Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN MINI PROJECT

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PEMBENTUKAN POS PEMBINAAN TERPADU
RW 08 KELURAHAN LEBAK BULUS

Disusun Oleh : dr.Aristya Ekaputra

PUSKESMAS KELURAHAN LEBAK BULUS


DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirabbilalamin, segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian
alam atas segala berkat, rahmat, taufik dan, hidayah-NYA yang begitu
besarnya, sehingga pembentukan POSBINDU di RW 08 ini bisa
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Penyusun mengucapkan Terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada Drg. Lusy nityasia sebagai Kepala
Puskesmas Lebak bulus dan dr. Lita Ratnasari sebagai Pembimbing dokter
internsip, atas segala bimbingan yang selalu memberikan arahan,
pengawasan dan, perencanaan sehingga program POSBINDU di RW 08
yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima
kasih juga ditujukan kepada seluruh teman-teman sejawat yang berada di
Puskesmas kelurahan lebak bulus atas dukungan dalam memberikan
penyuluhan dan melatih para kader agar program POSBINDU di RW 08
dapat terlaksana dengan kualitas Kader yang memiliki ilmu dasar dibidang
kesehatan.
Pos Pembinaan Terpadu atau disingkat POSBINDU adalah suatu bentuk
pelayanan yang melibatkan peran serta masyarakat melalui upaya
promotif dan preventif untuk mendeteksi dan mengendalikan secara dini
keberadaan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Peningkatan
prevalensi penyakit tidak menular menjadi ancaman yang serius dalam
pembangunan, karena mengancam pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk itu dikembangkan model pengendalian PTM berbasis masyarakat
melalui Posbindu PTM. Posbindu PTM merupakan bentuk peran serta
masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan
berkesinambungan. Pengembangan Posbindu PTM dapat dipadukan
dengan upaya yang telah terselenggara di masyarakat. Melalui Posbindu
PTM, dapat sesegeranya dilakukan pencegahan faktor risiko PTM sehingga
kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan.

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN.................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Tujuan...................................................................................................2
1.2.1.....................................................................................Tujuan Umum
2
1.2.2....................................................................................Tujuan Khusus
2
1.3 Strategi kegiatan..................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................3
2.1 Penyakit Tidak Menular........................................................................3
2.2 Kontribusi faktor resiko terhadap PTM..................................................4
2.3 Posbindu PTM......................................................................................5
2.4 Pelaksanaan Posbindu PTM.................................................................6
2.4.1
Persiapan......................................................................................................
..............6
2.4.2 tenaga pelayanan / Kader
Posbindu...........................................................................7
2.4.3 Standar sarana
Posbindu ...........................................................................................8
2.4.4 Kegiatan kader Pelaksanaan
Posbindu ......................................................................9
2.4.5 Pelaksanaan terkait waktu dan
tempat .....................................................................9
2.5 Ketenagaan........................................................................................10
2.6 Pembiayaan........................................................................................11

BAB III METODOLOGI KEGIATAN.................................................................12


3.1 Deskripsi Kegiatan..............................................................................12
3.2 Tujuan Kegiatan.................................................................................13
3.3 Sasaran kegiatan................................................................................12
3.4 Strategi kegiatan................................................................................12
3.5 Pelaksanaan kegiatan.........................................................................14
BAB IV HASIL KEGIATAN.............................................................................15
4.1 Gambaran Geografis..........................................................................15
4.2 Gambaran Demografis.......................................................................15
4.3 Gambaran sosial ekonomi dan budaya..............................................15
4.4 Perenanaan program Posbindu RW 08...............................................15
4.5 Pelatihan kader Posbindu RW 08........................................................16
4.6 Peresmian dan pelaksanaan Posbindu RW 08....................................17
4.7 Hasil pelaksanaan Posbindu RW 08....................................................17
BAB V PEMBAHASAN.................................................................................21
5.1 Evaluasi Kegiatan Posbindu Perdana..................................................21
5.2 Evaluasi hasil pre test dan post test...................................................22
BAB VI KESIMPULAN & SARAN...................................................................23
6.1 Kesimpulan.........................................................................................23
6.2 Saran..................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Saat ini, Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab kematian utama
sebesar 36 juta (63%) dari seluruh kasus kematian yang terjadi di seluruh
dunia, di mana sekitar 29 juta (80%) justru terjadi di negara yang sedang
berkembang (WHO, 2010). Peningkatan kematian akibat PTM di masa
mendatang diproyeksikan akan terus terjadi sebesar 15% ( 44 juta
kematian) dengan rentang waktu antara tahun 2010 dan 2020. Kondisi ini
timbul akibat perubahan perilaku manusia dan lingkungan yang
cenderung tidak sehat terutama pada negara-negara berkembang. Pada
awal perjalanan PTM seringkali tidak bergejala dan tidak menunjukkan
tanda klinis secara khusus sehingga datang sudah terlambat atau pada
stadium lanjut akibat tidak mengetahui dan menyadari kondisi kelainan
yang terjadi pada dirinya. Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013
menunjukan bahwa 69,6% dari kasus diabetes melitus dan 63,2% dari
kasus hipertensi masih belum terdiagnosis. Keadaan ini mengakibatkan
penanganan menjadi sulit, terjadi komplikasi bahkan berakibat kematian
lebih dini.
Dalam kurun waktu tahun 1995 -2007, kematian akibat PTM mengalami
peningkatan dari 41,7% menjadi 59,5%. Riset Kesehatan Dasar tahun
2013 menunjukkan prevalensi penyakit Stroke 12,1 per 1000, Penyakit
Jantung Koroner 1,5%, Gagal Jantung 0,3%, Diabetes Melitus 6,9%, Gagal
Ginjal 0,2%, Kanker 1,4 per 1000, Penyakit Paru Kronik Obstruktif 3,7%
dan Cidera 8,2%. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi
merokok 36,3%, (dibagi menjadi perokok laiki-laki dan perokok wanita)
kurang aktifitas fisik 26,1%, kurang konsumsi sayur dan buah 93,6%,
asupan makanan yang berisiko PTM seperti makanan manis 53,1%,
makanan asin 26,2%, makanan tinggi lemak 40,7%, makanan
berpenyedap 77,3% serta gangguan mental emosional 6,0%. obesitas
umum 15,4%,dan obesitas sentral 26,6%. PTM dapat dicegah dengan
mengendalikan faktor risikonya, yaitu merokok, diet yang tidak sehat,
kurang aktifitas fisik dan konsumsi minuman beralkohol. Mencegah dan
mengendalikan faktor risiko relatif lebih murah bila dibandingkan dengan
biaya pengobatan PTM. Pengendalian faktor risiko PTM merupakan upaya
untuk mencegah agar tidak terjadi faktor risiko bagi yang belum memiliki
faktor risiko, mengembalikan kondisi faktor risiko PTM menjadi normal
kembali dan atau mencegah terjadinya PTM bagi yang mempunyai faktor
risiko, selanjutnya bagi yang sudah menyandang PTM, pengendalian

bertujuan untuk mencegah komplikasi, kecacatan dan kematian dini serta


meningkatkan kualitas hidup.

1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum

Terlaksananya pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM berbasis


peran serta masyarakat secara terpadu, rutin dan periodik melalui
terbentuknya program Posbindu
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Terlaksananya deteksi dini faktor risiko PTM
b. Terlaksananya monitoring faktor risiko PTM
c. Terlaksananya tindak lanjut dini
1.3

Strategi kegiatan

Untuk mencapai keberhasilan program Posbindu PTM perlu dikembangkan


strategi pelaksanaan kegiatan, yaitu :
a. Sosialisasi dan advokasi kepada pemerintah, pihak legislatif,
pemerintah daerah serta pemangku kepentingan .
b. Peningkatan kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam
pengendalian faktor risiko PTM .
c. Fasilitasi ketersediaan sarana dan prasarana.
d. Peningkatan jejaring kerja PTM dengan melibatkan puskesmas
Kelurahan, Puskesmas Kecamatan, serta kelurahan setempat
e.

Peningkatan peran pemerintah dan masyarakat


perencanaan, pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

dalam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular atau non-communicable disease NCD, adalah


kondisi medis atau penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi dan tidak
disebarkan diantara manusia. NCD dapat berupa penyakit yang
mempunyai durasi lama dan berkembang secara lambat atau dapat
berupa penyakit yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Yang
termasuk dalam NCD adalah penyakit jantung, stroke, kanker, asma,
diabetes, penyakit ginjal kronis, osteoporosis, penyakit alzheimer, katarak,
dan banyak lagi. Meskipun terkadang disalah artikan sebagai penyakit
kronis, NCD hanya disebabkan oleh penyakit yang non-infeksi, bukan
durasi penyakitnya yang lama. Beberapa penyakit kronis seperti HIV /
AIDS dan yang mempunyai kondisi serupa dengan NCD juga disebabkan
oleh penyakit infeksi. Kondisi tersebut memerlukan penatalaksanaan
jangka panjang seperti halnya penyakit kronik yang lain.
NCD disebut sebagai penyakit "gaya hidup", karena sebagian besar NCD
adalah penyakit yang dapat dicegah. Penyebab terbanyak NCD meliputi
penggunaan tembakau (merokok), penyalahgunaan alkohol, diet yang
buruk (konsumsi tinggi gula, garam , lemak jenuh, dan asam lemak trans)
dan kurangnya aktivitas fisik. Saat ini, NCD membunuh 36 juta orang per
tahun, yang diperkirakan akan meningkat sebesar 17-24% pada dekade
berikutnya. Secara historis, NCD banyak dikaitkan dengan pembangunan
ekonomi dan juga disebut "penyakit orang kaya". Namun, dengan
perkiraan 80% dari empat jenis utama NCD (Penyakit jantung, kanker,
penyakit pernapasan kronis dan diabetes) terjadi di negara berpenduduk
dengan penghasilan rendah dan menengah dan dengan dua pertiga dari
orang yang terkena diabetes sekarang tinggal di negara berkembang,
NCD tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah di ngara maju. Seperti yang
dinyatakan sebelumnya, pada tahun 2008, NCD adalah penyebab 63%
kematian di seluruh dunia, sebuah angka yang diperkirakan akan
meningkat tajam dalam waktu dekat jika tidak diambil langkah-langkah
tertentu.
Jika pertumbuhan NCD tidak dihambat, pada tahun 2020 NCD akan
menyebabkan 7 dari setiap 10 kematian di negara berkembang, dan
menewaskan 52 juta orang setiap tahunnya di seluruh dunia pada 2030.
Dengan statistik seperti ini, tidak mengherankan apabila badan
internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia & Bank Dunia telah
menjadikan pencegahan dan pengendalian NCD sebagai agenda
kesehatan global yang penting. Dengan demikian, seharusnya pembuat
3

kebijakan dan masyarakat bergerak membuat pencegahan dan


pengobatan NCD sebagai prioritas. Langkah-langkah berkesinambungan
dapat diterapkan untuk menghambat (dan akhirnya mengurangi)
ancaman kesehatan global ini. Tindakan yang saat ini sedang dibahas
oleh Organisasi Kesehatan Dunia Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia
meliputi mengurangi kadar garam dalam makanan, membatasi
pemasaran makanan yang tidak sehat dan minuman non-alkohol kepada
anak-anak, meningkatkan kontrol penggunaan alkohol, menaikkan pajak
hasil tembakau, dan membuat undang-undang membatasi merokok di
tempat umum.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan NCD merupakan
penyebab kematian utama di dunia saat ini, meliputi lebih dari 60% dari
semua kematian. Setengah dari 35 juta orang yang meninggal karena
NCD pada tahun 2005, berusia di bawah 70 tahun dan separuhnya adalah
wanita. Dari 57 juta kematian global pada tahun 2008, 36 juta disebabkan
oleh NCD (63% dari total kematian di seluruh dunia). Faktor risiko seperti,
gaya hidup seseorang dan lingkungan diketahui meningkatkan
kemungkinan beberapa NCD. Setiap tahun, sedikitnya 5 juta orang
meninggal karena penggunaan tembakau dan sekitar 2,8 juta meninggal
karena kelebihan berat badan. Kolesterol tinggi menyumbang sekitar 2,6
juta kematian dan 7,5 juta meninggal karena hipertensi. Pada tahun 2030,
kematian karena NCD kronis diperkirakan meningkat menjadi 52 juta per
tahun sementara kematian akibat penyakit menular, kesehatan ibu dan
anak, dan kekurangan gizi diperkirakan akan menurun sebesar 7 juta per
tahun pada periode yang sama.

2.2

Kontribusi Faktor Risiko Terhadap PTM

Pada umumnya PTM merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan


secara total apabila kondisi penyakit sudah sampai pada fase akhir, oleh
karena itu upaya yang terbaik melalui pengendalian factor risikonya
sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat dicegah. Untuk dapat
mengendalikan faktor risiko PTM, maka perlu dikenali terlebih dahulu
faktor risiko PTM. ( Gambar 1 )
Gambar 1.
Faktor Risiko
Yang Tidak
Dapat
Diubah:

Umur,

Sex

Faktor risiko PTM

Risiko Perilaku

Merokok

Diet tdk sehat

Kurang aktivitas
fisik

Risiko
Lingkungan :

Globalisasi,

Sosio ekonomi

FAKTOR RISIKO
FISIOLOGIS PENYAKIT
ANTARA

Hipertensi

Hiperglikemi

Obesitas

Dislipidemia

FASE AKHIR

PJK

Stroke

Diabetes

Penyakit Ginjal
Kronik

Kanker

PPOK

Benjolan

Modernisasi,dl

Tahapan yang akan dilalui suatu penyakit tidak menular sebelum sampai
pada fase akhir penyakit, adalah sebagai berikut (Gambar 1):
a. Faktor risiko yang tidak dapat diubah yaitu umur, jenis kelamin,
keturunan.
b. Faktor risiko perilaku yang bisa diubah yaitu merokok, kurang
aktivitas fisik, kurang konsumsi buah dan sayur, konsumsi alkohol,
stress, dan potensi cedera, perilaku seks tidak sehat, paparan zat
karsinogenik dan radiasi
c. Faktor risiko lingkungan yaitu kondisi ekonomi daerah, lingkungan
sosial seperti modemisasi, serta lingkungan fisik antara lain
seperti polusi, pemukiman yang padat dan lokasi di bawah
tegangan listrik tinggi, dan kebisingan
d. Faktor risiko fisiologis - penyakit antara meliputi hipertensi, hiper
glikemia, dislipidemia, obesitas dan lesi pra kanker serta benjolan
pada payudara
Faktor risiko perilaku dapat diubah dengan meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan untuk menerapkan gaya hidup sehat melalui kegiatan
promosi kesehatan seperti advokasi dan sosialisasi, edukasi, penyuluhan
dan konseling secara terus menerus.

2.3

Pos Pembinaan Terpadu PTM

Salah satu strategi pengendalian PTM yang efisien dan efektif adalah
pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat. Masyarakat
diberikan fasilitas dan bimbingan untuk ikut berpartisipasi dalam
pengendalian faktor risiko PTM dengan dibekali pengetahuan dan
keterampilan untuk melakukan deteksi dini, monitoring faktor risiko PTM
serta tindak lanjutnya. Kegiatan ini disebut dengan Pos pembinaan
terpadu (Posbindu) PTM. Posbindu PTM merupakan wujud peran serta
masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan monitoring faktor
risiko PTM serta tindak lanjutnya yang dilaksanakan secara terpadu, rutin,
dan periodik. Kegiatan Posbindu PTM diharapkan dapat meningkatkan
sikap mawas diri masyarakat terhadap faktor risiko PTM sehingga
peningkatan kasus PTM dapat dicegah. Sikap mawas diri ini ditunjukan
dengan adanya perubahan perilaku masyarakat yang lebih sehat dan
pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya pada saat sakit,
melainkan juga pada keadaan sehat. Dalam menyelenggarakan Posbindu
PTM diperlukan suatu pedoman yang dapat menjadi panduan bagi
penyelenggaraan kegiatan bagi para pemangku kepentingan serta
pelaksana di lapangan.

Posbindu PTM merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan


deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara
mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai
bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM mengingat hamper semua faktor
risiko PTM tidak memberikan gejala pada yang mengalaminya. Posbindu
PTM merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat (UKM) yang
berorientasi kepada upaya promotif dan preventif dalam pengendalian
PTM dengan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan
dan monitoring-evaluasi. Masyarakat diperankan sebagai sasaran
kegiatan, target perubahan, agen pengubah sekaligus sebagai sumber
daya. Dalam pelaksanaan selanjutnya kegiatan Posbindu PTM menjadi
Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM), di mana kegiatan
ini diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan sumber daya,
kemampuan, dan kebutuhan masyarakat.

2.4. Pelaksanaan Posbindu PTM


2.4.1. Persiapan

Langkah persiapan diawali dengan pengumpulan data dan informasi


besaran masalah PTM, sarana-prasarana pendukung dan sumber
daya manusia.
Selanjutnya dilakukan identifikasi kelompok potensial baik ditingkat
kabupaten/kota maupun dilingkup Puskesmas. Kelompok potensial
antara lain kelompok/organisasi masyarakat,tempat kerja, sekolah,
koperasi, klub olah raga, karang taruna dan kelompok lainnya.
Kepada kelompok masyarakat potensial terpilih dilakukan sosialisasi
tentang besarnya masalah PTM, dampaknya bagi masyarakat dan
dunia usaha, strategi pengendalian serta tujuan dan manfaat
Posbindu PTM
Tindak lanjut yang dilakukan oleh pengelola program di
Kabupaten/Kota adalah melakukan pertemuan koordinasi dengan
kelompok potensial yang bersedia menyelenggarakan Posbindu
PTM. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan kesepakatan bersama
berupa kegiatan penyelenggaraan Posbindu PTM, yaitu :
o Kesepakatan menyelenggarakan Posbindu PTM.
o Menetapkan kader dan pembagian peran, fungsinya
sebagai tenaga pelaksana Posbindu PTM.
o Menetapkan jadwal pelaksanaan Posbindu PTM.
o Merencanakan besaran dan sumber pembiayaan.
o Melengkapi sarana dan prasarana.
o Menetapkan mekanisme kerja antara kelompok potensial
dengan petugas kesehatan pembinanya.
7

Menetapkan tipe Posbindu PTM sesuai kesepakatan dan kebutuhan.


Terdapat 3 tipe Posbindu yaitu :
Tabel 1.
Tipe Posbindu
Tipe Posbindu
Posbindu PTM
Dasar

Cakupan Kegiatan
Wawancara faktor resiko, Berat/Tinggi
Badan Lingkar Perut, IMT, Tekanan Darah,
SADARI
PTM PTM
Dasar
+
Gula
Darah
dan
Kolesterol/Trigliserida
PTM PTM Plus + IVA test

Posbindu
Plus
Posbindu
Utama
2.4.2 Pelatihan PTM tenaga pelaksana/Kader Posbindu PTM
a. Tujuan :

1 Memberikan pengetahuan tentang PTM, faktor risiko,


dampak, dan pengendalian PTM.
1. Memberikan pengetahuan tentang Posbindu PTM.
2. Memberikan kemampuan dan ketrampilan dalam memantau
faktor risiko PTM.
3. Memberikan ketrampilan dalam melakukan konseling serta
tindak lanjut lainnya.
b. Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu PTM
Tabel 2.
Materi Pelatihan
No
MATERI PELATIHAN
1
PTM dan Faktor Risiko
2
Posbindu PTM dan pelaksanaannya
3
Tahapan kegiatan Posbindu PTM :
a. Meja 1 : pendaftaran, pencatatan
b. Meja 2 : tehnik wawancara terarah
c. Meja 3 : pengukuran TB, BB, IMT, Lingkar Perut dan Analisa
lemak
tubuh
d. Meja 4:pengukuran Tekanan darah Gula, Kolesterol total,
Trigliserida darah, pemeriksaan klinis payudara, Uji Fungsi paru
sederhana, IVA, kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin
e. Meja 5 : konseling, edukasi dan tindak lanjut lainnya
4
Cara pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar perut, IMT,
5
Analisa Lemak Tubuh, tekanan darah
6
Pemeriksaan glukosa darah

7
8

Pemeriksaan kolesterol dan trigliserida darah


Rujukan dan respon cepat sederhana

2.4.3. Standar Sarana Posbindu PTM


Di bawah ini diuraikan berbagai perlengkapan deteksi dini dan
tindak lanjut sesuai dengan jenis layanan Posbindu PTM ;
Tabel 3.
Standar sarana Posbindu
Klasifikas
i
Posbindu
PTM
Posbindu
PTM dasar

Peralatan
ukur

Jumlah

Peralatan
penunjang

Jumlah

1 buah
1 buah
1 buah

Lembar balik
Leaflet
Poster
Buku
pencatatan
Buku
panduan
Model
makanan
Lembar balik
Leaflet
Poster
Buku
pencatatan
Buku
panduan
Model
makanan

1
1
1
1
1
1

buah
buah
buah
buah
buah
buah

1
1
1
1
1
1

buah
buah
buah
buah
buah
buah

Lembar balik
Leaflet

1 buah
1 buah

Posbindu
PTM plus

Posbindu
PTM utama

Alat
lingkar
perut
Tensimete
r digital
Alat
analisa
lemak
tubuh
Alat
lingkar
perut
Tensimete
r digital
Alat
analisa
lemak
tubuh
Alat ukur
kadar gula
&
kolesterol
darah
Peakflow
meter
Alat
lingkar

1 buah
1 buah
1 buah

1 buah

1 buah

1 buah
1 buah

perut
Tensimete
r digital
Alat
analisa
lemak
tubuh
Alat ukur
kadar gula
&
kolesterol
darah
Peakflow
meter
Bahan IVA
&
alat
kesehatan
lainnya

1 buah

1 buah

1 buah
1 buah

Poster
Buku
pencatatan
Buku
panduan
Model
makanan

1
1
1
1
1

buah
buah
buah
buah
buah

2.4.4 Kegiatan Kader Pelaksana Posbindu PTM


Setelah Kader Pelaksana dilatih langkah yang dilakukan :
1. Melaporkan kepada pimpinan organisasi/lembaga atau pimpinan
wilayah.
2. Mempersiapkan dan melengkapi sarana yang dibutuhkan.
3. Menyusun rencana kerja.
4. Memberikan informasi kepada sasaran.
5. Melaksanakan wawancara, pemeriksaan, pencatatan dan
rujukan bila diperlukan setiap bulan.
6. Melaksanakan konseling.
7. Melaksanakan penyuluhan berkala.
8. Melaksanakan kegiatan aktifitas fisik bersama.
9. Membangun jejaring kerja
10. Melakukan konsultasi dengan petugas bila diperlukan.

2.4.5 Pelaksanaan Terkait Waktu dan Tempat


a. Waktu
Penyelenggaraan Posbindu PTM dapat diselenggarakan dalam
sebulan sekali, bila diperlukan dapat lebih dari satu kali dalam
sebulan untuk kegiatan pengendalian faktor risiko PTM lainnya
b. Tempat
Tempat pelaksanaan sebaiknya berada pada lokasi yang mudah
dijangkau dan nyaman bagi peserta
10

c. Pelaksanaan Kegiatan
Posbindu PTM dilaksanakan dengan 5 tahapan layanan yang
disebut sistem 5 meja, namun dalam situasi kondisi tertentu dapat
disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama. Kegiatan
tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan tindak lanjut sederhana
serta monitoring terhadap faktor risiko penyakit tidak menular,
termasuk rujukan ke Puskesmas. Dalam pelaksanaannya pada
setiap langkah secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut;

Gambar 2.
Proses Kegiatan Posbindu PTM
Pemeriksaa
n

Layanan
5

Identifikasi faktor
risiko
PTM,
Konseling/Edukasi,
serta tindak lanjut
ainnya

Layanan 4
Pemeriksaan
Tekanan
darah, Gula darah,
Kolesterol total
danTrigliserida, lain-

Layanan 3
Pengukuran
TB,BB,
IMT Lingkar perut,
Analisa Lemak
Tubuh

2.5 Ketenagaan

Layanan 2
Wawancara
oleh
Petugas
Pelaksana
Posbindu PTM

Layanan
Registrasi
,Pemberian nomor
urut / kode yang
sama serta
pencatatan ulang
hasil
pengisian Buku
monitoring FRPTM
ke Buku Pencatatan
oleh
Petugas Pelaksana
Posbindu

Pembagian peran kader Posbindu PTM idealnya sebagai berikut, namun


sebaiknya setiap kader memahami semua peranan tersebut,
pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kesepakatan.
Tabel 4.
Peran Kader Posbindu

11

N
o

Tenaga

Peranan

Koordinator

Ketua dari perkumpulan dan penanggungjawab kegiatan serta


berkoordinasi terhadap Puskesmas dan Para Pembina terkait di
wilayahnya.

Kader
Penggerak

Anggota perkumpulan yang aktif, berpengaruh dan komunikatif


bertugas menggerakkan masyarakat, sekaligus melakukan
wawancara dalam penggalian informasi

Kader Pemantau

Anggota Perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas


melakukan pengukuran Faktor risiko PTM

Kader
Konselor/Edukat
or

Anggota Perkumpulan yang aktif, komunikatif dan telah menjadi


panutan dalam penerapan gaya hidup sehat, bertugas melakukan
konseling, edukasi, motivasi serta menindaklanjuti rujukan dari
Puskesmas

Kader Pencatat

Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas


melakukan pencatatan hasil kegiatan Posbindu PTM dan
melaporkan kepada koordinator Posbindu PTM.

2.6 Petugas Puskesmas


Puskesmas memiliki tanggung jawab pembinaan Posbindu PTM di
wilayah kerjanya sehingga kehadiran petugas Puskesmas dalam
kegiatan Posbindu PTM sangat diperlukan dalam wujud peran :
a. Memberikan bimbingan teknis kepada para kader posbindu PTM
dalam penyelenggaraannya.
b. Memberikan materi kesehatan terkait dengan permasalahan faktor
risiko PTM dalam penyuluhan maupun kegiatan lainnya.
c. Mengambil dan menganalisa hasil kegiatan Posbindu PTM.
d. Menerima, menangani dan memberi umpan balik kasus rujukan
dari Posbindu PTM
e. Melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan lain
terkait.

2.7 Pembiayaan
Dalam mendukung terselengggaranya Posbindu PTM, diperlukan
pembiayaan yang memadai baik dana mandiri dari perusahaan,
kelompok masyarakat/lembaga atau dukungan dari pihak lain yang
peduli terhadap persoalan penyakit tidak menular di wilayah masingmasing. Pemerintah Daerah setempat berkewajiban melakukan

12

pembinaan agar Posbindu PTM tetap tumbuh dan berkembang melalui


dukungan kebijakan termasuk pembiayaan secara berkesinambungan.

BAB III
METODOLOGI KEGIATAN
3.1

Deskripsi Kegiatan

Kegiatan Mini Project ini merupakan sebuah rencana pembentukan


Posbindu di RW 08 Kelurahan Lebak Bulus yang akan mulai
dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2016.
3.2

Tujuan Kegiatan

Meningkatkan peran serta masyarakat


penemuan dini faktor risiko PTM

dalam

pencegahan

dan

3.2
Sasaran Kegiatan
Dalam kegiatan Posbindu di RW 08 memiliki sasaran utama yaitu
kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15
tahun ke atas.
3.4

Strategi Kegiatan

Untuk mencapai keberhasilan kegiatan mini project ini, dalam


perencanaan maupun persiapan program Posbindu PTM perlu
dikembangkan
strategi pelaksanaan kegiatan, yaitu :

13

1. Perencanaan
Kegiatan ini berupa diskusi internal yang melibatkan Kepala
Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus, dokter pendamping internsip
dan dokter internsip tentang rencana pembentukan Posbindu di RW
08
2. Sosialisasi
Pemberian informasi tentang akan dibentuknya Posbindu di RW 08
kepada pihak Kelurahan Lebak Bulus, Ketua RW 08 dan sejumlah
kader RW 08 yang sebelumnya telah aktif di kegiatan promosi
kesehatan dan bersedia untuk bergabung menjadi anggota kader
Posbindu. Dalam forum sosialisasi, ditentukan pula kategori atau
tipe posbindu yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan,
jadwal dalam pelaksanaan pelatihan, tempat pelaksanaan
kegiatan, kelengkapan kebutuhan sarana dan prasarana, sumber
pembiayaan dan, keanggotaan dalam pelaksanaan Posbindu.
3. Pelatihan
Sebuah kegiatan dengan tujuan peningkatan pengetahuan tentang
Penyakit tidak menular, faktor resiko, komplikasi, serta perilaku
gaya hidup sehat dimana pengetahuan ini akan diaplikasikan di
lapangan dalam bentuk konseling kepada warga yang memiliki
faktor resiko atau masalah dalam kesehatan.
keterampilan para kader dalam hal melakukan pemeriksaan dan
pengukuran sangat penting dalam pelaksanaan Posbindu, seluruh
kader telah dilatih tentang cara melakukan pemeriksaan tekanan
darah, gula darah, kolesterol, asam urat, menimbang berat badan,
tinggi badan dan, lingkar perut
Materi pelatihan akan diberikan selama 3 hari dengan rincian
kegiatan sebagai berikut :
Tabel 5.
Jadwal kegiatan pelatihan Kader Posbindu
No

Tanggal

15/12/20
15

Materi Pelatihan
1. Pengetahuan dasar Posbindu
2. Cara pengukuran TB, BB,
lingkar perut, dan IMT
3. Pengenalan dan cara
pemakaian alat kesehatan
berupa Tensimeter digital, alat
ukur gula darah, kolesterol dan
asam urat.

Durasi
waktu

180 menit

1. Pengetahuan dasar tentang


PTM

14

29/12/20
15

2. Pengetahuan umum tentang


hipertensi, DM, hiperuricemia,
hiperkolesterolemia.

120 menit

6/1/2016

1. Simulasi pelaksanaan Posbindu

120 menit

4. Fasilitas sarana dan prasarana.


Dalam pelaksanaan Posbindu diperlukan beberapa alat untuk
menunjang pemeriksaan seperti :
timbangan
tensimeter digital
alat ukur gula darah, kolesterol, asam urat
stick
lancet + Pen
kapas alkohol.
Buku registrasi, buku KMS, lembar leaflet hipertensi dan
diabetes
Kebutuhan alat seperti buku registrasi, kms dan leaflet difasilitasi
oleh Puskesmas kecamatan Cilandak, untuk alat ukur lainya akan
dianggarkan oleh pihak kelurahan Lebak bulus melalui tahap
permintaan pengadaan alat yang kemudian akan direalisasikan
kurang lebih 3 bulan. dalam selang waktu tersebut, pelaksanaan
Posbindu sementara akan difasilitasi oleh Puskesmas.

5. monitoring dan evaluasi.


Selama pelaksanaan Posbindu, pihak Puskesmas Kelurahan Lebak
Bulus akan menugaskan minimal 1 dokter atau perawat untuk
monitoring kegiatan Posbindu sebagai tempat konsultasi bagi
warganya yang memiliki masalah kesehatan dan akan diberikan
lembar rujukan ke Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus bila
diperlukan.
3.5 Pelaksanaan Kegiatan
Seluruh rangkaian kegiatan Posbindu RW 08 dapat dilihat di tabel
berikut :
Tabel 6.
Rangkain pelaksanaan Posbindu
No.

Tanggal
Kegiatan
Pelaksanaa

Komponen yang terlibat

15

2
3

6.

7.

n
oktober
2015

Perencanaan Posbindu PTM


internal
Puskesmas
Kelurahan Pondok Labu
Sosialisasi terkait Posbindu
PTM dengan kader kesehatan
Pelatihan Posbindu PTM sesi I

Dokter internship, Dokter


pendamping

November
Kader PKK, Penjab Program
2015
Posbindu, dokter internship
15
Dokter internship, Kader
Desember
Posbindu
2015
29
Pelatihan Posbindu PTM sesi II Dokter internship, Kader
Desember
Posbindu
2015
6
januari Simulasi Posbindu
Dokter internsip, kader
2016
Posbindu dan beberapa
warga
19 Januari Pelaksanaan Posbindu PTM Bapak Lurah Lebak Bulus,
2016
perdana RW 08
Dokter Kelurahan Lebak
Bulus, Ketua RW, Dokter
internship, Kader Posbindu
PTM dan Warga RW 08
JanuariPembuatan
laporan
mini Dokter internship, dokter
Februari
project & pendampingan
pendamping internship
2015

BAB IV
HASIL KEGIATAN
4.1 Gambaran Geografis
Kelurahan Lebak Bulus merupakan salah satu dari lima Kelurahan yang
ada di wilayah Kecamatan Cilandak Kota Administrasi Jakarta Selatan yang
dibentuk berdasarkan Surat keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1251
tahun 1985 dengan luas wilayah 411,40 Ha yang berbatasan dengan :
Sebelah Timur
: Jl. RA.Kartini/ Kel.Pondok Pinang
Sebelah Barat
: Kali Grogol Kel.Cilandak Barat
Sebelah Utara
: Pangkalan Jati Kota Depok

16

Sebelah Selatan : Kali Pasanggrahan Cirendeu Tangerang


Luas wilayah Kelurahan Lebak Bulus adalah seluas 411,40 Ha, terdiri dari
9 RW dan 79 RT dan wilayah tersebut merupakan wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Lebak Bulus. Wilayah yang akan dibentuk Posbindu adalah
wilayah RW 08 dengan luas 49,24 Ha
4.2 Gambaran Demografis
Perkembangan penduduk di Kelurahan Lebak bulus cukup pesat. Hal ini
selain suasana yang cukup menyenangkan karena kelestarian alam masih
terjaga dengan baik, juga tersedianya fasilitas sarana umum yang
memadai. Penduduk di Kelurahan Lebak Bulus adalah sebanyak 40.086
jiwa pada bulan Februari 2015. Mini project Posbindu yang dilaksanakan
berlokasi di RW 08 Kelurahan Lebak Bulus dengan jumlah penduduk 5.377
jiwa
4.3 Gambaran Sosial Ekonomi dan Budaya
Mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian sebagai karyawan swasta
sebanyak 3.883 jiwa, PNS sebanyak 3.724 jiwa, pedagang sebanyak
2.642, dan buruh sebanyak 2.122 jiwa. Mayoritas penduduk Kelurahan
Lebak bulus adalah beragama Islam dengan jumlah 30.439 jiwa.
Penduduk di RW 08 mata pencaharian sebagai karyawan swasta,
Pedagang, buruh dan sisanya adalah pensiunan.
4.4

Perencanaan Program Posbindu RW 08

Berbagai persiapan dalam pembentukan Program Posbindu di RW 08 telah


di selesaikan melalui diskusi dengan pihak Puskesmas Kelurahan Lebak
Bulus, Koordinator Posbindu Puskesmas Kecamatan Cilandak,
Pihak
Kelurahan Lebak Bulus, Ketua RW 08, dan para calon kader Posbindu RW
08. Dalam hasil diskusi dengan pihak puskesmas Kelurahan Lebak Bulus
telah menyetujui akan dibentuknya Program Posbindu di RW 08
berikutnya adalah sosialisasi kepada Pihak Kelurahan dan ketua RW 08
bahwa akan dibentuknya program Posbindu. Diskusi kepada Koordinator
Posbindu Puskesmas Kecamatan Cilandak berupa sosialisasi dan
permintaan berupa buku registrasi, KMS, dan media cetak tentang PTM
sebagai alat bantu dalam pelaksanaan pelatihan kader dan saat
pelaksanaan Posbindu. Beberapa alat ukur telah dimiliki oleh para kader,
namun untuk alat ukur kesehatan seperti tensimeter digital dan
glucometer akan dipinjamkan oleh pihak Puskesmas saat Posbindu
berlangsung. Dana pembiayaan untuk program Posbindu telah diketahui
oleh pihak kelurahan dan akan dimasukan kedalam rencana pengadaan
berupa alat kesehatan penunjang Posbindu.

17

Salah satu faktor penting dalam kelancaran program Posbindu adalah


memiliki kader Posbindu yang memiliki jiwa sosial tinggi dan memiliki
pengetahuan tentang penyakit tidak menular yang baik, maka dalam
perekrutan kader Posbindu RW 08 mencari warga yang berinisiatif
mencalonkan dirinya sebagai kader. Target Perekrutan keanggotaan
diutamakan warga yang sebelumnya telah aktif dalam kegiatan sosial.
Setelah terpilih 8 orang yang berminat menjadi kader Posbindu RW 08
tahap berikutnya adalah pelatihan para Kader yang telah disusun
materinya sebanyak 3 kali pelatihan. Telah ditentukan struktur
keanggotaan Posbindu RW 08 yang diketuai oleh Ibu Sri Wahyuni dan
tempat pelaksanaan Posbindu RW 08 yaitu di Kediaman Bapak Yusuf
dengan pertimbangan yaitu memiliki posisi yang cukup strategis dan
terjangkau oleh para warga RW 08. Dari hasil rangkaian strategi
perencanaan telah ditetapkan pada tanggal 19 Januari 2016 sebagai acara
pembukaan sekaligus pelaksanaan perdana Posbindu RW 08.

4.5 Pelatihan Kader Posbindu PTM


Pelatihan Kader Posbindu dilakukan selama 3 sesi pelatihan yang
diawali dengan pre test dan di akhiri dengan post test sebagai salah
satu indikator untuk mengetahui tingkat pemahaman dan pengetahuan
mengenai Posbindu.
Tabel 7:
Materi yang diberikan selama 3 sesi pelatihan kader Posbindu PTM
RW 08
No

Tanggal

15/12/20
15
2
29/12/20
15

Materi Pelatihan
1. Pengetahuan dasar tentang
PTM
2. Pengetahuan umum tentang
hipertensi, DM, hiperuricemia,
hiperkolesterolemia.
3. Pengetahuan SADARI dan IVA
test
1. Cara pengukuran TB, BB,
lingkar perut, dan IMT
2. Pengenalan dan cara
pemakaian alat kesehatan
berupa Tensimeter digital, alat
ukur gula darah, kolesterol dan
asam urat.

Durasi
waktu

180 menit

120 menit

18

3
4.6

6/1/2016

2. Simulasi pelaksanaan Posbindu

120 menit

Peresmian & pelaksanaan Posbindu PTM Perdana

Pelaksanaan Posbindu perdana RW 08 dilaksanakan pada tanggal 19


Januari 2016 pukul 13.00 WIB sesusai dengan rencana awal di tempat
kediaman bapak Yusuf. Saat pelaksanaan dihadiri oleh bapak Lurah Lebak
Bulus, dokter dan perawat dari Puskesmas Lebak Bulus, para kader
Posbindu dan masyarakat RW 08.
Sambutan dan peresmian dilakukan oleh bapak Lurah Lebak Bulus, disusul
berikutnya adalah pelaksanaan perdana posbindu RW 08 yang
dilaksanakan selama kurang lebih 3 jam dengan jumlah peserta yang
memeriksakan kesehatanya sebanyak 27 orang.

4.7

Hasil Pelaksanaan Posbindu PTM Perdana

Pelaksanaan Posbindu telah berjalan dengan lancar dengan jumlah warga


yang datang memeriksakan kesehatanya sebanyak 27 orang, terdiri dari
10 orang laki-laki dan 17 orang perempuan yang berusia diatas 20 tahun.
Dalam teknis pelaksanaan telah di bentuk rankaian atau urutan dalam
pelaksanaan Posbindu sebagai berikut :
Meja 1: dilakukan pengisian identitas peserta dan wawancara singkat
kemudian dicatat di buku registrasi dan KMS. Dilakukan oleh 2
orang kader
Meja 2: dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, Indeks Massa
Tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Dilakukan oleh 1 orang kader
Meja 3: dilakukan Pemeriksaan tekanan darah yang bersifat wajib dan
pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS), Kolesterol dan
asam urat sesuai dengan keinginan peserta atau mendapat
saran dari salah satu kader.
Meja 4: Pembacaan hasil pemeriksaan, menentukan masalah, edukasi,
dan merujuk ke Puskesmas bila perlu oleh kader konselor yang
dibantu oleh dokter dari Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus
Dari seluruh rangkaian pemeriksaan tersebut, dapat ditentukan masalah
yang diderita dari setiap warga yang telah diperiksa seperti nilai indeks
massa tubuh yang dapat melihat status kegemukan atau obesitas, nilai
tekanan darah yang dapat menentukan kategori dari hipertensi, nilai gula
darah yang dapat melihat apakah warga tersebut memiliki masalah
dengan diabetes mellitus atau tidak, nilai kolesterol dan asam urat yang

19

dapat melihat riwayat pola makan dari warga tersebut. Dari seluruh
masalah yang didapat, akan di buat diagram-diagram sebagai berikut :

Gambar 3.

Status IMT
Obesitas 2; 15%

Normal; 11%

Obesitas 1; 19%

Gemuk; 56%
Normal

Gemuk

Obesitas 1

Obesitas 2

Diagram status gizi


peserta perdana Posbindu RW 08

Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa masyarakat masih banyak


memiliki status gizi gemuk yaitu 56%, obesitas 1 sebanyak 18%, obesitas
2 sebanyak 15%, dan sisanya adalah yang memiliki status gizi normal
yaitu sebanyak 11%.

Gambar 4.

20

Status Hipertensi
Hipertensi kat.2; 26%
normal; 37%

Hipertensi kat.1; 30%

Pre hipertensi; 7%

normal

Pre hipertensi

Hipertensi kat.1

Hipertensi kat.2

Diagram Status
hipertensi peserta perdana Posbindu RW 08
Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa jumlah penderita hipertensi
kategori 1 sebanyak 30%, hipertensi kategori 2 sebanyak 26 %, prehipertensi sebanyak 7% dan sebanyak 37% yang memiliki tekanan darah
normal.

Gambar 5.

Status DM tipe 2
DM tipe 2; 7%
Resiko DM; 15%

Normal; 78%
Normal

Resiko DM

DM tipe 2

dia
gram status DM tipe 2 peserta perdana Posbindu RW 08
Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa nilai gula darah normal sebanyak
78%, berikutnya sebanyak 15% yang memiliki resiko untuk DM, dan
sebanyak 7% positif menderita DM tipe 2.

21

Gambar 6.

22

14
12
14
12
10

6
4
2
0

IMT >25
IMT <25

IMT <25

IMT >25

Di
agram perbandingan peserta perdana Posbindu RW08 dengan faktor
resiko IMT >25 dan tanpa faktor resiko IMT <25
Dari diagram diatas dapat dilihat perbandingan antara peserta Posbindu
yang memiliki faktor resiko IMT > 25 lebih rentan untuk menderita
penyakit
tidak
menular
seperti
hipertensi,
diabetes
tipe
2,
hiperkolesterolemia serta hiperuricemia. Sedangkan untuk peserta tanpa
faktor resiko IMT < 25 lebih sedikit untuk menderita penyakit tidak
menular.

23

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Evaluasi Kegiatan Posbindu Perdana
Secara keseluruhan kegiatan Posbindu perdana di RW 08 telah
dilaksanakan dengan cukup baik namun masih ada beberapa kekurangan
dalam pelaksanaan, untuk rencana perbaikan kedepan maka dilakukan
evaluasi terhadap para kader Posbindu setelah kegiatan Posbindu selesai.
Dari hasil diskusi evaluasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Bidang
SDM

Hasil evaluasi
Kader hadir tepat waktu
Melakukan pemeriksaan
dengan baik

Perlengkap alat ukur lengkap


an
alat ukur gula darah masih
Posbindu
pinjam dari puskesmas
harga stick kolesterol
mahal, menyebabkan stok
sangat terbatas
Waktu dan Pelaksanaan tepat waktu
Tempat
Kondisi tempat kondusif
Jumlah peserta yang
datang masih tergolong
sedikit
Metode dan
Alur
Pelaksanaa
n

Pendanaan

Rencana tindak lanjut

alokasi dana lebih


diutamakan untuk
pembelian stick gula
darah dan asam urat

Pelaksanaan Posbindu
akan di rotasi setiap 3
bulan di 2 tempat

Kader tergolong aktif


dalam memberikan
edukasi
Ada kendala dalam
Pencatatan dengan kolom
yang kecil

pembuatan KMS baru

saat belum mendapatkan


dana untuk kelengkapan
alat

alat tensimeter dan


glucometer mendapat
pinjaman dari
puskesmas
pembuatan proposal
kepada pihak

24

kelurahan dalam hal


permintaan barang

5.2

Evaluasi Pre- test dan Post- test Kader

Dari hasil pre test dan post test yang telah dilaksanakan didapatkan hasil
yang cukup memuaskan. Nilai terendah saat pre test adalah 59 dan nilai
tertinggi adalah 92, dengan rata-rata nilai adalah 76. Terjadi peningkatan
nilai saat dilakukan post test setelah pelatihan selesai dengan nilai
terendah adalah 88, nilai tertinggi adalah 100 dengan rata-rata nilai
adalah 93. Posbindu Dari hasil tersebut dapat dibuat diagram sebagai
berikut :

100
93
88

92
76
59

Sebelum Pelatihan
Min

Setelah Pelatihan
Rerata

Max

25

BAB VI
KESIMPULAN & SARAN
6.1

Kesimpulan

Telah terbentuknya Posbindu di RW 08 kelurahan Lebak Bulus yang


selanjutnya akan terus berjalan setiap 1 bulan sekali di hari rabu di
minggu keempat bertempat di kediaman bapak Yusuf RT03/RW08 dengan
jumlah kader 8 orang yang telah dilatih dalam 3 sesi pelatihan oleh dokter
dari puskesmas Kelurahan Lebak Bulus.
6.2

Saran

Untuk tindak lanjut dibulan berikutnya pelaksanaan posbindu sebaiknya


tetap didampingi oleh salah satu petugas kesehatan dari Puskesmas
Kelurahan Lebak Bulus agar selama kegiatan dapat di monitor langsung
dan membantu para kader dalam hal memberikan konsultasi dan rujukan
ke Puskesmas. Dengan maksud agar seluruh warga RW 08 dapat
menjangkau tempat pelaksanaan Posbindu, perlu di bentuk rotasi
pelaksanaan Posbindu setiap 3 bulan di tempat yang berbeda. Untuk para
kader posbindu sebaiknya dilakukan rotasi di setiap bulanya agar seluruh
kader terbiasa di semua meja pemeriksaan

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Pranoto

A.

NON-COMMUNICABLE

DISEASE

DEGENERATIVE

DISEASE. RSU Dr.Soetomo General Hospital-Medical Faculty of


Airlangga University ; 2012
2. Rahajeng E, Wahyurini E, Ismoyowati (ed.). Buku Pintar Kader Seri 1:
Penyelenggaraan Posbindu PTM. Jakarta: Puskesmas Kecamatan
Cilandak; 2015. h.1-23 Undang3. Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009
4. Puskesmas Kelurahan Pondok Labu. Laporan Bulanan Data Kesakitan
Bulan Januari-April 2015. Jakarta: 2015
5. World Health Organization. Global

status

report

on

non-

communicable disease 2014. Geneva: WHO; 2014. h. 1-20


6. Zulkifli. Posyandu Dan Kader Kesehatan. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara; 2003
7. Fatmah, Nasution Y. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
Kader

Posbindu

dalam

Pengukuran

Tinggi

Badan

Prediksi

Lansia,Penyuluhan Gizi Seimbang dan Hipertensi Studi di Kecamatan


Grogol Petamburan, Jakarta Barat. M Med Indones. 2012; 46 (1): 618
8. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Laporan pemerintahan bulan Juni
tahun 2014: Kelurahan Pondok Labu Kecamatan Cilandak Kota
administrasi Jakarta Selatan. Jakarta; 2014

27