Anda di halaman 1dari 22

Catatan Medik Orientasi Masalah

A. IDENTITAS
1. Nama Penderita
a. Umur
b. Jenis Kelamin
c. Pendidikan
d. Alamat
e. Masuk RS
f. Keluar RS
g. No. RM

: An. Naufa
: 1 tahun 10 bulan
: Perempuan
:: Purwosari, Sayung, Demak
: 10 Agustus 2015
: 13 Agustus 2015
: 126 08 02

2. Nama Ayah
a. Umur
b. Pendidikan
c. Agama
d. Pekerjaan
e. Alamat

: Tn. H
: 34 tahun
: SMA
: Islam
: Pegawai swasta
: Sayung, Demak

3. Nama Ibu
a. Umur
b. Pendidikan
c. Agama
d. Pekerjaan
e. Alamat

: Ny. M
: 29 tahun
: SMA
: Islam
: Ibu rumah tangga
: Sayung, Demak

B. DATA DASAR
Alloanamnesis dengan Ibu penderita dilakukan pada tanggal 11 Agustus 2015 pukul 07.00
WIB di ruang Bangsal Anak Lantai III ITH dan didukung dengan catatan medis.
1. Keluhan Utama
mencret 4 hari.
2. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan

: Mencret

Onset

: Sejak 4 hari ini

Kuantitas

: 5 7 kali

Kualitas

: BAB lembek - cair

Yang memperberat

: Saat setelah minum susu

Yang memperingan

: Menggunakan obat dari mantri

Gejala penyerta

: Muntah

Kronologi
Sebelum Masuk Rumah Sakit
4 hari terakhir pasien mencret 5 7 kali perhari. Konsistensi lembek s/d cair, ada
ampasnya, warna kuning, bau khas tinja, tidak ada lendir, tidak ada darah, tidak berbuih,
tidak nyemprot. Banyaknya mencret bervariasi antara sampai gelas belimbing. BAK
sedikit, warna kuning, BAK sehari 3 5 kali, pasien tidak nyeri saat BAK. Anak
mengeluh perut terasa tidak enak dan muntah gelas belimbing. Anak tampak kehausan
dan masih mau minum air putih maupun ASI. Pasien sempat berobat ke mantri, namun
mencret belum berhenti. Nafsu makan berkurang semenjak pasien mencret sehingga anak
rewel dan tampak lebih kurus.
Keluhan panas, pusing, kejang, menggigil, nyeri sendi, nyeri telan, mimisan, gusi
berdarah disangkal. Ibu pasien mengatakan anaknya muntah 2 3 kali sehari selama
timbul keluhan mencret ini.
Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
Saat Di Rumah Sakit
Anak datang dalam keadaan lemas setelah mencret dan muntah sejak 4 hari terakhir dan
panas semlenget. Oleh dokter jaga UGD disarankan untuk rawat inap.
Setelah Masuk Rumah Sakit
1 hari setelah dirawat di rumah sakit frekuensi BAB mulai berkurang menjadi 2 kali
sehari, panas sudah turun, muntah 1x setelah minum susu, anak mulai bisa tidur.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah panas,batuk dan pilek sebelumnya tapi tidak pernah mondok.
Penyakit anak yang pernah diderita :

Faringitis : Disangkal
Bronchitis : Disangkal
Pneumonia
: Disangkal

Enteritis
: Disangkal
Disentri Basilar : Disangkal
Disentri Amoeba : Disangkal

Morbili
Pertusis
Varicella
Difteri
Malaria
Polio

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

Thip.Abdominalis : Disangkal
Cacingan
: Disangkal
Operasi
: Disangkal
Trauma
: Disangkal
Reaksi Obat/Alergi : Disangkal

3. Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga ada yang sakit seperti ini (kakak).
4. Riwayat Sosio Ekonomi
Pasien dirumah tinggal bersama kedua orang tua dan kakek neneknya. Ayah pasien
bekerja sebagai pegawai swasta dan sebagai ibu rumah tangga. Biaya perawatan
ditanggung menggunakan BPJS.
Kesan ekonomi : Menengah.

C. DATA KHUSUS
1. Riwayat Perinatal
Anak perempuan lahir dari ibu P2A0 hamil 38 minggu, lahir secara spontan ditolong oleh
bidan, anak lahir langsung menangis, warna kulit kemerahan, berat badan lahir 2800
gram.
2. Riwayat Makan-Minum
Anak diberi ASI sampai sekarang, usia 22 bulan. Setelah usia 6 bulan selain ASI anak
juga mendapat makanan pendamping ASI berupa pisang yang dilumat halus dan nasi tim.
Anak sudah diberikan nasi biasa dan lauk pauk (krupuk, tahu, tempe) seperti makan
keluarga saat umur 1 tahun. Pola makan anak saat ini biasa mengkonsumsi nasi, tahu,
tempe. Ikan dan telur jarang. Buah-buahan yang sering dikonsumsi melon, pepaya dan
semangka. Frekuensi makan 2-3 kali dalam sehari.
Ibu mengaku mulai mencobakan minum susu formula untuk anak, namun setelah
mencooba SGM pasien justru muntah.
Kesan kualitas-kuantitas diit : Kurang

3. Riwayat Imunisasi Dasar


No
1.
2.

Jenis Imunisasi
BCG
Polio

Jumlah
1x
4x

3.

Hepatitis B

4x

4.
5.

DPT
Campak

3x
1x

Dasar
1 bulan
0, 2, 4,18
bulan
0,2,4,6
bulan
2, 4, 6 bulan
9 bulan

Kesan Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap


4. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Senyum (usia 1 bulan), miring (usia 3 bulan), tengkurap (usia 4 bulan), duduk (usia 6
bulan), merangkak (usia 9 bulan), berdiri (usia 12 bulan), berjalan (usia 14 bulan).
Kesan : Pertumbuhan dan Perkembangan Sesuai Umur
5. Pemeriksaan Status Gizi (Z-Score)
Diketahui :

Umur 1 tahun 10 bulan (22 bulan)

BB saat sakit 8,1 kg

TB 80 cm
WAZ

= BB/U

= (8,1-11,5) = -2,8
1,20

HAZ

= TB/U

= (80-84,7) = -1,4
3,20

WHZ

= BB/TB

= (8,1 8,5)
0,6

Kesan : Status Gizi Kurang


6. Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua
Ibu menggunakan KB suntik 3 bulan.
D. PEMERIKSAAN FISIK
Data dari IGD:
1. Keadaan Umum

= -0,6

Composmentis, tampak lemas.


2. Tanda Vital
a. Tekanan Darah : 90/60 mmHg
b. Nadi
:
Frekuensi
: 100x/menit,
Irama
: Reguler
Isi&Tegangan : Cukup
Ekualitas
: Equal
c. Laju Pernapasan : 26x/menit
d. Suhu
: 38,0oC (Axila)
Dilakukan pada tanggal 11 Agustus 2015 Jam 07.00 WIB
Anak Perempuan, BB 8,1 kg, TB 80 cm
3. Keadaan Umum
Composmentis, tampak lemas.
4. Tanda Vital
e. Tekanan Darah : 90/60 mmHg
f. Nadi
:
Frekuensi
: 92x/menit,
Irama
: Reguler
Isi&Tegangan : Cukup
Ekualitas
: Equal
g. Laju Pernapasan : 26x/menit
h. Suhu
: 37,1oC (Axila)
5. Status Internus
a. Kepala
: Mesocephale, UUB menutup
b. Rambut
: Hitam, tidak mudah dicabut
c. Kulit
: Tidak sianosis, Ptechie (-), Turgor baik
d. Mata
: Mata cekung (+), Air mata (+), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera
e.
f.
g.
h.
i.
j.

ikterik (-/-)
Hidung
Telinga
Mulut
Leher
Tenggorok
Thorak
PULMO
Inspeksi
Statis
Dinamis
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Epistaksis (-), Nafas cuping hidung ( -/-)


: Discharge ( -)
: Gusi berdarah (-), Bibir kering (+), Lidah kotor(-)
: Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
: Faring hiperemis (-)
:
:
:
: Hemithorax dextra sama dengan sinistra
: Hemithorax dextra sama dengan sinistra,
: Sulit dinilai
: Redup pada lapang paru kanan
: SD Vesikuler, ST Wheezing (-), Ronki (-)

COR
:
Inspeksi
: Iktus kordis tidak tampak
Perkusi
: sulit dinilai
Palpasi
: Iktus tak teraba, Thril (-)
Auskultasi
:
Frekwensi
: 92x/menit
Irama
: Reguler
Bunyi Jantung : BJ I dan BJ II normal reguler
Bising
: (-)
k. Abdomen
:
Inspeksi
: Datar
Auskultasi
: Peristaltik (+) meningkat
Perkusi
: Timpani
Palpasi
: Nyeri Tekan (-) pada region epigastrium
Hati, Limpa : Tidak teraba
Turgor
: Baik (<2)
l. Alat kelamin
: Perempuan
m. Anggota Gerak :
Atas
Bawah
Capilary refill :
< 2
< 2
Akral dingin :
-/-/ R. Fisiologis :
+/+
+/+
R. Patologis :
-/-/E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Darah Rutin Tanggal 10 Agustus 2015
1. Pemeriksaan Darah Rutin
Hemoglobin
: 12,3 gr%
Hematokrit
: 37,5 %
Leukosit
: 11,4 ribu/uL
Trombosit
: 403 ribu/uL
Gol. Darah
: A/Positif
Kesan : dalam batas normal
2. Pemeriksaan Kimia
Na : 135,0 mmol/L
Cl
: 100,1 mmol/L
K
: 3,38 mmol/L
F. ASSESMENT
Diagnosis Kerja
1. Diare akut dehidrasi ringan sedang
DD
: a). Keracunan
: b). Alergi

: c). Malabsorbsi
: d). Infeksi enteral
2. Gizi Kurang
DD

: a). KEP
b). Gizi Buruk
DAFTAR MASALAH

N
O
1.
2.

PROBLEM AKTIF

TGL

PROBLEM INAKTIF

DADRS
Gizi Kurang

INITIAL PLAN
1. Assessment : DADRS
DD
: a). Keracunan
: b). Alergi
: c). Malabsorbsi
: d). Infeksi enteral
Initial Plan Diagnosis

S :O : Px Darah Rutin, Px. Kimia Darah, Px. Feses rutin

Initial Plan Terapi

Oralit 3 jam pertama : 500 ml


Cairan tambahan (oralit 50-100 ml) tiap kali BAB
Zinc 20 mg 1x1 selama 10 hari
Antibiotik : Amoxilcillin 250 mg 3x1 selama 10 hari
Antipiretik : Paracetamol syr 60 mg/5 ml 1 CTh k/p
Penghitungan cairan :
Infus RL
BB : 8,1 kg
Kehilangan cairan 8% 100% - 8 % = 92 %
BB awal : (100/92) X 8,1 kg = 8,75 kg
Kebutuhan cairan sehari : 8,75 kg X 100 cc
: 875 cc / 24 jam

TGL

: 36,5 cc / jam
: 9,1 tpm 10 tpm
Initial Plan Monitoring

Vital sign, tanda dehidrasi (turgor, mencret, muntah, diuresis)

Initial Plan Edukasi


Istirahat cukup
Minum obat secara teratur dan tepat waktu
Menjaga pola makan yang cukup gizi dan higienis
Makan makanan yang dimasak terlebih dahulu
Menjaga lingkungan dan kebersihan diri (Jaga kebersihan tangan, alat makan)
Berikan anak lebih banyak minum (Bisa diberikan oralit)
Menjelaskan kepada orang tua tentang penyakit
Membawa anak kembali ke petugas kesehatan jika keluhan kembali muncul

DD

Initial Plan Diagnosis


S
DD

: Gizi Kurang
: - KEP
- Gizi Buruk

O :Initial Plan Terapi


BB : 8,1 kg

Kebutuhan kalori perhari umur 22 bulan, BB 8,1 kg


465,2 kalori/hari (+5%) 488,46
Terdiri dari :
Karbohidrat 60%
60% x 465,2 = 279,15
Lemak 35%
35% x 465,2 = 162,82
Protein 10%

10% x 465,2 = 46,52


Initial Plan Monitoring
Penimbangan berat badan secara rutin
Pengukuran tinggin badan secara teratur
Initial Plan Edukasi

Makan teratur 3x sehari diselingi makanan kecil


Makan makanan yang bergizi, tinggi kalori dan protein (ayam cincang, hati)
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

REFKAS
DADRS Dengan Gizi Kurang

Pembimbing : dr Sri Priyantini, Sp.A

Oleh : Sri Rahmawati


NIM : 012106280

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
2015

TINJAUAN PUSTAKA
Diare
Pendahuluan
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di
negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah
Tangga diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian
bayi di Indonesia1. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak
dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang
dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan
akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa.
Invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili
dapat menimbulkan keadaan maldiges dan malabsorpsi2. Bila tidak mendapatkan
penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik2.
Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi
dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan
terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan
menanggulangi

gangguan

gizi

serta

mengobati

penyakit

penyerta.

Untuk

melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan efekstif harus dilakukan
secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam

mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat


kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan
vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan
menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit3.

Definisi
Diare akut menurut Cohen4 adalah keluarnya buang air besar tiga kali atau lebih yang
berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. Menurut Noerasid5
diare akut ialah diare yang terjadi secara mendakak pada bayi dan anak yang
sebelumnya

sehat.

Sedangkan

American

Academy

of

Pediatrics

(AAP)

mendefinisikan diare dengan karakteristik peningkatan frekuensi dan/atau perubahan


konsistensi, dapat disertai atau tanpa gejala dan tanda seperti mual, muntah, demam
atau sakit perut yang berlangsung selama 3 7 hari6.
Etiologi
Penyebab diare akut pada anak secara garis besar dapat disebabkan oleh
gastroenteritis, keracunan makanan karena antibiotika dan infeksi sistemik. Etiologi
diare pada 25 tahun yang lalu sebagian besar belum diketahui, akan tetapi kini, telah
lebih dari 80% penyebabnya diketahui. Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak
kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan
bayi7. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah Rotavirus (40 60%)
sedangkan virus lainya ialah virus Norwalk, Astrovirus, Cacivirus, Coronavirus,
Minirotavirus. Bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah Aeromonas hydrophilia,
Bacillus cereus, Compylobacter jejuni, Clostridium defficile,Clostridium perfringens,
E coli, Pleisiomonas, Shigelloides, Salmonella spp, staphylococus aureus, vibrio
cholerae dan Yersinia enterocolitica, Sedangkan penyebab diare oleh parasit adalah
Balantidium coli, Capillaria phiplippinensis, Cryptosporodium, Entamoba hystolitica,
Giardia lambdia, Isospora billi, Fasiolopsis buski, Sarcocystis suihominis,
Strongiloides stercorlis, dan trichuris trichiura. 4,7,11,12

Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk melalui
makanan dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi dan kerusakan
villi usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru yang fungsinya belum
matang, villi mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan
dengan baik, akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan
motilitasnya sehingga timbul diare.4,7
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan
pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP,cGMP, dan Ca dependen.
Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan
patogenesis diare oleh virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bekteri ini dapat
menembus (invasi) sel mukosa usus halus sehingga depat menyebakan reaksi
sistemik.Toksin shigella juga dapat masuk ke dalam serabut saraf otak sehingga
menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri ini dapat menyebabkan adanya darah
dalam tinja yang disebut disentri. 5,7
Sebuah studi tentang maslah diare akut yang terjadi karena infeksi pada anak di
bawah 3 tahun di Cina, India, Meksiko, Myanmar, Burma dan Pakistan, hanya tiga
agen infektif yang secara konsisten atau secara pokok ditemukan meningkat pada
anak penderita diare. Agen ini adalah Rotavirus, Shigella spp dan E. Coli
enterotoksigenik Rotavirus jelas merupakan penyebab diare akut yang paling sering
diidentifikasi pada anak dalam komunitas tropis dan iklim sedang.13 Diare dapat
disebabkan oleh alergi atau intoleransi makanan tertentu seperti susu, produk susu,
makanan asing terdapat individu tertentu yang pedas atau tidak sesuai kondisi usus
dapat pula disebabkan oleh keracunan makanan dan bahan-bahan kimia. Beberapa
macam obat, terutama antibiotika dapat juga menjadi penyebab diare. Antibiotika
akan menekan flora normal usus sehingga organisme yang tidak biasa atau yang kebal
antibiotika akan berkembang bebas.7,14 Di samping itu sifat farmakokinetik dari obat
itu sendiri juga memegang peranan penting. Diare juga berhubungan dengan penyakit
lain misalnya malaria, schistosomiasis, campak atau pada infeksi sistemik lainnya
misalnya, pneumonia, radang tenggorokan, dan otitis media.4,7
Patofisiologi

Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare


osmotik, sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus. Diare osmotik terjadi
karena terdapatnya bahan yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus akan difermentasi
oleh bahteri usus sehingga tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan
menarik cairan. Diare sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi
cAMP dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit. Sedangkan
diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat adanya gangguan pada kontrol
otonomik,misal pada diabetik neuropathi, post vagotomi, post reseksi usus serta
hipertiroid.7
Manifestasi kinis
Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai
dengan asidosis metabolik karena kehilangan basa. Dehidrasi dapat diklasifikasikan
berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan elektrolit. Dehidrasi ringan bila
penurunan berat badan kurang dari 5%,dehidrasi sedang bila penurunan berat badan
antara 5%-10% dan dhidrasi berat bila penurunan lebih dari 10%.7,15
Gejala & Tanda
Berdasarkan Derajat Dehidrasi
Keadaan umum

Tanpa Dehidrasi
Baik

DADRS
Gelisah/rewel
Air

mata

DADB
Letargi / kesadaran
menurun
(+) Mata Cekung, Air

Mata

Air mata (+) cukup

Mulut / Lidah
Rasa haus

berkurang
Lembab/Basah
Kering
Minum
normal, Tampak kehausan

Kulit

tidak haus
Dicubit

% BB turun

cepat (Turgor <2)


< 5%

kembali Kembali
(Turgor 2)
510 %

mata (-) / kering


Sangat kering
Tidak bisa minum

lambat Kembali

sangat

lambat (turgir >2)


> 10%

Sumber : Sandhu 2011


Berdasarkan konsentrasi Natrium plasma tipe dehidrasi dibagi 3 yaitu : dehidrasi
hiponatremia ( < 130 mEg/L ), dehidrasi iso-natrema ( 130m 150 mEg/L ) dan
dehidrasi hipernatremia ( > 150 mEg/L ). Pada umunya dehidrasi yang terjadi adalah

tipe iso natremia (80%) tanpa disertai gangguan osmolalitas cairan tubuh, sisanya
15 % adalah diare hipernatremia dan 5% adalah diare hiponatremia.
Kehilangan bikarbonat bersama dengan diare dapat menimbulkan asidosis metabolik
dengan anion gap yang normal ( 8-16 mEg/L), biasanya disertai hiperkloremia. Selain
penurunan bikarbonat serum terdapat pula penurunan pH darah kenaikan pCO2. Hal
ini akan merangsang pusat pernapasan untuk meningkatkan kecepatan pernapasan
sebagai upaya meningkatkan eksresi CO2 melalui paru ( pernapasan Kussmaul )
Untuk pemenuhan kebutuhan kalori terjadi pemecahan protein dan lemak yang
mengakibatkan meningkatnya produksi asam sehingga menyebabkan turunnya nafsu
makan bayi. Keadaan dehidrasi berat dengan hipoperfusi ginjal serta eksresi asam
yang menurun dan akumulasi anion asam secara bersamaan menyebabkan
berlanjutnya keadaan asidosis.17
Kadar kalium plasma dipengaruhi oleh keseimbangan asam basa , sehingga pada
keadaan asidosis metebolik dapat terjadi hipokalemia. Kehilangan kalium juga
melalui cairan tinja dan perpindahan K+ ke dalam sel pada saat koreksi asidosis dapat
pula menimbulkan hipokalemia. Kelemahan otot merupakan manifestasi awal dari
hipokalemia, pertama kali pada otot anggota badan dan otot pernapasan. Dapat terjadi
arefleks, paralisis dan kematian karena kegagalan pernapasan. Disfungsi otot harus
menimbulkan ileus paralitik, dan dilatasi lambung. EKG mnunjukkan gelombang T
yang mendatar atau menurun dengan munculnya gelombang U. Pada ginjal
kekurangan K+ mengakibatkan perubahan vakuola dan epitel tubulus dan
menimbulkan sklerosis ginjal yang berlanjut menjadi oliguria dan gagal ginjal.7
Penatalaksanaan
Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi efektif
diare akut.6 Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang
hilang sebagai persentasi kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan
sebelumnya sebagai baku emas.18
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral. Pemberian secara
oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa
nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang. Bila diare profus dengan
pengeluaran air tinja yang banyak ( > 100 ml/kgBB/hari ) atau muntah hebat (severe

vomiting) sehingga penderita tak dapat minum sama sekali, atau kembung yang
sangat hebat (violent meteorism) sehingga upaya rehidrasi oral tetap akan terjadi
defisit maka dapat dilakukan rehidrasi parenteral walaupun sebenarnya rehidrasi
parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi15.
Keuntungan upaya terapi oral karena murah dan dapat diberikan dimana-mana. AAP
merekomendasikan cairan rehidrasi oral (ORS) untuk rehidrasi dengan kadar natrium
berkisar antara 75-90 mEq/L dan untuk pencegahan dan pemeliharaan dengan
natrium antara 40-60mEq/L 11 Anak yang diare dan tidak lagi dehidrasi harus
dilanjutkan segera pemberian makanannya sesuai umur6.
a. Dehidrasi Ringan Sedang
Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oral
sesuai dengan defisit yang terjadi namun jika gagal dapat diberikan secara intravena
sebanyak : 75 ml/kg bb/3jam. Pemberian cairan oral dapat dilakukan setelah anak
dapat minum sebanyak 5ml/kgbb/jam. Biasanya dapat dilakukan setelah 3-4 jam pada
bayi dan 1-2 jam pada anak . Penggantian cairan bila masih ada diare atau muntah
dapat diberikan sebanyak 10ml/kgbb setiap diare atau muntah.17
Secara ringkas kelompok Ahli gastroenterologi dunia memberikan 9 pilar yang perlu
diperhatikan dalam penatalaksanaan diare akut dehidrasi ringan sedang pada anak,
yaitu12 :
1. Menggunakan CRO ( Cairan rehidrasi oral )
2. Cairan hipotonik
3. Rehidrasi oral cepat 3 4 jam
4. Realiminasi cepat dengan makanan normal
5. Tidak dibenarkan memberikan susu formula khusus
6. Tidak dibenarkan memberikan susu yang diencerkan
7. ASI diteruskan
8. Suplemen dnegan CRO ( CRO rumatan )
9. Anti diare tidak diperlukan
b. Dehidrasi Berat
Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari 10% untuk bayi dan anak
dan menunjukkan gangguan tanda-tanda vital tubuh ( somnolen-koma, pernafasan
Kussmaul, gangguan dinamik sirkulasi ) memerlukan pemberian cairan elektrolit
parenteral. Penggantian cairan parenteral menurut panduan WHO diberikan sebagai
berikut 12,15,17 :

Usia <12 bln: 30ml/kgbb/1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/5jam


Usia >12 bln: 30ml/kgbb/1/2-1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/2-2 jam
Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi kebutuhan penderita
akan kalori, namun hal ini tidaklah menjadi masalah besar karena hanya menyangkut
waktu yang pendek. Apabila penderita telah kembali diberikan diet sebagaimana
biasanya . Segala kekurangan tubuh akan karbohidrat, lemak dan protein akan segera
dapat dipenuhi. Itulah sebabnya mengapa pada pemberian terapi cairan diusahakan
agar penderita bila memungkinkan cepat mendapatkan makanan / minuman sebagai
biasanya bahkan pada dehidrasi ringan sedang yang tidak memerlukan terapi cairan
parenteral makan dan minum tetap dapat dilanjutkan.18
Pemilihan jenis cairan
Cairan Parenteral dibutuhkan terutama untuk dehidrasi berat dengan atau tanpa syok,
sehingga dapat mengembalikan dengan cepat volume darahnya, serta memperbaiki
renjatan hipovolemiknya. Cairan Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak
diperdagangkan dan mengandung konsentrasi natrium yang tepat serta cukup laktat
yang akan dimetabolisme menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi kaliumnya
rendah dan tidak mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia. Cairan NaCL
dengan atau tanpa dekstrosa dapat dipakai, tetapi tidak mengandung elektrolit yang
dibutuhkan dalam jumlah yang cukup. Jenis cairan parenteral yang saat ini beredar
dan dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan pengganti diare dengan dehidrasi
adalah Ka-EN 3B.16 Sejumlah cairan rehidrasi oral dengan osmolaliti 210 268
mmol/1 dengan Na berkisar 50 75 mEg/L, memperlihatkan efikasi pada diare anak
dengan kolera atau tanpa kolera.19
Mengobati kausa Diare
Tidak ada bukti klinis dari anti diare dan anti motilitis dari beberapa uji klinis.18 Obat
anti diare hanya simtomatis bukan spesifik untuk mengobati kausa, tidak
memperbaiki kehilangan air dan elektrolit serta menimbulkan efek samping yang
tidak diinginkan. Antibiotik yang tidak diserap usus seperti streptomisin, neomisin,
hidroksikuinolon dan sulfonamid dapat memperberat yang resisten dan menyebabkan
malabsorpsi.21 Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan
antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting).12 Antibiotik

hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera shigella,
karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Kecuali pada
bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri
mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang
menunjukkan secara klinis gajala yang berat serta berulang atau menunjukkan gejala
diare dengan darah dan lendir yang jelas atau segala sepsis15. Anti motilitis seperti
difenosilat dan loperamid dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga terjadi
bacterial overgrowth, gangguan absorpsi dan sirkulasi.21
Beberapa antimikroba yang sering dipakai antara lain 15,18
Kolera :
Tetrasiklin 50mg/kg/hari dibagi 4 dosis (2 hari)
Furasolidon 5mg/kg/hari dibagi 4 dosis (3 hari)
Shigella :
Trimetroprim 5-10mg/kg/hari
Sulfametoksasol 25mg/kg/hari Diabgi 2 dosis (5 hari)
Asam Nalidiksat : 55mg/kg/hari dibagi 4 (5 hari)
Amebiasis:
Metronidasol 30mg/kg/hari dibari 4 dosis 9 5-10 hari)
Untuk kasus berat : Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg (maks 90mg)(im) s/d
5 hari tergantung reaksi (untuk semua umur)
Giardiasis :
Metronidasol 15mg.kg/hari dibagi 4 dosis ( 5 hari )
Antisekretorik - Antidiare
Salazer lindo E dkk 22 dari Department of Pedittrics, Hospital Nacional Cayetano
Heredia, Lima,Peru, melaporkan bahwa pemakaian Racecadotril ( acetorphan ) yang
merupakan enkephalinace inhibitor dengan efek anti sekretorik serta anti diare
ternyata cukup efektif dan aman bila diberikan pada anak dengan diare akut oleh
karena tidak mengganggu motilitas usus sehingga penderita tidak kembung .Bila
diberikan bersamaan dengan cairan rehidrasi oral akan memberikan hasil yang lebih
baik bila dibandingkan dengan hanya memberikan cairan rehidrasi oral saja .Hasil
yang sama juga didapatkan oleh Cojocaru dkk dan cejard dkk.untuk pemakaian yang
lebih luas masih memerlukan penelitian lebih lanjut yang bersifat multi senter dan
melibatkan sampel yang lebih besar.23

Probiotik
Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada
host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran
cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik
melalui reseptor dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena tersebut bakteri
probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan pengobatn diare baik yang
disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain, speudomembran colitis
maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional
rasional (antibiotik asociatek diarrhea ) dan travellers,s diarrhea. 14,15,24
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare akut
pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk 25 menyatakan lactobacillus aman dan
efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare
kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua
pemberian sebanyak 1 2 kali. Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam
pengobatan diare adalah : Perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan
anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen
pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus
dan imunno modulasi.14,24
Mikronutrien
Dasar pemikiran pengunaan mikronutrien dalam pengobatan diare akut didasarkan
kepada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna
dan terhadap proses perbaikan epitel seluran cerna selama diare. Seng telah dikenali
berperan di dalam metallo enzymes, polyribosomes , selaput sel, dan fungsi sel,
juga berperan penting di dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan .19 Sazawal S
dkk 26 melaporkan pada bayi dan anak lebih kecil dengan diare akut, suplementasi
seng secara klinis penting dalam menurunkan lama dan beratnya diare. Strand 27
Menyatakan efek pemberian seng tidak dipengaruhi atau meningkat bila diberikan
bersama dengan vit A. Pengobatan diare akut dengan vitamin A tidak memperlihatkan
perbaikan baik terhadap lamanya diare maupun frekuensi diare. 19 Bhandari dkk 28
mendapatkan pemberian vitamin A 60mg dibanding dengan plasebo selama diare akut

dapat menurunkan beratnya episode dan risiko menjadi diare persisten pada anak
yang tidak mendapatkan ASI tapi tidak demikian pada yang mendapat ASI.
Mencegah / Menanggulangi Gangguan Gizi
Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama
pada anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih
dari 24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup.Bila
tidak makalah ini akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare
kronik29 Pemberian kembali makanan atau minuman (refeeding) secara cepat
sangatlah penting bagi anak dengan gizi kurang yang mengalami diare akut dan hal
ini akan mencegah berkurangnya berat badan lebih lanjut dan mempercepat
kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan pada umumnya harus
dilanjutkan pemberiannya selama diare penelitian yang dilakukan oleh Lama more
RA dkk30 menunjukkan bahwa suplemen nukleotida pada susu formula secara
signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada anak oleh karena nucleotide
adalah bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel termasuk sel epitel usus dan
sel imunokompeten. Pada anak lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi
tajin ( beras, kentang, mi, dan pisang) dan gandum ( beras, gandum, dan cereal).
Makanan yang harus dihindarkan adalah makanan dengan kandungan tinggi, gula
sederhana yang dapat memperburuk diare seperti minuman kaleng dan sari buah apel.
Juga makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi karena karena menyebabkan
lambatnya pengosongan lambung.31
Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang
menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa
berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang
ringan sehingga cukup memberikan formula susu biasanya diminum dengan
pengenceran oleh karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam
waktu 2 3 hari akan sembuh terutama pada anak gizi yang baik. Namun bila
terdapat intoleransi laktosa yang berat dan berkepanjangan tetap diperlukan susu
formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama. Untuk intoleransi laktosa ringan
dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa. Sabagaimana halnya

intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya sementara dan
biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus.Pada situasi
yang memerlukan banyak energi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah
lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare
kronik 32
Menanggulangi Penyakit Penyerta
Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Sehingga
dalam menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyakit penyerta yang ada.
Beberapa penyakit penyerta yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain :
infeksi saluran nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih, infeksi
sistemik lain (sepsis,campak ), kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal 33.
Kesimpulan
Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena
masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Penyebab utama diare akut adalah
infeksi Rotavirus yang bersifat self limiting sehingga tidak memerlukan pengobatan
dengan

antibiotika.

Pemakaian

antibitika

hanya

untuk

kasus-kasus

yang

diindikasikan.Masalah utama diare akut pada anak berkaitan dengan risiko terjadinya
dehidrasi. Upaya rehidrasi menggunakan cairan rehidrasi oral merupakan satusatunya pendekatan terapi yang paling dianjurkan. Penggantian cairan dan elektrolit
merupakan elemen yang penting dalam terapi diare akut. Pemakaian anti
sekretorik,probiotik, dan mikronutrien dapat memperbaiki frekuensi dan lamanya
diare. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian makanan atau nutrisi yang
cukup selama diare dan mengobati penyakit penyerta.
Kepustakaan
1. Kandun NI. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat
dalam kumpulan makalah Kongres nasional II BKGAI juli 2003 hal 29
2. Barkin RM Fluid and Electrolyte Problems. Problem Oriented Pediatric Diagnosis
Little Brown and Company 1990;20 23.
3. Booth IW, CuttingWAM. Current Concept in The Managemnt of Acute in Children
Postgraad Doct Asia 1984 : Dec : 268 274

4. Coken MB Evaluation of the child with acute diarrhea dalam:Rudolp AM,Hofman


JIE,Ed Rudolp?s pediatrics: edisi ke 20 USA 1994 : prstice Hall international,inc hal
1034-36
5. Norasid H,Surratmadja S, Asnil PO. Gastroenteritis (Diare ) akut dalam:
Gastroenterologi anak praktis, Ed Suharyono, Aswitha B,EM Halimun : edisi ke2
Jakarta 1994: Balai penerbit FK-UI hal 51-76
6. American Academy of Pediatrics Propesional commite on Quality improvement
subcommitte o Acute Gastroenteritis Pratice parameter : the management of acute
gastroeneritis in young children Pediatrics 1996:97:424-35
7. American Academy of Pediatrics Commite on Nutrition.Use of oral fluid therapy
and post-treatment feeding following enteritis in children in a developed country.
Pediatrics 1985;75;358-61
8. Hegar B, Kadim M. Tatalaksana diare akut pada anak dalam Majalah kesehatan
Kedokteran indonsia Vol 1 No 06,2003
9. Smith-Walker JA.Masalah Pediati di Bidang Gastroenterologi Tropis dalam
Problem Gastroenterologi Daerah Tropis Ed GC Cook,edisi ke 1 jakarta 2003; EGC
113-41
10. Firmansyah A. Terapi probiotik dan prebiotik pada penyakit saluran cerna.dalam
Sari pediatric Vol 2,No. 4 maret 2001
11. Subijanto MS,Ranuh R, Djupri Lm, Soeparto P. Managemen disre pada bayi dan
anak. Dikutip dari URL : http://www.pediatrik.com/
12. Sandhu BK. Pratical guideline for the management of gastroenteritis in children J
Ped Gastroenterol Nutr 2001;33:S36-9
13. Dwipoerwantoro PG.Pengembangan rehidrasi perenteral pada tatalaksana diare
akut dalam kumpulan makalah Kongres Nasional II BKGAI Juli 2003
14. Armon K. Stephenson T, Macfaul R, Eccleston P, Warneke U. An evidence and
consensus based guideline for acute diarrhea management Arch Dis Child
2001;85:132-42.
15. Bhan MK.Current consepts in management of acute diarrhea Indian Pediatrics
2003:40:463-76
16. Ditjen PPM dan PLP,1999,Tatalaksana Kasus Diare Departemen Kesehatan RI hal
24-25
17. Sinuhaji AB Peranan obat antidiare pada tatalaksana diare akut dalam kumpulan
makalah Kongres Nasional II BKGAI juli 2003
18. Salazar-Lindo E. Santisteban-Ponces J, Chea WooE,Gutierez M. Rececaddotril
in treatment of acute watery diarrea in children N. Eng J med 23003;34;463-7

19. Firmansyah A.Peran obat dalam tatalaksana diare pada anak.Dalam Majalah
Kesehatan Kedokteran Indonesia Vol 1 No07,2003,
20. Rohim A, Soebijanto MS.Probiotik dan flora normal usus dalam Ilmu penyakit
anak diagnosa dan penatalaksanaan . Ed Soegijanto S. Edisi ke 1 Jakarta 2002
Selemba Medika hal 93-103
21. Van Niel Cornelis W, Feudtner C, Garisson MM, Dimitri A. Lactobacillus
Therapy for Acute InfectiousDiarrehe Children : A.Meta-analysis Pediatrics
2002;109;678-684
22. Strand TA dkk.Effectiveness and Efficacy of Zine for the Treatment of Aucte
Diarrhea in Young Children Pediatrics 2002;109;898-903

TINJAUAN PUSTAKA
Gizi Kurang

Definisi
Adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan
protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi.
( Supariasa, Penilaian Status Gizi, Jakarta, EGC, 2001)