Anda di halaman 1dari 81

MAKALAH KALIBRASI

KALIBRASI ALAT UKUR


KONSENTRASI
TEKNOLOGI GAS

Oleh:
Nama

: Madina Annanisa

No. Mahasiswa : 14133006


Program Studi : Teknik Mesin Kilang
Konsentrasi

: Teknologi Gas

Diploma

: I (Satu)

SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS


STEM AKAMIGAS
Cepu, 2014

BAB 1
Kalibrasi Alat Ukur Suhu
A. RTD
Resistance Temperature Detector (RTD) atau dikenal dengan Detektor
Temperatur Tahanan adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau
besaran suatu temperatur/suhu dengan menggunakan elemen sensitif dari kawat platina,
tembaga, atau nikel murni, yang memberikan nilai tahanan yang terbatas untuk
masing-masing temperatur di dalam kisaran suhunya. Semakin panas benda tersebut,
semakin besar atau semakin tinggi nilai tahanan listriknya, begitu juga sebaliknya.
PT100 merupakan tipe RTD yang paling populer yang digunakan di industri.
Resistance Temperature Detector merupakan sensor pasif, karena sensor ini
membutuhkan energi dari luar. Elemen yang umum digunakan pada tahanan resistansi
adalah kawat nikel, tembaga, dan platina murni yang dipasang dalam sebuah tabung
guna untuk memproteksi terhadap kerusakan mekanis. Resistance Temperature Detector
0

(PT100) digunakan pada kisaran suhu -200 C sampai dengan 650 C.


Prinsip kerja elemen resistansi didasarkan pada perubahan hambatan sebuah
konduktor ketika terjadi perubahan temperatur. Utamanya RTD digunakan untuk aplikasi
yang memerlukan akurasi yang tinggi, range temperature yang sempit dan respon yang
linier.

Ada 2 tipe konstruksi elemen RTD :


a. Wire Wound
Wire wound RTD terdiri dari sebuah lilitan coil yang dikelilingi oleh isolasi
listrik (biasanya kaca atau keramik) dan diproteks diproteksi oleh perisai stainless steel.

Penggunaannya terbatas untuk temperatur yang tidak terlalu tinggi karena akan terjadi
regangan (strain) yang berbeda antara coil dan isolasi pada temperatur tinggi.

b. Thin Film
Thin Film RTD memiliki ukuran yang sangat kecil dan dibuat dengan teknik yang
sama seperti pembuatan komponen elektronik di IC (Integrated Circuit) menggunakan
teknik lapisan tipis (thin layer). Lapisan tipis dari sensor yang merupakan konduktor
(umumnya digunakan platinum) diletakkan pada sebuah substrat keramik kemudian
direkatkan untuk membentuk jalur hambatan. Lapisan tipis ini kemudian disegel
dengan menggunakan lapisan material kaca. RTD tipe ini murah, ukuran yang kecil,
dan memiliki respon yang cepat, namun kurang stabil.

Material Sensor

Material yang digunakan sebagai sensor pada umumnya adalah Platinum yang di
disain memiliki hambatan 100 ohm pada 0oC, dikenal dengan nama , Pt-100. Material
sensor lainnya seperti tembaga (Cu) dan Nikel (Ni) yang memiliki hambatan 10, 40, 100,
dan 120 ohm juga digunakan pada aplikasi khusus tertentu.
RTD Tembaga memiliki akurasi yang lebih rendah pada nilai hambatan rendah
dibandingkan dengan RTD Platinum. Ketika RTD tembaga digunakan, kebutuhan akan
akurasi

harus

dipertimbangkan.

Kurva

karakteristik

masing-masing

material

menggambarkan hubungan antara perubahan suhu dengan perubahan hambatan pada


material RTD tersebut.
Kinerja elemen hambatan didasarkan pada prinsip bahwa hambatan listrik sebuah
konduktor berubah ketika terjadi perubahan temperature dan besarnya perubahan ini per 1
Temperatur. Koefisien temperature yang paling umum adalah 0.00385 //oC, sesuai
dengan IEC 60751.
Koefisien ini harus dipilih dan dicocokkan dengan instrument temperatur yang
dihubungkan ke RTD untuk menghindari ketidakakuratan pengukuran temperatur. Grafik di
bawah menggambarkan kurva karakteristik masing-masing tipe RTD. Range, hambatan,
kelebihan, serta kekurangan masing-masing tipe RTD dijabarkan pada tabel di bawah.

Konstruksi RTD
Konstruksi umum RTD terdiri dari elemen RTD yang diletakkan pada bagian ujung,
dikelilingi material mineral insulated dan dilindungi oleh perisai logam (metallic sheath).

Koneksi Kabel
Elemen RTD umumnya diletakkan di suatu rangkaian jembatan Wheatstone sehingga
perubahan hambatan elemen RTD dapat dideteksi oleh rangkaian elektronik dengan
terjadinya perubahan tegangan pada output rangkaian jembatan wheatstone tersebut.
Berdasarkan jumlah koneksi kabel yang digunakan untuk menghubungkan elemen RTD
dengan rangkaian jembatan wheatstone ini, koneksi kabel RTD dibagi menjadi 3 tipe :

a. 2-Wire
RTD tipe 2-Wire merupakan koneksi yang paling sederhana, hanya terdiri dari 2
kabel, namun hanya dapat digunakan jika total hambatan kabel rendah dibandingkan
perubahan hambatan dari RTD. RTD tipe ini rentan terhadap kesalahan akibat efek
temperature lingkungan yang dihasilkan oleh kabel ekstensi.
RTD tipe ini memiliki akurasi yang buruk dan harus diinstal dalam jarak yang sangat
dekat (< 100 m) dengan transmitter untuk meminimalisir kesalahan akibat hambatan
kabel ekstensi.

b. 3-Wire
Tipe ini merupakan tipe yang paling sering digunakan, praktis, dan cukup akurat
untuk aplikasi industri. Pada RTD 3-wire ini terdapat kompensasi perubahan hambatan
kabel ekstensi karena perubahan temperatur lingkungan dan panjang kabel.
Akurasi RTD tipe ini lebih baik dibandingkan RTD tipe 2-Wire karena ada tambahan
1 kabel yang berfungsi sebagai hambatan kompensasi untuk mengurangi kesalahan
pengukuran akibat kabel ekstensi. RTD tipe ini dapat diinstal pada jarak yang lebih jauh
(< 600 m) dengan transmitter Dari pada RTD 2-wire.

c. 4-Wire
4-Wire merupakan RTD yang paling mahal, namun memiliki akurasi yang paling
baik diantara RTD lainnya. Kabel keempat berfungsi menambah kompensasi kabel
ekstensi sehingga anghasilkan akurasi yang lebih tinggi.

Toleransi Kalibrasi
Toleransi kalibrasi RTD adalah penyimpangan maksimum yang diperbolehkan dari
standard kurva karakteristik RTD. Data toleransi ini disediakan oleh vendor / manufacturer.
Toleransi kalibrasi ini akan berubah ketika RTD digunakan dan perubahannya tergantung
pada temperatur, waktu penggunaan, dan kondisi lingkungan. Perubahan ini tidak dapat
diprediksi dengan akurat. Ada 2 kelas toleransi untuk RTD, yakni kelas A (special), dan
kelas B (standard). Range toleransi yang didefinisikan dapat dilihat pada grafik di bawah
ini.

Penggunaan dan Prinsip Kerja RTD (PT100) pada Crystalizer Tank


Pada proses pengkristalan/ pendinginan minyak, RTD (PT100) digunakan untuk
mengukur dan mengatur penurunan suhu dari minyak RBDPO (Refined Bleached
Deodorized Palm Oil). Suhu minyak RBDPO yang masuk (setelah melalui proses

pemanasan pada unit Heat Exchanger) ke dalam tangki Crystalizer adalah 70 0C.
Sedangkan suhu yang ingin dicapai agar minyak dapat menjadi butir-butiran kristal stearin
adalah 13 0C, untuk produk minyak goreng Avena. Pada gambar 2.1 dibawah, dapat dilihat
hasil akhir dari minyak RBDPO yang sudah menjadi butiran-butiran kristal stearin.

Dalam proses penurunan suhu minyak ini digunakan air sebagai pendingin. Air
pendingin ini berasal dari cooling tower (dengan suhu 28-30 0C) dan dari mesin water
chiller (dengan suhu 7-10 0C). RTD (PT100) dipasang pada tangki crystalizer (untuk
mengawasi penurunan suhu dari minyak) dan dipasang pada saluran pipa masukan air
pendingin ke dalam tangki crystalizer (untuk mengatur debit air dan perubahan penggu naan
air cooling menjadi air chilling).
Prinsip kerja dari RTD (PT100) yang digunakan untuk pengukuran minyak ini adalah,
ketika RTD pada tangki crystalizer menerima panas dari minyak, maka panas tersebut akan
dikonversikan oleh RTD ke dalam bentuk besaran listrik yaitu tahanan. Panas yang
dihasilkan berbanding lurus dengan tahanan dari jenis elemen logam platina yang ada pada
sensor RTD, kemudian bentuk tahanan tersebut diterima oleh Tranduser kemudian tranduser
merubahnya menjadi sinyal fisi dan mengirimnya ke TRC.
Setelah temperatur diset pada temperatur yang diinginkan maka TRC (Temperature
Recorder Control) memberi perintah kepada control valve. Control valve berfungsi untuk
mengendalikan nilai input temperatur agar sesuai dengan set poin, yaitu dengan cara
menutup atau membuka katup secara otomatis sehingga aliran minyak di tangki crystallizer
dapat di control, RTD (PT100) akan mengukur temperatur tersebut dan mengirimkannya ke
tranduser, untuk mengubah sinyal elektrik ke sinyal pneumatic lalu di kirimkan besaran
sinyal tersebut ke input TRC untuk di bandingkan dengan set point.
Pada tipe RTD (PT100) ini, jika suhu yang dibaca adalah 0C berarti tahanan yang
dihasilkan oleh RTD dan diterima oleh Tranduser adalah 100, begitu juga jika suhu 100C

berarti tahanan yang dihasilkan oleh RTD dan diterima TRC adalah 138,5 .
Perbandingan antara suhu dengan tahanan yang dibaca, dapat juga dihitung dengan
menggunakan persamaan, yaitu :
2

Rt = R0 ( 1 + At + Bt )
0

Rt

Tahanan listrik pada temperatur t C (Ohm)


0

R0 =

Tahanan listrik pada temperatur 0 C (Ohm) = 100 (PT100)


3.9083 x 10

-3

= -5.775 x 10

-7

= Suhu

Contoh :
1. t = 0 Rt =
?
-3

-7

Rt = 100 [ 1 + (3,9083 x 10 x 0) + (-5,775 x 10 x 0 ) ]


Rt = 100 [ 1 + 0 + 0 ]
Rt = 100
2. t = 13,5
Rt = ?
-3

-7

Rt = 100 [ 1 + (3,9083 x 10 x 13,5) + (-5,775 x 10 x 13,5 ) ]


Rt = 100 [ 1 + 0,0527 0,000105 ]
Rt = 105,25
3. t = 100
Rt = ?

-3

-7

Rt = 100 [ 1 + (3,9083 x 10 x 100) + (-5,775 x 10 x 100 ) ]


Rt = 100 + 39,083 0,5775
Rt = 138,50
Sedangkan RTD yang berada pada pipa saluran masukan air pendingin ke tangki
crystallizer, terinterkoneksi dengan Control Valve, yang akan mengatur debit/ jumlah dari
aliran air pendingin. RTD untuk air pendingin ini juga berfungsi untuk menentukan
pergantian dari air pendinginan yang menggunakan air dari Cooling Tower, menjadi air
pendingin dari Water Chiller.
Pada proses pengkristalan ini digunakan juga agitator yang berfungsi untuk
mengaduk isi dari crystalizer tank agar suhu minyak menjadi homogen. Kecepatan putar
dari motor pada agitator ini juga diatur dengan menggunakan inverter (mengatur
kecepatan putaran dengan merubah frekuensi dari motor).
Konstruksi dan Pemasangan RTD (PT100)
Pada Gambar 2.3 dan Gambar 2.4 dapat dilihat bentuk fisik dan konstruksi dari
Resistance Temperature Detector (PT100). Dari konstruksi RTD tersebut dapat dilihat
pada bagian perasa/sensor yang berbahan platina terhubung oleh penghubung kabel utama,
yang diisolasi oleh fiber glass atau bahan keramik.
RTD (PT100) yang digunakan pada tangki Crystalizer ada 2 jenis, dengan panjang
yang berbeda. Salah satu diantaranya di pasang pada tangki dan yang lainnya dipasang
pada saluran air pendingin.
Berikut ini adalah spesifikasi dari RTD (PT100) yang digunakan :
RTD PT100
BRAND : YOKOGAWA INDUSTRIES
MODEL : TR10-AAA3CDSJCB000
L : 400mm. 2 X PT100/A/3 (RTD OIL)
L : 120mm. 2 X PT100/A/3 (RTD WATER)
RANGE : -200 +650 0C

Pemasangan RTD (PT100) untuk pengukuran suhu minyak dan pengukuran suhu air
pada tangki crystalizer. Pemasangan dari RTD untuk pengukuran suhu minyak sebaiknya
ditempatkan pada bagian bawah pada tangki crystalizer, karena minyak yang berada di
dalam tangki bersuhu homogen/sama.
Apabila diletakkan pada bagian samping dari tangki, dikhawatirkan untuk pengukuran
suhu minyak akan terganggu karena berdekatan dengan coil-coil/ saluran air pendingin
yang berada di dalam tangki crystalizer tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan dari RTD (PT100)

Dalam penggunaannya, RTD (PT100) juga memiliki kelebihan dan kekurangan.


Kelebihan dari RTD (PT100) :
a.

Ketelitiannya lebih tinggi dari pada termokopel.

b.

Tahan terhadap temperatur yang tinggi.

c.

Stabil pada temperatur yang tinggi, karena jenis logam platina lebih stabil dari pada
jenis logam yang lainnya.

d.

Kemampuannya tidak akan terganggu pada kisaran suhu yang luas.

Kekurangan dari RTD (PT100) :


a.

Lebih mahal dari pada termokopel.

b.

Terpengaruh terhadap goncangan dan getaran.

c.

Respon waktu awal yang sedikit lama (0,5 s/d 5 detik, tergantung kondisi penggu
naannya).

d.

Jangkauan suhunya lebih rendah dari pada termokopel. RTD (PT100) mencapai
suhu 6500C, sedangkan termokopel mencapai suhu 17000C.

Tipe-Tipe RTD
Resistance Temperature Detector (RTD) yang banyak digunakan pada industri adalah
jenis Platinum Resistance Temperature Detector. Itu semua ditetapkan oleh JIS C 1604 di
Jepang. Terdapat dua tipe dari RTD, tipe pertama adalah PT100 yang telah disesuaikan
dengan standar internasional, dan tipe kedua adalah JPT100 yang telah disesuaikan dengan
standar Jepang. Keduanya tidak dapat dipertukarkan karena perbandingan dari nilai
tahanan pada 100 0C dan 0 0C (R100/R0) adalah berbeda. Tipe dari Platinum Resistance
Temperature Detector:
Tipe

R100/ R0

Kelas

PT100

1,3850

Kelas A
Kelas B

JPT100

1,3916

Kelas A
Kelas B

Tingkat
Arus
1 mA
2 mA
5mA*
1 mA
2 mA
5mA*

L
M
H
L
M
H

Operating
Temperature
Range
-200 s/d 100
0 s/d 350
0 s/d 650
-200 s/d 100
0 s/d 350
0 s/d 650

Lead Wire System


0

C
C
0
C
0
C
0
C
0
C
0

2 wire*
3 wire
4 wire
2 wire*
3 wire
4 wire

Banyak juga Resistance Temperature Detector di negara lain yang telah disesuaikan
dengan IEC Standard. Di Inggris dan Jerman, standarnya sama persis dengan IEC Pub 751.
Singkatan :
JIS

: Japanese Industrial Standars

IEC : International Electrotechnical Commission ASTM : American Society for Testing


and Materials
Pemeliharaan (Maintenance)
Pemeliharaan sangatlah penting untuk keselamatan dan menjaga keakurasian
pengukuran temperatur dan juga pengontrolan/pengaturan. Walaupun metode pemeliharaan
berbeda-beda tergantung pada pengoperasian, maka disarankan untuk mengikuti cara
berikut ini :
a. Cara pengaturan pemeliharaan dalam bekerja.
b. Pemberian tambahan pengetahuan dan training kepada para pekerja.
c. Keamanan dari para pekerja.
d. Standarisasi dari pemeliharaan.
e. Ketelitian pengontrol dari pemeriksaan peralatan.
f. Persiapan dan manajemen dari data pemeliharaan.
Pemeliharaan dan inspeksi dari pemakaian sensor temperatur sangat bergantung pada
cara penginstalasian dan maksud penggunaannya, mereka tidak bisa ditanggani secara sama.
Metode umum berikut dapat dijadikan masukan :
a. Pemeriksaan dan pemeliharaan harian
Sensor temperatur tidak akan memberikan informasi tentang suhu jika hubungannya
tidak terkoneksi dengan baik. Kita juga tidak mengetahui jika terjadi kerusakan/ naikturunnya suhu secara tidak normal pada RTD. Oleh sebab itu, sebaiknya diletakkan
sensor temperatur lainnya didekat RTD tersebut, seperti penggu naan Temperature Gauge
yang dapat langsung dibaca dan juga sebagai pembanding pembacaan temperatur, yang
diletakkan pada tangki crystalizer sehingga dapat dilihat sehari-hari di lapangan.
b. Konfirmasi kondisi pekerjaan di lapangan
Tipe dan jenis dari sensor temperatur bergantung pada apa yang akan diukur dan
dimana akan digunakan. Sebaiknya kondisi tempat kerja/tempat terpasangnya RTD tidak
berubah. Jika terjadi perubahan sebaiknya dikonfirmasikan bahwa temperatur yang
digunakan masih sama. Jika tidak sama sebaiknya diganti dengan temperatur yang sama
dengan yang ada di lapangan, sehingga cocok dengan kondisi yang ada.
c. Konfirmasi nilai arus normal
Resistance Temperature Detector memiliki arus yang mengikutinya ke elemen untuk
pengukuran pada tiap nilai tahanan. Nilai dari arus normal ini harus dijaga dalam rangka
memberikan tingkat ketelitian yang berkelanjutan. Jika arus normal tersebut berubah,

maka akan ada perubahan panas di dalamnya dan akan terjadi kesalahan dalam
pengukuran. Sebaiknya arus normal dapat terjaga.
d. Pembersihan dan pemeriksaan tabung proteksi
Debu, kotoran dan yang lainnya ketika masuk ke dalam tabung proteksi akan
menyebabkan kesalahan dalam pengukuran. Bersihkan secara periodik. Tabung proteksi
dipasang untuk melindungi sensor temperatur terhadap gangguan pengukuran atmosfir.
Sebaiknya dipastikan bahwa itu tidak pernah berkarat atau teroksidasi dan bebas dari
ganguan mekanikal. Ketika memindahkan sensor temperatur untuk melakukan
pemeriksaan, sebaiknya diperhatikan bahwa tidak ada benda asing yang masuk ke dalam
tabung proteksi.
Kemudian sebaiknya dibersihkan bagian dalamnya jika perlu. Sebaiknya diperhatikan
bahwa tidak ada air yang berada di dalam tabung proteksi yang akan menyebabkan
banyak masalah.
e. Inspeksi daerah instalasi dan kondisi lapangan
Terkadang Resistance Temperature Detector terpasang menggunakan skrup atau
sambungan pipa. Tergantung dari cara penggunaannya, beberapa sensor mungkin
digunakan pada getaran mekanikal pada pompa, pembangkit listrik, atau pengunaan pada
pengukuran cairan.
Ganguan-ganguan dari luar ini akan mengakibatkan penyempitan pada komponen.
Ketika kondisi sudah memuncak, material atau sambungan las akan rusak, dan akhirnya
udara luar akan masuk, atau cairan akan keluar.
Dapat diperhatikan pada kondisi sensor temperatur, yang mana dapat diperiksa secara
visual/dilihat.
f. Pemeriksaan berkala
Walaupun sensor temperatur bekerja dengan baik, sebaiknya dipindahkan/
dikeluarkan kemudian buat perbandingan dengan standar termometer dua atau tiga kali
dalam setahun, jika itu memungkinkan.
Kalibrasi RTD
1. Pendahuluan
Setiap Instrumen Alat Ukur/sensor sebelum digunakan atau setelah digunakan pada
periode tertentu (6 bulan atau 12 bulan), harus dilakukan pengukuran dan dikalibrasi sesuai
standar nasional ataupun internasional. Alat ukur/sensor merupakan ujung tombak dalam

kualitas produk yang dihasilkan, karena langsung berhubungan dengan proses, sehingga
perlu dipelihara untuk mendapatkan umur (life time) yang panjang. Sensor temperatur pada
themocouple ataupun PT100, banyak digunakan dalam industri yang menggunakan mesin
pemanas, sebagai alat ukur temperatur supaya tetap stabil.
Pengukuran adalah berupa proses menyatakan suatu angka secara empirik dan
objektif pada kejadian nyata sedemikian rupa, sebagai angka tadi dapat menjadikan
gambaran yang jelas mengenai objek atau kejadian tersebut. Kalibrasi merupakan suatu
kegiatan untuk menentukan keberadaan konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan
ukur berdasarkan standar.
Untuk proses kalibrasi, perlu ada pengukuran terlebih dahulu pada objek yang
ada misalnya pada temperatur proses. Ada beberapa metode dalam kalibrasi antara lain
simulasi, perbedaan fasa. Umumnya yang banyak digunakan berupa metode kalibrasi
perbandingan untuk membandingkan kalibrator standar alat ukur terhadap beban ukur yang
dipakai, baru dilakukan perhitungan deviasi berdasarkan standar. Cara ini memerlukan
standar kalibrator yang harus dikalibrasi di Lembaga Kalibrasi KAN/LIPI sehingga
harganya mahal. Untuk kalibrasi alat ukur/sensor suhu yang berupa thermocouple ataupun
PT100 dapat menggunakan media kalibrasi yang berupa bak air 1100 C, bak es 0 C.
Pemanfaatan kalibrator standar dari temperatur es (0 C) dan temperatur suhu air
mendidih (100 C). Setelah dibandingkan dengan bahan yang diukur (PT100) baru dibuat
simulasi sehingga dapat menentukan deviasi/kesalahan dari PT100 yang dilihat pada
indicator controller. Hal ini merupakan suatu ide baru untuk menggantikan peranan
kalibrator yang ada (metode Perbandingan). Indicator controller dapat diset sesuai dengan
hasil yang diperoleh dari hasil perbandingan dan simulasi.
Pemanfaatan dari hasil penelitian ini berupa: bahan pembelajaran Instrumentasi
Industri bagi pengajar, mahasiswa listrik dan elektronik pada Jurusan Teknik Elektro. Ide
baru dalam kalibrasi temperatur menggantikan cara konvensional yang berupa metode
perbandingan sehingga dapat digunakan oleh teknisi industri instrumen sebagai alat ukur
kalibrasi mandiri tanpa diberikan ke vendor (teknisi instrumen dari luar), sehingga akan
mengurangi biaya. Cara termudah untuk mengkalibrasi temperatur (PT100, Thermocouple)
yang banyak digunakan oleh industri tanpa kalibrator pembanding.

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana membuat model


kalibrasi sensor temperatur (PT100

dan

Thermocouple)

dengan

metode

perbandingan dan simulasi dari kalibrator suhu 0 C (bak es) dan suhu 100 C (bak
air mendidih), dan membuat

analisis

ketidakpastian

berdasarkan deviasi /

kesalahan; bagaimana menetapkan parameter- parameter temperatur nominal yang diizinkan


sesuai standar pada model simulasi indicator controller yang merupakan suatu nilai dari
kalibrasi PT100 dan Thermocouple.
Ketidakpastian pengukuran adalah proses mengaitkan sesuatu angka secara empirik
dan obyektif pada sifat-difat obyek atau kejadian nyata sedemikian rupa sehingga angka tadi
dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai obyek atau kejadian tersebut. membuat
gambaran/deskripsi; memperkirakan/ meramalkan; mengadakan komunikasi; memutuskan;
mengatur/mengendalikan, dan memberikan reaksi. Hasil pengukuran harus mencantumkan
suatu perkiraan yang menggambarkan seberapa besar kesalahan yang mungkin terjadi,
dalam batas-batas kemungkinan yang wajar. Nilai ini sekaligus menunjukkan kualitas
pengukuran. Semakin kecil nilai perkiraan itu, berarti semakin baik pula kualitas
pengukurannya.
Kalibrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran kovensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur. Pelaksanaan kalibrasi dilakukan dengan cara
membandingkan alat ukur dan bahan ukur yang akan dikalibrasi terhadap sandar ukurnya
yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional dan atau internasional. Sedangkan
tujuan dengan kalibrasi dapat ditentukan deviasi kebenaran konvensinal nilai penunjukkan
suatu alat ukur, atau deviasi dimensi nominal yang seharusnya suatu bahan ukur.
Manfaat dengan kalibrasi kondisi alat ukur dan bahan ukur dapat dijaga tetap sesuai
dengan spesifikasinya. Yang perlu dikalibrasi semua jenis alat ukur pelu dikalibrasi, baik
alat ukur besaran dasar (panjang, massa, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat, intensitas
cahaya), luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi, gaya dan sebagainya. Periode
kalibrasi bila suatu alat ukur termasuk katagori legal, maka periode kalibrasinya telah
ditentukan, kalibrasinya tergantung pada keperluan dan atau frekuensi penggunaanya.
Beberapa contoh periode kalibrasi untuk beberapa instrument ukur tertentu:
thermocouple 2 bulan; therm. controller 12 bulan; hygrometer 6 bulan; micrometer 3 bulan;
vernier caliper 12 bulan; Gauge block 24 bulan; profile proyektor 12 bulan [2]. Metode
kalibrasi suhu: perbandingan; perubahan fasa (titik tetap); Ketidakpastian (pengukuran):

suatu parameter berupa rentang kumpulan nilai-nilai yang dapat dianggap mencakup nilai
measurement. Karena tidak mungkin melakukan pengukuran dengan ketepatan dan
ketelitian yang mutlak, maka juga tidak mungkin membuat suatu benda dengan ukuran yang
tepat sama dengan spesifikasi yang diminta.
Memahami kenyataan ini, para perancang teknik memberikan suau batas toleransi
dalam rancangan benda produksi. Batas toleransi adalah besarnya kesalahan yang paling
besar yang diperkirakan atau dianggap tidak akan mengurangi mutu produk atau
menggangu fungsinya. Artinya, jika terjadi kesalahan dalam proses produksi sehingga
ukuran benda yang dibuat berbeda dengan ukuran dalam rancangan, diharapkan benda itu
tetap dapat berfungsi asalkan kesalahannya lebih kecil dari pada toleransinya.
Toleransi: Besarnya kesalahan yang diijinkan dari nilai spesifikasi. Untuk
menghitung ketidakpastian pengukuran dapat berupa memperhitungkan pengaruh
ketidakpastian dalam suatu pengukuran terhadap pengukuran lain yang berkaitan dengan
pengukuran tersebut. Metode untuk menghitung ketidakpastian pengukuran telah dibuat
oleh berbagai lembaga, namun yang digunakan sebagai acuan internasional adalah dokumen
yang dikeluarkan oleh Oganisasi Standarisasi Internasoanal (ISO). Dokumen itu berjudul
Guide to the Expression of Uncertainly in Measurement (ISO GUM). Sesuai dengan
namanya sesungguhnya dokumen ini bukanlah dokumen baku (standar) yang bersifat
mengikat, melainkan hanya sebuah panduan. Pedoman KAN DP.01.23.
Setiap pengukuran pasti mengandung kesalahan (error). Kesalahan tersebut
ditimbulkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah: operator, instrumen ukur, kondisi
lingkungan, obyek ukur, metode pengukuran. Komponen pengukuran dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok: standar atau acuan: benda ukur, peralatan, metode, lingkungan,
personil atau perilaku pengukuran.
ISO guide mendefinisikan dua jenis atau katagori komponen ketidakpastian,tipe A
dan tipe B yang dibedakan menurut metode evaluasinya. Tipe A dievaluasi dengan
menggunakan metode statistik yang baku untuk menganalisis satu himpunan atau sejumlah
himpunan pengukuran, dan mencakup jenis kesalahan yang disebut kesalahan acak.
Kesalahan ini dicirikan oleh taksiran variasi atau simpangan baku, nilai rata-rata dan derajat
kebebasan. Tipe B dievaluasi dengan cara selain analisis statistik pada sejumlah
pengamatan.

Ketidakpastian ini mencakup kesalahan yang. Dicirikan oleh taksiran variasi atau
simpangan baku, nilai rata-rata dan derajat kebebasan. Menghitung ketidakpastian
pengukuran yang diuraikan dalam ISO Guide mencakup langkah-langkah evaluasi berupa:
a. Kenali faktor-faktor yang berkontribusi pada ketidakpastian; Buat model matematik
pengukuran
b. Cari ketidakpastian baku masing-masing komponen; Hitung ketidakpastian baku
gabungan
c. Hitung ketidakpastian terentang dengan menggunakan factor cakupan.
Sumber ketidakpastian yang paling berpengaruh dalam pengukuran adalah: Daya
baca alat ukur (skala atau tampilan alat); Kebenaran nilai instrumen acuan (sertifikasi
kalibrasi); Sebaran nilai-nilai pengukuran (pengukuran berulang). Model matematika
pengukuran berupa persamaan yang menunjukkan hubungan antara input dan output. Nilai
pengukuran = Penunjukkan alat ukur + Koreksi alat ukur. Ketidakpastian baku dihitung
dengan Persamaan:

Tipe A dari pengukuran berulang u =

Tipe B dari resolusi alat ukur u =

Tipe B dari sertifikasi kalibrasi u =

s
n

s
n
s
n

Keterangan: s = simpangan baku; n = banyaknya pengukuran; a = setengah dari


resolusi terkecil yang dapat dibaca; u = nilai ketidakpastian pada tingkat kepercayaan 95%
yang dicantumkan dalam sertifikat kalibrasi.
Derajat kebebasan:

Derajat kebebasan efektif:

(1)
Ketidakpastian baku gabungan (Combined standar uncertainly):
Uc = C1U1 + C2U2 + C3U3 +

(2)

Ketidakpastian terentang:
U = k, Uc
Ruang kepercayaan 68%, dengan faktor cakupan 1, ruang kepercayaan 95% dengan
faktor cakupan 2, ruang kepercayaan 99,73% dengan faktor cakupan 3.
Evaluasi ketidakpastian tipe A. Ketidakpastian standar tipe A dievaluasi dengan
metode statistik dari suatu seri pengamatan pengukuran. Komponen evaluasi ke....,
ketidakpastian standar tipe A berasal dari efek random. Pada umumnya estimasi terbaik dari
nilai suatu besaran q yang bervariasi secara random (acak) adalah nilai rata-rata q. Deviasi
standar eksperimen s (q) digunakan untuk mengestimasi distribusi q; deviasi standar
eksperimen dari rata-rata s (q) digunakan untuk mengestimasi selebaran distribusi rata-rata.
Dalam mendokumentasikan evaluasi komponen-komponen ketidakpastian tipe A, maka
derajat kebebasan harus dicantumkan.
Evaluasi ketidakpastian standar B. Evaluasi ketidakpastian tipe B dilakukan tidak
dengan cara analisis statistik dari seri pengamatan pengukuran. Tetapi dievaluasi
berdasarkan penetapan secara ilmiah menggunakan informasi-informasi yang tersedia
seperti: data pengukuran sebelumnya, pengalaman, sifat-sifat material/instrument secara
umum, spesifikasi pabrik, data dari laporan/sertifikasi kalibrasi, data yang diambil dari
buku/literatur. Dalam mempertimbangkan ketidakpastian tipe B kita harus mengubah dari
ketidakpastian yang dikutip ke ketidakpastian standar, dengan cara membagi dengan faktor
pengali. Dalam sertifikat

kalibrasi

tercantum

nilai

ketidakpastian sebesar 4 Pa

dengan faktor pengali 2. Maka ketidakpastian standar = 2 Pa. Cara lain untuk mengubah
ketidakpastian dikutip dari ketidakpastian standar adalah dengan cara membagi dengan
suatu faktor yang bergantung pada distribusi probabilitas. distribusi probabilitas rectangular.
Ketelitian pengukuran sebuah voltmeter 0,05%, maka batas setengah interval adalah
0,005% dan ketidakpastian standar dihitung dengan rumus: U (v) = 0,005%, distribusi

probabilitas triangular. Distribusi ini merupakan model yang lebih baik, jika diketahui
bahwa

kebanyakan

nilai-nilai

pengukuran

mendekati

pusat

(center)

distribusi.

Ketidakpastian standar dihitung dengan membagi setengah interval (a) dengan akar
enam, Distribusi probabilitas normal (Gauss). Bentuk distribusi ini digunakan untuk
ketidakpastian yang mempunyai interval kepercayaan 95% atau 99%. Ketidakpastian
standar dihitung dengan cara membagi ketidakpastian kutipan dengan suatu faktor.
Distribusi rectangular merupakan model yang sering digunakan terutama bila tidak dapat
diketahui model tertentu seperti model-model distribusi triangular, normal dan lainnya. Pada
umumnya kita dapat mengganggap derajat kebebasan tak terhingga.
Suatu bahan ukur (sensor suhu PT100) kalibrasi kondisi alat ukur dan bahan ukur
dapat dijaga tetap sesuai seperti aslinya. Semua jenis alat ukur perlu dikalibrasi baik alat
ukur besaran tekanan, teperatur, level dan sebagainya.
Persamaan simulasi pada indicator controller menggunakan Omron Mk 500 adalah:

Dengan YL = set temperatur low limit, Yh = set temperatur high limit, Y1 =


penunjukkan indikator pertama, Y2 = penunjukkan indikator kedua, X1 = temperatur standar
pertama, X2 = temperatur standar kedua. Dari persamaan di atas dapat dibuat simulasi pada
indicator controller (Omron Type EK 500).
2. Metode Penelitian
Merancang dan membuat model kalibrasi pada sensor temperatur (PT100, dan
thermocouple) dengan metode perbandingan dan simulasi. Mengimplementasikan bentuk
matematika untuk proses kalibrasi dengan metode simulasi hasil dari metode perbandingan
dari suatu pengukuran sensor temperatur PT100 dan thermocouple. Sebagai langkah awal
dari suatu pembuktian teori yang dikembangkan melalui tahapan model dari kalibrasi
dengan metode perbandingan dan dibuat simulasi pada indicator controller untuk sensor
suhu PT100 dan thermocouple. Sebagai media pembelajaran bagi pengajar dan mahasiswa
Teknik Elektro dalam mata kuliah Instrumentasi Industri, yang selama ini masih
menggunakan metode perbandingan. Sebagai acuan bagi teknisi instrumen di industri akan
pentingnya kalibrasi dari suatu alat ukur/sensor temperatur, dapat dikerjakan sendiri tanpa
perlu kalibrator dari vendor, yang selama ini digunakan, sehingga akan menghemat waktu
dan biaya.

3. Hasil dan Pembahasan


Pengambilan data di Laboratorium Elektronik dan alat yang diperlukan untuk
kalibrasi temperatur berupa: master kalibrasi berupa thermos es (0 C) dan air mendidih
(100 C) pada heater, Alat yang dikalibrasi (indikator) E5EK Omron, Pedoman pelaksanaan,
kalibrasi (SOP), Pelaksanaan kalibrasi dilaksanakan pada indicator E5EK yang terpasang
pada mesin yang mengatur temperatur misalnya mesin curing pada proses pembuatan ban
[6-7]. Kalibrasi harus sesuai dengan bagan alir seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Data pengukuran dan analisis set-up peralatan indikator berupa E5EK Omron digital
controller. Ada 3 data pengukuran: minimal, medium, dan maksimal [8-9]. Data pengukuran
PT 100 setelah dikalibrasi (Gambar 2), data pengukuran PT 100 setelah dikalibrasi (Gambar
3).

Gambar 1. Bagan Alir Kalibrasi

Gambar 2. Set Up Peralatan

Gambar 3. Pengukuran Suhu

Dengan: Usd= ketidakpastian standar, Um= ketidakpastian master, Uc=


ketidakpastian gabungan, Uexp= ketidakpastian terentang, tingkat kepercayaan 95%
(K=2).
Dari data perbandingan dapat dibuat simulasi dengan manipulasi data pada
digital controller E5EK OMRON. Setting 1. PT 100:

Setting pada level 2 digital controller = Indikator ESEK.

4. Kesimpulan
PT100 sebelum dikalibrasi dengan air mendidih (100C) Uexp = 0,65, setelah
dikalibrasi mendapatkan Uexp= 0,31 dengan tingkat kepercayaan 95% (K=2). Simulasi
pada kalibrasi PT100 dengan es batu dan air mendidih
data

(100

C)

dengan

manipulasi

pada indikator controller ESEK akan mendapatkan In SL = - 11,5 dan In SH = 37

pada posisi level 2. Untuk kalibrasi temperatur PT100 dan thermocouple dapat
menggunakan kalibrator standar berupa es batu (0 C) dan air mendidih (100 C). Hasil
perhitungan ketidakpastian dari PT100 adalah dengan thermocouple adalah

simulasi

dengan manipulasi data pada digital controller ESEK OMRON didapatkan: In SL= -14,2;
In SH= 102,4; terdapat pada level 2.

B. Thermocouple

Pengertian Thermocouple
Thermocouple adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah
perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Thermocouple
yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat
mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan
pengukuran kurang dari 1C.
Thermocouple mempunyai kabel isi 2 positif [ + ] dan negatif [ - ] dihubungkan
langsung ke alat yang bernama temperature control, mempunyai range temperature yang
cukup banyak tergantung dari tipenya namun salah satu spesifikasi rangenya yaitu 0 - 200,
0-300 deg.cel dll, kemudian keluaran tegangan dari Tc ini tidak besar, berkisar antara 0-10
mV.

Cara kerja.
Thermocouple terbuat dari dua unsur logam yang berbeda yang dikumpulkan menjadi
satu, apabila dua logam ini dipanaskan, maka pada kedua ujungnya akan timbul tegangan
lalu tegangan ini disalurkan pada dua buah kabel, kita bisa mengukur tegangan keluarannya
pada kedua kabel ini.

picotech
Fungsi Thermocouple
Thermocouple merupakan sensor yang mengubah besaran suhu menjadi tegangan,
dimana sensor ini dibuat dari sambungan dua bahan metallic yang berlainan jenis.
Sambungan ini dikomposisikan dengan campuran kimia tertentu, sehingga dihasilkan beda
potensial antar sambungan yang akan berubah terhadap suhu yang dideteksi.C. Tipe-Tipe
Termokopel. Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya:

Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy))


Termokopel untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu 200
C hingga +1200 C.

Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy))


Tipe E memiliki output yang besar (68 V/C) membuatnya cocok digunakan
pada temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.

Tipe J (Iron / Constantan)


Rentangnya terbatas (40 hingga +750 C) membuatnya kurang populer
dibanding tipe K. Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 V/C

Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy))


Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk
pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 C.
Sensitifitasnya sekitar 39 V/C pada 900C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan
perbaikan tipe K.

Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki


karakteristik yang hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi karena
sensitifitasnya rendah (sekitar 10 V/C) mereka biasanya hanya digunakan untuk
mengukur temperatur tinggi (>300 C).

Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh)
Cocok mengukur suhu di atas 1800 C. Tipe B memberi output yang sama pada
suhu 0C hingga 42C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50C.

Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)


Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya
tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.

Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)


Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya
tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya
yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 C).

Type T (Copper / Constantan)


Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350 C. Konduktor positif terbuat dari
tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur
alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 V/C.D.
Bagian-Bagian Thermocouple
1. General Purpose Rope

Jack

: Menghubungkan antara General Purpose Robe dengan thermocouple.

Stick

: Yang terdiri dari 2 buah logam, sebagai variabel pendeteksi suhu.

Pemegang

: Tempat dimana tangan saat melakukan pengukuran.

2. Thermocouple

Display

:Sebagai penunjuk hasil pengukuran.

Kenop

:Sebagai pemutar ON atau OFF.

Prinsip Kerja Termokopel


Thermocouple suatu rangkaian yang tersusun dari dua buah logam yang masingmasing mempunyai koefisien muai panjang berbeda yang dihubungkan satu dengan yang
lain pada ujung-ujungnya. Jika pada kedua titik hubung kedua logam tersebut mempunyai
perbedaan temperature, maka timbullah beda potensial yang memungkinkan adanya arus
listrik di dalamnya.
Termokopel secara sederhana merupakan perpaduan antara dua logam yang berbeda
jenis, yang persambungan (kopel) kedua logam diberikan pengkondisian suhu yang berbeda
(panas dan dingin). Setting alat untuk melakukan kalibrasi termokopel yaitu, misal kita
sebut saja logam A dan logam B merupakan bahan logam pada termokopel. Ujung logam A
dan B disambung dan ujung-ujung yang lain dihubungkan ke alat ukur listrik dan
dimasukkan ke dalam kondisi suhu dingin, dan untuk ujung yang dikopel ditempatkan pada
kondisi suhu panas.. Jadi, nilai tegangan itu setara dengan suhu yang terukur oleh
termometer, sehingga didapatkan nilai tegangan sekian = suhu sekian,
Untuk memahami bagaimana sebuah sambungan logam pada termokopel dapat
menimbulkan tegangan listrik kita bisa meninjaunya dari sisi pergerakan atom-atom logam
yang digunakan pada termokopel. Suatu logam apabila dipanaskan maka akan mengalami
pemuaian, baik memuai panjang maupun memuai lebar (volum). Pemuaian ini diakibatkan
oleh pergerakan atom-atom atau elektron dari suhu tinggi menuju ke suhu yang lebih
rendah.
Pergerakan ini banyak sedikitnya atau cepat lambatnya tergantung pada bahan logam
itu sendiri, artinya logam satu dengan logam lainnya memiliki kecepatan muai yang
berbeda-beda. Hal ini dapat kita amati pada bimetal (dua keping logam yang dipadu), ketika
bimetal ini dipanaskan maka yang tadinya lurus akan membengkok kearah logam yang
pemuaiannya lebih lambat. Jadi, pada logam termokopel yang berbeda jenis akan memiliki
kecepatan alir elektron yang berbeda pula, hal inilah yang kemudian menyebabkan beda

potensial di ujung-ujung logam tersebut, yang mana telah dihubungkan ke alat ukur listrik
sehingga timbul tegangan listrik di ujung-ujung logam tersebut.
Termocouple banyak digunakan sebagai alat ukur suhu di dunia industri, salah satu
keuntungannya yaitu mampu mengukur suhu yang sangat tinggi dan juga suhu rendah.
Termokopel merupakan sebuah alat yang biasa digunakan untuk mengukur suhu yang pada
umumnya sebagai termometer digital, karena termokopel memiliki output berupa arus listrik
sehingga pengkonversiannya dapat secara digital.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan-sambungan yang dingin dijaga sebagai
temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. Contoh,
hubungan dingin akan ditempatkan pada tembaga pada papan sirkuit. Sensor suhu yang lain
akan mengukur suhu pada titik ini, sehingga suhu pada ujung benda yang diperiksa dapat
dihitung.
Thermocouple dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat
termopile, dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua
sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap
Thermocouple menjadi naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih
tinggi. Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran
di laboratorium, Secara sederhana Thermocouple tidak mudah dipakai untuk kebanyakan
indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol.
Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain
yang sensitif terhadap suhu (seperti termistor atau dioda) untuk mengukur suhu sambungan
input pada peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di antara ujungujungnya. Thermocouple mengukur perbedaan temperature diantara kedua kaki, bukan
temperatur absolute.
Ketika terkena panas maka bimetal akan bengkok kearah yang koefisiennya lebih
kecil. Pemuaian ini kemudian dihubungkan dengan jarum dan menunjukkan angka tertentu.
Angka yang ditunjukkan jarum ini menunjukkan suhu benda (pada Thermocouple digital).
Termokopel ini macam-macam, tergantung jenis logam yang digunakan. Jenis logam akan
menentukan rentang temperatur yang bisa diukur (termokopel suhu badan (temperatur

rendah) berbeda dengan termokopel untuk mengukur temperatur tungku bakar (temperatur
tinggi),jugasensitivitasnya.
Konfigurasi alat ukur dengan thermocouple ditunjukkan pada gambar Terdapat sebuah
kawat pemanas lurus yang dibuat dari bahan yang mempunyai nilai tahanan yang cukup
tinggi. Pada tengah-tengah kawat pemanas tersebut dihubungkan dengan salah satu titik
hubung dari thermocouple. Kedua ujung bebas thermocouple masing-masing dihubungkan
dengan pengukur milivolt yang akan mengukur beda tegangan yang dihasilkan oleh kedua
ujung thermocouple tersebut. Jika arus I dialirkan melalui kawat pemanas maka kawat
pemanas akan membangkitkan panas dengan besar daya berbanding dengan arus kuadratnya.
Panas yang dibangkitkan ini menaikkan panas pada tengah kawat pemanas.

Ketelitian Thermocouple
Ketelitian dari Thermocouple bergantung pada tipe thermocouple yang digunakan dan
biasanya terdapat petunjuk penggunaan.
Cara Penggunaan Thermocouple
Memasang baterai 9 volt,kemudian menghubungkan probe dengan konektor pada
bagian atas. Lalu putar posisi ke C atau F (tergantung tipe). jika tidak ada probe terpasang,
atau jika membaca over-range, layar menampilkan berkedip strip. jika pengukuran adalah
sedikit di atas rentang spesifikasi meter, layar berkedip nilai skala penuh terdekat. untuk
mematikan termometer, putar kenop ke OFF.
Pembacaan Hasil Pengukuran
Pada Thermocouple digital, angka hasil pengukuran langsung terlihat.
Pada Thermocouple analog, menggunakan rumus:
V = perubahan tegangan (Volt)
S = koefisien seebeck (40 mV )
T = perubahan suhu

Contoh Penggunaan Thermocouple


Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas,
hingga 1800 K. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang
kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0100 C dengan
keakuratan 0.1 C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh
Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :
Industri besi dan baja
Pengaman pada alat-alat pemanas
Untuk termopile sensor radiasi
Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop
Kelebihan dan Kelemahan Thermocouple
Kelemahan: Termokopel tidak dapat mengukur suhu awal dari suatu termometer
pada suhu awal dari suatu termometer pada umumnya karena alat ini tidak dapat
dikalibrasi. Sehinnga ketika termokopel pada posisi ON, langsung muncul suhu ruangan.
Kelebihan : Termokopel paling cocok digunakan untuk mampu mengukur suhu
yang sangat tinggi dan juga suhu rendah dari -200 hingga 1800C.

Penerapan
Beberapa contoh penggunaan Tc yang biasa digunakan.

Untuk mengukur suhu bearing motor penggerak.

Untuk mengukur suhu ruangan pada sebuah tanki.

Untuk mengukur suhu produksi karet / gum yang ada di dalam sebuah mixer.

Untuk pengukuran pada sebuah alat ukur suhu / thermometer.

Dll.
Kalibrasi Thermocouple
a) Metodologi Bahan dan Alat

Termokopel

Temometer

NI (National Instrument)

Unit Komputer

DC Power supply

Gelas anti panas

Air

b) Penyambungan Termokopel
Langkah kerja yang dilakukan penyambungan termokopel menyiapkan peralatan
yang dinamakan DC power supply seperti di perlihatkan dalam Gambar 1. Kegunaan alat
ini untuk menyambung kawat cromel dan kawat alumel yang mempunyai kapasitas
tegangan 13,6 volt dan arus 20 ampere. Untuk teknik penyambungan termokopel
dilakukan dengan cara sebagai berikut : ujung kawat termokopel dikupas lalu kawat
termokopel dibuka dan dipisahkan antara kawat cromel dan alumel dibersihkan setelah
itu kedua kawat tersebut digabungkan dengan cara dipilin. Selanjutnya menyiapkan
peralatan DC power supply untuk kabel warna hitam dipasang di salah satu kawat
termokopel, sedangkan untuk kabel warna merah ujungnya tidak dipasang melainkan
akan disentuhkan pada ujung kawat termokopel yang sudah dipilin dengan waktu
beberapa detik saja, dan apabila hasilnya sudah menyambung ujung termokopel
berbentuk bulat maka kawat termokopel dapat dinyatakan baik,seperti yang diperlihatkan
dalam Gambar 2. Setelah itu kawat yang sudah menyambung pada ujung termokopel
dibersihkan untuk dipasang head ke termokopel, seperti diperlihatkan dalam Gambar 3.

Gambar 1. DC Power Supply

Gambar 2. Penyambungan Termokopel

Gambar 3. Termokopel dengan Head


c) Langkah Kerja
Langkah kerja yang dilakukan kalibrasi pada termokopel menyiapkan termokopel
dan peralatan yang dinamakan Natinal Instrument (NI), seperti diperlihatkan dalam
Gambar 4, dan mengunakan sofwer LabVIEW seperti diperlihatkan dalam Gambar 5.
Untuk termokopel yang sudah selesai disambung dan dipasang head, disiapkan air panas,
gelas anti panas dan es untuk mendinginkan air. Pertama termokopel dipasang kemudian

konektor termokopel disambungkan ke alat Natinal Instrument (NI), kemudian


termokopel yang sudah dipasang head dimasukan ke air panas bersamaan dengan
termometer, selanjutnya dimasukan es hingga air dingin kemudian untuk sistem perekam
data menggunakan Natinal Instrument-Data Aquisition (NI-DAQ).

Gambar 4. Natinal Instrument (NI)

Gambar 5. LabVIEW
d) Hasil dan Pembahasan
Kalibrasi dilakukan dengan cara membandingkan Suhu yang terbaca oleh
termokopel akan dibandingkan dengan hasil baca termometer. Pengujian dilakukan
dengan menaikkan suhu dan menurunkan suhu secara bervariasi, kalibrasi dilakukan
dengan 5 termokopel dimana pengukuran dengan termometer dan terrmokopel dilakukan

secara bersamaan. Dari gambar 6 menujukan hasil kalibrasi termokopel ke-1 dan
termometer maka nilai rata-rata selisih 1,36 % dan nilai rata-rata eror 4,09 %. Kemudian
hasil kalibrasi termokopel ke-2 dan termometer maka nilai rata-rata selisih 1,6 % dan
nilai rata-rata eror 5,12 % seperti yang ditujukan dari gambar 7. Dari hasil kalibrasi
termokopel ke-3 dan termometer maka nilai rata-rata selisih 1,85 % dan nilai rata-rata
eror 5,72 % seperti yang ditujukan dari gambar 8. Kemudian dari hasil kalibrasi
termokopel yang ke -4 maka nilai rata-rata selisih 2,09 % dan nilai rata-rata eror 6,28 %
seperti yang ditujukan dari gambar 9. Dari gambar 10 menujukan hasil kalibrasi
termokopel ke-5 dan termometer maka nilai rata-rata selisih 2,05 % dan nilai rata-rata
eror 6,53 %.

Gambar 6. Hasil Kalibrasi Termokopel Ke-1 Terhadap Termometer

Gambar 7. Hasil Kalibrasi Termokopel Ke-2 Terhadap Termometer

Gambar 8. Hasil Kalibrasi Termokopel Ke-3 Terhadap Termometer

Gambar 9. Hasil Kalibrasi Termokopel Ke-4 Terhadap Termometer

Gambar 10. Hasil Kalibrasi Termokopel Ke-5 Terhadap Termometer

e) Kesimpulan
Telah

dilakukan

kalibrasi

termokopel

tipe

terhadap

termometer

dan

pengkalibrasian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil perbandingan selisih
nilai dan eror rata-rata dari termokopel tipe K, pembacaan temperatur dengan baik
selama dilakukannya kalibrasi. Dari hasil kalibrasi perbandingan selisih rata-rata yaitu
+1,79 % dan hasil kalibrasi eror rata-rata yaitu +5,55%.
Maka hasil kalibrasi memperlihatkan bahwa sambungan kawat termokopel
menunjukkan suhu dengan sistim perekam data atau Natinal Instrument-Data Aquisition
(NI-DAQ) telah sesuai, ini berarti bahwa kalibrasi termokopel terhadap termometer
berhasil dikerjakan dengan baik.

C. Thermometer Glass
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun
perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang berarti bahang
dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam,
yang paling umum digunakan adalah termometer air raksa.

Gambar 2.1 : Termometer


Termometer pertama sekali digagaskan oleh Galileo dengan menggunakan pemuaian
gas. Tetapi termometer yang pertama sekali dikenal adalah termometer yang dibuat oleh
Academi Del Cimento (1657-1667) di Florence. Termometer yang dikenal ini terdiri dari
tabung kaca dengan ruang ditengahnya yang diisi air raksa atau alkohol yang diberi merah.
Selain termometer raksa, berdasarkan perkembangan zaman, saat ini terdapat banyak
jenis termometer, tetapi prinsip kerja sebenarnya sama. Bisanya, kita memanfaatkan materi
yang bersifat termometrik ( sifat materi yang berubah terhadap temperatur ). Maksudnya,
apabila suhu materi tersebut berubah, bentuk dan ukuran materi tersebut juga akan berubah.
Kebanyakan termometer menggunakan materi yang bisa memuai ketika suhunya berubah.
Jenis-jenis Termometer
1.

Termometer menurut isinya dibagi menjadi :


Termometer Raksa dan Alkohol
Termometer yang sering digunakan saat ini terdiri dari tabung kaca, dimana
terdapat alkohol atau air raksa pada bagian tengah tabung. Ketika suhu meningkat,
alkohol atau air raksa yang berada didalam wadah akan memuai sehingga panjang
kolom alkohol atau air raksa akan bertambah. Sebaliknya, ketika suhu menurun panjang
kolom alkohol atau air raksa akan berkurang. Pada bagian luar tabung kaca terdapat
angka-angka yang merupakan skala termometer tersebut. Angka yang ditunjukkan oleh
ujung kolom alkohol atau air raksa merupakan nilai suhu yang diukur.
Jenis khusus termometer air raksa, disebut termometer maksimum, bekerja
dengan adanya katup pada leher tabung dekat bohlam. saat suhu naik, air raksa
didorong keatas melalui katup oleh gaya pemuaian. Saat suhu turun air raksa tertahan
pada katup dan tidak dapat kembali ke bohlam dan membuat air raksa tetap didalam
tabung. Air raksa akan membeku pada suhu -38,83 0C (-37,89 0F) dan hanya dapat
digunakan pada suhu diatasnya. Untuk menghindarinya, termometer air raksa sebaiknya
dimasukkan kedalam tempat yang hangat saat temperatur dibawah -370C (-34,60F).

termometer ini mempunyai titik beku pada -61,10C (-78 0F). Marthen Kanginan
(2002:219)
Pada tabel dibawah ini dapat dilihat beberapa keuntungan dan kerugian
termometer :

2.

Termometer berdasarkan penggunaannya :


a) Termometer Klinis
Termometer ini khusus digunakan untuk mendiaknosa penyakit dan bisanya diisi
dengan raksa atau alkhohol. Termometer ini mempunyai lekukan sempit diatas
wadahnya yang berfungsi untuk menjaga supaya suhu yang ditunjukkan setelah
pengukuran tidak berubah setelah termometer diangkat dari badan pasien. Skala pada
termometer ini antara 35C sampai 42C.

Gambar 2.2 : Termometer Klinis


b) Termometer Laboratorium
Termometer ini menggunakan cairan raksa atau alkhohol. Jika cairan bertambah
panas maka raksa atau alkhohol akan memuai sehingga skala nya bertambah. Agar
termometer sensitif terhadap suhu maka ukuran pipa harus dibuat kecil (pipa kapiler)
dan agar peka terhadap perubahan suhu maka dinding termometer (reservoir) dibuat
setipis mungkin dan bila memungkinkan dibuat dari bahan yang konduktor.

Gambar 2.3 : Termometer Laboratorium


c) Termometer Ruangan
Termometer ini berfungsi untuk mengukur suhu pada sebuah ruangan. Pada
dasarnya termometer ini sama dengan termometer yang lain hanya saja skalanya yang
berbeda. Skala termometer ini antara -50C sampai 50C .

Gambar 2.4 : Termometer Ruangan


d) Termometer Digital
Karena perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer digital yang
prinsip kerjanya sama dengan termometer yang lainnya yaitu pemuaian. Pada
termometer digital menggunakan logam sebagai sensor suhunya yang kemudian
memuai dan pemuaiannya ini diterjemahkan oleh rangkaian elektronik dan ditampilkan
dalam bentuk angka yang langsung bisa dibaca.

Gambar 2.5 : Termometer Digital


e) Termometer Bimetal
Merupakan termometer yang menggunakan bahan bimetal sebagai alat
pokoknya. Ketika terkena panas maka bimetal akan bengkok ke arah yang koefesiennya
lebih kecil. Pemuaian ini kemudian dihubungkan dengan jarum dan menunjukkan
angka tertentu. Angka yang ditunjukkan jarum ini menunjukkan suhu benda.

Gambar 2.6 : Termometer Bimetal


Skala Termometer
Agar termometer bisa digunakan untuk mengukur suhu maka perlu ditetapkan skala
suhu. Terdapat dua skala suhu yang sering digunakan, antara lain skala celcius dan skala
Fahrenheit. Skala yang paling banyak digunakan saat ini adalah skala celcius. Skala fahreheit
paling banyak digunakan di Amerika Serikat, skala suhu yang cukup penting dalam bidang
sains adalah skala mutlak atau kelvin. Halliday Resnick (1978:705)
Titik tetap celsius dan skala fahrenhait menggunakan titik beku dan titik didih air.
Titik beku suatu zat merupakan temperatur dimana wujud padat dan wujud cair berada dalam
keseimbangan (tidak ada perubahan zat). Sebaliknya,titik didih suatu zat merupakan
temperatur dimana wujud zat cair dan gas berada dalam keseimbangan. Perlu diketahui
bahwa titik beku dan titik didih selalu berubah terhadap tekanan udara, karena itu, tekanan
perlu kita tetapkan terlebih dahulu. Biasanya digunakan tekanan standar, yaitu 1 atm. Yusrizal
(2009:151).
Kalibrasi Thermometer Glass
Thermometer gelas atau liquid in glass thermometer yang dimaksud adalah
thermometer yang menggunakan prinsip pengukuran langsung, besarnya penunjukan suhu
sebanding dengan ekspansi cairan (liquid) dari dalam kolom pipa kapiler. Cairan yang
dipakai dalam thermometer gelas ini adalah cairan yang mempunyai koefisien tinggi,
sehingga bisa digunakan pada rentang suhu tinggi. Cairan yang dipakai adalah air raksa (Hg)
atau perak (Ag). Rentang ukurnya 30C sampai 100C.
Untuk memulai kalibrasi diperlukan beberapa peralatan antara lain kain
pembersih/tissue, penjepit thermometer, peralatan untuk kalibrasi, thermometer gelas standar
dan media pemanas (Water Bath).
Sedang persiapan kalibrasi memerlukan tindakan sbb :
- Pengamanan : Pastikan thermometer gelas sebelum disimpan dalam keadaan bersih dan
kering. Simpanlah thermometer gelas sesuai pada tempatnya.

- Pembersihan : Bersihkan thermometer gelas standar, thermometer yang dikalibrasi dan alat
bantu kalibrasi lainnya. Bersihkan juga kaca pembacaan skala.
- Pemeriksaan : Periksa semua thermometer masih baik tidak retak, siap pakai dan memenuhi
standar untuk kalibrasi.
a) Prosedur Kalibrasi
Pada dasarnya tujuan kalibrasi suhu ini adalah membandingkan nilai pembacaan
thermometer yang dikalibrasi dengan penunjukan pada thermometer standar.
Langkah Kerjanya sbb :
1. Pasang power listrik pada media/alat pemanas, setting pada suhu yang diinginkan,
kemudian tekan tombol switch pada posisi ON.
2. Periksa thermometer yang dikalibrasi, catat merk, nomor seri, rentang ukur dan
ketelitian pada lembar kerja.
3. Celupkan/pasang thermometer standard dan thermometer yang dikalibrasi
didalam media/alat pemanas water bath, jarak antara keduanya sedekat mungkin.
4. Pencelupan thermometer gelas standar atau thermometer yang dikalibrasi sesuai
dengan sistem yang tertera pada thermometer gelas tersebut (total atau parsial)
Tunggu suhu pada setting yang diinginkan sampai suhu stabil.
5. Baca nilai penunjukan suhu thermometer standar dan thermometer yang
dikalibrasi, catat pada kertas lembar kerja.
6. Bandingkan nilai pembacaan thermometer yang dikalibrasi dengan penunjukan
pada thermometer standar dan catat pada lembar pengambilan data.
7. Ulangi pembacaan nilai penunjuk suhu diatas sebanyak minimal 3 (tiga) kali
dengan tenggang waktu pembacaan selama 5 (lima) menit.
8. Naik/turunkan setting suhu berikutnya apabila dikehendaki beberapa titik suhu
kalibrasi.
b) Ketidakpastian

- Ketidakpastian Baku
U Rep = repeatability diambil dari standar deviasi yang terbesar

Dimana :
C=Koreksi 1,2,3 . n
Ccr= Koreksi rata-rata
n = Jumlah pembacaan
Berdistribusi normal, nilai pembagi n, dengan derjad kebebasan
V1=(n-1)
U2 = Resolusi thermometer yang dikalibrasi
Dengan derajat kebebasan diberikan berdasarkan riliabilitas 90%,V2 = Vress = 50

U3 = Uncertainty thermometer standard (dari sertifikat kalibrasi yang terakhir)


Dengan derajat kebebasan V3 = Vstd = 60

U4 = Drift dari thermometer standard nilai penurunan performance dari thermometer


standar yang digunakan. Jika laboratorium tidak memiliki data daftar drift, maka nilai
drift diasumsikan 10 % dari nilai Ustd.

atau

Dengan derajat kebebasan diberikan berdasarkan riliabilitas 90%, V4 = Vdrift = 50


U5 = Homogenitas pada area media kalibrasi, diambil rata-rata dari variasi pengambilan
pada dua titik kalibrasi water bath.

Dengan derajat bebas diberikan berdasarkan riliabilitas 90%, V5 = 50.


c) Ketidakpastian Gabungan

Dengan derajat kebebasan efektif ( effective degree of freedom )

Faktor Cakupan = k
Nilai faktcoverage factor (factor cakupan) dapat dilihat pada table t-student untuk
tingkat kepercayaan 95% dengan menggunakan nilai derajat kebebasan efektif yang
diperoleh.
Ketidakpastian yang diperluas (expanded uncertainty) dihitung dengan :
U95 (UW) = k x Uc

BAB 2
Kalibrasi Alat Ukur Tekanan
Kalibrasi Pressure / Tekanan adalah aktivitas yang dilakukan untuk memastikan
bahwa zero, span, accuracy dan linearity dari suatu pressure instrument sesuai dengan nilai
pressure yang sebenarnya (standard). Accuracy ditentukan dengan cara membandingkan
bacaan pressure instrument dengan test gauge standard untuk beberapa titik bacaan yang
dapat dilakukan secara random. Linearity ditentukan dengan memberikan increasing dan
decreasing pressure dan melihat respon dari pressure instrument tersebut apakah membentuk
persamaan linear atau persamaan lengkung / polynomial. Jika tidak linear maka harus
dilakukan adjustment. Zero adalah nilai pressure pada kondisi tanpa tekanan (1 atmosfer).
Span adalah selisih nilai maximum sampai dengan nilai minimum. Sedangkan range adalah
nilai minimum sampai maksimum.
Ada 2 macam kalibrasi yang umum dilakukan dilakukan dalam project:
1. Bench Calibration yaitu membawa pressure instrument ke shop dan lakukan kalibrasi. Alat
standar yang digunakan adalah DWT (Dead Weight Tester) yaitu suatu alat yang menkonvert
berat mati suatu logam menjadi pressure. Karena berat adalah gaya dan gaya per satuan luas
adalah tekanan. Selain dibandingkan dengan DWT yang sudah berpressure mati (tidak
mungkin berubah-ubah) pressure instrument juga masih dibandingkan dengan Certified Test
Gauge Standard.

2. Field Calibration yaitu kalibrasi di lapangan dilakukan dengan menginjeksi pressure pada
pressure instrument dengan Hand Pump yang line-nya dipasang paralel dengan Certified Test

Gauge Standard. Pembacaan pressure instrument harus sama dengan pembacaan Test Gauge
Standard. Field calibration umumnya dilakukan hanya untuk memastikan selama proses precommissioning pressure instrument masih dapat bekerja dengan baik. Selain pembacaan lokal
pre-commissioning juga perlu memastikan Zero, Span, Accuracy dan Linearity dari pressure
yang dikirim sistem monitor.

Mengaplikasikan mechanical deformation dari sifat elestis material sensor seperti


Tabung Bourdon, Diafragma, Pressure Transducer. Mechanical Deformation dari sensor
tekanan dibaca dengan 2 sistem.
1.

Sistem Mekanik (Analog Pressure Gauge)

2.

Sistem Elektrik (Digital Pressure Gauge)


Ketelitian dan keakurasian ditentukan oleh kualitas material sensor, kemampuan
indikator untuk mendeteksi setiap perubahan pada sensor saat terjadi perubahan tekanan.
Pada sistem mekanik keakurasian yang baik tergantung dari kualitas : Roda gigi, per rambut,
pointer.
Metode Kalibrasi Pressure Gauge
OIML R023

: Tyre pressure gauge for motor vehicle

OIML R053

: Metrological characteristics of elastic sensing elements used for


measurement of pressure

OIML R109

: Pressure gauges and vacuum gauges with elastics sensing elements


(standard instruments)

OIML R097

: Barometers

OIML R101

: Indicating and recording pressure gauges, vacuum gauges, pressurevacuum gauges with elastic sensing elements (ordinary instruments)

BS EN 837-1

: Pressure gauges. Bourdon tube pressure gauges. Dimensions, metrology,

requirements and testing


BS EN 837-2

: Pressure gauges. Selection and installation recommendations for pressure


gauges

BS EN 837-3

: Pressure gauges. Diaphragm and capsule pressure gauges. Dimensions,


metrology, requirements and testing.

EA-10/17

: EA Guidelines on the Calibration of Electromechanical Manometers.

Guideline DKD-R 6-1 : Calibration of Pressure Gauges.


Kelas Akurasi Pressure Gauge berdasarkan BS EN 837

Dimensi dalam mm
Nominal Size

d1

d2

d3

d4

40

38

61

51

3.6

50

48

71

60

3.6

63

61

86

75

3.6

80

78

110

95

100

97

134

118

150

147

186

168

180

157

196

178

250

245

290

276

Maximum Permissible Error pada kelas akurasi Pressure Gauge berdasarkan BS EN 837

Jumlah titik ukur yang dikalibrasi :


Class 0.6
minimum 10 titik
Class 1, 1.6, 2.5
minimum 5 titik
Class 4
minimum 4 titik
Pengukuran dilakukan pada tekanan naik dan tekanan turun. Alat standar harus
memiliki mpe 4 kali lebih baik daripada UUT. Kalibrasi dilakukan pada Temperature 20 + 2
o

C untuk class 0.1, 0.25, 0.6 dan temperature 20 + 5 oC untuk class > 0.6.
Instruksi Kerja Kalibrasi Pressure Gauge
Baca penunjukkan alat pada tekanan naik dan turun. Lakukan 3 kali pengulangan
pengujian.
Pembacaan alat
(
No.

*)
Titik ukur**)

Pembacaan pressure gauge standar


Pada posisi naik (
1

*)

Rata-rata
(

)
*)

sd
(

)
*)

Ketidak pastian
*)

Repeat

Res. Std

Drift Std

Drift Std

Zero Err

6
7

Us
Hysteresis

Uc

ef

10

k
U95

Pembacaan alat
(
No.

*)
Titik ukur**)

Pembacaan pressure gauge standar


Pada posisi turun (
1

*)

Rata-rata
(

)
*)

sd
(

)
*)

Ketidakpastian
*)

Repeat

Res. Std

Drift Std

Drift Std

Zero Err

6
7

Us
Hysteresis

Uc

ef

10

k
U95

Scale spacing and scale numbering

Scale spacing and scale numbering

Ketidakpastian
Identifikasi Sumber Ketidakpastian
Cause and Effect Diagram (Man, Method, Machine, Material, Money, Environment)

Sumber ketidakpastian
1. Repeatability, r, distribusi normal, divisor =

n, n = ulangan pengukuran, derajat

bebas 1 = 2;
2. Resolusi alat, ra, distribusi segi empat, divisor =

3, derajat bebas berdasarkan

reliabilitas 95% 2 = 50;


3. Drift standar, ds, diestimasi dari x [perbedaan terbesar hasil kalibrasi (koreksi atau
kesalahan) pada titik ukur yang sama
4. dari sertifikat kalibrasi pada waktu kalibrasi yang berbeda], distribusi segi empat,
divisor = 3, derajat bebas berdasarkan
5. reliabilitas 95% 3 = 50;
6. Ketidakpastian alat standar, us, distribusi t-Student berdasarkan reliabilitas 95 %,
divisor = 2, derajat bebas 4 = 60.

7. Zero Error, ze, distribusi segi empat, divisor =


berdasarkan reliabilitas 95% 5 = 50;
8. ze = max {|x2,1-x1,1|,|x4,1-x3,1|,|x6,1-x5,1|}
9. Hysteresis, hy, distribusi segi empat, divisor =

3, derajat bebas diberikan

3, derajat bebas diberikan

berdasarkan reliabilitas 95% 6 = 50;


10. Diestimasi berdasarkan nilai maksimal selisih dari penunjukkan tekanan naik dan
turun dibagi 2, divisor = 3, derajat bebas
11. diberikan berdasarkan reliabilitas 95% 6 = 50 hy = maks{|x2,j-x1,i|,|x4,j-x3,i|,|x6,jx5,i|}

Ketidakpastian baku, ui
u1 = r/ n, u2 = ra/ 3, u3 = ds/ 3, u4 = us/2, u5 = ze/ 3, u6 = hy/ 3
Ketidakpastian gabungan, Uc

Derajat bebas efektif, Veff

Faktor cakupan, k
k dicari dari tabel t-Student terlampir pada tingkat kepercayaan 95% dengan derajat
bebas = Veff.
Ketidakpastian bentangan
U95 = k x Uc

Cara kalibrasi dan mengatur tekanan pada differential pressure switch


Seperti halnya pressure switch ( sakelar tekanan), differential pressure switch (sakelar
tekanan diferensial) juga dapat di kalibrasi pada titik tertentu yang diharapkan.
Cara kalibrasi differential pressure switch ( sakelar tekanan diferensial) sama dengan
cara kalibrasi mengkalibrasi pressure switch. Perbedaanya adalah bahwa kalibrasi differential
pressure switch lebih akurat dan lebih dibutuhkan modifikasi dalam prosedur kalibrasinya.

Prosedur kalibrasi untuk differential pressure switch


Peralatan yang di butuhkan untuk kalibrasi:
1. Sumber tekanan yang variable / dapat di rubah tekannanya, hal ini membutuhkan
regulator.
2. Multimeter digital atau lampu uji kontinuitas (continuity test lamp),
3. Test gauge

Set Up Kalibrasi

Langkah kalibrasi:
1. Hubungkan sumber tekanan variable lengkap dengan test gauge ke port tekanan sisi HI
pada switch.
2. Hubungkan Lampu tes (test lamp) atau multimeter yang diatur pada posisi ohmmeter di C
dan di NO.
3. Naikkan tekanan dengan memutar regulator tekanan perlahan dan perhatikan test gauge
untuk melihat nilai peningkatan tekanannya hingga sirkuit menjadi posisi menutup
(close)/ terhubung antara C dan NO.
4. Perlahan turunkan tekanan dan catat hasil nilai tekannanya hingga sirkuit switch kembali
terbuka/ putus antara C dan NO.
5. Untuk menyesuaikan setpoint, putar sekerup pengatur setpoint sesuai ukuran tekanan
yang di harapkan.
6. Ulangi langkah-langkah di atas hingga menemukan pengaturan batas tekanan yang di
harapkan pada set point terbuka dan tertutupnya sirkuit di dalam unit differensial pressure
switch tersebut.
Prosedur Kalibrasi akurat

Untuk mengkalibrasi secara akurat pada differential pressure switch, perlu untuk di
lakukan simulasi.
Peralatan yang dibutuhkan untuk kalibrasi akurat pada differential pressure switch
adalah:
1. Pengukur tekanan diferensial, sebaiknya memakai jenis digital.
2. Sumber tekanan variable,
3. Block, bleed dan equalizer valve,
4. Lampu uji continuity atau multimeter digital.
Langkah pertama menentukan setpoint yang terjadi pada saat peningkatan tekanan
diferensial dan kalibrasi menggunakan salah satu dari berikut:
1. Set point pada peningkatan tekanan diferensial (Increasing Differential Pressure),
2. Set point pada penurunan tekanan diferensial (Degreasing Differential Pressure).

Langkah kalibrasi untuk set point peningkatan tekanan diferensial.

Hubungkan katub (valve) yang ditunjuk di bawah ini dan kemudian lanjutkan ke
langkah langkah sbb:
1. Hubungkan lampu test kontinuitas atau multimeter digital ke C dan NO.

2. Tutup katub bleed, buka katub equalizer dan tingkatkan tekanan yang sama pada
keduanya yaitu HI dan LO untuk tekanan statis bahwa sakelar tekanan diferensial akan
terlihat pada kondisi operasi normal.
3. Dengan tekanan statis yang stabil, tutup katub equalizer untuk mengisolasi sisi HI dan
LO.
4. Jaga tekanan pada sisi HI tetap stabil, sedikit buka katub bleed sisi LO untuk mengurangi
tekanan yang ada pada sisi LO (kenaikan tekanan diferensial) hingga tekanan diferensial
yang diinginkan set pint yang muncul pada pengukur tekanan diferensial. Tutup katub
bleed untuk menstabilkan tekanan diferensial. Periksa status kontak pada switch.
A. Set point bagus jika:
Titik kontak tepat pada saat terjadi peningkatan set point tekanan diferensial , ulangi
kembali langkah 2-4 untuk lebih akurat menyesuaikan set point seperti yang diharapkan.
Kalibrasi selesai.
B. Kontak terbuka - setpoint terlalu tinggi.
Jika kontak terbuka saat ada peningkatan tekanan diferensial tercapai, sesuaikan
setpointdengan memutar sekerup penyesuai hingga terjadi kontak. Ulangi l;angkah 2-4.
C. Kontak tertutup- setpoint terlalu rendah
Jika kontak tertutup ketika meningkatnya tekanan diferensial tercapai, sesuaikan
dengan memutar sekerup setpoint hingga kontak terlepas/terbuka. Dari titik ini,
menyesuaikan set point lagi sampai terjadi kontak. Ulangi langkah 2-4.

Langkah kalibrasi mengatur set point pada penurunan tekanan diferensial.


1. Hubungkan lampu test kontinuitas atau multimeter digitaldi C dan NO/ kontak
terbuka(open),
2. Tutup katup bleed, buka katup equalizer, dan naikkan tekanan yang sama pada kedua sisi

yaitu HI dan LO ke posisi tekanan yang stabil dan normal.


3. Dengan tekanan pada sisi HI yang normal stabil, tutup katup equalizer untuk mengisolasi
sisi HI dan LO.
4. Sedikit buka katup blee sisi LO untuk mengurangi tekanan pada sisi LO ( meningkatkan
tekanan diferensial) sampai tekanan diferensial pengoperasian normal muncul pada
pengaturan tekanan diferensial. Tutup katub bleed untuk menstabilkan tekanan
diferensial. Kontak harus menutup pada waktu tekanan diferensial normal operasi
tercapai. Jika kontak masih terbuka pada tekanan difernsial operasi normal, sesuaikan
pada sekerup set point dengan memutarnya hingga terjadi kontak.
5. Menjaga tekanan sisi HI stabi, sedikit membuka katup equalizer untuk meningkatkan
tekanan sisi LO (penurunan tekanan diferensial) samp[ai tekanan diferensial yang
diinginkan set point yang muncul pada pengukur tekanan diferensial. Tutup katup
equalizer untuk menstabilkan tekanan diferensial. Periksa status kontak terhadap simulasi
tekanan diferensial berikut dan ikutio petunjuk yang sesuai dengan status kontak:
A. Set point baik jika:
Kontak terlepas tepat pada saat penurunan set pint tekanan diferensial . Ulangi
langkah 2-5 seperti yang di ingi8nkan untuk memverifikasi kalibrasi. Kalibrasi selesai.
B. Kontak terbuka Set point terlalu tinggi,
Jika kontak terbuka saat penurunan tekanan diferensial tercapai, sesuaikan set point
sampai kontak terjadi. Dari titik ini, sesuaikan dengan memutar sekerup set point hingga
kontak terlepas. Ulangi langkah 2-5,
C. Kontak tertutup-Set point rendah
Jika kontak tertutup ketika penurunan tekanan diferensial tercapai, sesuaikan dengan
memutar sekerup set point sampai kontak terbuka. Ulangi langkah 2-5.

BAB 3

KALIBRASI ALAT UKUR LEVEL


Ada berbagai macam type level instrument yang dikenal orang untuk mengukur
ketinggian level suatu fluida. Pertama adalah cara yang paling tradisional adalah dengan
meletakkan suatu benda yang dapat mengapung dipermukaan liquid sehingga melahirkan
istilah float atau pelampung sebagai level sensor. Magnetic level instrument umumnya
menggunakan float sebagai sensor dengan menempelkan magnet pada body pelampung
sehingga dengan perhitungan Specific Grafity (SG) magnet tersebut akan mengapung tepat di
permukaan liquid. Kedua adalah cara yang memanfaatkan rumus anak SMA yaitu (P = Rho x
g x h) yang berarti bahwa tekanan di suatu titik di dalam suatu fluida cair static akan
menunjukkan berapa ketinggian liquid yang menekannya. Cara kedua ini melahirkan
instrument yang disebut Differensial Pressure (DP) type level instrument. Ketiga adalah cara
yang memanfaatkan sifat kapasitansi fluida yang dihubungkan ke rangkaian elektronik.
Perubahan level liquid dapat menimbulkan perubahan kapasitansi. Perubahan ini kemudian
dapat dikonversi dan dilinearisasi untuk menunjukkan ketinggian level fluida cair. Keempat
adalah cara yang memanfaatkan gelombang ultrasonic. Gelombang ulltrosonic dipancarkan,
kemudian dipantulkan oleh permukaan fluida, akan diterima kembali oleh receiver. Selisih
waktu penerimaan dapat dikonversi untuk menunjukkan ketinggian level suatu fluida cair.
Cara ini menghasilkan istilah seperti Guided Wave Radar Level Instrument yang dipasang
pada puncak suatu vessel. Kelima dan selanjutnya dipersilahkan pembaca untuk
menambahkan.
Istilah-istilah dalam level instrument yang sering dijumpai adalah: Level Gauge (LG)
yaitu level indikasi secara visual dan actual yang dipasang paralel pada vessel atau tank;
Level Switch (LS) yaitu level instrument yang dipasangkan perangkat elektronik berupa
switch yang diset NC atau NO sesuai dengan design control systemnya; Level Indicating
Transmitter (LIT) yaitu level instrument yang memiliki local display serta mempunyai
kemampuan mentransmisi signal 4-20 mA dan atau superimposed HART, juga signal
fieldbus. Namun apabila transmitter tanpa dilengkapi lokal display maka hanya akan disebut
sebagai LT.
Instalasi Level Instrument
Pemasangan level gauge adalah yang paling sederhana secara praktikal, ketika flange
koneksi Center to Center nya tepat betul dengan koneksi flange vessel atau tank maka its
easy. Tetapi kalau terjadi selisih sedikit saja maka diperlukan mekanikal adjust dengan
memanjangkan atau memendekkan Center to Center-nya Level Gauge. Normalnya
adjustment selalu dilakukan bersama dengan vendor. Di engineering phase, Level Sketch
benar-benar didiskusikan antara Mechanical Engineer dan Instrument Engineer. Sebelum
keduanya mengeluarkan masing-masing data sheet. Tetapi banyak Level Gauge yang tidak
adjustable.

Kalibrasi Level Instrument


Kalibrasi adalah aktivitas yang dilakukan untuk membawa suatu besaran pengukuran
pada nilai sebenarnya. Nilai sebenarnya dapat dilakukan dengan membandingkan dengan
pengukur standar atau dibandingkan dengan besaran yan secara kasat mata mutlak
kebenarannya. Level Gauge apakah perlu di kalibrasi? Bisa saja dijawab tidak karena pada
level gauge yang dilakukan hanya adjust scaling dari ketinggian level. Kalo Level gauge
memakai scale 0% 100% yang exact pada Center to Center maka penempatan 50% harus
benar-benar exact ditengah-tengah. Dan cukup pada LG tidak perlu aktivitas lagi. Level
Transmitter tentu saja memerlukan kalibrasi dengan benar karena terjadi sensing besaran fisis
dan juga perubahan besaran fisis menjadi besaran elektrik. DP type level transmitter dibench
calibration di shop dengan menggunakan pressure.
Check besaran Level Transmitter di data sheet apakah inch H 2O atau mmH2O.
Sebagai contoh range Level Transmitter anda adalah 0 1meter dengan fluida water. Ini
akan equivalent dengan 0 1000 mmH2O. Ini akan equivalent juga dengan transmisi signal
4-20 mA. Siapkan power supply 24 VDC asumsi transmitter superimposed HART,
multimeter, dan ambil certified low pressure pump. Sambungkan Low Pressure Pump ke Hiside Level Transmitter, biarkan Lo-side terkoneksi ke atmosfer kemudian injek 0, 250, 500,
750, 1000 mmH2O maka secara equivalent anda harus mendapatkan 0, 25%, 50%, 75%,
100% dan 4,8,12,16,20 mA. Jika anda tidak mendapat nilai equivalent pada increasing dan
decreasing maka trim menggunakan Handheld communicator 375.

Jenis Level Transmitter


A. Level Transmitter DP Cell Electronic type
Langkah kalibrasi pada Level Transmitter DP Cell Electronic type adalah sebagai berikut:
a. Adjust screw zero adjustment sampai output terbaca 4 mA pada mA DC
meter,
b. Supply press sampai pada range yang tertinggi pada transmitter dan
adjust screw span sampai output terbaca 20 mA,

c. Supply pressure sama dengan 50% pada range yang tertinggi pada
transmitter dan check hasilnya pada TT on test. Jika ada kesalahan check
to manufactured calibration procedure,
d. Ulangi lagi sampai hasil yang diinginkan.
B. Level Transmitter DP Cell Pneumatic type
Langkah kalibrasi pada Level Transmitter DP Cell Pneumatic type adalah sebagai berikut.:
a. Supply press pada low range transmitter dan adjust screw zero adjustment sampai
output terbaca 3 psi pada standard test gauge.
b. Supply press sampai range yang tertinggi pada transmitter dan adjust screw span
sampai output terbaca 15 psi,
c. Supply pressure sama dengan 50% pada range yang tertinggi pada transmitter dan
check hasilnya pada TT on test, Jika ada kesalahan check pada acuan
manufactured calibration procedure,
d. Ulangi lagi sampai hasil yang diinginkan.

PERCOBAAN KALIBRASI DP CELL LEVEL TRANSMITTER


Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini peserta mampu :
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan prinsip kerja dari D/P Cell Pnuematic Level Transmitter


Mengidentifikasi elemen-elemen pada D/P Cell Pnuematic Level Transmitter
Melakukan kalibrasi pada D/P Cell Pnuematic Level Transmitter
Melakukan adjustment pada D/P Cell Pnuematic Level Transmitter

Peralatan
1.
2.
3.
4.
5.

D/P Cell Pnuematic Level Transmitter


Pressure gauge
Water Column dan Water Tank Resevoir
Kunci pas
Obeng

Dasar Teori
D/P Cell Pnuematic Level Transmitter adalah Differential Cell Transmitter, yang bisa
untuk mengukur ketinggian fluida berdasarkan prinsip beda tekanan. Dalam hal ini
menggunakan rumus P = gh. Sedangkan Transmitter sendiri adalah alat instrumen yang
berfungsi untuk mengukur besaran proses sehingga menghasikan output berupa sinyal standar
yang nilainya sebanding dengan besaran yang diukur. Instrumen ini menggunakan sensor
diafragma capsule yang tergantung range pengukuran. Besaran-besaran fisis dari proses akan
dionversikan ke besaran sinya standar Pnuematik 3-15psi.
Langkah Kerja
1.

Membuat rangkaian seperti gambar

2.
3.
4.
5.

Mengatur air supply dengan memutar regulator air supply sampai 20psi
Atur regulator input sehingga level di water column pada posisi minimum (0%)
Amati pressure gauge output dan catat hasilnya
Mengatur regulator input sehingga level di water column pada posisi maksimum
(100%)
6.
Amati pressure gauge dan catat hasinya
7.
Ulangi langkah ke 3 sampai dengan 6 untuk nilai 25%, 50%, dan 75%
8.
Apabila terjadi deviasi lakukan adjustment dengan cara :
a. Lakukan langkah no. 3 dan no. 4, kemudian ater zero adjuster pada transmitter
dengan obeng
b. Melakukan langkah no. 5 dan no. 6, kemudian atur span adjuster pada transmtter
menggunakan kunci
c. Ulangi langkah 8.1 dan 8.2 beberapa kali sehingga menunjukkan hasil yang tepat.
d. Ulangi langkah no.4 sampai dengan no. 8 dan catat hasilnya.

Perhitungan

Besarnya nilai output transmitter, secara perhitungan dapat dicari dengan rumus:
Output :
=

+ min. Range

+3

+3

Tugas
a.
b.

Mencatat data hasil percobaan dan masukan ke dalam tabel.


Membuat grafik hubungan antara input dan output.

Data hasil praktikum


Data kalibrasi sebelum adjusment
Input
H2O)

(inch

Persentase (%)

Output
Percobaan (psi)

Perhitungan (psi)

Error
(psi)

20

2.3

-0.7

40

25

5.1

-0.9

60

50

8.2

-0.8

80

75

11.4

12

-0.6

100

100

14.3

15

-0.7

Percobaan (psi)

Perhitungan (psi)

Error
(psi)

Data kalibrasi sesudah adjusment


Input
H2O)

(inc

Persentase (%)

Output

20

40

25

60

50

80

75

12

12

100

100

15

15

Grafik data kalibrasi sebelum adjustment

Grafik data kalibrasi sesudah adjustment

KALIBRASI PNEUMATIC LEVEL TRANSMITTER (DP CELL TRANSMITTER)


Buat yang belum tau aja ya pada dasarnya D/P Cell Pneumatic Level Transmitter
adalah Differential Cell Transmitter, yang bisa untuk mengukur ketinggian fluida
berdasarkan prinsip beda tekanan. Dalam hal ini menggunakan rumus P = gh. Sedangkan
transmitter sendiri adalah alat instrumen yang berfungsi untuk mengukur besaran proses
sehingga menghasilkan output berupa sinyal standar yang nilainya sebanding dengan besaran
yang diukur. Instrumen ini menggunakan sensor diafragma capsule yang tergantung range
pengukuran. Besaran-besaran fisis dari proses akan dikonversikan ke besaran sinyal standar
pneumatik 3-15 psi.

Cell Pneumatic level transmitter


Nah biasanya dalam sistem rangkaiannya seperti ini :

Langkah pengkalibrasian:

1. Langkah awal atur suplai udara dengan memutar regulator air supply sampai 20 Psi.
2. Atur regulator input sehingga level di water column pada posisi minimum (0 %). Liat
di pressure gauge output, catat pressure gauge output yang bagian sebelah kanan
3. Atur regulator input sehingga level di water column pada posisi maksimum (100 %).
4. Besarnya sinyal output transmitter, secara perhitungan dapat dicari dengan rumus :

Lalu hasilnya dapat dicatat dengan tabel seperti ini:

Semakin kecil errornya semakin bagus kalibrasi anda.

Cara Kalibrasi Level Meter Liquicap M

Liquicap M, adalah brand untuk level meter dari Endress Hauser. Sensor dengan
prinsip kerja kapasitif ini akan mengkonversi besaran nilai pengukuran kapasitansi dari stik
menjadi nilai level.
Secara prinsip kalibrasi hampir sama dengan level berbasis differensial pressure. Baik
untuk seting Zero ataupun span/full. Yaitu saat isi dalam tangki kosong. Set keluaran arus
menjadi 4mA atau 0%. Ini menjadi titik zero. Kemudian isi tangki (misal air) penuh sesuai
kapasitas tangki atau sesuai kebijakan masing-masing pengguna untuk penentuan isi
maksimal. Kemudian set keluaran arus menjadi 20mA atau 100%.
Untuk sensor level tipe Liquicap M ini. Cara kalibrasi sudah bisa dilakukan secara
digital. Melalui display panel yang disediakan. Caranya:

Saat tangki dalam kondisi kosong (ZERO). Masuk ke menu dengan menekan
ENTER, masuk ke BASIC SETUP, tekan ENTER. Untuk masuk ke menu Empty
Calibration, geser halaman dengan menekan panah ke bawah. Muncul halaman Empty
Calibration. Tampak pada halaman, nilai full dalam 100%, dan nilai kapasitansi dalam F.
Tekan ENTER, sorot CONFIRM CAL YES. Tekan ENTER. Zero Calibration selesai.
Isi penuh tangki sampai penuh (standar penuh disesuaikan standar masing-masing
perusahaan). Masuk ke menu Basic SETUP. Tekan ENTER, geser halaman sampai muncul
halaman FULL CALIBRATION. Tampak pada halaman, nilai full dalam 100%, dan nilai
kapasitansi dalam F. Tekan ENTER. Sorot CONFIRM CAL. YES. Full Calibration selesai.

BAB 4
KALIBRASI ALAT UKUR FLOW
Flow meter merupakan instrumen guna mengukur aliran dari suatu fluida baik
liquid ( liquid flowmeter), sludge ( sludge flow meter) maupun gas ( flow meter gas), baik
bertemperatur rendah hingga temperatur tinggi. Dalam memilih flow meter harus
disesuaikan dengan kondisi fluid dan fungsi flowmeter itu sendiri. Karakteristik dari fluida
yang diukur oleh flow meter sangat luas mulai dari tingkat corosive fluida dimana untuk
fluida yang tingkat keasamannya tinggi mungkin lebih cocok jika menggunakan
flowmeter dari bahan PVC / non logam.
Untuk fluida yang bertemperatur tinggi tentunya digunakan matrial lain. Begitu
juga untuk tingkat kepekatan matrial fluida jenis flow meter harus disesuaikan. Untuk
fluida yang diaplikasikan pada bahan makanan atau obat-obatan yang menuntut bahan
pipa dan bahan flowmeter yang harus food grade lebih cocok kalo dipakai stainles steel
SUS 316L. Dan untuk lingkungan yang corisive seperti di laut mungkin body dan flange
flow meter lebih pas jika menggunakan stainless steel.
Karena dibutuhkan ketelitian dan pemahaman akan karakteristik fluid serta
manfaatnya , serta cara kerja Flowmeter dan fungsi flow meter itu sendiri. Ada beberapa
variabel yang harus kita tentukan dalam MEMILIH FLOW METER pada saat penentuan
type flow meter dan model flowmeter yang cocok dengan aplikasi yang kita harapkan,
varibel pemilihan flow meter tersebut dapat dimasukan kedalam pertanyaan sebagai
berikut :
1. Jenis Fluid yang akan digunakan pada flow meter : gas, water, chemical, oil , liquid
gas, sludge, dll
2. Pengukuran flow meter hanya pada flow atau total fluid yang mengalir atau
kedua2nya
3. Viscosity dari fluid, Kebersihan/kekotoran dari fluid ( lumpur, banyak kotoran atau
bersih ) yang mengalir ke flow meter
4. Tujuan dari Flow meter : sebagai alat ukur flow, total volume, control, switch,
pengiriman sinyal electric yang berfungsi sebagai control ataupun data ke komputer
atau Hand phone lewat sms.
5. Perlu tidaknya display pada flow meter atau electronic signal out put or electrical out
put.

6. Besaran ( max dan min ) dari Flow rate, working Pressure, Temperature dari fluid
yang akan diukur flow meter
7. Perlu tidaknya sistem kedap air pada flow meter ( water proof) atau area yang
mudah terbakar atau explossive atau yang setandart
8. Penggunaan untuk bahan kimia dan makanan seperti tingkat keasaman dari fluid
atau perlu food grade untuk matrial flow meter yang sering digunakan di industry
obat atau makanan dan minuman.
9. Ukuran dari pipa dimana flow meter ini di install termasuk menggunakan sistem
sambungan flange atau ulir atau fitting
10. Sistem insatallasi flow meter : Vertical atau horizontal
11. Keterangan lain yang diperlukan dalam memilih jenis flow meter karena pada
dasarnya flow meter bisa dibuat/dipesan sesuai dengan keinginan pemesan (custom)
Flow meter mempunyai banyak jenis dan berdasarkan cara kerja dapat dibagi
dalam beberapa type:

Ultrasonic Flow Meter

Electromagnetic Flow Meter

Coriolis Flow Meter

Vortex Flow Meter

Impeller Flow Meter

Glass Tube Flow Meter

Sigh Gauge Flow Meter

Open Channel Flow Meter

Turbine FLow Meter

Thermal mass Flow Meter

Water Meter

Gas Meter

Oriffice Flow Meter

Oval Gear Meter

Fungsi Flowmeter
Flow meter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui adanya suatu aliran matrial
( liquid, gas, powder ) dalam suatu jalur aliran, dengan segala aspek aliran itu sendiri yaitu

kecepatan aliran atau flow rate dan total massa atau volume dari matrial yang mengalair
dalam jangka waktu tertentu atau sering disebut dengan istilah totalizer.
Dengan diketahuniya parameter dari aliran suatu matrial oleh alat ukur flow meter
yang dikirim berupa data angka dapat juga diteruskan guna menghasilkan aliran listrik atau
sinyal yang bisa digunakan sebagai input pada control atau rangkaian electric lainnya.
Cara Kerja Flowmeter
Pengukuran aliran fluida adalah sangat penting di dalam suatu industri proses seperti
kilang minyak (refinery), pembangkit listrik (power plant), industri kimia (petrochemical),
Industri pengolah limbah, Industri makanan dan minuman dan Industri Farmasi.
Pada industri proses seperti ini, memerlukan penentuan kuantitas dari suatu fluida
(liquid, gas, steam, powder) yang mengalir melalui suatu titik pengukuran, baik didalam
saluran yang tertutup maupun saluran terbuka (parit, sungail). Parameter aliran yang diukur
dapat berupa : laju aliran volume, laju aliran massa, kecepatan aliran. Instrumen untuk
melakukan pengukuran kuantitas aliran fluida ini disebut flow meter.

Aplikasi pengguanaan Flow Meter ini menpunyai cakupan yang cukup luas
pengembangnya seperti bagian dari sensor flow meter, interaksi sensor dan fluida melalui
penggunaan teknik penghitungan komputer (komputasi), transducers dan hubungannya
dengan unit pemprosesan sinyal (transmitter), serta penilaian dari keseluruhan sistem di
bawah kondisi lingkungan yang idel, kondisi mudah terendam air karena cuaca, kondisi
didaerah yang berbahaya dan mudah meledak serta pada lokasi laboratoriumataupun di
tempat tertutp lainnya,.
Flow meter mempunyai banyak sekali jenis, ukuran dan model, karena itu jenis flow

meter yang akan kita gunakan harus benar-benar disesuaikan denan kebutuhan aplikasi di
lapangan. Karena jika pemilihan jenis flow meter ini kurang tepat maka akan menimbulkan
biaya lebih tinggi baik karena umur dari flow meter itu sendiri maupun akurasi dari
pengukuran aliran fluida yang kurang tepat dimana akurasinya rendah.
Kalo mengamati cara kerja flow meter yang bermacam-macam sesuai dengan tipe flow meter
maka hal penting yang perlu di perhatikan seperti jenis fluida , kepekatan fluida, temperature,
keasaman cairan, working pressure, lingkungan yang explosion proof, bahkan kebersihan
fluida juga harus diinformasikan sebagai pertimbangan untuk menentukan jenis flow meter
yang sesuai.

Dari segi jenis fluida yang akan diukur oleh alat flow meter dibagi dalam 3 bagian
yaitu flow meter untuk fluida cair, fluida Gas dan fluida solid ( tepung, bubuk, pasir dan
lainnya).

Hampir semua jenis Flowmeter dapat digunakan untuk mengukur aliran fluida cair
dan beberapa jenis bisa digunakan untuk mengukur fluida gas ( Nitrogen, oksigen, udara
bertekanan, steam dan lainnya).
Sedangkan sistem pemasangan flow meters juga ada bebarapa jenis yaitu sistem inline
dimana pipa yang dilalui cairan harus dipotong, sitem insertin dimana pipa yang dialirin
fluida di lubangi dan tranducer dari flow meter dapat dimasukan dalam pipa yang telah
dilubangi tersebut dan sistem clamp on atau clip on dimana transducer dari flow meter cukup
di tempelkan disisi luar pipa.
Jenis dari sistem instalasi ini didasrkan pada kondidi lapangan dimana untuk aliran
fluida pada pipa yang sudah ada dengan tujuan untuk menurunkan biaya istallasi dan biaya
investasi flow meter. Karena untuk ukuran pipa yang besar dimana diameter diatas 10 Inchi
jenis flow meter yang installasinya dengan menggunakan insertion atau clamp on menjadi
pilihan dalam menurunkan biaya.
Jenis Installasi flow meters dengan Sistem Clamp on ini hanya dimiliki oleh jenis
Ultrasonic Flow Meter dimana transducer cukup di tempelkan disisi luar pipa dan diikat
dengan klem. Pada Pemakaian Ultrasonic flow meter jenis clamp on ada 3 ukuran tranducer
yaitu ukuran kecil, menengan dan besar.
Berdasarkan penggunaan Flow Meter di dunia industri yang didasrkan pada jenis
fluida, cara kerja, cara installasi, kondisi lapangan serta tujuan utama di pasang flow meter
dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Differential Pressure Flow Meters

Variable Area Flow Meters

Positive Displacement

Velocity Flow Meters

Mass Flow Meters

Kalibrasi Flow Meter


A. Flow Transmitter DP Cell Electronic type

Langkah kalibrasi pada Flow Transmitter DP Cell Electronic type adalah sebagai berikut:
a. Supply press pada low range dan adjust zero adjustment screw sampai pada op 4 mA,
b. Supply press pada high range dan adjust span screw sampai pada op 20 mA,
c. Ulangi step step tersebut sampai mendapatkan op 4 - 20 mA tanpa meng- adjust zero
span adjustment screw,
d. Supply pressure pada 50% pada full scale dan adjust linearity screw jika tersedia
dimana dibutuhkan pembacaan op 12 mA,
e. Ulangi sampai mendapatkan pembacaan yang benar.
B. Flow Transmitter DP Cell Electronic type
Langkah kalibrasi pada Flow Transmitter DP Cell Electronic type adalah sebagai berikut:
a. Supply press pada low range dan adjust zero adjustment screw sampai pada op 3 psi,
b. Supply press pada high range dan adjust span screw sampai pada op 15 psi,
c. Ulangi step step tersebut sampai mendapatkan op 3 - 15 psi tanpa meng- adjust zero
span adjustment screw,
d. Supply pressure pada 50% pada full scale dan adjust linearity screw jika tersedia
dimana dibutuhkan pembacaan op 9 psi,
e. Ulangi sampai mendapatkan pembacaan yang benar.
C. Kalibrasi Turbin Meter

Turbine Flow Meter

pada dasarnya adalah sebuah alat pengukur kecepatan yang

dikalibrasi untuk menunjukkan aliran volumetrik cairan atau gas yang mengalir dalam pipa.
Operasi flowmeter didasarkan pada kecepatan (kecepatan sudut) dari rotor bebas yang
menghasilkan hingga pada tingkat yang berbanding lurus dengan media.
Baling-baling rotor ( rotor blades) memotong medan magnet yang dibentuk oleh
bagian magnet permanen yang dipasang di unit pick-up dalam bodi flow meter.
Karena setiap rotor blade memotong medan magnet pulsa diinduksi dalam kumparan
unit pick-up. Sehingga Turbin flow meter menghasilkan jumlah pulsa yang justru sebanding
dengan setiap satuan volume aliran. Jumlah pulsa per satuan volume dihasilkan selama
kalibrasi dan disebut "faktor meter". Variasi faktor ini selama rentang aliran tertentu
didefinisikan sebagai linearitas.
Pulsa density (jumlah pulsa) per revolusi rotor tergantung pada jumlah baling-baling
(blades) pada rotor, namun meningkatkan kecepatan (density) pulsa dengan meningkatkan
jumlah baling-baling hanya mungkin dalam batas-batas tertentu. Dimana peningkatan
revolusi diperlukan cara lain artifisial menghasilkan output frekuensi tinggi .
Terlepas dari bagaimana ketat proses kontrol manufaktur dilakukan tidak mungkin
untuk secara akurat menghitung karakteristik meteran pada kalibrasi meteran. Ini berarti
bahwa meter harus dikalibrasi secara individual selama rentang arus yang diperlukan di

laboratorium.
Fasilitas kalibrasi Rockwin Hidraulic termasuk 500 mm dan 100 mm perpindahan
positif loop prover. Kapasitas aliran maksimum menjadi 3200 meter kubik per jam. Meter
sampai dengan 300 mm diameter nominal dapat dikalibrasi pada fasilitas ini. Amsal
dirancang dengan standar API saat ini dan memiliki pengulangan lebih baik dari 0,003%. Tes
telah disertifikasi secara independen oleh NABL Departemen ilmu pengetahuan dan
Teknologi, Pemerintah. dari India.
Faktor kalibrasi
Turbin meter kalibrasi konstan tergantung Reynolds Number. Artinya nilai yang
dapat berubah sebagai akibat dari perubahan viskositas dan perubahan laju aliran. Untungnya,
di Nomor Reynolds tinggi ketergantungan ini kecil, sehingga meminimalkan tingkat meteran
non linearitas.
Sebagai viskositas meningkat untuk ukuran tertentu dalam meter, batas bawah
kisaran aliran linear meningkat. Selain itu jumlah pulsa output per unit volume perubahan
sedikit pada

bagian linear dalam batas range. Efek ini berhubungan langsung dengan

bilangan Reynolds. Kondisi ini linearitas yang lebih baik diperoleh dengan memilih meter
untuk beroperasi pada akhir lebih tinggi dari kisaran alirannya.

Bagian Gambar potongan Turbine Flowmeter:


1. Body
2. Rotor sub assembly
3. Support plate
4. Support tube
5. Support Vane
6. Locking tab
7. Locking pin
8. Bearing housing
9. Junction Box/ Pre-Amp
Perhitungan Kalibrasi Flowmeter
Sebelumnya telah dianalisa prinsip dasar dan mekanisme kerja instrumen ukur
rotameter dan turbine flowmeter. Dari analisis tampak adanya pengaruh yang cukup
signifikan dari parameter fisik media yang diterapkan yaitu densitas serta viskositas fluida

yang difusikan dalam bentuk viskositas kinematik.


Parameter-parameter tersebut akan berpengaruh pada mekanisme sensor mekanis
yang digunakan, sehingga akan cukup berpengaruh pada besaran yang dihasilkan meter ukur
tersebut. Untuk memvalidasi analisis tersebut akan dilakukan pengukuran aktual dengan
menggunakan meter ukur tersebut dengan pengkondisian media yang diberikan cukup
berbeda. Pengukuran dilakukan pada instalasi kalibrasi yang telah dibahas pada bab III
sebelumnya. Dari hasil pengukuran tersebut lebih membuktikan kondisi hasil ukur yang
terjadi terhadap perubahan besaran fisik media kerja yang diterapkan.
Rotameter yang diambil datanya dipilih yang mampu diaplikasikan pada tekanan
tinggi. Meter yang akan dicek tersebut dilakukan pengukuran atau kalibrasi dengan cara
mengukur aliran aktual yang ditunjukan melaluhi perhitungan aliran pada orifice sebagai
standar atau kalibrator. Kondisi yang pertama diberikan pada flowmeter tersebut dengan
seting takanan kerja mendekati atmosfer (low pressure) dan suhu normal mendekati 20oC.
Pada seting aliran yang ditetapkan pada penunjukan grade rotameter tersebut dihitung aliran
aktual yang terjadi dari perhitungan orifice standar. Untuk ini dipilih beberapa titik seting
aliran pada rotameter pada rentang ukurnya.

Untuk kondisi yang lain diberikan seting

kondisi tekanan lebih tinggi yaitu sekitar 5 bar dengan seting suhu tidak berbeda. Dengan
seting titik aliran di rotameter yang sama dengan sebelumnya dilakukan pengukuran dan
perhitungan aliran aktual yang terjadi melaluhi perhitungan kalibrator orifice yang
digunakan. Adapun selanjutnya dari data yang didapat dilakukan kajian dan evaluasi.
Dengan prosedur pengambilan data yang sesuai dengan bahasan pada bab III
sebelumnya maka telah didapatkan data-data hasil pengukuran dan hasil pengolahannya.
Selanjutnya diberikan analisa kedua hasil pengolahan data kalibrasi rotameter tersebut dalam
tabel perbandingan dan grafik.
Sesuai dengan analisa pada rotameter, yaitu rapat masa media yang difusikan dalam
bentuk viskositas kinematik mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap besarnya drag
force, hal ini terbukti pada kondisi pengukuran sebenarnya. Dari hasil kalibrasi rotameter
tersebut bisa dilihat pengaruh yang cukup signifikan pada perbedaan kondisi yang diterapkan
pada meter tersebut (tabel 4.2). Dari pengujian flowmeter pada tekanan yang lebih tinggi
(sekitar 5 bar) untuk seting laju aliran yang sama perubahan densitas ( ), berpengaruh cukup
signifikan pada drag force dan buoyant force.

Perubahan tersebut selanjutnya akan

mempengaruhi aliran yang terukur. Dari data yang didapatkan juga bisa dilihat adanya
perbedaan dalam laju aliran massa (mass flowrate) dan laju aliran volume(volume flowrate).
Dengan adanya kenaikan tekanan maka aliran volume yang terukur akan semakin kecil

karena faktor perubahan densitas dan viskosiatas kinematiknya. Demikian sebaliknya yang
terjadi untuk aliran masanya. Selanjutnya bisa dilihat prosentase berubahan yang terjadi
dalam bentuk aliran volume untuk kedua kondisi yang berbeda pada tiap seting titik aliran :

Untuk perbandingan dalam grafik dari kedua jenis data tersebut bisa dilihat pada
gambar 4.1:

Adanya perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa perlunya diberikan suatu faktor


koreksi atau pendekatan terhadap media aktualnya pada suatu proses kalibrasi maupun
pemakaian rotameter gas. Apalagi untuk kebutuhan akurasi yang tinggi untuk meter ukur
yang bersangkutan.

Akhirnya dari analisis mekanisme kerja dan pengukuran yang dilakukan bisa
disimpulkan bahwa sifat properties fluida yang diterapkan pada flowmeter cukup
mempengaruhi kinerja dari kedua jenis sensor yang digunakan yaitu turbine dan floating yang
selanjutnya akan berpengaruh pada akurasi penunjukan alat tersebut. Salah satu besaran yang
merupakan sifat properties fluida yang cukup besar pengaruhnya adalah vioskositas
kinematik ( ) yang dihasilkan dari besaran viskositas dinamik ( ) dan rapat massa ( ).
Karena pengaruh kondisi pemakaian kerja dan dan fluida yang berbeda kalibrasi
flowmeter gas dilakukan dengan melakukan pendekatan terhadap viskositas kinematik ( )
yang terjadi pada media kalibrasinya, untuk memperoleh tekanan kerjanya. Dengan suhu
yang ditetapkan, tekanan yang diaplikasikan pada proses kalibrasi tersebut yaitu :

Kalibrasi flowmeter gas sebaiknya mudah diterapkan dan mampu mengcover rentang
pemakaian yang cukup lebar untuk kondisi pemakaian dilapangan, sehingga dapat dilakukan
dengan membuat kurva atau grafik kalibrasi yang sifatnya umum ( universal calibration
curve), yaitu yang dibangun dari :
A.

Floating flowmeter (rotameter), kurva dibangun dari penunjukan aliran aktual, Q (l/min)
sebagai fungsi penunjukan meter ukur (grade) untuk beberapa kondisi pemakaian
tekanan atau dibuat grafik meter coefficient (Cm) sebagai fungsi dari bilangan reynold
dibagi meter coefficient.

B.

Turbine flowmeter, kurva dibangun dari k-factor (pulsa/unit volume) sebagai fungsi dari
penunjukan frekuensi meter ukur dibagai viskositas kinematik. Seri kurva ini bisa
dibuat dalam berbagai kondisi iskositas kinematikya.

Hasil perbandingan dari beberapa mekanisme pengukuran dan perhitungan dihasilkan:

Kalibrasi rotameter dengan penyesuaian tekanan kerja kalibrasi dengan tekanan kerja
pemakaian dibanding dengan metode perbandingan densitas, menghasilkan nilai aliran

dengan tingkat perbedaan rata-rata yang cukup kecil yaitu 8,5 % (Qh) dan cukup stabil
yaitu dengan nilai sebaran selisihnya 1,7 % (Qh) jika di bandingkan dengan
penunjukan aliran untuk turbine flowmeter .

Pengujian pada kalibrasi rotameter dengan media berbeda dihasilkan:

Kalibrasi turbine flowmeter dengan penyesuaian tekanan kerja kalibrasi dengan tekanan
kerja pemakaian dibanding dengan metode perbandingan densitas, menghasilkan nilai
aliran dengan tingkat perbedaan rata-rata yang cukup besar yaitu 66,9 % (Qh) dan
kurang stabil yaitu dengan nilai sebaran selisihnya 19,6 % (Qh) jika di bandingkan
dengan penunjukan aliran untuk rotameter .

Pengujian pada kalibrasi turbine flow dengan media berbeda dihasilkan:


Tabel 5.2. Perbandingan aliran turbine flowmeter pada 3 metode pengujian.

Dari analisa hasil perbandingan untuk kedua jenis flowmeter gas pada berbagai metode
pengukuran didapatkan :
A. Rotameter
Pengaruh viskositas kinematik fluida yang diterapkan sangat berpengaruh dalam
menetukan besarnya aliran yang dihasilkan oleh meter ukur tersebut. Dari 2 hasil

pengukuran pada perbedaan tekanan 5 bar g, rata-rata perbedaan densitas, yang


dihasilkan 5,737 Kg/m3 dan rata-rata perbedaan aliran volume,Q -8,757 l/min atau
-54,5 % (Q atm).
Kalibrasi dengan menerapkan pendekatan viskositas kinematik pada media
kalibrasi ada sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan pengujian dengan media
sebenarnya yaitu menghasilkan nilai rata-rata dari perbedaan aliran,Q 0,156 l/min atau
3,2 % dari (Q(air)) dan mempunyai sebaran nilai selisih yg cukup stabil dengan deviasi
0,043 l/min atau 0,5 % dari (Q(air) ).
Perhitungan aliran dengan metode pendekatan perbandingan kondisi densitas
media, (teoritis) memungkinkan diterapkan pada flowmeter jenis ini, hal ini bisa dilihat
pada stabilitas nilai selisih yang diberikan dibandingkan dengan metode pendekatan
viskositas kinematik hasil pengukuran yang cukup bagus yaitu dengan deviasi 0,153
l/min atau 1,4 % dari (Qb(act) ) dan mempunyai nilai rata-rata selisih yang cukup
kecil yaitu 0,707 l/min atau 13,4 % dari (Qb(act) ).
B. Turbin Fowmeter
Pengaruh viskositas kinematik fluida yang diterapkan tidak banyak berpengaruh
dalam menetukan besarnya aliran yang dihasilkan oleh meter ukur tersebut jika
dibandingkan jenis rotameter. Dari 2 hasil pengukuran pada perbedaan tekanan 5 bar
g,

rata-rata perbedaan densitas, yang dihasilkan

4,485 Kg/m3

dan rata-rata

perbedaan aliran volume,Q -0,157 l/min atau -7,8 % (Q atm).


Kalibrasi dengan menerapkan pendekatan viskositas kinematik pada media
kalibrasi menghasilkan nilai aliran yang lebih mendekati pengujian dengan media
sebenarnya jika dibandingkan jenis rotameter yaitu menghasilkan nilai rata-rata dari
perbedaan aliran,Q -0,129 l/min atau -0,7 % dari (Q(air)) dan mempunyai sebaran
nilai selisih yang cukup stabil juga dengan deviasi 0,190 l/min atau 0,7 % dari
(Q(air) ).
Perhitungan aliran dengan metode pendekatan perbandingan kondisi densitas
media, (teoritis) tidak memungkinkan diterapkan pada flowmeter jenis ini, hal ini bisa
dilihat pada stabilitas nilai selisih yang diberikan dibandingkan dengan metode
pendekatan viskositas kinematik hasil pengukuran yang kurang bagus yaitu dengan
deviasi 8,329 l/min atau 24,4 % dari (Qb(act) ) dan mempunyai nilai rata-rata
selisih yang cukup besar yaitu 15,385 l/min atau 81,0 % dari (Qb(act) ).