Anda di halaman 1dari 2

Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 63,5%.

Lautan (2001) dalam Riswan (2003) melaporkan dari 31 orang wanita hamil pada
trimester II didapati 23 (74 %) menderita anemia. Di Malaysia Rosline dkk (2001)
melaporkan dari 52 orang wanita hamil yang menderita iron deficiency
erythropoesis adalah 7 (13,5 %) dan 11 (61,1 %) mengalami anemia defisiensi besi.
Riswan (2003) melaporkan dari 60 wanita hamil, yang terdiri dari 20 orang trimester
I, 20 orang trimester II, dan 20 orang trimester III, bila diambil batasan kadar Hb <
11 gr/dl adalah anemia pada wanita hamil, maka didapatkan 32 orang (53,3 %)
mengalami anemia dengan distribusi 4 orang (20 %) pada trimester I, 14 orang (70
%) pada trimester II, dan 14 orang (70 %) pada trimester II

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21579/5/Chapter%20I.pdf
TS SINURAT, 2011

EVALUASI GIZI MIKRO MELALUI SURVEY CEPAT ANEMIA GIZI IBU HAMIL PROVINSI NTB
TAHUN 2013 LATAR BELAKANG Anemia gizi yang disebabkan karena kekurangan zat
besi masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Anemia adalah kondisi
dimana kadar hemoglobin dibawah 2 standar deviasi (SD) rata-rata populasi
normal pada jenis kelamin, kelompok umur tertentu (Yip,2001). Menurut WHO
setengah dari anak-anak dan wanita dan hampir seperempat dari laki-laki di
negara-negara berkembang, menderita anemia. Kira-kira 7-12% anak-anak dan
wanita menderita defisiensi besi (Yip, 2001). Berdasarkan survei sensus penduduk
tahun 2000 menunjukkan bahwa dari 200 juta penduduk Indonesia, yang berisiko
tinggi menderita anemia masih berkisar lebih dari 100 juta orang atau hampir
setengah dari jumlah penduduk. Sementara itu data anemia berdasarkan Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 menunjukkan bahwa prevalensi anemia di
Indonesia cukup tinggi dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat,
50,9% ibu hamil, 40,5% balita, 47,3% anak usia sekolah, 57,1% remaja putri, 39,5%
WUS (Wanita Usia Subur), 48,9% usia produktif dan 57,9% usia lanjut, menderita
anemia (Sunarko, 2002). Anemia berdampak buruk pada peningkatan angka
kematian ibu dan bayi serta penurunan produktivitas kerja dan kemampuan belajar.
Selain itu, anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan pendarahan sebelum dan
pada saat melahirkan, keguguran, kelahiran bayi prematur dan Berat Bayi Lahir
Rendah (Depkes, 1995). Anemia kekurangan besi selama hamil berhubungan
dengan tingginya angka bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Anemia berat
meningkatkan risiko kematian ibu saat melahirkan. Kekurangan besi bagi bayi
mempengaruhi perkembangan kognitif dan akan mempunyai dampak yang lama.
Anemia besi yang berat pada bayi berhubungan perkembangan psikomotor yang
terlambat lebih dari 10 tahun walaupun setelah pemulihan anemia besi selama bayi
(OBrien dkk., 2003). Konsentrasi Hb antara 9,5-10,5 gr/dl dapat menyebabkan
BBLR, sedangkan konsentrasi Hb
http://dinkes.ntbprov.go.id/sistem/data-dinkes/uploads/2013/11/Evaluasi-Gizi-MikroMelalui-Survey-Cepat-Anemia-Gizi-Ibu-Hamil-Provinsi-NTB-Tahun-2013.pdf

http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-736-BABI.pdf