Anda di halaman 1dari 19

HAK ASASI MANUSIA DAN HAK & KEWAJIBAN WARGA NEGARA

A. PENDAHULUAN
Makalah ini membahas tentang materi dan pembelajaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta
Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam mata pelajaran PKn sebagai salah satu Mata Kuliah
Dasar Umum yang perlu dikenalkan kepada semua mahasiswa.
Dalam bab ini pembaca khususnya mahasiswa diajak mengenal, memahami dan
menganalisis pengertian, karakteristik serta berbagai permasalahan yang berkaitan dengan
konsep serta pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM) serta Hak dan Kewajiban Warga
Negara Indonesia. Sehingga dengan mempelajari materi dalam bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Dapat memahami materi tentang HAM.
2. Dapat memahamai materi Hak dan Kewajiban Warga Negara.
3. Dapat memahami dan menjelaskan pelaksanaan HAM di Indonesia.
Sebagai makhluk bermartabat, manusia memiliki sejumlah hak dasar yang wajib
dilindungi, seperti hak hidup, hak beropini, hak berkumpul, serta hak beragama dan hak
berkepercayaan. Nilai-nilai HAM mengajarkan agar hak-hak dasar yang asasi tersebut
dilindungi dan dimuliakan. HAM mengajarkan prinsip persamaan dan kebebasan manusia
sehingga tidak boleh ada diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap manusia dalam
bentuk apapun dan juga tidak ada pembatasan dan pengekangan apa pun terhadap kebebasan
dasar manusia. Oleh karena masalah Hak Asasi Manusia telah merambah di dalam kehidupan
masyarakat dan merupakan persoalan bersama, maka masyarakat atau siswa, seyogyanya
dikenalkan pada masalah HAM, agar mereka mengetahui dan menyadari akan hak dan
kewajiban asasi dirinya dan hak asasi orang lain sehingga mereka akan terbiasa untuk
menghormati diri dan hak-hak asasi orang lain.

B. HAK ASASI MANUSIA


1. Pengertian Hak Asasi Manusia
Pengertian HAM menurut beberapa para ahli diantaranya:
John Locke, Hak Asasi Manusia adalah hak yang dibawa sejak lahir yang secara
kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat (bersifat mutlak).
Koentjoro Poerbapranoto (1976), Hak Asasi adalah hak-hak yang dimiliki manusia
menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci.
Jack Donnely, hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata
karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh

masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan


martabatnya sebagai manusia.
Meriam Budiardjo, berpendapat bahwa hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki
manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahirannya di dalam
kehidupan masyarakat.
Sedangkan menurut UU No 39 Tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerahnya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kerhormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, istilah Hak diartikan sebagai sesuatu yang
benar, kepemilikan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu, atau kekuasaan yang benar atas
sesuatu. Sedangkan asasi berarti bersifat dasar, pokok atau fundamental. Sehingga Hak
asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia secara kodrati
sebagai anugerah dari tuhan, mencangkup hak hidup,hak kemerdekaan/kebebasan dan hak
memiliki sesuatu.
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan,sebagai berikut.
Landasan yang langsung dan pertama, yakni kodrat manusia.kodrat manusia adalah
sama derajat dan martabatnya.semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan
ras,agama,suku,bahasa,dan sebagainya.
Landasan yang kedua dan yang lebih dalam: Tuhan menciptakan manusia.Semua
manusia adalah makhluk dari pencipta yang sama yaitu tuhan yang maha esa.Karena itu di
hadapan tuhan manusia adalah sama kecuali nanti pada amalnya.
2.
a.

Jenis-jenis HAM
Hak asasi pribadi / Personal Right
Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan

b.

yang diyakini masing-masing


Hak asasi politik / Political Right
Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi

c.

Hak azasi hukum / Legal Equality Right


Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum

d.

Hak azasi Ekonomi / Property Rigths


Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak

e.

Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights


Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan

f.

penyelidikan di mata hukum.


Hak asasi sosial budaya / Sosial Culture Right
Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
Hak mendapatkan pengajaran
Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

C. SEJARAH PERKEMBANGAN HAM


Untuk mengukuhkan jaminan perlindungan hak asasi manusia, pada tanggal 10 Desember
1948, melalui Sidang Umum di Caillot. Paris telah dikeluarkan Deklarasi Umum Hak-hak
Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).
Usaha bangsa-bangsa di dunia dalam melindungi hak asasi manusia secara universal
memakan waktu yang sangat panjang. Usaha ini telah dimulai sejak sejumlah perjanjian
(traktat) dimasukkan ke dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1945. Namun
usaha perlindungan hak asasi manusia yang dilakukan oleh suatu negara telah dimulai jauh
sebelum memasuki abad ke-20.
Sejak abad ke-13 usaha perlindungan hak asasi manusia telah dimulai. Usaha melindungi
hak-hak

asasi

manusia

telah

ditempuh

bangsa

Inggris

sejak

1215

dengan

ditandatanganinya Magna Charta oleh Raja John Lackland. Piagam ini berisi beberapa hak
yang diberikan Raja John kepada beberapa bangsawan bawahannya dan kaum gerejani atas
sejumlah tuntutan yang diajukan mereka. Dengan demikian, piagam ini melindungi kaum
bangsawan dan gerejani dari kekuasaan Raja John yang amat luas.

Meskipun masalah yang diatur terbatas pada perlindungan hak kaum bangsawan dan
gerejani, namun piagam ini dianggap sebagai usaha pertama bangsa Inggris dalam
melindungi hak-hak asasi warganya.
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan penandatanganan Petition of Rights pada
1628 yang dilakukan Raja Charles I. Dibandingkan dengan Magna Charta, kandungan
Petition of Rights banyak mengalami kemajuan. Bila penandatanganan Magna Charta
dilatarbelakangi oleh sejumlah tuntutan yang diajukan kaum bangsawan dan gerejani, maka
kelahiran Petition of Rights dilatarbelakangi oleh munculnya sejumlah tuntutan rakyat yang
diwakili oleh Parlemen (House of Common).
Perlawanan rakyat Inggris terhadap Raja James II (1688) yang lebih dikenal sebagai
Revolusi tak berdarah (The Glorious Revolution), telah mendorong penandatanganan
Undang-undang Hak (Bill of Rights) oleh Raja Willem III pada tahun 1989. Penandatanganan
undang-undang tadi bukan saja menandai kemenangan Parlemen Inggris atau Raja, tetapi
juga sebagai bukti kesungguhan rakyat Inggris dalam menegakkan hak-haknya di bawah
kekuasaan raja yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun.
Apa yang dilakukan rakyat Inggris pada hakikatnya merupakan usaha untuk membatasi
kekuasaan raja agar tidak sewenang-wenang. Mengapa rakyat Inggris menginginkan agar
kekuasaan raja dibatasi?
Jawabannya dikemukakan oleh seorang Inggris yang menggeluti bidang sejarah, Lord
Acton. Menurut Lord Acton, manusia yang memiliki kekuasaan cenderung menyalahgunakan
kekuasaan,

tetapi

manusia

yang

memiliki

kekuasaan

tak

terbatas

pasti

akan

menyalahgunakannya (power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely).


Dalil yang dikemukakan Lord Acton telah mengilhami banyak bangsa di dunia sekaligus
menjadi ide dasar penegakkan ajaran demokrasi konstitusional. Ajaran ini mengandung
gagasan pokok bahwa kekuasaan pemerintah harus dibatasi, pembatasan mana biasanya
dicantumkan dalam konstitusi.
Usaha membatasi kekuasaan raja guna melindungi hak asasi manusia dilakukan pula
bangsa Perancis. Sebagaimana di Inggris, usaha perlindungan hak asasi di Prancis lahir dari
revolusi yang bertujuan menghancurkan sistem pemerintahan absolut dan menggantinya
dengan tatanan pemerintahan baru yang demokratis.
Tujuan Revolusi Perancis banyak dipengaruhi oleh filosof yang hidup pada masa itu.
Mereka adalah Thomas Hobbes, John Locke dan Montesquieu.
Thomas Hobbes, dan John Locke adalah peletak dasar teori perjanjian masyarakat.
Perbedaannya bila teori perjanjian masyarakat yang dikembangkan Thomas Hobbes
melahirkan ajaran monarkhi absolut, maka teori perjanjian yang dikembangkan John Locke
melahirkan ajaran monarkhi konstitusional.

Menurut Thomas Hobbes, manusia selalu berada dalam situasi hommo homini lupus
bellum omnium comtra omnes. Situasi ini mendorong dilakukannya perjanjian antara
masyarakat dan penguasa. Perjanjian tadi berisi penyerahan hak-hak rakyat kepada penguasa.
Oleh karena itu, ajaran Thomas Hobbes mengarah kepada pembentukan monarkhi absolut.
Berbeda dengan Hobbes, John Locke memandang bermasyarakat dan bernegara
merupakan kehendak manusia yang diwujudkan dalam dua bentuk perjanjian, yakni pactum
unionis, perjanjian antaranggota masyarakat untuk membentuk masyarakat politik dan
negara, dan pactum subjectionis. Locke memandang pactum subjectionis sebagai perjanjian
antara rakyat dengan penguasa untuk melindungi hak-hak rakyat yang tetap melekat ketika
berhadapan dengan kekuasaan sang penguasa. Oleh karena itu, menurut Locke tugas negara
adalah melindungi hak-hak individu, yakni hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak
milik (estate). Jaminan perlindungan hak-hak tadi dituangkan dalam konstitusi, sehingga
ajaran Locke sering disebut monarkhi konstitusional.
Selain Hobbes dan Locke, filsuf Prancis Montesquieu sangat mempengaruhi
perkembangan perlindungan hak asasi di Prancis. Bersama-sama dengan Rousseau ia
melahirkan Deklarasi Hak Manusia dan Warganegara pada tahun 1789. Deklarasi inilah yang
kemudian melahirkan hak atas kebebasan (Liberty),. Harta (Property), Keamanan (Safety),
dan perlawanan terhadap penindasan (Resistance to Oppression).
Perkembangan sejarah perlindungan hak asasi di Amerika Serikat memiliki kaitan dengan
pengalaman bangsa Inggris dan Perancis. Sumbangan pengalaman bangsa Inggris dalam
perkembangan perlindungan hak asasi di Amerika Serikat terlihat dari pengaruh ajaran John
Locke terhadap kandungan Declaration of Independence Amerika Serikat yang disetujui oleh
Congres yang mewakili 13 negara baru yang pada tanggal 4 Juli 1776.
Seperti halnya John Locke. Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat mengakui bahwa
manusia dicipta Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama, memiliki sejumlah hak yang
melekat secara kodrati. Hak-hak tersebut adalah hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak
untuk mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness).
Perkembangan usaha perlindungan hak asasi di Amerika Serikat memiliki kemiripan
dengan perkembangan yang dialami bangsa Prancis. Konsep kedaulatan negara berada di
tangan rakyat sebagaimana dianut Amerika dianut pula di Prancis. Kedua negara pun
memperjuangkan hak asasi melalui revolusi dan pada tahun yang sama kedua negara
mendatangi naskah masing-masing. Hal ini terjadi pada tahun 1789, dimana di Prancis
dikeluarkan pernyatan hak-hak manusia dan warga negara (Declaration des droits de L
homme et du citoyen), berupa naskah yang dicetuskan pada awal Revolusi Prancis sebagai
bentuk perlawanan terhadap kekuasaan lama yang sewenang-wenang.

Pada tahun yang sama di Amerika pun dikeluarkan undang-undang Hak (Bill of Rights).
Undang-undang ini akhirnya menjadi bagian dari undang-undang dasar Amerika pada tahun
1791.
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HAM DI INDONESIA
Secara garis besar Prof. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan
Pengaturan HAM di Indonesia (2001), membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di
Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan (1908 1945), periode
setelah Kemerdekaan (1945 sekarang).
I. Periode Sebelum Kemerdekaan (1908 1945)
Boedi Oetomo, dalam konteks pemikiran HAM, pemimpin Boedi Oetomo telah
memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi
petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat
kabar goeroe desa. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan
berserikat dan mengeluarkan pendapat.
Perhimpunan Indonesia, lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib
sendiri.
Sarekat Islam, menekankan pada usaha usaha unutk memperoleh penghidupan yang
layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial.
Partai Komunis Indonesia, sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih
condong pada hak hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu isu yang berkenan dengan
alat produksi.
Indische Partij, pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan
kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan.
Partai Nasional Indonesia, mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan.
Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, menekankan pada hak politik yaitu hak
untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk menentukan nasib sendiri, hak berserikat dan
berkumpul, hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan
Negara.Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang
BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan
Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang
BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum, hak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan, hak
berserikat, hak untuk berkumpul, hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan.

II. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 sekarang )


a) Periode 1945 1950
Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka, hak
kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan
untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. Pemikiran HAM telah mendapat
legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum
dasar Negara ( konstitusi ) yaitu, UUD 45. komitmen terhadap HAM pada periode awal
sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945.
Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan partai
politik. Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945.
b) Periode 1950 1959
Periode 1950 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode
Demokrasi Parlementer. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang
sangat membanggakan, karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal
atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. Seperti
dikemukakan oleh Prof. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini
mengalami pasang dan menikmati bulan madu kebebasan. Indikatornya menurut ahli
hukum tata Negara ini ada lima aspek. Pertama, semakin banyak tumbuh partai partai
politik dengan beragam ideologinya masing masing. Kedua, Kebebasan pers sebagai pilar
demokrasi betul betul menikmati kebebasannya. Ketiga, pemilihan umum sebagai pilar lain
dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan, fair ( adil ) dan demokratis. Keempat,
parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan
kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif
terhadap eksekutif. Kelima, wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang
kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan.
c) Periode 1959 1966
Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin
sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. Pada sistem ini
( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. Akibat dari
sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran
supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. Dalam kaitan dengan HAM,
telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik.
d) Periode 1966 1998
Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto, ada semangat untuk
menegakkan HAM. Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang
HAM. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang
merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM, pembentukan

Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Selanjutnya pada pada tahun 1968
diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil
( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Begitu pula dalam rangka
pelaksanan TAP MPRS No. XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah
menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak hak Asasi Manusia
dan Hak hak serta Kewajiban Warganegara.
Sementara itu, pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan
HAM mengalami kemunduran, karena HAM tidak lagi dihormati, dilindungi dan ditegakkan.
Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk
hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam
ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai nilai
luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih
dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih
dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM. Selain itu sikap defensif pemerintah
ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara Negara
Barat untuk memojokkan Negara yang sedang berkembang seperti Inonesia.
Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran, pemikiran
HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori
oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhaap
penegakan HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan
lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprti kasus Tanjung Priok,
kasus Keung Ombo, kasus DOM di Aceh, kasus di Irian Jaya, dan sebagainya.
Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh
hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan
defensif menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan
HAM. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah
dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES
No. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993.
Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyeliiki pelaksanaan HAM, serta memberi
pendapat, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM.
e) Periode 1998 sekarang
Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang sangat besar
pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat ini mulai dilakukan
pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang beralwanan dengan
pemjuan dan perlindungan HAM. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang
undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan

kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma


dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari
hukum dan instrumen Internasional dalam bidang HAM.
Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status
penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. pada tahap penentuan telah ditetapkan
beberapa penentuan perundang undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi
Negara ( Undang undang Dasar 1945 ), ketetapan MPR ( TAP MPR ), Undang undang
(UU), peraturan pemerintah dan ketentuan perundang-undangan lainnya.
D. PEMAHAMAN HAK ASASI MANUSIA DALAM PANCASILA
Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir sebagai
anugrah Tuhan YME.hak-hak dasar tsb meliputi: Hak-hak dalam lapangan politik, ekonomi,
sosial, kebudayaan, dan yuridis, dan kebebasan-kebebasan dasar yang meliputi
kebebasan dalam lapangan kebebasan pribadi dan rohani.
Hak-hak dalam kebebasan dasar atau hak-hak asasi manusia yang terkandung dalam
pancasila yaitu :
1. Hak asasi manusia dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Setiap orang dijamin untuk melakukan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing.
Setiap agama dipandang sama hak dan kedudukannya terhadap Negara.
2. Hak asasi manusia dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
Setiap orang berhak diperlakukan secara pantas, tidak boleh disiksa dan dihukum secara
sewenang-wenang, tidak boleh dihina atau diperlakukan secara melampaui batas, ia berhak
untuk dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya menurut undang-undang.
Sila kemanusiaan ini berarti pula: suatu pengakuan kemerdekaan bagi segala bangsa dengan
menolak kolonialisme dan imperialisme dan setiap bangsa berhak untuk menentukan bentuk
dan corak negaranya sendiri.
3. Hak asasi manusia dalam sila Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia atau kesadaran kebangsaan Indonesia lahir dari keinginan untuk bersatu
sebagai suatu bangsa, lahir dari sikap yang mengutamakan kepentingan bangsa diatas
kepentingan suku, golongan, partai, dan lain-lain.
Kesadaran kebangsaan ini merupakan tanda adanya keinginan untuk mempertahankan HAM,
sebab tanpa adanya kesadaran kebangsaan tidak ada jaminan bahwa HAM mendapat
perlindungan.
Perasaan kebangsaan Indonesia keluar bersifat persahabatan dengan bangsa-bangsa lain
dalam dasar sama derajat, anti kolonialisme dan imperialisme.
4. Hak asasi manusia dalam sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan
Kerakyatan berisi pengakuan akan harkat dan martabat manusia yang berarti pula
menghormati dan menjunjung tinggi segala hak asasi yang melekat padanya. Hak asasi dalam

sila kerakyatan berwujud seperti Hak mengeluarkan pendapat, hak berkumpul dan berapat,
hak ikut serta dalam pemerintahan dan jabatan-jabatan Negara, memerdekakan pers dan
sebagainya.
Pasal 1 ayat 1 UUD 1945 menegaskan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan
dilakukan sepenuhnya oleh MPR.
Masalah pelaksanaan kedaulatan rakyat tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan adanya hak
asasi manusia. Demokrasi pancasila dengan musyawarah dan mufakatnya memberikan nilai
tinggi terhadap HAM.
5. Hak asasi manusia dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan sosial berwujud hendak melaksanakan kesejahteraan bagi seluruh anggota
masyarakat, ini berarti: bahwa setiap orang dapat menikmati kehidupan yang layak sebagai
manusia yang terhormat, setiap orang berhak mendapat nafkah dan aminan hidup yang layak
dalam lapangan ekonomi dan sosial dengan saling harga-menghargai dan bantu-membantu.
Keadilan sosial adalah hak asasi manusia seperti hak hidup, hak milik, hak atas pekerjaan,
dan sistem pengupahan yang baik dan adil.
E. HAK ASASI MANUSIA DALAM UUD 1945
Dalam perubahan kedua UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR, tanggal 18 Agustus 2000,
pasal tentang HAM ditulis dalam bab tersendiri, yaitu bab XA pasal 28 yang terdiri dari 10
pasal. Dengan adanya bab khusus tentang HAM ini, berarti memantapkan keinginan kita
untuk menjunjung HAM di Negara tercinta ini. Berikut ini adalah isi dari bab XA tersebut:
Pasal 28A untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupan.
Pasal 28B membentuk keluarga dan melanjitkan keturunan, hak anak atas kelangsungan
hidup , tumbuh dan, berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 28C mengembangkan diri, mendapat pendidikan, memperoleh manfaat dari IPTEK,
seni dan budaya memajukan diri secara kolektif.
Pasal 28D pengakuan yang sama dihadapan umum, hak untuk bekerja dan kesempatan yang
sama dalam pemerintahan, berhak atas status kewarganegaraan
Pasal 28E kebebasan memeluk agama, meyakini kepercayaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal, kebebasan berserikat, berkumpul, dan berpendapat.
Pasal 28F berkomunikasi, memperoleh, mencari, memiliki, menyimpan, mengolah dan
menyampaikan informasi.
Pasal 28G perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta benda, dan rasa
aman serta untuk bebas dari penyiksaan.
Pasal 28H hidup sejahtera lahir dan batin, memperoleh pelayanan kesehatan, mendapatkan
kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat guna
mencapai persamaan dan keadilan.
Pasal 28I perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab
negara, terutama pemerintah.

Pasal 28J berkewajiban menghargai hak orang dan pihak lain srta tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan UU.
F. PENGERTIAN HAK DAN WAJIB
Sebelum pembahasan mengenai hak dan kewajiban warga Negara, perlu diketahui apa

yang dimaksud hak dan wajib itu sendiri, yaitu:


Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan sesuatu yang semestinya ditterima atau
dilakukan oleh pihak tertentu dan tidak dapat dilakukan oleh pihak lain manapun juga yang

pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.


Wajib adalah beban untuk memberikan atau membiarkan sesuatu yang semestinya
dibiarkan atau diberikan oleh pihak tertentu dan tidak dapat dilakukan oleh pihak lain
manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan.
Hak merupakan kodrat manusia yang diberikan Tuhan sehingga siapapun tidak boleh
mengganggunya dan hak trsebut dilindungi Negara. Walau demikian, batas-batasnya harus
tetap ada dan pembatasan ini harus ditetapkan Negara sesuai dengan pandangan hidup,
tingkat kemajuan kebudayaan, dan dasar Negara yang bersangkutan.

G.

HAK WARGA NEGARA


Setiap Negara umumnya mencantumkan pasal hak dan kewajiban warga Negara dalam
Undang-Undang dan peraturan hukum lainnya sebagai syarat objektif dalam hidup
bermasyarakat dan bernegara.
Dalam batang tubuh UUD 1945, hak-hak warga Negara diatur dalam beberapa pasal.
Sesuai dengan sifat UUD yang singkat, luwes, dan fleksibel, apsal-pasalnya juga hanya yang
pokok-pokok saja. Pasal-pasal dalam UUD 1945 yang mengatur hak-hak warga Negara

adalah sebagai berikut:


1. Pasal 27 Ayat 1
Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahannya itu dengan tidak ada kecualinya.
2. Pasal 27 Ayat 2
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.
3. Pasal 28
Kemerdekaan bersekrikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan
dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
4. Pasal 29 Ayat 2
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
5. Pasal 30 Ayat 1

Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara.
6. Pasal 31 Ayat 1
Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
7. Pasal 33
Tiap-tiap warga negara berhak ikut dalam kegiatan perekonomian yag diusahakan bersamasama.
8. Pasal 34
Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Di dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM, sebagian isinya
mengenai hak-hak warga Negara, diantaranya:
1. Hak untuk hidup
Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya.
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah.
3. Hak mengembangkan diri
Setiap orang berhak atas perlindungan dan kasih saying untuk pengembangan pribadinya,
memperoleh, dan mengemmbangkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
4. Hak keadilan
Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum yang adil.
5. Hak kemerdekaan
Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.
Setiap orang berhak atas kebebasan menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati nurani.
Setiap orang berhak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
6. Hak atas kebebasan informasi
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh infirmasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya.
Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan
menyampaikan infirmasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
7. Hak keamanan
Setiap orang berhak atas rasa aman dan perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak
miliknya.
Setiap orang berhak mencari suaka untuk mendapat perlindungan politik dari Negara lain.
Setiap orang berhak ikut serta dalam upaya pembelaan Negara.
8. Hak kesejahteraan
Setiap orang berhak hidup sejaktera lahir dan batin.
Setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Warga Negara memiliki hak sekaligus kewajiban yang harus dipenuhi kepada Negara.
Dari 30 pasal UU HAM, hanya satu ayat yang memuat tentang kewajiban individu, yaitu

pasal 29 ayat (1). Dalam konstitusi termuat dalam pasal 28J. dalam UU Nomor 39 Tahun
1999 Tentang HAM, dari 106 pasal yang ada, pegnaturan mengenai kewajiban dasar hanya
empat pasal, sedangkan yang mengatur hak dan kebebasan dasar terdiri dari 58 pasal, sisanya
mengatur mengenai Komnas HAM dan ketentuan lain. Tidak berbeda dengan konstitusi,
kewajiban dasar itu intinya menyebutkan, tiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain,
patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional
mengenai HAM serta wajib ikut serta membela Negara.
Lalu bagaimana dengan Negara kita? Apakah kita wajib menghormati hukum? Apabila
hukum tidak adil dan pengaturannya melanggar HAM warga Negara, apakah hukum itu wajib
dihormati? Jika pengadilan tidak berlaku adil dan korup, apakah layak dibiarkan? Jika
kewajiban warga Negara adalah membayar pajak, apakah kewajiban itu harus dijalankan jika
sector-sektor publik seperti kesehatan dan pendidikan dilupakan Negara, jika pajak ternyata
habis dikorupsi, digunakan untuk membayar uang swasta atau pajak hanya untuk membayar
pegawai negeri yan berperilaku buruk atau jika APBN ditetapkan dengan melupakan sectorsektor yang seharusnya dialokasikan secara layak?
J.
1.
2.
3.

KEWAJIBAN NEGARA DALAM HAM


Kewajiban Negara dalam HAM biasanya dilihat dari tiga bentuk, yaitu:
Menghormati (To Respect)
Memenuhi (To Fulfill)
Melindungi (To Protect)
Dalam konteks Indonesia, apakah Negara sudah melaksanakan kewajibannya itu? Jika
masyarakat masih takut menjalankan kebebasan beragama; masih ada penyerbuan terhadap
kelompok tertentu karena beda keyakinan; jika masyarakat takut berkumpul khawatir
dibubarkan aparat; jika ada masyarakat takut keluar rumah karena jiwanya terancam aksi-aksi
kekerasan; jika masih ada wabah penyakit yang tak tertangani dengan baik; jika masih
bannyak fakir miskin telantar; jika masih ada orang kelaparan; jika masih banyak anak-anak
tak sekolah; itu semua salah satunya disebabkan karena Negara belum melaksanakan
kewajibannya dengan baik.

K. KEWAJIBAN WARGA NEGARA


1.
Setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain dalam tata tertib kehidupan
2.

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Pasal 28J ayat 1 UUD 1945)


Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh Undang-Undang dengan maksud sematasemata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain,
dan untuk memenuhi tuntutan yanga adil sesuai dengan pertibangan moral, keamanan, dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. (Pasal 28J ayat 2 UUD 1945)

3.

Setiap orang wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan. (Pasal 68 UU No.39/1999)


4.
Setiap warga Negara berkewajiban ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan. (Pasal
30 UUD 1945)
5.
Setiap warga Negara wajib menjunjung hukum dan pemerintahan Negara Kesatuan
6.

Republik Indonesia. (Pasal 27 UUD 1945)


Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib

membiayainya. (Pasal 31 ayat 2 UUD 1945)


7.
Setiap orang yang ada di wilayah Republik Indonesia wajib patuh pada peraturan
perundang-undangan, hukum tertulis dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia
yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia.
L. PELAKSANAAN HAM DI INDONESIA
Pelaksanaan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia baru pada tahap kebijakan belum
menjadi bagian dari sendi-sendi dasar kehidupan berbangsa untuk menjadi faktor integrasi
atau persatuan. Problem dasar HAM yaitu penghargaan terhadap martabat dan privasi warga
negara sebagai pribadi juga belum ditempatkan sebagaimana mestinya. Demikian
disampaikan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Marzuki
Darusman da-lam diskusi yang diselenggarakan Forum Diskusi Wartawan Politik (FDWP) di
Wisma Surabaya Post Jakarta, Sabtu (23/8).
Dalam diskusi itu diperbincangkan masalah hak asasi, politik dan demokrasi di Indonesia
termasuk hubungan Komnas HAM dan pemerintah. Pelaksanaan HAM di kita masih maju
mundur. Namun itu tidak menjadi soal karena dalam proses, kata Marzuki. Padahal jika
melihat sisi historis, kata Marzuki, HAM di Indonesia beranjak dari amanat penderitaan
rakyat untuk mewujudkan kemerdekaan dari penjajah. Begitu pula seperti tercermin dari Sila
Kemanusiaan yang berpangkal dari falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam diskusi dipersoalkan bagaimana sebenarnya posisi pemerintah untuk
melaksanakan HAM secara tulus. Menurut mantan anggota F-KP DPR itu, di luar negeri
bidang-bidang politik, ekonomi selalu dihubungkan dengan masalah HAM. Makanya
mereka mau berisiko demi HAM ini. HAM sudah menyatu, katanya.
Sedangkan di Indonesia, HAM baru merupakan satu kebijakan belum merupakan bagian
dari sendi-sendi dasar dari kehidupan berbangsa. Marzuki mengatakan, sebenarnya HAM
bisa menjadi faktor integrasi atau pemersatu bangsa. Marzuki menganalogikan pelaksanaan
HAM di Indonesia dengan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan hidup 10-20 tahun
lalu.
Lingkungan hidup yang saat itu masih menjadi isu internasional sekarang sudah menjadi
bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan pemerintah. Saat ini, lingkungan hidup sudah
menjadi kesadaran nasional, katanya. Masalah lingkungan hidup tidak hanya menjadi
kebijakan nasional namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Hal seperti
itulah yang saat ini sedang ditempuh oleh HAM, katanya.
(Dikutip dari http://www.gudangmateri.com/2010/10/kondisi-pelaksanaan-ham-diindonesia.html)
Secara ideal Negara tidak dibenarkan mencampuri HAM setiap Negara, apalagi
menundasnya atau menghilangkannya. Oleh karenanya sejalan dengan amanat konstitusi,
pelaksanaan HAM di Indonesia harus didasarkan kepada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik,

ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan, baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya.
Hal ini sejalan dengan apa yang tertuang di dalam pasal 1 (3), pasal 55 dan 56 Piagam
PBB, yang isinya bahwa, Upaya pemajuan perlindungan HAM harus dilakukan melalui
suatu kerjasama internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati,
kesederajatan, dan hubungan antar Negara hukum internasional yang berlaku (Hasan
Wirajuda, 2005).
Indonesia adalah Negara multicultural yang menuntut adanya kesepahaman dari seluruh
elemen bangsa. Sehingga, multicultural yang secara alamiah ada dan hadir di bumio pertiwi
ini bisa menjadi pemersatu dan sebagai lahan untuk saling menghargai. Krisis HAM di
Indonesia perlu penyelesaian yang sistemik. Melalui pendidikan berbasis HAM, akan lebih
memudahkan dalam menyiapkan generasi yang faham tentang Hak Asasi Manusia (HAM).
Pemahaman yang mendalam dari siswa tentang HAM diharapkan akan memperkuat posisi
mereka (siswa) untuk memperjuangkan hak asasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

M.

PENCAPAIAN INDONESIA DALAM PEMAJUAN DAN PERLINDUNGAN HAM


Adapun pencapaian Indonesia dalam pemajuan dan perlindungan HAM, menurut Hasan
Wirajuda dapat diikuti dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia,

sejak 1991 sampai dengan 2004, yaitu sebagai berikut :


Merintis reorientasi kebijakan nasional dibidang HAM pada masa Orde Baru.
Dasar hukum pembentukan KOMNAS HAM dibentuk lagi dengan Undang-Undang
NO.39 Tahun 1999 tentang HAM. KOMNAS HAM dibentuk sesuai dengan Paris Principle
1992 yang menegaskan bahwa pembentukkan suatu Komisi Nasional HAM harus
memperhatia\kan serta sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat tanpa paksaan pihak

luar.
RAN-HAM 1998-2003, yang kemudian dicanangkan secara resmi oleh Presiden Habibie
pada tanggal 25 Juni 1998 (ditetapkan melalui Keppres No.129 tahun 1998 dan direvisi

o
o
o
o

dengan Keppres No.61/2003) meliputi empat program kegiatan, yakni :


Ratifikasi perangkat internasional HAM;
Diseminasi dan pendidikan HAM;
Pelaksanaan penganganan masalah prioritas dalam bidang HAM;
Pelaksanaan isi dan ketentuan berbagai perangkar internasional HAM yang telah diratifikasi

Indonesia.
Disamping mengikatkan diri pada berbagai instrument pokok HAM internasional,
Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan Undang-undang yang melindungi isu tematis HAM

lainnya seperti Undang-Undang No.26 tahun 2002 tentang perlindungan Anak dan Undang

undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.


Hingga saat ini Indonesia telah meratifikasi 4 dari 7 instrumen pokok HAM internasional,

yaitu :
o Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan atau convetion on the Elimination
of all form of Discrimination against Women (CEDAW) melalui UU No. 7/1984;
o Konvensi Hak Anak atau Convention on the Right of the Child (CRC) melalui Keppres.
No.36/1990;
o Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak
manusiawi dan merendahkan martabat manusia atau Convention against Torture and Other
Cruel, Inhuman, or Degrading Treatment or Punishment (CAT) melalui UU No.5/1988; dan
o Konvensi Penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial atau Convetion Elimination of all
Forms of Racial Discrimination (CERD) melalui UU No. 29/1999.
N.

PERMASALAHAN DI INDONESIA DALAM PENEGAKAN HUKUM DAN HAM


Berbagai permasalahn yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam rangka penegakan,
penghormatan serta penegakan Hukum dan HAM, masih dirasakan belum optimal
pelaksanaannya. Hal ini ditunjukkan oleh masih rendahnya kinerja lembaga peradilan, serta
belum selesainya kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian rakyat. Ini su\emua
mengakibatkan semakin berkurang tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kesungguhan
pemerintah dalam melakukan upaya pemberantasan korupsi.
Keadaaan ini juga bertambah parah dengan belum membaiknya kondisi kehidupan
wkonomi bangsa sebagai dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan
sebagian besar rakyat dapat menikmati hak-hak dasarnya, contohnya dalam bidang ekonomi,
seperti belum terpenuhinya hak atas pekerjaan yang layak, hak atas upah yang adil sesuai
dengan prestasi dan yang daoat menjamin kelangsungan kehidupan keluarga mereka. Dan
yang paling penting adalah belum dinikmatinya angora masyarakat atas pemenuhan hak
mendapatkan Pendidikan, khususnya yang lemah kondisi ekonominya.
Kemudian adanya aksi terorisme yang ditujuan kepada sarana public, menyebabkan rasa
tidak aman bagi masyarakat. Dan aksi terorisme ini, sepertinya makin meluas. Bukan saja
terjadi di daerah-daerah konflik, namun di sarana umum. Keadiaan ini ditambah lagi dengan
adanya pengaruh globalisasi, selain kejahatan terorisme, arus globalisasi ini dapat menambah
intensitas hubungan masyarakat antara satu Negara dengan Negara lain menjadi semakin
tinggi, dengan demikian kecenderungan munculnya kejahatan yang sifatnya trans nasional
menjadi semakin sering terjadi, misalnya kejahatan narkotika, pencucian uang (money
laundry), serta peredaran dokumen keimigrasian palsu.

SIMPULAN
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikatnya dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan
setiap orang demi kerhormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Hak dan kewajiban warga Negara yang diatur oleh UUD 1945 hendaknya seimbang
dalam pelaksanaannya agar tercipta implementasi Hak Asasi Manusia yang baik dan benar.
Tidak sedikit pelaksanaan HAM di Indonesia yang tidak baik. Krisis HAM di Indonesia
perlu solusi yang sistematik, di antaranya: pendidikan HAM di sekolah, model pembelajaran
HAM oleh guru, program-program dan berbagai badan atau lembaga penegak HAM,
kerjasama dalam bidang HAM, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen PKn UPI. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: CV Maulana Media Grafika.
http://www.gudangmateri.com/2010/10/kondisi-pelaksanaan-ham-di-indonesia.html
(Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2010/05/19/95/334101/redirect)