Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian dari
dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau
bagian lemah dari lapisan muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong,
dan isi hernia.
Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponible bila isi hernia dapat keluar
masuk, usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong
masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Bila kantong isi hernia tidak dapat
dikembalikan kedalam rongga disebut hernia irreponible. Hal ini biasanya disebabkan oleh
perlekatan isi kantong dan pada peritoneum kantong hernia.
Bila cincin hernia terjepit oleh cincin hernia disebut hernia inkarserata atau hernia
strangulare. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapt kembali ke rongga
perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi.
Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia dengan gangguan
pasase, sedangkan vaskularisasi disebut sebagai hernia strangulare. Pada keadaan sebenarnya
gangguan vaskularisasi terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan
mulai dari bendungan sampai nekrosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
Regio inguinalis untuk beberapa struktur merupakan tempat peralihan dari daerah perut
ke organ organ kelamin luar dan ke tungkai bagian atas. Garis pemisah anatomis antara kedua
daerah tersebut di bentuk oleh ligamentum inguinale (poupart) yang terletak diantara tuberculum
ossis pubikum, pada sisi medialnya dan spina illiaka anterior superior, pada sisi lateralnya.
Sebenarnya ligamentum inguinale ini merupakan tempat pertemuan fascia yang menutupi
permukaan perut dan fascia yang menutupi permukaan tungkai (fascia lata).2
Di atas ligamentum inguinale, funikulus spermatikus meninggalkan rongga perut melalui anulus
inguinalis profundus yang terletak di sebelah lateral. Funikulus spermatikusini menembus
dinding perut melalui kanalis inguinalis yang terletak sejajar dengan ligamentum inguinale dan
berada di bawah kulit dalam annulus inguinalis superfisialis yang terletak di sebelah medial.
Lubang yang di sebutkan belakangan ini dengan mudah dapat diraba di bawah kulit pada dinding
perut, kalau skrotum didorong ke dalam, sertameraba di atas lipatan inguinale. Kanalis inguinalis
dibatasi di kranio lateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari
facia transversalis dan aponeurosis m. Transversus abdominis. 2
Di medial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus,
bagian terbuka dari aponeurosis m. obliqus eksternus. Atapnya ialah m. obliqus internus dan m.
transverses abdominis, dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale, bagian depan dibatasi oleh
aponeorosis m. obliqus abdominis eksternus, belakang m. obliqus abdominis internus. Kanal
berisi tali sperma pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.4

Hernia inguinalis lateralis (indirek),


karena keluar dari rongga peritonem
melalui annulus inguinalis internus
yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior,kemudian hernia masuk kedalam kanalis
inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. Apabila
hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Sedangkan
hernia inguinalis medialis (direk), menonjol langsung kedepan melalui trigonum Hesselbach di
batasi oleh :
inferior : ligamentum inguinale
lateral : vasa epigastrica inferior
medial : tepi lateral musculus rectus abdominis.2

Aponeurosis Obliqus External


Aponeurosis

otot

obliquus

eksternus

dibentuk oleh dua lapisan: superficial


dan profunda.

Bersama

dengan

aponeorosis otot obliqus internus dan transversus abdominis, mereka membentuk sarung rectus
dan akhirnya linea alba. external oblique aponeurosis menjadi batas superficial dari kanalis

inguinalis. Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke tuberculum
pubicum.4,5
`

Otot Oblique internus


Otot obliq abdominis internus
menjadi tepi atas dari kanalis
inguinalis . bagian medial dari internal oblique aponeurosis menyatu dengan serat dari
aponeurosis transversus abdominis dekat tuberculum pubicum untuk membentuk conjoined
tendon. adanya conjoined tendon yang sebenarnya telah banyak diperdebatkan, tetapi diduga
oleh banyak ahli bedah muncul pada10% pasien.3,4,5
Fascia Transversalis
Fascia transversalis dianggap suatu kelanjutan dari otot transversalis dan aponeurosisnya. Fascia
transversalis digambarkan oleh Cooper memiliki 2 lapisan. fascia transversalis dapat dibagi
menjadi dua bagian, satu terletak sedikit sebelum yang lainnya, bagian dalam lebih tipis dari
bagian luar, ia keluar dari tendon otot transversalis pada bagiandalam dari spermatic cord dan
berikatan ke linea semulunaris.5
Fascia Transversalis

Ligamentum Cooper
Ligamentum Cooper terletak pada bagian belakang ramus pubis dan dibentuk oleh ramus pubis
dan fascia. Ligamentum cooper adalah titik fixasi yang penting dalam metode perbaikan
laparoscopic sebagaimana pada teknik McVay.5
Preperitoneal Space
preperitoneal space terdiri dari jaringan lemak, lymphatics, pembuluh darah dan saraf.Saraf
preperitoneal yang harus diperhatikan oleh ahli bedah adalah nervus cutaneous femorallateral
dan nervus genitofemoral. nervus cutaneous femoral lateral berasal dari serabut L2 danL3 dan
kadang cabang dari nervus femoralis. Nervus ini berjalan sepanjang permukaan anterior otot
iliaca dan dibawah fascia iliaca dan dibawah atau melelui perlekatan sebelah lateralligamentum
inguinal pada spina iliaca anterior superior.6
Nervus genitor femoral biasanya berasal dari L2 atau dari L1 dan L2 dan kadang dari L3.Ia turun
didepan otot psoas dan terbagi menjadi cabang genital dan femoral. Cabang genital masuk ke
kanalis inguinalis melalui cincin dalam sedangkan cabang femoral masuk ke hiatus femoralis
sebelah lateral dari arteri. ductus deferens berjalan melalui preperitoneal space daricaudal ke
cepal dan medial ke lateral ke cincin interna inguinal.Jaringan lemak, lymphatics, ditemukan di
preperitoneal space, dan jumlah jaringanlemak sangat bervariasi.5
Fisiologi

Pada laki- laki, penutupan yang berhubungan dengan terjadinya hernia ini memerlukan
pengetahuan embriologis yang berhubungan dengan turunnya testis. Mula-mula testis tumbuh
sebagai suatu struktur di daerah ginjal dalam abdomen (retroperitoneal).Selama pertumbuhan
foetus testis akan turun (descensus testis) dari dinding belakang abdomen menuju kedalam
scrotum. Selama penurunan ini peritoneum yang terdapat didepannya ikut terbawa serta sebagai
suatu tube, yang melalui kanalis innguinalis masuk kedalam scrotum. Penonjolan peritoneum ini
dikenal sebagai processus vaginalis. Sebelum lahir processus vaginalis ini akan mengalami
obliterasi, kecuali bagian yang mengelilingi testis yang disebut tunika vaginalis. Jika processus
vaginalis tetap ada, akan didapat hubungan langsung antara cavum peritonei dengan scrotum, hal
ini potensial dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis dikemudian hari.5
B. Hernia
1. Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagianlemah
dari dinding rongga bersangkutan (fascia dan muskuloaponeurotik) yang menberi jalankeluar
pada alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.5
2. Etiologi
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang
didapat.Lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita. Berbagai faktor penyebab berperan
pada pembentukan pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat
dilalui oleh kantong dan isi hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong
isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut. Pada orang sehat ada tiga
mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang
berjalan miring, adanya struktur muskulus oblliqus internus abdominis yang menutupi annulus
inguinalis internus ketika berkontraksi, dan adanya fascia transversa yang kuat menutupi
trigonum hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat
menyebabkan hernia. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis
yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut
karena usia.5
Adapun faktor faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap insidensi hernia inguinalis
adalah sebagai berikut :
a. Hereditas

Menurut macready (Cit. Watson, 1948) hernia lebih sering terjadi pada penderita yang
mempunyai orang tua, kakak atau nenek dengan riwayathernia inguinalis.
b. Jenis kelamin
Hernia inguinalis jauh lebih banyak dijumpai pada laki laki dibanding pada wanita (9:1)
(Watson, 1948). Hernia pada laki laki 95% adalah jenis inguinalis, sedangkan pada
wanita 45-50%. Perbedaan prevalensi ini disebabkan karena ukuran ligamentum
rotundum, dan prosentase obliterasi dari processus vaginalis testis lebih kecil dibanding
obliterasi kanalis nuck.
c. Umur
Banyak terjadi pada umur di bawah 1 tahun, oleh macready (Cit. Watson,1948)
disebutkan 17,5% anak laki laki dan 9,16% anak perempuan mempunyai hernia.
Tendensi hernia meningkat sesuai dengan meningkatnya aktifitas, sekitar umur 26 50
tahun insidensi menurun dan setelah umur diatas 50 tahun insidensi meningkat lagi oleh
karena menurunnya kondisi fisik.
d. Konstitusi atau keadaan badanBanyaknya lemak preperitoneal akan mendesak dinding
abdomen danmenimbulkan lokus minoris atau kelemahan kelemahan otot serta
terjadirelaksasi dari anulus.Bila lemak menginfiltrasi ke omentum dan mesenterium akan
mengurangivolume rongga abdomen sehingga terjadi peningkatan tekanan intraabdomen.
e. Kelahiran prematur dan berat lahir yang kecil dianggap sebagai faktor yang memiliki
resiko yang besar untuk menyebabkan hernia. Cacat bawaan,seperti kelainan pelvic atau
ekstrosi pada kandung kemih, dapat menyebabkan kerusakan pada saaluran inguinal tak
langsung. Hal yang jarang terjadi kelainanan bawaan atau cacat collagen dapat
menyebabkan tumbuhnya hernia inguinal langsung (Sabiston ).

3. Klasifikasi Hernia8
1. Hernia secara umum
Hernia Internal yakni tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatulubang
dalam rongga perut seperti foramen Winslow, resesus retrosekalis atau defek
dapatan pada mesentrium umpamanya setelah anastomosis usus.

Hernia eksternal yakni hernia yang menonjol keluar melalui dinding


perut, pinggang atau peritoneum
2. Hernia berdasarkan terjadinya
Hernia bawaan atau kongenital yakni didapat sejak lahir atau sudah adasemenjak
pertama kali lahir.
Hernia dapatan atau akuisita yang merupakan bukan bawaan sejak lahir,tetapi
hernia yang didapat setelah tumbuh dan berkembang setelah lahir
3. Hernia menurut letaknya
Obturatorius
Yakni hernia melalui foramen obturatoria. Hernia ini berlangsung 4 tahap.Tahap
pertama mula mula tonjolan lemak retroperitoneal masuk kedalamkanalis
obturatoria. Tahap kedua disusul oleh tonjolan peritoneum parietal.Tahap ketiga,
kantong hernianya mungkin diisi oleh lekuk usus. Dan tahap keempat mengalami
inkarserasi parsial, sering secara Ritcher atau total.
Epigastrika
Hernia ini juga disebut hernia linea alba yang merupakan hernia yang
keluar melalui

defek

dilinea

alba

antara

umbilicus

dan

processus

xifoideus.Penderita sering mengeluh kurang enak pada perut dan mual, mirip
keluhankelainan kandung empedu, tukak peptic atau hernia hiatus esophagus.
4.

Hernia menurut sifatnya/secara klinik


Hernia reponibel
Disebut begitu jika isi Hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiriatau
mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak
adakeluhan nyeri.
Hernia ireponibel
Bila isi kantong tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Hernia ini disebut
juga hernia akreta dan tidak ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan
usus.Hernia inkarserata atau hernia strangulate. Hernia inkarserata berarti isi
kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai
akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Hernia strangulata

terjadi gangguan vaskularisasi, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari


bendungan sampai nekrosis (Syamsuhidayat dan Wimde Jong, 2012).
5. Patofisiologi9
1

Hernia Inguinalis
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari
kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan
testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan
peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir
umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak
dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup,
karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis
inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang
terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka
terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis
lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi kerana usia
lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan
bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada
orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan
locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra
abdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin yang kuat dan
mengangkat barang barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu
jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding
rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan,
obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua.1
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat
reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi
perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia
tidak dapat dimasukkan kembali.Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat
semakin banyaknya usus yang masuk, cincinhernia menjadi sempit dan

menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bilaterjadi obtruksi


usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis.Bila
terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah,
konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema
sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.3,4,5
Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi
perutterjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. Komplikasi
hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi
usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat
menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.1,2
6. Diagnosis
Anamnesis
Anamnesis yang terarah sangat membantu dalam menegakkan diagnosis. Uraian lebih lanjut
tentang

keluhan

utama,

misalnya

bagaimana

sifat

keluhan,

dimana

lokasi

dan

kemana penjalarannya, bagaimana awal serangan dan urutan kejadiannya, adanya faktor yang
memperberat dan memperingan keluhan, adanya keluhan lain yang berhubungan perluditanyakan
dalam diagnosis. Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu- satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengejan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri
jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan didaerah epigastrium atau para umbilical berupa
nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmenusus halus masuk
kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi
inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren .5 Pasien sering mengeluh
tidak nyaman dan pegal pada daerah inguinal, dan dapat dihilangkan dengan reposisi manual
kedalam kavitas peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan, maka
biasanya hernia muncul lagi (Sabiston,).7
Pemeriksaan fisik 10
Semua hernia mempunyai tiga bagian yaitu kantong, isi dan bungkusnya. Semua ini tergantung
pada letak hernia, isi kantong hernia omentum yang terbanyak ditemukan. Kemudian ileum,
jejunum, dan sigmoid. Appendiks bagian bagian lain dari kolon, lambung, dan bahkan hepar
pernah dilaporkan terdapat di dalam kantong hernia yang besar. Omentum teraba relative bersifat

plastis dan sedikit noduler. Usus bisa dicurigai apabila kantong teraba halus dan tegang seperti
hydrocele, tetapi tidak tembus cahaya. Kadang kadang pemeriksa bisa merasakan gas bergerak
didalam lengkung usus atau dengan auskultasi bisa menunjukkan peristaltik. Lengkung usus
yang berisi gas akan tympani pada perkusi . Dalam keadaan penderita berdiri gaya berat akan
rnenyebabkan hernia lebih mudah dilihat dan pemeriksaan pada penderita dalam keadaan berdiri
dapat dilakukan dengan lebih menyeluruh. Dengan kedudukan penderita berbaring akan lebih
mudah melakukan pemeriksaan raba. Andai kata terdapat hernia, lebih mudah dapat melakukan
reposisi dan sisa pemeriksaan (perut dantungkai) lebih mudah dilakukan.
Inspeksi
Pembengkakan yang timbul mulai dari regio inguinalis dan mencapai labium majus atau sampai
dasar skrotum, selalu merupakan hernia inguinalis lateralis. Kalau tidak ada pembengkakan yang
dapat kila lihat, penderita disuruh batuk. Kalau pembengkakan yang kemudian terlihat kemudian
berada di atas lipatan inguinal dan berjalan miring dan lateral atas menuju ke medial bawah,
maka pembengkakan tersebut adalah hernia inguinalis lateralis. Tetapi kalau pembengkakan itu
kelihatannya langsung muncul ke depan, maka kita berhadapan dengan hernia inguinalis
medialis.
Palpasi
Dapat untuk menentukan macam hernianya. Untuk memeriksa pelipatan paha kiri digunakan
tangan kiri, pelipatan paha kanan dipakai tangan kanan. Caranya:
Pemeriksaan Ziemen Test :
1

Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya oleh penderita).

Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.

Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :

jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.

jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.

jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Pemeriksaan

Thumb Test :

Anulus internus ditekan dengan ibu


jari dan penderita disuruh mengejan

Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.

Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

Pemeriksaan Finger Test :


1

Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.


2

Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal.

Penderita disuruh batuk : Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis
Lateralis.

Bila impuls disamping jari berarti Hernia Inguinnalis Medialis.

Perkusi
Bila isinya gas pada usus akan terdengar bunyi timpani. Bila didapatkan perkusi
perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata.
Hipertimpani, terdengar pekak.
Auskultasi
Terdengar suara usus, bila auskultasi negatif maka kemungkinan isi hernia
berupaomentum. Auskultasi juga bisa untuk mengetahui derajat obstruksi usus.
Pemeriksaan Penunjang9
Hasil laboratorium

Leukosit > 10.000 18.000 / mm3

Serum elektrolit meningkat

Pemeriksaan radiologis

Herniografi
Dalam teknik ini, 50 - 80 ml medium kontras iodin positif di masukkan dalam
wadah peritoneal dengan menggunakan jarum yang lembut. Pasien berbaring
dengan kepala terangkat dan membentuk sudut kira- kira 250. Tempat yang

kontras di daerah inguinalis yang diam atau bergerak dari sisi satu ke sisi lain
akan mendorong terwujudnya kolam kecil pada daerah inguinal. Tiga fossa
inguinal adalah supra pubik, medial dan lateral. Pada umumnya fossa inguinal
tidak mcncapai ke seberang pinggir tulang pinggang agak ke tengah dan
dinding inguinal posterior. Hernia tak langsung muncul dari fossa lateral yang
menonjol dari fossa medial atau hernia langsung medial yang menonjol dari
fossa suprapubik.

Ultrasonografi
Teknik ini dipakai pada perbedaan gumpalan dalam segitiga femoral

Tomografi komputer
Dengan teknik ini mungkin sedikit kasus hernia dapat dideteksi.

7. Penatalaksanaan 6
Penanganan DI IGD
Mengurangi hernia. Memberikan sedasi yang adekuat dan analgetik untuk mencegah
nyeri. Pasien harus istirahat agar tekanan intra abdominal tidak meningkat.
Menurunkan tegangan otot abdomen.Posisikan pasien berbaring terlentang dengan
bantal di bawah lutut.Pasien pada posisi Trendelenburg dengan sudut sekitar 15-20
terhadap hernia inguinalis.
Kompres

dengan

kantung

dingin

untuk

mengurangi

pembengkakan

dan

menimbulkan proses analgesia.


Posisikan kaki ipsi lateral dengan rotasi eksterna dan posisi flexi unilateral (seperti
kaki kodok)
Posisikan dua jari di ujung cincin hernia untuk mencegah penonjolan yang berlanjut
selama proses reduksi penonjolan.
Usahakan penekanan yang tetap pada sisi hernia yang bertujuan untu
mengembalikan isi hernia ke atas. Jika dilakukan penekanan ke arah apeks akan
menyebabkan isi hernia keluar dari pintu hernia.

Konsul ke ahli bedah jika usaha reduksi tidak berhasil dalam 2 kali
percobaanmTeknik reduksi spontan memerlukan sedasi dam analgetik yang adekuat
dan posisikan Trendelenburg, dan kompres dingin selam 20-30 menit.
Konsul bedah jika :
Reduksi hernia yang tidak berhasil
Adanya tanda strangulasi dan keadaan umum pasien yang memburuk
Hernia

ingunalis

harus

dioperasi

meskipun

ada

sedikit

beberapa

kontraindikasi . penanganan ini teruntuk semua pasien tanpa pandang umur


inkarserasi dan strangulasi hal yang ditakutkan dibandingkan dengan resiko
operasinya.
Pada pasien geriatri sebaiknya dilakukan operasi elektif agar kondisi kesehatan saat
dilakukan operasi dalam keadaan optimal dan anestesi dapat dilakukan. Operasi yang
cito mempunyai resiko yang besar pada pasien geriatri.
Jika pasien menderita hyperplasia prostate akan lebih bijaksana apabila
dilakukan penanganan terlebih dahulu terhadap hiperplasianya. Mengingat tingginya
resiko infeksi traktus urinarius dan retensi urin pada saat operasi hernia.
Karena kemungkinannya terjadi inkarserasi, strangulasi, dan nyeri pada hernia
makaoperasi yang cito harus di lakukan. Pelaksanaan non operasi untuk mengurangi
herniainkerserasi dapat dicoba. Pasien di posisikan dengan panggul dielevasikan dan
di beri.analgetik dan obat sedasi untuk merelaxkan otot-otot.
Operasi hernia dapat ditunda jika massa hernia dapat dimanipulasi dan tidak ada
gejala strangulasi.
Pada saat operasi harus dilakukan eksplorasi abdomen untuk memastikan usus
masihhidup, ada tanda-tanda leukositosis.
Gejala klinik peritonitis, kantung hernia berisi cairan darah yang berwarna gelap.
Konservatif
Pengobatan konservatif bukan merupakan tindakan definitif sehingga dapat kambuh lagi.
Reposisi
Suatu usaha atau tindakan untuk memasukkan atau mengembalikan isi hernia
kedalam cavum peritoneum atau abdomen secara hati-hati dan dengan tekanan yang

lembut dan pasti. Reposisi ini dilakukan pada hernia inguinalis yang reponibel dengan
cara memakai kedua tangan. Tangan yang satu memegang lekuk yang sesuai dengan
pintunya (leher hernia diraba secara hati-hati, pintu dilebarkan), sedangkan tangan
yang lainnya memasukkan isi hernia melalui pintu tersebut. Reposisi ini kadang
dilakukan pada hernia inguinalis irreponibel pada pasien yang takut operasi. Caranya,
bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 ml supaya
pasien tidur, posisi tidur trendelenberg. Hal ini rnemudahkan memasukkan isi
hernianya. Jika gagal tidak boleh dipaksakan, lebih baik dilakukan operasi pada hari
berikutnya.
Suntikan
Dilakukan setelah reposisi berhasil. Dengan rnenyuntikkan cairan sklerotik berupa
alkohol atau kinin di daerah sekitar hernia, rnenyebabkan pintu hernia mengalami
sklerosis atau penyempitan, sehingga isi hernia tidak akan keluar lagi dari cavum
peritonei.
Sabuk hernia
Sabuk ini diberikan pada pasien dengan pintu hernia yang rnasih kecil dan menolak
dilakukan operasi . Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia
yang telah di reposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai
seumur hidup.
Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yangrasional.

Indikasi

operasi

sudah

ada

begitu

diagnosis

ditegakkan

(Syamsuhidayat dan Wim deJong 2012).


Operasi hernia ada 3 tahap

Herniotomy

yaitu

membuka

dan

memotong

kantong

hernia

serta

leher

hernia

dan

mengembalikan isi ke cavum abdominalis.

Herniorafi

yaitu

mulai

dari

mengikat

menggantungkannya pada conjoint tendon.

Hernioplasty yaitu memberi kekuatan pada dinding perut dan menghilangkan


locus minnoris resistentiae.

8. Prognosis5

Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi kantong hernia
.Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus segera ditangani. Penyulit pasca bedah
seperti nyeri pasca herniorafi, atrofi testis, dan rekurensi hernia umumnya dapat diatasi .

BAB III
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
Identitas Pasien
Nama

: Tn Andi Abdul Rahman

Umur

: 36 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: jl Nenas lrg 1 no 7B

Pekerjaan

:-

Pendidikan Terakhir : S1
Status Kawin

: Menikah

Agama

: Islam

No Rekam Medik

: 476028

Masuk Rumah Sakit : Senin, 23 Oktober 2015 pukul 02.45 WITA


Anamnesis
Keluhan Utama
Keluar benjolan di scrotum sebelah kanan
Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien merupakan pasien rujukan dr. Alfreth Sp.B dengan Hernia Inguinalis Lateral Dextra. Pasien mulai
mengalami keluhan muncul benjolan di scrotum kanannya sejak 5 tahun yang lalu, awalnya benjolan tersebut
kecil. Jika pasien berdiri dan mengejan benjolan tersebut keluar, namun saat berbaring dapat masuk lagi. Pasien
mengaku benjolan dirasakan nyeri, dan juga tidak pernah merah di sekitar daerah benjolan. Nafsu makan pasien
baik, berat badan tidak pernah menurun. Pasien mengaku sejak 4 hari yang lalu benjolam tidak dapat
dimasukan lagi. Pasien tidak mengeluh mual, muntah, tidak mengalami gangguan BAB dan masih bisa kentut.
Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi tidak ada


Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: TD = 110/70 mmHg, N = 84 x/menit, RR = 20 x/menit, T = 36,5 0C

Status generalisata:
Kepala

: Normochepali

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-),sclera ikterik (-/-)

THT

: Tidak ada kelainan

Bibir

: Tidak sianosis, mucosa tidak pucat

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)


Thorak :simetris

Cor

: BJ I/II tunggal regular, gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen
Ekstremitas

: datar, lemas, nyeri tekan (-) BU (+)


: Akral dingin, edema tungkai (-)

Status Lokalis:
Regio inguinalis D :
Inspeksi

: terdapat benjolan pada daerah scrotalis dextra, diameter 12 cm x


6 cm, warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan.

Palpasi

: tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, tidak dapat
dimasukkan, transluminasi (-), nyeri tekan. Auskultasi : bising usus
(+).

3.4. Pemeriksaan Penunjang


Hb

: 15,6 gr/dl

Leukosit

: 5000 /ul

Trombosit

: 466.000/ul

Ht

: 35%

3.5. Diagnosis Kerja


Hernia Scrotalis Dextra Inkarserata
3.6. Penatalaksanaan
a. Observasi keadaan umum dan tanda vital pasien

b. IVFD RL gtt 20x/menit


c. pro hernioraffi
3.7. Follow up
Waktu
Jumat, 23 Oktober 2015

Observasi
S: keluar benjolan discrotum kanan, Nyeri
O: KU`: Baik, kesadaran: kompos mentis
TD = 110/700 mmHg, N = 84 x/menit, RR =
20 x/menit, T = 36,5 0C
A: Hernia Inguinalis Dextra Inkarserata
P: -Observasi keadaan umum dan tanda vital
pasien
-IVFD RL gtt 20x/menit
- Pasang Kateter
- Pasang NGT
- Ketorolac 3x1
-Pro hernioraffi

Waktu

Observasi

Sabtu, 24 Oktober 2015

S: nyeri luka operasi, mual (+)


O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N 78: x/menit, RR:
16x/menit, T : 36,4 0C
A: post hernioraffi H0
P: - IVFD RL gtt xx
-ceftriaxone 3x 1gr
- sharox 2x 750 mg
-Omenprazole 2x1
-as. Traneksamat 3x1

Waktu

Observasi

Minggu, 25 Oktober 2015

S: nyeri luka operasi (+)


O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N 78:

x/menit, RR:

16x/menit,T :36,4 0C
A: post hernioraffi H1
P: - IVFD RL gtt xx
-ceftriaxone 3x 1gr
- sharox 2x 750 mg
-Omenprazole 2x1
-as. Traneksamat 3x1

Waktu
Senin, 26 Oktober 2015

Observasi
S: nyeri luka operasi berkurang, Mual (+)
O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N 78:

x/menit, RR:

16x/menit, T : 36,4 0C
A: post hernioraffi H2
P: - IVFD RL gtt xx
-ceftriaxone 3x 1gr
- sharox 2x 750 mg
-Omenprazole 2x1
-as. Traneksamat 3x1

Waktu
Selasa, 27 Oktober 2015

Observasi
S: nyeri luka operasi berkurang, Mual (+)
O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N 78:
16x/menit, T : 36,4 0C
Aff NGT

x/menit, RR:

Pindah Ruanggan

A: post hernioraffi H3
P: - IVFD RL gtt xx
-ceftriaxone 3x 1gr
- sharox 2x 750 mg
-Omenprazole 2x1
-as. Traneksamat 3x1

Waktu
Rabu, 28 Oktober 2015

Observasi
S: Tidak ada Keluhan
O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80,mmHg, N 78:

x/menit, RR:

16x/menit, T : 36,4 0C
A: post hernioraffi H4
P: - IVFD RL gtt xx
- sharox 2x 750 mg
-as. Traneksamat 3x1

Waktu
Kamis, 29 Oktober 2015

Observasi
S: nyeri luka operasi
O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N 78: x/menit, RR:
16x/menit, T : 36,4 0C

A: post hernioraffi H5
P: - IVFD RL gtt xx
- sharox 2x 750 mg
-as. Traneksamat 3x1
Pasien boleh pulang

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien ini di diagnosa hernia scrotalis inkarserata dari anamnesis didapatkan muncul
benjolan di scrotum kanannya sejak 5 tahun yang lalu, awalnya benjolan tersebut kecil. Jika pasien berdiri dan
mengejan benjolan tersebut keluar, namun saat berbaring dapat masuk lagi. Pasien mengaku benjolan dirasakan
nyeri, dan juga tidak pernah merah di sekitar daerah benjolan. Nafsu makan pasien baik, berat badan tidak pernah
menurun. Pasien mengaku sejak 4 hari yang lalu benjolam tidak dapat dimasukan lagi. Pasien tidak mengeluh mual,
muntah, tidak mengalami gangguan BAB dan masih bisa kentut.
Melanjutnya benjolan dari lipat paha kanan hingga ke skrotum kanan, menunjukkan bahwa
hernia pada penderita adalah hernia skrotalis, yang merupakan lanjutan dari hernia inguinalis
lateralis. Adanya gejala benjolan yang tidak dapat hilang dengan istirahat/berbaring serta adanya
tanda gangguan pasase usus berupa mual muntah, dan kembung adalah akibat dari semakin
banyaknya isi hernia yang masuk akan terjepit oleh cincin hernia dan tidak dapat kembali ke
rongga perut. Hernia skrotalis irreponible dengan gangguan pasase usus ini yang disebut hernia
skrotalis inkarserata.
Pada pemeriksaan terdapat benjolan pada daerah scrotalis dextra, diameter 12 cm x 6 cm,
warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan. Palpasi tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak
jelas, tidak dapat dimasukkan, transluminasi (-), nyeri tekan. Auskultasi : bising usus (+). pada
penderita juga mendukung diagnosis hernia skrotalis dextra inkarserata. Dari keadaan umum,
pasien tampak kesakitan namun tidak didapatkan adanya tanda dehidrasi. Hal ini dimungkinkan

karena proses gangguan pasase usus terjadi sebagian. Pada regio inguinal dextra sampai scrotum
dextra ditemukan benjolan berbentuk seperti buah pir dengan konsistensi kenyal, warna sama
dengan kulit sekitar, tidak kemerahan dan tidak adanya perbedaan suhu dengan kulit sekitar,
tidak ada fluktuasi dan testis teraba terpisah dari benjolan. Untuk menyingkirkan diagnosis
banding hidrokele, penderita diminta untuk mengejan, hernia tampak lebih besar dan dilakukan
test diafanoskopi, didapatkan hasil negatif.
Penatalaksanaan pada kasus ini dibagi menjadi penatalaksanaan awal yang bersifat suportif
dan penatalaksanaan lanjut yang bersifat definitif. Untuk penatalaksanaan awal, penderita dapat
diposisikan Tredelenburg, dimana posisi kepala lebih rendah dari kaki. Karena terjadi inkarserata
pada hernia penderita, diperlukan pemasangan NGT untuk dekompresi (mengurangi tekanan
intraabdomen akibat obstruksi), pemasangan infus RL 20 tpm untuk menghindari dehidrasi
akibat obstruksi usus yang terjadi, dan pemasangan kateter urin untuk memantau balance cairan.
Analgetik diberikan untuk mengurangi nyeri pada penderita, analgetik yang diberikan berupa
injeksi ketorolac 1 x 3 mg.
Untuk penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan penatalaksanaan secara operatif dengan
hernioraffi observasi keadaan umum, vitas sign, lalu diberikan cairan infus RL gtt xx, dan
direncanakan akan dilakukan hernioraffi. Terapi yang diberikan pada kasus ini sudah tepat,
karena pada pasien yang menderita hernia Inkarserata tatalaksananya adalah dengan terapi
pembedahan.
Pada tanggal 24 Oktober 2015 pasien dilakukan Hernioraffi, operasi yang terdiri dari
herniotomi dan hernioplasty untuk pembebasan kantong hernia dan memperkecil anulus
inguinalis, Operasi pada penderita harus dilakukan segera karena adanya tanda awal inkarserata
yang harus segera dilakukan reposisi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada usus. Pada

penderita dilakukan operasi hernioraphy dengan pemasangan mesh. Pada operasi ini dilakukan
pembukaan kantong hernia dan reposisi usus, serta untuk memperbaiki defek ditempatkan
sebuah prosthesis, mesh yang tidak diserap. Hasil yang baik dengan teknik ini dapat mengurangi
angka kekambuhan hingga kurang dari 1 %. Program pre operasi yang dilakukan pada penderita
adalah puasa 8 jam serta pemberian antibiotik profilaksis berupa injeksi ceftriakson 2x1 gr.
Pasien pulang dengan kondisi perbaikan hari perawatan ke 4 post operasi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunicardi, F Charles. 2005. Inguinal Hernias. Schwartzs Principles of Surgery. Eighth


edition. New York. Mc Graw-Hill. 1353-1394.

Widjaja, H, Anatomi abdomen, Jakarta, EGC, 2007, Hal : 21-25.

Schwartz, Shires, Spencer, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6, EGC, Jakarta,

Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery.17th Edition.


Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217

Syamsuhidayat, R, and Wim de Jong, (2012), Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, 706-710,
EGC, Jakarta.

InguinalHernia: Anatomy and Managemen


thttp://www.medscape.com/viewarticle/420354_4

Dunphy, J.E, M.D, F.A.C.S. dan Botsford, M.D, F.A.C.S, Pemeriksaan Fisik Bedah,edisi ke4, 145-146, Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta.

Dudley and Waxmann, Scott; An Aid to Clinical Surgery, 4nd ed, 247, Longman Singapore
Publisher Ltd, Singapore.

Sabiston, Buku Ajar Ilmu Bedah, bagian I, cetakan ke-dua, EGC, Jakarta, 1995. Hal :228,
243.

REFLEKSI KASUS

Desember 2015

HERNIA SCROTALIS DEXTRA INKARSERATA

OLEH :
REZKY SARTIKA
N 111 13 067

PEMBIMBING KLINIK:
dr. ROBERTHY D. MAELISSA, Sp.B

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN KLINIK


BAGIAN BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TADULAKO
DESEMBER
2015