Anda di halaman 1dari 2

Organ

Traktus Respiratorius
Sinus hidung
Laring
Trakhea
Bronkhus
Paru-paru

Epikrise

Diagnosa PA

Tidak ada kelainan


Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Penuh darah dan ada busa
yang keluar dari paru-paru

Tidak ada kelainan


Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Edema pulmonum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelaianan

PEMBAHASAN
Sistem Respirasi
Pada pemeriksaaan sistem respirasi. Pemeriksaan dilakukan pada sinus, lrynx,
pharynx, trakea, bronkhus, bronkhiolus, dan paru-paru. Tidak ditemukan kelainan setelaah
dilakukan inspeksi, palpasi dan insisi pada bagian sinus, larynx, pharynx, trakea dan paruparu, namun pada bronkus ditemukan darah dan busa yang berasal dai paru-paru. Cairan busa
ini timbul akibat dari gesekan antara udara dan cairan edema.
Traktus respiratorius diawali dengan pemeriksaan sinus sampai paru-paru. Bronkus
berisi darah dan busa yang berasal dari paru-paru. Cairan berbusa itu timbul sebagai akibat
dari gesekan antara udara dan cairan edema. Busa yang terbentuk akan bertahan lama, hal
tersebut disebabkan oleh adanya kandungan albumin dalam cairan edema, sebagai protein
yang mempertahankan tegangan permukaan. Lesio menunjukkan bahwa hewan mengalami
edema pulmonum. Edema merupakan gangguan sirkulasi yang menyebabkan
terakumulasinya cairan edema (transudat) pada alveoli (Ressang 1984). Kelemahan pada
jantung kiri dapat mengakibatkan edema pulmonum. Peningkatan tekanan hidrostatik akibat
kelemahan kerja ventrikel kiri mengakibatkan obstruksi dan penumpukan cairan pada rongga
perivaskular yang dalam waktu lama akan menyebabkan kebocoran dan perembesan pada
ruang alveolar. Edema pulmonum hemodinamik dapat disebabkan oleh gagal jantung
kongestif, overload cairan iatrogenik, penurunan tekanan osmotik darah pada kejadian
hipoalbuminemia akibat kegagalan fungsi hati, dan sindrom nefritik. Tertahannya aliran darah
pada paru menyebabkan edema dan lolosnya eritrosit ke dalam ruang alveolar (Carlton dan
McGavin 1995). Pada paru-paru normal, cairan asal pembuluh darah akan mengalir ke
jaringan interstitium dan akan diserap oleh pembuluh limfe. Edema akan terjadi jika ada
kelebihan cairan transudat yang melebihi kapasitas penyerapan oleh pembuluh limfe.
Warna paru-paru tidak seragam, beberapa bagian berwarna merah gelap. Konsistensi
kenyal seperti hati (hepatisasi), uji apung menunjukkan hasil tenggelam maka paru-paru
mengindikasikan mengalami pneumonia alveolar (Vegad dan Swamy 2010). Pneumonia
intertisial, daerah intertisium paru-paru berisi sel-sel radang dan sel-sel debris. Akibat dari itu
pembuluh darah akan mengalami kongesti dan dilatasi. Kongesti kapiler-kepiler di paru ini
akan meningkatkan tekanan pada kapiler, sehingga membuat keluarnya cairan dan mengisi
ruang alveoli sehingga menyebabkan pneumonia alveolar. Penebalan alveol tersebut
menyebabkan paru-paru kehilangan krepitasi pada saat palpasi lobus paru-paru. Pneumonia

dapat menyebabkan kematian akibat kegagalan bernafas karena alveol dipenuhi eksudat
akibat kebocoran protein plasma (Carlton dan McGavin 1995).
Katup semilunaris mengalami endokarditis nodularis valvularis. Pada anjing kejadian
ini sering terjadi pada katub ventrikel kiri dengan gambaran makroskopis terlihat katup
sedikit menebal, berbintikbintik (nodul). Endokarditis biasanya terjadi akibat infeksi yang
disertai septisemia (McGavin dan Zachary 2007). Pada keadaan ini, infeksi bakteri dapat
terjadi akibat menurunnya sistem imun dari hewan anjing ini, adanya demodeks, stres,
peradangan pada ginjal, peradangan pada saluran cerna dan saluran respirasi.