Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Kanker Paru


Kanker paru ialah kanker paru primer, yakni tumor ganas yang berasal dari
epitel bronkus atau karsinoma bronkus (bronchogenic carcinoma). Sebuah
sel normal dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab terjadi
ketidakseimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor suppresor
dalam proses tumbuh dan kembangnya sebuah sel. Perubahan atau
mutasi gen yang menyebabkan terjadinya hiperekspresi onkogen dan/atau
kurang/hilangnya fungsi gen tumor suppresor menyebabkan sel tumbuh
dan berkembang tak terkendali (PDPI, 2003).

2.2

Epidemiologi
Kanker paru merupakan penyakit keganasan dan penyebab utama
kematian akibat keganasan di seluruh dunia, bukan hanya pada laki-laki
tetapi juga pada perempuan. Kira-kira 1/3 kematian karena kanker pada
laki-laki

ternyata disebabkan

kanker

paru.

Menurut

World

Health

Organization (WHO) terdapat sekitar 1,2 juta kasus baru setiap tahun dan
merupakan 17,8% penyebab kematian karena kanker. The American
Cancer Society memperkirakan pada tahun 2006 terdapat 174.470 kasus
baru kanker paru. Lebih dari 3 juta orang pasien kanker paru, terutama
berasal dari negara berkembang. Di Indonesia, data epidemiologi resmi
memang belum ada. Dikutip dari data epidemiologi kanker paru di Rumah
Sakit Persahabatan, didapatkan pada tahun 2003 sekitar 213 kasus, tahun
2004 terdapat 220 kasus, tahun 2005 terdapat 140 kasus, tahun 2006
terdapat 218 kasus, dan tahun 2007 terdapat 282 kasus (Wahyuni et al,
2011). Buruknya prognosis penyakit ini mungkin berkaitan erat dengan
jarangnya penderita datang ke dokter ketika penyakitnya masih berada
dalam stadium awal penyakit. Hasil penelitian pada penderita kanker paru
pascabedah menunjukkan bahwa, rerata angka tahan hidup 5 tahun stage I
sangat jauh berbeda dengan mereka yang dibedah setelah stage II, apalagi
jika dibandingkan dengan staging lanjut yang diobati adalah 9 bulan (PDPI,
2003).

2.3

Etiologi
Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab pasti kanker paru
belum diketahui, tetapi pajanan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat
yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama di samping
adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik dan lain-lain (PAPDI,
2011).
Beberapa kepustakaan telah menyebutkan bahwa etiologi kanker
paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok. Tingginya insiden
kanker paru pada perokok dibandingkan dengan tidak merokok. Asap rokok
mengandung sekitar 60 macam karsinogen yang dapat menyebabkan
mutasi DNA (Lam et al, 2007). Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah
rokok yang dihisap per hari dengan tingginya insiden kanker paru.
Dikatakan bahwa 1 dari 9 perokok berat akan menderita kanker paru.
Belakangan, dari laporan beberapa penelitian mengatakan bahwa perokok
pasif pun akan berisiko terkena kanker paru. Anak-anak yang terpapar
asap rokok selama 25 tahun pada usia dewasa akan terkena risiko
kankerparu duakali lipat dibandingkan dengan yang tidak terpapar, dan
perempuat yang hidup dengan suami/pasangan perokok juga terkena risiko
kanker paru 2-3 kali lipat. Diperkirakan 25% kanker paru dari bukan
perokok adalah berasal dari perokok pasif. Insiden kanker paru pada
perempuan di USA dalam 10 tahun terakhir ini juga naik menjadi 5% per
tahun, antara lain karena meningkatnya jumlah perempuan perokok atau
sebagai perokok pasif (PAPDI, 2011).
Etiologi lain dari kanker paru yang pernah dilaporkan adalah yang
berhubungan dengan paparan zat karsinogen, seperti (PAPDI, 2011) :

Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma


Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
Radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, vinilklorida
Di bawah ini akan diuraikan mengenai faktor risiko penyebab

terjadinya kanker paru (Alberg et al, 2007):


1.

Merokok
Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan
paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus. Rokok mengandung
lebih dari 4000 bahan kimia, di antaranya telah diidentifikasi dapat

menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok


dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang
diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya
berhenti merokok.
2. Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara
perokok pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh
orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker
paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang
- orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain,
risiko mendapat kanker paru meningkat dua kali. Diduga ada
3.000 kematian akibat kanker paru tiap tahun di Amerika Serikat
terjadi pada perokok pasif.
3. Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara,
tetapi pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok
kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih
banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah
pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini
lebih sering ditemukan pada

masyarakat

dengan

kelas

tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang


pada

mereka

dengan

kelas

yang

lebih

tinggi.

Hal

ini,

sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok


sosial

ekonomi

yang

dekat

dengan

tempat

kemungkinan besar

lebih

rendah cenderung

pekerjaan

lebih

mereka,

tercemar

hidup

tempat

oleh

polusi.

lebih
udara
Suatu

karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan


pada asap rokok) adalah benzpiren.
4. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos,
arsen,

kromium,

nikel, polisiklik

uranium,

hidrokarbon,

dan

radon,
vinil

klorida dapat menyebabkan kanker paru. Risiko kanker paru


di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali
lebih besar daripada masyarakat umum. Risiko

kanker

paru

baik akibat kontak

dengan asbes maupun uranium meningkat

kalau orang tersebut juga merokok.


5.

Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi
terhadap betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan
tingginya risiko terkena kanker paru.

6. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru
berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan
genetik

molekuler

memperlihatkan

bahwa

mutasi

pada

protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting


dalam timbul dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya
adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gen-gen K-ras dan
myc).
2.4 Patofisiologi
Menurut konsep masa kini kanker adalah penyakit gen. Sebuah sel normal
dapat menjadi sel kanker apabila oleh berbagai sebab terjadi ketidak
seimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor suppresor dalam
proses tumbuh dan kembangnya sebuah sel. Perubahan atau mutasi gen
yang

menyebabkan

terjadinya

hiperekspresi

onkogen

dan/atau

kurang/hilangnya fungsi gen tumor suppresor menyebabkan sel tumbuh


dan berkembang tak terkendali. Perubahan ini berjalan dalam beberapa
tahap atau yang dikenal dengan proses multistep carcinogenesis.
Perubahan pada kromosom, misalnya hilangnya heterogeniti kromosom
atau LOH juga diduga sebagai mekanisme ketidaknormalan pertumbuhan
sel pada sel kanker. Dari berbagai penelitian telah dapat dikenal beberapa
onkogen yang berperan dalam proses karsinogenesis kanker paru, antara
lain gen myc, gen k-ras sedangkan kelompok gen tumor suppresor
antaralain, gen p53, gen rb. Sedangkan perubahan kromosom pada lokasi
1p, 3p dan 9p sering ditemukan pada sel kanker paru (PDPI, 2003).
Klasifikasi dari kanker paru (PAPDI, 2011):
1. Small cell lung cancer (SCLC)
Gambaran histologinya yang khas adalah sel-sel kecil yang hampir
semuanya diisi oleh mucus dengan sebaran kromatin yang sedikit

sekali tanpa nucleoli. Disebut juga oat cell carcinoma karena


bentuknya yang mirip biji gandum. Sel kecil ini cenderung berkumpul
sekeliling pembuluh darah menyerupai pseudoroset. Sel-sel yang
bermitosis dan gambaran nekrosis banyak sekali ditemukan (Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
2. Non small cell lung cancer (NSCLC)
Karsinoma sel skuamosa/ karsinoma bronkogenik
Berciri khas proses kreatinisasi dan pembentukan bridge
intraseluler, studi sitology memperlihatkan perubahan yang nyata

dari dysplasia skuamosa ke karsinoma insitu.


Adenokarsinoma
Khas dengan bentuk glandular dan kecenderungan ke arah
pembentukan konfigurasi papilari. Biasanya membentuk musin,

sering tumbuh dari bekas kerusakan jaringan paru (scar).


Karsinoma bronkoalveolar
Merupakan subtype dari adenokarsinoma, dia mengikuti/ meliputi

permukaan alveolar tanpa menginvasi atau merusak jaringan paru


Karsinoma sel besar
Termasuk dalam NSLC tetapi tidak ada gambaran diferensiasi
skuamosa

atau

glandular,

sel

bersifat

anaplastic,

tak

berdiferensiasi, biasanya disertai oleh infiltrasi sel neutrofil.


2.5 Prosedur diagnostik
1. Anamnesis (PDPI, 2003)
Gambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit
paru lainnya, terdiri dari keluhan subyektif dan gejala obyektif. Dari
anamnesis akan didapat keluhan utama dan perjalanan penyakit, serta
faktorfaktor lain yang sering sangat membantu tegaknya diagnosis.
Keluhan utama dapat berupa :
Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen)
Batuk darah
Sesak napas
Suara serak
Sakit dada
Sulit / sakit menelan
Benjolan di pangkal leher
Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan
rasa nyeri yang hebat.

Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat
metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat
di otak, pembesaran hepar atau patah tulang kaki.
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala
klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut.
(PAPDI,2011)
Gejala-gejala dapat bersifat :
Lokal (tumor tumbuh setempat)
o Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
o Hemoptisis
o Mengi karena ada obstruksi saluran napas
o Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
o Atelektasis
Invasi lokal
o Nyeri dada
o Dispnea karena efusi pleura
o Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia
o Sindrom vena cava superior
o Sindrom Horner (facial anhodrosis, ptosis, miosis)
o Suara serak karena penekanan pada nervus laryngeal
o

reccurent
Sindrom Pancoast, karena invasi pada Pleksus Brakialis

dan saraf simpatis servikalis


Gejala penyakit metastasis
o Pada otak, tulang, hati, adrenal
o Limfadenopati servikal dan supraklavikula
Sindrom Paraneoplastik (terdapat pada 10% kanker paru), dengan
gejala :
o Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
o Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
o Hipertrofi osteoartropi
o Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
o Neuromiopati
o Endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid

(hiperkalsemia)
o Dermatologik : eritema multiform, hiperkeratosis
o Renal : Syndrome of inappropriate andiuretic hormone
Asimtomatik dengan kelainan radiologis
o Sering terjadi pada perokok dengan PPOK yang terdeteksi

secara radiologis
o Kelainan berupa nodul soliter
2. Pemeriksaan Jasmani
Pemeriksaan jasmani harus dilakukan secara menyeluruh dan teliti. Hasil
yang didapatkan sangat bergantung pada kelainan saat pemeriksaan

dilakukan. Tumor paru ukuran kecil dan terletak di perifer dapat


memberikan gambaran normal saat pemeriksaan. Tumor dengan ukuran
besar, terlebih bila disertai atelektasis sebagai akibat kompresi bronkus,
efusi pleura atau penekanan vena kava akan memberikan hasil yang
lebih informatif. Pemeriksaan ini juga dapat memberikan data untuk
penentuan stage penyakit, seperti pembesaran KGB atau tumor di luar
paru. Metastasis ke organ lain juga dapat dideteksi dengan perabaan
hepar, pemeriksaan funduskopi, untuk mendeteksi peninggian tekanan
intrakranial dan terjadinya fraktur sebagai akibat metastasis ke tulang.
3. Deteksi Dini Kanker Paru
Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang teliti, merupakan
kunci terhadap diagnosis yang tepat. Selain gejala klinis, beberapa faktor
yang perlu diperhatikan seperti faktor umur, kebiasaan merokok, adanya
riwayat kanker dalam keluarga, terpapar zat karsinogen atau terpapar
jamur, dan infeksi yang menyebabkan nodul soliter paru. Menemukan
kanker paru pada stadium dini sangat sulit karena pada stadium ini tidak
ditemukan keluhan atau gejala. Ukuran tumor pada stadium dini relatif
kecil (<1 cm) dan tumor masih berada pada epitel bronkus. Foto rontgen
dada juga tidak bisa mendeteksi kanker tersebut. Keadaan ini disebut
tumor in situ. Untuk mendapatkan sel tumor tersebut hanya bisa dengan
pemeriksaan sitologi sputum dengan bantuan bronkoskopi. Untuk
mempermudah penemuan dini dianjurkan melakukan pemeriksaan
skrining dengan cara memeriksa sitologi sputum dan foto rontgen dada,
secara berkala. Skrining dilakukan setiap 4 bulan dan terutama ditujukan
pada laki-laki>40 tahun, perokok>1 bungkus per hari dan atau bekerja di
lingkungan berpolusi yang memungkinkan terjadinya kanker paru (pabrik
cat, plastik, asbes). (PAPDI,2011)
Sasaran untuk deteksi dini terutama ditujukan pada subyek dengan risiko
tinggi yaitu:
Laki -laki, usia lebih dari 40 tahun, perokok
Paparan industri tertentu dengan satu atau lebih gejala: batuk darah,

batuk kronik, sesak napas,nyeri dada dan berat badan menurun.


Seseorang yang dengan gejala klinik : batuk darah, batuk kronik,

sakit dada, penurunan berat badan tanpa penyakit yang jelas.


Golongan lain yang perlu diwaspadai adalah perempuan perokok
pasif dengan salah satu gejala di atas

Riwayat tentang anggota keluarga dekat yang menderita kanker paru


juga perlu jadi faktor pertimbangan.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk deteksi dini ini, selain


pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan radio toraks dan pemeriksaan
sitologi sputum (PDPI, 2003).
4. Prosedur Diagnostik
Foto Rontgen Dada secara PA dan lateral
Studi menunjukkan bahwa 61% tumor paru terdeteksi dalam
pemeriksaan rutin dengan foto rontgen dada. Tanda tumor
benigna adalah lesi berbentuk bulat konsentris, solid, dan adanya

kalsifikasi yang tegas. (PAPDI,2011)


Pemeriksaan Computed Tomography dan Magnetic Resnonance
Imaging
Pemeriksaan CT Scan pada

thoraks lebih sensitif daripada

pemeriksaan foto dada biasa dikarenakan bisa mendeteksi


kelainan atau nodul dengan diameter minimal 3 mm, walaupun
positif palsu untuk kelainan sebesar itu mencapai 25-60%.
Pemeriksaan MRI tidak rutin dilakukan karena hanya terbatas
untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi ke dalam
vertebrae, medula spinal, mediastinum, di samping biayanya
cukup mahal. Saat ini sedang dikembangkan teknik imaging yang
lebih akurat yakni Positron Emission Tomography yang dapat
membedakan

antara

tumor

jinak

dan

ganas

berdasarkan

perbedaan biokimia dalam metabolisme zat-zat seperti glukosa,

oksigen, protein, dan asam nukleat. (PAPDI,2011)


Pemeriksaan Sitologi
Pemeriksaan sitologi sputum rutin dikerjakan terutama bila pasien
ada keluhan seperti batuk. Pemeriksaan sitologi tidak selalu
memberikan hasil positif karena bergantung dari :
Letak tumor terhadap bronkus
Jenis tumor
Teknik mengeluarkan sputum
Jumlah sputum yang diperiksa. Dianjurkan pemeriksaan
3-5 hari berturut-turut
Waktu pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sitologi lain untuk diagnostik kanker paru dapat
dilakukan pada cairan pleura, aspirasi kelenjar getah bening
servikal, supraklavikula, bilasan dan sikatan bronkus pada
bronkoskopi (PAPDI,2011)

Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan ini merupakan standar emas diagnosis kanker paru
untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi
melalui : (PAPDI,2011)
Bronkoskopi
Hasil positif dengan bronkoskopi dapat mencapai 95%
untuk tumor yang letaknya sentral dan 70-80% untuk tumor

yang letaknya perifer


TTB (Trans Torakal Biopsi)
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya
perifer dengan ukuran >2 cm sensitivitasnya mencapai 9095%. Hasil pemeriksaan akan lebih baik bila ada tuntunan

CT Scan, USG atau fluoroskopi


Torakoskopi
Mediastinoskopi
Lebih dari 20% kanker paru

bermetastasis

ke

mediastinum. Untuk mendapatkan tumor metastasis dapat


dilakukan

dengan

cara

mediastinoskopi

di

mana

dimasukkan melalui insisi supra sternal.


Torakotomi
Torakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan bila
berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya

gagal mendapatkan sel tumor


Pemeriksaan Serologi/Tumor Marker
Beberapa tes yang dipakai adalah CEA (Carcinoma Embryonic
Antigen), NSE (Neuron spesific enolase), Cyfra 21-1 (Cytokeratin
fragments 19). NSE diketahui spesifik untuk Small Cell Carcinoma
dan sensitivitasnya mencapai 52%. Uji serologis tumor marker
sampai saat ini lebih banyak dipakai untuk evaluasi hasil

pengobatan kanker paru. (PAPDI,2011)


5. Diagnosis Kanker Paru
Langkah pertama adalah secara radiologis dengan menentukan apakah
lesi intra torakal tersebut sebagai tumor jinak atau ganas. Kemudian
menentukan letak lesi sentral atau perifer yang bertujuan untuk
menentukan bagaimana cara pengambilan jaringan tumor. Untuk lesi
yang letaknya perifer, kombinasi bronkoskopi dengan biopsi, sikatan,
bilasan, transtorakal biopsi/aspirasi akan memberikan hasil lebih baik.
Sedangkan untuk lesi sentral, langkah pertama sebaiknya dengan
pemeriksaan sitologi sputum diikuti bronkoskopi fleksibel. Secara

radiologis dapat ditentukan ukuran tumor (T), kelenjar getah bening


torakal (N) dan metastasis ke organ lain (M). (PAPDI,2011
2.6

Staging Kanker Paru


Untuk staging kanker paru setidaknya perlu pemeriksaan CT Scan torak,
USG abdomen, CT Scan otak dan bone scanning. Staging yang dibuat
oleh The International System for Staging Lung Cancer (PAPDI,2011)

2.7 PENGOBATAN
Tujuan pengobatan kanker : (PAPDI,2011)

Kuratif : menyembuhkan atau memperpanjang masa bebas penyakit

dan meningkatkan angka harapan hidup pasien


Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup
Rawat rumah pada kasus terminal : mengurangi dampak fisik maupun

psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga


Suportif : menunjang pengobatan kuratif paliatif dan terminal seperti
pemberian nutrisi,transfusi darah, dan komponen darah, obat anti nyeri

Terdapat perbedaan dalam terapi NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)
dengan SCLC (Small Cell Lung Cancer), sehingga pengobatannya harus
dibedakan : (PAPDI,2011)

NSCLC
Staging TNM bermanfaat dalam penentuan tatalakasana NSCLC.
Terapi bedah adalah pilihan pertama pada stadium I atau II pada
pasien dengan sisa cadangan parenkim paru yang adekuat. Pada
stadium III b dan IV tidak dioperasi Combined modality therapy yaitu

gabungan radiasi, kemoterapi, dengan operasi.


SCLC
SCLC dibagi menjadi 2, yaitu :
o Limited stage disease yang diobati dengan tujuan kuratif
o

(kombinasi kemo dan radiasi)


Extensive stage disease yang diobati dengan kemoterapi dan
angka respon terapi insial sebesar 60-70% dan angka respon

terapi komplit sebesar 20-30%


1. Pembedahan
Indikasi pembedahan adalah untuk stadium

dan

stadium

II.

Pembedahan juga merupakan bagian combine modality therapy,


misalnya kemoterapi neoadjuvan untuk stadium IIIA. Indikasi lain adalah
bila ada kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker
paru dengan sindroma vena kava superior berat. Reseksi bedah adalah
metode yang lebih dipilih untuk pasien dengan tumor setempat tanpa
adanya penyebaran metastatik dan untuk yang fungsi parunya masih
baik. Tipe reseksi paru yang mungkin dilakukan adalah lobektomi (satu
lobus paru diangkat), lobektomi sleeve (lobus yang mengalami kanker
diangkat dan segmen bronkus besar direseksi) dan pneumonektomi
(pengangkatan seluruh paru). (PDPI,2003)
2. Radioterapi
Radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai
terapi adjuvan pada tumor dengan komplikasi seperti mengurangi efek

obstruksi / penekanan terhadap pembuluh darah/bronkus. Efek samping


yang sering adalah disfagia karena esofagitis post radiasi. Keberhasilan
memperpanjang survival sampai 20% dengan cara radiasi dosis paruh
didapat dari kasus-kasus stadium I usia lanjut, kasus dengan penyakit
penyerta sebagai penyulit operatif. Radiasi juga bisa dilakukan preoperasi
untuk mengecilkan ukuran tumor (PAPDI,2011)
Radiasi sering merupakan tindakan darurat yang harus dilakukan untuk
meringankan keluhan penderita seperti sindroma vena kava superior,nyeri
tulang akibat invasi tumor ke dinding dada dan metastasis tumor di tulang
atau otak. Penetapan kebijakan radiasi ditentukan beberapa faktor :
1. Staging penyakit
2. Status tampilan
3. Fungsi paru
Bila radiasi dilakukan setelah pembedahan, maka harus diketahui :

Jenis pembedahan termasuk diseksi kelenjar yang dikerjakan


Penilaian batas sayatan oleh ahli Patologi Anatomi

Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah : (PDPI,2013)


Hb>10 g%
Trombosit > 100.000mm3
Leukosit >3000/dl
3. Kemoterapi
Sel kanker memiliki sifat perputaran daur sel lebih tinggi dibandingkan sel
normal. Dengan demikian tingkat mitosis dan proliferatif tinggi. Sitostatika
kebanyakan efektif terhadap sel bermitosis. Dosis obat harus diberikan
secara optimal dan sesuai jadwal pemberian. Penggunaan resimen dosis
tinggi harus didampingi dengan rescue sel induk darah yang berasal dari
sumsum tulang atau darah tepi yang akan menggantikan sel induk darah
akibat mieloablatif. Penilaian respon pengobatan kanker dapat dibagi
menjadi 5 golongan :
Remisi komplit, tidak tampak seluruh tumor terukur atau lesi

terdeteksi selama lebih dari 4 minggu


Remisi parsial, tumor mengecil >50% tumor terukur atau >50%

jumlah lesi terdeteksi menghilang


Stable disease pengecilan 50% atau <25% membesar
Progresif tampak beberapa lesi baru atau >25% membesar
Lokoprogresif : tumor membesar di dalam radius tumor (lokal)
(PAPDI,2011)

Indikasi pemberian kemoterapi pada kanker paru ialah :


1. Penderita kanker paru jenis small cell lung carcinoma (SCLC)
tanpa atau dengan gejala.
2. Penderita kanker paru jenis small cell lung carcinoma (SCLC)
yang inoperabel (stage IIIB & IV), jika memenuhi syarat dapat
dikombinasi dengan radioterapi, secara konkuren, sekuensial atau
alternating kemoradioterapi.
3. Kemoterapi adjuvan yaitu kemoterapi pada penderita kanker paru
jenis non small cell lung carcinoma (NSCLC) stage I, II dan III
yang telah dibedah.
4. Kemoterapi neoadjuvan yaitu kemoterapi pada penderita stage
IIIA dan beberapa kasus stage IIIB yang akan menjalani
pembedahan. Dalam hal ini kemoterapi merupakan bagian terapi
multimodaliti.
Penggunaan kemoterapi pada pasien NSCLC, untuk pengobatan kuratif
kemoterapi

dikombinasikan

secara

terintegrasi

dengan

modalitas

pengobatan kanker lainnya pada pasien dengan penyakit lokoregional


lanjut. Kemoterapi digunakan sebagai terapi baku untuk pasien mulai dari
stadium III A dan untuk pengobatan paliatif. Kemoterapi neoadjuvan
diberikan mulai dari stadium II dengan sasaran lokoregional tumor dapat
direseksi lengkap. Cara pemberian diberikan setelah terapi lokal. Terapi
definitif dengan pembedahan, radioterapi, atau keduanya diberikan di
antara siklus pemberian kemoterapi. (PAPDI,2011)
Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemoterapi (PDPI,2003)
1. Tampilan >70-80
2. Hb10 g%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut,
meski Hb<10g% tidak perlu transfusi darah segera, cukup
3.
4.
5.
6.

diberikan terapi sesuai dengan penyebab anemia


Granulosit 1500/mm3
Trombosit 100.000/mm3
Fungsi hati baik
Fungsi ginjal baik (creatinin clearance lebih dari 70 ml/menit)

Regimen yang digunakan adalah :


1.
2.
3.
4.
5.

Platinum Based Therapy (sisplatin atau karboplatin)


PE (Sisplatin atau karboplatin + etoposid)
Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin
Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin
Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin

4. Pemilihan Obat
Kebanyakan obat sitostatika mempunyai aktivitas cukup baik
untuk NSCLC , walaupun demikian penggunaan obat tunggal tidak
mencapai remisi komplit. Mula-mula resimen CAMP yang teridiri dari
siklofosfamid, doksorubisin, metotreksat, dan prokarbasin, tingkat respon
regimen ini 26%. Untuk kemoterapi adjuvan dengan atau tanpa
radioterapi mula-mula dikembangkan adalah protokol CAP (siklofosfamid,
doksorubisin, dan cisplatin). (PAPDI,2011)
5. Pengobatan Paliatif dan Rehabilitasi
Yang perlu ditekankan untuk terapi paliatif adalah tujuannya untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita sebaik mungkin. Gejala dan tanda
karsinoma

bronkogenik

bronkopulmoner,

dapat

ekstrapulmoner

dikelompokkan
intratorasik,

pada

ekstratorasik

gejala
non

metastasis dan ekstratorasik metastasis. Sedangkan keluhan yang sering


dijumpai adalah batuk, batuk darah, sesak napas, dan nyeri dada.
Pengobatan paliatif untuk kanker paru meliputi radioterapi, kemoterapi,
medikamentosa, fisioterapi, dan psikososial.
Pada penderita kanker paru dapat

terjadi

gangguan

muskuloskeletal terutama akibat metastasis ke tulang. Manifestasinya


dapat berupa infiltrasi ke vertebrae atau pendesakan saraf. Gejala yang
timbul berupa kesemutan, baal, nyeri, dan bahkan paresis sampai
paralisis otot dengan akibat akhir gangguan mobilisasi. Upaya rehab
medik tergantung pada kasus. Bila operabel tindakan rehab medik adalah
preventif dan restoratif. Bila non operabel tindakan rehab medik adalah
suportif dan paliatif.
Untuk penderita kanker paru yang akan dibedah perlu dilakukan
rehabilitasi medik prabedah dan pasca bedah yang bertujuan membantu
memperoleh hasil optimal tindakan bedah terutama untuk mencegah
komplikasi

pascabedah

(misalnya

retensi

sputum,

paru

tidak

mengembang) dan mempercepat mobilisasi. Tujuan program rehab


medik untuk pasien nonoperabel adalah untuk memperbaiki dan
mempertahankan

kemampuan

fungsional

penderita

yang

dinilai

berdasarkan skala Karnofsky. (PDPI,2003)


6. Evaluasi hasil pengobatan
Umumnya kemoterapi diberikan sampai 6 siklus/sekuen, bile penderita
menunjukkan repons yang memadai. Evaluasi respons terapi dilakukan

dengan melihat perubahan ukuran tumor pada foto toraks PA setelah


pemeberian

(siklus)

kemoterapi

ke-2

dan

kalau

memungkinkan

menggunakan CT-Scan toraks setelah 4 kali pemberian. (PDPI,2003)


Evaluasi hasil kemoterapi harus dilakukan untuk memutuskan apakah
kemoterapi

dapat

atau

tidak

dapat

diteruskan.

Evaluasi

yang

komprehensif meliputi aspek : (PDPI,2003)


1. Respons subyektif yaitu penurunan keluhan awal
2. Respons semisubyektif yaitu perbaikan tampilan, bertambahnya
berat badan
3. Respons obyektif
4. Efek samping obat
Respons objektif dibagi atas 4 golongan dengan ketentuan :
1. Complete response (CR atau respons komplet), bila pada evaluasi
tumor hilang 100% dan keadaan ini menetep lebih dari 4 minggu
2. Partial response (PR atau respons sebagian), pengurangan
ukuran tumor sebesar 50% atau lebih, tetapi <100%
3. No change (NC) atau stable disease, (SD, tidak berubah) bila
ukuran tumor tidak berubah atau mengecil >25% tetapi <50%
4. Progressive disease (PD atau perburukan) bila terjadi
petambahan ukuran tumor >25% atau muncul tumor/lesi baru di
paru atau di tempat lain (PDPI,2003)
Evaluasi respon Objektif
Pemanfaatan kriteria WHO untuk menilai respons objektif pada dasarnya
sudah memadai tetapi harus dilakukan dengan benar dan tercatat. Cara
penilaian respons objektif mengalami perkembangan dan perubahan.
Penilaian baru yang digunakan adalah dengan menggunakan kriteria
dalam

RESPONSE

EVALUATE

CRITERIA

IN

SOLID

TUMORS

(RECIST). Perlunya penilaian atau kriteria baru karena mulai timbul


masalah dan didapatkan beberapa kekurangan penilaian lama ketika
digunakan pada beberapa uji klinis. Masalah itu antara lain :
1. Ukuran minimal dan jumlah lesi kadang sangat bervariasi.
2. Definisi progresif penyakit ( PD) berdasarkan bertambahnya
ukuran satu lesi, sedangkan yang lain berdasarkan bertambahnya
kumulatif ukuran dari sejumlah lesi.
3. Berkembangnya teknik CT dan MRI yang dapat menilai ukuran
tumor dalam 3 dimensi.
Definisi lesi (tumor) sebagai baseline pada RECIST dikelompokkan pada
lesi yang measurable, nonmeasurable dan truly nonmeasurable.

Lesi measurable jika diameter lesi secara akurat dapat diukur


setidaknya pada satu dimensi 20 mm pada tehnik yang CT

konvensional atau 10 mm pada spiral CT scan.


Lesi nonmeasurable jika diameter lesi < 20 mm pada teknik

konvensional atau < 10 mm pada spiral CT-scan.


Lesi truly nonmeasurable antara lain lesi metastasis di tulang,
efusi pleura, efusi perikard, asites, dll.

Pembagian atau kriteria respons pada RECIST digunakan sebagai


evaluasi pada

Evaluasi lesi-lesi target, definisi kriteria RECIST mirip dengan


kriteria WHO untuk lesi measurable yaitu terdiri atas CR jika
semua lesi target hilang. PR jika total diameter lesi-lesi target
mengecil 30% , SD jika tidak masuk kriteria PR / PD dan PD jika

total diameter lesi-lesi target membesar 20%.


Evaluasi lesi-lesi nontarget, definisi kriteria RECIST untuk lesi-lesi
nontarget adalah CR jika semua lesi-lesi nontarget hilang dan
level tumor marker normal. Incomplete response (IR) / SD jika
satu atau lebih lesi-lesi nontarget menetap dan atau level tumor
marker masih diatas nilai normal. PD jika tampak lesi baru total

diameter lesi-lesi target membesar 20%.


Evaluasi respons keseluruhan (best overall response), merupakan
gabungan evaluasi lesi-lesi target dan non target dan ada atau
tidaknya lesi baru. Pembagian kriteria sama dengan kriteria WHO
yaitu CR, PR, IR/SD atau PR.

Evaluasi Respons Subjektif / Semisubjektif

Keluhan/gejala dinilai apakah gejala berkurang, menetap atau

bertambah
Tampilan (Performance Status=PS)
Setelah pemberian kemoterapi pada umumnya terjadi penurunan
nilai tampilan, tetapi nilai tersebut harus kembali ke nilai sebelum
pemberian obat. Bila tampilan berkurang sampai skala Karnofsky
50 atau skala WHO, maka pemberian obat yang berikutnya harus
ditunda. Dianjurkan menggunakan ukuran tampilan menurut skala
Karnofsky. Penambahan berat badan juga diukur

Evaluasi Efek Samping

Secara umum toksisiti akibat kemoterapi dikelompokkan pada toksisitas


hematologi dan non-hematologi. Masing-masing obat mempunyai efek
samping

yang

berbeda

sesuai

dengan

farmakokinetik

dan

farmakodinamik obat itu. Semua obat sitostatik mempunyai pengaruh


depresi pada sumsum tulang Beberapa obat mempunyai efek samping
yang berhubungan dengan dosis. Adriamisin mempunyai efek samping
pada miokard berupa miokardiopati, bila telah tercapai dosis maksimal.
Siklofosfamid dan ifosfamid dapat menimbulkan sistitis, sedangkan
sisplatin dan karboplatin mempunyai efek toksik pada ginjal dan saraf.
Paklitaksel dan dosetaksel mempunyai efek samping hipersensitiviti serta
gangguan susunan saraf pusat. Alopesia amat sering ditemukan. Gejala
gastrointestinal berupa mual dan muntah disertai rasa lemah dan
anoreksia hampir selalu dirasakan sesudah pemberian kemoterapi.
Gemsitabin termasuk obat sitostatik yang kurang menimbulkan gejala
gastrointestinal dan alopesia, walaupun masih menunjukkan depresi
sumsum tulang.
a. Follow up
Angka kekambuhan (relaps) kanker paru paling tinggi terjadi pada 2 tahun
pertama, sehingga evaluasi pada pasien yang telah diterapi optimal
dilakukan setiap 3 bulan sekali. Evaluasi meliputi pemeriksaan klinis dan
radiologis yaitu foto thoraks PA / lateral dan CT-Scan thoraks, sedangkan
pemeriksaan lain dilakukan atas indikasi. (PDPI,2003)

2.8 PROGNOSIS
SCLC (PAPDI,2011)
o Dengan adanya perubahan terapi dalam 15-20 tahun
belakangan ini kemungkinan hidup rata-rata yang tadinya <3
o

bulan meningkat menjadi 1 tahun.


Pada kelompok Limited disease kemungkinan hidup naik
menjadi 1-2 tahun, sedangkan 20% daripadanya tetap hidup

dalam 2 tahun
o 30% meninggal karena komplikasi lokal dari tumor
o 70% meninggal karena kasinomatosis
o 50% metastasis ke otak
NSCLC (PAPDI,2011)

Yang terpenting pada prognosis kanker paru ini adalah

menentukan stadium dari penyakit


Pada pasien yang dilakukan tindakan bedah, kemungkinan

hidup 5 tahun setelah dioperasi adalah 30%


Survival setelah tindakan bedah, 70% pada occult carcinoma,
35-40% pada stadium I, 10-15% pada stadium II, dan kurang

dari 10% pada stadium III


75% karsinoma skuamosa meninggal akibat komplikasi
torakal, 25% karena ekstra torakal, 2% karena gangguan

sistem saraf sentral


40% adenokarsinoma dan karsinoma sel besar meninggal
akibat komplikasi torakal, 55% karena ekstra torakal

2.9 PENCEGAHAN
Pencegahan paling penting adalah tidak merokok sejak usia muda.
Berhenti merokok dapat mengurangi risiko terkena kanker paru. Akhirakhir ini pencegahan dengan chemoprevention banyak dilakukan, yakni
dengan memakai derivat asam retinoid, carotenoid, vitamin C, selenium.
Penggunaan kemopreventif ini masilh memerlukan penelitian lebih lanjut.
(PDPI,2003)

KESIMPULAN
Karsinoma bronkogenik adalah tumor malignan yang timbul dari epitelial
bronchial. Kanker ini merupakan kanker yang sering terjadi terbukti
dengan adanya peningkatan kasus yang progresif.

DAFTAR PUSTAKA
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2003. Kanker Paru, Pedoman
Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Lam PT, Leung MW, and Tse CY. Identifying prognostic factors for survival in
advanced cancer patients: A prospective study. Hong Kong: Med J ; 2007; 13:
453-9
Alberg

AJ,

Ford

JG,

Samet

JM;

American

College

of

Chest

Physicians. Epidemiology and Risk Factors of Lung Cancer. ACCP Evidencebased Clinical Practice Guidelines (2nd Edition). Chest, 2007;132:29S-55S

Wahyuni, Titis Dewi. The Positive Result Of Cytology Brushing At Flexible


Fiberoptic Bronchoscopy Compared with Transthoracic Needle Aspiration in
Central Lung Tumor J Respir Indo Vol. 31, No. 1, Januari 2011
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). 2011. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.