku pengunjung yang ada di Gereja
Belenduk dan sekitarnya, dapat kami simpulkan bahwa secara keseluruhan Gereja Belnduk
merupakan salah satu landmark dan destinasi wisata yang baik, terlihat dari antusiasme
responden yang mengunjungi Gereja Belenduk sebagain besar responden mengunjungi gereja
belenduk dengan tujuan rekreasi.
Responden mengakui bahwa gereja akses menuju gereja belenduk mudah , tidak mengalami
kendaraan berarti terkecuali pada responden yang datang dari luar kota dan belum terlalu
paham dengan traffic kota Semarang . Sementara penerapan tarif sebesar 10.000 Rupiah juga
dinilai tidak terlalu memberatkan dan sesuai.
Mengenai persoalan keaman dan kebersihan di lingkungan gereja belenduk, Responden
menyatakan puas
Responden sedikit menemukan kendala mengenai fasilitas penunjang yang ada seperti toilet
dan pusat jajanan dengan harga miring. Toilet hanyatersedia di dalam gereja, sementara diluar
tidak disediakan toilet sehingga menyusahkan pengunjung yang berada diluar ketia hendak
melakukan buang air, karena apabila memasuki gereja harus membayar tarif masuk sebesar
10.000 Rupiah.
Sementara untuk penjual makanan, sejatinya gereja belenduk dikelilingi oleh pedagang
makanan, sperti di sebelah timur gereja terdapat cafe Spiegel, di sisi selatan gereja terdapat
Warung sate 88 dan di tepian taman Srigunting terdapat pedagang kaki lima. Akan etapi tarif
yang dipasang berada diatas rata-rata harga normal pasaran.
Dari penelitian ini kami dapat mengetahui, perilaku pengunjung yang sebagian besar
melakukan kegiatan fotografi di lingkungan gereja belenduk. Hal ini terliat dari 80%
Responden yang mengaku melakukan kegiatan fotografi di lingkungan Gereja Belenduk. Dan
mereka mengunggah foto-foto mereka di Gereja Belenduk melalui akun instagram milik para
Responden.