Anda di halaman 1dari 11

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

PROBLEM BASED LEARNING


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
PADA MATA PELAJARAN GAMBAR TEKNIK
KELAS X TEKNIK GAMBAR BANGUNAN
SMK NEGERI 3 SEMARANG
Skripsi
Diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan

Oleh
Budi Arianto NIM 5101410017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2015

ABSTRAK
Budi Arianto. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Gambar Teknik
Kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 3 Semarang. Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing
Aris Widodo, S.Pd., M.T.
Kata Kunci : Model pembelajaran Problem Based Learning
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan
dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja.
SMK merupakan pendidikan kejuruan tingkat menengah di Indonesia yang dalam
penyelenggaraannya dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik guna
memasuki dunia kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Penerapan model
pembelajaran Problem Based Learning bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik
siswa kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 3 Semarang pada mata
pelajaran gambar teknik sub materi gambar konstruksi geometris.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Desain
eksperimen yang digunakan adalah Quasi Experimental Design atau eksperimen
semu. Desain eksperimen semu yang digunakan adalah Nonequivalent Control
Group Design. Subyek penelitian adalah siswa kelas X TGB SMK N 3 Semarang
tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 72 siswa dengan membagi dua kelompok
sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Metode pengumpulan data
menggunakan metode dokumentasi, tes, dan observasi. Teknik analisis data
menggunakan uji kesamaan dua rata-rata dengan batuan SPSS 16 for windows.
Berdasarkan hasil perhitungan uji kesamaan dua rata-rata menunjukkan
bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen lebih baik
daripada kelas kontrol. Pengguanaan model pembelajaran Problem Based
Learning dapat meningkatkan hasil belajar pada ranah psikomotrik, ditunjukkan
pada presentase ketuntasan nilai rata-rata hasil belajar psikomotorik siswa sebesar
100% dengan rata-rata 82,40. Ditinjau dari rata-rata pada ranah kognitif diperoleh
78,47 berbanding 70,59, pada ranah afektif 79,17 berbanding 75,42, sedangkan
pada ranah psikomotorik 82,40 berbanding 78,44. Ditinjau dari uji kesamaan dua
rata-rata diperoleh ranah kognitif thitung dengan ttabel 3,569 > 1,994, ranah afektif
thitung dengan ttabel 2,008 > 1,994, ranah psikomotorik t hitung dengan ttabel 6,487 >
1,994.
1. PENDAHULUAN
peserta didik dalam memasuki dunia
Sekolah

Menengah

Kejuruan

kerja. SMK merupakan pendidikan

(SMK) sebagai lembaga pendidikan

kejuruan

dimaksudkan untuk mempersiapkan

Indonesia

tingkat

menengah

yang

di

dalam

penyelenggaraannya

dimaksudkan

menambah

pengetahuan

siswa

untuk mempersiapkan peserta didik

terhadap berbagai jenis garis dan

guna memasuki dunia kerja sesuai

fungsinya,

dengan keahlian yang dimiliki.

siswa

terutama

dalam

keterampilan

menggunakan

alat

Gambar teknik merupakan mata

gambar jangka dan secara tidak sadar

pelajaran wajib yang harus diambil

akan membuat kemampuan berfikir

pada siswa kelas X program keahlian

siswa bertambah.

teknik

gambar

Mata

Dalam proses belajar mengajar

ini

dikelas berlangsung, banyak kendala

mengajarkan materi tentang dasar-

yang sering dihadapi oleh guru yaitu

dasar menggambar. Sebuah gambar

diantaranya siswa yang malas, bosan

tidak akan mudah dibaca ketika

pelajaran gambar, mengantuk, dan

seseorang yang menggambar tidak

sebagainya.

mengetahui

cara

persoalan dalam pembelajaran, guru

menggambar. Pada kompetensi dasar

dituntut dengan segala kemampuan

menyajikan

gambar

agar siswa mengerti terhadap materi

geometris sangat ditekankan pada

pelajaran yang diberikan. Salah satu

cara siswa menggambar serta cara

upaya guru untuk mengatasi masalah

menggunakan pensil dan penggaris

tersebut

secara manual. Dalam cara membagi

mengembangkan

garis yang benar tanpa mengetahui

melalui

berapa panjang garis yang akan

Berdasarkan hasil observasi penulis

dibagi tentu tidak bisa asal-asalan.

di SMK Negeri 3 Semarang diduga

Pada tugas menggambar garis sejajar

aktivitas siswa kurang aktif dalam

juga diperlukan keterampilan siswa

merespon informasi mengenai materi

menggunakan

yang

pelajaran

bangunan.

gambar

teknik

dasar-dasar
konstruksi

penggaris.

Dari

sekian

banyak

adalah
variasi

potensi
cara

disampaikan

mengajar.

oleh

guru.

Sehingga

akan

dari

pemahaman yang cukup mengenai

gambar yang kurang maksimal. Pada

materi yang sudah disampaikan oleh

materi menggambar lingkaran dan

guru,

menggambar segi n beraturan akan

menggambar yang sesuai dengan

hasil

serta

tidak

guru

Penggunaan penggaris yang salah


mempengaruhi

siswa

dengan

memiliki

langkah-langkah

prosedur yang disampaikan oleh

masalah serta sekaligus membangun

guru.

pengetahuan

Maka

saat

proses

berlangsung

siswa

bermakna.

tidak dapat menerapkan materi yang

Model

menggambar

pada

yang

pembelajaran

telah disampaikan dengan baik dan

pada

juga hasil gambar yang kurang

Learning

maksimal.

pembelajaran

Menanggapai

permasalahan

benar-benar

metode

dibatasi

Problem

Based

(PBL).

Model

Problem

Based

Learning (PBL) atau pembelajaran

yang dihadapi oleh siswa dan begitu

berbasis

pentingnya mata pelajaran gambar

pembelajar untuk membantu siswa

teknik

mengembangkan

untuk

kelas

program

masalah

merupakan
keterampilan

keahlian teknik gambar bangunan

berfikir dan keterampilan pemecahan

tentang dasar-dasar menggambar dan

masalah.

Guru

menyajikan

masalah

kehidupan

geometris. Dari permasalahan di atas

berkaitan

dengan

peneliti ingin menggunakan masalah

kemudian siswa mendiskusikannya

yang

gambar

nyata

pembelajaran

konstruksi

menyampaikan
nyata

yang

pembelajaran

dalam

proses

dan mempresentasikan hasil karya.

dikelas

untuk

Siswa

dilatih

untuk

menyusun

meningkatkan kemampuan berfikir

pengetahuannya

siswa dalam menyelesaikan masalah

menumbuhkembangkan

dan

keterampilan yang lebih tinggi, dan

meningkatkan

keterampilan

sendiri,

siswa dalam menggunakan alat-alat

memandirikan

gambar

perhatian pembelajaran tidak hanya

dengan

menggunakan

metode pembelajaran Problem Based

pada

Learning.

deklaratif,

Model

pembelajaran

Problem Based Learning merupakan


pembelajaran

yang

menggunakan

siswa.

perolehan
tetapi

Sehingga
pengetahuan

juga

perolehan

pengetahuan prosedural.
Tujuan dari penelitian ini adalah

masalah nyata (autentik) sebagai

untuk

mengetahui

besarnya

konteks bagi peserta didik untuk

peningkatan hasil belajar siswa kelas

memotivasi, mengidentifikasi dan

X TGB SMK Negeri 3 Semarang

berpikir kritis dalam menyelesaikan

pada mata pelajaran gambar teknik

kompetensi

dasar

menyajikan

gambar konstruksi geometris.

digunakan

membagi

adalah

penelitian
dalam

yang

penelitian

penelitian

ini

eksperimen.

Sedangkan desain eksperimen yang


digunakan

adalah

Quasi

Experimental Design atau desain


eksperimen

semu.

Penelitian

eksperimen dapat diartikan sebagai


metode sistematis guna membangun
hubungan yang mengandung sebab
akibat melalui langkah manipulasi,
pengendalian dan pengamatan, dan
desain eksperimen semu adalah suatu
desain penelitian yang memiliki
kelompok kontrol, tetapi tidak dapat
berfungsi

sepenuhnya

untuk

mengontrol variabelvariabel dari


luar

yang

mempengaruhi

pelaksanaan eksperimen (Sugiyono,


2010). Penggunaan eksperimen semu
dalam panelitian ini dikarenakan
subyek penelitiannya adalah manusia
yang tidak dapat dimanipulasi dan
dikontrol secara intensif.
Desain eksperimen semu yang
digunakan

dalam

(Sugiyono,

2009:

116).

Langkah penelitian dilakukan dengan

2. METODE PENELITIAN
Metode

Design

penelitian

ini

adalah Nonequivalent Control Group

subjek

yang

diteliti

menjadi dua kelompok. Kelompok


yang

pertama

adalah

kelompok

experimen dan kelompok yang kedua


adalah kelompok kontrol. Kemudian
kedua kelompok diberi pretest untuk
mengetahui keadaan awal. Jika tidak
ada

perbedaan,

kelompok

eksperimen dan kontrol memiliki


kemampuan

awal

yang

sama.

Selanjutnya kelompok eksperimen


diberi perlakuan (treatment) berupa
metode pembelajaran Problem Based
Learning,

sedangkan

kelompok

kontrol diberi pembelajaran yang


diajarkan

gurunya

seperti

biasa.

Setelah diberi perlakuan (treatment)


kedua

kelompok

diberi

posttest

untuk mengetahui keadaan akhir.


Populasi dalam penelitian ini
adalah siswa kelas X SMK Negeri 3
Semarang program studi keahlian
teknik bangunan yang terdiri dari
empat

kelas,

sedangkan

sampel

dalam penelitian ini adalah siswa


kelas X kompetensi keahlian teknik
gambar bangunan (TGB). Dalam
kompetensi keahlian teknik gambar

bangunan terdapat dua kelas yaitu

siswa. Sedangkan kelas B (X TGB 2)

kelas X TGB 1 dan kelas X TGB 2.

sebagai

Jumlah populasi yang digunakan

kelompok

kontrol

yaitu

kelompok yang tidak mendapatkan

dalam penelitian ini sebanyak 72

perlakuan

siswa yang tebagi dari 2 kelas, yaitu

Based Learning dengan jumlah 36

kelas A dan kelas B. Sebelum

siswa.

menentukan kelas eksperimen dan

pembelajaran

Variabel

bebas

Problem

(X)

dalam

kelas kontrol, maka perlu di uji coba

penelitian ini merupakan kelompok

dengan

atau

uji

normalitas

dan

uji

kelas

eksperimen

yang

homoginitas. Kedua kelas memenuhi

mendapat

syarat

uji

pembelajaran

uji

Learning. Variabel terikat (Y) dalam

uji

normalitas

homoginatas.

Jika

dan
pada

perlakuan

model

Problem

normalitas dikatakan normal berarti

penelitian

populasi dalam kelas A dan kelas B

belajar siswa dalam mata pelajaran

berditribusi

gambar

normal

dan

dapat

ini

Based

merukapan

teknik.

yang

dikatakan homoginitas jika kedua

digunakan

kelas mempunyai varian yang sama

adalah SMK Negeri 3 Semarang

atau homogen.

yang

Penentuan

kelompok

dalam

untuk

Tempat

hasil

penelitian

beralamatkan

Admodirono

Raya

di

Jl.

No.

7A

penelitian ini ditentukan dengan cara

Kecamatan

mengundi antara kelas A (X TGB 1)

Telepon: 024 8311538. Penelitian

dan kelas B (X TGB 2) untuk

dilaksanakan pada bulan November

menentukan kelompok kelas yang

2014 dengan menyesuaikan jam

akan

kelas

pelajaran gambar teknik kelas X

eksperimen dan kontrol. Dari hasil

kompetensi keahlian teknik gambar

pengundian penentuan sampel maka

bangunan tahun ajaran 2014/2015.

dijadikan

sebagai

didapat kelas A (X TGB 1) sebagai

Semarang

ini

Selatan,

Dalam penelitian ini data yang

kelas eksperimen sebagai kelompok

dikumpulkan

yang mendapatkan perlakuan model

belajar, yaitu data hasil belajar ranah

pembelajaran

Based

kognitif, ranah afektif, dan ranah

Learning dengan jumlah sampel 36

psikomotorik. Teknik pengumpulan

Problem

adalah

data

hasil

data yang digunakan pada penelitian

yang telah disediakan. Dimana jika

ini

dokumentasi,

jawaban benar nilainya 1 dan jika

metode tes dan metode non tes.

jawaban salah atau tidak menjawab

Menurut

181)

nilainya adalah 0. Jumlah soal

metode dokumentasi adalah cara

instrumen tes adalah 20 butir soal.

pengumpulan

melalui

Pelaksanaan penggunaan instrumen

peninggalan tertulis, seperti arsip-

tes dilakukan 2 kali yaitu ketika

arsip. Metode tes digunakan untuk

pretest

mengukur hasil belajar siswa pada

kemampuan awal siswa dan ketika

ranah kognitif. Metode non tes

posttest

dilakukan dengan cara mengamati

kemampuan siswa setelah proses

perilaku siswa untuk mengukur hasil

pembelajaran berlangsung.

adalah

metode

Margono

(2010:

data

belajar siswa pada ranah afektif.


Poerwanti (2008: 19) .

untuk
untuk

mengetahui
mengetahui

Analisis instrumen berupa uji


validitas, uji reabilitas, uji tingkat

Menurut Sugiyono (2010: 148)

kesukaran, dan uji daya beda. Uji

Instrumen penelitian yang digunakan

Validitas adalah suatu ukuran yang

yaitu

untuk

menunjukkan valid atau tidaknya

mengetahui hasil belajar siswa pada

suatu instrument. Reabilitas adalah

ranah kognitif peneliti menggunakan

kualitas

instrumen tes berupa tes obyektif.

suatu pengukuran yang dilakukan

Tes obyektif adalah bentuk tes yang

dan dihitung dengan menggunakan

mengandung kemungkinan jawaban

rumus koefisien reabilitas Alpha

atau respon yang harus dipilih oleh

Cronbach.

peserta tes, dimana kemungkinan

merupakan suatu pernyataan tentang

jawaban atau respon disediakan oleh

seberapa sulit atau seberapa mudah

peneliti. Tipe tes yang digunakan

sebuah butir pernyataan bagi peserta

oleh peneliti adalah multiple choice

uji. Daya Beda butir pertanyaan

test. Alternatif kemungkinan jawaban

merupakan suatu pernyataan tentang

peneliti terdapat 4 kemungkinan.

seberapa besar daya sebuah butir soal

Penskoran

dapat

instrumen

instrumen

tes

tes

ini

disesuaikan dengan kunci jawaban

yang menunjukkan dari

Tingkat

membedakan

kesulitan

kemampuan

antara peserta kelompok tinggi dan

kelompok rendah. Instrumen non tes

yang

digunakan untuk mengetahui hasil

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

belajar

pada

ranah

afektif

dan

psikomotorik.
Teknik

ditunjukan

digunakan

untuk

menguji

yang

hipotesis. Separated Varian, apabila

digunakan yaitu analisis deskriptif,

jumlah sampel sama, homogen dan

uji persyaratan analisis, dan uji

jumlah sampel tidak sama dan tidak

hipotesis. Menurut Sugiyono (2010:

homogen.

169)

Analisis

statistik

yang

menganalisa

data

nilai

Terdapat dua rumus t-test yang


dapat

analisis

dengan

deskriptif

adalah

digunakan

untuk

data

dengan

mendeskripsikan

t=

cara

x 1x 2

s 21 s 22
+
n1 n 2

atau

Polled Varians, apabila jumlah

menggambarkan data yang telah

sampel sama, homogen dan jumlah

terkumpul sebagaimana adanya tanpa

sampel tidak sama dan homogen.

bermaksud

membuat

kesimpulan

yang berlaku untuk umum atau


generalisasi.

Pengujian

prasyarat

analisis digunakan sebagai syarat


pengujian
menentukan
menggunakan

hipotesis

untuk

pengujian

hipotesis

statistic

parametrik

atau statistik nonparametrik yang


harus

memenuhi

syarat

uji

normalitas dan homoginitas. Uji


hipotesis menggunakan uji kesamaan
dua rata-rata untuk mengetahui mana
yang lebih baik antara kelas yang
menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning dengan
kelas yang tidak diberi treatment,

2
gab

( ni1 ) s21 + ( n21 ) s 21


n1+ n22

3. PEMBAHASAN
Deskripsi hasil belajar siswa
pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol meliputi tiga ranah yaitu
ranah kognitif (pretest dan posttest),
ranah afektif (sikap), dan ranah
psikomotorik (keterampilan). Berikut
adalah hasil analisis posttest kelas X
TGB SMK Negeri 3 Semarang
diperoleh dari nilai posttest yang
dilaksanakan pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol.
Deskripsi Hasil Posttest
Rerat Ma Mi
a
x
n
Eksperime 78,89
90
70

n
Kontrol

Uji Nomalitas Kelompok Kontrol


70,56

85

Deskripsi Hasil Afektif


Rerat Ma
a
x
Eksperime 79,17
95
n
Kontrol
75,42
90

50

Mi
n
65
60

Deskripsi Hasil Psikomotorik


Rerat Ma Min
a
x
Eksperime 82,40
89 77,25
n
Kontrol
78,44
85,5 72,75
Pada

analisis

uji

Uji Kolmogorov-Smirnov
Hasil Belajar
Asymp.Sig
Pretest
0,403
Posttest
0,198
Afektif
0,234
Psikomotorik
0,968
Uji homoginitas dilakukan untuk
mengetahui data hasil penelitian
pada kelompok sampel mempunyai
varians yang sama atau tidak.
Berikut ini adalah hasil analisis uji
homogoginitas

dari tiga ranah,

normalitas

yaitu kognitif (pretest dan posttest),

kelompok eksperimen dan kelompok

afektif, dan psikomotorik. Hasil

kontrol nilai signifikasi menunjukkan

analisis uji homoginitas pada ranah

lebih besar dari 0,05. Sehingga

kognitif, afektif, dan psikomotorik

analisis tersebut dapat dinyatakan

dengan SPSS 16 Levene-Statistic

bahwa data yang telah dikumpulkan

diperoleh nilai signifikansi lebih

berdistribusi normal atau diambil

besar dari 0,05.

dari populasi normal. Berikut adalah


hasil analisis dari uji normalitas
kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol.
Uji Nomalitas Kelompok
Eksperimen
Uji Kolmogorov-Smirnov
Hasil Belajar
Asymp.Sig
Pretest
0,767
Posttest
0,104
Afektif
0,613
Psikomotorik
0,298

Hasil Uji Homoginitas


Uji Kolmogorov-Smirnov
Hasil Belajar
Asymp.Sig
Pretest
0,947
Posttest
0,054
Afektif
0,520
Psikomotorik
0,873
Pengujian
dilakukan
parametrik
(Independent

penelitian
dengan

statistika

menggunakan
Samples

ini

uji

Test).

10

Perhitungan uji t dengan taraf

Karena thitung ttabel = 6,487 1,994

signifikan = 0,05 dan dk=70.

maka tolak H0 dan terima H1.


4. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan

Hasil Perhitungan Uji t


Hasil Belajar
Kognitif
Afektif
Psikomotorik
Berdasarkan

thitung
ttabel
4,663
1,994
2,008
1,994
6,487
1,944
hasil perhitungan

pembahasan,

diperoleh

simpulan

sebagai berikut.
Penerapan model pembelajaran
Problem

Based

Learing

dapat

uji t pada kelas eksperimen dan

meningkatkan hasil belajar pada

kontrol

ranah

ranah

kognitif

kedua

kognitif,

afektif,

dan

kelompok menunjukan bahwa hasil

psikomotorik siswa kelas X program

pretest nilai

thitung = 4,663 dan

keahlian teknik gambar bangunan

ttabel

1,994

taraf

SMK Negeri 3 Semarang terhadap

signifikan = 5% dan dk = 70.

hasil belajar kelompok eksperimen

Karena thitung ttabel = 4,663 1,994

dengan kelompok kontrol. Hal ini

maka tolak H0 dan terima H1.


Berdasarkan hasil perhitungan

terlihat dari rerata dan uji kesamaan

dengan

uji t pada kelas eksperimen dan


kontrol

ranah

afektif

kedua

kelompok menunjukan bahwa hasil


pretest nilai

thitung = 2,008 dan

ttabel

1,994

dengan

taraf

signifikan = 5% dan dk = 70.


Karena thitung ttabel = 2,008 1,994
maka tolak H0 dan terima H1.
Berdasarkan hasil perhitungan

dua rata-rata nilai hasil belajar pada


tiga ranah. Ditinjau dari rerata
diperoleh

ranah

kognitif

78,47

70,59,

ranah

afektif

berbanding

75,42,

ranah

berbanding
79,17

psikomotorik

82,40

berbanding

78,44. Ditinjau dari uji kesamaan dua


rata-rata diperoleh ranah kognitif
thitung dengan ttabel 3,569 > 1,994,

uji t pada kelas eksperimen dan

ranah afektif thitung dengan ttabel 2,008

kontrol

> 1,994, ranah psikomotorik thitung

ranah

afektif

kedua

kelompok menunjukan bahwa hasil


pretest nilai

thitung = 6,487 dan

ttabel

1,994

dengan

taraf

signifikan = 5% dan dk = 70.

dengan ttabel 6,487 > 1,994.


5. DAFTAR PUSTAKA

11

Margono.
Penelitian

2010.

Metodologi

Pendidikan.

Jakarta:

Sugiyono.

2009.

2009.

Metode

Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan

Rineka Cipta.

R&D. Bandung: Alfabeta

Poerwanti, Endang. 2008. Asesmen

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian

Pembelajaran

Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Depdiknas.

SD,

Jakarta: