Anda di halaman 1dari 118

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA

DI PIT 1 PT DEWA RUCI MANDIRI, KECAMATAN


SEBUKU, KABUPATEN NUNUKAN UTARA,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI

Oleh :

ADHITYA ANGGA WIJAYA


NPM : 112090151

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2014

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA


DI PIT 1 PT DEWA RUCI MANDIRI, KECAMATAN
SEBUKU, KABUPATEN NUNUKAN UTARA,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI
Disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik dari
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Oleh :

ADHITYA ANGGA WIJAYA


NPM : 112090151

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2014

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA


DI PIT 1 PT DEWA RUCI MANDIRI, KECAMATAN
SEBUKU, KABUPATEN NUNUKAN UTARA,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA

Oleh :

ADHITYA ANGGA WIJAYA


NPM : 112090151

Disetujui untuk
Program StudiTeknik Pertambangan
Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
Tanggal : 26 Agustus 2014

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dr.Ir. Waterman SB.MT

Ir. Yanto Indonesianto.MSc

The terms, the mining plan, and final pit limits should not be taken seriously. Prices change, cost
change, desired production changes, and new information may be obtained about the ore-body
~DONALD K. GILL SURFACE MINING~

RINGKASAN

PT Dewa Ruci Mandiri (PT DRM) memiliki luas WIUP Operasi Produksi I
(581Ha) dan II (149,9Ha). Berdasarkan kegiatan penambangan yang telah
dilakukan oleh PT DRM di WIUP I, jumlah cadangan batubara sudah semakin
menipis, oleh karena itu PT DRM akan melanjutkan kegiatan penambangan di
daerah penelitian yaitu pit 1 WIUP II, sehingga dibutuhkan suatu rancangan teknis
penambangan dengan stripping ratio (SR) maksimum13:1 yang dapat memenuhi
target produksi batubara sebesar 15.000ton/bulan serta jumlah peralatan mekanis
yang digunakan.
Metode penelitian meliputi studi literatur melalui buku-buku dan arsip
perusahaan (laporan studi kelayakan); penelitian di lapangan untuk memperoleh
data eksplorasi, pemboran dan peralatan mekanis; pengolahan data menggunakan
software minescape dan melakukan perhitungan kebutuhan alat mekanis.
Penelitian ini menghasilkan rancangan penambangan dengan cadangan
batubara 135.684ton, overburden 1.476.511bcm dan SR rata-rata 11:1. Rencana
kegiatan penambangan dilakukan selama 9 bulan dengan rincian: bulan ke-1,
pengupasan overburden sebesar 187.229bcm dan batubara yang diambil sebesar
16.272ton dengan SR 12:1; bulan ke-2, pengupasan overburden sebesar
187.339bcm dan batubara yang diambil sebesar 15.491ton dengan SR 12:1; bulan
ke-3, pengupasan overburden sebesar 193.318bcm dan batubara yang diambil
sebesar 15.857ton dengan SR 12:1; bulan ke-4, pengupasan overburden sebesar
181.316bcm dan batubara yang diambil sebesar 15.903ton dengan SR 11:1; bulan
ke-5, pengupasan overburden sebesar 165.930bcm dan batubara yang diambil
sebesar 16.184ton dengan SR 10:1; bulan ke-6, pengupasan overburden sebesar
162.362bcm dan batubara yang diambil sebesar 14.921ton dengan SR 11:1; bulan
ke-7, pengupasan overburden sebesar 154.373bcm dan batubara yang diambil
sebesar 15.219ton dengan SR 10:1; bulan ke-8, pengupasan overburden sebesar
154.755bcm dan batubara yang diambil sebesar 15.264ton dengan SR 10:1; bulan
ke-9, pengupasan overburden sebesar 89.889bcm dan batubara yang diambil
sebesar 10.573ton dengan SR 9:1.
Pengupasan dan pengangkutan overburden pada bulan ke-1 sampai bulan
ke-4 menggunakan 5 backhoe PC400LCSE-7 dan 17 dumptruck Nissan 320CWB,
pada bulan ke-5 menggunakan 4 backhoe PC400LCSE-7 dan 17 dumptruck
Nissan 320CWB, pada bulan ke-6 sampai bulan ke-9 menggunakan 4 backhoe
PC400LCSE-7 dan 15 dumptruck Nissan 320CWB. Penggalian dan pengangkutan
batubara menggunakan 1 backhoe PC200-7SEF dan 5 dumptruck Nissan
320CWB.
Analisis dari hasil penelitian dilakukan dan dapat diambil kesimpulan yaitu:
arah kemajuan penambangan dari selatan ke utara; target produksi pada bulan ke6 belum tercapai; terdapat waktu tunggu pada backhoe PC200-7SEF; alat gali dan
muat overburden sudah serasi.
iv

ABSTRACT

PT Dewa Ruci Mandiri (PT DRM) is a private national coal mining


company which is located in Sub-district of Sebuku, District of North Nunukan,
Province of North Kalimantan with first mining consesion area 581ha and second
consesion area 149.9ha. PT DRM will continue mining activities to the second
consesion mining area specifically pit 1 which is research area, because coal
reserve in first mining consesion area is getting slight. In order to mine second
consesion area, mine plan design with average stripping ratio 13:1 to reach coal
production 15,000ton/month and the number of heavy equipment is needed.
Research methods include literature study from books and feasibility study
of PT DRM; field research to obtain exploration data, coring data, and heavy
equipment; data processing are using software minescape and heavy equipment
calculation.
Result of this research are mine plan design with coal reserve 135,684ton,
overburden 1,476,511bcm, and average stripping ratio 11:1. Mining activities will
be conducted in 9 months with details of first month stripping overburden
187,229bcm, coal production 16,272ton, and stripping ratio 12:1; second month
stripping overburden 187,339bcm, coal production 15,491ton, and stripping ratio
12:1; third month stripping overburden 193,318bcm, coal production 15,857ton,
and stripping ratio 12:1; fourth month stripping overburden 181,316bcm, coal
production 15,903ton, and stripping ratio 11:1; fifth month stripping overburden
165,930bcm, coal production 16,184ton, and stripping ratio 10:1; sixth month
stripping overburden 162,362bcm, coal production 14,921ton, and stripping ratio
11:1; seventh month stripping overburden 154,373bcm, coal production
15,219ton, and stripping ratio 10:1; eighth month stripping overburden
154,755bcm, coal production 15,264ton, and stripping ratio 10:1; ninth month
stripping overburden 89,889bcm, coal production 10,573ton, and stripping ratio
9:1.
Overburden stripping and hauling from first to fourth month is using 5
backhoe PC400LCSE-7 and 17 dumptruck Nissan 320CWB, fifth month is using
4 backhoe PC400LCSE-7 and 17 dumptruck Nissan 320CWB, from sixth to ninth
month is using 4 backhoe PC400LCSE-7 and 15 dumptruck Nissan 320CWB.
Coal loosening and hauling is using 1 backhoe PC200-7SEF and 5 dumptruck
Nissan 320CWB. Soil dozing in wastedump use 1 buldozer Komatsu D155AX-5.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat-Nya, sehingga penyusunan skripsi dengan judul
Rancangan Teknis Penambangan Batubara Pada PT Dewa Ruci Mandiri Di Pit
1 Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan Utara Kalimantan Utara ini dapat
diselesaikan.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknik pada Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Skripsi ini disusun berdasarkan data dan informasi hasil penelitian di PT
Dewa Ruci Mandiri, Nunukan Utara, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan
dari tanggal 1 April sampai 30 April 2013.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak
universitas, antara lain :
1.

Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti, M.Sc, selaku Rektor Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta.

2.

Dr. Ir. Dyah Rini Ratnaningsih, MT, selaku Dekan Fakultas Teknologi
Mineral.

3.

Ir. Inmarlinianto, MT, selaku Ketua Program Studi Teknik Pertambangan

4.

Dr.Ir. Waterman, SB, MT, selaku Dosen Pembimbing I

5.

Ir. Yanto Indonesianto, MSc, selaku Dosen Pembimbing II.


Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya di bidang pertambangan.


Yogyakarta, 22 Agustus 2014

Penulis,

Adhitya Angga Wijaya


vi

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................

vi

DAFTAR ISI...............................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

ix

DAFTAR TABEL.......................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................

xi

BAB
I

II

PENDAHULUAN ...........................................................................

1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.

Latar Belakang ........................................................................


Tujuan Penelitian ....................................................................
Batasan Permasalahan.............................................................
Metode Penelitian....................................................................
Manfaat Penelitian ..................................................................

1
2
2
2
3

TINJAUAN UMUM .........................................................................

2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
III

IV

Lokasi dan Kesampaian Daerah..............................................


Keadaan Iklim .........................................................................
Keadaan Geologi Daerah Penelitian .......................................
Kondisi Umum Daerah Penelitian ..........................................

4
6
6
10

DASAR TEORI ................................................................................

11

3.1. Penaksiran Cadangan Menggunakan Perangkat Lunak


Minescape ...............................................................................
3.2. Rancangan Teknis Penambangan............................................
3.3. Rancangan Timbunan..............................................................
3.4. Rancangan Jalan Angkut ........................................................
3.5. Penjadwalan Produksi .............................................................
3.6. Peralatan Mekanis ...................................................................

11
14
19
23
28
29

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN..................................

33

4.1. Penaksiran Cadangan ..............................................................


4.2. Rancangan Teknis Penambangan............................................

33
36

vii

4.3
4.4.
4.5
4.6.
V

Rancangan Penimbunan .........................................................


Rancangan Jalan Angkut.........................................................
Penjadwalan Produksi Batubara dan Overburden...................
Kebutuhan Peralatan Mekanis.................................................

39
41
46
51

PEMBAHASAN ...............................................................................

55

5.1. Penaksiran Cadangan dan Penentuan Arah Penambangan ......


55
5.2. Pengaruh Rancangan Penambangan Terhadap Rencana
Produksi Batubara ....................................................................
57
5.3. Kebutuhan dan Keserasian Alat Mekanis ................................... 59
VI

KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................


6.1.
6.2.

61

Kesimpulan ...........................................................................
61
Saran......................................................................................... 61

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

62

LAMPIRAN ...............................................................................................

63

viii

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR

Halaman

2.1

Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian .........................

2.2

Grafik Curah Hujan Rata-Rata 2003-2012 ...................................

2.3

Grafik Jumlah Hari Hujan Rata-Rata 2003-2012 .........................

2.4

Peta Geologi Wilayah Penelitian .................................................

2.5

Stratigrafi Wilayah Penelitian ......................................................

3.1

Triangulasi Topografi ..................................................................

12

3.2

Prisma-Prisma Triangular ............................................................

13

3.3

Metode Strip Mining ....................................................................

15

3.4

Bagian-Bagian Jenjang ................................................................

17

3.5

Working Bench dan Safety Bench ................................................

18

3.6

Overall Slope Angle .....................................................................

18

3.7

Penggambaran Crest dan Toe ......................................................

19

3.8

Valley Fill atau Crest Dump ........................................................

21

3.9

Terrace Dump ..............................................................................

22

3.10 Down Hill Dozing ........................................................................

22

3.11 Float Dozing ................................................................................

23

3.12 Trench Dozing ..............................................................................

23

3.13 Rancangan Lebar Jalan Angkut Dua Jalur ...................................

24

3.14 Lebar Jalan pada Tikungan ..........................................................

24

3.15 Kemiringan Melintang (Cross Slope) pada Jalan ........................

27

3.16 Kemiringan Jalan Angkut pada Tanjakan ....................................

28

4.1

Penampang Endapan Batubara ....................................................

35

4.2

Dimensi Lereng Penambangan ....................................................

37

4.3

Dimensi Lereng Timbunan ..........................................................

40

5.1

Blok Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan ..............................

56

ix

DAFTAR TABEL

TABEL

Halaman

3.1

Radius Tikungan Minimum ..........................................................

26

3.2

Angka Superelevasi yang Direkomendasikan ..............................

27

3.3

Fill factor ......................................................................................

29

3.4

Job Efficiency Excavator ..............................................................

30

4.1

Penjadwalan Produksi Batubara dan Overburden ........................

42

4.2

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 1.......

43

4.3

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 2.......

44

4.4

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 3.......

45

4.5

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 4.......

46

4.6

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 5.......

47

4.7

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 6.......

48

4.8

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 7.......

49

4.9

Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 8.......

50

4.10 Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 9.......

51

4.11 Jenis Peralatan Tambang ..............................................................

52

4.12 Waktu Kerja Alat/Bulan ..............................................................

52

4.13 Produksi dan Kebutuhan Peralatan Mekanis ...............................

53

5.1

Rencana Produksi Batubara dan Overburden ..............................

57

5.2

Hubungan Kebutuhan Alat Mekanis dan Match Factor ..............

59

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
A.

Halaman

DATA PEMBORAN EKSPLORASI BATUBARA


DI WIUP 149HA PT DEWA RUCI MANDIRI ...............................

B.

64

REKOMENDASI GEOTEKNIK UNTUK JENJANG


PENAMBANGAN DAN PENIMBUNAN PT DRM .......................

66

C.

SPESIFIKASI ALAT GALI DAN MUAT ......................................

67

D.

SPESIFIKASI ALAT ANGKUT .....................................................

69

E.

SPESIFIKASI ALAT GUSUR .........................................................

71

F.

RANCANGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ...........................

72

G.

LEBAR MINIMUM FRONT PENAMBANGAN ...........................

77

H.

PERHITUNGAN WAKTU KERJA TAMBANG ...........................

79

I.

PERHITUNGAN PENGEMBANGAN MATERIAL ......................

81

J.

PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT MUAT


DAN ALAT ANGKUT BATUBARA .............................................

K.

83

PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT MUAT


DAN ALAT ANGKUT OVERBURDEN .........................................

85

L.

PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT MUAT ................................

87

M.

PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT ANGKUT ...........................

89

N.

PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT GUSUR ...............................

92

O.

PERHITUNGAN FAKTOR KESERASIAN (MATCH FACTOR) ..

93

P.

PETA TOPOGRAFI DAERAH PENELITIAN................................

94

Q.

PETA LOKASI TITIK BOR DAERAH PENELITIAN ...................

95

R.

PETA KONTUR STRUKTUR FLOOR SEAM F ............................

97

S.

PETA RESGRAPHIC PENAKSIRAN SUMBERDAYA ................

98

T.

PETA RESGRAPHIC PENAKSIRAN CADANGAN .....................

99

U.

PETA RANCANGAN PENAMBANGAN ......................................

100

V.

PENAKSIRAN CADANGAN DAN PENJADWALAN


PRODUKSI ......................................................................................

xi

101

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
PT Dewa Ruci Mandiri (PT DRM) merupakan perusahaan swasta nasional

yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Berdasarkan Surat Keputusan


Bupati Nunukan nomor 188.45/70/II/2012 tentang persetujuan peningkatan Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi
Produksi pada tanggal 21 Februari 2012 dengan kode wilayah KWP13 6405 3 03
2010 031, PT Dewa Ruci Mandiri memiliki Wilayah Ijin Usaha Pertambangan
(WIUP) Operasi Produksi seluas 149,9Ha yang berlokasi di Desa Sebakis,
Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan Utara, Provinsi Kalimantan Utara.
Berdasarkan hasil survei lapangan dan kegiatan pemboran eksplorasi
dijumpai seam batubara sebanyak satu seam, yaitu seam F dengan ketebalan
berkisar antara 0,32-1,48m dengan arah umum penyebaran relatif selatan-utara,
dengan kemiringan (dip) 8-150 ke arah timur, dan memiliki nilai kalori 7.2827.344kal/gr (adb). Litologi yang ditemukan di daerah penelitian sebagian besar
berupa perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara.
Berdasarkan Peta Geologi Regional areal konsesi PT Dewa Ruci Mandiri
termasuk dalam Formasi Meliat dan Formasi Naintupo.
Berdasarkan hasil penambangan yang telah dilakukan oleh PT Dewa Ruci
Mandiri pada WIUP I (581Ha), jumlah cadangan Batubara yang dimiliki pada
wilayah tersebut sudah semakin menipis, oleh karena itu PT Dewa Ruci Mandiri
akan melanjutkan penambangan pada daerah penelitian yaitu WIUP II (149,9Ha)
dimulai dari pit 1, sehingga dibutuhkan suatu rancangan penambangan yang
terencana dan terarah. Rancangan teknis penambangan ini nantinya akan dipakai
sebagai acuan dalam operasi penambangan, yang meliputi kegiatan land clearing,
pengupasan lapisan penutup (overburden), penggalian batubara, dan penimbunan
overburden (waste dump).
1

1.2

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah :

1)

Membuat suatu rancangan teknis penambangan batubara dengan nilai


striping ratio rata-rata 13:1 berdasarkan model geologi batubara.

2)

Membuat

penjadwalan

produksi

batubara

pada

bentuk-bentuk

penambangan (mineable geometries) yang mampu memenuhi target


produksi sebesar 15.000ton/bulan.
3)

Menghitung kebutuhan alat muat dan angkut per bulan berdasarkan target
produksi 15.000ton/bulan.

1.3

Batasan Masalah
Perancangan teknis penambangan batubara ini memiliki batasan masalah :

1)

Perancangan teknis penambangan hanya dilakukan di pit 1 pada seam


batubara yang memiliki ketebalan 0,5m.

2)

Bulan 1-5 overburden akan ditimbun dengan metode crest dump di pit 9
areal konsesi 581Ha dengan jarak 500m dari lokasi daerah penelitian,
perancangan timbunan overburden dilakukan pada bulan 6-9.

3)

Jenis peralatan mekanis yang digunakan sesuai dengan inventaris PT


Dewa Ruci Mandiri yaitu backhoe PC400LCSE-7, backhoe PC200-7SEF,
dumptruck Nissan 320CWB, dan bulldozer Komatsu D155AX-5.

4)

Perancangan sistem penyaliran tidak dilakukan.

5)

Analisis yang dilakukan dibatasi oleh lingkup teknis dan tidak


menganalisis segi ekonomi serta lingkungan.

1.4

Metode Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan adalah:

1)

Studi Literatur
Studi literatur yang dilakukan dengan mempelajari teori-teori yang
berhubungan dengan perancangan dan peralatan mekanis melalui bukubuku dan arsip perusahaan (laporan studi kelayakan).

2)

Pengumpulan data lapangan


Data yang diperoleh berupa data primer yang merupakan data yang
diambil langsung dari pengukuran dan pengamatan di lapangan meliputi

data singkapan batubara dan waktu edar alat mekanis dan data sekunder
seperti data curah hujan, peta topografi dan geologi regional, laporan
pelaksanaan pemboran dan data pemboran eksplorasi.
3)

Pengolahan data yaitu:


a) Membuat model topografi (peta topografi).
b) Melakukan

intepretasi

dan

korelasi

data

lubang bor

dengan

menggunakan perangkat lunak minescape dan auto cad.


c) Melakukan

pemodelan

geologi

lapisan

batubara

menggunakan

perangkat lunak minescape.


d) Menyeleksi wilayah penambangan yang memiliki nilai SR13:1
menggunakan perangkat lunak minescape.
e) Perhitungan produksi alat muat dan alat angkut.
4)

Analisis hasil pengolahan data yaitu:


a) Analisis penaksiran cadangan batubara menggunakan perangkat lunak
minescape.
b) Analisis penjadwalan produksi batubara sesuai target produksi dan
stripping ratio menggunakan perangkat lunak minescape.
c) Analisis kebutuhan dan keserasian alat muat dan alat angkut.

5)

Kesimpulan
Membuat sebuah kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan.

1.5

Manfaat Penelitian
Menghasilkan suatu rancangan teknis penambangan batubara yang aman,

terencana dan terarah dan diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam
melakukan kegiatan penambangan sehingga target produksi dengan nilai stripping
ratio yang diinginkan dapat tercapai.

BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1

Lokasi dan Kesampaian Daerah7)


Daerah penelitian berada di atas Wilayah Izin Usaha Pertambangan

(WIUP) Operasi Produksi seluas 149,9Ha. Secara administrasi daerah kegiatan


penelitian termasuk dalam wilayah Desa Sebakis diantara Desa Sekikilan dan
Desa Semunad, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan Utara, Provinsi
Kalimantan Utara dan berbatasan langsung dengan Desa Kalun Sayan pada bagian
utara, Desa Pembeliangan pada bagian timur, Desa Tetaban pada bagian barat,
dan Desa Apas pada bagian selatan. Secara astronomis terletak pada: 4550,5
4655,9LU

dan

1171041,431171153,04BT

(lihat

Gambar

2.1).

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nunukan nomor 188.45/70/II/2012 tentang


persetujuan peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi menjadi Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi pada tanggal 21 Februari 2012 dengan kode
wilayah KWP13 6405 3 03 2010 031.
Wilayah penelitian yang berada di Provinsi Kalimantan Utara ini dapat
ditempuh dari Jakarta melalui rute sebagai berikut:
a.

dengan menggunakan pesawat udara dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta


menuju Bandara Sepinggan Balikpapan dalam waktu kurang lebih 2 jam,

b.

perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat udara dari Bandara


Sepinggan Balikpapan menuju ke Bandara Juwata Tarakan dengan waktu
tempuh kurang lebih 1 jam,

c.

dari Bandara Juwata Tarakan dilanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tarakan


dan melalui jalur air menuju ke Pelabuhan Nunukan dengan menggunakan
speedboat, rute ini ditempuh selama 3 jam,

d.

selanjutnya dari Pelabuhan Nunukan menuju Sungai Sebakis (jetty PT


Dewa Ruci Mandiri) ditempuh selama 1 jam menggunakan speedboat,

e.

dilanjutkan dengan perjalanan darat sejauh 9km dengan waktu tempuh


15menit menuju ke wilayah penelitian.
4

Gambar 2.1
Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian
5

2.2

Keadaan Iklim7)
Daerah penelitian mempunyai iklim tropis sangat basah dengan suhu rata-

rata 27-300C. Berdasarkan data curah hujan tahunan dari stasiun meteorologi dan
geofisika, iklim di wilayah penelitian adalah termasuk tipe A (sangat basah).
Curah hujan rata-rata per tahun pada periode 2003-2012 sebesar
207,76mm/tahun, sedangkan rata-rata curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada
bulan Mei yaitu 305,19mm/bulan, sedangkan rata-rata bulanan terendah terjadi
pada bulan Februari sebesar 127,8mm/bulan (lihat Gambar 2.2 dan Gambar 2.3).
350

Curah hujan

300
250
200
150
100
50
0
Jan

Feb Mar April Mei Juni

Juli Agust Sept Okt Nov Des

Sumber : BMKG Kabupaten Nunukan-Kalimantan Timur

Gambar 2.2
Grafik Curah Hujan RataRata Tahun 2003 2012
25

Hari hujan

20
15
10
5
0
Jan

Feb

Mar April Mei Juni

Juli Agust Sept Okt

Nov

Des

Sumber : BMKG Kabupaten Nunukan-Kalimantan Timur

Gambar 2.3
Grafik Jumlah Hari Hujan RataRata Tahun 2003 2012
2.3

Keadaan Geologi Daerah Penelitian7)

2.3.1 Fisiografi.
Keadaan morfologi daerah penelitian terdiri dari morfologi perbukitan
gelombang lemah dan perbukitan bergelombang sedang-kuat dengan satu sungai
utama yang mengalir dari barat ke timur yaitu Sungai Sebakis. Morfologi
6

perbukitan gelombang lemah pada umumnya ditemui di bagian selatan daerah


penelitian dengan ketinggian berkisar 36-63meter dari permukaan laut.
Lokasi pertambangan batubara PT Dewa Ruci Mandiri sebagian besar
arealnya merupakan hutan sekunder tua, hutan sekunder muda dan sebagian besar
merupakan areal Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan jenis tanaman fast
growing species seperti jenis Acacia mangium.
2.3.2 Stratigrafi.
Berdasarkan pengamatan hasil pengeboran di lapangan dan mengacu pada
ciri stratigrafi regional, maka seluruh daerah penyelidikan termasuk dalam
Formasi Meliat (Tmm) dan Formasi Naintupo (Tomn) (lihat Gambar 2.4). Adapun
Formasi Meliat dan Formasi Naintupo dapat diuraikan sebagai berikut:
1.

Formasi Meliat (Tmm).


Formasi ini terdiri dari perselingan batupasir, batulempung dan serpihan
dengan sisipan batubara, berstruktur lapisan, bioturbasi dan mengandung
bintal batugamping, kandungan fosil terdiri dari Globigerina bullodes
obliquus, Opercilna sp, Flosculinella bernensis, berumur Miosen Tengah
(Purnamaningsih, 1990). Formasi ini diduga diendapkan pada lingkungan
laut dangkal sampai delta atau paralik, dengan ketebalan 100-800 meter.
Formasi Meliat ditindih selaras oleh Formasi Tabul (lihat Gambar 2.5).

2.

Formasi Naintupo (Tomn).


Formasi ini terdiri dari perselingan napal, batupasir, dan batulempung
dengan sisipan batugamping dan konglomerat. Kandungan fosil terdiri dari
Foraminifera besar dan kecil yaitu Lepidocyclina sp, (Eulepidina)
Ephipiodes Jones, dan Chapman, Lepidocyclina sp, Spiroclypeus
Margartiatus (Schlumberger), Operculina sp, Lepidocyclina Sumatrensis
Brady, Cycloclypeus sp, Amphistegina sp, Globigerina CF Selli dan
Eponides. Formasi ini berumur Oligosen-Miosen Awal dan diendapkan di
daerah laut dangkal (Purnamaningsih, 1990). dengan ketebalan sekitar
500-700 meter. Lokasinya di Naintupo daerah Tidung, Sebuku Kalimantan
Utara. Formasi ini ditindih secara selaras oleh
Gambar 2.5).

Formasi Meliat (lihat

Gambar 2.4
Peta Geologi Wilayah Penelitian
Kemungkinan adanya lapisan batubara di daerah diperoleh berdasarkan informasi
dari singkapan yang diperoleh di lapangan. Pemetaan geologi permukaan di
daerah penelitian belum dilakukan secara detil. Kegunaan peta geologi adalah

untuk mengetahui secara jelas struktur geologi yang berkembang, sehingga


memudahkan untuk perancangan tambang terutama untuk rancangan kemantapan
lereng.

Sumber : Laporan Studi Kelayakan PT. Dewa Ruci Mandiri

Gambar 2.5
Stratigrafi Wilayah Penelitian
2.3.3 Struktur Geologi.
Berdasarkan peta geologi regional, Kabupaten Nunukan Utara termasuk
kedalam cekungan Kalimantan Timur atau yang biasa dikenal juga dengan
sebutan Cekungan Tarakan (IBS, 2006). Cekungan Tarakan berlangsung dalam
beberapa tahapan yang mempengaruhi pengendapan sedimen pada area tersebut.
Konfigurasi secara struktural sudah dimulai oleh rifting sejak eosen awal,
menyebabkan

perkembangan

dari

graben-graben

dan

horst-horst

yang

tersesarkan. Pada graben-graben ini terdapat sedimen-sedimen tertua pada sub9

cekungan ini, seperti Formasi Subsembakung yang terkompaksi kuat.


Secara Geologis daerah penelitian terletak di dalam zona Cekungan
Tarakan dengan Sub Cekungan Tidung. Bagian utara dibatasi oleh tinggian
semporna yang terletak sedikit di utara perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebelah
selatan Punggungan Mangkalihat memisahkan Cekungan Tarakan dan Cekungan
Kutai. Arah barat dari cekungan meliputi kawasan daratan sejauh 60-100km dari
tepi pantai, formasi-formasi tersier secara berturut-turut dari yang muda sampai ke
yang tua tersingkap mendekati kompleks batuan pra-tersier yang terlipat kuat di
daerah Tinggian Kuching. Arah timur batas cekungan belum diketahui dengan
pasti.
Struktur geologi yang terbentuk di daerah penelitian adalah struktur sesar,
baik sesar mayor, maupun sesar minor. Arah sesar mayor adalah relatif barattimur hingga baratdaya-timurlaut. Struktur geologi umum Sungai SemayamSimenggaris berupa perlipatan (Sinklin Simenggaris) dan sesar-sesar mendatar
Menganan Semayam, daerah penelitian dipengaruhi oleh sistem sesar mendatar
mengiri yang terletak relatif di utara dan selatan daerah penelitian, sehingga gayagaya yang bekerja menghasilkan perlipatan dan sesar-sesar mendatar.
2.4

Kondisi Umum Daerah Penelitian7)


Status yang dimiliki oleh PT Dewa Ruci Mandiri adalah tahap operasi

produksi. Kegiatan penambangan sudah dilakukan oleh PT Dewa Ruci Mandiri


sejak tahun 2009 pada areal konsesi I (581Ha), jumlah batubara yang telah
diambil sebesar 582.135ton dengan produksi 15.000ton/bulan. Selain kegiatan
operasi produksi, PT Dewa Ruci Mandiri juga telah melakukan kegiatan
eksplorasi pada areal konsesi II (149,9Ha) berupa pemetaan singkapan dan
pemboran. Berdasarkan hasil pemodelan data singkapan dan pemboran yang telah
dilakukan, PT Dewa Ruci Mandiri memiliki 8 seam batubara yaitu seam A, B, C,
D, P, P1, E, dan F.
Sesuai dengan hasil survei lapangan dan kegiatan pemboran eksplorasi
pada pit 1 terdapat satu seam batubara, yaitu seam F. Ketebalan seam F berkisar
antara 0,32-1,48m dengan arah umum penyebaran relatif selatan-utara, dengan
kemiringan (dip) 8-150 ke arah timur, dan memiliki nilai kalori 7.282-7.344kal/gr
(adb). Overburden pada pit 1 terdiri dari batupasir dan batulempung.
10

BAB III
DASAR TEORI

3.1

Penaksiran Cadangan Menggunakan Perangkat Lunak Minescape1)


Untuk melakukan perhitungan volume cadangan menggunakan perangkat

lunak minescape, dibutuhkan data-data yang nantinya akan diolah yaitu:


a.

Data topografi berupa data hasil survey lapangan yang masih berupa
koordinat (easting dan northing) dan ketinggian.

b.

Data pemboran collar, yang meliputi: nama titik bor, koordinat titik bor,
elevasi titik bor, kedalaman lubang bor, ketebalan dan nama seam
batubara.

c.

Data pemboran litologi, yang meliputi: nama titik bor, kedalaman lapisan
atas (roof), kedalaman lapisan bawah (floor), nama seam batubara, dan
kode litologi.

d.

Koordinat batas wilayah penambangan.


Pengolahan data dimulai dengan pembuatan model topografi dengan

memasukan data dari lapangan berupa titik-titik koordinat dan ketinggian daerah
penelitian, kemudian dilakukan interpolasi data sehingga terbentuk garis-garis
kontur yang selanjutnya dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membuat
triangle file topografi.
Setelah pembuatan model topografi, dilanjutkan dengan pemodelan
endapan batubara dengan mengolah data pemboran collar dan pemboran litologi,
yang menghasilkan gambaran subcrop lines batubara berupa garis-garis yang
menghubungkan out crop dengan bagian floor batubara pada lapisan di bawah
topografi. Subcrop lines ini berguna untuk menentukan arah dan batas dari
penyebaran batubara. Pemodelan geologi selanjutnya dilakukan dengan membuat
kontur struktur batubara lapisan atas (roof) dan lapisan bawah (floor) kemudian
dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle file dari roof dan
floor.

11

Penaksiran cadangan batubara menggunakan perangkat lunak minescape


dilakukan dengan membatasi daerah penaksiran yaitu daerah di dalam batas
wilayah penambangan yang memiliki nilai stripping ratio kurang dari nilai
maksimal yang ditentukan dengan menggambarkan polygon pembatas, kemudian
dilakukan projection dari polygon tersebut menjadi bentuk desain geometri
penambangan berupa pit. Pit ini selanjutnya dilakukan pemodelan tiga dimensi
dengan membuat triangle file dari pit tersebut.
Penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden) dan volume
batubara menggunakan metode reserve triangle by triangle pada minescape.
Metode penaksiran cadangan ini menggunakan triangle files yang sudah dibuat
sebelumnya (topografi, floor, roof, dan pit). Triangle files diekstrak sehingga
didapat data X, Y dan Z dari masing-masing triangle files yang jumlahnya sangat
banyak. Proses ini dilakukan dengan membuat suatu jaring segitiga yang
menghubungkan tiga titik berdekatan (lihat Gambar 3.1). Segitiga tersebut berupa
segitiga sembarang dan menghubungkan setiap data titik asli, sehingga tidak ada
segitiga yang saling berpotongan dengan segitiga lainnya. Hal ini memungkinkan
untuk menghitung volume antara suatu triangle file dengan triangle file lainnya.

sumber: penulis

Gambar 3.1
Triangulasi Topografi
Volume pit dihitung dengan membagi daerah yang dibatasi permukaan
atas triangle file topografi (lihat Gambar 3.1) dan permukaan bawah triangle file
pit penambangan menjadi prisma-prisma triangular (lihat Gambar 3.2), sedangkan
untuk menghitung volume seam dibatasi dengan permukaan atas triangle file roof
dan permukaan bawah triangle file floor dari seam tersebut.

12

Perhitungan volume dilakukan dengan menghitung luas permukaan dari


segitiga hasil triangulasi (lihat persamaan 3.1), kemudian dilakukan perhitungan
nilai dari tebal rata-rata dari prisma triangular (lihat persamaan 3.2), nilai volume
didapat dari hasil perkalian dari luas segitiga dikalikan dengan tebal rata-rata
(lihat persamaan 3.3).
Hasil dari perhitungan cadangan ini berupa report file yang didalamnya
terdapat berbagai informasi seperti luas area pit, ketebalan overburden, ketebalan
seam, volume overburden, volume seam, dan tonase batubara terbongkar.

Tampak Atas

sumber: penulis

Gambar 3.2
Prisma-Prisma Triangular
=

=(

1 2(

=(

)(

) 1 2(

)(

)(

)(

) 1 2

,
,

) 1 2(

)(

........................ (3.1)

........................................................................................................... (3.2)

............................................................................................. (3.3)
13

3.2

Rancangan Teknis Penambangan

3.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Penambangan4).


Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode penambangan yakni:
a. Kondisi topografi
kondisi topografi lokasi penambangan merupakan salah satu parameter
penting dalam pemilihan metode penambangan batubara secara terbuka.
Metode penambangan yang diterapkan untuk kondisi topografi yang
berupa perbukitan akan berbeda dengan metode penambangan yang
diterapkan untuk kondisi topografi yang relatif datar.
b. Kondisi endapan batubara
kondisi endapan batubara akan mempengaruhi pemilihan metode
penambangan, bentuk endapan batubara, kemiringan endapan batubara
serta kedalaman dari endapan batubara yang akan berpengaruh terhadap
ketebalan lapisan overburden.
c. Ketebalan lapisan overburden dan interburden
endapan batubara yang terletak cukup dalam akan menyebabkan lapisan
overburden atau interburden pada daerah penambangan menjadi tebal.
Lapisan overburden yang tebal akan mempengaruhi pemilihan metode
penambangan terutama menyangkut batas endapan batubara yang masih
dapat ditambang secara ekonomis.
3.2.2 Metode Penambangan Strip Mine4).
Strip Mine merupakan tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada
endapan batubara yang lapisannya mendatar dan dekat dengan permukaan tanah.
Metode ini diterapkan di banyak tempat salah satunya di Garzweiler, Jerman (lihat
Gambar 3.3). Alat yang digunakan dapat berupa alat yang bersifat mobile atau alat
penggalian yang dapat membuang sendiri seperti bucket wheel excavator dan
dragline. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa:
a.

Bahan galian relatif mendatar dan cukup kompak.

b.

Bahan galian tabular, berlapis.

c.

Kemiringan relatif (lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring).

d.

Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung break even stripping ratio dan
teknologi peralatan yang digunakan).

14

sumber: Google, coal mining at Garzweiler, Germany

Gambar 3.3
Metode Strip Mining
3.2.3 Parameter-parameter Rancangan Penambangan2).
a.

Kondisi topografi
kondisi topografi lokasi penambangan merupakan satu parameter penting
dalam rancangan penambangan batubara. Metode penambangan yang
diterapkan untuk kondisi topografi yang berupa perbukitan akan berbeda
dengan metode penambangan yang diterapkan untuk kondisi topografi
yang datar.

b.

Kemiringan jenjang
pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 45
dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material
yang ada dalam pit tersebut. Menurut Robert, Hook and Fish (1972)
sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 60 pada kedalaman 65m dan
kurang dari 40 pada kedalaman 300m.

c.

Tinggi jenjang
menurut Kepmen Pertambangan dan Energi No.555.K/26/M.Pe/1995,
tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang
mengandung pasir, tanah liat, kerikil, dan material lepas lainnya harus :

(i)

Tidak boleh lebih dari 2,5 meter apabila dilakukan secara manual.

(ii)

Tidak boleh lebih dari 6 meter apabila dilakukan secara mekanik.

(iii)

Tidak boleh lebih dari 20 meter apabila dilakukan dengan menggunakan


clamshell, dragline, bucket wheel excavator atau alat sejenis kecuali
mendapat persetujuan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.

d.

Lebar jenjang
lebar jenjang ditentukan berdasarkan faktor keamanan. Tujuan pembuatan
jenjang adalah untuk menahan tanah atau batuan yang runtuh.

15

Pembersihan berkala pada jenjang ini dilakukan menggunakan bulldozer


kecil atau motor grader.
e.

Kedalaman pit bottom


penentuan pit bottom (dasar pit) dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
naiknya biaya produksi dan pengangkutan, nilai bahan galian yang
ditambang, ukuran dan jumlah cadangan, serta kapasitas produksi. Batas
kedalaman penambangan dapat dioptimalkan menggunakan prosedurprosedur optimalisasi design seperti Lerchs and Grossman.

f.

Jalan angkut (haul road)


faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom
didefinisikan. Jalan angkut dirancang mulai pit bottom (jenjang paling
atas) kemudian mengikuti naiknya (turun) jenjang ke arah permukaan (pit
bottom) dengan gradien (kemiringan) berkisar antara 8-10%. Jalan angkut
ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit
atau hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan dikarenakan
kekuatan material pada dinding tersebut).

3.2.4 Rancangan Geometri Penambangan2).


Geometri penambangan meliputi lebar, panjang, dan tinggi jenjang.
Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material
(menggunakan alat mekanis atau peledakan), pola gerak alat muat dan alat angkut,
letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan
pada saat penambangan, sasaran produksi, serta rencana pemanfaatan lahan bekas
tambang. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat
ditambang, kestabilan lereng dan keamanan penambangan.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan geometri
penambangan:
a.

Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang


diterapkan atau jangkauan alat galinya. Tinggi jenjang adalah jarak yang
diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian
atas (crest). Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik
dan mekanik batuan, rencana dimensi pembongkaran, serta peralatan
mekanis yang digunakan.

16

b.

Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi


lokasi penambangan. Lebar jenjang adalah jarak horizontal yang diukur
dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. Lebar
minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil
bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan. Lebar jenjang
minimum sangat dipengaruhi:
1. Jenis dan kemampuan alat mekanis.
2. Posisi kerja dari peralatan yang beroperasi di lantai yang sama.
3. Lebar dari tumpukan material hasil pembongkaran.
4. Pemanfaatan lahan bekas tambang.
5. Target produksi yang harus dicapai.
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang tunggal,

dan lebar dari jenjang penangkap (catch bench). Bagian-bagian jenjang adalah
sebagai berikut:
a.

Crest dan toe


merupakan bagian tepi atas (crest) dan bagian tepi bawah (toe). Crest pada
jenjang penambangan yang berada pada bagian jalan (ramp) umumnya
diberi timbunan tanah untuk pengaman (safety berm) (lihat Gambar 3.4).

sumber: google

Gambar 3.4
Bagian-Bagian Jenjang
b.

Jenjang kerja (working bench)


jenjang kerja merupakan bagian dari jenjang yang berfungsi sebagai
tempat bekerja bagi peralatan tambang (lihat Gambar 3.5).
17

sumber: google

Gambar 3.5
Working Bench dan Safety Bench
c.

Overall slope angle


merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada
front (muka kerja) penambangan. Kemiringan ini diukur dari crest paling
atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (lihat Gambar
3.6).

sumber: google

Gambar 3.6
Overall Slope Angle
Metode penggambaran jenjang penambangan dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain:
a.

Penggambaran garis ketinggian lantai (toe) dan atap (crest) menggunakan


dua jenis garis, misalnya tipis dan tebal, putus-putus dan penuh atau dua
warna yang berbeda. Gambar peta yang dihasilkan cenderung lebih rumit
(lihat Gambar 3.7).

b.

Penggambaran mengunakan ketinggian titik jenjang (bench centerline


18

drawing) untuk mewakili suatu jenjang, sehingga hanya diperlukan satu


garis saja untuk menggambarkan suatu jenjang di peta. Letak kontur ini
tepat ditengah-tengah antara lokasi toe dan crest.
c.

Penggambaran garis-garis kontur di luar pit ditandai dengan elevasi


sebenarnya dan kontur di dalam pit digambarkan menggunakan garis crest
dan toe dengan membedakan warna garis crest dan toe tersebut.

sumber: google

Gambar 3.7
Penggambaran Crest dan Toe
3.3

Rancangan Timbunan4)
Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi timbunan,

kapasitas volume atau tonasenya, metode penimbunan, dan waktu pelaksanaannya,


baik untuk material yang berharga (stockyard dan stockpile) maupun tidak
berharga (waste dump).
Proses penimbunan material, baik material berharga maupun tidak
berharga harus mempertimbangkan parameter rancangan timbunan, antara lain:
a.

Sudut lereng timbunan (angle of repose).


Batuan kering ROM (run of mine) pada umumnya mempunyai angle of
repose 34370. Sudut ini dipengaruhi tinggi timbunan, ketidakteraturan
bongkah batuan dan kecepatan dumping.

b.

Faktor pengembangan material (swell factor).


Faktor pengembangan sangat dipengaruhi oleh metode pembongkarannya
dan jenis materialnya. Swell factor untuk batuan keras pada umumnya
bernilai 30-45% yaitu 1m3 material insitu akan mengembang menjadi 1,3
19

1,45m3 material lepas (loose material). Loose material dapat dipadatkan


sekitar 515% menggunakan compactor. Material yang ditumpahkan oleh
dump truck akan menjadi lebih kompak (padat) bila dibandingkan material
yang ditumpahkan oleh belt conveyor.
c.

Jarak dari pit limit.


Jarak minimum adalah ruangan yang cukup untuk suatu jalan angkut
antara pit limit dan lokasi timbunan. Kestabilan pit akibat adanya timbunan
harus diperhitungkan. Jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit
akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kestabilan lereng.

d.

Tanjakan ke arah puncak (crest) waste dump.


Menurut

Bohnet

dan

Kunze

dalam

Waterman

SB

(2011)

merekomendasikan sedikit tanjakan ke arah dump crest dengan


pertimbangan penyaliran dan keamanan. Limpasan air hujan dirancang
menjauhi crest. Dump truck harus menggunakan tenaga mesin untuk
menuju crest dan bukan meluncur bebas, hal ini akan mengurangi resiko
kendaraan yang diparkir meluncur dari puncak waste dump.
3.3.1 Lokasi Penimbunan.
Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material
yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. Berdasarkan jenis material
dan maksud penimbunannya, lokasi penimbunan antara lain:
a.

Stockpile
merupakan suatu timbunan yang digunakan untuk menyimpan material
berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan digunakan
kembali.

b.

Stockyard
merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan batubara yang
telah diproses (crushing and washing) dan batubara yang akan dijual.
stockyard biasanya terletak dekat dengan pelabuhan.

c.

Waste dump
merupakan suatu timbunan yang digunakan untuk menimbun material
overburden atau material tidak berharga yang harus digali dari lokasi
penambangan untuk memperoleh material berharga. Waste dump biasanya

20

ditempatkan di daerah yang tidak dilakukan kegiatan penambangan atau di


area bekas penambangan pada metode back filling. Pemilihan lokasi dari
waste dump dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lokasi dan ukuran pit,
topografi, volume overburden, batas konsesi pertambangan, persyaratan
reklamasi, dan peralatan penanganan material.
3.3.2 Jenis Timbunan.
Proses penimbunan material, baik material berharga maupun tidak
berharga, dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbunan, antara lain:
a.

Valley fill atau crest dump.


Jenis timbunan valley fill atau crest dump (lihat Gambar 3.8) dapat
diterapkan di daerah yang mempunyai topografi curam. Dalam pembuatan
timbunan perlu ditetapkan elevasi puncaknya (crest) sehingga truk yang
membawa muatan berjalan menuju elevasi tersebut dan menumpahkan
muatan ke lembah membentuk timbunan berdasarkan angle of repose.
Jarak pengangkutan truk pada awal penambangan akan lebih panjang.
Pemadatan diperlukan untuk memenuhi persyaratan reklamasi.

sumber: google

Gambar 3.8
Valley Fill atau Crest Dump
b.

Terrace dump atau timbunan yang dirancang ke atas (dalam lift).


Jenis timbunan terrace dump (lihat Gambar 3.9) diterapkan jika kondisi
topografinya tidak begitu curam. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah
ke atas dengan tinggi lift disesuaikan dengan rekomendasi jenjang
penimbunan. Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang
untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. Keuntungan dari
jenis timbunan ini, lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih ke

21

belakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle)


mendekati sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi.

sumber: google

Gambar 3.9
Terrace Dump
3.3.3 Cara Penimbunan.
Material dibawa ke lokasi penimbunan yang sudah ditentukan kemudian
ditangani oleh alat bantu untuk melakukan penempatan dan pemadatannya. Alat
bantu dalam kegiatan ini adalah bulldozer. Bulldozer akan menggusur overburden
yang telah ditumpahkan oleh dump truck. Pada pelaksanaannya, bulldozer bekerja
dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada, antara lain:
a.

Down hill dozing.


Pada metode ini bulldozer selalu mendorong ke bawah, jadi mengambil
keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan
(lihat Gambar 3.10).

Gambar 3.10
Down Hill Dozing7)
b.

High wall atau float dozing.


Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian
menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam. Sebelum

22

seluruh tanah habis meluncur ke lereng, bulldozer harus direm agar tidak
terjungkir (lihat Gambar 3.11).

Gambar 3.11
Float Dozing7)
c.

Trench atau sloat dozing.


Bulldozer yang menggusur melalui satu jalan yang sama akan
menyebabkan terbentuk semacam dinding pada kiri dan kanan bilah yang
disebut spillages, sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada
tanah yang keluar dari samping bilah (lihat Gambar 3.12).

Gambar 3.12
Trench Dozing7)
3.4

Rancangan Jalan Angkut2)


Pada umumnya pola akses material tambang dibagi menjadi dua, yaitu

pengangkutan overburden ke lokasi penimbunanan (waste dump) dan


pengangkutan batubara ke lokasi pengolahan (crushing plan). Akses material ini
memerlukan rancangan jalan angkut. Ada beberapa geometri jalan angkut yang
harus dipenuhi untuk menunjang kelancaran kegiatan pengangkutan.
3.4.1 Lebar Jalan.
Lebar jalan angkut dibagi dua, yaitu :
a.

Lebar pada jalan lurus.


Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan lurus didasarkan pada

Rule of Thumb yang dikemukakan AASHTO (American Association of State


23

Highway and Transportation Official). (lihat persamaan 3.4)

Keterangan :

))............................................. (3.4)

(( + 1)(0,5

Lmin

= Lebar jalan angkut minimum (m).

= Jumlah jalur.

Wt

= Lebar alat angkut total (m).


Perumusan diatas hanya digunakan untuk lebar jalan dua jalur, nilai 0,5

artinya adalah lebar dari alat angkut yang digunakan dari ukuran aman masingmasing kendaraan di tepi kiri-kanan jalan (lihat Gambar 3.13).

Gambar 3.13
Rancangan Lebar Jalan Angkut Dua Jalur2)
b.

Lebar pada jalan tikungan.


Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar dari pada lebar pada

jalan lurus (lihat Gambar 3.14). Untuk jalur ganda, lebar minimum pada tikungan
dihitung berdasarkan pada:
1.

Lebar jejak ban alat angkut.

2.

Lebar juntai atau tonjolan (overhang) alat angkut bagian depan dan
belakang pada saat membelok.

3.

Jarak antara alat angkut pada saat bersimpangan.

4.

Jarak (space) alat angkut dengan tepi jalan.

Gambar 3.14
Lebar Jalan pada Tikungan2)
24

Lebar jalan angkut pada tikungan dapat dihitung menggunakan persamaan


berikut:
W = n (U + Fa + Fb + Z) + C ............................................................... (3.5)
C = Z = (U + Fa + Fb) ..................................................................... (3.6)
Keterangan :
W

= Lebar jalan angkut pada tikungan (m).

= Jumlah jalur.

= Jarak jejak roda alat angkut (m).

Fa

= Lebar juntai depan (m).

Fb

= Lebar juntai belakang (m).

= Jarak antara dua alat angkut yang akan bersimpangan (m).

= Jarak sisi luar alat angkut ke tepi jalan (m).

3.4.2 Radius tikungan.


Jari-jari tikungan berhubungan langsung dengan bentuk dan kontruksi alat
angkut yang digunakan. Jari-jari tikungan jalan angkut perlu juga harus memenuhi
keselamatan kerja di tambang atau memenuhi faktor

keamanan yaitu jarak

pandang bagi pengemudi di tikungan, baik horizontal maupun vertikal terhadap


kedudukan suatu penghalang pada jalan tersebut yang diukur dari mata
pengemudi. Untuk kecepatan rencana 80km/jam berlaku f=-0,00065V+0,192
dan untuk kecepatan rencana 80-112km/jam berlaku f=-0,00125V+0,24. Untuk
mengetahui jari-jari tikungan dapat digunakan persamaan berikut:
R = V2 / [127(e + f)] ............................................................................. (3.7)
Keterangan :
R

= jari-jari tikungan (m).

= kecepatan rencana (km/jam).

= superelevasi (m/m).

= koefisien gesekan.
Untuk menentukan jari-jari tikungan minimum pada jalan angkut besarnya

tergantung pada berat alat angkut yang akan melewati jalan angkut tersebut.
Semakin berat alat angkut yang digunakan maka jari-jari tikungan yang
dibutuhkan semakin besar. Berdasarkan Tabel 3.1 dapat diketahui radius
minimum tikungan berdasarkan berat kendaraan menurut Hustrulid(1995).

25

Klasifikasi
Berat Kendaraan
1
2
3
4

Tabel 3.1
Radius Tikungan Minimum2)
Radius Tikungan
Berat Kendaraan
Minimum
(lbs)
(ft)
< 100.000
19
100-200.000
24
200-400.000
31
>400.000
39

3.4.3 Superelevasi.
Superelevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk
oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan
kemiringan. Tujuan dibuat superelevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu
untuk menghindari atau mencegah kendaraan tergelincir keluar jalan atau
terguling atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong
keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan, dan menambah kecepatan.
Berdasarkan teori Atkinson D.I.C. pada kondisi jalan kering, nilai superelevasi
memiliki harga maksimum yaitu 90mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh
lumpur atau licin, nilai superelevasi terbesar adalah 60mm/m. Kemiringan
tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal
kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan. Secara matematis
kemiringan tikungan jalan merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan
lebar jalan. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung
berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya. Persamaan
yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu:
tan = V/R.G ...................................................................................... (3.8)
Keterangan :
V

=Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan.

=Radius tikungan.

=Gravitasi bumi (9,8m/s2).


Besarnya nilai superelevasi untuk beberapa jari-jari tikungan dengan

berbagai variasi kecepatan alat angkut dapat bermacam-macam, untuk itu


penentuan superelevasi selain dengan menggunakan rumus juga dapat dilakukan
dengan penggunaan tabel seperti ditunjukan pada Tabel 3.2.
26

Tabel 3.2
Angka Superelevasi yang Direkomendasikan (meter/meter)2)
Radius

Kecepatan kendaraan (km/jam)

Lingkaran (m)

24

32

40

48

>56

15

4%

30

4%

4%

45

4%

4%

5%

75

4%

4%

4%

6%

90

4%

4%

4%

5%

6%

180

4%

4%

4%

4%

5%

300

4%

4%

4%

4%

4%

Berdasarkan Tabel 3.2 terdapat angka superelevasi yang sama untuk


kecepatan dan jari-jari yang berbeda, hal ini disebabkan oleh nilai koefisien gesek
yang berbeda untuk kombinasi kecepatan dan jari-jari tikungan, atau dengan kata
lain dapat dikatakan bahwa untuk melintasi tikungan dengan jari-jari tikungan dan
kecepatan yang berbeda, maka gaya sentrifugal yang dialami oleh alat angkut juga
akan berbeda. AASHTO menganjurkan pemakaian beberapa nilai superelevasi
yaitu 0,02; 0,04; 0,06; 0,08; 0,010 dan 0,012 untuk kegiatan perencanaan. Daerah
tambang yang topografinya berupa pegunungan umumnya mengambil nilai 0,02
karena kendaraan bergerak relatif lambat.
3.4.4 Kemiringan Melintang (Cross Slope).
Untuk menghindari agar disaat hujan air tidak tergenang pada jalan, maka
pembuatan kemiringan melintang (cross slope) dilakukan dengan cara membuat
bagian tengah jalan lebih tinggi dari bagian tepi jalan (lihat gambar 3.15). Nilai
yang umum dari kemiringan melintang (cross slope) yang direkomendasikan
adalah sebesar 20-40mm/m jarak bagian tepi jalan ke bagian tengah/pusat jalan.

Gambar 3.15
Kemiringan Melintang (Cross Slope) pada Jalan2)

27

3.4.5 Kemiringan Jalan pada Tanjakan.


Kemiringan atau grade jalan angkut merupakan salah satu faktor penting
yang harus dicermati dalam suatu perancangan jalan tambang karena akan
mempengaruhi kinerja alat angkut yang melewatinya. Kemiringan jalan angkut
(lihat Gambar 3.16) biasanya dinyatakan dalam persen (%). Kemiringan () 1%
berarti jalan tersebut naik 1m pada jarak mendatar sejauh 100m. Kemiringan
(grade) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
Grade () = Arc Tg

h
...................................................................... (3.9)
x

Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik
oleh alat angkut besarnya kurang dari 10%. Akan tetapi untuk jalan naik maupun
turun pada daerah perbukitan, lebih aman menggunakan kemiringan jalan
maksimum sebesar 8%.
h

h = beda tinggi antara dua titik yang diukur (m)


x = jarak datar antara dua titik yang diukur (m)
= sudut kemiringan jalan pada tanjakan (o)

sumber: google

Gambar 3.16
Kemiringan Jalan Angkut pada Tanjakan
3.5

Penjadwalan Produksi 2)
Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan

penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio. Penaksiran


cadangan batubara untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan
mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit) yang
telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup
(overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan
jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan
target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori.
Berdasarkan perhitungan penjadwalan produksi diperoleh jumlah produksi
lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara
(interburden), sehingga dapat dilakukan penjadwalan penimbunan waste dump,
28

dan dilakukan perancangan geometri waste dump secara bertahap untuk setiap
periodenya.
Penjadwalan produksi tambang dinyatakan dalam periode waktu tertentu
yang meliputi data: tonase batubara dan volume overburden), kualitas (kalori),
dan pemindahan semua material dari tambang tersebut. Asumsi awal yang
diperlukan untuk menentukan penjadwalan produksi adalah:
a.

Tingkat produksi dapat berubah atau meningkat berdasarkan waktu.

b.

Penjadwalan sering dibuat untuk memenuhi target kualitas batubara bila


terdapat kalori yang beragam.

3.6

Peralatan Mekanis7)
Produksi alat muat dan alat angkut dapat dilihat dari kemampuan alat

tersebut ketika dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan.


3.6.1 Produksi Alat Muat (Backhoe).
Produksi alat muat dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
=

....................................................................(3.10)

Keterangan:
Pm

= Produksi alat muat (lcm/jam).

Ctm

= Waktu edar alat muat (menit).

Cb

= Kapasitas bucket alat muat (m3).

Ff

= Fill factor (%) (lihat Tabel 3.3).

EU

= Efisiensi kerja (%) (lihat Tabel 3.4).


Tabel 3.3
Fill Factor (PC78 ~ PC1800)7)
Excavating Condition

Ff

Easy Excavating

1,1 ~ 1,2

Average Excavating

1,0 ~ 1,1

Rather Difficult Excavating

0,8 ~ 0,9

Difficult Excavating

0,8 ~ 0,9

29

Tabel 3.4
Job Efficiency Excavator7)
Excavating Condition

EU

Good

0,83

Average

0,75
0,67

Rather Poor

0,58

Poor
3.6.2 Produksi Alat Angkut (Dump Truck).

Produksi alat angkut dapat dihitung menggunakan persamaan:

......................................................................(3.11)

Keterangan:
Pa

= Produksi alat angkut (LCM/jam).

Cta

= Cycle time alat angkut (menit).

Cb

= Kapasitas bak(m3).

Ff

= Fill factor.

EK

= Efisensi kerja alat (%).

= Jumlah isian.

3.6.3 Kebutuhan Alat.


Kebutuhan alat mekanis dapat dihitung menggunakan persamaan:
Jumlah alat yang dibutuhkan =

.........................................(3.12)

3.6.4 Faktor Keserasian Alat (Match Factor)7)


Dalam pemilihan truck, kapasitas yang dipilih harus seimbang dengan alat
muatnya (4-5 kali curah). Jika perbandinganya kurang proporsional maka ada
kemungkinan alat muat banyak menunggu atau sebaliknya alat angkut yang
menunggu. Untuk menyatakan keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut
dapat dilakukan dengan cara menghitung faktor keserasian alat muat dan angkut
(match factor) yaitu menggunakan persamaan:
=

..........................................................................(3.13)

Keterangan:
Na

= jumlah alat angkut, (buah).


30

Nm

= jumlah alat muat, (buah).

Ctm

= waktu edar (cycle time) alat muat.

Cta

= waktu edar (cycle time) alat angkut.

Nilai yang dihasilkan dari persamaan di atas akan disimpulkan menjadi 3, yaitu:
a.

MF<1, artinya alat muat bekerja kurang dari 100%, sedangkan alat angkut
bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat karena
menunggu alat angkut yang belum datang.

b.

MF=1, artinya alat muat dan alat angkut bekerja 100% sehingga tidak
terjadi waktu tunggu bagi alat muat maupun alat angkut.

c.

MF>1, artinya alat muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut bekerja
kurang dari 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut.

3.6.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Alat7)


Faktorfaktor yang mempengaruhi produksi alat muat dan angkut:
a.

Waktu Edar.
Waktu edar (cycle time) merupakan waktu yang diperlukan suatu alat

untuk melakukan suatu daur kerja. Semakin kecil waktu edar alat, maka
produksinya akan semakin tinggi.
1.

Waktu edar alat muat.


Untuk menghitung waktu edar alat muat berupa excavator dapat
menggunakan persamaan 3.14.
Ctm = t1 + t2 + t3 + t4........................................................................(3.14)
Keterangan:
t1 = Waktu untuk menggali.
t2 = Waktu untuk berputar dengan muatan.
t3 = Waktu menumpahkan muatan ke dalam bak alat angkut.
t4 = Waktu berputar tanpa muatan.

2.

Waktu edar alat angkut.


Untuk menghitung waktu edar alat muat berupa dump truck dapat
menggunakan persamaan berikut:
Cta = t1 + t2 + t3 + t4 + t5 + t6 ..........................................................(3.15)
Keterangan:
t1 = Waktu untuk mengambil posisi siap untuk dimuati (spooting).

31

t2 = Waktu diisi muatan.


t3 = Waktu mengangkut muatan.
t4 = Waktu mengambil posisi untuk menumpahkan.
t5 = Waktu menumpahkan.
t6 = Waktu kembali kosong.
b.

Kondisi Tempat Kerja.


Tempat kerja tidak hanya harus memenuhi syarat untuk pencapaian

sasaran produksi tetapi juga harus aman bagi penempatan alat beserta mobilitas
pekerja yang berada di sekitarnya. Tempat kerja yang luas akan memperkecil
waktu edar alat karena tersedia cukup tempat untuk berbagai kegiatan, seperti
keleluasaan tempat untuk berputar, mengambil posisi sebelum melakukan
pemuatan maupun untuk tempat penimbunan sehingga produksi dari alat mekanis
dapat maksimal.
c.

Faktor Pengisian Alat Muat dan Alat Angkut


Faktor pengisian (fill factor) alat muat dan alat angkut merupakan

perbandingan antara volume isi nyata dari bucket atau bak truk dengan volume
pada spesifikasi alat yang dinyatakan dalam persen. Semakin tinggi faktor
pengisian maka semakin tinggi volume nyata dari alat tersebut. Parameter yang
mempengaruhi nilai dari faktor pengisian adalah kandungan air, ukuran material,
kelengketan material dan keterampilan operator.
Faktor pengisian dapat dihitung menggunakan persamaan:
=

Keterangan:

100% ................................................................................(3.16)

Ff = Fill factor / faktor pengisian bucket (%).


Vn = Volume bucket nyata (m3).
Vt = Volume teoritis bucket berdasarkan spesifikasi (m3).

32

BAB IV
RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Saat ini PT Dewa Ruci Mandiri telah melakukan kegiatan penambangan


yang dimulai dari tahun 2009 dengan target produksi sebesar 15.000ton/bulan
dan striping ratio maksimum 13:1. Dari hasil eksplorasi PT Dewa Ruci Mandiri
pada daerah

penelitian, dijumpai 1 seam yakni seam F yang nantinya akan

dilakukan perancangan teknis penambangan pada daerah tersebut. Sebelum


membuat rancangan teknis penambangan diperlukan beberapa hal yang perlu
diidentifikasi dan diamati, sehingga rencana teknis penambangan dapat dikerjakan
secara realistis dan berkesinambungan dengan pekerjaanpekerjaan penambangan
baik yang sudah maupun yang akan dilaksanakan.
4.1.

Penaksiran Cadangan

4.1.1 Pemodelan Topografi.


Berdasarkan data koordinat lokasi WIUP PT Dewa Ruci Mandiri dapat
dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah penambangan PT Dewa Ruci
Mandiri dengan luas 149,9Ha.
PT Dewa Ruci Mandiri akan melakukan penambangan di wilayah
penambangan 149,9Ha sebanyak empat pit; pit 1, pit 2, pit 3 dan pit 4. Sedangkan
batasan wilayah penelitian hanya pada pit 1 wilayah penambangan 149,9Ha
dengan luas 20,4Ha. Pemodelan permukaan topografi (surface topografi) hanya
dilakukan pada daerah pit 1.
Rona awal kontur permukaan dari daerah penelitian berupa perbukitan
bergelombang lemah dengan ketinggian 36-63mdpl dan kemiringan lereng 5_35o.
Data topografi diperoleh dengan melakukan pemetaan

topografi. Hasil dari

pemetaan topografi berupa titik-titik koordinat dan ketinggian, kemudian


dilakukan interpolasi menggunakan perangkat lunak minescape, sehingga
membentuk garis-garis kontur (lihat Lampiran P), dilanjutkan dengan pemodelan
bentuk tiga dimensi, dengan pembuatan triangle file atau bidang-bidang yang
menghubungkan antar garis-garis kontur topografi.
33

Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface topografi


daerah penelitian, maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai
pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi
batubara di daerah penelitian.
4.1.2

Pemodelan Geologi Lapisan Batubara.

Seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah seam F pada bagian


yang memiliki ketebalan 0,5-1,48m, dengan arah umum penyebaran batubara
yaitu relatif selatan-utara, dan kemiringan ke arah timur berkisar antara 8-150.
Dalam perancangan tambang pada daerah penelitian tidak dilakukan pemodelan
pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0,5m, hal ini
dikarenakan alat mekanis yang akan digunakan untuk melakukan pembongkaran
dan pemuatan batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0,5m.
PT Dewa Ruci Mandiri telah melakukan pemboran sebanyak 31 lubang
bor untuk menganalisis lapisan endapan batubara di pit 1 (lihat Lampiran Q.1).
Pemodelan dari endapan tersebut dilakukan dengan mengkorelasi dan
memproyeksikan data pemboran menggunakan perangkat lunak minescape. Data
pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dibagi menjadi dua yakni:
a.

Data pemboran collar.


Data pemboran collar, meliputi: nama titik bor, koordinat titik bor,
ketinggian titik bor, dan kedalaman lubang bor. Data survei berguna untuk
memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor, sehingga dapat
digambarkan pada lokasi penelitian. Data collar akan dikorelasikan
dengan data pemboran litologi dengan indeks penghubung pada kolom
nama lubang bor (lihat lampiran A.1).

b.

Data pemboran litologi.


Data pemboran litologi meliputi: nama titik bor, batas kedalaman lapisan
atas (roof), batas kedalaman lapisan bawah (floor), ketebalan seam, nama
seam batubara yang didapat dari hasil log bor, dan kode litologi. Pada data
litologi pemboran, terdapat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan
lapisan batubara yang akan diinterpretasikan hingga mendapatkan model
geologi struktur endapan batubaranya (lihat lampiran A.2).
Berdasarkan data pemboran collar dan litologi yang diperoleh, dapat

ditentukan arah penyebaran batubara dan dilakukan pembatasan area penaksiran


34

cadangan batubara. Dalam penelitian kali ini, pemodelan geologi batubara


menggunakan perangkat lunak minescape, dan akan dihasilkan pemodelan berupa
kontur struktur dari floor batubara (lihat Lampiran R).
Berikut adalah salah satu contoh bentuk model endapan batubara yang
berada di pit 1 (lihat Gambar 4.1).

Gambar 4.1
Penampang Endapan Batubara (lihat lampiran Q.2)
4.1.3 Pembatasan wilayah penaksiran.
Dalam pembatasan wilayah daerah penelitian yang akan dilakukan
penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara, dengan menggambarkan poligon
yang melingkupi subcrop line batubara dan daerah yang berbatasan dengan
konsesi pertambangan PT Dewa Ruci Mandiri. Untuk melakukan penaksiran
sumberdaya yang lebih detil, dilakukan pembatasan yang berjarak 500m, 350m,
dan 250m dari titik bor terluar. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar, diperoleh
hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal resource)(lihat Lampiran S).
Penaksiran cadangan Batubara, dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit
bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved
coal resource). Untuk memenuhi standar sebagai cadangan terbukti harus
dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan apabila telah
terpenuhi maka hasil kajian dapat dinyatakan layak.
4.1.4 Pembagian blok penaksiran.
Pembagian blok penaksiran wilayah penelitian pertama kali dibagi menjadi
satu blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran cadangan batubara).
Dengan menggunakan perangkat lunak minescape, pada daerah tersebut dilakukan
analisis tingkat striping ratio yang telah ditentukan yaitu 13:1.
Blok yang membatasi daerah penaksiran cadangan dibagi lagi menjadi
blok-blok kecil berukuran 50mx50m, untuk menghasilkan perhitungan yang lebih
detil. Penamaan blok-blok ini diurutkan dari arah selatan ke utara menyesuaikan
35

dengan arah kemenerusan lapisan batubara (strike) dan dip. Penamaan blok ini,
secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan panel, strip dan block. Pada daerah
penelitian, penamaan panel dimulai dari P01-P13, dan penamaan strip dimulai
dari S01-S04, sedangkan block merupakan perpotongan antara strip dan panel,
sehingga nama block pertama kali ialah: S01P01, dan nama block kedua ialah
S01P02 dan seterusnya (lihat Lampiran T). Penentuan elevasi batas bawah sebesar
20mdpl, sedangkan batas atas pada 63mdpl yang merupakan topografi tertinggi.
Perangkat

lunak

minescape

mengakumulasi

jumlah

cadangan

batubara

berdasarkan blok dan elevasi sehingga penjadwalan produksi batubara dapat


dibuat dengan terperinci berdasarkan blok dan elevasi (lihat lampiran V).
4.1.5 Hasil Penaksiran Cadangan Batubara.
Pada klasifikasi sumberdaya yang mengacu pada amandemen 1- SNI 135014-1998. Tahap eksplorasi rinci, memperhatikan aspek geologi moderat, dan
dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait sebagai cadangan
terbukti, maka klasifikasi sumberdaya batubara pada daerah penelitian dapat
dinyatakan sebagai kategori cadangan terbukti dengan relative density batubara
rata-rata adalah 1,3ton/m3, diperoleh tonase batubara sebesar 135.684ton, dengan
jumlah overburden sebesar 1.476.511bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio
11:1.
4.2

Rancangan Teknis Penambangan

4.2.1 Pemilihan Sistem Penambangan.


Di wilayah penelitian yang memiliki bentuk bentang alam berupa
perbukitan bergelombang lemah dengan ketinggian topografi berkisar antara 3663mdpl dan kemiringan endapan batubara 8-15o, maka jenis penambangan yang
cocok diterapkan di daerah ini adalah sistem tambang terbuka dengan metode
strip mine.
4.2.2 Penentuan arah penambangan.
Penentuan arah penambangan pada lokasi penelitian ini di mulai dari arah
selatan ke utara. Hal ini ditentukan agar pada awal penambangan mempermudah
dalam proses penimbunan overburden dengan metode crest dump ke wastedump
area yaitu pit 9 areal 581Ha yang terletak di sebelah baratdaya dari daerah
penelitian, dan pada akhir penambangan dapat dilakukan penimbunan overburden
36

dengan metode backfilling di bagian selatan dari rancangan penambangan pit 1.


Ketebalan overburden pada bagian selatan rancangan bukaan tambang
relatif lebih kecil dibandingkan bagian utara, sehingga proses pembongkaran
batubara dapat dilakukan lebih cepat dan target produksi pada awal penambangan
dapat tercapai.
4.2.3 Geometri Lereng Penambangan.
Pembuatan jenjang penambangan dilakukan pada semua bagian utara,
timur dan selatan pit penambangan. Geometri jenjang penambangan dibuat
berdasarkan rekomendasi studi geoteknik yang dilakukan PT Dewa Ruci Mandiri,
yaitu untuk tinggi jenjang 10m, lebar jenjang akhir 4m, single slope 60o dan
overall slope 50o (lihat Gambar 4.2).

Tinggi Jenjang
Lebar Jenjang

Overall slope
Single slope

Gambar 4.2
Dimensi Lereng Penambangan
Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal dan
bentuk

endapan

geologi

batubara

pada

daerah

penelitian

dengan

mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Daerah yang direncanakan untuk


ditambang harus dapat dijangkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan
dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk ke
daerah yang akan dilakukan penambangan.

37

4.2.4 Rancangan Bukaan Tambang (Pit Design).


Dalam melakukan perancangan teknis penambangan akan dipengaruhi
beberapa faktor penting antara lain:
a.

Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang sebesar 10meter.

b.

Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang sebesar 4meter.

c.

Sudut kemiringan jenjang keseluruhan (overall slope) yaitu 50.

d.

Sudut lereng jenjang (single slope) sebesar 600.

e.

Sasaran produksi batubara per bulan sebesar 15.000ton/bulan.

f.

Stripping ratio rata-rata 13:1.


Rancangan penambangan diawali dengan merancang bentuk final pit,

kemudian dilanjutkan dengan pembuatan bentuk penambangan per bulan sesuai


dengan kapasitas produksi per bulan. Rancangan bentuk penambangan yang
dibuat harus mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Lokasi yang
direncanakan akan ditambang harus dapat dijangkau oleh alat mekanis, sehingga
diperlukan minimal satu jalan masuk (acces road) ke lokasi penambangan.
4.2.5 Tahapan Kegiatan Penambangan.
Tahapan kegiatan penambangan dalam sistem tambang terbuka dengan
metode strip mine meliputi:
a.

Pembersihan lahan (land clearing).


Kegiatan pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasilokasi
yang akan ditambang secara tambang terbuka, karena vegetasi yang ada
merupakan pohon-pohon dengan diameter kecil dan kebanyakan semak
belukar maka pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer
untuk menggali dan mendorong dengan memanfaatkan blade dan tenaga
dorong yang besar.

b.

Pengupasan tanah penutup.


Kegiatan pengupasan tanah penutup dalam

kegiatan

penambangan

dilakukan dalam beberapa pekerjaan antara lain :


1) Pengupasan tanah pucuk (top soil).
Pengupasan lapisan tanah pucuk yang banyak mengandung bahanbahan
organik hasil pelapukan yang menyuburkan tanah, dilakukan setelah land
clearing. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan excavator
dan bulldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi
38

tertentu dekat dengan daerah kegiatan bulldozer, kemudian dimuat


menggunakan excavator dan diangkut dengan dumptruck ke tempat
penyimpanan tanah pucuk. Timbunan tanah subur ini nantinya
dimanfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi.
2) Penggalian dan pemindahan lapisan penutup.
Penggalian tanah penutup dilakukan dengan menggunakan excavator
dibantu dengan bulldozer apabila lapisannya keras. Untuk material lemah
sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke
dumptruck. Bila ditemukan material keras terlebih dahulu diberai dengan
menggunakan ripperdozer, kemudian digali dan dimuat dengan excavator.
c.

Penggalian Batubara (coal getting).


Penggalian batubara akan dilakukan pada area yang terlebih dahulu telah
dilakukan pengupasan lapisan tanah penutupnya. Penggalian batubara
dilakukan sesuai

dengan

target

produksi

yaitu

15.000ton/bulan

menggunakan excavator.
d.

Pengangkutan.
Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan
dump truck yang kemudian dibawa menuju lokasi penimbunan waste
dump untuk overburden dan stockpile yang berada di jetty milik PT Dewa
Ruci Mandiri untuk batubara.

4.3

Rancangan Penimbunan.
Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar dan tidak terjadi

hal-hal yang tidak diinginkan misal longsor, khususnya pada proses penimbunan
overburden maka pembuatan rancangan teknis penimbunan sangat penting (lihat
Gambar 4.3).
Pembuatan rancangan penimbunan material overburden akan dipengaruhi
beberapa faktor penting antara lain:
a.

Lokasi penimbunan, yaitu pada waste dump.

b.

Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang penimbunan sebesar 5m.

c.

Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang penimbunan sebesar 10m.

d.

Sudut lereng tunggal penimbunan dari overburden sebesar 350.

e.

Sudut lereng keseluruhan penimbunan dari overburden sebesar 250.


39

Lebar Jenjang
Tinggi Jenjang

Single slope

Gambar 4.3
Dimensi Lereng Timbunan
4.4 Rancangan Jalan Angkut.
Perancangan

jalan

angkut

dalam

sebuah

kegiatan

penambangan

berperan sangat penting, karena dengan desain jalan angkut yang benar akan
sangat menunjang kelancaran dari kegiatan penambangan tersebut.
4.4.1 Lebar Jalan Lurus.
Semakin lebar jalan angkut maka akan semakin aman dan lancar lalu
lintas alat angkut dalam kegiatan pengangkutan tetapi akan semakin besar pula
biaya yang dibutuhkan baik dalam masa konstruksi maupun perawatan. Lebar
jalan angkut minimum yang diperlukan harus disesuaikan dengan lebar dari alat
angkut terbesar yang akan melintas pada jalan tersebut serta banyaknya jalur yang
akan digunakan. Lebar jalan ini dapat memungkinkan lalu lintas dua arah dan
jalur untuk dump truck yang akan menyusul. Lebar dump truck terbesar yang akan
melewati jalan tambang akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan lebar
minimum jalan angkut. Mengacu pada spesifikasi alat angkut Nissan Diesel
CWB320 yang memiliki lebar keseluruhan 2,49m, maka lebar minimal jalan
angkut yang aman sebesar 9m (lihat lampiran F).
4.4.2 Lebar Jalan Tikungan.
Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar daripada lebar jalan
lurus atau juga pada kondisi khusus yang dirasa memerlukan lebar jalan yang
lebih. Dalam membuat tahapan rancangan penambangan, lebar jalan tikungan
yang akan digunakan sebesar 14m (lihat lampiran F).
4.4.3 Jari-Jari Tikungan.
Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya jari-jari pada tikungan jalan
angkut antara lain dimensi dari alat angkut yang digunakan, radius belokan dari
40

alat mekanis yang melewati jalan tersebut dan kecepatan rencana dari alat
tersebut, dengan kecepatan rencana 40km/jam maka didapat nilai jari-jari
tikungan sebesar 27m (lihat lampiran F).
4.4.4 Cross Slope.
Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada
badan jalan, baik itu yang berasal dari air hujan, maupun air yang digunakan
untuk perawatan jalan, maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan, sebab
jika air tersebut menggenang dapat mengakibatkan kerusakan jalan. Dengan jalan
yang selalu dalam kondisi baik maka proses pengangkutan baik batubara maupun
overburden tidak terganggu. Besarnya cross slope yang digunakan adalah
40mm/m (untuk jalan angkut tambang) (Hustrulid, 1995) dengan lebar jalan
angkut 9m, maka ketinggian melintang 0,18m (lihat lampiran F).
4.4.5 Superelevasi.
Superelevasi merupakan kemiringan jalan yang terbentuk oleh batas antara
tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan ketinggian.
Berdasarkan pada kondisi jalan kering, nilai superelevasi merupakan angka
maksimum yaitu 90mm/m (lihat lampiran F).
4.4.6 Kemiringan Jalan.
Jalan kendaraan tambang memiliki kemiringan tertentu yang bertujuan
untuk bergerak ke ketinggian yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah, agar
kendaraan yang melewati jalan yang menanjak dapat melaju dengan baik maka
besarnya kemiringan jalan maksimum yang digunakan adalah 10% (lihat lampiran
F).
4.5

Penjadwalan Produksi Batubara dan Overburden


Cadangan batubara tertambang di pit 1 sebesar 135.684ton dengan volume

lapisan tanah penutup (overburden) sebesar 1.476.511bcm. Umur tambang


ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 135.684ton
dibagi dengan target produksi Batubara per bulan yaitu 15.000ton, sehingga umur
tambang pit 1 adalah 9 bulan.
Nilai stripping ratio (SR) maksimum yang ditetapkan untuk penambangan
batubara PT Dewa Ruci Mandiri adalah 13:1. Nilai ini ditentukan berdasarkan
perhitungan break even stripping ratio (BESR) yang dilakukan PT DRM.
41

Penjadwalan produksi dilakukan untuk memenuhi jumlah produksi


batubara berdasarkan target produksi tiap bulan. Penjadwalan produksi batubara
antara lain meliputi: perencanaan jumlah batubara tertambang, jumlah overburden
yang harus di bongkar, waktu pelaksanaan, batas wilayah bukaan tambang (pit
limit), arah kemajuan tambang, jalan angkut pada bukaan tambang (ramp), desain
geometris penambangan.
Penjadwalan

dilakukan

dengan

cara

membagi

daerah

pit

limit

penambangan menjadi blok-blok dengan ukuran 50mx50m. Pembagian blok


tersebut bertujuan untuk mempermudah sequence atau pushback pengupasan
overburden dan sequence atau pushback produksi batubara. Tahap pembuatan
jenjang awal penambangan bulan pertama dimulai dari S01P01 hingga S03P06
(bagian Selatan) pit 1 mengarah ke Utara, selanjutnya penggalian sesuai dengan
urutan penambangan yang telah ditentukan (lihat Lampiran V). Rencana
penambangan akan diterangkan secara bulanan (lihat Tabel 4.1).
Tabel 4.1
Penjadwalan Produksi Batubara dan Overburden
Rencana
Produksi

Batubara
(ton)

Bulan 1

16.272

187.229

12:1

Bulan 2

15.491

187.339

12:1

Bulan 3

15.857

193.318

12:1

Bulan 4

15.903

181.316

11:1

Bulan 5

16.184

165.930

10:1

Bulan 6

14.921

162.362

11:1

Bulan 7

15.219

154.373

10:1

Bulan 8

15.264

154.755

10:1

Bulan 9

10.573

89.889

9:1

TOTAL

135.684

1.476.511

11:1

42

Overburden
(bcm)

SR
(m3/ton)

4.5.1 Rencana Penambangan Bulan 1.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan pertama sebesar
3,6Ha, dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 63mdpl,
dan elevasi topografi minimum sebesar 40mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 40mdpl (lihat Lampiran U.1).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan pertama sebesar
16.272ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
187.229bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 12:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan pertama ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 5 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 17 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Jarak angkut ratarata menuju waste dump yang merupakan bekas pit 9 areal konsesi 581Ha adalah
780m di sebelah barat daya pit. Jarak menuju stockpile yang terletak di jetty milik
PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,6km.
Tabel 4.2
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 1
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S01P01
55
40
1501
21457
S01P02
60
40
3439
31299
S01P03
63
40
5976
45746
S01P04
61
40
4489
7335
S02P01
53
45
16956
S02P02
55
45
14681
S02P03
54
45
5739
S02P04
51
45
8597
S02P05
53
45
867
16756
S02P06
53
50
4144
S03P01
52
50
1984
S03P03
58
50
413
S03P04
61
50
5075
S03P05
53
50
1662
S03P06
52
50
3633
S04P04
60
55
1752
Total
16.272
187.229
43

4.5.2 Rencana Penambangan Bulan 2.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan kedua sebesar 5,9Ha,
dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 58mdpl, dan
elevasi topografi minimum sebesar 40mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 33mdpl (lihat Lampiran U.2).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan kedua sebesar
15.491ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
187.339bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 12:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan kedua ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 5 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 17 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Jarak angkut ratarata menuju waste dump yang merupakan bekas pit 9 areal konsesi 581Ha adalah
800m di sebelah barat daya pit. Jarak menuju stockpile yang terletak di jetty milik
PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,7km.
Tabel 4.3
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 2
Nama
Blok
S01P01
S01P02
S01P03
S02P01
S02P02
S02P03
S02P04
S02P05
S02P06
S02P07
S03P01
S03P02
S03P03
S03P04
S03P05
S03P06
S03P07
S04P04
S04P06
S04P07
S04P08

Elevasi
Awal
Akhir
40
33
40
36
40
37
45
35
45
35
45
35
45
35
45
35
50
45
54
50
50
45
50
45
50
45
50
45
50
45
50
45
54
50
55
50
53
50
54
50
58
55
Total

Batubara
(ton)
1549
1245
865
58
732
2095
3212
3292
2443
15.491

44

Overburden
(bcm)
1810
543
115
24707
24261
18775
16650
11883
9721
6466
9108
1985
1406
7858
12340
12435
8915
6782
1585
7183
2812
187.339

4.5.3 Rencana Penambangan Bulan 3.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan ketiga sebesar 5,9Ha,
dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 50mdpl, dan
elevasi topografi minimum sebesar 40mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 20mdpl (lihat Lampiran U.3).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan ketiga sebesar
15.857ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
193.318bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 12:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan ketiga ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 5 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 17 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Jarak angkut ratarata menuju waste dump yang merupakan bekas pit 9 areal konsesi 581Ha adalah
800m di sebelah barat daya pit. Jarak menuju stockpile yang terletak di jetty milik
PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,5km.
Tabel 4.4
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 3
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S02P01
35
24
3672
9642
S02P02
35
25
4110
7158
S02P03
35
26
2913
3079
S02P04
35
32
740
130
S03P01
45
20
924
25226
S03P02
45
20
1954
29288
S03P03
45
30
141
31444
S03P04
45
30
1404
35623
S03P05
45
40
12500
S04P04
50
40
20169
S04P05
50
40
11848
S04P06
50
45
7210
Total
15.857
193.318
45

4.5.4 Rencana Penambangan Bulan 4.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan keempat sebesar
6,8Ha, dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 60mdpl,
dan elevasi topografi minimum sebesar 47mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 20mdpl (lihat Lampiran U.4).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan keempat sebesar
15.903ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
181.316bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 11:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan keempat ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 5 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 17 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Jarak angkut ratarata menuju waste dump yang merupakan bekas pit 9 areal konsesi 581Ha adalah
850m di sebelah barat daya pit. Jarak menuju stockpile yang terletak di jetty milik
PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,5km.
Tabel 4.5
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 4
Nama
Blok
S02P05
S02P06
S02P07
S02P08
S03P03
S03P04
S03P05
S03P06
S03P07
S03P08
S03P09
S04P04
S04P05
S04P06
S04P07
S04P08
S04P09

Elevasi
Awal
Akhir
35
30
45
40
50
45
52
50
30
20
30
20
40
30
45
35
50
40
55
50
57
55
40
30
40
30
45
35
50
40
55
50
60
55
Total
46

Batubara
(ton)
257
2626
4557
2666
2935
1768
1095
15.903

Overburden
(bcm)
26
4644
14251
1567
7917
4217
21342
23696
25000
3824
660
12428
12393
12163
15343
12428
9417
181.316

4.5.5 Rencana Penambangan Bulan 5.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan kelima sebesar 7,4Ha,
dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 60mdpl, dan
elevasi topografi minimum sebesar 49mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 20mdpl (lihat Lampiran U.5).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan kelima sebesar
16.184ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
165.930bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 10:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan kelima ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 4 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 17 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Jarak angkut ratarata menuju waste dump yang merupakan bekas pit 9 areal konsesi 581Ha adalah
980m di sebelah barat daya pit. Jarak menuju stockpile yang terletak di jetty milik
PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,55km.
Tabel 4.6
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 5
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S01P09
53
45
1174
4303
S02P07
40
38
477
19
S02P08
50
40
4888
15212
S02P09
55
45
22074
S03P05
30
24
1870
1995
S03P06
35
26
2381
6406
S03P07
40
29
2640
10976
S03P08
50
40
23398
S03P09
55
45
21839
S04P04
30
20
1015
4940
S04P05
30
20
1133
5641
S04P06
35
23
305
6859
S04P07
40
27
301
9249
S04P08
55
40
21518
S04P09
60
50
11501
Total
16.184
165.930
47

4.5.6 Rencana Penambangan Bulan 6.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan keenam sebesar
10,5Ha, dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 63mdpl,
dan elevasi topografi minimum sebesar 48mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 40mdpl (lihat Lampiran U.6).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan keenam sebesar
14.921ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
162.362bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 11:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan keenam ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 4 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 15 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Penimbunan
overburden dilakukan dengan backfilling pada bagian selatan pit hingga elevasi
45mdpl dengan jarak angkut rata-rata 850m. Jarak menuju stockpile yang terletak
di jetty milik PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,55km.
Tabel 4.7
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 6
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S01P10
54
42
4620
16589
S01P11
55
43
4011
16565
S01P12
55
43
2939
11194
S01P13
58
45
1008
5858
S02P09
45
40
2329
8720
S02P10
54
45
20638
S02P11
55
45
22301
S02P12
58
45
25566
S02P13
62
45
13
16243
S03P12
59
55
3803
S03P13
63
55
11208
S04P10
60
55
3675
Total
14.921
162.362
48

4.5.7 Rencana Penambangan Bulan 7.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan ketujuh sebesar
11,1Ha, dengan elevasi topografi awal memiliki ketinggian maksimum 63mdpl,
dan elevasi topografi minimum sebesar 50mdpl, kegiatan penambangan dilakukan
hingga elevasi 36mdpl (lihat Lampiran U.7).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan ketujuh sebesar
15.219ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar sebesar
154.373bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 10:1. Rincian dari blok yang
dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan ketujuh ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 4 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 15 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Penimbunan
overburden dilakukan dengan backfilling pada bagian selatan pit hingga elevasi
45mdpl dengan jarak angkut rata-rata 900m. Jarak menuju stockpile yang terletak
di jetty milik PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,6km.
Tabel 4.8
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 7
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S02P08
40
38
606
6
S02P09
40
36
2322
882
S02P10
45
36
4692
9998
S02P11
45
37
4208
9439
S02P12
45
40
2820
7231
S02P13
45
40
571
1706
S03P10
53
45
13745
S03P11
54
45
17962
S03P12
55
45
24829
S03P13
55
45
12266
S04P10
55
50
10147
S04P11
57
50
9677
S04P12
59
50
19217
S04P13
63
50
17267
Total
15.219
154.373
49

4.5.8 Rencana Penambangan Bulan 8.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan kedelapan sebesar
11,1Ha, kegiatan penambangan dilakukan hingga elevasi 30mdpl (lihat Lampiran
U.8).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan kedelapan
sebesar 15.264ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar
sebesar 154.755bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 10:1. Rincian dari blok
yang dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan kedelapan ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 4 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 15 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Penimbunan
overburden dilakukan dengan backfilling pada bagian selatan pit hingga elevasi
50mdpl dengan jarak angkut rata-rata 950m. Jarak menuju stockpile yang terletak
di jetty milik PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,65km.
Tabel 4.9
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 8
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S02P12
S02P13
S03P08
S03P09
S03P10
S03P11
S03P12
S03P13
S04P09
S04P10
S04P11
S04P12
S04P13

40
40
40
45
45
45
45
45
50
50
50
50
50
Total

37
38
33
32
35
35
35
35
40
45
45
45
45

50

882
93
3610
3960
1888
2028
2258
545
15.264

72
8085
23996
22881
22123
20797
7250
17037
9002
9377
10097
4038
154.755

4.5.9 Rencana Penambangan Bulan 9.


Luas area batas penambangan (pit limit) pada bulan kesembilan sebesar
11,1Ha, kegiatan penambangan dilakukan hingga elevasi 30mdpl (lihat Lampiran
U.9).
Jumlah rencana produksi batubara tertambang pada bulan kesembilan
sebesar 10.573ton, dengan jumlah volume overburden yang harus dibongkar
sebesar 89.889bcm, maka diperoleh nilai stripping ratio 9:1. Rincian dari blok
yang dilakukan kegiatan penambangan dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Peralatan mekanis yang digunakan pada bulan kesembilan ini adalah 1 unit
bulldozer Komatsu D155 AX-5 untuk keperluan penggusuran overburden di
waste dump, 1 unit excavator PC200 SEF-7 melayani 5 dump truck Nissan Diesel
CWB320 untuk penggalian serta pengangkutan batubara, dan 4 unit excavator
PC400 LCSE-7 untuk melayani 15 unit dump truck Nissan Diesel CWB320 untuk
pengupasan serta pengangkutan overburden (lihat Tabel 4.13). Penimbunan
overburden dilakukan dengan backfilling pada bagian selatan pit hingga elevasi
50mdpl dengan jarak angkut rata-rata 900m. Jarak menuju stockpile yang terletak
di jetty milik PT Dewa Ruci Mandiri adalah 9,7km.
Tabel 4.10
Jumlah Batubara dan Overburden Terbongkar pada Bulan 9
Elevasi
Nama
Batubara Overburden
Blok
(ton)
(bcm)
Awal
Akhir
S03P10
35
32
1920
1202
S03P11
35
32
1557
747
S03P12
35
33
1069
249
S03P13
35
33
83
S04P08
40
30
698
12490
S04P09
40
30
964
10657
S04P10
45
30
1118
17783
S04P11
45
30
1288
19114
S04P12
45
30
1475
21685
S04P13
45
30
402
5960
Total
10.573
89.889
4.6

Kebutuhan Peralatan Mekanis

4.6.1 Jenis Peralatan Tambang.


Dasar pertimbangan dalam pemilihan jenis peralatan adalah target
produksi batubara dan overburden, jarak angkut dan kapasitas peralatan yang akan
51

digunakan. Peralatan

mekanis

yang

akan

digunakan

dalam

rancangan

penambangan ini dapat dilihat pada Tabel 4.11.


Tabel 4.11
Jenis Peralatan Tambang
Jenis Alat

Merk

Tipe

Jenis Pekerjaan

Bulldozer

Komatsu

D 155 AX-5

Backhoe

Komatsu

PC 400LCSE-7
PC 200-7SEF

Dump Truck

Nissan

CWB 320

Penggusuran overburden di waste


dump
Penggalian dan pemuatan overburden
Penggalian dan pemuatan Batubara
Pengangkutan overburden dan
Batubara

4.6.2 Waktu Kerja Tambang.


Waktu kerja tambang adalah jumlah dari seluruh waktu yang tersedia yang
dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif (lihat Tabel 4.12). Berdasarkan hasil
perhitungan waktu kerja tambang (lihat lampiran H), didapat jam kerja alat
sebesar 159,12jam/bulan.
Tabel 4.12
Waktu Kerja Alat/Bulan
Parameter

Satuan

Hasil

Jam Kerja
Jumlah hari/bulan
hari/bulan
25
Jumlah shift/hari
shift/hari
1
Jumlah jam/shift
jam/shift
10
Total jam kalender/bulan
250
Kehilangan jam kerja direncanakan
Istirahat makan
jam/hari
0.5
Persiapan kerja
jam/hari
0,5
Sholat jumat
jam/bulan
4
Total kehilangan jam kerja direncanakan/bulan
29
Total jam kerja direncanakan/bulan
221
Kehilangan jam kerja tidak direncanakan
Hujan lebat (20% x jam kerja direncanakan) jam/bulan
44,2
Jam kerja efektif/bulan
176.8
Ketersediaan mekanis
95%
Ketersediaan fisik
95%
Kombinasi faktor
0,9
Jam kerja alat/bulan
159,1 2
52

4.6.3

Produksi Alat Muat dan Alat Angkut


Besarnya produksi alat muat dan alat angkut dihitung secara teoritis (lihat Lampiran L dan Lampiran M). Hasil dari perhitungan

secara teoritis tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.13.


Tabel 4.13
Produksi dan Kebutuhan Peralatan Mekanis
Batubara

Bulan

Komatsu PC 200-7SEF
a. Produksi alat muat
b. Kebutuhan alat muat

ton/jam

129,48 129,48 129,48 129,48

unit

129,48 129,48

129,48 129,48 129,48

Nissan CWB 320


c. Produksi alat angkut
d. Kebutuhan alat angkut
Overburden

ton/jam

20,56

20,39

20,74

20,74

20,65

20,65

20,56

20,48

20,39

unit
Bulan

Komatsu PC 400LCSE-7
a. Produksi alat muat
b. Kebutuhan alat muat

bcm/jam 268,50 268,50 268,50 268,50


unit

268,50 268,50

268,50 268,50 268,50

Nissan CWB 320


c. Produksi alat angkut
d. Kebutuhan alat angkut

bcm/jam
unit

72,65

71,75

71,75

69,57

64,49

69,57

67,52

65,59

67,52

17

17

17

17

17

15

15

15

15

53

4.6.4 Kebutuhan Alat.


Kebutuhan alat muat serta alat angkut dihitung berdasarkan beberapa
parameter antara lain:
a.

Rencana produksi alat gali muat selama periode waktu tertentu dengan
jumlah jam kerja selama periode waktu tertentu (Pm).

b.

Rencana produksi alat angkut per jam (Pa).


Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

(
(

)
)

................................................(5.1)

Berdasarkan hasil perhitungan (lihat lampiran J dan lampiran K) maka


didapatkan jumlah kebutuhan alat muat dan alat angkut batubara dan overburden
seperti terlihat pada Tabel 4.13.

54

BAB V
PEMBAHASAN

Perancangan penambangan dalam penelitian ini menggunakan sistem


tambang terbuka dengan metode strip mine. Berdasarkan pengolahan data yang
dilakukan diperoleh sebuah rancangan penambangan batubara dengan cadangan
sebesar 135.684ton yang akan dilakukan penambangan selama sembilan bulan
dengan produksi rata-rata per bulan 15.638ton, sesuai dengan target produksi yang
ditentukan PT Dewa Ruci Mandiri yakni sebesar 15.000ton/bulan. Rancangan
penambangan yang dihasilkan dalam penelitian ini memiliki nilai stripping ratio
11:1 kurang dari batas maksimal stripping ratio yang ditentukan PT Dewa Ruci
Mandiri yaitu 13:1. Berdasarkan rencana produksi per bulan dan geometri
kemajuan penambangan per bulan maka dapat dilakukan perhitungan kebutuhan
peralatan mekanis, kebutuhan peralatan mekanis terbanyak sesuai rancangan
penambangan yaitu 1 bulldozer Komatsu D155 AX-5, 5 backhoe PC 400LCSE-7,
1 backhoe PC 200-7SEF dan 22 dumptruck Nissan 320 CWB. Dalam perancangan
teknis ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan pembahasan yaitu:
5.1

Penaksiran Cadangan dan Penentuan Arah Penambangan.


PT Dewa Ruci Mandiri telah melakukan pemboran sebanyak 31 lubang

bor untuk menganalisis lapisan endapan batubara di pit 1. Pemodelan endapan


batubara dilakukan dengan mengkorelasi dan memproyeksikan data pemboran
tersebut menggunakan perangkat lunak minescape. Hasil berupa model endapan
dengan penyebaran seam batubara yang relatif selatan-utara (strike) dan
kemiringan (dip) lapisan seam batubara 8-150 ke arah timur dengan ketebalan 0,51,48m.
Pemodelan batubara yang dihasilkan kemudian dibagi menjadi blok-blok
ukuran 50mx50m guna menghitung sumberdaya dan didapat sumberdaya batubara
sebesar 176.730ton (lihat Gambar 5.1).
Penaksiran cadangan dilakukan dengan membatasi daerah persebaran
sumberdaya yang nantinya baik secara ekonomis maupun teknik dapat dilakukan
55

penambangan. Batasan ekonomis dari rancangan ini merujuk dari nilai maksimal
stripping ratio yang ditentukan PT Dewa Ruci Mandiri yaitu sebesar 13:1.

Gambar 5.1
Blok Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan
Secara teknis penambangan batubara pada bagian timur dan selatan yang
berdekatan dengan batas WIUP (garis warna biru) tidak dapat dilakukan karena
harus harus dibuat jenjang akhir penambangan. Setelah dilakukan penyeleksian
blok-blok yang dapat dilakukan penambangan, maka didapat batasan daerah
56

penaksiran cadangan (garis warna ungu) dan diperoleh total cadangan batubara
sebesar 135.684ton, dengan jumlah overburden sebesar 1.476.511bcm, dengan
stripping ratio 11:1.
Berdasarkan model endapan batubara, penambangan direncanakan akan
dimulai dari blok S01P01 sampai blok S03P01 dengan arah kemajuan
penambangan mengikuti arah strike dari bagian sebelah selatan ke arah utara.
Alasan pemilihan arah penambangan dari bagian selatan ke utara antara lain:
a.

Nilai stripping ratio pada bagian selatan rancangan bukaan tambang lebih
kecil dibandingkan bagian utara dan terdapat seam batubara yang sudah
tersingkap, sehingga proses pembongkaran batubara dapat dilakukan lebih
cepat dan target produksi pada awal penambangan dapat tercapai.

b.

Lokasi penimbunan overburden pada awal penambangan yang berada di


lahan bekas pit 9 pada areal konsesi 581Ha sebelah baratdaya daerah
penelitian, sehingga pada awal penambangan yang mengupas overburden
dalam jumlah besar jarak angkut ke lokasi penimbunan lebih dekat
sehingga cycle time alat angkut relatif lebih cepat.

5.2

Pengaruh Rancangan Penambangan Terhadap Rencana Produksi


Batubara.
Berdasarkan hasil dari rancangan desain geometris penambangan yang

telah dilakukan menggunakan software minescape (dapat dilihat di Bab IV),


didapat nilai produksi per bulan bervariasi (lihat Tabel 5.1) dengan rata-rata
produksi per bulan sebesar 15.638ton Batubara dan 173.320bcm overburden.
Tabel 5.1
Rencana Produksi Batubara dan Overburden
Rencana
Batubara
Overburden
SR
Produksi
(ton)
(bcm)
(m3/ton)
Bulan 1
16.272
187.229
12:1
Bulan 2
15.491
187.339
12:1
Bulan 3
15.857
193.318
12:1
Bulan 4
15.903
181.316
11:1
Bulan 5
16.184
165.930
10:1
Bulan 6
14.921
162.362
11:1
Bulan 7
15.219
154.373
10:1
Bulan 8
15.264
154.755
10:1
Bulan 9
10.573
89.889
9:1
TOTAL
135.684
1.476.511
11:1
57

Rencana produksi batubara dan overburden tiap bulannya bervariasi, hal


ini dipengaruhi oleh nilai topografi awal, kedalaman batubara dan ketebalan
batubara pada blok yang dilakukan penambangan. Seperti terlihat pada Tabel 5.1
rencana produksi bulan ke-1 dan bulan ke-5 terdapat kelebihan produksi
sedangkan pada bulan ke-6 belum mencapai target produksi, hal ini dikarenakan:

a.

Bulan ke-1 topografi awal memiliki ketinggian maksimum 63mdpl, dan


elevasi topografi minimum sebesar 40mdpl, kegiatan penambangan
dilakukan hingga elevasi 40mdpl. Kegiatan pembongkaran batubara
dilakukan di 5 blok penambangan yaitu S01P01, S01P02, S01P03,
S01P04, dan S02P05. Ketebalan rata-rata overburden sebesar 5m dan
batubara 1,3m. Blok S01P03 dan S01P04 memiliki jumlah batubara relatif
besar yaitu 5976ton dan 4489ton sehingga didapat jumlah batubara yang
melebihi dari target produksi.

b.

Bulan ke-5 topografi awal memiliki ketinggian maksimum 53mdpl, dan


elevasi topografi minimum sebesar 49mdpl, kegiatan penambangan
dilakukan hingga elevasi 20mdpl. Kegiatan pembongkaran batubara
dilakukan di 10 blok penambangan yaitu S01P09, S02P07, S02P08,
S03P05, S03P06 S03P07, S04P04, S04P05, S04P06, dan S04P07.
Ketebalan rata-rata overburden sebesar 7m dan batubara 1,3m. Jumlah
blok yang dilakukan pembongkaran pada bulan kelima 10 blok dengan
persebaran batubara yang merata dan pada blok S02P08 didapat batubara
cukup besar yaitu 4888ton sehingga didapat jumlah batubara yang
melebihi dari target produksi.

c.

Bulan ke-6 topografi awal memiliki ketinggian maksimum 63mdpl, dan


elevasi topografi minimum sebesar 48mdpl, kegiatan penambangan
dilakukan hingga elevasi 40mdpl. Kegiatan pembongkaran dilakukan di 6
blok penambangan yaitu S01P10, S01P11, S01P12, S01P13, S02P09, dan
S02P13. Ketebalan rata-rata overburden sebesar 7m dan batubara 1,2m.
Pembongkaran batubara pada blok S02P13 belum bisa maksimal karena
belum semua overburdennya terkupas, hal ini yang menyebabkan tidak
tercapainya target produksi. Kekurangan produksi pada bulan ini masih
dapat ditutupi dengan kelebihan produksi pada bulan-bulan sebelumnya.
58

5.3

Kebutuhan dan Keserasian Alat Mekanis.


Berdasarkan

hasil

perancangan

penambangan

didapatkan

rencana

penggalian overburden dan batubara per bulan serta geometri penambangan


(terutama panjang jalan angkut), maka dapat dilakukan perhitungan produksi,
kebutuhan (lihat lampiran J dan lampiran K) dan keserasian alat muat dan alat
angkut untuk penggalian dan pengangkutan overburden dan batubara (lihat
lampiran O).
Tabel 5.2
Hubungan Kebutuhan Alat Mekanis dan Match Factor
Batubara
Overburden
Rencana
Rencana
Bulan
Alat
Alat
Alat
Alat
Produksi
MF Produksi
MF
Muat Angkut
Muat Angkut
(ton)
(m3)
1
1
5
0,86 187.229
5
17
0,98
16.272
2

15.491

0,85

187.339

17

0,97

15.857

0,86

193.318

17

0,97

15.903

0,86

181.316

17

0,94

16.184

0,86

165.930

17

1,09

14.921

0,86

162.362

15

1,04

15.219

0,86

154.373

15

1,01

15.264

0,85

154.755

15

0,98

10.573

0,85

89.889

15

1,01

Seperti terlihat pada Tabel 5.2 yang merupakan hasil perhitungan produksi
dan kebutuhan peralatan (lampiran J dan lampiran K) menunjukkan kebutuhan
alat muat dan angkut batubara dari awal hingga akhir penambangan tidak ada
perubahan, hal ini dikarenakan jumlah produksi dan jarak angkut tiap bulannya
relatif seragam sehingga tidak terdapat perubahan jumlah kebutuhan alat.
Kebutuhan alat muat dan angkut overburden terdapat perubahan pada bulan
kelima hingga akhir penambangan dengan produksi overburden 154.755165.930bcm, hal ini dikarenakan jumlah produksi overburden yang lebih sedikit
dibandingkan pada bulan pertama hingga keempat yang berkisar 181.316193.318bcm, untuk jarak angkut tiap bulannya relatif seragam jadi tidak terlalu
berpengaruh pada kebutuhan alat.

59

Alat muat (Komatsu PC 200-7SEF) dan alat angkut (dumptruck Nissan


CWB 320) untuk penggalian dan pengangkutan batubara didapatkan nilai match
factor (MF) seragam antara 0,85-0,86. Nilai MF<1 ini artinya dumptruck Nissan
CWB 320 bekerja 100%, sedangkan Komatsu PC 200-7SEF bekerja kurang dari
100%, sehingga terdapat waktu tunggu pada Komatsu PC 200-7SEF. Hal ini
disebabkan produksi dari alat muat berupa Komatsu PC 200-7SEF sebesar
129,48ton/jam, dengan jumlah jam kerja/bulan 159,12jam maka diperoleh
20.602ton/bulan, jauh lebih besar dari rencana produksi Batubara/bulan sebesar
15.000ton/bulan (lihat lampiran J). Upaya yang dapat dilakukan untuk
memperoleh nilai MF yang lebih baik dapat dilakukan dengan melakukan
pengurangan jam kerja pada alat muat sehingga nilai produksinya sesuai dengan
rencana produksi batubara/bulan, tapi hal ini akan menyebabkan jumlah
kebutuhan alat angkut meningkat. Peningkatan produksi juga dapat dilakukan agar
target produksi mendekati atau sama dengan produksi dari Komatsu PC 200-7SEF
sehingga nantinya diharapkan nilai MF akan meningkat.
Hasil perhitungan alat muat (Komatsu PC400LCSE-7) dan alat angkut
(dumptruck Nissan CWB 320) untuk penggalian dan pengangkutan overburden
didapatkan nilai match factor (MF) bervariasi antara 0,94-1,09. Nilai MF<1
artinya dumptruck Nissan CWB 320 bekerja 100%, sedangkan Komatsu
PC400LCSE-7 bekerja kurang dari 100%, sehingga terdapat waktu tunggu pada
Komatsu PC400LCSE-7, sedangkan nilai MF>1 artinya Komatsu PC400LCSE-7
bekerja 100%, sedangkan dumptruck Nissan CWB 320 bekerja kurang dari 100%,
sehingga terdapat waktu tunggu pada dumptruck Nissan CWB 320. Nilai MF
berkisar 0,9-1,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa Komatsu PC400LCSE-7 dan
dumptruck Nissan CWB 320 serasi.

60

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab pembahasan maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:
1.

Pemodelan batubara menggunakan software minescape menghasilkan


suatu rancangan penambangan dengan cadangan sebesar 135.684ton
dengan stripping ratio 11:1, dan rencana kegiatan penambangan dimulai
dari selatan (blok S01P01, S02P02, dan S03P03) ke arah utara.

2.

Rancangan geometris penambangan tiap bulan dapat mencapai target


produksi, namun pada bulan ke-6 tidak tercapai target produksi, karena
rona topografi daerah penelitian.

3.

Peralatan mekanis untuk pembongkaran dan pemuatan batubara memiliki


nilai match factor 0,85-0,86 sehingga terdapat waktu tunggu pada alat
muat, sedangkan untuk pembongkaran dan pemuatan overburden
menghasilkan nilai match factor 0,94-1,09. Nilai match factor cukup baik
untuk mendukung rancangan penambangan.

6.2

Saran
Perlu dilakukan simulasi penjadwalan pada bulan ke-6 agar target produksi

dapat tercapai, dengan cara mengubah arah kemajuan tambang mulai dari awal
hingga akhir penambangan bulan ke-6.
Nilai match factor dari alat pembongkaran dan pemuatan batubara berkisar
0,85-0,86 sehingga perlu dilakukan kajian pada upaya peningkatan nilai match
factor baik dengan peningkatan produksi maupun pengurangan jam kerja.

61

DAFTAR PUSTAKA

1. Deboer, J., 2006, Minescape Tutorial Dedicated for Pama Training


Batch 5, Pama Persada Nusantara, Kalimantan Timur.
2. Hustrulid, W. & Kuchta, M., 1995, Open Pit Mine Planning and
Design: Vol. 1-Fundamentals, Chapter 4. AA Balkema, Netherland.
3. Nichols.HL & Day.DA, 1998, Moving The Earth The Workbook
Of Excavation, 4th Ed., A division of McGraw-Hill companies, United
States of America, p.18.22.
4. Waterman Sulistyana, 2013, Perencanaan dan
Perancangan
Tambang, Jurusan Teknik Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta.
5. Yanto Indonesianto, 2013, Pemindahan
Veteran Yogyakarta.

Tanah

Mekanis, UPN

6.

, 1998, Klasifikasi Sumberdaya


Batubara, Badan Standarisasi Nasional Indonesia.

7.

, 2009, Laporan Studi Kelayakan Tambang PT.


Dewa Ruci Mandiri, Nunukan, Kalimantan Utara.

8.

, 2007, Komatsu: Specification and Application


Handbook Edition 27, Japan.

62

dan

Cadangan

LAMPIRAN

63

LAMPIRAN A
DATA PEMBORAN EKSPLORASI BATUBARA
DI WIUP 149HA PT DEWA RUCI MANDIRI

Nama
Lubang Bor
DH034
DH035
DH036
DH038
DH043
DH044
DH045
DH048
DH049
DH216
DH222
DH226
DH277
DH278
DH282
DH286
DH287
DH290
DH291
DH292
DH294
DH312
DH313
DH314
DH316
DH318
DH319
DH320
DH321
DH322
DH323

Tabel A.1
Data Pemboran Collar
Easting Northing Elevasi KedalamE
mN
mdpl man (m)
521606
452947 54,841
25
521656
452949 50,977
25
521586
452951
50,5
13
521587
453092 58,329
9
521701
453094 44,246
20
521697
453152 50,533
23
521709
453211
51,94
22
521766
453199 48,259
32
521698
453274 53,762
18
521603
453413 51,574
22
521765
453297 54,894
35
521803
453208 47,951
45
521662
453401
54
20
521627
453388 51,782
22
521636
453370 50,486
5
521686
453236 52,473
19
521746
453152 50,379
32
521640
453055 58,279
21
521698
453027 47,714
29
521677
452991 50,179
27
521604
453029 58,044
15
521731
452941
49,86
40
521760
453054
36,26
45
521751
453102 60,532
39
521804
453153
50
47
521672
453217 51,662
14
521712
453315 47,786
26
521665
453313 50,933
14
521668
453353 54,099
26
521703
453357 53,067
26
521791
453356 59,908
35
64

Tabel A.2
Data Pemboran Litologi
Nama
Lubang
Bor
DH034
DH035
DH036
DH038
DH043
DH044
DH045
DH048
DH049
DH216
DH222
DH226
DH277
DH278
DH282
DH286
DH287
DH290
DH291
DH292
DH294
DH312
DH313
DH314
DH316
DH318
DH319
DH320
DH321
DH322
DH323

Nama
Seam

Litologi

F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F
F

CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO
CO

Roof
(m)
10,30
18,00
4,76
5,90
11,00
16,00
15,30
26,30
13,23
3,00
23,00
34,00
11,40
5,40
2,95
11,35
23,70
18,00
20,45
18,44
9,25
31,50
26,25
36,75
38,70
6,15
9,30
5,60
12,70
15,65
32,00

65

Floor
(m)
11,90
19,55
6,36
7,50
12,60
17,00
16,95
26,81
14,43
4,05
23,45
35,75
13,10
7,05
3,55
13,00
25,25
19,85
22,30
20,09
10,25
33,35
27,40
38,60
40,55
7,90
11,05
7,30
14,45
17,38
32,48

Ketebalan
(m)
1,60
1,55
1,60
1,60
1,60
1,00
1,65
0,51
1,20
1,05
0,45
1,75
1,70
1,65
0,60
1,65
1,55
1,85
1,85
1,65
1,00
1,85
1,15
1,85
1,85
1,75
1,75
1,70
1,75
1,73
0,48

LAMPIRAN B
REKOMENDASI GEOTEKNIK
UNTUK JENJANG PENAMBANGAN DAN PENIMBUNAN
PT DEWA RUCI MANDIRI

Tabel B.1
Rekomendasi Geoteknik
Jenis Lereng

Sudut (o)

Tinggi (m)

Lebar Jenjang
(m)

Faktor
Keamanan

Sidewall

60

10

1,54

Highwall

60

10

1,54

Waste dump

25

10

1,51

LERENG PENAMBANGAN

LERENG TIMBUNAN
Gambar B.1
Geometri Jenjang

Berdasarkan hasil uji geoteknik di atas, maka rekomendasi jenjang


penambangan dari PT Dewa Ruci Mandiri adalah tinggi jenjang 10m, lebar
jenjang 4m, single slope 60 dan overall slope 45, sedangkan untuk
rekomendasi jenjang pada waste dump adalah tinggi jenjang 5m, lebar jenjang
10m, single slope 25 dan overall slope 15

66

LAMPIRAN C
SPESIFIKASI ALAT GALI DAN MUAT

C.1

Spesifikasi Komatsu PC 400LCSE-7


1. Merk

= Komatsu

2. Model

= PC 400LCSE-7

3. Source

= Indonesia

4. Operating weight

= 44.190kg

5. Horse Power

= 330/2.050HP/rpm

6. Performance :
-

Swing Speed

= 9,3rpm

Max Travel Speed

= 5,5km/h

7. Engine :
-

Model

= Komatsu SAA6D125E

No. of cylinders-bore x stroke

= 6-114x135mm

Piston displacement

= 11,04ltr

8. Hydraulic System :
-

Hydraulic pump

= 2 x Variable Piston

Max oil flow

= 652ltr/minute

Max oil pressure

= 355kg cm2 (5050 PSI)

Track shoe width ground pressure

= 800/0,58mm (kg cm2)

9. Capacity (Refilled) :
-

Fuel Tank

= 605ltr

Hydraulic oil tank

= 270ltr

10. Machine Spec :


-

Boom

= 7,06m

Arm

= 2,4m

Bucket

= 3,2m3

11. Cycle Time

= 0,4minute

12. Height of Digging

= 10,31m

67

C.2

Spesifikasi Komatsu PC 200SEF-7


1. Merk

= Komatsu

2. Model

= PC 200SEF-7

3. Source

= Indonesia

4. Operating weight

= 21.200 kg

5. Horse Power

= 143/1.950 HP/rpm

6. Performance :
-

Swing Speed

= 12,4rpm

Max Travel Speed

= 5,5km/h

7. Engine :
-

Model

= Komatsu SAA6D102E

No. of cylinders-bore x stroke

= 6-102x120mm

Piston displacement

= 5,88ltr

8. Hydraulic System :
-

Hydraulic pump

= 2 x Variable Piston

Max oil flow

= 428ltr/minute

Max oil pressure

= 380kg cm2 (5.400 PSI)

Track shoe width ground pressure

= 800/0,37mm (kg cm2)

9. Capacity (Refilled) :
-

Fuel Tank

= 400ltr

Hydraulic oil tank

= 143ltr

10. Machine Spec :


-

Boom

= 5,2m

Arm

= 1,9m

Bucket

= 1,3m3

11. Cycle Time

= 0,45minute

12. Height of Digging

= 10m

68

LAMPIRAN D
SPESIFIKASI ALAT ANGKUT

1.

Model

= Nissan Diesel CWB 320

2.

Sourcing

= Japan

3.

Berat kosong

= 18.630kg (18,630ton)

4.

Muatan Maksimum

= 20.000kg (20ton)

5.

Sudut penumpahan

= 53o

6.

Kapasitas Bak

= 14,2m3 (peres) dan 17,06m3 (munjung)

7.

Ukuran Kendaraan
- Panjang seluruhnya (OL)

= 7.365mm

- Lebar seluruhnya (OW)

= 2.490mm

- Tinggi seluruhnya (OH)

= 2.855mm

- Jarak antara roda depan (FT)

= 2.045mm

- Jarak antara roda belakang (RT) = 1.860mm


- Jarak antara sumbu roda depan dengan sumbu roda belakang (WB)=3.850mm
- Jarak antara juntai depan dengan sumbu roda depan (FOF) = 1.400mm
- Jarak antara juntai belakang dengan sumbu roda belakang (ROF) = 1.995mm
- Jarak antara juntai belakang chassis dengan sumbu roda belakang= 1.750mm
- Jarak antara cab dengan sumbu roda belakang (CA)= 3.140mm
8.

Sudut penyimpangan roda depan = 35o

9.

Berat chassis dengan cab

= 7.370kg

10. Berat roda depan

= 3.920kg

11. Berat roda belakang

= 3.450kg

12. Kecepatan Maksimum


- Maju (gear)

= 1st 2nd

3rd

4th

5th

6th

- Kecepatan (mph)

= 3,2 6,3

9,2

11,9

19,6

29,9

13. Power

= 170Hp

69

14. Tekanan Ban

= 90psi

Gambar D.1
Dump Truck Nissan CWB 320

70

LAMPIRAN E
SPESIFIKASI ALAT GUSUR

1. Merk

= Komatsu

2. Model

= D 155 AX-5

3. Kapasitas blade

= 8,8m3 (11,5 yd3)

4. Berat operasi

= 39.200Kg (86.420 lb)

5. panjang

= 8155mm (269)

6. Lebar

= 3955mm (130)

7. Tinggi

= 3500mm (116)

Gambar E.1
Komatsu D 155 AX-5

71

LAMPIRAN F
RANCANGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT

F.1

Lebar Jalan pada jalan lurus


Perhitungan lebar jalan angkut minimum yang dapat dilalui oleh alat

angkut, didasarkan pada ukuran dimensi dari alat angkut terbesar yang melintas
pada jalan angkut tersebut dalam hal ini dump truck Nissan CWB 320. Jalan
angkut direncanakan memiliki dua jalur dan digunakan baik untuk pengangkutan
material tanah penutup maupun batubara. Untuk mengetahui lebar jalan angkut
minimum pada jalan lurus dapat digunakan rumus berikut :
Lmin = n x Wt + (n + 1) x (0,5 x Wt)
Dengan:
Lmin

= Lebar jalan angkut minimum (m)

= Jumlah jalur

Wt

= Lebar alat angkut terbesar (m)


= 2,490m

Lmin

= 2 x 2,490 + (2 + 1) x (0,5 x 2,490)m


= 4,98m + 3,735m
= 8,715m
= 9m

F.2

Lebar jalan pada tikungan


Untuk dua jalur angkut, maka lebar minimum pada tikungan didasarkan

pada lebar atau jarak antar jejak roda kendaraan, lebar juntai truk bagian depan
dan bagian belakang pada saat menikung. Diperhitungkan pula jarak antar truk
pada saat bersimpangan serta jarak sisi luar truk dari tepi jalan. Untuk mengetahui
lebar jalan angkut minimum pada tikungan dapat digunakan rumus berikut :
W

= n (U + Fa + Fb + Z) + C dan C = Z = (U + Fa + Fb)

Dengan:
W

= Lebar jalan angkut pada tikungan (m)


72

= Jumlah jalur
= 2 jalur

= Jarak jejak roda kendaraan (m)


= 1,86m

Fa

= Lebar juntai depan (m)


= Jarak as roda depan dengan bagian depan unit alat x
sin sudut maksimum penyimpangan roda
= 1,4m x sin 35o .
= 0,803m

Fb

= Lebar juntai belakang (m)


= Jarak as roda belakang dengan bagian belakang unit alat x sin sudut
maksimum penyimpangan roda
= 1,995m x sin 35o.
= 1,144m

Maka:
C

= Jarak antara dua dump truck yang akan bersimpangan


= 0,5 (U + Fa + Fb)m
= 0,5 (1,86 + 0,803 + 1,144)
= 1,9035m

= Jarak sisi luar dump truck ke tepi jalan


=C
= 1,9035m

= 2 (1,86 + 0,803 + 1,144 + 1,9035) + 1,9035m


= 13.3245m
= 14m

F.3

Jari-Jari Tikungan
Jari-jari tikungan jalan angkut harus memenuhi faktor keamanan yaitu

jarak pandang bagi pengemudi di tikungan, baik horizontal maupun vertikal


terhadap kedudukan suatu penghalang pada jalan tersebut yang diukur dari mata
pengemudi. Untuk kecepatan rencana 80km/jam berlaku f= -0,00065V+0,192

73

dan untuk kecepatan rencana 80-112km/jam berlaku f= -0,00125V+0,24. Untuk


mengetahui jari-jari tikungan digunakan rumus berikut:
R

= V2 / [127(e + f)]

Dengan :
R

= jari-jari tikungan (m)

= kecepatan rencana (km/jam)


= 40km/jam

= superelevasi m/m
= 0,09m/m

= koefisien gesekan

Untuk kecepatan rencana <80km/jam


f

= -0,00065 V + 0,192
= -0,00065 (30) + 0,192
= 0,1725

Maka:
R

= 302 / [127(0,09 + 0,1725)]


= 900 / 33,3375
= 26,99m 27m

F.4

Superelevasi
Superelevasi atau kemiringan pada tikungan dinyatakan dalam tangen

sudut atau dapat pula dinyatakan dalam satuan mm/m, yang diukur dari sisi dalam
dan sisi luar tikungan. Berdasarkan teori Atkinson D.I.C. nilai super elevasi
memiliki harga maksimum yaitu 90mm/m. Untuk mengetahui beda tinggi dapat
digunakan rumus berikut:
Beda Tinggi = e x W
Dengan:
e

= Nilai superlevasi (m/m)


= 0,09m/m

= Lebar jalan pada tikungan (m)


= 14m

74

Maka:
Beda tinggi

= 0,09m/m x 14m
= 1,26m

F.5

Cross slope
Nilai cross slope pada jalan angkut dinyatakan dalam perbandingan jarak

vertikal dan horizontal dengan satuan mm/m. Pada konstruksi jalan angkut
tambang terbuka besarnya cross slope yang dianjurkan mempunyai ketebalan
antara -inch untuk tiap feet jarak horizontal atau sekitar 20-40mm/m. Untuk
mengetahui beda tinggi dapat digunakan rumus berikut :
Q

= P x cross slope

= x Wt

Dengan:
Q

= Beda tinggi

= Beda ketinggian pada poros jalan

Wt

= Lebar jalan

Maka :
P

= x 9m
= 4,5m

Sehingga beda tinggi yang dibuat :


Q

= 4,5m x 40mm/m
= 180mm
= 0,18m

F.6

Kemiringan Jalan Angkut (Grade)


Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik

oleh alat angkut besarnya kurang dari 10%. Akan tetapi untuk jalan naik maupun
turun pada daerah perbukitan, lebih aman menggunakan kemiringan jalan
maksimum sebesar 8%.

75

Gambar F.1
Rancangan Geometri Jalan Angkut

70

LAMPIRAN G
LEBAR MINIMUM FRONT PENAMBANGAN

Pergerakan dari alat muat dibuat leluasa dengan cara memperhitungkan


lebar minimum front penambangan dengan seksama. Lebar minimum front
penambangan ditentukan berdasarkan spesifikasi alat muat dan alat angkut
terbesar, dalam hal ini alat muat dan alat angkut yang digunakan untuk
menentukan lebar front penambangan yaitu Komatsu PC400LCSE-7

dan

Nissan Diesel CWB320.


Dimensi dari front penambangan dan parameter-parameter penentunya
dapat dilihat pada Gambar H.1.

Gambar H.1.
Dimensi Front Penambangan2)
77

Lebar minimum front penambangan dapat dihitung dengan persamaan:


= 2(0,5

Keterangan:

)+

Rs

= Swing Radius dari Backhoe PC 400LCSE-7

= Jarak tambahan

Mt

= Lebar truk pada saat membentuk sudut


= Lt Cos + Wt Sin (Lt : panjang truk dan Wt : lebar truk)
= 7,365 cos 350 + 2,490 cos 350
= 6,03 + 2,04
= 8,037 9m

= Sudut yang dibentuk oleh truk pada saat spotting = 350

Diketahui :
Rs

= 11080mm = 11,08m

= 5m

Mt

= 9m

Maka:
Wmin = 2 (0,5 x 11,08m) + 5m+ 9m
= 25,08m 26m

78

LAMPIRAN H
PERHITUNGAN WAKTU KERJA TAMBANG

1.

Jumlah jam kerja/bulan yang diterapkan dihitung sebagai berikut :


a.

Jumlah hari kerja sebulan

= 25hari

b.

Jumlah shift kerja per hari = 1shift

c.

Jumlah jam kerja per shift

= 10jam

d.

Jumlah jam kerja/bulan

= 25hari x 1shift x 10jam


= 250jam/bulan

2.

Kehilangan jam kerja direncanakan yang terdiri dari :


a.

Istirahat makan

= 0,5jam/hari

b.

Persiapan kerja

= 0,5jam/hari

c.

Sholat jumat

= 4jam/bulan

Total kehilangan jam kerja/bulan


= ((0,5 + 0,5) x 25) + 4jam/bulan
= 29jam/bulan
3.

Total jam kerja direncanakan per bulan = 25029 = 221jam/bulan

4.

Kehilangan jam kerja yang tidak direncanakan terutama karena hujan lebat
adalah 20% dari total jam kerja yang direncanakan yaitu 44,2jam/bulan

5.

Jam kerja efektif per bulan


= total jam kerja/bulan(total kehilangan jam kerja direncanakan+total jam
kerja tidak direncanakan)
= 250 (29 + 44,2)jam/bulan
= 176,8jam/bulan

6.

Jam kerja alat per bulan dihitung dengan mempertimbangkan kesediaan


mekanis sebesar 95% dan kesediaan fisik sebesar 95%. Kombinasi dari kedua
faktor adalah 0.9. Diperoleh jam kerja alat per bulan:

79

Jam kerja alat/bulan

= Jam kerja efektif per bulan x kombinasi factor


= 176,8 jam/bulan x 0,9
= 159,12jam/bulan

Tabel H.1
Jam Kerja Per Bulan
Parameter

Satuan

Hasil

Jam Kerja
Jumlah hari/bulan

hari/bulan

25

Jumlah shift/hari

shift/hari

Jumlah jam/shift

jam/shift

10

Total jam kalender/bulan

250

Kehilangan jam kerja direncanakan


Istirahat makan

jam/hari

0.5

Persiapan kerja

jam/hari

0,5

Sholat jumat
jam/bulan
Total kehilangan jam kerja direncanakan/bulan
Total jam kerja direncanakan/bulan

4
29
221

Kehilangan jam kerja tidak direncanakan


Hujan lebat (20% x jam kerja
direncanakan)

jam/bulan

Jam kerja efektif/bulan

44,2
176.8

Ketersediaan mekanis

95%

Ketersediaan fisik

95%

Kombinasi faktor

0,9

Jam kerja alat/bulan

159,12

80

LAMPIRAN I
PENGEMBANGAN MATERIAL

Pengembangan volume (swell) suatu material perlu diketahui karena yang


diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada material insitu (BCM),
sedangkan material yang dimuat dan kemudian diangkut adalah material loose
yang telah mengalami pengembangan volume (LCM).
Berdasarkan data yang diperoleh dari PT Dewa Ruci Mandiri, density in
bank (insitu) untuk tanah penutup adalah 2,15ton/m3 dan loose density adalah
1,61ton/m3. Sedangkan untuk batubara density in bank (insitu) adalah 1,3ton/m3
dan loose density adalah 1ton/m3. Diperoleh nilai %swell dan swell factor:
1. Tanah Penutup
a) % swell
Rumus yang digunakan berdasarkan pada densitas :

BankDensity LooseDensity
%swell
x100%
LooseDensity

2,15ton / m 3 1,61ton / m 3
%swell
x100%
1,61ton / m 3

% swell = 33,54%
b) Swell Factor
Rumus yang digunakan berdasarkan pada densitas :

SF

DensityLoose
x100%
DensityBank

1,61ton / m 3
SF
x100%
2,15ton / m 3

SF = 0,75

81

2. Batubara
a) % swell
Rumus yang digunakan berdasarkan pada densitas :

BankDensity LooseDensity
%swell
x100%
LooseDensity

1,3ton / m 3 1ton / m 3
%swell
x100%
3
1
ton
/
m

% swell = 30%
b) Swell Factor
Rumus yang digunakan berdasarkan pada densitas :

SF

DensityLoose
x100%
DensityBank

SF

1ton / m 3
x100%
1,3ton / m 3

SF = 0,77

82

LAMPIRAN J
KEBUTUHAN ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT BATUBARA

No

Deskripsi

Notasi

jam/bulan

1
159,12

2
159,12

3
159,12

4
159,12

5
159,12

6
159,12

7
159,12

8
159,12

9
110

a. Batubara

ton

16272

15491

15857

15903

16184

14921

15219

15264

10573

b. Jarak angkut

9600

9700

9500

9500

9550

9550

9600

9650

9700

c. Densitas insitu

ton/m

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

d. Densitas loose

ton/m

1,00

1,00

1,00

1,00

1,00

1,00

1,00

1,00

1,00

0,77

0,77

0,77

0,77

0,77

0,77

0,77

0,77

0,77

Jam kerja efektif

Target produksi

e. Swell factor
3

Alat Muat (excavator)


Komatsu

a. Tipe alat muat


b. Kapasitas bucket
c. Faktor pengisian bucket
d. Waktu edar
e. Efisiensi kerja
4

Bulan

Satuan

Cb

Ft
Ctm

menit

Eu

PC200-7SEF
1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

1,30

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,45

0,45

0,45

0,45

0,45

0,45

0,45

0,45

0,45

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

Alat Angkut (dumptruck)


a. Tipe alat angkut
b. Kapasitas truk
c. Faktor pengisian truk

CWB 320

Nissan
ton
Ft

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

No

Deskripsi

Notasi

ton

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

kali

16,00

16,00

16,00

16,00

16,00

16,00

16,00

16,00

16,00

f. Kecepatan truk (isi)

V1

m/menit

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

g. Kecepatan truk (kosong)

V2

m/menit

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

h. Waktu pemuatan

t1

menit

7,20

7,20

7,20

7,20

7,20

7,20

7,20

7,20

7,20

j. Waktu perjalanan (isi)

t2

menit

19,20

19,40

19,00

19,00

19,10

19,10

19,20

19,30

19,40

k.Waktu Penumpahan

t3

menit

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

l. Waktu perjalanan (kosong)

t4

menit

14,41

14,56

14,26

14,26

14,34

14,34

14,41

14,49

14,56

t5

menit

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

n. Waktu edar truk

Cta

menit

42,01

42,36

41,66

41,66

41,84

41,84

42,01

42,19

42,36

o. Efisiensi kerja

Eu

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

bcm/jam

99,60

99,60

99,60

99,60

99,60

99,60

99,60

99,60

99,60

lcm/jam

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

ton/jam

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

129,48

unit

0,79

0,75

0,77

0,77

0,79

0,72

0,74

0,74

0,74

unit

bcm/jam

15,82

15,69

15,95

15,95

15,88

15,88

15,82

15,75

15,69

lcm/jam

20,56

20,39

20,74

20,74

20,65

20,65

20,56

20,48

20,39

ton/jam

20,56

20,39

20,74

20,74

20,65

20,65

20,56

20,48

20,39

d. Kebutuhan alat angkut

unit

4,97

4,77

4,81

4,82

4,93

4,54

4,65

4,68

4,71

Pembulatan

unit

0,86

0,85

0,86

0,86

0,86

0,86

0,86

0,85

0,85

e. Jumlah pemuatan

m. Waktu penempatan

Produksi Alat Mekanis


a. Produksi alat muat

Pm

b. Kebutuhan alat muat


Pembulatan
c. Produksi alat angkut

Bulan
18,00

d. Kapasitas muat truk

Satuan

Match factor

Pa

LAMPIRAN K
KEBUTUHAN ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT OVERBURDEN

No

Deskripsi

Notasi

2
159,12

3
159,12

4
159,12

5
159,12

6
159,12

7
159,12

8
159,12

jam/bulan

1
159,12

a. Overburden

bcm

187229

187339

193318

181316

165930

162362

154373

154755

89889

b. Jarak angkut

780

800

800

850

980

850

900

950

900

c. Densitas insitu

ton/m

2,15

2,15

2,15

2,15

2,15

2,15

2,15

2,15

2,15

d. Densitas loose

ton/m

1,61

1,61

1,61

1,61

1,61

1,61

1,61

1,61

1,61

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

Jam kerja efektif

Target produksi

e. Swell factor
3

90

Alat Muat (excavator)


Komatsu

a. Tipe alat muat


b. Kapasitas bucket

Cb

c. Faktor pengisian bucket

Ft

d. Waktu edar
e. Efisiensi kerja
4

Bulan

Satuan

Ctm

m
menit

Eu

PC400LCSE-7
3,20

3,20

3,20

3,20

3,20

3,20

3,20

3,20

3,20

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,90

0,40

0,40

0,40

0,40

0,40

0,40

0,40

0,40

0,40

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

0,83

20,00

20,00

20,00

20,00

Alat Angkut (dumptruck)


a. Tipe alat angkut
b. Kapasitas truk

CWB 320

Nissan
ton

20,00

20,00

20,00

20,00

20,00

No

1
0,90

2
0,90

3
0,90

4
0,90

Bulan
5
0,90

6
0,90

7
0,90

8
0,90

9
0,90

ton

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

18,00

kali

4,00

4,00

4,00

4,00

4,00

4,00

4,00

4,00

4,00

f. Kecepatan truk (isi)

V1

m/menit

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

500,00

g. Kecepatan truk (kosong)

V2

m/menit

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

666,00

h. Waktu pemuatan

t1

menit

1,60

1,60

1,60

1,60

1,60

1,60

1,60

1,60

1,60

j. Waktu perjalanan (isi)

t2

menit

1,56

1,60

1,60

1,70

1,96

1,70

1,80

1,90

1,80

k.Waktu Penumpahan

t3

menit

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

0,70

l. Waktu perjalanan (kosong)

t4

menit

1,17

1,20

1,20

1,28

1,47

1,28

1,35

1,43

1,35

m. Waktu penempatan

t5

menit

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

0,50

Cta

menit

5,53

5,60

5,60

5,78

6,23

5,78

5,95

6,13

5,95

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

0,80

bcm/jam

268,50

268,50

268,50

268,50

268,50

268,50

268,50

268,50

268,50

lcm/jam

358,56

358,56

358,56

358,56

358,56

358,56

358,56

358,56

358,56

ton/jam

222,71

222,71

222,71

222,71

222,71

222,71

222,71

222,71

222,71

4,38

4,38

4,52

4,24

3,88

3,80

3,61

3,62

3,72

Deskripsi
c. Faktor pengisian truk

Notasi
Ft

d. Kapasitas muat truk


e. Jumlah pemuatan

n. Waktu edar truk


o. Efisiensi kerja
5

Eu

Produksi Alat Mekanis


a. Produksi alat muat

Pm

b. Kebutuhan alat muat

unit

Pembulatan

unit

bcm/jam

72,65

71,75

71,75

69,57

64,49

69,57

67,52

65,59

67,52

lcm/jam

97,02

95,81

95,81

92,91

86,12

92,91

90,17

87,60

90,17

ton/jam

156,21

154,25

154,25

149,58

138,65

149,58

145,18

141,03

145,18

d. Kebutuhan alat angkut

unit

16,20

16,41

16,93

16,38

16,17

14,67

14,37

14,83

14,79

Pembulatan

unit

17

17

17

17

17

15

15

15

15

0,98

0,97

0,97

0,94

1,09

1,04

1,01

0,98

1,01

c. Produksi alat angkut

Satuan

Match factor

Pa

LAMPIRAN L
PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT MUAT

L.1

Produksi Alat Gali dan Muat Overburden


Merk

= Komatsu

Model

= PC 400LCSE-7

Kapasitas bucket (Cb)

= 3,2m3

Waktu edar alat muat (Ctm)

= 0,4menit

Fill factor (Ft)

= 90%
= 0,9

Efisiensi Kerja

= 83%
= 0,83

Swell factor

= 0,75

Jam kerja/bulan

= 159,12jam/bulan

Maka produksi 1 (satu) unit excavator adalah :


Pm

60
xCbxFtxEU lcm / jam
Ctm

Pm

60
x3,2 x0,9 x0,83 lcm / jam 358,56 lcm / jam
0,4

= 358,56lcm/jam x 0,75
= 268,50bcm/jam

87

L.2

Produksi Alat Gali dan Muat Batubara


Merk

= Komatsu

Model

= PC 200-7SEF

Kapasitas bucket (Cb)

= 1,3m3

Waktu edar alat muat (Ctm)

= 0,45menit

Fill factor (Ft)

= 90%
= 0,9

Efisiensi Kerja

= 83%
= 0,83

Swell factor

= 0,77

Densitas Batubara

= 1,3Ton/m3

Jam kerja/bulan

= 159,12jam/bulan

Maka produksi 1 (satu) unit excavator adalah :


Pm

60
xCbxFtxEU
Ctm

Pm

60
x1,3x0,9 x0,83 lcm / jam 129,48 lcm / jam
0,45

lcm / jam

= 129,48lcm/jam x 0,77
= 99,7bcm/jam x 1,3ton/m3
= 129.48ton/jam

88

LAMPIRAN M
PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT ANGKUT

M.1 Produksi Alat Angkut untuk Pengangkutan Overburden Bulan 1


Merk

= Nissan

Model

= Nissan Diesel CWB 320

Kapasitas muat dump truck (Cb)

= 20ton
= 20ton/1,61ton/m3
= 12,42m3

Fill factor (Ft)

= 90%
= 0,9

Efisiensi Kerja

= 80%
= 0,8

Swell Factor

= 0,75

Jumlah pemuatan (n)

Jarak angkut rata-rata (J)

= 780m

Kecepatan isi rata-rata (V1)

= 30km/jam

12,42 x0,9
= 3,88 = 4kali
3,2 x 0,9

= 500m/menit
Kecepatan kosong rata-rata (V2)

= 40km/jam
= 666m/menit

Waktu penumpahan (T1)

= 0,7menit

Waktu penempatan(T2)

= 0,5menit

Waktu edar dump truck (Cta)

(Cta)

= (n x Ctm) + J/V1 + J/V2 + T1+T2

(Cta)

= (4x0,4mnt) +

780m
780m
+
+ 0,7mnt + 0,5mnt
500m/mnt
666m/mnt

= 1,6+1,56+1,17+0,7+0,5
= 5,53menit

89

Maka produksi 1 (satu) unit dump truck adalah :


Pa

60
xCbxFtxEU
Cta

Pa

60
x12,42 x0,9 x0,8 lcm / jam 97,02 lcm / jam
5,53

lcm / jam

= 97,02lcm/jam x 0,75
= 72,65bcm/jam

M.2 Produksi Alat Angkut untuk Pengangkutan Batubara Bulan 9


Merk

= Nissan

Model

= Nissan Diesel CWB 320

Kapasitas muat dump truck (Cb)

= 20ton
= 20ton /1ton/m3
= 20m3

Fill factor (Ft)

= 90%
= 0.9

Efisiensi Kerja

= 80%
= 0,8

Swell Factor

= 0.77

Jumlah pemuatan (n)

Jarak angkut rata-rata (J)

= 9700m

Kecepatan isi rata-rata (V1)

= 30km/jam

20 x 0,9
= 15,38= 16 kali
1.3 x 0.9

= 500m/menit
Kecepatan kosong rata-rata (V2)

= 40km/jam
= 666m/menit

Waktu penumpahan (T1)

= 0,7menit

Waktu penempatan(T2)

= 0.5menit

Waktu edar dump truck (Cta)

(Cta)

= ( n x Ctm) + J/V1 + J/V2 + T1+T2

(Cta)

=(16x0,45mnt) +

9700m
9700m
+
+0,7mnt+0,5mnt
500 m/mnt 666 m/mnt

90

= 7,2+19,4+14,56+0,7+0,5
= 42,36menit
Maka produksi 1 (satu) unit dump truck adalah :
Pa

60
xCbxFtxEU
Cta

Pa

60
x 20 x0,9 x0,8 lcm / jam 20,39 lcm / jam
42,36

lcm / jam

= 20,39lcm/jam x 0,77
= 15,69bcm/jam x 1,3ton/m3
= 20,39ton/jam

91

LAMPIRAN N
PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT GUSUR

Produksi alat gusur berupa 1 unit bulldozer D 155 AX-5 dengan:


Kapasitas blade

= 11,8m3

Faktor blade

= 0,9

= q1 x a
= 11,8m3 x 0,9
= 10,62m3

= 10m

= 3,8km/jam = 63,3m/mnt

= 4,9km/jam = 81,6m/mnt

= 0,05menit

Densitas insitu

= 2,15

Densitas loose

= 1,61

Swell factor (SF)

= 0,75

= 0,9

Effisiensi kerja

= 83% = 0,83

QD

q x 60 x e x E
D D
Z
F R

10,62 x 60 x 0,9 x 0,83


10
10

0,05
63,3 81,6
475,988
0,157 0,122 0,05

= 1440,88lcm/jam x SF
= 1440,88lcm/jam x 0,75
= 1080,66bcm/jam x 159,12jam/bulan
= 171.954,62bcm/bulan

92

LAMPIRAN O
PERHITUNGAN FAKTOR KESERASIAN (MATCH FACTOR)

Alat muat dan alat angkut dikatakan serasi apabila produksi alat muat
sama dengan alat angkut, sehingga diantara keduanya tidak ada waktu tunggu dan
dapat mencapai produksi maksimal. Untuk mengetahui keserasian kerja (match
factor) antara alat angkut dan alat muat dala satu system kerja dapat digunakan
peramaan sebagai berikut :
MF = Jumlah alat angkut x Jumlah pemuatan x Waktu edar alat muat
Jumlah alat muat x Waktu edar alat angkut
Contoh perhitungan keserasian 5 unit excavator Komatsu PC400LCSE-7 dengan
17 dumptruck Nissan CWB 320 untuk pengangkutan tanah penutup pada bulan 1:
-

Jumlah alat angkut

= 17

Jumlah pemuatan

=4

Waktu edar alat muat

= 0,4menit

Jumlah alat muat

=5

Waktu edar alat angkut

= 5,53menit

Faktor keserasian (MF)

=
= 0,98

Karena nilai MF<1, artinya alat muat bekerja kurang dari 100%, sedangkan alat
angkut bekerja 100%, sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat.

93

LAMPIRAN P
PETA TOPOGRAFI DAERAH PENELITIAN

94

LAMPIRAN Q.1
PETA LOKASI TITIK BOR DAERAH PENELITIAN

95

LAMPIRAN Q.2
PENAMPANG ENDAPAN BATUBARA
DAERAH PENELITIAN

96

LAMPIRAN R
PETA KONTUR STRUKTUR FLOOR SEAM F

97

LAMPIRAN S
PETA RESGRAPHIC PENAKSIRAN SUMBERDAYA
DAERAH PENELITIAN

98

LAMPIRAN T
PETA RESGRAPHIC PENAKSIRAN CADANGAN
DAERAH PENELITIAN

99

LAMPIRAN U
PETA RANCANGAN PENAMBANGAN DAERAH PENELITIAN
BULAN 1-9

100

LAMPIRAN V
PENAKSIRAN CADANGAN DAN
PENJADWALAN PRODUKSI

Tabel W.1
Penaksiran Cadangan Terbukti
Total Batubara
Total Overburden
Stripping Ratio
Area

135684

ton

1476511

11

ton/m

11,1

Ha

Tabel W.2
Penjadwalan Produksi Batubara dan Overburden
Rencana
Produksi
Bulan 1

COAL (ton)
KumuBulan
latif
16272
16272

OB (bcm)
KumuBulan
latif
187229 187229

SR (m/ton)
KumuBulan
latif
11,51
11,51

Bulan 2

15491

31763

187339

374568

12,09

11,79

Bulan 3

15857

47620

193318

567887

12,19

11,93

Bulan 4

15903

63523

181316

749202

11,40

11,79

Bulan 5

16184

79707

165930

915132

10,25

11,48

Bulan 6

14921

94628

162362 1077494

10,88

11,39

Bulan 7

15219

109847

154373 1231867

10,14

11,21

Bulan 8

15264

125111

154755 1386622

10,14

11,08

Bulan 9

10573

135684

89889 1476511

8,50

10,88

TOTAL

135684

1476511

10,88

Tabel W.3
Penaksiran Cadangan dan Penjadwalan Produksi (Strip, Panel, Request Level)
Strip/Panel
Request Level
L60
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L55
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L50
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L45
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L40
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L35
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L30
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L25
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L20
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
TOTAL Batubara (ton)
TOTAL Overburden (bcm)

Keterangan:

BULAN 1

P01

P02

P03

S01
P09

P04

0,00
4078,16

0,00
79,27

P10

P11

0,00
18,44

0,00
2921,76

0,00
13239,74

308,21
2254,04

0,00
4536,82

511,69
11601,58

1761,45
14427,13

1912,10
1389,20

9,70
1018,48

141,66
7478,29

64,92
10190,90

1356,29
11292,68

1893,26
9919,91

776,10
2460,88

1163,97
3284,44

1435,92
6711,25

1571,10
5482,48

2321,53
4081,36

1493,06
1151,84

1443,57
1809,19

1245,10
542,85

865,18
115,02

4684,18
31841,35

6841,42
45861,32

4489,47
7335,24

P12

P13

0,00
16,39

0,00
839,24

0,00
7796,94

0,00
5268,53

99,97
3779,00

2923,08
8777,12

2650,26
8480,60

2394,80
5896,19

907,98
1240,25

72,91
3,98

1482,32
330,06

1360,92
287,95

544,59
12,75

1246,59
4306,89

4547,06
16585,47

4011,18
16565,49

2939,39
11193,85

105,92
1,30

3050,33
23267,91

BULAN 2

BULAN 3

BULAN 4

BULAN 5

BULAN 6

BULAN 7

BULAN 8

1007,95
5858,49

BULAN 9

Strip/Panel
Request Level

P01

L60
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L55
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L50
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L45
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L40
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L35
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L30
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L25
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L20
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
TOTAL Batubara (ton)
TOTAL Overburden
(bcm)

P02

P03

P04

P05

P06

S02
P07

P08

P09

P10

P11

P12

P13
0,00
470,41

0,00
19,69

0,00
1095,08

0,00
5415,63

0,00
2733,25

0,00
3115,90

0,00
1122,38

0,00
261,77

0,00
3149,40

0,00
4144,13

0,00
6465,84

0,00
1567,23

0,00
9573,82

0,00
8138,08

0,00
9801,40

0,00
11970,88

0,00
5882,43

0,00
14222,88

0,00
11545,35

0,00
4616,54

0,00
8334,80

866,68
13607,06

2443,13
9721,47

2270,64
10254,96

1791,03
10698,95

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

13,07
4474,99

0,00
13385,56

0,00
12500,00

0,00
9011,75

716,69
11385,26

1789,01
8791,56

1587,19
4491,15

2286,32
3996,00

3097,14
4513,14

2329,27
8720,05

2471,82
9257,54

2418,80
9029,45

2820,00
7230,65

570,95
1706,27

57,97
11321,12

731,80
11760,86

2094,51
9762,76

2495,12
5265,16

1502,81
3091,92

1038,96
152,36

476,68
19,08

605,54
5,85

2322,11
882,44

2220,01
740,50

1789,47
409,70

881,68
71,85

93,49
0,37

1681,81
7987,74

2214,62
6259,48

2374,06
3007,19

739,51
130,46

256,71
26,43

1883,16
1654,45

1895,58
898,89

538,89
71,86

106,63
0,00
3729,57

4842,00

5007,46

3951,33

4415,20

5069,28

5033,64

5493,72

4651,39

4691,83

4208,28

3701,69

677,51

51305,00

46100,17

27592,48

25377,45

28666,37

18509,10

20735,88

16785,17

31676,31

30636,13

31740,54

32868,46

17950,10

Keterangan:

BULAN 1

BULAN 2

BULAN 3

BULAN 4

BULAN 5

BULAN 6

BULAN 7

BULAN 8

BULAN 9

Strip/Panel
Request Level

P01

L60
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L55
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L50
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L45
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L40
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L35
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L30
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L25
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L20
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
TOTAL Batubara (ton)
TOTAL Overburden (bcm)

P02

P03

P04

P05

P06

S03
P07

P08

P09

P10

P11

P12

0,00
156,25

0,00
3006,80

0,00
1177,40
0,00
1983,55

P13

0,00
659,74

0,00
3803,44

0,00
8200,84

0,00
413,43

0,00
3741,53

0,00
1661,75

0,00
3632,78

0,00
8914,64

0,00
3823,76

0,00
9338,85

0,00
1245,25

0,00
5461,91

0,00
12329,14

0,00
7362,78

0,00
9107,78

0,00
1984,62

0,00
1405,77

0,00
7858,05

0,00
12339,87

0,00
12435,24

0,00
12500,00

0,00
10897,61

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
4903,46

0,00
9341,90

0,00
7817,69

0,00
9331,61

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,00
12500,00

0,42
4903,07

0,00
6547,48

0,00
8580,43

0,00
11690,80

0,00
12500,00

32,24
12470,67

1094,79
11195,52

1637,58
9018,17

2698,65
7849,50

2016,05
10387,83

1887,66
10380,75

2028,34
9623,19

2258,11
8296,65

544,75
2346,83

0,00
5479,30

0,00
7283,15

140,98
10421,71

1403,55
10622,97

1735,74
8871,12

1592,13
5697,75

1002,26
1957,90

911,18
235,35

1943,92
1108,48

1919,74
1202,35

1557,07
746,96

1068,57
249,13

83,03
0,02

0,00
3268,17

99,12
4750,54

1314,65
6613,94

2174,24
4119,53

1870,09
1995,29

788,89
708,70

923,93
588,87
3729,57
51305,00

1854,96
856,56
4842,00
46100,17

1351,48
1302,74
5007,46
27592,48

760,29
97,61
3951,33
25377,45

4415,20
28666,37

5069,28
18509,10

5033,64
20735,88

5493,72
16785,17

4651,39
31676,31

4691,83
30636,13

4208,28
31740,54

3701,69
32868,46

677,51
17950,10

Keterangan:

BULAN 1

BULAN 2

BULAN 3

BULAN 4

BULAN 5

BULAN 6

BULAN 7

BULAN 8

BULAN 9

Strip/Panel
Request Level
L60
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L55
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L50
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L45
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L40
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L35
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L30
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L25
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
L20
Batubara (ton)
Overburden (bcm)
TOTAL Batubara (ton)
TOTAL Overburden (bcm)

Keterangan:

S04
P04

P05

P06

P07

P08

0,00
6,03
0,00
1745,99
0,00
6782,12

P09

P10

P11

P12

P13

0,00
93,19

0,00
2,27

0,00
2567,31

0,00
2718,43

0,00
9417,44

0,00
3672,27

0,00
945,49

0,00
6158,85

0,00
7803,00

0,00
1584,56

0,00
7183,02

0,00
12428,34

0,00
11501,07

0,00
10147,05

0,00
8731,50

0,00
13058,56

0,00
6896,43

0,00
10247,92

0,00
2666,20

0,00
7210,31

0,00
8068,71

0,00
10921,12

0,00
8960,18

0,00
9002,37

0,00
9376,86

0,00
10096,65

0,00
4037,88

0,00
9921,05

0,00
9181,60

0,00
7502,68

0,00
7274,45

0,00
10596,58

0,00
8077,19

0,00
7921,71

0,00
8601,26

0,00
9861,00

0,00
3032,58

0,00
7178,94

0,00
6950,64

0,00
4659,94

0,00
4928,63

0,00
7743,19

0,00
6280,82

0,00
5844,34

0,00
6755,44

0,00
7929,23

0,00
2099,82

0,00
5249,19

0,00
5442,60

0,00
4089,28

146,79
4044,05

698,33
4746,94

963,65
4376,42

1118,18
4016,85

1288,34
3757,52

1474,77
3895,11

401,56
827,81

0,00
3685,99

29,32
4488,32

154,97
2640,68

154,34
276,21

1014,93
1254,30
1014,93
46071,52

1104,05
1152,45
1133,37
29881,80

149,98
129,14
304,95
27816,58

301,13
31775,08

698,33
49154,61

963,65
48706,32

1118,18
40606,87

1288,34
38168,06

1474,77
50999,40

401,56
27264,83

BULAN 1

BULAN 2

BULAN 3

BULAN 4

BULAN 5

BULAN 6

BULAN 7

BULAN 8

BULAN 9