Anda di halaman 1dari 3

Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan jumlah sel leukosit.

Sebagai objek
digunakan sampel darah manusia golongan darah O. Menurut Pearce, E (2004), darah adalah
salah satu bagian tubuh yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia sebab darah
berfungsi sebagai alat transportasi utama bagi oksigen, nutrisi, dan zat-zat lain yang dibutuhkan
seluruh jaringan tubuh. Darah terdiri atas plasma dan sel darah. Sel darah terdiri atas sel darah
merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
Menurut Syaifuddin (1997), Leukosit terbagi menjadi dua yaitu granulosit (leukosit yang
memiliki granula sitoplasma) dan agranulosit (leukosit yang tidak memiliki granula sitoplasma).
Granulosit terdiri atas neutrofil, eosinofil, dan basofil sedangkan agranulosit terdiri atas limfosit
dan monosit.
Adapun fungsi leukosit agranulosit antara lain : monosit memiliki dua fungsi utama
dalam sistem kekebalan yaitu menambah jumlah makrofag dan sel dendritik pada daerah yang
normal serta merespon peradangan,. Monosit dapat bergerak cepat (sekitar 8-12 jam) ke daerah
infeksi pada jaringan dan berdiferensiasi menjadi makrofag serta sel dendritik untuk
mendapatkan respon imun. Sedangkan fungsi dari limfosit adalah membunuh dan memakan
bakteri yang masuk kedalam jaringan tubuh. Fungsi makrofag adalah untuk fagositosis (menelan
dan kemudian mencerna) selular, puing-puing dan pathogen baik sebagai sel mobile juga untuk
merangsang limfosit dan sel imun lainnya dalam merespon pathogen (Effendi, Z : 2009).
Sedangkan fungsi leukosit granulosit antara lain : neutrofil bersifat fagositik dan sangat
aktif, hingga dapat mencapai jaringan terinfeksi untuk menyerang virus dan bakteri. Eosinofil
bersifat fagositik meskipun lemah, selain itu eosinofil juga bersifat detoksikasi histamin yang
dihasilkan sel mast dan jaringan yang luka saat inflamasi berlangsung, serta mengandung
peroksidase dan fosfatase yaitu enzim yang mungkin terlibat dalam detoksifikasi bakteri. Basofil
menghasilkan histamin untuk memicu aliran darah ke sekitar luka serta menghasilkan heparin
yaitu zat antikoagulan untuk mencegah gumpalan darah di pembuluh (Effendi, Z : 2009).
Terdapat dua metode untuk menghitung jumlah sel leukosit, yaitu metode elektronik dan
metode kamar hitung. Metode elektronik umum digunakan di laboratorium penelitian, dimana
dengan metode ini secara otomatis jumlah sel leukosit dan komponen darah lainnya dapat
dihitung. Sedangkan pada metode kamar hitung, jumlah sel leukosit dihitung secara manual,

dimana sampel darah harus diencerkan terlebih dahulu, lalu dihitung menggunakan alat yang
disebut haemocytometer. Untuk kamar hitung leukosit terdiri atas 25 kamar, sedangkan eritrosit
terdiri atas 40 kamar. Hal ini disebabkan ukuran sel leukosit yang lebih besar dibanding eritrosit.
Untuk mengambil sampel darah, pertama-tama yang dilakukan adalah membersihkan jari
manis kiri dengan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 70%, lalu tusuk menggunakan lanset
dimana tetesan pertama dibuang dan tetesan selanjutnya diteteskan pada salah satu ujung dari
objek glass. Kemudian dibuat sediaan apus darah, sediaan apus darah ini dibuat tidak hanya
untuk mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah
masing-masing sel darah.
Pembuatan sediaan apus darah biasanya menggunakan dua buah kaca sediaan yang
sangat bersih terutama harus bebas lemak. Satu buah kaca sediaan digunakan sebagai tempat
tetes darah yang hendak diperiksa dan yang lain sebagai alat untuk meratakan tetes darah agar
didapatkan lapisan tipis darah. Darah yang digunakan adalah darah manusia golongan O. Darah
diratakan dengan salah satu ujung sisi pendek kaca perata yang diletakan miring dengan sudut
kira- kira 30 tepat di depan tetes darah sehingga darah menyebar sepanjang sisi pendek kaca
perata, dan kaca perata digerakan secara cepat sehingga terbentuklah selapis tipis darah di atas
kaca sediaan.
Setelah sediaan darah dikeringkan, dilakukan proses fiksasi dengan pelarut methanol.
Tujuannya adalah untuk membunuh sel-sel pada sediaan darah tersebut tanpa mengubah posisi
(struktur) organel yang ada di dalamnya. Selain itu, pemberian methanol juga berguna untuk
menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah kerusakan jaringan, mengawetkan
komponen-komponen sitologis dan histologis, mengawetkan keadaan sebenarnya, dan
mengeraskan. Kemudian sediaan apus darah diberi larutan pewarna giemsa atau yang sering
disebut juga pewarna Romanowski. Pewarna Giemsa merupakan pewarna yang umum
digunakan dalam pembuatan sediaan apus, tujuannya adalah agar sediaan terlihat lebih jelas.
Metode pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah, sel-sel sumsum dan
juga untuk identifikasi parasit-parasit darah misalnya dari jenis protozoa. Larutan Giemsa
memberikan warna biru pada leukosit.

Kemudian sediaan darah dicuci dengan aquadest untuk menghilangkan pewarna yang ada
dalam darah, lalu dikeringkan dan lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 kali. Hasil
pewarnaan dengan giemsa pada darah manusia akan memperlihatkan eritrosit berwarna merah
muda, nukleolus leukosit berwarna ungu kebiru-biruan, sitoplasma leukosit berwarna sangat
ungu muda, granula dari leukosit eosinofil berwarna ungu tua, granula dari leukosit neutrofil dan
lekosit basofil berwarna ungu. Setelah itu dilakukan perhitungan sehingga masing-masing jenis
sel leukosit dapat ditentukan secara presentase.
Dari hasil pengamatan, diperoleh jumlah sel limfosit sebanyak 225 sel dengan persentase
sebesar 20%, jumlah monosit sebanyak 76 sel dan persentase sebesar 3,1%, sedangkan neutrofil
diperoleh jumlah sel yang tidak terhingga menyebabkan persentasenya tidak dapat ditentukan.
Perhitungan jumlah sel leukosit ini penting dilakukan terutama untuk melihat kadar leukosit
seseorang berada di rentang normal atau tidak. Apabila kadar leukosit tidak berada di rentang
normal, maka dapat menjadi indikasi adanya gangguan pada tubuh orang tersebut. Misalnya
terjadi infeksi bakteri, menyebabkan meningkatnya jumlah leukosit seseorang.