Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ..............................................................................

DAFTAR ISI ..........................................................................................

PENDAHULUAN ..................................................................................

ANATOMI DAN HISTOLOGI ..............................................................

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI .....................................................

MANIFESTASI KLINIS ........................................................................

DIAGNOSIS ..........................................................................................

19

TATALAKSANA ...................................................................................

24

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................

31

BAB 1
PENDAHULUAN

Pleksus brakhialis merupakan saraf-saraf yang keluar dari vertebra servikalis


dan menuju ke pundak dan tangan. Terdapat lima saraf yang mencakup dalam
pleksus brachialis berupa C5, C6, C7, C8, dan T1. [1]
Data mengenai insiden trauma pleksus brachialis sulit diketahui dengan pasti,
Goldie dan Coates melaporkan 450-500 kasus cedera supraklavikular tertutup
terjadi setiap tahun di Inggris. Pada laporan yang lain, Narakas membuat suatu
pedoman "seven seventies " dengan mengacu pada pengalaman menangani 1068
pasien selama 18 tahun yang salah satunya berisi 70% kecelakaan pengendara
sepeda motor dengan trauma multipel akan berimplikasi 70% diantara berupa
cedera supraklavikuler, 70% cedera supraklavikuler merupakan avulsi saraf yang
melibatkan C7, C8, T1. [1]
Penelitian oleh Foad SL, et al mencatat insiden obstetrical brachial plexus
injury di Amerika Serikat sebesar 1-2 kasus per 1000 kelahiran. Terdapat 3 macam
obstetrical brachial plexus injury: Erbs palsy adalah yang paling sering terjadi,
insidennya sekitar 90% kasus, total plexus injury sebesar 9% kasus, dan
Klumpkes palsy sebesar 1% kasus. Insiden ini semakin menurun setiap tahunnya.
Dari berbagai analisis, didapati bahwa kejadian shoulder dystocia memiliki resiko
100 kali lebih besar terjadinya obstetrical brachial plexus injury, sedangkan
forceps delivery memiliki resiko 9 kali lebih besar, dan bayi besar dengan berat
>4,5 kg memiliki resiko 4 kali lebih besar untuk terjadinya cedera. Setidaknya
46% kejadian obstetrical brachial plexus injury memiliki satu atau lebih faktor
resiko, sedangkan 54%-nya tidak ditemukan adanya faktor resiko.[[2]
Selain itu pada data lainnya dalam populasi Amerika ditemukan bahwa cedera
pleksus brachialis teridentifikasi sebanyak 113 (0.1%) dari 103,434 anak dengan
trauma yang masuk rumah sakit antara bulan April 1985 hingga Maret 2002.
Enam puluh satu persen diantaranya merupakan anak laki-laki. Kebanyakan
penyebab cedera adalah kecelakaan motor dengan membawa penumpang

dibelakangnya (36 kasus [32%]) atau kecelakaan pada pejalan kaki (19 kasus
[17%]). Trauma kepala didiagnosis pada 47% anak dan 27% diantaranya
mengalami konkusi, perdarahan intrakranial 21%, dan fraktur tulang kepala 14%.
Trauma

vaskuler

ekstremitas

atas

terjadi

pada

16%

pasien.

Cedera

muskuloskeletal yang terbanyak antara lain fraktur humerus (16%), tulang iga
(16%), klavikula (13%), dan skapula (11%). Fraktur spinal terjadi pada 12%
pasien, dan cedera medulla spinalis terjadi 4%. The Injury Severity Score berkisar
antara 1 sampai 75, dengan skor rata-rata 10 dan 6 pasien meninggal karena
adanya cedera yang berkepanjangan selama periode trauma. [3]
Data epidemiologi cedera pleksus brachialis pada populasi multitrauma
tercatat sebanyak 54 dari 4538 (1.2%) pasien yang terdapat pada berbagai fasilitas
trauma regional. Pasien didominasi laki-laki usia muda. Penyebab tersering
berupa kecelakaan motor namun hanya 0.67% dari kecelakaan ini yang kemudian
menyebabkan keadaan cedera pleksus. Sebaliknya, 4.2% korban kecelakaan roda
dua dan 4.8% korban kecelakaan snow mobile menderita cedera pleksus. Cedera
pada supraklavikula terjadi pada 62% pasien dan 38% pasien memiliki cedera
infraklavikula. Cedera supraklavikula nampaknya lebih berat dibandingkan cedera
infraklavikula, dikarenakan adanya resiko neuropraksi pada 50% kasus. [4]

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi

Cedera plexus brachialis adalah cedera jaringan saraf yang berasal dari C5T1.Plexus brachialis adalah persarafan yang berjalan dari leher ke
arah axilla yang dibentuk oleh ramus ventral saraf vertebra C5-T1. Cedera
pada plexus brachialis dapat mempengaruhi fungsi saraf motorik dan sensorik
pada membrum superium
B. Anatomi dan histologi

Plexus brachialis berada dalam region colli posterior, dibatasi di sebelah


caudal

oleh

clavicula

dan

terletak

di

sebelah

posterolateral

M.

Sternocleidomastoideus, berada di sebelah cranial dan dorsal a. Subclavia,


disilangi oleh M. Omohyoideus venter inferior. Struktur yang berada di superficial
adalah M. Platysma myoides, N. Supraclavicularis, V. Jugularis Externa, venter
inferior M. Omohyoideus, M. Scalaneus Anterior, dan A. Transversa Colli. [5]
Plexus brachialis masuk ke dalam fossa axillaris bersama-sama A.
Axillaris, pada sisi inferolateral M. Pectoralis minor, di sebelah ventral M.
Subscapularis, tampak percabangan terminal dari plexus ini. [5]

Ramus anterior nervus spinalis C5-C6 bersatu membentuk truncus


superior. Truncus medius hanya dibentuk oleh nervus spinalis C7, dan truncus
inferior dibentuk oleh nervus spinalis C8 dan T1. Setiap truncus terbagi dua
menjadi cabang anterior dan cabang dorsal yang masing-masing mempersarafi
bagian anterior dan posterior eksteremitas superior. [5]
Cabang anterior dari truncus superior dan truncus medius bersatu
membentuk fasciculus lateralis, terletak di sebelah lateral arteri axillaris. Cabang
anterior dari truncus inferior membentuk fasciculus medialis, terletak di sebelah
medial arteri axillaris. Dan cabang posterior dari ketiga truncus tersebut
membentuk fasciculus posterior, berada di sebelah posterior A. Axillaris. [5]
Ketiga fasciculus plexus brachialis terletak di atas dan lateral terhadap
bagian pertama A. Aksillaris ( bagian pertama A. Aksillaris terletak dari pinggir
lateral iga 1 sampai batas atas M. Pectoralis minor, dan bagian III terletak dari
pinggir bawah M. Pectoralis minor sampai pinggir bawah M. Teres Major).
Fasciculus medialis menyilang di belakang arteri untuk mencapai sisi medial
bagian II arteri. Fasciculus posterior terletak di belakang bagian kedua arteri, dan
fasciculus lateralis terletak bagian II arteri. Jadi fasciculus pleksus membatasi
bagian kedua A. Axillaris yang dinyatakan seperti namanya. Sebagian besar
cabang fasciculus yang membentuk trunkus saraf utama ekstremitas superior
melanjutkan hubungan dengan bagian kedua A. Aksillaris.[5]
Pleksus brachialis menerima komponen simpatis melalui ganglion stellatum
untuk nervus spinalis C6-7-8, dan melalui ganglion paravertebra T1-T2 untuk
nervus spinalis T1-dan T2. Terdapat enam saraf penting yang keluar dari pleksus
brachialis, saraf-saraf tersebut adalah : [5]
1. N. Torakalis Longus berasal dari radiks pleksus brachialis di leher dan masuk
aksilla dengan berjalan turun melewati pinggir lateral iga I di belakang A.
Aksillaris dan pleksus brachialis. Saraf ini berjalan turun melewati permukaan
lateral M. Serratus Anterior yang dipersarafinya.

2. N. Aksillaris merupakan cabang yang besar dari fasciculus posterior. Berada di


sebelah dorsal a. aksillaris. Meninggalkan fossa aksillaris tanpa memberi
persarafan di sisi N aksillaris berjalan di antara M. Subscapularis dan M. Teres
Minor, berada di sebelah lateral caput longum M. Triceps Brachii, berjalan
melaui fissure aksillaris lateralis bersama-sama dengan arteri circumflexa
humeri posterior, n aksillaris terletak bersandar pada column chirurgicum
humeri.
3. N. Radialis merupakan lanjutan langsung fasciculus posterior pleksus
brachialis dan terletak di belakang A. Aksillaris. N Radialis adalah cabang
terbesar pleksus brachialis. Sebelum meninggalkan aksilla, saraf ini
mempercabangkan saraf untuk caput longum dan caput medial M. Triceps dan
N. Cutaneus brachii posterior.
4. N. Musculocutaneus merupakan cabang dari fasciculus lateralis dan berpusat
pada medulla spinalis segmen C5-C7, mempersarafi M. Coracobrachialis, dan
meninggalkan aksilla dengan menembus otot tersebut. Saraf ini meninggalkan
tepi lateral M. Biceps Brachii, menembus fascia dan melanjutkan diri sebagai
N. Cutaneus antebrachii lateralis, yang mempersarafi permukaan lateral region
antebrachium.
5. N. Medianus dibentuk oleh radiks superior dan fasciculus lateralis dan radiks
inferior dan fasciculus medialis, berada di sebelah lateral a. aksillaris.
Menerima serabut-serabut yang berpusat pada medulla spinalis segmen C5T1. Sepanjang brachium, n medianus berjalan berdampingan dengan a.
brachialis, mula-mula di sebelah lateral, lalu menyilang di sebelah
ventralarteri tersebut kira-kira pada pertengahan brachium, selanjutnya
memasuki fossa cubiti dan berada di sebelah medial a brachialis. Nervus ini
tidak member percabangan di daerah brachium. Memasuki daerah
antebrachium, nervus ini berjalan di antara kedua kaput m. pronator teres,
berjalan ke distal di bagian mediana (tengah-tengah) antebrachium, oleh
karena itu disebut n. medianus.
6. N. Ulnaris adalah cabang utama dari fasciculus medialis, berjalan turun antara
a. aksillaris dan v. aksillaris. Pada pertengahan brachium saraf ini berjalan kea
rah dorsal menembusi septum intermusculare mediale, berjalan terus ke caudal

dan berada pada permukaan dorsal epicondylus medialis humeri, yaitu di


dalam sulcus nervi ulnaris. Di tempat ini n. ulnaris ditutupi oleh kulit sehingga
dapat dipalpasi. Di daerah brachium, n ulnaris tidak member percabangan.

Gambar diambil dari kepustakaan no. [6]


C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Saraf-saraf yang mencakup pleksus brakhial berjalan dibawah kulit leher dan
aksilla, sehingga rentan terhadap trauma. Ketika leher dan tangan terkena pada
saat trauma (misalnya pada kecelakaan mobil, motor, dan saat jatuh) maka sarafsaraf tersebut tertarik dan robek satu sama lain. Jika kekuatan dorongan sangat
hebat maka saraf dapat tertarik keluar dari tempat asalnya yaitu medulla spinalis.
[1]

Selain itu penyebab cedera pleksus brachialis juga dibedakan berdasarkan


mekanisme trauma, antara lain: [7]
Cedera akibat traksi /traumatic traction injuries merupakan penyebab yang
terbanyak cedera pleksus brakhialis yang disebabkan oleh dislokasi pundak
atau tangan

ke arah bawah karena adanya tarikan yang kuat, seringkali

disertai fleksi lateral leher pada arah yang berlawanan. Hal ini biasanya

terjadi kecelakaan kendaraan bermotor khususnya motor.


Trauma penetrasi pada pundak atau leher- luka trauma akibat tusukan pisau,
laserasi kaca, atau luka tembak pada regio supra-atau infraklavikula
menyebabkan kontusio atau robeknya pleksus brachialis. Karena letak
pembuluh darah subklavia dan jugular eksternal yang lebih proksimal maka
dapat pula terkait dengan cedera pembuluh darah.

Gambar diambil dari kepustakaan no.8

Kelemahan yang terkait dengan kelahiran-cedera pada pleksus brachialis yang


terjadi akibat dengan kelahiran. Hal ini umumnya terkait dengan berat bayi
besar dan distosia bahu, bayi lahir normal dengan presentasi bokong, ataupun
pada persalinan dengan partus.

Gambar diambil dari kepustakaan no.8

Penyebab yang jarang antara lain trauma tumpul pada bahu, lesi kompresi,
radiasi, dan neoplasma.

D. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul umumnya unilateral berupa kelainan motorik, sensorik
dan bahkan autonomik pada bahu dan/atau ekstremitas atas. Gambaran
klinisnya mempunyai banyak variasi tergantung dari letak dan derajat
kerusakan lesi.
1. Total Plexus Injury
General brachial plexus injury umumnya bersifat unilateral, tetapi kadangkadang bersifat bilateral, seperti cedera akibat diffuse polyneuropathy,

inflammatory

demyelinating

neuropathy,

dan

multifocal

motor

neuropathy.Banyak hal yang menjadi penyebab, tetapi inflitrasi tumor,


radiation plexitis, dan idiopathic plexitis adalah yang paling sering. MRI
dengan kontras dapat mengkonfirmasi ada atau tidaknya lesi ini.Penyebab
lain adalah cedera selama persalinan.[11]
Jika seluruh plexus cedera, maka keseluruhan anggota gerak atas paralisis
dan mati rasa, terkadang ditemukan unilateral Horners syndrome, yaitu tanda
ptosis, miosis, dan anhidrosisyang timbul akibat kerusakan saraf di bagian
servikal spinalis.[11]
2. Root and Trunk Injury
a. Upper Radicular Syndrome (Erb-Duchenne Palsy)
Upper radicular syndrome (Erb-Duchenne palsy) adalah akibat dari cedera
pada upper roots (C4, C5, atau C6) atau upper trunk.Lesi ini paling sering
disebabkan oleh cedera selama persalinan akibat sulitnya bayi keluar dari birth
canal ketika bahu bayi tertinggal pada birth canal yang disebut dengan
shoulder dystocia(ilustrasi Gambar 18).Penyebab lain adalah penggunaan
forceps dan bayi besar dengan berat >4,5 kg.[11]
Kelainan ini mengakibatkan paralisis m. deltoid, m. biceps brachii, m.
brachioradialis, m. pectoralis mayor, m. supraspinatus, m. infraspinatus, m.
subscapularis, dan m. teres major.Jika lesi berada di dekat akar (roots), m.
serratus, m. rhomboideus, dan m. levator scapulae juga dapat mengalami paralisis.
[12]

Secara klinis, akan ditemukan kelemahan fleksi pada cubiti, kelemahan


abduksi, kelemahan endorotasi dan eksorotasibrachii. Selain itu, juga ditemukan
paralisis

aposisi

gerakan

skapula

dan

paralisis

abduksi

dan

adduksi

brachii.Sensory loss inkomplit yang terdiri dari hipestesia di superficialis brachii


dan antebrachii.Refleks bisep tidak ada. Jika tidak dilatih dengan latihan gerakan
pasif, gejala dapat berkembang menjadi kontraktur kronik dengan lengan

menyamping, posisi adduksi, tangan pronasi sampai dengan munculnya waiters


tip position.[18]

Gambar 19.Cedera persalinan yang menyebabkanErbs palsy.


Sumber: Solomon L, Warwick DJ, Selvadurai N. Apleys System of Orthopaedics
and Fractures. United of Kingdom: Hodder Arnold; 2010.

b. Middle Radicular Syndrome


Middle radicular syndrome timbul akibat cedera cervical root C7 atau
middle trunk. Lesi tersebut menyebabkan paralisis terutama otot yang disuplai
oleh n. radialis, kecuali brachioradialis.Sensory loss dapat bervariasi. Jika ada,
akan terbatas pada hipestesi di antebrachii dorsal superficialis dan manus dorsal
superficialis externa.[15]
c. Lower Radicular Syndrome (Klumpkes Palsy)
Lower radicular syndrome (Klumpke palsy) timbul akibat cedera lower roots
(C7-T1) atau lower trunk, yang menyebabkan paralisis m. flexor carpi ulnaris, m.
flexor digitorum, m. interossei, m. thenar, dan m. hypothenar.Sindrom ini

10

merupakan lesi kombinasi n. medianusdan n. ulnaris.Secara klinis, akan terlihat


clawlike deformity of the hand (Gambar 20), kelemahan distal fleksicubiti,
ekstensi carpi, hiperekstensi pada articulatio metacarpophalangeal. Refleks triseps
hilang.Sensory loss di bagian brachii medialis,brachii inferior, dan manus ulnaris.
Jika cabang ganglion servikal inferior ikut cedera, maka terjadi paralisis nervus
simpatetik yang menyebabkan Horners syndrome, yaitu tanda yang timbul akibat
kerusakan saraf di bagian servikal spinalis dengan karakteristik ptosis, miosis, dan
anhidrosis.[18]
d. Nervus Thoracicus Longus Injury
N. thoracicus longus berasal dari C5, C6, dan C7 yang mensuplai m. serratus
anterior.Cedera nervus ini paling sering disebabkan oleh tekanan yang kuat pada
bahu sehingga terjadi kompresi nervus (biasanya axonotmesis). Biasanya tekanan
tersebut disebabkan membawa beban terlalu berat di bahu, misalnya karung beras,
ransel pada satu bahu, dsb.[8]
Cedera pada nervus menyebabkan instabilitas skapula dan kesulitan
gerakan abduksi lengan 90-180 ke arah atas, kelemahan pergerakan elevasi
lengan di atas garis horizontal.Gambaran utamanya adalah winging scapula, yaitu
penonjolan sisi medial scapula dilihat dari punggung akibat paralisis m. serratus
anterior.Tes klasik untuk winging scapula dengan mengarahkan pasien ke dinding
kemudian pasine mengangkat kedua telapak tangannya menempel pada dinding
[18]

Kecuali setelah cedera secara langsung, saraf biasanya membaik secara


spontan, sekalipun membutuhkan waktu 1 tahun atau lebih.Persisten winging of
the scapula biasanya membutuhkan operasi stabilisasi dengan cara mentransfer m.
pectoralis mayor atau minor di bagian bawah dari scapula.[18]
e. Nervus Suprascapularis Injury

11

N. suprascapularis merupakan cabang dari upper trunk yang berasal dari


C5-C6.Fungsi
supraspinatus

utamanya
dan

untuk

infraspinatus

pergerakan

motorik

plexus.Saraf ini

dan

menginervasi

biasanya

cedera pada

fracturescapula, dislokasi bahu, trauma bahu akibat membawa beban berat pada
bahu dan diffuse injury pada plexus brachialis.[13]
Dari anamnesis akan ditemukan riwayat cedera, tetapi terkadang pasien
datang dengan keluhan nyeri di bagian suprascapularis dan kesulitan pergerakan
abduksi lengan 15-30 dan kesulitan eksorotasi pada bahu.Jika tidak ada riwayat
trauma, mungkin terjadi nerve entrapment syndrome.Gejala ini terkadang sulit
dibedakan dengan rotator cuff syndrome. Pemeriksaan EMG dapat membantu
penegakkan diagnosis.[14]
Cedera ini biasanya berupa axonotmesis yang akan sembuh spontan setelah 3
bulan. Pada persistent n. scapularis injury, dilakukan operasi melalui insisi
posterior atas dan paralel dari spine of the scapula.[15]
3. Cord Injury
Lesi pada kord menyebabkan hilangnya aktivitas motorik dan sensorik yang
terlihat setelah cedera pada dua atau lebih nervus perifer.Lateral cord injury
menyebabkan kelemahan pada distribusi n. musculocutaneouss dan n. medianus,
termasuk kelemahan pada m. pronator teres, m. flexor carpi radialis, m. flexor
pollicis dan m. opponens. Posterior cord injury menyebabkan kelemahan paralel
yang mengakibatkan cedera kombinasi pada n. radialis dan n. axillaris. Medial
cord injury mengakibatkan cedera kombinasi pada n. ulnaris dan n. medianus
(finger-flexion weakness).[13]
a. Brachial Cutaneous dan Antebrachial Cutaneous Nerve Injury
Brachial dan antebrachial cutaneous nervusyang merupakan cabang dari plexus
C8-T1 memperlengkapi sensasi pada barchii medialis dan 2/3 bagian anterior
antebrachii.Nervus ini biasanya cedera bersamaan dengan medial cord dari plexus

12

brachialis dan jarang cedera pada satu nervus saja. Ketika cedera, akan terjadi loss
sensation pada antebrachii medialis dan posterior.[13]
4. Terminal Branches Injury
a. Nervus Musculocutaneous Injury
N. musculocutaneous berasal dari C5 dan C6 yang merupakan cabang
utama dari upper trunk plexus brachialis.Nervus ini memperlengkapi inervasi m.
coracobrachialis, m. biceps brachii,m. brachialis, dan sensorik pada ventrolateral
foream dan antebrachii dorsolateral superficialis. Cedera nervus ini jarang terjadi.
[11]

Jika cedera, gejala klinis yang muncul adalah kelemahan fleksi dan
supinasi antebrachii akibat paralisis biceps brachii dan m. brachialis. Sensory loss
pada musculocutaneous myotomes (antebrachii lateral superficialis)dan hilangnya
refleks bisep.Pergerakan fleksi antebrachii mungkin saja masih dapat dilakukan
oleh m. brachioradialis, yang diinervasi oleh n. radialis. Tetapi, untuk refleks
biceps dapat dipastikan paralisis karena m. biceps brachii tidak diinervasi oleh
nervus lain.[4]
b. Nervus Axillaris Injury
Nervus axillaris adalah cabang terakhir dari kord posterior plexus
brachialis sebelum menjadi n. radialis.Nervus axillaris berasal dari C5 dan C6
yang mensuplai m. deltoideus dan mentransmisikan sensasi kutaneus pada
area kecil di permukaan lateral bahu. Lesi n. axillaris biasanya disebabkan
oleh trauma, fracture leher humerus, dislokasi pada kepala humerus, maupun
brachial plexitis.[18]
Lesi pada n. axillaris memiliki karakteristik utama kelemahan abduksi
pada lengan bahu setelah 15-30 pergerakan tangan yang menjauhi pinggul.
Pergerakan adduksi, fleksi, dan ekstensi juga terjadi kelemahan. Sensory loss
sangat terbatas dan biasanya hanya terjadi pada brachii lateralis.[4]

13

N. axillary injury biasanya berhubungan dengan fracture atau dislokasi


yang sembuh spontan pada 80% kasus. Jika deltoid tidak menunjukkan tandatanda perbaikan setelah 8 minggu, dilakukan pemeriksaan EMG. Jika tes
menunjukkan tanda denervasi, biasanya dibutuhkan eksisi nerve ends dan
grafting yang pada umumnya hasil dapat terlihat dalam 3 bulan setelahnya.
Jika operasi gagal dan bahu masih nyeri, dilakukan arthrodesis untuk stabilitas
dan memperbaiki fungsi abduksi.[18]
c. Nervus Medianus Injury
N. medianus injury biasanya disebabkan oleh cedera di bagian carpi (low lesions)
dan di bagian antebrachii superior (high lesions).
1. Low lesions
Sindrom yang paling sering terjadi adalah (Gambar 22) akibat terjepitnya n.
medianus saat melewati celah antara os.carpalis dan ligamentum transversus.[13]

Gambar 22.Carpal tunnel syndrome.

14

2. High lesions
High lesions dapat disebabkan oleh fracture di bagian antebrachii,
dislokasi bagian cubiti, luka tusukan, luka tembakan, trauma, iskemik, maupun
kompresi anatomi, seperti terjepitnya m. pronator teres, sehingga menyebabkan
kelemahan dan sensory loss.[13]
Lesi pada n. medianus menyebabkan kelemahan dan sensory loss, tetapi
hanya pada beberapa pergerakan yang benar-benar paralisis karena adanya
kontribusi sinergik otot yang masih diinervasi oleh nervus lain.[13]
Gejala yang timbul sama dengan low lesions, dengan tambahan
ketidakmampuan pergerakan fleksi articulatio interphalangeal proximalis 1-3 dan
articulatio interphalangeal distalis 2-3 disebabkan oleh paralisis m. flexor
digitorum superficialis dan m. flexor digitorum profundus. Tambahan lain,
ditemukan paralisis pergerakan radial wrist flexion dan m. pronator teres,
pergerakan fleksi articulatio metacarpophalangeal 2-3 juga tidak dapat dilakukan
karena paralsis dari m. lumcbricalis 1-2. Oleh karena itu, pasien dengan n.
medianus injury tidak dapat mengepalkan tangan karena digiti II dan III yang
mengalami ekstensi parsial. Tanda ini disebut dengan sign of benediction. 18]
d. Nervus Radialis Injury
Radial neuropati adalah kondisi yang disebabkan oleh kompresi saraf radial
pada posterior humerus.Temuan klinis trauma padan. radialis tergantung pada
tingkat lesi.Nervus radialis injury biasanya terjadi di bagian cubiti (low lesions),
upper arm (high lesions), dan axilla (very high lesions).[4]
1. Low lesions
Gejala klinis low lesions biasanya disebabkan oleh fracture atau dislokasi
cubiti atau karena luka yang sifatnya lokal. Pasien tidak dapat melakukan

15

pergerakan ekstensi pada articulatio metacarpophalengeal, kelemahan pergerakan


ekstensi dan retroposisi pada digiti V.[18]
2. High lesions
High lesions biasanya terjadi akibat fracturehumerus dan kompresi
intrinsik. Cedera pada spiral groove yang disebabkan oleh fracturehumerus
(Gambar 23) dan kompresi ekstrinsik (contohnya, kebiasaan tidur dengan kepala
yang menekan lengan posterior) menyebabkan kelemahan pada radial myotome di
bawah cubiti, dengan wrist drop akibat dari paralisis radial ekstensor cubiti,
kelemahan pada gerakan ekstensi articulatio metacarpophalangeal jari-jari, dan
sensory loss pada distribusi n. radialis superfisial (permukaan manus dorsalis dan
digiti I, II, III dan setengah digiti IV), tetapi gerakan ekstensi cubiti masih baik.
Kelemahan gerakan fleksi cubiti dapat ditemukan sebagai akibat dari keterlibatan
brachioradialis.[4]

Gambar 23. Cedera n. radialis akibat fracturehumerus pada spiral groove.


Sumber: http://www.e-radiography.net/articles/ortho/Image11.jpg

16

3. Very high lesions


Very high lesions disebabkan oleh trauma atau operasi di sekitar bahu.
Trauma yang paling sering adalah kompresi kronik axilla akibat penggunaan kruk
terlalu lama (crutch pasly)atau Saturday night palsy pada pecandu alkohol dan
obat-obat yang tidak sadar dan tidur dalam keadaan lengan menggelantung di
bagian belakang kursi (Gambar 24). Hal ini menyebabkan kelemahan carpi dan
manus, kelemahan m. triceps, kelemahan radial myotome, kelamahan radial
dermatomes, dan hilangnya refleks triceps.[18]
Jika terjadi persistent injury, sebaiknya dilakukan pemeriksaan EMG.Jika
hasil menunjukkan denervasi saraf, maka neuropraxia telah tereksklusi. Fungsi
motorik n. radialis dapat dikembalikan dengan quite long grafts. Jika kesembuhan
tidak terjadi, dapat dilakukan tendon transfers, yaitu pronator teres ke short radial
extensor of the wrist, flexor carpi radialis ke long finger extensors, dan palmaris
longus ke long thumb abductor.[18]

e. Nervus Ulnaris Injury


Lesi komplit pada n. ulnaris menimbulkan gejala kelemahan pada gerakan
fleksi dan adduksi carpi dan kelemahan gerakan fleksi pada jari kelingking,
paralisis gerakan abduksi dan oposisi digiti I, paralisis gerakan adduksi digiti I,
dan paralisis gerakan adduksi dan abduksi digiti, bersamaan dengan atrofi
hypothenar dan interossei. Atrofi interossous terutama terlihat jelas di bagian
manus dorsum, antara digiti I dan digiti II.Sensory loss terutama pada bagian
permukaan palmar dan dorsal digiti V dan setengah digiti IV. Lesi kronis akan
menyebabkan claw hand. Cedera n. ulnaris dapat disebabkan oleh trauma,
iskemik, dan kompresi anatomis.[4]

17

Gambar 25.Kompresi n. ulnaris pada cubital tunnel.


Sumber:http://www.handsurgery.com.sg/wordpress/wpcontent/uploads/2011/03/Cubital-Tunnel-Syndrome_ds.jpg

Lesi ini seringkali disebabkan oleh perlukaan pergelangan tangan oleh benda
tajam yang biasanya dilakukan saat usaha bunuh diri. Penyebab lain adalah deep
carpal ganglion dan a. ulnaris aneurysm. Gejala yang timbul adalah numbness
pada distribusi ulnaris dan ditemukan karakteristik khas, yaitu claw hand akibat
kelemahan dan atrofi otot intrinsik. M. flexor carpi ulnaris dan m. flexor
digitorum profundus normal pada pemeriksaan elektrofisiologik.[18]
E. DIAGNOSIS
a. ANAMNESIS
Seseorang

dengan

cedera bahu berat, khususnya pada kecelakaan

bermotor. Mekanisme cedera harus dipertimbangkan, karena dapat terjadi pada


multiple trauma.
18

Pasien dapat memberikan gejala-gejala berupa :


Nyeri, khususnya leher dan bahu. nyeri saraf umumnya disebabkan adanya

ruptur. Parestesia dan distesia


Kelemahan atau rasa berat pada ekstremitas
Menurunnya nadi, disebabkan cedera pembuluh darah yang menyertainya.
Pada cedera saraf perifer perlu menentukan grading yang bertujuan
untuk memprediksi luaran fungsional dan rencana terapi.

Penentuan

grading dilakukan dengan menilai mekanisme trauma yang umumnya


berupa kompresi, traksi, laserasi, dan/ atau iskemik. Seddon membagi
grading menjadi tiga berdasarkan luasnya cedera pada tiga komponen dasar
saraf perifer (conducting axon, sel schwann yang meliputinya, dan matriks
jaringan yang berada disekitarnya disebut sebagai highway)

yang

menentukan regenerasi aksonal yaitu : [11]

Neuropraksia
Neuropraksia, merupakan derajat yang paling ringan pada cedera saraf,

dicirikanoleh blok total atau penurunan konduksi akson pada segmen saraf
yang dilaluinya. Kontinuitas aksonal masih ada sehingga tidak terjadi
degenerasi Wallerian. Konduksi saraf sampai pada area distal dan proksimal
dari lesi, namun tidak ada pada daerah lesi. Neuropraksi dapat terjadi akibat
kompresi mekanik langsung yang menyebabkan demielinisasi pada saraf.
Cedera neuropraksia umumnya bersifat sementara dan penyembuhan total
dapat terjadi dalam hitungan hari sampai minggu.
Pada umumnya neuropraksia disebabkan oleh adanya penekanan pada
myeline sheet yang relative ringan dan singkat dimana akan terjadi kompresi
akut di sekitar saraf. Kondisi neuropraksia ini akan mengalami demyelinasi
pada saraf itu sendiri tanpa adanya degenerasi pada saraf. Hal tersebut masih
memungkinkan terjadinya konduksi pada saraf.
b. PEMERIKSAAN FISIS
Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan ptosis, enoftalmus, , anhidrosis, and
miosis atau Horner syndrome menunjukkan adanya lesi pleksus letak rendah

19

komplit, karena ganglion simpatik T1 berada pada ujung proksimal pleksus


brakhialis. [1]

Gambar menunjukkan pasien dengan ptosis dan miosis pada mata kanan. [1]
Edema pada bahu dapat luas. Menurunnya atau hilangnya nadi menunjukkan
adanya cedera pembuluh darah. Fraktur klavikula seringkali dapat diraba. Inspeksi
dan palapasi dengan cermat pada tulang aksial dapat menunjukkan adanya cedera
yang menyertai. Pemeriksaan pada setiap saraf servikal perlu dilakukan untuk
melihat fungsi motorik dan sensorik segera setelah kondisi pasien memungkinkan.
[1]

Sebagai

bahan

pertimbangan

pada

keadaan

tertentu

diperlukan

pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan sensoris berupa deep pressure sensation


mungkin merupakan penanda utama pada kontinuitas saraf dengan pasien gejala
tidak ada fungsi motor atau sensasi lain. Pemeriksaan ini berupa cubitan pada
dasar kuku dan menarik jari pasien ke sisi luar. Jika terdapat sensasi terbakar
menunjukkan adanya kontinuitas pada saraf yang diperiksa. Namun jika tidak ada,
maka pemeriksaan ini tidak berguna untuk menentukan keadaan neuropraksia
karena dapat bertahan lebih dari 6 bulan. [1]
Lokasi tes deep pressure spinal nerve
Nerve
Affected cord
Ibu jari
C6
Median nerve
Lateral cord
Jari tengah
C7
Median nerve
Lateral cord
Kelingking
C8
Ulnar nerve
Medial cord
Tabel diambil dari kepustakaan no. [1]
Pemeriksaan sensasi dan gerakan pergelangan tangan dan jari

untuk

menilai saraf-saraf median, ulnar, radial dapat membantu mengetahui letak lesi
20

pleksus brachialis. Pemeriksaan motorik berguna karena terdapat variasi tertentu


pada saraf-saraf spinal diantara medulla dan merupakan pola inervasi abnormal
yang terbanyak. Variasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengidentifikasi
level yang terkena/terlibat. C4 dapat berperan pada percabangan dari pleksus lebih
dari 60%. Jika C4 memiliki peran signifikan pada pleksus, maka pleksus
dinamakan prefiks/ prefixed. Ketika pemeriksaan motorik dilakukan, patut diingat
bahwa kebanyakan otot manusia berperan pada multipel level servikal. [1]
Saraf servikal
C5
C6

Tes fungsi motorik


Abduksi, ekstensi, dan rotasi ekternal bahu, beberapa fleksi siku
Fleksi siku, pronasi dan supinasi telapak tangan, beberapa ekstensi

C7

pergelangan tangan
Hilangnya fungsi ekstremitas secara difus tanpa paralisis sempurna
kelompok otot tertentu, ekstensi siku, yang secara konsisten mempersarafi

C8
T1

otot latisimus dorsi


Ektensor dan fleksor jari tangan, fleksor pergelangan tangan, intrinsik
tangan
Intrinsik tangan
Gambar diambil dari kepustakaan no. [1]
c. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gambaran radiologi terdiri atas mielografi standar, computed tomographic (ct)
myelography, dan

magnetic resonance (mr) imaging.

Gambaran radiologi

memiliki peranan penting untuk membedakan cedera preganglionik dari lesi


postganglion yang akan menentukan manajemen pasien. [12]
Standard Myelography dan CT Myelography
Standard myelography telah lama digunakan untuk menilai derajat cedera
pleksus brachialis. Saat ini, standard myelography hampir selalu dilakukan
bersamaan dengan CT myelography. Standard myelography merupakan modalitas
yang sederhana dan ekonomis dan tersedia pada kebanyakan rumah sakit.
Evaluasi saraf intradural menggunakan standard myelography lebih sensitif
dibandingkan dengan ct myelography untuk mendeteksi avulsi serat saraf pada C8
dan T1. Akar saraf seringkali sulit untuk dievaluasi menggunakan CT

21

myelography yang berasal dari bahu. Standard myelography berguna untuk


melihat saraf ventral dan dorsal yang tidak dapat dievaluasi secara terpisah. CT
myelography merupakan modalitas yang paling terpercaya untuk mendeteksi
cedera avulsi. CT myelography memungkinkan penilaian terpisah pada akar saraf
ventral dan dorsal dan deteksi defek saraf intradural. Modalitas ini memiliki
akurasi diagnostik yang lebih baik dibandingkan dengan standard myelography
dan MR imaging, khususnya pada level C5 dan C6, walaupun artifak tulang dari
bahu kadang memberi gangguan pada level C8 dan T1. Perkembangan terbaru
pada multi detector row CT memungkinkan perolehan gambaran yang resolusi
spasial longitudinal yang lebih baik dan besar. [12]
Pada pasien dengan paralisis pleksus brachialis yang diakibatkan trauma,
penting untuk membedakan antara avulsi saraf traumatik (umumnya pada
pseudomeningokel) atau lesi pleksus brachialis pada bagian yang lebih distal.
Pseudomeningokel dapat terlihat pada MRI. Sayangnya pseudomeningokel dapat
terjadi tanpa avulsi serat saraf, dan avulsi serat saraf dapat berlangsung tanpa
pseudomeningokel. Pada pasien dengan keadaan tersebut biasanya terjadi
pembengkakan pada pleksus brachialis sehingga sulit dideteksi adanya robekan.
Pasien dengan peningkatan pleksopati setelah terjadi fraktur klavikula, MRI dapat
berguna untuk mengevaluasi kompresi yang mungkin terjadi pada pleksus
brachialis karena terbentuknya kallus. [13]
Conventional MR Imaging
Temuan pada MRI konvensional dapat memberikan informasi anatomi dan
fisiologi tambahan pada cedera. Peningkatan intradural nerve roots dan root
stumps menunjukkan adanya gangguan fungsional dari akar saraf meskipun
secara morfologi ada kontinuitas. [12]
Rekomendasi terhadap pemeriksaan radiologi yang optimal pada cedera
pleksus brachialis berupa pemeriksaan CT myelography sebagai modalitas
pemeriksaan awal, dengan menambahkan standard myelography dan MRI
kontras. Namun perlu diketahui bahwa pemeriksaan radiologik tunggal tidak

22

dapat diandalkan karena keunggulan dan keterbatasannya masing-masing alat. CT


myelography merupakan pilihan pertama untuk evaluasi kecurigaan terdapat
cedera preganglion karena merupakan modalitas radiologik yang paling
terpercaya untuk mendeteksi cedera avulsi. Jika CT myelography tidak dapat
dilakukan, maka MR myelography harus dilakukan sebagai pemeriksaan
tambahan terhadap MRI konvensional untuk mengevaluasi nerve roots. [12]

F. PENATALAKSAAN
a. PEMBEDAHAN
Trauma saraf perifer dapat dibagi menjadi trauma terbuka dan trauma
tertutup. Repair secepat mungkin pada trauma laserasi akut harus dilakukan
dengan tujuan end-to-end suture repair primer jika memungkinkan. Jika ujung
saraf compang-camping , ataupun trauma merupakan transmisi dari tenaga
tumpul, operasi harus ditunda setelah interval 2 sampai 3 minggu agar
memungkinkan terjadinya formasi jaringan ikat. Penundaan ini bertujuan agar
terbentuk batas antara jaringan saraf proksimal dan distal yang sehat dengan
segmen jaringan skar. Reseksi bedah pada jaringan fibrosa segmen proksimal
dan distal kembali pada struktur fascicular normal pada setiap ujungnya
dilaksanakan bersamaan dengan repair interposisi graft saraf ataupun tanpa
repair interposisi dan bergantung pada panjang celah. [11]

trauma terbuka
saraf tidak terputus
perawatan medis
dan follow up ketat
dengan
pemeriksaan klinis
serial, pemeriksaan
elektrodiagnosis,
dan radiologi

saraf terputus
reseksi
tajam

repair
end-toend

reseksi
tumpul

tunda
repair
23

reseksi skar intraneural


dan lakukan repair
Pedoman
(graft)
penanganan trauma saraf perifer terbuka. [11]

trauma tertutup

pemeriksaan klinis , pemeriksaan


elektrodiagnostik (EMG/NCV/SSEP),
pemeriksaan radiologik (MRI/MRN)
Neuropraksia
penanganan medis
penyembuha
n sempurna
dalam
hitungan
minggu

aksonotmesis
penanganan medis
penyembuhan
dalam hitungan
minggu- tahun
yang bergantung
pada multipel
faktor

aksonotmesis vs
neurotmesis vs
avulsi serat safar
spinal
eksplorasi
dengan
monitoring
elektrofisiologi
intraoperatif

respon konduksi
respon konduksi
avulsi serat
saraf positif sekitar
saraf negatif
saraf spinal
lesi
sekitar lesi
yang
lesi aksonometrik :
lesi neurometrik :
dikonfirmasi
penyembuhan
reseksi skar
dengan
dalam hitungan
intraneural dan
hilangnya
prosedurSSEP
minggubulan
lakukan
Pedoman
penanganan
trauma saraf
periferrepair
tertutup. (emg: elektromiografi,
neurotisas
bergantung pada
(graft)
i
mri: magnetic
resonance
multipel
faktor imaging, mrn: magnetic resonance neurography, ncv,

ssep: somatosensory evoked potential). [11]


Trend terbaru pada cedera pleksus brachialis berupa repair secepat mungkin.
Pasien pasien dapat diobservasi selama 8 sampai 10 minggu untuk penyembuhan
spontan. Setelah empat minggu harus dilakukan pemeriksaan electromyography
dan CT Myelography/ MR myelography. Pasien dengan cedera avulsi dapat

24

segera dioperasi. Pasien lainnya harus diobservasi dalam 6-8 minggu terhadap
penyembuhan spontan. Jika tidak terjadi penyembuhan spontan, operasi tidak
boleh ditunda karena keterlambatannya akan semakin menyulitkan penyembuhan.
Jika terbukti terjadi regenerasi namun tidak secara menyeluruh (proksimal hingga
distal) maka perlu dilakukan eksplorasi dan rekonstruksi pada segmen yang tidak
tercakup. [14]
Repair pleksus brachialis dapat ditempuh dengan beberapa cara, antara
lain : [14]
NERVE GRAFTS
Repair saraf secara langsung tanpa graft saraf hanya mungkin dilakukan pada
cedera tajam dengan posisi melintang, namun keadaan ini jarang dijumpai. graft
saraf merupakan teknik yang paling banyak dilakukan pada repair pleksus
brachialis. tension free nerve graft lebih baik dibandingkan dengan repair under
tension. graft kutaneus yang tipis (misalnya saraf sural) dipersiapkan karena lebih
mudah tervaskularisasi. jika graft saraf terlalu tebal, pusat graft saraf tidak dapat
tervaskularisasi, dan graft akan gagal. kebanyakan ahli bedah setuju bahwa graft
saraf yang pendek lebih baik dibandingkan dengan graft saraf yang panjang
(misalnya berukuran lebih dari 7 cm). Graft harus 20% lebih panjang dari defek
saraf. Graft saraf yang tervaskularisasi sesuai untuk jaringan skar dan untuk
memperbaiki defek ukuran besar pada saraf. Komplikasi vaskuler dapat
menyebabkan hilangnya graft secara keseluruhan, untuk menjembatani defek yang
panjang (30 cm atau lebih), seperti pada transfer kontralateral, graft saraf
tervaskularisasi terbukti lebih baik. Pada avulsi pleksus brachialis yang lebih
besar pada C8 dan T1, saraf ulnar tervaskularisasi telah digunakan untuk transfer
saraf C7 kontralateral ke saraf median. Pengambilan graft saraf sural secara
endoskopik telah dilakukan untuk menghindari kelemahan pada teknik terbuka.
teknik ini memberikan kepuasan yang lebih baik, angka kecacatan yang lebih
kecil, dan tidak menggangu estetika. [14]
NERVE ALLOGRAFTS
Allograft saraf bekerja sebagai kerangka temporer sampai terjadi regenerasi
akson. Jaringan allograft secara keseluruhan menggantikan bahan dasar.
Imunosupresan fk 506 yang baru, dikenal dengan takrolimus, memiliki efek

25

samping yang lebih rendah dibandingkan imunosupresan lainnya. Imunosupresan


ini memiliki kemampuan neurogeneratif dan neuroprotektif. [14]
FIBRIN GLUE IN NERVE REPAIR
Dahulu graft saraf dijahit dengan menggunakan jahitan mikro sintetik, yang
dapat menstimulasi reaksi fibrosis dan inflamasi pada area sambungan yang dapat
menghambat regenerasi serat saraf. Naraka, pada tahun 1988 menggunakan lem
fibrin pada repair saraf. Sejak saat itu menjadi trend dikalangan ahli bedah saraf
perifer. Studi terbaru membandingkan lem fibrin dengan jahitan mikro pada
repair saraf median tikus dan menghasilkan repair saraf dengan fibrin sealant
menghasilkan respon inflamasi dan fibrosis yang lebih kecil, regenerasi aksonal
yang lebih baik, dan kesejajaran serat yang lebih baik dibandingkan dengan
terknik jahitan mikro. Selain itu teknik fibrin sealant juga cepat dan mudah
digunakan. [14]
NERVE CONDUITS
Meskipun transplantasi graft saraf autologous merupakan plihan utama
penanganan pasien dengan celah saraf perifer, namun kelemahan utama teknik ini
adalah terbatasnya saraf donor yang tersedia. Masalah inilah yang menjadi alasan
munculnya metode nerve guidance channels. Saluran saraf ini membantu
mengarahkan tunas aksonal dari puntung proksimal sampai ke puntung saraf
distal. Cara ini juga menyediakan saluran untuk difusi faktor-faktor neurotropik
dan neutotopik dan meminimalisasi infiltrasi jaringan ikat. Pipa saluran dibuat
dari bahan dasar biologi misalnya kolagen yang telah menunjukkan keberhasilan
pada jarak celah kurang dari 3 cm. [14]

NERVE TRANSFERS
Neurotisasi (atau transfer saraf) dilakukan pada repair cedera pleksus

brachialis yang berat, dimana akar saraf spinal proksimal robek dari medulla
spinalis. Saraf proksimal yang sehat kemudian disambungkan ke distal untuk
menginervasi saraf yang tidak menerima innervasi melalui akson yang
didonorkan. Konsep ini adalah dengan mengorbankan fungsi dari otot donor yang
kurang berguna untuk menghidupkan kembali fungsi saraf

dan otot resipien

melalui re-innervasi. Re- implantasi serat spinal yang avulsi ke dalam medulla
spinalis

26

Carlstedt, berdasar pada penelitian binatang, membedah 10 pasien dengan lesi


pleksus brachialis dan berhasil mengembalikan fungsi otot lengan proksimal
melalui re-plantasi saraf. Re-plantasi saraf secara langsung kadangkala tidak dapat
dilakukan. Alternatif lainnya adalah dengan menghubungkan saraf target dengan
graft saraf yang di implantasi ke dalam medulla spinalis. [14]
b. REHABILITASI MEDIK
Pada awal trauma, lengan mungkin diistirahatkan beberapa hari atau minggu
sebelum memulai latihan. Pada fase subakut, terapi secara bertahap berkembang
dari gerak pasif menjadi aktif yang dapat ditoleransi. [10]
1. Imobilisasi
Imobilisasi merupakan terapi yang efektif untuk mengurangi nyeri akut. Pada
trauma plexus brachialis dilakukan positioning, yakni lengan diletakkan dalam
sikap abduksi, elevasi di atas bahu dengan tangan eksorotasi untuk membebaskan
saraf spinal dari peregangan dan mengembalikan fungsi saraf kembali. [15]
2. Ultrasound Diathermy (USD)
3. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
4. Electrical Muscle Stimulation (EMS)
5. Terapi latihan (Physioterapy)
Program rehabilitasi dapat dilakukan dengan terapis fisik dan atau terapi
okupasi. Tujuannya adalah untuk mencegah atropi, mempertahankan ROM,
meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, menangani nyeri, mengembalikan fungsi
struktur yang diinervasi oleh saraf yang rusak untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien. Beberapa latihan yang dapat digunakan: [16]
a. Latihan Range Of Motion (ROM)
ROM terdiri dari aktif, pasif atau kombinasi keduanya. Latihan yang dapat
dilakukan 1. Kepalkan tangan kemudian lepaskan semampunya,2. Tekuk
pergelangan tangan sehingga telapak tangan bergerak ke arah lengan bawah,
tahan selama 3-5 detik kemudian luruskan, 3. Ekstensi pergelangan tangan
semampunya kemudian luruskan, 4. Fleksi siku semampunya kemudian
luruskan, 5. Berdiri tegak, tangan di samping badan, angkat ke depan dan ke
atas, tahan kemudian lepaskan. [16]
b. Latihan penguatan

27

Penguatan dilakukan dengan mengulangi latihan ROM tetapi dengan


menggunakan tahanan. Tahanan bisa dalam bentuk tension bands atau barbell.
Tahanan ditingkatkan sampai dapat menyelesaikan tiga set dengan mudah,
sambil mempertahankan bentuk yang baik. Gerakan tidak terlalu cepat tetapi
terkontrol dan hindari bantuan dari bagian tubuh lainnya seperti bersandarke
samping sambil mengangkut lengan di atas kepala. [16]
6. Terapi okupasi
Terapi okupasi terkonsentrasi pada mempertahankan ROM di bahu, orthosis
yang tepat untuk mendukung fungsi tangan, siku dan lengan, dan menangani
control edema dan deficit sensorik, dengan pengujian dan terapi. Terapi okupasi
mungkin menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kemampuan pasien
untuk menulis, mengetik, dan menemukan cara alternative untuk berkomunikasi.
Selain itu, terapi okupasi menyediakan bentuk pelatihan ulang untuk aktivitas
hidup sehari-hari, termasuk penggunaan teknik 1 lengan, peralatan adaptif, dan
latihan penguatan. [16], [17]
7. Ortohosis
Pada umumnya penderita dengan trauma plexus brachialis akan menggunakan
lengan kontralateral untuk beraktivitas. Pada beberapa kasus, penderita
memerlukan kedua tangan untuk melakukan aktivitas yang lebih kompleks. Untuk
itu orthosis di desain sesuai kebutuhan, terutama untuk mensuport bahu dan siku.
Beberapa orthosis digerakkan menggunakan system mioelektrik, sehingga
penderita mampu melakukan gerakan pada pergelangan tangan dan pinch pada
jari-jarinya. [16], [17]
Orthosis ini dapat membantu penderita pasca trauma untuk melakukan
aktivitas sehari-hari seperti makan dan minum dari gelas atau botol, menyisir
rambut, menggosok gigi, menulis, menggambar, membuka dan menutup pintu,
membawa barang-barang. [16], [17]

28

DAFTAR PUSTAKA
1.

Foster, M., Traumatic Brachial Plexus Injuries. 2011, emedicine. p. 1-4.

2.

Susan L. Foad, MPH; Charles T. Mehlman, DO, MPH; Jun Ying, PhD
J Bone Joint Surg Am, 2008 Jun 01; 90 (6): 1258 -1264

3.

Dorsi, M., W. Hsu, and A. Belzberg, Epidemiology of brachial plexus


injury in the pediatric multitrauma population in the United States. Journal
of Neurosurgery, 2010. 5.

4.

Rajiv, M., Epidemiology of Brachial Plexus Injuries in a Multitrauma


Population. Neurosurgery, 1997. 40(6): p. 1182-89.

29

5.

Snell, R., Ekstremitas superior, in Anatomi Klinik untuk Mahasiswa


Kedokteran, J. Oswari, Editor. 1998, Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta. p. 132-253.

6.

Moore, K. and A. Agur, Essential Clinical Anatomy ed. 3. 2007,


Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins.

7.

Wood, M. and P. Murray, Current Concepts in the Surgical Management of


Brachial Plexus Injuries. 2006, www. DCMSonline.org. p. 31-4.

10.

Foster, M., Brachial Plexus Injury Traumatic. 2009, emedicine.

11.

Grant, G., R. Goodkin, and M. Kliot, Evaluation and treatment of


traumatic peripheral nerve injuries, in Neurosurgical Operative Atlas Spine
and Peripheral Nerves, B. Brandenburg, Editor. 2007, Thieme Medical
Publisher: New York. p. 888-94.

12.

Yoshikawa, T., et al., Brachial Plexus Injury: Clinical Manifestations,


Conventional Imaging Findings, and the Latest Imaging Techniques.
Radiographics, 2006. 26: p. 133-44.

13.

Van, H., et al. MRI of the brachial plexus. Volume, 84-90

14.

Bhandari, P., et al., Current trends in the management of brachial plexus


injuries. Indian Journal of Neurotrauma, 2008. 5(1): p. 21-5.

15.

Aulina, S. and A. Pratiwi, Rehabilitasi pada nyeri dalam nyeri neuropatik


2001: Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI.

16.

Weiss, L. and J. Silver, Brachial Plexopathies in Easy EMG. 2004,


Eidenburgh: Butterworth Heinemann.

17.

Kaye, V., Traumatic Brachial Plexopath. 2008.

18.

Murad, G., S. Yamada, and R. Lonser, Brigde Bypass Coaptation for


Upper Trunk Cervical Nerve Root Avulsion, in Neurosurgical Operative

30

Atlas Spine and Peripheral Nerves, B. Brandenburg, Editor. 2007, Thieme


Medical Publisher: New York. p. 396-401.

31