Anda di halaman 1dari 2

POLUGRI

Paradigma Liberalisme dalam Memandang Suatu Kebijakan Luar


Negeri
Oleh:
Arifasjah Riza Wibawa/0801512029
Dalam menjalankan politik luar negeri, tentu ada kebijakan-kebijakan
yang dibuat oleh suatu negara terhadap negara lain dalam lingkup bilateral,
multilateral, dan internasional yang bertujuan untuk memperoleh
kepentingan nasional. Kebijakan atau tindakan yang diambil suatu negara,
tidak hanya dibuat terhadap faktor eksternal, tetapi juga faktor internal yang
akan menentukan tujuan kepentingan nasional. Kepentingan nasional
tersebut merupakan satu elemen dalam Kebijakan Luar Negeri yang yang
akan menjadi panduan dan tujuan dalam proses terjadinya politik luar
negeri.
Diplomasi merupakan salah satu instrumen interaksi yang digunakan
dalam mencapai tujuan politik luar negeri suatu Negara, selain Propaganda,
Ekonomi, Perang, Intelijen, dan Intervensi. Pemikir-pemikir Liberalisme
seringkali menggunakan instrumen diplomasi dalam mencapai kebijakan luar
negeri terhadap negara lain. Hal ini dilakukan karena diplomasi secara
rasional dianggap sederhana dan tidak terlalu banyak merugikan pihak-pihak
yang berkaitan dalam pembuatan kebijakan tersebut. Diplomasi dilakukan
dengan cara bernegosiasi dengan pihak yang bersangkutan, sehingga tidak
akan memakan korban dan menghabiskan banyak uang, seperti halnya
perang.
Perjanjian Westphalia yang terjadi pada tahun 1648, merupakan
kongres diplomatik pertama yang bertujuan untuk membentuk tatanan
negara di Eropa berdasarkan pada kedaulatan negara. Negara-negara Eropa
yang berkonflik saat itu berdamai melalui perjanjian Westphalia, yang
dilakukan dengan bernegosiasi, dan membuat kesepakatan bersama.
Kesepakatan bersama ini, dapat terbentuk atas dasar pemikir-pemikir liberal
yang percaya akan kerja sama, dan menjamin kerjasama untuk menghindari
perang dan menghasilkan keuntungan bersama, serta sepakat dengan sitem
pemerintahan yang representatif. Akibat dari pemikiran-pemikiran liberal
yang percaya akan kerja sama, perjanjian Westphalia dapat terjadi, dan
melahirkan Prinsip Kedaulatan dari adanya negara bangsa. Pembagian

wilayah tiap negara pun menjadi jelas, dan agama tidak lagi disatukan dan
disangkutpautkan dalam proses politik (sekularisasi).
Oleh karena itu, untuk terciptanya tujuan dari politik luar negeri, akan
lebih mudah jika menggunakan paradigma Liberalisme yang berpikir positif
dan optimis, juga percaya akan kerja sama. Hal ini akan memudahkan
terjadinya kesepakatan antar pihak-pihak yang berkaitan, serta masalahmasalah yang ada, dapat diselesaikan bersama.