Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH BAHASA INDONESIA

SISTEM PERTANIAN TUMPANG SARI (POLIKULTUR)

DISUSUN OLEH:
Nama : Nur Khotimah
NIM : 13308141060

JURUSAN PENDIDIKAAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk hidup selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan
hidupnya. Salah satu usaha yang dilakukan manusia yaitu meningkatkan ketersediaan
bahan pangan yang beraneka ragam. Dengan adanya pembangunan tempat tinggal,
tempat usaha dll, manusia akan memilih menggunakan lahan pertanian untuk
pembangunan tersebut, akibatnya lahan pertanian semakin sempit. Keadaan ini
menuntut manusia untuk berfikir dan berusaha agar manusia tetap bisa memenuhi
kebutuhan hidup , dan dengan lahan yang terbatas tersebut produksi bahan pangan
meningkat dan beraneka ragam, serta lingkungan tetap stabil. Sehingga dalam
teknologi pertanian dikenal istilah intensifikasi pertanian yaitu mengusahakan
pertanian secara intensif agar diperoleh hasil yang optimal( hasil yang seharusnya,
bukan hasil yang maksimal).
Intensifikasi pertanian cenderung dilakukan dengan pertanian monokultur.
Tujuan menanam secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Penanaman
monokultur menyebabkan terbentuknya lingkungan pertanian yang tidak mantap
(keanekaragaman hayati rendah). Buktinya tanah pertanian ,harus ,diolah , dipupuk,
dan disemprot dengan insektisida, jika tidak,tanaman pertanian akan mudah terserang
hama.
Agar lingkungan pertanian menjadi lebih mantap (keanekaragaman hayati
tinggi) maka diupayakan menanam berbagai jenis tanaman, misalnya jagung ditanam
bersamaan dengan kacang, cabai, kacan panjang atau lainnya. Upaya menanam
beraneka ragam tanaman ini disebut sebagai pertanian tumpangsari (polikultur).
Dengan pertanian tumpangsari, lingkungan pertanian menjadi lebih mantap. Hama
yang menyerang tanaman yang satu mungkin dapat dikendalikan (dimangsa) oleh
predator yang hidup ditanaman yang lain. Di lingkungan itu, terjadi interaksi antar
komponen biotik (hidup) yang ada.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pertanian polikultur (tumpangsari)?
2. Bagaimana sistem pertanian tumpang sari?
3. Apa keuntungan dari sistem pertanian tumpang sari?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud pertanian polikultur (tumpangsari).
2. Mengetahui bagaimana sistem pertanian tumpang sari.
3. Mengetahui keuntungan dari sistem pertanian tumpang sari.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebutuhan Manusia akan Bahan Pangan semakin Meningkat.

Populasi manusia dari hari kehari semakin bertambah, manusia perlu membangun
tempat tinggal untuk kelangsungan hidupnya, di samping itu kebutuhan akan bahan
pangan yang beraneka ragam juga meningkat. Dengan lahan yang semakin sempit,
manusia memilih menutup lahan pertanian untuk membangun tempat tinggal mereka,
akibatnya lahan pertanian sebagai tempat menanam bahan pangan berkurang.
Manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal selalu berpikir agar bisa memenuhi
kebituhan mereka dan berusaha agar bisa mensejahterakan masyarakat. Disinilah
perkembangan teknologi pertanian diperlukan.
B. Teknologi Pertanian.
Dalam teknologi pertanian dikenal istilah intensifikasi pertanian, yaitu
mengusahakan pertanian secara intensif agar diperoleh hasil yang optimal( hasil yang
seharusnya, bukan hasil yang maksimal). Dalam intensifikasi pertanian biasnya
diperhatikan masalah pengadaan bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan ,
pemberantasn hama dan penyakit, pemanenan, dan kegiatan pascapanen.
1. Pengertian Pertanian Monokultur
Intensifikasi pertanian cenderung dilakukan dengan pertanian monokultur.
Pertanian monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis,
misalnya sawah ditanami padi saja,jagung saja, atau kedelai saja. Tujuan menanam
secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian.
Dari teori keanekaragaman hayati, kita mengetahui bahwa lingkungan yang
memiliki keanekaragaman tinggi merupakan lingkungan yang mantap, sedangkan
lingkungan yang memiliki keanekaragaman rendah merupakan lingkungan yang
tidak mantap. Lingkungan yang mantap tahan terhadap gangguan dari luar.
Penanaman monokultur menyebabkan terbentuknya lingkungan pertanian
yang tidak mantap (keanekaragaman hayati rendah). Buktinya tanah pertanian
,harus , diolah , dipupuk, dan disemprot dengan insektisida, jika tidak,tanaman
pertanian akan mudah terserang hama.
Agar lingkungan pertanian menjadi lebih mantap (keanekaragaman hayati
tinggi) maka diupayakan menanam berbagai jenis tanaman, misalnya jagung
ditanam bersamaan dengan kacang, cabai, kacang panjang atau lainnya.
(Syamsuri,2007:202).
2. Pengertian Pertanian Tumpangsari (Polikultur)
Tumpang sari merupakan salah satu jenis pola tanam yang termasuk jenis
polikultur. Polikultur karena pada suatu lahan ditanami lebih dari satu jenis
tanaman. Lebih detail, tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan
menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode
waktu tanam yang sama. Dengan pertanian tumpangsari, lingkungan pertanian
menjadi lebih mantap. Hama yang menyerang tanaman yang satu mungkin dapat
dikendalikan (dimangsa) oleh predator yang hidup ditanaman yang lain. Di
lingkungan itu, terjadi interaksi antar komponen biotik (hidup) yang ada. Tumpang
sari merupakan sistem penanaman tanaman secara barisan diantara tanaman
semusim dengan tanaman tahunan. Tumpang sari ditujukan untuk memanfaatkan
lingkungan sebaik-baiknya agar diperoleh produksi yang maksimal.
a. Sistem Pertanian tumpangsari
Sistem tumpangsari dapat diatur berdasarkan:

1. Sifat-sifat perakaran
Pengaturan sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindarkan
persaingan unsur hara,air yang berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran
yang dalam dapat ditumpangsarikan dengan tanaman yang berakar dangkal.
Tanaman monokotil yang biasanya memiliki perakaran dangkal karena berasal
dari akar seminal dan akar buku, sedangkan tanaman dikotil pada umumnya
memiliki perakaran dalam karena memiliki akar tunggang. Dalam pengaturan
penanaman system pertanian tumpang sari dilihat dari sifat-sifat perakarannya
dapat dipandang dari perakarannya. Contoh pada tanaman jagung ditumpang
sarikan dengan jeruk manis, karena jagung termasuk jenis tanaman yang
memiliki perakaran dangkal sedangkan jeruk manis memiliki perakaran dalam
,maka keduanya tidak akan mengalami gangguan dalam penyerapan unsurunsur hara yang terdapat didalam tanah. Perlu diingat bahwa system pertanian
tumpangsari selalu terdapat persaingan di atas( oksigen,CO2,suhu,
kelembaban dan cahaya matahari) dan persaingan di bawah (unsur hara dan
air). Sehingga perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu mengganggu
perkembangan tanaman yang ditumpang sarikan.
2. Waktu Penanaman
Selain dilakukan antara tanaman tahunan dengan semusim ,
tumpangsari juga dapat dilakuakan antara tanaman semusim dengan tanaman
semusim lainnya s, misalnya antara kacang-kacangan dengan jagung. Jagung
menghendaki nitrogen tinggi sedangkan kacang-kacangan tidak terlalu
terganggu pertumbuhannya karena sedikit terlindung oleh jagung. Kekurangan
nitrogen oleh jagung juga dapat terpenuhi oleh kacang-kacangan, karena
kacang-kacangan dapat memfiksasi nitrogen dari udara beban.
3. Jarak antar Tanaman
Penanaman dengan jarak yang sangat jarang memberikan kesempatan
pada gulma untuk tumbuh leluasa. peningkatan kepadatan tanaman
meningkatkan efek naungan terhadap gulma sehingga mengurangi
pertumbuhan dan reproduksinya.(Sukman,1991:65)
4. Jenis tumbuhan
Pada awalnya, tumpang sari merupakan pola tanam yang banyak digunakan oleh
petani-petani yang melakukan usaha tani guna mencukupi kebutuhan sendiri dan keluarga
(subsisten). Resiko kegagalan yang tinggi dalam usaha pertanian membuat petani menanam
lebih dari satu jenis tanaman sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih
dapat memanen komoditas yang lain. Tumpangsari pada awalnya juga lebih dilakukan untuk
tanah marginal modal petani yang kecil.
b. Keuntungan Sistem Pertanian Tumpangsari
Dalam perkembangan yang lebih lanjut, tumpangsari bukan hanya milik
petani subsisten yang hanya melakukan usaha tani pada lahan yang dapat dikatakan
marginal dengan modal yang seadanya. Tumpangsari sudah banyak diterapkan
petani baik semi-komersial maupun komersial dan juga diterpakan pada lahan-lahan
yang subur yang memang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai

macam tanaman. Ini tidak terlepas dari beberapa kelebihan yang dimiliki oleh pola
tanam tumpangsari.
1. Efisien penggunaan ruang dan waktu
Seperti talah dijelaskan sebelumnya, tumpangsari merupakan penanaman
lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dalam periode waktu yang sama.
Dengan pola tanam ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan dalam waktu
yang bersamaan atau hampir bersamaan. Lebih dari satu hasil panen yang dihasilkan
dalam satu waktu merupakan alah satu efisiensi produksi dalam kaitannya dengan
waktu. Dalam kaitannya dengan ruang, pada pola tanam tumpang sari, masih ada
space yang kosong pada jarak tanam tanaman dengan habitus tinggi seperti jagung
atau tanaman tahunan yang lainnya. Ruang kosong itu yang dimanfaatkan untuk
pertanaman tanaman yang lain sehingga penggunaan lahan lebih efisien.
Dalam beberapa penelitian, tumpangsari diketahui mampu meningkatkan
produktivitas lahan. Tumpangsari memang menurunkan hasil untuk masing-masing
komoditas yang ditumpangsarikan karena adanya pengaruh kompetisi, tetapi,
berdasarkan nilai Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL), berkurangnya hasil tiap-tiap
komoditas masih berada di dalam kondisi yang menguntungkan. Contoh
tumpangsari yang mampu meningkatkan produktivitas lahan adalah tumpangsari
antara jagung dengan ubi kayu dan juga tumpangsari antara jagung dengan kacang
hijau. Berdasarkan fakta tersebut, tumpangsari kemudian disebut sebagai pola tanam
yang intensif.
2. Mencegah dan mengurangi pengangguran musim
Pada beberapa jenis tanaman, tenaga kerja banyak dibutuhkan pada musim
tanam dan musim panen saja. Akibatnya, banyak pengangguran disela-sela musim
tanam dengan musim panen. Pada tumpangsari, tanaman yang diusahakan lebih
beragam. Perawatan yang dilakukan untuk setiap jenis tanaman kebanyakan juga
tidak dalam waktu yang sama. Dengan demikian, petani akan selalu memiliki
pekerjaan selama siklus hidup tanaman.
3. Pengolaahan tanah menjadi minimal
Pengolahan tanah minimal lebih terlihat pada pola tanam tumpang gilir. Pada
tumpang gilir, segera setelah suatu tanaman hampir menyelesaikan siklus hidupnya,
buru-buru ditanami tanaman yang lain. Akibatnya, tidak ada waktu lebih untuk
melakukan pengolahan tanah. Salah satu kelebihan tanpa pengolahan tanah atau
dengan pengolahan tanah minimal adalah tidak terjadinya kerusakan struktur tanah
karena terlalu intensif diolah. Selain itu, pada pengolahan tanah minimal atau tanpa
oleh tanah resiko erosi akan lebih kecil daripada yang diolah secara sempurna.

4. Meragamkan gizi masyarakat


Hasil tanaman yang lebih dari satu jenis tentunya akan memberikan nilai gizi
yang beragam. Setiap tanaman pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang
berbeda-beda. Ada sebagian yang mengandung karbohidrat, ada juga yang
mengandung protein, lemak, ataupun vitamin-vitamin. Penganekaragaman jenis
tanaman juga akan memberikan keanekaragaman jenis gizi kepada masyarakat.

5. Menekan serangan hama dan patogen


Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman hanya
satu jenis tanaman telah mengurangi keberagaman makhluk hidup penyusun
ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan patogen
penyebab penyakit tanaman. Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan
memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT
memberikan keuntungan (1) penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif (2)
penjagaan keanekaragaman komunitas (3) penyediaan inang alternative
(4)penyediaan makanan alami (5) pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan
(6) penggunaan insektisida yang selektif.
Sukman , Yernelis & Yakup (1991:65) berkata:
Cara penanaman tumpangsari, tumpang gilir, tanam sela, atau lainnya
ternyata dapat menekan pertumbuhan gulma, karena gulma tidak sempat tumbuh
dan berkembang biak akibat sinar matahari serta temat tumbuhnya selalu
terganggu.
Dalam tumpangsari tanaman jagung dengan kacang hijau,
pengurangan populasi gulma dapat mencapai 36% dibandingkan monokultur dan
menekan penggunaan herbisida (butachlor) sampai 50% untuk mendapatkan hasil
terbaik.
Penanaman kentang yang ditumpangsarikan dengan kacang hijau seledri dan
brokoli memberikan kemampuan parasitoid Hemiptarsenus varicornis untuk
memparasit Liriomyza huidobrensis. Tumpang sari kentang dengan bawang daun
dapat menekan populasi Myzus persicae. Dari sini kemudian dapat disebutkan
bahwa sistem tumpangsari merupakan salah sistem pertanian yang berkelanjutan.
Ketika suatu lahan pertanian ditanami denga lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti
akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi dapat saling
menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling menghambat (competition).
Dengan demikian, kultur teknis yang harus diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah
jarak tanam, populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman. Morfologi dan
fisiologi tanaman juga harus diperhatikan. Kesemuanya berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan hasil untuk masing-masing tanaman yang akan ditumpangsarikan. Dalam pola tanam
tumpangsari, diusahakan untuk menanam jenis tanaman yang tidak satu family. Hal ini
dimaksudkan untuk memutus mata rantai pertumbuhan dan ledakan populasi hama dan
patogen karena untuk jenis tanaman yang satu family memiliki kecenderungan untuk
diserang oleh hama dan patogen yang sama. Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan
kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan kerjasama dan
meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan.
Kesalahan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dapar
membuat yang sebenarnya menjadi kelebihan pola tanam tumpangsari menjadi kelemahan
tumpang sari. Kompetisi antar tanaman yang terlalu tinggi membuat hasil untuk tiap tanaman
menjadi sangat kecil yang berakibat pada nilai kesetaraan lahan yang kurang dari 1. Selain
itu, dapat juga terjadi kesulitan pengendalian hama dan patogen karena tanaman yang
ditumpangsarikan memungkinkan hama dan patogen menjadi inang untuk keduanya. Tidak
jarang, biaya untuk perawatan tanaman tumpang sari juga lebih mahal karena harus merawat
lebih dari satu jenis tanaman.
c. Contoh dan cara pengelolaantanaman tumpangsari

Dalam pengelolaan tanaman tumpangsari ,komoditas tanaman didahulukan


tanaman yang waktu panennya lebih pendek disusul dengan komoditas lain yang
waktu panennya lebih panjang, dalam 1 lahan pertanian kita bisa mengoptimalkan
2-4macam jenis komoditas.
Pengelolaan tanaman dengan system tumpangsari tidak terlalu rumit. Selama
pengolahan tanah, kebutuhan pupukdiperlukan lebih banyak untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi tanaman tapi selanjutnya pemupukan bisa dilakukan dengan
cara pengocoran lewat akar atau penyemprotan lewat daun
Dalam pengendalian hama penyakit,budidaya system tumpangsari tidak terlalu
repot karena sekali pengendalian hama, akan efektif juga bagi tanaman yang lain.
Bila pemilihan tanaman tumpangsaritepat, mampu mengendalikan secara alami
karena ada tanaman tertentu yang mampu mengusir hama bagi tanaman lain.
Pemanen system tumpangsari tidak merepotkan petani,karena selama
bertanam telah memperhitungkan waktu panen, sehingga waktu panen tidak
bersamaan. Contoh komoditas yang bisa ditanam dengan system tumpangsari:
1. Calsim
2. Kacang panjang
3. Cabe rawit
4. Papaya
Cara pengolahan tanaman tumpang sari dalam 1 guludan/bedengan :
1. Tepian/pipi paling bawah dari guludan kita Tanami caisim.
2. Setelah 2 minggu buat lubang tanam paling tepi untuk kita tanami kacang
panjang dengan jarak tanam normal (50x50 cm).
3. Setelah kacang panjang umur 2-3 minggu buat lubang tanam agak
menjorok ke tengah bedengan untuk kita Tanami cabe rawit dengan jarak
tanam normal (60x60 cm).
4. Bila cabe rawit berumur 50 HST kita bisa membuat lubang tanam tengah
bedengan dengan jarak 2mx2m untuk kita Tanami papaya. Dengan pola
tanam seperti disebut diatas petani bisa menanam secara bergiliran tanpa
menunggu waktu panen yang cukup lama. Dengan budidaya system
tumpang sari diharapkan petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih.
Resiko kegagalan panen akan bisa tertutup dengan hasil komoditas
tanaman yang lain.
Berdasaran hasil penelitian-penelitian dan pengembangan-pengembangan, bukan
tidak mungkin jika pola tanam tumpangsari pada waktu yang akan datang menjadi pilihan
utama suatu pola pertanaman dan bukan lagi hanya menjadi alternatif.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih dari satu
jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam yang sama.
2. Sistem pertanian tumpangsari yaitu sistem penanaman tanaman sacara barisan
diantara tanaman semusim dengan tahunan atau tanaman semusim dengan
semusim Sistem tumpangsari dapat diatur berdasarkan:
a. Sifat-sifat perakaran.
b. Waktu Penanaman.
c. Jenis Tanaman.
d. Jarak antar Tanaman.
3. Keuntungan sistem pertanian tumpang sari:
a.
b.
c.
d.
e.
B. Saran

Efisien penggunaan ruang dan waktu.


Mencegah dan mengurangi pengangguran musim.
Pengolaahan tanah menjadi minimal.
Meragamkan gizi masyarakat.
Menekan serangan hama dan patogen.

Banyak dari pembahasan diatas yang saya sampaikan tidak begitu lengkap dan
sempurna oleh karena itu saya mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca guna
menambah pengetahuan dan mendapatkan informasi yang sempurna.

DAFTAR PUSTAKA
Sukman, Yernelis & Yakup.1991.Gulma dan Teknik Pengendaliannya.
Jakarta:Rajawali Pers.
Suwarto , Yahya,Handoko dan M.A Coizin.2005.Kompetisi Tanaman Jagung dan
Ubi Kayu dalam Sistem Tumpang Sari.Bulletin Agron 33:1-7
Syamsuri, Istamar.2007.Biologi.Jakarta:Erlangga
Syaiful, Yassi, & Rezkiani.2011.Respon Tumpangsari Tanaman Jagung dan
Kacang Hijau terhadap Sistem oleh Tanah dan Pemberian Pupuk Organik.

Jurnal Agronomika 1:13-18