Anda di halaman 1dari 9

SUHU TUBUH DAN PENGATURANNYA

(TERMOREGULASI)

I.

TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
a. Mengukur suhu ketiak (axilla) dan suhu mulut seseorang
b. Menerangkan pengaruh bernafas melalui mulut dan berkumur dengan air es
pada suhu mulut seseorang
c. Menyimpulkan pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh binatang
poikilometrik

II. DASAR TEORI


Thermoregulasi adalah proses pengaturan suhu tubuh. Panas tubuh adalah
merupakan hasil akhir dari proses oksidasi di dalam tubuh. Pengaturan suhu
tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemenelemen dari homeostasis. Bila suhu tubuh naik, maka proses oksidasi akan naik
mencapai keadaan maksimum pada suhu optimal.
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda
dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam
kehidupan

sehari-hari

masyarakat

untuk

mengukur

suhu

cenderung

menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi


maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid.
Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu
suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu
menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu
benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun
gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun
benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu juga disebut temperatur yang
diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal
adalah Celsius, Reumur, Fahrenheit dan Kelvin.
Dipandang dari kemampuannya mengatur suhu tubuh berkaitan dengan
produksi panas, binatang dibedakan menjadi 2 golongan yaitu :
a. Binatang Poikiloterm
Suhu tubuh binatang poikiloterm berubah-ubah tergantung pada suhu
sekelilingnya, sehingga peoses-proses vital di dalam tubuhnya dipengaruhi
oleh perubahan-perubahan suhu lingkungan. Termasuk binatang poikiloterm

yaitu pisces, amphibi, dan reptile. Suhu tubuh dari golongan binatangbinatang ini sedikit diatas suhu lingkungannya.
b. Binatang Homoioterm
Binatang Homoioterm suhu tubuhnya boleh dikatakan konstan, karena
binatang ini mempunyai sentrum pengatur suhu tubuh yang baik.
Penyesuaian fisiologi untuk mempertahankan temperatur tubuh sangat
nyata perannya pada binatang homeotherm. Pada hakikatnya, kondisi
homeostatis temperatur tubuh bisa tercapai karena adanya keseimbangan
antara panas yang dihasilkan serta diterima oleh tubuh (produksi panas) dan
panas yang hilang dari tubuh masuk ke lingkungan luar (disipasi panas).
Dalam produksi panas tubuh memperoleh panas sebagai akibat dari
aktivitas metabolisme jaringan tubuh dan dari lingkungan luar bila lingkungan
luar itu lebih tinggi temperaturnya (lebih panas) ketimbang temperatur tubuh.
Bentuk penyesuaian fisiologinya adalah bahwa panas yang dihasilkan oleh
tubuh akan meningkat dengan menurunnya temperatur luar. Sebaliknya,
temperatur sekitar (ambient temperature) yang tinggi akan menurunkan jumlah
panas yang panas yang dihasilkan oleh tubuh. Hal itu dapat dikaitkan
melambatnya aktivitas metabolisme, menurunnya luaran kerja, dan menurunnya
tonus otot. Secara umum, mekanisme yang berlangsung untuk menghasilkan
panas meliputi peningkatan aktivitas metabolisme jaringan, peningkatan aktivitas
otot, dan produksi panas (thermogenesis) tanpa aktivitas menggigil.
Panas dari dalam tubuh dapat ditransfer ke lingkungan luar. Demikian juga
sebaliknya, panas dari lingkungan luar dapat ditransfer ke dalam tubuh.
Kecepatan transfer panas ke dalam atau ke lingkungan luar tergantung pada 3
faktor yaitu :

a. Luas permukaan. Luas permukaan per gram jaringan berbandiing


terbalik dengan peningkatan massa tubuh.
b. Perbedaan suhu. Semakin dekat seekor hewan memelihara suhu
tubuhnya ke lingkungan, makan semakin sedikit panas yang mengalir ke
dalam atau ke lingkungan luar.
c. Konduksi panas spesifik permukaan tubuh hewan. Permukaan jaringan
poikiloterm memiliki konduktansi panas yang tinggisehingga hewan ini
memiliki suhu tubuh mendekati suhu lingkungannya.

Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang


diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat
berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi.
a. Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk
gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan
dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer. Tubuh
manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh.
Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit
(60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah
energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada
gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari
kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi
sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses
pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari
suhu tubuh.
b. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit
dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses
kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan
dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil
karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar
langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan
dengan

udara,

dan

sifat

isolator

benda

menyebabkan

proses

perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.


c. Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan
panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan
menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada
kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung
sekitar 450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus
menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak
dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air
secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.
d. Konveksi

Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau


cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat pada tubuh
akanmenjadi dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) kurang
padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang
berperan dalam pertukaran panas.
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga
komponen

pengatur

atau

penyusun

sistem

pengaturan

panas,

yaitu

termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi. Suhu tubuh


manusia berkisar antara 36,6 C 36,9 C. Hal ini adalah keadaan seimbang
dalam pengeluaran dan pembuatan panas oleh tubuh. Termoregulasi manusia
berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau
penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraf eferen serta termoregulasi.

III. HASIL PRAKTIKUM (TERLAMPIR)


IV. PEMBAHASAN
A. Suhu Tubuh Manusia
Untuk mengetahui suhu tubuh manusia, dilakukan pengukuran suhu
tubuh dengan menggunakan thermometer badan. Bagian tubuh manusia
yang biasanya digunakan untuk pengukuran tubuh adalah fossa axilaris atau
ketiak, pada cavitas oris (mulut), dan pada bayi pengukuran suhu tubuh
biasanya dilakukan di anus.
Percobaan kali ini melakukan pengukuran suhu tubuh dengan mengukur
pada di bawah lidah dan fossa axilaris. Thermometer badan yang digunakan
sebelumnya disterilkan dengan alkohol 70 %. Pengukuran suhu tubuh pada
pangkal lidah dilakukan tiga perlakuan yang berbeda, yaitu :

a. Pengukuran suhu mulut selama 5 10 menit kemudian dilakukan


pembacaan skala thermometer.
b. Pengukuran suhu mulut selama 5 menit dan 10 menit, baca skala
dengan termometer. Selanjutnya pengukuran suhu mulut dengan
sebelumnya bernafas melalui mulut selama 2 menit. Pengukuran suhu
dibaca dalam 5 dan 10 menit.
c. Pengukuran suhu mulut setelah berkumur dengan air es selama 1 menit,
kemudian dilakukan pembacaan skala termometer dalam 5 dan 10
menit.
Dari hasil percobaan didapatkan hasil sebagai berikut :
No

Tempat

Suhu (oC)

1.

Suhu mulut 5 10

2.

Suhu mulut setelah 5

37

3.

Suhu mulut setelah 10

37

4.

Suhu mulut setelah bernafas 2 dalam 5

37,2

5.

Suhu mulut setelah bernafas 2 dalam 10

37,2

6.

Suhu mulut setelah berkumur air es selama 1 dalam 5

36,6

7.

Suhu axilla setelah 10

36,7

Menurut teori, suhu tubuh yang diukur melalui mulut

36,9

lebih tinggi

daripada yang diukur melalui axilla (ketiak), karena thermometer yang


digunakan untuk mengukur suhu tubuh melalui mulut langsung meyentuh
dan mengenai pembuluh darah yang berada di bawah lidah. Sehingga
pengukurannya lebih cepat daripada pengukuran suhu tubuh melalui axilaris.
Suhu normal manusia yaitu pada kisaran 36,9 C 37,3 C . Dari data di
atas dapat disimpulkan bahwa suhu probandus adalah suhu normal yaitu
36,9C pada pengukuran di bawah lidah tanpa bernafas melalui mulut dan
berkumur air es.
Pada percobaan pengukuran suhu setelah bernafas melalui mulut,
didapatkan hasil suhu tubuh 37,2C. Hal ini dapat terlihat bahwa suhu tubuh
naik dibandingkan ketika suhu tubuh diukur tanpa bernafas melalui mulut.
Pernafasan merupakan proses metabolisme, yaitu proses katabolisme yang
menghasilkan energi. Dari energi yang dihasilkan maka akan menghasilkan
pula panas. Semakin cepat dan lama melakukan proses respirasi semakin

besar pula energi panas yang dihasilkan. Jadi dengan melakukan pernafasan
melalui mulut diperoleh energi atau panas yang lebih banyak sehingga suhu
tubuh akan ikut naik. Namun begitu suhu tersebut masih dalam batas normal.
Pada saat kondisi setelah berkumur sengan air es, didapatkan suhu
tubuh menurun menjadi 36,6C. Hal tersebut terjadi karena adanya proses
radiasi dan konduksi (tubuh mengeluarkan panas) agar dapat menyesuaikan
dengan kondisi tubuhnya. Sehingga suhu yang dingin hanya berlangsung
beberapa saat. Karena itu tubuh akan mengimbangi kehilangan panas
tersebut dengan radiasi, konduksi dan menaikkan metabolisme yang
menghasilkan energi. Sehingga suhu tubuh tetap normal.
B. Suhu Tubuh Binatang Poikilotermik (kodok)
Seperti yang telah dituliskan di atas, panas tubuh merupakan hasil akhir
dari proses oksidasi di dalam tubuh. Berdasarkan kemampuan mengatur
panas tubuhnya, hewan dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu poikiloterm
(hewan yang suhu tubuhnya tergantung pada suhu lingkungan) dan
homeoterm (hewan yang suhu tubuhnya tidak tergantung pada suhu
lingkungan atau cenderung konstan).
Untuk membuktikannya, maka

dilakukan

percobaan

dengan

menggunakan hewan dari golongan poikiloterm saja, yaitu menggunakan


katak. Perlakuan suhu yang diberikan adalah suhu dingin, suhu normal, dan
suhu panas. Pada percobaan ini menggunakan katak karena :
1. Katak mudah didapat di alam dan tidak memiliki pusat pengaturan tubuh.
2. Katak merupakan hewan amphibi, sehingga tampak jelas pengaruh
lingkungan terhadap suhu tubuhnya.
3. Katak merupakan hewan poikiloterm, sehingga perbedaan suhu pada
perlakuan air dingin dan air panas mudah diamati.
4. Katak dapat bernafas melalui rongga.
Pada lingkungan biasa atau suhu kamar, suhu kamar yang konstan yaitu
25C dan suhu katak juga konstan yaitu 28,9C. Selanjutnya pada perlakuan
kedua suhu lingkungan diturunkan menjadi dingin (pada air es) menjadi 10C
ternyata katak masih dapat bertahan hidup dan suhu tubuhnya juga ikut turun
menjadi 20C. Kemudian pada suhu lingkungan yang panas (pada air hangat)
dengan suhu 36C, suhu katak juga ikut naik yaitu 32C. Semua perlakuan
dilakukan selama 5 menit.
Katak termasuk ke dalam kelas amphibi. Hewan amphibi merupakan
hewan

poikiloterm.

Suhu

tubuh

hewan

poikiloterm

ditentukan

oleh

keseimbangannya dengan kondisi suhu lingkungan, dan berubah-ubah


seperti berubahnya-ubahnya kondisi suhu lingkungan. Hewan ini mampu
mengatur suhu tubuhnya sehingga mendekati suhu lingkungan. Pengaturan
untuk menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan dingin dilakukan dengan
cara memanfaatkan input radiasi sumber panas yang ada di sekitarnya
sehingga suhu tubuh di atas suhu lingkungan dan pengaturan untuk
menyesuaiakan terhadap suhu lingkungan panas dengan penguapan air
melalui kulit dan organ-organ respiratori menekan suhu tubuh beberapa
derajat di bawah suhu lingkungan. Oleh karena itu, ketika suhu lingkungan
turun, suhu tubuh katak juga ikut turun menyesuaikan dengan lingkungannya.
Demikian halnya pada suhu lingkungan yang panas.

V. KESIMPULAN
a. Termoregulasi adalah proses pengaturan suhu tubuh.
b. Panas tubuh adalah merupakan hasil akhir dari proses oksidasi didalam
tubuh.
c. Hewan homoioterm adalah hewan yang suhu tubuhnya tidak dipengaruhi oleh
suhu lingkungan dan dapat mengatur suhu badanya pada tingkatan konstan
pada batas-batas tertentu.
d. Hewan poikiloterm adalah hewan yang suhu tubuhnya berubah-ubah
tergantung suhu sekelilingnya sehingga proses vital didalam tubuhnya
dipengaruhi oleh perubahan-perubahan suhu lingkungan. Contohnya adalah
katak.
e. Untuk mengetahui suhu tubuh manusia dapat dilakukan pengukuran tubuh
dengan menggunakan termometer badan. Bagian tubuh manusia yang
biasanya digunakan untuk mengukur suhu tubuh adalah fossa axillaris
(ketiak), cavitas oral (mulut) dan rektum (anus).
f. Manusia termasuk homeoterm karena memiliki suhu tubuh yang konstan dan
tidak tergantung pada suhu lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Pengaturan Suhu Tubuh. Dalam http://www.staff.ui.ac.id/. Diakses
tanggal 22 November 2014

Anonim. 2010. Regulasi Suhu Tubuh. Dalam http://nursingbegin.com/regulasi-suhutubuh. Diakses tanggal 22 November 2014
Guyton, Arthur. 1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : Buku
Kedokteran

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi. Jakarta:


EGC
Pearce, C Evelyn. 2009. Anatomi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia

FISIOLOGI MANUSIA
LAPORAN PRAKTIKUM
SUHU TUBUH DAN PENGATURANNYA
(TERMOREGULASI)

AL SABAN
153112620120081

FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI MEDIK
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
TAHUN 2015

Anda mungkin juga menyukai