Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Delirium adalah kondisi yang sering dijumpai pada pasien di rumah sakit. Sindrom ini
seringkali tidak terdiagnosis dengan baik saat pasien berada di rumah karena kurangnya
kewaspadaan keluarga maupun saat pasien berada di unit gawat darurat atau unit rawat jalan.
Gejala dan tanda yang tidak khas dari delirium ini seringkali membingungkan. Sindrom ini
sekitar 32%-67% tidak dapat terdiagnosis oleh dokter, padahal kondisi ini dapat dicegah.
Penelitian lain menyebutkan bahwa sekitar 70% dari kasus sindrom delirium tidak
terdiagnosis atau salah terapi oleh dokter. Sindrom delirium sering muncul dalam keluhan
utama atau tak jarang justru terjadi pada hari pertama pasien dirawat dan menunjukkan gejala
yang berfluktuasi. Keadaan yang terakhir ini tentu jika tidak ada keterangan yang memadai
dari dokter dapat disalahartikan keluarga pasien sebagai kesalahan pengelola di rumah sakit.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi delirium. Delirium sendiri bukan
merupakan suatu penyakit, oleh karena itu mesti dicari penyebab dasarnya yang relevan.1
Penyalahgunaan narkotika dan bahan adiktif (narkoba) di Indonesia merupakan
masalah yang sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini terutama pada remaja-remaja saat ini
yang makin dekat dengan narkoba. Posisi Indonesia sekarang ini tidak hanya sebagai daerah
transit maupun pemasaran narkotika, psikotropika dan zat adiktif, melainkan sudah menjadi
daerah produsen narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Dalam bidang kedokteran, sebagian
besar golongan narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat
luas khususnya generasi muda.2
World Drug Report (2012) menyatakan bahwa pada tahun 2010 terdapat sekitar 230
juta orang atau sekitar 5% penduduk dunia usia 15-64 tahun yang menyalahgunakan obat
setidaknya satu kali dalam 12 bulan. Dari semua jenis penyalahgunaan obat, ganja merupakan
zat yang paling banyak digunakan yaitu antara 119 juta sampai 224 juta. Selain itu 13% dari
pengguna narkotika suntikan telah terjangkit HIV (sekitar 20 persen), hepatitis C (46,7
persen) dan hepatitis B (14,6 persen). Hal ini terus menambah beban global penyakit dan

setidaknya sekitar 1 dari setiap 100 kematian di antara orang dewasa disebabkan dengan
penyalahgunaan obat.2
Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia pun semakin bertambah dari tahun ke
tahun, bukan hanya menyerang kaum muda saja tetapi juga golongan setengah baya maupun
golongan usia tua. Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia 2007 dengan
responden sekitar 10.830 tercatat sebanyak 27% remaja wanita dan 48% remaja pria minum
minuman beralkohol dalam 3 bulan terakhir. Kurang dari 1% wanita dan 6% pria dalam
survei melaporkan telah menyalahgunaan obat-obatan dan mereka umumnya menghisap atau
meminumnya.2
Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian
Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2008, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba
nasional sebesar 1,99% dari penduduk Indonesia (3,6 juta orang) dan diproyeksikan pada
tahun 2015 akan mengalami kenaikan menjadi 2,8% (5,1 juta orang). Provinsi DKI Jakarta,
DI Yogyakarta dan Maluku masih menjadi tiga daerah terawan tertinggi penyalahgunaan
narkoba di Indonesia.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. DELIRIUM
1.1 DEFINISI
Delirium, sebagai sebuah konsep, kembali lagi ke zaman Hypocrates dan telah
berulang kali didefinisikan dan diredefinisikan selama 2000 tahun terakhir. Ini adalah
sebuah gangguan umum, terutama pada orang tua dengan penyakit fisik, yang memiliki
morbiditas tinggi dan kematian, biasanya sering dilupakan dan tidak terobati. Delirium
adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa latin. Arti dari delirium adalah lepas jalur.
Sindrom ini pernah ditemukan pada masa Hippocrates. Delirium pernah dideskripsikan
sebagai delirium tremens pada tahun 1813 oleh Sutton sedangkan Wernicke pernah
menyebutnya sebagai ensefalopati Wernicke.3
Delirium merupakan suatu sindrom, bukan suatu penyakit. Delirium adalah suatu
gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan dengan gangguan fungsi kognitif secara
global. Biasanya delirium mempunyai onset yang mendadak (beberapa jam atau hari),
perjalanan singkat dan berfluktuasi dan perbaikan yang cepat jika factor penyebab
diidentifikasi dan dihilangkan.3
Delirium adalah sindrom neuropsikiatrik yang mempunyai onset akut dan
berfluktuasi, secara klinis ditandai dengan perubahan tingkat kesadaran, perhatian, dan
gangguan dalam orientasi, memori, pikiran, dan perilaku. Secara historis, sindrom ini telah
dideskripsikan dengan nama yang dan klasifikasi yang berbeda. Berbagai istilah muncul
untuk menggambarkan delirium, termasuk 'keadaan bingung akut', 'sindrom akut otak',
'insufisiensi serebral akut' dan ensefalopati toksik metabolik'. 4 Secara bertahap istilah
delirium mulai lebih konsisten digunakan untuk menunjukan keadaan reversibel disfungsi
otak akut, berhubungan dengan demam atau medis dan atau kondisi bedah.5
1.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi delirium di masyarakat hanya sekitar 1-2 %. Prevalensi delirium
berdasarkan usia menunjukkan perbedaan signifikan di mana lebih banyak kejadian
delirium pada orang berusia tua. Prevalensi delirium berdasarkan usia : 0,4 % pada mereka
yang berusia di atas 18, 1,1 % dari mereka yang berusia di atas 55, dan 13,6 % pada

mereka lebih dari 85. Penelitian ini serupa dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
di Finlandia.5,6
Delirium merupakan kelainan yang sering pada:1
-

sekitar 10 sampai 15 persen adalah pasien bedah dan 15 sampai 25 persen merupakan
pasien perawatan medis di rumah sakit. Sekitar 30 persen pasien dirawat di ICU
bedah dan ICU jantung. Sekitar 40 sampai 50 pasien yang dalam masa penyembuhan
dari tindakan bedah pinggul memiliki episode delirium.

Penyebab dari pasca operasi delirium termasuk stress dari pembedahan, sakit pasca
operasi, pengobatan anti nyeri, ketidakseimbangan elektrolit, infeksi, demam, dan
kehilangan darah.

Sekitar 20% pasien dengan luka bakar berat dan 30-40 % pasien dengan sindrom
imunodefisiensi didapat (AIDS)

Usia lanjut merupakan faktor resiko dari terjadinya delirium, sekitar 30 40 persen
dari pasien yang dirawat berusia 65 tahun dan memiliki episode delirium.1

1.3. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Berdasarkan aktivitas psikomotor tingkat atau kondisi kesadaran, dan aktivitas
perilaku, delirium diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:7
1

Hiperaktif: didapatkan pada pasien dengan gejala putus substansi antara lain; alkohol,
amfetamin, lysergic acid diethylamide atau LSD. Pasien bisa nampak gaduh gelisah,

berteriak-teriak, jalan mondar-mandir, atau mengomel sepanjang hari.


Hipoaktif: didapatkan pada pasien pada keadaan hepatic encephalopathy dan

hipercapnia.
Campuran: pada pasien dengan gangguan tidur, pada siang hari mengantuk tapi pada
malam hari terjadi agitasi dan gangguan sikap.
Mekanisme penyebab delirium masih belum dipahami secara seutuhnya. Beberapa

peneliti mengatakan bahwa delirium terjadi karena terdapat kerusakan metabolisme


oksidatif serebral dan abnormalitas pada beberapa neurotransmitter. Berikut terdapat
beberapa hipotesis mengenai delirium:8,9

Asetilkolin
4

Data studi mendukung hipotesis bahwa asetilkolin adalah salah satu dari
neurotransmiter yang penting dari pathogenesis terjadinya delirium. Hal yang
mendukung teori ini adalah bahwa obat antikolinergik diketahui sebagai penyebab
keadaan bingung. Pada pasien dengan transmisi kolinergik yang terganggu juga muncul
gejala ini dan pada pasien post operatif delirium serum antikolinergik juga meningkat.
b Dopamine
Pada otak, hubungan timbal balik muncul antara aktivitas kolinergik dan dopaminergik.
Pada delirium muncul aktivitas berlebih dari dopaminergik. Gejala simptomatis
membaik dengan pemberian obat antipsikosis seperti haloperidol dan obat penghambat
c

dopamine.
Neurotransmitter lainnya
Serotonin ; terdapat peningkatan serotonin pada pasien dengan encephalopati
hepatikum. Peningkatan inhibitor GABA (Gamma-Aminobutyric acid); pada pasien
dengan hepatic encephalopati, peningkatan inhibitor GABA juga ditemukan.
Peningkatan level ammonia terjadi pada pasien hepatic encephalopati, yang
menyebabkan peningkatan pada asam amino glutamat dan glutamine (kedua asam
amino ini merupakan precursor GABA). Penurunan level GABA pada susunan saraf
pusat juga ditemukan pada pasien yang mengalami gejala putus benzodiazepine dan

alkohol.
d Mekanisme peradangan atau inflamasi
Studi terkini menyatakan bahwa peran sitokin, seperti interleukin-1 dan interleukin-6,
dapat menyebabkan delirium. Saat terjadi proses infeksi, inflamasi dan paparan toksik
dalam tubuh, bahan pirogen endogen seperti interleukin-1 dilepaskan dari sel. Trauma
kepala dan iskemia, yang sering dihubungkan dengan delirium, dihubungkan dengan
e

hubungan respon otak yang dimediasi oleh interleukin-1 dan interleukin 6.


Mekanisme reaksi stress
Stress psikososial dan gangguan tidur mempermudah terjadinya delirium.
f Mekanisme struktural
Formatio reticularis dan jalurnya memainkan peranan penting dari bangkitan delirium.
Jalur tegmentum dorsal diproyeksikan dari formation retikularis mesensephalon ke
tectum dan thalamus adalah struktur yang terlibat pada delirium. Kerusakan pada sawar
darah otak juga dapat menyebabkan delirium, mekanismenya karena dapat
menyebabkan agen neuro toksik dan sel-sel peradangan (sitokin) untuk menembus otak.

Tabel 1. Beberapa Kondisi yang Lazim Mencetuskan Kondisi Delirium 7


Iatrogenik
Obat-obatan
Gangguan

Pembedahan, kateterisasi, urin, psysical restraints


Psikotropika
Insufisiensi ginjal, dehidrasi, hipoksia, azotemia,
5

metabolik atau

hiperglikemia, hipernatremia, hipokalemia

cairan
Penyakit psikis atau

Demam, infeksi, stres, alcohol, putus obat (tidur),

psikiatrik
Overstimulation

fraktur, malnutrisi, gangguan pola tidur


Perawatan di ICU, atau perpindahan ruang rawat

1.4. MANIFESTASI KLINIS


Delirium ditandai dari perubahan mental akut dari pasien,perubahan fluktuatif pada
kognitif termasuk memori,berbahasa dan organisasi.10-13
1

Gangguan atensi
Pasien dengan delirium mengalami kesulitan untuk memperhatikan. Mereka mudah
melupakan instruksi dan mungkin dapat menanyakan instruksi dan pertanyaan untuk
diulang berkali-kali. Metode untuk mengidentifikasi gangguan atensi yaitu dengan

menyuruh pasien menghitung angka terbalik dari 100 dengan kelipatan 7.


Gangguan memori dan disorientasi
Defisit memori, hal yang sering jelas terlihat pada pasien delirium. Disorientasi

waktu,tempat dan situasi juga sering didapatkan pada delirium.


Agitasi
Pasien dengan delirium dapat menjadi agitasi sebagai akibat dari disorientasi dan
kebingungan yang mereka alami. Sebagai contoh; pasien yang disorientasi
menggangap mereka dirumah meskipun ada dirumah sakit sehingga staff rumah sakit

dianggap sebagai orang asing yang menerobos kerumahnya.


Apatis dan menarik diri terhadap sekitar atau withdrawal
Pasien dengan delirium dapat menampilkan apatis dan withdrawal. Mereka dapat
terlihat seperti depresi, penurunan nafsu makan, penurunan motivasi dan gangguan

pola tidur.
Gangguan tidur
Pada pasien delirium sering tidur pada waktu siang hari tapi bangun pada waktu
malam hari. Pola ini digabungkan dengan disorientasi dan kebingungan yang dapat
menimbulkan situasi berbahaya pada pasien, yaitu resiko jatuh dari tempat tidur,

menarik kateter atau IV dan pipa nasogastric.


Emosi yang labil
Delirium dapat menyebabkan emosi pasien yang labil seperti gelisah, sedih, menangis
dan kadang kadang gembira yang berlebih. Emosi ini dapat muncul bersamaan ketika

seseorang mengalami delirium.


Gangguan persepsi
Terjadi halusinasi visual dan auditori.
Gejala penyerta10-13
6

1. Gangguan tidur bangun


Tidur pasien secara karakteristik terganggu. Pasien seringkali mengantuk selama siang
hari dan dapat ditemukan tidur sekejap ditempat tidurnya atau diruang keluarga. Tetapi
tidur pada pasien delirium hampir selalu singkat dan terputus-putus. Pasien seringkali
mengalami eksaserbasi gejala delirium tepat sebelum tidur, dikenal sebagai sundowning.
Kadang-kadang mimpi menakutkan di malam hari dan mimpi yang mengganggu pasien
terus berlangsung ke keadaan terjaga sebagai pengalaman halusinasi. Keadaan ini
digabungkan dengan disorientasi dan kebingungan yang dapat menimbulkan situasi
berbahaya pada pasien, yaitu resiko jatuh dari tempat tidur, menarik kateter atau IV dan
pipa nasogastric.
b. Gejala neurologis
Gejala neurologis yang sering menyertai berupa disfagia, tremor, asteriksis, inkordinasi
dan inkontinensia urin. Tanda neurologis fokal juga ditemukan sebagai bagian pola gejala
pasien dengan delirium. Pada delirium dapat muncul tanda neurologis antara lain: tremor
gait, asterixis mioklonus, paratonia dari otot terutama leher, sulit untuk menulis dan
membaca, dan gangguan visual.

1.5. DIAGNOSA BANDING


Banyak gejala yang menyerupai delirium. Demensia dan depresi sering menunjukkan
gejala yang mirip delirium; bahkan kedua penyakit atau kondisi tersebut acap kali terdapat
bersamaan dengan sindrom delirium. Pada keadaan tersebut informasi dari keluarga dan
pelaku rawat menjadi sangat berarti pada anamnesis.5
a

Delirium dengan demensia


Yang paling nyata perbedaannya adalah mengenai awitannya, yaitu delirium
awitannya tiba-tiba, sedangkan pada demensia berjalan perlahan. Meskipun kedua kondisi
tersebut mengalami gangguan kognitif, tetapi pada demensia lebih stabil, sedangkan pada
delirium berfluktuasi.5
Tabel 2. Perbandingan Delirium dan Demensia
Gambaran Klinis

Delirium
7

Demensia

Gangguan daya ingat


Gangguan proses berpikir
Gangguan daya nilai
Kesadaran berkabut
Major attention deficits
Fluktuasi perjalanan penyakit

+++
+++
+++
+++
+++
+++

+++
+++
+++
+
+

(1 hari)
Disorientasi
Gangguan persepsi jelas
Inkoherensi
Gangguan siklus tidur- bangun
Eksaserbasi nocturnal
Insight atau tilikan
Awitan akuta atau subakut

+++
++
++
++
++
++
++

++
+
+
+
+
-

Delirium versus skizofrenia dan depresi


Sindrom delirium dengan gejala yang hiperaktif sering keliru dianggap sebagai pasien

yang cemas (anxietas), sedangkan hipoaktif keliru dianggap sebagai depresi. Keduanya
dapat dibedakan dengan pengamatan yang cermat. Pada depresi terdapat perubahan yang
bertahap dalam beberapa hari atau minggu sedangkan pada delirium biasanya gejala
berkembang dalam beberapa jam.5
Beberapa pasien dengan skizofrenia atau episode manik mungkin pada satu keadaan
menunjukkan perilaku yang sangat kacau yang sulit dibedakan dengan delirium. Secara
umum, halusinasi dan waham pada pasien skizofrenia lebih konstan dan lebih
terorganisasi dibandingkan dengan kondisi pasien delirium.5
2. Narkotika
2.1 Definisi
Narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkotik, psikotropika, dan zat aditif adalah
bahan atau zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang
berupa pikiran, perasaan dan perilaku serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi.14
Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat

menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai


menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.14
Psikotropika yaitu zat atau obat, baik alami maupun sintesis bukan narkotik yang
berkhasia psikoaktif melalui pengaryh selektif pada susunan saraf dan menyebabkan
perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.14
2.2 Penyalahgunaan Narkoba
Penyalahgunaan dalam penggunaan narkoba adalah pemakaian obat-obatan atau zatzat berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa
mengikuti aturan atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar atau sesuai dosis
yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka penggunaan narkoba secara terusmenerus akan mengakibatkan ketergantungan, depedensi, adiksi atau kecanduan.15
Penyalahgunaan narkoba juga berpengaruh pada tubuh dan mental-emosional para
pemakaianya. Jika semakin sering dikonsumsi, apalagi dalam jumlah berlebih maka akan
merusak kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial di dalam masyarakat. Pengaruh
narkoba pada remaja bahkan dapat berakibat lebih fatal, karena menghambat
perkembangan kepribadianya. Narkoba dapat merusak potensi diri, sebab dianggap
sebagai cara yang wajar bagi seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan
permasalahan hidup sehari-hari.15
Penyalahgunaan narkoba merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat patologik
dan harus menjadi perhatian segenap pihak. Meskipun sudah terdapat banyak informasi
yang menyatakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan dalam
mengkonsumsi narkoba, tapi hal ini belum memberi angka yang cukup signifikan dalam
mengurangi tingkat penyalahgunaan narkoba.15
2.3 Jenis-Jenis Narkoba
Di bawah ini merupakan jenis jenis narkoba antara lain :
A. Opium (Heroin, Morfin)
Berasal dari kata opium, jus dari bunga opium. Opium disaripatikan dari opium
poppy (papaver somniferum) dan disuling untuk membuat morfin, kodein, dan heroin.
9

Opium digunakan berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit (mencegah batuk, diare,
dll). Gejala gejala yang ditimbulkan dari penggunaan opiat antara lain:16
1.

Perasaan tenang dan bahagia

2. Acuh tak acuh (apatis)


3.

Malas bergerak

4.

Mengantuk

5.

Rasa mual

6.

Bicara cadel

7.

Pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)

8.

Gangguan perhatian atau daya ingat.16

B. Ganja
Ganja dikenal dapat memicu psikosis, terutama bagimereka yang memiliki latar
belakang (gen). Ganja juga bisa memicu dan mencampuradukkan antara kecemasan dan
depresi. Gejala yang ditimbulkan dari penggunaan ganja antara lain:16
1.

Rasa senang dan bahagia

2.

Santai dan lemah

3. Acuh tak acuh


4.

Mata merah

5.

Nafsu makan meningkat

6.

Mulut kering

10

7.

Pengendalian diri dan konsentrasi kurang

8.

Depresi dan sering menguap atau mengantuk.16

C. Amfetamin (shabu, ekstasi)


Ecstasy (methylen dioxy methamphetamine/MDMA) adalah salah satu jenis
narkoba yang di buat secara ilegal di sebuah laboratorium dalam bentuk tablet. Ekstasi
akan mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas yang melampaui batas maksimum
dari kekuatan tubuh itu sendiri. Kekurangan cairan tubuh dapat terjadi sebagai akibat
dari pengerahan tenaga yang tinggi dan lama, yang sering menyebabkan kematian.
Gejala-gejala dari penggunaan amfetamin antara lain:16
1.

Kewaspadaan meningkat

2.

Bergairah

3.

Rasa senang atau bahagia

4.

Pupil mata melebar

5.

Denyut nadi dan tekanan darah meningkat

6.

Susah tidur atau insomnia

7.

Hilang nafsu makan.16

D. Kokain
Kokain adalah salah satu zat adiktif yang sering disalahgunakan. Kokain
merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang
berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyahkunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk
meningkatkan daya tahan, stamina, mengurangi kelelahan, rasa lapar dan untuk
memberikan efek euforia. Gejala yang ditimbulkan dari penggunaan kokain antara
lain:16
1.

Gelisah dan denyut nadi meningkat


11

2.

Euforia atau rasa gembira berlebihan

3.

Banyak bicara dan kewaspadaan meningkat

4.

Kejang dan tekanan darah meningkat

5.

Berkeringat dan mudah berkelahi

6.

Penyumbatan pembuluh darah

7.

Distonia (kekakuan otot leher)16

2.4 EFEK PENYALAHGUNAAN NARKOBA16,17


Berikut adalah beberapa efek umum dari narkotika dalam penyalahgunaannya secara
berlebihan:

Halusinogen, efek dari narkoba bisa mengakibatkan bila dikonsumsi dalam sekian
dosis tertentu dapat mengakibatkan seseorang menjadi berhalusinasi dengan melihat
suatu hal atau benda yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata contohnya kokain &
LSD

Stimulan , efek dari narkoba yang bisa mengakibatkan kerja organ tubuh seperti
jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya sehingga mengakibatkan
seseorang lebih bertenaga untuk sementara waktu , dan cenderung membuat seorang
pengguna lebih senang dan gembira untuk sementara waktu

Depresan, efek dari narkoba yang bisa menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi
aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan bisa membuat
pemakai tidur dan tidak sadarkan diri.

Adiktif , seseorang yang sudah mengkonsumsi narkoba biasanya akan ingin dan ingin
lagi karena zat tertentu dalam narkoba mengakibatkan seseorang cenderung bersifat
pasif, karena secara tidak langsung narkoba memutuskan syaraf-syaraf dalam
otak,contohnya ganja ,heroin, putaw

12

Overdosis dan akhirnya menyebabkan kematian, jika terlalu lama dalam


menggunakan narkoba maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak dan tidak
berfungsi lagi.16,17

2.5 FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA


Faktor yang mendorong
1.

Pengendalian diri yang lemah

2.

Kondisi kehidupan keluarga

3. Temperamen sulit
4.

Mengalami gangguan perilaku

5.

Suka menyendiri dan berontak

6.

Prestasi sekolah yang rendah

7. Tidak di terima di kelompok


8.

Berteman dengan pemakai.14

1.

Faktor individual

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami
perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri-ciri remaja yang
mempunyai resiko lebih besar menggunakan Narkoba, seperti kurang percaya diri,
mudah kecewa, agresif, murung, pemalu, pendiam dan sebagainya. Faktor-faktor
lainnya sebagai berikut:14
a.Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau brfikir panjang tentang
akibatnya di kemudian hari.
b.Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
c.Keinginan untuk bersenang-senang.
13

d.Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau lingkungan
tertentu.
e.Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant (perangsang).
f.Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.
g.Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.
h.Menderita kecemasan dan kegetiran.
i.Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke arah
penyalahgunaan narkoba.
j.Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
k.Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat
penghilang rasa lapar yang berlebihan.
l.Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam
lingkungan keluarga atau lingkungan pergaulan.
m.Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
n.Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
o.Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan
menimbulkan masalah.
p.Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau
kelompok pergaulan untuk menggunakan narkoba.
q.Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.14

2.

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan kurang baik
sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat, seperti komunikasi orang
tua dan anak kurang baik, orang tua yang bercerai, kawin lagi, orang tua terlampau
sibuk, acuh, orang tua otoriter dan sebagainya.Faktor lainnya sebagai berikut:14
a.Keluarga bermasalah atau broken home.
b.Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna atau
bahkan pengedar gelap nrkoba.
c.Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau bahkan
semua anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba.
14

d.Sering berkunjung ke tempat hiburan (caf, diskotik, karoeke, dll.).


e.Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
f.Lingkungan keluarga yang kurang atau tidak harmonis.
g.Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi, keterbukaan,
perhatian, dan saling menghargai di antara anggotanya.
h.Orang tua yang otoriter,.
i.Orang tua atau keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang atau tanpa
pengawasan.
j.Orang tua atau keluarga yang super sibuk mencari uang atau di luar rumah.
k.Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
l. Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi, tidak
ada hubungan primer, ketidakacuan, hilangnya pengawasan sosial dari
masyarakat,kemacetan lalu lintas, kekumuhan, pelayanan public yang buruk, dan
tingginya tingkat kriminalitas.
m.Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran.14
3. Faktor Ketersediaan Narkoba.
Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk memakai
narkoba karena antara lain:14
a.Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.
b.Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
c.Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
d.Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit diungkap aparat hukum.
e.Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum terungkap.
f.Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian uang yang bisa membantu
bisnis perdagangan gelap narkoba.
g.Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan
narkoba.
h.Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.
i. Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat dan professional.
Bahan dasar narkoba (prekursor) beredar bebas di masyarakat.14
2.6 TATALAKSANA
15

Tujuan utama adalah untuk mengobati gangguan dasar yang menyebabkan delirium,
tujuan lainnya adalah untuk memberikan bantuan fisik sensorik dan lingkungan.5
a

Pengobatan farmakologis
Dua gejala utama delirium yang mungkin memerlukan pengobatan
farmakologis adalah

psikosis dan insomnia. Obat yang terpilih untuk psikosis

adalah Haloperidol (haldol), obat antipsikotik golongan butyrophenon. Pemberian


tergantung usia, berat badan,dan kondisi fisik pasien, dosis awal dengan rentang
antara 2 sampai 10 mg intramuscular, diulang dalam satu jam jika pasien teragitasi.
Segera setelah pasien tenang, medikasi oral dalam cairan konsentrat atau bentuk
tablet dapat dimulai. Dua dosis oral harian harus mencukupi, dengan duapertiga
dosis diberikan sebelum tidur. Untuk mencapai efek terapeutik yang sama, dosis oral
harus kira-kira 1,5 kali kali lebih tinggi dibandingkan dosis parenteral. Dosis harian
efektif total haloperidol mungkin terentang dari 5 sampai 50 mg untuk sebagian
besar pasien delirium.5,18
Olanzapine (Zyprexa) adalah obat neuroleptic atipikal, dengan efek
ekstrapiramidal yang ringan, efektif untuk pengobatan delirium yang disertai agitasi.
Dosisnya dimulai dengan 2,5mg, dan meningkat sampai 20 mg po jika dibutuhkan.
Olanzepine dapat menurunkan ambang kejang, namun sisanya dapat ditoleransi
dengan cukup baik.18,19
Risperidone (risperidal), juga efektif dan dapat ditoleransi dengan baik,
dimulai dengan 0,5 mg dua kali sehari atau 1 mg sebelum waktu tidur, meningkat
sampai 3 mg 2 kali sehari jika dibutuhkan.5,18
Haloperidol (haldol), dapat digunakan dengan dosis yang rendah (0.5 mg
sampai dengan 2 mg 2 kali sehari), jika dibutuhkan secara intravena. Efek samping
ekstra pyramidal dapat terjadi, dapat ditambahkan sedative, misalnya lorazepam
diawali 0,5 mg sampai 1 mg setiap 3 sampai 8 jam jika dibutuhkan.5,18
Droperidol (inapsine) adalah suatu butyrophenon yang tersedia sebagai suatu
formula intravena alternative, walaupun monitoring elektrokardiogram adalah sangat
penting untuk pengobatan ini. Golongan phenothiazine harus dihindari pada pasien
delirium, karena obat tersebut disertai dengan aktivitas antikolinergik yang
bermakna.5,18

16

Insomnia paling baik diobati dengan golongan benzodiazepine dengan waktu


paruh pendek atau hydroxizine (vistaril), 25 sampai 100 mg. Golongan
benzodiazepine dengan waktu paruh panjang dan barbiturate harus dihindari kecuali
obat tersebut telah digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk gangguan dasar
(sebagai contohnya, putus alcohol).5
b

Non-farmakologis (pencegahan)
Berbagai literature menyebutkan bahwa pengobatan sindrom delirium sering

tidak tuntas. 96% pasien yang dirawat karena pulang dengan gejala sisa. Hanya 20%
dari kasus-kasus tersebut yang tuntas dalam 6 bulan setelah pulang. Hal tersebut
menunjukkan bahwa sebenarnya prevalensi sindrom delirium di masyarakat lebih
tinggi dari pada yang diduga sebelumnya. Pemeriksaan penapisan oleh dokter umum
atau dokter keluarga di masyarakat menjadi penting dalam rangka menemukan kasus
dini dan mencegah penyulit yang fatal.5
Rudolph (2003) melaporkan bahwa separuh dari kasus yang diamatinya
mengalami delirium saat dirawat di rumah sakit. Berarti ada karakteristik pasien
tertentu dan suasana atau situasi rumah sakit sedemikian rupa yang dapat
mencetuskan delirium. Beberapa obat juga dapat mencetuskan delirium, terutama
yang mempunyai efekanti kolinergik dan gangguan faal kognitif. Beberapa obat
yang diketahui meningkatkan resiko delirium antara lain: benzodiazepine, kodein,
amitriptilin

(antidepresan),

difenhidramid,

ranitidine,

tioridazin,

digoksin,

amiodaron, metildopa, procainamid, levodopa, fenitoin, siprofloksasin. Beberapa


tindakan sederhana yang dapat dilakukan di rumah sakit (di ruang rawat akut
geriatric) terbukti cukup efektif mampumencegah delirium. Inouye et all (1999)
menyarankan beberapa tindakanyang terbukti dapat mencegah delirium seperti yang
tertera pada tabel 3.18

Tabel 3. Pencegahan Delirium dan Keluarannya18


Panduan intervensi
Reorientasi

Tindakan
Pasang jam dinding
Kalender
17

Keluaran

Memulihkan orientasi

0,04

Memulihkan siklus

Padamkan lampu

Tidur tanpa obat

0,001

tidur

Minum susu hangat

Pulihnya mobilisasi

0,06

Kenakan kacamata

Meningkatkan

0,27

Menyediakan bacaan

kemampuan

dengan huruf

penglihatan

atau teh herbal


Musik yang tenang
Pemijata (massage)
punggung
Mobilisasi

Latihan lingkup gerak


sendi
Mobilisasi bertahap
Batasi penggunaan
restrain

Penglihatan

berukuran besar
Pendengaran

Rehidrasi

Bersihkan serumen

Meningkatkan

prop

kemampuan

Alat Bantu dengar

pendengaran

Diagnosis dini

BUN/Cr < 18

0,10

0,04

rehidrasi
Tingkatkan asupan
cairan oral kalau perlu
per infuse

2.7 PROGNOSIS
Setelah identifikasi dan menghilangkan faktor penyebab, gejala delirium biasanya
menghilang dalam periode 3-7 hari, walaupun beberapa gejala mungkin membutuhkan
waktu sampai 2 minggu untuk menghilang secara lengkap. Semakin lanjut usia pasien dan
semakin lama pasien mengalami delirium semakin lama waktu yang diperlukan bagi
delirium untuk menghilang. Ingatan tentang apa yang dialami selama delirium, jika
18

delirium telah berlalu, biasanya hilang timbul, dan pasien mungkin menganggapnya
sebagai mimpi buruk, sebagai pengalaman yang mengerikan yang hanya diingat secara
samar-samar.5

BAB III
PENUTUP
Delirium adalah sindrom neuropsikiatrik yang mempunyai onset akut dan
berfluktuasi, secara klinis ditandai dengan perubahan tingkat kesadaran, perhatian, dan
gangguan dalam orientasi, memori, pikiran, dan perilaku. Delirium merupakan suatu
sindrom, bukan suatu penyakit. Delirium adalah suatu gangguan kesadaran, biasanya terlihat
bersamaan dengan gangguan fungsi kognitif secara global
Narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba atau nama lainnya narkotik,
psikotropika, dan zat aditif adalah bahan atau zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan
atau psikologi seseorang berupa pikiran, perasaan dan perilaku serta dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan psikologi
Penyalahgunaan zat-zat itu selain dapat menimbulkan ketergantungan, dapat juga
menimbulkan delirium yang dapat mengancam jiwa seseorang. Penatalaksanaannya dapat
19

berupa farmakologis dan non farmakologis. Penanganan pertama berupa farmakologis


diperlukan dalam waktu cepat untuk dapat menyelamatkan penderita dalam keadaan yang
lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bulic D. Delirium in the intensive care unit and long term cognitive and psychosocial
functioning. Australian Journal of Advanced Nursing. Vol 33; Issue 1. University of New
South Wales
2. Rahma AM, Sarake M. Faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkotika dan
bahan adiktif pada remaja di sma kartika wirabuana xx-1 makassar tahun 2013. Biostatisitk
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hassanuddin. 2013
3. Kaplan, Harold I. Sinopsis psikiatri: ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. 2010
4. Cerejeira J, Ladinska EBM. A clinical update on delirium: from early recognition and
effective management. Nursing Research and Practice Journal. 2011;
5. Fong et.al. Delirium in elderly adults: diagnosis, prevention, and treatment. Nat Rev
Neurol. 2009. 5(4). p. 210-20

20

6. Burns A et.al. Delirium: a review. Journal of Neurol Neurosurg Psychiatry. 2004; 75. p.
362-7
7. Champe PC, Harvey RA, Mycek MJ, Lipincott Illustrated Reviews 2 nd edition,
Phildeaphia, Lippincott Williams & Wilkins,1997.
8. Geddes J, Gelder M, Mayou RPsychiatry 2nd edition, Oxford University, New York, 1999.
9. Dean MD. Leisenring SE, Leong GB. Commentary: intoxication and settled insanity
unsettled matters. J Am Acad Psychiatry Law 35:1837, 2007
10. Damping, Andri Cahrles E. Majalah kedokteran indonesia: peranan psikiatri geriatri
dalam penanganan delirium pasien geriatri. 2007.
11. Feggi A, Gatoni E, Gili S, et.al. Delirium in patient with substance abuse: a case series.
Open Journal of Psychiatry. 2014, Vol 4. 163-7
12. Harkanen T, Henriksson AT, Koskinen S, et.al. Alcohol induced-psychotic disorder and
delirium in the general population The British Journal of Psychiatry. 2010. 197, p. 2006.
13. Chate SS, Chattopadhyayi S, et.al. Zolpidem induced delirium. Journal of the Scientific
Society, Vol 40; Issue 3. September-December 2013
14. Santoso T, Silalahi A. Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja: suatu perspektif.
Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I September 2000 : hal. 37 - 45
15.

Koentjoro,

Purnomowardani

AD.

Penyingkapan

diri,

perilaku

seksual,

dan

penyalahgunaan narkoba. Jurnal Psikologi. 2000, NO. 1, hal. 60 - 72


16. Thirtalli J, Benegal V. Psychosis among substance users. Current Opinion in Psychiatry
2006, 19:23945
17. Ellis SM, Fox TP, Oliver G. The destructive capacity of drug abuse: an overview
exploring the harmful potential of drug abuse both to the individual and to society. ISRN
Addiction. Volume 2013, Hindawi Publishing Corporation
18. Schuckit M. Recognition and management of delirium tremens. N Engl J Med
2014;371:2109-13.
19. Ford C, Winstock AR, Witton J. Assessment and management of cannabis use disorders
in primary care. BMJ. Ed April 2010; Volume 340. p. 800-4

21