Anda di halaman 1dari 3

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bisa ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu

Tantular yang ditulis pada abad XIV pada era Kerajaan Majapahit. Mpu Tantular
merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana, namun merasakan hidup aman
dan tentram dalam kerajaan Majapahit yang lebih bernafaskan agama Hindu
(Maarif A. Syafii, 2011).
Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi terbatas antara Muhammad
Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Bung Karno di sela-sela sidang BPUPKI sekitar 2,5
bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia(Kusuma R.M. A.B, 2004). Bahkan
Bung Hatta sendiri mengemukakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan ciptaan
Bung Karno pasca Indonesia merdeka. Setelah beberapa tahun kemudian ketika
mendesain Lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk burung Garuda
Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika disisipkan ke dalamnya.
Secara resmi lambang ini digunakan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia
Serikat yg dipimpin oleh Bung Hatta pada tanggal 11 Februari 1950 berdasarkan
rancangan yang diciptakan oleh Sultan Hamid ke-2 (1913-1978). Pada sidang
tersebut mengemuka banyak usulan rancangan lambang negara, selanjutnya yang
dipilih adalah usulan yang diciptakan Sultan Hamid ke-2 & Muhammad Yamin, dan
kemudian rancangan dari Sultan Hamid yang akhirnya ditetapkan (Yasni, Z, 1979).
Karya Mpu Tantular tersebut oleh para founding fathers diberikan penafsiran baru
sebab dianggap sesuai dengan kebutuhan strategis bangunan Indonesia merdeka
yang terdiri atas beragam agama, kepercayaan, etnis, ideologi politik, budaya dan
bahasa. Dasar pemikiran tersebut yang menjadikan semboyan keramat ini
terpajang melengkung dalam cengkeraman kedua cakar Burung Garuda. Burung
Garuda dalam mitologi Hindu ialah kendaraanDewa Vishnu (Maarif A. Syafii, 2011).
Dalam proses perumusan konstitusi Indonesia, jasa Muh.Yamin harus diingat
sebagai orang yang pertama kali mengusulkan kepada Bung Karno agar Bhinneka
Tunggal Ika dijadikan semboyan sesanti negara. Muh. Yamin sebagai tokoh
kebudayaan dan bahasa memang dikenal sudah lama bersentuhan dengan segala
hal yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit (Prabaswara, I Made, 2003).
Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Muh. Yamin menyebutnyebut ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu sendirian. Namun I Gusti Bagus Sugriwa
(temannya dari Buleleng) yang duduk di sampingnya sontak menyambut
sambungan ungkapan itu dengan tan hana dharma mangrwa. Sambungan
spontan ini di samping menyenangkan Yamin, sekaligus menunjukkan bahwa di Bali
ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu masih hidup dan dipelajari orang (Prabaswara, I
Made, 2003). Meksipun Kitab Sutasoma ditulis oleh seorang sastrawan Buddha,
pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat intelektual Hindu Bali.
Para pendiri bangsa Indonesia yang sebagian besar beragama Islam tampaknya
cukup toleran untuk menerima warisan Mpu Tantular tersebut. Sikap toleran ini
merupakan watak dasar suku-suku bangsa di Indonesia yang telah mengenal
beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi, jauh sebelum Islam datang

ke Nusantara. Sekalipun dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit abad XV, pengaruh


Hindu-Budha secara politik sudah sangat melemah, secara kultural pengaruh
tersebut tetap lestari sampai hari ini (Maarif A. Syafii, 2011).
Bhinneka Tunggal Ika dalam Konteks Indonesia
Indonesia beruntuk telah memiliki falsafah bhinneka tunggal ika sejak dahulu ketika
negara barat masih mulai memerhatikan tentang konsep keberagaman.
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keberagaman. Jika dilihat dari
kondisi alam saja Indonesia sangat kaya akan ragam flora dan fauna, yang tersebar
dari ujung timur ke ujung barat serta utara ke selatan di sekitar kurang lebih 17508
pulau. Indonesia juga didiami banyak suku(sekitar kurang lebih 1128 suku) yang
menguasai bahasa daerah masing-masing(sekitar 77 bahasa daerah) dan menganut
berbagai agama dan kepercayaan. Keberagaman ini adalah ciri bangsa Indonesia.
Warisan kebudayaan yang berasal dari masa-masa kerajaan hindu, budha dan islam
tetap lestari dan berakar di masyarakat. Atas dasar ini, para pendiri negara sepakat
untuk menggunakan bhinneka tunggal ika yang berarti "berbeda-beda tapi tetap
satu jua" sebagai semboyan negara.
Bangsa Indonesia sudah berabad-abad hidup dalam kebersamaan dengan
keberagaman dan perbedaan. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat istiadat, agama,
dan berbagai perbedaan lainya. Perbedaan tersebut dijadikan para leluhur sebagai
modal untuk membangun bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang besar. Sejarah
mencatat bahwa seluruh anak bangsa yang berasal dari berbagai suku semua
terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua ikut berjuang
dengan mengambil peran masing-masing.
Kesadaran terhadap tantangan dan cita-cita untuk membangun sebuah bangsa
telah dipikirkan secara mendalam oleh para pendiri bangsa Indonesia.
Keberagaman dan kekhasan sebagai sebuah realitas masyarakat dan lingkungan
serta cita-cita untuk membangun bangsa dirumuskan dalam semboyan Bhinneka
Tunggal Ika. Ke-bhinneka-an merupakan realitas sosial, sedangkan ke-tunggal-ika-an
adalah sebuah cita-cita kebangsaan. Wahana yang digagas sebagai jembatan
emas untuk menuju pembentukan sebuah ikatan yang merangkul keberagaman
dalam sebuah bangsa adalah sebuah negara yang merdeka dan berdaulat,
Indonesia.
Para pendiri negara juga mencantumkan banyak sekali pasal-pasal yang mengatur
tentang keberagaman. Salah satu pasal tersebut adalah tentang pentingnya
keberagaman dalam pembangunan selanjutnya diperkukuh dengan semboyan
Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana tercantum dalam ketentuan Pasal 36A UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal
Ika.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang mengungkapkan persatuan dan


kesatuan yang berasal dari keanekaragaman.