Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya, kesehatan bisa mendukung
berbagai aktivitas kita dalam meraih keberhasilan dan juga kebahagiaan hidup. Cara
yang murah dan mudah untuk mencapai kesehatan yang optimal adalah mencegah
penyakit yang menyerang kita yaitu dengan menjalani pola hidup sehat, berolahraga
dan mengkonsumsi makanan/minuman kesehatan. Selama ini, masyarakat suka
menggunakan obat dari zat kimia yang dibeli di toko-toko atau apotek terdekat karena
lebih praktis. Sementara itu, WHO merekomendasikan penggunaan tanaman obat
dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit
(WHO, 2003).
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki suatu
keanekaragaman hayati. Fakta ini tentu memiliki potensi dalam pengembangan
minuman atau makanan yang berbasis pada tumbuhan obat karena memiliki
struktur

molekul

dan

aktivitas

biologi

yang beraneka ragam. Pemanfaatan

kekayaan alam yang terintegrasi akan memaksimalkan potensi alam yang ada,
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat adalah
kersen (Muntingia calabura L.). Tumbuhan Seri merupakan perdu atau pohon kecil
yang tingginya sampai 12 m, meski umumnya hanya sekitar 3-6 m saja. Selalu hijau
dan terus menerus berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Daun-daun terletak
mendatar, berseling ,helaian daun tidak simetris , bundar telur lanset , tepinya
bergerigi dan berujung runcing, 1-4 x 4-14 cm sisi bawa h berambut kelabu rapat ,
bertangkai pendek. Daun penumpu yang sebelah meruncing berbentuk benang.
Tanin, flavonoid, dan senyawa-senyawa etanolik dalam daun kersen adalah
senyawa-senyawa yang diduga memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Khasiat
yang terkandung dari tanaman kersen ini menurut Putra (2013) yaitu sebagai obat
batuk, dan peluruh dahak, sedangkan menurut Florido dkk (1991) tanaman

kersen diduga sebagai antispasmodik. Dilihat dari khasiat tanaman kersen ini
sendiri, sehingga dapat menarik perhatian beberapa peneliti untuk melakukan
penelitian lebih lanjut terhadap senyawa yang terkandung dalam tanaman kersen
(Muntingia calabura L.). Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati
dari Fakultas Sains dan Teknologi menyimpulkan bahwa daun kersen juga dapat
digunakan sebagai obat diuretik karena senyawa flavonoid yang ada pada tanaman
ini. Zakaria et al (2007) melaporkan bahwa kersen yang mengandung flavonoid
mempunyai
antimikroba

khasiat hipotensi, antinosiseptik,


melalui isolasi

staphylococcus.

antioksidan,

antiproliferatif

dan

Selain itu, Senyawa golongan

flavonoid juga dapat bekerja sebagai antioksidan, sehingga bisa menyekresi hormon
insulin yang diperlukan untuk metabolisme gula dan mencegah penyakit diabetes.
Manfaat daun kersen bagi kebutuhan sangat besar. Namun, banyak
masyarakat yang kurang mengetahuinya. Pengolahan daun kersen menjadi suatu
produk yang dapat dikonsumsi masyarakat dengan praktis juga belum dilakukan.
Oleh karena itu, penulis membuat penelitian inin untuk mengolah daun kersen
menjadi produk teh yang baik untuk kesehatan serta mengetahui minat konsumen
terhadap 2 varisai rasa yaitu original dan rasa jeruk nipis.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apakah teh olahan daun kersen (Muntingia calabura .) dapat dijadikan alternatif
minuman kesehatan sehari-hari?
b) Apa varian rasa teh kersen yang paling digemari masyarakat?
1.3 Tujuan
a) Menetahui apakah teh olahan daun kersen (Muntingia calabura .) dapat dijadikan
alternatif minuman kesehatan sehari-hari
b) mengetahui varian rasa teh kersen yang paling digemari masyarakat

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Definisi tanaman Kersen

Tanaman kersen ini termasuk jenis tanaman dikotil, secara mikroskopis


struktur anatomi daun kersen muda dan tua terdiri dari epidermis atas dan epidermis
bawah, trikoma, mesofil (parenkim palisade/tiang dan parenkim spons/bunga karang),
jaringan penguat (kolenkim), kristal, jaringan pembuluh (xilem dan floem) (Kuntorini
et al, 2013). Nama-nama lainnya di beberapa negara adalah: datiles, aratiles,
manzanitas (Filipina), khoom smz, takhb (Laos), krkhb barang (Kamboja); dan
kerukup siam (Malaysia). Juga dikenal sebagai capulin blanco, cacaniqua, niguito
(bahasa Spanyol), Jamaican cherry, Panama berry, Singapore cherry (Inggris) dan
Japanse kers (Belanda), yang lalu nama tersebut diambil menjadi kersen dalam
bahasa Indonesia.
Tumbuhan kersen memiliki nama latin yaitu Muntingia calabura L.
Disebutkan oleh Tjitrosoepomo (1991) dalam Arum et al (2012), tanaman kersen
memiliki kedudukan taksonomi sebagai berikut :
Kerajaan

: Plantae (Tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta (Tumbuhan biji)

Anak Divisi

: Angiospermae (Tumbuhan biji tertutup)

Kelas

: Dicotyledoneae (Tumbuhan biji belah/ dikotil)

Anak Kelas

: Dialypetalae

Bangsa

: Malvales / Columniferae

Suku

: Elaeocarpaceae

Genus

: Muntingia

Spesies

: Muntingia calabura L.
Tumbuhan tolak atau yang lebih kita kenal dengan nama tumbuhan kersen

merupakan tumbuhan berbiji yang hidup liar di pekarangan rumah warga atau
dipinggiran jalan raya. Biasanya sering digunakan anak-anak untuk bermain atau
dimakan, daun dan buahnya ternyata memiliki kandungan senyawa penting dan juga
berkhasiat sebagai obat.
Tanaman ini kaya akan manfaat mulai dari buah, daun, dan pohon. Menurut
Pramono (2014), buah kersen dipercaya dapat menyembuhkan penyakit-penyakit
seperti hipertensi, asam urat dan diabetes mellitus. Hasil penelitian uji fitokimia

(Arum et al, 2012), pada daun kersen terdapat adanya flavonoid,triterpenoid, alkaloid,
saponin, dan steroid. Wijoyo (2004) dalam Pramono (2014) menyatakan daun kersen
sering digunakan oleh masyarakat sebagai peluruh dahak batuk produktif yang
menambah fungsi pohon kersen selain daun dan batangnya. Buah kersen yang telah
masak kemungkinan juga mempunyai fungsi yang harus di teliti sebagai bahan obat
penyakit lain.
Menurut Dwi dan Istikhomah (2010) dalam Arum et al (2012), buah kersen di
daerah Srilangka sering diawetkan dan dibuat selai jam fruit. Buah ini sangat
digemari di Mexico dan umumnya dijual pada pasar-pasar tradisional dalam jumlah
yang banyak. Jus buah kersen sangat bermanfaat dan memiliki kandungan yang lebih
jika dibandingkan dengan berbagai larutan isotonik yang kini banyak beredar di
pasaran.
2.2 Kandungan yang Ada pada Daun Kersen
Kandungan senyawa kimia dalam daun teh terdiri dari empat kelompok besar
yaitu golongan fenol, bukan fenol, aromatis, dan enzim (Towaha, 2013). Ketika
keempat kelompok tersebut bekerja bersa-sama maka akan mendukung terjadinya
sifat baik pada teh.
Golongan fenol yang terdpat pada daun teh adalah (1) katekin, katekin
merupakan senyawa metabolik sekunder yang secara alami dihasilkan oleh tumbuhan
dan termasuk dalam golongan flavonoid (Towaha, 2013). Senyawa katekin
merupakan senyawa yang paling penting pada daun teh, yang berfungsi sebagai
antioksidan yang menyehatkan tubuh. Hasil penelitian University of Kansas (2007)
dalam Towaha (2013) menyatakan bahwa katekin dalam teh hijau berkemampuan 100
kali lebih efektif untuk menetralisir radikal bebas daripada vitamin C dan 25 kali
lebih ampuh dari vitamin E. Dituliskan oleh Ujianto (2011) dalam Arum et al (2012),
kandungan gizi buah kersen tidak kalah dengan buah yang lain misalnya mangga.
Kandungan vitamin C buah mangga 30 mg, sedangkan pada buah kersen 80,5 mg,
selain itu kandungan kalsium pada buah kersen 124,6 mg, jauh lebih banyak dari
buah mangga yang hanya 15 mg.

Menurut Naim (2004) dalam Prasetyo (2014) menyatakan bahwa daun kersen
mengandung flavonoid, tanin, glikosida, saponin, steroid, dan minyak esensial. (2)
Flavanol, senyawa ini hampir sama dengan katekin tetapi berbeda pada tingkatan
oksidasi dari inti difenilpropan primernya. Flavanol merupakan salah satu dari sekian
banyak antioksidan alami yang terdapat dalam tanaman pangan dan mempunyai
kemampuan mengikat logam. Senyawa ini dalam teh kurang disebut sebagai penentu
kualitas, tetapi diketahui mempunyai aktivitas yang dapat menguatkan dinding
pembuluh darah kapiler dan memicu pengumpulan vitamin C (Towaha, 2013). Kedua
merupakan golongan bukan fenol meliputi karbohidrat, pektin, alkaloid, protein dan
asam-asam amino, klorofil dan zat warna yang lain, asam organik, resin, vitamin dan
mineral. Golongan ketiga yaitu senyawa aromatis, aroma merupakan salah satu sifat
penting penentu kualitas teh, dimana aroma tersebut sangat erat hubungannya dengan
substansi aromatis yang terkandung dalam daun teh. Senyawa pembentuk aroma teh
merupakan senyawa volatile (mudah menguap), baik yang terkandung secara alami
pada daun teh maupun yang terbentuk sebagai hasil reaksi biokimia pada proses
pengolahan daun teh. Golongan terakhir yaitu enzim-enzim.
2.3 Manfaat Daun Kersen
Manfaat umum yang dihasilkan dari suatu minuman teh adalah memberi rasa
segar, dapat memulihkan kesehatan badan dan terbukti tidak menimbulkan dampak
negatif. Khasiat yang dimiliki oleh minuman teh tersebut berasal dari kandungan
senyawa kimia yang terdapat dalam daun teh. Senyawa kimia yang terkandung
dalam daun teh terdiri dari empat kelompok besar yaitu golongan fenol, bukan fenol,
aromatis, dan enzim (Towaha, 2013). Keempat kelompok tersebut bersama-sama
mendukung terjadinya sifat-sifat yang baik pada seduhan daun teh, apabila
pengendalian selama pengolahan dapat dilakukan dengan tepat (Towaha, 2013).
Sulistyowati (2009) menyatakan bahwa daun talok atau daun kersen
mengandung flavonoid berfungsi sebagai penurun kadar asam urat melalui
penghambatan enzim xantin oksidase. Fungsi lainnya yaitu dapat digunakan untuk
mengobati luka di saluran pencernaan obat batuk, dan peluruh dahak. Selain itu
ekstrak daunnya memiliki aktivitas antiinflamasi, antipiretik, antibakteri, antikanker,
serta dapat menurunkan kadar glukosa pada penderita diabetes melitus. Bagian lain

seperti akar, bunga memiliki nilai kesehatan di Vietnam dan Filipina. Bagian daun
kersen

ini

digunakan

sebagai

emmenagogue,

abortifacient,

antidyspeptic,

antispasmodic, membantu mengeluarkan keringat, dan untuk mengobati sakit kepala,


dispepsia, dan kejang (Krishnaveni, 2014).
4. Kandungan sari jeruk nipis
Jeruk nipis merupakan jenis tanaman perdu yang banyak di indonesia.
Didalam buah jeruk nipis terkandung banyak senyawa kimia yang bermanfaat seperti
asam sitrat, asam amino (triptofa dan lisin), minyak atsiri (limonen, linalin asetat,
geranil asetat, fellandren, sitral, lemon kamfer, kadinen, aktialdehid dan anildehid),
vitamin A, B1 dan vitamin C (Haq, 2010). Menurut hasil penelitian sebelumnya
dalam Haq (2010) menyebutkan bahwa jeruk nipis berkhasiat sebagai obat dari
berbagai penyakit, sebagai bahan dasar kosmetik, serta ekstrak dari jeruk niis ini
memiliki aktivitas antimikrobial yang tinggi dapat dilihat dari kemampuannya dalam
menghambat pertumbuhan beberapa bakteri dan jamur.
Asam sitrat yag terkandung dalam sari buah jeruk nipis digunakan dalam
induatri makanan dan minuman sebagai pengawet tambahan, karena mampu
menghambat pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae dan Zygosaccharomyces bailii
(Haq, 2010).
BAB III
METODE
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengolahan daun kersen
(Muntingia calabura L) agar menjadi produk yang layak dikonsumsi masyarakat
serta mengetahui variasi rasa yang disenangi masyarakat. Pada penelitian ini peneliti
mengolah daun kersen menjadi teh dengan 2 varian rasa, yaitu original dan rasa jeruk
nipis, kemuadian membagikan teh tersebut pada 30 responden dan memintanya
mengisi angket yang telas disediakan

N
o

Variabel

Skala
variabel

Item pertanyaan

Nominal

Aroma

Nominal

Warna

Interval

Nomo
r
pertan
yaan

Pilihan
jawaban

Cara
penga
mbila
n data

Apakah Anda pernah


mengkonsumsi teh
kersen?

Ya/Tidak

Angke
t

Apakah teh kersen


original memiliki
aroma yang
menarik selera
Anda?

Ya/Tidak

Angke
t

Apakah teh kersen


rasa jeruk nipis
memiliki aroma
yang menarik selera
Anda?
Apakah teh kersen
original memiliki
warna yang menarik
selera Anda?

Ya/Tidak

Angke
t

Apakah teh kersen


rasa jeruk nipis
memiliki warna yang
menarik selera
Anda?

Rasa

Interval

Minat/Sel Interval
era

Nominal

Apakah pada teh


kersen original
terasa daun
kersennya?

Apakah pada teh


kersen rasa jeruk
nipis terasa daun
kersennya?

Apakah anda
menyukai teh kersen
original?

Apakah anda
menyukai teh kersen
rasa jeruk nipis?

Apakah setelah
mencicipi teh kersen
original/jeruk,
menurut Anda teh
tersebut dapat
menjadi salah satu
alternative
nminuman yang
Anda konsumsi

10

Ya/Tidak

Angke
t

Ya/Tidak

Angke
t

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Pengolahan daun kersen sebagai teh dilaksanakan mulai tanggal 20 November di
rumah salah satu peneliti, kemudian pembagian produk beserta kuesioner
dilaksanakan pada tanggal 27 November, 2015 di Universitas Negeri Malang.
3.3 Alat dan Bahan yang digunakan
Alat : pisau, nampan, saringan, gelas, sendok, kompor, panci
Bahan : daun kersen segar, air, gula, jeruk nipis
Prosedur

Daun kersen dicuci hingga bersih menggunakan air mengalir.


Daun kersen yang sudah dicuci kemudian ditiriskan
Daun kersen dipotong melintang dan membujur hingga berukuran kecil
Dijemur selama 2-3 hari hingga benar-benar kering.
Disiapkan 2 wadah
Untuk rasa original, 3 sendok daun kersen kering diseduh menggunakan

segelas air panas dan ditambah gula secukupnya


Untuk rasa jeruk nipis, 3 sendok daun kersen kering diseduh menggunakan
segelas air panas, ditambah gula dan beberapa tetes air jeruk nipis
secukupnya.

3.4 Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini addalah seluruh mahasiswa Universitas Negeri Malang,
dan sampel pada penelitian ini adalah mahasiwwa jurusan Biologi Off A 2014 dan
teman kost salah satu peneliti.
3.5 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Pengumpulan data dilakukan dengan membagi angket/kuesioner pada 30 mahasiswa
Universitas Negeri Malang dan analisis data menggunakan SWOT.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Dari angket yang sudah diberikan pada 30 responden, diperoleh data sebagai berikut:
No
Pertanyaan
Ya
Tidak
Juml
ah
1

Apakah Anda pernah mengkonsumsi teh


kersen?

Persen
tase
(%)
0

Juml
ah
30

Persnt
ase
(%)
100

Apakah teh kersen original memiliki aroma


yang menarik selera Anda?

11

36,67

19

63,33

Apakah teh kersen rasa jeruk nipis memiliki


aroma yang menarik selera Anda?

25

83,33

16,67

Apakah teh kersen original memiliki warna


yang menarik selera Anda?

22

73,33

26,67

Apakah teh kersen rasa jeruk nipis memiliki


warna yang menarik selera Anda?

22

73,33

26,67

Apakah pada teh kersen original terasa daun 27


kersennya?
Apakah pada teh kersen rasa jeruk nipis
11
terasa daun kersennya?
Apakah anda menyukai teh kersen original? 12

90

10

36,67

19

63,33

40

18

60

Apakah anda menyukai teh kersen rasa


jeruk nipis?

22

73,33

26,67

10

Apakah setelah mencicipi teh kersen


original/jeruk, menurut Anda teh tersebut
dapat menjadi salah satu alternativf
minuman yang Anda konsumsi

25

83,33

16,67

7
8

Dari data yang diperoleh, kemudian data tersebut dianalisis menggunakan


SWOT dengan mengelompokkan data berdasarkan kondisi internal meliputi peniaian
terhadap faktor kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) serta kondisi
eksternal yang mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (Threaths).

YA
Indikator

TIDAK

Jumlah

Persen (%)

Jumlah

Persen
(%)

25

83,33

16,67

b. Warna teh kersen original

22

73,33

26,67

c. Warna teh kersen jeruk

22

73,33

26,67

22

73,33

26,67

Strength
a. Aroma teh kersen jeruk

nipis

nipis
d. Rasa suka masyarakat
terhadap teh kersen jeruk
nipis
Weakness

a. Aroma teh kersen original

11

36,67

19

63,33

b. Rasa daun kersen pada teh

27

90

10

11

36,67

19

63,33

12

40

18

60

baru dan belum pernah


dikonsumsi masyarakat
b. Minat masyarakat untuk
mengkonsumsi produk
sebagai aternatif minuman
sehari-hari
Treath

30

100

25

83,33

16,67

kersen original
c. Rasa daun kersen pada teh
kersen rasa jeruk
d. Rasa suka masyarakat
terhadap teh kersen
original
Opportuniny
a. Produk merupakan inovasi

Kuesioner yang telah disediakan terdiri dari 10 pertanyaan dengan pilihan


jawaban Ya/Tidak dan telah didistribusikankepada 30 responden yang mencicipi teh
kersen original dan rasa jeruk nipis. Dari kuesioner tersebut, dapat diketahui
kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Kekuatan dari produk ini ada pada
aroma teh kersen jeruk nipis, warna teh kersen original dan rasa jeruk nipis serta rasa
suka masyarakat terhadap produk teh kersen jeruk nipis dimana 83,33% responden
menyukainya. Dalam hal warna, teh daun kersen original dan jeruk nipis
mendapatkan hasil yang seimbang. 73,33% responden menyukai warna teh kersen
original dan jeruk nipis, sementara sisanya (26,67%) tidak menyukai warna kedua
varian teh tersebut. Mayoritas responden (73,33%) mengatakan bahwa mereka
menyukai teh kersen rasa jeruk nipis.
Kelemahan produk ini terletak pada aroma teh kersen original, rasa daun
kersen pada teh kersen original dan jeruk nipis serta rasa suka masyarakat terhadap
the kersen original. Mayoritas responden (63,33%) tidak menyukai aroma yang

terdapat pada the kersen original. Untuk rasa, 90% responden mengatakan teh kersen
original masih terasa daun kersennya, sementara pada teh kersen rasa jeruk nipis
hanya 36,67% yang mengatakan masih terasa daun kersennya. Berdasarkan aroma,
warna dan rasa dari ke teh, hanya 40% responden yang menyukai teh kersen original
Produk ini memiliki peluang untuk diproduksi karena merupakan inovasi
baru. Seluruh responden (100%) belum pernah mengkonsumsi teh kersen
sebelumnya. Selain itu responden mengatakan teh kersen dapat menjadi salah satu
alternatif minuman yang di konsumsi, sementara 16,67% responden mengatakan hasl
sebaliknya.
Pada kuesioner, peneliti tidak mencantumkan item pernytanyaan untuk
mengetahui tantangan yang muncul untuk produk teh kersen, baik rasa original
maupun rasa jeruk nipis
BAB V
PEMBAHASAN
Teh kersen merupakan inovasi minuman kesehatan baru yang masih belum
dimanfaatkan masyarakat dan belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Terbukti seluruh responden belum pernah mengkonsumsi teh olahan dun kersen.
Padahal, daun kersen ini sudah dimanfaatkan sebagian masyarakat didunia sebagai
bahan obat herbal. Menurut cerita rakyat Peru, daun kersen dapat direbus atau
direndam dalam air untuk mengurangi pembengkakan kelenjar prostat, sebagai obat
untukmenurunkanpanas, menghilangkan sakit kepala, flu dan mengobati penyakit
asam

urat,

selain

itu

juga

dapat

dimanfaatkan

sebagai

antiseptik,

antioksidan,antimikroba, antiinflk the amasi (mengurangi radang), antidiabetes, dan


antitumor (Siddiqua et al. 2010). Hal ini merupakan peluang untuk teh kersen original
maupun rasa jeruk nipis apabila diproduksi.
Dalam segi aroma, mayoritas responden (63,33%) tidak menyukai aroma teh
kersen original, dan 83,33% responden menyukai aroma teh kersen rasa jeruk nipis.
Memang dari penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya
belum ada yang membahas kandungan senyawa aromatis daun kersen yang
menimbulkan aroma khusus yang menarik minat konsumen untuk dikonsumsi.

Sejauh ini, teh yang sering dikonsumsi masyarakat adalau olahan dari daun camellia
sinensis yang memiliki senyawa aromatis yang diantaranya adalah linalool, linalool
oksida. Pfhenuetanol, geraniol, benzyl alcohol, metil salisilat, n-heksanal dan cis-3heksenol (Towaha & Balittri, 2013). Senyawa inilah yang memberi aroma pada teh
camellia yang sering dikonsumsi masyarakat, sehingga ketika mengkonsumsi teh
kersen terutama rasa original, ekspetasi masyarakat minuman teh kersen juga
memiliki aroma yang menarik. Aroma teh kersen original yang kurang disukai
masyarakat merupakan suatu kelemahan yang harus dicari jalan keluar untuk
mengatasinya. Pada teh kersen jeruk nipis, aroma merupakan salah satu kekuatannya.
Mayoritas responden menyukai aromanya karena jeruk mengandung senyawa
aromatik. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh
Supirman pada teh alga coklatnya yang menyatakan bahwa penalis lebih menyukai
aroma perpaduan antara aroma khas alga coklat dengan jeruk nipis (Supirman,
2013). Secara kimiawi, kulit jeruk mengandung atsiri yang terdiri dari berbagai
komponen seperti terpen, sesquiterpen, aldehida, ester dan sterol (Sarwono, 2006).
Warna teh kersen merupakan sutu kelebihan dan kekuatan dari produk ini.
Berdasarkan warna dari teh kersen original dan teh kersen jeruk nipis, hasil yang
diperoleh 73,33% responden menyukai warna dari teh kersen original maupun teh
kersen jeruk nipis. Hal ini dapat terjadi dimungkinkan karena responden memiliki
selera yang berbeda-beda. Dapat dilihat bahwa persentase yang di peroleh dari segi
warna sama. Pada teh kersen original memiliki warna yang sama dengan teh pada
umumnya (standar) yaitu coklat bening, sedangkan pada teh kersen yang di jeruk
nipis memiliki warna coklat yang agak pucat. Hal ini disebabkan karena penambahan
sari buah jeruk menyebabkan warna teh lebih pucat dibandingkan teh daun kersen
original. Ahza (1997) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa peningkatan proporsi
sari jeruk nipis terenkaptulasi yang ditambahkan mengakibatkan pemucatan warna
seduhan teh, baik oleh karena warna sari jeruk yang putih maupun karena
mengecilnya jumlah teh yang diseduh, selain itu jeruk nipis memiliki kandungan
asam dengan pH sekitar 2,0 (Etxeberria et al, 2003).

Pada indikator rasa, 27% responden mengatakan teh kersen original masih
terasa daun kersennya. Rasa pada daun kersen kurang disukai responden karena
sedikitit getir. Sejauh ini belum dilakukan penelitian khusus yang menguji kandungan
senyawa apa yang menyebabkan rasa daun kersen sedikit getir ini. Berbeda dengan
teh kersen rasa jeruk nipis yang 63,33% responden mengatakan sudah tidak terasa
daun kersennya. Rasa segar dan sedikit asam yang terdapat pada perasan jeruk nipis
berhasil menutupi rasa kurang enak pada teh kersen original. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Adil dan Asep yang menggunakan sari buah
jeruk sebagai campuran untuk mengurangi rasa pahit pada ekstrak kulit jeruk (Ahza
& Slamet, 1997).
Pada umumnya masyarakat Indonesia masih belum mengetahui bahwa daun
kersen ini kaya akan manfaat untuk kesehatan. Masih sedikit masyarakat yang
memanfaatkan daun kersen ini untuk minuman alternatif kesehatan. Setelah dibuat
sebagai sebuah produk seperti teh daun kersen, dari hasil penelitian diketahui bahwa
banyak responden yang menyukai teh kersen ini. Hal ini merupakan suatu peluang
apabila produk teh kersen dikembangkan. Kebanyakan responden lebih menyukai teh
kersen rasa jeruk nipis daripada teh kersen original. 73,33% responden menyukai teh
kersen rasa jeruk nipis, sedangakan 40% responden menyukai teh kersen original. Hal
ini karena dilihat dari segi aroma, warna dan rasa teh kersen original memiliki aroma
yang kurang menarik minat responden, rasa yang agak pahit atau getir, namun
memiliki warna cokelat seperti kebanyakan teh yang ada sehingga banyak reponden
lebih memilih menikmati teh kersen rasa jeruk nipis karena memiliki aroma dan rasa
yang dihasilkan oleh sari jeruk nipis tersebut, tapi pada teh kersen rasa jeruk nipis ini
warna yang dihasilkan lebih pucat, namun hal ini tidak menghalangi responden untuk
lebih menikmai teh kersen rasa jeruk nipis.
Peluang selanjutnya dari produk ini adalah minat masyarakat. Berdasarkan
minat untuk mengkonsumsi, mayoritas responden (83,33%) menyatakan teh daun
kersen dapat menjadi salah satu alternatif minuman yang dikonsumsi terutama setelah
mereka mengetahui khasiat yang ada pada daun kersen ini. Kersen mengandung
flavonoid

yang

mempunyai

khasiat

hipotensi,

antinosiseptik,

antioksidan,

antiproliferatif dan antimikroba melalui isolasi taphylococcus. Senyawa golongan


flavonoid juga dapat bekerja sebagai antioksidan, sehingga bisa menyekresi hormon
insulin yang diperlukan untuk metabolisme gula dan mencegah penyakit diabetes
(Zakaria et al, 2007).

Selain itu, ekstrak daun kersen dapat mengurangi

pembengkakan

prostat,

kelenjar

sebagai

obat

untuk

menurunkan

panas,

menghilangkan sakit kepala, flu dan mengobati penyakit asam urat, selain itu juga
dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik, antioksidan, antimikroba, antiinflamasi
(mengurangi radang), antidiabetes, dan antitumor (Siddiqua et al. 2010). Selama ini,
untuk masalah-masalah kesehatan tersebut diatasi dengan pemberian obat kimia yang
justru memberi efek samping jika dikonsumsi terlalu sering. WHO merekomendasi
penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan
masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis,
penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam
peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO, 2003). Selain itu,
pada teh kersen jeruk nipis juga mengandung vitamin C dan antioksidan yang sehat
bagi tubuh. Meskipun mayoritas responden menyatakan minuman ini dapat menjadi
alternative minuman yang dikonsumsinya, 16,67 responden tidak ingin menjadikan
teh kersen sebagai alternative minumannya. Hal ini mungkin karena mereka tidak
menyukai rasa dan aroma teh kersen sehingga enggan mengkonsumsinya lagi.
BAB VI
PENUTUP
Simpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan kesimpulan kesimpulan bahwa:
1. Teh kersen (Muntingia calabura L.) dapat dijadikan alternatif minuman

kesehatan sehari-hari dan memiliki peluang untuk diproduksi karena merupakan


inovasi baru. Kekuatan dari produk ini ada pada aroma teh kersen jeruk nipis,
warna teh kersen original dan rasa jeruk nipis. Kelemahan produk ini terletak
pada aroma teh kersen original, rasa daun kersen pada teh kersen original dan
jeruk nipis serta rasa suka masyarakat terhadap the kersen original.

2. Rasa jeruk nipis lebih digemari masyarakat karena memiliki rasa dan aroma yang
lebih menarik daripada teh kersen original.
Saran
Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan uji untuk mengetahui senyawa daun
kersen (Muntingia calabura L.) yang mengakibatkan aroma dan rasa daun ini kurang
menarik konsumen serta metode yang paling tepat untuk menguranginya sehingga
produk yang dihasilkan dikemudian hari lebih baik lagi dan dapat diterima
masyarakat luas.

Daftar Rujukan
Ahza, A & Slamet, A. 1997. Mikroenkapsulasi Campuran Ekstrak Kulit dan Buah
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia swingle) serta aplikasinya pada teh celup.
Bul Tenol, dan industri pangan 8 (2).
Florido, H.B., Saplan, J.C., Arcilla, R.P., Cadiz, R.T., Modino, R.C., and Almario,
S.C., 1991, Research Information Series Ecosystem, TEH-EXOTIC-TREEMuntingia-calaburaL.
Pramono, vembriarto j. Dan rahmad santoso , 2014, Pengaruh Ekstrak Buah

Kersen (Muntingia calabura) Terhadap Kadar Gula Darah Tikus Putih (Rattus
novergicus) yang Diinduksi Streptozotocin (STZ), JSV 32 (2) : yogyakarta

Putra, W.S., 2013, Sehat Tanpa Dokter dengan Ramuan Herbal, Cetakan ke 1, Citra
Media, Yogyakarta, Hal 158.
Sarwono, B. 2006. Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis. Jakarta : AgroMedia Pustaka.
Siddiqua A, Premakuri KB, Roukiya S, Vithya &Savitha. 2010. Antioxidant activity
and estimation of total phenolic content of Muntingia calabura bycolorimetry.
Int J ChemTechRes. 2(1): 205-208
Supirman, Kartikaningsih, H., & Zaelanie, K., 2013. Pengaruh Perbedaan pH
Perendaman Asam Jeruk Nipis (Citrus Auratifolia) dengan Pengeringan
Sinar Matahari Terhadap

Kualitas Kimia Teh Alga Coklat (Sargassum

Fillipendula). Thpi STUDENT JOURNAL, VOL. I NO. 1 pp 46-52


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Towaha & Balittri, 2013. Kandungan Senyawa Kimia pada daun teh (Camellia
sinensis). Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 19 (3)
WHO,2003,Traditional medicine.
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs134/en/.(Online). Diakses pada 2
Desember 2015
Zakaria Z. A., Mohd N. A., Hazalin N., et al, 2007. Antinociceptive, Anti
Inflammatory and Antipyretic Effects of Muntingia calabura Aqueous Extract
in Animal Models. J. Nat. Med. 61:443-8.

Sulistyowati , Veronika Yanik. 2009. Naskah Publikasi Skripsi FMIPA Universitas


Sebelas Maret: Surakarta

Kuntorini, Evi Mintowati. Setya Fitriana dan Maria Dewi Astuti. 2013. Struktur
Anatomi dan
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Daun Kersen (Muntingia calabura).
Prosiding Semirata. Lampung: FMIPA Universitas Lampung.

Arum, YP. Supartono dan Sudarmin. 2012. Isolasi dan Uji Daya Antimikroba Ekstrak
Daun

Kersen (Muntingia calabura). Jurnal MIPA 35 (2): 165-174.


Haq, Geugeut I., anna pemanasari, hayat sholihin. 2010. Efektivitas
penggunaan sari buah jeruk nipis terhadap ketahanan nasi. Jurnal sains
dan teknologi kimia Vol 1, No.1 (44-58): bandung

Krishnaveni, M., & Dhanalakshmi, R. 2014. Qualitative and Quantitative Study of


Phytochemicals In Muntingia calabura L.
Universitas Periyar Salem

Leaf and Fruit Jurusan Biokimia,