Anda di halaman 1dari 32

BAB I

STATUS PASIEN
I. Identitas
1.1 Data Keluarga

Nama Kepala Keluarga


Umur
Alamat
Agama
Bahasa sehari-hari
Jarak Yankes terdekat
Alat transportasi

tn.J
35 tahun
RT.08 Olak kemang
Islam
Jambi
1 km
Sepeda motor

1.2 Data Anggota Keluarga :


No
1.
2.
3.

Nama

Hub dgn
KK
pasien
suami
Anak

Ny.SH
Tn.J
An. Z

JK
P
L
L

Pendidikan
terakhir
SMP
SMP
Belum sekolah

Pekerjaan
IRT
petani
-

1.3 Data Individu yang sakit :


Nama

: Ny.SH

Umur

: 34 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: IRT

II. Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga


Status ekonomi keluarga

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Suami pasien adalah seorang
petani. Penghasilan keluarga pasien + 1 juta per bulan.
Kondisi Rumah

Rumah panggung, dengan dinding kayu dan lantai kayu, dengan lebar + 7 meter
dan panjang + 6 meter, tampak jendela 5 buah di depan rumah dan 1 buah pintu di

depan rumah. Kamar tidur pasien tidak terdapat jendela dan kasur yang diletakkan
di lantai tanpa dipan. Pasienn tidur hanya dengan kasur tipis yang dapat dilipat.
Ruang tamu pasien tampak 1 buah televisi dan karpet plastik yg diletakkan
di depan televisi yang digunakan untuk berbaring keluarga pasien pada siang hari.
Di ruang tamu juga terdapat 5 buah jendela. Dapur pasien tampak agak rapi dimana
atap rumahnya dari seng, keluarga pasien menggunakan kompor gas.
Kamar mandi pasien terdapat di luar rumah dan WC jongkok, atap WC
menggunakan seng dan berlantaikan semen. Sumber air dari PDAM dan Septic
tank berada di belakang rumah.
Kesan :
Pencahayaan kurang baik
Sanitasi baik
Kondisi Lingkungan Keluarga

Pasien tinggal di lingkungan yang kurang padat penduduk, jarak antara


rumah cukup dekat.
Warga di sekitar lingkungan pasien sangat ramah dan hidup kekeluargaan di
tempat ini cukup baik.
III. Aspek Psikologis di Keluarga

Hubungan pasien dengan anggota keluarga baik.


IV. Riwayat Penyakit Sekarang
4.1 Keluhan Utama

Ambil obat bulan ke 2 di puskesmas


4.2 Riwayat Perjalanan Penyakit : (alloanamnesa)
Pasien datang kepuskesmas untuk mengambil obat. Pasien sudah 1
bulan meminum obat dan kepuskesmas untuk mengambil obat bulan ke 2.
Pasien di anjurkan minum obat 6 bulan dikarenakan + 3 bulan yang lalu
pasien batuk, batuk pasien berdahak, pasien juga sering demam, demam tidak

pernah menggigil. Berat badan pasien saat itu juga diakui tidak ada
penambahan.
Pasien dibawa ke puskesmas dan dianjurkan untuk diperiksa
dahaknya. Dimana dari hasil dahaknya pasien yang mendapat penjelasan dari
dokter puskesmas bahwa pasien terkena TB paru. Oleh karena itu pasien
disarankan untuk meminum obat 6 bulan. Setelah diterapi 1 bulan keadaan
pasien membaik, pasien sudah tidak pernah batuk dan demam lagi, juga
terlihat perbaikan berat badan pasien. Keluhan yang sekarang dirasakan juga
badan terasa pegal-pegal.
V.

VI.

Riwayat Penyakit Dahulu/keluarga :


- Riwayat dengan keluhan yang sama ada pada paman pasien.
Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Keadaan sakit
Kesadaran
Suhu
Nadi
Tekanan Darah
Pernafasan
- Frekuensi
- Irama
- Tipe
7. Tinggi badan
8. Berat badan
9. Status gizi
10. Kulit
- Turgor
- Lembab / kering
Pemeriksaan Organ
Kepala
Bentuk
Ekspresi
Simetri

Mata

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 36, 7 C
: 83 x/menit
: 130/80
: 22x/menit
: reguler
: abdominothorakal
: 155 cm
: 65 Kg
: baik
: lembab
: normocephal
: biasa
: simetris

Exopthalmus/enophtal
Kelopak
Conjungtiva

: (-/-)

: normal
: anemis (-/-), injeksi siliar (-/-),
injeksi

konjungtiva (-/-)
3

Sklera
Kornea
Pupil
Lensa

Hidung

: ikterik (-/-)
: jernih
: bulat, isokor, reflex cahaya (+/+)
: keruh sebagian (+/+)
Iris shadow (+/+)
: tak ada kelainan

3. Telinga

: tak ada kelainan

Mulut

Bibir
Bau pernafasan
Gigi geligi
Palatum
Gusi

Leher

Thorax

: lembab
: normal
: lengkap
: deviasi (-)
: warna merah muda,
perdarahan (-)
Selaput Lendir
: normal
Lidah
: putih kotor, ulkus (-)
KGB
: tak ada pembengkakan
Kel.tiroid
: tak ada pembesaran
JVP
: 5 - 2 cmH2O
Bentuk
: simetris
Pergerakan dinding dada
: tidak ada yang
Tertinggal

Pulmo
Pemeriksaan
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi

Kanan

Kiri

Simetris
Stem fremitus normal
Stem fremitus normal
Sonor
Sonor
Batas paru-hepar :ICS VI Batas paru-lambung: ICS
kanan
Vesikuler, Wheezing (-),

VIII kiri
Vesikuler, Wheezing (-),

rhonki (+)

rhonki (+)

Jantung
Inspeksi

Ictus cordis terlihat di ICS V linea midclavicula kiri

Palpasi

Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula kiri,


tidak kuat angkat.

Perkusi

Auskultasi

Batas-batas jantung :
Atas : ICS II kiri
Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS VI linea midclavicula kiri
BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Striae (+), skar (-), venektasi (-), spidernevi (-)


Soepel, hepar dan lien tak teraba
Timpani
Bising usus (+) normal

Ekstremitas Atas
Akral hangat, sianosis (-/-), edema (-/-), kekuatan otot 5-5

Ekstremitas bawah
Akral hangat, sianosis (-/-), edema (-/-), kekuatan otot 5-5

VIII.

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

IX

Pemeriksaan Anjuran

Rontgen Thorak
Sputum
X Diagnosa
TB PARU
XI. Management
11.1 Promotif
-

Pasien dijelaskan bagaimana penyakitnya dan cara penularannya pada


orang lain karena penyakitnya bisa menular.

Sebaiknya pasien jangan membuang ludah disembarang tempat

karena dapat menularkan bakterinya pada orang lain.


Jangan sembarangan batuk dan bersin didekat orang lain dan juga
biasakan menutup mulut saat batuk atau menggunakan masker karena
bila tidak akan dapat menularkan melalui udara.

11.2 Preventif
-

Pasien disarankan untuk memakan makanan yang bergizi seperti buah

dan sayuran
Rajin berolahraga.
Pasien diharapkan meminum obat dengan teratur dan rajin kontrol
untuk membantu kesembuhan.

11.3 Kuratif
Non Farmakologi
-

Sebaiknya pasien jangan membuang ludah disembarang tempat

karena dapat menularkan bakterinya pada orang lain.


Jangan sembarangan batuk dan bersin didekat orang lain dan juga
biasakan menutup mulut saat batuk atau menggunakan masker
karena bila tidak akan dapat menularkan melalui udara.

Farmakologi
-

Tahap intensif / tiap hari selama 8 minggu, diberikan obat 3 tab 4


FDC( Rifampisin 450 mg, Isoniazid 300 mg, pirazinamid 500 mg,

etambutol 250 mg).


Tahap lanjutan / 3x seminggu selama 16 minggu, diberikan obat 3
tab 2 FDC ( Rifampisin 450 mg, Isoniazid 300 mg/ hari).

11.4 Rehabilitasi

Memantau penyembuhan penyakit pasien secara rutin. Hal ini dilakukan


dengan kerja sama dari pasien tersebut dengan mengikuti saran dokter
untuk datang secara berkala untuk pengobatan secara tuntas.
Jika keluhan dirasakan kembali segera berobat ke pelayanan medis
terdekat.

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas olak kemang

Nama Dokter : dr. Dhody Sulin Rita


SIP

: 388/SIP/2014

STR

: 123/STR/2014
31 Desember 2014
R/

OAT Kategori 1
S 3 dd tab I

No. LX

R/

Vitamin B Complek

No. X

S3 dd tab I

Pro

: Ny.SH

Umur

: 34 Tahun

Note: tidak diperbolehkan menukar obat tanpa sepengetahuan dokter

XIV. Follow Up
Follow up tanggal 11 Desember 2014
Keluhan
-

Pemeriksaan Fisik

Terapi dan Saran

Masalah

Perkembangan

dan Penunjang
KU : baik

Terapi :

- Paman pasien dengan

- Pasien sudah rutin minum

Komposmentis

RHZ

keluhan yang sama

obat setiap hari.

masih sering kerumah

- batuk dan demam sudah

N : 88 x / menit
t: 36,7 0C

Saran :

pasien

berkurang

RR : 24 x / menit

- Rutin minum obat

- suami pasien merokok

- nafsu makan pasien sudah

di dalam rumah

membaik

PF organ : dbn

- Konsumsi makanan bergizi


lengkap
- menganjurkan paman pasien

BB: 50 kg

agar berobat juga ke


puskesmas
- menganjurkan agar suami

- Pasien sudah mengurangi


konsumsi makanan
berkolesterol

pasien tidak merokok didalam


rumah

Follow Up tanggal 20 Desember 2014

Keluhan
-

Pemeriksaan Fisik

Terapi dan Saran

Masalah

Perkembangan

dan Penunjang
KU : baik

Terapi :

- suami pasien sesekali

- pasien masih rutin minum

Komposmentis

RHZ

masih merokok.

obat

N : 87 x / menit

- suami pasien sudah jarang

t: 36,7 0C

Saran :

merokok di dalam rumah

RR : 22 x / menit

- melarang suami pasien

- paman pasien sudah

PF organ : dbn

merokok di dalam rumah

memeriksakan diri di

BB: 50 kg

puskesmas

Follow Up tanggal 22 Desember 2014


Keluhan
-

Pemeriksaan Fisik

Terapi dan Saran

dan Penunjang
KU : baik

Terapi :

Komposmentis

RHZ

TD : 150/90 mmHg

Masalah

Perkembangan

- tubuh pasien terlihat lebih


berisi.

N : 89 x / menit

Saran :

- suami pasien tidak lagi

t: 36,7 0C

- rutin minum obat

merokok di dalam rumah

RR : 18 x / menit
PF organ : dbn

diteruskan sesuai terapi.


- tetap makan, makanan

- paman pasien juga sudah


minum obat dari puskesmas

bergizi
- suami pasien juga
BB:51 kg

disarankan meneruskan
jangan tidak merokok
didalam rumah lagi

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
infeksi mycobacterium tuberculosis yakni kuman aerob yang dapat hidup
terutama diparu atau diberbagai organ tubuh yang lainnya yang memiliki
tekanan parsial oksigen yang tinggi. Kuman ini juga memiliki kandungan
lemak yang tinggi pada membran selnya sehingga menyebabkan bakteri ini
menjadi tahan terhadap asam dan pertumbuhan kuman berlangsung lambat.

2.2

Epidemologi
Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 (10%) tertinggi
didunia setelah India (30%) dan China (15%). Laporan WHO tahun 2010,
mencatat peringkat indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah
penderita TB sebesar 429 ribu orang. Tuberkulosis ini merupakan penyebab
kematian ke-3 sesudah penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran napas
pada semua kelompok usia, serta nomor satu dari golongan penyakit
infeksi.

2.3

Patogenesis
a. Tuberkulosis Primer
Kuman M. Tuberculosis yang masuk melalui saluran pernapasan
akan bersarang di jaringan paru yang kemudian membangkitkan reaksi
peradangan. Leukosit PMN tampak pada tempat tersebut dan memfagosit
bakteri namun tidak membunuh bakteri tersebut. Setelah hari pertama
leukosit digantikan oleh makrofag, alveoli yang terserang akan mengalami
konsolidasi, sehingga terbentuk sarang pneumoni, yang disebut sarang
primer atau afek primer. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan

11

saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut


diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfangitis
regional). Sarang primer bersama dengan limfangitis regional dikenal
sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu
keadaan dibawah ini :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali.
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas. (sarang Ghon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya
Dalah satu contohnya adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian
penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar
hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran
napas bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis
akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang
atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang
atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
b. Penyebaran secara bronkonogen, baik di paru bersangkutan maupun
ke paru yang disebelahnya.
c. Penyebaran secara hematonogen dan limfanogen. Penyebaran ini
berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman.
Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapi
bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan
menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier.
Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat
tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, genitalia dan sebagainya.
Komplikasi dari penyebaran ini mungkin berakhir dengan sembuh
meninggalkan sekuele atau meninggal dunia.

b. Tuberkulosis Postprimer
Tuberkulosis akan muncul bertahun tahun kemudian setelah
tuberkulosis primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis

12

postprimer dimulai dari sarang dini, yang umumnya terletak di segmen


apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya
berbentuk suatu sarang pneumonia kecil. Sarang pneumonia ini akan
mengkuti salah satu jalan sebagai berikut:
1. Direabsopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyerbukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan
akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif
kembali dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju. Kaviti akan muncul
dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti tersebut akan menjadi:
a. Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoi baru.
b. Memadat dan membungkus diri dan disebut tuberkuloma.
c. Kaviti menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil
2.4

Manifestasi Klinis
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu
gejala lokal dan gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka
gejala lokal adalah gejala respiratori (gejala lokal sesuai organ yang terlibat)
1. Gejala respiratori
Batuk lebih dari 2 minggu
Batuk darah
Sesak napas
Nyeri dada
2. Gejala sistemik
Demam
Malaise, keringat malam, anoreksia dan berat badan menurun.
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis
tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari
kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosis terdapat gejala sesak

13

napas dan kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat
cairan.

2.5

Klasifikasi
2.5.1 Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
paru, tidak termasuk pleura.
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas:
a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
Sekurang kurangnya 2 dari

spesimen

dahak

menunjukkan hasil VTA positif


Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan
BTA positif dan kelainan radiologi menunjukkan

gambaran tuberkulosis aktif


Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan

BTA positif dan biakan positif


b. Tuberkulosis paru BTA (-) adalah:
Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA
negatif,

gambaran

klinis

dan

kelainan

radiologi

menunjukkan tuberkulosis aktif


Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA

negatif dan biakan M. tuberculosis positif


2. Berdasarkan tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa tipe pasien yaitu:
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengibatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan
hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
14

Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi


dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka
harus dipikrkan beberapa kemungkinan:
Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkietaksis, jamur,

ganas)
TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis

yang berkompeten menangani kasus tuberkulosis.


c. Kasus drop out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan lebih dari 1
bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan) atau akhir pengobatan.
e. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif
setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2
dengan pengawasan yang baik.
f. Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada)
dan gambar radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak
aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap.

Riwayat pengobatanOAT adekuat atau lebih mendukung.


Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah
mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks
ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi

2.5.2

Tuberkulosis Ekstraparu
Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberkulosis yang menyerang
organ tubuh lain selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput
otak, tulang, ginjal dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau
patologi anatomi dari tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak
15

dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis


yang kuat dan konsisten dengan TB ekstraparu aktif.
2.6

Diagnosa
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakan berdasarkan gejala klinis,
pemeiksaan fisik dan jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan
pemeriksaan penunjang lainnya.

2.6.1

Pemeriksaan bakteriologi
a. Bahan pemeriksaan
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan
diagnosis. Bahkan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat
berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan
bronkus, bilasan lambung, urin, feses dan jaringan biopsi.
b. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
Sewaktu / spot ( dahak sewaktu saat kunjunga)
Pagi ( keesokan harinya)
Sewaktu / spot ( saat mengantar dahak pagi)
Bahan pemeriksaan yang berbentuk cairan dikumpulkan atau di
tampung didalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm
atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan bocor.
Apabila ada fasilitas, spesimen dapat dibuat sedian apus pada
gelas objek sebelum dikirim ke laboratorium. Bila fasilitas
laboratorium berada jauh dari tempat pelayanan pasien, dahak
dapat dikirim dengan kertas saring melalui jasa pos.
c. Cara pemeriksaan dahak

16

Ambil

menggunakan oase yang telah dibakar terlebih dahulu.


Letakan dahak di atas kaca sedian, dan ratakan biarkan

mengering
Fiksasi sedian apusan tersebut
Tuangkan larutan Ziehl sampai apusan tertutup semua

biarkan 5 menit
Cuci dengan air mengalir
Bersihkan dengan HCL-Alkohol 3% sampai warna

fuchsin hilang
Cuci dengan air mengalir
Tuangkan larutan Methylene Blue 0,1 % selama 10 20

detik
Cuci dengan air mengalir dan keringkan di udara pada

dahak

yang

telah

dikumpulkan

dengan

suhu kamar
d. Hasil penilaian
Interprestasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala
IUATLD ( rekomendasi WHO)
Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang disebut

negatif
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang ditulis

jumlah kuman yang ditemukan


Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandan disebut

+ (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut +

+ (2+)
Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang +++ (3+)
Pemeriksaan biakan kuman M.tuberculosis dengan metode
konvensional ialah dengan cara:
Egg base media : Lowenstein-Jensen, Ogawa, Kudoh
Agar base media : Middle brook
2.7

Penatalaksanaan

17

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif


(2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan
terdiri dari paduan obat utama dan tambahan.
2.7.1

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Obat yang dipakai :
1. Jenis obat utama (lini 1 ) yang digunakan adalah:
INH
Rifampisin
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2):
Kanamisin
Amikasin
Kuinolon
3. FDC

2.7.2

Paduan Obat Anti Tuberkulosis


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi :
TB paru (kasus baru), BTA positif atau pada foto toraks lesi luas.
Paduan obat yang dianjurkan adalah 2RHZE/ 4RH atau 2RHZE/
6HE atau 2RHZE/ 4R3H3
Paduan ini dianjurkan untuk
a. TB paru BTA (+), kasus baru
b. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologi lesi luas (termasuk
luluh paru)

TB paru kasus kambuh


Sebelum ada hasul uji resistensi dapat diberikan 2RHZES/ 1RHZE.
Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat
hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE selama 5 bulan

TB paru kasus gagal pengobatan


Sebelum ada hasil uji resistensi seharusnya diberikan obat lini 2
(contoh paduan : 3-6 bulan kanamisin, ofloksasin, etionamid,
sikloserin dilanjutkan 15-18 bulan ofloksasin, etionamid, sikloserin).
Dalam keadaan tidak memungkinkan pada fase awal dapat diberikan
2 RHZES/ 1RHZE. Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi.
18

Bila tidak terdapat hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE
selama 5 bulan

TB paru kasus putus berobat


Pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan
kembali sesuai dengan kriteria sebagai berikut:
a. Berobat lebih dari 4 bulan
o BTA saat ini negatif
Klinis dan radiologi tidak aktif atau ada perbaikan maka
pengobatan OAT dihentikan. Bila gambaran radiologi
aktif lakukan analisis lebih lanjut untuk memastikan
diagnosis

TB

dengan

mempertimbangkan

juga

kemungkinan penyakit paru lain. Bila terbukti TB maka


pengobatan dimulai dari awal dengan panduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
o BTA saat ini positif
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu yang lebih lama.
b. Berobat kurang dari 4 bulan
o Bila BTA positif
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama
o Bila BTA negatif
Gambaran foto torak positif maka TB aktif dan
pengobatan diteruskan. Jika memungkinkan seharusnya
diperiksa uji resistensi terhadap OAT.

TB paru kasus kronik


o Pengobatan TB paru khusus kronik jika belum ada hasil
uji resistensi, berikan RHZES. Jika telah ada hasil uji
resistensi, sesuaikan dengan hasil iji resistensi (minimal
terdapat 4 macam OAT yang masih sensitif) ditambah
dengan obat lini 2. Pengobatan minimal 18 bulan.
o Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup
o Pertimbngkan pembedahan untuk meningkatkan
kemungkinan penyembuhan.
19

o Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke dokter spesialis


paru.
Catatan: TB diluar paru lihat TB dalam keadaan khusus
Tabel 2.1 Jenis dan Dosis OAT

Obat

R
H
Z
E
S

Dosis

Dosis yang dianjurkan

Dosis

Dosis (mg) / BB (kg)

(mg/kgBB

Harian

Intermitte

Maksi

/Hari)

(mg/kgBB

mum

< 40

40-60

> 60

/Hari)

(mg/kgBB

10
5
25
15
15

/Hari)
10
10
35
30
15

600
300

300
150
750
750
Sesuai

450
300
1000
1000
750

600
450
1500
1500
1000

8-12
4-6
20-30
15-20
15-18

1000

BB

Tabel 2.2 Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1


Berat Badan

Tahap Intensif

Tahap Lanjutan

tiap hari selama 56 hari

3 kali seminggu selama 16 minggu

RHZE (150/75/400/275)

RH (150/150)

30-37 kg

2 tablet 4KDT

2 tablet 2KDT

38-54 kg

3 tablet 4KDT

3 tablet 2KDT

55-70 kg

4 tablet 4KDT

4 tablet 2KDT

71 kg

5 tablet 4KDT

5 tablet 2KDT

20

Tabel 2.3 Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1


Dosis per hari / kali
Tahap

Lama

Pengoba

Pengob

tan

atan

Jumlah

Tablet

Kaplet

Tablet

Tablet

hari/kali

Isoniasid

Rifampisi

Pirazinamid

Etambut

menelan

ol

obat

@ 300
mg

@ 500 mg

@ 450 mg

@ 250
mg

Intensif

2 bulan

56

Lanjutan

4 bulan

48

Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru TB paru BTA positif.
b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
c. Pasien TB ekstra paru

Tabel 2.4 Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2

Berat
Badan

30-37 kg

Tahap Intensif

Tahap Lanjutan

Tiap hari

3 kali seminggu

RHZE (150/75/400/275) + S

RH (150/150) + E (400)

Selama 56 hari

Selama 28 hari

Selama 20 minggu

2 tablet 4KDT

2 tablet 4KDT

2 tablet 2KDT

+ 500 mg Streptomisin inj.


38-54 kg

3 tablet 4KDT
+ 750 mg Streptomisin inj.

+ 2 tablet Etambutol
3 tablet 4KDT

3 tablet 2KDT
+ 3 tablet Etambutol

21

55-70 kg

4 tablet 4KDT

4 tablet 4KDT

+ 1000 mg Streptomisin inj.


71 kg

4 tablet 2KDT
+ 4 tablet Etambutol

5 tablet 4KDT

5 tablet 4KDT

+ 1000 mg Streptomisin inj.

5 tablet 2KDT
+ 5 tablet Etambutol

Tabel 2.5 Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2


Tablet
Lama

Tahap
Pengobatan

Isoniasid

Pengob
atan

@ 300
mg

Kaplet

Tablet

Rifampis

Pirazina

in

mid

@ 450

@ 500

mg

mg

Etambutol
Tablet

Tablet

@ 250

@ 400

mg

mg

Jumlah/
Strepto
misin

kali

Injeksi

menelan
obat

Tahap Intenif
(dosis harian

2 bulan

0,75 gr

56

1 bulan

28

4 bulan

60

Tahap
Lanjutan
(dosis 3x
seminggu)
Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)

22

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobat sebelumnya:
a. Pasien kambuh
b. Pasien gagal
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Catatan:
a. Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin
adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
b. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
c. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan
aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).

Tabel 2.6 Dosis KDT untuk Sisipan


Berat Badan

Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari


RHZE (150/75/400/275)

30-37 kg

2 tablet 4KDT

38-54 kg

3 tablet 4KDT

55-70 kg

4 tablet 4KDT

71 kg

5 tablet 4KDT

Tabel 2.7 Dosis OAT Kombipak untuk Sisipan

Lama
Tahap
Pengobatan

Pengob
atan

Tablet
Isoniasid
@ 300
mg

Kaplet
Rifampis
in
@ 450
mg

Tablet
Pirazinami
d
@ 500 mg

Tablet
Etambut

Jumlah

ol

hari/kali
menelan

@ 250

obat

mg

Tahap
Intensif

23

(dosis harian)

1 bulan

28

Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang


dosis yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih
termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik. Pada kasus yang mendapat obat
kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami efek samping serius harus dirujuk
ke rumah sakit/dokter spesialis paru /fasilitas yang mampu menanganinya.2

BAB III
ANALISA KASUS

a.

Hubungan anamnesis, diagnosis dengan keadaan rumah :


Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal yang layak yang disebut
dengan rumah. Rumah yang layak untuk tempat tinggal harus memenuhi syarat
kesehatan, sehingga penghuninya tidak sakit. Rumah yang sehat merupakan
salah satu sarana untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Adapun syarat rumah sehat menurut APHA adalah:
- Memenuhi syarat kebutuhan fisik dasar penghuninya seperti temperatur,
-

ventilasi, penerangan dan kebisisngan yang cukup


Memenuhi syarat kebutuhan kejiwaan dasar penghuninya : health is

begun at home;
Memenuhi syarat melindungi penghuninya dari penularan penyakit : air
bersih, pemb sampah, terhindar dari pencemaran lingk, tidak jadi sarang

vektor, dll
Memenuhi syarat melindungi penghuni dari kemungkinan bahaya dan
kecelakaan : kokoh, tangga tak curam, bahaya kebakaran, listrik,
keracunan, kecelakaan lalu lintas, dll
Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik ,

pada pasien ini bisa ditegakkan diagnosis yaitu TB paru. Dari pengamatan
langsung terhadap tempat tinggal pasien ditemukan keadaan rumah yang
kurang pencahayaan dibagian kamar dan dapur, dan dapat membuat tempat

24

menjadi lembab. Tempat yang lembab meningkatkan perkembangan dari


bakteri. Kemungkinan ada hubungan diagnosis dengan keadaan rumah pasien.
b. Hubungan diagnosis dengan aspek psikologis di keluarga
Pasien tidak memiliki masalah psikologis dalam keluarga. Hubungan pasien
terhadap anggota keluarganya baik, sehingga tidak ada hubungan antara aspek
psikologis di keluarga terhadap penyakit pasien. Hanya saja dalam hal ini
penyakit hipertensi pasien sering naik dan turun, hal ini diakibatkan karena
faktor stres ataupun kecapaian karena pasien merupakan seorang IRT yang
bukan hanya pekerjaan rumah

yang dikerjakannya, tetapi terkadang juga

membantu suaminya yang sebagai petani ikan.


c.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan


lingkungan sekitar.
TB paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat
kaitannya dengan keadaan lingkungan dan prilaku masyarakat. Penyakit ini
ditularkan melalui udara, yaitu percikan ludah, bersin dan batuk faktor
lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses
interaksi antara pejamu dengan unsur penyebab dalam proses terjadinya
penyakit.
Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya perilaku kesehatan dan lingkungan di sekitar tempat tingga.
Diantara faktor-faktor tersebut pengaruh prilaku terhadap status kesehatan, baik
kesehatan individu maupun keluarga sangatlah besar. Perilaku hidup sehat
sangat diperlukan dalam pencegahan penyakit berbasis lingkungan yang
termasuk didalamnya TBC Paru.
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan.
Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya
dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai
orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang
disekelilingnya.
Paman pasien menderita penyakit dengan keluhan yang sama, paman pasien
tinggal disebelah rumah pasien. Faktor lain yang berpengaruh yaitu suami

25

pasien memiliki kebiasaan merokok dirumah. Asap dari rokok dapat


meningkatkan resiko dari TB dan dapat meningkatkan atau memperberat dari
gejala TB paru tersebut. Ada hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan
dalam keluarga pasien.
d. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit
Penyakit TB paru merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang
disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Adapun
faktor risiko terjadinya penyakit ini adalah bisa dari usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, kepadatan hunian, pencahayaan,
ventilasi, kelembaban udara, status gizi, keadaan sosial ekonomi dan perilaku.
Adapun faktor risiko dan penyebab terjadinya penyakit TB paru yang diderita
oleh pasien adalah:
1. Usia
Dilihat dari faktor usia, diketahui bahwa 75% dari penderita TB paru di
Indonesia merupakan usia produktif yaitu antara 15-50 tahun. Diketahui
bahwa usia pasien 35 tahun yang merupakan usia produktif dan menjadi
salah satu faktor risiko terjadinya penyakit TB Paru.
2. Jenis kelamin
Diketahui bahwa laki-laki memiliki faktor risiko tinggi untuk terkena
penyakit TB paru, hal ini disebabkan karena kebiasaan merokok pada lakilaki.
3. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan pasien berpengaruh terhadap pengetahuan pasien
mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan
mengenai penyakit TB paru yang dideritanya. Disini dapat terlihat bahwa
pasien tidak mengetahui syarat dari rumah sehat yang tergambar dari
kondisi rumah pasien, selain itu pasien juga tidak mengetahui mengenai
penyakit yang sedang dideritanya. Pendidikan yang masih kurang pada
pasien menyebabkan pengetahuan yang kurang sehingga faktor risiko untuk
terjadinya TB paru tinggi.
4. Pekerjaan
Pekerjaan berpengaruh terhadap terjadinya penyakit TB paru. Diketahui
bahwa pasien bekerja sebagai seorang buruh bangunan yang rentan

26

terhadap debu sehingga akan meningkatkan morbiditas untuk terkena


penyakit TB paru pada pasien.
5. Perilaku
Dari anamnesis diketahui bahwa pasien dan keluarga belum mengerti dan
menerapakan perilaku kesehatan. Ini terlihat dari kebiasaan suami pasien
pasien yang masih merokok di dalam rumah. Kebiasaan merokok ini dapat
meningkatkan risiko untuk terkena penyakit TB paru pada pasien. Selain
itu, prilaku pasien yang masih membuang dahak disembarang tempat juga
dapat meningkatkan risiko penularan penyakitnya terhadap orang lain.
6. Kondisi rumah
Apabila keadaan rumah lembab, maka akan mudah bagi bakteri patogen
penyebab penyakit seperti kuman TB untuk berkembang biak. Sehingga
dengan kondisi rumah seperti itu, akan meningkatkan risiko untuk terkena
penyakit TB.
7. Kondisi lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan sekitar merupakan padat penghuni. Hal ini dapat
menjadi faktor risiko untuk perkembang biakan bakteri patogen penyebab
penyakit TB paru.
8. Keadaan sosial ekonomi
Dari anamnesis diketahui bahwa pendapatan sebulan adalah sebanyak Rp
1.000.000,00,- yang masih tergolong dalam ekonomi yang masih kurang.
Dimana apabila pendapatan masih kurang maka kemampuan daya beli
dalam memenuhi konsumsi makanan kurang sehingga berpengaruh pada
status gizi pasien. Status gizi yang buruk akan menyebabkan kekebalan
tubuh pasien menurun sehingga mudah terkena infeksi TB paru.
Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang berkaitan dengan
terjadinya TB pada pasien ini antara lain:
Paman pasien dengan keluhan yang sama
suami pasien sering merokok di dalam rumah
faktor penghasilan, sehingga kurang asupan makanan bergizi seperti
buah dan sayuran.
e.

Analisis untuk menghindari factor pencetus atau alergi dengan penyakit :


Untuk menghindari factor yang memperberat yaitu dengan memodifikasi
gaya hidup yang sehat seperti suami pasien dilarang merokok di dalam rumah
27

lagi. Paman pasien diharuskan juga berobat ke puskesmas Pasien juga


disarankan menggunakan masker apabila keluar rumah. Meningkatkan asupan
makanan yang bergizi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Pasien juga
harus berobat secara teratur.
RENCANA EDUKASI PENYAKIT KEPADA PASIEN DAN KEPADA
KELUARGA
Pasien:
-

Menjelaskan mengenai penyakit pasien serta faktor resikonya dan

pengobatannya.
Menjelaskan kepada pasien untuk minum obat secara rutin setiap hari dan
akibat apabila pasien tidak minum obat secara teratur.

Keluarga pasien:
- Menunjuk suami atau anggota keluarga pasien sebagai pengawas minum
-

obat rutin pasien


Melarang suami pasien agar tidak merokok di dalam rumah.
Menyarankan paman pasien juga ikut berobat ke puskesmas.

ANJURAN-ANJURAN PROMOSI KESEHATAN PENTING YANG DAPAT


MEMBERI

SEMANGAT/MEMPERCEPAT

PENYEMBUHAN

PADA

PASIEN
Keluarga pasien diberi pengertian bahwa penyakit pasien merupakan
penyakit yang berbahaya bila tidak diberi terapi yang rutin. Diberi juga anjuran
bahwa TB paru dapat menular melalui udara, jadi disarankan pada semua keluarga
pasien juga diperiksa dahaknya.
Untuk mengurangi paparan dengan faktor risiko diperlukan kesadaran dari
pasien dan kerjasama dengan anggota keluarga. Dimana disini dapat dimulai
untuk menerpakan prilaku sehat seperti tidak merokok lagi dan menutup mulut
pada saat batuk serta tidak meludah disembarang tempat untuk mencegah
penularan terhadapa anggota keluarga yang lainnya. Memperhatikan sirkulasi
udara di dalam rumah seperti membuka jendela yang ada untuk pencahayaan.
Lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan rumah. Menjemur bantal dan
28

kasur terutama pada pagi hari untuk mengurangi paparan terhadap faktor risiko
dan penyebab dari bakteri penyebab TB paru. Selain itu, pasien juga harus
mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Amin Z, Bahar S Tuberkulosis paru Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I


,Simadibrata KM, Setiati S Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Edisi IV
Jakarta: PusatPenerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam KUI , 2006: 998-1005,
1045-9.
29

2. Aditama TY,dkk. Tuberculosis Pedoman Dan Penatalaksanaan Di


Indonesia.Jakarta:Indah Offset Citra Grafika.2006:1-60.
3. Price A,Wilson LM Tuberkulosis Paru Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, bab 4, Edisi VI Jakarta: EGC, 2004 : 8526.
4. Nelson LJ, Schneider E, Wells CD, and Moore M.Nelson Textbook of
Pediatrics.Chapter XVinfection : Section Bacterial nfection: Tuberculosis 18th
edition Philadelphia:WB Saunders Company, 2007.
5. Tierney Jr , Lawrence M, Current Medical Diagnosis and Treatment Chapter 9
Lung : Pulmonary nfections: Pulmonary Tuberculosis, Mc Graw Hill, 2008.

LAMPIRAN
*Depan Rumah

30

*Dapur Dan Tempat Tidur Pasien

*ruang tamu dan ruang tv pasien

31

32