Anda di halaman 1dari 5

PAPER I

KONSEP
DIRI

Anteng Ambarwati
Dwi Ratnawati
Maftuhatun Nimah
I Putu Krisna Widya
Ririn Purwaning Tyas

22020114120001
22020114120032
22020114120063
22020114130105
22020114130129
MASLOW

Untuk Memenuhi Penugasan Mata Kuliah Kebutuhan Aktualisasi Diri Semester IV


Dosen Pembimbing: Bambang Edi Warsito, S. Kp., M. Kes.

Disusun Oleh:
Kelompok 8: A14.2

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016

A. Pengertian Konsep Diri


Konsep diri merupakan gambaran yang bersifat individu dan sangat pribadi,
dinamis dan evaluatif yang masing-masing orang mengembangkannya di dalam
transaksi-transaksinya dengan lingkungan kejiwaannya dan yang dia bawa-bawa di
dalam perjalanan hidupnya. Konsep diri adalah satu gambaran campuran dari apa
yang kita pikirkan, pendapat orang-orang mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita
yang kita inginkan (Burns, 1993 dalam Potter & Perry, 2005). Secara umum disepakati
konsep diri belum ada saat lahir, konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan
pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya
dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain terhadap
dirinya.
Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu.
Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat
dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan.
Konsep diri yang negative dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang
maladaptive (Budi Anna Keliat, 1992 dalam Potter & Perry, 2005).
B. Konsep Diri Maslow
Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia
dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan
dapat dipenuhi hanya jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan. Jenjang motivasi
bersifat mengikat, maksudnya ; kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif
terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya
lebih tinggi. Jadi kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul
kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu
sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan fisiologis dan rasa aman
terpuaskan, baru muncul kebutuhan kasih sayang, begitu seterusnya sampai kebutuhan
dasar terpuaskan baru akan muncul kebutuhan meta (Setia, 2011).
Maslow membagi konsep diri menjadi 2 tingkatan dalam hierarki kebutuhan
manusia, yaitu kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.
1. Kebutuhan Harga Diri
Manusia memerlukan perasaan stabil terhadap harga diri, maupun perasaan
bahwa mereka dihargai orang lain. Kebutuhan harga diri berhubungan dengan
keinginan terhadap kekuatan, pencapaian, rasa cukup, kompetensi, rasa percaya diri
dan kemerdekaan. Manusia juga membutuhkan penghargaan atau apresiasi dari
orang lain. Pada saat kedua kebutuhan ini terpenuhi, seseorang merasa percaya diri

dan berguna. Jika kebutuhan harga diri dan penghargaan dari orang lain tidak
terpenuhi, orang tersebut mungkin merasa tidak berdaya dan merasa rendah diri
(Maslow, 1970).
Kebutuhan harga diri meliputi :
a. Persaan tidak bergantung pada orang lain
b. Kompetenten
c. Penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Ada dua jenis harga diri :
1) Menghargai diri sendiri (self respect) : kebutuhan kekuatan,
penguasaan, kompetensi, prestasi, kepercayaan diri,kemandirian,
dan kebebasan.
2) Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from other) :
kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status,
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri. Frekuensi pencapaian
tujuan akan menghasilkan harga diri. Jika individu selalu sukses maka cenderung
harga diri tinggi, jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai
dan menerima penghargaan dari orang lain. Sebagai seorang perawat sikap negative
harus dikontrol sehingga setiap orang yang bertemu perawat dengan sikapnya yang
positif merasa dirinya berharga. Harga diri akan rendah jika kehilangan kasih
sayang dan penghargaan orang lain.
2. Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi dalam
hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow. Menurut teori, pada saat manusia
sudah memenuhi seluruh kebutuhan pada tingkatan yang lebih rendah, hal tersebut
melalui aktualisasi diri dikatakan bahwa mereka mencapai potensi mereka yang
paling maksimal (Maslow, 1970).
Manusia yang teraktualisasi diri memeiliki kepribadian multidimensi yang
matang. Mereka sering mampu untuk mengansumsi dan menyelesaikan tugas yangt
banyak, dan mereka mencapai pemenuhan kepuasan dari pekerjaan yang
dikerjakan dengan baik. Mereka tidak bergantung secara penuh pada opini orang
lain mengenai penampilan, kualiatas kerja, atau metode penyelesaian masalah.
Walaupun mereka mungkin mengalami kegagalan dan keraguan, mereka secara
umum menghadapinya secara realistis.

Kebutuhan saat ini, lingkungan dan tekanan bergantung pada seberapa baik
manusia memenuhu kebutuhan aktualisasi diri mereka. Aktualisasi diri mungkin
terjadi pada saat keseimbangan antara kebutuhan klien, tekanan,dan kemampuan
untuk beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungan.
Kebutuhan aktualisasi diri meliputi :
a. Dapat mengenal diri sendiri dengan baik (mengenal dan memahami
b.
c.
d.
e.
f.

potensi diri ).
Belajar memenuhi kebutuhan diri sendiri
Tidak emosional
Mempunyai dedikasi yang tinggi
Kreatif
Mempunyai kepercayan diri yang tinggi

DAFTAR PUSTAKA
Dwi, Lutfia. 2010. Untitled. Diakses pada 18 Februari 2016 dari
http://www.damandiri.or.id/file/loetfiadwiunairbab2.pdf
Ghofur, Octaful. 2006. Konsep Aktualisasi Diri Abraham. H. Maslow dan Korelasinya
dalam Membentuk Kepribadian (Analisis Bimbingan dan Konseling Islam).
Diakses pada 18 Februari 2016 dari http://library.walisongo.ac.id /digilib/
files/disk1/15/jtptiain-gdl-s1-2006-oktafulgho-727-SKRIPSI_-6.pdf
Mubarak Wahid Iqbal, Chayatin Nurul. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta. Buku
Kedokteran EGC
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.