Anda di halaman 1dari 3

Nama : Fragananza Dwi Priyanka

Kelas : A (Semester Khusus)


NIM : 13105244024

Solusi Inovatif Pendidikan di Indonesia


1. Dalam dunia pendidikan tentu masih menjadi sebuah komoditi mahal yang berada di
Indonesia. Hal ini tentu akan menjadikan sebuah kendala bagi kalangan masyarakat yang
kurang mampu. Sehingga hanya pihak berkemampuan finansial lebih yang mampu
mengenyam pendidikan hingga kursi perguruan tinggi.
Solusi : Memberikan bantuan dana bagi pihak yang kurang mampu dengan harus
memenuhi kualifikasi persyaratan yang telah ditetapkan dari suatu universitas itu sendiri,
contohnya beasiswa bidik misi. Akan tetapi bagi penerima beasiswa tersebut selalu wajib
mendapatkan nilai yang baik dan menjadi seorang aktivis kampus guna sebagai motivasi
dalam dunia pendidikan agar terus tetap bertahan di perguruan tinggi.
2. Kesenjangan sosial tingkat pendidikan antar satu provinsi dan provinsi lain begitu tak
sebanding, jika bercermin pada daerah di Pulau Jawa, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat
dan Yogyakarta. Padahal peran generasi muda dalam hal ini amat penting. Maju dan
mundurnya pemikiran generasi muda, tentu sedikit banyaknya dipengaruhi oleh peranan
pendidikan yang dilaluinya.
Solusi : Memberikan pemerataan sistem pendidikan di tempat yang masih 3T(Tertinggal,
Terluar dan Terdepan) agar terus tetap dapat maju. Sebagai contoh memberikan peluang
bagi generasi muda untuk dapat meraih beasiswa ke luar negeri, lalu setelah sukses dalam
dunia pendidikan tersebut, wajib kembali ke negeri sendiri untuk menjalankan tugas
sebagai pengajar/pendidik yang nantinya akan ditempatkan di daerah 3T.
3. Nasib guru yang hanya berlabel 'guru tanpa tanda jasa'. Karena masih banyak guru di
daerah yang belum mendapatkan gaji tetap. Mereka bekerja hanya dengan hati nurani dan
ikhlas yang terus mengaliri jiwanya. Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius
pemerintah. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan generasi terbaik, jika sang pengajar
tak diperhatikan kesejahteraanya. Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai selain
kesejahteraan yang tak terjamin, kurangnya jumlah guru di sekolah daerah perkotaan dan

di daerah terpencil. Hal ini akan menjadi parameter kegagalan kebijakan pemerintah
tentang penataan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). ICW mengemukakan
hal tersebut berdasarkan riset yang dilakukan di Kabupaten Garut (Jawa Barat) dan
Kabupaten Buton (Sulawesi Utara).
Solusi : Memberikan suatu jaminan kualitas hidup yang layak terhadap guru seperti,
fasilitas dan sarana guna untuk menunjang karir seorang guru. Dimana sebagai gantinya
guru harus efektif dan efisien dalam sisi pedagogiknya atau telah memenuhi kualifikasi
kompetensi guru yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
4. Saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) masih sering terjadi ketidakjujuran (dishonesty)
oleh karena itu banyak pihak dari pemerintah mempersoalkan tentang kredibilitas UN.
Menurut Biyanto, capaian nilai anak dari hasil UN jelas bukan tujuan pendidikan. Ujian
harus dipahami sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui siswa untuk menapaki ke
jenjang pendidikan selanjutnya. Karena itulah, siswa harus diyakinkan bahwa yang jauh
lebih penting dalam UN adalah berperilaku jujur. Dalam Pelaksanaan UN terdapat pula
sebuah kendala, seperti: mulai dari bocornya soal hingga jebloknya nilai kelulusan siswa,
hal ini akan menjadi sebuah polemik yang belum terselesaikan sampai saat ini.
Solusi : Mengoptimalkan ajaran kepada semua siswa seperti system trial and error guna
mengetahui kemungkinan kegagalan yang terjadi. Misalkan: satu kelas terdiri dari kurang
lebih 15 siswa, jam pelajaran dibuat sekitar 4-5jam per hari, membuat suatu
KBM(Kegiatan Belajar Mengajar) jadi konsep belajar dan bermain dan
experimental/applied dibanding text book sehingga para edukator akan membawa alat
peraga kedalam kelas dan mengajak murid-murid untuk bereksperimen dgn hal tersebut
atau terjun langsung ke lapangan untuk mengamati situasi keadaan yang ada . Sehingga
rasa percaya diri siswa akan terlatih setiap harinya dan tentu akan meminimalisir nilai
yang kurang baik.
5. Soal perubahan Kurikulum 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Anies Rasyid Baswedan menyatakan, Kemendikbud memutuskan untuk menghentikan
Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia. Kemendikbud mengambil keputusan ini
berdasarkan fakta bahwa sebagian besar sekolah belum siap melaksanakan Kurikulum
2013. Pemberhentian Kurikulum 2013 tidak berarti menghapus kurikulum yang
ditetapkan oleh menteri sebelumnya, M Nuh. Kurikulum 2013 masih belum siap, karena

pendidikan nasional terus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di
Indonesia. Tujuannya untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik.
Solusi : Terlebih dahulu memberikan standar kurikulum yang efektif dan efisien pada
tiap-tiap sekolah, agar mendapatkan hasil terbaik bagi peserta didik. Lalu mulailah
mencoba untuk menerapkan dan menyesuaikan dengan standar kurikulum yang baru,
walaupun tahap demi tahap.
Sumber referensi :
http://edukasi.sindonews.com/read/945259/144/masalah-pendidikan-yang-tak-pernah-tuntas1420187847/, diakses pada 02-08-2015 (Ditulis oleh : Mohammad Atik Fajardin)

Anda mungkin juga menyukai