Anda di halaman 1dari 28

SEJARAH ARSITEKTUR 1

IR. SRI HANDJAJATI


Arifasjah Riza Wibawa (052.10.009)
MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

SEJARAH ARSITEKTUR 1
ARSITEKTUR KOLONIAL

ARSITEKTUR KOLONIAL
PENGERTIAN
Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang
selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi
kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring berkembangnya peran
dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga akhirnya berhasil
berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya
pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah
kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan bangunan inilah yang disebut dikenal
dengan bangunan kolonial

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA


Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Portugis, yang

.kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan

mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan


pemukimannya di beberapa kota di Indonesia Namun karena sering terjadi
konflik mulailah dibangun benteng.
Dalam benteng tersebut, mulailah bangsa Eropa membangun beberapa bangunan
dari bahan batu bata. Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa.
Mereka membangun bentuk tata kota dan arsitektur yang sama persis dengan
negara asal mereka. Dari era ini pulalah mulai berkembang arsitektur kolonial
Belanda di Indonesia.

PERIODISASI ARSITEKTUR KOLONIAL


Abad 16 sampai tahun 1800 an

Tahun 1902 -1920an

Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini masih bergaya


Belanda dimana bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap
curam dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras.
Bangunan ini tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas,
atau tidak beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat

Tahun 1800-an sampai tahun 1902

Tahun 1920 -1940-an

Bangunan-bangunan
yang
berkesan
grandeur (megah) dengan gaya arsitektur
Neo Klasik dikenal Indische Architectuur
karakter
arsitektur
seperti
:
1. Denah simetris dengan satu lantai,
terbuka, pilar di serambi depan dan
belakang (ruang makan) dan didalamnya
terdapat serambi tengah yang mejuju ke
ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.
2. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani)
dan terdapat gevel atau mahkota di atas
serambi depan dan belakang.
3. Menggunakan atap perisai.

memegang unsur-unsur
mendasar bentuk klasik,
memasukkan unsur-unsur
yang terutama dirancang
untuk
mengantisipasi
matahari hujan lebat
tropik. Selain unsur-unsur
arsitektur tropis, juga
memasukkan unsur-unsur
arsitektur
tradisional
(asli) Indonesia sehingga
menjadi konsep yang
eklektis

1. Menggunakan Gevel (gable) pada


tampak
depan
bangunan
2. Bentuk gable sangat bervariasi seperti
curvilinear gable, stepped gable, gambrel
gable, pediment (dengan entablure).
3. Penggunaan Tower pada bangunan
4. Tower pada mulanya digunakan pada
bangunan gereja kemudian diambil alih
oelh bangunan umum dan menjadi mode
pada arsitektur kolonial Belanda pada abad
ke 20.
5. Bentuknya bermacam-macam, ada yang
bulat, segiempat ramping, dan ada yang
dikombinasikan dengan gevel depan.
6. Penggunaaan Dormer pada bangunan
7. Penyesuaian bangunan terhadap iklim
tropis basah
-> Ventilasi yang lebar dan tinggi.
-> Membuat Galeri atau serambi sepanjang
bangunan sebagai antisipasi dari hujan
dan sinar matahari.

BEBERAPA ALIRAN YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR


KOLONIAL DI INDONESIA
Gaya Neo Klasik
Bentuk Vernacular Belanda
1. Denah simetris penuh dengan satu lanmtai
atas dan ditutup dengan atap perisai.
2. Temboknya tebal
3. Langit langitnya tinggi
4. Lantainya dari marmer
5. Beranda depan dan belakang sangat luas
dan terbuka
6. Diujung beranda terdapat barisan pilar
atau kolom bergaya Yunani (doric, ionic,
korinthia)
7. Pilar menjulang ke atas sebagai
pendukung atap
8. Terdapat gevel dan mahkota diatas
beranda depan dan belakang
9. Terdapat central room yang berhubungan
langsung dengan beranda depan dan
belakang, kiri kananya terdapat kamar tidur
10. Daerah servis dibagian belakang
dihubungkan dengan rumah induk oleh galeri.
Beranda belakang sebagai ruang makan.
11. Terletak ditanah luas dengan kebun di
depan, samping dan belakang.

1. Penggunaan gevel(gable) pada tampak depan bangunan


2. Penggunaan tower pada bangunan.
3. Penggunaan dormer pada bangunan
Beberapa penyesuaian dengan iklim tropis bsaah di
Indonesia:
1. Denah tipis bentuk bangunan rampingBanyak bukaan
untuk aliran udara memudahkan cross ventilasi yang
diperlukan iklim tropis basah
2. Galeri sepanjang bangunan untuk menghindari tampias
hujandan sinar matahari langsung
3. Layout bangunan menghadap Utara Selatan dengan
orientasi tepat terhadap sinar matahari tropis Timur Barat

Gaya Neogothic ( sesudah tahun 1900)


1. Denah tidak berbentuk salib tetapi berbentuk kotak
2. Tidak ada penyangga( flying buttress)karena atapnya tidak
begitu tinggi tidak runga yang dinamakan double aisle atau
nave seperti layaknya gereja gothic
3. Disebelah depan dari denahnya disisi kanan dan kiri
terdapat tangga yang dipakai untuk naik ke lantai 2 yang tidak
penuh
4. Terdapat dua tower( menara ) pada tampak mukanya,
dimana tangga tersebut ditempatkan dengan konstruksi
rangka khas gothic
5. Jendela kacanya berbentuk busur lancip
6. Plafond pada langit-langit berbentuk lekukan khas gothic
yang terbuat dari besi.

BEBERAPA ALIRAN YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR


KOLONIAL DI INDONESIA
Nieuwe Bouwen / International style
1. Atap datar
2. Gevel horizontal
3. Volume bangunan berbentuk kubus
4. Berwarna putih
Nieuwe Bouwen / International Style di
Hindia Belanda mempunyai 2 aliran utama
;
A. Nieuwe Zakelijkheid
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Mencoba mencari keseimbangan terhadap
garis dan massa
Bentuk-bentuk asimetris void saling tindih
( interplay dari garis hoeizontal dan
vertical)
Contoh ; Kantor Borsumij ( GC. Citroen)
B. Ekspresionistik ;
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Wujud curvilinie
Contoh : villa Isola ( CP.Wolf ), Hotel
Savoy Homann( AF aalbers

Art Deco

1.

Gaya yang ditampilkan berkesan


mewah dan menimbulkan rasa
romantisme
2. Pemakaian bahan bahan dasar yang
langka serta material yang mahal
3. Bentuk massif
4. Atap datar
5. Perletakan asimetris dari bentukan
geometris
6. Dominasi garis lengkung plastis

MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL


LOKASI

Museum Kebangkitan Nasional


terletak di Jl. Abdurahman Saleh
No.26 Jakarta pusat. Museum ini
menempati areal seluas 14.625
meter persegi.

Museum
ini
berada
dalam
kompleks gedung kebangkitan
nasional,yakni salah satu di
antaranya
gedung-gedung
bersejarah di DKI Jakarta yang
dilindungioleh undang-undang RI
No,5 tahun 1992 tentang Benda
Cagar Budaya

ARSITEKTUR KOLONIAL
SEJARAH

Gedung Kebangkitan Nasional (Ex-STOVIA) mulai dibangun sejak


tahun1899 dan baru selesai 1901. kemudian pada bulan maret tahun 1902
diresmikan pemakainnya untuk STOVIA ( School Tot Opleiding Van
Inlandsche Arsten), yakni sekolah kedokteran untuk orang-orang bumi
putera yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 1920
pendidikan STOVIA pindah ke gedung yang baru, yaitu di Jl. Salemba No.
6,kerena gedung lama tidak memenuhi syarat lagi untuk pendidikan
kedokteran
.Pada tahun 1925 Gedung STOVIA digunakan untuk
pendidikan MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat
SMA),dan Sekolah Asisten Apoteker.Sejak kedatangan bala
tentara Jepang, (1942-1945), gedung ini digunakan untuk
penampungan bekas tentara Belanda (sebagai tawanan
perang) Batalyon V. setelah Indonesia merdeka, dari tahun
1945-1973, gedung ini ditempati oleh masyarakat Ambon.
pada April 1973 pemerintah DKI Jakarta melakukan
pemugaran gedung tersebut. Seluruh penghuninya
dipindahkan secara baik dan setelah pemugaran selesai,
gedung ini diresmikan oleh presiden Soeharto pada tanggal
20 Mei 1974 dengan nama Gedung Kebangkitan Nasional

DENAH
A.TAHUN 1902 - 1925
a. Ruang Poliklinik (1 - 2 - AB)
b. Kelas STOVIA (3,4,5,6)
c. Asrama pelajar STOVIA
(7.A.B.C.8,9,10)
d. Ruang Praktek Anatomi (11)
e. Klas STOVIA (12,13,14,15) f.
Ruang Dosen (16,17,18)
g. Laboratorium (19)
h. Ruang Rekreasi (20)
i.
Dapur umum (21)
j. Ruang olah Raga (22)
B. TAHUN 1946 1973
Seluruh bangunan digunakan sebagai
tempat tinggal orang Ambon anggota
Batalyon V KNIL, kecuali ruang
Laboratorium yang dimanfaatkan sebagai
Ruang Kapel ( gereja kecil ).

C. TAHUN 1974 - 1993


a. Ruang Edukasi ( Koleksi dan Bimbingan ) (1)
b. Gudang Koran (2 A.B)
c. Ruang Pamer Temporer (3,4,5,6)
m. Ruang Keuangan R. 16
d. Museum Pergerakan Wanita (7A)
n. Ruang Kepala Museum R. 17
e. Yapeta (Yayasan Pembela Tanah Air) (7B)
o. Ruang Tata Usaha R. 18
f. Perintis Kemerdekaan (7C)
p. LPDI (Lembaga Perpustakaan Dokumentasi
g. Perpustakaan Idayu R. 8,9
Indonesia)R.19
h. Museum Kesehatan R. 10
q. Aula ( Auditorium ) R. 20
i.
Ruang Memorial Budi Utomo R. 11
r. Masyarakat Sejarawan Indonesia R. 21
j. Museum Budi Utomo R. 12
s. Perputakaan Idayu R. 22
k. Museum Pers dan Museum Budi Utomo R13
t. Rumah Tinggal R. 23
l.
Museum Pers R. 14,15

DENAH

D. TAHUN 1994 - SEKARANG


a. Ruang Pengenalan R. 1
b. Ruang sebelum Pergerakan Nasional R. 2A,B
c. R. Peragaan Kelas Stovia R. 3,4,5
d. R. Pembelaan HF. Roll R. 6
e. R. Kesadaran Nasional R. 7A,B,C
f. R. Pergerakan Nasional R. 8,9
g. R. Pamer Temporer R. 10
h. R. Studie Fonds R. 10
i.
R. Memorial Budi Utomo R. 11

j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

R. Alat-alat kedokteran R. 12,13,14,15


R. Urusan Dalam R. 16
R. Transit R. 17
R. Koleksi dan Bimbingan Edukasi R. 18
R. Audio Visual R. 19
Auditorium R. 20
R. Tata Usaha R.21
Perpustakaan R. 22

ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR PADA MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

Museum ini menempati areal seluas


14.625 meter persegi. Gedung ini
bergaya
neo-classic,
berdasarkan
elemen-elemennya dan denah yang
simetris dengan satu lantai. Langit
langitnya lumayan tinggi, lantainya dari
marmer, beranda depan dan belakang
sangat luas dan terbuka, sesuai dengan
karakter neo-classic.

Atap pada neo-klasik dapat


berupa genteng sampai sirap.
Namun
kebanyakan
menggunnakan genteng, seperti
pada
museum
kebangkitan
nasional

ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR PADA MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

Museum ini memiliki tembok yang tebal


(neo-klasik)

ELEMEN-ELEMEN ARSITEKTUR PADA MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

Museum ini terdapat banyak bukaan,


sehingga terang karena banyak cahaya
masuk.

Kolom bergaya romawi

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Patung R. Soetomo berada di dekat pintu masuk arah


ke sebelah kiri Museum Kebangkitan Nasional.
Soetomo lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur
pada tanggal 30 Juli 1888, dan lulus dari STOVIA pada
11 April 1911. Soetomo adalah salah satu pendiri dan
ketua pertama perkumpulan Boedi Oetomo, yang
adalah organisasi pemuda modern pertama yang lahir
di Indonesia, yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908.
Tanggal itu kemudian ditetapkan oleh pemerintah
sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Sebuah miniatur kapal Portugis koleksi Museum


Kebangkitan Nasional. Kapal-kapal Portugis masuk ke
dalam kepulauan Indonesia melalui Selat Malaka.
Mereka mengendalikan pasar rempah-rempah di
wilayah ini pada tahun 1511, dan menancapkan kaki di
Ternate (Maluku) pada tahun 1512, meskipun
mendapatkan perlawanan sengit dari pusat-pusat
kekuasaan di Aceh, Melayu, Jawa, Makassar, dan
Maluku

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Koleksi Museum Kebangkitan Nasional berupa


rempah, sumber kekayaan yang sangat
berharga yang lalu menjadi kutukan bagi
penduduk di sekitarnya. Sama seperti yang
menimpa pada hampir semua sumber kekayaan
di banyak tempat lain di duniasebagai Hari
Kebangkitan Nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Salinan dari sebuah lukisan tua koleksi Museum


Kebangkitan Nasional, menggambarkan tentara
Pangeran Diponegoro yang tengah melakukan latihan
perang. Perang Diponegoro adalah perang terbesar di
Jawa yang berlangsung di hampir seluruh wilayah
untuk melawan pendudukan penjajah Belanda,
sehingga sering disebut juga Perang Jawa. Perang
yang berlangsung selama lima tahun itu, antara 18251830, menelan korban sekitar 200.000 jiwa rakyat
Jawa, 7000 pribumi lain, dan 8000 serdadu
berkebangsaan Eropa

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Koleksi Museum Kebangkitan Nasional berupa


rempah, sumber kekayaan yang sangat
berharga yang lalu menjadi kutukan bagi
penduduk di sekitarnya. Sama seperti yang
menimpa pada hampir semua sumber kekayaan
di banyak tempat lain di duniasebagai Hari
Kebangkitan Nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Koleksi Museum Kebangkitan Nasional berupa


rempah, sumber kekayaan yang sangat
berharga yang lalu menjadi kutukan bagi
penduduk di sekitarnya. Sama seperti yang
menimpa pada hampir semua sumber kekayaan
di banyak tempat lain di duniasebagai Hari
Kebangkitan Nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Sebuah miniatur kapal


kolonial Belanda koleksi
Museum
Kebangkitan
Nasional.

Miniatur sebuah kapal


tradisional Bugis Pinisi
dari Sulawesi Selatan
yang sangat terkenal,
koleksi
Museum
Kebangkitan Nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Karya instalasi seukuran


manusia sebenarnya yang
diletakkan dalam salah
satu ruang belajar di
Museum
Kebangkitan
Nasional, memperlihatkan
para
pelajar
STOVIA
dengan pakaian semitradisional mereka

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Sebuah
komposisi
di
Museum
Kebangkitan
Nasional
berukuran
sebenarnya dari Raden Ajeng Kartini yang
tengah mengawasi murid-muridnya yang
sedang
belajar
di
sekolah
yang
didirikannya di pendopo rumah ayahnya di
Jepara. Kartini (1879-1904) telah menjadi
simbol kuat bagi wanita Indonesia untuk
berjuang mendapatkan pendidikan yang
lebih baik, dan untuk mendapatkan
kesetaraan hak. Hari tanggal lahirnya, 21
April, telah diresmikan menjadi Hari Kartini
yang diperingati setiap tahun.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Ruang Rapat Pembelaan


dr. Sutomo di dalam
Museum Kebangkitan
Nasional

Patung Maria Josephine Catherine Maramis


(1872 1924) koleksi Museum Kebangkitan
Nasional, yang lebih dikenal sebagai Maria
Walanda Maramis, telah diangkat sebagai
pahlawan nasional untuk menghormati jasajasanya yang sangat besar dalam mendidik
wanita Indonesia. Ia lahir di Kema, sebuah
kota kecil di Kabupaten Minahasa, Sulawesi
Utara, sebuah tempat yang ingin sekali saya
kunjungi
suatu
waktu
nanti.
Dalam
kegiatannya, Maria Walanda Maramis selalu
menanamkan
jiwa
kebangsaan
dan
menganjurkan murid-muridnya untuk memakai
pakaian nasional.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM


Patung-patung sebatas
dada, atribut, dan foto
berbagai tokoh nasional
dipajang di sepanjang
dinding pada gedung
yang
bentuknya
memanjang di sayap kiri
Museum
Kebangkitan
Nasional.

Patung Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889 28


April 1959) di Museum Kebangkitan Nasional,
yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi
Soerjaningrat. Nama Ki Hajar Dewantara mulai
dipergunakannya saat ia tepat berusia empat
puluh tahun sesuai penanggalan Jawa. Dengan
menanggalkan nama dan gelar kebangsawanan,
ia merasa bebas untuk dekat dengan semua
orang, baik raga maupun jiwa. Tanggal lahirnya ,
2 Mei, telah dijadikan sebagai Hari Pendidikan
Nasional untuk menghormati sumbangannya
yang besar terhadap kemajuan pendidikan
bangsa.

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Sebuah kelas di
jaman
STOVIA,
berada di sayap
kanan
Museum
Kebangkitan
Nasional

RUANG PAMER DAN KOLEKSI MUSEUM

Sebuah tempat terbuka


yang berada di tengah
Museum
Kebangkitan
Nasional.
Gedunggedungnya, yang luas
seluruhnya 5.294 m2,
dibangun di atas tanah
seluas 14.625 m2.

Raden Mas Tjipto Adi Suryo,


foto di atas, dikenal sebagai
jurnalis pelopor bagi pers
Indonesia. Pramudya Ananta
Toer, terinspirasi oleh RM
Tjipto
Adi
Suryo,
membangun cerita dalam
karya
terkenalnya
Buru
Kuartet di sekitar tokoh ini.

PERISTIWA BERSEJARAH DI GEDUNG KEBANGKITAN


NASIONAL
Akhir tahun 1907: terjadi pertemuan antara Dr. wahidin Soedirohoesodo dengan R,
Soetomo dan M. Soeradji.
20 Mei 1908 : perkumpulan Budi Utomo didirikan oleh para Pelajar STOVIA
dibawah pimpinan R. Soetomo.
7 Maret 1915: berdirinya Tri Koro Dharmo yang kemudian pada tahun 1917
berubah nama menjadi Jong Java
9 desember 1917: berdirinya Jong Sumatranen Bond
6 April 1973: Gedung Ex-STOVIA mulai dipugar oleh pemda DKI Jakarta.
20 Mei 1974:pemugaran selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto menjadi
Gedung Kebangkitan Nasional
27 september 1982: pengelolaan gedung dialihkan dari pemda DKI Jakarta
kepemerintah pusat (Depdikbud)
12 Desember 1983: penetapan gedung kebangkitan nasional (Ex-STOVIA) sebagai
Cagar Budaya
7 Februari 1984: dikeluarkan SK Mendikbud No. 030/0/1984 tentang
penyelenggaraan sebuah museum di dalam Gedung Kebangkita Nasional, dengan
nama Museum Kebangkitan Nasional.
September 1992: Seluruh perkantoran swasta di pindahkan karena digunakan untuk
pengembangan Museum.
13 Desember 2001: Museum Kebangkitan Nasional bertanggung jawab kepada
Menteri Negara Kebudayaaan dan Pariwisata.

KOLEKSI MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL


Koleksi Museum Kebangkitan Nasional meliputi benda-benda bersejarah dalam bentuk foto, replika,
lukisan, patung, diorama, maket dan peralatan perang yang berkaitan dengan sejarah perjuangan
bangsa. Adapun sistimatika penataan benda-benda koleksi tersebut disusun menurut periodisasi
sejarah perjuangan sebagai berikut:
Ruang Pengenalan
Ruang Sebelum Pergerakan Nasional
Ruang Awal Kesadaran Nasional
Ruang Pergerakan Nasional.
Beberapa ruang yang merupakan gambaran dariperistiwa yang pernah terjadi di gedung ini yaitu:
Ruang Propaganda Studiefonds
Ruang Memorial Bidi Utomo
Ruang Pembelaan HF.Roll
Ruang Memorial Budi Utomo pada masa STOVIA di sebut sebagai ruang Anatomi.diruang Anatomi
inilah tempat lahirnya perkumpulan Budi Utomo pada tanggal 20 nei 1908.
Setelah Budi Utomon secara berturut-turutberdiri pula organisasi-organisasi pergerakan nasional
lainnya, antara lain Indische Vereeniging, Sarekat Dagang Islam, Indische Partij dan Muhammadiyah.
Berdirinya Organisasi Budi Utomo di anggap sebagai tonggak timbulnya Kebangkitan Nasional yang
pertama di Indonesia, maka gedung tempat lahirnya Budi Utomo ini di jadikan sebuah Museum
dengan nama Museum Kebangkitan Nasional.