Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

Vertigo Vestibular Perifer


Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Penyakit Saraf
Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Istiqomah, Sp.S

Disusun Oleh :
Citra Yekti P

01.211.6355

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Saraf

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
RSUD Dr.ADHYATMA, MPH
2016

STATUS MAHASISWA
KEPANITRAAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO SEMARANG
Kasus

: Vertigo vestibular perifer

Nama Mahasiswa

: Citra Yekti Prabaswara

NIM

: 01.211.6355

I.

IDENTITAS PENDERITA

Nama

: Tn. AI

Umur

: 30 tahun

Agama

: Islam

Status

: Belum menikah

Alamat

: Semarang

Pekerjaan

: Swasta

Dirawat di ruang

: Amarilis

Tanggal masuk RS

: 20 Februari 2016

II.

DAFTAR MASALAH
Tanggal
20/02/2016

III.

Aktif
1. Vertigo

Tanggal

Pasif
-

ANAMNESA
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis kepada keluarga
pasien pada tanggal 22 November 2015, pukul 14.00 WIB di Ruang Alamanda.
1. Keluhan Utama

: Pusing berputar

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Lokasi
Onset

mendadak, berlangsung singkat 1 menit.


Kualitas : pasien mengeluh pusing berputar
Kuantitas : saat serangan datang pasien tidak lagi mampu menjalankan

: kepala
: sejak 2 hari Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS), pusing

aktivitasnya

Kronologi : Pasien mengeluh pusing berputar disertai keringat dingin,


mual dan muntah dan telinga kiri berdenging sejak 2 hari sebelum masuk
rumah sakit. Pasien datang ke IGD pada tanggal 20 Februari 2016 karena
mengeluh sakit kepala berputar dan muntah setiap makan dan minum,
dalam 1 hari kurang lebih 7 kali, muntah tidak menyemprot, berisi
makanan dan minuman yang dimakan sebelumnya, jumlah gelas. dan

badan terasa lemas sanpai tidak kuat membuka mata.


Faktor yang Memperberat: Saat berubah posisi tubuh atau posisi tidak

stabil misal dari tiduran ke duduk atau dari duduk ke berdiri.


Faktor yang Memperingan: tiduran dalam posisi stabil / tanpa adanya

guncangan.
Gejala Penyerta: Pandangan ganda tidak ada, tidak mengeluhkan adanya
gangguan pendengaran, tidak pernah mengalami trauma kepala,
sebelumnya tidak demam, napsu makan pasien menurun, tidak batuk
ataupun pilek..

3. Riwayat Penyakit Dahulu

o Riwayat penyakit serupa

: ada

o Riwayat gangguan pendengaran

: disangkal

o Riwayat hipertensi

: disangkal

o Riwayat stroke

: disangkal

o Riwayat DM

: disangkal

o Riwayat kolesterol

: disangkal

o Riwayat jantung

: disangkal

o Riwayat trauma kepala

: disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga

o Riwayat Hipertensi
: disangkal
o Riwayat DM
: disangkal
o Riwayat Penyakit jantung
: disangkal
o Riwayat Stroke
: disangkal
5. Riwayat Sosial, Ekonomi dan Pribadi
Kesan Ekonomi: cukup

IV.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 22 Februari 2016, pukul 14.00 WIB di Ruang
Amarilis
A Status Generalis
Keadaan Umum
Tinggi Badan
Berat Badan
Status Gizi
Tanda Vital
- Suhu Tubuh
- Tekanan Darah
- Nadi
- Laju Nafas
B Status Internus
- Kepala/leher
- Mata

- Telinga/hidung
- Mulut/faring

: Tampak sakit ringan


: 168 cm
: 51 kg
: kurang
: 37.0oC (per axilla)
: 120/80
: 84 x/menit, regular
: 20 x/menit, reguler
: normosefali, deformitas (-), bengkak (-)
: pembesaran KGB -/: pembesaran kelenjar tiroid -/: Reflek cahaya +/+
: Konjungtiva anemis -/: Sklera ikterik -/: Pupil isokor, 3mm/3mm
: deformitas (-), nyeri (-), sekret (-)
: septum nasi ditengah
: mukosa tidak pucat, hiperemis (-)
: tonsil T1/T1
: uvula ditengah

- Thorax

Paru
Inspeksi

: bentuk dada normal dan simetris


: gerak napas tertinggal (-)
Palpasi
: tactile fremitus simetris, sama kuat
: ekspansi normal
Perkusi
: bunyi sonor pada semua lapang paru
Auskultasi : vesikuler, wheezing -/-, ronki -/Jantung
Inspeksi
: iktus kordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus kordis tidak teraba, thrill (-)
Perkusi
: pekak, batas jantung normal

Auskultasi : S1/S2 normal, (-) murmur, (-) gallop


- Abdomen
Inspeksi
: cembung, bekas luka (-)
Auskultasi
: bising usus normal, bruits (-)
Perkusi
: timpani
Palpasi : nyeri tekan epigastrik (+)
: hepatomegali (-), splenomegali (-)
- Punggung
: nyeri punggung bawah (-)
- Ekstremitas
: akral hangat
: deformitas (-), edema (-)
: CRT <2 detik
C Status Neurologis

I. Fungsi Luhur
Kesadaran
:
Kualitatif
: compos mentis
Kuantitatif GCS
: E4M6V5
Orientasi
: tempat, waktu dan situasi baik
Daya ingat
Baru
: baik
Lama
: baik
Gerakan abnormal
: tidak ditemukan
Gangguan berbahasa
:
Afasia motorik : Afasia sensorik : Akalkuli
:2. Koordinasi dan Keseimbangan
- Gait

: normal

- Tes tunjuk hidung

: normal

- Tes tumit-lutut

: normal

- Disdiadokokinesis

: normal

3. Saraf Otonom
- Miksi

: normal

- Defekasi

: normal

- Sekresi keringat

: normal

4. Nervi Cranialis

Nervus Kranialis
N. I (Olfactorius)
Daya Penghidu
N.II (Opticus)

Kanan

Kiri

Normosmia

Normosmia

Daya penglihatan

baik

baik

Lapang pandang

baik

baik

c Fundus okuli
N.III (Oculomotorius)

t.d.l

t.d.l

Ptosis

(-)

(-)

Gerak mata keatas

(+)

(+)

Gerak mata kebawah

(+)

(+)

Gerak mata media

(+)

(+)

Ukuran pupil

3 mm

3 mm

Bentuk pupil

Bulat, reguler

Bulat, reguler

Reflek cahaya langsung

(+)

(+)

Strabismus divergen

(-)

(-)

i Diplopia
N.IV (Trochlearis) :

(-)

(-)

Gerak mata lateral bawah

(+)

(+)

Strabismus konvergen

(-)

(-)

c Diplopia
N.V (Trigeminus)

(-)

(-)

Menggigit

(+)

(+)

Membuka mulut

(+)

(+)

Sensibilitas

(+)

(+)

Reflek kornea

(+)

(+)

Reflek bersin

t.d.l

t.d.l

Reflek masseter

t.d.l

t.d.l

Reflek zigomatikus

t.d.l

t.d.l

N.VI (Abducens) :
a

Pergerakan mata (ke lateral)

(+)

(+)

Strabismus konvergen

(-)

(-)

(-)

(-)

c Diplopia
N. VII (Facialis)

Kerutan kulit dahi

(+)

(+)

Mengerutkan dahi

(+)

(+)

Mengangkat alis

(+)

(+)

Menutup mata

(+)

(+)

Lipatan nasolabia

(+)

(+)

Sudut mulut

(+)

(+)

Meringis

(+)

(+)

Tik fasial

(-)

(-)

Lakrimasi

(+)

(+)

t.d.l

t.d.l

(-)

j Daya kecap 2/3 depan


N. VIII (Vestibulocochlearis)
a

Mendengarkan suara berbisik

Mendengarkan detik arloji

t.d.l

t.d.l

Tes rinne

t.d.l

t.d.l

Tes weber

t.d.l

t.d.l

Tes schwabach

t.d.l

t.d.l

Nistagmus

(+)
Horizontal

(+)
horizontal

N IX (Glossopharyngeus)
a

Arkus faring

Simetris

Simetris

Uvula

Simetris

Simetris

Daya kecap 1/3 belakang

t.d.l

t.d.l

Reflek muntah

Sengau

(-)

(-)

(-)

(-)

Simetris

Simetris

f Tersedak
N X (Vagus)
a

Arkus faring

Daya kecap 1/3 belakang

t.d.l

t.d.l

Bersuara

(+)

(+)

d Menelan
N XI (Accesorius)

(+)

(+)

Memalingkan muka

(+)

(+)

Sikap bahu

(+)

(+)

Mengangkat bahu

(+)

(+)

Trofi otot bahu

N XII (Hypoglossus)
a

Sikap lidah

Menjulurkan lidah

Artikulasi

Tremor lidah

(-)

(-)

Trofi otot lidah

(-)

(-)

Fasikulasi lidah

(-)

(-)

ANGGOTA

GERAK

ATAS
Inspeksi:

Kanan

Kiri

Drop hand

Tidak ada

Tidak ada

Claw hand

Tidak ada

Tidak ada

Kontraktur

Tidak ada

Tidak ada

Warna kulit

Normal

Normal

Gerakan

+ normal

+ normal

Kekuatan

5-5-5

5-5-5

Tonus

Normal

Normal

Trofi

(-)

(-)

Sensibilitas

+ normal

+ normal

Nyeri

+ normal

+ normal

Bisep

+ normal

+ normal

Trisep

+ normal

+ normal

Radius

+ normal

+ normal

Hoffman

(-)

(-)

Tromer

(-)

(-)

Sistem motorik :

Reflek fisiologik :

Reflek Patologi :

ANGGOTA
BAWAH
Inspeksi:
Drop foot

GERAK

Kanan

Kiri

Tidak ada

Tidak ada

Claw foot

Tidak ada

Tidak ada

Pitchers foot

Tidak ada

Tidak ada

Kontraktur

Tidak ada

Tidak ada

Warna kulit

Normal

Normal

Gerakan

(+) normal

(+) normal

Kekuatan

5-5-5

5-5-5

Tonus

(+) normal

(+) normal

trofi

(-)

(-)

Klonus

(-)

(-)

Reflek fisiologik (patella)

(+) normal

(+) normal

Sensibilitas

(+) normal (+) normal

Nyeri

normal

Sistem motorik

Normal

Keterangan
Reflek Patologis

Kanan

Kiri

Babinski

Chaddock

Oppenheim

Gordon

Schaeffer

Mendel Bechterew

Rossolimo

Gonda

Klonus patella

Klonus kaki

Kaku Kuduk

Kernig sign

Brudzinski I

Brudzinski II

Tes Lasegue

Tes Patrik

Rangsang Meningeal

Rangsang Radikuler

Tes Kontra Patrik

Tes naffziger

Tes valsava

V. PEMERIKSAANPENUNJANG
Teslab(21Februari2016)
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
kalium
Natrium

15,6
39
12,32
185
3,8
137,9

1216g/dl
3754%
510ribuul
150400ribu/ul

VI. RESUME
Ny.AI,30tahun,datangdengankeluhanpusingberputaryangbertambahparahsejak2
hariSMRS.Gejalamunculsecaratibatiba,seranganhilangsendirisetelah1015detik,
bertambah parah dengan perubahan posisi terutama saat bangun dari tidur, tidur
menyamping,dansaatmembungkukpadawaktushalat.Mual(+),muntah(+) 7 kali,
demam()Nyerikepala(),diplopia(),blurredvision().Pasienjugamemilikikeluhan
telingaberdengungsekitar2hariyanglalu.Gangguanpendengaranlain().
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
Sensorium
Tekanan Darah
Heart Rate
Temperatur

Kesadaran
Koordinasi dan

keseimbangan
Saraf otonom
N. VIII

STATUS PRESENS
Composmentis
120/70 mmHg
84 x/menit
370C
STATUS NEUROLOGIS
GCS E4 V5 M6
Normal
Normal
nistagmus +/+

Biceps / Triceps
Patella/Achilles
Babinsky
5
5

Mendengarkan suara berbisik (normal/-)


REFLEKS FISIOLOGIS
Kanan
Kiri
N/N
N/N
N/N
N/N
REFLEKS PATOLOGIS
Kanan
Kiri
KEKUATAN MOTORIK
5
5

VII. DIAGNOSIS
a. Diagnosa Klinis : cephalgia
b. Diagnosa Topis : Labirin, nervus VIII
c. Diagnosa Etiologi : Vertigo Perifer
VIII. DIAGNOSIS KERJA
a. Vertigo vestibular perifer
Keluhan pusing berputar yang muncul secara tiba-tiba, dipengaruhi oleh posisi,
terdapat mual muntah yang cukup hebat, terdapat tinitus, pasien masih dapat jalan
dan beraktivitas. Lingkungan berputar. Serangan 10-15 detik, saat bangun tidur.
Gejala sentral (-). Memiliki riwayat sakit yang sama. Romberg (-) , nistagmus (+/+)
b. Leukositosis
IX. DIAGNOSIS BANDING
1

Penyakit meniere
Pusing berputar (+), tinitus (+). Namun tidak ditemukan gangguan pendengaran.
Keluhan pusing berputar menghilang setelah beberapa menit. Akan tetapi,
diagnosis penyakit meniere belum dapat disingkirkan karena belum dilakukan tes
pendengaran lebih lanjut seperti audiometri.

X. TATALAKSANA
a

Nonmedikamentosa
Edukasi pasien untuk bangun dari tempat tidur secara perlahan-lahan.
Memberitahu pasien tentang latihan Brandt-Daroff untuk latihan di rumah agar
pasien terbiasa dengan beberapa posisi sehingga tidak muncul keluhan pusing
berputar saat berpindah posisi.

c
d

Medikamentosa
Inj RL 20 tpm
Betahistine 3x6mg (po)
Dimenhidrinate 2x50 mg (po)
Flunarizine 2x5 mg (po)
Inj. Ondansetron 4mg (jika mual muntah)
Inj. Ranitidine 2x1 amp (i.v)
Rencana pemeriksaan tambahan
i Audiometri
Rencana terapi
i Rujuk THT

XI. FOLLOW UP
1

Tanggal
a Subjektif
b Objektif

c
d

: 21 Februari 2016
: pusing berputar (+), mual (+), muntah (-)
: Keadaan umum tampak sakit sedang
: Kesadaran compos mentis
: GCS E4M6V5
: Tanda vital (TD 130/80, Nadi 69x/menit, Laju napas

24x/menit, Suhu 36oC)


Assessment : vertigo vestibular perifer
: leukositosis
Planning
:
a Inj RL 20 tpm
b Betahistine 3x6mg (po)

c
d
e
f
2

Tanggal
a Subjektif
b Objektif

c
d
3

: 22 Februari 2015
: pusing berputar (-), mual (-), muntah (-)
: Keadaan umum tampak sakit ringan
: Kesadaran compos mentis
: GCS E4M6V5
: Tanda vital (TD 120/80, Nadi 84x/menit, Laju napas

20x/menit, Suhu 37oC)


Assessment : vertigo perifer
: leukositosis
Planning
: lanjutkan terapi

Tanggal
a Subjektif
b Objektif

: 23 Februari 2015
: pusing berputar (-), mual (-), muntah (-)
: Keadaan umum tampak sakit ringan
: Kesadaran compos mentis
: GCS E4M6V5
: Tanda vital (TD 120/80, Nadi 64x/menit, Laju napas

20x/menit, Suhu 36oC)


Assessment : vertigo perifer
: leukositosis
Planning
: lanjutkan terapi

XII. PROGNOSIS
Ad vitam

Dimenhidrinate 2x50 mg (po)


Flunarizine 2x5 mg (po)
Inj. Ondansetron 4mg (jika mual muntah)
Inj. Ranitidine 2x1 amp (i.v)

: ad bonam

Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI
Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar mengelilingi

pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar. Vertigo tidak selalu
sama dengan dizziness. Dizziness adalah sebuah istilah non spesifik yang dapat
dikategorikan ke dalan 4 subtipe tergantung gejala yang digambarkan oleh pasien. Dizziness
dapat berupa vertigo, presinkop (perasaan lemas disebabkan oleh berkurangnya perfusi
cerebral),

light-headness, disequilibrium (perasaan goyang atau tidak seimbang ketika

berdiri). 1
Vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar merujuk pada sensasi
berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh
gangguan pada sistim keseimbangan. 3

II.

KLASIFIKASI

Vertigo dapat diklasifikasikan menjadi :2


a. Sentral diakibatkan oleh kelainan pada batang batang otak atau cerebellum
b. Perifer disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau nervus cranialis
vestibulocochlear (N. VIII)

III.

ETIOLOGI

Penyebab perifer Vertigo

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)


Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan penyebab
utama vertigo. Onsetnya lebih seriang terjadi pada usia rata-rata 51 tahun. 5
Benign

Paroxysmal

Positional

Vertigo

(BPPV)

disebabkan

oleh

pergerakan otolit dalan kanalis semisirkularis pada telinga dalam. Hal ini terutama
akan mempengaruhi kanalis posterior dan menyebabkan gejala klasik tapi ini juga
dapat mengenai kanalis anterior dan horizontal.Otoli mengandung Kristal-kristal
kecil kalsium karbonat yang berasal dari utrikulus telinga dalam . Pergerakan dari
otolit distimulasi oleh perubahan posisi

dan menimbulkan manifestasi klinik

vertigo dan nistagmus. 9


Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) biasanya idiopatik tapi
dapat juga diikuti trauma kepala, infeksi kronik telinga, operasi dan neuritis
vestibular sebelumny, meskipun gejala benign Paroxysmal Positional Vertigo
(BPPV) tidak terjadi bertahun-tahun setelah episode. 8

Mnires disease
Mnires disease ditandai dengan vertigo yang intermiten diikuti dengan
keluhan pendengaran .

11

Gangguan pendengaran berupa tinnitus (nada rendah),

dan tuli sensoris pada fluktuasi frekuensi yang rendah, dan sensasi penuh pada
telinga. 10 Mnires disease terjadi pada sekitar 15% pada kasus vertigo otologik.8
Mnires disease merupakan akibat dari hipertensi endolimfatik. Hal ini
terjadi karena dilatasi dari membrane labirin bersamaan dengan kanalis
semisirularis telinga dalam dengan peningkatan volume endolimfe.

Vestibular Neuritis

Vestibular neuritis ditandai dengan vertigo, mual, ataxia, dan nistagmus.


Hal ini berhubungan dengan infeksi virus pada nervus vestibularis. Labirintis
terjadi dengan komplek gejala yang sama disertai dengan tinnitus atau penurunan
pendengaran. Keduanya terjadi pada sekitar 15% kasus vertigo otologik.11
Penyebab Sentral Vertigo

Migraine
Selby and Lance (1960) menemukan vertigo menjadi gejala yang sering
dilaporkan pada 27-33% pasien dengan migraine.. Sebelumnya telah dikenal
sebagai bagian dari aura (selain kabur, penglihatan ganda dan disarthria) untuk
basilar migraine dimana juga didapatkan keluhan sakit kepala sebelah. Verigo
pada migraine lebih lama dibandingkan aura lainnya, dan seringkali membaik
dengan terapi yang digunakan untuk migraine. 10

Vertebrobasilar insufficiency
Vertebrobasilar insufficiency biasanya terjadi dengan episode rekuren dari
suatu vertigo dengan onset akut dan spontan pada kebanyakan pasien terjadi
beberapa detik sampai beberapa menit. Lebih sering pada usia tua dan pada paien
yang memiliki factor resiko cerebrovascular disease. Sering juga berhungan
dengan gejala visual meliputi inkoordinasi, jatuh, dan lemah. Pemeriksaan
diantara gejala biasanya normal. 9

Tumor Intrakranial
Tumor intracranial jarang member manifestasi klinik vertigo dikarenakan
kebanyakan adalah tumbuh secara lambat sehingga ada waktu untuk kompensasi
sentral. Gejala yang lebih sering adalah penurunan pendengaran atau gejala
neurologis . Tumor pada fossa posterior yang melibatkan ventrikel keempat atau
Chiari malformation sering tidak terdeteksi di CT scan dan butuh MRI untuk
diagnosis. Multipel sklerosis pada batang otak akan ditandai dengan vertigo akut
dan nistagmus walaupun biasanya didaptkan riwayat gejala neurologia yang lain
dan jarang vertigo tanpa gejala neurologia lainnya.

IV.

GEJALA KLINIS

VERTIGO SENTRAL
Penyebab vertigo jenis sentral biasanya ada gangguan di batang otak atau di

serebelum. Untuk menentukan gangguan di batang otak, apakah terdapat gejala lain yang
khas bagi gangguan di batang otak, misalnya diplopia, parestesia, perubahan sensibilitas dan
fungsi motorik, rasa lemah.5
VERTIGO PERIFER
Lamanya vertigo berlangsung :9
a. Episode (serangan) vertigo yang berlangsung beberapa detik
Paling sering disebabkan oleh vertigo posisional benigna. Dapat dicetuskan oleh
perubahan posisi kepala. Berlangsung beberapa detik dan kemudian mereda. Paling
sering penyebabnya idiopatik (tidak diketahui), namun dapat juga diakibatkan oleh
trauma di kepala, pembedahan di telinga atau oleh neuronitis vestibular. Prognosis
umumnya baik, gejala menghilang secara spontan.
b. Episode vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam
Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit meniere
mempunyai trias gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo dan
tinitus.
c. Serangan vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu
Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering datang ke unit darurat. Pada
penyakit ini, mulainya vertigo dan nausea serta muntah yang menyertainya ialah
mendadak, dan gejala ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
Fungsi pendengaran tidak terganggu pada neuronitis vestibular. Pada pemeriksaan
fisik mungkin dijumpai nistagmus.

Ciri-ciri

Vertigo perifer
Vertigo sentral
Lesi
Sistem vestibuler (telinga dalam, Sistem vertebrobasiler dan gangguan
saraf perifer)
vaskular
(otak,
batang
otak,
serebelum)
Penyebab
Vertigo posisional paroksismal iskemik batang otak, vertebrobasiler
jinak (BPPV), penyakit maniere, insufisiensi, neoplasma, migren basiler
neuronitis vestibuler, labirintis,
neuroma akustik, trauma
Gejala gangguan Tidak ada
Diantaranya
:diplopia,
parestesi,
SSP
gangguan sensibilitas dan fungsi
motorik, disartria, gangguan serebelar
Masa laten

3-40 detik

Tidak ada

Habituasi

Ya

Tidak

Jadi cape

Ya

Tidak

Intensitas vertigo

Berat

Ringan

Telinga
berdenging
atau tuli
Nistagmus
spontan

Kadang-kadang

Tidak ada

dan

Faktor Pencetus
Faktor pencetus dan dapat mempersempit diagnosis banding pada vertigo vestibular
perifer. Jika gejala terjadi hanya ketika perubahan posisi, penyebab yang paling
mungkin adalah BPPV. Infeksi virus yang baru pada saluran pernapasan atas
kemungkinan berhubungan dnegan acute vestibular neutritis atau acute labyrhinti.
Faktor yang mencetuskan migraine dapat menyebabkan vertigo jika pasien vertigo
bersamaan dengan migraine. Vertigo dapat disebabkan oleh fistula perilimfatik
Fistula perimfatik dapat disebabkn oleh trauma baik langsung ataupun barotraumas,
mengejan. Bersin atau gerakan yang mengakibatkan telinga ke bawah akan
memprovokasi vertigo pada pasien dengan fistula perilimfatik. Adanya fenomena
Tullios (nistagmus dan vertigo yang disebabkan suara bising pada frekuensi tertentu)
mengarah kepada penyebab perifer.

Stess psikis yang berat dapat menyebabkan vertigo, menanyakan tentang stress
psikologis atau psikiatri terutama pada pasien yang pada anamsesis tidak cocok
dengan penyebab fisik vertigo manapun. 3

Riwayat keluarga
Adanya riwayat keluarga dengan migraine, kejang, menire disease, atau yuli pada usia
muda perlu ditanyakan (Chain,

Riwayat pengobatan
Beberapa obat dapat menginduksi terjadinya vertigo melipti obat-obatab yang
ototoksik, obat anti epilepsy, antihipertensi, dan sedative (Chain, .

V.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan neurologis, pemeriksaan dan leher dan


system cardiovascular.

Pemeriksaan Neurologik
Pemeriksaan neurologic meliputi :

pemeriksaan nervus cranialis untuk mencari tanda paralisis nervus, tuli sensorineural,
nistagmus. 2
Nistagmus vertical 80% sensitive untuk lesi nucleus vestibular atau vermis cerebellar.
Nistagmus horizontal yang spontan dengan atau tanpa nistagmus rotator konsisten
dengan acute vestibular neuronitis.

Gait test
1. Rombergs sign
Pasien dengan vertigo perifer memiliki gangguan keseimbangan namun masih
dapat berjalan, sedangkan pasien dengan vertigo sentral memilki instabilitas yang
parah dan seringkali tidak dapat berjalan. walaupun Rombergs sign konsisten dengan
masalah vestibular atau propioseptif, hal ini tidak dapat dgunakan dalam
mendiagnosis vertigo.
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua
mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik.
Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya
dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada
mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian
kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada
kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun
pada mata tertutup.
2. Heel-to- toe walking test
3. Unterberger's stepping test (Pasien disuruh untuk berjalan spot dengan mata
tertutup jika pasien berputar ke salah satu sisi maka pasien memilki lesi labirin
pada sisi tersebut). 2
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat
dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan
vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan
seperti orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua
lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya
naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.

4. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)


Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh
mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk
tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan
tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke
arah lesi.

Gambar Uji Tunjuk Barany


Pemeriksaan untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer.
1. Fungsi Vestibuler
-

Dix-Hallpike manoeuvre 1
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke belakang

dengan cepat, sehingga kepalanya meng-gantung 45 di bawah garis horisontal,


kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan
hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya
perifer atau sentral.
Perifer (benign positional vertigo) : vertigo dan nistagmus timbul setelah
periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang
atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Sentral : tidak ada
periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1 menit, bila diulangulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue) ( Allen, 2008).
-

Test hiperventilasi
Tes ini dilakukan jika pemeriksaan-pemeriksaan yang lain hasilnya normal.
Pasien diinstruksikan untuk bernapas kuat dan dalam 30 kali. Lalu diperiksa
nistagmus dan tanyakan pasien apakah prosedur ersebut menginduksi terjadinya
vertigo. Jika pasien merasakan vertigo tanpa nistagmus maka didiagnosis sebagai
sindrom hiperventilasi. Jika nistagmus terjadi setelah hiperventilais menandakan
adanya tumor pada nervus VIII. 5

Tes Kalori
Tes ini membutuhkan peralatan yang sederhana. Kepala penderita diangkat ke
belakang (menengadah) sebanyak 60. (Tujuannya ialah agar bejana lateral di labirin
berada dalam posisi vertikal, dengan demikian dapat dipengaruhi secara maksimal
oleh aliran konveksi akibat endolimf). Tabung suntik berukuran 20 mL dengan ujung
jarum yang dilindungi oleh karet ukuran no 15 diisi dengan air bersuhu 30C (kirakira 7 di bawah suhu badan) air disemprotkan ke liang telinga dengan kecepatan 1
mL/detik, dengan demikian gendang telinga tersiram air selama kira-kira 20 detik.
Bola mata penderita segera diamati terhadap adanya nistagmus. Arah gerak
nistagmus ialah ke sisi yang berlawanan dengan sisi telinga yang dialiri (karena air
yang disuntikkan lebih dingin dari suhu badan) Arah gerak dicatat, demikian juga
frekuensinya (biasanya 3-5 kali/detik) dan lamanya nistagmus berlangsung
dicatat.Lamanya nistagmus berlangsung berbeda pada tiap penderita. Biasanya antara
- 2 menit. Setelah istirahat 5 menit, telinga ke-2 dites.
Elektronistagmogram

Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk


merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat
dianalisis secara kuantitatif.
Posturografi
Dalam mempertahankan keseimbangan terdapat 3 unsur yang mempunyai
peranan penting : sistem visual, vestibular, dan somatosensorik. Tes ini dilakukan
dengan 6 tahap :
a. Pada tahap ini tempat berdiri penderita terfiksasi dan pandangan pun dalam
keadaan biasa (normal)
b. pandangan dihalangi (mata ditutup) dan tempat berdiri terfiksasi (serupa dengan tes
romberg)
c. pandangan melihat pemandangan yang bergoyang, dan ia berdiri pada tempat yang
terfiksasi. Dengan bergeraknya yang dipandang, maka input visus tidak dapat
digunakan sebagai patokan untuk orientasi ruangan.
d. pandangan yang dilihat biasa, namun tumpuan untuk berdiri digoyang. Dengan
bergoyangnya tempat berpijak, maka input somatosensorik dari badan bagian
bawah dapat diganggu.
e. mata ditutup dan tempat berpijak digayang.
f. pandangan melihat pemandangan yang bergoyang dan tumpuan berpijak digoyang.
Dengan menggoyang maka informasi sensorik menjadi rancu (kacau;tidak
akurat) sehingga penderita harus menggunakan sistem sensorik lainnya untuk input
(informasi)
2. Fungsi Pendengaran
a. Tes garpu tala : Rinne, Weber, Swabach. Untuk membedakan tuli konduktif
dan tuli perseptif
b. Audiometri

: Loudness Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, Tone

Decay.
VI.

Diagnosis Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada vertigo meliputi tes audiometric, vestibular testing,


evalusi laboratories dan evalusi radiologis,
Tes audiologik tidak selalu diperlukan. Tes ini diperlukan jika pasien mengeluhkan
gangguan pendengaran. Vestibular testing tidak dilakukan pada semau pasieen dengan
keluhan dizziness . Vestibular testing membantu jika tidak ditemukan sebab yang jelas.
Pemeriksaan laboratories meliputi pemeriksaan elekrolit, gula darah, funsi thyroid dapat

menentukan etiologi vertigo pada kurang dari 1 persen pasien. 11


Pemeriksaan radiologi sebaiknya dilakukan pada pasien dengan vertigo yang
memiliki tanda dan gejala neurologis, ada factor resiko untuk terjadinya CVA, tuli unilateral
yang progresif. MRI kepala mengevaluasi struktur dan integritas batang otak, cerebellum, dan
periventrikular white matter, dan kompleks nervus VIII. 11
VII.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sekitar 20 sampai


40% pasien dapat didiagnosis segera setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis juga
dapat ditentukan berdasarkan komplek gejala yang terdapat pada pasien (table . dan durasi
gejala (table )
VIII.

Diagnosis Banding

Dianosis banding dari vertigo dapat dilihat pada table berikut ini:
Table 1 Penyebab vertigo
Vertigo dengan tuli
Vertigo tanpa tuli

Vertigo

Mnires disease
Labyrinthitis

Vestibular neuritis
Benign
positional

intracranial
Tumor Cerebellopontine angle
Vertebrobasilar insufficiency

vertigo

dan thromboembolism

Labyrinthine trauma

Acute

vestiblar

metastasis
Acoustic neuroma

Medication

induced

vertigo
Acute

cochleo

tanda

Tumor otak

- Misalnya,

dysfunction

dengan

epyndimoma
pada

atau

ventrikel

keempat
Migraine

e.g

aminoglycosides
Cervical spondylosis

Multiple sklerosis

Following

Aura epileptic attack-terutama

vestibular
dysfunction
Syphilis (rare)

flexion-

extension injury

temporal lobe epilepsy


Obat-obatanmisalnya,
phenytoin, barbiturate

Syringobulosa
IX.

Terapi

Medikasi
Karena penyebab vertigo beragam, sementara penderita seringkali merasa sangat
terganggu dengan keluhan vertigo tersebut, seringkali menggunakan pengobatan
simptomatik. Lamanya pengobatan bervariasi. Sebagian besar kasus terapi dapat
dihentikan setelah beberapa minggu.
ANTIHISTAMIN
Tidak semua obat antihistamin mempunyai sifat anti vertigo. Antihistamin
yang dapat meredakan vertigo seperti obat dimenhidrinat, difenhidramin, meksilin,
siklisin. Antihistamin yang mempunyai anti vertigo juga memiliki aktivitas antikholinergik di susunan saraf pusat. Mungkin sifat anti-kholinergik ini ada kaitannya
dengan kemampuannya sebagai obat antivertigo. Efek samping yang umum
dijumpai ialah sedasi (mengantuk). Pada penderita vertigo yang berat efek samping
ini memberikan dampak yang positif.
ANTAGONIS KALSIUM
Dapat juga berkhasiat dalam mengobati vertigo. Obat antagonis kalsium
Cinnarizine (Stugeron) dan Flunarizine (Sibelium) sering digunakan. Merupakan
obat supresan vestibular karena sel rambut vestibular mengandung banyak
terowongan kalsium. Namun, antagonis kalsium sering mempunyai khasiat lain
seperti anti kholinergik dan antihistamin. Sampai dimana sifat yang lain ini berperan
dalam mengatasi vertigo belum diketahui.
- Cinnarizine (Stugerone)
Mempunyai khasiat menekan fungsi vestibular. Dapat mengurangi respons
terhadap akselerasi angular dan linier. Dosis biasanya ialah 15 30 mg, 3 kali
sehari atau 1 x 75 mg sehari. Efek samping ialah rasa mengantuk (sedasi), rasa
cape, diare atau konstipasi, mulut rasa kering dan rash di kulit.
FENOTIAZINE
Kelompok obat ini banyak mempunyai sifat anti emetik (anti muntah). Namun
tidak semua mempunyai sifat anti vertigo. Khlorpromazine (Largactil) dan
Prokhlorperazine (Stemetil) sangat efektif untuk nausea yang diakibatkan oleh
bahan kimiawi namun kurang berkhasiat terhadap vertigo.

OBAT SIMPATOMIMETIK
Obat simpatomimetik dapat juga menekan vertigo. Salah satunya obat
simpatomimetik yang dapat digunakan untuk menekan vertigo ialah efedrin.
- Efedrin
Lama aktivitas ialah 4 6 jam. Dosis dapat diberikan 10 -25 mg, 4 kali sehari.
Khasiat obat ini dapat sinergistik bila dikombinasi dengan obat anti vertigo
lainnya. Efek samping ialah insomnia, jantung berdebar (palpitasi) dan menjadi
gelisah gugup.
OBAT PENENANG MINOR
Dapat diberikan kepada penderita vertigo untuk mengurangi kecemasan yang
diderita yang sering menyertai gejala vertigo.efek samping seperti mulut kering dan
penglihatan menjadi kabur.
- Lorazepam. Dosis dapat diberikan 0,5 mg 1 mg
- Diazepam. Dosis dapat diberikan 2 mg 5 mg.
OBAT ANTI KHOLINERGIK
Obat antikolinergik yang aktif di sentral dapat menekan aktivitas sistem
vestibular dan dapat mengurangi gejala vertigo.
- Skopolamin
Skopolamin dapat pula dikombinasi dengan fenotiazine atau efedrin dan
mempunyai khasiat sinergistik. Dosis skopolamin ialah 0,3 mg 0,6 mg, 3 4
kali sehari.

Terapi fisik
Susunan saraf pusat mempunyai kemampuan untuk mengkompensasi gangguan
keseimbangan. Namun kadang-kadang dijumpai beberapa penderita yang kemampuan
adaptasinya kurang atau tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya
gangguan lain di susunan saraf pusat atau didapatkan deficit di sistem visual atau
proprioseptifnya. Kadang-kadang obat tidak banyak membantu, sehingga perlu latihan
fisik

vestibular.

Latihan

bertujuan

untuk

mengatasi

gangguan

vestibular,

membiasakan atau mengadaptasi diri terhadap gangguan keseimbangan. Tujuan


latihan ialah :
1. Melatih gerakan kepala yang mencetuskan vertigo atau disekuilibrium untuk
meningkatkan kemampuan mengatasinya secara lambat laun.
2. Melatih gerakan bola mata, latihan fiksasi pandangan mata.
3. Melatih meningkatkan kemampuan keseimbangan
Contoh latihan :
1. Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian dengan mata ditutup.
2. Olahraga yang menggerakkan kepala (gerakan rotasi, fleksi, ekstensi, gerak
miring).
3. Dari sikap duduk disuruh berdiri dengan mata terbuka, kemudian dengan mata
tertutup.
4. Jalan di kamar atau ruangan dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup.
5. Berjalan tandem (kaki dalam posisi garis lurus, tumit kaki yang satu menyentuh
jari kaki lainnya dalam melangkah).
6. Jalan menaiki dan menuruni lereng.
7. Melirikkan mata kearah horizontal dan vertikal.
8. Melatih gerakan mata dengan mengikuti objek yang bergerak dan juga memfiksasi
pada objek yang diam.
Terapi Fisik Brand-Darrof
Ada berbagai macam latihan fisik, salah satunya adalah latihan Brand-Darrof.

Keterangan Gambar:
Ambil posisi duduk.
Arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk.
Arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri. Masing-masing gerakan
lamanya sekitar satu menit, dapat dilakukan berulang kali.
Untuk awal cukup 1-2 kali kiri kanan, makin lama makin bertambah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sura, DJ, Newell, S. 2010. Vertigo- Diagnosis and management in primary care,
BJMP 2010;3(4):a351.
2. Lempert, T, Neuhauser, H. 2009. Epidemiology of vertigo, migraine and vestibular
migraine in Journal Nerology 2009:25:333-338.
3. Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo ini Journal American Family
Physician January 15, 2006; Volume 73, Number 2.
4. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008.
5. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008.
6. Marril KA. Central Vertigo [Internet]. WebMD LLC. 21 Januari 2011. Diunduh
tanggal

Desember

2014.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/794789-clinical#a0217.
7. Turner, B, Lewis, NE. 2010. Symposium Neurology :Systematic Approach that
Needed for establish of Vetigo. The Practitioner September 2010 - 254 (1732): 19-23.
8. Mark, A. 2008. Symposium on Clinical Emergencies: Vertigo Clinical Assesment and
Diagnosis. British Journal of Hospital Medicine, June 2008, Vol 69, No 6
9. Kovar, M, Jepson, T, Jones, S. 2006. Diagnosing and Treating: Benign Paroxysmal
Positional Vertigo in Journal Gerontological of Nursing. December:2006
10. Swartz, R, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal of American Family
Physician March 15,2005:71:6.
11. Chain, TC.2009. Practical Neurology 3rd edition: Approach to the Patient with
Dizziness and Vertigo. Illnois:wolter kluwerlippincot William and wilkins)

12. Antunes MB. CNS Causes of Vertigo [Internet]. WebMD LLC. 10 September 2009.
Diunduh

tanggal

Desember

2014.

http://emedicine.medscape.com/article/884048-overview#a0104

Diunduh

dari