Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Semua orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan

masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami
kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat
melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Proses menjadi tua menggambarkan betapa
proses tersebut dapat diinteferensi sehingga dapat mencapai hasil yang sangat
optimal. Secara umum orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat
dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan
wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut
dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini
tidak mau menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996 : 439).
Lanjut usia adalah tahap akhir dari perkembanganmanusi. Banyak para ahli
mengemukakan pendapat masing-masing mengenai kapan masa lanjut usia dimulai.
Pada umumnya para ahli memakai patokan usia kronologis sebagai dasarnya. Ada
pendapat yang menyatakan bahwa lanjut usia dibatasi usia 60 th (Hurlock, 1991), di
Indonesia usia lanjut dimulai pada usia 55 th (Utami, 1993), WHO memberikan
batasan yang lebih berani yaitu 65 th. Masa usia lanjut ditandai dengan berbagai
kemunduran fungsi tubuh sepertiberkurangnya fungsi pengindraan dan ingatan,
berhentinya menstruasi dsb. Perubahan fisiologis iniberpengaruh secara langsung atau
tidak langsung pada fungsi sosial, yang juga perubahan peran dan statusnya
dimasyarakat.

1.2

Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari lansia itu sendiri?
1.2.2 Apa saja ciri-ciri dari seorang lansia?
1.2.3 Bagaimana proses perkembangan yang terjadi pada lansia?
1.2.4 Apa saja jenis perubahan yang terjadi pada lansia?
1.2.5 Apa saja tugas-tugas perkembangan pada lansia?
1.2.6 Kajian aplikatif apa yang bisa didapatkan dari perkembangan lansia ini?
1.2.7 Solusi apa yang dapat diberikan pada permasalahan yang dihadapi oleh
para lansia?

1.3

Tujuan
1.3.1 Untuk memahami pengertian dari lansia itu sendiri.
1.3.2 Agar mengerti dan memahami apa saja ciri-ciri dari seorang lansia.
1.3.3 Agar dapat memahami proses perkembangan yang terjadi pada lansia.
1.3.4 Memahami jenis perubahan yang terjadi pada lansia.
1.3.5 Memahami tugas-tugas perkembangan pada lansia
1.3.6 Agar mengetahui Kajian aplikatif yang bisa didapatkan dari
perkembangan lansia ini.
1.3.7 Dapat memberikan solusi pada permasalahan yang dihadapi oleh para
lansia.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Lanjut Usia


Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut

Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa
dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang
menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah
disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang
perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59
tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun dan usia
sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap
orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke
atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk
keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari.
Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun
merupakan kelompok umur yang mencapai tahap penisium, pada tahap ini akan
mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai
tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam
hidupnya.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia
merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam
proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan
dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.
3

Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang
sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar
luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia
bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang
berbeda-beda.

2.2

Ciri-Ciri Lansia
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980, h.380) terdapat beberapa ciri-ciri orang

lanjut usia, yaitu :


a) Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis.
Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang
penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat
apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang kuat
maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b) Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial
yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapatpendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti : lansia
lebih senang mempertahankan pendapatnya daripada mendengarkan pendapat orang
lain.
c) Menua membutuhkan perubahan peran

Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran


dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar
keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
d) Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk
perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri
lansia menjadi buruk.

2.3

Proses Perkembangan Pada Lansia


Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia di

duia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan. Usia lanjut
merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Semua orang akan mengalami
proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir,
dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial
sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi.
Periode ini digambarkan dalam hadis sebagai berikut :
Masa penuaan umur umatku adalah enam puluh hingga tujuh puluh tahun.
(HR. Muslim dan Nasi).
Dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa :
Mereka berkata : Ya Rasulullah, berapakah ketetapan umur-umur umatmu? Jawab
beliau : Saat kematian mereka (pada umumnya) antara usia enam puluh tahun dan
tujuh puluh. Meraka bertanya lagi : Ya Rasulullah, bagaimana dengan umur delapan
puluh? Jawab beliau, sedikit sekali umatku yang dapat mencapainya. Semoga Allah

merahmati orag-orang yang mencapai umur delapan puluh.(HR. Hudzaifah Ibn


Yamani).
Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan penurunan, yang
penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya.
Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh,
jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia ,
penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerative pada kulit, tulang jantung,
pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan
regeneratife yang terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma
dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Penurunan ini terutama
penurunan yang terjadi pada kemampuan otak, dalam Al-Quran juga telah
diterangkan dalam surat An-Nahl ayat 70 yaitu :
Artinya: Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu
ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya Dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Kuasa (QS. An Nahl ayat 70)
Dalam ayat yang lain juga di jelaskan mengenai tahapan-tahapan yang berkaitan
dengan perkembangan seorang lanjut usia yaitu :
Artinya : Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani,
sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang
anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),
kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang
diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal
yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya) (QS.Al-Mukmin ayat 60 )
Berkaitan dengan berbagai penurunan yang terjadi di usia tua, Nabi Muhammad Saw
pernah berdoa kepada Allah : Dan aku berlindung kepada-Mu dari usia yang paling

hina (tua renta).Namun orang yang bermal baik tidak akan menyesali umurnya yang
panjang. Sebagaimana diterangkan dalam hadis :
Sebaik-baiknya kamu ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalanya
(HR.At-Tirmizdhi)
Diterangkan juga dalam hadis yang lain : Berubannya rambut seorang Muslim
merupakan nur baginya(HR. Ath-Tirmizdhi dan Nasai)
Untuk menjelaskan penurunan pada tahap ini, teradapat berbagai perbedaan
teori, namun para pada umumnya sepakat bahwa proses ini lebih banyak ditemukan
oleh faktor gen. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat sel, umur sel manusia
ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang beralokasi pada ujung kromosom.
Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika telomere berkurang ukuranya pada ujung
kritis tertentu.

2.4

Jenis Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


a) Perkembangan jasmani
Penuaan terbagi atas penuaan primer ( primary aging) dan penuaan sekunder

(secondary aging). Pada penuaan primer tubuh mulai melemah dan mengalami
penurunan alamiah. Sedangkan pada proses penuaan sekunder, terjadi proses penuaan
karena faktor-faktor eksteren, seperti lingkungan ataupun perilaku. Berbagai paparan
lingkungan dapat dapat mempengaruhi proses penuaan, misalnya cahaya ultraviolet
serta gas karbindioksida yang dapat menimbulkan katarak, ataupun suara yang sangat
keras seperti pada stasiun kereta api sehingga dapat menimbulkan berkurangnya
kepekaan pendengaran. Selain hal yang telah disebutkan di atas perilaku yang kurang
sehat juga dapat mempengaruhi cepatnya proses penuaan, seperti merokok yang dapat
mengurangi fungsi organ pernapasan.

Penuaan membuat sesorang mengalami perubahan postur tubuh. Kepadatan tulang


dapat berkurang, tulang belakang dapat memadat sehingga membuat tulang punggung
menjadi telihat pendaek atau melengkung. Perubahan ini dapat mengakibatkan
kerapuhan tulang sehingga terjadi osteoporosis, dan masalah ini merupakan hal yang
sering dihadapi oleh para lansia.
Penuaan yang terlihat pada kulit di seluruh tubuh lansia, kulit menjadi
semakin menebal dan kendur atau semakin banyak keriput yang terjadi. Rambut yang
menjadi putih juga merupakan salah satu cirri-ciri yang menandai proses penuaan.
Kulit yang menua menjadi menebal, lebih terlihat pucat dan kurang bersinar.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lapisan konektif ini dapat mengurangi
kekuatan dan elasitas kulit, sehingga para lansia ini menjadi lebih rentan untuk
terjadinya pendarahan di bawah kulit yang mengakibatkan kulit mejadi tampak biru
dan memar. Pada penuaan kelenjar ini mengakibatkan kelenjar kulit mengasilkan
minyak yang lebih sedikit sehingga menyebabkan kulit kehilangan kelembabanya dan
mejadikan kulit kering dan gatal-gatal. Dengan berkurangnya lapisan lemak ini resiko
yang dihadapi oleh lansia menjadi lebih rentan untuk mengalami cedera kulit.
Penuaan juga mengubah sistim saraf. Masa sel saraf berkurang yang
menyebabkan atropy pada otak spinal cord. Jumlah sel berkurang, dan masingmasing sel memiliki lebih sedikit cabang. Perubahan ini dapat memperlambat
kecepatan transmisi pesan menuju otak. Setelah saraf membawa pesan, dibutuhkan
waktu singkat untuk beristirahat sehingga tiidak dimungkinkan lagi mentrasmisikan
pesan yang lain. Selain itu juga terdapat penumpukan produksi buangan dari sel saraf
yang mengalami atropy pada lapisan otak yang menyebabkan lapisan plak atau noda.
Orang lanjut usia juga memiliki berbagai resio pada sitem saraf, mislanya
berbagai jenis infeksi yang diderita oleh seorang lansia juga dapat mempengaruhi
proses berfikir ataupun perilaku. Penyebab lain yang menyebabkan kesulitan sesaat
dalam proses berfikir dan perilaku adalah gangguan regulasi glukosa dan

metabolisme lansia yang mengidap diabetes. Fluktuasi tingkat glukosa dapat


menebabkan gangguan berfikr. Perubahan signifikan dalam ingatan, berfikir atau
perilakuan dapat mempengaruhi gaya hidup seorang lansia. Ketika terjadi degenerasi
saraf, alat-alat indra dapat terpengaruh. Refleks dapat berkurang atau hilang.
Alat-alat indra persebtual juga mengalami penuaan sejalan dengan perjalanan
usia. Alat-alat indra menjadi kuranng tajam, dan orang dapat mengalami kesulitan
dalam membedakan sesuatu yang lebih detail, misalnya ketika seorang lansia di suruh
untuk membaca koran maka orang ini akan mengalami kesulitan untuk membacanya,
sehingga dibutuhkan alat bantu untuk membaca berupa kacamata. Perubahan alat
sensorik memiliki dampak yang besar pada gaya hidup sesorang. Seseorang dapat
mengalami masalah dengan komunikasi, aktifitas, atau bahkan interaksi sosial.
Pendengaran dan pengelihatan merupakan indra yang paling banyak
mengalami perubahan, sejalan dengan proses penuaan indra pendengaran mulai
memburuk. Gendang telinga menebal sehingga tulang dalam telinga dan stuktur yang
lainya menjadi terpengaruh. Ketajaman pendengaran dapat berkurang karena terjadi
perubhan saraf audiotorik. Kerusakan indara pendengaran ini juga dapat terjadi
karena perubahan pada lilin telinga yang biasa terjadi seiring bertambahnya usia.
Struktur mata juga berubah karena penuaan. Mata memproduksi lebih sedikit
air mata, sehingga dapat me,buat mata menjadi kering. Kornea menjadi kurang
sensitive. Pada usia 60 tahun, pupil mata berkurang sepertiga dari ukuran ketika
berusia 20 tahun. Pupil dapat bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya gelap
ataupun terang. Lensa mata menjadi kuning, kurang fleksibel, dan apabila
memandang menjadi kabur dan kurang jelas. Bantalan lemak pendukung berkurang,
dan mata tenggelam ke kantung belakang. Otot mata menjadikan mata kurang dapat
berputar secara sempurna, cairan di dalam mata juga dapat berubah. Masalah yang
paling yang paling umum dialami oleh lansia adalah kesulitan untuk mengatur titik
focus mata pada jarak tertentu sehingga pandangan menjdi kurang jelas.

Perubahan fisik pada lansia lebih banyak ditekankan pada alat indera dan sistem saraf
mereka. Sistem pendengaran, penglihatan sangat nyata sekali perubahan penurunan
keberfungsian alat indera tersebut. Sedangkan pada sistem sarafnya adalah mulai
menurunnya pemberian respon dari stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Pada
lansia juga mengalami perubahan keberfungsian organ-organ dan alat reproduksi baik
pria ataupun wanita. Dari perubahan-perubahan fisik yang nyata dapat dilihat
membuat lansia merasa minder atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi
dengan lingkungannya (J.W.Santrock, 2002 :198). Dari penjelasan di atas dapat di
tarik kesimpulan berkenaan dengan cirri-ciri fisik lansia yaitu sebagi berikut (1)
postur tubuh lansia mulai berubah bengkok (bungkuk),(2) kondisi kulit mulai kering
dan keriput,(3) daya ingat mulai menurun,(4) kondisi mata yang mulai rabun,(5)
pendengaran yang berkurang.
b) Perkembangan Intelektual
Menurut david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan
mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum, hampir
sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai puncak pada usia
antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang secara terus menerus
mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang lansia.
Ketika lansia memperlihatkan kemunduran intelektualiatas yang mulai
menurun, kemunduran tersebut juga cenderung mempengaruhi keterbatasan memori
tertentu. Misalnya seseorang yang memasuki masa pensiun, yang tidak menghadapi
tantangan-tantangan penyesuaian intelektual sehubungan dengan masalah pekerjaan,
dan di mungkinkan lebih sedikit menggunakan memori atau bahkan kurang
termotivasi untuk mengingat beberpa hal, jelas akan mengalami kemunduran
memorinya. Menurut Ratner et.al dalam desmita (20080 penggunaan bermacammacam strategi penghafalan bagi orang tua , tidak hanya memungkinkan dapat

10

mencegah kemunduran intelektualitas, melinkan dapat menigkatkan kekuatan memori


pada lansia tersebut.
Kemerosotan intelektual lansia ini pada umumnya merupakan sesuatau yang
tidak dapat dihindarkan, disebabkan berbagai faktor, seperti penyakit, kecemasan atau
depresi. Tatapi kemampuan intelektual lansia tersebut pada dasarnya dapat
dipertahankan. Salah satu faktor untuk dapat mempertahankan kondisi tersebut salah
satunya adalah dengan menyediakan lingkungan yang dapat merangsang ataupun
melatih ketrampilan intelektual mereka, serta dapat mengantisipasi terjadinya
kepikunan.
c) Perkembangan Emosional
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan
menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang dapat
menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi (Widyastuti, 2000).
Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak ikhlasan menerima kenyataan
baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan
sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut
usia.
Hal hal tersebut di atas yang dapat menjadi penyebab lanjut usia kesulitan
dalam melakukan penyesuaian diri. Bahkan sering ditemui lanjut usia dengan
penyesuaian diri yang buruk. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan
fungsional, keadaan depresi dan ketakuatan akan mengakibatkan lanjut usia semakin
sulit melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga lanjut usia yang masa lalunya
sulit dalam menyesuaikan diri cenderung menjadi semakin sulit penyesuaian diri pada
masa-masa selanjutnya.
Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan
orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan akibat perubahan perubahan

11

fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang
disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat
sehingga dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan
masalah baru.
Pada orang orang dewasa lanjut atau lanjut usia, yang menjalani masa
pensiun dikatakan memiliki penyesuaian diri paling baik merupakan lanjut usia yang
sehat, memiliki pendapatan yang layak, aktif, berpendidikan baik, memiliki relasi
sosial yang luas termasuk diantaranya teman teman dan keluarga, dan biasanya
merasa puas dengan kehidupannya sebelum pensiun (Palmore, dkk, 1985). Orang
orang dewasa lanjut dengan penghasilan tidak layak dan kesehatan yang buruk, dan
harus menyesuaikan diri dengan stres lainnya yang terjadi seiring dengan pensiun,
seperti kematian pasangannya, memiliki lebih banyak kesulitan untuk menyesuaikan
diri dengan fase pensiun (Stull & Hatch, 1984).
Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya berkaitan dengan
dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut usia dengan keterampilan emosi
yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam
kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka.
Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan
mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk
berkonsentrasi ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih.
Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan
kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk mengantisipasi
hal buruk yang mungkin akan terjadi. Dorongan yang relevan dengan rasa takut
menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat bahwa rasa takut
mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal tidak menyenangkan yang
mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu akan bersiap menghadapi hal-hal

12

buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa takut. Ketika individu memasuki fase
lanjut usia, gejala umum yang nampak yang dialami oleh orang lansia adalah
perasaan takut menjadi tua. Ketakutan tersebut bersumber dari penurunan
kemampuan yang ada dalam dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan
fisik sehingga mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang
senang terhadap diri sendiri.
Ditinjau dari aspek yang lain respon-respon emosional mereka lebih spesifik,
kurang bervariasi, dan kurang mengena pada suatu peristiwa daripada orang-orang
muda. Bukan hal yang aneh apabila orang-orang yang berusia lanjut memperlihatkan
tanda-tanda kemunduran dalam berperilaku emosional; seperti sifat-sifat yang negatif,
mudah marah, serta sifat-sifat buruk yang biasa terdapat pada anak-anak.
Orang yang berusia lanjut kurang memiliki kemampuan untuk
mengekspresikan kehangatan dan persaan secara spontan terhadap orang lain. Mereka
menjadi kikir dalam kasih sayang. Mereka takut mengekspresikan perasaan yang
positif kepada orang lain karena melalui pengalaman-pengalaman masa lalu
membuktikan bahwa perasaan positif yang dilontarkan jarang memperoleh respon
yang memadai dari orang-orang yang diberi perasaan yang positif itu. Akibatnya
mereka sering merasa bahwa usaha yang dilakukan itu akan sia-sia. Semakin orang
berusia lanjut menutup diri, semakin pasif pula perilaku emosional mereka.
d) Perkembangan Spiritual
Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama
menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan
optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan memberikan
ketenangan batiniah, khususnya bagi para Lansia. Rasulullah bersabda semua
penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua. Sehingga religiusitas atau penghayatan
keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan

13

mental, hal ini ditunjukan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997),
bahwa :
1.Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar
daripada orang yang religius.
2.Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat
dibandingkan yang non religius.
3.Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi
atau masalah hidup lainnya.
4.Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres
daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih
kecil.
5.Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat
terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.
e) Perubahan Sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka,
walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang
memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan.
Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang banyak pada
lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia.
(J.W.Santrock, 2002, h.239).
f) Perubahan Kehidupan Keluarga
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan yang
disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain : kurangnya rasa
memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat tinggal antara anak dan

14

orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika antara lansia dengan anak memiliki
hubungan yang memuaskan sampai lansia tersebut berusia 50 sampai 55 tahun. Orang
tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya sendiri maka
secara emosional lansia tersebut kurang tergantung pada anaknya dan sebaliknya.
Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal keuangan. Karena lansia sudah
tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anakanaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau tanggung jawab yang
harus mereka penuhi.
g) Hubungan Sosio-Emosional Lansia
Masa penuaan yang terjadi pada setiap orang memiliki berbagai macam
penyambutan. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan segalanya bagi
hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang merasa terbebani atau merasa
cemas ketika mereka beranjak tua. Takut ditinggalkan oleh keluarga, takut merasa
tersisihkan dan takut akan rasa kesepian yang akan datang. Keberadaan lingkungan
keluarga dan sosial yang menerima lansia juga akan memberikan kontribusi positif
bagi perkembangan sosio-emosional lansia, namun begitu pula sebaliknya jika
lingkungan keluarga dan sosial menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau
ruang interaksi bagi mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi
kelangsungan hidup lansia.

2.5

Tugas-tugas perkembangan pada lansia


15

Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau meyesuaikan diri


terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang
pada tahap sebelumnya.
Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan
kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi
dengan orang-orang di sekitarnya, maka pada usia lanjut ia akan tetap melakukan
kegiatan yang biasa ia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya seperti
olahraga, mengembangkan hobi bercocok tanam dan lain-lain.
Adapun tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun
b. Mempersiapkan diri untuk pensiun
c. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya
d. Mempersiapkan kehidupan baru
e. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat secara santai
f. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan
g. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik

h. Menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi karena pensiun dan


berkurangnya penghasilan
i. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
j. Menerima fakta bahwa dirinya termasuk golongan lanjut usia dan mencari
kelompok seusia
k.Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara fleksibel

l. Merasa puas terhadap lingkungan hidup yang mungkin diatur orang lain
Tahap-tahap yang terjadi pada lansia :
1.

Ego Differentiation : Pada umumnya masa ini individu telah

memasuki masa pension, maka tugas yang penting pada masa ini adalah
individu mampu membuat penilaian dan mendefinisikan kembali harga

16

dirinya dari sudut yang lebih luas dari pada hanya penilaian berdasarkan
peran kerja.
2.

Body Trancendence : Pada masa lansia, banyak sekali terjadi

penurunan fisik sehingga rentan terhadap penyakit, oleh karena itu lansia
harus menemukan system nilai baru dibalik penurunan fisik dengan
meningkatkan hubungan social, misalnya dengan keluarga.
3.

Ego Trancendence : Suatu kenyataan krusial pada masa lansia

adalah kematian yang segera menjemput. Individu yang dapat menerima


kenyataan ini tidak hanya bersikap pasif , tetapi diharapkan tetap aktif
melibatkan diri dalam hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan setelah
kematian, misal hidup dengan bermurah hati, tidak mementingkan diri sendiri,
tekun beribadah, beramal, dll.

2.6

Kajian aplikatif yang bisa didapatkan dari perkembangan lansia


Dalam observasi ini, penulis memperoleh data dari dua nara sumber sebagai

berikut :

17

Permaslahan yang dihadapi oleh Lansia


Terkait dengan permasalahan yang dialami oleh koresponden, mencakup beberapa hal
sebagai berikut :
a). Koresponden pertama
1). Perkembangan Fisik
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang bernama Bapak
XXX terkait dengan masalah pekembangan fisik yang mulai melemah, hal ini
dapat di analisis dari berbagai pertanyaan terkait dengan permasalahan ini
yaitu :
Seringnya terjadi radang persendian ketika melakukan aktivitas yang
cukup berat. Indra pengelihatan yang mulai kabur serta daya tahan tubuh yang
menurun, sehingga sering mengalami sakit (masuk angin, flu)
2). Perkembangan Kognitif ( Intelektual )
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan
masalah pekembangan kognitif, ini dapat di analisis dari berbagai pertanyaan
yang dapat disimpulkan bahwa :
Mulai melemahnya daya ingat terhadap sesuatu hal. Sulit untuk
bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar

3). Perkembangan Emosional

18

Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan


masalah pekembangan emosional, ini dapat di analisis dari berbagai
pernyataan terkait dengan permasalahan ini yaitu :
Rasa ingin berkumpul dengan keluarga sangat kuat, sehingga tingkat
perhatian beliau menjadi sangat besar. Apabila melihat rekan kerja kurang
aktif dalam melakukan pekerjaanya, maka tingkat emosi meningkat, terbukti
bahwa beliau segera menegur rekan kerjanya tersebut agar lebih cekatan.
4). Perkembangan Spiritual
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan
masalah pekembangan spiritual, ini dapat di analisis dari berbagai pertanyaan
terkait dengan permasalahan ini yaitu :
Kesulitan untuk menghafal ayat Al-Quran karena daya ingat yang
mulai menurun. Merasa kurang tenang ketika mengetahui anggota
keluarganya belum mengerjakan sholat lima waktu.
b) Koresponden Kedua
1).Perkembangan Fisik
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang bernama ibu XXX
terkait dengan masalah pekembangan fisik yang mulai melemah, hal ini dapat
di analisis dari berbagai pertanyaan terkait dengan permasalahan ini yaitu :
Sering terjadinya rematik. Indra pendengaran yang mulai berkurang
berfungsu dengan baik

2). Perkembangan Kognitif ( Intelektual )

19

Permasalahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan


masalah pekembangan kognitif, ini dapat di analisis dari berbagai pertanyaan
yang dapat disimpulkan bahwa :
Mulai melemahnya daya ingat (pikun)
3). Perkembangan Emosional
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan
masalah pekembangan emosional, ini dapat di analisis dari berbagai
pernyataan terkait dengan permasalahan ini yaitu :
Sering marah apabila ada sesuatu yang kurang sesuai dengan kehendak
pribadi. Sering stress akibat masalah ekonomi yang kurang terpenuhi
4). Perkembangan Spiritual
Permaslahan yang hadapi oleh koresponden yang terkait dengan
masalah pekembangan spiritual, ini dapat di analisis dari berbagai pertanyaan
terkait dengan permasalahan ini yaitu :
Belum bisa membaca ayat Al-Quran. Merasa gelisah ketika menemui
permasalahan yang cukup serius.

2.7

Solusi yang dapat diberikan pada permasalahan yang dihadapi oleh para

lansia

20

Berkaitan dengan masalah yang sering dialami oleh orang yang berusia lanjut
dapat di tempuh melalui hal-hal sebagai berikut :
a) Berkanaan dengan Kesahatan Lansia ( fisik) :
Orang yang telah lanjut usia identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan
mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan memerlukan obat yang jumlah
atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Pemberian nutrisi yang baik
dan cukup sangat diperlukan lansia,misalnya pemberian asupan gizi yang cukup serta
mengandung serat dalam jumlah yang besar yang bersumber pada buah, sayur dan
beraneka pati, yang dikonsumsi dengan jumlah bertahap. Minum air putih 1.5 2
liter, secara teratur. Olah raga teratur dan sesuai dengan kapasitas kemampuanya.
Istirahat, tidur yang cukup. Minum suplemen gizi yang diperlukan. Memeriksa
kesehatan secara teratur.
b) Berkanaan dengan Emosi :
Lebih mendekatkan diri kepada ALLAH dan menyerahkan diri kita sepenuhnya
kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran menjadi tenang. Hindari
stres, hidup yang penuh tekanan akan merusak kesehatan, merusak tubuh dan
wajahpun menjadi nampak semakin tua. Stres juga dapat menyebabkan atau memicu
berbagai penyakit seperti stroke, asma, darah tinggi, penyakit jantung dan lain-lain.
Tersenyum dan tertawa sangat baik, karena akan memperbaiki mental dan fisik secara
alami. Penampilan kita juga akan tampak lebih menarik dan lebih disukai orang lain.
Tertawa membantu memandang hidup dengan positif dan juga terbukti memiliki
kemampuan untuk menyembuhkan. Tertawa juga ampuh untuk mengendalikan emosi
kita yang tinggi dan juga untuk melemaskan otak kita dari kelelahan.
Rekreasi untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas selama seminggu maka
dilakukan rekreasi. Rekreasi tidak harus mahal, dapat disesuaikan denga kondisi serta
kemampuan. Hubungan antar sesama yang sehat, pertahankan hubungan yang baik
21

dengan keluarga dan teman-teman, karena hidup sehat bukan hanya sehat jasmani dan
rohani tetapi juga harus sehat sosial. Dengan adanya hubungan yang baik dengan
keluarga dan teman-teman dapat membuat hidup lebih berarti yang selanjutnya akan
mendorong seseorang untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkan
kesehatannya karena ingin lebih lama menikmati kebersamaan dengan orang-orang
yang dicintai dan disayangi.
c) Berkanaan dengan Spiritual
Lebih mendekatkan diri kepada ALLAH dan menyerahkan diri kita sepenuhnya
kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran menjadi tenang. Intropeksi
terhadap hal-hal yang telah kita lakukan, serta lebih banyak beribadah. Belajar secara
rutin dengan cara, membaca surat-surat pendek atau ayat Al-quran secara beransuransur.

BAB 3
PENUTUP

22

3.1

Kesimpulan
Dari berbagai analis di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kajian teori

dengan hasil obserfasi, tidaklah selalu sama secara keseluruhan tetapi terdapat hal
yang berbeda, terutama dalam hal yang berkaitan dengan perkembangan emosional
lansia. Dalam hal ini perbebedaan antara teori dengan praktik lebih terfokus pada
faktor lingkunagn yang sangat berperan dalam pembentukan emosional lansia.
Apabila lingkungan tersebut mendorong seorang lansia lebih tenang dalam
meghadapi masa tuanya, dalam artian lingkungan tersebut sangat relijius maka hal
yang di rasakan oleh orang yang usia lanjut, lebih tenang dan lebih bersiap dalam
mempersiapkan hari tuanya.
Tetapi apabila dalam lingkungan lansia tersebut kurang bersifat relijius,
misalnya anggota keluarga, ataupun tetangga yang kurang agamis, maka persiapan
lansia ini dalam menghadapi masa tuanya sangat gelisah karena, dalam hal ini objek
merasa kurang diperhatikan dan orang-orang yang dianggap bisa mendukungnya ini,
malah bersifat kurang responsive, sehingga perasaan gelisah ini sangat nampak.

DAFTAR PUSTAKA
B. Hurlock, Elizabeth, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1980.

23

Desmita, Psikologi Perkembangan. Cet.II; Bandung, Remaja Rosdakarya,


2006.
F.J. Monks & A.M.P. Knoers, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam
Berbagai Bagiannya. Cet.XV; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2004
Memahami Kepribadian Lansia, diakses pada tanggal 02 Januari 2010 dari
http://singgihpanduwicaksono.blogspot.com/
Depresi pada Lansia, diakses pada tanggal 30 Desember 2009 dari
http://lansiafood.net

24

Anda mungkin juga menyukai