Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha ESA. Berkat
limpahan

dan rahmat-Nya kami

mampu

menyelesaikan

tugas

makalah mata kuliah

DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK yang berjudul TINJAUAN UMUM .


Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala dapat teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing dan pembaca
penulis meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang
akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Medan, Februari 2016

Hormat kami
Kelompok 1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................2
BAB I...................................................................................................................................3
1.1.

Latar Belakang Masalah.....................................................................................3

BAB II.................................................................................................................................4
2.1.

Konsep Dasar Sistem Distribusi Tenaga Listrik.................................................4

2.2.

Sistem Tegangan.................................................................................................5

2.3.

Sistem Penyaluran Daya.....................................................................................6

2.2. Pembagian Jaringan Distribusi.............................................................................7


2.4.

Sistem Perlengkapan.........................................................................................8

2.4.1.Peralatan dan perlengkapan Mekanik...............................................................10


2.5.

Sistem Proteksi.................................................................................................11

2.5.1. Persyaratan Sistem Proteksi..........................................................................13


2.5.2. Peralatan Proteksi Jaringan Distribusi..........................................................14
2.5.3. Pemutus daya (PMT)....................................................................................16
2.5.4. Pemutus balik otomatis (PBO)......................................................................18
2.5.5.. Pelebur.........................................................................................................20
2.5.6.. Sakelar Seksi Otomatis (SSO).....................................................................21
2.6.

Sistem Perencanaan Jaringan...........................................................................21

2.6.1. Faktor-Faktor Dasar Perencanaan Distribusi................................................22


2.6.2. Model Perencanaan Sistem Distribusi..........................................................27
BAB III..............................................................................................................................29
PENUTUP.........................................................................................................................29
3.1.

Kesimpulan.......................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................31

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Konsep Dasar Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Sistem penyaluran tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik ke konsumen (beban),
merupakan hal penting untuk dipelajari. Mengingat penyaluran tenaga listrik ini, prosesnya
melalui beberapa tahap, yaitu dari pembangkit tenaga listrik penghasil energi listrik, disalurankan
ke jaringan transmisi (SUTET) langsung ke gardu induk. Dari gardu induk tenaga listrik
disalurkan ke jaringan distribusi primer (SUTM), dan melalui gardu distribusi langsung ke
jaringan distribusi sekuder (SUTR), tenaga listrik dialirkan ke konsumen. Dengan demikian
sistem distribusi tenaga listrik berfungsi membagikan tenaga listrik kepada pihak pemakai
melalui jaringan tegangan rendah (SUTR), sedangkan suatu saluran transmisi berfungsi untuk
menyalurkan tenaga listrik bertegangan ekstra tinggi ke pusat-pusat beban dalam daya yang
besar (melalui jaringan distribusi).
Pada gambar 2.1 dibawah ini dapat dilihat, bahwa tenaga listrik yang dihasilkan dan
dikirimkan ke konsumen melalui Pusat Pembangkit Tenaga Listrik, Gardu Induk, Saluran
Transmisi, Gardu Induk, Saluran Distribusi, dan kemudian ke beban (konsumen tenaga listrik).

Gambar2. 1

Sistem Pendistribusian Tenaga LIstrik

Sistem pembangkit (generation plant) terdiri dari satu atau lebih unit pembangkit yang akan
mengkonversikan energi mekanik menjadi energi listrik dan harus mampu menghasilkan daya listrik
yang cukup sesuai kebutuhan konsumen. Sistem transmisi berfungsi mentransfer energi listrik dari
unit-unit pembangkitan di berbagai lokasi dengan jarak yang jauh ke sistem distribusi, sedangkan
sistem distribusi berfungsi untuk menghantarkan energi listrik ke konsumen, seperti ditunjukkan
pada gambar 2.2 dibawah ini.

Gambar2. 2

Diagram Satu Garis Sistem Tenaga Listrik

2.2.
Sistem Tegangan
Ada bermacam-macam sistem tegangan distribusi sekunder menurut standar; (1) EEI :
Edison Electric Institut, (2) NEMA (National Electrical Manufactures Association). Pada
dasarnya tidak berbeda dengan system distribusi DC, faktor utama yang perlu diperhatikan
adalah besar tegangan yang diterima pada titik beban mendekati nilai nominal, sehingga
peralatan/beban dapat dioperasikan secara optimal. Ditinjau dari cara pengawatannya, saluran
distribusi AC dibedakan atas beberapa macam tipe, dan cara pengawatan ini bergantung pula
pada jumlah fasanya, yaitu:
1. Sistem satu fasa dua kawat 120 Volt
2. Sistem satu fasa tiga kawat 120/240 Volt
3. Sistem tiga fasa empat kawat 120/208 Volt
4. Sistem tiga fasa empat kawat 120/240 Volt
5. Sistem tiga fasa tiga kawat 240 Volt
6. Sistem tiga fasa tiga kawat 480 Volt
7. Sistem tiga fasa empat kawat 240/416 Volt
8. Sistem tiga fasa empat kawat 265/460 Volt
9. Sistem tiga fasa empat kawat 220/380 Volt
Di Indonesia dalam hal ini PT. PLN menggunakan sistem tegangan 220/380 Volt. Sedang
pemakai listrik yang tidak menggunakan tenaga listrik dari PT. PLN, menggunakan salah satu

sistem diatas sesuai dengan standar yang ada. Pemakai listrik yang dimaksud umumnya mereka
bergantung kepada negara pemberi pinjaman atau dalam rangka kerja sama, dimana semua
peralatan listrik mulai dari pembangkit (generator set) hingga peralatan kerja (motor-motor
listrik) di suplai dari negara pemberi pinjaman/kerja sama tersebut. Sebagai anggota, IEC
(International Electrotechnical Comission), Indonesia telah mulai menyesuaikan sistem tegangan
menjadi 220/380 Volt saja, karena IEC sejak tahun 1967 sudah tidak mencantumkan lagi
tegangan 127 Volt. (IEC Standard Voltage pada Publikasi nomor 38 tahun 1967 halaman 7 seri 1
tabel 1).
2.3.
Sistem Penyaluran Daya
Sistem distribusi daya listrik meliputi semua Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 KV
dan semua Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 380/220 Volt hingga ke meter-meter pelanggan.
Pendistribusian daya listrik dilakukan dengan menarik kawat kawat distribusi melalui
penghantar udara. Penghantar bawah tanah dari mulai gardu induk hingga ke pusat pusat
beban. pada sistem di ranting Galang ada terpasang jaringan bawah tanah karena keadaan kota
atau daerahnya belum memungkinkan untuk dibangun jaringan tersebut. jadi untuk daerah ini
tetap disuplai melalui hantaran udara 3 phasa 3 kawat. Setiap elemen jaringan distribusi pada
lokasi tertentu dipasang trafo-trafo distribusi, dimana tegangan distribusi 20 KV diturunkan ke
level tegangan yang lebih rendah menjadi 380/220 Volt. Dari trafo-trafo ini kemudian para
pelanggan listrik dilayani dengan menarik kabel-kabel tegangan rendah menjelajah ke sepanjang
pusat-pusat pemukiman, baik itu komersial maupun beberapa industri yang ada disini. Tenaga
listrik yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengoperasikan peralatanperalatan tersebut adalah listrik dengan tegangan yang rendah (380/220 Volt). Sedangkan tenaga
listrik yang bertegangan menengah (sistem 20 KV) dan tegangan tinggi (sistem 150 KV) hanya
dipergunakan sebagai sistem penyaluran (distribusi dan transmisi) untuk jarak yang jauh. Hal ini
bertujuan untuk kehandalan sistem karena dapat memperkecil rugirugi daya dan memliki tingkat
kehandalan penyaluran yang tinggi, disalurkan melalui saluran transmisi ke berbagai wilayah
menuju pusat-pusat pelanggan.

Gambar2. 3 Diagram satu garis sistem penyaluran Tenaga Listrik

Keterangan dari gambar:


1. Saluran distribusi adalah saluran yang berfungsi untuk menyalurkan tegangan dari gardu distribusi
ke trafo distribusi ataupun trafo pemakaian sendiri bagi konsumen besar.
2. Trafo distribusi berfungsi untuk menurunkan tegangan 20 KV dari Jaringan Tegangan Menengah
(JTM) menjadi tegangan rendah 380/220 Volt. Tegangan rendah inilah yang kemudian
didistriibusikan ke pelanggan kecil melalui jaringan tegangan rendah (JTR) yang berupa sistem 3
phasa empat kawat.
3. Konsumen besar adalah konsumen yang menggunakan energi yang besar yang biasanya langsung
mengambil sumber listrik dari gardu terdekat untuk kemudian disalurkan ke Gardu Induk (GI )
pemakaian sendiri.
4. Konsumen biasa adalah konsumen-konsumen yang menggunakan tenaga istrik dengan level
tegangan rendah (380/220 Volt) seperti rumah tangga, industri kecil, perkantoran, pertokoan dan
sebagainya.

2.3.1. Pembagian Jaringan Distribusi


Jaringan distribusi adalah kumpulan dari interkoneksi bagian-bagian rangkaian listrik dari
sumber daya ( Trafo Daya pada GI distribusi ) yang besar sampai saklar-saklar pelayanan
pelanggan.
Secara garis besar jaringan distribusi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Distribusi Primer
Distribusi primer adalah jaringan distribusi daya listrik yang bertegangan menengah (20
KV). Jaringan distribusi primer tersebut merupakan jaringan penyulang. Jaringan ini berawal
dari sisi skunder trafo daya yang terpasang pada gardu induk hingga kesisi primer trafo distribusi
yang terpasang pada tiang-tiang saluran.
2. Distribusi Sekunder
Distribusi skunder adalah jaringan daya listrik yang termasuk dalam kategori tegangan
rendah (sistem 380/220 Volt), yaitu rating yang sama dengan tegangan peralatan yang dilayani.
Jaringan distribusi skunder bermula dari sisi skunder trafo distribusi dan berakhir hingga ke alat
ukur (meteran) pelanggan. Sistem jaringan distribusi skunder ini disalurkan kepada para
pelanggan melalui kawat berisolasi.

2.4.
Sistem Perlengkapan
Jaringan distribusi yang baik adalah jaringan yang memiliki perlengkapan dan peralatan
yang cukup lengkap, baik itu peralatan guna kontruksi maupun peralatan proteksi. Untuk
jaringan distribusi sistem saluran udara, peratan-peralatanm proteksi dipasangkan diatas tiangtiang listrik berdekatan dekat letak pemasangan trafo, perlengkapan utama pada sistem distribusi
tersebut antara lain:
1. Tiang Berfungsi :
Untuk meletakkan penghantar serta perlengkapan system seperti transformator, Fuse,
isolator, arrester, recloser dan sebagainya. Tiang dibagi menjadi 3 jenis yaitu tiang kayu, besi dan
beton sesuai dengan fungsi bawah tanah.

Tiang listrik harus kuat karena selain digunakan untuk menopang hantaran listrik juga
digunakan untuk meletakan peralatan-peralatan pendukung jaringan distribusi tenaga listrik
tegangan menengah. Penggunaan tiang listrik disesuaikan dengan kondisi lapangan.

2. Penghantar : Berfungsi sebagai penyalur arus listrik dari trafo daya pada gardu induk ke
konsumen. Kebanyakan penghantar yang digunakan pada sistem distribusi . Begitu juga dengan
beberapa kawat jaringan bawah tanah.
Dalam pemilihan kabel pengantar harus memiliki beberapa sifat-sifat sebagai berikut :

a)

Memiliki daya hantar yang tinggi

b)

Memiliki kekuatan tarik yang tinngi

c)

Memiliki berat jenis yang rendah

d)

Memiliki fleksibilitas yang tinggi

e) Tidak cepat rapuh


f)

Memiliki harga yang murah

Jenis-jenis bahan penghantar, antara lain :


a)

Kawat logam biasa, cintohnya BCC (Bare Copper Conductor)

b)

Kawat logam campuran, contohnya AAAC ( All Almunium Conductor ).

3. Kapasitor : Berfungsi untuk memperbesar factor daya pada system penyaluran.


4. Recloser : Berfungsi untuk memutuskan saluran secara otomatis ketika terjadi gangguan dan akan
segera menutup kembali beberapa waktu kemudian sesuai dengan setting waktunya. Biasanya alat ini
disetting untuk dua kali bekerja, yaitu dua kali pemutusan dan dua kali penyambungan . Apabila
hingga kerja recloser yang kedua keadaan masih membuka dan menutup, berarti telah terjadi
gangguan permanen.
5. Fuse cut out ( FCO )

Fuse cut out ( FCO ) adalah sebuah alat pemutus rangkaian listrik yang berbeban pada
jaringan distribusi yang bekerja dengan cara meleburkan bagian dari komponenya ( fuse link )
yang telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya. FCO ini terdiri dari ;
a)

Rumah fuse ( fuse support )

b)

Pemegang fuse(fuse holder)

c)

Fuse link

Berdasarkan sifat pemutusnya fuse link terdiri dari 2 tipe yaitu ;


1) Tipe K (pemutus cepat)
2) Tipe T (pemutus lambat)
FCO pada jaringan distribusi digunakan sebagai pengaman percabangan 1 phasa
maupun sebagai pengaman peralatan listrik (trafo distribusi non CSP, kapasitor).
6. PMT : Berfungsi untuk memutuskan saluran secara keseluruhan pada tiap out put.
Pemutusan dapat terjadi karena adanya gangguan sehingga secara otomatis PMT akan membuka
ataupun secara manual diputuskan karena adanya pemeliharaan jaringan.

7. Tansformator : Berfungsi untuk menurunkan level tegangan sehingga sesuai dengan


tegangan kerja yang diinginkan.
Dalam sistem distribusi tenaga listrik transformator dapat dibagi berdasarkan sistem kerja
menjadi dua macam yaitu:
1. Transformator Step Up ( 11,6 KV menjadi 150 KV )
2. Transformator Down ( 150 KV menjadi 20 KV ) dan ( 20 KV menjadi 380 / 220 Volt )
Sistem distribusi menggunakan jenis transformator step down untuk menghasilkan tegangan yang
diinginkan.
8. Isolator

Isolator adalah suatu peralatan listrik yang berfunsi untuk mengisolasi konduktor atau
penghantar. Menurut fungsinya isolator dapat menahan berat dari konduktor / kawat penghantar,
mengatur jarak dan sudut antar konduktor serta menahan adanya perubahan pada kawat
penghantar akibat temperatur dan angin.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan isolator yang banyak digunakan pada sistem
distribusi tenaga listrik adalah isolator dari bahan porselin / keramik dan isolator dari bahan
gelas.
Ada beberapa jenis konstruksi isolator dalam sistem distribusi, antara lain :
a)

Isolator gantung ( suspension type insulator )

b)

Isolator jenis pasak ( pin type insulator )

Perlengkapan perlengkapan diatas sangat penting keberadaannya, terutama untuk


peralatan proteksi. Agar dapat bekerja dengan baik dan terjaminnya kontinuitas pelayanan, maka
harus dilakukan pemeliharaan secara rutin untuk mengetahui kerusakan dan kehandalan dari
masing-masing peralatan tersebut. Pemeliharan peralatan yang rutin sangat penting dilakukan
agar setiap saat dapat diawasi keadaannya apakah masih layak dipakai atau tidak.
2.4.1.Peralatan dan perlengkapan Mekanik
Adapun peralatan dan perlengkapan mekanik yang digunakan dalam distribusi tenaga
listrik adalah sebagai berikut
1. Sarung tangan 20 kv
adalah sarung tangan berbahan karet tebal yang dapat digunakan untuk melindungi diri
pemakainya dari sengatan listrik max 20 kv. Dan sangat cocok digunakan oleh orang atau
pekerja yang bersentuhan langsung dengan medan listrik bertegangan tinggi.

2. Sepatu 20 kv
Sepatu yang terbuat dari bahan karet dan campuran bahan lain yang kekuatan /
ketahanan sengatan listrik maximal 20 kv, Dari jenisnya sepatu di bagi menjadi 3 jenis yang
berbeda dari sepatu keselamatan bahaya listrik yaitu sepatu safely, sepatu disipatif statis, dan
sepatu konduktor.
3. Helem atau safety helmet
Helem ini didesain untuk melindungi kepala dari jatuhnya benda dari atas. Pemakaian
helem ini secara tepat dan benar dapat mengurangi konsekwensi yang mungkin timbul pada saat
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
4. Saklar stock atau tongkat khusus
Saklar stock merupakan alat bantu untuk mengambil co yang tergantung. Saklar stock
tersebut terbuat dari bahan piber yang ujung atasnya dipasang sebuah pengait dan dapat
dipanjangkan atau dipendekan sesuai dengan keadaannya.
5. Kacamata
Kacamata merupakan pelindung mata. Berfungsi untuk melindungi mata supaya debu
atau kotoran yang jatuh dari atas agar tidak langsung masuk kemata dan juga menghalau sinar
matahari.
6. Senter / blor
Senter disini berguna saat malam hari untuk penglihatan.
7. Radio komunikasi
Radio ini berfungsi untuk berkomunikasi antar pegawai yang lainnya supaya tidak
terjadi kecelakaan saat pelaksanaan.
2.5.
Sistem Proteksi
Sebaik apapun suatu sistem tenaga dirancang, gangguan pasti akan terjadi pada sistem
tenaga tersebut. Gangguan ini dapat merusak peralatan sistem tenaga sehingga kerja sistem
tenaga menjadi terganggu dan dapat menyebabkan gagalnya penyaluran daya ke konsumen.
Berdasarkan sumber gangguan, gangguan pada sistem tenaga dapat dibagi menjadi dua:
a.

Gangguan internal

Sumber gangguan berasal dari dalam sistem. Penyebabnya dapat berupa :

penuaan peralatan

b.

arus beban lebih


penentuan parameter peralatan proteksi yang tidak tepat
Gangguan eksternal

Sumber gangguan berasal dari luar sistem. Penyebabnya dapat berupa :

kesalahan manusia dalam mengoperasikan sistem tenaga

alam, seperti petir, angin, dahan pohon, dan lain-lain

binatang, seperti burung, kelelawar, dan lain-lain

Berdasarkan penyebab gangguan, gangguan pada sistem tenaga dapat dibagi menjadi dua:
a.

Gangguan arus lebih

Gangguan arus lebih ditandai dengan terjadinya kenaikan arus pada saluran melebihi arus
beban maksimum. Arus lebih ini sendiri terbagi menjadi arus beban lebih (I>) dan arus hubung
singkat (I>>). Arus beban lebih terjadi akibat penambahan beban yang akan menyebabkan
kenaikan arus melebihi arus beban maksimum. Kenaikan arus ini tidak terlalu besar
sehingga sistem masih bisa bertahan untuk selang waktu yang cukup lama. Sedangkan arus
hubung singkat terjadi akibat penurunan kekuatan dasar isolasi dari sistem tenaga. Penurunan
kekuatan isolasi ini dapat terjadi antarsaluran fasa atau antara saluran fasa dengan tanah.
Akibatnya akan timbul arus yang jauh melebihi arus beban maksimum. Sistem tenaga tidak dapat
bertahan lama apabila arus gangguan hubung singkat ini tidak segera diatasi.
b.

Gangguan tegangan lebih

Gangguan tegangan lebih terjadi umumnya diakibatkan oleh sambaran petir ke sistem,
baik langsung maupun tidak langsung (induksi). Penambahan tegangan ini dapat mengakibatkan
tegangan pada sistem naik melampaui BIL (Basic Insulation Level) dari peralatan sistem tenaga
sehingga dapat merusak peralatan sistem tenaga.
Gangguan pada sistem tenaga listrik yang paling sering terjadi adalah gangguan hubung
singkat. Sebagian besar dari gangguan hubung singkat ini bersifat temporer, artinya gangguan
yang bila suplai arusnya dihentikan, gangguan tersebut akan hilang dan tidak menimbulkan
kerusakan pada peralatan dimana terjadi gangguan .
Gangguan temporer ini kebanyakan berupa busur api listrik yang disebabkan oleh surja
hubung pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), sambaran petir pada Saluran
Udara Tegangan Tinggi (SUTT), dan sambaran petir, dahan, atau ranting pohon pada Saluran
Udara Tegangan Menengah (SUTM).

2.5.1. Persyaratan Sistem Proteksi


Suatu sistem proteksi dapat bekerja dengan baik apabila memenuhi lima persyaratan
utama, yaitu:
1.

Kehandalan

Kehandalan kemampuan suatu rele atau sistem rele untuk bekerja dengan benar pada saat
dibutuhkan dan tidak akan bekerja ketika tidak diperlukan atau menghindari operasi yang tidak
diperlukan selama sistem tenaga beroperasi dengan normal. Memastikan bahwa sistem proteksi
bekerja ketika dibutuhkan dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian percobaan terhadap
sistem proteksi dimana sistem proteksi harus bekerja ketika batasan operasi dari sistem tenaga
dilampaui. Memastikan sistem proteksi tidak bekerja ketika tidak dibutuhkan jauh lebih sulit
karena banyak variasi kerja transien yang dapat membuat terjadinya operasi yang tidak perlu
pada sistem proteksi.
2.

Selektivitas

Selektivitas adalah proses pengaturan dan penerapan rele-rele proteksi yang menjangkau
rele lain sedemikian sehingga rele-rele ini bekerja secepat mungkin untuk gangguan pada zona
utama dan bekerja dengan penundaan untuk gangguan pada zona pendukung (back up).
Bekerjanya sistem proteksi pendukung adalah hal yang tidak benar dan tidak diharapkan kecuali
sistem proteksi utama gagal mengatasi gangguan yang terjadi pada zonanya.
3.

Kecepatan kerja

Suatu sistem proteksi diharapkan untuk dapat bekerja secepat mungkin ketika terjadi
gangguan pada sistem tenaga. Pada beberapa sistem, hal ini dapat diterapkan. Namun ketika
aspek selektivitas terlibat, operasi sistem proteksi yang sangat cepat dapat dilakukan dengan
penerapan sistem yang lebih kompleks dan lebih mahal. Di lain pihak, operasi sistem proteksi
yang semakin cepat akan memperbesar kemungkinan terjadinya operasi yang salah karena
adanya kemungkinan kesalahan dalam membedakan transien yang dapat ditoleransi dan transien
yang tidak dapat ditoleransi.

4.

Sederhana

Suatu sistem proteksi harus diusahakan sesederhana mungkin dengan tetap harus bisa
mencapai tujuan yang diharapkan. Setiap penambahan komponen yang dapat meningkatkan
kinerja sistem proteksi namun tidak mutlak diperlukan dalam persyaratan sistem proteksi harus
dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Setiap penambahan komponen membuat sumber
gangguan baru terhadap sistem tenaga maupun sistem proteksi. Permasalahan di sistem proteksi
jauh lebih berbahaya daripada masalah di sistem tenaga.
5.

Ekonomis

Biaya adalah faktor yang paling penting. Hal yang sangat mendasar adalah memperoleh
proteksi yang maksimum dengan biaya yang minimum. Untuk biaya yang sangat minimum, akan
sangat sukar mendapat sistem proteksi yang baik, bahkan dapat menimbulkan kesulitan dalam
pengaplikasian sistem proteksi tersebut. Untuk itu harus ada pertimbangan antara kualitas sistem
proteksi dan biaya yang diperlukan.

2.5.2. Peralatan Proteksi Jaringan Distribusi


Sistem proteksi pada sistem tenaga harus dapat mendeteksi terjadinya gangguan pada
sistem tenaga dan kemudian mengisolasi daerah dimana gangguan tersebut terjadi. Tugas sistem
proteksi itu dapat dilaksanakan oleh rele proteksi. British Standard Specification (B.S. 142 :
1966) mendefinisikan rele dan rele proteksi sebagai berikut:
Rele adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mengontrol suatu rangkaian listrik
secara tidak langsung dengan memakai perubahan yang terjadi pada rangkaian tersebut atau
rangkaian yang lain.
Rele proteksi adalah suatu rele yang dipakai untuk memperoleh penghubungan dan/atau
pemutusan secara otomatis suatu peralatan atau bagian sistem listrik dari sumber daya pada suatu
kondisi tertentu yang dapat menyebabkan kerusakan atau bahaya pada peralatan atau sistem
tersebut.

Rele proteksi adalah peralatan yang vital pada setiap sistem tenaga listrik. Rele ini
memang tidak diperlukan pada saat sistem tenaga beroperasi dengan normal, tapi akan menjadi
sangat penting apabila terjadi gangguan pada sistem tenaga.
Berdasarkan pemakaian dan prinsip kerja, rele proteksi dapat dibagi menjadi lima, yaitu:
1.

Rele arus lebih

Rele ini bekerja dengan menggunakan arus sebagai besaran ukur. Rele akan bekerja jika
arus mengalir melampaui batas tertentu yang telah ditetapkan. Batas tersebut disebut juga setting
rele.

2.

Rele tegangan kurang

Rele bekerja dengan menggunakan tegangan sebagai besaran ukur. Rele akan bekerja jika
penurunan tegangan melampaui batas yang telah ditentukan.
3.

Rele jarak

Rele bekerja dengan menggunakan besaran tegangan dan arus sebagai besaran yang
diukur. Untuk jenis tertentu, rele juga menggunakan besaran sudut fasa sebagai besaran ukur.
Dengan membandingkan tegangan dan arus, akan diperoleh impedansi. Dengan adanya
hubungan linear antara impedansi saluran dengan jarak saluran, maka rele dapat bekerja
berdasarkan lokasi gangguan.
4.

Rele arah

Rele bekerja dengan menggunakan arus dan tegangan sebagai besaran ukur. Rele
mempunyai kemampuan untuk membedakan arah aliran daya (arus). Rele hanya bekerja untuk
satu arah arus yang telah ditentukan terlebih dahulu. Pemakain rele ini pada sistem proteksi
saluran selalu bersama-sama dengan rele lain seperti rele arus lebih atau rele jarak. Fungsi
penggunaan rele arah adalah untuk memperoleh selektivitas proteksi karena arah daya pada
keadaan gangguan

dapat datang dari kedua sisi saluran seperti pada jaringan loop dan jaringan grid/ring.
5.

Rele diferensial

Prinsip kerja rele ini adalah membandingkan besaran arus yang ada di kedua sisi
peralatan yang diproteksi. Bila perbedaan besaran antara kedua sisi tersebut melebihi suatu harga
tertentu yang telah ditentukan, maka rele akan bekerja.

Proteksi terhadap gangguan arus lebih pada sistem distribusi jaringan tegangan menengah
dapat dilakukan dengan menggunakan pemutus daya dengan rele arus lebih. Pemilihan rele arus
lebih dilakukan terutama karena pertimbangan harga. Rele arus lebih adalah rele paling murah
jika dibandingkan dengan rele-rele lain [3].

Rele arus lebih juga cocok untuk jaringan berbentuk radial. Untuk sistem yang lebih
rumit, seperti jaringan loop atau spindel, rele arus lebih biasanya dilengkapi dengan rele arah
untuk menjaga selektivitas sistem proteksi.
Selain rele arus lebih, pemutus daya juga harus dilengkapi rele lain yaitu: rele gangguan
tanah dan rele penutup balik. Peralatan proteksi lain yang digunakan pada jaringan distribusi
adalah pemutus balik otomatis, pelebur, dan sakelar seksi otomatis.

2.5.3. Pemutus daya (PMT)


Pemutus daya dipasang pada saluran utama pada gardu induk sebagai pengaman utama
jaringan dan dilengkapi dengan alat pengaman rele arus lebih, rele gangguan tanah, dan rele
penutup balik [4].
Tugas suatu PMT adalah sebagai berikut:
a.
mampu menghantarkan arus beban penuh secara terus menerus tanpa terjadi
overheat atau kerusakan pada PMT
b.

mampu membuka dan menutup saluran pada keadaan tak berbeban

c.

mampu membuka dan menutup saluran pada arus beban normal

d.
mampu membuka dan menutup saluran pada keadaan hubung singkat pada besar
arus hubung singkat tertentu.
Pemutus daya terbagi dalam beberapa tipe:
a.

Low Voltage Air Circuit Breaker

PMT ini dirancang untuk saluran arus searah dan saluran arus bolak balik yang
bertegangan rendah, yaitu sampai 600 volt. Kelebihan dari PMT jenis ini adalah tidak
menggunakan minyak sehingga mengurangi perawatan, dapat bekerja berkali-kali, dan
pengecekan kontak PMT untuk pemeriksaan atau penggantian relatif lebih mudah.
b.

Oil Circuit Breaker

PMT ini adalah jenis PMT yang tertua. Kontak pemisah PMT bekerja di dalam minyak
dimana busur api yang terjadi ketika pembukaan kontak dipadamkan oleh gelembung gas yang
terbentuk pada saat itu.
Berdasarkan banyaknya minyak yang digunakan, PMT jenis ini dapat dibagi menjadi dua,
yaitu (i) bulk oil circuit breaker dan (ii) low-oil circuit breaker. Perbedaaan kedua jenis PMT ini
adalah PMT jenis (i) menggunakan minyak dalam jumlah besar sedangkan PMT jenis (ii)
menggunakan minyak hanya pada sekitar kontak pemisah.

Kelebihan dari oil circuit breaker adalah:


a.

energi dari busur api diserap pada dekomposisi minyak

b.
gas yang terbentuk, dimana kandungan terbesarnya adalah hidrogen, mempunyai
kemampuan penyerapan panas yang baik, sehingga dapat mendinginkan lingkungan.
c.
Minyak yang digunakan adalah insulator yang baik yang memisahkan sistem
dengan komponen pentanahan.
d.

Minyak memiliki kemampuan untuk mengalir menuju busur ketika arus bernilai

nol.
Kekurangan dari oil circuit breaker adalah:
a.
terbakar

Terdapat resiko terbentuknya campuran dengan udara sehingga menjadi mudah

b.

Minyak harus tetap bersih sehingga memerlukan pengawasan berkala.

c.

Water Type Circuit Breaker

Prinsip kerja PMT ini adalah menggunakan energi dari busur untuk memanaskan air
menjadi uap. Dengan mekanisme tertentu, uap ini akan menyebabkan perubahan tekanan dan
temperatur yang memadamkan busur. PMT jenis ini digunakan untuk menangani arus gangguan
yang kecil dan bekerja dalam satu atau dua siklus.busur
d.

Air Blast Circuit Breaker

PMT jenis ini menggunakan udara bertekanan tinggi untuk memadamkan


Kelebihan PMT jenis ini adalah:
a.

Tidak ada resiko ledakan atau kebakaran

b.

Cocok untuk kerja yang berulang

c.

Kerusakan kontak lebih jarang terjadi

d.

Perawatan tidak terlalu sering Kekurangan PMT jenis ini adalah:

a.

Memerlukan kompresor untuk menyediakan udara bertekanan tinggi

b.

Resiko udara bocor pada pipa

e. SF6 Circuit Breaker


PMT ini bekerja dengan insulator gas SF6 untuk memadamkan busur. Kelebihan PMT
jenis ini
a.

Gas SF6 tidak beracun dan tidak mudah terbakar

b.

Gas SF6 memiliki kecenderungan mengikat elektron yang tinggi

Kekurangan PMT jenis ini


a.

Perlu pengontrolan yang teratur untuk menjaga kemampuan PMT

b.

Gas SF6 adalah gas yang mahal

2.5.4. Pemutus balik otomatis (PBO)


PBO adalah sebuah alat berwadah-sendiri, berisi sarana yang diperlukan untuk
mengindera arus lebih, mengatur waktu, memutus arus lebih, dan menutup balik secara otomatis
[4]. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, gangguan hubung singkat pada sistem tenaga
listrik pada umumnya adalah gangguan temporer, yaitu gangguan yang akan hilang ketika
sumber arus gangguan dihentikan dan saluran ditutup kembali. Dengan demikian, ketika terjadi
gangguan, PBO akan membuka. Hal ini menyebabkan terhentinya aliran arus gangguan.
Beberapa saat kemudian PBO akan menutup. Bila gangguan yang terjadi adalah gangguan
temporer, maka gangguan akan hilang dan sistem dapat bekerja seperti semula. Namun bila
gangguan yang terjadi adalah gangguan permanen, maka gangguan tetap terjadi. Akibatnya PBO
akan membuka kembali. PBO dapat menutup kembali namun hal ini bergantung pengaturan yang
dilakukan terhadap PBO.
Proses urutan kerja PBO dari mulai saat terjadi gangguan, PBO terbuka, PBO tertutup,
sampai suplai arus kembali
Berdasarkan cara kerjanya, PBO dapat dibagi menjadi penutup balik sekali (single shot
recloser) dan penutup balik beberapa kali (multishot recloser).

a.

Penutup balik sekali

Penutup balik jenis ini memberi perintah penutupan hanya sekali setelah terjadinya
gangguan. Apabila PBO masih mendeteksi gangguan, maka sistem proteksi akan menganggap
gangguan yang terjadi adalah gangguan yang bersifat permanen. PBO kemudian akan membuka
dan mengunci.

Penutup balik jenis ini biasanya digunakan pada sistem transmisi tegangan tinggi atau
tegangan ekstra tinggi.
b.

Penutup balik beberapa kali

Penutup balik jenis ini dapat memberi perintah penutupan beberapa kali. Jika setelah
penutupan, PBO masih mendeteksi gangguan, PBO akan terbuka kembali dan kemudian PBO
menutup lagi dan seterusnya. Hal ini dapat berulang dua, tiga, atau empat kali, bergantung dari
pengaturan rele PBO itu sendiri. Penutup balik jenis ini biasanya dipakai pada sistem tegangan
menengah.

Berdasarkan fasa kerjanya, PBO dibagi menjadi penutup balik satu fasa, penutup balik
tiga fasa, dan penutup balik kombinasi satu fasa dan tiga fasa.
a.

Penutup balik satu fasa

Bila terjadi gangguan satu fasa, PBO pada fasa yang terganggu akan terbuka. PBO
tersebut kemudian akan menutup. Jika PBO masih mendeteksi terjadi gangguan, PBO pada tiap
fasa akan terbuka dan terkunci.
Bila terjadi gangguan dua atau tiga fasa, PBO pada tiap fasa akan terbuka dan langsung
terkunci, tanpa memberi kesempatan PBO untuk menutup.
b.

Rele tiga fasa

Bila terjadi gangguan satu fasa, dua fasa, atau tiga fasa, PBO di tiap fasa akan terbuka.
Kemudian PBO di tiap fasa akan tertutup kembali. Apabila gangguan masih terdeteksi, PBO
akan terbuka kembali dan terkunci.
c.

Rele kombinasi satu fasa dan tiga fasa

Rele ini berfungsi sebagai penutup balik satu fasa bila gangguan yang terjadi adalah
gangguan satu fasa dan berfungsi sebagai penutup balik tiga fasa apabila gangguan yang terjadi
adalah gangguan tiga fasa.
Berdasarkan waktu matinya (waktu kerja penutup balik umumnya dianggap sama
dengan waktu mati), PBO dapat dibagi menjadi PBO cepat dan PBO lambat.
a.

Penutup balik cepat

Penutup balik cepat adalah PBO dengan waktu mati kurang dari satu detik. Penutup balik
cepat ini umumnya digunakan pada SUTT dan SUTM pada penutupan pertama kali atau sampai
penutupan kedua.

b.

Penutup balik lambat

Penutup balik lambat adalah PBO dengan waktu mati lebih dari satu detik, dalam hal ini
bisa mencapai lima belas detik. Penutup balik lambat ini digunakan terutama pada SUTM.

Berdasarkan waktu kerja rele pengamannya, rele PBO dibagi menjadi rele PBO dengan
waktu kerja rele pengaman cepat dan waktu kerja rele pengaman lambat. Pembagian ini
berdasarkan cepat dan/atau lambatnya waktu kerja rele pengaman mulai saat merasakan
gangguan sampai PBO terbuka. Waktu kerja ini ditentukan oleh waktu kerja atau karakteristik
waktu-arus.

2.5.5.. Pelebur
Pelebur adalah suatu alat pemutus yang dengan meleburnya bagian dari komponennya
yang telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya untuk itu, membuka rangkaian dimana
pelebur tersebut terpasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi suatu nilai tertentu
dalam waktu yang cukup.
Pelebur adalah peralatan satu fasa yang menggabungkan fungsi mendeteksi dan memutus
arus. Pelebur hanya bekerja berdasarkan kombinasi magnitudo dan durasi dari arus yang
mengalir melalui pelebur itu [7]. Pelebur yang akan melebur ketika terjadi arus gangguan adalah
pelebur pada fasa dimana arus gangguan itu mengalir.
Jenis pelebur berdasarkan proses kerjanya adalah sebagai berikut:
a.Pelebur jenis pembatasan arus (current limiting fuse)
Pelebur yang selama dan oleh kerjanya dalam selang arus tertentu membatasi arus yang
lewat ke suatu nilai yang cukup rendah dari nilai puncak arus perkiraannya.
Pelebur jenis ini memiliki lapisan pasir yang mengelilingi fuse link sehingga ketika fuse
link tersebut melebur, panas dan busur apinya dirdam oleh lapisan pasir tersebut.
b.Pelebur jenis letupan (expulsion fuse)
Pelebur dimana busur listrik yang terjadi waktu pemutusan dipadamkan oleh semprotan
gas yang timbul karena panas busur listrik itu sendiri.
Kerja pelebur ini ditandai dengan suara yang keras, emisi gas, dan pecahan yang dapat
membahayakan manusia yang bekerja di sekitar pelebur tersebut.

2.5.6.. Sakelar Seksi Otomatis (SSO)


SSO adalah sebuah peralatan pemutus yang secara otomatis membebaskan seksi-seksi
yang terganggu dari suatu sistem distribusi, tapi tidak memutus arus gangguan, karena biasanya
dipakai dalam hubungannya dengan penutup balik otomatis (PBO) [4].
SSO akan bekerja (membuka saluran) dalam selang waktu tertentu setelah PBO
mendeteksi ada gangguan dan membuka saluran. Pembukaan SSO dapat merupakan fungsi
waktu pembukaan PBO (pengaturan waktu) dan dapat juga merupakan fungsi jumlah pembukaan
PBO.
2.6.
Sistem Perencanaan Jaringan
Perencanaan sistem distribusi energi listrik merupakan bagian yang esensial dalam
mengatasi pertumbuhan kebutuhan energi listrik yang cukup pesat. Perencanaan diperlukan
sebab berkaitan dengan tujuan pengembangan sistem distribusi yang harus memenuhi beberapa
kriteria teknis dan ekonomis. Perencanaan sistem distribusi ini harus dilakukan secara sistemik
dengan pendekatan yang didasarkan pada peramalan beban untuk memperoleh suatu pola
pelayanan yang optimal. Perencanaan yang sistemik tersebut akan memberikan sejumlah
proposal alternatif yang dapat mengkaji akibatnya yang secara langsung berhubungan dengan
aspek keandalan dan ekonomis.
Tujuan umum perencanaan sistem distribusi ini adalah untuk mendapat kan suatu
fleksibilitas pelayanan optimum yang mampu dengan cepat mengantisipasi pertumbuhan
kebutuhan energi elektrik dan kerapatan beban yang harus dilayani. Adapun faktor-faktor lain
yang dapat menjadi input terkait dalam perencanaan sistem distribusi ini antara lain adalah : pola
penggunaan lahan pada regional tertentu, faktor ekologi dan faktor geografi. Perencanaan sistem
distribusi ini harus mampu memberikan gambaran besarnya beban pada lokasi geografis tertentu,
sehingga dapat ditentukan dengan baik letak dan kapasitas gardu-gardu distribusi yang akan
melayani areal beban tersebut dengan mempertimbangkan minimisasi susut energi dan investasi
konstruksi, tanpa mengurangi kriteria, teknis yang diperlukan. Perencanaan sistem distribusi ini
dapat dilakukan dalam perioda jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Perencanaan jangka panjang harus selalu diaktualisasi dan dikoordinasikan dengan perencanaan
jangka menengah dan dikoreksi oleh perkembangan jaringan distribusi kondisi eksisting.
Efektifitas perencanaan sistem distribusi ini makin diperlukan bila dikaitkan dengan
makin tingginya investasi terhadap energi, peralatan dan tenaga kerja. Di samping itu
perencanaan yang baik akan memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan sistem
distribusi. Kondisi ini disebabkan pada kenyataan sistem distribusi merupakan ujung tombak dari
pelayanan energi listrik karena langsung berhubungan dengan konsumen sehingga adanya
gangguan pada sisi distribusi akan berakibat langsung pada konsumen. Sedangkan adanya
gangguan pada sisi transmisi ataupun sisi pembangkit belum tentu menyebabkan terjadinya
proses interupsi disisi konsumen.

Perencanaan sistem distribusi dimulai dari sisi konsumen. Pola kebutuhan, tipe dan faktor
beban dan karakteristik beban yang dilayani akan menentukan tipe sistem distribusi yang akan
dipakai. Kelompok-kelompok beban tersebut akan dilayani oleh jaringan sekunder. Sekelompok
jaringan sekunder ini akan dilayani oleh trafo-trafo distribusi yang selanjutnya sejumlah trafo ini
akan memberikan gambaran pembebanan pada jaringan primer. Jaringan distribusi ini akan
mendapat masukan energi dari trafo-trafo gardu induk. Sistem beban pada jaringan distribusi ini
akan menentukan pula lintasan dan kapasitas saluran distribusi. Dengan demikian setiap langkah
proses perencanaan sistem distribusi merupakan input bagi langkah proses berikutnya.
2.6.1. Faktor-Faktor Dasar Perencanaan Distribusi
1. Peramalan beban
Perencanaan sistem distribusi memerlukan prakiraan (forecasting) beban masa depan.
Kualitas dan akurasi perencanaan sistem tergantung pada kualitas dan akurasi data dan prakiraan
beban. Dalam perencanaan sistem distribusi meliputi penentuan ukuran, lokasi dan perubahan
waktu masa depan, seperti sejumlah komponen-komponen sistem (substation, saluran,
penyulang, dan sebagainya). Lokasi geografis beban-beban dianalisa menggunakan pendekatan
area yang kecil (small area), yang mana dibagi daerah pelayanan utilitas ke dalam sejumlah area
kecil dan prakiraan beban pada setiap salah satunya, oleh sebab itu akan dapat ditentuan dimana
dan berapa banyak yang akan dikembangkan. Ada dua metode untuk membagi sistem ke dalam
area kecil , yaitu :
a) Melaksanakan prakiraan dalam perihal penyulang, substation, atau wilayah (zone)
ditetapkan oleh komponen-komponen distribusi, atau
b) Melaksanakan prakiraan dalam perihal grid seragam (uniform grid), berbasis pada
pemetaan sistem koordinasi.
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Metodologi berbasis grid (b)
memerlukan pertimbangan data input, tidak hanya historis rekaman beban dalam setiap blok
grid, tetapi juga ekonomi, sosial, demografis dan penggunakan informasi pertanahan,
untukmemperoleh hasil yang akurat. Untuk kebanyakan utilitas, adalah sulit untuk memperoleh
data-data yang lengkap tersebut di atas. Prakiraan distribusi beban dengan menggunakan metode
(a) di atas hanya diperlukan data historis beban beberapa tahun, yang mana dengan mudah
didapat pada setiap utilitas. Batas pertambahan atau pengurangan beban akan dievaluasi dengan
memperhatikan terhadap elemen-elemen penting lainnya, seperti termasuk pertanahan, air,
seperti faktor-faktor ekonomi dan sosial, bahwa akan memberi pengaruh yang kuat pada
kecendrungan prakiraan beban.
Seperti yang diharapkan, pertumbuhan beban mempunyai korelasi yang kuat dengan
aspek pengembangan komunitas dan pengembangan lahan. Sedangkan output peramalan beban
tersebut dapat berupa kerapatan beban yang dinyatakan dalam dalam KVA per satuan luas
layanan sistem distribusi energi listrik untuk skala jangka panjang. Dan bila peramalan dilakukan

dalam skala jangka pendek maka diperoleh output lebih detail dan dinyatakan dengan besaran
kerapatan beban KVA persatuan luas layanan yang diasosiasikan dengan koordinat grid atau
luasan yang diminati. Penggunaan sistem grid dengan koordinat-koordinatnya merupakan suatu
metoda yang banyak digunakan baik pada proses peramalan beban jangka pendek. Dengan
berdasar pada besarnya kerapatan beban pada masing-masing grid tersebut dapat ditentukan pula
pola dan lintasan jaringan distribusi serta area layanan masing-masing trafo distribusi.

Gambar2. 4 Faktor-faktor yang mempengaruhi peramalan beban

2. Pengembangan Gardu
Seperti halnya dengan peramalan beban, maka pengembangan gardu juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor dasar dominan. Kondisi eksisting jaringan distribusi serta konfigurasinya
merupakan faktor yang mendampingi pertumbuhan beban, kerapatan beban dalam proses
penentuan pengembangan gardu atau melakukan konstruki gardu baru. Faktor faktor dasar
tersebut tersebut digambarkan sebagai berikut :

Gambar2. 5 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan gardu

3. Pemilihan Letak Gardu


Letak gardu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jarak dari pusat beban, jarak dari
jaringan sub-transmisi yang ada dan adanya batasan batasan seperti tersedianya lahan, investasi
yang harus digunakan, dan aturan penggunaan lahan. Lokasi ideal gardu mengikuti pandangan
pandangan sebagai berikut :
a. Lokasi gardu tersebut sebanyak mungkin melingkupi sejumlah beban
b. Dapat memberikan level tegangan yang baik
c. Mampu memberikan akses yang baik untuk incoming saluran sub transmisi dan
out going penyulang primer.
d. Mempunyai ruang yang cukup untuk pengembangan
e. Tidak bertentangan dengan aturan tata guna lahan.
f. Dapat meminimisasi jumlah konsumen yang terpengaruh terhadap adanya
gangguan
g. Kemudahan instalasi.
Di samping faktor faktor yang mempengaruhi pemilihan letak gardu tersebut, terdapat
juga proses pentahapan yang dilakukan dalam rangka pemilihan lokasi gardu. Seleksi awal
terhadap lokasi gardu tersebut didasarkan pada aspek safety, engineering, sistem
perencanaan,institusional, ekonomi dan faktor estetika.

Gambar2. 6 Prosedur Pemihan Gardu

Gambar2. 7 Faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi gardu

4. Pemilihan Level Tegangan Penyulang Primer


Faktor faktor dasar dalam menentukan level tegangan pada penyulang primer diberikan
sebagai berikut :

Gambar2. 8 Faktor-faktor mempengaruhi level tegangan

5. Pembebanan Penyulang Primer


Pembebanan penyulang primer adalah pembebanan penyulang tersebut pada kondisi
beban puncak dan di ukur di sisi gardu. Faktor faktor yang mempengaruhi disain pembebanan
penyulang tersebut antara lain :

a. Rapat beban penyulang


b. Pola bembebanan
c. Laju pertumbuhan beban
d. Keperluan reverse capacity kondisi darurat
e. Kontinuitas pelayanan
f. Kualitas pelayanan
g. Keandalan pelayanan
h. Level tegangan pada penyulang primer
i. Tipe dan biaya konstruksi
j. Lokasi dan kapasitas gardu distribusi
k. Guna pengaturan tegangan

Gambar2. 9 Faktor-faktor yang mempengaruhi lintasan penyulangan primer

Gambar2. 10 Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penyulagan keluar

Gambar2. 11 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan ukuran konduktor

6. Faktor-Faktor Investasi
Secara umum, sistem distribusi didisain dengan berdasar pada minimisasi biaya investasi
tapi teknis sistem distribusi tersebut masih dipenuhi. Adapun faktor investasi yang
mempengaruhi pengembangan sistem distribusi diberikan pada gambar berikut.

Gambar2. 12 Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi system distribusi

2.6.2. Model Perencanaan Sistem Distribusi


Secara umum, perencanaan sistem distribusi melibatkan beberapa factor penting pada
masing masing sub problem perencanaan distribusi tersebut. Maka perencanaan sistem
distribusi berkaitan dengan sejumlah variabel dan persamaan matematis serta sejumlah kriteria
pembatas. Model matematis yang berkembang saat ini adalah :
a. Lokasi gardu optimum
b. Model pengembangan gardu
c. Model penentuan kapasitas optimum trafo
d. Model optimisasi transfer beban antara gardu dengan pusat beban

e. Model optimisasi ukuran dan lintasan penyulang untuk mensupply beban


Semua model yang berkembang tersebut mempunyai fungsi untuk meminimisasi investasi.
Adapun metoda matematis yang mendukung model tersebut adalah :
a. Metoda dekomposisi yang mampu memilah problem besar menjadi sub problem
dan masing masing sub problem dicari solusinya secara tersendiri.
b. Metoda programa linear dan integer yang mampu melinearisasi faktor faktor
pembatas.
c. Metoda programa dinamik.
Masing masing metoda dilakukan dalam proses perencanaan tersebut mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Khusus pada perencanaan jangka panjang, sejumlah variabel yang
dimasukan dan hal ini akan memberikan sejumlah alternatif pengembangan sistem distribusi
yang layak dan setelah itu akan dilakukan pemilihan sistem distribusi yang optimum. Gambaran
proses perencanaan sistem distribusi diberikan pada diagram berikut.

Gambar2. 13 Diagram alir proses perencanaan sistem distribusi

BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Sistem penyaluran tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik ke konsumen (beban),
merupakan hal penting untuk dipelajari. Mengingat penyaluran tenaga listrik ini, prosesnya
melalui beberapa tahap, yaitu dari pembangkit tenaga listrik penghasil energi listrik, disalurankan
ke jaringan transmisi (SUTET) langsung ke gardu induk. Dari gardu induk tenaga listrik
disalurkan ke jaringan distribusi primer (SUTM), dan melalui gardu distribusi langsung ke
jaringan distribusi sekuder (SUTR), tenaga listrik dialirkan ke konsumen. Dengan demikian
sistem distribusi tenaga listrik berfungsi membagikan tenaga listrik kepada pihak pemakai
melalui jaringan tegangan rendah (SUTR), sedangkan suatu saluran transmisi berfungsi untuk
menyalurkan tenaga listrik bertegangan ekstra tinggi ke pusat-pusat beban dalam daya yang
besar (melalui jaringan distribusi).
Ada bermacam-macam sistem tegangan distribusi sekunder menurut standar; (1) EEI :
Edison Electric Institut, (2) NEMA (National Electrical Manufactures Association). Pada
dasarnya tidak berbeda dengan system distribusi DC, faktor utama yang perlu diperhatikan
adalah besar tegangan yang diterima pada titik beban mendekati nilai nominal, sehingga
peralatan/beban dapat dioperasikan secara optimal.
Sistem distribusi daya listrik meliputi semua Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 KV
dan semua Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 380/220 Volt hingga ke meter-meter pelanggan.
Pendistribusian daya listrik dilakukan dengan menarik kawat kawat distribusi melalui
penghantar udara. Penghantar bawah tanah dari mulai gardu induk hingga ke pusat pusat
beban. pada sistem di ranting Galang ada terpasang jaringan bawah tanah karena keadaan kota
atau daerahnya belum memungkinkan untuk dibangun jaringan tersebut. jadi untuk daerah ini
tetap disuplai melalui hantaran udara 3 phasa 3 kawat. Setiap elemen jaringan distribusi pada
lokasi tertentu dipasang trafo-trafo distribusi, dimana tegangan distribusi 20 KV diturunkan ke
level tegangan yang lebih rendah menjadi 380/220 Volt. Dari trafo-trafo ini kemudian para
pelanggan listrik dilayani dengan menarik kabel-kabel tegangan rendah menjelajah ke sepanjang
pusat-pusat pemukiman, baik itu komersial maupun beberapa industri yang ada disini. Tenaga
listrik yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengoperasikan peralatanperalatan tersebut adalah listrik dengan tegangan yang rendah (380/220 Volt). Sedangkan tenaga
listrik yang bertegangan menengah (sistem 20 KV) dan tegangan tinggi (sistem 150 KV) hanya
dipergunakan sebagai sistem penyaluran (distribusi dan transmisi) untuk jarak yang jauh. Hal ini
bertujuan untuk kehandalan sistem karena dapat memperkecil rugirugi daya dan memliki tingkat

kehandalan penyaluran yang tinggi, disalurkan melalui saluran transmisi ke berbagai wilayah
menuju pusat-pusat pelanggan.
Perencanaan sistem distribusi energi listrik merupakan bagian yang esensial dalam
mengatasi pertumbuhan kebutuhan energi listrik yang cukup pesat. Perencanaan diperlukan
sebab berkaitan dengan tujuan pengembangan sistem distribusi yang harus memenuhi beberapa
kriteria teknis dan ekonomis. Perencanaan sistem distribusi ini harus dilakukan secara sistemik
dengan pendekatan yang didasarkan pada peramalan beban untuk memperoleh suatu pola
pelayanan yang optimal. Perencanaan yang sistemik tersebut akan memberikan sejumlah
proposal alternatif yang dapat mengkaji akibatnya yang secara langsung berhubungan dengan
aspek keandalan dan ekonomis.
Tujuan umum perencanaan sistem distribusi ini adalah untuk mendapat kan suatu
fleksibilitas pelayanan optimum yang mampu dengan cepat mengantisipasi pertumbuhan
kebutuhan energi elektrik dan kerapatan beban yang harus dilayani. Adapun faktor-faktor lain
yang dapat menjadi input terkait dalam perencanaan sistem distribusi ini antara lain adalah : pola
penggunaan lahan pada regional tertentu, faktor ekologi dan faktor geografi. Perencanaan sistem
distribusi ini harus mampu memberikan gambaran besarnya beban pada lokasi geografis tertentu,
sehingga dapat ditentukan dengan baik letak dan kapasitas gardu-gardu distribusi yang akan
melayani areal beban tersebut dengan mempertimbangkan minimisasi susut energi dan investasi
konstruksi, tanpa mengurangi kriteria, teknis yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Diklat PLN Pusat. (2005) Transmisi Tenaga Listrik Jakarta.


Fabio Saccomanno (2003) Electric Power System and Control John Wiley & Sons. Inc NewYork.
Luces. M . (1996) Electric Power Distribution and Transmision Prantice Hall New-York.
Oswald (2000) Electric Cables for Power Transmision John Wiley & Sons.
Hutauruk (2000)Tranmisi Daya Listrik Erlangga Jakarta.
Abdul Kadir (2000) Distribusi dan Utilasi Tenaga Listrik. Penebit Universitas Indonesia
Press.

IEEE