Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Piagam Madinah merupakan sebuah catatan sejarah yang tidak akan


pernah hilang dari memori kejayaan Islam. Kerana piagam ini merupakan
bukti nyata bahawa islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur
dalam kegiatan yang bersifat religious saja tetapi merupakan agama yang
mencakupi semua aspek kehidupan manusia. Rasulullah telah memberikan
contohnya kepada kita semua bagaimana hidup bermasyarakat, berbangsa,
beragama, dan bernegara. Sehingga islam benar-benar menjadi agama yang
Rahmatan Lilalamiin.
Piagam Madinah juga merupakan konstitusi terbaik yang pernah ada
dalam

sejarah

karena

didalamnya

terdapat

peraturan

yang

lengkap

mencakupi semua aspek kehidupan masyarakat dalam kehidupan beragama,


berbangsa, dan bernegara. Piagam Madinah juga merupakan rangkaian
peraturan yang telah disepakati oleh seluruh penduduk Yastrib (Madinah),
yang mampu mempersatukan antara seluruh kaum, suku dan penganut
kepercayaan yang ada di dalamnya sehingga menjadi sebuah satu kesatuan
(ummat) yang saling menghormati dan melindungi satu sama lain.
Walaubagaimanapun Piagam Madinah disepakati tidak lama sesudah
umat muslim pindah ke Yatsrib yang waktu itu masih tinggi rasa
kesukuannya. Oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui motif apa yang
menjadi latar belakang hijrahnya umat Muslim Mekkah ke Madinah yang
waktu itu masih bernama Yatsrib. Hal ini penting untuk kita mengetahui
mengapa agama Islam yang lahir di Mekkah itu justru malah kemudian dapat
berkembang subur di Madinah. Dan kemudian mendapat kedudukan yang
kuat setelah adanya persetujuan Piagam Madinah.

Dakwah Nabi di Mekkah dapat dikatakan kurang berhasil. Sampai


kepada tahun kesepuluh kenabian baru sedikit orang yang menyatakan diri
masuk Islam. Tetapi ada beberapa diantaranya yang memeluk agama Islam
dengan sepenuh hati mereka.Sebelum Nabi melaksanakan hijrah, Beliau
banyak mendapat ancaman dari kafir Quraisy. Tidak hanya gangguan psikis
yang beliau alami, tapi juga diancam secara fisik. Bahkan beberapa kali
diancam

untuk

dibunuh.

Tapi

Nabi

selalu

sabar

dalam

menghadapi

gangguan-gangguan tersebut. Dasar yang dipakai Nabi dalam menghadapi


gangguan kaum kafir Quraisy tersebut adalah surat Fushshilat ayat 34, yang
berbunyi :




{ 34:




}


Ertinya: Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan


itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat
setia. (QS. Fushshilat : 34).[3]

Sebelum Nabi melaksanakan hijrah, Beliau banyak mendapat ancaman


dari kafir Quraisy. Tidak hanya gangguan psikis yang Beliau alami, tapi juga
diancam secara fisik. Bahkan beberapa kali diancam untuk dibunuh. Tapi
Nabi selalu sabar dalam menghadapi gangguan-gangguan tersebut. Dasar
yang dipakai Nabi dalam menghadapi gangguan kaum kafir Quraisy tersebut
adalah surat Fushshilat ayat 34, yang berbunyi :Kota Yatsrib mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan Nabi. Bukan saja karena Makkah dan

Yatsrib sama-sama berada di propinsi Hijaz, tetapi juga beberapa faktor lain
yang ikut menentukan, yaitu :
Pertama, Abdul Muthalib, iaitu bapa saudara Nabi lahir dan dibesarkan
di Madinah ini sebelum akhirnya menetap di Makkah. Apalagi hubungan
bapa saudara nabi dan cucu ini sangat erat dan penuh kasih sayang. Maka
hubungan bapa saudara nabi yang erat dengan Madinah juga membawa
bekasnya pada diri Nabi.Kedua, ayahanda Rasulullah, Abdullah ibn Abdul
Muthalib wafat dan dimakamkan di Madinah. Nabi pernah ziarah ke sana
bersama ibundanya. Ibunda Nabi wafat dalam perjalanan pulang dari ziarah
tersebut. Dengan demikian Madinah bukan tempat yang asing bagi Nabi.
Setidak-tidaknya Nabi pernah berhubungan dengan kota atau penduduk kota
tersebut.
Ketiga, Penduduk Madinah dari suku Arab bani Nadjar punya hubungan
kekerabatan dengan Nabi. Kedatangan Nabi di Madinah disambut layaknya
kerabat yang datang dari jauh, bukan orang asing.Keempat, Sebagian besar
penduduk kota Yatsrib punya mata pencaharian sebagai petani, di samping
itu iklim di sana lebih menyenangkan dari pada kota Makkah. Untuk itu dapat
dimaklumi

bila

penduduknya

lebih

ramah

dibandingkan

kehormatan

membantu agama ini.


Demikian

beberapa

faktor

yang

dapat

kami

kemukakan

yang

membantu diterimanya Nabi di Madinah dan mengapa Nabi memilih kota


Yatsrib atau Madinah sebagai kota tempat tujuan Hijrahya, selain itu juga
merupakan petunjuk Allah yang memberi jalan bagi terbukanya syiar agama
Islam.Sejak Nabi hijrah ke Madinah dan sesudah menetap di sana dan
setelah masjid dan rumah beliau siap didirikan, tidak lain yang menjadi
fikirannya adalah menyiarkan agama Islam, sebagai tujuan utama beliau.
Sebagai seorang pemimpin, maka beliau merasa punya tanggung
jawab besar terhadap diri dan pengikutnya. Beliau tidak saja penduduk kota
Makkah.Kelima, Selain berbagai faktor di atas, juga khabar akan datangnya

Rasul akhir jaman sudah di dengar orang-orang Yatsrib dari orang-orang


Yahudi d Yatsrib. Mereka mengharap-harap dan menunggu-nunggu untuk
mendapat
harus giat menyiarkan agama Islam, tetapi juga sebagai seorang pemimpin
tidak boleh membiarkan musuh-musuh dari dalam dan dari luar menggangg
kehidupan masyarakat muslim. Pada tahap ini beliau menghadapi tiga
kesulitan utama :
a.

Bahaya dari kalangan Quraisy dan kaum Musyrik lainnya di Jazirah

Arab.
Kaum Yahudi yang tinggal di dalam dan di luar kota dan memiliki kekayaan
dan sumberdaya yang amat besar.
Perbezaan di antara sesama pendukungnya sendiri karena perbezaan
lingkungan hidup mereka.
Perbezaaan lingkungan hidup, maka kaum muslimin Ansar dan Muhajirin
mempunyai latar belakang kultur dan pemikiran yang sangat berbeda. Hal
ini masih di tambah lagi dengan permusuhan sengit yang telah terjadi
selama 120 tahun lebih antara dua suku Anshar, yaitu Bani Aus dan Bani
Khazraj.

Sangat

sulit

bagi

Nabi

mengambil

jalan

tengah

untuk

mempersatukan mereka dalam kehidupan religius dan politik secara damai.


Namun akhirnya Nabi dapat mengatasi masalah tersebut secara damai
dengan cara yang amat bijaksana. Mengenai masalah yang pertama dan
kedua, beliau berhasil mengikat penduduk Madinah dalam suatu perjanjian
yang saling menguntungkan yang akan di bahas nanti. Sedangkan untuk
mengatasi masalah yang ketiga beliau berhasil memecahkannya dengan
jalan keluar yang amat bijak dan sangat jenius.Untuk mengatasi adanya
perbezaan di antara kaum muslimin, maka Nabi mempersaudarakan di
antara mereka layaknya saudara kandungan yang saling berkasih. Jika salah
satu dari kedua bersaudara yang baru dipersatukan tersebut wafat, maka

saudara angkatnya berhak atas seperenam harta warisannya. Perlu diketahui


hukum waris sebagaimana kita kenal sekarang belum berlaku saat itu.
Selama beberapa minggu di Madinah, Rasul menelaah situasi kota
Madinah

dengan

mempelajari

keadaan

politik,

ekonomi,

sosial

dan

sebagainya. Beliau berusaha mencari jalan bagaimana agar penduduk asli


dan kaum muhajirin dapat hidup berdampingan dengan aman. Untuk
mengatasi kesulitan yang pertama dan kedua Nabi Muhammad membuat
suatu perjanjian dengan penduduk Madinah baik Muslimin, Yahudi ataupun
musyrikin.Dalam perjanjian itu ditetapkan tugas dan kewajiban Kaum Yahudi
dan Musyrikin Madinah terhadap Daulah Islamiyah di samping mengakui
kebebasan mereka beragama dan memiliki harta kekayaannya. Dokumen
politik, ekonomi, sosial dan militer bagi segenap penduduk Madinah, baik
Muslimin, Musyrikin, maupun Yahudinya. Secara garis besar perjanjian itu
memuat isi sebagai berikut :

TERBENTUKNYA PIAGAM MADINAH


Piagam Madinah dibuat dengan maksud untuk memberikan wawasan
pada kaum muslimin waktu itu tentang bagaimana

cara bekerja sama

dengan penganut bermacam-macam agama ketuhanan yang lain yang pada


akhirnya menghasilkan kemauan untuk bekerja bersama-sama dalam upaya
mempertahankan agama. Strategi nabi tersebut terbukti sangat ampuh ,
terbukti dengan tidak memerlukan waktu lama masyarakat islam, baik
Muhajirin maupun Anshor

telah mampu mengejawantahkan strategi

tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan strategi tersebut tidak


terlepas dari kepiawaian Nabi dalam melihat kondisi masyarakat sekitarnya
yang sangat. memerlukan arahan dan tauladan dari pemimpin guna
menciptakan keadaan yang lebih baik. Perubahan tatanan masyarakat di
Madinah merupakan tolok ukur dari keberhasilan atas perjanjian damai yang
dibuat oleh nabi.[9]
Pasal-pasal dalam perjanjian tersebut

mencakup hampir semua

kelompok di Madinah dan menjadi semacam front kesatuan. Kaum Yahudi


dan Muslim harus saling membantu jika terjadi serangan terhadap orangorang yang masuk dalam perjanjian ini. Mereka harus menjalin persahabatan
yang

baik,

mengkhianati.

saling

menasihati,

berperilaku

jujur,

dan

tidak

saling

Nabi Muhammad bahkan memasukkan orang-orang pagan

(penyembah berhala) dalam perjanjian ini. Juga berisi berbagai macam


kewajiban yang mengikat semua orang mukmin (kecuali orang pagan dan
Yahudi), dan harus saling membantu anggota kelompoknya yang mempunyai
beban hutang. Jadi perjanjian ini tidak hanya untuk mengatur masyarakat,
tetapi juga meletakkan dasar-dasar sebuah Negara. Di Mekkah, beberapa
anggota senat menjaga kepentingan para pemilik ini,namun di Madinah hal
itu tidak berlaku karena otoritas semacam senat tersebut sehingga tidak ada
lembaga yang melindungi kepentingan para pemilik kekayaan atau individu
dari kejahatan yang merugikan mereka. Perjanjian ini menjadi dasar bagi
berdirinya perwakilan semacam itu. Dalam banyak hal, perjanjian ini
mempunyai arti penting yang revolusioner bagi masyarakat Arab. Nicholson
menulis, Tidak ada orang yang mengkaji masalah ini tanpa merasa terkesan
dengan kepiawaian politik pembuatnya. Sebagai langkah reformasi yang

taktis, perjanjian itu merupakan sebuah revolusi. Muhammad tidak membuka


pintu kemerdekaan suku-suku, tapi menghapuskannya dengan mengganti
pusat kekuasaan dari suku kepada masyarakat, dan meskipun masyarakat
itu terdiri dari kaum Yahudi, pagan, dan kaum muslimin, ia benar-benar bisa
melihat ke depan apa yang tidak diketahui para oponennya, bahwa kaum
Muslimin bersikap aktif dan di masa
itu tentang bagaimana cara bekerja sama dengan penganut bermacammacam agama ketuhanan yang lain yang pada akhirnya menghasilkan
kemauan untuk bekerja bersama-sama dalam upaya mempertahankan
agama.

ISI PIAGAM MADINAH


Terdapat 10 Bahagian dan mengandungi 47 fasal.
23 fasal mengenal peraturan sesama Islam dan 24 fasal tentang orang
Yahudi.
Antara kandungannya ialah:
-Mengakui Nabi Muhammad SAW, ketua Negara Madinah.
-Mengakui Ansar dan Muhajirin sebagai umat yang bertanggungjawab
terhadap agama, rasul dan masyarakat Islam.
-Setiap kaum bebas beragama dan mengamalkan cara hidup masing-masing.
-Orang Islam dan Yahudi bertanggungjawab terhadap keselamatan Negara
daripada serangan musuh.
-Orang Yahudi dibenarkan hidup dengan cara mereka serta menghormati
orang Islam tetapi tidak dibenarkan melindungi orang Musyrikin Quraisy.

-Setiap

masyarakat

bertanggungjawab

menjaga

keselamatan

dan

mengekalkan perpaduan di Madinah.


-Setiap individu tidak boleh menyakiti dan memusuhi individu atau kaum
lain.

Hendaklah

tolong-menolong

demi

pembangunan,

ekonomi,

dan

keselamatan.
-Setiap kaum perlu merujuk Rasulullah SAW (ketua negara) jika berlaku
perbalahan.Mana-mana pihak dilarang berhubungan dengan pihak luar
terutama Musyrikin Mekah dan sekutu mereka.
-Piagam ini mempunyai kuasa melindungi pihak yang mempersetujuinya dan
hak mengambil tindakan pada sesiapa yang melanggarnya.
Pada dasarnya, alur perjalanan Sejarah Islam yang panjang itu bermula dari
turunnya wahyu di Gua Hira. Sejak itulah nilai-nilai kemanusiaan yang di
bawah

bimbingan

Wahyu

Ilahi

menerobos

arogansi

kultur

jahiliyah,

merombak dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyah yang tidak sesuai
dengan fitrah manusia. Dengan seruan Agama Tauhid (monotheisme) yang
gaungnya menggetarkan seluruh jazirah Arabia, maka fitrah dan nilai
kemanusiaan didudukkan ke dalam hakekat yang sebenarnya. Seruan agama
tauhid inilah yang merubah wajah Piagam Madinah dan ke-autentik-annya
masyarakat jahiliyah menuju ke tatanan masyarakat yang harmonis,
dinamis, di bawah bimbingan wahyu.
Kemudian, hijrah Rasulullah ke Madinah adalah suatu momentum bagi
kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif
singkat Rasulullah telah berhasil membina jalinan persaudaraan antara kaum
Muhajirin sebagai imigran-imigran Makkah dengan kaum Anshar, penduduk
asli Madinah. Beliau mendirikan Masjid, membuat perjanjian kerjasama
dengan non-muslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial dan
ekonomi bagi masyarakat baru tersebut; suatu fenomena yang menakjubkan
ahli-ahli sejarah dahulu dan masa kini. Adalah suatu kenyataan bahwa misi

kerasulan Nabi Muhammad yang semakin nampak nyata menggoyahkan


kedudukan Makkah dan menjadikan orang-orang Quraisy Makkah semakin
bergetar.
Masyarakat muslim Madinah yang berhasil dibentuk Rasulullah oleh sebagian
intelektual muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state). Lalu,
dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang
masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state).
Walaupun sejak awal Islam tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang
bagaimana bentuk dan konsep negara yang dikehendaki, namun suatu
kenyataan bahwa Islam adalah agama yang mengandung prinsip-prinsip
dasar kehidupan termasuk politik dan negara.
Dalam masyarakat muslim yang terbentuk itulah Rasulullah menjadi
pemimpin dalam arti yang luas, yaitu sebagai pemimpin agama dan juga
sebagai pemimpin masyarakat. Konsepsi Rasulullah yang diilhami al Quran
ini kemudian menelorkan Piagam Madinah yang mencakup 47 pasal, yang
antara lain berisikan hak-hak asasi manusia, hak-hak dan kewajiban
bernegara, hak perlindungan hukum, sampai toleransi beragama yang oleh
ahli-ahli politik moderen disebut manifesto politik pertama dalam Islam.

Tetapi akhirnya Nabi dapat mengatasi masalah tersebut secara damai


dengan cara yang amat bijaksana. Mengenai masalah yang pertama dan
kedua, beliau berhasil mengikat penduduk Madinah dalam suatu perjanjian
yang saling menguntungkan yang akan di bahas nanti. Sedangkan untuk
mengatasi masalah yang ketiga beliau berhasil memecahkannya dengan
jalan keluar yang amat bijak dan sangat jenius.
Selama beberapa minggu di Madinah, Rasul menelaah situasi kota
Madinah

dengan

mempelajari

keadaan

politik,

ekonomi,

sosial

dan

sebagainya. Beliau berusaha mencari jalan bagaimana agar penduduk asli

dan kaum muhajirin dapat hidup berdampingan dengan aman. Untuk


mengatasi kesulitan yang pertama dan kedua Nabi Muhammad membuat
suatu perjanjian dengan penduduk Madinah baik Muslimin, Yahudi ataupun
musyrikin.
Dalam perjanjian itu ditetapkan tugas dan kewajiban Kaum Yahudi dan
Musyrikin Madinah terhadap Daulah Islamiyah di samping mengakui
kebebasan mereka beragama dan memiliki harta kekayaannya. Dokumen
politik, ekonomi, sosial dan militer bagi segenap penduduk Madinah, baik
Muslimin, Musyrikin, maupun Yahudinya. Secara garis besar perjanjian itu
memuat isi sebagai berikut :
Bidang ekonomi dan sosial
Keharusan orang kaya membantu dan membayar utang orang miskin,
kewajiban memelihara kehormatan jiwa dan harta bagi segenap penduduk,
mengakui kebebasan beragama dan melahirkan pendapat, menyatakan
kepastian pelaksanaan hukum bagi siapa saja yang bersalah, dan tidak ada
perbedaan antara siapapun di depan pengadilan.
.
Sedangkan bagi umat Islam, khususnya kaum Muhajirin, Piagam Madinah
semakin memantapkan kedudukan mereka. Bersatunya penduduk Madinah
di dalam suatu kesatuan politik membuat keamanan mereka lebih terjamin
dari gangguan kaum kafir Quraisy. Suasana yang lebih aman membuat
mereka lebih berkonsentrasi untuk mendakwahkan Islam. Terbukti Islam
berkembang subur di Madinah ini.
Namun begitu bagi penduduk Madinah pada umumnya, dengan
adanya kesepakatan piagam Madinah, menciptakan suasana baru yang
menghilangkan atau memperkecil pertentangan antar suku. Kebebasan
beragama juga telah mendapatkan jaminan bagi semua golongan. Yang lebih
ditekankan adalah kerjasama dan persamaan hak dan kewajiban semua

golongan dalam kehidupan sosial politik di dalam mewujudkan pertahanan


dan perdamaian.
Piagam Madinah ternyata mampu mengubah eksistensi orang-orang
mukmin dan yang lainnya dari sekedar kumpulan manusia menjadi
masyarakat politik, yaitu suatu masyarakat yang memiliki kedaulatan dan
politik dalam wilayah Madinah sebagai tempat mereka hidup bersama,
bekerjasama dalam kebaikan atas dasar kesadaran sosial mereka, yang
bebas dari pengaruh dan penguasaan masyarakat lain dan mampu
mewujudkan kehendak mereka sendiri.
Muhammad Jad Maula Bey, dalam bukunya Muhammad al-Matsalul Kamil
menyimpulkan, bahwa di dalam waktu yang relatif pendek tersebut Nabi
telah sukses menciptakan tiga pekerjaan besar, yaitu:

Membentuk suatu umat yang menjadi umat yang terbaik

Mendirikan suatu negara yang bernama Negara Islam; dan

Mengajarkan suatu agama, yaitu agama Islam.

KESIMPULAN
Tuntasnya, Piagam Madinah lahir dari kondisi yang sebelum Rasulullah
hijrah. Dimana di Yastrib pada saat itu di cekam oleh konflik berkepanjangan
antar suku. Dua suku terbesar Auz dan Khazraj terlibat perseteruan yang

berdarah-darah. Suku yang lebih kecil memperkeruh keadaan dengan


terbelah menjadi pendukung kedua suku besar yang berkonflik. Sementara
kondisi permusuhan dan perpecahan sedemikian kuat, bangsa yahudi
sebagai pendatang terus menghembuskan suasana permusuhan. Mereka
memang mengatur untuk mendapat keuntungan materil dari konflik yang
terus dihangatkan itu. Penduduk Yatsrib kemudian meminta Rasulullah untuk
menciptakan perdamaian dan ketentraman. Di mulai dari kesadaran
masyarakat Yatsrib untuk keluar dari suasana yang mencekam konflik yang
tiada berujung, semakin rumit dan melelahkan. Kesadaran ini pula yang
menjadi pondasi lahirnya ruh kedamaian dalam Piagam Madinah.sebuah
konsep yang sempurna dan kesiapan merealisasikan dari masyarakatnya.
Islam

sejatinya

telah

siap

dengan

konsep

yang

pertengahan

dan

mendamaikan bila difahami secara benar dan menyeluruh. Sementara itu


psikologis masyarakat Yatsrib yang berada diujung kekecewaan memang
selalu dipastikan akan memunculkan harapan. Bagaikan di ujung musim
gugur yang mendatangkan musim semi. Anis Matta menyebutkan itu semua
sebagai

pertanda

sejarah

akan

lewat

di

sini.

Rasulullah

kemudian

didatangkan ke Yatsrib dan mempresentasikan konsep sempurna untuk


menciptakan

dunia sebagai tempat yang lebih baik. Sementara itu

masyarakat sudah berada tingkat kebutuhan akan solusi yang memuncak.


Kohesi itupun terbentuk melahirkan tata kehidupan baru yang egaliter
terbuka,

produktif,

dan

kokoh

untuk

menghadapi

tantangan

zamannya.Justeru kita perlu mengambil ikhtibar daripada piagam madinah


untuk menjadikan Negara maju dan aman.

RUJUKAN
H. Zainal Arifin Abbas. 1964. Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw.
Medan:Firma Rahmat. 1964.
Hasymy. 1975. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta:. 1975.
Istianah Abu Bakar. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang:UIN Press.
Asghar Ali Engineer. 1999. Asal Usul dan Perkembangan Islam. :Pustaka
Pelajar.
Muhammad Cholid. 1955. Chatam un Nabyyin..
Zainal Abidin Ahmad. 1973. Piagam Nabi Muhammad S.A.W. :Bulan Bintang.
Hasan Ibarahim Hasan. 1945. Tarich ul Islam As Siyasiy. Cairo:Maktabah el
Nahdhoh el Misyriyyah.
Muhammad Al Ghozali. 2006. Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad.
S.A.W. :Mitra Pustaka.
Afzalur Rahman. 1991. Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pemimpin
Militer. :Bumi Aksara.
www.kompasiana.com. Diunduh pada tgl. 2 September 2011.